• Tidak ada hasil yang ditemukan

JKA.2016;3(1): 9-18 ARTIKEL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JKA.2016;3(1): 9-18 ARTIKEL PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR SOSIODEMOGRAFI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA PADA BAYI BARU LAHIR DI

RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK KOTA BANDUNG Reynie P. Raya

1

, Nurul Ayu Ahadianingrum

2

, Fatiah Handayani

1

ABSTRAK

Penyebab kematian pada bayi baru lahir adalah infeksi (32%), asfiksia (29%), komplikasi prematuritas (24%), kelainan bawaan (20%), dan lain-lain (5%). Pengetahuan ibu mengenai tanda bahaya pada bayi baru lahir menentukan seberapa baik respon ibu dalam pencarian pelayanan kesehatan. Pengetahuan seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui hubungan karakteristik sosiodemografi dan pengetahuan ibu postpartum tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir di RSKIA Kota Bandung. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA).

Tujuh puluh tujuh ibu post partum yang memiliki bayi usia 0-28 hari diwawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (84,4%) responden berada di kelompok umur 20-35 tahun, 57,1% sudah melahirkan 2-4 anak, 42,9% ibu berpendidikan SMA dan 48% ibu rumah tangga. Lebih dari setengah dari responden (54,5%) memiliki tingkat pengetahuan baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan pengetahuan (p<0,05). Disarankan pada tenaga kesehatan untuk selalu memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya pada ibu hamil dan ibu post-partum, terutama pada mereka yang berpendidikan dasar.

Kata Kunci: sosio-demografi, karakteristik, pengetahuan, tanda bahaya bayi baru lahir

Abstract

Newborn mortality was caused by infection (32%), asphyxia (29%), prematurity complication (24%), congenital abnormalities (20%), and others (5%). Maternal knowledge about danger signs in newborns determine how well the mother’s response in health seeking behaviour.

Knowledge of a person is influenced by socio-demographic factors. The purpose of this study was to determine the relationship of socio-demographic characteristics and postpartum maternal knowledge about danger signs in newborns in RSKIA Bandung. Quantitative descriptive study with cross-sectional approach was conducted in RSKIA. Seventy-seven post partum mothers with infants aged 0-28 days were interviewed using a structured questionnaire.

The results showed that the majority (84.4%) of respondents were in the age group 20-35 years, 57.1% had given birth to 2-4 children, 42.9% of women and 48% high school educated housewives. More than half of respondents (54.5%) categorized as fair in level of knowledge.

There is a significant correlation between maternal education with knowledge (p <0.05).

It is advisable to health workers to maintain information, education and communication particularly on danger signs in newborns for those who only finished basic education.

Keywords: socio-demography, characteristics, knowledge, danger signs in newborns

1

STIKes ‘Aisyiyah Bandung,

2

Puskesmas Kertasari Kabupaten Bandung

(2)

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang tergolong tinggi di dunia.

Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), AKB cenderung menurun dari tahun 1997 sampai 2012, mulai dari 68 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 sampai 32 per 1.000 pada tahun 2012. Angka kematian neonatal menurun dan cenderung stabil pada 5 tahun terakhir yaitu 19 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 dan 2012. Tren yang cenderung menurun ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pelayanan kesehatan yang didapatkan oleh ibu dan bayi.

Akan tetapi, bila dikaitkan dengan target MDGs, dimana diharapkan AKB 23 per 1.000 kelahiran hidup, kualitas pelayanan kesehatan masih harus ditingkatkan (SDKI, 2012).

AKB di Provinsi Jawa Barat cenderung menurun dari tahun 2000 sampai tahun 2012.

Pada tahun 2000, AKB Jawa Barat adalah 45,69 per 1000 kelahiran hidup, pada tahun 2006 menurun menjadi 40,26 per 1000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2012) dan pada tahun 2007 menurun lagi menjadi 39 per 1000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Penurunan AKB ini terus terjadi pada tahun 2010, yaitu 32,26 per kelahiran hidup dan akhirnya pada tahun 2012, menjadi 30 per 1000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2012). Jumlah kematian neonatal dan bayi di Kota Bandung pada tahun 2007 adalah 176 kasus termasuk 61 kematian yang terjadi dalam kandungan (IUFD).

Jumlah kematian bayi di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung pada tahun 2011 terdapat 105 per 4730 Kelahiran Hidup. Penyebab kematian tertinggi tahun 2011 adalah berat bayi lahir rendah (BBLR) 54 kasus, asfiksia 23 kasus, sepsis 7 kasus dan penyebab lainnya. Sedangkan dalam tiga bulan terakhir, penyebab kesakitan yang terjadi pada neonatal

yang tercatat di RSKIA Kota Bandung adalah BBLR 9 kasus, febris 41 kasus, ikterus 166 kasus, kejang- demam 3 kasus, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) 238 kasus, sepsis 2 kasus, pneumonia 2 kasus, sianosis 1 kasus, dan diare 72 kasus (RSKIA, 2011).

Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir merupakan suatu gejala yang dapat mengancam kesehatan bayi, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sebagian besar penyebab kematian bayi dan balita adalah masalah yang terjadi pada bayi baru lahir atau neonatal (umur 0-28 hari).

Pola penyakit penyebab kematian neonatal adalah infeksi (32%), asfiksia atau kesulitan bernafas saat lahir (29%), komplikasi prematuritas (24%), kelainan bawaan (10%), dan tidak diketahui penyebabnya (5%) (SDKI, 2007).

Memperhatikan angka kematian bayi dapat diperkirakan bahwa sekitar 50% kematian bayi terjadi pada periode neonatal, yaitu saat bulan pertama kehidupan, dimana periode neonatal merupakan periode yang paling kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi. Pencegahan merupakan hal terbaik yang harus dilakukan dalam penanganan neonatal agar neonatus menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dan dapat bertahan dengan baik dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Itulah sebabnya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai adaptasi fisiologis pada bayi baru lahir (Dewi, 2011).

Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jumlah tenaga medis dan non paramedis di perbanyak sehingga pelayanan kesehatan umumnya dan pelayanan kebidanan khususnya mutu dan jangkauannya, secara bertahap di tingkatkan (Rustam Mochtar, 2002).

Untuk penurunan AKB diperlukan

(3)

berbagai macam upaya, salah satu upayanya yaitu memperhatikan asuhan masa neonatus yang diperlukan setelah kelahiran karena merupakan masa kritis untuk ibu dan bayi. Dengan demikian diperlukan suatu upaya untuk mencegah terjadinya bahaya pada bayi baru lahir. Selain peran tenaga kesehatan dalam mengindentifikasi tanda bahaya pada bayi baru lahir, pada kunjungan post-natal, peningkatan peran serta masyarakat untuk melaporkan terjadinya bahaya pada bayi baru lahir juga sangat diperlukan. Oleh karena itu, pengetahuan adekuat harus dimiliki oleh ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir merupakan hal yang sangat penting. Dengan upaya tersebut diharapkan ibu yang memiliki bayi baru lahir dapat mengetahui dan mengenal secara dini tanda-tanda bahaya pada bayinya, sehingga bila terjadi kelainan dan komplikasi dapat segera terdeteksi (Prawirohardjo, 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor sosio-demografis yang berhubungan dengan pengetahuan ibu post partum mengenai tanda bahaya pada bayi baru lahir.

METODOLOGI Desain penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional, dimana pengukuran variabel dependen dan independen dilakukan pada saat yang bersamaan. Penyebaran kuesioner dilakukan pada ibu post partum yang melahirkan di RSKIA. Variabel dependen dalam pengetahuan ibu post partum tentang tanda bayaha pada bayi baru lahir. Sedangkan variabel independen pada umur, paritas, pendidikan dan pekerjaan.

Populasi dan sampel

Populasi pada penelitian ini adalah ibu post partum yang melahirkan di RSKIA pada bulan Juni 2012 yang berjumlah 331 orang. Adapun

untuk sampel pada penelitian ini direkrut secara non-probability dengan accidental sampling.

Perhitungan jumlah minimal sampel dihitung menggunakan rumus Slovin. Menggunakan jumlah populasi yang diketahui (N=331) dan tingkat ketepatan 10% (d=0,1) didapatkan jumlah sampel minimal 77 orang. Rekruitmen sampel penelitian dilakukan di Ruang Nifas 3, Ruang Nifas 4 dan Poliklinik Kebidanan RSKIA Kota Bandung.

Instrumen penelitian

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner terstruktur dengan pilihan jawaban yang telah disiapkan oleh peneliti. Kuesioner terdiri dari dua bagian: bagian pertama mengenai karakteristik responden (umur, paritas, pendidikan dan pekerjaan) dan bagian dua terdiri dari 20 pertanyaan mengenai pengetahuan tanda bahaya pada bayi baru lahir.

Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan sebelum pengambilan data penelitian. Uji validitas diawali dengan mengkonsultasikan butir-butir pertanyaan kepada ahli kebidanan, kemudian diuji coba kepada 30 orang ibu post partum.

Validitas kemudian dihitung menggunakan rumus point biserial dan reliabilitas dengan rumus Kuder Richardson-20 (KR20). Berdasarkan uji validitas instrumen ini, perbaikan kuesioner dilakukan dengan cara mengeluarkan butir pertanyaan yang tidak valid. Setelah dilakukan perbaikan, pengambilan data kepada responden penelitian dilakukan.

Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan untuk variabel pengetahuan ibu tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir. Dimulai dengan mengkoding jawaban benar responden dengan kode satu dan salah dengan kode nol. Kemudian dihitung skor totalnya dan dipersentasekan dengan cara membagi skor total dengan jumlah pertanyaan dan dikali 100.

Setelah itu dilakukan pengkategorian pengetahuan

(4)

sebagai berikut: 1) Baik bila persentase jawaban benar responden >76%, 2) Cukup bila persentase jawaban benar responden 56 – 75%, 3) Kurang bila persentase jawaban benar responden 40 – 55%, 4) Buruk bila persentase jawaban responden

<40%.

Analisa statistik

Analisa statistik yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat. Analisa univariat dilakukan pada variabel dependen dan independen untuk mengetahui distribusi dan frekuensi setiap variabel. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel dependen, yaitu umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas dengan tingkat pengetahuan ibu. Skala data yang variabel dependen dan independen pada penelitian ini adalah kategorik, oleh karena itu uji chi-square digunakan untuk analisis bivariat.

HASIL PENELITIAN Karakteristik responden

Responden dalam penelitian ini berjumlah 77 orang ibu post partum yang melahirkan di RSKIA Kota Bandung. Sebagian besar (84,4%) berada pada kelompok usia 20-35 tahun, 57,1%

sudah memiliki minimal 2 anak, lebih dari setengah responden menempuh pendidikan tinggi (42,9% tamat SMA dan 19,5% tamat perguruan tinggi), sekitar 37% tamat pendidikan dasar dan ibu rumah tangga hampir berimbang jumlahnya dengan ibu yang bekerja. Terdapat 40 orang responden yang bekerja, 14 orang diantaranya bekerja sebagai karyawan swasta, 11 orang berwiraswasta, 10 orang buruh dan 5 orang pegawai negeri sipil (PNS).

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Ibu Post Partum Tentang Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi Baru

Lahir Berdasarkan Karateristik (n=77)

Karakteristik F %

Umur

< 20 tahun 1 1,3

20-35 tahun 65 84,4

> 35 tahun 11 14,3

Paritas

1 anak 33 42,9

1 - 4 anak 44 57,1

> 4 anak 0 0,0

Pendidikan

SD 7 9,1

SMP 22 28,6

SMA 33 42,9

Perguruan Tinggi 15 19,5

Pekerjaan

Ibu Rumah Tangga 37 48,0

Karyawan Swasta 14 18,2

Wiraswasta 11 14,3

Buruh 10 13,0

Pegawai Negeri Sipil

(PNS) 5 6,5

Pengetahuan responden

Kuesioner pengetahuan terdiri dari 20 pertanyaan dengan skala Guttman. Skor 1 diberikan pada responden yang menjawab pertanyaan dengan benar dan skor 0 untuk menjawab salah. Skor total tiap responden kemudian dipersentasekan kemudian dikategorikan. Tidak ada satu pun dari responden yang berpengetahuan buruk, 9% berpengetahuan kurang, 36% berpengetahuan cukup dan 55%

berpengetahuan baik (Grafik 1.).

(5)

Grafik 1. Distribusi tingkat pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru

lahir

Analisis Bivariat

Untuk kepentingan analisa bivariat, semua variabel dependen dan variabel independen dikategori ulang menjadi seperti berikut ini:

Tabel 2. Perubahan kategori variabel pada analisa bivariat

Variabel Analisa univariat Analisa bivariat

Umur 1. < 20 tahun

2. 20-35 tahun 3. > 35 tahun

1. Usia berisiko (< 20 tahun dan > 35 tahun)

2. Usia tidak berisiko (20-35 tahun)

Paritas 1. 1 anak

2. 2-4 anak 3. > 4 anak

1. 1 anak 2. > 1 anak

Pendidikan 1. SD

2. SMP 3. SMA 4. PT

1. Pendidikan dasar (SD dan SMP) 2. Pendidikan tinggi (SMA dan PT)

Pekerjaan 1. Ibu Rumah Tangga 2. Karyawan Swasta 3. Wiraswasta 4. Buruh

5. Pegawai Negeri Sipil (PNS)

1. Bekerja 2. Tidak bekerja

Pengetahuan 1. Baik

2. Cukup 3. Kurang

1. Baik

2. Cukup/ kurang

(6)

Setelah dilakukan pengkategorian ulang variabel dependen dan independen, dilakukan pengujian hipotesis hubungan antara faktor

sosiodemografi dengan pengetahuan dengan menggunakan tes statistik chi-square. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Hubungan faktor sosio-demografi dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya

Variabel Kategori

Pengetahuan

Nilai p Baik Cukup/ kurang

F % F %

Kelompok umur Tidak berisiko 36 55,4 29 44,6 0,731

Berisiko 6 50 6 50

Paritas 1 20 60,6 13 39,4 0,355

> 1 22 50 22 50

Pendidikan Pendidikan dasar 9 31 20 69 0,001*

Pendidikan tinggi 33 68,8 15 13,3

Pekerjaan Bekerja 22 55 18 45 0,934

Tidak bekerja 20 54,1 17 45,9

Pada kelompok umur berisiko, 55,4%

responden mempunyai pengetahuan baik dan pada kelompok tidak berisiko pengetahuan responden terdistribusi merata pada pengetahuan baik (50%) dan pengetahuan cukup/ kurang (50%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya bayi baru lahir (nilai p=0,731).

Pada kelompok ibu yang baru mempunyai satu orang anak, 60,6% berpengetahuan baik, sedangkan pada kelompok ibu dengan anak lebih dari satu, 50% berpengetahuan baik dan 50%

berpengetahuan cukup/ kurang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya bayi baru lahir (nilai p=0,355).

Pada kelompok responden yang berpendidikan dasar, 69% responden mempunyai pengetahuan cukup/ kurang, sedangkan pada kelompok pendidikan tinggi, 68,8%

berpengetahuan baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi

baru lahir (nilai p=0,001).

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa 54,5%

responden berpengetahuan baik tentang tanda bahaya bayi baru lahir, 36,4% cukup dan 9,1%

berpengetahuan kurang. Tidak ada satu pun dari responden mempunyai pengetahuan buruk.

Bila dibandingkan dengan ibu atau care giver di Nigeria, pengetahuan ibu post partum di Kota Bandung lebih baik. Penelitian di Enugu State, South Nigeria, dimana dilakukan survei pada 376 orang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu atau care giver sangat rendah. Sebagian besar wanita (95,2%) hanya mengetahui satu tanda bahaya saja (Ekwhoci, 2015). Selain para ibu dan care giver, suami juga seharusnya mempunyai pengetahuan yang baik tentang tanda bahaya bayi baru lahir.

Penelitian yang dilakukan di Garut dengan sampel 209 suami menunjukkan bahwa 22% dari mereka menyebutkan deman/ panas sebagai tanda bahaya pada bayi baru lahir. Hanya sekitar 0,5%

suami yang mengetahui bahwa bayi yang terlalu

kecil, bayi kuning dan bayi biru juga merupakan

tanda bahaya neonatus (Solihah, 2009).

(7)

1. Hubungan umur dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar (85,7%) ibu post partum yang berpengetahuan baik berada pada kelompok umur 20-35 tahun dan 2,4% pada kelompok umur <20 tahun.

Umur 20-35 tahun merupakan umur yang reproduktif bagi wanita sehingga dapat memotivasi diri dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Semakin matang umur seseorang, maka semakin mudah dalam memahami sesuatu dan menambah pengetahuan (Nursalam, 2008). Usia ibu post partum yang lebih muda cenderung kurang mengetahui perubahan fisiologis maupun patologis pada bayinya (Sintia, 2007), sehingga ibu post partum yang lebih muda kurang mengetahui mengenai tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir. Usia juga berkaitan dengan tingkat kematangan dan kesiapan mental ibu dalam pengasuhan anaknya.

Menurut Bobak (2005), ibu yang berusia muda melakukan perawatan pascasalin yang berbeda dengan ibu yang berusia lebih dewasa.

Penelitian ini tidak dapat mengidentifikasi hubungan yang signifikan antara umur dengan pengetahuan ibu tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir. Sesuai dengan penelitian ini, umur suami juga tidak berhubungan dengan pengetahuan suami tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan neonatus (Solihah, 2009).

2. Hubungan paritas dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada responden yang melahirkan anak lebih dari empat. Ibu yang melahirkan 1 orang anak, 47,6%

diantaranya berpengetahuan baik, sedangkan pada ibu yang melahirkan 2-4 anak, 52,4% mempunyai pengetahuan baik. Menurut Notoatmodjo (2010) paritas ini dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang yang bisa didapat dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Hal ini dipertegas dengan teori Latipun (2003) pengalaman akan dijadikan evaluasi dan dia akan berperilaku secara kreatif untuk beradaptasi terhadap peristiwa–peristiwa yang baru, begitu pula wanita yang pernah melahirkan, semakin banyak kelahiran yang dialami ibu akan menjadi pengalaman dalam hal merawat bayinya, termasuk mengetahui tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir. Menurut Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa ibu dengan anak pertama umumnya tingkat kecemasan lebih tinggi dan ketidaktahuan karena belum pernah punya anak sehingga dia ingin mencoba sesuatu hal yang baru selesai dengan keinginannya.

Meskipun dalam penelitian ini

tidak dapat mengidentifikasi hubungan

antara paritas dengan tingkat pengetahuan

ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir,

terlihat peningkatan jumlah ibu yang

mempunyai pengetahuan baik seiring

dengan peningkatan paritas. Dalam

penelitian lain juga tidak didapatkan

hubungan yang signifikan antara paritas

dan pengetahuan (Solihah, 2009; Ekwhoci,

2015 ).

(8)

3. Hubungan pendidikan dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden yang berpengetahuan baik berada pada kategori pendidikan SMA sebanyak 23 orang (54,8%), dibanding dengan yang berpendidikan SD, SMP maupun PT.

Menurut Nursalam (2008) bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki respondennya, berpendidikan tinggi akan mudah menyerap informasi, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi. Dengan berkembangnya ilmu teknologi maka informasi mengenai tanda- tanda bahaya pada bayi baru lahir semakin mudah didapatkan, tidak hanya bisa didapatkan di sekolah formal saja. Adapun cara lain untuk mendapatkan informasi biasanya diperoleh melalui televisi, radio, surat kabar, perkumpulan PKK, posyandu/

perkumpulan sosial lainnya. Hal ini yang akan meningkatkan pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2007). Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan ibu. Hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pengetahuan juga ditunjukkan pada penelitian Solihah (2009), dimana responden yang direkrut dalam penelitiannya adalah suami. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan suami dan istri akan sangat berkaitan dengan tingkat pengetahuan tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir.

4. Hubungan pekerjaan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden yang berpengetahuan baik berjumlah 42 orang, terdiri dari 20 orang ibu rumah tangga (47,6%), 12 orang karyawan swasta (28,6%), 5 orang wiraswasta (11,9%), 3 orang PNS (7,1%), dan 2 orang buruh (4,8%). Menurut Sarwono (2010) informasi yang diperoleh dari berbagai berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang memperoleh banyak informasi maka cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Dari hasil penelitian, masih terdapat ibu yang bekerja dengan pengetahuan yang kurang mengenai tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, yaitu buruh 2 orang (28,6%), wiraswasta 1 orang (14,3%) dan PNS 1 orang (14,3%). Meskipun dari hasil penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan, Hurlock (2002) menyatakan bahwa kecocokan pekerjaan seseorang akan menimbulkan kepuasan dan keingintahuan terhadap sesuatu.

Orang yang bekerja dan dikelilingi oleh orang-orang yang berpengetahuan lebih banyak dapat menyerap informasi yang lebih banyak pula. Ibu rumah tangga dikategorikan tidak bekerja, tetapi dengan pergaulan dan lingkungan serta keingintahuan yang kuat mereka akan bisa lebih mendapat informasi mengenai tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, baik dari media maupun pengalaman orang lain.

SIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari

penelitian ini adalah sebagian besar ibu post

partum yang melahirkan di RSKIA Kota Bandung

(9)

berusia 20-35 tahun, tamat SMA, paritas 2-4 dan bekerja sebagai ibu rumah tangga, sebagian besar ibu post partum mempunyai tingkat pengetahuan baik tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir dan pendidikan ibu post partum berhubungan dengan pengetahuan ibu post partum tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir.

Disarankan untuk memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir untuk ibu post partum yang berusia kurang dari 20 tahun, paritas primipara dan tamat pendidikan dasar.

Penyuluhan kesehatan dapat diintegrasikan dalam kegiatan pengabdian masyarakat atau praktek kerja lapangan mahasiswa. Selain itu penelitian lebih lanjut mengenai health seeking behaviour ibu dan keluarga bila tanda bahaya teridentifikasi pada bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, Aziz. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data.

Surabaya: Salemba Medika.

Arikunto, Suharsimi. (2008). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktis). Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Bagus, Ida. (2009). “Survei demografi dan kesehatan Indonesia,” Indoskrip (online).

Vol.33, no.8.

Bobak. et. al. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas (edisi 4). Jakarta: EGC.

Dinas Kesehatan Kota Bandung. (2012). “Profil Kesehatan Kota Bandung”.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Ekwochi et al. (2015). Knowledge of danger signs in newborns and health seeking practices

of mothers and care givers in Enugu state, South-East Nigeria. Italian Journal of Pediatrics, 41:18.

Juliastuti, Rany. (2009). “Hubungan Tingkat Pengetahuan, Status Pekerjaan Ibu, dan Pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini”.

(http://digilib.uns.ac.id/pengguna.

php?mn=detail&d_id=20809) Latipun. (2003). “Kajian Islami”

Mochtar, Rustam. (2002). Sinopsis obstetri (obtetri fisiologi, obstetric patologi). Jakarta: EGC.

Mubarok. (2007). Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nanny Lia Dewi, Vivian. (2011). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika.

Nasir, Abdul., Abdul, Muhith., & Ideputri.

(2001). Buku Ajar: Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metode penelitian kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodelogi penelitian ilmu keperawatan (pedoman skripsi, tesis, dan intrumen penelitian). Jakarta: Media Salemba.

Prawirohardjo, Sarwono. (2010). Ilmu kebidanan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Ridwan, M. B. A. (2010). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.

Bandung: Alfabeta.

Saifuddin, Abdul Bari. (2009). Buku Acuan

Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal

dan Neonatal. Jakarta: PT. Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo.

(10)

Sandjaja & Albertus Heriyanto. (2011). Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Sintia, K. (2007). “Jurnal Ilmiah Keperawatan” Vol.

2.

Soliha, I. (2009). Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan suami tentang tanda bahaya pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan neonatus di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Media Litbang Kesehatan Volume XIX Nomor 2.

Stalker, Peter. (2008). “Let Speak Out For MDGs- Id”. http://ebookbrowse.com/let-speak-

out-for-mdgs-id-pdf-d24008283.

Sudarti, Khoirunnisa, E. (2010). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita.

Yogyakarta: Nuha Medika.

Sugiyono. (2009). Statistika Untuk Penelitian.

Bandung: Alfebeta.

Supriadi, Hadi. (2010). Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan. http://

lubmazresearch.wordpress.com

Varney, Helen. et. al. (2008). Buku Ajar Asuhan

Kebidanan (edisi 4, volume 2). Jakarta: EGC.

Gambar

Tabel 2. Perubahan kategori variabel pada analisa bivariat
Tabel 3. Hubungan faktor sosio-demografi dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil uji statistik Kendall Tau, yaitu hubungan tingkat pendidikan dengan paritas ibu nifas tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir

Memberitahu ibu mengenai tanda bahaya bayi baru lahir dengan menggunakan buku KIA dan memberitahukan kepada ibu agar membawa bayinya ke tempat pelayanan kesehatan

Peneliti memberikan asuhan padahari ke14 sesuai yang dibutuhkan bayi yaitu menilai apakah ibu menjaga sudah menjaga kebersihannya, memeriksa tanda bahaya bayi baru lahir, menilai apakah

asuhan yang diberikan yaitu memberitahu ibu bahwa hasil pemeriksaan baik, Memeriksa tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu pernapasan sulit kurang dari 60 x/menit, suhu badan bayi baru

Penulis memberikan asuhan pada hari ke 6 sesuai yang dibutuhkan bayi yaitu menganjurakan ibu untuk menjaga kebersihan bayinya, memeriksa adanya tanda bahaya bayi baru lahir, menyusui

Kemenkes 2014, tujuan kunjungan III yaitu pemeriksaaan fisik, menjaga kebersihan bayi, memberitahu ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, memberikan ASI, bayi harus disusukan minimal

asuhan yang diberikan yaitu memberitahu ibu bahwa hasil pemeriksaan baik, Memeriksa tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu pernapasan sulit kurang dari 60 x/menit, suhu badan bayi baru

asuhan yang diberikan yaitu memberitahu ibu bahwa hasil pemeriksaan baik, Memeriksa tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu pernapasan sulit kurang dari 60 x/menit, suhu badan bayi baru