• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Good Corporate Governance

2.1.1 Pengertian dan konsep dasar Good Corporate Governance

Sejumlah teori berusaha untuk menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan Good Corporate Governance. Teori- teori ini berdasarkan pada berbagai perspektif, sumber, dan disiplin ilmu yang berbeda. Dua teori utama yang terkait dengan corporate governance adalah stewardship theory dan agency theory (Chinn, 2000; Shaw, 2003).

Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki integritas dan kejujuran terhadap pihak lain. Hal ini yang dikehendaki pemegang saham terhadap manajemennya. Dengan kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai seseorang yang dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder.

Sementara itu, agency theory memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai “agents” bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya sendiri, bukan sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham. Dalam perkembangan selanjutnya, agency theory mendapat respon lebih luas karena dipandang lebih mencerminkan kenyataan yang ada (Kaihatu, 2006). Berbagai pemikiran mengenai corporate governance berkembang dengan bertumpu pada agency theory dimana seringkali timbul konflik karena adanya pemisahan antara kepemilikan (ownership) dan pihak manajemen (agent) dalam mengelola perusahaan tersebut. Para agent lebih mementingkan diri mereka daripada kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, diperlukan sistem check balance seperti corporate governance dalam pelaksanaanya (Tjager, Alijoyo, Djemat & Soembodo, 2003, p.24).

Adapun beberapa pengertian yang dihimpun dari berbagai sumber mengenai Good Corporate Governance.

(2)

1. Forum For Corporate Governance in Indonesia (FCGI)

Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan Good Corporate Governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi stakeholders.

Disini dijelaskan bahwa Good Corporate Governance adalah sebuah wadah bagi berbagai pihak, baik pihak yang berada di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan agar setiap sistem di perusahaan berjalan dengan benar. (Hindarmojo, 2002)

2. Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) Sekumpulan hubungan antara pihak manajemen perusahaan, board, pemegang saham, dan pihak lain yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan. Corporate Governance juga mengisyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja.

Corporate Governance yang baik dapat memberikan rangsangan bagi board dan manajemen untuk mencapai tujuan yang merupakan kepentingan perusahaan dan pemegang saham harus memfasilitasi pengawasan yang efektif sehingga mendorong perusahaan menggunakan sumber daya yang lebih efisien.

Disini OECD menjelaskan bahwa Corporate Governance merupakan suatu sistem yang mengatur berbagai pihak dalam perusahaan agar semua pihak berjalan dan berhubungan dengan baik. Selain itu, dengan adanya Corporate governance sebuah perusahaan atau entitas bisnis diarahkan dan diawasi agar berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan tersebut. (dalam Surya & Yustiavandana, 2006) 3. Komite Cadbury

Sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan, agar mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan, untuk menjamin kelangsungan

(3)

eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada stakeholders. Hal ini berkaitan dengan peraturan kewenangan pemilik, Direktur, manajer, pemegang saham, dan sebagainya.

Dari penjelasan diatas Good Corporate Governance adalah sebuah alat yang dapat menjaga keseimbangan dari tiap-tiap kewenangan yang dimiliki oleh pihak-pihak dalam perusahaan tersebut. (dalam Surya &

Yustiavandana, 2006) 4. Zarkasyi

Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) merupakan struktur yang oleh stakeholder, pemegang saham, komisaris, dan manajer menyusun tujuan perusahaan dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut dan mengawasi kinerja. Good Corporate Governance merupakan suatu sistem (input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Good Corporate Governance dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan- kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki segera.

Disini Good Corporate Governance merupakan sebuah struktur yang melibatkan berbagai pihak sehingga menghasilkan sebuah tata kelola perusahan yang baik sehingga tujuan perusahaan tercapai. Selain itu, Good Corporate Governance merupakan sebuah sistem proses input maupun output, dengan adanya sistem maka kesalahan yang ada bisa diproses dan diselesaikan. (Zarkasyi, 2008)

5. Price Waterhouse Coopers

Corporate Governance terkait dengan pengambilan keputusan yang efektif. Dibangun melalui kultur organisasi, nilai-nilai, sistem, berbagai proses, kebijakan-kebijakan dan struktur organisasi, yang bertujuan untuk mencapai bisnis yang menguntungkan, efisien dan efektif dalam

(4)

mengelola resiko dan bertanggung jawab dengan memerhatikan kepentingan stakeholders.

Disini Good Corporate Governance adalah suatu budaya yang ada dalam suatu perusahaan, sehingga dari budaya tersebut akan mucul nilai- nilai, struktur, sistem, proses dan berbagai kebijakan sehingga menghasilkan pengelolaan perusahaan yang bisa berjalan dengan baik dan benar. (dalam Surya & Yustiavandana, 2006)

Berdasarkan dari definisi-definisi di atas, penulis memakai definisi dari Zarkasyi, karena adanya suatu sistem (input, proses, output) dan juga adanya cara untuk mengatur hubungan-hubungan dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.

2.1.2 Tujuan Good Corporate Governance

Berdasarkan berbagai definisi GCG yang disampai di atas dapat diketahui ada lima macam tujuan utama Good Corporate Governance yaitu (Emirzon, 2006, p.96) :

1. Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham.

2. Melindungi hak dan kepentingan para anggota stakeholders non- pemegang saham.

3. Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham.

4. Meningkatkan effisiensi dan efektifitas kerja Dewan Pengurus atau Board of Directors dan manajemen perusahaan.

5. Meningkatkan mutu hubungan Board of Directorss dengan manajemen senior perusahaan.

(5)

2.1.3 Manfaat Good Corporate Governance

Dengan adanya penerapan Good Corporate Governance dalam suatu perusahaan, maka manfaat yang diperoleh adalah (Hindarmojo, 2002) : 1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses

pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan dengan lebih baik, serta lebih meningkatkan pelayanan kepada shareholders.

2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan corporate value.

3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya.

4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan deviden.

2.1.4 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance

Setiap perusahaan harus memastikan bahwa prinsip GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Adapun prinsip- prinsip tersebut adalah (Wardoyo, 2010) :

a. Menurut OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), prinsip-prinsip GCG adalah :

1. Perlindungan atas hak-hak pemegang saham : menjamin keamanan metoda pendaftaran kepemilikan, mengalihkan atau memindahkan saham yang dimiliki, memperoleh informasi yang relevan tentang perusahaan secara berkala dan teratur, ikut berperan dan memberikan suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), memilih anggota dewan komisaris, dan dewan direksi, serta memperoleh pendistribusian keuntungan perusahaan.

2. Perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham : persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham termasuk pemegang saham asing dan minoritas.

3. Peranan stakeholders dalam corporate governance : peranan pemangku kepentingan yang terkait dengan perusahaan yaitu

(6)

dorongan kerjasama antara perusahan dengan pemangku kepentingan agar tercipta kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan kesinambungan usaha.

4. Keterbukaan dan transparansi : terkait keuangan, kinerja perusahaan, kepemilikan, dan pengelolaan perusahaan. Informasi yang diungkapkan harus disusun, diaudit, dan disajikan sesuai dengan standar yang berkualitas tinggi.

5. Akuntabilitas dewan komisaris : corporate governance menjamin adanya pedoman strategi perusahaan, pemantauan yang efektif terhadap manjemen yang dilakukan oleh dewan komisaris dan akuntabilitas dewan komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

b. Menurut ICGN (International Corporate Governance Network), prinsip-prinsip GCG yang dapat dipakai sebagai best practices dalam penerapan good corporate governance adalah :

1. Honesty (kejujuran), prinsip ini menuntut perusahaan menyampaikan kebenaran di setiap waktu tanpa harus memperhatikan konsekuensinya. Kejujuran adalah hal penting dalam membangun hubungan saling percaya diantara semua partisipan CG, antara lain meliputi dewan direksi, manajemen, auditor, dewan penasehat, karyawan, pelanggan dan pemerintah.

2. Resilience (kekuatan segera pulih), prinsip ini menuntut perusahaan mengembangkan struktur GCG yang mampu bertahan hidup dan segera pulih kembali jika perusahaan mengalami kemunduran atau kegagalan. Oleh karena itu, mekanisme GCG dirancang untuk mencegah, mendeteksi, dan mengoreksi segala bentuk kegagalan yang dialami perusahaan.

3. Responsiveness (ketanggapan), prinsip ini menuntut perusahaan bereaksi cepat terhadap permintaan dan tuntutan para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, mekanisme GCG menekankan arti penting penciptaan nilai bagi semua pemangku kepentingan, termasuk terhadap pelestarian lingkungan.

(7)

4. Transparency (transparansi), pada dasarnya prinsip ini menuntut perusahaan menyajikan secara terus-terang informasi yang relevan bagi para pemangku kepentingan secara andal dan dalam bahasa yang mudah dipahami. Informasi yang disajikan tidak sebatas terkait dengan keuangan, tetapi juga informasi non-keuangan seperti misalnya informasi terkait dengan operasi, sturktur, dan konflik kepentingan yang mungkin terjadi di perusahaan.

c. Terdapat tiga prinsip integral SOA (Sarbanes Oxley Act) yang dianut sebagai berikut :

1. Integrity (integritas), prinsip ini merujuk kepada kelengkapan catatan keuangan. Jika informasi keuangan tidak lengkap maka investor tidak akan memiliki gambaran yang representatif tentang situasi perusahaan.

2. Reliability (keandalan), prinsip ini merujuk kepada penyajian informasi yang akurat. SOA menuntut perusahaan untuk meminimalkan kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja karena kedua jenis kesalahan tersebut dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.

3. Accountability (akuntabilitas), prinsip ini merujuk kepada pihak yang diberi amanah untuk menetapkan pengendalian atas perusahaan dan bertanggung jawab atas kegagalan, jika terjadi.

d. Menurut KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) prinsip- prinsip GCG yang ada adalah transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kesetaraan dan kewajaran. Prinsip ini diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan.

1. Transparansi (Transparancy)

Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang diisyaratkan oleh

(8)

peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Akuntabilitas merupakan persyaratan yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibility)

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan Good Corporate Citizen.

4. Independensi (Independency)

Untuk melancarkan pelaksanaan prinsip GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5. Kesetaraan dan Kewajaran (Fairness)

Dalam melaksanaakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham, pemangku kepentingan lainnya dan semua orang yang terlibat didalamnya berdasarkan prinsip kesetaraan dan kewajaran.

Disini penulis menetapkan penggunaan prinsip GCG menurut KNKG untuk penelitian ini. Penulis menggunakan prinsip ini karena tepat untuk perusahaan Indonesia dan prinsip ini juga melihat keseimbangan antara kinerja perusahaan dan kepentingan berbagai pihak, sehingga cocok untuk penelitian ini.

(9)

2.1.5 Pilar-pilar dalam Good Corporate Governance

Good Corporate Governance diperlukan untuk mendorong tercipatnya pasar yang efisien, transparan, dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Penerapan Good Corporate Governance perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai penguna produk dan jasa dunia usaha (Zarkasyi, 2008).

1. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang menunjukkan iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten (consistent law enforcement).

a) Melakukan koordinasi secara efektif antara penyelenggara negara dalam penyusunan peraturan perundang-undangan berdasarkan sistem hukum nasional dengan memprioritaskan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan dunia usaha dan masyarakat. Untuk itu regulator harus memahami perkembangan bisnis yang terjadi untuk dapat melakukan penyempurnaan atas peraturan perundang- undangan secara berkelanjutan.

b) Mengikutsertakan dunia usaha dan masyarakat secara bertanggung jawab dalam penyusunan peraturan perundang-undangan (rule- making rules).

c) Menciptakan sistem politik yang sehat dengan penyelenggaraan negara yang memiliki integritas dan profesionalitas yang tinggi.

d) Melaksanaakn peraturan perundang-undangan dan penegak hukum secara konsisten (consistent law enforcement).

e) Mencegah terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

f) Mengatur kewenangan dan koordinasi antar-instansi yang jelas untuk meningkatkan pelayanan masyarakat dengan integritas yang tinggi dan mata rantai yang singkat serta akurat dalam rangka mendukung terciptanya iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.

(10)

g) Memberlakukan peraturan perundang-undangan untuk melindungi saksi dan pelapor (whistleblower) yang memberikan informasi mengenai suatu kasus yang terjadi pada perusahaan. Pemberi informasi dapat berasal dari manajemen, karyawan perusahaan atau pihak lain.

h) Mengeluarkan peraturan untuk menunjang pelaksanaan GCG dalam bentuk ketentuan yang dapat menciptakan iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.

i) Melaksanakan hak dan kewajiban yang sama dengan pemegang saham lainnya dalam hal Negara juga sebagai pemegang saham perusahaan.

2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar pelaksanaan usaha.

a) Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.

b) Bersikap dan berprilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.

c) Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

d) Meningkatkan kualitas struktur pengelolan dan pola kerja perusahaan yang didasarkan pada prinsip GCG secara berkesinambungan.

e) Melaksanakan fungsi ombudsman untuk dapat menampung informasi tentang penyimpangan yang terjadi pada perusahaan.

Fungsi ombudsman dapat dilaksanakan bersama pada suatu kelompok usaha atau sektor ekonomi tertentu.

3. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena dampak dari perusahaan, menunjukan kepedulian dan melakukan kontrol sosial secara objektif dan bertanggung jawab.

a) Melakukan kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara serta terhadap kegiatan dan produk atau jasa

(11)

yang dihasilakan oleh dunia usaha, melalui penyampaian pendapat secara objektif dan bertanggung jawab.

b) Melakukan komunikasi dengan penyelenggaraan negara dan dunia usaha dalam mengekspresikan pendapat dan keberatan masyarakat.

2.2 Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku 1. Prinsip Dasar

Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, pelaksanaan GCG perlu dilandasi oleh integritas yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan pedoman perilaku yang dapat menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua karyawan dalam menerapkan nilai-nilai dan etika bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan.

Prinsip dasar yang harus dimiliki oleh perusahaan:

a. Setiap perusahaan harus memiliki nilai-nilai perusahaan yang menggambarkan sikap moral perusahaan dalam pelaksanaan usahaanya. (Zarkasyi, 2008)

b. Untuk dapat merealisasikan setiap moral dalam pelaksanaan usahaanya, perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati oleh organ perusahaan dan semua karyawan. Pelaksanaan etika bisnis yang berkesinambungan akan membentuk budaya perusahaan yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai perusahaan.

(Zarkasyi, 2008)

c. Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu dituangkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilalu agar dapat dipahami dan ditetapkan. (Zarkasyi, 2008)

2. Pedoman Pokok Pelaksanaan a. Nilai-nilai Perusahaan

Nilai-nilai perusahaan merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Oleh karena itu, sebelum merumuskan nilai- nilai perusahaan, perlu dirumuskan visi dan misi perusahaan.

Walaupun nilai-nilai perusahaan pada dasarnya univesal, namun dalam merumuskan perlu disesuaikan dengan sektor usaha serta karakter dan

(12)

letak geografis dari masing-masing perusahaan. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara nilai adalah terpecaya, adil dan jujur. (Zarkasyi, 2008)

b. Etika Bisnis

Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanaakan kegiatan usaha termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku kepentingan. Penerapan nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis secara berkesinambungan mendukung terciptanya budaya perusahaan. Setiap perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati bersama dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku.

(Zarkasyi, 2008)

2.3 Perusahaan Keluarga

2.3.1 Pengertian Perusahaan Keluarga

Ada banyak pengertian dan sudut pandang yang berbeda dalam pengertian perusahaan keluarga. Diantaranya adalah:

Perusahaan keluarga menurut (Ward dan Arnoff, 2002 dalam Susanto, 2007). Suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan.

Sedangkan menurut (Donnelley, 2002 dalam Susanto, 2007). Suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan.

Lalu, menurut (Neubauer dan Lank, 1998 dalam Casillas, Acedo, dan Moreno, 2007, p.18). Perusahaan keluarga bisa dilihat dari 3 aspek.

Pertama, perusahaan dikatakan perusahaan keluarga bila mayoritas kepemilikan saham dimiliki keluarga tersebut, atau keluarga tersebut mengontrol secara keseluruhan perusahaan tersebut. Kedua, terdapat anggota keluarga dalam managemen perusahaan tersebut yang menempati posisi penting. Ketiga, terdapat suksesi dalam perusahaan tersebut yang

(13)

menjaga kepemilikan perusahaan tersebut agar berjalan secara terus menerus.

Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa perusahaan keluarga adalah perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga dan pengambilan keputusan, kebijaksanaan maupun penyusunan strategi dan kegiatan bisnis dilakukan oleh anggota keluarga, dan ada dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan.

2.3.2 Jenis Perusahaan Keluarga

Berdasarkan Susanto (2007) terdapat dua jenis perusahaan keluarga : 1. Family Owned Enterprise (FOE)

Yaitu perusahaan yang dimiliki oleh keluarga tetapi dikelola oleh eksekutif professional yang berasal dari luar lingkaran keluarga. Dalam hal ini keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi di lapangan agar pengelolaan perusahaan berjalan secara professional. Dengan pembagian peran ini, anggota keluarga dapat mengoptimalkan diri dalam fungsi pengawasan. Seringkali, perusahaan tipe ini merupakan lanjutan dari usaha yang semula dikelola oleh keluarga yang mendirikan.

2. Family Business Enterprise (FBE)

Yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga pendirinya. Baik kepemimpinan maupun pengelolaannya dipegang oleh pihak yang sama yaitu keluarga. Perusahaan keluarga tipe ini dicirikan oleh dipegangnya posisi-posisi kunci dalam perusahaan oleh anggota keluarga. Di Indonesia, kebanyakan perusahaan keluarga berjenis FBE dimana para anggota keluarga juga menjadi pengelolanya. Dalam perjalanannya, seiring dengan tumbuh kembang perusahaan, dinamikanya juga semakin kompleks. Dinamika yang tinggi tentu saja menuntut kompetensi yang tinggi bagi pengelolanya. Jika kebutuhan akan kompetensi ini tidak terpenuhi oleh anggota keluarga maka dibutuhkan suntikan tenaga dari luar lingkungan keluarga. Berangkat dari tuntutan

(14)

semacam ini, tumbuh kembang perusahaan membuat perusahaan keluarga bermetamorfosa dari FBE menjadi FOE.

2.3.3 Tiga Model Lingkaran Perusahaan Keluarga

John Davis dan Morris Taguiri (Hoover, 2000, p.61 dalam Wahjono, 2009, p.6) menyatakan bahwa terdapat tiga (3) elemen pengaruh dalam bisnis keluarga, seperti terlihat di gambar 2.1 bawah ini.

(1) Keluarga, keberhasilan dalam keluarga diukur dalam artian harmoni, kesatuan, dan perkembangan individu yang bahagia dengan harga diri yang solid dan positif.

(2) Bisnis, adalah entitas ekonomi dimana keberhasilan diukur bukan pada harga diri dan kesenangan interpersonal individu, tetapi dalam produktivitas dan profesionalisme. Sehingga ukuran utama seseorang terletak pada kontribusi terhadap pelaksanaan strategi, pencapaian terget, dan profitabilitas perusahaan.

KELUARGA BISNIS

KEPEMILIKAN

Gambar 2.1

Tiga Elemen Bisnis Keluarga Davis & Taguiri Sumber : “Hoover, 2000, p.61 dalam Wahjono, 2009, p.6”

(15)

(3) Kepemilikan, didasarkan pada peranan seseorang dalam investasi dalam perusahaan, peranan meminimalkan risiko, mewakili perusahaan berhubungan dengan pihak luar.

Dalam bisnis keluarga, ketiga elemen tersebut bercampur menjadi satu bahkan batas-batas diantara ketiganya kabur dan tak tampak. Banyak fungsi menjadi tumpang tindih sehingga sering terjadi ketegangan hubungan, tetapi banyak hal menunjukkan bahwa kesuksesan bisnis keluarga dimulai dari kaburnya batas-batas itu. Untuk menjamin dinamika bisnis keluarga tetap dalam posisi yang menguntungkan, maka perlu dipertegas aturan hubungan bisnis keluarga, seperti tergambar dalam tabel 2.1 berikut (dalam Wahjono, 2009, p7).

Tabel 2.1

Matrix Aturan Hubungan Bisnis Keluarga Davis & Taguiri

Keluarga Bisnis Kepemilikan

Mengukur Keberhasilan

Harmoni Produksi ROI dan ROS

(responsibility of stewarship) Otoritas Kesetaraan Tidak setara Keduanya (setara dan

tidak setara Penghargaan

Finasial

Berdasarkan Keperluan

Berdasarkan Produktivitas

Berdasarkan apa yang diambil dan yang

ditinggalkan.

Lokus Pentingnya Individual aspirasi Tujuan Profitabilitas Aturan Inklusi Penerimaan tanpa

kondisi

Tergantung pada kondisi

Berhak ataukah diperoleh

2.3.4 Karakteristik Perusahaan Keluarga

Ada beberapa karakteristik dalam perusahaan keluarga yang membedakan dengan perusahaan yang non-keluarga. Seringkali karakteristik ini terlihat dari perbedaan kepemimpinan dan control dalam perusahaan tersebut. Menurut (Uhlaner, 2005, p.49 dalam Casillas, Acedo,

Sumber : “ Hoover, 2000, p. 64 dalam Wahjono, 2009, p.8”

(16)

dan Moreno, 2007, p.20) karakteristik perusahaan keluarga terbagai menjadi enam faktor. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. Family Ownership of the Firm

Perusahaan bisa dikatakan perusahaan keluarga dilihat bagaimana porsi kepemilikan perusahaan yang dipegang oleh keluarga tersebut.

Biasanya keluarga mempunyai mayoritas kepemilikan perusahaan yang besar.

2. Representation of the Family Management

Selanjutnya, perusahaan keluarga mempunyai representasi anggota keluarga dalam fungsi managemennya. Representasi anggota keluarga tersebut memegang posisi penting di dalam perusahaan.

3. Family Proportion of the Management Team

Dalam sebuah managemen perusahaan keluarga juga dilihat berapa anggota keluarga yang menduduki perusahaan tersebut. Bagaimana porsi pembagian fungsi managemen antara anggota keluarga dan non-keluarga.

4. The Family Determines Strategy

Karaktertistik yang terlihat selanjutnya adalah keluarga memegang peranan penting dalam menentukan strategi perusahaan. Dan yang mengambil keputusan pun tergantung pada keluarga pemilik perusahaan tersebut.

5. Plans for General Succession

Dalam perusahaan keluarga, biasanya anak-anak sudah dipersiapkan dan diajari untuk berbisnis sejak dini. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan penerus perusahaan tersebut di masa datang.

6. Self-perception as a Family Business

Dan yang terakhir adalah persepsi diri bahwa perusahaan tersebut adalah sebuah perusahaan keluarga. Hal ini mengakibatkan nilai-nilai maupun budaya perusahaan dipengaruhi oleh keluarga yang mendirikan perusahaan tersebut.

(17)

Sedangkan, karakteristik perusahaan keluarga menurut (Susanto, 2007), yaitu:

1. Keterlibatan Anggota Keluarga

Dimana dalam keterlibatan ini, anak dari pemilik perusahaan sudah dididik dan diajari bisnis oleh orang tuanya, sehingga pada saat ia dewasa ia menjadi mengerti dan siap untuk meneruskan bisnis orang tuanya tersebut.

2. Lingkungan Pembelajaran yang Saling Berbagi

Generasi penerus sering punya kurva pembelajaran yang cepat. Hal ini dikarenakan lingkungan ia sudah berada di dalam lingkungan bisnis.

Mereka disuruh untuk menjaga toko, obrolan orang tua juga tentang bisnis, bahkan bertemu dengan orang pun tentang bisnis. Sehingga dari kecil pola pikir anak-anak mereka sudah terbentuk pola pikir bisnis, yang menyebabkan pembelajaran mereka semakin cepat.

3. Tingginya Saling Keterandalan

Anggota keluarga saling mempunyai komitmen dan ilmu yang tinggi sehingga mereka dapat saling mendukung satu sama lain dan tidak perlu khawatir dan was-was jika salah satu anggota keluarga tidak bisa hadir.

4. Kekuatan Emosi

Perusahaan keluarga dikelola secara emosional sehingga rasa kekeluargaannya tinggi. seringkali para karyawan dan manajer sudah dianggap seperti keluarga sendiri dan mereka saling percaya satu dengan yang lain.

5. Kekaburan Fungsi

Seringkali banyak terjadi kekaburan fungsi dalam perusahaan keluarga. Orang-orang seperti dewan komisaris dan pemegang saham sering mengunjungi pabrik untuk mengawasi kegiatan operasional. Hal seperti itu seharusnya tidak diperlukan karena dapat menimbulkan kerancuan dan kebingungan di pihak karyawan.

6. Kepemimpinan Ganda

Disetiap divisi perusahaan sudah ada eksekutif professional yang menjalankan kegiatan operasional perusahaan. Namun, seringkali masih

(18)

ada intervensi dari pihak keluarga yang dapat membingungkan anak buah.

Hal ini membuat kepemimpinan dalam perusahaan tersebut menjadi berganda.

Dari berbagai karakteistik ini penulis menggunakan karakteristik yang di kemukakan oleh Susanto (2007). Hal ini dikarenakan karakteristik tersebut sesuai dengan perusahaan-perusahaan keluarga yang ada di Indonesia yang skala perusahaannya tidak terlalu besar, sehingga hubungan keluarga dengan pihak manajemen seringkali masih bercampur aduk.

2.3.5 Fase Pertumbuhan Perusahaan Keluarga

Pola pikir Perusahaan Keluarga adalah menjadikan usahanya tumbuh dan berkembang. Ada 4 (empat) fase pertumbuhan (Susanto,2007) , yaitu:

1. Fase Pengembangan (Developing Phase)

Pada fase Pengembangan yang berperan sebegai motor penggerak utama bisnis adalah pendiri dan anggota keluarganya. Di samping keluarga, eksistensi perusahaan keluarga juga ditentukan oleh stakeholders lain seperti customers, para karyawan,dan komunitas sekitar.

2. Fase Pengelolaan (Managing Phase)

Pada waktu perusahaan sudah mulai masuk fase pengelolaan, ada tujuh isu penting yang muncul yaitu,

a. Konflik nilai antara perusahaan dan keluarga atau dengan stakeholders lainnya.

b. Rencana suksesi yang tidak jelas dan konflik antara calon-calon penggantinya.

c. Struktur organisasi berkaitan dengan penempatan anggota serta kompetensi yang diperlukan bila ingin bergabung dengan perusahaan.

d. Isu kompensasi berkaitan dengan keadilan (fairness) antara kompensasi bagi keluarga dan bukan keluarga serta besar kecilnya kompensasi itu sendiri.

(19)

e. Kemampuan mengelola kompetensi yang beragam antara pemilik, manajer, karyawan, dan anggota keluarga serta mengatasi konflik yang terjadi.

f. Isu pembagian pendapatan (revenue distribution) adalah mengenai keadilan distribusi pendapatan diantara anggota-anggota keluarga.

g. Adanya penyelarasan antara keinginan keluarga dan kebutuhan bisnis dengan tujuan agar proses-proses yang ada operasi perusahaan berjalan lancar.

3. Fase Transformasi (Transformation Phase)

Dalam Fase transformasi harus dimasukkan unsur- unsur profesionalisme ke dalam perusahaan. Hal baru yang harus dipikirkan dalam fase ini antara lain berupa peran baru bagi keluarga, pemantauan dan pengendalian, pengembangan organisasi, serta aset pribadi dan perusahaan. Harus jelas apakah mereka masih mau terus terlibat penuh atau mulai ada fungsi-fungsi yang dialihtugaskan kepada professional non- family.

4. Fase Mempertahankan (Sustaining Phase)

Ketika ketiga fase diatas dilalui dengan baik, maka profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan dapat dicapai dalam fase mempertahankan. Pada fase ini semua pengelolaan, sistem, prosedur, serta kebijakan organisasi, telah tertata dan terimplementasi dengan baik. Perusahaan tidak lagi bergantung pada figur pribadi atau keluarga dalam menjalankan operasinya tetapi pada sistem baku yang senantiasa diperbaiki.

2.3.6 Struktur Perusahaan Keluarga

Michael Friedman dan Scott Friedman menjelaskan empat macam struktur perusahaan keluarga, yaitu (Susanto, 2007) :

1. Kepemilikan Tunggal (Sole Proprietorship)

Perusahaan dikelola oleh pemiliknya sendiri. Ini merupakan cara termudah dan termurah dalam mendirikan bisnis. Kepemilikan tunggal ini bukan merupakan badan hukum yang terpisah dari pemiliknya. Oleh

(20)

karena itu pemilik bertanggung jawab sepenuhnya atas semua hutang dan kewajiban bisnisnya.

2. Perkongsian Umum (General Partnership)

Merupakan asosiasi sukarela dari dua atau tiga orang, perusahaan atau badan hukum yang setuju untuk bekerja sama, berbagi keuntungan dan kerugian serta pengawasan untuk tujuan bisnis. Untuk membentuk perkongsian ini dituntut langkah-langkah formal seperti rapat-rapat, dokumen-dokumen yang perlu disiapkan dan ditandatangani. Keuntungan jenis bisnis ini adalah berbagi beban kerja, berbagi biaya dan resiko keuangan dan menggunakan bakat-bakat dan sumber-sumber daya khusus.

Namun ada kerugiannya juga, yaitu umumnya keharusan berbagi keberhasilan secara finansial, penyerahan pengawasan manajemen, harus bekerja dengan orang yang mungkin tidak disukai dan tanggung jawab pribadi untuk tindakan yang dilakukan mitra atas nama bisnis, meskipun tindakan itu tidak diketahui atau dalam persetujuan dengan mitra. Setiap mitra dituntut secara pribadi bertanggung jawab atas hutang-hutang dan kewajiban-kewajiban dalam perkongsian itu.

3. Perkongsian Terbatas (Limited Partnership)

Adalah badan hukum yang diciptakan di bawah undang-undang. Tidak seperti perkongsian umum yang hanya berdasarkan kesepakatan lisan, perkongsian terbatas dibentuk berdasarkan persyaratan-persyaratan menurut hukum setempat. Setiap perkongsian terbatas harus mempunyai sekurang-kurangnya satu mitra umum dan satu mitra terbatas yang tidak harus perorangan, tetapi bisa perusahaan. Mitra terbatas mempunyai otoritas manajerial yang terbatas dalam kegiatan perkongsian. Mitra terbatas bertanggung jawab atas kewajiban perkongsian hanya sebatas investasinya di bisnis itu. Sedangkan mitra umum dari perkongsian terbatas mempunyai tanggung jawab pribadi tak terbatas untuk kewajiban- kewajiban perkongsian umum.

4. Perseroan Terbatas (Corporation)

Corporation memiliki tanggung jawab tidak terbatas pada kewajiban- kewajiban bisnisnya. Sebagai aturan umumnya, pemegang saham

(21)

perusahaan tidak mempunyai tanggung jawab pribadi untuk hutang-hutang perusahaan atau tanggung jawab lain di luar nilai investasinya di perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan keluarga jenis ini akan membantu melindungi aset-aset pribadi milik pemegang saham. Tanggung jawab terbatas inilah yang merupakan keuntungan terbesar dalam menjalankan bisnis dengan bentuk korporasi ini. Pemilik perusahaan keluarga membatasi perpindahan liabilitas saham untuk menjamin kepemilikan bisnis tetap dipegang oleh keluarga.

Sedangkan menurut (Kim & Nofsinger, 2007, p.2) struktur perusahaan bisa dibagi menjadi tiga, yaitu :

a. Sole Propiertoship

Bisnis yang dimiliki oleh perorangan. Bisnis ini relatif mudah untuk dibuka pertama kali dan pajak bisnisnya masih berada di tingkat pribadi orang tersebut. Namun, ada kelemahan dalam perusahaan ini, yaitu mempunyai waktu yang terbatas (perusahaan berhenti saat pemilik mati atau pensiun), mempunyai kapasitas terbatas untuk mendapatkan modal, dan pemilik menanggung utang tidak terbatas dari perusahaan.

b. Partnership

Partnership hampir sama seperti sole propiertoship tapi memiliki lebih dari satu pemilik. Partnership berbagi keuntungan dan tidak keuntungan diantara para pemilik. Keuntungan dari partnership adalah kemampuan untuk menarik modal lebih besar daripada perusahaan berbentuk sole propiertoship.

c. Corporation

Corporation berbentuk mempunyai badan hukum sendiri, seolah-olah seperti seseorang. Dengan hal ini corporation bisa melakukan bisnis transaksi dan kegiatan bisnis lainnya dengan nama perusahaan itu sendiri.

Karyawan corporation bertindak sebagai agen dari perusahaan dan menjalankan segala aktivitas perusahaan tersebut.

Dari beberapa struktur perusahaan yang dijelaskan di atas, mempunyai pengertian dan pemahaman yang hampir sama. Namun, dalam penelitian ini penulis memakai struktur perusahaan yang diterangkan oleh

(22)

Susanto (2007) karena lebih lengkap dan jelas, sekaligus sesuai dengan family business yang ada di Indonesia.

2.4 Fungsi Manajemen

Menurut (Bateman & Snell, 2009, p.19), manajemen adalah proses bekerja dengan orang dan sumber daya untuk mencapai tujuan dari organisasi.

Manajer yang baik melakukan sesuatu agar keduanya berjalan efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya ada empat fungsi manajemen yang harus dilakukan perusahaan agar mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Empat fungsi manajemen tersebut adalah :

a. Planning

Planning bertujuan untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dan menentukan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Aktivitas yang dilakukan antara lain menganalisa situasi sekarang, mengantisipasi keadaan yang akan datang, menentukan objektif, menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan perusahaan, memilih strategi yang digunakan dan menentukan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

b. Organizing

Organizing adalah mengumpulkan dan mengkoordinasi orang, keuangan, fisik, informasi dan sumber daya yang lain untuk mencapai tujuan. Aktivitas yang dilakukan antara lain menarik orang masuk perusahaan, menspesifikasi tanggung jawab pekerjaan, membuat sebuah work unit, mengalokasikan sumber daya dan menciptakan suatu kondisi dimana setiap orang bisa bekerja secara maksimal.

c. Leading

Leading bertujuan menstimulus orang agar performanya tetap tinggi, termasuk memotivasi dan saling mengkomunikasikan dengan karyawan, individu maupun grup. Leading membantu dan menginspirasi individu maupun grup untuk mencapai tujuan organisasi.

(23)

d. Controlling

Controlling mempunyai tujuan untuk memonitor performa dan mengimplementasikan perubahan jika dibutuhkan. Dengan controlling manager memastikan sumber daya perusahaan telah dipakai sesuai dengan yang direncanakan dan perusahaan tersebut mencapai tujuan dengan kualitas yang baik dan aman.

2.5 Kerangka Berpikir

Di sini penulis ingin melihat bagaimana kinerja perusahaan PT.

Papasamsu dengan melaksanakan prinsip Good Corporate Governance.

Prinsip yang diterapkan adalah prinsip TARIF, yaitu transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness. Setelah mengamati bagaimana penerapan prinsip Good Corporate Governance maka penulis bisa menyimpulkan apakah prinsip Good Corporate Governance sudah terlaksana dengan baik atau tidak baik. Dengan pelaksanaan prinsip ini maka kinerja perusahaan bisa teroptimalkan dengan baik.

Kinerja Perusahaan PT. Papasamsu

Transparancy Accountability Responsibility Independency Fairness

Implementasi Good Corporate Governance PT. Papasamsu

Gambar 2.2

Sumber : Zarkasyi (2008), KNKG (2006), diolah oleh penulis

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan bangunan pengendali banjir di DAS Bengawan Solo Hilir Plangwot-Sedayu Lawas dari segi ekonomi teknik dengan menggunakan

Program KTP-el merupakan program yang berlandaskan elektronik atau sering dikenal dengan e-Government yang diberikan kepada penduduk Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing

Hasil penelitian ini mempunyai hasil yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Anjani (2010) yang menyatakan bahwa variabel jumlah Surat Setoran Pajak memiliki

terjadi di antara para imam mujtahid dan ulama mu’tabar (yang diakui) dalam masalah-masalah furu’ yang merupakan hasil dan sekaligus konsekuensi dari proses ijtihad

Metode GCV adalah salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh estimasi parameter penghalus pada fungsi variansi yang merupakan modifikasi dari metode Cross

pendidikan agama Islam dalam membentuk sikap religius siswa, dengan mendeskripsikan nilai-nilai religius yang ditanamkan guru pendidikan. agama Islam kepada siswa, dengan

Hasil lokakarya ini akan digunakan seba- gai bahan penyusunan rencana komu- nikasi ( communication plan ) dan pemi- lihan media.. U ntuk memperoleh pembelajaran dari

Tak lupa juga diperuntukkan kepada dosen-dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan tak lupa juga kepada sahabat dan teman-teman yang