BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teks penuh

(1)

26 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini membahas penelitian terkait atau sering disebut literature review, yang diperoleh dari berbagai sumber terdahulu berupa buku dan majalah, serta laporan dan hasil penelitian tentang peningkatan wisata edukasi BUMDes Pejambon.

2.1 Penelitian Terdahulu (Literarur Review)

Penelitian terdahulu atau tinjauan pustaka adalah hasil, teori, dan penelitian lain yang berasal dari referensi yang digunakan sebagai landasan teori kegiatan penelitian untuk mengembangkan kerangka berpikir yang jernih dari rumusan masalah yang diteliti. Bagian ini memberikan gambaran sebagai bentuk perbaikan penelitian yang ada dan berbagai konsep penelitian. Studi sebelumnya atau pencarian literatur terkait tercantum di bawah ini, termasuk studi berikut.

(2)

27

Tabel 2. 1 Literature Review

No. Nama Penulis dan Judul

Teori dan Metode

Penelitian Temuan

1. Ristiana &

Yusuf (2020) dengan judul

“Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui

BUMDes di Desa Wisata Lerep”

Pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 2 pengelola BUMDes sebagai informan kunci, 4 anggota BUMDes sebagai informan tambahan

Hasil survei

menunjukkan bahwa ada tujuh fase dalam proses pemberdayaan. Yaitu, tahap persiapan, review program atau rencana kegiatan alternatif, formalisasi rencana aksi, pelaksanaan, evaluasi dan penghentian program atau kegiatan. Kekuatan pendorong di balik pemberdayaan adalah sumber daya alam yang melimpah, dukungan

masyarakat dan

pemerintah, serta niat dan antusiasme individu yang diberdayakan.

Kendalanya adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap

BUMDes, namun

anggaran yang masih minim dan kurangnya kepercayaan masyarakat

terhadap makna

BUMDes.

2. Shifa & Ilyas, (2021) dengan judul

“Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat melalui Badan

Metode kualitatif, wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Validasi dilakukan dengan triangulasi sumber dan metode.

Pemberdayaan

masyarakat dilakukan melalui BUMDes dengan membuat homestay, serta perbaikan fisik lingkungan wisata.

Hambatan dari program ini yakni terbatasnya permodalan dari

(3)

28 Usaha Milik

Desa”

pemerintah sehingga masyarakat lebih banyak mengambil peran dalam permodalan.

3. Kadek Sumiasih (2018) dengan judul “Peran BUMDes dalam Pengelolaan Sektor Pariwisata (Studi di Desa Pakse Bali, Kabupaten Klungkung”

Metode penelitian hukum empiris. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan wawancara

BUMdes mengalami perkembangan sejak berlakunya UU Desa.

Potensi wisata belum dimaksimalkan karena kurangnya pengetahuan

dan kemampuan

masyarakat dalam mengelola usaha serta kurangnya dukungan pemerintah setempat.

4. Rahmat

Priyanto, Didin Syarifuddin dan Sopa Martina (2018) dengan judul

“Perancangan Model Wisata Edukasi di Objek Wisata Kampung Tulip”

Metode penelitian hukum empiris. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan teknik wawancara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan BUMD berkembang setelah berlakunya UU Desa, namun masih terdapat desa-desa di kampung tulip.

5. Yogi Hermawan, Syarif

Hidayatullah, Stella Alviana, Dewi Hermin, Aprilia

Rachmadian (2021) dengan judul

“Pemberdayaan Masyarakat melalui Wisata Edukasi dan

Pendekatan kualitatif yakni metode penelitian dokumentasi. Tahapan analisis data adalah sebagai berikut;

pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data, dan penarikan kesimpulan

Program pemberdayaan masyarakat melalui

wisata edukasi

memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, khususnya secara ekonomi.

(4)

29 Dampak yang

Didapatkan Masyarakat Desa

Pujonkidul”

6. Deditiani Tri Indrianti, Lutfi Ariefianto dan Dinar Halimi (2019) dengan judul

“Pemberdayaan Masyarakat melalui

Pengembangan Desa Wisata Organik di Kabupaten Bondowoso”

Penelitian ini

menggunakan jenis deskriptif kualitatif, Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Validasi datanya menggunakan triangulasi sumber, Teknik, dan waktu

Pengembangan program desa wisata organik berfokus pada proses penyadaran masyarakat dan transformasi tersendiri. Komunitas dikelola melalui diskusi kelompok terfokus yang diadakan untuk interaksi langsung dengan pengelola.

7. Anggit Kurnia Prohasta dan Suswanta (2020) dengan judul

“Pengembangan Desa Wisata Berbasis

Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kaki Langit Padukuhan Mangunan”

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif kualitatif

Pemberdayaan

Masyarakat dengan desa wisata mampu membawa dampak ekonomi bagi masyarakat.

8. Dwi Ariani Margayaningsih (2018) dengan judul “Peran Masyarakat dalam Kegiatan Pemberdayaan

Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian deskriptif

Hasil survei peran masyarakat dalam kegiatan bina lingkungan desa terfokus pada survei peran masyarakat sebagai aktor, peserta dan peserta, dan menunjukkan kategori baik. Motivasi dan kebijakan pemerintah

(5)

30 Masyarakat di

Desa”

menjadi faktor

pendukung penguatan masyarakat, sedangkan

anggaran dan

infrastruktur menjadi penghambat kegiatan penguatan masyarakat.

9. Nurmaulida Saragi dan Abdullah (2019) dengan judul

“Peran Badan Usaha Milik Desa dalam Pengelolaan Obek Wisata di Desa Denai Lama

Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang”

Metode penelitian dengan kualitatif, observasi,

wawancara, dan

dokumentasi sebagai data penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah Sekretaris Desa, Perangkat BUMDes yang meliputi Ketua, Sekretaris dan masyarakat Desa.

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan

Hasil survei ini menunjukkan bahwa banyak penduduk desa Denai Lama yang sebelumnya ekonomi rendah, sehingga melalui pengelolaan fasilitas pariwisata, BUMDes berperan sangat penting dalam meningkatkan perekonomian penduduk desa Denai Lama. bahwa Anda. Program oleh BUMDes.

10. Dwi Hastutik, Dwiningtyas Padmaningrum dan Agung Wibowo (2021)

“Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam

Pengembangan Desa Wisata di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten”

Metode penelitian kualitatif deskriptif.

Analisis data

menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Validitas data diuji dengan triangulasi sumber dan teknik

Wisata desa diinisiasi pertama kali oleh warga setempat tanpa dukungan langsung pemerintah.

Pada tahap

perkembangannya

pemerintah desa melalui BUMDes melakukan sosialisasi dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola wisata.

2.2 Landasan Teori

(6)

31 1. Konsep Pemberdayaan

Konsep pemberdayaan adalah upaya membangun keterampilan kolektif dengan cara menumbuhkembangkan potensi, memotivasi, membangkitkan kesadaran, dan berusaha menerjemahkan potensi tersebut ke dalam tindakan nyata. (Zubaedi, 2007) Pemberdayaan adalah upaya membangun kekuatan itu dengan cara memajukan, memotivasi, mengenali dan mengembangkan potensi (Kartasasmitha, 1996b).

Pemberdayaan adalah upaya membangun kekuatan itu dengan cara mempromosikan, memotivasi, mengenali, dan mengembangkan potensi itu. Memperkuat (empower) potensi atau daya masyarakat. Dalam konteks ini, selain penciptaan iklim dan suasana, diperlukan langkah-langkah positif lebih lanjut sebagai indikator pemberdayaan. Pemberdayaan ini mencakup langkah-langkah spesifik, memberikan informasi yang berbeda dan membuka akses ke berbagai peluang untuk memperkuat masyarakat.

Pemberdayaan meliputi penguatan organisasi maupun individu anggota masyarakat. Pengajaran nilai-nilai budaya modern seperti ketekunan, berhemat, keterbukaan dan akuntabilitas merupakan bagian integral dari dorongan untuk penentuan nasib sendiri ini. (bpps.kemenkos.go.id, 2021).

2.Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan dalam konteks sosial adalah kemampuan setiap individu atau individu untuk berhubungan dengan individu lain dalam masyarakat dan untuk membentuk dan membangun keberdayaan bagi masyarakat yang bersangkutan (Kertasasmita, 1995). Pemberdayaan masyarakat merupakan unsur masyarakat yang memiliki potensi untuk bertahan atau bertahan, berkembang dan maju dalam arti yang dinamis.

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk memperkuat unsur pemberdayaan dan meningkatkan harkat dan martabat strata sosial yang tidak dalam posisi hanya mengandalkan kekuatan sendiri dalam situasi saat ini. Melarikan diri dari jebakan keterbelakangan dan kemiskinan. Dengan

(7)

32

kata lain, pemberdayaan berarti memberdayakan dan memberdayakan masyarakat (Kartasasmitha, 1996a).

Menurut Linton, masyarakat cukup lama untuk mengatur semua orang dalam komunitas dan membentuk organisasi yang memungkinkan setiap orang dalam komunitas untuk mengatur diri mereka sendiri dan berpikir lebih sosial Sekelompok orang yang pernah tinggal dan bekerja di Jepang.

Menurut Peter L. Berger, memahami masyarakat berarti bahwa masyarakat merupakan keseluruhan kompleks dari hubungan inklusif, dan bahwa keseluruhan kompleks itu sendiri terdiri dari bagian-bagian yang membentuk unit tersebut. (Margayaningsih, 2018).

Pemberdayaan masyarakat desa bertujuan untuk melakukan upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan cara meningkatkan taraf hidup masyarakat, mendorongnya untuk memberi manfaat, serta memberikan peluang dan peluang. Diperbarui melalui partisipasi masyarakat dan pemerintah. Payne (1997: 268) menjelaskan keadilan sosial dengan memberikan gambaran terwujudnya kedamaian pada masyarakat yang lebih besar melalui saling membantu dan belajar menuju tujuan yang lebih besar.

a. Model alternatif pengembangan Desa Pejambon berdasarkan unsur- unsur pemberdayaan masyarakat seperti berikut ini menurut (Kartasasmita,1995):

1) Enabling yakni menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi potensi berkembang. Pemberdayaan merupakan suatu upaya membangun kekuatan dengan memotivasi, membangkitkan dan mendorong semangat serta kesadaran terkait potensi yang dimiliki.

2) Empowering yakni memperkuat daya maupun potensi yang dimiliki masyarakat. Kekuatan ini berkaitan dengan langkah nyata dan juga berkaitan dengan penyediaan masukan, akses pada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin memiliki kekuatan.

3) Protecting yakni melindungi dan mencegah eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah untuk keberlanjutan program. Dalam proses

(8)

33

pemberdayaan, pencegahan terkait potensi yang lemah semakin menjadi lemah harus dilakukan dan dilindungi. Sehingga pemihakan kepada yang lemah dan perlindungan yang dilakukan sangat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat tidak dimaksudkan untuk membuat masyarakat semakin bergantung pada program seperti donasi. Pada dasarnya, masyarakat didorong untuk berubah dan menikmati apa yang dibangun dengan tangan sendiri. (Kertasasmita, 1995).

b. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan penguatan individu sebagai anggota masyarakat namun juga pranatanya (Kertasasmita, 1995). Bagian pokok dari upaya pemberdayaan menurut Kartasasmita (1995) adalah dengan menambahkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, keterbukaan, tanggung jawab dan juga hemat. Arti penting dari pemberdayaan masyarakat yakni peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan diri dan juga masyarakat. Oleh sebab itu, pemberdayaan masyarakat berkaitan erat dengan pemantapan, pengalaman demokrasi dan pembudayaan. Perencanaan pembangunan yang berorientasi kepada pemberdayaan masyarakat antara lain meliputi pokok sebagai berikut:

1) Mengenali dasar masalah yang menjadi penyebab ketidakberdayaan di masyarakat yang pada gilirannya telah menciptakan kesenjangan 2) Mengidentifikasi alternative dalam memecahkan masalah yang

terjadi

3) Menetapkan alternatif atau beberapa alternated yang dipilih dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia dan juga dapat dimanfaatkan, diperhatikan asas efisiensi dan efektivitas serta mengembangkan potensi yang dapat dikembangkan.

(9)

34

Terdapat berbagai alternative dalam pemberdayaan masyarakat menurut Kartasasmitha (1996a) yakni:

1) Alternatif kebijaksanaan makro yang berlaku secara nasional dan bersifat umum tidak merugikan bahkan menguntungkan masyarakat yang lemah, baik dalam kedudukan social maupun ekonominya.

2) Alternatf kebijaksanaan sectoral, yang berkenaan dengan dan ada dalam lingkungan sectoral tertentu yang mana tidak merugikan dan sebagaimana keharusan untuk menguntungkan masyarakat lemah 3) Alternatif kebijaksanaan regional, yang dilaksanakan dalam suatu

kawasan dan wilayah tertentu yang untuk mendahulukan kepentingan masyarakat yang tertinggal ataupun terbelakang di wilayah tersebut

4) Alternatif kebijakan khusus yang ditujukan pada golongan masyarakat lemah, tertinggal dan terbelakang yang memerhitungkan kebhinekaan masyarakat, perbedaan tingkat perkembangannya, keragaman kebutuhannya sehingga tidak menyamaratakan dan senantiasa memerhatikan kondisi setempat Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi dengan paradigma baru yang berpusat pada rakyat, partisipatif, berdaya dan berkelanjutan. (Noor, 2011). Pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu strategi alternatif dalam pembangunan sebenarnya tidak dilaksanakan secara maksimal, tetapi telah berkembang dengan berbagai literatur dan gagasan. Pembangunan dan pemberdayaan Gereja banyak diperdebatkan di Gereja karena berkaitan dengan kemajuan dan perubahan negara ini di masa depan.

Dari perspektif penyelenggaraan pemerintahan nasional, pemberdayaan masyarakat bukan sekedar istilah ekonomi, tetapi secara implisit berarti pelaksanaan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu, konsep ekonomi yang dimaksud meliputi akses pasar, penguasaan tehnologi, kepemilikan modal dan keterampilan manajemen.

(10)

35

Sebagaimana agar upaya demokrasi ekonomi dapat berjalan, aspirasi perlu ditangkap dan dirumuskan secara jelas oleh birokrasi pemerintah dan dimasukkan ke dalam perumusan kebijakan publik untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh masyarakat (Noor, 2011).

Sementara itu Osmani (Haris, 2014) mendefinisikan Pemberdayaan adalah pembentukan situasi di mana orang-orang yang tidak berdaya dapat mengungkapkan keinginannya dan sekaligus merasa terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan. Adapun menurut World bank (Margayaningsih, 2018) lebih mengartikan kegiatan pemberdayaan adalah upaya membekali kelompok masyarakat, dalam hal ini keluarga miskin, dengan keberanian dan keterampilan untuk berani mengungkapkan gagasan dan pendapat serta membuat pilihan berupa metode, produk, tindakan dan konsep untuk dipertimbangkan. Besar untuk masyarakat serta keluarga dan individu.

1. Wisata Edukasi

Pariwisata merupakan salah satu sektor dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Pariwisata diharapkan terus tumbuh kuat sehingga perekonomian negara dapat ditingkatkan melalui kegiatan pariwisata melalui berbagai pengembangan dan rencana pengembangan pariwisata oleh pemerintah. Selain itu, pengelolaan pariwisata yang baik berdampak positif pada berbagai sektor industri lainnya, sehingga banyak masyarakat yang dapat menyadari manfaat pariwisata. Sektor ini memiliki potensi pengembangan yang baik sebagai sumber pendapatan daerah hingga nasional (Priyanto et al., 2018).

Pengertian potensi wisata menurut Mariotti dalam Yoeti (2008) segala sesuatu yang termasuk dalam suatu daerah yang memiliki tujuan wisata dan merupakan daya tarik bagi wisatawan agar tertarik untuk mengunjungi lokasi tersebut. Oleh karena itu, kemungkinan pariwisata dapat diperluas ke tempat-tempat wisata. Kemungkinan pariwisata dapat dibagi menjadi

(11)

36

tiga jenis: kemungkinan alam, kemungkinan budaya, dan kemungkinan manusia.

a. Alam

Alam dimaknai sebagai keadaan dan jenis flora dan fauna dalam suatu kawasan bentang alam suatu kawasan, seperti pantai dan hutan (kondisi fisik kawasan). Manfaat dan keunikan alam tentunya akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata ini jika dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi daerah sekitarnya.

b. Kebudayaan

Budaya berarti segala hasil cipta, rasa, dan karsa manusia berupa warisan sejarah leluhur berupa adat istiadat, kerajinan tangan, kesenian, bangunan, monumen dan sejenisnya. Manusia juga berpotensi untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata melalui pertunjukan tari daerah dan penyajian budaya.

c. Manusia

Manusia juga dapat dimaknai sebagai sumber daya potensial yang berperan dalam mengelola lingkungan setempat menjadi daerah wisata.

Wisata edukasi dapat diartikan sebagai wisata minat khusus yang biasanya dikaitkan dengan waktu, hobi, dan kegiatan rekreasi yang memadukan antara rekreasi dan pendidikan. Wisata edukasi adalah wisata yang bertujuan untuk memberikan gambaran, studi banding, atau pengetahuan tentang bidang pekerjaan yang dikunjungi. Jenis wisata ini juga digunakan sebagai study trip atau kunjungan ilmu (Suwantoro, 1997).

Wisata edukasi tentunya merupakan konsep wisata yang bernilai positif, yang merupakan perpaduan antara pembelajaran dan kegiatan wisata. Wisata pendidikan merupakan kegiatan belajar informal dan tidak seketat kegiatan belajar di kelas. Selain itu, implementasi konsep ini lebih erat dengan konsep edutainment, pembelajaran dengan aktivitas yang menyenangkan. Tujuan utama dari wisata edukasi adalah untuk memberikan kepuasan maksimal dan pengetahuan baru kepada wisatawan.

Wisata edukatif adalah suatu program bagi pengunjung kegiatan wisata

(12)

37

khususnya anak-anak untuk berwisata ke daerah tujuan wisata dengan tujuan utama memperoleh pengalaman dalam pembelajaran secara langsung terkait dengan daerah tujuan wisata yang telah dikunjunginya (Priyanto et al., 2018).

Wisata edukasi adalah program dimana peserta wisata melakukan perjalanan ke lokasi tertentu dalam kelompok, dengan tujuan utama memberikan pengalaman belajar yang berhubungan langsung dengan lokasi yang dikunjungi (Priyanto et al., 2018). Wisata edukasi didasarkan pada pengaruh lingkungan eksternal dan mempengaruhi penawaran dan permintaan atraksi wisata edukasi untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Wisata Edukasi atau Educational Tourism adalah suatu program yang tujuan utamanya adalah agar wisatawan mengunjungi daerah tujuan wisata dan belajar langsung tentang obyeknya. (Rodger, 1998: 28).

Menurut Administrasi Umum PHKA, educationism adalah penganekaragaman daya tarik wisata dari wisata alam (ekowisata) dengan tujuan untuk memperluas dan memperluas produk wisata alam (Khadijah et al., 2020). Karena wisata edukasi merupakan turunan atau subtipe dari objek wisata alam (ekowisata), maka dasar pengembangannya tidak banyak berubah dan menggunakan prinsip-prinsip ekowisata. Kegiatan wisata edukasi dan kegiatan ekowisata lainnya juga memiliki unsur fasilitas dan pelayanan.

Berdasarkan konsep pendidikan ini, wisata edukasi adalah gagasan menerapkan pendidikan nonformal pada pengetahuan wisatawan ketika mengunjungi tempat wisata. Penerapan konsep wisata edukatif merupakan konsep yang multifaset dan inter disipliner sehingga memerlukan persiapan yang matang dan pengawasan yang cermat dalam penerapannya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Konsep wisata edukasi lahir karena proses pendidikan formal yang membosankan. Perjalanan pendidikan ini bersifat formal, ketat dan tidak membosankan, sehingga dapat dijadikan sebagai celah dalam proses pendidikan. Perjalanan edukasi ini juga akan berdampak besar pada perluasan pengetahuan dan tujuan wisata.

(13)

38

2. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL)

Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementerian Desa Republik Indonesia yang merupakan bagian wujud dari rancangan rencana strategis tahun 2015-2019 yang tertuang dalam Peraturan Menteri Desa dalam bidang prioritas pembangunan Desa melalui Pembangungan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) membangun dari pinggiran dengan memperkuat Daerah-daerah dan Desa dalam kerangka negara kesatuan. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) sebagai pemanfaatan Dana Desa yang tidak lagi memfokuskan pembiayaan pembangunan infrastruktur, namun lebih diarahkan pada sektor pengembangan usaha-usaha ekonomi Desa. Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) adalah bagian dari program Inovasi Desa yang merupakan program Kementerian Desa PDTT yang sumber pendanaannya dari Loan Bank Dunia. Program ini dilaksanakan menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo dalam mendorong pengembangan ekonomi Desa. Keberadaan program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) harus mampu menciptakan model usaha yang menjadi acuan pembelajaran bagi Desa-desa lain dengan tujuan kegiatan usaha masyarakat dapat terbantu.

Tujuan dari Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) menurut Dirjen PPMD sebagai berikut :

a. Mendorong peningkatan kapasitas maupun kualitas produk masyarakat.

b. Ada inovasi ruang untuk berkembang c. Pengembangan usaha ekonomi Desa

Prinsip yang dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) dalam pengembangan Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa- Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) ditujukan

(14)

39

oleh Desa yang berhak menerima Dana Desa dari Kementerian Desa melalui peran pembantu Pemerintah Daerah.

3. Pra Sejahtera

Keluarga pra sejahtera adalah suatu kelompok mereka (masyarakat) yang paling tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedangkan keluarga sejahtera adalah keluarga yang didirikan melalui pernikahan sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup dan berbakti kepada Tuhan YME, serta memiliki hubungan yang serasi dan seimbang antar masyarakat serta lingkungan hidup (UU Nomor 52 Tahun 2009).

Indikator keluarga berikut dapat dikategorikan sebagai keluarga sejahtera menurut BKKBN (2011) yaitu :

Tabel 2. 2 Indikator Keluarga menurut BKKBN

KATEGORI Basic needs

Psychological needs

Developmental needs

Self esteem

KPS No No No No

KS I Yes No No No

KS II Yes Yes No No

KS III Yes Yes Yes No

KS III+ Yes Yes Yes Yes

Keterangan :

KPS : Keluarga Pra Sejahtera KS I : Keluarga sejahtera I KS II : Keluarga sejahtera II

(15)

40 KS III : Keluarga sejahtera III KS III+ : Keluarga sejahtera III+

4. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) a. Definisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Badan Usaha Milik Desa adalah unit usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa dengan ikut serta secara langsung dari kekayaan desa, aset, jasa, dan untuk kepentingan masyarakat desa, dipisahkan untuk mengelola usaha lain (UU RI, 2014). BUMDes adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah desa dan masyarakat untuk mengelola kebutuhan dan perekonomian desa, serta penyelenggaraan dan kepemilikan modalnya dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat.

Pembinaan BUMDes dilakukan agar maksud dan tujuan dapat tercapai dan dikelola secara terarah dan profesional.

Badan usaha milik Desa (BUMDes) Lahir dari suatu pedekatan baru dalam usaha peningkatan ekonomi Desa berdasarkan kebutuhan potensi desa, pengelolaan BUMDes sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat desa, yaitu dari desa, oleh Desa dan untuk Desa (Verawati, 2020). Menurut buku panduan pendirian dan pengelolaan badan usaha milik Desa (BUMDes) dapartemen pendidikan nasional pustaka kajian dinamika sistem pembangunan fakultas ekonomi universitas Brawijaya (PKDSP, 2007)

Dari beberapa definisi diatas dapat di simpulkan bahwa badan usaha milik Desa (BUMDes) adalah badan usaha yang dikelola oleh masyarakat Desa sesuai dengan potensi Desa yang ada.

a. Tujuan Pendirian BUMDes

1) Tujuan Utama Pendirian BUMDes Berdasarkan Permendes No 04 tahun 2015 ada delapan tujuan utama pendirian BUMDes.

a. Dapat Meningkatkan dalam perekonomian Desa

(16)

41

b. Mengoptimalkan aset Desa dengan tujuan bermanfaat untuk kesejahteraan Desa

c. Meningkatkan kelompok usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi pada ekonomi Desa

d. Dapat mengembangkan rencana kerja sama usaha antar Desa dan/atau dengan pihak ketiga

e. Menciptakan suatu peluang terutama pada jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga

f. Memperluas lapangan pekerjaan

g. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Desa h. Meningkatkan pendapatan masyarakat Desa dan Pendapatan Asli

Desa.

b. Prinsip Pengelolaan BUMDes

Pengelolaan BUMDes membutuhkan strategi dan informasi yang kuat mengenai kondisi wilayah karakteristik masyarakat, peluang pasar atas produk maupun jasa yang akan diproduksi. Untuk menyusun hal tersebut, diperlukan prinsip pengelolaan yang baik sehingga BUMDes mampu menjadi badan yang lebih mengedepankan masyarakat.

Prinsip-prinsip pengelolaan ini penting untuk dijelaskan agar mudah dipahami dan dikenal oleh seluruh stack holder BUMDes.

Terdapat enam prinsip pengelolaan BUMDes, sebagai berikut (Arnis, 2018):

1) Kooperatif, Kerjasama seluruh komponen diperlukan agar keberlangsungan dan pengembangan usaha dapat dilakukan dengan baik.

2) Partisipatif, kontribusi diperlukan dalam mendorong kemajuan usaha dari seluruh anggota baik secara sukarela ataupun diminta.

(17)

42

3) Emansipatif, kesetaraan dalam pengelolaan membuat diskriminasi berkurang sehingga demokrasi tetap terjaga.

4) Transparan, seluruh proses dan hasil kegiatan dapat diakses informasinya secara terbuka bagi seluruh masyarakat dengan luas dan mudah.

5) Akuntabel, pertanggung jawaban kegiatan harus dilaporkan secara teknis dan administratif.

6) Berkelanjutan, keberlangsungan usaha dapat dilanjutkan dan dikembangkan dari generasi ke generasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :