D A D A N G R A H M A T I N D R A N O E R E R R Y H E R J U N O A N D R I H A E K A L
W A H Y U K U M O R O R I Z K I A A M E L I A E V A K U R N I A T I S . N O O R A . M U S T A J A B Y U S T I A R A H M A P .
D A R Y O T O L Y D I A W A H Y U
D E W A N R E D A K S I
P E N G A R A H K E P A L A B P P K
P E N A N G G U N G J A W A B S E K R E T A R I S B P P K
P E M I M P I N R E D A K S I P E R R Y P A D A
R E D A K S I 1 . 2 . 3 . 4 .
E D I T O R 1 . 2 . 3 . 4 . 5 .
S E K R E T A R I A T 1 .
2 .
SEKRETARIAT BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN GEDUNG ROESLAN ABDUL GHANI LANTAI 2
JL. PEJAMBON NO. 6 JAKARTA PUSAT 10110
B A D A N P E N G K A J I A N D A N P E N G E M B A N G A N K E B I J A K A N K E M E N T E R I A N L U A R N E G E R I
B A D A N P E N G K A J I A N D A N P E N G E M B A N G A N K E B I J A K A N
POLICY BRIEF V O L . 5 N O . 3 | J U L I - S E P T E M B E R 2 0 2 0 P e l i n d u n g a n W N I d i L u a r N e g e r i d i T e n g a h d a n P a s c a C O V I D - 1 9 : K o n t i n u i t a s a t a u P e r u b a h a n ? R a n t a i P a s o k d a n I n v e s t a s i D u n i a d i T e n g a h d a n P a s c a - P a n d e m i C o v i d - 1 9 : P e l u a n g a t a u T a n t a n g a n d a r i D i s r u p s i ?
KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA
PELINDUNGAN WNI DI LUAR NEGERI DI TENGAH DAN PASCA COVID-19: KONTINUITAS ATAU PERUBAHAN?
POLICY BRIEF
V O L U M E 5 N O . 3 | J U L I - S E P T E M B E R 2 0 2 0
Executive Summary
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), telah ditetapkan sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020 oleh WHO. Sejak awal merebaknya pandemi COVID-19, mesin diplomasi pelindungan Kementerian Luar Negeri sebagai bagian dari prioritas kebijakan luar negeri “4+1” untuk periode 2020 -2024, telah dan terus bergerak untuk memberikan perlindungan bagi WNI/ PMI di seluruh dunia.
Kementerian Luar Negeri telah memfasilitasi repatriasi mandiri, evakuasi, memberikan bantuan logistik, memberikan perlindungan, melakukan diplomasi perlindungan, dan mendorong gotong- royong partisipasi komunitas dan diaspora Indonesia di luar negeri bagi WNI/ PMI. Selain itu, Kementerian Luar Negeri juga telah melakukan kajian dan pemetaan mengenai alternatif langkah strategis untuk mengantisipasi dampak COVID-19 terhadap sektor ekonomi.
M
erebaknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pada akhir tahun 2019 dan berkembang menjadi pandemi di lebih dari 200 negara telah membawa konsekuensi negatif yang tak terelakkan. Magnitude pan- demik ini, berdampak luas di berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia, baik yang bersifat sementara maupun permanen, termasuk di bi- dang kesehatan, ekonomi, logistik dan trans- portasi dan bahkan migrasi manusia.Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini juga menambah berat dampak pandemi yang dirasakan masyarakat dunia.
Bagi Indonesia, reaksi yang mengemu- ka ketika COVID-19 muncul di Wuhan, Tiongkok, menjadi alarm awal untuk mendeteksi dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa dialami warga negaranya di luar negeri, terutama di negara-negara yang dilanda pan- demi. Pelindungan WNI merupakan prioritas kebijakan luar negeri dan menjadi program prioritas nasional yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI.
Sejak awal merebaknya pandemi COVID-19, mesin diplomasi pelindungan telah bergerak dengan cepat mengkoordinasikan pemulangan/
repatriasi 243 orang WNI dari Wuhan, ketika Pemerintah Tiongkok mulai menutup akses keluar masuk kota tersebut.
Diplomasi Pelindungan dan Diplomasi Ekonomi
Seiring dengan meluasnya pandemi ke hampir seluruh dunia, upaya pelindungan WNI terus berlanjut dengan pemulangan WNI dari berbagai negara/kawasan di dunia, antara lain para anak buah kapal (ABK), pekerja migran, mahasiswa dan WNI lainnya. Dua kluster terbesar WNI yang terdampak pandemi COVID- 19 di luar negeri adalah awak kapal dan para WNI yang terhambat pembatasan mobili- tas, khususnya adalah mereka yang undocu- mented, pekerja harian lepas, mereka yang mengalami PHK, terdampar, serta pelajar/
mahasiswa.
Diplomasi pelindungan pun dilakukan secara komprehensif oleh Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI, terutama ditujukan kepada WNI yang terdampak pandemi COVID-19, seperti fasilitasi dan pendampingan bagi WNI yang menderita COVID-19, pemberian kebutuhan dasar bagi PMI dan WNI terdampak di berbagai negara dan kegiatan tanggap da- rurat lainnya. Sampai dengan akhir Juli 2020, Perwakilan RI telah mendistribusikan lebih dari 519.000 paket bantuan bagi WNI yang terdam- pak di luar negeri, belum termasuk bantuan in- sidentil berupa masker, hand sanitizer dan per- lengkapan kesehatan lainnya.
Pelindungan WNI adalah panggilan konsitusional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, dimana salah satu tujuan negara adalah memberikan perlindungan kepada sege- nap bangsa Indonesia. Pada awal masa kerja Kabinet Indonesia Maju, Menteri Luar Negeri telah menyampaikan prioritas kebijakan luar negeri “4+1” untuk periode 2020-2024, yaitu penguatan diplomasi ekonomi; diplomasi pelin- dungan; diplomasi kedaulatan dan kebangsaan;
peran dan kontribusi Indonesia di kawasan dan global, plus penguatan infrastruktur diplomasi.
Tugas diplomasi dari masa ke masa berkembang sesuai dengan zamannya.
Diplomat generasi pertama di awal masa ke- merdekaan RI bertugas melindungi Bangsa Indonesia dari penjajahan. Diplomat generasi kedua, tugasnya dikaitkan dengan amanah konstitusi, yaitu mensejahterakan bangsa, dengan melindungi kepentingan ekonomi Indonesia. Sedangkan diplomat generasi ketiga atau diplomat milenial yang berjumlah sekitar 40%, saat ini menghadapi tantangan yang se- makin kompleks, seperti penyakit, bencana alam, cyber security, information breakdown, dan lainnya, sehingga diplomat dituntut untuk lebih canggih dan mumpuni. Kompleksitas tu- gas diplomat di masa pandemi semakin meningkat, tugas pelindungan WNI juga terkait erat dengan penguatan diplomasi ekonomi.
Dampak pandemi di sektor ekonomi, men- dorong diplomasi juga diarahkan untuk mencari dan membuka kesempatan ekonomi bagi WNI.
Tantangan lainnya di bidang ekonomi, adalah pandemi COVID-19 telah menyebabkan kontraksi ekonomi dunia sekitar -4,9%, namun perkonomian Indonesia masih dalam kondisi lebih baik, yaitu pada kisaran -0,3% dan kemungkinan masih surplus dengan masa rebound ekonomi sekitar 6,1% pada tahun
2021. Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk mengambil peluang di masa rebound, melalui persiapan infrastruktur, ease of doing business, dan lainnya.
Guna mendukung upaya pemulihan ekonomi dan penanganan COVID-19 di Indonesia, dalam melaksanakan diplomasi ter- dapat tiga hal yang perlu ditekankan untuk meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia, yakni bahwa:
a) Kapasitas Indonesia dalam penanganan pandemi COVID-19 terus meningkat.
Meskipun angka kasus positif COVID-19 masih tergolong tinggi, namun prosentase penderita yang sembuh menunjukkan ke- naikan yang signifikan dari 5% menjadi 68,3%. Meski jumlah kasus COVID-19 be- lum menunjukkan penurunan jumlah, na- mun prosentase angka kematian akibat COVID-19 menunjukkan penurunan dari 9%
menjadi 5%.
b) Perekonomian Indonesia terdampak cukup kecil oleh pandemi COVID-19, yakni sekitar -5,32% (Q2 2020) yang lebih baik dari beberapa negara lain.
c) Indonesia siap menjadi basis baru bagi industri-industri yang melakukan relokasi, yang berarti Indonesia siap menjadi bagian dari global value chain dunia.
Upaya peningkatan pelindungan yang optimal bagi WNI merupakan salah satu prioritas diplomasi yang dilakukan secara terus menerus sebagai komitmen dan refleksi dari wujud kehadiran negara di luar negeri, langkah- langkah yang telah dan terus dilakukan Kemenlu dan Perwakilan RI antara adalah (a) Menjadi first responder bagi WNI yang me- merlukan bantuan di luar negeri, (b) Menye- diakan shelter bagi para PMI/WNI, termasuk ABK (melalui Indonesian Seafarer Corner), (c) Memberikan bantuan hukum bagi WNI yang terlibat kasus yang memerlukan bantuan
hukum, (d) Memfasilitasi repatriasi,
(e) Melakukan diplomasi perlindungan, tidak hanya secara teknis, tetapi juga norm setting.
Di tingkat bilateral, Kementerian Luar Negeri melakukan penyusunan MoU dan pembahasan penanganan regional, sementara di tingkat re- gional Kementerian Luar Negeri aktif dalam konferensi-konferensi membahas perihal peker- ja migran di ASEAN, serta (f) Melakukan upaya perlindungan berbasis informasi teknologi.
Untuk meningkatkan kapasitas pelin- dungan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI), Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI, bekerja sama dengan instansi terkait, dapat melakukan dua langkah, yakni (1) memberikan briefing sebagai pembekalan kepada PMI sebe- lum bekerja di luar negeri dan mengadakan
“Welcoming Program” untuk menyambut PMI yang baru tiba di luar negeri, sekaligus mem- berikan panduan tentang hukum setempat, dan (2) secara berkala melakukan sosialisasi hal-hal yang harus dilakukan saat menghadapi masa- lah.
PMI ilegal merupakan salah satu tan- tangan terbesar dalam perlindungan WNI. Pem- benahan tata kelola PMI di sektor hulu menjadi kunci utama, di mana perlu diatur proses penempatan yang mudah, murah, cepat, aman, dan transparan dengan koordinasi seluruh stakeholder terkait. Penyempurnaan tata kelola proses pengiriman PMI ke luar negeri mulai dari proses sebelum penempatan, selama di negara penempatan, dan setelah kembali ke tanah air.
Strategi Pelindungan WNI di masa Pandemi Dampak pandemi COVID-19 yang dirasakan secara langsung oleh WNI di luar negeri antar lain :
a) Pergerakan manusia menjadi sangat terbatas akibat dari restriksi ketat, baik me- lalui jalur darat, udara dan laut, dan terjadi hampir di seluruh dunia. Dalam kaitan ini, BPPK Kementerian Luar Negeri berupaya memetakan jalur distribusi yang memiliki restriksi lebih terbuka, seperti pelabuhan dan bandar udara, sehingga dapat mem- berikan alternatif untuk membantu pelin- dungan WNI, khususnya WNI yang bekerja di kapal-kapal ikan yang perlu singgah di suatu wilayah karena sakit, terjadi pergantian crew, dan lain sebagainya.
Pemetaan pelabuhan dapat menunjukkan aktivitas kapal yang terlihat meningkat seiring pulihnya kondisi pandemi, khu- susnya di Kawasan Asia Timur, yang tidak
hanya menggambarkan mobilitas manusia, tetapi juga barang, sehingga dapat dilihat sebagai perkembangan yang positif.
b) Tenaga kerja, dimana jumlah penganggu- ran meningkat seiring dengan penutupan industri kerja di luar negeri, dan berdampak pada penurunan remitensi. Adanya himbauan untuk membatasi perjalanan ke luar negeri dan penghentian sementara pengiriman PMI ke luar negeri.
Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri untuk membantu WNI
yang terdampak pembatasan mobilitas di luar negeri, antara lain memfasilitasi repatriasi man- diri lebih dari 9000 WNI, melakukan evakuasi, yakni evakuasi WNI dari Wuhan, ABK kapal Diamond Princess dan ABK sejumlah kapal pesiar dan kapal ikan. Selain itu Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI juga mem- berikan bantuan logistik pada kelompok WNI yang rentan; memberikan perlindungan hak ketenagakerjaan bagi PMI/WNI yang mengala- mi pemutusan hubungan kerja; melakukan diplomasi perlindungan; serta mendorong gotong-royong partisipasi komunitas dan diaspora Indonesia di luar negeri. Sebagai komparasi, jumlah WNI yang telah dibantu sela- ma pandemi menunjukkan besarnya magnitude dari dampak COVID- 19, dimana pada tahun 2019 sebanyak 28.000 orang kasus/WNI yang telah dibantu, sementara pada periode Januari – April 2020 jumlahnya meningkat pe- sat menjadi sebanyak 146.471 orang WNI.
Untuk meningkatkan jangkauan dan mengoptimalkan pelindungan bagi WNI di luar negeri, Kementerian Luar Negeri melakukan pengembangan transformasi digital pelayanan dan perlindungan WNI, sehingga proses bisnis disesuaikan menggunakan teknologi informasi yang tersedia. Dua platform utama pelin- dungan, yaitu “Portal Peduli WNI” dan aplikasi
“Safe Travel” yang berbasis teknologi, diharap- kan dapat menunjang fungsi pelayanan dan pelindungan, khususnya secara daring, hingga tidak membutuhkan kehadiran fisik secara lang- sung. Dalam konteks new normal, keberadaan kedua platform tersebut menjadi vital untuk menjembatani komunikasi dan pelayanan bagi WNI yang terdampak pandemi COVID-19 di luar negeri.
Pemetaan Dampak COVID-19
Melihat besarnya dampak COVID-19 pada sektor ekonomi tersebut, BPPK
melakukan kajian dan pemetaan mengenai al- ternatif langkah strategis untuk mengantisipasi dampak tersebut, antara lain: pemetaan rantai pasok dan peluang Indonesia untuk masuk dalam rangkaian global value chain, pemetaan dan identifikasi produsen dan bahan baku produk alat kesehatan, pemetaan jalur logistik, identifikasi kapasitas industri, identifikasi mitra dagang Indonesia unggulan dan potensial, produk unggulan dan pesaing dari produk terse- but, termasuk pemetaan pasar dari produk ter- sebut. Pemetaan-pemetaan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi ketika situasi menjadi lebih baik, dimana Indonesia diharapkan telah siap untuk melakukan pemulihan ekonomi.
Peningkatan aktivitas industri dan dibukanya peluang pasar yang baru diharapkan dapat me- nyerap tenaga kerja Indonesia, termasuk pekerja yang terpaksa dipulangkan dari luar negeri akibat pandemi.
Melalui analisis penta helix, pemerintah, masyarakat, akademisi, media massa dan pengusaha perlu bersinergi untuk mencegah penempatan PMI undocumented di luar negeri. Kalangan akademisi atau perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam so- sialisasi atau edukasi kepada calon tenaga ker- ja, melalui kerja sama pemerintah dengan perguruan tinggi pada kegiatan pengabdian masyarakat.
Public awareness campaign merupa- kan salah satu kunci keberhasilan pelindungan WNI, karena prinsip pelindungan terbaik adalah pelindungan dari diri sendiri. Kesadaran terse- but harus dibangun sebelum WNI atau calon PMI berangkat ke luar negeri, antara lain pema- haman mengenai sistem hukum di negara setempat, kontrak kerja, kewajiban dan hak yang dimiliki, pentingnya proses lapor diri kepa- da Perwakilan RI ketika sampai di negara tujuan agar upaya pelindungan dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan optimal.
*Artikel ini merupakan hasil dari web seminar (webinar) dengan tema “Perlindungan WNI di Luar Negeri di Tengah dan Pasca COVID-19:
Kontinuitas atau Perubahan?” dengan keynote speaker Kepala BPPK, dan narasumber Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Budi Luhur Jakarta, Dr. Rusdiyanta, S.I.P, S.E, M.Si; Kepala P3K2 Aspasaf, Dyah Lestari Asmarani dan Direktur PWNI dan BHI, Judha Nugraha. K. Webinar diselenggarakan pada tanggal 1 Juli 2020 sebagai kolaborasi dan ker-
jasama P3K2 Asia Pasifik dan Afrika BPPK dengan Universitas Budi Luhur Jakarta. (Data updated)
Daftar Pustaka
Asmarani, Dyah Lestari, Pandemi COVID-19:
Tantangan bagi Perlindungan WNI di Luar Negeri, disampaikan pada kegiatan Webinar (FKKLN) “Pelindungan WNI di Luar Negeri di Tengah dan Pasca COVID-19: Kontinuitas atau Perubahan?”, BPPK Kemlu RI dan Uni- versitas Budi Luhur, 30 Juni 2020.
Brende, Borge, Great Recession showed coun- tries can’t fight the coronavirus economic crisis alone, The World Economic Forum COVID Action Platform, 3 April 2020, https://
www.weforum. org /agenda /2020/04/covid- 19-coronavirus-economic-crisis-great- reces- sion/
Declaration of the Special ASEAN Summit on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), 14 April 2020, https://kemlu.go.id/
Ekonomi Indonesia Minus 5,32 Persen, BPS Sebut Dampak Corona Luar Biasa Buruk, https://www.liputan6.com/, 5 Agustus 2020 Perkembangan COVID-19 di Dunia dan Perlin-
dungan WNI, https://kemlu.go.id/portal/id/
page/69/covid-19
Nugraha, Judha, Perlindungan WNI/ PMI di Lu- ar Negeri Terdampak COVID-19, Presentasi disampaikan pada kegiatan Webinar (FKKLN) “Pelindungan WNI di Luar Negeri di Tengah dan Pasca COVID-19: Kontinuitas atau Perubahan?”, BPPK Kemlu RI dan Uni- versitas Budi Luhur, 30 Juni 2020.
Perkembangan COVID-19 di Dunia dan Perlin- dungan WNI, https://kemlu.go.id/portal/id/
page/69/covid-19, (15 September 2020) Rusdiyanta, Dr. M.Si., Kapasitas Kementerian
Luar Negeri dan Pelindungan WNI masa Pandemic Covid-19, Presentasi disampaikan pada kegiatan Webinar (FKKLN)
“Pelindungan WNI di Luar Negeri di Tengah dan Pasca COVID-19: Kontinuitas atau Pe rubahan?”, BPPK Kemlu RI dan Universitas Budi Luhur, 30 Juni 2020.
Siaran Pers Menteri Luar Negeri RI, Menlu Sambut Kepulangan Tim Aju dan Tim Evakuasi WNI Dari Wuhan, 18 Februari 2020, https://kemlu.go.id/
Widyaningrum, Gita Laras, WHO Tetapkan COVID-19 Sebagai Pandemi Global, Apa Maksudnya?, 12 Maret 2020,
https:// nationalgeographic.grid.id/
Rantai Pasok dan Investasi Dunia di Tengah dan Pasca-Pandemi Covid-19: Peluang atau Tantangan dari Disrupsi?
POLICY BRIEF
V O L U M E 5 N O . 3 | J U L I - S E P T E M B E R 2 0 2 0
B
erdasarkan data WHO per tanggal 3 Agustus 2020, terdapat lebih dari 17,9 juta kasus terkonfirmasi COVID-19 di se- luruh dunia, yang tersebar di berbagai negara dan entitas dengan angka kematian mencapai lebih dari 686.703 kasus. Meski belum bisa di- prediksi secara pasti, namun ketidakpastian ka- pan berakhirnya pandemi ini telah berdampak luas bagi dunia di berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia. Salah satu dampak negatif pandemi adalah tekanan atas perekonomian dunia yang saat ini bertumbuh secara negatif (minus growth), apabila tidak dapat tertangani dengan baik, oleh banyak pihak dikuatirkan akan berujung pada krisis ekonomi global.Dalam hubungan internasional, pan- demi diprediksi berpengaruh pada berbagai spektrum, termasuk aspek politik keamanan dan ekonomi. Pada aspek ekonomi, World Economy Forum (WEF) memperkirakan bahwa efek dari COVID-19 akan lebih besar dari krisis finansial tahun 2008 dan Great Depression. Pandemi ini diprediksi akan berpengaruh besar terhadap rantai pasok dunia (global value chain/ GVC), cara/ pola berbisnis, sektor dan daerah inves- tasi, serta peran perekonomian domestik dan kawasan. Selain langkah-langkah penanganan COVID-19 dan dampaknya, setiap negara, ter- masuk Indonesia, harus siap mengantisipasi kehidupan setelah pandemi. Diplomasi Indonesia harus dapat membaca perubahan yang tengah berlangsung sekaligus
memprediksi antisipasi yang harus dilakukan setelah pandemi berakhir serta meraih kesem- patan yang muncul untuk kepentingan nasional.
Geopolitik Dunia sebelum dan sesudah Pan- demi COVID-19
Dalam beberapa tahun terakhir, geopo- litical shift terjadi seiring dengan munculnya “the rise of Asia” dengan indikator antara lain: inte- grasi ekonomi Kawasan, pesatnya laju pertum- buhan ekonomi, dan tingginya GDP PPP negara -negara di Kawasan Asia, khususnya Asia Timur. Indikator ini menunjukkan kawasan terse- but telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, selain Amerika Utara dan Uni Eropa yang telah ada sebelumnya. Perdagangan di kawa- san Asia Timur terlihat semakin mendominasi perdagangan dunia dibandingkan kawasan lainnya.
Namun demikian, Fragile State Index, hasil kajian lembaga think tank Fund for Peace (FFP), menunjukkan bahwa negara-negara di pusat pertumbuhan di Asia tersebut mayoritas termasuk dalam kategori rentan (“warning”) dan hanya beberapa yang “sustainable” (seperti Australia) dan “stable” (seperti Jepang dan Korea Selatan). Pada saat yang bersamaan, selain memiliki pertumbuhan ekonomi yang pe- sat, kawasan Asia Timur telah menjadi tempat awal munculnya berbagai penyakit seperti SARS, swine flu, MARS, termasuk COVID-19.
Executive Summary
Meluasnya pandemik COVID-19 telah berdampak luas di seluruh dunia pada berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat sementara maupun permanen. Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi ini juga menambah berat dampak pandemi yang dirasakan masyarakat dunia. Dalam hubungan internasional, pandemi diprediksi berpengaruh pada berbagai spektrum, khususnya ekonomi. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan terjadinya supply and demand shocks dan asymmetric shocks. Kebijakan sejumlah negara menghentikan industri sebagai upaya menahan penyebaran COVID-19, berdampak pada terganggunya global value chain/GVC. Indonesia diharapkan dapat lincah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan dapat memanfaatkan peluang yang ada, antara lain dengan memanfaatkan fenomena Windfall, rebound pasca pandemi COVID-19, dan memanfaatkan ceruk yang ditinggalkan produk RRT di sejumlah pasar.
Secara geopolitik, kemunculan pandemi COVID-19 telah membuat intensitas great power rivalry antara AS dengan RRT semakin meningkat, setelah sebelumnya dimulai dengan perang dagang tahun 2018. Rivalitas tersebut mengakibatkan sulitnya kerja sama dalam pe- nanganan pandemi antar negara besar, dan hal ini berbeda dengan pengalaman great powers dalam menghadapi pandemi smallpox di era perang dingin.
Geoekonomi dunia sebelum dan sesudah Pandemi COVID-19
Selama 3 (tiga) dekade terakhir, penurunan tajam biaya transportasi dan komu- nikasi, diiringi peningkatan kecepatan dan kapa- sitasnya. Hal ini mempengaruhi peningkatan volume dan nilai perdagangan, mobilitas orang dan jasa, investasi lintas negara serta memunculkan rantai nilai global (global value chain/GVC) dalam perdagangan dunia. Namun demikian, beberapa tahun terakhir, nampak kecenderungan peningkatan pola kerja sama bilateral dibandingkan dengan pola kerjasama multilateralisme dan regionalisme, yang diang- gap tidak dapat memenuhi harapan karena adanya dominasi negara tertentu.
Meskipun sebagian besar negara di dunia telah terekspos pada perdagangan global, namun tingkat konsentrasi mitra da- gangnya berbeda-beda. Indonesia memiliki ting- kat dependensi tinggi terhadap 5 (lima) mitra dagang utama, yang mana memiliki porsi lebih dari 50% nilai perdagangan Indonesia. Kondisi tersebut dan kurangnya diversifikasi negara mitra dagang, sangat mempengaruhi daya ta- han dan kemandirian apabila terjadi gangguan/
disrupsi dengan negara mitra.
Logistik menjadi sektor kunci dalam perdagangan global. Setahun sebelum pandemi
COVID-19, terdapat upaya untuk mendorong konektivitas Eurasia yang dimotori oleh Uni Eropa di sisi barat dan Jepang di sisi timur.
Dalam konteks Eurasia, terdapat tiga simpul konektivitas, yaitu Uni Eropa, Rusia, dan Asia Timur, yang merupakan pusat logistik dunia dengan logistic index yang tinggi.
Pandemi COVID-19 telah menyebab- kan terjadinya supply and demand shocks, yak- ni kekurangan dan kelangkaan komoditas atau bahan baku dan terjadinya penurunan demand secara besar-besaran. Selain itu, telah terjadi asymmetric shocks atau perubahan ekonomi yang tidak terjadi secara sama/setara di seluruh kawasan ataupun sektor. Asymetric shocks tercermin dari bertahannya komoditas non mi- gas tertentu, sementara di sisi lain terjadi penurunan drastis atas komoditas ekspor non migas lainnya.
Kebijakan sejumlah negara menghenti- kan industri sebagai upaya menangkap penyebaran COVID-19, berdampak pada terganggunya kelangsungan industri negara lain yang berada dalam rangkaian global value chain/ GVC. Dalam hal ini, investor mulai melakukan penjajagan untuk relokasi indus- trinya di negara lain, tidak hanya karena untuk menekan biaya produksi, namun juga untuk mengamankan stabilitas GVC.
Intensi investor untuk berinvestasi dan mengalihkan industrinya di beberapa tempat dikenal sebagai fenomena “China+1”, yang ditandai dengan kemungkinan munculnya ge- lombang relokasi industri dari RRT. Dalam hal ini diharapkan kawasan Asia Timur dapat men- jadi tujuan relokasi tersebut mengingat stabilitas kawasan yang dalam kurun waktu 50 tahun ter- akhir relatif bebas dari perang.
IMF memproyeksikan rebound pasca COVID-19 yang cukup optimis yakni mencapai tertinggi 8% pada negara emerging markets. Di masa mendatang diharapkan akan tumbuh dan berkembang pola GVC baru yaitu multiple GVC, yang memungkinkan apabila terjadi masalah di salah satu titik, GVC lain tidak terlalu terdampak.
Ekonomi Indonesia sebelum dan setelah Pandemi COVID-19
Bila melihat posisi Neraca Pembayaran Indonesia, penyumbang defisit terbesar adalah pada perdagangan jasa dan pendapatan pri- mer. Untuk mengurangi defisit, Indonesia perlu menarik FDI dengan value ekspor yang besar dan terhubung dengan GVC. Selain menarik FDI, Indonesia perlu menjaga agar return dari investasi asing tidak dibawa keluar, namun diinvestasikan kembali di Indonesia (ekspansi).
Pada sektor perdagangan, kontribusi ekspor barang dan jasa terhadap PDB Indonesia sebesar 20.4%. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan negara- negara Asia Tenggara (Malaysia: 68.6%, Vietnam: 105.83%, Singapura: 176.4%), maupun rata-rata dunia sebesar 44.7%. Produk ekspor manufaktur Indonesia juga masih sangat bergantung pada bahan baku impor (sebesar lebih dari 50%).
Berdasarkan 4 (empat) indikator yang disampaikan oleh Bank Indonesia, yakni Cur- rent Income Index, Jobs Availibility Index, Buy- ing Durable Goods Index, dan Business Activ- ites Expectation Index, kondisi makroekonomi Indonesia pada periode Januari-April 2020 memperlihatkan penurunan yang cukup mem- prihatinkan. Penurunan cukup tajam terutama terjadi pada pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja.
Perkembangan Kondisi Makroekonomi Periode Januari – April 2020
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia, (2020)
Penurunan pendapatan dipandang merefleksikan masyarakat yang kehilangan pekerjaan seiring dengan menurunnya kinerja ekonomi berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Sebagai contoh, perguruan tinggi saat ini mengalami penurunan pendapatan, khususnya disebabkan aset dan infrastruktur yang tidak dapat diberdayakan serta seperempat dari ma- hasiswa telah mengajukan penundaan/
pembebasan/penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Sementara itu, penurunan ketersediaan pekerjaan dapat dimaknai bahwa penganggu- ran akan meningkat di masa mendatang, yang dikhawatirkan akan diikuti dengan peningkatan kemiskinan. Buying Durable Goods Index menunjukkan bahwa saat ini masyarakat lebih banyak membeli barang-barang untuk kebu- tuhan sesaat. Meskipun demikian, terdapat perkembangan positif setelah kemunculan COVID-19 di Indonesia, antara lain adanya inovasi dalam pembelajaran melalui daring.
Rekomendasi : Peluang dan Tantangan bagi Indonesia
Pandemi diperkirakan masih belum berakhir dalam waktu dekat. Beberapa peru- bahan yang diprediksi terjadi di masa menda- tang, antara lain: (1) tiap negara akan mengidentifikasi ulang produk strategisnya.
Indonesia yang sebelumnya menjadikan produksi kapal dan pesawat tempur sebagai produk strategis dapat berubah di masa depan, misalnya dengan menjadikan produksi masker dan bahan pangan sebagai produk strategis; (2) meningkatnya relokasi kegiatan produksi dari perusahaan multinasional; (3) perang dagang AS-RRT meluas via proksi; (4) semakin menguatnya bilateralisme; (5) diversifikasi mitra dagang tiap negara; dan (6) meningkatnya demand terhadap alat kesehatan dan TIK.
Menyikapi perubahan yang terjadi, Indonesia diharapkan dapat lincah beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan dapat me- manfaatkan peluang yang ada, antara lain dengan memanfaatkan rebound pasca pandemi COVID-19, dan memanfaatkan ceruk yang ditinggalkan produk RRT di sejumlah pasar, seperti Jepang, Filipina, Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda. Indonesia memiliki daya saing di sektor produk otomotif, fashion, hand- phone, dan semikonduktur sehingga harus terus dijaga dan ditingkatkan kontribusinya da-
lam rantai nilai global (GVC). Indonesia harus segera bergerak menuju konsep ketahanan dan kedaulatan ekonomi. Hal ini dilakukan dengan melakukan pendefinisian ulang terhadap indus- tri strategis dan berfokus pada kebijakan ekonomi yang outward looking dengan mulai meningkatkan jumlah outbound investment.
Diversifikasi mitra dagang dilakukan dengan meningkatkan mekanisme kerja sama antar negara secara bilateral dan difokuskan pada produk unggulan Indonesia yang dibutuhkan negara mitra dan memiliki daya saing tinggi.
Indonesia perlu menarik investasi dengan nilai tambah tinggi yang dilakukan dengan melanjut- kan hilirisasi minerba, hulunisasi barang kon- sumen, melanjutkan pengembangan konektivi- tas, serta memperbaiki iklim investasi.
*Artikel ini merupakan hasil dari web seminar (webinar) dengan tema “Rantai Pasok dan In- vestasi Dunia di Tengah dan Pasca-Pandemi COVID-19: Peluang atau Tantangan dari Dis- rupsi?” dengan narasumber Kepala BPPK, Dr.
Siswo Pramono, Rektor Universitas Padang, Prof. Ganefri, Ph.D, dan Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha dan Global Value Chain LPEM UI, Mohamad Dian Revindo, Ph.D. Webinar yang diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 2020 merupakan kolaborasi P3K2 Asia Pasifik dan Afrika BPPK dengan Universitas Negeri Padang (UNP). (Data Updated)
Daftar Pustaka
Brende, Borge, Great Recession showed coun- tries can’t fight the coronavirus economic crisis alone, The World Economic Forum COVID Action Platform, 3 April 2020, https://www.weforum. org / agenda /2020/04/covid-19-coronavirus- economic-crisis-great-recession/
Coronavirus Disease (COVID-19): Situation Report - 132 (31 May 2020), https://
reliefweb.int/report/world/coronavirus- disease-covid-19-situation-report-132-31- may-2020.
Data Driven Innovation Laboratory – Singapore University of Technology and Design, When will COVID-19 End?, https://ddi.sutd.edu.sg/
publications, 27 April 2020.
Fragile States Index Heat Map, https://
fragilestatesindex.org/analytics/fsi-heat- map/, Mei 2020.
Ganefri, Prof. Ph.D, Covid-19 dan Makro Ekonomi Indonesia, Universitas Negeri Pa- dang, dipresentasikan pada kegiatan web seminar (webinar) dengan tema “Rantai Pasok dan Investasi Dunia di Tengah dan Pasca-Pandemi COVID-19: Peluang atau Tantangan dari Disrupsi?” Kerja Sama BPPK Kementerian Luar Negeri dan Uni- versitas Negeri Padang, 29 Mei 2020.
McKinsey & Company, supply chain recovery in coronavirus times – plans for now and the
future, https://
www.procurementleaders.com/partner/
mckinsey/supply-chain-recovery-in- coronavirus-timesplan-for-now-and-the- future#.X0FkcMgzbIU, downloaded in May 2020.
Pramono, Siswo, Dr. LLM., Indonesia dan Rantai Pasok Global di Tengah Pandemi COVID-19, dipresentasikan pada kegiatan web seminar (webinar) dengan tema
“Rantai Pasok dan Investasi Dunia di Ten- gah dan Pasca-Pandemi COVID-19: Pelu- ang atau Tantangan dari Disrupsi?” Kerja Sama BPPK Kementerian Luar Negeri dan Universitas Negeri Padang, 29 Mei 2020.
Revindo, Mohamad D. & Sabrina, Syahda, Pan- demi Covid-19dan PerubahanRantai Pasok Dunia, dipresentasikan pada kegiatan web seminar (webinar) dengan tema “Rantai Pasok dan Investasi Dunia di Tengah dan Pasca-Pandemi COVID-19: Peluang atau Tantangan dari Disrupsi?” Kerja Sama BPPK Kementerian Luar Negeri dan Uni- versitas Negeri Padang, 29 Mei 2020.
Seric, Adnan., Gorg, Holger., Mosle, Saskia., Windisch, Michael., Disruption of Global Value Chain by COVID-19, https://
reliefweb.int/report/world/coronavirus- disease-covid-19-situation-report-132-31- may-2020, UNIDO, 27 Apr 2020.