PENINGKATAN KETERAMPILAN DEBAT PLUS SISTEM BRITISH PARLIAMENTARY
DALAM PROSES PEMBELAJARAN ‘SPEAKING’
PADA MAHASISWA ‘ENGLISH DEBATE CLUB’ STAIN BUKITTINGGI
HAYATI SYAFRI, S.S, M.Pd
STAIN SJECH M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI
haya
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
………... i
PERSETUJUAN
……….………... ii
PENGESAHAN
……… iii
PERNYATAAN
……….. iv
MOTTO
………... v
PERSEMBAHAN
………... vi
KATA PENGANTAR
……… vii
DAFTAR ISI
………... ix
DAFTAR LAMPIRAN
……… xii
DAFTAR TABEL
……….. xiii
DAFTAR TABEL LAMPIRAN
………. xiv
DAFTAR GAMBAR
……….. xv
ABSTRAK
……….. xvi
……… 1
Latar Belakang Masalah ……… 1B.
Identifikasi Masalah ……….. 5C.
Pembatasan Masalah ………. 6D.
Perumusan Masalah ……….. 6E.
Tujuan Penelitian ……….. 7F.
Manfaat Penelitian ……… 7G.
Batasan Istilah……… 8
BAB II KAJIAN TEORI
………... 9A.
Deskripsi Teori ……….. 91.
Hakikat Berbicara ………. 9a.
Pengertian Berbicara ……… 9b.
Tujuan Berbicara ………. 10c.
Faktor Penghambat Berbicara ……….. 10d.
Faktor Penunjang Berbicara ………... 11e.
Bentuk Kegiatan Berbicara ……… 122.
Diskusi Sebagai Salah Satu Ragam Keterampilan Berbicara ... 13
t. BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara merupakan suatu aktivitas kehidupan manusia normal yang sangat penting.
Dengan berbicara kita dapat berkomunikasi antara sesama manusia, menyatakan pendapat,
menyampaikan maksud dan pesan, mengungkapkan perasaan dalam segala kondisi emosional
dan lain sebagainya. Kalau diamati dalam kehidupan sehari-hari, banyak didapati orang yang
berbicara. Namun tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik
didalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat dimengerti sesuai
dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik
didalam menyelaraskan atau menyesuaikan dengan detail yang tepat antara apa yang ada
dalam pikiran atau perasaannya dengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain
Keterampilan berbicara merupakan keahlian yang diharapkan dapat teraplikasi dengan baik oleh penuturnya. Keterampilan ini merupakan suatu indikator yang penting bagi keberhasilan mahasiswa dalam belajar Bahasa Inggris. Dengan penguasaan keterampilan berbicara yang baik, mahasiswa diharapkan dapat mengomunikasikan ide-ide mereka di areal kampus dan lingkungan masyarakat dengan mereka yang sama-sama mengerti Bahasa Inggris maupun dengan penutur asing Bahasa Inggris. Semakian tinggi keterampilan berbicara bahasa Inggris mereka maka akan semakin mudah dan lancarlah mereka dalam mengexpresikan ide dan gagasan yang mereka miliki. Tentu saja akhirnya akan semakin terasa manfaat ilmu bahasa yang mereka coba kuasai selama ini.
Berhubungan dengan pernyataan di atas, Ur (1996) menyatakan bahwa “Jika seseorang menguasai suatu bahasa secara intuitif, ia akan mampu berbicara dalam bahasa tersebut”. Pendapat ini jelas mengindikasikan bahwa keterampilan berbicara mengisyaratkan agar seseorang mengetahui seluk beluk bahasa itu. Selain itu, keterampilan berbicara bisa juga digunakan sebagai suatu media untuk belajar bahasa (Izquirdo, 1993). Dalam hal ini tentu saja keterampilan berbicara sangat terkait dengan pelafalan bunyi, pengungkapan kosakata, gramatika bahasa, dan juga terkait dengan berbagai bentuk keterampilan bahasa lainnya seperti mendengarkan,menulis dan membaca. Jadi keterampilan berbicara sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mendalami bahasa. Selain itu keterampilan berbicara sangat penting dalam pembelajaran bahasa sebagai bukti penguasaan mahasiswa akan materi yang diberikan.
Dalam peradaban manusia, keterampilan berbicara selalu mengalami perkembangan dan peningkatan. Sejarah membuktikan bila di antara liku-liku kegiatan berbicara tersebut mengalami perkembangan, akan terbentuk kemjauan peradaban dalam bentuk kegiatan berbicara yang lebih terorganisir. Dalam hal ini terlahirlah debat yang berawal dizaman Romawi kuno. Dalam konteks masyarakat Indonesia, budaya debat baru muncul secara umum lewat televisi setelah terjadi reformasi di negeri ini. Kegiatan ini menarik banyak pihak dan diminati oleh berbagai elemen masyarakat, akademisi, tokoh pergerakan, politikus, dan lain-lain karena merupakan olah fokal yang terangkum dari ketajaman anallitis yang mendalam akan suatu kasus dan permasalahan. Meski dunia debat dalam konteks masyarakat kita saat ini masih belum ideal, titik ini merupakan langkah awal yang memang harus ditempuh menuju msyarakata Indonesia yang lebih maju menuju tingkat peradaban dunia yang lebih mulia.
Debat adalah kegiatan dalam mengadu argumentasi dari dua pihak atau lebih, baik secara
perorangan maupun berkelompok. Mereka beradu pandang dalam mendiskusikan dan
memutuskan masalah dan perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan dalam lembaga
legislatif seperti dalam parlemen terutama dinegara-negara yang menggunakan system oposisi.
Selain itu debat juga
diselenggarakan secara formal antar kandidat legislatif dan antar calon
presiden/wakil presiden yang umum dilakukan menjelang pemilihan umum. Mereka saling
berkompetisi untuk menampilkan kemampuan mereka untuk menampilkan yang terbaik agar
mendapat dukungan dan simpati khalayak ramai dengan tujuan terpilih dengan suara
terbanyak.
Keterampilan berdebat seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu internal dan eksternal. Hal ini diuangkapkan oleh Agung (2008) dengan menjelaskan bahwa maksud faktor internal disini adalah segala potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik faktor pisik yang menyangkut kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalamb erbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berdebat tidaklah secara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang walaupun ia sudah memiliki dua faktor penunjang ini dengan baik. Kemampuan atau keterampilan berdebat yang baik akan dapat dimiliki dengan jalan mengasah, mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada dengan melibatkan kerjasama tim. Harus ada tim dan komunitas yang solit yang akan menunjang latihan mereka dalam berdebat.jika tidak, mereka tetap saja kehilangan media untuk berlatih
Di STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi baru terbentuk satu kelompok debat yang diberi nama ‘English Debate Club’ (EDC). Klub ini terlahir dari keterbutuhan kampus STAIN akan kualitas mahasiswa dalam keterampilan debat. Mahasiswa ini dibutuhkan agar siap untuk dikirim ke perayaan regular lomba debat PTAIN se Indonesia yang skalanya tentu saja besar dan bergengsi. Dengan di ‘back up’ oleh ‘English Debate Club’ (EDC) ini, diharapkan mahasiswa kita akan semakin terasah dan terpacu untuk meningkatkan keterampilan debat mereka.
Keanggotaan dalam kelompok ini didiri dari utusan perkelas masing-masing empat orang perangkatan sehingga diharapkan akan tercetaklah pengkaderan yang optimal. Mereka telah memiliki jadwal latihan debat yang rutin. Tiap-tiap tim akan dipertemukan dengan tim lain dengan memperdebatkan satu permasalahan yang telah ditetapkan oleh English Community Club (ECC) yang berada dibawah HMPS Prodi Bahasa Inggris.
Permasalahan yang terjadi adalah ternyata mahasiswa banyak yang agak keberatan untuk menjadi tim debat walau akhirnya mau juga karena rasa ketidakmampuan mereka disaat merasakan debat dikelas yang pernah di tuntun oleh dosen ‘speaking’ mereka. Mereka masih mengalami kesulitan untuk menyampaikan ide, gagasan, pikiran dan pertanyaan mereka dalam bahasa Inggris dengan menggunakan keterampilan debat dengan baik dan benar. Selain itu masih terdapatnya kekurangtepatan pelafalan, pemilihan kosa kata, ketatabahasaan, dan keterbiasaan dengan system debat. Hal ini disebabkan karena debat memang bukan hanya berkomunikasi seperti biasa. Namun komunikasi yang tingkatnya sudah ketahap yang lebih tinggi. Dalam debat mereka dituntut kritis dan paham akan kasus yang disampaikan serta bisa mengutarakannya dengan baik. Inilah yang sering menggelitik pikiran mereka sehingga banyak yang merasa tidak terlalu mampu untuk melakukan debat. Selain itu, merekapun jarang melakukan debat dikelas karena sistem debat yang diberikan dosen dikelas tidak bisa optimal mengasah kemampuan debat mereka akibat jumlah dan waktu yang terbatas. Akibatnya mereka tidak terlalu familiar dengan pengalaman dalam berdebat dan juga tidak familiar dengan aturan debat yang telah distandarkan dalam debat PTAIN se Indonesia sebelumnya.
Fenomena seperti ini merupakan permasalahan yang perlu segera ditemukan alternatif-alternatif pemecahannya. Salah satu upaya yang dapat dijadikan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan langsung menerapkan system British Parliamentary dalam ECD dan menjadikan aktifitas debat rutin dengan system ini sebagai wadah untuk mengasah kemampuan ‘speaking’ mereka.
Karena kondisi diatas inilah akhirnya penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan selalu mengontrol pelaksanaan debat sambil menyempurnakan penelitian ini dengan judul
PENINGKATAN KETERAMPILAN DEBAT PLUS SISTEM BRITISH PARLIAMENTARY DALAM PROSES
PEMBELAJARAN ‘SPEAKING’ PADA MAHASISWA ‘ENGLISH DEBATE CLUB’ STAIN BUKITTINGGI.
mahasiswa tidak bosan karena diajak belajar sambil bermain dengan permainan (games) serta kuis. Game dan kuis dicantumkan dalam metode ini mulai dari teknik pembagian kelompok, kegiatan dalam debat, ataupun di tengah-tengah kegiatan atau setelah kegiatan debat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini dapat dirangkumkan sebagai berikut:
1) Apakah permasalahan utama yang dialami mahasiswa dalam berbicara saat berdebat dari segi pelafalan, tata bahasa, pemilihan kosa kata dalam bahasa Inggris?
2) Bagaimanakah mekanisme penerapan metode debat plus sistem British Parlimentary dalam peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris mahasiswa EDC?
3) Bagaimanakah hasil pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa setelah tindakan (treatment) dilakukan?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kegiatan “debat plus sistem British Parlimentary” dalam proses pembelajaran ‘speaking’ dalam meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mahasiswa EDC STAIN Bukittinggi. Efektivitas dalam penelitian ini berarti bagaimana debat plus sistem British Parlimentary dapat meningkatkan aspek-aspek kebahasaan dari kemampuan berbicara, baik aspek verbal maupun aspek nonverbal.
1.3.2 Tujuan Khusus
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1) Mengetahui permasalahan utama yang dialami mahasiswa dalam berbicara saat berdebat dari segi pelafalan, tata bahasa, pemilihan kosa kata dalam bahasa Inggris
2) Mendeskripsikan mekanisme penerapan metode debat plus sistem British Parlimentary dalam peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris mahasiswa EDC?
3) Memperoleh gambaran tentang hasil pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Inggris setelah tindakan (treatment) dilakukan.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini memerlukan pembatasan pada pembahasannya agar permasalahan yang hendak diteliti tidak terlalu luas. Adapun ruang lingkup penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
2) Mekanisme penerapan metode debat plus sistem British Parlimentary dalam peningkatan
keterampilan berbicara bahasa Inggris mahasiswa EDC yang meliputi penilaian kemampuan berbicara siswa dibatasi pada communication skills yang mencakup ketepatan berbahasa (accuracy), kelancaran (fluency), pemahaman topic (comprehensibility), dan metode penyampaian argumen (methods of delivering arguments).
3) Menganalisis hasil pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui metode debat plus sistem British Parlimentary dalam meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa EDC yang mencakup peningkatan pemakaian bahasa siswa dibatasi pada kemampuan pelafalan, tata bahasa (grammar) dan kosa kata (vocabulary).
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini ada dua macam, yaitu manfaat akademis dan manfaat praktis. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan teori pembelajaran bahasa, khususnya yang berkenaan dengan pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa Kelas XI IPA SMA Pariwisata Kertha Wisata sehingga dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian- penelitian lain yang serupa. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk memperkaya khazanah penelitian, terutama yang berupa penelitian tindakan kelas. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru bahasa Inggris khususnya guru Kelas XI IPA dan bagi siswa. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan model pembelajaran berbicara yang lebih efektif sehingga dapat memberikan alternatif teknik dalam pembelajaran pengembangan keterampilan berbicara. Bagi siswa, manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi dan keterampilan berbicara di kelas.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN
Pada bab ini berturut-turut disajikan beberapa hal seperti kajian pustaka, konsep, landasan teori, dan model penelitian.
2.1 Kajian Pustaka
keterampilan berbicara pada khususnya bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Para mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris telah
banyak melakukannya. Penelitian-penelitian tersebut merupakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki pembelajaran keterampilan berbicara yang
berlangsung selama ini.
Pustaka-pustaka yang mendasari penelitian ini adalah tulisan hasil
penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Beberapa penelitian yang mengangkat permasalahan pembelajaran keterampilan berbicara, antara lain,
dilakukan oleh Sumarwati (1999), Dewi (2003), dan Hubert (2008) Sumarwati (1999) meneliti tentang peningkatan keterampilan berbicara siswa melalui teknik bermain peran di SLTPN 8 Denpasar. Dari hasil penelitian
itu diperoleh simpulan bahwa teknik bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Secara kuantitatif, hasil penelitian melalui dua siklus itu menunjukkan peningkatan sebesar 10,6% untuk aspek kebahasaan dan 7
11,6% untuk aspek nonkebahasaan. Penelitian yang dilakukan oleh Sumarwati berbeda dengan penelitian ini karena jenis penelitian sebelumnya merupakan penelitian secara deskriptif guna mendeskripsikan fenomena dan
permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan sehubungan dengan prosedur yang diterapkan oleh guru dalam proses pengajaran speaking di SLTPN 8 Denpasar,
sedangkan penelitian ini bersifat improftif (perbaikan) yang bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan hasil belajar siswa dalam pengajaran speaking
sebelum dan sesudah tindakan dilakukan.
Dewi (2003) dalam penelitiannya yang berjudul “The Success of Communication Approach in teaching-learning process at the third levels of IEC Denpasar 01” membahas tentang keberhasilan pendekatan komunikatif dalam proses belajar mengajar pada level ketiga di lembaga pendidikan bahasa Inggris
IEC Denpasar 01. Penerapan pendekatan komunikatif tersebut mencakup 4 (empat) keterampilan bahasa, yaitu keterampilan mendengarkan (listening),
keterampilan berbicara (speaking), keterampilan membaca (reading), dan keterampilan menulis (writing). Keberhasilan penerapan pendekatan komunikatif
sendiri yang memiliki kemauan yang besar dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya.
Hubert (2008) dalam penelitiannya yang berjudul ”Incorporating Classroom Debate into University EFL Speaking Courses” membahas betapa
pentingnya debat dalam meningkatkan kemampuan berbicara di kalangan mahasiswa Universitas Kyoto Sangyo Jepang. Studi tersebut berfokus pada 8
penerapan langkah-langkah debat formal dengan sistem “Australasian Parliamentary Sistem”, yang mencakup peran masing-masing pembicara di kedua tim, isi dari topik yang diperdebatkan, sehingga studi tersebut lebih menargetkan peningkatan pemahaman (comprehensibility) daripada kelancaran (fluency) dan
ketepatan ujaran (Accuracy).
1. Hayat; Arief, Zaenal. 2005. Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas X-4 SMA
Negeri I Jepara melalui Diskusi dengan Pendekatan Kontekstual Fokus
Pemodelan. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas
Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian yang
berbasis kelas. Dengan demikian, metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang meliputi dua siklus. Tiap-tiap siklus dilakukan secara berdaur yang terdiri atas
empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Data penelitian
diambil melalui tes dan nontes. Alat pengambilan data tes yang digunakan berupa instrumen tes
perbuatan yang berisi aspek-aspek kriteria penilaian keterampilan berbicara berupa penilaian
keterampilan berbicara melalui diskusi. Alat pengambilan data nontes yang digunakan berupa
pedoman observasi, wawancara, jurnal, dokumentasi foto, rekaman pita, rekaman video, dan
sosiometri. Selanjutnya, data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Berdasarkan analisis data penelitian, disimpulkan bahwa melalui pendekatan
kontesktual fokus pemodelan (modeling), keterampilan berbicara siswa meningkat ebesar
sebesar 7,8%. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 73,4%, sedangkan pada
siklus II, hasil yang dicapai sebesar 81,2%. Perilaku yang ditunjukkan siswa pun berubah setelah
diberikan tindakan. Siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran, bekerja sama dengan baik
dalam kelompoknya, tidak gugup atau grogi dan semakin percaya diri ketika berbicara di depan
kelas.
2. Hayat: Mudairin ROLE
PLAY:SUATUALTERNATIFPEMBELAJARANYANGEFEKTIFANMENYENANGKA
N
DALAMMENINGKATKANKETERAMPILANBERBICARASISWASLTPISLAMMAN
BAULULUMGRESIK
Salah satu upaya guna meningkatkan keterampilan berbicara
siswa adalah memberikanR o l e P l a y s e b a g a i b e n t u k k e g i a t a n
p e m b e l a j a r a n b a h a s a I n g g r i s d i k e l a s . H a l i n i dimaksudkan untuk
menciptakan English atmosphere di dalam kelos. Dalam RolePlay siswa
di-setting pada situasi tertentu dan saling berinteraksi bersama teman-temanny
Hayat; Jafrizal
UPAYAMENINGKATKANKEMAMPUANBERBICARA
BAHASAINGGRISMELALUItekNIKKWLDANPERMAINANBAHASA
http://pakguruonline.pendidikan.net
Oleh : Jafrizal *)
Abstrak.
Hasil observasi di beberapa SLTP di Bayang ditemukan bahwa banyak siswa SLTP
yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran berbicara bahasa Inggris. Untuk ituperlu
digunakan strategi baru agar dapat meningkatkan kemampuan berbicara
mereka,yaitu dengan menggunakan teknik KWL dan permainan bahasa. Tujuan
penelitian iniadalah untuk mengetahui apakah penerapan teknik KWL dan
permainan bahasa dapatmeningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris
siswa. Penelitian ini diadakan pada gugus SLTP 2 Bayang Kelas 3 semester I Tahun
Ajaran2 0 0 2 - 2 0 0 3 ya n g t e r d i r i d a n 6 s e k o l a h , w a k t u p e n e l i t i a n b e r l a n g s u n g
s e l a m a 2 b u l a n d e n g a n 3 s i k l u s . S i k l u s I s i s w a m e l e n g k a p i t a b e l k o l o m ( K )
d a n k o l o m ( W ) d e n g a n pengalaman yang berhubungan dengan topik dan materi
yang mereka ingin ketahui.Berikutnya siswa mengemukakan hasil atau kesimpulan dari
materi yang mereka pelajarid a n d i t u l i s p a d a k o l o m ( L ) . D i s e t i a p a k h i r
p e r t e m u a n , s i s w a m e l a k u k a n p e r m a i n a n b a h a s a s e s u a i d e n g a n t o p i k
b a h a s a n . S i k l u s I I s i s w a m e n j a w a b p e r t a n ya a n s e s u a i panduan guru peneliti.
Siklus III sebelum pembelajaran semua siswa diberi tugas belajar di rumah tentang topik bahasan
yang akan diajarkan berikutnya Hasil peneliti an menunjukkan ada peningkatan siswa yang
akti f berbicara pada sikius Is e k i ta r 1 0 % , s i k i u s I I 1 5 % d a n s i k i u s I I I s e b a nya k 2 0 , 8 % . H a l i n i j u ga te r l i h at p a d a u l a n ga n h a r i a n s i s wa , ya n g d i a j a r d e n ga n m e n g g u n a ka n te k n i k KW L d a n p e r m a i n a n bahasa lebih baik, dan persentase ketuntasan belajar pun lebih tinggi dibanding denganyang tidak menggunakan teknik KWL..Hayat KEEFEKTIFAN METODE DEBAT AKTIFDALAM PEMBELAJARAN DISKUSIPADA SISWA KELAS X SMA
NEGERI 1 KUTOWINANGUN Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan SeniUniversitas NegeriYogyakartauntuk Memenuhi Sebagian Persyaratanguna Memperoleh GelarSarjana Pendidikan
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, yaitu eksperimen semu(
quasi experimental
) dengan desain
control group pretest posttes desaign
.Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel bebas yang berupapenggunaan metode
debat aktif dan variabel terikat berupa keterampilan diskusisiswa. Populasi penelitian ini adalah
siswa kelas X SMA Negeri 1 Kutowinangunsebanyak 278 siswa. Teknik penyampelan yang
digunakan adalah
. Sampel dalam penelitian ini adalah 80 siswa. Teknik pengumpulan datadengan menggunakan
tes diskusi. Validitas instrumen yang digunakan dalampenelitian ini adalah validitas isi dengan
dikonsultasikan kepada ahlinya (
expert judgement
). Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan
Alpha Cronbrach
.Hasil penghitungan menunjukkan besarnya reliabilitas instrumen adalah 0, 946dengan p sebesar
0,000. Teknis analisis data menggunakan uji-t dan uji scheffe.Dari hasil uji statistik dapat
diperoleh nilai uji-t dan uji scheffe. Hasilpenghitungan uji-t menunjukkan bahwa skor t hitung
lebih besar dari t tabel (
t
h
:2,006 >
t
t
: 1,994) pada taraf signifikansi 5% dan db 78 dengan nilai signifikansi(2-tailed) sebesar 0,048
pada taraf signifikansi 5%. Hasil penghitungan uji scheffemenunjukkan F hitung lebih besar
daripada skor F tabel (Fh : 4,025 > Ft :3, 96)dengan db 78 dan pada taraf signifikansi 5%. Hal ini
menunjukkan bahwa (1) adaperbedaan yang signifikan antara keterampilan diskusi siswa yang
mendapatpembelajaran diskusi dengan menggunakan metode debat aktif dengan siswa
yangmendapat pembelajaran diskusi tanpa menggunakan metode debat aktif, dan
(2)pembelajaran diskusi dengan menggunakan metode debat aktif lebih efektif
3. :
2.2 Konsep
Studi yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa konsep yang memerlukan penjelasan. Konsep-konsep tersebut antara lain peningkatan, keterampilan berbicara, pendekatan metode dan teknik pembelajaran berbicara,
dan metode debat plus. 2.2.1 Peningkatan
Peningkatan adalah suatu proses, cara, perbuatan meningkatkan (usaha, kegiatan, dsb) (Purwadarminta, 1976: 118). Peningkatan dalam hal ini adalah
suatu proses meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa. 2.2.2 Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara pada hakikatnya adalah “kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,
menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan” (Tarigan 1981:15).
9
teoretis tertentu. Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Satu metode dapat
diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung, guru dapat berganti-ganti
teknik meskipun dalam koridor metode yang sama (Sugandi, 2004:15). Pembelajaran berbicara memiliki banyak sekali teknik pembelajaran. Teknik-teknik tersebut antara lain: wawancara, cerita berpasangan, pidato tanpa teks,
pidato dengan teks, mengomentari film/sinetron/cerpen/novel, debat, membawakan acara, memimpin rapat, menerangkan obat/makanan/minuman atau
benda lainnya, bermain peran, info berantai, dan cerita berangkai (Sugandi, 2004:112-121).
2.2.4 Metode Debat Plus
Debat merupakan kegiatan bertukar pikiran antara 2 (dua) orang atau lebih yang masing–masing berusaha memengaruhi orang lain untuk menerima usul
yang disampaikan (Simon, 2005:3). Debat dapat diartikan pula sebagai silang pendapat tentang tema tertentu antara pihak pendukung dan pihak penyangkal
melalui dialog formal yang terorganisasi (Depdiknas, 2001: 2). Sementara itu, ”plus” merupakan penyampaian pesan melalui “manipulasi/modifikasi’ terhadap
metode debat sehingga siswa diajak belajar sambil bermain dengan berbagai permainan (games) serta kuis. Game & kuis disertakan dalam metode debat plus 10
mulai dari teknis pembagian kelompok, kegiatan dalam debat, ataupun di tengah-tengah kegiatan atau setelah kegiatan debat. Adapun untuk tema debat akan dipilihkan tema yang terkait dengan topik materi yang dipelajari pada saat itu,
tema dari kejadian/fenomena aktual yang menantang namun tidak asing. 2.3 Landasan Teori
Sejumlah pandangan para ahli yang digunakan sebagai landasan teori penelitian ini bersangkutan dengan: (1) berbicara dan keterampilan berbicara; (2)
debat plus.
2.3.1 Berbicara dan Keterampilan Berbicara
Berbicara merupakan sebuah bentuk penyampaian informasi dengan menggunakan kata-kata atau kalimat. Dengan kata lain, berbicara berarti menggunakan bahasa untuk bermacam-macam tergantung dari para penuturnya.
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara
berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Harmer (1983) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Lebih jauh lagi Harmer (1983) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah
kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui 11 kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari
masyarakat yang berbeda.
Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan yang kompleks dan berkaitan dengan berbagai keterampilan mikro (Brown, 2001) seperti (1) menghasilkan ujaran-ujaran bahasa yang bervariasi; (2) menghasilkan fonem-fonem dan varian-varian alophon lisan yang berbeda dalam bahasa Inggris; (3) menghasilkan pola-pola tekanan, kata-kata yang mendapat dan tidak mendapat
tekanan, struktur ritmis dan intonasi; (4) menghasilkan bentuk-bentuk kata dan frasa yang diperpendek; (5) menggunakan sejumlah kata yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis; (6) menghasilkan pemberbicaraan yang fasih
dalam berbagai kecepatan yang berbeda; (7) mengamati bahasa lisan yang dihasilkan dan menggunakan berbagai strategi yang bervariasi, yang meliputi pemberhentian sementara, pengoreksian sendiri, pengulangan, untuk kejelasan
pesan; (8) menggunakan kelas kata (kata benda, kata kerja, dll.) sistem (tenses, agreement dan plural), pengurutan kata, pola-pola, aturan-aturan dan bentuk ellipsis; (9) menghasilkan pemberbicaraan yang menggunakan elemen-elemen alami dalam frasa, stop, nafas dan kalimat yang tepat; (10) mengekspresikan makna tertentu dalam bentuk-bentuk gramatika yang berbeda; (11) menggunakan
komunikasi dengan tepat menurut situasi, partisipan dan tujuan; (13) menggunakan register, implikatur, aturan-aturan pragmatik dan fitur-fitur
sosiolinguistik yang tepat dalam komunikasi langsung; (14) menunjukkan hubungan antara kejadian dan mengomunikasikan hubungan-hubungan antara ide 12
utama, ide pendukung, informasi lama, informasi baru, generalisasi dan contoh; (15) menggunakan bahasa wajah, kinetik, bahasa tubuh dan bahasa-bahasa nonverbal yang lainnya bersamaan dengan bahasa verbal untuk menyampaikan makna; dan (16) mengembangkan dan menggunakan berbagai strategi berbicara, seperti memberi tekanan pada kata kunci, parafrase, menyediakan konteks untuk menginterpretasikan makna-makna kata, meminta pertolongan dan secara tepat
menilai seberapa baik interlokutor memahami apa yang dikatakan. Richard (1986: 21-28) membagi fungsi berbicara menjadi tiga sebagai
berikut:
(1) Berbicara sebagai interaksi (talk as interaction)
Fungsi berbicara sebagai interaksi mengacu pada kegiatan percakapan yang biasa dilakukan dan berhubungan dengan fungsi sosial. Fokus
utamanya adalah kepada si penutur dan bagaimana mereka menunjukkan diri mereka kepada orang lain. Bahasa tuturannya bisa
formal ataupun berupa tuturan yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Beberapa kemampuan yang ikut dilibatkan
dalam kegiatan berbicara sebagai sebuah interaksi, antara lain: a) membuka dan menutup percakapan;
b) memilih topik;
c) membuat percakapan-percakapan kecil/ringan; d) bergurau;
e) menceritakan kejadian dan pengalaman pribadi; f) dilakukan secara bergantian;
g) adanya interupsi/menyela percakapan; h) bereaksi terhadap satu sama lain; i) menggunakan gaya berbicara yang sesuai.
(2) Berbicara sebagai transaksi (talk as transaction)
Kegiatan berbicara sebagai transaksi lebih memfokuskan kepada pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan berbicara. Richard (1986:
21-28). Ada dua tipe dalam kegiatan sebagai sebuah interaksi yaitu: (a) Kegiatan yang fokus utamanya memberi dan menerima informasi,
dengan kata lain membuat orang lain mengerti dengan jelas dan akurat terhadap pesan yang disampaikan daripada peserta tutur dan
bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain. Ketepatan bukannya menjadi fokus utama selama informasi berhasil
dikomunikasikan dan dimengerti.
(b) Kedua adalah kegiatan yang fokus utamanya adalah untuk memeroleh barang atau jasa, misalnya dalam percakapan seseorang
yang memesan makanan di restoran.
(3) Berbicara sebagai penampilan (talk as performance) Berbicara sebagai penampilan mengacu pada kegiatan berbicara guna
menyampaikan informasi di depan umum atau peserta. Berbicara model ini lebih kepada berbicara satu arah daripada dua arah (dialog)
dan lebih terkesan seperti bahasa tulis daripada percakapan. Richard (1986: 21-28)
Ciri utama kegiatan berbicara sebagai penampilan adalah (a) fokus pada pesan yang ingin disampaikan dan kepada peserta, (b) 14
mementingkan bentuk dan ketepatan ucapan, (c) bahasa yang digunakan terkesan seperti bahasa tulis, (d) lebih sering monolog, dan
(e) struktur dan urutannya dapat diprediksikan. Dalam pembelajaran bahasa, menurut Bygate (1995:5-6) ada dua cara mendasar yang kerap
kita lakukan yang dapat dikategorikan sebagai skill (keterampilan) yaitu:
sebuah komunikasi misalnya ingin mengungkapkan apa, bagaimana mengatakannya, mengembangkannya sesuai dengan
yang dimaksudkan oleh orang lain.
Belajar bahasa Inggris berarti memiliki kemampuan untuk memproduksi ujaran grammatikal dari sebuah bahasa dan tahu bagaimana menggunakannya
dengan benar untuk dapat berkomunikasi secara efektif. (Harmer, 1983:13). Dalam mempelajari bahasa di kelas, siswa lebih cenderung memberi perhatian untuk menjadi lebih teliti (accuracy) akan tetapi pada dasarnya mereka juga harus
berlatih untuk menggunakan bahasa secara fasih (fluency). Ada beberapa alasan tentang dilakukannya latihan berbicara selama pelajaran berlangsung di kelas antara lain (Baker dan Westrup, 2003:5) antara
lain: 15
1) Kegiatan berbicara akan menguatkan pemerolehan kosakata baru, tata bahasa, dan bahasa secara fungsional
2) Memberikan kesempatan siswa untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya
3) Memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih mahir untuk mencoba bahasa yang telah mereka ketahui dalam situasi dan topik
yang berbeda
4) Memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih mahir untuk mencoba bahasa yang telah mereka ketahui dalam situasi dan topik
yang berbeda
Dengan demikian, untuk memudahkan guru dalam merancang program pengajaran yang baik demi mencapai tujuan komunikasi, maka guru diharuskan mengetahui fungsi bahasa yang akan dipakai siswa untuk
berinteraksi dalam sebuah komunikasi. 2.3.2 Faktor-Faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seseorang untuk dapat 16
menjadi pembicara yang baik. Faktor-faktor tersebut adalah faktor verbal dan faktor non-verbal (Arsjad dan Mukti, 1988:17).
1) Faktor Verbal a) Ketepatan ucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang kurang tepat dapat
mengalihkan perhatian pendengar. Hal ini akan mengganggu keefektifan berbicara. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang kurang tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, kurang menarik, atau setidaknya
dapat mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi atau pemakainya (pembicara)
dianggap aneh. (Arsjad dan Mukti, 1988:19).
b) Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi
Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara, bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu.
Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai akan menyebabkan masalahnya
menjadi menarik. Sebaliknya, jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan tentu berkurang.
Penempatan tekanan pada kata atau suku kata yang kurang sesuai akan mengakibatkan kejanggalan. (Arsjad dan Mukti, 1988:19) 17 Kejanggalan ini akan mengakibatkan perhatian pendengar akan beralih pada cara berbicara pembicara, sehingga pokok pembicaraan atau pokok pesan yang disampaikan kurang diperhatikan. Akibatnya, keefektifan komunikasi akan
terganggu.
Pilihan kata hendaknya tepat, jelas dan bervariasi. Dalam setiap
pembicaraan pemakaian kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk. Kata-kata-kata yang belum dikenal memang mengakibatkan
rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. (Arsjad dan Mukti, 1988:19).
Hendaknya pembicara menyadari siapa pendengarnya, apa pokok pembicaraannya, dan menyesuaikan pilihan katanya dengan pokok pembicaraan dan pendengarnya. Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau
pembicara berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya.
d) Ketepatan sasaran pembicaraan
Hal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya.
Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan
atau menimbulkan akibat. (Arsjad dan Mukti, 1988:20). 18
2) Faktor Nonverbal
a) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
Pembicaraan yang tidak tenang, lesu dan kaku tentulah akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. (Arsjad dan
Mukti, 1988:21). Sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat dan penguasaan materi. Penguasaan materi yang baik setidaknya akan menghilangkan
kegugupan. Namun, sikap ini memerlukan latihan. Kalau sudah terbiasa, lama-kelamaan rasa gugup akan hilang dan akan timbul sikap tenang dan wajar
b) Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara
Pandangan pembicara hendaknya diarahkan kepada semua pendengar. Pandangan yang hanya tertuju pada satu arah akan menyebabkan pendengar
memperhatikan pendengar, tetapi melihat ke atas, ke samping atau menunduk. Akibatnya, perhatian pendengar berkurang. Hendaknya diusahakan supaya
pendengar merasa terlibat dan diperhatikan (Arsjad dan Mukti, 1988:21).
c) Kesediaan menghargai pendapat orang lain
Dalam menyampaikan isi pembicaraan, seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka, dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru. (Arsjad dan Mukti, 1988:21). Namun, tidak berarti si pembicara begitu saja 19 mengikuti pendapat orang lain dan mengubah pendapatnya. Ia juga harus mampu
mempertahankan pendapatnya dan meyakinkan orang lain. Tentu saja pendapat itu harus mengandung argumentasi yang kuat, yang diyakini kebenarannya.
d) Gerak-gerik dan mimik yang tepat
Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal penting selain mendapatkan tekanan, biasanya juga dibantu
dengan gerak tangan atau mimik. (Arsjad dan Mukti, 1988:21). Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, artinya tidak kaku. Akan tetapi, gerak-gerik yang berlebihan akan menggangu keefektifan berbicara. Mungkin perhatian pendengar
akan terarah pada gerak-gerik dan mimik yang berlebihan ini, sehingga pesan kurang dipahami.
e) Kenyaringan suara
Tingkat kenyaringan ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, dan jumlah pendengar. (Arsjad dan Mukti, 1988:22). Yang perlu diperhatikan adalah jangan berteriak. Kita atur kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh pendengar
dengan jelas.
f) Kelancaran
pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu 20 diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan sebagainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pokok
pembicaraannya.
g) Relevansi/Penalaran
Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis (Arsjad dan Mukti, 1988:24). Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah
logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
h) Penguasaan Topik
Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik yang baik akan
menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi, penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara (Arsjad dan Mukti,
1988:24). .
2.3.3 Pelafalan/pengucapan bahasa Inggris
Pelafalan bahasa Inggris adalah faktor yang sangat penting dalam keberhasilan komunikasi lisan. Pelafalan yang salah dapat menyebabkan
terjadinya salah pengertian dan pada akhirnya menyebabkan gangguan komunikasi atau communication breakdown. 21
Dalam kamus Longman Dictionary of Applied Linguistics (1985: 232), pengucapan adalah cara mengeluarkan suara tertentu yang menekankan pada suara yang terdengar oleh pendengarnya, dan bukan teknik mengeluarkan suara
tertentu atau yang biasa disebut artikulasi.
Bunyi dan lambang bahasa Inggris adalah salah satu dari kelompok bahasa yang tidak sempurna karena sistem pengucapan lambang bunyinya tidak konsisten
mewakili lebih dari empat puluh bunyi yang berbeda. (Zubaidi, 2006: 150). Perhatikan satu contoh cara satu lambang bunyi yang diucapkan secara berbeda:
Dane’s father who lives in a village in America, called my Dad many times. (Widarso, 1989:31). Dalam satu kalimat tersebut terdapat sembilan lambang bunyi
yang sama, yaitu a. Namun dari satu lambang bunyi tersebut ada tujuh bunyi yang berbeda. Bunyi yang berbeda tersebut adalah sebagai berikut: Dane [ei]; father
[a]; a [e]; village [i]; America [e] [a]; called [o:]; Dad [æ]; many [e]. Berbeda dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia merupakan salah satu kelompok bahasa yang sempurna karena antara ucapan dan lambang bunyinya
konsisten (kecuali mungkin pada lambang bunyi e yang bisa dibaca [e] pada setiap dan [é] pada kata tempe; dan pada lambang bunyi o yang bisa dibaca [o]
pada kata jodo dan [c] pada kata lombok) . Dalam bahasa Inggris masih terdapat banyak lagi masalah
pengucapan yang serupa itu. Hal ini menjadi hambatan yang cukup besar khususnya bagi pembelajar, apalagi bagi pembeajar pemula. Khusus untuk bunyi 22
vokal sendiri, bahasa Inggris ,mempunyai 20 bunyi yang berbeda dan dilambangkan dalam satu lambang atau dua lambang. Berikut ini adalah daftar
bunyi baik vokal dan konsonan dalam bahasa Inggris. Tabel 2.1 Daftar bunyi vokal bahasa Inggris
(Ladefoged, 1989: 56) Front Central Back
Long Short Long Short Long Short Close i: I u: ʊ
Mid З: ə ɔ: Open æ ʌ a: a
Tabel 2.2 Daftar bunyi vokal dan lambang bunyi dalam bahasa Inggris (O’Connor, 1980: 44)
I fill e fell
ɔ: fall u full
ɔi foil æ cat a cot
ʌ cut З: curt u: fool ei fail
əu foal ai fail au foul
a: cart Iə tier eə tear uə tour
ə banana 23
Konsonan bahasa Inggris memiiki 24 bunyi yang berbeda. Berikut adalah daftar bunyi konsonan bahasa Inggris. (Ladefoged, 1989: 51) dan lambang bunyi
konsonan bahasa Inggris. (Hornby, 1974: 112 ). Tabel 2.3 Daftar bunyi konsonan bahasa Inggris
(Ladefoged, 1989: 57) Bilabial Labio
dental
Dental alveolar Palato Alveolar Palatal Velar
n ŋ Stop
p b
t d k g Fricative
f v θ ð s z ∫ ʒ
Central (approximant)
w r j Lateral (approximant)
l
Tabel 2.4 Daftar bunyi konsonan dan lambang bunyi dalam bahasa Inggris (Hornby, 1974: 112)
Homofon adalah kata-kata yang Bunyi Lambang
t tea d did k cat g got t∫ chin dj june f fall v voice
θ thin ð then s so z zoo ∫ she
ʒ vision h how m man n no ŋ sing
l leg r red j yes w wet 24
diucapkan sama tetapi ditulis dengan ejaan yang berbeda dan seringkali mempunyai makna yang berbeda (Ladefoged, 1989: 130). Bagi pembelajar ini homofon sering menimbulkan masalah karena pengucapannya sama sehingga
salah memahaminya kecuali dia mengetahui dengan baik konteks pembicaraannya.
1) peace [pi:s] = kedamaian vs. piece [pi:s] = sepotong 2) two [tu:] = dua vs. too [tu:] = juga vs. to [tu:] = untuk; ke
mengalami kesulitan untuk menirukan bunyi-bunyi tertentu, sementara orang-orang bangsa lain mengalaminya. Beberapa kata dalam bahasa Inggris cenderung
juga diucapkan secara salah karena bunyi yang terdapat di dalam kata tersebut mirip. (Zubaidi, 2006: 156).
Pembelajar sering menyepelekan perbedaan bunyi yang mirip tersebut. Contohnya adalah bunyi [s] dan bunyi [∫]. Kata she [∫i:] (dia perempuan) seringkali diucapkan [si] yang merupakan bunyi untuk kata see (melihat) atau sea (laut). Bila demikian situasinya maka pembelajar tentu akan menggunakan bunyi yang sama untuk kata berbeda dalam kalimat: She sells sea shells on the sea
shore. (Zubaidi, 2006: 156). Berikut ini adalah contoh beberapa kata dalam bahasa Inggris yang memiliki lafaal yang mirip (tetapi berbeda), yang cenderung
akan diucapkan sama oleh pembelajar (Ladefoged, 1989: 140). 25 Lambang bunyi yang tidak diucapkan selain dari masalah-masalah
pelafalan di atas, dalam bahasa Inggris juga terdapat beberapa kata yang lambang bunyinya tidak dilafalkan (Ladefoged, 1989:140). Seringkali pembelajar salah dalam mengucapkan kata-kata ini karena semua lambang bunyinya diucapkan. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut, dimana lambang bunyi yang dicetak
tebal tidak dilafalkan. Know = mengetahui
Knife = pisau Write = menulis Whole = keseluruhan Mnemonic = alat pembangkit
Psychology = psikologi Science = ilmu pengetahuan
Wednesday = rabu (Zubaidi, 2006:157)
2.3.4 Tata bahasa Inggris
bahasa itu, dan ia menjadi dasar untuk melahirkan asperasi bahasa yang baik dan indah, serta menjamin kemantapan bahasa sesuatu bahasa. Menurut Gebhard lagi, tatabahasa berfungsi dalam memisahkan bentuk-bentuk bahasa
yang gramatis, daripada yang tidak gramatis. Untuk itu dalam mempelajari bahasa Inggris. diperlukan pemahaman terhadap kaidah-kaidah yang mengatur
penggunaan bahasa yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan grammar. Bagian-bagian grammar tersebut adalah:
1) Kata-kata benda tunggal dan jamak (Singular and plural nouns) 26 Perbedaan kata benda tunggal dan kata benda jamak daam kalimat
bahasa Inggris perlu diperhatikan, karena berpengaruh terhadap penggunaan kata kerja (baik verb to be, verb to have maupun kata kerja).
Kata benda tunggal dalam kalimat harus memakai kata kerja tunggal, sedangkan kata benda jamak harus menggunakan kata kerja jamak
(Murphy, 1985:213). contoh:
This car is expensive (mobil ini mahal) (car bentuk tunggal, memakai is)
These cars are expensive (mobil-mobil ini mahal) (cars bentuk jamak, memakai are)
Pada umumnya kata benda jamak dibentuk dengan menambahkan –s atau –es pada kata benda tungga, dengan beberapa ,perkecualian
(Murphy, 1985:213).
Cara membentuk kata benda jamak:
a) Dengan menambahkan –s pada kata benda tunggal: Tunggal Jamak Arti
door doors pintu school schools sekolah
(Murphy, 1985:213) 27
-x, –z, –ch, dan –sh.
Tunggal Jamak Arti ass asses keledai
bus buses bus box boxes kotak buzz buzzes dengungan
bench benches bangku brush brushes sikat
(Murphy, 1985:213)
c) Dengan menambahkan –es jika kata benda tunggal itu berakhir huruf –o :
Tunggal Jamak Arti hero heroes pahlawan negro negroes orang negro
tomato tomatoes tomat mango mangoes mangga
(Murphy, 1985:213)
Akan tetapi hanya dengan menambahkan –s saja, jika kata benda tunggal itu berakhir huruf –oo, io, -oe, atau –yo, dan beberapa kata benda berakhiran –o yang didahului oleh sebuah konsonan (huruf mati) di bawah
(Murphy, 1985:213)
d) Dengan mengubah –y menjadi i lalu ditambah –es, jika y didahului oleh sebuah huruf mati:
Tunggal Jamak Arti baby babies bayi lady ladies wanita duty duties tugas/kewajiban
library libraries perpustakaan
(Murphy, 1985:214)
e) Dengan mengubah –f atau –fe menjadi ves: Tunggal Jamak Arti
calf calves anak sapi knife knives pisau shelf shelves rak/papan
wolf wolves serigala
(Murphy, 1985:214)
Bentuk jamak yang tidak beraturan (irregular plurals)
Sejumlah kata benda mempunyai bentuk jamak yang tidak beraturan (Murphy, 1985:214).
a) Dengan mengadakan perubahan vocal (huruf hidup) yang di dalamnya: Tunggal Jamak Arti
tooth tooth kaki goose geese angsa
loose lice kutu mouse mice tikus 29
(Murphy, 1985:215)
b) Dengan memberikan –en atau –ne untuk membentuk jamaknya:
Tunggal Jamak Arti ox oxen lembu jantan
child children anak brother brethren saudara
cow kine sapi
(Murphy, 1985:215)
c) Kata-kata benda yang mempunyai bentuk jamak yang sama dengan bentuk tunggalnya:
Tuggal Jamak Arti swine swine babi deer deer rusa sheep sheep domba
fish fish ikan (Murphy, 1985:215)
d) Kata-kata benda yang selalu dalam bentuk jamak dan tidak mempunyai bentuk tunggal:
Arms senjata Bellows hembusan
Scissors gunting Trousers celana panjang
Shoes sepatu 30 Shorts celana pendek
(Murphy, 1985:215)
2) Adalah (to be)
To be (is, am, are) berarti ada atau adalah, tetapi dalam bahasa Indonesia, pada umumnya to be tidak diterjemahkan (Murphy, 1985:215). To be digunakan sebagai penghubung antara subjek dan predikat. Predikat
suatu kalimat dapat terdiri atas: a) Kata sifat (adjective)
b) Kata benda (noun)
c) Kata keterangan/tambahan (adverb)
d) Kata kerja (verb) yang menyatakan sedang melakukan sesuatu. To be menghubungkan subjek dan predikat, to be dapat berubah-ubah
sesuai dengan subjek (pelaku) (Murphy, 1985:215). Contoh: a) Predikat kalimat kata sifat:
1) I am happy = Saya gembira 2) You are right = Anda benar 3) He is handsome = Ia (laki-laki) tampan
4) We are healthy = Kami sehat
(Murphy, 1985:215)
1) I am a teacher = Saya (adalah) seorang guru 2) You are a physician = Anda seorang dokter
3) He is a student = Ia seorang siswa 4) She is a singer = Ia seorang penyanyi
(Murphy, 1985:215)
c) Predikat kalimat kata keterangan:
1) I am in the room = Saya di dalam kamar 2) You are in the class = Anda di dalam kelas
3) We are at home = Kami di rumah 4) She is in the garden = Dia berada di kebun
(Murphy, 1985:215)
d) Predikatnya kata kerja yang menyatakan sedang melakukan sesuatu: 1) I am reading a book = Saya sedang membaca buku
2) You are studying English = Anda sedang mempelajari bahasa Inggris
3) We are sitting = Kami sedang duduk
4) She is watching television = Dia sedang menonton televise (Murphy, 1985:215)
3) Kalimat Verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya terdiri atas kata kerja. Kata kerja yang belum berfungsi dalam kalimat diawali dengan to dan disebut
Infinitive atau Non-Finite Verb (Murphy, 1985:216). To study belajar
Akan tetapi, bila kata kerja itu telah dipakai sebagai predikat, maka: to tidak dipakai lagi.
Subject Predicate Object I/We Study English everyday
You Read English everyday He/She Writes English everyday
They speak English everyday
(Murphy, 1985:216)
Macam-macam kalimat verbal
Dalam kalimat verbal bila kita ingin membuat: (1) Kalimat negative, disertai kata kerja bantu.
Kata kerja bantu itu biasanya berbentuk:
a) Do not, bila subjeknya jamak, seperti: we, you dan they atau kalau subjeknya tunggal, seperti: I dan You. (Murphy, 1985:216). b) Does not, bila subjeknya tunggal, seperti: he, she dan it Kata kerja bantu ini akan diletakkan sesudah subjek misalnya:
I do not study English everyday He does not (doesn’t) study English everyday
(Murphy, 1985:216). 33
(2) Kalimat negative interrogative, dipakai juga peraturan seperti no. 1 di atas, tetapi dengan meletakkan kata kerja bantu itu di depan subjeknya dalam
kalimat (Murphy, 1985:216). Contoh:
(3) Kalimat Tanya (interrogative) Digunakan kata kerja bantu: Do, untuk subjek : I, you, we, they
Does, untuk subjek : he, she , it
Contoh
Do you read a book everyday? Does he read a book everyday?
(4) Kalimat perintah (imperative)
Kata kerja langsung diletakkan paling depan atau sesudah please/don’t. (Murphy, 1985:217).
Contoh: Study, please 34
Please, speak Don’t run
(Murphy, 1985:217).
4) Indefinite numerals
bilangan itu. Oleh karena itu disebut Indefinite Numerals. (Murphy, 1985:219).
Kata-kata sifat utama golongan ini adalah: all, some, enough, no, many, few, several.
Contoh. All men are mortal Some men die young Fifteen men will be enough
No men were present Many men are poor
Few men are rich Several men came (Murphy, 1985:219).
5) Tingkat perbandingan (degree of comparison)
Kebanyakan kata sifat yang menunjukkan sifat, dua buah kata sifat kuantitatif, yaitu much dan little, dan dua buah kata sifat bilangan, yaitu many dan few, mempunyai tingkat perbandingan (degree of comparison).
(Murphy, 1985:220). 35
Tingkat perbandingan berjumlah tiga tingkat, yaitu: The positive degree (tingkat biasa) The comparative (tingkat lebih/perbandingan)
The superlative (tingkat paling)
(Murphy, 1985:220).
bersuku kata dua dapat dibentuk Comparative dengan menambahkan – -er atau –r, dan Superlative dengan menambahkan –est dan –est
ditambahkan. (Murphy, 1985:223).
Positive (bentuk kata
positive) Comparative (bentuk komparatif)
Superlative (bentuk superlatif) Rich Richer Richest Thick Thicker Thickest
Fast Faster Fastest Small Smaller Smallest great Greater Greatest
(Murphy, 1985:223).
Kata sifat yang bersuku kata dua (yang tekanan suaranya jatuh pada suku kata awal) atau lebih, ditambahkan more untuk membentuk
Comparatives dan most untuk Superlatives.
Positive (bentuk kata
positive) Comparative (bentuk komparatif)
Superlative (bentuk superlatif)
Beautiful more beautiful most beautiful Interesting more interesting most interesting
difficult more difficult most difficult 36
Beberapa kata sifat dibentuk dengan cara tak beraturan (irregular) untuk Comparatives dan superlatives (Murphy, 1985:225).
Positive (bentuk kata
positive) Comparative (bentuk komparatif)
Superlative (bentuk superlatif)
Bad worse Worst Good better Best Little less Least Much more Most Fore former Foremost
6) Kata kerja bantu (auxiliary verbs)
Auxiliary verbs adalah kata kerja bantu yang diletakkan di depan kata kerja pokok untuk membentuk bentuk waktu (tense), ragam grammatikal (voice)
dan modus (mood) (Murphy, 1985:226).
Misalnya: can, could, may, might, must, shall, should, will, would, ought, dsb. Be (is, am, are, was, were, been), do (do, does, did), have (have, has, had), need, dare dan used to kadang-kadang juga dipakai sebagai Auxiliary
Verbs (kata kerja bantu).
2.3.5 Kata
bahasa. Yang penting adalah pengertian yang tersirat di balik kata yang digunakan harus mampu dipahami oleh orang lain sehingga tercipta komunikasi dua arah 37 yang baik dan harmonis. Keraf (2007: 23) memberikan pengertian kata sebagai
suatu unit dalam bahasa yang memiliki komponen tertentu dan secara relative memiliki distribusi yang bebas.
Kata menurut pemakaian bahasa oleh Arifin dan Junaiyah (2008:2) didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang diujarkan, bersifat berulang ulang, dan secara potensial dapat berdiri sendiri. Kosa kata atau perbendaharaan kata adalah jumlah seluruh kata dalam suatu bahasa; juga kemampuan kata-kata yang
diketahui dan digunakan seseorang dalam berbicara dan menulis. Kosa kata dari suatu bahasa itu selalu mengalami perubahan dan berkembang karena kehidupan
yang semakin kompleks. Dengan mengerti kegunaan dan fungsi dari suatu kata dan bagaimana kata-kata dapat tergabung dan menyatu membuat sebuah komunikasi yang bermakna. Sebagian besar siswa tidak mampu berkomunikasi
yang benar secara gramatikal karena mereka tidak mengetahui kegunaan dan fungsi dari tiap-tiap bagian dari berbicara. Bagian-bagian tersebut dijelaskan
sebagai berikut.
1) Kata benda atau nomina (noun)
Kata benda sering digunakan untuk menamai seseorang, tempat atau benda. Door, hand, school ,day adalah contoh dari noun. Noun (kata benda) dapat dibedakan menjadi dua sub kelass. Satu diantaranya memiliki
dua bagian . (Finegan, 1992: 115) a. Proper Noun
Proper Nouns adalah nama orang-orang, tempat, dan sesuatu yang biasanya diawali dengan huruf kapital pada bagian awal penulisan. 38
Contoh: Debbie Mars
b. Common Noun
Common Nouns biasanya tidak diawali dengan huruf kapital pada awal penulisan katanya, kecuali saat kata tersebut terletak pada awal kalimat.
115):
Count Nouns Cup loaf stalk Coin plank sheet
Count nouns merupakan kata benda yang dapat dihitung dan memiliki bentuk tunggal dan bentuk jamak (Finegan, 1992: 115).
.
Noncount Nouns money bread hay Milk wood paper
Noncount Nouns merupakan kata benda yang tidak dapat dihitung dan dalam bentuk tunggalnya tidak dapat ditambahkan kata a atau an didepan
kata tersebut (Finegan, 1992: 115)
Akhiran Pembentuk Kata benda
Berikut ini akan dijelaskan beberapa akhiran yang dapat membentuk suatu kata menjadi kata benda. (Finegan, 1992: 116)
a) Pembentuk agen atau objek 39 -er : driver, employer, examiner, writer -or : actor, collector, director, educator, elevator
-ar : beggar, liar
-ant : accountant, assistant, attendant, combatant, servant -ist : biologist, chemist, economist, dentist, scientist
-ee : employee, examinee, refugee, referee, invitee (Finegan, 1992: 116)
b) Pembentuk kata benda dari kata kerja (verb) -age : breakage, coverage, drainage, marriage, leakage
-al : approval, arrival, refusal
-ance : acceptance, appearance, performance -ery : delivery, discovery,recovery
-sion : collision, decision, division, confusion -ation : education, attention, solution
-ure : departure, failure, closure (Finegan, 1992: 116)
c) Pembentuk kata benda abstrak dari kata sifat (adjective) -ance/-ence : importance, absence, presence, diligence
-ity : ability, activity, equlity, divinity -ness : darkness, happiness, kindness -th : length, strength, truth, width 40
(Finegan, 1992: 117) 2) Kata kerja (verb)
Verb (kata kerja) sering ditujukan sebagai sebuah kata yang menunjukkan aksi atau tindakan (Gebhard, 1996: 42).
Verb (kata kerja) dapat membentuk sebuah kelas kata, adapun bagian-bagiannya adalah:
a. Melakukan suatu pekerjaan: take, go, jump, talk, ran
b. Dapat membuat suatu bentuk –ing, atau infinitive (bentuk to-) to swim/swimming to listen/listening
to be/being to write/writing
c. Dapat dikombinasikan dengan kata benda, determiners, dan kata ganti, untuk memberitahu kita siapa (atau apa) yang dilakukan, untuk apa,
dan untuk siapa. We slept soundly They played hockey Adam gave Tia a gift
d. Dapat muncul baik dalam bentuk sendiri (single verns) maupun dalam bentuk kelompok (verbs groups) – yaitu suatu untaian kata yang
Single Verbs Know learns discover
Verbs Groups
Have known is learning will discover
Kata kerja mempunyai dua bagian sub kelas: 41
a. Lexical verbs (dapat dikatakan ”dictionary verbs”) adalah kata kerja uang mempunyai arti. Run, jump, sit, stand;
b. Auxiliary verbs/kata kerja bantu (dapat dikatakan ”helping verbs”) adalah kata kerja yang biasanya digunakan untuk tujuan gramatikal
daripada untuk arrti; They have all gone They will not return They did not see the snow
Kata kerja yang ditebalkan di atas tidak memiliki arti, mereka adalah auxiliary (kata kerja bantu). Tanpa mereka kalimat
tetap memiliki arti tetapi tidak gramatikal. They all gone
They not return They not see the snow
(Finegan, 1992: 226)
3) Kata sifat (adjective)
46). Kata sifat menjelaskan kata benda dalam bentuk sebagai keterangan ukuran, warna, dan nomber.
Kata sifat memiliki tiga sub kelas sebagai berikut. a. Descriptive adjective
Descriptive adjective adalah tipe adjective yang paling umum. (Finegan, 1992: 227). Beberapa dari tipe ini terbentuk dari anggota kelas kata lain yang diikuti oleh akhiran. (reason -> reasonable, 42 wonder -> wonderful). Beberapa contoh descriptive adjective yang
menyatakan kualitas: Beautiful smart ugly pretty Stupid clever patient honest
b. Proper Adjectives
Tipe ini biasanya dibentuk dengan akhiran dari proper nouns. Layaknya seperti proper nouns, proper adjectives biasanya dimulai
dengan huruf kapital. Proper Noun Proper Adjective
Australia Australian China Chinese Shakespeare Shakesperian
(Finegan, 1992: 228)
c. Verbal Adjectives
Kata sifat verbal adalah kata kerja yang berfungsi sebagai kata sifat.
1) Bentuk –ing (present participle): Shaking taking noting
Shaken taken noted
Dari penjelasan diatas, kita dapat merangkum akhiran kata yang dimiliki oleh kata sifat yang diderivasi dari kelas kata lain. (Hartanto, 1996: 67)
-able :comfortable -ish : greyish 43 -ful : playful -less : useless -al : physical -ous : dangerous
-ic : scientific -y : dirty
Empat Kriteria Kata Sifat
a) Dapat berfungsi sebagai atributif (yang terletak diantara determiner dan kata benda, misalnya an ugly painting
b) Dapat berfungsi sebagai predikatif (sebagai komplemen subjek), atau sebagai komplemen objek.
The painting is ugly I thought the painting ugly
c) Dapat diberi premodifier very They are very happy The very happy children
d) Dapat mengambil bentuk komparatif dan superlaatif baik secara infleksi [=dengan akhiran –er dan –est] maupun secara perifrastik [= dengan
menggunakan more dan most]. Happy-happier-happiest [secara infleksi]
Intelligent-more intelligent-most intelligent [secara perifrastik] 4) Kata keterangan (adverb)
Kata keterangan biasanya dimaksudkan sebagai kata yang memberikan informasi lebih tentang verb, adjective atau adverb lainnya. Secara
morfologi kata keterangan dapat dikelompokkan sebagai berikut. a) Adverb sederhana, misalnya: just, only, well.
c) Adverb derivasional. Banyak dari adverb yang diderivasi dari adjective (kata sifat) dengan diberi akhiran –ly:
oddly, interestingly,warmly, quickly (Finegan, 1992: 238) 5) Kata ganti (pronoun)
Kata ganti sering dimaksudkan sebagai sebuah kata yang bisa digunakan sebagai sebuah noun. Kata ganti dapat dibedakan menjadi empat sub kelas.
a. Personal pronoun
Personal pronoun mengacu pada kamu, aku dan kepada orang lain. Daftar dibawah ini menunjukkan bentuk yang berbeda dari personal
pronouns.
Subjective Pronoun Objective
pronoun Possessive
pronoun Possessive determiners
Emphatic reflexive pronouns I me mine my myself You you yours your yourself
He him his his himself She her hers her herself
b. Indefinite pronouns
Indefinite pronouns adalah some-, any-, no-,every-, yang dikombinasikan dengan –body, -one, -thing:
Somebody anybody nobody everybody Someone anyone no one everyone Something anything nothing everything 45
c. Interogative pronoun
Interogative pronoun adalah pronoun yang digunakan dalam bentuk tanya. Terdapat lima interrogative pronouns:
Who? Whom? Whose? What? Which?
d. Relative pronouns
Relative pronouns terletak pada bagian depan dari adjective clauses (disebut juga dengan relative clauses) yang memodifikasi sebuah noun
atau sebuah pronoun. Relative pronouns yang paling umum adalah: Who whom whose which
That when where
6) Kata depan (preposition)
Kata depan adalah sebuah kata yang menunjukkan hubungan dengan kata-kata lainnya dalam suatu kalimat. (Finegan, 1992: 240) Hubungan tersebut antara
lain: arah, tempat, waktu, sebab, cara, dan jumlah.
Kata depan dapat diidentifikasi berdasarkan fungsinya yang menunjukkan hubungan anatar sesuatu. Berikut adalah daftar dari lima puluh kata depan yang
After between minus through Against beyond near to Along by next towards Amid despite of under Among down off unlike 46
Around during on up At except onto with
Before from out
Dalam garis besarnya makna preposition berkaitan dengan perihal berikut:
a) Ruang (in, on, outside) b) Waktu (in, at, on, during, since, for)
c) Arah atau gerak (into, up, down)
d) Sebab (because of, due to, thank to, owing to, on account of) e) Hal (about, on, concerning, instead of)
f) Alat, cara, dan lain-lain (with a hammer in amazement, in blue dress)
7) Kata penghubung (conjunction)
Kata penghubung adalah sebuah kata yang menghubungkan kata-kata atau kelompok kata lainnya. (Finegan, 1992: 241). Kata penghubung dapat
dibedakan menjadi dua bagian: a. Coordinating conjuctions and, but, either … or, neither …nor
b. Subordinating Conjuctions Kata benda whoever, whichever, that
8) Kata seru (interjections) 47
Kata seru adalah sebuah kata seperti urrgh!, gosh!, wow!, yang menunjukkan ungkapan emosi atau seperti senang, kaget, terkejut, dan jijik, tapi tidak menunjuk pada arti lain. (Finegan, 1992: 241). Interjection
jarang digunakan dalam berbicara atau menulis.
2.3.5 Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga dengan Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. (Burns, 2009: 6). Fokus PTK adalah pada siswa atau pada proses belajar mengajar yang terjadi
di kelas. Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan nyata Guru dalam pengembangan profesionalnya. Secara rinci, tujuan PTK antara lain: (1)
Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah, (2) Membantu Guru dan tenaga kependidikan
lainnya mengatasi masalah pembelajaran, (3) Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan, (4) Menumbuhkembangkan
budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara
berkelanjutan. (Burns, 2009: 8)
Dari PTK dapat dihasilkan upaya-upaya (1) peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah, (2) peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas, (3) peningkatan atau perbaikan 48
kualitas penggunaan media, alat bantu, dan sumber belajar lainnya, (4) peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa, (5) peningkatan atau perbaikan terhadap masalah-masalah pendidikan anak di sekolah, dan (6) peningkatan atau perbaikan kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi
1) peneliti atau guru tidak perlu meninggalkan kelas atau pekerjaannya; 2) tidak memerlukan biaya yang tinggi dan dapat dilakukan kapan saja;
3) hasil penelitiannya yang direncanakan dapat dirasakan;
4) bila treatment (perlakuan) dilakukan kepada responden, mereka dapat merasakan hasilnya;
Treatment yang dilakukan memberikan motivasi kepada subjek didik untuk menghasilkan perubahan sikap. Penelitian tindakan kelas sangat bermanfaat
untuk memperluas kemampuan dan memperoleh pemahaman yang lebih tentang kelas, siswa dan diri sendiri sebagai guru. (Trianto, 2011: 18) Lewin (dalam Suparno, 2008: 11) mengembangkan model spiral dalam
penelitian tindakan yang kemudian menjadi sumber acuan dan banyak dikembangkan oleh para ahli lainnya sebagai berikut:
(4) Refleksi (1) Perencanaan
(2) Tindakan (5) Aksi berikutnya 49
(Suparno, 2008: 11)
Berdasarkan bagan di atas, penelitian tindakan kelas sebagai sebuah siklus menggambarkan seperangkat langkah-langkah untuk selanjutnya diadakan perencanaan ulang, pengamatan ulang dan refleksi ulang. Burns (2009: 8) memberikan penjelasan tentang langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan
sebagai berikut: 1) Perencanaan
rencana tindakan dikembangkan berdasarkan permasalahan yang ada di lapangan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan di era
yang lebih khusus. (Burns, 2009: 8)
2) Tindakan
Rencana yang melibatkan intervensi pada situasi pengajaran harus dipertimbangkan dengan baik untuk dilaksanakan ke dalam suatu
tindakan dengan batasan waktu yang ditentukan. 3) Pengamatan
(3) Observasi 50
Fase ini mencakup pengamatan secara sistematis dampak dari tindakan yang dilakukan dan mencatat/ mendokumentasikan konteks, kegiatan,
dan opin dari semua yang ikut terlibat di dalamnya. 4) Refleksi
Pada fase ini, guru melihat kembali kegiatan yang telah dilakukannya. Dengan kata lain, guru menggambarkan, mengevaluasi, dan mendeskripsikan dampak dari tindakan yang dilakukan dengan tujuan
memberikan penjelasan yang rasional dan memahami permasalahan yang telah dikaji lebih jelas. (Burns, 2009: 8)
2.3.6 Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif perlu dipahami oleh setiap guru bahasa Inggris agar dapat menyusun perencanaan pengajaran, melaksanakan penyajian materi
pelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan proses pembelajaran dengan baik. (Dewi, 2003 : 23). Pendekatan komunikatif dipandang sebagai pendekatan yang unggul dalam pengajaran bahasa. Keunggulan ini antara lain karena berdasarkan