• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella Asiatica [L] Urb) TERHADAP

HIDROGEL SEMI IPN DARI KARBOKSIMETIL SELULOSA - ASAM AKRILAT – N’N

METILEN BISAKRILAMIDA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

LISA SYAFRIANI 140802008

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella Asiatica [L] Urb) TERHADAP

HIDROGEL SEMI IPN DARI KARBOKSIMETIL SELULOSA - ASAM AKRILAT – N’N

METILEN BISAKRILAMIDA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas akhir dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

LISA SYAFRIANI 140802008

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul : Pengaruh Variasi Konsentrasi Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) Terhadap Hidrogel Semi IPN dari Karboksimetil Selulosa – Asam Akrilat – N’N Metilen Bisakrilamida Sebagai Antibakteri

Kategori : Skripsi

Nama : Lisa Syafriani

NomorIndukMahasiswa : 140802008

Program Studi : Sarjana (S1) Kimia

Fakultas : Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

Disetujui di

Medan, November 2018

Ketua Program Studi DosenPembimbing,

Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Si Prof. Dr. Tamrin, M.Sc NIP. 197405051999032001 NIP. 196007041989031003

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella Asiatica [L] Urb) TERHADAP

HIDROGEL SEMI IPN DARI KARBOKSIMETIL SELULOSA - ASAM AKRILAT – N’N

METILEN BISAKRILAMIDA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri, kecuali beberapa kutipan dari ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, November 2018

Lisa Syafriani 140802008

(5)

PENGHARGAAN

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di hari akhir. Amin.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga tercinta, untuk Ayahanda Syafruddin Pili dan Ibunda tercinta Elita, adikku Dini Syafriani terima kasih atas segala kasih sayang, dukungan materi dan moril, dan doa terbaik untuk penulis.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Tamrin, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah membantu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi, kepada Ibu Dr. Cut Fatimah Zuhra,S.Si., M.Si dan Ibu Dr.Sovia Lenny, S.Si., M.Si selaku ketua dan sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU, kepada Bapak Prof. Dr. Harlem Marpaung, M.Sc selaku dosen pembimbing akademik dan juga kepada Bapak dan Ibu Dosen Ilmu Kimia yang telah memberikan motivasi, ilmu dan arahan yang baik selama masa perkuliahan.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh Asisten Kimia Fisika FMIPA USU. Untuk teman-teman Kimia stambuk 2014, adik-adik kimia stambuk 2015-2017 terima kasih telah membantu penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Untuk sahabat terbaik penulis terima kasih atas dukungan, motivasi, semangat, arahan, bantuan dan telah menjadi keluarga penulis selama ini.

Semoga Allah melindungi dan mengabulkan Doa kita dan membalas kebaikan kalian kepada penulis.Amiin Ya Rabbal’Alamin.

Medan, November 2018

Lisa Syafriani

(6)

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella Asiatica [L] Urb) TERHADAP

HIDROGEL SEMI IPN DARI KARBOKSIMETIL SELULOSA - ASAM AKRILAT – N’N

METILEN BISAKRILAMIDA SEBAGAI ANTIBAKTERI

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun pegagan terhadap hidrogel semi IPN dari karboksimetil selulosa – asam akrilat – N’N metilen bisakrilamida sebagai antibakteri. Hidrogel Semi-IPN diperoleh dengan melarutkan Karboksimetil Selulosa (KMS) pada sistem pelarut PEG 1000/NaOH yang kemudian ditambahkan monomer asam akrilat (AA), Inisiator kalium persulfat (KPS), dan pengikat silang N’N metilen bisakrilamida (MBA).

Selanjutnya ditambahkan dengan ekstrak daun pegagan yang diperoleh dengan menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan konsentrasi (0,02 gram ; 0,04 gram

; 0,06 gram). Berdasarkan penelitian yang dilakukan peningkatan konsentrasi ekstrak daun pegagan menyebabkan penurunan sifat antibakteri pada hidrogel. Dari uji persentase ikat silang dan uji daya serap air yang terbaik ditunjukkan pada hidrogel dengan penambahan ekstrak daun pegagan sebanyak 0,02 gram yaitu 87,18% dan 2210%. Berdasarkan uji FTIR terjadi interaksi antara ekstrak daun pegagan dengan hidrogel semi-JPI dan uji TGA menunjukkan bahwa penambahan ekstraktan dapat menurunkan hidrogel.

Kata Kunci : Antibakteri, Daun Pegagan, Hidrogel, Karboksimetil Selulosa, N’N Metilen Bisakrilamida.

(7)

THE EFFECT OF PEGAGAN LEAF EXTRACT (Centella Asiatica [L] Urb) CONCENTRATION VARIATION ON SEMI IPN

HYDROGEL FROM CARBOXYMETHYL CELLULOSE -ACRYLIC ACID–N’N

METHYLENE BISACRYLAMIDE AS ANTIBACTERIAL

ABSTRACT

Research had been done to find out the effect of pegagan leaf extract concentration variation on semi-IPN hydrogel from carboxymethyl cellulose-acrylic acid-N'N methylene bisacrylamide as antibacterial. Semi-IPN Hydrogel was obtained by dissolving Carboxymethyl Cellulose (KMS) in PEG 1000 / NaOH solvent system. Monomer acrylic acid (AA), initiator potassium persulfate (KPS), and crosslinker N'N methylene bisacrylamide (MBA) were added subsequently. Then,the mixture was added with pegagan leaf extract that was obtained by maceration extraction method with concentrations of 0.02 grams; 0.04 grams; 0.06 gram. Based on this performed research, concentration enhancement of pegagan leaf extract prompted a antibacterial properties degradation of hydrogel. From the crosslinking percentage test and water absorption tests, the optimum result was shown on the hydrogel which the pegagan leaf extract addition was 0.02 grams, 87.18% and 2210% specifically. Based on the FTIR test there was an interaction between pegagan leaf extract and semi-JPI hydrogel and the TGA test showed that the addition of extractants could reduce the hydrogel.

Keywords : Antibacterial, Carboxymethyl Cellulose, Hydrogel, N’N-Methylene Bisacrylamide, Pegagan leaf

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

PENGESAHAN SKRIPSI i

PERNYATAAN ORISINALITAS ii

PENGHARGAAN iii

ABSTRAK iv

ABSTRACT v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

DAFTAR SINGKATAN xii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Permasalahan 2

1.3. Pembatasan Masalah 3

1.4. Tujuan Penelitian 3

1.5. Manfaat Penelitian 4

1.6. Metodologi Penelitian 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hidrogel 6

2.1.1. Sifat-Sifat Hidrogel 7

2.1.2. Klasifikasi Hidrogel 7

2.1.3. Aplikasi Hidrogel 8

2.1.4. Metode Pembentukan Hidrogel 8

2.2. Tanaman Pegagan 9

2.3. Selulosa 10

2.3.1. Struktur Molekul Selulosa 11

2.3.2. Pembagian Selulosa 12

2.3.3. Sifat Kimia Selulosa 13

2.4. Karboksimetil Selulosa (KMS) 14

2.5. Asam Akrilat 15

2.6. Ikat Silang 16

2.7. N’N-Metilen Bisakrilamida 17

2.8. Bakteri 18

2.8.1. Metode Antibakteri 19

(9)

2.9. Karakterisasi Polimer 21

2.9.1. Daya Serap Air 21

2.9.2. Persentase Ikat Silang 21

2.9.3. Spektroskopi Infra merah (FT-IR) 22

2.9.4. Thermogravimetry Analysis (TGA) 22

2.9.5. Uji Antibakteri 23

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu 24

3.2. Alat dan Bahan Penelitian 24

3.2.1. Alat Penelitian 24

3.2.2. Bahan Penelitian 25

3.3. Pembuatan Ekstrak Metanol Daun pegagan 25

3.4. Pembuatan Larutan KMS 26

3.5. Pembuatan Hidrogel Semi-IPN 26

3.6. Pembuatan Hidrogel Semi-IPN Ditambahkan Ekstrak

Metanol Daun Pegagan 26

3.7. Uji Persentase Ikat Silang 27

3.8. Uji Daya Serap Air 27

3.9. Analisa Gugus Fungsi dengan FTIR 27

3.10. Analisa TGA 28

3.11. Uji Antibakteri 28

3.11.1. Pembuatan Media mueller Hinton Agar (MHA) 28

3.11.2. Pembuatan Stok Kultur Bakteri 28

3.11.3. Pembuatan Suspensi Bakteri 28

3.11.4. Pengujian Aktivitas Antibakteri 29

3.12. Bagan Penelitian 30

3.12.1. Pembuatan Ekstrak Metanol Daun Pegagan 30

3.12.2. Pembuatan Larutan KMS 31

3.12.3. Pembuatan Hidrogel Semi-IPN 32

3.12.4. Pembuatan Hidrogel Semi-IPN – Ekstrak Metanol

Daun Pegagan 33

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian 34

4.2. Uji Daya Serap Air 38

4.3. Uji Persentase Ikat Silang 39

4.4. Analisa Gugus Fungsi dengan FTIR 41

4.5. Analisa Termal dengan menggunakan 43

4.6 Uji Antibakteri 45

(10)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 48

5.2. Saran 48

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor

Tabel Judul Halaman

2.1 Perbedaan Bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram

Negatif 19

4.1 Data Persen Rasio Swelling Hidrogel Semi-JPI 38 4.2 Data Persen Derajat Ikat Silang Hidrogel Semi-JPI 39 4.3 Bilangan gelombang dari berbagai gugus fungsi pada

hidrogel semi-IPN tanpa ekstrak daun pegagan 41 4.4 Bilangan gelombang dari berbagai gugus fungsi pada

hidrogel semi-IPN + 0,02 gram ekstrak daun pegagan 41 4.5 Bilangan gelombang dari berbagai gugus fungsi pada

hidrogel semi-IPN + 0,04 gram ekstrak daun pegagan 42 4.6 Bilangan gelombang dari berbagai gugus fungsi pada

hidrogel semi-IPN + 0,06 gram ekstrak daun pegagan 42

4.7 Data TGA Hidrogel Semi-JPI 44

4.8 Uji Antibakteri pada variasi hidrogel semi-JPI 46

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Gambar Judul Halaman

2.1 Tanaman Pegagan 9

2.2 Struktur Selulosa 11

2.3 Struktur Karboksimetil Selulosa 15

2.4 Struktur Molekul Metilen Bisakrilamida 18

4.1 Skema Reaksi Polimerisasi Asam Akrilat 34

4.2 Proses ikat Silang Poli Asam Akrilat 35

4.3 Ilustrasi Pembuatan Hidrogel Semi-JPI 36

4.4 Hidrogel Semi-JPI dengan Variasi Konsentrasi Ekstrak

Metanol Daun Pegagan 37

4.5 Grafik Persen Rasio Swelling Hidrogel Semi-JPI 38 4.6 Grafik Persen Derajat Ikat Silang Hidrogel Semi-JPI 40 4.7 Spektrum FT-IR dari produk Hidrogel Semi-JPI 42

4.8 Kurva TGA Hidrogel Semi-JPI 44

4.9 Aktivitas Antibakteri pada Hidrogel Semi-JPI 46

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Lampiran Judul Halaman

1 Bahan-bahan Penelitian 54

2 Peralatan Penelitian 55

3 Hasil Hidrogel Semi-IPN - Ekstrak Metanol Daun

Pegagan 56

4 Hasil Determinasi Tumbuhan Pegagan 57

5 Hasil Skrinning Fitokimia 58

6 Hasil Uji Antimikrobial 59

7 Hasil Analisa FT-IR 60

8 Hasil Analisa TGA 61

(14)

DAFTAR SINGKATAN

KMS = Karboksimetil Selulosa CMC = Carboxymethyl Cellulose

AA = Asam Akrilat

MBA = Metilen Bisakrilamida TGA = Thermogravimetri analysis FTIR = Fourier Transform Infra-Red IPN = Interpenetrating Polymer Network PEG = Polietilen Glikol

KPS = Kalium Persulfat

DC = Degree Of Crosslink

NaOH = Natrium Hidroksida

JPI = Jaringan Polimer Interpenetrasi

NA = Nutrient Agar

MHA = Media mueller Hinton Agar

Mo = Berat Awal Hidrogel

Me = Berat Akhir Hidrogel Seteleah Perendaman Wg = Berat Hidrogel Kering Setelah Perendaman Wo = Berat Hidrogel Kering Setelah Perendaman

(15)

1.1 Latar Belakang

Hidrogel merupakan suatu polimer hidrofilik dengan struktur jaringan yang memiliki ikat silang. Hidrogel mempunyai kemampuan untuk menyerap sejumlah air tanpa adanya proses pelarutan serta memiliki sifat hidrodinamik dari sel dalam banyak cara. (Wijayanti, 2012). Pembuatan hidrogel dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode polimerisasi cangkok, ikat silang fisika, ikat silang kimia, dan ikat silang radiasi (Rimmer, 2011). Salah satu cara untuk meningkatkan sifat mekanik hidrogel tersebut adalah dengan melakukan modifikasi melalui pembentukan Jaringan Polimer Interpenetrasi (JPI) (Herman,1987).

(Bajpai, 2014) telah membuat hidrogel semi-JPI dari selulosa mikrokristalin dan asam akrilat dengan pengikat silang N,N’-Metilen Bisakrilamida. Selulosa mikrokristalin yang dihasilkan dari bubur kertas selulosa dilarutkan dalam sistem pelarut PEG (2000, 4000, dan 6000)/NaOH yang kemudian dipolimerisasikan.

Sistem terbuka hidrogel yang dihasilkan memungkinkan kegunaannya dalam berbagai aplikasi biomedis.

Pembuatan hidrogel semi-JPI untuk aplikasi biomedis dapat dicampurkan dengan bahan alami, Bahan alami lain yang mungkin dapat dikembangkan sebagai alternatif biomedis ialah tanaman pegagan (Centella asiatica). Pegagan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit karena mempunyai komponen bioaktif yang berguna bagi tubuh. Kandungan kimia pegagan diantaranya Triterpenoid:

asiatikosida, madekasosida, asam sianat, asam indosentoat, bayogenin; Flavonoid:

kaemferol, kuesertin; Saponin: sentelasapogenol A,B dan D; dan Tanin (BPOM RI, 2010). Komponen bioaktif yang terdapat dalam pegagan mempunyai fungsi bagi kesehatan salah satunya sebagai antibakteri. Komponen bioaktif pegagan yang memiliki sifat antibakteri adalah flavonoid, tanin dan saponin (James, 2009).

Mekanisme flavonoid menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mendenaturasi protein sel bakteri sehingga menyebabkan semua aktivitas metabolisme sel bakteri terhenti, tanin dapat menghambat bakteri dengan cara mengubah permeabilitas membran sitoplasma. Saponin dapat membentuk senyawa kompleks dengan

(16)

membran sel melalui ikatan hidrogen sehingga dapat menghancurkan permeabilitas dinding sel bakteri.

Jagtap et al (2009) menyatakan ekstrak etanol pegagan memiliki aktivitas antimikroba yang lebih tinggi daripada petroleum eter dan water extract. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol pegagan mempunyai Kadar Hambat Minimum (KHM) 125 µg/ml pada Propionibacterium vulgaris, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Aspergillus niger dan Candida albicans. Sedangkan pada Bacillus subtilis dan Aspergillus flavus adalah 62,5 µg/ml. (Norzaharaini et al, 2011) menemukan aktivitas antimikroba asiatic acid yang merupakan turunan saponin pada pegagan terhadap beberapa bakteri gram positif dan gram negatif.

Pegagan juga dimanfaatkan sebagai obat sakit gigi pada masyarakat umum, namun sampai saat ini belum ada penelitian atau data klinis yang mendukung.

(Octaviani, R. 2017) telah melakukan pembuatan hidrogel semi jaringan polimer interpenetrasi dari karboksimetil selulosa dan asam akrilat menggunakan pengikat silang N’N metilen bisakrilamida yang memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Hidrogel semi-IPN dengan penambahan KMS sebanyak 0,08 gram memiliki presentase daya serap air dan persentase ikat silang yang paling tinggi, yaitu 683% dan 42,3%. Dan pada uji DTA menunjukkan bahwa KMS 0,08 gram terdegradasi sempurna pada suhu 650ºC.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis bermaksud ingin membuat Hidrogel semi- IPN dari karboksimetil selulosa-Asam akrilat-N’N metilen bisakrilamida ditambahkan dengan ekstrak daun pegagan (Centella Asiatica) sebagai antibakteri terutama yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus.

1. 2 Permasalahan

1. Bagaimana pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) terhadap hidrogel semi IPN dari karboksimetil selulosa Asam akrilat-N;N metilen bisakrilamida terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus Aureus?

2. Bagaimana persentase ikat silang, daya serap air, analisa gugus fungsi, sifat termal, dan uji antibakteri dari hidrogel semi IPN dari karboksimetil selulosa-Asam akrilat-N;N metilen bisakrilamida dengan penambahan ekstrak daun pegagan?

(17)

1. 3 Pembatasan Masalah

1. Selulosa yang digunakan adalah Karboksimetil Selulosa (KMS) komersil 2. Polimerisasi dilakukan secara semi-JPI dengan metode pencampuran larutan

menggunakan bahan pengikat silang N,N’-Metilen Bisakrilamida dan inisiator Kalium Per Sulfat

3. Suhu pendispersian KMS dalam pelarut PEG/NaOH adalah -5oC.

4. Suhu pencampuran bahan adalah suhu ruangan

5. Tanaman pegagan yang di ekstrak adalah daun pegagan

6. Daun Pegagan diperoleh dari sekitaran daerah padang bulan pasar V 7. Ekstraksi daun pegagan menggunakan ekstraksi maserasi dengan pelarut

metanol

8. Bakteri yang digunakan adalah bakteri Staphylococcus aureus dari laboratorium mikrobiologi FMIPA USU.

9. Metode yang digunakan untuk menghambat bakteri adalah metode difusi cakram

1. 4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ekstrak daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) terhadap hidrogel semi IPN dari karboksimetil selulosa- Asam akrilat-N’N metilen bisakrilamida terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus Aureus.

2. Untuk mengetahui persentase ikat silang, daya serap air, analisa gugus fungsi, sifat termal, dan uji antibakteri dari hidrogel semi IPN dari karboksimetil selulosa- Asam akrilat-N;N metilen bisakrilamida dengan penambahan ekstrak daun pegagan.

(18)

1. 5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pembuatan hidrogel semi-JPI antara Karboksimetil Selulosa dan Asam Akrilat yang ditambahkan dengan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri.

1. 6 Metodologi Percobaan

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, dimana pada penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :

Tahap I

Penyediaan serbuk daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb) yang telah dikeringkan dengan cara diangin-anginkan pada suhu kamar, setelah kering di potong kecil-kecil kemudian di blender ssampai menjadi serbuk, kemudian diekstraksi dengan pelarut metanol sampai serbuk daun pegagan terendam selama 3x24 jam dan ditutup dengan rapat lalu disaring menggunakan kertas saring, ditampung filtrat daun pegagan. Hasil maserat dipekatkan dengan menggunakan rotari evaporator sampai diperoleh ekstrak daun, hasil ekstrak daun pegagan tersebut diuapkan kembali didalam penangas air sehingga diperoleh ekstrak kental dari daun pegagan.

Tahap II

Pelarutan bubuk KMS dalam sistem pelarut PEG/NaOH dengan mencampurkan bubuk KMS ke dalam 100 mL larutan encer yang mengandung PEG 1000 (6%wt/vol) dan NaOH (8%wt/vol), kemudian dispersi yang dihasilkan dimasukkan kedalam lemari pendingin pada suhu -5oC selama 24 jam. Selanjutnya berat padatan beku yang diperoleh disimpan pada suhu ruangan dengan pengadukan yang kuat selama 2 jam. Larutan bening yang dihasilkan kemudian disaring dengan kertas saring biasa yang digunakan untuk membuat hidrogel.

Tahap III

Tahap pembuatan hidrogel semi-JPI, pada tahapan ini larutan bening yang dihasilkan pada tahapan sebelumnya digunakan untuk menyiapkan sistem hidrogel dengan cara

(19)

mencampurkan 5mL larutan KMS, 10,63 mmol monomer Asam Akrilat, 200µmol inisiator Kalium Per Sulfat (KPS), dan 260µmol pengikat silang N,N’-Metilen Bisakrilamida sambil dilakukan pengadukan menggunakan pengaduk elektrik pada suhu ruangan selama 30 menit. Setelah polimerisasi selesai, hidrogel semi transparan yang dihasilkan ditambahkan ekstrak daun pegagan dengan konsentrasi yang berbeda (0,02 gram , 0,04 gram dan 0,06 gram), dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam sample cup, kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 60ºC selama 2 jam.

Selanjutnya hasil hidrogel dikeluarkan dari oven, dialirkan akuades, dan dimasukkan kedalam desikator selama 3 hari.

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hidrogel

Hidrogel merupakan jaringan polimer hidrofilik yang dapat menyerap sejumlah besar air sehingga dapat menyebabkan peningkatan volume secara drastis (Mohadi, 2007).

Hidrogel adalah bahan polimer hidrofilik yang mempunyai kemampuan untuk mengembang di air atau cairan biologi tetapi tidak larut dalam air. Ketika mengembang di air, hidrogel tetap mempertahankan bentuk asalnya. Sifat hidrofilik dari hidrogel ini dipengaruhi oleh adanya gugus-gugus –OH, -COOH, -CONH2, dan –SO3H. Sedang sifat ketidaklarutannya dalam air dan kemampuannya mempertahankan bentuk dipengaruhi oleh struktur tiga dimensi dari hidrogel.

Umumnya hidrogel dibuat dari polimer hidrofilik baik dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan polimer lainnya dengan teknik kimia atau radiasi sehingga membentuk ikatan silang (crosslinking).

Kemampuan dari hidrogel untuk mengembang di air adalah kesetimbangan antara kekuatan disperse pada rantai hidrat dengan kekuatan kohesi yang tidak mencegah penetrasi air ke dalam hidrogel. Selain itu, derajat dan sifat ikatan silang serta kekristalan dari polimer turut menentukan sifat mengembang dari hidrogel (Felasih, 2010). Hidrogel merupakan materi yang sangat menarik karena sifat kelarutannya dan daya angkut air yang unik. Bentuknya yang mirip air disebabkan polimer ini hampir seluruh bagian bentuknya terdiri dari air (Erizal,2010).

Hidrogel memiliki biokompatibilitas yang sangat baik. Ini karena hidrogel memiliki beberapa sifat unik yang membuat sangat biokompatibel. Pertama, hidrogel memiliki tegangan antarmuka yang rendah dengan cairan biologis dan jaringan disekitarnya.

Ini menurunkan gaya yang digunakan untuk adsorpsi pelarut dan gaya adhesi sel.

Kedua, kandungan airnya sangat tinggi karena permukaan hidrogel sangat hidrofilik dan mampu menstimulasi beberapa sifat jaringan dari alam dengan kadar air yang tinggi. Hal ini membuatnya sangat biokompatibel. Dan ketiga adalah sifatnya yang lunak dapat meminimalkan iritasi mekanik dan gesekan pada jaringan di sekitarnya.

Dengan demikian hidrogel sangat potensial untuk membawa makromolekul bioaktif

(21)

dalam keadaan mengembangnya, sehingga hidrogel juga dapat digunakan untuk aplikasi diberbagai bidang kesehatan (Muthoharoh, 2012).

2.1.1 Sifat-Sifat Hidrogel

Sifat fisikokimia dari hidrogel tidak hanya tergantung dari struktur molekul, struktur gel dan banyaknya ikatan silang, tetapi juga dipengaruhi oleh kandungan dan keadaan air didalam hidrogel tersebut. Hidrogel mempunyai sifat yang dapat mengembang dan menyusut pada kondisi pH tertentu. Hidrogel mempunyai karakter fisika-kimia yang khas dan memiliki kelebihan dan peranan masing-masing.

Hidrogel yang berikatan secara fisika digunakan untuk penggunaan yang relatif cepat karena ikatannya yang cukup lemah sehingga dalam media asam yang encer pada waktu tertentu sudah mengalami pengembangan dan akhirnya melarut. Lain halnya dengan hidrogel yang berikatan secara kimia, karena ikatannya kuat atau sulit diubah-ubah lagi sehingga dalam kondisi asam masih bisa bertahan cukup lama (Mohadi, 2007). Rantai polimer dengan ikat silang kimia atau fisika pada umumnya sangat penting untuk menjaga struktur ruang hidrogel (Bao, 2014).

Hidrogel dapat menunjukkan karakteristik swelling, didasarkan pada perubahan lingkungan sekitarnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi respon hidrogel terhadap perubahan lingkungan yaitu, pH, temperatur dan radiasi elektomagnetik.

Selain faktor-faktor diatas, rasio bahan ikat silang dan struktur kimia juga mempengaruhi karakteristik swelling hidrogel. Faktor lain yang mempengaruhi karakter swelling hidrogel adalah rasio bahan ikat silang. Semakin besar rasio bahan ikat silang, maka struktur hidrogel akan semakin rapat, sehingga molekul air sulit masuk pada hidrogel, akibatnya derajat swelling berkurang dibandingkan dengan hidrogel yang sama dengan rasio bahan ikat silang lebih rendah. Karakter swelling hidrogel juga dipengaruhi oleh struktur kimia dari polimer yang menyusun hidrogel.

Hidrogel yang mengandung gugus hidrofilik, karakter swelling nya lebih baik dibandingkan dengan hidrogel yang mengandung gugus hidrofobik (Yuniarti, 2012).

2.1.2 Klasifikasi Hidrogel

Klasifikasi hidrogel didasarkan pada sumbernya yaitu alami dan sintetik, berdasarkan sifat dari cross-link yaitu kovalen dan fisika gel, berdasarkan sifat dari jaringan yaitu

(22)

homopolimer, kopolimer, interpenitrasi, atau jaringan ganda. Berdasarkan struktur fisiknya dibedakan menjadi mikropori, dan makropori. Berdasarkan sifat organisme dibedakan menjadi hidrogel biodegradable dan nondegradable (Kopocek, 2009).

2.1.3 Aplikasi Hidrogel

Aplikasi hidrogel mempunyai cakupan yang relatif luas antara lain dapat digunakan untuk:

a. Penyerapan urin dalam popok bayi

b. Wadah penyimpan air untuk daerah kering/pertanian c. Salju buatan

d. Sumber air untuk tanaman hortikultura e. Drug delivery

f. Detoksifikasi limbah minyak g. Penyerap zat warna

h. Eliminasi air tubuh pada kasus penyakit edemas i. Absorpsi bakteri dan jamur pada pembalut luka; dan j. Pemekatan larutan protein. (Erizal,2010).

2.1.4 Metode Pembentukan Hidrogel

Hidrogel dapat dibentuk melalui ikat silang secara fisik atau kimia dari homopolimer atau kopolimer sehingga terbentuk struktur tiga dimensi. Ikat silang dapat dibentuk dengan interaksi kovalen atau nonkavalen. Hidrogel yang terikat silang secara kovalen disebut gel kimia sedangkan secara non kovalen disebut gel fisik. Ikat silang dapat dilakukan setelah atau pada waktu yang sama dengan homopolimerisasi ataupun kopolimerisasi. Hidrogel kimia memberikan kekuatan mekanik yang kuat, akan tetapi rentan terhadap efek samping. Gel fisik adalah jaringan tiga dimensi dimana ikatan rantai polimernya memiliki interaksi non kovalen. Cara untuk membentuk ikat silang secara fisik yaitu dengan interaksi hidrofobik, interaksi muatan, atau dengan membentuk ikatan hidrogen. Interaksi muatan dapat terjadi antara polimer dan molekul kecil atau antara dua muatan polimer yang berbeda.

(23)

Hidrogen dan ikatan non kovalen lainnya lebih lemah daripada ikatan kovalen.

Interaksi kovalen yang lebih kuat dari non kovalen memiliki stabilitas mekanik yang lebih kuat. Metode ikat silang kimia meliputi polimerisasi radikal, energi tinggi irradiasi dan penggunaan enzim. Pada ikat silang kimia, dibutuhkan pengikat silang yang mungkin dapat bereaksi dengan zat-zat lainnya. Hidrogel kimia bisa dihasilkan dari ikat silang polimer larut air atau dengan konversi polimer hidrofobik menjadi polimer hidrofilik kemudian diikat silang untuk membentuk polimer jaringan. Pada keadaan terikat silang, hidrogel mencapai kesetimbangan swelling di larutan berair bergantung pada densitas ikat silang. Pada proses pembentukan hidrogel, gel yang terbentuk dapat mengalami cacat. Cacat tersebut mengakibatkan kurangnya elastisitas dari hidrogel (Fadhli, 2012).

2.2 Tanaman Pegagan (Centella asiatica [L] Urb.)

Pegagan (centella asiatica [L] Urb.) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, tepi jalan, di daerah persawahan, di sela-sela rumput, di tanah yang agak lembab, dan dapat ditemukan di dataran rentah sampai dataran tinggi (2500 m dpl).

Pegagan termasuk salah satu tumbuhan yang paling banyak dipakai sebagai bahan ramuan obat tradisional.

Gambar 2.1 Tanaman Pegagan

Pegagan mengandung bahan aktif alkaloid, triterpenoid, flavonoid, Saponin, tanin, steroid.(BPOM, 2010).

Penggunaan tanaman pegagan secara tradisional digunakan untuk mengobati penyakit kulit, sakit perut, batuk, batuk berdarah, disentri, penyembuhan luka,

(24)

radang, pegal linu, asma, wasir, tuberkulosis, lepra, demam dan penambah selera makan (BPOM RI, 2010).

Adapun Klasifikasi tanaman pegagan ialah, antara lain:

 Pegagan diklasifikasikan sebagai berikut :

 Kingdom : Plantae

 Divisi : Magnoliophyta

 Kelas : Magnoliopsida

 Ordo : Apiales

 Famili : Apiaceae

 Genus : Centella

 Spesies : Centella asiatica (L.) Urban

2.3 Selulosa

Berdasarkan struktur kimia, selulosa termasuk polimer-polimer alam paling sederhana dalam artian bahwa selulosa terdiri dari unit ulang tunggal D-glukosa yang terikat melalui karbon 1 dan 4 oleh ikatan-ikatan β. Selulosa banyak ditemukan di alam yang merupakan konstituen utama dari dinding sel tumbuh-tumbuhan dan rata- rata menduduki sekitar 50% dalam kayu (Stevens, 2007). Selulosa (C6H10O5)n adalah polisakarida yang merupakan pembentuk sel-sel kayuhampir 50%. Kertas saring dan kapas hampir merupakan selulosa yang murni. Berat molekul selulosa kira-kira 300.000 (Sastrohamidjojo, 2005).

Selulosa berfungsi sebagai bahan struktur dalam jaringan tumbuhan dalam bentuk campuran polimer homolog dan biasanya disertai polisakarida lain seperti lignin dalam jumlah yang beragam. Lignin dapat dihilangkan dengan cara delignifikasi.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi delignifikasi yaitu:

a. Jenis bahan delignifikasi

Bahan-bahan yang dapat digunakan dalam proses delignifikasi yaitu asam phosfat, asam klorida (HCl), asam sulfat, dan yang basa seperti NaOH, natrium sulfit, dan natrium sulfat.

(25)

b. Waktu delignifikasi

Pada proses delignifikasi waktu berpengaruh pada hasil delignifikasi, biasanya digunakan waktu 1-3 jam.

c. Temperatur delignifikasi

Temperatur operasi mempengaruhi kualitas dari produk delignifikasi yang dihasilkan (Widodo, 2012).

Campuran senyawa lain yang terdapat bersamaan dengan selulosa yaitu hemiselulosa. Hemiselulosa adalah polisakarida kompleks nonselulosa dan nonpati yang terdapat dalam banyak jaringan tumbuhan. Hemiselulosa mengacu kepada polisakarida nonpati yang tidak larut dalam air. Hemiselulosa tidak berperan dalam biosintesis selulosa tetapi dibuat tersendiri dalam tumbuhan sebagai komponen struktur dinding sel. Hemiselulosa dikelompokkan berdasarkan kandungan gulanya (Deman, 1997).

2.3.1 Struktur Molekul Selulosa

Selulosa tersambung melalui β-1,4 yang dibangun oleh rantai glukosa.Untuk memahami peristilahan ini pertama-tama kita harus melihat struktur glukosa itu sendiri. Glukosa mempunyai rumus molekul C6H12O6. Dengan kata lain kita dapat menggambarkan struktur glukosa sebagai rantai lurus ataupun struktur cincin.

Struktur cincin dapat terbentuk dari hasil pembentukan hemiasetal internal (Cowd, 1991).

Gambar 2.2 Struktur selulosa (Sastrohamidjojo, 2005)

Ditinjau dari strukturnya, dapat saja diharapkan selulosa mempunyai kelarutan yang besar dalam air, karena banyaknya kandungan gugus hidroksi yang dapat membentuk

(26)

ikatan hidrogen dengan air (antaraksi yang tinggi antara pelarut terlarut). Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, dan selulosa bukan hanya tak larut dalam air tetapi juga dalam pelarut lain. Penyebabnya ialah kekakuan rantai dan tingginya gaya antar-rantai akibat ikatan hidrogen antara gugus hidroksil pada rantai yang berdekatan. Faktor ini dipandang menjadi penyebab kekristalan yang tinggi dari serat selulosa. Jika ikatan hidrogen berkurang, gaya antaraksi pun berkurang, dan oleh karenanya gugus hidoksil selulosa harus diganti sebagian atau seluruhnya oleh pengesteran. Hal ini dapat dilakukan, dan ester yang dihasilkan larut dalam sejumlah pelarut (Cowd, 1991). Kebanyakan selulosa berasosiasi dengan lignin sehingga sering disebut sebagai lignoselulosa. Selulosa, hemiselulosa, dan lignin dihasilkan dari proses fotosintesis. Pada saat yang sama, komponen-komponen utama penyusun tanaman ini diuraikan oleh aktivitas mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme mampu menghidrolisis selulosa untuk digunakan sebagai sumber energi, seperti bakteri dan kapang (Cherlina, 2014).

2.3.2 Pembagian Selulosa

Berdasarkan derajat polimerisasi (DP) dan kelarutan dalam senyawa natrium hidroksida (NaOH) 17,5% selulosa dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu:

a. α-selulosa (Alpha Cellulose) adalah selulosa berantai panjang, tidak larut dalam larutan NaOH 17,5% atau larutan basa kuat dengan DP (Derajat polimerisasi) 600- 15.000. α-selulosa dipakai sebagai penduga dan atau tingkat kemurnian selulosa.

Selulosa dengan derajat kemurnian α > 92% memenuhi syarat untuk bahan baku utama pembuatan propelan. Sedangkan selulosa kualitas dibawahnya digunakan sebagai bahan baku pada industri kertas dan industri kain (serat rayon). Semakin tinggi kadar α-selulosa, maka semakin baik mutu bahannya.

O O

OH O

H

CH2OH H OH H

CH2OH H

H H OH OH

H H

Ikatan-α

(27)

b. Selulosa β (Betha Cellulose) adalah selulosa berantai pendek, larut dalam larutan NaOH 17,5 % atau basa kuat dengan DP (Derajat Polimerisasi) 15-90, dapat mengendap bila dinetralkan.

O O

OH H

CH2OH H

H H OH OH

CH2OH H

H H

H OH OH H H OH

O

c. Selulosa γ (Gamma Cellulose)adalah selulosa berantai pendek, larut dalam larutan NaOH 17,5% atau basa kuat dengan DP (Derajat Polimerisasi) kurang dari 15, kandungan utamanya adalah hemiselulosa (Sumada, 2011).

Bervariasinya struktur kimia selulosa (a, ß, γ) mempunyai pengaruh yang besar pada reaktivitasnya. Gugus-gugus hidroksil yang terdapat dalam daerah daerah amorf sangat mudah dicapai dan mudah bereaksi, sedangkan gugus-gugus hidroksil yang terdapat dalam daerah-daerah kristalin dengan berkas yang rapat dan ikatan antar rantai yang kuat mungkin tidak dapat dicapai sama sekali. Pembengkakan awal selulosa diperlukan baik dalam eterifikasi (alkali) maupun dalam esterfikasi (asam) (Sjostrom, 1995).

2.3.3 Sifat Kimia Selulosa

Selulosa mengembang (swelling) dalam air dan teristimewa dalam basa pekat.

Polimer yang mengembang dalam basa, dikenal sebagai selulosa alkali atau selulosa soda dipakai untuk mempreparasikan selulosa regenerasi. Proses mereaksikan kapas dengan basa air, dan kemudian menghilangkan basa tersebut dikenal sebagai merserasi. Kapas yang termerserasi memiliki tingkat kekilauan yang lebih tinggi daripada kapas alam yang kurang rapat, dan tingkat kekristalannya agak sedikit rendah. Meskipun jumlah gugus hidroksil pada selulosa besar, selulosa tidak larut dalam air dan sebagian besar pelarut lainnya yang umum, meskipun akan larut ke

Ikatan-β

(28)

beberapa campuran pelarut. Larutan dari logam-logam kompleks seperti tembaga (II)-amonia akan melarutkan selulosa. Jenis-jenis pelarut lain yang dapat melarutkan selulosa adalah LiCl-dimetilasetamida, dimetil sulfoksida-paraformaldehida, amin oksida dan asam fosfat (Stevens, 2007).

Sifat-sifat selulosa dengan pereaksi kimia:

a. Selulosa dengan asam encer tidak dapat terhidrolisis

b. Selulosa dengan asam konsentrasi yang tinggi dapat terhidrolisis menjadi selubiosa dan D-glukosa

c. Dengan asam sulfat dapat menghidrolisis selulosa, digunakan untuk pembuatan kertas. Selulosa direaksikan dengan aluminium sulfat yang dapat bereaksi dengan sejumlah kecil pulp kertas untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang keras (Cowd, 1991)

2.4 Karboksimetil Selulosa (KMS)

Karboksimetil selulosa merupakan merupakan eter polimer selulosa linear dan berupa senyawa anion, yang bersifat biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, butiran atau bubuk yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutan organik, memiliki rentang pH sebesar 6.5 sampai 8.0, stabil pada rentang pH 2 – 10, bereaksi dengan garam logam berat membentuk film yang tidak larut dalam air, transparan, serta tidak bereaksi dengan senyawa organik. Karboksimetil selulosa berasal dari selulosa kayu dan kapas yang diperoleh dari reaksi antara selulosa dengan asam monokloroasetat, dengan katalis berupa senyawa alkali. Karboksimetil selulosa juga merupakan senyawa serbaguna yang memiliki sifat penting seperti kelarutan, reologi, dan adsorpsi di permukaan. Selain sifat-sifat itu, viskositas dan derajat substitusi merupakan dua faktor terpenting dari karboksimetil selulosa.

Karboksimetil selulosa memiliki beberapa nama lain, yaitu crosscarmellose sodium;

Ac-di-sol; Aquaplast; Carmethose; gum selulosa; sodium karboksimetil selulosa;

asam glikolik selulosa, Daice; Fine Gum HES; Lovosa; NACM, dan garam selulosa.

Struktur karboksimetil selulosa dapat dilihat pada Gambar 2.4

(29)

O

O

O

*

- O H

CH2OH OH

CH2OCH2COONa

H H

H OH H H

H H H

H

OH OH

n

Gambar 2.3 Struktur Karboksimetil Selulosa

Molekul karboksimetil selulosa umumnya agak pendek dibandingkan selulosa alami dengan derivatisasi tidak rata yang mengakibatkan bidang-bidang substitusi tinggi dan rendah. Substitusi ini antara lain ikatan 2-O- dan 6-O-, diikuti oleh ikatan-ikatan lain secara berurutan 2,6-di-O- lalu 3-O-, 3,6-di-O-, 2,3-di-O- dan yang terakhir 2,3,6-tri-O-. Molekul karboksimetil selulosa sebagian besar meluas atau memanjang pada konsentrasi rendah tetapi pada konsentrasi yang lebih tinggi molekulnya bertindih dan menggulung dan kemudian pada konsentrasi yang lebih tinggi lagi membentuk benang kusut menjadi gel yang termoreversible. Meningkatnya kekuatan ionik dan menurunnya pH dapat menurunkan viskositas karboksimetil selulosa akibat polimernya yang bergulung (Fatimah, D. 2016).

2.5 Asam Akrilat

Asam akrilat adalah senyawa organik dengan rumus C3H4O2 yang dikenal dengan nama lain acroleic acid, 2-propenoic acid, vinilformic acid, propene acid dan ethylenecarboxylic acid. Asam ini merupakan asam karboksilat yang paling sederhana yang terdiri dari gugus vinil terhubung langsung ke terminal asam karboksilat. Berupa cairan tak berwarna yang memiliki bau tajam atau khas yang larut dalam air , alkohol , eter , dan kloroform . Lebih dari satu miliar kilogram asam akrilat yang diproduksi setiap tahunnya (Anonim, 2012). Asam akrilat merupakan bahan kimia industri yang penting karena merupakan bahan kimia intermediate yang banyak digunakan dalam proses-proses produksi pada industri dan produk-produk konsumen. Ada dua penggunaan utama untuk asam akrilik. Yang pertama adalah dengan menggunakan asam akrilik sebagai intermediate bahan kimia dalam produksi ester akrilat dan resin. Ester akrilat meliputi etil akrilat, butil akrilat, metil akrilat,

(30)

dan 2- etilheksil akrilat. Mereka kemudian dipolimerisasi dan menjadi bahan dalam formulasi cat, pelapis, tekstil (tenun dan non-woven), perekat, polis, dan plastik.

Metil akrilat juga digunakan dalam pembuatan vitamin B1.

Asam akrilat (acrylic acid atau prop – 2 – enoic acid) mempunyai nama lain acroleic acid, Ethylenecarboxylic acid, Propene acid, Propenoic acid, dan vinylformic acid. Rumus molekulnya CH2=CHCOOH dan rumus kimianya C3H4O2.Asam akrilat dapat bercampur dengan air, alcohol, eter dan kloroform dan juga diproduksi dari propena dengan proses penyulingan. Massa molar asam akrilat adalah 72,06 g/mol dengan densitas : 1,051 g/mL, titik leburnya 12 oC (285 K, 54 oF) , titik didihnya 139 oC (412 K, 282 oF), indeks biasnya 1,485 (25o), konstanta disosiasinya 5,50 x 10 -5, viskositasnya 1,1 cP pada suhu 25 oC (Kirk Othmer, 2001).

2.6 Ikat Silang

Ikat Silang (Crosslink) merupakan suatu ikatan yang menghubungkan satu rantai polimer dengan rantai polimer lainnya, dapat berupa interaksi kovalen maupun interaksi non kovalen dan dapat meningkatkan massa molekul polimer. Cara untuk membentuk ikat silang secara fisik yaitu dengan interaksi hidrofobik, interaksi muatan atau dengan membentuk ikatan hidrogen. Metode ikat silang kimia meliputi polimerisasi radikal, reaksi kimiaa dari gugus komplementer, energi tinggi irradiasi dan penggunaan enzim. Pada ikat silang kimia dibutuhkan agen pengikat silang yang mungkin dapat bereaksi dengan zat-zat lainnya (Berg, et al. 2010).

Ikat silang dapat digambarkan sebagai ikatan antara dua rantai polimer yang bergabung satu sama lain melalui suatu cabang (branch). Ikatan antar polimer ini dapat terjadi dengan bantuan agen pengikat silang yang jumlahnya 2-12% dari jumlah masing-masing komponen polimer yang berikatan. Secara umum ikat silang dibedakan menjadi 2 yaitu, ikat silang kimia (chemical cross-link) dan ikat silang fisika (physical cross-link).Ikat silang kimia dapat terjadi melalui ikatan kovalen maupun ion. Ikat silang pada suatu polimer dapat mempengaruhi derajat swelling.

Ketika hadir pelarut, suatu polimer ikat silang akan mengembang padasaat molekul- molekul pelarut menembus jaringannya. Tingkat pengembangan (swelling) ini selain bergantung pada tingkat pengikatsilangan, juga bergantungpada afinitas antara pelarut dan polimer. Ikat silang fisika merupakan ikatan-ikatan silang yang labil

(31)

secara termal, yakni ikatan-ikatan silang kimia yang putus oleh pemanasan dan mengikat kembali setelah pendinginan.Ikat silang ion termasuk ikat silang fisika (Stevens, 2001).

Ikat silang dapat dibentuk melalui reaksi kimia yang diprakarsai oleh panas, perubahan tekanan, pH, atau radiasi.Ikat silang juga dapat diinduksi ke dalam bahan termoplastik melalui paparan sinar elektron, radiasi gamma, maupun sinar UV.

Seringkali, polimer yang terikat silang tidak dapat terurai jika dipanaskan (tidak meleleh) sehingga bentuknya tidak dapat dirubah ke bentuk lain yang disebut dengan polimer termoset. Ikatan silang kimia kovalen pada polimer ini memiliki kestabilan termal dan mekanik yang tinggi, sehingga sangat sulit didegradasi. Sedangkan polimer terikat silang yang dapat di daur ulang dengan mengubah bentuknya ke bentuk lain dengan pemanasan atau dengan melarutkannya ke dalam pelarut yang cocok disebut polimer termoplastik. Dengan demikian, perlu diselidiki derajat ikat silang optimum yang memiliki sifat relatif kuat dan cukup elastis (Muthoharoh, 2012).

2.7 N’N – Metilen Bisakrilamida

Metilen bisakrilamida dimanfaatkan sebagai agen pengikat silang dalam modifikasi polimer. Ikatan sambung silang yaitu menyambungkan antar rantai polimer dan memodifikasi polimer menjadi tidak larut dalam air. Metilen bisakrilamida digunakan sebagai agen pengikat silang karena memiliki dua ikatan rangkap yang reaktif. Dua ikatan rangkap ini dapat tergabung dalam dua rantai polimer yang berbeda ketika polimerisasi, dan menghasilkan ikatan sambung silang.

Agen pengikat silang ini hanya dibutuhkan dalam jumlah yang sangat sedikit (Garner, 1997).

Metilen bisakrilamida (MBA) mempunyai rumus molekul C7H10N2O2, berat molekul sebesar 157,14 , dan densitas sebesar 1,235. Metilen bisakrilamida melebur pada suhu 185oC dan kelarutannya 0,01-0,1 g/100 ml pada suhu 18oC (Merck, 2005).

Metilen Bisakrilamida memiliki gugus fungsional amina namun sangat tahan terhadap hidrolisis. Senyawa ini juga mengandung dua ikatan rangkap yang reaktif sehingga dapat berikatan dengan dua rantai yang berbeda saat polimerisasi

(32)

berlangsung (Garner, 1997). Bentuk molekul metilen bisakrilamida ditunjukkan pada gambar 2.4

H2C CH2

O O

N N

H H

Gambar 2.4 Struktur Molekul Metilen Bisakrilamida

Konsentrasi agen sambung silang N’N Metilen Bisakrilamida dan konsentrasi initiator yang lebih kecil. Dengan konsentrasi agen sambung silang dan konsentrasi initiator lebih besar, maka akan didapat hidrogel dengan derajat polimerisasi lebih kecil dan lebih kompak sehingga secara mekanik lebih kuat dan akibatnya memiliki daya serap air yang lebih kecil. (Sjaifullah. et al. 2015)

2.8 Bakteri

Bakteri adalah mikroorganisme bersel tunggal yang tidak terlihat oleh mata,tetapi dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Ukuran bakteri berkisar antara panjang 0,5 sampai 10µ dan lebar 0,5 sampai 2,5µ (µ = 1 mikron = 0,001mm) tergantung dari jenisnya. Bakteri terdapat secara luas dilingkungan alam yang berhubungan dangan hewan,udara,air dan tanah. Bakteri berkembang biak secara aseksual yaitu dengan proses pembelahan diri menjadi dua (Buckle, 2007).

Bakteri diklasifikasikan menjadi dua yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif:

A. Bakteri gram positif

Bakteri gram positif lebih sensitif terhadap penisilin, tetapi lebih tahan terhadap perlakuan fisik dibandingkan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif sering berubah sifat pewarnaannya sehingga menunjukkan reaksi gram variabel. Sebagai contoh, kultur gram positif yang sudah tua dapat kehilangan kemampuannya untuk menyerap pewarna violet kristal sehingga dapat berwarna merah seperti bakteri gram negatif. Perubahan tersebut dapat juga disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan atau modifikasi teknik pewarnaan (Fardiaz, 1992).

(33)

B. Bakteri gram negatif

Bakteri gram negatif lebih sensitif terhadap antibiotik lainnya seperti streptomisin dan bersifat lebih konstan terhadap reaksi pewarnaan (Fardiaz, 1992). Dinding sel bakteri gram negatif tersusun atas satu lapisan peptidoglikan dan membran luar.

Dinding selnya tidak mengandung teichoic acid. Membran luar terususun atas lipopolisakarida, lipoprotein dan pospolipid (Tortora, 2001).

Perbedaan bakteri Gram positif dengan bakteri Gram negatif dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Harti, 2015).

Tabel 2.1 Perbedaan bakteri Gram positif dengan bakteri Gram negatif

2.8.1 Metode Anti Bakteri

Metode pengujian antibakteri dilakukan untuk mengetahui efektivitas suatu zat terhadap mikroorganisme. Beberapa macam metode pengujian antibakteri yaitu:

a. Metode difusi

Disebut juga disk-diffusion method atau Kirby-Bauer test. Metode ini dibagi tiga yaitu metode menggunakan cakram, metode menggunakan silinder dan metode lubang/sumuran. Disk uji diletakkan pada permukaan media agar yang telah diinokulasi dengan mikroorganisme uji, diinkubasikan dan diamati terbentuknya zona hambatan. Tes ini dapat mendeterminasi sensitivitas bahan uji dan estimasi konsentrasi hambat minimum, yaitu konsentrasi terendah yang mampu menghambat

(34)

pertumbuhan bakteri secara visual. Kelemahan metode difusi yaitu tidak dapat menentukan efek bakterisidal suatu bahan uji (Harti, 2015).

b. Metode dilusi

Prinsipnya adalah seri pengenceran konsentrasi bahan uji. Dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi hambat minimum dan konsentrasi bunuh minimum suatu bahan uji. Diinokulasi suatu seri pengenceran bahan uji dalam tabung berisi media cair dan diinokulasi dengan bakteri uji lalu diamati tingkat kekeruhan/pertumbuhan.

Pengenceran tertinggi dari media cair yang jernih dinyatakan sebagai konsentrasi hambat minimum, sedangkan tabung yang jernih diinokulasi goresan pada media plate agar, diinkubasi dan diamati ada tidaknya pertumbuhan koloni pada permukaan media plate agar. Pengenceran tertinggi dari tabung yang jernih dan menunjukkan tidak ada pertumbuhan pada plate agar sebagai konsentrasi bunuh minimum (Harti, 2015).

2.8.2 Bakteri Staphylococcus Aureus

Staphylococcus aureus adalah bakteri genus kokus Gram-positif utama penyebab penyakit. Bakteri ini bersifat positi-koagulase (memulai pembentukan bekuan fibrin), β-hemolitik, dan tolerangaram (halodurik). Staphylococcus aureusmemiliki protein A pada permukaannya, menghasilkan pigmen kuning dan mungkin memproduksi eksotoksin Staphylococcus aureus berdiam di mukosa hidung manusia atau di kulit;

kumanini menyebar melalui tangan, bersin dan lesi kulit (Hawley, 2003).

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus terdiri atas empat jenis Keracunan makanan Staphylococcus aureus dari enterotoksin stabil terhadap panas yang terjadi akibat makanan yang kurang mendapat pendinginan dan tercemar oleh Staphylococcus aureus (misalkan daging yang diasinkan atau dikalengkan, kue custard, atau salad kentang). Ingesti toksin menyebabkan nyeri abdomen, muntah dan diare dengan onset cepat (1-6 jam) dan Infeksi kulit atau subkutis yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus sering muncul sebagai nyeri dan panas, kemerahan dan pembengkakan subkutis. Infeksi dapat menyebabkan penyakit kulit eksfoliativa (scaldedskin syndrome) bila strainnya menghasilkan eksofoliatin. (Hawley, 2003).

(35)

2.9 Karakterisasi Polimer 2.9.1 Daya Serap Air

Daya serap air dilakukan dengan metode penentuan persen rasio swelling. Swelling adalah salah satu sifat fisika yang khas hidrogel, menggambarkankemampuan hidrogel dalam menyerap air (Erizal, 2002). Jika polimer hidrogel mengembang (swelling) dalam mediumnya, ini menunjukkan bahwa hidrogel mampu mengadsorb medium cairnya tanpa larut didalamnya. Semakin banyak rantai yang berikatan silang dalam suatu polimer, kemampuan mengembangnya akan menurun dan gel menjadi semakin keras/kuat.Hidrogel diuji dengan cara mengukur berat awal (mo) sampel yang kemudian direndam dalam aquadest selama 24 jam. Sampel yang telah direndam kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring dan diukur lagi berat akhirnya (me). Banyaknya air yang terserap pada hidrogel dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:

x 100%

2.9.2 Persentase Ikat Silang

Persentase Ikat Silang dilakukan dengan penentuan persen derajat ikat silang (degree of crosslinking). Berat kering hidrogel yang dihasilkan ditimbang. Kemudian hidrogel tersebut direndam dengan pelarutnya selama 24 jam. Setelah perendaman, hidrogel dioven pada suhu 60oC hingga kering selama 3 jam. Berat kering hidrogel setelah perendaman ditentukan dengan penimbangan menggunakan neraca analitis.Persen Derajat ikat silang ( degree of crosslinking) dapat ditentukan dengan :

x 100

Dimana Wg adalah berat hidrogel kering setelah perendaman dan Wo adalah berat hidrogel kering sebelum perendaman (Muthoharoh, 2012).

2.9.3 Spektoskopi Infra Merah (FT-IR)

Pada dasarnya teknik ini sama dengan spektroskopi infra merah biasa, kecuali dilengkapi dengan cara penghitungan “Fourier transform” dan pengolahan data untuk

(36)

mendapatkan resolusi dan kepekaan yang lebih tinggi. Teknik ini dilakukan dengan penambahan peralatan interferometer yang telah lama ditemukan oleh Michelson pada akhir abad 19. Michelson telah mendapat informasi spektrum dari suatu berkas radiasi dengan mengamati interferogram yang diperoleh dari interfemeter tersebut..

FT-IR bermanfaat dalam meneliti paduan-paduan polimer. Sementara paduan yang tidak dapat bercampur memperlihatkan suatu spektrum IR yang merupakan superposisi dari spektrum homopolimer, spektrum paduan yang dapat bercampur adalah superposisi dari tiga komponen, dua spektrum homopolimer dan satu spektrum interaksi yang timbul dari interaksi kimia atau fisika antara homopolimer (Steven, 2001).

Sampel yang digunakan untuk analisa dapat berupa padat cair dan gas. Metoda penyiapan untuk polimer antara lain melarutkan polimer ke dalam suatu pelarut seperti karbon bisulfida, karbon tetra klorida atau kloform, pembuatan film transparan dan metode pellet Kbr.

2.9.4 Analisa Termal Thermogravimetry Analysis (TGA)

Termogravimetri adalah teknik untuk mengukur perubahan berat dari suatu senyawa sebagai fungsi dari suhu ataupun waktu atau merupakan metode analisis yang menunjukkan sejumlah urutan dari lengkungan termal, kehilangan berat dari bahan dari setiap tahap, dan suhu awal penurunan. Analisa termal gravimetri dilakukan untuk menentukan kandungan bahan pengisi dan kesetabilan termal dari suatu bahan.

Sampel yang digunakan, dengan berat beberapa miligram, dipanaskan pada laju konstan, berkisar antara 1–20 o C /menit, mempertahan berat awalnya, Wi sampai mulai terdekomposisi pada suhu Ti. Pada kondisi pemanasan dinamis, dekomposisi biasanya berlangsung pada range suhu tertentu, Ti–Tf, dan daerah konstan kedua teramati pada suhu diatas Tf yang berhubungan harga berat residu Wf. Berat Wi, Wf dan ΔW adalah harga-harga yang sangat penting dan dapat digunakan pada perhitungan kuantitatif dari perubahan komposisinya (Nurdin, 2011).

2.9.5 Uji Antibakteri

Antibakteri adalah zat yang dapat digunakan sebagai pembasmi bakteri khususnya yang merugikan manusia. Berdasarkan toksisitas selektif, ada antibakteri yang

(37)

bersifat menghalangi pertumbuhan bakteri yang dikenal sebagai bakteriostatik contohnya tetracycline, sulfonamida, dan chloramphenicol. Sedangkan antibakteri yang bersifat membunuh bakteri dikenal sebagai bakterisidal. Contohnya penicilin streptomycine, polymixin (Vincent, 1987).

Pengujian aktivitas antibakteri edible film dilakukan untuk mengetahui konsentrasi minyak atsiri yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada produk perikanan (E.Coli dan S.Aureus). Pengujian ini menggunakan metode MIC (Minimum Inhibitor Concentration) metode difusi agar. (Pranoto, et al., 2005).

Menurut Lay (1994) Kemampuan suatu zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan mikroba dapat diketahui dengan mengukur zona hambat yang terbentuk di sekeliling cakram. Hal ini juga dipertegas oleh Gupte (1990) Bahwa besar zona hambat yang terbentuk menunjukkan derajat kepekaan bakteri terhadap antibiotik yang digunakan.

(38)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3. 1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA USU, Laboratorium Kimia Polimer FMIPA USU, Uji Antibakteri dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU, Analisa FTIR dilakukan di Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM dan Analisa TGA dilakukan di Laboratorium Politeknik Lhoksmaweh pada bulan Oktober sampai November 2018.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat Penelitian

Nama Alat Merek

Alat-alat gelas Pyrex

Batang Pengaduk Pyrex

Alat pemanas stirrer PMC

Neraca analitis Meltes AE 2000

Oven Carbolite Lemari es

Termometer Fisher

Rotari Evaporator Buch

Tabung Ekstraksi -

Cutter -

Sample Cup -

Kertas Saring Whatmann No.1 -

Corong Kaca pyrex

Ayakan -

Blender Philips

Gunting kenko

(39)

Aluminium voil diamond

Labu destilat -

Jarum ose USBECK 5460

Laminar air flow -

Autoklaf -

Spektrofotometer FTIR Shimadzu FT-IR 8201PC

Instrumen TGA Shimadzu DTG-60

3.2.2 Bahan Penelitian

Bahan Merek

Karboksimetil Selulosa komersil Food Grade Asam Akrilat Merck

Polietilen Glikol 1000 Merck Kalium Per Sulfat Merck

N,N’-Metilen bisakrilamida Merck Natrium Hidroksida Merck

Akuades

Metanol Merck

Kloroform Merck

Daun Pegagan

Bakteri Staphylococcus aureus

3.3 Pembuatan Ekstrak Metanol Daun Pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) Ditimbang sebanyak 300 gram serbuk daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) yang telah dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, kemudian dimaserasi dengan metanol sebanyak 1 Liter sampai sampel terendam dan dibiarkan selama 3x24 jam dan ditutup dengan rapat lalu disaring menggunakan kertas saring. Pada saat disaring maka diperoleh filtrat dan residu, selanjutnya filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotari evavorator untuk memisahkan pelarutnya hingga diperoleh ekstrak metanol dari daun pegagan.

(40)

3.4 Pembuatan Larutan KMS

Sebanyak 0,8 gram Karboksimetil Selulosa (KMS) komersil dimasukkan kedalam beaker glass yang telah berisi 100 ml sistem pelarut Polietilen Glikol 1000 (6%wt/vol) dan NaOH (8%wt/vol). Dispersi yang terjadi dimasukkan kedalam lemari pendingin pada suhu -5oC selama 24 jam. Padatan beku yang diperoleh dibiarkan pada suhu ruangan dengan pengadukan selama 2 jam. Larutan bening yang dihasilkan kemudian disaring dengan kertas saring biasa yang akan digunakan untuk pembuatan hidrogel.

3.5 Pembuatan Hidrogel Semi-IPN

Sebanyak 5 mL larutan KMS dimasukkan kedalam beaker glass kemudian ditambahkan 10,63 mmol monomer Asam Akrilat, 200 µmol inisiator Kalium Per Sulfat, selanjutnya ditambahkan sedikit-demi sedikit 260 µmol pengikat silang N,N’- Metilen bisakrilamida. Kemudian diaduk selama 30 menit pada suhu ruangan.

Setelah polimerisasi selesai, hasil hidrogel semi IPN dituangkan kedalam sample cup, lalu dipanaskan kedalam oven pada suhu 60oC selama 2 jam. Setelah itu, hasil hidrogel dikeluarkan dari oven dan dialirkan akuades lalu disimpan di dalam desikator selama 3 hari. Selanjutnya Hidrogel yang diperoleh ditentukan persentase ikat silang, diuji daya serap air, dikarakterisasi dengan analisis FT-IR dan analisis TGA dan diuji antibakteri.

3.6 Pembuatan Hidrogel Semi-IPN ditambahkan Ekstrak Metanol Daun Pegagan

Sebanyak 5 mL larutan KMS dimasukkan kedalam beaker glass kemudian ditambahkan 10,63 mmol monomer Asam Akrilat, 200 µmol inisiator Kalium Per Sulfat, selanjutnya ditambahkan sedikit-demi sedikit 260 µmol pengikat silang N,N’- Metilen bisakrilamida dan ditambahkan ekstrak metanol daun pegagan dengan konsentrasi yang berbeda (0,02 gram , 0,04 gram dan 0,06 gram). Kemudian diaduk selama 30 menit pada suhu ruangan. Setelah polimerisasi selesai, hasil hidrogel semi IPN dituangkan kedalam sampel cup, lalu dipanaskan kedalam oven pada suhu 60oC selama 2 jam. Selanjutnya hasil hidrogel dikeluarkan dari oven dan dialirkan akuades

(41)

ditentukan persentase ikat silang, diuji daya serap air, dikarakterisasi dengan analisis FT-IR dan analisis TGA dan diuji antibakteri.

3.7 Persentase Ikat Silang

Nilai persentase ikat silang dilakukan dengan penentuan persen derajat ikat silang dimana berat kering hidrogel yang dihasilkan ditimbang. Kemudian hidrogel tersebut direndam dengan pelarutnya (kloroform) selama 24 jam. Setelah perendaman, hidrogel dioven pada suhu 60oC hingga kering selama 3 jam. Berat kering hidrogel setelah perendaman ditentukan dengan penimbangan menggunakan neraca analitis.

Persen derajat ikat silang ( degree of crosslinking) dapat ditentukan dengan:

x 100

Dimana Wg adalah berat hidrogel kering setelah perendaman dan Wo adalah berat hidrogel kering sebelum perendaman.

3.8 Uji Daya Serap Air

Pengujian daya serap air dilakukan dengan metode penentuan persen rasio swellingdengan cara mengukur berat awal (mo) sampel yang kemudian direndam dalam aquadest selama 24 jam. Sampel yang telah direndam kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring dan diukur lagi berat akhirnya (me). Banyaknya air yang terserap pada hidrogel dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:

x 100%

3.9 Analisa Gugus Fungsi dengan FTIR

Spesimen dijepit pada tempat sampel kemudian diletakkan pada alat ke arah sinar infra merah. Hasilnya akan direkam ke dalam kertas berskala aluran kurva bilangan gelombang terhadap intensitas sinar berupa grafik spectrum.

3.10 Analisa TGA

Ditimbang ±10 mg sampel, lalu dimasukkan kedalam sel aluminium kemudian dipress. Sel yang telah dipress diletakkan pada posisi berdampingan dengan sel

(42)

referensi. Setelah alat dalam keadaan setimbang, perangkat analisis dioperasikan dengan temperatur 40ºC s/d 600ºC dengan kecepatan kenaikan pemanasan 10ºC/menit dan gas yang digunakan adalah nitrogen. Hasil yang diperoleh berupa grafik % massa yang hilang terhadap temperatur.

3.11 Uji Antibakteri

3.11.1 Pembuatan Media mueller Hinton Agar(MHA)

Ditimbang sebanyak 9,5 gram media Mueller hinton agar, kemudian dilarutkan dengan 250 ml aquadest kedalam erlenmeyer. Larutan dipanaskan sambil diasuk hingga larut dan mendidih, disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit.

3.11.2 Pembuatan Stok Kultur Bakteri

Ditimbang 7 gram media Nutrient Agar (NA), dilarutkan dengan 250 ml aquadest dalam erlenmeyer, dipanaskan sambil diaduk hingga larut dan mendidih. Kemudian dituang sebayak 10 mL kedalam tabung reaksi dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit hingga terbentuk media Nutrient Agar (NA) yang steril.

Dimiringkan media NA membentuk sudut 30-450C dan dibiarkan memadat, diambil biakan bakteri Staphylococcus aureus dari strain utama dengan jarum ose bengkok lalu digoreskan pada media Nutrient Agar (NA) kemudian diinkubasi pada suhu 350C selama 18-24jam.

3.11.3 Pembuatan Suspensi Bakteri

Dimasukkan 10 mL aquadest kedalam tabung reaksi, disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit, diambil koloni bakteri dengan jarum osebengkok lalu dimasukkan kedalam 10 mL aquaset steril kemudian dihomogenkan dengan vortex, dan diukur nilai absorbansi blanko berupa aquadest steril dengan panjang gelombang 600 nm.

3.11.4 Pengujian Aktivitas Antibakteri

Dimasukkan 15-20 media MHA steril kedalam cawan petri, dibiarkan sampai mendidih, diambil cotton bud steril lalu dicelupkan kesuspensi bakteri. Kemudian digoreskan kepermukaan media MHA yang telah memadat, dimasukkan kertas

(43)

Metanol Daun Pegagan, Hirdrogel + 0,02 gram Ekstrak Metanol Daun Pegagan, Hidrogel + 0,04 gram Ekstrak Metanol Daun Pegagan, dan Hidrogel + 0,06 gram Ekstrak Metanol Daun Pegagan pada permukaan NA. Kemudian diinkubasi pada 370C selama 24 jam dan 280C untuk 72 jam dan diukur diameter zona bening disekitar kertas cakram dengan jangka sorong. Suatu antibakteri/ antibiotik dikatakan mempunyai aktivitas terhadap bakteri jika mempunyai kekuatan sebagai berikut: bila memberikan nilai zona hambat dengan ukuran 6-10 mm dikategorikan lemah, 11-20 mm dikategorikan aktif, dan 21-30 mm atau lebih dikategorikan sangat aktiof (Muharni, 2017).

(44)

3.12 Bagan Penelitian

3.12.1 Pembuatan Ekstrak Metanol Daun Pegagan (Centella asiatica [L] Urb.)

dimaserasi dengan metanol sampai serbuk daun pegagan terendam didiamkan selama 3 hari

disaring maserat dengan kertas saring whatman no.1

Filtrat

Serbuk Daun Pegagan

Residu

dipekatkan dengan rotari evaporator diuapkan diatas penangas air sampai semua pelarut menguap

Ekstrak Metanol Daun Pegagan

(45)

3.12.2 Pembuatan Larutan KMS

dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah berisi 100 mL sistem pelarut PEG 1000 (6% b/v)/NaOH (8% b/v)

diaduk hingga larut

dimasukkan ke dalam lemari pendingin pada suhu -5oC selama 24 jam

Padatan Beku

dibiarkan pada suhu ruangan sambil diaduk selama 2 jam

disaring menggunakan kertas saring biasa

Filtrat Residu

digunakan dalam pembuatan hidrogel

Larutan KMS

0,8 gram Serbuk KMS

(46)

3.12.3 Pembuatan Hidrogel semi-IPN

5 mL larutan KMS

dimasukkan ke dalam beaker glass

ditambahkan Asam Akrilat sebanyak 10,63 mmol

ditambahkan inisiator Kalium Per Sulfat (KPS) sebanyak 200 µmol

ditambahkan sedikit demi sedikit pengikat silang N'N Metilen Bis Akrilamida (MBA) sebanyak 260 µmol

distirrer selama 30 menit pada suhu ruangan

semi transparan hidrogel

dituang ke dalam sampel cup dioven pada suhu 60oC selama 2 jam dikeluarkan dari sampel cup

Spesimen Hidrogel Selulosa semi-IPN dikarakterisasi

Uji FT-IR Uji TGA Uji Antibakteri Uji Persentase Ikat Silang

Uji Daya Serap Air

(47)

3.12.4 Pembuatan Hidrogel Semi IPN – Ekstrak Metanol Daun Pegagan

5 mL larutan KMS

dimasukkan ke dalam beaker glass

ditambahkan Asam Akrilat sebanyak 10,63 mmol

ditambahkan inisiator Kalium Per Sulfat (KPS) sebanyak 200 µmolditambahkan sedikit demi sedikit pengikat silang N'N Metilen Bis Akrilamida (MBA) sebanyak 260 µmol

distirrer selama 30 menit pada suhu ruangan

semi transparan hidrogel

dituang ke dalam sampel cup dioven pada suhu 60oC selama 2 jam dikeluarkan dari sampel cup

Spesimen Hidrogel Selulosa semi-IPN dikarakterisasi

Uji FT-IR Uji TGA Uji Antibakteri Uji Persentase

Ikat Silang

Uji Daya Serap Air ditambahkan ekstrak metanol daun pegagan sebanyak 0,02 gram sambil di stirrer

Catatan : dilakukan percobaan yang sama untuk penambahan ekstrak metanol daun pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) dengan konsentrasi 0,04 gram dan 0,06 gram.

Gambar

Gambar 2.1 Tanaman Pegagan
Gambar 2.2 Struktur selulosa (Sastrohamidjojo, 2005)
Gambar 2.3  Struktur Karboksimetil Selulosa
Gambar 2.4 Struktur Molekul Metilen Bisakrilamida
+7

Referensi

Dokumen terkait

Staphylococcus aureus merupakan bakteri kokus gram positif dan patogen utama pada manusia 

Penelitian yang dilakukan oleh Melati et al ., (2009) telah membuktikan bahwa daun ubi jalar merah memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Gram positif yaitu

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun Citrus maxima terhadap bakteri bentuk kokus Gram positif, bentuk basil Gram positif dan bentuk basil Gram negatif

Sayangnya, baik chloroxylenol maupun triclosan memiliki aktivitas antimikroba yang lebih baik pada bakteri gram positif dibandingkan dengan bakteri gram

Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang lebih sederhana dengan jumlah peptidoglikan yang relatif banyak, sedangkan bakteri Gram negatif memiliki dinding sel

Ekstrak etanol dan fraksi-fraksidaun beluntas memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram negatifEscherichia colidan bakteri Gram positif Bacillus subtilis..

Ekstrak metanol daun pegagan merah dan daun pegagan hijau mampu mengambat pertumbuhan bakteri mycobacterium tuberculosis secara optimal pada konsentrasi 80% dan 100%

Hasil menunjukkan bahwa minyak atsiri tanaman pegagan lebih berpengaruh dan berpotensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dibandingkan dengan perhambatan terhadap