94
PENDUGAAN CADANGAN KARBON DI TAMAN HUTAN RAYA
INTEN DEWATA
Carbon Stock Estimated in Taman Hutan Raya Inten Dewata
Oleh:
RIAN SUSILA
1), RIZKY NUR APRILIANI
2)1,2
) Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti
Jl. Raya Bandung-Sumedang Km. 29. Tanjungsari-Sumedang 45362
Diterima 15 September 2019/Disetujui 4 Oktober 2019
ABSTRACT
The existence of Tahura Inten Dewata have other functions as a Green Open Space in the process of reducing pollutants and climate stabilization. Vegetation has the ability to store carbon stocks, but the potential of Tahura Inten Dewata in storing carbon has not been studied. Object of research is carbon stock estimated in Tahura Inten Dewata. The method of research by storing it in wood density and biomass of tree which has a total area of ± 35.81 Ha. The results of these calculations will obtain the value of biomass, and carbon stocks represent 47% of the value of biomass. he total carbon stock in Tahura Inten Dewata is around 15,995.89 kg or 15,995 tons.
Keyword: Tahura Inten Dewata, Vegetation, Carbon Stock
PENDAHULUAN
Taman Hutan Raya (Tahura) Inten Dewata merupakan kawasan konservasi
yang memiliki tujuan untuk koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau
bukan alami, jenis asli dan/atau bukan jenis asli, yang tidak invasif dan
dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi (PP No 28, 2011). Tahura
Inten Dewata terletak di pusat kota Sumedang, yang mana pusat Kota Sumedang
sebagian besar merupakan kawasan pertokoan dan perkantoran baik pemerintah
95
maupun swasta (Tahura Inten Dewata, 2017). Salah satu dampak dari hal tersebut yaitu tingginya aktifitas masyarakat dan lalu lintas di daerah ini. Keberadaan Tahura Inten Dewata di Pusat Kota Sumedang berfungsi juga sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam proses reduksi polutan dan stabilisasi iklim karena sebagian besar kawasan Tahura berisi vegetasi (Wahyu, 2015). Vegetasi memiliki kemampuan mereduksi karbondioksida (CO
2) dan menghasilkan oksigen (O
2) melalui proses fotosintesis (Siwi, 2012).
Proses fotosintesis pada vegetasi menghasilkan simpanan karbon ( C ) semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur vegetasi sampai pada titik pertumbuhan optimum (Sutaryo,2009). Vegetasi penyusun Tahura Inten Dewata didominasi oleh pohon Pinus (Pinus merkusii) dan Mahoni Uganda (Khaya antotecha). Secara morfologi, ukuran kubikasi vegetasi penyusun Tahura Inten Dewata memiliki potensi cadangan karbon yang sangat besar. Hal tersebut didasarkan atas formula bahwa besaran cadangan karbon sekitar 47 % dari biomasa vegetasi. Sehingga dapat dipastikan semakin besar kubikasi pohon, maka kemungkinan cadangan karbonnya pun semakin meningkat.
Potensi Tahura Inten Dewata dalam menyimpan karbon selama ini belum dikaji, sehingga belum tersedia data mengenai simpanan karbon. Dalam rangka, mengkuantifikasi potensi sumberdaya hutan khususnya simpanan karbon, maka penulis melakukan penelitian mengenai pendugaan simpanan karbon di Tahura Inten Dewata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai guna hutan kawasan Tahura Inten Dewata dalam menyimpan karbon.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Taman Hutan Raya Inten Dewata di Kabupaten Sumedang (Gambar 1). Waktu penelitian selama dua bulan pada tahun 2017.
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Phi band (pita ukur), tali plastik ukuran 100 m dan 20 m, gunting tanaman, timbangan analitik, piloks (Untuk memberi tanda pada pohon yang telah diukur), haga hypsometer, kalkulator, kamera, peralatan herbarium, oven, tally sheet, GPS dan kompas.
Batasan dalam penelitian ini antara lain:
1. Pengukuran cadangan karbon dilakukan hanya untuk vegetasi diatas permukaan tanah berupa tegakan pohon.
2. Plot pengamatan adalah plot berukuran 40 m x 5 m untuk pengukuran
cadangan karbon dengan DBH (diameter breast height) 5 cm hingga 30 cm
(lingkar/lilit pohon 15 cm - 95 cm) dan plot ukuran 100 m x 20 m untuk pohon
yang besar (DBH > 30 cm) (Hairiah et.al, 2011).
96
Jenis datadalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh melalui pengamatan dilapangan dan dilaboratorium yaitu berupa nama pohon, berat jenis pohon, biomassa pohon, dan cadangan karbon dari biomassa. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kepustakaan yang menunjang dalam penelitian.
Gambar 1. Peta kawasan Taman Hutan Raya Inten Dewata
Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan data langsung di lokasi penelitian. Lokasi penelitian yaitu Tahura Inten Dewata memiliki luas total kawasan ± 35,81 Ha, dengan rincian : seluas ± 32,01 Ha terletak di Gunung Palasari dan seluas ± 3,80 Ha terletak di Gunung kunci yang berdasarkan peta tutupan vegetasi terbagi atas tiga Cluster. Data yang di ambil adalah data mengenai volume pohon tiap jenis di lokasi penelitan. Metode pengukuran yang dilakukan menggunakan plot sampling (petak contoh) berbentuk persegi yang ditentukan secara acak (random) pada setiap Cluster tutupan vegetasi di lokasi penelitian. Bentuk plot yang digunakan (disitasi dari Hairiah et.al, 2011) ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Plot contoh pengukuran biomasa vegetasi pohon
40 m
5 m 20 m
100 m
97
Prosedur pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penentuan nama pohon untuk mencari nilai berat jenis (BJ) pohon pada daftar BJ kayu pohon yang telah ada.
2. Pengukuran volume pohon 3. Penentuan biomasa pohon 4. Penentuan cadangan karbon
5. Konversi cadangan karbon ke luas kawasan hutan.
Pengenalan nama jenis pohon didapat dari temuan langsung di lapangan yang kemudian dimasukan ke dalam tallysheet, pengenalan nama jenis pohon tersebut bertujuan untuk mencari nilai berat jenis (BJ) pohon pada daftar BJ kayu pohon yang ada. Berat jenis kayu, diperoleh dari db.worldagroforestry.org (Tree Funcional Attributes and Ecological. Database Wood Dencity). Bila pohon yang diukur belum terdaftar, maka untuk memperoleh berat jenis kayu tersebut dilakukan pengukuran cara memotong kayu dari salah satu cabang dengan ukuran sampel (Panjang/tinggi = 5 cm , diameter = 1 cm) kemudian timbang berat basahnya. Masukan dalam oven pada suhu 100
0C (derajat) selama 48 jam dan timbang kembali untuk mengetahui berat kering kayu tersebut (Hairiah et.al, 2011).
Pengukuran biomasa pohon dilakukan dengan menaksir volume pohon tanpa melakukan perusakan (non destructive). Volume pohon ditaksir dari ukuran diameter batangnya, yang diukur setinggi dada (diameter at breast height – DBH atau 1,3 m dari permukaan tanah) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.
Tinggi pohon diukur untuk mempertinggi akurasi estimasi volume pohon.
Gambar 3. Cara pengukuran lilit batang pohon menggunakan pita ukur (phi band) (Hairiah, et. al., 2011)
Setiap pengukuran diameter pohon tidak semua posisi pohon pada kondisi tegak sempurna, maka dari itu gambar dibawah ini menunjukan cara penentuan titik pengukuran DBH batang pohon berbanir, bergelombang, bercabang rendah atau pada lahan berlereng. Ketentuan penentuan dbh dapat dilihat pada Gambar 4.
B A
98
Gambar 4 Skematis Cara Menentukan Ketinggian Pengukuran DBH Batang
Pohon yang Bentuknya Tidak Beraturan (Hairiah et al, 2011)
Berdasarkan posisi pengukur terhadap kedudukan pohon maka dapat digambarkan teknik pengukuran tinggi pohon dengan hagameter sebagaimana yang diperlihatkan pada Gambar 5.
a) T = T1 – T2 b) T = T1 + T2 c) T = Ta + Tm
Gambar 5 Teknik pengukuran tinggi pohon pada berbagai posisi pengukur (Malamasam, 2009)
Keterangan : T = Tinggi pohon
T1 = Pembacaan skala pada saat membidik pucuk pohon T2 = Pembacaan skala pada saat membidik pangkal pohon T = Tinggi pohon, Ta = pembacaan skala pada alat ukur Tm = Tinggi mata pengukur (cruiser)
a = Posisi pengukur lebih rendah dari pohon b = Posisi pengukur lebih tinggi dari pohon c = Posisi pengukur sejajar dengan pohon
Tahapan pengukuran biomasa pohon dilakukan sebagai berikut : 1. Identifikasi nama jenis pohon.
2. Ukur diameter setinggi dada (DBH).
3. Ukur tinggi pohon.
4. Hitung biomasa pohon.
Analisis data untuk mengetahui Berat jenis dihitung dengan menggunakan rumus (Hairiah et.al, 2011) :
Keterangan : BJ = Berat jenis (g/cm3)
BJ (g/cm³) =
𝐕 (𝐜𝐦𝐁𝐊 (𝐠)𝟑)99 BK = Berat kering (g)
V = Volume (cm3)
Sedangkan untuk mengetahui volume dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan : π = 3.14
R = Jari-jari potongan kayu T = Panjang kayu (m)
Penghitungan biomasa pohon dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan: Bp = Biomasa pohon (Kg) Vp =Volume pohon (m3) BJp = Berat jenis pohon (g/cm3)
Penghitungan cadangan karbon dari biomasa menggunakan rumus (Hairiah K, et al, 2011) :
Keterangan : C b = Cadangan karbon dari biomasa (kg) B = Total biomasa (kg)
% COrganik = Nilai persentase cadangan karbon 47%
HASIL DAN PEMBAHASAN Tutupan Vegetasi Taman
Tutupan vegetasi di Tahura Inten Dewata terdiri dari kluster tutupan lahan Mahoni Uganda (Khaya antotecha), Pinus (Pinus merkusii) dan rimba campuran (Gambar 6). Pada Gambar 6 dapat terlihat bahwa di Tahura Inten Dewata secara umum berdasarkan spesies yang dominan dapat dibagi menjadi empat Cluster tutupan vegetasi. Cluster 1 dan Cluster 2 didominasi oleh klas tutupan vegetasi Pinus Cluster 1 terletak di kawasan Gunung Kunci dengan luas kawasan ± 3,80 Ha, sedangkan Cluster 2 terletak di kawasan Gunung Palasari dengan luas kawasan ± 15 Ha. Kluster 1 dan 2 telah mengalami pengkayaan pada tahun tahun 1967 kemudian pada tahun 1987 dan pada tahun 2001. Cluster 3 merupakan klas tutupan vegetasi Mahoni Uganda yang memiliki luas sekitar 1 Ha. Tanaman penyusun Cluster 3 terletak di kawasan Gunung Palasari dan merupakan tanaman hasil pengkayaan tahun 2001. Cluster 4 tersusun oleh pinus dan rimba campuran yang ditanam pada tahun 1967 dan pengayaan tahun 2001. Cluster 4 terdapat di kawasan Gunung Palasari dan memiliki luas sekitar 16,01 Ha.
Volume (m
3) = π R
2T
B
p= V
px Bj
pC
b= B x %C
Organik100
Gambar 6 Cluster tutupan vegetasi Tahura Inten Dewata
Vegetasi Taman Hutan Raya Inten Dewata
Hasil observasi lapangan ditemukan sebanyak 216 individu pohon dari 16 spesies pohon penyusun Tahura Inten Dewata (Tabel 2). Hasil observasi lapangan sebagaimana disajikan pada Tabel 2, pinus memiliki jumlah pohon terbanyak yaitu 123 pohon dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Pinus mendominasi jenis vegetasi di Tahura Inten Dewata karena secara historis kawasan ini sebelumnya berstatus Hutan Produksi Terbatas (HPT) kelas perusahaan pinus yang dikelola oleh Perum Perhutani.
Tabel 2. Daftar Spesies Pohon Penyusun Tahura Inten Dewata
No Nama Pohon
Jumlah
Lokal Latin
1 Akasia mangium Acacia mangium 1
2 Angsana Pterocarpus adansonii 8
3 Mahoni Uganda Khaya anthotheca 56
4 Asam Tamarindus indica 1
5 Beringin Ficus benjamina 1
6 Bungur Lagerstroemia speciosa pers 2
7 Damar Agathis dammara 2
8 Gaharu Aquilaria malaccensis 1
9 Gmelina Gmelina arborea 2
10 Mahoni Swietenia macrophylla 6
11 Nangka Artocarpus heterophyllus 3
12 Pinus Pinus merkusii 123
13 Randu Ceiba pentandra 2
101
No Nama Pohon Jumlah
14 Sengon buto Enterolobium cyclocarpum 4
15 Sonokeling Dalbergia latifolia 1
16 Waru Hibiscus tiliaceus 3
Total 216
Sumber: Data Primer, 2017
Berat Jenis
Berat jenis spesies penyusun Tahura Inten Dewata menunjukan bahwa berat jenis paling tinggi terdapat pada asam yaitu sebesar 0.99 g/cm3, sonokeling yaitu 0.77 g/cm
3. Sedangkan berat jenis paling rendah terdapat pada randu yaitu 0.3 g/cm
3, pinus yaitu 0.6 g/cm
3(Tabel 3). Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kayu memilik berat jenis yang berbeda-beda, antara 0.3 g/cm
3(randu) sampai 0.99 g/cm
3(asam). Menurut Browen et al (1952) dalam Manuhuwa (2007) berat jenis kayu bervariasi diantara berbagai jenis pohon, adanya variasi tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam jumlah zat penyusun dinding sel dan kandungan zat ekstraktif per unit volume. Berat suatu jenis kayu ditunjukan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan dan dipakai sebagai patokan berat kayu
Tabel 3. Daftar Berat Jenis Kayu
No
Nama Pohon Berat Jenis
WD (g/cm³)*
Lokal Latin
1 Akasia mangium Acacia mangium 0.53
2 Angsana Pterocarpus adansonii 0.74
3 Antoteka Khaya anthotheca 0.51
4 Asam Tamarindus indica 0.99
5 Beringin Ficus benjamina 0.49
6 Bungur Lagerstroemia speciosa pers 0.63
7 Damar Agathis dammara 0.48
8 Gaharu Aquilaria malaccensis 0.33
9 Gmelina Gmelina arborea 0.44
10 Mahoni Swietenia macrophylla 0.67
11 Nangka Artocarpus heterophyllus 0.48
12 Pinus Pinus merkusii 0.6
13 Randu Ceiba pentandra 0.3
14 Sengon buto Enterolobium cyclocarpum 0.39
15 Sonokeling Dalbergia latifolia 0.77
16 Waru Hibiscus tiliaceus 0.48
Sumber: ICRAF,2017
102
Menurut Manuhua (2009) klasifikasi berat jenis kayu yang ada, terdiri dari tiga yaitu kayu dengan berat ringan, bila BJ kayu < 0,3 g/cm
3, kayu dengan berat sedang, bila BJ kayu antara 0,3 g/cm
3– 0,56 g/cm
3dan kayu dengan berat berat, bila BJ kayu > 0,56 g/cm
3. Dari 16 pohon pada (Tabel 3) di atas maka 11 pohon diantaranya akasia mangium, antoteka, beringin, damar, gaharu, gmelina, nangka, pinus, randu, sengon buto, dan Waru merupakan kayu dengan berat sedang, dan 5 pohon diantarnya angsana, asam, bungur, mahoni, sonokeling masuk ke dalam klasifikasin kayu berat.
Estimasi Cadangan Karbon
Estimasi cadangan karbon di Tahura Inten Dewata yang disajikan pada Tabel 4 menunjukan bahwa cadangan karbon terbesar terdapat pada Cluster 2 yaitu sebesar 9.556,5 kg. Sedangkan Cluster 3 merupakan Cluster dengan cadangan karbon terkecil (262,5 kg). Cadangan karbon pada setiap Cluster merupakan hasil konversi cadangan karbon pada plot yang terdiri dari plot (1 dan 2) dengan luas kawasan pada setiap Cluster. Perbedaan cadangan karbon pada tiap Cluster dipengaruhi oleh volume dan berat jenis pohon yang ditemukan pada plot pengamatan. Setiap Cluster memiliki jarak tanam yang beragam sehingga jumlah pohon yang ditemukan pada setiap Cluster berbeda beda. Berdasarkan aspek ukuran diameter pohon penyusun Tahura Inten Dewata juga beragam.
Pohon penyusun Cluster 1 dan 2 didominasi oleh pohon yang memiliki umur sekitar 50 tahunan sehingga pohon yang berdiameter besar > 30 cm lebih banyak bila dibandingkan dengan pohon berdiameter kecil atau < 30 cm. Sedangkan pada Cluster 3 dan 4 didominasi oleh pohon yang berumur antara 17- 20 tahun sehingga pohon berdiamter kecil (< 30 cm) lebih banyak ditemukan bila dibandingkan dengan Cluster 1 dan 2. Cadangan total karbon di Tahura Inten Dewata yaitu sekitar 15.995,89 kg atau 15,995 Ton.
Tabel 4. Estimasi Cadangan Karbon di Tahura Inten Dewata
Cluster
Plot Estimasi Per Cluster
No Jumlah Pohon
Cadangan Karbon (Kg)
Luas (Ha)
Cadangan
Karbon (Kg) Jumlah (Kg)
1 1 2 1,07 3,80 203,3
1.591,63
2 40 73,07 3,80 1.388,33
2 1 6 2,38 15 1.785
9.556,5
2 67 103,62 15 7.771,5
3 1 18 2,99 1 149,5
262,5
2 31 22,6 1 113
4 1 18 2,83 16,01 2.265,42
4.585,26
2 33 28,98 16,01 2.319,85
Total 15.995,89
Sumber: Data Primer, 2017
103