1
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krisis Diplomatik Qatar terjadi pada tanggal 5 Juni 2017, dan telah berlangsung lebih dari 1.000 hari. Krisis ini secara garis besar disebabkan oleh;
(1) dugaan atas dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin, (2) propaganda politik yang dilakukan media Qatar, Al Jazeera di kawasan, (3) Qatar luput atas komitmennya untuk tidak mendukung kelompok teroris, sesuai perjanjian yang termaktub dalam kesepakatan Riyadh tahun 2014. Adapun negara-negara yang berperan dibalik terjadinya krisis diplomatik Qatar yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, serta Mesir, dengan menyebut diri mereka sebagai Kuartet Anti- Qatar (selanjutnya disebut “negara Kuartet”). Krisis diplomatik bagi Qatar tentu bukan menjadi hal yang baru, sebelumnya di tahun 2014 negara ini juga mengalami pemutusan diplomatik, oleh negara-negara yang sama dengan alasan yang sama. Tidak butuh waktu satu tahun, negara kuartet dan Qatar menyepakati sebuah perjanjian yang dinamakan “Kesepakatan Riyadh”.
Krisis diplomatik atau pemutusan diplomatik ini dilakukan oleh negara kuartet, guna menekan kebijakan luar negeri Qatar yang dinilai sudah tidak sejalan lagi dengan negara-negara Teluk. Implikasinya, jalur transportasi Qatar diblokade baik udara, laut, maupun darat. Warga negara perbatasan, serta mereka
2
yang melakukan perjalanan ataupun menetap di negara kuartet, diminta untuk segera pergi dengan tenggat waktu dua minggu.
Berdasarkan letak geografis, Qatar merupakan salah satu Negara kecil yang berada di Jazirah Arab, berbatasan langsung dengan Bahrain di sebelah barat, Uni Emirat Arab di sebelah timur, dan Arab Saudi di sebelah selatan.
Keempat negara ini digolongkan sebagai bagian dari garis pantai teluk Persia, bersama Kuwait, Oman, dan Irak. Pada tahun 1981 diluar Irak, Piagam GCC lahir dan membentuk kesepakatan integrasi kawasan dalam bentuk aliansi yang berfokus pada sektor perdagangan. Secara resmi dikenal dengan Gulf Cooperation Council atau GCC. Pada perkembangannya, kerjasama regional ini menambah
jaringan orientasinya yang awalnya hanya berbatas pada satu sektor yakni ekonomi, sekarang telah merambak dibeberapa sektor yakni; ekonomi, politik, keamanan, militer, dsb.
Sejalan dengan itu, dinamika konflik yang ada di dalam tubuh organisasi regional ini juga turut berkembang hingga membuat integrasi negara Teluk menjadi goyah dan lemah. Satu dekade terakhir misalnya, Qatar telah mengalami dua kali krisis Diplomatik. Bahkan sudah sejak lama Qatar berada dalam kondisi waspada ada di lingkaran kawasan teluk, terutama dengan negara yang berbatasan dengannya langsung yakni Arab Saudi.1
Misalnya saja pada tahun 1992, dimana tentara Arab Saudi menyerang pos penjagaan di perbatasan Qatar, atas kasus sengketa wilayah yang mampu menewaskan dua tentara Qatar. Kejadian ini telah mengawali ketegangan
1 Kristian Coates Ulrichsen, What’s going on with Qatar?, POMEPS (Project on Middle East Political Science), Working Paper, October 2017, George Washington University.
3
hubungan antar kedua negara, walaupun komisi persatuan telah mengatur ulang batas demarkasi berdasarkan kesepakatan antara dua belah pihak. Pada tahun 2002 ketegangan kembali memuncak yang ditandai dengan penarikan duta besar Arab Saudi di Qatar, atas sebab adanya pemberitaan berlebih dari media Qatar Al Jazeera yang menurut Arab Saudi telah memojokkan pemerintahannya. Walaupun pada akhirnya ketegangan ini berhasil dipulihkan pada tahun 2008.2
Selang beberapa tahun kemudian, hal serupa kembali terjadi. Tepat pada tanggal 5 Maret 2014, walaupun sedikit berbeda, kali ini Arab Saudi menganggap Qatar sudah melakukan intervensi mengenai urusan dalam negeri Arab Saudi, dan juga telah memandang Qatar sebagai donatur dalam pergerakan organisasi teroris.3 Adapun bibit ini sudah terlihat jauh sesudah kemerdekaan Qatar pada tahun 1971, yang secara de facto masih terafiliasi dengan Arab Saudi sebagai negara pelindung. Upaya Qatar untuk keluar dari kontrol Arab Saudi, ditandai dengan dukungannya atas negara-negara yang menjadi musuh Arab Saudi, seperti Iran dan Uni Soviet.4
Dilain pihak, Qatar dengan Uni Emirat Arab juga memiliki hubungan yang kurang baik pasca peristiwa Arab Spring. Pasalnya dua negara ini terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di Libya. Keduanya mendukung pihak yang berbeda, khususnya pada tahun 2004 dalam persaingan perebutan kekuasaan antara Tobruk dan Tripoli. UEA bersama dengan Rusia dan Mesir menyatakan dukungannya
2 Fajar Anugrah Tumanggor, 2018, Dampak Kebijakan Embargo Negara Arab Terhadap Situasi Ekonomi Qatar. Skripsi. Medan: Departement Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, hal. 57.
3 Ibid, hal. 58.
4 Sukma Bintang Cahyani, 2019, Faktor-Faktor Manuver Politik Qatar Dalam Penguatan Aliansi Dengan Iran Pasca Kasus Krisis Diplomatik Qatar Tahun 2017, Journal of International Relations, Vol, 5, No, 3, 2019, hal. 517-527.
4
terhadap pemerintah Tobruk, sedangkan Qatar bersama dengan Turki dan Sudan mendukung pemerintahan yang dipimpin Ikhwanul Muslimin di Tripoli.5 Perang proksi antara kedua negara di Libya ini mampu meningkatkan sentimental UEA terhadap Qatar.
Dukungan Qatar kepada kelompok Ikhwanul Muslimin kemudian berlanjut pada dukungan emir Qatar Tamim bin Hamad Al-Thani kepada Mohammed Mursi di Mesir dalam melawan kekuasaan pertahanan dalam pemilihan umum tahun 2012.6 Dimana dalam dua tahun kemudian, Qatar melibatkan diri, dalam masalah kudeta militer yang terjadi pada Mohammed Morsi, dengan memberikan suaka politik beserta dukungan fasilitas media penyiaran Al Jazeera kepada kelompoknya guna menyiarkan perjuangan- perjuangannya. Kejadian ini kembali berdampak pada penarikan duta besar Arab Saudi dan Bahrain, yang menilai bahwa Qatar tidak mematuhi kesepakatan bersama terkait campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain.7 Selang beberapa bulan, konflik kembali terjadi. Tepat pada bulan September 2014, pemerintah UAE dinyatakan telah melakukan investasi sebesar 3 juta US Dollar dalam dukungannya terhadap kampanye lobi melawan Qatar, sebagai respon balik atas dukungan Qatar terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin. Kampanye tersebut secara eksplisit dijelaskan tujuannya guna mempengaruhi jurnalis Amerika untuk
5 Ibid
6 CNN Indonesia, Qatar dan Tudingan Ekstremisme Tanpa Akhir, diakses dalam https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170606145221-120-219808/qatar-dan-tudingan- ekstremisme-tanpa-akhir (29/5/2020)
7 Eric Trager, The Muslim Brotherhood Is the Root of the Qatar Crisis, The Washington Institute, diakses dalam https://www.washingtoninstitute.org/policy-analysis/view/the-muslim-brotherhood- is-the-root-of-the-qatar-crisis (9/3/2020)
5
menerbitkan artikel mengenai bukti dugaan dukungan Qatar terhadap kelompok Islam tersebut. Qatar juga dianggap telah mempengaruhi media-media untuk melaporkan hal-hal yang telah merugikan UEA.8
Dilain sisi hubungan Qatar dan Bahrain juga sempat mengalami kerenggangan yang disebabkan akibat sengketa batas teritorial atas Kepulauan Hawas, Fasht Al Am, Fasht Dibal, Qit’ah Jaradah, dan Zubarah sejak tahun 1936.
Pada tahun 1986, konflik tersebut kemudian memuncak saat setelah Bahrain mendeklarasikan kemerdekaan negaranya. Ketegangan ini tidak saja disebabkan oleh perebutan batas teritorial, tetapi juga didukung atas perebutan ladang gas.
Konflik ini kemudian telah menemukan jalan keluar yang diselesaikan pada tahun 1991-2001 melalui Mahkamah Internasional (ICJ).9 Berpindah dari perebutan wilayah, Qatar kembali mencampuri urusan dalam negeri negara kawasannya ini tepatnya di tahun 2014. Qatar menawarkan masyarakat yang berkewarganegaraan Bahrain Sunni untuk pindah dari Bahrain sebagai upaya naturalisasi oleh Duta Besar Qatar di Manama. Sebagai negara dengan dominasi demografi Syiah, hal ini tentu akan berdampak negatif terhadap situasi keamanan dan kepentingan nasional Bahrain.10
Hingga pada tahun 2017, telah menjadi tahun bersejarah bagi Qatar.
Hampir tiga minggu setelah blokade diberlakukan, negara kuartet di bawah Kuwait meluncurkan tiga belas poin tuntutan kepada Qatar dan harus dipatuhi
8 Tumanggor, Op. Cit. hal. 61.
9 Cahyani, Loc. Cit.
10 Tumanggor, Op. Cit. hal. 68.
6
dalam waktu sepuluh hari. Mereka menyebutnya sebagai upaya rekonsiliasi.11 Beberapa poin penting dalam isi tuntutan tersebut adalah, Qatar harus memutus hubungannya dengan Iran yang meliputi penutupan misi diplomatik, mengusir anggota pengawal revolusi Iran, dan memotong kerjasama militer, juga memastikan hubungan Qatar dan Iran tidak membahayakan negara-negara yang berada di kawasan Teluk. Qatar juga diminta memutus hubungannya dengan militer Turki, dan seluruh organisasi yang digolongkan sebagai teroris baik dalam bentuk kelompok maupun individu, yang menjadi oposisi politik. Qatar juga diminta untuk tidak lagi mencampuri urusan negara-negara tersebut, dan diminta untuk menutup stasiun televisi Al Jazeera dan media lainnya yang dibiayai oleh pemerintah Qatar.12
Dalam menanggapi tuntutan negara kuartet tersebut, Qatar justru memberikan respon penolakan dan menganggap tuntutan tersebut tidak rasional terlebih tuduhan yang dilabelkan kepadanya tidak benar dan tidak berdasar.
Tuduhan tersebut bertentangan dengan pengakuan Internasional Qatar atas upaya negara tersebut dalam memerangi terorisme. Ketiga belas tuntutan itu juga dinilainya sudah termasuk bentuk intervensi Arab Saudi terhadap negaranya.
Dalam hal ini penulis tertarik ketika Qatar secara eksplisit memberikan respon penolakan, sedang di sisi lain Qatar lebih memilih untuk menguatkan peranan hubungannya bersama Iran dan kongsinya yakni Turki dan Pakistan. Hubungan Qatar dan Iran sebelum krisis diplomatik, bisa dikatakan kurang harmonis. Namun di bawah inisiatif Kuwait dan Oman, Qatar mencoba untuk mengurangi
11 Trager, Loc. Cit.
12 Ibid
7
ketegangan dengan Iran. Hal ini tentu disambut baik oleh Iran, yang sudah lebih dulu paham keretakan intra-aliansi kawasan. Pada bulan Agustus 2017, secara resmi Qatar memulihkan hubungan diplomatiknya bersama Iran.13
Menjadi sebuah masalah ketika dalam sejarahnya tercatat bahwa pembentukan kerjasama regional GCC pada tahun 1981, dijadikan sebagai sebuah langkah negara-negara Teluk di bawah Arab Saudi untuk membendung pengaruh ancaman Iran, yang pada saat itu sedang diprediksi bahwa Iran akan menang melawan Irak pada Perang Teluk I.14 Namun selama Qatar belum bisa menerima dan menyanggupi tiga belas tuntutan tersebut, Arab Saudi dan negara Kuartet lainnya tidak akan mencapai resolusi konflik dan rekonsiliasi hubungan. Hal ini sangat kontras dengan pola diplomasi GCC15 di masa lalu, bahkan selama krisis diplomatik Qatar 2014, masing-masing negara masih mempertahankan kontak politik tingkat rendah, bersama dengan kelanjutan hubungan ekonomi dan kebebasan bergerak bagi warga negara. Skala krisis yang terjadi di 2017, membawa serangkaian tantangan baru dan realitas yang berubah dalam hubungan negara-negara kawasan khususnya GCC dan negara Kuartet.
Secara lanjut menurut Qatar, tuntutan-tuntutan tersebut hanyalah sebuah propaganda Arab Saudi dalam membendung kepentingan nasional Qatar. Untuk
13 Kenneth Katzman, Qatar: Governance, Security, and U.S. Policy. Congressional Research Service, Report, June 2018.
14 Rashid A. Al Makhawi, 1990, The Gulf Cooperation Council: A Study in Integration, Tesis, Greater Manchester: Philosophy, University of Salford.
15 Gulf Cooperations Council (GCC) merupakan kerja sama politik dan ekonomi yang terdiri dari negara-negara Arab yang terletak pada bagian garis pantai Teluk Persia, diantaranya Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar dan Oman. Pada perkembangannya, kerjasama regional ini menambah jaringan orientasinya yang awalnya hanya berbatas pada satu sektor yakni ekonomi, sekarang telah merambak dibeberapa sektor yakni; ekonomi, politik, keamanan, militer, dsb.
8
itu penulis berangkat dari perspektif Qatar ingin menelusuri mengapa Qatar lebih memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik tahun 2017.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam mengenai “mengapa Qatar lebih memilih menguatkan aliansinya bersama iran dalam krisis diplomatik tahun 2017?”
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat jabarkan bahwa tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis mengapa Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik tahun 2017.
1.4 Manfaat Penelitian
Penulis juga berharap penelitian ini memiliki dua kegunaan, diantaranya:
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam disiplin ilmu hubungan Internasional yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri dan dalam permasalahan krisis diplomatik.
2. Secara praktis, penulis berharap dapat melengkapi penelitian sebelumnya terkait dengan Krisis Diplomatik Qatar oleh negara-negara Kuartet anti- Qatar pada tahun 2017, sekaligus juga dapat memberikan kontribusi sebagai bahan kajian dalam menganalisa motif atau tujuan yang sebenarnya dari perilaku suatu negara.
9 1.5 Penelitian Terdahulu
Beberapa literatur tentang penelitian kasus yang serupa, telah menjadi bahan pertimbangan penulis mengenai konflik yang terjadi di dalam tubuh Dewan Kerjasama Teluk. Krisis diplomatik yang terjadi di Qatar pada tahun 2017 pasti membawa dampak tersendiri bagi Qatar maupun negara-negara yang terlibat langsung dalam negara Kuartet anti Qatar. Berikut beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis.
Penelitian pertama yang menjadi rujukan dalam penelitian ini adalah penelitian yang ditulis oleh Sijekto dengan judul Motivasi Negara Dewan Teluk (Arab Saudi, UEA dan Bahrain) Menarik Duta Besarnya di Qatar pada tahun 2014.16 Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan Teori Hegemoni dalam perspektif Realisme dengan level analisis Negara-Bangsa. Sijekto mengulas secara mendalam, apa saja yang menjadi motif dibalik pemutusan diplomatik oleh Arab Saudi, UEA dan Bahrain terhadap Qatar serta bagaimana Qatar dalam transformasinya meninggalkan kepentingan negara-negara teluk dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya sendiri. Kedekatan antara Qatar dengan Yusuf Al-Qardhawi, telah membuat negara kecil ini banyak menampung Ikhwanul Muslimin di Doha, memberikan bantuan secara finansial, serta perlindungan melalui media Al-Jazeera.
16 Sijekto, Motivasi Negara Dewan Teluk (Arab Saudi, UEA, dan Bahrain) Menarik Duta Besarnya di Qatar pada Tahun 2014, JOM FISIP, Vol, 3, No, 1, 2016
10
Inilah yang kemudian dinilai oleh negara-negara Teluk sebagai ambisi pribadi Qatar yang melanggar perjanjian GCC untuk tidak untuk tidak mendukung kelompok manapun dan siapapun yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan. Teori Hegemoni menurut Antonio Granchi juga dalam hal ini dipakai dalam menjelaskan bagaimana Qatar melawan Arab Saudi di kawasan Teluk, dengan cara mendekati Ikhwanul Muslimin dan negara-negara yang menjadi musuh utama Arab Saudi.
Penelitian kedua membahas mengenai krisis diplomatik Qatar dan bagaimana dampaknya bagi Qatar itu sendiri, penelitian ini merupakan laporan penelitian dengan judul “Dampak Kebijakan Embargo Negara Arab terhadap Situasi Ekonomi Qatar”, yang ditulis oleh Fajar Anugrah Tumanggor pada tahun 2018.17 Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan bentuk analisis data deskriptif yang menggunakan pendekatan realis. Menurut teori ini, kebijakan luar negeri suatu negara sangat dipengaruhi oleh posisi suatu negara di dalam sistem internasional serta bagaimana distribusi kekuasaan di dalamnya. Dalam pandangan realisme juga, embargo yang dilakukan merupakan siasat yang dilakukan oleh negara kawasan untuk menekan laju pertumbuhan Qatar. Dalam hal ini UEA, Arab Saudi, Bahrain, dan Mesir yang mengambil langkah pemutusan diplomatik, dinilai memiliki motif lain guna menjatuhkan pamor atau citra Qatar di kancah global, serta memberikan pembuktian terkait kekuatan Arab Saudi atas tindakannya dalam pemutusan hubungan jalur transportasi, media, dan ekonomi, yang secara tidak langsung akan
17 Tumanggor, Op. Cit.
11
mempengaruhi internal negara Qatar. Beberapa sektor internal Qatar ikut terkena dampak, seperti: minyak bumi, penerbangan, pelayaran, pasar, saham, pangan, keuangan, asuransi, dan bank.
Penelitian ketiga merupakan jurnal yang ditulis oleh Sukma Bintang Cahyani dengan judul “Faktor-Faktor Manuver Politik Qatar dalam Penguatan Aliansi dengan Iran Pasca Kasus Krisis Diplomatik Qatar tahun 2017”.18 Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan proses pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Balance of Power (kesimbangan kekuasaan) neo-realis yang dijelaskan melalui empat faktor berdasarkan analisis teori, diantaranya: faktor keamanan, inefisiensi faktor GCC, faktor Trump dan faktor LNG. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab apa saja faktor pendorong Qatar untuk mengambil resiko politik dalam pengambilan keputusannya untuk memperkuat aliansinya dengan Iran daripada memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Kuartet anti-Qatar. Hasilnya terbukti bahwasanya manuver politik Qatar bisa terlihat pada peningkatan kekuatannya dalam menghadapi ancaman Kuartet Anti-Qatar yang tetap bertahan dalam struktur regional melalui kedekatannya dengan Iran.
Penelitian keempat merupakan laporan penelitian yang menjelaskan mengenai upaya Qatar dalam menghadapi krisis diplomatik. Penelitian yang ditulis Dhea Mey Diaty ini berjudulkan “Upaya Qatar dalam Menghadapi
18 Sukma Bintang Cahyani, 2019, Faktor-Faktor Manuver Politik Qatar Dalam Penguatan Aliansi Dengan Iran Pasca Kasus Krisis Diplomatik Qatar Tahun 2017, Journal of International Relations, Vol, 5, No, 3, 2019
12
Pemutusan Diplomatik yang dipelopori oleh Arab Saudi (2017)”.19 Penelitian ini menggunakan teori aliansi dalam menggambarkan upaya pemerintah Qatar dalam menghadapi pemutusan hubungan diplomatik pada tahun 2017. Dalam teori ini penulis menjelaskan bagaimana pasca krisis diplomatik, Qatar menggunakan kerjasamanya bersama Iran sebagai penguatan ekonomi pasca krisis. Penulis juga mengaplikasikan pendekatan konsep revitalisasi yang dikaitkan dengan upaya Qatar dalam melakukan perubahan kebijakan negaranya guna membangkitkan perekonomiannya. Beberapa hasil yang didapatkan penulis dari penelitian ini yakni, Qatar dalam upayanya mempertahankan perekonomiannya melalui dua cara: yakni menjalin aliansi serta mencari pemasok baru guna memenuhi kebutuhan komoditas dalam negeri bersama Turki, India, Oman, Kuwait, Iran, Pakistan, dan Amerika Serikat. Berikutnya Qatar juga melalui peran pemerintah melakukan upaya dalam merevitalisasi kebijakan dalam meningkatkan investasi asing.
Penelitian kelima oleh Niqa Hauma membahas mengenai kebijakan yang diambil Qatar sebagai pemulihan dampak krisis. Judul Skripsi ini yakni
“Kebijakan Luar Negeri Qatar Terkait Krisis Teluk dengan Arab Saudi”.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari studi pustaka dengan menggunakan buku tentang pembentukan kebijakan luar negeri dan juga jurnal ilmiah mengenai konflik antara kedua negara Qatar dan Arab Saudi. Peneliti juga menggunakan informasi dari media massa,
19 Dhea Mey Diaty, 2019, Upaya Qatar dalam Menghadapi Pemutusan Hubungan Diplomatik yang Dipelopori oleh Arab Saudi (2017), Skripsi, Surabaya: Prodi Hubungan Internasional, Universitas Airlangga.
13
artikel, dan internet. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori Realisme Neo-Klasik yang menjelaskan realita fenomena, ketika negara kecil yakni Qatar berusaha mengatasi ancaman yang datang dari negara berkekuatan besar yakni Arab Saudi. Qatar terbukti mampu menghadapi koalisi Arab Saudi sedangkan Arab Saudi dilain sisi tidak bisa menunjukan dominasi yang selama ini ia lakukan di kawasan Timur Tengah.
Penelitian keenam dibahas oleh Salsabila Arini Kusuma, Chandra Purnama, Wawan Budi Darmawan, dengan judul “Diplomasi Publik dan Media:
Penggunaan Jaringan Penyiaran Al-Jazeera dalam Krisis Diplomatik Qatar 2017-2019”.20 Dalam jurnal tersebut dijelaskan bagaimana diplomasi publik yang dilakukan Qatar melalui jaringan Al-Jazeera dengan menggunakan konsep “Tiga Dimensi Diplomasi Publik” oleh Joseph S. Nye, diantaranya: komunikasi rutin, komunikasi strategis, dan komunikasi jangka panjang. Pertama, komunikasi rutin dalam pelaksanaannya memberikan suguhan informasi yang berimbang serta responsif guna menjawab seluruh tuduhan yang datang ke Qatar melalui media Al-Jazeera. Pemerintah Qatar juga memanfaatkan media tersebut dalam pemberitaan internal pemerintahan yang meliputi kebijakan-kebijakan baik domestik maupun kebijakan luar negeri sebagai upaya mengatasi krisis. Kedua, dimensi komunikasi strategis sebagai upaya pemerintah Qatar, melalui peran media Al-Jazeera dalam mengembalikan atau re-branding citra Qatar di mata masyarakat global. Terakhir, komunikasi jangka panjang melalui berbagai
20 Salsabila Arini Kusuma, Chandra Purnama, & Wawan Budi Darmawan, Diplomasi Publik dan Media: Penggunaan Jaringan Penyiaran Al-Jazeera dalam Krisis Diplomatik Qatar 2017-2019, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol, 10, No, 2 (2020) Bandung: Universitas Padjajaran.
14
kegiatan seperti pertukaran pelajar dan beasiswa oleh QF, Doha Forum, serta pelatihan dan beasiswa oleh AJMI, yang memainkan peranannya dalam memberikan pandangan dan pemahaman terkait posisi Qatar dalam krisis diplomatik Qatar. Hal ini juga dinilai sebagai branding Qatar atas kontribusinya dalam bidang pendidikan yang sejalan dengan Qatar National Vision 2030.
Penelitian ketujuh oleh Sri Wahyuni, Shireen Safa Bawa Baharuddin membahas mengenai “The Impact of the GCC Boycott On Qatar Foreign Policy”.21 Qatar pasca krisis diplomatik memainkan beberapa strategi berbeda, diantaranya negara kecil ini menambahkan diplomasi hard power jika diperlukan di dalam diplomasi soft power yang selama ini Qatar jalankan, inilah yang disebut dengan smart power. Dalam bidang militer negara ini telah menyiapkan dukungan back up Iran, Turki, dan pangkalan angkatan udara AS di Doha. Emir Sheikh
Tamim bin Hamad Al Thani juga tidak pernah memperlihatkan kecenderungan Qatar untuk mundur dalam medan perang dingin Teluk, bahkan Qatar mampu memenangkan tawaran untuk menjadi tuan rumah dalam piala dunia sepak bola 2022.
Penelitian kedelapan oleh Umu Quro’atul Alvin Masfiya dengan judul
“Pemutusan Hubungan Diplomatik Qatar oleh Arab Saudi tahun 2017 dalam tinjauan Ekonomi Politik Internasional”.22 Penelitian ini membahas bagaimana pertumbuhan ekonomi Qatar mampu menjadi pemicu terjadinya
21 Sri Wahyuni & Shireen Safa Bawa Baharuddin, The Impact of the GCC Boycott On Qatar Foreign Policy, Jurnal Transformasi Global, Vol, 4, Malaysia: International Islamic University Malaysia.
22 Umu Quro’atul Alvin Masfiya, 2018, Pemutusan Hubungan Diplomatik Qatar oleh Arab Saudi tahun 2017 dalam tinjauan Ekonomi Politik Internasional, Skripsi, Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
15
pemutusan hubungan diplomatik. Qatar juga banyak menjalin kerjasama dengan negara-negara diluar kawasan teluk, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, maupun militer. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran Arab Saudi yang nantinya akan mempengaruhi stabilitas hegemoninya di kawasan. Hal ini ditambah dengan sikap politik yang diambil Qatar dalam merangkul Iran sebagai kawan. Beberapa tuntutan yang dilayangkan Arab Saudi dan negara- negara teluk lainnya dinilai merupakan langkah strategis Arab Saudi dalam menekan upaya Qatar untuk menjadi kekuatan baru atau hegemoni potensial di kawasan Timur Tengah.
Penelitian kesembilan oleh Febriandi dengan judul “Kegagalan Diplomasi Koersif Arab Saudi terhadap Qatar”.23 Dalam penelitian ini menjelaskan bagaimana kegagalan Arab Saudi dalam melakukan diplomasi koersif bersama negara-negara Teluk lainnya. Melalui konsep coercive diplomacy oleh Alexander L. George penulis menjabarkan bagaimana Qatar sebagai rising state melakukan aliansi dengan Iran dan Turki. Poros Ankara-Teheran dalam peta
krisis diplomatik sudah sangat cukup mengimbangi hegemon Arab Saudi di Timur Tengah. Walaupun dalam aspek militer Qatar belum mampu menyeimbangi kekuatan negara agresi, akan tetapi strategi militer yang diberikan Qatar sudah mampu meningkatkan promosi atas strategi militer yang mandiri. Faktanya ultimatum serta kekuatan militer yang dimiliki Arab Saudi tidak membuat Qatar gentar, terlebih dengan blokade yang dilakukan oleh negara-negara Teluk.
23 Febriandi, Kegagalan Diplomasi Koersif Arab Saudi terhadap Qatar, Indonesian Journal of International Relations, Vol, 2, No, 1 (Mei 2018) Depok: Universitas Indonesia.
16
Penelitian kesepuluh “Pemulihan Hubungan Diplomatik Qatar terhadap Iran tahun 2017”.24 Penelitian oleh Muhammad Aganindra Pratama ini menjelaskan bagaimana sejarah hubungan bilateral Qatar dan Iran serta pemulihan hubungan keduanya yang sempat renggang dalam beberapa bulan lamanya. Salah satu faktor yang dipertimbangkan Qatar dalam pemulihan kebijakannya dengan Iran yakni kepemilikan Ladang Gas- Kondensat Selatan Pars/ North Dome, ladang gas terbesar di dunia. Qatar sendiri memiliki 13% cadangan gas di dunia yang per harinya memproduksi hingga 650 juta meter kubik gas, sedangkan Iran per harinya mampu menghasilkan produksi hingga 5.750 juta meter kubik gas.
Pemulihan hubungan keduanya pasca krisis diplomatik Qatar 2017, ditandai dengan bantuan yang diberikan Teheran kepada Qatar berupa makanan serta perizinan lalu lintas baik laut, darat, maupun udara di wilayahnya untuk dilintasi maskapai Qatar. Negara ini juga mengembalikan duta besarnya untuk Teheran setelah absen 20 bulan lamanya.
Persamaan penelitian sebelumnya dengan fokus bahasan yang akan diteliti, yakni membahas subjek yang sama terkait “Krisis Diplomatik Qatar pada tahun 2017”. Perbedaannya terletak pada fokus penelitian serta pendekatan yang digunakan penulis dalam meneliti alasan mengapa Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran, melalui alat analisis konsep Kepentingan Nasional oleh Donald E. Nuechterlein.
24 Muhammad Aganindra Pratama, 2018, Pemulihan Hubungan Diplomatik Qatar terhadap Iran tahun 2017, Skripsi, Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
17
Tabel 1.1. Posisi Penelitian
No Judul Penelitian Jenis Penelitian dan
Alat Analisa Hasil Penelitian 1. Jurnal: Motivasi
Negara Dewan Teluk (Arab Saudi, UEA, dan Bahrain) Menarik Duta Besarnya di Qatar pada tahun 2014
Oleh: Sijekto
Deskriptif Teori Hegemoni
● Kedekatan antara Qatar dengan Yusuf Al- Qordhawi, telah membuat negara kecil ini banyak menampung Ikhwanul Muslimin di Doha, memberikan bantuan baik secara finansial, maupun perlindungan melalui media Al-Jazeera.
● Qatar dianggap melanggar perjanjian GCC untuk tidak mendukung kelompok manapun dan siapapun yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan
2. Jurnal: Dampak Kebijakan Embargo Negara Arab terhadap Situasi Ekonomi Qatar
Oleh: Fajar Anugrah Tumanggor
Deskriptif Teori Realis
● Beberapa sektor internal Qatar ikut terkena dampak, seperti: minyak bumi, penerbangan,
pelayaran, pasar, saham, pangan, keuangan, asuransi, dan bank.
3. Jurnal: Faktor-Faktor Manuver Politik Qatar dalam Penguatan
Deskriptif Konsep Balance of Power
Manuver politik Qatar bisa terlihat pada peningkatan
kekuatannya dalam
18 Aliansi dengan Iran
Pasca Kasus Krisis Diplomatik Qatar tahun 2017
Oleh: Sukma Bintang Cahyani
menghadapi ancaman Kuartet Anti-Qatar yang tetap bertahan dalam struktur regional melalui kedekatannya dengan Iran.
4. Skripsi: Upaya Qatar dalam Menghadapi Pemutusan
Diplomatik yang dipelopori oleh Arab Saudi (2017)
Oleh: Dhea Mey Diaty
Teori Aliansi Konsep Revitalisasi
Qatar dalam upayanya mempertahankan
perekonomiannya melalui dua cara: yakni menjalin aliansi serta mencari pemasok baru
guna memenuhi
kebutuhan komoditas dalam negeri bersama Turki, India, Oman, Kuwait, Iran, Pakistan, dan Amerika Serikat.
Berikutnya Qatar juga
melalui peran
pemerintah melakukan
upaya dalam
merevitalisasi kebijakan dalam meningkatkan investasi asing.
5. Skripsi: Kebijakan Luar Negeri Qatar terkait Krisis Teluk dan Arab Saudi
Oleh: Niqa Hauma
Deskriptif
Teori Realisme Neo- Klasik
● Qatar berusaha mengatasi ancaman yang datang dari negara berkekuatan besar yakni Arab Saudi.
Qatar terbukti mampu menghadapi koalisi Arab Saudi sedangkan Arab Saudi dilain sisi tidak bisa menunjukan dominasi yang selama ini ia lakukan di kawasan Timur
19
Tengah.
6. Jurnal: Diplomasi Publik dan Media:
Penggunaan Jaringan Penyiaran Al-Jazeera
dalam Krisis
Diplomatik Qatar 2017-2019
Oleh: Salsabila Arini Kusuma, Chandra Purnama, Wawan Budi Darmawan
Pendekatan Diplomasi Publik
● Diplomasi Qatar melalui peran Al Jazeera dalam menghadapi krisis diplomatik tahun 2017- 2019, dijelaskan melalui “Tiga Dimensi Diplomasi Publik”
yakni:
● Pertama, komunikasi
rutin dalam
pelaksanaannya
memberikan suguhan informasi yang berimbang serta responsif guna menjawab seluruh tuduhan yang datang ke Qatar melalui media Al-Jazeera. Pemerintah
Qatar juga
memanfaatkan media tersebut dalam pemberitaan internal pemerintahan yang meliputi kebijakan- kebijakan baik domestik maupun kebijakan luar negeri sebagai upaya mengatasi krisis.
● Kedua, dimensi komunikasi strategis sebagai upaya pemerintah Qatar, melalui peran media Al-Jazeera dalam mengembalikan atau
20
re-branding citra Qatar di mata masyarakat global.
● Terakhir, komunikasi jangka panjang melalui berbagai kegiatan seperti pertukaran pelajar dan beasiswa oleh QF, Doha Forum, serta pelatihan dan beasiswa oleh AJMI, yang memainkan peranannya dalam memberikan pandangan dan pemahaman terkait posisi Qatar dalam krisis diplomatik Qatar.
Hal ini juga dinilai sebagai branding Qatar atas kontribusinya
dalam bidang
pendidikan yang sejalan dengan Qatar National Vision 2030.
7. Jurnal: The Impact of the GCC Boycott on Qatar Foreign Policy
Oleh: Sri Wahyuni, Shireen Safa Bawa Baharuddin
Foreign Policy ● Qatar menambahkan diplomasi hard power jika diperlukan di dalam diplomasi soft power yang selama ini Qatar jalankan, inilah yang disebut dengan smart power
● Dalam bidang militer Qatar juga telah menyiapkan dukungan back up Iran, Turki, dan pangkalan angkatan udara AS di Doha
21 8. Skripsi: Pemutusan
Hubungan Diplomatik Qatar oleh Arab Saudi pada tahun 2017 dalam tinjauan Ekonomi Politik Internasional
Oleh: Umu Quro’atul Alvin Masfiya
Eksplanatif
Ekonomi Politik Internasional
● Pertumbuhan ekonomi Qatar mampu menjadi pemicu terjadinya pemutusan hubungan diplomatik
● Qatar dinilai Arab Saudi sebagai the rising hegemon di kawasan
● Tiga belas tuntutan yang dilayangkan Arab Saudi dan negara- negara teluk lainnya dinilai merupakan langkah strategis Arab Saudi dalam menekan upaya Qatar untuk menjadi kekuatan baru atau hegemoni potensial di kawasan Timur Tengah
9. Jurnal: Kegagalan Diplomasi Koersif Arab Saudi terhadap Qatar
Oleh: Febriandi
Deskriptif
Coercive Diplomacy
● Poros Ankara-Teheran dalam peta krisis diplomatik sudah
sangat cukup
mengimbangi
hegemoni Arab Saudi di Timur Tengah
● Faktanya, ultimatum serta kekuatan militer yang dimiliki Arab Saudi tidak membuat Qatar gentar, terlebih dengan blokade yang dilakukan oleh negara- negara Teluk.
10. Skripsi: Pemulihan Hubungan Diplomatik Qatar terhadap Iran
Rational Choice ● Salah satu faktor yang dipertimbangkan Qatar dalam pemulihan kebijakannya dengan
22 tahun 2017
Oleh: Muhammad Aganindra Pratama
Iran yakni kepemilikan
Ladang Gas-
Kondensat Selatan Pars/ North Dome, ladang gas terbesar di dunia.
● Qatar sendiri memiliki 13% cadangan gas di dunia yang per harinya memproduksi hingga 650 juta meter kubik gas, sedangkan Iran per harinya mampu menghasilkan produksi hingga 5.750 juta meter kubik gas
1.6 Landasan Teori/ Konseptual
1.6.1 Teori Kepentingan Nasional Donald E. Nuechterlein
Kepentingan Nasional atau biasa disebut dengan raison d’Etat dalam bahasa Prancis, diartikan sebagai tujuan dan ambisi suatu negara baik dalam bidang ekonomi, militer maupun budaya.25 Seluruh negara dan bangsa tanpa terkecuali akan terus terlibat dalam proses “memenuhi dan mengamankan”
kepentingan nasional negaranya. Menurut aliran arus utama dalam Studi
25 Bainus, Arry, & Junita Budi Rachman, Editorial: Kepentingan Nasional dalam Hubungan Internasional, Intermestic: Journal of International Studies, Vol, 2, No, 2 (2018): 109.
https://doi.org/10.24198/intermestic.v2n2.1.
23
Hubungan Internasional, konsep ini penting sebagai dasar bagi setiap negara dalam melakukan hubungan internasional.26
Konsep ini juga sangat erat kaitannya dengan pandangan para pemikir realis, dimana kepentingan nasional diartikan sebagai upaya suatu negara untuk mengejar power. Dalam hal ini power digunakan sebagai instrumen dalam mempertahankan keamanan nasional dan survival: melindungi identitas fisik, politik, dan budaya mereka dari perambahan negara lain.27
Kepentingan nasional sendiri pada dasarnya masih belum memiliki definisi yang pasti, para pemikir hubungan internasional cenderung memiliki persepsi sendiri dalam menentukan pengertian dari kepentingan nasional walaupun diantaranya memiliki artian yang sama. Menurut Donald E.
Nuechterlein kepentingan nasional diartikan sebagai kebutuhan dan keinginan yang pasti dirasakan dari sebuah negara yang berdaulat dalam hubungannya dengan negara-negara berdaulat lainnya yang sekaligus melibatkan lingkungan eksternalnya.28
Berdasarkan definisi Donald E. Nuechterlein ada beberapa poin yang harus dipahami: Pertama, bahwa definisi tersebut berbicara mengenai persepsi kebutuhan negara yang mengisyaratkan bahwa keputusan yang menjadi kepentingan nasional, merupakan hasil dari proses politik yang melibatkan persepsi atau pandangan pemimpin, walaupun akan berbeda hasilnya tetapi akan
26 Ibid
27 Ibid
28 Donald E. Nuechterlein, National interests and foreign policy: A conceptual framework for analysis and decision-making, Brit. J. International Studies, Vol, 2, No, 3 (Oct., 1976), London:
Cambridge University Press, hal. 247
24
tetap sampai pada kesimpulan dari kepentingan tersebut. Kedua, definisi ini membahas mengenai negara yang berdaulat atau negara yang sepenuhnya merdeka, bukan dengan organisasi internasional atau kelompok kepentingan, karena kita masih menyetujui adanya konsensus di mana keputusan untuk memberlakukan pembatasan perdagangan, dan memasuki aliansi hanya bisa dilakukan oleh pemerintah negara yang berdaulat baik dilakukan secara demokrasi maupun secara paksa. Ketiga, definisi ini memberikan pembeda antara batas lingkungan eksternal dan lingkungan internal (domestik) negara. Terakhir, definisi ini menyiratkan bahwa kepentingan yang dimaksud merupakan kepentingan negara secara keseluruhan, bukan kelompok swasta, birokrasi maupun organisasi politik.29
Konsep kepentingan nasional secara substansi bermuatan politik selama dunia secara politis diorganisasikan kedalam organisasi negara. Beberapa elemen penting digambarkan dan dijabarkan Nuechterlein, seperti empat kebutuhan dasar dari sebuah kepentingan nasional yang tergambarkan melalui kebijakan luar negerinya, diantaranya:
1. Defense Interest: kepentingan pertahanan merupakan kepentingan yang didasarkan atas perlindungan negara terhadap kedaulatan negara serta jaminan keselamatan atas warganya dari segala bentuk ancaman. Bentuk ancaman yang datang pun beragam, seperti ancaman kekerasan fisik (physical violence) yang berasal dari negara lain baik secara langsung
29 Ibid
25
maupun tidak langsung dan dianggap dapat mengganggu keberlangsungan pemerintahan suatu negara.
2. Economic Interest: kepentingan ekonomi merupakan kepentingan yang mengupayakan peningkatan kesejahteraan ekonomi negara dalam kaitannya dengan aktivitas hubungan internasional. Dalam mewujudkan kepentingan ini, diperlukan kerjasama antar negara baik secara bilateral maupun multilateral guna meningkatkan perekonomian negara.
3. World Order Interest: kepentingan tatanan dunia merupakan kepentingan kepentingan yang bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara suatu sistem politik dan ekonomi internasional agar negara (internal) dapat merasa aman, masyarakat juga dapat melakukan perdagangan dan beroperasi secara damai di luar perbatasan.
4. Ideological Interest: kepentingan ideologi merupakan kepentingan yang bertujuan untuk memberikan perlindungan dan penjagaan atas nilai-nilai dan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat dan diyakini oleh negara secara universal. Dalam hal ini, negara beranggapan bahwa nilai dan kepercayaan tersebut baik dan sangat penting untuk dijaga dan dijadikan sebagai nilai-nilai dalam lingkup internasional. Walaupun pada dasarnya setiap negara memiliki nilai-nilai dan keyakinannya sendiri yang sudah tertanam sejak lama, untuk itu masing-masing negara tentu akan berusaha mempertahankan keyakinannya.30
30 Ibid
26
Keempat kebutuhan dasar kepentingan nasional inilah yang akan menilai bagaimana sebuah negara berperilaku. Setelah mengidentifikasi empat kebutuhan dasar kepentingan nasional, penulis akan menentukan tingkat prioritas atau intensitas kepentingan berdasarkan identifikasi diatas. Menurut Nuechterlein ada empat tingkat prioritas atau intensitas kepentingan, diantaranya:
1. Survival Issue: membicarakan mengenai keadaan negara yang benar- benar dalam situasi terancam. Ancaman tersebut datang dari situasi dimana negara mendapatkan serangan baik secara fisik maupun serang militer yang juga membahayakan kedaulatan negara tersebut. Beberapa indikator suatu konflik dapat dikategorikan sebagai survival issue, yakni apabila situasi menjadi sangat terdesak sehingga waktu yang dimiliki tidak cukup banyak untuk memutuskan sesuatu, adanya ancaman keamanan yang nyata yang mampu mengganggu kedaulatan negara dan masyarakat, dan terakhir adanya serangan baik secara fisik maupun militer yang dilakukan secara masif. Secara lanjut Nuechterlein mengkategorikan, defense interest yang menjadi satu-satunya kebutuhan dasar kepentingan
nasional yang sesuai dengan intensitas minat ini.
2. Vital Issue: yakni sebuah keadaan di mana negara terancam dengan berbagai situasi yang mampu membahayakan wilayah serta kedaulatannya, dan hanya dapat disingkirkan dengan menggunakan tindakan-tindakan keras (strong measures), termasuk didalamnya penggunaan kekuatan militer konvensional yang dilakukan sebagai upaya membendung tindakan provokasi yang serius. Perbedaan mendasar antara vital issue dengan
27
survival issue yakni terletak pada waktu, di mana vital issue masih
memiliki waktu yang cukup yang diperuntukkan negara dalam mencari pertolongan kepada negara-negara sekutu dan masih memungkinkan untuk dilaksanakannya dialog dan negosiasi dengan negara yang mengancam.
3. Major Issue: yakni sebuah keadaan di mana stabilitas politik, ekonomi, dan ideologi suatu negara terganggu dan mendapat dampak negatif dari peristiwa internasional, yang secara tidak langsung menuntut negara mengambil langkah preventif sebagai upaya pencegahan masalah sebelum memasuki tahap yang lebih serius. Keadaan ini juga dianggap serius karena berpotensi mengancam suatu kedaulatan negara. Sebagian besar masalah yang tergolongkan dalam major issue diselesaikan dengan cara negosiasi diplomatik, namun ketikan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi tidak berhasil maka tahap intensitas konflik akan mencapai tahap yang berbahaya (vital issue). Beberapa konflik yang diklasifikasikan masuk dalam major issue yakni isu ekonomi dan ideologi.
4. Peripheral Issue: yakni suatu kondisi di mana kedaulatan negara tidak terganggu oleh konflik yang bersangkutan ataupun peristiwa internasional yang berada di luar negara, namun warga negara dan pihak privat seperti perusahaan milik negara yang beroperasi di luar negara tersebut mendapatkan dampak secara signifikan.31
Dalam mengkategorisasikan kepentingan tersebut dalam tingkatan prioritas, penting sekiranya memperhatikan tindakan yang diambil oleh negara
31 Ibid
28
terkait isu yang diangkat, serta bagaimana respon negara yang mengindikasikan fokus atau minat yang diinginkan negara tersebut.
Intensitas dari sebuah kepentingan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mampu menentukan tinggi rendahnya suatu intensitas sebuah kepentingan nasional, tidak heran intensitas minat dari sebuah kepentingan nasional sering berubah-ubah berdasarkan kondisi dan situasi yang sedang terjadi saat itu.
Nuechterlein menjelaskan beberapa macam faktor yang mempengaruhi para pembuat kebijakan dalam menentukan kepentingan nasional dalam sebuah isu yang dihadapi. Fakor-faktor tersebut terbagi atas: values factors dan cost factors, yang masing-masingnya terbagi lagi menjadi 8 poin.
Values Factors
Values factor merupakan faktor yang mampu mempengaruhi keputusan
kebijakan suatu pemimpin negara dalam memutuskan perkara guna mengetahui apakah kebijakan yang diambil memiliki nilai yang sepadan. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
● Proximity of the danger: faktor ini cenderung diaplikasikan untuk defense dan world order interest dibandingkan dengan economy dan ideological interest. Negara memperhitungkan dan mempertimbangkan jarak teritorial
negara yang mendatangkan ancaman, bagi keamanan negaranya. Semakin dekat negara yang mendatangkan ancaman dengan negara tersebut, maka semakin meningkat status bahaya negara tersebut.
29
● Nature of threat: dalam faktor ini negara melalui tindakannya secara bebas menyesuaikan dengan sifat dari suatu ancaman yang datang dan dinilai mampu mempengaruhi kepentingannya.
● Economic stake: faktor ini secara jelas menggambarkan adanya hubungan antara perdagangan dan investasi suatu negara terhadap negara lain yang didasarkan atas kepentingan. Pertukaran kepentingan-kepentingan yang dilakukan oleh masing-masing negara dinilai sebagai sebuah upaya dalam melindungi serta mempertahankan investasi suatu negara di luar negaranya agar terbebas dari ancaman.
● Sentimental attachment: faktor ini mempengaruhi pengambilan kebijakan yang berdasarkan pada sentimen individu atau kelompok. Sebuah contoh negara-negara seperti Australia, Kanada dan Amerika Serikat yang dalam pengambilan keputusan terkait kepentingan nasional, justru banyak dipengaruhi oleh latar belakang warga negara yang heterogen.
● Type of government: faktor ini menitikberatkan pada ideological interest suatu negara, dimana dalam perumusan kebijakan negara yang menganut paham komunis/sosialis lebih mudah dimobilisasi dibandingkan dengan negara demokrasi yang lebih membela hak-hak individu.
● Effect on balance of power: faktor ini menjadi salah satu faktor penting dalam pembuatan kebijakan. Salah satu dari empat dasar kepentingan nasional yakni world order interest menjadi alasan utama atas keamanan bersama, walaupun pada akhirnya akan berdampak pada economy dan defense interest. Dalam faktor ini dijelaskan bahwasannya tidak ada negara
30
dengan berkekuatan kecil terabaikan oleh negara-negara dengan berkekuatan besar (great power), hal ini dikarenakan perilaku dan tindakan dari negara- negara kecil mampu memberikan dampak terhadap keseimbangan kekuatan dunia.
● National prestige: faktor ini menjadi penting bagi negara-negara super power guna meningkatkan prestige dalam tatanan internasional. Mengatur dan mempertahankan citra untuk menjadi sebuah negara yang dapat dipercaya, realistis dalam mengejar tujuan serta untuk mempertahankan dukungan politik di dalam negerinya.
● Attitudes of allies and friend: sedikitnya faktor ini mampu mempengaruhi keputusan kebijakan suatu negara atas opini dan tindakan yang diambil oleh negara-negara sahabat. Kebanyakan faktor ini diaplikasikan kepada negara demokrasi yang bebas berpendapat.32
Cost Factors
Cost factors merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh
terhadap pemutusan kebijakan atas dasar pertimbangan dana yang dikeluarkan dan peluang berhasilnya mengejar kepentingan nasional, serta melihat harga yang harus dibayarkan apabila negara tetap akan mengejar kepentingan yang kemudian menimbulkan konflik. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
● Economic cost of conflict: faktor ini cenderung fokus pada isu economy dan world order interest yang menimbulkan beberapa dampak akibat timbulnya
32 Ibid
31
konflik, diantaranya embargo perdagangan, sanksi ekonomi dan intervensi pembatasan persenjataan. Dalam beberapa kasus, negara yang mengambil tindakan tersebut tak ayal menanggung beban biaya ekonomi negara yang tidak sedikit.
● Number of troops needed: faktor ini cenderung fokus pada defense interest, atas kebutuhan negara dalam menambah pasukan. Misalnya jika terjadi intervensi militer maka yang harus dipertimbangkan yakni konsekuensi serta resiko jumlah korban yang nantinya akan terkena dampak.
● Probable duration of hostilities: faktor ini terkait dengan faktor kedua, karena jika semakin lama suatu konflik, maka semakin besar juga korban jiwa dan semakin besar kebutuhan negara dalam memperbesar kekuatan dengan salah satunya menambah pasukan. Beberapa negara mungkin terlewat sadar ketika dalam pengambilan keputusan, bahwa perang akan memakan waktu yang lama serta mahal, dan lebih mengira bahwa konflik akan diselesaikan dengan kekuatan yang lebih sedikit dengan waktu yang singkat.
● Risk of enlarged conflict: faktor ini bisanya menjadi penting dalam mempertimbangkan resiko yang akan timbul karena kekuatan militer yang terbatas, di mana kesalahan perhitungan atau strategi mampu memicu resiko konflik yang tidak berkesudahan dan mahal. Maka dari itu, dibutuhkan good intelligence dalam menentukan strategi konflik dalam skala besar guna menghindari konflik yang lebih besar karena tentunya biaya yang dikeluarkan juga pasti besar.
32
● Likelihood of success: faktor ini terkait erat dengan pertimbangan keberhasilan atas tercapainya kepentingan nasional suatu negara, dengan membawa pertanyaan apakah kekuatan konvensional yang terbatas mampu membawa negara tersebut pada hasil yang diinginkan atau apakah tujuan tersebut cukup penting untuk menanggung resiko dengan menggunakan taktik perang. Faktor ini cenderung berfokus pada world order interest, dimana keamanan wilayah dan kedaulatan negara menjadi salah satu pertimbangan.
● Reaction of domestic public opinion: faktor ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan bagi negara-negara yang menganut faham demokrasi. Reaksi masyarakat domestik dapat dilihat dari opini publik yang marak beredar dan digunakan sebagai alat dalam menentang peperangan maupun konflik itu sendiri.
● World reaction: Jika sebelumnya reaksi datang dari masyarakat domestik, beda halnya dengan world reaction factor dimana reaksi tersebut datang dari masyarakat global, terutama dengan isu-isu yang menjadi fokus utama PBB.
Pembuat kebijakan tentunya akan mempertimbangkan sejauh mana pandangan global mempengaruhi keputusannya hingga menyimpulkan kebijakan yang terkait dengan kepentingan nasionalnya layak diperjuangkan atau tidak.
● Impact of internal politic: faktor ini biasanya berkaitan dengan politik internal suatu negara dengan pemimpin nasionalnya, sehingganya dukungan politik internal mampu mempengaruhi kepentingan nasional. Dukungan politik yang terbatas memiliki resiko yang tinggi dibandingkan dengan
33
luasnya dukungan politik. Sehingga tak banyak pemimpin dalam pengambilan kebijakannya terkait suatu konflik kepentingan, melibatkan dukungan non-partisan untuk membagi tanggung jawab atas biaya yang akan dikeluarkan.33
Berdasarkan penjelasan di atas, teori kepentingan nasional mampu dijadikan sebagai pisau analisis, dalam menganalisa topik penelitian yang menjelaskan sikap Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik 2017, menjadi salah satu perwujudan kepentingan nasionalnya.
1.7 Metode Penelitian
1.7.1 Tipe Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode eksplanatif. Prasetyo dan Mifatahul dalam bukunya mengatakan bahwa penelitian eksplanatif dilakukan untuk menemukan kausalitas, mengapa sesuatu fenomena bisa terjadi atau sebuah gejala yang membuktikan adanya hubungan saling dipengaruhi dan mempengaruhi.34 Setelah itu penulis menginterpretasi kembali data-data yang sudah dikumpulkan dengan menambahkan pemahaman serta sudut pandang dalam menganalisa hasil. Pada penelitian ini, penulis melakukan eksplorasi terhadap faktor kepentingan nasional yang mempengaruhi keputusan Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik tahun 2017.
33 Ibid
34 Bambang Prasetyo & Lina Miftahul Zannah, 2005, Teori dan Aplikasi Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
34 1.7.2 Level Analisis
Pentingnya menetapkan level analisis dalam hubungan internasional, yakni kita mampu memahami tindakan politik luar negeri suatu negara, yang disusun dalam beberapa pertanyaan, misalnya; (1) apakah tindakan Individu (perilaku) itu merefleksikan preferensi individu sebagai seorang pemimpin negara; (2) apakah tindakan tersebut merupakan hasil kekuatan politik dan birokrasi negara tersebut;
(3) apakah perilaku tersebut memang menjadi resonansi dari kepentingan nasional yang juga dijadikan sebagai landasan dalam membuat kebijakan nasional; (4) apakah perilaku negara itu hanya merupakan respon atas situasi yang terjadi di dalam sistem regional maupun global.
Level analisis juga berfokus pada unit analisis dan unit eksplanasi. Unit analisis itu sendiri merupakan suatu objek yang perilakunya hendak dianalisa, disebut juga sebagai variabel dependen dimana variabel ini dalam keberadaannya dipengaruhi oleh variabel lainnya. Sedangkan, unit eksplanasi merupakan suatu objek yang hendak mempengaruhi unit analisa. Oleh karenanya, unit eksplanasi disebut juga sebagai variabel independen.
Adapun berbagai tingkat analisa menurut R.F. Hopkins & R.W.
Mansbach, diantaranya analisa Reduksionis, Korelasionis, dan Induksionis.
Analisa reduksionis yakni variabel independennya berada pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan variabel dependennya. Analisa korelasionis yakni antara variabel independen dan dependen berada pada tingkat yang sama. Terakhir
35
analisa induksionis yakni variabel independen berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel dependennya.35
Variabel dependen atau unit analisa dalam penelitian ini adalah kebijakan Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran, sedangkan variabel Independen atau unit eksplanasinya adalah alasan yang mempengaruhi kebijakan tersebut, yang berfokus pada kepentingan nasional Qatar. Untuk itu dapat disimpulkan tingkat analisa pada penelitian ini yakni korelasionis.
1.7.3 Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif.
Metode pendekatan Kualitatif sendiri merupakan sebuah mekanisme dan proses dalam sebuah penelitian, dengan menggambarkan berbagai fenomena-fenomena sosial melalui pengamatan di lapangan, menganalisisnya dan kemudian berupaya melakukan teorisasi berdasarkan apa yang diamatinya tersebut. Penelitian ini hanya terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah dengan keadaan apa adanya. Tujuannya guna memberikan gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat terkait fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang akan diteliti.36
Pendekatan kualitatif digunakan ketika data yang dibutuhkan tidak perlu dikuantifikasikan. Adapun ciri-ciri dari penelitian kualitatif yang dijelaskan secara teratur:
35 Raymond F. hopkins and Richard W Mansbach, 1973, Structure and Process in International Politics, New York: Harper & Row.
36 Afifudin dan Beni, 2009, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 56- 58.
36
1. Bersifat alamiah, hal ini terjadi sesuai sifat alamiah yang menghendaki kenyatan-kenyatan sebagai sesuatu yang utuh dan tidak bisa dipahami ketika dipisahnya dari konteksnya;
2. Manusia sebagai alat instrumen, dalam penelitian ini sang peneliti menjadi salah satu pemeran utama dan proses pengumpulan data dengan bantuan orang lain. 37
Dalam penelitian ini, penulis berorientasi pada pendapat Charmaz yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif tidak selalu dijadikan sebagai penelitian guna membangun teori atau men generalisasi teori, tetapi bisa juga teori digunakan untuk melakukan penyelidikan secara mendalam untuk mendapatkan jawaban permasalahan. Tujuan penulis menggunakan tipe penelitian kualitatif yakni untuk memperluas analisis deskripsi dan untuk menjelaskan alasan mengapa suatu fenomena perubahan dilakukan secara induktif dengan menggunakan konsep dan teori. Pada bagian akhirnya diharapkan muncul pernyataan yang sudah ditelaah secara komprehensif.38
1.7.4 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini hanya bersumber pada satu sumber, yakni data sekunder.
Data sekunder merupakan sumber yang berasal dari buku, dan dari media elektronik seperti jurnal, internet, media massa, serta surat kabar yang membahas mengenai kepentingan Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam
37 Lexy J. Moeleong, 2005, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
38 John W. Creswell, 2013, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
37
krisis diplomatik tahun 2017. Data tersebut akan dianalisa guna menjawab permasalahan dalam penelitian.
Menurut Lofland sumber data yang paling penting dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, sisanya berupa data tambahan seperti dokumen dan sebaginya.39 Oleh karenanya penelitian ini mengambil jenis data berupa kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto dan data statistik.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis berusaha mencari bukti data baik secara numerik ataupun bukti dokumen perjanjian yang dapat dianalisa dengan menggunakan landasan konseptual yang telah ditentukan oleh penulis.
Landasan Konseptual digunakan sebagai sebuah interpretasi hasil data yang sudah berhasil ditemukan, dan dibuatkan kesimpulan dari data yang didapatkan.
1.7.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui library research atau studi kepustakaan yang diperoleh dari buku-buku, jurnal-jurnal, surat kabar, makalah, dokumen, video pidato dan situs-situs resmi yang dimuat di internet yang menjelaskan secara rinci mengenai fokus bahasan tentang krisis diplomatik Qatar 2017 serta kepentingan yang Qatar memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik tahun 2017.
Model penelitian yang digunakan penulis juga menggunakan model penelitian studi kasus yang menggunakan konsep penelitian sebagai bahan analisa yang mampu menjawab permasalahan yang ada dalam pertanyaan masalah. Data yang
39 Masyhuri dan Zainuddin, 2008, Metodologi Penelitian: Pendekatan Praktis dan Aplikatif, Bandung.
38
diambil kemudian disesuaikan dengan topik permasalahan, agar kemudian permasalahan bisa dipahami dan dapat ditampilkan dalam bentuk kesimpulan- kesimpulan, dengan ini diharapkan mampu menjelaskan analisa yang ada pada penelitian ini.
1.8 Ruang Lingkup Penelitian
1.8.1 Batasan Waktu
Penulis dalam penelitian ini membatasi fokus permasalahan yang akan diteliti yakni pada tahun 2017 hingga akhir 2017, karena krisis diplomatik Qatar terjadi pada tahun 2017 terutama kerangka perdamaian yang diberikan Arab Saudi sebagai upaya normalisasi hubungan Qatar dan Negara Kuartet.
1.8.2 Batasan Materi
Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak melebar jauh, maka penulis membatasi dengan fokus pada penjelasan proses pemutusan hubungan diplomatik Qatar oleh negara-negara yang tergabung dalam aliansi yang menyebut diri mereka sebagai anti Qatar dan kepentingan nasional yang mempengaruhi keputusan Qatar menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik tahun 2017.
1.9 Hipotesa
Kepentingan nasional Qatar dalam memilih menguatkan aliansinya bersama Iran dalam krisis diplomatik pada tahun 2017 didasari oleh empat kepentingan dasar yakni defense interest, economy interest, world order interest, dan ideology interest, semuanya dibedakan atas dasar skala prioritas atau
39
intensitas yang dibagi ke dalam empat kategori, yakni survival issue, vital issue, major issue, dan peripheral issue. Qatar dalam pengambilan kebijakannya
cenderung didominasi oleh defense interest yang bersifat vital. Adapun kepentingan lainnya diklasifikasikan sebagai major issue, seperti kepentingan economy dan world order yang turut mempengaruhi pengambilan kebijakan Qatar
dalam merespon krisis diplomatik 2017. Adapun Faktor-faktor yang menjadi tolak ukur suatu kepentingan nasional terbagi dalam empat intensitas kepentingan, yakni value factors dan cost factors. Melalui perhitungan inilah penulis dapat mengetahui kepentingan nasional Qatar dalam tindakannya memilih menguatkan aliansinya bersama Iran pada krisis diplomatik tahun 2017 dikategorisasikan vital.
1.10 Sistematika Penulisan
Tabel 1.2. Sistematika Penulisan
BAB ISI
BAB
I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Penelitian Terdahulu 1.6 Landasan Teori / Konsep
1.6.1 Teori Kepentingan Nasional Donald E. Nuechterlein
40 1.7 Metodologi Penelitian
1.7.1 Tipe Penelitian 1.7.2 Level Analisis 1.7.3 Teknik Analisis Data 1.7.4 Jenis dan Sumber Data 1.7.5 Teknik Pengumpulan Data 1.8 Ruang Lingkup Penelitian
1.8.1 Batasan Waktu 1.8.2 Batasan Materi 1.9 Hipotesa
1.10 Sistematika Penulisan
BAB II
Dinamika Kepentingan Nasional Qatar
2.1 Dinamika Hubungan Qatar dan Negara-negara Kuartet Anti Qatar
2.1.1 Sejarah hubungan Qatar – Arab Saudi
2.1.2 Sejarah hubungan Qatar – Uni Emirat Arab
2.1.3 Sejarah hubungan Qatar – Bahrain
2.1.4 Sejarah hubungan Qatar – Mesir
2.2 Alasan Politik Dibalik Pemutusan Diplomatik
2.2.1 Ikhwanul Muslimin
2.2.2 Iran
41 2.2.3 Al Jazeera
2.3. 13-Poin Tuntutan Negara Kuartet Sebagai Kerangka Perdamaian
BAB III
Kepentingan Nasional Qatar Memilih Menguatkan Aliansinya bersama Iran dalam Krisis Diplomatik tahun 2017
3.1 Value dan Cost Factors Kepentingan Nasional Qatar Memilih Menguatkan Aliansinya bersama Iran
3.1.1 Value Factors
3.1.2 Cost Factors
3.2 Intensity of Interest Qatar
BAB IV
Penutup
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran