• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

Denni Agustiar [email protected]

Dini Widyawati

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

ABSTRACT

In Indonesia Good Corporate Governance concept has already been discussed since the middle of 1997, when the economic crisis overwhelmed this country. In order to overcome the company’s management system thus the businessmen in Indonesia have an agreement about the implementation of Good Corporate Governance as the appropriate company management system and in order to be free from the economic crisis which overwhelms Indonesia. This research is meant to analyze the implementation influence of Good Corporate Governance to the company financial performance which is measured by using ROA, ROE and ROI. The samples are 33 companies which are listed continuously in the Corporate Governance Perception Index and the Indonesia Stock Exchange from 2010 to 2012, purposive sampling is used as the research method. The type of data which is used in this research is the secondary data in the form of composite rating value (Corporate Governance Perception Index) and the financial statement through IDX. The simple linear regression analysis is used as the data analysis.The result of research shows that Good Corporate Governance partially has no influence to the financial ratio which is proxy by ROA (Return on Assets), ROE (Return on Equity) and ROI (Return on Investment), this condition shows that the implementation of Good Corporate Governance has no influence to the total equity and the total assets which have been used to gain profit.

Keywords: CGPI, IDX, Financial Performance.

ABSTRAK

Di Indonesia konsep (Good Corporate Governance) GCG ini mulai banyak diperbincangkan pada pertengahan tahun 1997, yaitu saat krisis ekonomi melanda negara ini. Dalam upaya mengatasi sistem pengelolaan perusahaan, maka para pelaku ekonomi dan bisnis di Indonesia menyepakati penerapan (Good Corporate Governance) GCG sebagai suatu sistem pengelolaan perusahaan yang tepat dan untuk melepaskan diri dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan (Good Corporate Governance) GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan ROA, ROE dan ROI. Sampel penelitian ini berjumlah 33 perusahaan yang terdaftar dalam (Corporate Governance Perception Index) CGPI dan BEI berturut-turut pada tahun 2010-2012, metode yang digunakan adalah metode purposive sampling.Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa nilai pemeringkatan komposit (Corporate Governance Perception Index) CGPI dan laporan keuangan melalui BEI. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (Good Corporate Governance) GCG tidak berpengaruh secara parsial terhadap rasio keuangan yang diproksi oleh ROA (Return On Assets), ROE (Return On Equity) dan ROI (Return On Investment), keadaan ini memperlihatkan bahwa penerapan (Good Corporate Governance) GCG tidak mempunyai pengaruh atas total aset dan total ekuitas yang digunakan untuk mendapatkan laba.

Kata kunci: CGPI, BEI, Kinerja Keuangan.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena krisis finansial Asia 1997-1998, krisis finansial yang melanda Indonesia ini dipandang sebagai akibat lemahnya praktek Good Corporate Governance (GCG) pada korporasi atau perusahaan milik negara/daerah.

(2)

Kondisi tata kelola perusahaan yang buruk ini, akan tidak tercapainya peningkatan nilai dan kinerja (performance) korporasi secara maksimal.

Sentralisasi isu Corporate Governance dilatarbelakangi permasalahan yang terkait dengan trend di industri pasar modal, korporasi, pasar audit, tuntutan akan transparasi dan indenpensi, dan kritis finansial Asia. Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, yang didukung dengan regulasi yang memadai, akan mencegah berbagai bentuk overstated, ketidakjujuran dalam financial disclosure, yang merugikan stakeholders. Perkembangan lain adalah tumbuhnya institutional investor, seperti: perusahaan investasi, perbankan, dana pensiun dan lain-lain yang memiliki pengaruh terhadap korporasi, baik melalui partisipasi formal pemegang saham (berupa hubungan langsung dengan dewan komisaris) atau bahkan dengan melakukan legistimasi terhadap dewan. Meskipun secara potensial bermanfaat, aktivitas ini dapat menciptakan prejudis diantara pemegang minoritas, yang mengharapkan perlakuan serupa (Sedarmayanti, 2007:59).

Penerapan good corporate governance dapat meningkatkan nilai perusahaan, dengan meningkatkan kinerja keuangan, mengurangi resiko yang mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan yang menguntungkan diri sendiri dan umumnya corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan investor. Corporate Governance yang buruk menurunkan tingkat kepercayaan investor, lemahnya praktik Good Governance merupakan salah satu faktor yang memperpanjang krisis ekonomi di negara kita (Sedarmayanti, 2007:60).

Konsep Good Corporate Governance (GCG) sesungguhnya telah lama dikenal di negara- negara maju, seperti Eropa dan Amerika dengan adanya pemisahan antara pemilik modal dengan pemilik perusahaan. Di Indonesia konsep GCG ini mulai banyak diperbincangkan pada pertengahan tahun 1997, yaitu saat krisis ekonomi melanda negara ini. Dampak dari krisis tersebut menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang tidak mampu bertahan. Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah Indonesia dan lembaga- lembaga keuangan internasional memperkenalkan konsep GCG yang diharapkan dapat melindungi pemegang saham (stockholders) dan kreditur agar dapat memperoleh kembali investasinya.

Dalam upaya mengatasi sistem pengelolaan perusahaan, maka para pelaku ekonomi dan bisnis di Indonesia menyepakati penerapan GCG sebagai suatu sistem pengelolaan perusahaan yang tepat dan untuk melepaskan diri dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Penerapan prinsip GCG dalam dunia usaha di Indonesia merupakan tuntutan agar perusahaan-perusahaan yang ada jangan sampai terlindas oleh persaingan global yang semakin keras. Prinsip-prinsip GCG pada dasarnya memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan.

Berdasarkan prinsip-prinsip dasar dari GCG tersebut, maka para pelaku bisnis di Indonesia menyepakati penerapan GCG suatu sistem pengelolaan perusahaan yang baik.

Melalui peningkatan kinerja perusahaan akan menurunkan biaya modal, sementara itu investasi terhadap perusahaan akan meningkat dan harga saham akan meningkat pula.

Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain terkonsentrasi atau tidak terkonsentrasinya kepemilikan, manipulasi laba, serta pengungkapan laporan keuangan.

Kinerja keuangan perusahaan merupakan hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. Oleh karena itu untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan perlu dilibatkan analisa dampak keuangan komulatif dan ekonomi dari keputusan dan mempertimbangkannya dengan menggunakan ukuran komparatif.

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengenai pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan perusahaan menunjukan hasil yang berbeda-beda. Pertentangan hasil penelitian tersebut dapat terjadi karena beberapa alasan

(3)

seperti: perbedaan periode waktu penilitian, interpretasi peneliti terhadap laporan keuangan atas variabel yang digunakan maupun perbedaan metode pengujian yang ditempuh oleh peneliti. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena untuk memverifikasi ulang hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh Good Corporate Governance (GCG) terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan menggunakan ROA, ROE dan ROI ?

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan (Good Corporate Governance) GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan ROA, ROE dan ROI.

TINJAUAN TEORETIS DAN HIPOTESIS Pengertian Corporate Governance

Surya dan Ivan Yustiavandana, 2006 (dalam Hardikasari, 2011) Corporate governance menurut Komite Cadbury adalah sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan, agar mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin kelangsungan eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada stakeholders. Hal ini berkaitan dengan peraturan kewenangan pemilik, direktur, manajer, pemegang saham, dan sebagainya. Cadbury Commite adalah seperangkat aturan yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentinagn lainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka.

OECD mendefinisikan corporate governance sebagai sekumpulan hubungan antar pihak manajemen perusahaan, board, pemegang saham, dan pihak lain yang mempunyai kepentinagan dengan perusahaan. corporate governance juga mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja. corporate governance yang baik dapat memberikan rangsangan bagi board dan manajemen untuk mencapai tujuan yang merupakan kepentingan perusahaan dan pemegang saham harus memfasilitasi pengawasan yang efektif sehingga mendorong perusahaan menggunakan sumber daya dengan lebih efisien.

Menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP-117/M- MBU/2002, corporate governance adalah suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Adapun tujuan akhir dari penerapan sistem ini adalah untuk menaikkan nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya.

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

Dalam pedoman penerapan GCG oleh Komite Nasional kebijakan Governance KNKG (2006) setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainability) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholder).

(4)

Pertama,

transparansi (Transparancy), yaitu

untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

Kedua, akuntabilitas (Accountability), yaitu

perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain.

Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

Ketiga, responsibilitas (Responsibility), yaitu

perusahaan harus mematuhi peraturan perundangan-perundangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

Keempat, independsensi (Independency), yaitu

untuk melancarkan pelaksanaan atas GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervalkan oleh pihak lain.

Kelima, kewajaran dan kesetaraan (Fairness),

yaitu untuk melancarkan asas Corporate Governance, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing- masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan atas kewajaran dan kesetaraan.

Manfaat dan Tujuan Good Corporate Governance

Esensi Corporate Governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap shareholder dan pemakai kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku. GCG dapat memberikan kerangka acuan yang memungkinkan pengawasan berjalan efektif, sehingga dapat tercipta mekanisme checks and balance di perusahaan.

Menurut Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI) (2001) ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari penerapan GCG yang baik, antara lain:

(1) meningkatkan

kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang

lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dengan lebih baik,

serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders. (2) mempermudah

diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih

meningkatkan corparate value. (3) mengurangi agency cost, yaitu biaya yang harus

ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak

manajemen. (4) meningkatkan nilai saham perusahaan sehingga dapat

meningkatkan citra perusahaan kepada publik lebih luas dalam jangka panjang. (5)

mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di

Indonesia

. Sedangkan menurut Siswanto Sutojo (dalam E. John Aldridge 2005:5-6) tujuan corporate governance adalah sebagai berikut :

(1) melindungi hak dan kepentingan

pemegang saham. (2) melindungi hak dan kepentingan para anggota stakeholder non

pemegang saham. (3) meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham. (4)

(5)

meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja dewan pengurus atau board of directors dan manajemen perusahaan. (5) meningkatkan mutu hubungan board of directors dengan manajemen senior perusahaan.

Corporate Governance Perception Index (CGPI)

Windah dan Andono (2006:7) menyatakan CGPI adalah riset dan pemeringkatan penerapan konsep corporate governance pada perusahaan yang telah menerapkan good corporate governance yang telah diakui di Indonesia. Riset ini dilakukan untuk mendokumentasikan penerapan konsep GCG di Indonesia. Pelaksanaan CGPI dilandasi oleh pemikiran tentang pentingnya mengetahui sejauh mana perusahaan-perusahaan publik telah menerapkan GCG. CGPI diselenggarakan setiap tahunnya, pertama kali yaitu tahun 2001. Pada CGPI ini menjalin kerja sama dengan majalah SWA, yang dikenal sebagai salah satu majalah bisnis yang unggul di Indonesia.

CGPI (Corporate Governance Perception Index) adalah penerapan peringkatan Good Corporate Governance (GCG) pada perusahaan-perusahaan di Indonesia melalui riset yang dirancang untuk mendorong perusahaan meningkatkan kualitas penerapan konsep Corporate Governance (CG) melalui perbaikan secara terus-menerus dengan melaksanakan evaluasi. Manfaat CGPI : (1) Penataan organisasi perusahaan yang belum sesuai dan belum mendukung terwujudnya GCG. (2) Peningkatan kesadaran dan komitmen bersama dari internal perusahaan dan stakeholder terhadap penerapan GCG. (3) Pemetaan masalah- masalah strategis dalam praktik GCG. (4) Alternatif perbaikan indikator atau standar mutu pencapaian kualitas (Syahrizal, 2012).

The Indonesian Institute of Corporate governance (IICG) adalah sebuah lembaga independen yang melakukan diseminasi dan pengembangan corporate governance di Indonesia. Keikutsertaan program ini bersifat sukarela.

Definisi corporate governance digunakan untuk menyusun kerangka metodologis CGPI terhadap perusahaan-perusahaan yang sahamnya terdaftar di BEI. Tujuan program CGPI adalah untuk merangsang perusahaan agar berlomba lomba menerapkan good corporate governance demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Di samping itu juga memberikan penghargaan kepada perusahaan agar perusahaan termotivasi melaksanakan corporate governance dan untuk memetakan masalah-masalah spesifik yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam menerapkan konsep good corporate governance . Indeks persepsi ini diperoleh melalui tiga pendekatan yaitu: kepemilikan saham minoritas, wawancara dengan wakil perseroan dan analis informasi publik yang mencakup laporan keuangan, situs korporat, dan berita media masa.

Perkembangan Good Corporate Governance di Indonesia

Bech et.al, 2002 (dalam Christiana 2011) Terdapat beberapa alasan yang mendorong munculnya GCG sehingga menarik perhatian dunia dan mendorong desakan untuk mengimpelementasikan GCG antara lain: (1) Munculnya gelombang privatisasi di seluruh dunia; (2) Terjadinya reformasi dana pensiun; (3) Adanya regulasi dan integrasi pasar modal; (5) Krisis ekonomi Asia Timur, Rusia dan Brasil; (6) Berbagai skandal yang menimpa perusahaan besar.

Perkembangan GCG di Indonesia terpengaruh oleh kejadian-kejadian tersebut di atas, karena Indonesia merupakan bagian dari perekonomian dunia. Krisis ekonomi di Asia Timur merupakan faktor utama terjadinya krisis di Indonesia. Kajian yang di lakukan oleh Asian Development Bank (ADB) di kutip dari (Kaihatu, 2006) menunjukan beberapa faktor yang memberi kontribusi pada krisis di Indonesia. Pertama, konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi; kedua, tidak efektifnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris;

(6)

ketiga, inefisiensi dan rendahnya transparansi mengenai prosedur pengendalian merger dan akuisisi perusahaan; keempat, terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal;

dan kelima, ketidak memadainya pengawasan oleh kreditor.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan sebuah sistem tata kelola peusahaan yang baik. Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan dari sektor swasta turut berpartisipasi bersama pemerintah dan lembaga-lembaga independen berhasil membentuk suatu sistem untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik agar Indonesia terbebas dari krisis (Kaihatu, 2006). Pada tahun 1999, Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) yang di bentuk berdasarkan keputusan Menko Ekuin Nomor: KEP/31/M.EKUIN/08/1999 telah mengeluarkan pedoman Good Corporate Governance (GCG) yang pertama. Pedoman telah beberapa kali disempurnakan, terakhir pada tahun 2001. Saat ini KNKCG telah diganti dengan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) melalui surat Keputusan Menko Bidang Perekonomian Nomor:

KEP/49/M.EKON/11/2004.

Selain itu, penerapan GCG didukung juga oleh sektor swasta melalui mekanisme pasar modal seperti BEI dan Bapepam-LK mengeluarkan regulasi-regulasi guna mendukung implemestasi GCG di Indonesia (Taridi, 2009):

Pertama, pada tahun 2000, Bursa Efek Jakarta (Sekarang Bursa Efek Indonesia) memberlakukan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor Kep315/BEJ/06/2000 perihal peraturan pencatatan Efek Nomor I-A yang antara lain mengatur tentang kewajiban Komisaris Independen, Komite Audit, memberikan peran aktif sekretaris perusahaan di dalam memenuhi kewajiban keterbukaan informasi serta kewjiban perusahaan tercatat untuk menyampaikan informasi yang material dan relevan.

Kedua, keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-63/PM1996 yang kemudian dijelaskan dalam peraturan Nomor IX.1.4 tentang pembentukan sekretaris perusahaan.

Ketiga, surat edaran Ketua Bapepam-LK Nomor SE-03/PM/2000 tentang Komite Audit yang berisi himbauan perlunya Komite Audit dimiliki oleh setiap emiten.

Keempat, surat edaran Ketua Bapepam-LK Nomor SE-07/PM/2000 yang dijelaskan dalam peraturan Nomor IX.1.5 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja Komite Audit. (1) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-45/PM/2004 yang dijelaskan dalam peraturan Nomor IX.1.6 tentang Direksi dan Komisaris pada emiten dan perusahaan publik. (2) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-134/BL/2006 yang dijelaskan dalam peraturan Nomor X.K.6 tentang kewajiban penyampaian Laporan Tahunan bagi emiten dan perusahaan publik. (3) Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor KEP-134/BL/2006 yang dijelaskan dalam peraturan Nomor X.K.6 tentang kewajiban penyampaian Laporan Tahunan bagi emiten dan perusahaan publik.

Selain dengan peraturan-peraturan tersebut, impelementasi GCG di Indonesia didukung dengan munculnya organisasi-organisasi independent pendukung seperti Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI), The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD). Dengan adanya lembaga-lembaga independen tersebut, maka implementasi GCG di Indonesia diharapkan semakin berkembang diikuti dengan kesadaran karena manfaat yang diperoleh oleh perusahaan.

Sistem Penilaian Pelaksanaan Good Corporate Governance

Penilaian pelaksanaan good corporate governance berdasarkan pada pemeringkatan CGPI. The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) adalah lembaga organisasi independen yang didirikan untuk memasyarakatkan konsep praktik dan manfaat corporate

(7)

governance kepada dunia usaha khususnya dan masyarakat luas umummnya (www.iicg.co.id)

Salah satu bentuk yang dilakukan IICG adalah penilaian penerapan GCG di Indonesia yang dikenal dengan CGPI (Corporate Governance Perception Index). Corporate Governance Perception Index (CGPI) adalah program riset dan pemeringkatan penerapan GCG pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. CGPI diikuti oleh Perusahaan Publik (Emiten), BUMN, Perbankan, dan Perusahaan swasta lainnya. Program CGPI secara konsisten adalah telah diselenggarakan pada setiap tahunnya sejak tahun 2001.

CGPI diselenggarakan oleh IICG sebagai lembaga swadaya masyarakat independen bekerjasama dengan majalah SWA sebagai mitra media publikasi. Program ini dirancang untuk memicu perusahaan dalam meningkatkan kualitas penerapan konsep corporate governance melalui perbaikan yang berkesinambungan (continues improvement) dengan melaksanakan evaluasi dan melaksanakan studi banding (benchmarking).

Cakupan penilaian dan aspek yang diukur dalam CGPI adalah pengembangan alat ukur yang dimiliki IICG, pedoman dan prinsip GCG yang diterbitkan OECD dan berbagai sumber, serta perangkat hukum yang mengatur tentang penerapan prinsip-prinsip GCG.

Metodologi riset yang dipakai meliputi empat tahapan riset yang melibatkan pihak internal dan eksternal stakeholders perusahaan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan kuisioner.

Penentuan skor pelaksanaan dilakukan melalui rata-rata tertimbang dengan bobot masing- masing aspek disajikan pada tabel 1 berikut ini

Tabel 1

Aspek dan bobot Penilaian CGPI

No Aspek Bobot (%)

1 Komitmen terhadap Tata Kelola Perusahaan 15

2 Hak Pemegang Saham dan Fungsi Kepemilikan Kunci 20

3 Perlakuan yang Setara terhadap Seluruh Pemegang Saham 15

4 Peran stakeholders dalam Tata Kelola Perusahaan 15

5 Pengungkapan dan Transparasi 15

6 Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi 20

Sumber: Laporan CGPI, 2009

Secara lengkap tahapan riset diawali dengan pengembangan metodologi dan database, publikasi program, konfirmasi peserta CGPI, serta penyebaran kuisioner (self assessment).

Tahap pemeriksaan kelengkapan dokumen yang dilakukan bertujuan untuk menelusuri upaya dan wujud penerapan GCG sebagai sebuah sistem yang dilakukan peserta CGPI dengan mengacu pada daftar dokumen yang disyaratkan dibuat dengan mempertimbangkan dan memperhatikan pemenuhan regulasi, kebjakan, pedoman, dan praktek terbaik dalam penerapan GCG di Indonesia dan Negara lain. Secara keseluruhan dipersyaratkan sekurang-kurangnya 40 dokumen untuk perusahaan publik dan 36 dokumen untuk BUMN.

Tahapan riset berikutnya adalah penyususnan makalah yang merefleksikan program dan hasil penerapan GCG sebagai sebuah sistem diperusahaan. Penyusunan makalah dimaksudkan untuk membantu pihak perusahaan memaparkan upayanya dalam menerapkan GCG pada saat observasi merupakan kegiatan peninjauan langsung ke seluruh perusahaan peserta CGPI untuk memastikan praktek penerapan GCG sebagai sebuah sistem pengelololaan bisnis diperusahaan tersebut. Penilaian GCG meliputi empat tahapan tersebut dengan bobot nilai yang berbeda. Bobot penilaian yang disajikan dalam tabel 2 berikut ini:

(8)

Tabel 2

Tahapan dan Bobot Penilaian Riset dan Pemeringkatan CGPI

No Tahapan Bobot (%)

1 Self Assessment 17

2 Kelengkapan dokumen 35

3 Makalah yang merefleksikan program dan hasil penerapan good corporate governance sebagai sistem perusahaan-perusahaan yang bersangkutan

13

4 Observasi 35

Sumber: Majalah SWA edisi XXIX, 2013

Nilai CGPI dihitung dengan menjumlahkan nilai akhir dari setiap tahapan diatas.

Hasil program riset dan pemeringkatan penerapan GCG pada perusahaan peserta dengan memberikan skor dan pembobotan nilai berdasarkan acuan yang telah dibuat.

Pemeringkatan GCG didesain menjadi 3 komponen berdasarkan tingkat/level terpercaya yang dapat dijelaskan menurut skor penerapan GCG seperti disajikan pada tabel 3 berikut ini:

Tabel 3

Kategori Pemeringkatan CGPI

Kategori Skor Penilaian Predikat

A >85-100 Sangat Terpercaya

B >70-85 Terpercaya

C 55-70 Cukup Terpercaya

Sumber: Laporan CGPI, 2009

Pengertian Kinerja Keuangan

Perwirasari, 2009 (dalam Dittawati, 2011) Perusahaan sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan tertentu yang menunjukan apa yang ingin dilakukan untuk memenuhi keinginan anggotanya. Untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan sudah dicapai, tidaklah mudah dilakukan karena menyangkut aspek-aspek manajemen yang harus. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu perusahaan dalam menjalankan operasinya telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan dipertimbangkan sesuai dengan tujuannya adalah dengan mengetahui dari kinerja perusahaan tersebut. Apakah kinerjanya sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan peraturan perusahaan atau belum.

Simanjuntak 2005 (dalam Dittawati, 2011) Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi suatu organisasi. Kinerja perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan. Pelaporan kinerja merupakan refleksi kewajiban untuk mempresentasikan dan melaporkan kinerja semua aktivitas dan sumber daya yang perlu dipertanggungjawabkan. Kinerja perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan sering dijadikan dasar untuk penilaian kinerja perusahaan. Salah satu jenis laporan keuangan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi.

Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator atau variabel untuk mengukur keberhasilan perusahaan, pada umumnya berfokus pada informasi kinerja yang berasal dari laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut bermanfaat untuk membantu investor, kreditor, calon investor dan para pengguna lainya dalam rangka membuat keputusan investasi, keputusan kredit, analisis saham serta menentukan prospek suatu perusahaan dimasa yang akan datang. Penilaian kinerja perusahaan dilakukan

(9)

bertujuan untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang ditetapkan sebelumnya agar tercapai tujuan perusahaan yang baik. Melalui penilaian kinerja, maka perusahaan dapat memilih strategi dan struktur keuangannya. Dalam penelitian ini, terdapat tiga faktor kinerja perusahaan, antara lain : Pertama,

kinerja perusahaan untuk menghasilkan laba (Return On Assets), yaitu rasio untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan asset yang dimiliki.

Kedua,

kinerja operasi perusahaan (Return On Equity), yaitu salah satu alasan utama mengapa mengoperasikan perusahaan adalah untuk menghasilkan laba yang akan bermanfaat bagi para pemegang saham. Ukuran keberhasilan dari pencapaian alasan ini adalah angka return on common stockholder equity yang berhasil dicapai.

Ketiga,

tingkat pengembalian investasi (Return on Investment), yaitu perkalian antara profit margin perusahaan dengan Assets Turn Over perusahaan

METODOLOGI PENELITIAN Populasi dan Sampel Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan format eksplanatif asosiatif, dimana hubungan antar variabel tersebut dirumuskan dalam hipotesis penelitian yang akan diuji kebenarannya (Sugiyono, 2008:204). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan GCG dengan kinerja keuangan perusahaan.

Gambaran dari populasi yang digunakan yaitu perusahaan yang memperoleh skor dalam pemeringkatan CGPI tahun 2010-2012 yang dilakukan oleh (IICG).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar pada IICG selama periode 2010-2012. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Kriteria yang digunakan untuk memilih sampel adalah sebagai berikut: (1) Perusahaan yang terdapat di BEI pada tahun 2010-2012 dan tidak sedang berada dalam proses delisting pada periode tersebut, (2) Perusahaan masuk berturut-turut dalam pemeringkatan GCG berupa skor pemeringkatan CGPI dimulai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, (3) Perusahaan telah menerbitkan dan mempublikasikan laporan keuangan tahunan per 31 desember untuk tahun 2010-2012. Proses seleksi dalam menentukan kriteria yang telah ditentukan dapat

dilihat pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 4 Proses Seleksi Sampel

No Kualifikasi Sampel Jumlah Perusahaan

1 Perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia selama

periode 2010-2012 485

2 Perusahaan yang tidak terdaftar dalam IICG berturut-turut selama periode 2010-2012

463

3 Perusahaan yang tidak konsisten mempublikasikan laporan keuangan tahunannya dan terdaftar dalam IICG berturut-turut selama periode 2010-2012

8

4 Perusahaan yang termasuk (outliner) 3

5 Perusahaan yang terpilih menjadi sampel 11

6 Jumlah sampel penelitian 33

Sumber: Data diolah 2014

(10)

Adapun nama perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini beserta peringkat GCG yang dilakukan oleh IICG dalam bentuk skor yang di dapat dilihat dalam tabel 5 sebagai berikut :

Tabel 5

Daftar Perusahaan yang Digunakan Sebagai Sampel

No Nama Perusahaan

1 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk 2 PT. Bank CIMB Niaga Tbk

3 PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 4 PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk

5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk 6 PT. Jasa Marga (Persero) Tbk

7 PT. Timah (Persero) Tbk 8 PT. Astra Otoparts Tbk

9 PT. Bank Tabungan Negara Indonesia (Persero) Tbk 10 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)

11 PT Panorama Transportasi Tbk

Sumber : Hasil Pemilihan Sampel Penulis

Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Variabel Independen

Menurut Sugiyono (2008:4) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) variabel lain.

Variabel independen dalam penelitian ini adalah indeks corporate governance berupa skor yang dilakukan oleh lembaga riset independen IICG. Berikut skor CGPI perusahaan yang menjadi sampel.

Tabel 6

Daftar Skor GCG Perusahaan Sampel 2010-2012

Sumber: Laporan CGPI

Variabel Dependen

Menurut Sugiyono (2008:4) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan yang diproksi sebagai berikut:

a) Return on Assets (ROA)

Return on Asset, yang sering juga disebut sebagai earning power of total investmen, menunjukan kemampuan total aktiva menghasilkan laba sebelum dipotong bunga dan pajak

No Nama perusahaan 2010 2011 2012

1 PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk 91.81% 91.91% 91.88%

2 PT. Bank CIMB Niaga Tbk 91.46% 89.88% 89.75%

3 PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 85.35% 85.75% 86.06%

4 PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk 86.15% 86.56% 88.70%

5 PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk 84.33% 82.56% 83.8%

6 PT. Jasa Marga (Persero) Tbk 83.41% 83.66% 84.53%

7 PT. Timah (Persero) Tbk 70.73% 75.68% 77.81%

8 PT. Astra Otoparts tbk 78.11% 79.09% 80.03%

9 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 85.70% 85.90% 85.43%

10 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) 89.10% 89.57% 90.58%

11 PT Panorama Transportasi Tbk 70.10% 68.90% 70.12%

(11)

(EBIT) (Awat 1998:391). Formula yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai NPM adalah sebagai berikut:

Laba sebelum pajak

ROA= × 100%

Total asset b) Return on Equity (ROE)

Return on equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan (Syafri, 2008:305). Formula yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai ROE adalah sebagai berikut:

Laba bersih

ROE = × 100%

Total ekuitas c) Return on investment (ROI)

Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63). Formula yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai return on investment adalah sebagai berikut:

ROI= Profit margin × Assets turnover

Pengujian Hipotesis

Hipotesis penelitian akan diuji dengan tiga persamaan regresi yang berbeda, yaitu : 1. ROA = b0 + b1 GCG + e

2. ROE = b0 + b2 GCG + e 3. ROI = b0 + b3 GCG + e dalam hal ini:

ROA = ROA perusahaan sampel ROE = ROE perusahaan sampel ROI = ROI perusahaan sampel

GCG = Penerapan good corporate governance b0 = Konstanta

b = Koefisien regresi untuk mengukur perubahan X dan Y e = Error

Persamaan regresi 1 akan digunakan untuk menguji apakah corporate governance perception index yang berupa skor pemeringkatan berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh ROA. Persamaan regresi 2 digunakan untuk menguji apakah corporate governance perception index yang berupa skor pemeringkatan berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh ROE.

Persamaan regresi 3 digunakan untuk menguji apakah corporate governance perception index yang berupa skor pemeringkatan berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh ROI.

(12)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik

a. Uji Autokorelasi. Nilai Durbin-Watson persamaan regresi pertama adalah 1.710, nilai du = 1.324 karena nilai DW lebih besar dari nilai du tabel maka regresi pertama bebas dari autokorelasi. Nilai Durbin-Watson persamaan regresi kedua adalah 1.602, nilai du = 1.324 karena nilai DW lebih besar dari nilai du tabel maka regresi kedua bebas dari autokorelasi.

Nilai Durbin-Watson persamaan regresi ketiga adalah 1.652, nilai du = 1.602 karena nilai DW lebih besar dari nilai du tabel maka regresi ketiga bebas dari autokorelasi.

b. Uji Multikolinearitas. Nilai tolerance semua variabel bebas lebih besar dari 0,10, demikian pula nilai VIF semuanya kurang dari 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengindikasikan adanya multikolinieritas.

c. Uji Heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat pola grafik scatterplot. Hasil dari grafik scatterplot tidak menunjukkan adanya pola-pola tertentu, sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak terdapat heteroskedastisitas.

d. Uji Normalitas. Hasil uji normal probably plot menunjukkan bahwa dari semua persamaan regresi bentuk ploting hampir, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

Uji Hipotesis

Pengujian Hipotesis 1

Persamaan regresi 1 digunakan untuk menjawab hipotesis 1, serta untuk mengetahui apakah CGPI berpengaruh terhadap variabel ROA.

Tabel 7 Analisis Regresi 1 ROA = b0 + b1 GCG + e

Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std.

Error of the Estimate

Change Statistics

Durbin- Watson R

Square Change

F

Change df1 df2

Sig. F Change

1 ,010a ,000 -,111 ,108075 ,000 ,001 1 9 ,977 1,710

a. Predictors: (Constant), GCG b. Dependent Variable: ROA

Berdasarkan hasil diatas dapat diketahui bahwa corporate governance perception index tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh ROA ini dapat dilihat dari nilai nilai uji t sebesar 0,977.

Nilai adjusted R2 sama dengan 0.000 yang berarti hanya 0% variabel ROA dapat dijelaskan oleh corporate governance perception index, sedangkan sisanya sebesar 100%

dijelaskan oleh faktor lain diluar model regresi. Lemahnya pengaruh corporate governance terhadap ROA disebabkan karena tingkat ROA perusahaan yang menjadi sampel mempunyai nilai yang sangat kecil, hal ini bertolak belakang atau tidak sejalan dengan skor CGPI perusahaan sampel yang mempunyai skor relatif tinggi.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahayu (2013) yang melakukan penelitian terhadap keterkaitan corporate governance oleh suatu perusahaan dengan kinerja keuangan perusahaan yang diproksi oleh ROA dan ROE. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan good corporate governance tidak

(13)

mempengaruhi kinerja keuangan secara signifikan. Penelitian lain yang dilkukan oleh Paradita dan Nurzaimah (2010) tentang “Pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan pada perusahaan yang termasuk kelompok sepuluh besar menurut corporate governance perception index (CGPI)” menunjukan hasil bahwa good corporate governance tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh Return On Assets dan Return On Equity hal ini dibuktikan dengan tingkat signifikan uji t yang lebih dari 0,05.

Pengujian Hipotesis 2

Persamaan regresi 2 digunakan untuk menjawab hipotesis 2, serta untuk mengetahui apakah CGPI berpengaruh terhadap variabel ROE.

Tabel 8 Analisis Regresi 2 ROE = b0 + b2 GCG + e

Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std.

Error of the Estimate

Change Statistics

Durbin- Watson R

Square Change

F

Change df1 df2

Sig. F Change

1 ,497a ,247 ,163 ,073384 ,247 2,945 1 9 ,120 1,602

a. Predictors: (Constant), GCG b. Dependent Variable: ROE

Melalui hasil regresi persamaan 2 dapat diketahui bahwa CGPI mempunyai p value sebesar 0.120, hal ini menunjukkan bahwa CGPI tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh ROE, serta antara CGPI dan kinerja keuangan yang diproksi oleh ROE mempunyai hubungan positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis 2 ditolak.

Nilai adjusted R2 sama dengan 0.247 yang berarti bahwa 24.7% CGPI dapat dijelaskan dengan kinerja keuangan yang dirpoksi oleh ROE. Sedangkan sisanya sebesar 75.3%

dijelaskan oleh faktor lain diluar model regresi. Lemahnya pengaruh corporate governance terhadap ROA disebabkan karena tingkat ROA perusahaan yang menjadi sampel mempunyai nilai yang sangat kecil, hal ini bertolak belakang atau tidak sejalan dengan skor CGPI perusahaan sampel yang mempunyai skor relatif tinggi.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahayu (2013) yang melakukan penelitian terhadap keterkaitan corporate governance oleh suatu perusahaan dengan kinerja keuangan perusahaan yang diproksi oleh ROA dan ROE. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan good corporate governance tidak mempengaruhi kinerja keuangan secara signifikan. Penelitian lain yang dilkukan oleh Paradita dan Nurzaimah (2010) tentang “Pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan pada perusahaan yang termasuk kelompok sepuluh besar menurut corporate governance perception index (CGPI)” menunjukan hasil bahwa good corporate governance tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan yang diproksi oleh Return On Assets dan Return On Equity hal ini dibuktikan dengan tingkat signifikan uji t yang lebih dari 0,05.

(14)

Pengujian Hipotesis 3

Persamaan regresi 3 digunakan untuk menjawab hipotesis 3, serta untuk mengetahui apakah CGPI berpengaruh terhadap variabel ROI.

Tabel 9 Analisa Regresi 3 ROE = b0 + b2 GCG + e

Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R Square

Std.

Error of the Estimate

Change Statistics

Durbin- Watson R

Square Change

F

Change df1 df2

Sig. F Change

1 ,014a ,000 -,111 ,084143 ,000 ,002 1 9 ,968 1,652

a. Predictors: (Constant), GCG b. Dependent Variable: ROI

Dari hasil output analisis dengan menggunakan software SPSS 20.0 diatas diperoleh tingkat signifikan uji t = 0,968 > α = 0,05 (level of signifikan), maka H0 berhasil diterima dan Ha

ditolak. Dengan demikian Hasil analisis ini memperlihatkan bahwa variabel GCG tidak berpengaruh terhadap ROI secara parsial, dengan demikian GCG (Good Corporate Governance) tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap kemampulabaan perusahaan atas aktiva yang digunakan dalam menghasikan laba usaha. Penelitian ini sepaham dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Paradita dan Nurzaimah (2009) dengan judul “Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan yang Termasuk Kelompok Sepuluh Besar Menurut Corporate Governance Perception Index (CGPI)” dimana GCG tidak mempunyai pengaruh secara signifikan dan parsial terhadap kinerja keuangan khususnya yang diproksi dengan ROI (Return On Investment), ROE (Return On Equity) dan NPM (Net Profit Margin).

SIMPULAN DAN KETERBATASAN Simpulan

Berdasarkan pengujian dan hasil yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : (1) Variabel ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance, ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,977 yang menunjukan nilai tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Keadaan ini terjadi karena perbedaan jenis perusahaan yang dijadikan sampel dan rentang waktu yang menjadi tahun objek penelitian; (2) Variabel ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance, ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,120 yang menunjukan nilai tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Kondisi ini bisa diakibatkan karena rasio keuangan dilihat dari jangka waktunya hanya bertujuan pada jangka pendek saja sedangkan untuk GCG mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan secara jangka panjang sehingga tidak dapat diukur kesuksesannya jika hanya mengandalkan satu periode akuntansi saja; (3) Variabel ROI tidak berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance, ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,968 yang menunjukan nilai tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Dengan demikian GCG tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap kemampulabaan perusahaan atas aktiva yang digunakan dalam menghasikan laba usaha.

(15)

Saran

Berdasarkan hasil pengujian dan analisis pembahasan serta beberapa kesimpulan yang sudah dikemukakan pada penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pengaruh corporate governance yang dilakukan IICG dalam bentuk skor CGPI terhadap kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar pada IICG dan BEI. Namun penelitian ini masih mendapatkan keterbatasan.

Adapun saran-saran yang dapat diberikan melalui penelitian ini untuk penelitian selanjutnya agar mendapatkan hasil yang lebih baik, berikut saran-saran yang dimaksud, adalah : (1) Peneliti menggunakan 11 perusahaan yang terdaftar pada BEI dan IICG berturut- turut dimulai dari tahun 2010 sampai dengan 2012, disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat menambah tahun penelitian dan sampel perusahaan. (2) Penelitian ini hanya menggunakan 3 rasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan padahal masih terdapat banyak rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menjadikan penelitian selanjutnya mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. (3) Penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan variabel yang digunakan untuk mengukur pengaruhnya terhadap kinerja keuangan, misalnya kualitas laporan keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Awat, J. A. 1998. Manajemen Keuangan Pendekatan Matematis. Cetakan Pertama, PT GramediaPustakaUtama. Jakarta.

Aldridge, E. John. 2005. Good Corporate Governance : Tata Kelola Perusahaan Yang Sehat. PT.

Damar Mulia Rahayu. Jakarta.

CGPI. 2009. Good Corporate Governance Dalam Perspektif Manajemen Stratejik.

https://www.iicg.org.18 Desember 2013.

Christiana, D. 2011. Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia .Skripsi. Program Akuntansi Keuangan STIESIA. Surabaya.

Dittawati, B. 2011. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan di Indonesia yang Mengikuti Survey CGPI. Skripsi. Program Akuntansi Keuangan.

STIESIA. Surabaya.

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). 2001a. Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan. Edisiketiga, Jakarta.

. 2001b. Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit Dalam Pelaksanaan Corporate Governance. Seri Tata Kelola Perusahaan, Jilid II. http://www.fcgi.or.id. Diakses 17 November 2013.

Herdikasari, E. 2011. Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Pada Industri Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006- 2008.http://eprints.undip.ac.id/26909/1/Skripsi_Keseluruhan%28r%29.pdf. Diakses 18 November 2013.

IDX. 2010.Sejarah.http://www.idx.co.id/id-id/beranda/tentangbei/sejarah.aspx. Diakses 17 Januari 2014.

Kaihatu, Thomas S. 2006. “Good Corporate Governance danPenerapannya di Indonesia”.

Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol.8 No.1.Maret 2006.

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). 2006. PedomanUmum Good Good Corporate Governance di Indonesia. Jakarta.

Lie, W. 2013. Sejarah Singkat BEI (Bursa Efek Indonesia).http://peace- wentali.blogspot.com/2013/02/sejarah-singkat-bei-bursa-efek-indonesia.html. Diakses 17 Januari 2014.

(16)

Majalah SWA. 2013. Indonesia Most Trusted Companies 2013. No. XXIX. 19 Desember.

Halaman 26. Jakarta.

OECD.1999. OECD Priviples of Corporate Governance.

Paradita, D dan Nurzaimah. 2010. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan yang Termasuk Kelompok Sepuluh Besar Menurut Corporate Governance Perception Index (CGPI). http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi- 40.html. Diakses 5 Maret 2014.

Rahayu, A. A. 2013. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Kuangan PT.

Telekomunikasi Indonesia Berdasarkan Penilaian Indoneisa Institute of Corporate

Governance .Jurnal Akuntansi Unesa Vol 1 No.2.

http://ejournal.unesa.ac.id/article/4072/57/article.pdf . Diakses 19 November 2013.

Sedarmayanti. 2007. Good Corporate Governance (Kepemerintahan yang Baik) dan Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan yang Baik).Keempat.Mandar Maju. Bandung.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Kesepuluh. CV Alfabeta. Bandung.

Syafri, H, S. 2008. Analisa Kritisatas Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Syahrizal. 2012. Penegrtian IFRG, GCG, dan CGPI.

http://rizalkindman27.wordpress.com/2012/11/07/pengertian-ifrs-cgc-da-cgpi/.Diakses 22 November 2013.

Syamsuddin, L. 2001. Manajemen Keuangan Perusahaan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Windah, G. C dan Andono, F. A. 2013.Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Hasil Survey The Indonesian Institute Perception Governance (IICG) .Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 2. No. 1:7.

http://forum.detik.com/pengertian-roi-return-on-investment-t385600.html. Diakses 29 November.

http://www.ecgi.org/codes/documents/indonesia_cg_2006_idpdf. Diakses 18 November 2013 (21:26).

http://www.iicg.org. Diakses pada 26 November 2013.

http://www.mitrariset.com/DATA_CGPI.html. Diakses 26 November 2013.

●●●

Gambar

Tabel 4  Proses Seleksi Sampel

Referensi

Dokumen terkait

Namun dengan kecepatan angin rata-rata harian yang dihasilkan, masih dapat menghasilkan daya listrik sebesar 290.6 - 2614813.9 Watt day/year dan dapat

Penulis publikasi ilmiah di bidang SIK yang produktif berasal dari penulis yang terafiliasi dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, Tema publikasi ilmiah

Chapter 1 , Quick Start – Our First 3D Scene , introduces some of the main Studio features by creating a simple scene, showing how to position the camera and how to render the

When you click OK, the image appears in the Summary pane, and you can dis- play it while your music is playing by pressing ⌘ +G or clicking the Show or Hide Song Artwork button at

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menyertai Penulis dalam melaksanakan penelitian dan menulis laporan skripsi yang berjudul “Dete ksi Absolute

Sistem yang digunakan adalah sistem pendukung keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) di mana sistem akan menerima inputan data tentang peserta BPJS Kesehatan

3) Menentukan materi pembelajaran yang akan disampaikan sesuai dengan KI, KD, indikator dan tujuan pembelajaran yang telah disusun. 4) Menentukan metode pembelajaran yang

22 Kepuasan Pelanggan Produktiviti Kualiti Kebolehsuaian PenulisIPengkaji Elmuti et al., 1996 1 Kepimpinan Komitmen pengurusan atasan 2 Perancangan Strategik Misi dan