• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIKUNIVERSITAS MEDAN AREA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIKUNIVERSITAS MEDAN AREA"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

Pola Hubungan Eksekutif dan Legislatif Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 Dalam Hal Tugas dan Fungsi Anggaran DPRD Tahun

Anggaran 2011

(STUDI KASUS APBD Kabupaten Dairi Tahun Anggaran 2010/2011)

Oleh :

JONSON RAJAGUKGUK NPM. 091 801 016

PROGRAM PASCA SARJANA

MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIK UNIVERSITAS MEDAN AREA

MEDAN

2011

(2)

Daftar Isi Abstraksi Tesis

BAB I : Pendahuluan

I.1. Latar Belakang... 1

I.2. Perumusan Masalah ... 8

I.3. Tujuan Penelitian ... 8

I.4. Manfaat Hasil Penelitian ... . 8

I.5. Kerangka Pemikiran ... 9

BAB II : Tinjauan Pustaka ...14

II.1. Sejarah Desentralisasi di Indonesia ... 14

II.2. Desentralisasi Anggaran ... 18

II.3. Otonomi Daerah ... 20

II.4. Fungsi dan Peran Legisaltif ... 22

II.5. Hubungan Kepala Daerah dan DPRD Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004... 25

II.6. Manajemen Pemerintahan Daerah dan Otonomi Daerah ... 29

BAB III : Metode Penelitian ...36

III.1. Bentuk Penelitian ... 36

III.2. Lokasi Penelitian...37

III.3. Populasi dan Sampel ... 37

III.4. Teknik Pengumpulan Data ... 38

III.5. Defenisi Konsep ... 38

III.6. Teknik Analisa Data ... 38

BAB IV: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN...39

(3)

IV.1. Sejarah Singkat Kabupaten Dairi... ..39

IV.2. Perjuangan Pembentukan daerah Otonom... ...42

IV.3. Berlakunya UU Nomor 5 tahun 1974... ... 44

IV.4. Berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2004... ...49

BAB V: ISI dan PEMBAHASAN... 52

V.1. Pendapatan Asli Daerah...53

V.2. Belanja daerah... ..54

V.3. Pola Hubungan DPRD dan Pemda Dairi Dalam Penyusunan Anggaran 2010... BAB VI: PENUTUP...65

V I.1. Kesimpulan...65

VI.2. Saran dan Rekomendasi...66

Daftar Pustaka ...67

(4)

Abstrak

Pola Hubungan Eksekutif dan Legislatif Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 Dalam Hal Tugas dan Fungsi Anggaran DPRD Tahun Anggaran 2011

Nama: Jonson Rajagukguk, NPM: 091801016

Hubungan eksekutif dan legislatif sangat menentukan keberhasilan pembangunan daerah di era otonomi daerah dewasa ini. Pola kemitraan antara Pemerintah Daerah dan DPRD idealnya melahirkan berbagai kebijakan dan keputusan dalam konteks daerah yang bisa bemranfaat bagi masyarakat banyak (publik). Salah satu keputusan dan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat daerah apabila anggaran yakni APBD dikelola dengan baik dan tepat sehingga pelayanan dan percepatan pembangunan bisa tercapai.

Harapan masyarakat agar fungsi dan tugas anggaran DPRD berjalan dengan baik seringkali mengalami kendala karena berbagai hal yang bersifat teknis dan politis. Kondisi ril di lapangan menunjukkan DPRD, dalam hal ini DPRD Dairi kurang mampu memahami dan melakukan tugas dan fungsi anggarannya dengan baik. Maka muncullah dominasi dari eksekutif (dalam hal ini Pemerintah Daerah). Kondisi ini tentu tidak kita inginkan bersama, karena pola hubungan eksekutif dan legislatif bukan seperti ini yang diharapkan undang-undang dan masyarakat daerah.

Bagaimana supaya fungsi dan tugas anggaran DPRD berjalan dengan baik sehingga tata kelola anggaran daerah (APBD) tepat sasaran dan punya multiplier effect kedepan bagi masyarakat masih jauh dari harapan. Kurangnya pemahaman DPRD Dairi pada substansi anggaran menjadi kendala utama. Dismaping itu banyak persoalan yang saling terkait dengan kurangnya pemahaman DPRD pada fungsi dan tugas anggarannya.

Dari penelitian penulis, dapat disimpulkan DPRD hanya memahami fungsi dan tugas anggarannya hanya pada sebatas prosedural semata. DPRD kurang memahami substansi anggaran dengan baik. Perumusan anggaran Kabupaten Dairi Tahun Anggaran 2011 dimana fungsi dan tugas anggaran DPRD Kabupaten Dairi tidak berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan pemahaman dan sumber daya manusia DPRD Dairi tidak mendukung untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan harapan UU Nomor 32 Tahun 2004.

Kata Kunci: Eksekutif, DPRD, dan fungsi anggaran

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kabupaten Dairi sebagai salah satu daerah otonom di Propinsi Sumatera Utara (Sumut) sudah menjalankan praktik otonomi daerah selama 11 tahun. Sejauh mana pemerintah Kabupaten Dairi mampu melaksanakan praktik otonomi daerah itu dengan baik tentu diukur dengan kinerja mereka menggunakan anggaran. Pada tahun anggaran 2010/2011 anggaran Kabupaten Dairi berjumlah Rp 461.303.230.000 sebagai modal dalam menjalankan roda pembangunan selama satu periode anggaran pembangunan. Bagaimana proses mekanismenya melalui proses fungsional eksekutif dan legislatif sehingga finalisasi anggaran ini mampu menggerakkan pembangunan daerah di Kabupaten Dairi.

Permasalahan pemerintahan daerah selama ini yang selalu muncul adalah ketidakmampuan menggunakan anggaran dengan tepat karena berbagai kepentingan politis.

Contohnya, DPRD menggunakan uang dari APBD untuk kepentingan partai politik dan sebagai dana kampanye pada pemilu berikutnya. Bahkan praktik desentralisasi korupsi mewabah di berbagai Kabupaten/ Kota. Banyak pejabat dan DPRD yang harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentu ini menjadi problematika dasar dalam pembangunan daerah. Untuk itu proses penyusunan anggaran dari awal pada level eksekutif dan legislatif harus bagus dan mampu menjawab persoalan pembiayaan pembangunan.

Anggaran sangat menentukan perjalanan otonomi daerah kedepan. Tidak terkecuali

(6)

Dairi. Walaupun kualitas pembangunan tidak signifikan berubah pertahun, tetapi anggaran sangat menentukan. Tidak mungkin pemerintahan daerah bisa berjalan tanpa anggaran yang telah diformat sedemikian rupa. Permasalahan pemerintahan daerah sekarang ini adalah sejauh mana fungsi anggaran itu tepat sasaran atau berbasis kinerja. Inilah yang menjadi tugas utama pemda dan DPRD dalam mengawasi anggaran. Tetapi sebelum sampai kesana ada baiknya proses penyusunan anggaran itu diketahui dengan baik, apakah di tingkat eksekutif daerah (pemda) dan legislaslatif daerah (DPRD).

Salah satu keberhasilan reformasi politik dan pemerintahan di negara kita adalah lahirnya regulasi yang mengatur otonomi daerah sebagai praktik pemerintahan yang dianggap mampu menjawab kebutuhan masyarakat daerah setelah terlebih dahulu ada studi kelayakan tentang UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Sesuai dengan tuntutan dan dinamika politik, UU Nomor 22 Tahun 1999 yang efeketif digunakan pada tahun 2001 kemudian mengalami revisi di berbagai pasal untuk bisa menjawab kebutuhan masyarakat sebagai proses demokratisasi. Pembentukan daerah otonom melalui desentralisasi pada hakikatnya adalah untuk menciptakan efisiensi dan inovasi pemerintahan (SH. Sarundajang: 2002).

Praktik otonomi daerah sudah berlangsung 11 tahun. Berbagai kemajuan yang di dapat masih belum sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh masyarakat karena berbagai faktor penghambat kemajuan yang dimaksud. Salah satu penghambat itu adalah hubungan eksekutif dan legislatif yang mengalami disharmonisasi karena kesalahan tafsir dan mungkin ada perasaan secara politis kami lebih kuat. Hubungan tidak harmonis itu bisa ditunjukkan dengan adanya upaya menjegal Bupati dan LPJ Bupati yang ditolak dengan alasan yang tidak logis.

(7)

Disamping itu, kesiapan aparat pemerintahan menterjemahkan otonomi daerah ini dalam konteks percepatan proses pembangunan, pemberdayaan masyarakat (social empowerment), penguatan identitas lokal, dan pemerintahan yang bersih dan transparan (good and clean goverment) masih belum maksimal atau optimal.

Mengapa bisa terjadi demikian? Pertanyaan ini tentu sangat urgen dalam menjawab berbagai faktor yang menjadi penghalang otonomi daerah. Salah satu penyebabnya adalah belum efektif dan efisiennya hubungan eksekutif daerah dan legislaltif daerah dalam menerjemahkan amanat UU Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. Padahal mengacu pada UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah salah satu penunjang keberhasilan pembangunan di daerah apabila terciptanya mekanisme pengawasan dan keseimbangan. Hubungan DPRD dan Bupati/ Walikota sangat mendukung keberhasilan program pembangunan daerah. Apabila dua lembaga ini saling memahami fungsinya dengan baik maka program pembangunan daerah akan berjalan dengan baik.

Struktur negara kesatuan yang melaksanakan desentralisasi dapat dipandang sebagai tatanan politik dan tatanan administratif. Sebagai tatanan politik, karena struktur yang demikian merupakan wadah pengembangan demokrasi pemerintahan di daerah yang intinya adalah penyelenggaraan urusan rumah tangga daerah sesuai dengan aspirasi masyarakat daerah.

Dalam UU Republik Indonesia No 32 tahun 2004, yang dimaksud pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas perbantuan, dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip negara kesatuan RI. Dimana pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah dilakukan oleh

(8)

Gubernur, bupati, dan Walikota, serta perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintah daerah.

Kepala daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh seorang wakil kepala daerah dan perangkat daerah. Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat yang persyaratannya dan tatacaranya ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yakni UU No 32 Tahun 2004 yang menyatakan bahwa dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintahan dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Dari ketentuan ini dapat kita ketahui bahwa kepala daerah provinsi yaitu Gubernur selain berkedudukan sebagai kepala daerah otonom juga berkedudukan sebagai wakil pemerintah pusat didaerah. Sebagai wakil pemerintah daerah, Gubernur mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah untuk mewujudkan tercapainyai tujuan penyelenggaraan pemerintah daerah.

Konstruksi diatas menunjukkan prinsip hubungan antara pemerintah pusat dan daerah bersifat hierarkis dan vertikal, sehingga tercermin delegasi wewenang kepada daerah membutuhkan pertanggungjawaban. Prinsip ini menunjukan terdapa pola hubungan kekuasaan antar organisasi, yaitu antara pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi, antara dengan pemerintah pusat dengan pemerintah kabupaten/ kota, antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/ kota. Undang-undang No 32 Tahun 2004 menentukan bahwa DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Hubungan antara pemerintah daerah dan DPRD merupakan hubungan kerja yang bersifat kemitraan dan berkedudukan setara. Kedudukan yang setara bermakna bahwa diantara lembaga

(9)

pemerintahan itu memiliki kedudukan yang sama dan sejajar artinya tidak saling membawahi.

Hal ini tercermin didalam membuat kebijakan daerah berupa peraturan daerah.

Hubungan kemitraan bermakna bahwa pemerintah daerah dan DPRD adalah sama-sama mitra kerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masing-masing sehingga antara kedua lembaga itu membangun suatu hubungan kerja yang sifatnya saling mendukung bahkan merupakan lawan ataupun pesaing dalam melaksanakan fungsi-fungsinya.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang dibentuk di setiap Provinsi dan kabupaten/ kota pada umumnya dipahami sebagai lembaga yang menjalankan kekuasaan legilsatif, dan karena itu biasa disebut dengan lembaga legilsatif di daerah. Akan tetapi, sebenarnya fungsi legislatif di daerah, tidaklah sepenuhnya berada di tangan DPRD seperti fungsi DPR-RI dalam hubungannya dengan Presiden sebagaimana ditentukan dalam Pasal 20 ayat (1) juncto Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 hasil Perubahan Pertama. Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa DPR memegang kekuasaan membentuk UU, dan Pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR. Sedangkan kewenangan untuk menetapkan Peraturan Daerah (Perda), baik daerah propinsi maupun kabupaten/kota, tetap berada di tangan Gubernur dan Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa Gubernur dan Bupati/Walikota tetap merupakan pemegang kekuasaan eksekutif dan sekaligus legislatif, meskipun pelaksanaan fungsi legislatif itu harus dilakukan dengan persetujuan DPRD yang merupakan lembaga pengontrol terhadap kekuasaan pemerintahan di daerah. Oleh karena itu, sesungguhnya DPRD lebih berfungsi

(10)

legislatif dalam arti yang sebenarnya. Namun dalam kenyataan sehari-hari, lembaga DPRD itu biasa disebut sebagai lembaga legislatif. Memang benar, seperti halnya pengaturan mengenai fungsi DPR-RI menurut ketentuan UUD 1945 sebelum diamandemen, lembaga perwakilan rakyat ini berhak mengajukan usul inisiatif perancangan produk hukum. Menurut ketentuan UUD 1945 yang lama, DPR berhak memajukan usul inisiatif perancangan UU. Demikian pula DPRD, berdasarkan ketentuan UU No.32 Tahun 2004 berhak mengajukan rancangan Peraturan Daerah kepada Gubernur. Namun, hak inisiatif ini sebenarnya tidaklah menyebabkan kedudukan DPRD menjadi pemegang kekuasaan legislatif yang utama. Pemegang kekuasaan utama di bidang ini tetap ada di tangan pemerintah, dalam hal ini Gubernur atau Bupati/Walikota.

Fungsi utama DPRD adalah untuk mengontrol jalannya pemerintahan di daerah, sedangkan berkenaan dengan fungsi legislatif, posisi DPRD bukanlah aktor yang dominan.

Pemegang kekuasaan yang dominan di bidang legislatif itu tetap Gubernur atau Bupati/Walikota.

Bahkan dalam UU No. 32 Tahun 2004, Gubernur dan Bupati/Walikota diwajibkan mengajukan rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya menjadi Peraturan Daerah dengan persetujuan DPRD. Artinya, DPRD itu hanya bertindak sebagai lembaga pengendali atau pengontrol yang dapat menyetujui atau bahkan menolak sama sekali ataupun menyetujui dengan perubahan- perubahan tertentu, dan sekali-sekali dapat mengajukan usul inisiatif sendiri mengajukan rancangan Peraturan Daerah.

Dari uraian di atas dapat kita mengerti bahwa sebenarnya, lembaga parlemen itu adalah lembaga politik, dan karena itu pertama-tama haruslah dipahami sebagai lembaga politik.

Sifatnya sebagai lembaga politik itu tercermin dalam fungsinya untuk mengawasi jalannya

(11)

membutuhkan prasyarat-prasyarat dan dukungan-dukungan yang teknis pula. Sebagai lembaga politik, prasyarat pokok untuk menjadi anggota parlemen itu adalah kepercayaan rakyat, bukan prasyarat keahlian yang lebih bersifat teknis daripada politis. Meskipun seseorang bergelar Prof.

Dr. jika yang bersangkutan tidak dipercaya oleh rakyat, ia tidak bisa menjadi anggota parlemen.

Tetapi, sebaliknya, meskipun seseorang tidak tamat sekolah dasar, tetapi ia mendapat kepercayaan dari rakyat, maka yang bersangkutan paling ‘legitimate’ untuk menjadi anggota parlemen.

Sesuai fungsinya sebagai lembaga pengawasan politik yang kedudukannya sederajat dengan pemerintah setempat, maka DPRD juga diberi hak untuk melakukan amandemen dan apabila perlu menolak sama sekali rancangan yang diajukan oleh pemerintah itu. Bahkan DPRD juga diberi hak untuk mengambil inisiatif sendiri guna merancang dan mengajukan rancangan sendiri kepada pemerintah (Gubenur atau Bupati/Walikota).

Dengan demikian, semestinya semua anggota DPRD propinsi, kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan perannya sebagai wakil rakyat yang secara aktif mengawasi jalannya pemerintahan di daerah masing-masing dengan sebaik-baiknya. Instrumen yang dapat digunakan untuk itu adalah segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan rencana anggaran yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Sudah tentu untuk melaksanakan fungsi-fungsi DPRD, termasuk fungsi legislasi dan fungsi anggaran, setiap anggota DPR perlu menghimpun dukungan informasi dan keahlian.

Terlepas daripada itu, pola hubungan esekutif dan legislatif daerah sangat menetukan

(12)

Pembangunan Kabupaten Dairi berhasil apabila ada efeisiensi dan efektivitas manajemen pemerintahan dalam berbagai hal. Bagaimana DPRD (legislatif) daerah mampu mengoptimalkan fungsi legislasinya, fungsi anggarannya (budgetingnya), dan fungsi pengawasannya sehingga tercipta mekanisme keseimbangan yang mengarah pada efektif dan efisiensinya pemerintahan daerah. Inilah latar belakang penulisan tesis ini, melihat dengan kacamata akademis pola hubungan eksekutif daerah dan legislatif daerah secara makro politik sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi pemerintahan sehingga proses pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan identitas lokal (local wisdom) berjalan dengan baik.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian-uraian di atas maka dapat dirumuskan perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

a. Bagaimana hubungan ekesekutif (Pemerintah Kabupaten) Dairi dengan legislatif (DPRD) Dairi terhadap penyusunan anggaran daerah?

b. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dalam praktik penyelenggeraan anggaran yang efektif dan efisien?

1.3. Tujuan Penelitin

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penulisan tesis ini adalah:

a. Melihat bagaimana substansi hubungan eksekutif dalam hal ini Pemerintahan Kabupaten Dairi dengan legislatif dalam hal ini DPRD Dairi menurut UU Nomor 32 Tahun 2004.

(13)

b. Melihat sejauh mana hubungan eksekutif dan legislatif dalam praktik pemerintahan yang efektif dan efisien di Kabupaten Dairi.

c. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harmonisasi dan disharmonisasi hubungan eksekutif dan legislatif Kabupaten Dairi.

1.4. Manfaat Hasil Penelitian

Sedangkan yang menjadi manfaat penelitian ini adalah:

a. Menambah daftar kajian referensi secara ilmiah tentang praktik hubungan esekutif dan legislatif.

b. Memberikan masukan kepada kedua belah pihak eksekutif dan legislatif tentang bagaimana menjalankan praktik pemerintahan daerah yang efektif dan efisien melalui fungsi anggaran.

1.5. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran sangat penting dalam sebuah penelitian ilmiah agar bisa memberikan gambaran yang jelas tentang konsep dasar penelitian. Kerangk pemikiran dalam penulisan tesis ini adalah praktik hubungan eksekutif dan legislatif daerah pemerintahan Kabupaten Dairi sangat menetukan masa depan otonomi daerah. Selama ini ada disharmonisasi hubungan antara DPRD dan Eksekutif. Akibatnya praktik pemerintahan seringkali mengalami inefisiensi, akibatnya pembangunan dalam hal ini seharusnya terjadi percepatan pembangunan mengalami kendala yang sangat serius.

(14)

Bagaimana supaya hubungan DPRD dan Esksekutif dalam bentuk pola hubungan yang baik dalam hal penggunaan hak dan wewenangn masing-masing sehingga terbangun pola kemitraan yang saling mendukung dan mengawasi. Khususnya lagi DPRD agar bisa menggunakan hak legislasi, hak anggaran, dan hak pengawasan dilaksanakan dengan baik dalam konteks yang tepat. Perlu sebuah kerangka berpikir yang tepat dalam hal pola hubungan antara eksekutif dan legislatif dalam rangka praktik pemerintahan yang efektif dan efisien.

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Desentralisasi di Indonesia

Sentralisasi ataupun desentralisasi sebagai suatu sistem administrasi pemerintahan, dalam banyak hal tidak dapat dilepaskan dari proses pertumbuhan suatu negara. Sejarah mencatat desentralisasi di negara Indonesia mengalami pasang surut seiring dengan perubahan konstelasi politik yang melekat dan terjadi pada perjalanan kehidupan bangsa. Pada prakemerdekaan, Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Penjajah telah menempatkan desentralisasi yang bersifat sentralistis, birokratis, dan feodalistis untuk kepentingan mereka.

Penjajah Belanda menyusun suatu hirearki Pangreh Praja Bumiputra dan Pangreh Praja Eropa yang harus tunduk kepada Gubernur Jenderal. Dikeluarkannya Decentralisatie Wet pada 1903, yang ditindaklajuti dengan Bestuushervorming Wet pada 1922, menetapkan daerah untuk mengatur rumha tanganya sendiri, sekaligus membagi daerah-daerah otonom yang dikuasai Belanda menjadi gewset (identik dengan Propinsi) , regentschap (Kabupaten) dan staatsgemeente (Kotamadya). Pemerintahan pendudukan Jepang pada dasarnya melanjutkan sistem pemerintahan daerah seperti jaman Belanda, dengan perubahan ke dalam bahasa Jepang (Mudrajat Kuncoro: 2004).

(16)

Gambar.1. Hierarki Administrasi Pemerintahan di Masa Kolonial

Pada masa pemerintahan kolonial terdapat dua administrasi pemerintahan yang ada di masyarakat yaitu administrasi pemerintahan kolonial yang dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang merupakan wakil pemerintahan Belanda dan administrasi pemerintahan setempat yang berada di bawah pemerintahan kerajaan (Gambar.1.). salah satu warisan pemerintahan kolonial yang kemudian dipraktikkan dalam penyelenggeraan pemerintahan di Indonesia adalah sentralisasi kekuasaan pada pusat pemerintahan, dan pola penyelenggeraan pemerintahan yang bertingkat.

Pemerintah hindia Belanda, menjelang meletusnya perang dunia ke II, pernah mengembangkan ide sistem administrasi yang desentralistis atas dasar federasi. Ide desentralisasi dan federasi ingin dihidupkan kembali setelah perang usai untuk melegitimasi pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia dan menghancurkan kekuatan-kekuatan pendukung Republik. Bisa dipahami mengapa konsep desentralisasi dan federasi menjadi sangat tidak populer. Citra

Gubernur Jenderal

Gubernur

Residen

Controiler

Kasunanan

Bupati

Wedono

Asisten Wedono

(17)

federasi dan desentralisasi tidak dapat dilepaskan dari politik devidet et impera dan kekuatan- kekuatan pro NICA dan anti revolusi dan kemderdekaan.

Sejak pemerintahan Republik Indonesia, beberapa undang-undang tentang pemerintahan daerah telah ditetapkan dan berlaku silih berganti. Ini dimaksudkan untuk mencari bentuk dan susuanan pemerintahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang lebih cocok dan memenuhi harapan serta sesuai dengan tuntutan pembangunan. Pendulum sentralisasi dan desentralisasi pun bergoyang-goyang mengikuti konfigurasi kekuasaan saat itu (Lihat Tabel 1.1.). Sampai dengan tahun 1959 berlaku de facto federalism, yaitu lemahnya kekuasaan pusat atas daerah seiring dengan turunnya efektivitas kekuasaan pusat dan menjammurnya gerakan separatisme. Dekrit 5 Juli 1959 menandai sentralisasi sepenuhnya di tangan pusat hingga tahun 1966.

Berdasarkan prinsip otonomi yang dianut, perkembangan prinsip dan tin gkatan otonomi pemerintah di Indonesia sejak merdeka dapat dirangkung dalam tabel 1.3. Pada dasarnya isi dan luas rumah tangga daerah dibedakan menjadi 1) Rumah tangga secara materiil, yang bersumber pada ajaran rumah tangga materiil (materiele huishoudingshegrip) yang didalamnya terdapat pembagian kewenangan secara terperinci antara tugas pemerintah pusat dan daerah, 2) rumah tangga secara riil (reele huishoudingshegrip), yaitu suatu rumah tangga yang didasarkan pada keadaan, faktor, tindakan, dan kekuatan baik dalam daerah itu sendiri maupun dengan pemerintah pusat. 3) rumah tangga yang secara formal (formale huishoudingshegrip), dimana tidak terdapat perbedaan dari sisi sifat dan urusan yang diselenggerakan pusat dan daerah

(18)

Tabel 1.2. Perjanalan desentralisasi di Indonesia

Periode Konfigurasi Politik UU Otonomi Hakikat Otonomi Perjuangan

kemerdekaan (1945- 1949)

Demokrasi UU Nomr 1 Tahun 1945, UU Nomor 22

Tahun 1948

Otonomi luas

Pasca Kemerdekaan (1950-1959)

Demokrasi UU Nomor 1 Tahun 1957

Otonomi Luas

Demokrasi terpimpin (1959-

1965)

Otoritarian Penpres No. 6 Tahun 1959, UU Nomor 18 Tahun

1965

Otonomi terbatas

Orde Baru (1966- 1998)

otoritarian UU Nomor 5 Tahun 1974

Sentralisasi

Pasca Orde Baru (1998-sekarang)

Demokrasi UU Nomor 22

Tahun 1999, UU Nomor 32 Tahun

2004

Otonomi luas

Sumber: Mudrajat Kuncoro (2004)

(19)

Sehingga perbedaan tugas yang dilakukan dengan kesanggupan daerah yang bersangkutan.

Dalam sistem ini terkenal adanya urusan pangkal dan tambahan sesuai dengan sifat daerah atas dasar kemampuannya.

Tabel 1.3. Prinsip dan Tingkatan Otonomi Berdasarkan UU Pemerintahan Daera Yang Berlaku

Undang-Undang Prinsip Tingkatan

UU No. 1 tahun 1945

Materiil 3 tingkatan a. Bekas Keresidenan, b) Kabupaten, c) Kota

UU Nomor 22 Tahun 1954

Formil dan Materiil 3 tingkatan: a) Provinsi, b) Kabupaten/ Kota Besar, c) Desa/

Kota Kecil UU Nomor 1 Tahun

1957

Formil dan Materiil (riil) 3 tingkatan: a) Provinsi, b) Kabupaten/ Kota Besar, c) Desa/

Kota Kecil UU Nomor 18 tahun

1965

Riil seluas-luasnya 3 tingkatan: a) Provinsi, b) Kabupaten/ Kotamadya, c) Kecamatan/ Kotapraja UU Nomor 5 Tahun

1974

Riil bertanggung jawab 2 tingkatan: a) Provinsi, b) Kabupaten/ Kotamadya

Sumber: Mudrajat Kuncoro (2004)

(20)

2.2. Desentralisasi Anggaran

Keuangan Peemrintah daerah dikelola sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 13 tahun 2006 jo. Permendagri No. 59 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait. Secara spesifik pengelolaan keuangan daerah

Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan daerah ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah, asas umum dan struktur APBD, penyusunan rancangan APBD, pelaksanaan APBD, perubahan APBD, pengelolaan kas, penatausahaan keuangan daerah, akuntansi keuangan daerah, pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, kerugian daerah, pengelolaan keuangan BUMD, pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah, serta sistem informasi keuangan daerah. Pedoman penatausahaan pelaksanaan APBD setiap tahun diatur tersendiri dalam peraturan gubernur yang biasanya ditetapkan pada akhir Desember sebagai pedoman pelaksanaan APBD yang dimulai awal Januari tahun berikutnya.

Asas umum pengelolaan keuangan daerah yang telah menjadi komitmen pemerintah daerah adalah bahwa : “keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem terintegrasi, diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah.”

(21)

APBD merupakan instrumen yang menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah. Agar APBD dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik dan benar, maka landasan administratif dalam pengelolaan anggaran daerah yang mengatur antara lain prosedur dan teknis penganggaran harus diikuti secara tertib dan taat azas.

Beberapa prinsip disiplin anggaran dalam penyusunan anggaran daerah, antara lain adalah: 1) pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran belanja; 2) penganggaran pengeluaran harus didukung oleh kepastian penerimaan daerah dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan yang belum tersedia atau tidak mencukupi anggarannya dalam APBD/Perubahan APBD; 3) semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD dan dibukukan dalam rekening Kas Umum Daerah. Aspek penting dalam penyusunan anggaran adalah penyelarasan kebijakan (policy), perencanaan (planning) dengan penganggaran (budget) antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah agar tidak tumpang tindih.

Penyusunan APBD pada dasarnya bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan ekonomi makro dan sumber daya yang tersedia, mengalokasikan sumber daya secara tepat sesuai kebijakan pemerintah dan mempersiapkan kondisi bagi pelaksanaan pengelolaan anggaran secara baik. Perubahan APBD dimungkinkan jika terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD, terdapat keadaan yang menyebabkan harus dilakukan

(22)

keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya dan harus digunakan untuk pembiayaan anggaran tahun berjalan. Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan, pemerintah daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban, berupa : 1) Laporan Realisasi Anggaran, 2) Neraca, 3) Laporan Arus Kas, dan 4) Catatan atas Laporan Keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

2.3. Otonomi Daerah (Desentralisasi)

Sejak kelahirannya, orde baru (Orba) selalu mengatakan tekadnya untuk melasanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Tentu saja termasuk di dalamnya tekad untuk menyelenggerakan desentralisasi dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana diamantkan UUD 1945. Secara empirik tekad, tekad demikian membawa konsekuensi tidak ditempatkan sentralisasi dan desentralisasi masing-masing sebagai asas organisasi pemerintahan pada kutub yang berlawanan, melainkan kedua asas itu berada dalam satu rangkaian kesatuan (Benyamin Hoessein: 1995). Praktik otonomi daerah jika kita tinjau pada era pemerintahan orde baru berjalan sesuai dengan selera pemerintahan pusat. Daerah tidak berkembang karena paradigma berpikir pembangunan harus mengikuti arus politik di pusat pemerintahan.

Konstelasi politik yang terus berubah dengan lahirnya reformasi 1998 membuat reformasi pemerintahan daerah terus menjadi topik yang urgen dibicarakan dalam konteks pemerintahan, baik di pusat maupun daerah. UU Nomor 22 Tahun 1999 pun lahir disertai UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Kemudian UU Nomor 22 Tahun 1999

(23)

direvisi ulang kembali dan mehirkan UU Nomor 32 Tahun 2004. sampai sekarang UU Nomor 32 Tahun 2004 menjadi acuan dalam melakukan praktik pemerintahan bagi daerah otonom Kabupaten dan Kota sebagai sasaran otonomi daerah.

Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah tidak asing lagi mengenai otonomi daerah. Sejak kemerdekaan para pendiri Republik ini telah menganjurkan desentralisasi dan otonomi daerah untuk mengelola Indonesia yang besar dan majemuk. Gagasan desentralisasi dan otonomi daerah juga mempunyai relevansi historis, karena negara Indonesia mdern dibentuk melalui “kontrak sosial” (social contrac) dari berbagai elemen masyarakat lokal yang sudah lama memiliki

keragaman self-governing community (Sutoro Eko: 2004). Gagasan itu diamantkan dalam konstitusi dan ditelorkan dalam berbagai perangkat UU otonomi daerah sejak 1945 sampai 1957.

Mengikuti logika UU Nomor 32 Tahun 2004, desentralisasi dalam konteks otonomi daerah diwujudkan dalam bentuk transfer kewenangan, tanggung jawab dan keuangan (fiskal).

Transfer kewenangan secara sempit dipahami dan dipraktikkan melalui penyerahan urusan secara luas kepada daerah dan pemangkasan instansi vertikal (dekonsentrasi) yang dulu bercokol di daerah. Desentralisasi keuangan diwujudkan dengan menata kembali perimbangan keuangan dan juga memberikan kewenangan pada daerah untuk menggali dan membelanjakan sumber- sumber keuangan daerah. Secara teoritis, perluasan wewenang pemerintah daerah akan mendorong terciptanya apa yang disebut B.C. Smith (1985) dengan tanggung jawab daerah (local accountability), yakni peningkatan kemampuan dan akuntabilitas pemerintah daerah terhadap masyarakat di daerah.

(24)

Secara teoritis, desentralisasi ini diharapkan akan menghasilkan dua manfaat nyata, yaitu:

pertama, mendorong peningkatkan partisipasi, prakarsa, dan kreativitas masyarakat dalam pembangunan, serta mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan (keadilan) di seluruh daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi yang tersedia di masing-masing daerah.

Kedua, memperbaiki alokasi sumber daya produktif melalui pergeseran peran pengambilan keputusan publik ke tingkat pemerintah yang lebih rendah yang memiliki informasi yang paling lengkap.

Rondinelli menyakan bawa desentralisasi dalam arti luas mencakup setiap penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat baik kepada pemerintah daerah maupun kepada pejabat pemerintahan pusat yang ditugaskan di daerah. Dalam hal kewenangan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah, konsep tersebut dikenal dengan devolusi. Adapun apabila sebuah kewenangan dilimpahkan kepada pejabat-pejabat pusat yang ditugaskan di daerah, hal tersebut dikenal dengan konsep dekonsentrasi.

Rondielli (1981) dengan tegas mengatakan bahwa desentralisasi merupakan: “the transfer of delegation og legal and authority to plan, make decisions and manage public fungtions from the central govermental its agencies to field organizations of those agencies, subordinate wits of government, semi outonomous public coparation, area wide or regional development authorities, functional authorities, autonomus local government, or non govermental organizations. (desentralisasi adalah pemindahan wewenang perencanaan, pembuatan keputusan, dan administrasi dari pemerintahan pusat, kepada organisasi-organisasi lapangannya, unit-unit pemerintahan daerah, organisasi-organisasi setengah swatantra –otorita,

(25)

Pernyataan tersebut memebrikan isyarat bahwa desentralisasi dapat dilakukan melalui empat bentuk kegiatan utama, yaitu:

1. Dekonsetrasi wewenang administratif.

2. Delegasi kepada penguasa otorita.

3. Devolusi kepada pemerintah daerah.

4. Pemindahan fungsi dari pemerintah kepada swasta.

Dengan demikian desentralisasi dapat dipilah minimal dalam tiga pemahaman besar:

dekonsetrasi, delegasi, dan devolusi. Dekonsentrasi merupakan bentuk desentralisasi yang hanya merupakan penyerahan tanggung jawab kepada daerah. Sedangkan delegasi hanya merupakan kewenangan pembuatan keputusan dan manajemenuntuk menjalankan fungsi-fungsi politik tertentu pada organisasi tertentu. Dalam devolusi merupakan wujud konkrit dari desentralisasi politik.

Shabbir Chemma dan Rondielli (1983) mengemukakan bawa desentralisasi adalah suatu teori pemerintahan yang sangat rasiona. Paling tidak ada 14 alasan yang dikemukakan, yakni:

1. Desentralisasi ditempuh untuk mengatasi keterbatasan karena perencanaan pembangunan.

2. Desentralisasi dapat memotong jalur birokrasi yang rumit serta prosedur yang terstruktur dari pemerintahan pusat.

3. Desentralisasi memberikan fungsi yang dapat meningkatkan pemahaman pejabat daerah atas pelayanan publikyang diemban.

(26)

4. Desentralisasi akan mengakibatkan terjadinya penetrasi yang lebih baik dari pemerintah pusat bagi daerah terpencil, di mana sering rencana pemerintah tidak dipahami masyarakat setempat atau dihambat oleh elite lokal.

5. Desentralisasi memungkinkan representasi yang lebih luas dari berbagai kelompok politik, etnis, keagamaan, dalam perencanaan pembangunan.

6. Desentralisasi dapat meningkatkan kemampuan maupun kapasitas pemerintahan serta lembaga privat di daerah.

7. Desentralisasi dapat meningkatkan efisiensi pemerintahan di pusat dengan tidak lagi mereka menjalankan tugas rutin.

8. Desentralisasi dapat menyediakan struktur dimana berbagai departemen di pusat dapat di koordinasi secara efektif bersama pejabat dan sejumlah NGO.

9. Desentralisasi digunakan untuk melembagakan partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan implementasi program.

10. Desentralisasi dapat meningkatkan pengaruh atau pengawasan berbagai aktivitas yang dilakukan elite lokal yang kerap tak simpatik dengan program pembangunan.

11. Desentralisasi dapat mengantarkan pada administrasi pemerintahan yang mudah disesuaikan, inovatif, dan kreatif.

12. Desentralisasi perencanaan dan fungsi manajemen memungkinkan pemimpin daerah menetapkan pelayanan secara efektif ditengah masyarakat terisolasi.

13. Desentralisasi dapat memantapkan stabilitas politik dan kesatuan nasional dengan memberikan peluang kepada berbagai kelompok masyarakat di daerah.

(27)

14. Desentralisasi dapat meningkatkan penyediaan barang dan jasa di tingkat lokal dengan biaya yang lebih rendah.

Pada hakikatnya, sistem desentralistik mengalami perubahan dari otonomi terbatas ke otonomi yang luas. Perubahan ini secara konseptual dapat terjadi seperti yang dikemukakan oleh Rust (1969). Rust mengatakan pemerintahan yang sentralistik menjadi kurang populer karena ketidakmampuan aparat pusat untuk memahami secara tepat nilai-nilai daerah atau sentimen lokal. Alasannya, warga masyarakat lebih aman dan tenteram dengan badan pemerintahan lokal yang lebih dekat dengan mereka, baik secara fisik maupun psikologis. Dari pemikiran itu, berkembang argumentasi perubahan sentralistik pada sistem pemerintahan desentralistik.

Kaho (1988) mengemukakan bahwa:

a. Untuk mencegah tertumpuknya kekuasaan di satu tangan yang dapat menimbulkan pemerintahan tirani.

b. Untuk mengikutsertakan rakyat dalam kegiatan pemerintahan dan mendidik rakyat menggunakan hak dan kewajibannya dalam menyelenggerakan pemerintahan.

c. Untuk mencapai pemerintahan yang efektif dan efisien.

d. Untuk dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat.

e. Untuk mengantisipasi problem karena perbedaan faktor-faktor geografi, demografi, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

f. Untuk melancarkan pembangunan sosial ekonomi.

(28)

2.4. Hubungan Kepala Daerah dan DPRD Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004

Dalam rangka desentralisasi, di wilayah Indonesia dibentuk Propinsi dan diwilayah Propinsi dibetuk wilayah Kabupaten/ Kota sebagai daerah otonom. Pemerintah daerah merupakan hasil pembentukan pemerintah, bahkan dapat dihapus oleh pemerintah melalui proses hukum. Sebagai konsekuensi, maka kebijakan desentralisasi dilakukan oleh pemerintah daerah.

Hubungan antara pemerintah daerah otonom dengan pemerintah pusat (nasional) adalah bersifat saling tergantung dan hirearki (HAW Widjadja: 2004).

Keberhasilan praktik penyelenggeraan otonomi daerah sangat tergantung sumber daya manusia pemerintahan daerah (eksekutif) dan sumber daya manusia DPRD (legislatif).

Bagaimana pola hubungan kedua lembaga ini secara kontekstual dan konsepsual akan menetukan keberhasilan tujuan praktik otonomi daerah. Pemerintah daerah menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan dengan pemerintahan daerah di era UU Nomor 22 Tahun 1999. Pemerintah daerah menurut UU nomor 22 Tahun 1999 adalah kepala daerah dan DPRD. Kepala daerah berkedudukan sebagai kepala eksekutif daerah, sedangkan DPRD berkedudukan sebagai lembaga legislatif daerah. Disini tergambar adanya mekanisme check and ballances dalam pemerintahan (terlepas dari implementasinya banyak menimbulkan persoalan). Ssedangkan menurut UU Nomor 32 Tahun 2004, pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggera pemerintahan daerah (pasal 1ayat 3). Sedangkan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat adalah juga sebagai unsur penyelenggera pemerintahan daerah.

(29)

Disini sangat tampak terjadi degradasi kedudukan dan peran DPRD sebagai Lembaga Legislatif Daerah, DPRD diformat sedemikian rupa sehingga menempel sebagai penyelenggara pemerintahan daerah. Dengan demikian power DPRD sebagai institusi perwakilan rakyat yang memperjuangkan segala aspirasi dan kepentingan rakyat untuk diakomodasi dalam kebijakan- kebijakan pemerintah-menjadi sedikit mengalami penurunan. DPRD kemudian diasumsikan hanya bekerjadalam pormat politik berdasarkan undang-undang otonomi yang baru.

Fakta yang ada ini membawa pada satu kenyataan bahwa posisi DPRD dibawah UU Nomor 32 Tahun 2004 mengalami kemunduran,yaitu dari segala Badan Legislatif Daerah menjadi unsur penyelenggara pemerintah daerah. DPRD yang semula diposiskan sebagai layaknya DPR untuk mengimbangi kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh Kepala Daerah, menjadi harus bersama-sama sebagai penyelenggara pemerintahan daerah. Hampir sama posisinya dengan posisi DPRD dibawah UU Nomor 5 Tahun 1974. Dari sisi psikologis politik perundang-undangan juga terjadi semangat yang berbeda. UU Nomor 22 Tahun 1999 mengatur lebih dulu DPRD yang merupakan representasi dari rakyat, dan Kepala Derah yang diberi amanat untuk menjalankan pemerintahan daerah. Sedangkan UU Nomor 32 Tahun 2004 mendahulukan pengaturan Kepala Derah dan Wakil Kepala Daerah, mungkin juga dengan asumsi Kepala Daerah akan dipilih langsung. Hal ini bukan soal salah-benar, tetapi soal bahwa secara politis, memang DPRD diposisikan tidak lebih penting dari Kepala Daerah. Reduksi yang paling mencolok dari peran DPRD adalah hilangnya Pasal 16 Ayat 2 dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 yang menyebut DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah, berkedudukan sejajar dan menjadi mitra Pemerintah Daerah.

(30)

Dari sei teknis perundangan-undangan, memang segala kehendak, aspirasi, dan kepentingan Pemerintah Pusat, akan menjadi politik hukum dalam membuat peraturan pemerintah tersebut. Secara filosofis, sebenarnya nyawa otonomi tetap dikendalikan oleh PemerintahPusat. Bukan soal kewenangan DPRD akan dibatasi atau dikurangi yang menjadi soal tetapi yang banyak dipersoalkan adalan berhakkah, sesuai dengan semangat otonomi, Pemerintah Pusat mengatur eksitensi lembaga seperti DPRD,sehingga bisa mengancam posisi politik dan kinerja DPRD? Posisi DPRD menurut UU Nomor 22 Tahun 1999 sudah kuat, tinggal terus merajuk untuk bagaimana menjadi wakil rakyat yang merakyat, bukan dengan memformat ulang dengan melakukan “pembonsaian“ demokratisasi DPRD.

Menurut UU yang baru ini hubungan antara Kepala Daerah dengan DPRD merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan. Kedudukan yang setara dan bermakna bahwa diantara lembaga pemerintahan daerah itu memiliki kedudukan yang sama dan sejajar, artinya tidak saling membawahi. Hal ini tercermin dalam membuat kebijakan daerah berupa peraturan daerah (Perda). Hubungan kemitraan bermakna bahwa antar-Kepala Daerah dan DPRD adalah mitra sekerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai fungsi masing-masing, sehingga antar kedua lembaga itu membangun hubungan kerja yang sifatnya saling mendukung, bukan merupakan lawan atau pesaing. Hubungan seperti inilah yang hendak dibangun dan dikembangkan melalui UU pemerintahan daerah yang baru ini.

Sejak berlakunya UU nomor 32 Tahun 2004, jika memang mencermati pola hubungan kemitraan antara eksekutif dan legislatif faktanya agar lebih terlihat dibandingkan dengan pola hubungan menurut UU nomor 22 Tahun 1999, yang menempatkan kecenderungan yang lebih

(31)

politik lokal di daerah menurut UU nomor 22 Tahun 1999 cenderung didominasi oleh institusi DPRD (legislatif heavy). Misalnya hak anggaran, dalama rti menetukan ada tidaknya suatu pos anggaran eksekutif dan setiap unit kerja ada di tangan DPRD sebagai pemegang hak budget. Hal ini pula karena berdasarkan Tata Tertib, DPRD memiliki kekuasan monopolis, yaitu “hak suara“

(menyetujui atau tidak menyetujui). Dalam pengambilan keputusan disetiap sidang/ rapat DPRD, sedangkan peserta rapat lainnya, termasuk kepala daerah hanya memiliki “hak bicara“. Hal inilah

yang kemudian membuat bargaining posisition eksekutif menjadi lemah ketika berhadapan dengan DPRD.

Indonesia saat ini memegang sementara berada pada tahap transisi demokrasi. Oleh karena itu pula, segala kondisi dan kejadian politik yang terjadi hendaklah dimaknai dalam kerangka proses pembelajaran berdemokrasi, dan mencari bentuk demokrasi yang pas dengan kondisi Indonesia, dengan segala warna-warni politik lokalnya. Oleh karena itu, perubahan yang terjadi yang dibawa oleh UU pemerintahan yang baru haruslah dilihat sebagai upaya bersama untuk memperbaiki dan mencari jalan terbaik bagi suatu format politik lokal khususnya otonomi daerah yang “ideal“.

2.5. Fungsi dan Peran Lembaga Legislatif

Sebelum membahas fungsi dan peran lembaga legislatif, terlebih dahulu dikemukakan pengertian fungsi dan peran. Fungsi menurut The Liang Gie (1982) adalah sekelompok aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifatnya, pelaksanannya, ataupun pertimbangan lainnya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa untuk melakukan suatu usaha kerja

(32)

sama, aktivitas-aktivitas yang sama jenisnya itu biasanya digabung menjadi satu kesatuan dan diarahkan pada tangung jawab seorang pejabat.

Secara sosiologis, pengertian peran adalah dinamisasi dari status atau penggunaan hak- hak dan kewajiban, atau bisa juga disebut status subjektif. Kemudian ia mengatakan bahwa status adalah kedudukan seseorang yang terlepas dari individunya. Jadi, status adalah kedudukan subjektif yang memberikan hak dan kewajiban kepada orang yang mempunyai kedudukan tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Soekanto (1990) yang mengatakan bahwa peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya, sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan sesuatu peran.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian fungsi terkandung makna, hak, dan wewenang, dan kewajiban seseorang atau suatu badan organisasi tertentu. Satu badan organisasi tersebut dalam hal ini adalah lembaga legislatif daerah (DPRD) sebagai wadah dimana di dalamnya dilakukan berbagai aktivitas oleh sekelompok orang yang dipercayai atas dasar suatu pemilihan. Sekelompok orang yang dimaksud adalah anggota lembaga legislatif (DPRD).

Sedangkan peran adalah dinamisasi daripada fungsi yang melekat pada seseorang atau badan, dalam hal ini adalah DPRD, yang didalamnya terdapat hak dan kewajiban, wewenang yang harus dilakukan.

Mengenai fungsi dan peran DPRD yang pada umumnya disebut fungsi-fungsi parlemen atau lembaga legislatif, Abracrian dan Masannat (1970) menunjukkan adanya fungsi legislatif sebagai berikut: “ Secara tradisional, fungsi utama legislatif terkait dengan pembuatan kebijakan publik yang mewakili kepentingan publik atau masyarakat. Dan kewenengan atau kekuasaan

(33)

anggota legislatif tersebut tentunya bervariasi antara sistem politik yang satu dengan yang lainnya, dan kewenangan itu meliputi pengawasan terhadap pihak eksekutif, melakukan penyelidikan, memilih, mengubah, dan memberikan pandangan terhadap perundangan yang berkaitan dengan penetingan publik, sekaligus memebrikan pelayanan dalam konteks mekanisme politik.

Menurut mereka secara tradisional fungsi utama lembaga-lembaga legislatif menetapkan kebijaksanaan umum, dimana ia mengikat seluruh masyarakat secara otoritatif. Mereka memiliki kekuatan dan ini bervariasi dari sutu sistem politik ke sistem politik lai, untuk mengontrol badan-badan administratif, untuk memeriksa, memilih, mengubah, dan memberikan sesuai dengan masing-masing kebijaksanaan umum dan juga melayani secara forum politik yang populer.

Selanjutnya mereka mengatakan bahwa konsep parlementarisme menggambarkan adanya tiga fungsi, diantaranya: pertama, fungsi perwakilan, karena anggota lembaga itu terdiri dari mereka yang dipilih oleh rakyat, kedua, fungsi pembuatan kebijakan, karena lembaga ini membuat kebijakan yang sifatnya mengikat semua warga, ketiga, fungsi pengawasan atau kontrol, karena parlemen ssebagai satu-satunya sebagai wakil rakyat yang berwenang mengawasi tindakan pemerintah atau eksekutif.

Pamudji (1985) mengatakan bahwa kedudukan fungsi dan hak-hak yang melekkat pada DPRD secara formal telah menempatkan DPRD sebagai instansi penting dalam mekanisme penyelenggeraan pemerintah daerah. Pamudji mengatakan bahwa sebagai unsur pemerintahan

(34)

berkewajiban menampung aspirasi rakyat dan memajukan kesejahteraan rakyat. Sedangkan Kaho (1997) mengatakan bahwa DPRD mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai partner kepala daerah dalam merumuskan kebijaksanaan daerah, dan sebagai pengawas atas pelaknsanaa kebijaksanaan daerah yang dijalankan oleh kepala daerah. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi DPRD adalah sebagai berikut:

1. Perwakilan

2. Pembuatan kebijakan 3. Pengawasan

Sedangkan menurut Thaib (200), legislatif dalam sistem ketatanegaraan Indonesia memiliki empat peran utama, yaitu:

1. Peran dalam pembuatan peraturan perundang-undangan yang merupakan peran dan fungsi pokok legislatif.

2. Peran dalam pembuatan anggaran pendapatan dan belanja pemerintahan.

3. peran pengawasan terhadap penyelenggeraan terhadap peemrintahan yang dilakukan oleh eksekutif.

4. Peran sebagai wakil rakyat yang berfungsi dalam menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat.

2.6. Manajemen Pemerintahan Daerah

Manajemen adalah suatu kegiatan organisasi, sebagai suatu usaha dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu yang mereka taati sedemikian

(35)

rupa sehingga diharapkan hasil yang dicapai sempurna, yaitu efektif dan efisien (Darma Setia Salam: 2007). Dalam penyelenggeraan manajemen pemerintahan ada beberapa prinsip dasar yang menjadi pegangan oleh aparat pemerintahan dalam menggerakkan administrasi pemerintahan atau manajemen pemerintahan. Prinsip-prinsip dasar tersebut disebut dengan asas pemerintahan.

Pada dasarnya dilihat dari pelimpahan wewenang atau sumber pelaksanaan tugas asas- asas pemerintahan tersebut ada dua, yaitu asas keahlian dan asas kedaerahan. Asas keahlian adalah prinsip dasar pelimpahan wewenang berdasarkan ruang lingkup tugas bidang kemampuan tertentu. Pembagian tugas menurut asas ini biasanya dialirkan melalui lembaga departemen (Kementerian) atau lembaga non departemen (badan-badan yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden seperti BAKBN, BPS, BATAN, dan sebagainya) yang terkait.

Asas-asa kedaerahan adalah prinsip-prinsip dasar dalam pendelegasian wewenang dan pelaksanaan tugas sesuai dengan sumber wewenang tersebut. Asas kedaerahan ada tiga jenis, yaitu: desentralisasi, dekonsentrasi, dan medebewind. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang peemrintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah dalam kerangka sistem kenegaraan. Dalam negara kesatuan seperti Indonesia, penyerahan wewennag dari peemrintah pusat diserahkan kepada daerah otonom. Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang empunyai batas daerah tertentu serta berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan NKRI.

(36)

Kewenangan daerah otonom mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang- undangan disebut dengan otonomi daerah. Penyelenggeraan daerah otonom adalah Pemerintah Daerah dan DPRD. Peemrintah daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. DPRD adalah badan Legislatif Daerah.

Dekosnetrasi adalah pelimpahan wewenang dari peemrintah pusat kepada daerah sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di daerah. Dalam negara kesatuan seperti Indonesia, pelimpahan wewenang tersebut adalah dari pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai Wakil pemerintah pusat atau perangkat pusat di daerah. Perangkat pusat di daerah disebut juga dengan instansi vertikal., yaitu perangkat departemen atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. Medebewind (pembantuan) adalah penugasan peemrintah pusat kepada daerah dan desa dan dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana, dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskan.

Pemerintah daerah adalah unsur utama dalam penyelenggeraan pemerintahan di daerah yang merupakan subsistem dari dalam sistem pemerintahan negara. Karena itu tujuan yang diemban dari pemerintahan daerah sama dengan tujuan yang diemban oleh pemerintah pusat.

Dilihat dari aspek manajemen, dalam penyelenggeraan pemerintahan terdapat pemberian tugas, fungsi dan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun demikian tanggung jawab akhir dari seluruh penyelenggeraan urusan pemerintahan itu tetap ada pada pemerintah. Karena itu otonomi bukan saja berarti hak, tetapi juga melekat padanya kewajiban

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Bentuk Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/ objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak sehingga diperoleh gambaran yang jelas dan benar.

3.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kabupaten Dairi, yaitu eksekutif dan legislatif (DPRD) Dairi

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah Bupati dan jajaran pimpinan SKPD dan seluruh anggota DPRD Dairi sebagai penyelenggara pemerintahan daerah di Kabupaten Dairi.

Mengingat penelitian ini bersifat deskriptif dengan menganalisa data-data sekunder tentang pola hubungan eksekutif dan legislatif dalam rangka efektivitas manajemen pemerintahan, maka pengambilan sampelnya adalah secara purpisive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan tujuan –tujuan tertentu, yang dianggap mengetahui tentang pola hubungan eksekutif dan legislatif menurut UU Nomor 32 Tahun 2004. mereka adalah Bupati, Sekretaris Daerah (Sekda), pimpinan SKPD, dan semua unsur DPRD (anggota dan sekretariat).

(38)

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diambil dengan mempergunakan pedoman wawancara yang diajukan kepada informan yang dikemudian untuk dianalisa oleh peneliti. Disamping itu juga dikumpulkan data sekunder yang berhubungan dengan pemrasalahan yang akan diteliti.

3.5. Definisi Konsep

Definisi dalam penelitian ini adalah:

a. Pola hubunga adalah bentuk hubungan dalam bentuk kemitraan dan saling mengawasi dalam rangka praktik penyelenggeraan pemerintahan di daerah.

b. Eksekutif daerah adalah Bupati dan perangkat daerah otonom yang terdiri dari Sekretaris daerah dan pimpinan SKPD yang menjalankan kekuasaan esekutif c. Legislatif daerah adalah badan atau lembaga DPRD yang menjalankan fungsi

legislatif di daerah seperti fungsi legislasi, fungsi budgeting, dan fungsi pengawasan.

d. UU Nomor 32 Tahun 2004 adalah perangkat hukum yang mengatur tentang pemerintahan daerah dan otonomi daerah.

e. Efektivitas dan efisiensi pemerintahan adalah penyelenggeraan pemerintah daerah yang mempunyai kinerja yang sesuai dengan harapan dan terukur sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

(39)

3.6. Teknik Analisa Data

Data-data yang sudah terkumpul selanjutnya perlu dianalisis agar dapat memberikan informasi yang jelas. Dengan format penelitian deskriptif kualitatif, maka analisis data dilakukan melalui interpretasi berdasarkan pemehaman intelektual yang dibangun oleh pengalaman empiris. Interpretasi dan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pengumpulan data, melalui teknik dokumentasi untuk memperoleh data sekunder serta wawancara dan observasi untuk memperoleh data bersifat primer.

b. Penilaian data dengan memperhatikan prinsip validitas, objektivitas dan reabilita.

Untuk itu ditempuh prosedure: mengkategorikan data sekunder dan data primer dengan sistem pencatatan yang relevan.

c. Interpretasi dan penyajian data, dilakukan dengan membuat analisis data dan fakta melalui pemahaman intelektual yang dibangun atas dasar pemahaman empiris.

Untuk itu diperlukan kecermatan dan harus dibekali dengan seperangkat teori yang relevan.

d. Penyimpulan, yaitu penarikan kesimpulan atas dasar interpretasi dan analisis data.

(40)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4. 1. Sejarah Singkat Pembentukan Kabupaten Dairi

Pemerintahan di Dairi telah ada jauh sebelum kedatangan penjajahan Belanda. Walaupun saat itu belum dikenal sebutan wilayah/daerah Otonom, tetapi kehadiran sebuah pemerintahan pada zaman tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya pengakuan terhadap Raja- raja Adat.

Untuk selanjutnya, dalam pemaparan sejarah singkat pembentukan Kabupaten Dairi, penulis memulainya setelah masa kemerdekaan.

Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945

Mengingat keadaan pada masa tersebut Belanda masih ingin menjajah kembali Indonesia, sementara Undang-Undang belum dibentuk, maka dikeluarkanlah Maklumat Wakil Presiden No.

X tanggal 16 Oktober 1945 tentang Pemberian Kekuasaan Legislatif kepada Komite Nasional Indonesia Pusat, untuk mempertegas kedudukannya yang pada waktu itu dianggap sebagai Dewan Perwakilan Rakyat. Sehubungan dengan dikeluarkannya Maklumat Wakil Presiden No.

X tersebut, maka kedudukan Komite Nasional Daerah pun perlu ditegaskan. Untuk keperluan inilah maka dikeluarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1945 tentang Kedudukan Komite Nasional Daerah.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945, maka di Dairi dibentuklah Komite Nasional Daerah untuk mengatur pemerintahan dalam mengisi kemerdekaan dengan susunan

(41)

Ketua Umum : Jonathan Ompu Tording Sitohang

Ketua I : Djauli Manik

Ketua II : Noeh Hasibuan

Ketua III : Raja Elias Ujung

Sekretaris I : Tengku Lahuami

Sekretaris II : Gr. Gindo Muhammad Arifin

Bendahara I : Mula Batubara

Bendahara II : St. Stepanus Sianturi

Untuk melengkapi dan menampung aspirasi rakyat Dairi, dipilih pula anggota Komisi sebanyak 35 orang yang tersebar di daerah Dairi dan setiap Kewedanaan dibentuk pula Pembantu Komite Nasional Daerah.

Tugas utama dari Komite Nasional Daerah adalah :

1. Mempersiapkan Pemilihan Dewan Negeri;

2. Menyelesaikan Pemilihan Kepala Kampung 3. Membentuk pemerintahan dan Badan Perjuangan

Masa Agresi Militer I

(42)

menyelenggarakan pemerintahan serta menghadapi perang melawan Agresi Belanda, maka Residen Tapanuli saat itu Dr. Ferdinand Lumbantobing, selaku Gubernur Militer Sumatera Timur dan Tapanuli, menetapkan Keresidenan Tapanuli menjadi 4 (empat) Kabupaten yaitu

1. Kabupaten Dairi

2. Kabupaten Toba Samosir 3. Kabupaten Humbang;

4. Kabupaten Silindung.

Berdasarkan Surat Residen Tapanuli Nomor 1256 tanggal 12 September 1947, maka ditetapkanlah PAULUS MANURUNG sebagai Bupati pertama di Kabupaten Dairi yang berkedudukan di Sidikalang, terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1947 (catatan : Hari bersejarah ini berdasarkan kesepakatan Pemerintah dan Masyarakat kelak dikukuhkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Dairi, melalui Keputusan DPRD Kab. Dati II Dairi Nomor 4/K-DPRD/1977 tanggal 26 April 1977)

Kabupaten Dairi saat itu dibagi menjadi 3 (tiga) Kewedanaan yaitu

1. Kewedanaan Sidikalang, dipimpin oleh J.O.T. Sitohang

Kewedanaan Sidikalang dibagi atas 2 (dua) Kecamatan yaitu

a. Kecamatan Sidikalang, dipimpin oleh Tahir Ujung

b. Kecamatan Sumbul, dipimpin oleh Mangara Lumban Tobing.

2. Kewedanaan Simsim, dipimpin oleh Raja Kisaran Massy Maha

Kewedanaan Simsim dibagi atas 2 (dua) Kecamatan yaitu. :

(43)

a. Kecamatan Kerajaan, dipimpin merangkap oleh Raja Kisaran Massy Maha.

b. Kecamatan Salak, dipimpin oleh Poli Karpus Panggabean.

3. Kewedanaan Karo Kampung, dipimpin oleh Gading Barklomeus Pinem.

Kewedanaan Karo Kampung, dibagi atas 2 (dua) Kecamatan yaitu:

a. Kecamatan Tigalingga, dipimpin oleh Ngapid David Tarigan.

b. Kecamatan Tanah Pinem, dipimpin oleh Johannes Pinem.

Masa Agresi Militer II

Pada masa Agresi II Belanda, maka hampir seluruh wilayah Indonesia dapat dikuasai kembali oleh Belanda. Demikian juga halnya di Dairi bahwa pada tanggal 23 Desember 1948 Belanda telah berhasil menduduki Kota Sidikalang dan Tigalingga, sehingga saat itu Bupati Dairi, Paulus Manurung menyerah sedangkan sebagian besar masyarakat serta Pegawai Pemerintah mengungsi dari kota Sidikalang untuk menghindari serangan Belanda.

Untuk menyusun strategi melawan Agresi Belanda, maka Mayor Slamat Ginting selaku Komandan Sektor III Sub Teritorium VII memanggil : Gading Barklomeus Pinem dan J.S.

Meliala ke kampung Jandi Tanah Karo. Berdasarkan Surat Perintah Komandan Sektor III Sub Teritorium VII tanggal 11 Januari 1949 Nomor 2/PM/1949 diangkatlah G.B. Pinem sebagai Kepala Pemerintahan Militer di Dairi dan J.S. Meliala sebagai Sekretaris.

Untuk lebih menyempurnakan pemerintahan militer menghadapi Agresi Belanda, maka

(44)

Menjelang penyerahan kedaulatan wilayah Indonesia oleh Belanda, maka Pemerintahan Militer di Dairi kembali kepada Pemerintahan Sipil. Sebagai Kepala Pemerintahan Dairi adalah Raja Kisaran Massy Maha yang kemudian digantikan oleh Jonathan Ompu Tording Sitohang pada tanggal 10 Desember 1949. Pada masa tersebut wilayah Kecamatan di Kabupaten Dairi diciutkan dari 12 (dua belas) Kecamatan menjadi 8 (delapan) Kecamatan, yaitu :

1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang dipimpin oleh Asisten Wedana, M. Bakkara;

2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul dipimpin oleh Asisten Wedana, Bonipasius Simangunsong;

3. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak dipimpin oleh Asisten Wedana, Poli Karpus Panggabean;

4. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai dipimpin oleh Asisten Wedana, Wal Mantas Habeahan;

5. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga, dipimpin oleh Asisten Wedana, Gayus Silaen;

6. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kuta Buluh dipimpin oleh Asisten Wedana, Ngapid David Tarigan;

7. Kecamatan Silima Pungga-pungga, ibukotanya Parongil dipimpin oleh Asisten Wedana, Aleks Sitorus;

8. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja dipimpin oleh Asisten Wedana, Urbanus Rajagukguk.

Setelah situasi dan kondisi politik kembali normal dari pergolakan Agresi Militer dengan adanya pengakuan kedaulatan, maka sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948

(45)

sejak diumumkan pada tanggal 10 Juli 1948, maka semua Kabupaten yang dibentuk pada masa Agresi Militer I dan II harus kembali dilebur, maka sejak tanggal 1 April 1950, Kabupaten Dairi kembali menjadi bagian dari wilayah hukum Kabupaten Tapanuli Utara.

Akan tetapi berhubung proses pemulihan Pemerintahan RI akan terjadi, K.M. Maha dipanggil Residen Tapanuli ke Sibolga dan tidak kembali lagi melaksanakan tugas sebagai kepala pemerintahan Militer Kabupaten Dairi, sehingga J.O.T. Sitohang diangkat menjadi Bupati Dairi.

Perubahan struktur pemerintahan setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia serta pemulihan keamanan bahwa Kecamatan tetap 8 (delapan), kewedanaan dihapus, kenegrian dan kampung berjalan sebagai mana biasa.

Masa Pemberontakan PRRI

Kemudian peristiwa penting terjadi pada tahun 1958, karena timbulnya peristiwa pemberontakan PRRI yang mengakibatkan terputusnya hubungan antara. Sidikalang (Dairi) dengan Tarutung sebagai ibukota Tapanuli Utara, sehingga kegiatan penyelenggaraan pemerintahan hampir vakum. Atas kondisi rawan tersebut, maka untuk menjadi kevakuman pemerintahan oleh Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara dengan suratnya Nomor : 656/UPS/1958 tanggal 28 Agustus 1958 mengambil kebijakan penting dalam pemerintahan dengan menetapkan daerah Dairi menjadi Wilayah Administratif yaitu : Coordinator Schaap,, yang secara langsung berurusan dengan Propinsi Sumatera Utara. Untuk mengisi Koordinator Schaap Pemerintahan di Dairi dihunjuk sebagai pimpinan adalah Nasib Nasution (Pati pada

(46)

Koordinator Schaap Pemerintahan Dairi.

4.2. Perjuangan Pembentukan Daerah Otonom

Sejak tahun 1958, aspirasi masyarakat Dairi untuk memperjuangkan. Daerahnya sebagai Kabupaten yang otonom tetap tumbuh berkembang dengan mengutus pertama kali Tokoh Masyarakat ke Jakarta untuk menyampaikan hasrat dimaksud agar disetujui. Aspirasi dan tuntutan tersebut terus berkembang sampai Tahun 1964 dan saat itu tokoh masyarakat, Mangantar Dairi Solin dkk diutus dan berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkannya di Departemen Dalam Negeri. Akhimya pertimbangan persetujuan pembentukan daerah Otonom Kabupaten Dairi, diproses oleh Pemerintah Pusat. Menteri Dalam Negeri saat itu Bapak Sanusi Harjadinata yang pada tahun itu menyetujui Daerah Tingkat II Dairi menjadi Daerah Otonom Kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Tapanuli Utara.

Dalam situasi tersebut dikeluarkanlah Undang-Undang Darurat yaitu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERDU) Nomor 4 tahun 1964 tanggal 13 Pebruari 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi yang berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1964. Untuk mempersiapkan pembentukan DPRD-Dairi dan pemilihan Bupati yang defenitif, maka diangkatlah Rambio Muda Aritonang sebagai Pejabat Bupati KDH Dairi dan setelah beliau selesai menyusun anggota DPRD sebanyak 20 orang, dilanjutkan dengan pemilihan Bupati. Saat itu terpilih Mayor Raja Nambah Maha, yang memperoleh suara terbanyak menjadi Bupati KDH Tingkat II Dairi dan Wal Mantas Habeahan terpilih sebagai Sekretaris Daerah.

Kemudian oleh Pemerintah Pusat dan DPR RI, ditetapkanlah Undang– Undang Nomor

(47)

15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi (sebagai Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1964).

Peresmian Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi menjadi Daerah Tingkat II Otonom dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 2 Mei 1964 bertempat di Gedung Nasional Sidikalang.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Dairi, yang berlaku surut mulai tanggal 1 Januari 1964, maka wilayah Kabupaten Dairi pada saat pembentukannya terdiri atas 8 (delapan) Kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Sidikalang, ibukotanya Sidikalang;

2. Kecamatan Sumbul, ibukotanya Sumbul;

3. Kecamatan Tigalingga, ibukotanya Tigalingga;

4. Kecamatan Tanah Pinem, ibukotanya Kutabuluh;

5. Kecamatan Salak, ibukotanya Salak;

6. Kecamatan Kerajaan, ibukotanya Sukaramai

7. Kecamatan Silima Pungga-Pungga, ibukotanya Parongil;

8. Kecamatan Siempat Nempu, ibukotanya Bunturaja;

4. 3. Berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974

Pada masa berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang PokokPokok Pemerintahan di Daerah, maka telah ditetapkan dalam pasal 75 bahwa pembentukan, nama,

(48)

Pemerintah.

Proses pembentukan Kecamatan diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138-210 Tahun 1982 tanggal 3 Maret 1982 tentang Tata Cara Pembentukan Kecamatan dan Perwakilan Kecamatan maupun Surat Edaran Mendagri Nomor 138/2603/PUOD tanggal 7 Juli 1981, perihal : Prosedur Penyelesaian Masalah Pembentukan Wilayah Kecamatan.

Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, meningkatnya kegiatan pembangunan dan semakin bertambahnya volume tugas pemerintahan, maka wilayah Kabupaten Dairi dari 8 (delapan) Kecamatan diusulkan dimekarkan menjadi 8 Kecamatan dan pembentukan 4 (empat) Perwakilan Kecamatan baru sebagai pemekaran dari 4 (empat) Kecamatan yaitu :

1. Perwakilan Kecamatan Parbuluan dengan ibukotanya Sigalingging, sebagai pemekaran dari Kecamatan Sidikalang.

2. Perwakilan Kecamatan Pegagan Hilir dengan ibukotanya Tigabaru, sebagai pemekaran dari Kecamatan Tigalingga;

3. Perwakilan Kecamatan Siempat Nempu Hulu dengan ibu kotanya Silumboyah, sebagai pemekaran dari Kecamatan Siempat Nempu;

4. Perwakilan Kecamatan Siempat Nempu Hilir dengan ibukotanya Sopo Butar, sebagai pemekaran dari Kecamatan Siempat Nempu.

Sesuai dengan surat persetujuan Menteri Dalam Negeri Nomor 138/579/PUOD tanggal 7 Februari 1985; perihal : Pembentukan Perwakilan Kecamatan di Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, maka ditetapkanlah Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 138/1373/K/THN 1985 tanggal 25 Maret 1985 tentang Pembentukan 4 (empat)

Referensi

Dokumen terkait

bahwa dalam rangka melaksanakan program Nasional penanggulangan kemiskinan diperlukan pendanaan bersama antara Pemerintah Pusat dan daerah yang dikelola secara tertib,

bersama Kementerian Dalam Negeri dapat mendorong pemerintahan daerah mengelola keuangan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif,

Menimbang : a.bahwa untuk tertib administrasi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah serta untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 151 Peraturan Pemerintah

bahwa dalam rangka pengelolaan keuangan desa dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, agar dapat dilaksanakan secara tertib, taat pada peraturan

Organisasi Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah serta perubahan pengelolaan keuangan Rumah Sakit Umum

Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa Pemerintah Daerah menyusun Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan

Pemisahan ini ditegaskan dalam Pasal 1 angka 21 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah bahwa Penyertaan Modal Pemerintah Pusat/

Sibuea, Asas Negara Hukum, Peraturan Kebijakan, dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik, Erlangga, Jakarta: 2010, hal.. cenderung membuat pemerintah menjadi lamban