PROPOSAL PENELITIAN
STRATEGI GURU DALAM MENGUATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI KLUMPIT PADA PEMBELAJARAN IPA
Oleh
DESY ARIYANTI NIM 201833112
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2022
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL SKRIPSI
Proposal skripsi dengan judul STRATEGI GURU DALAM MENGUATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS 4 SD NEGERI KLUMPIT PADA PEMBELAJARAN IPA oleh DESY ARIYANTI NIM 201833112 program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar disetujui untuk diseminarkan.
Kudus,31Januar2022 Pembimbing I
D
r. Wawan Shokib Rondli, M.Pd.
NIDN. 0615037901 Pembimbing II
F
. Shoufika Hilyana, S.Si., M.Pd.
NIDN. 0006108503 Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
S
iti Masfuah, M.Pd.
NIDN. 0615129001
iii ABSRTRAK
Ariyanti, Desy. 2022. Strategi Guru Dalam Menguatkan Minat Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Klumpit Pada Pembelajaran IPA. Pembimbing (I) Wawan Shokib Rondli, S.Pd, M.Pd (II) F. Shoufika Hilyana, S.Si., M.Pd.
Kata kunci: Strategi guru, Minat belajar
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan startegi guru dalam menguatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit pada pembelajaran IPA, dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat dan mendukung guru dalam mengkuatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit pada pembelajaran IPA.
Dalam pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali, pembelajaran yang berlangsung belum sepenuhnya berjalan dengan efektif karena kurangnya partisipasi siswa yang disebabkan oleh rendahnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Di SD Negeri Klumpit, minat belajar siswa rata-rata tergolong rendah. Untuk itu perlunya peran guru dalam memilih strategi yang tepat dan efisien guna menguatkan semangat, keaktifan serta ketertarikan atau minat belajar siswa.
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dan jenis pendekatan studi kasus sebagai tahapan dalam melakukan penelitian. Penelitian ini akan di laksanakan di SD Negeri Klumpit, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, dengan mengambil subjek guru dan siswa sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data yang meliputi tahap observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan. Dan analisis data kualitatif deskriptif merupakan analisis data yang digunakan.
.
iv DAFTAR ISI
COVER ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING PROPOSAL SKRIPSI... ii
ABSRTRAK ... iii
DAFTAR ISI... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian... 5
1.4 Manfaat Penelitian... 5
1.5 Definisi Operasional ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
2.1 Kajian pustaka ... 6
2.1.1 Strategi Guru... 6
2.1.2 Minat Belajar ... 13
2.1.3 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar ... 23
2.2 Kajian Penelitian yang Relevan ... 26
2.3 Kerangka Teoritis ... 29
2.4 Kerangka Berpikir ... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 32
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 32
3.2 Rancangan Penelitian ... 32
3.3 Data dan Sumber Data Penelitian... 33
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 34
v
3. 5 Instrumen Penelitian ... 35
3.6 Teknik Analisis Data ... 36
3.7 Keabsahan Data ... 38
DAFTAR PUSTAKA ... 40
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Kerangka Teoritis ... 29 Gambar 2. 2 Kerangka Berpikir ... 30
Gambar 3. 1 Tahapan Analisis Data ... 37
vii
DAFTAR TABEL
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 43
Lampiran 2 Lembar Wawancara Pemerolehan Data Awal... 44
Lampiran 3 Pedoman Wawancara Guru ... 46
Lampiran 4 Lembar Wawancara Guru ... 49
Lampiran 5 Pedoman Observasi Guru ... 51
Lampiran 6 Lembar Observasi Guru ... 53
Lampiran 7 Pedoman Wawancara Siswa ... 55
Lampiran 8 Lembar Wawancara Siswa ... 57
Lampiran 9 Pedoman Observasi Siswa... 59
Lampiran 10 Lembar Observasi Siswa ... 61
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Wabah corona virus disease (covid-19) yang melanda berbagai Negara di Dunia, telah memberikan tantangan tersendiri salah satunya dibidang pendidikan. Dalam mengatasi lonjakan peningkatan penularan virus covid-19, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti isolasi, social and physical distanncing, pembatasan sosisal bersakala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kondisi ini, mengharuskan berbagai sekolah dan masyarakat harus bekerja di rumah atau belajar dari rumah. Berdasarkan SE Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran corona virus disease (covid-19), maka pembelajaran tatap muka siswa di sekolah untuk sementara dialihkan menjadi belajar di rumah.
Meskipun belajar di rumah, kegiatan belajar mengajar harus tetap dijalankan melalui pembelajaran online. Pembelajaran online adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar secara virtual melalui aplikasi yang ada di handphone. Menurut Nurchaerani et al. (2021), pembelajaran yang dikemas dalam jaringan secara online menggunakan aplikasi pembelajaran atau jejaring social melalui perangkat elektronik. Pembelajaran online bukan sekedar materi yang dipindah melalui media internet bukan juga sekedar tugas dan soal-soal yang dikirimkan melalui aplikasi tertentu. Pembelajaran online harus direncanakan sesuai dengan minat dan efisisensi dari siswa di sekolah tersebut, dilaksanakan serta dievaluasi sama dengan pembelajaran yang terjadi di kelas.
Pembelajaran online yang diselenggarakan kurang lebih satu setengah tahun, pada akhirnya mulai digantikan lagi dengan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas.
Berdasarkan SE Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati nomor 420/11782/2021 tentang panduan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sekolah dasar dimasa pandemic covid-19 Kabupaten Pati tahun ajaran 2021/ 2022, maka pembelajaran tatap muka di sekolah mulai diaktifkan kembali dengan syarat dan ketentuan yang diberlakukan. Pembelajaran PTM yang diselenggarakan lagi belum sepenuhnya berjalan secara efektif. Siswa masih harus memerlukan penyesuaian lagi karena sudah terbiasa melakukan pembelajaran secara online.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas IV SD Negeri Klumpit Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati, pada proses kegiatan pembelajaran berlangsung
2
terdapat beberapa siswa yang melamun saat guru menerangkan di depan, terdapat siswa yang terlihat memperhatikan akan tetapi saat ditanya tidak bisa. Selain itu, masih ada siswa yang mengobrol dengan teman sebangkunya saat proses pembelajaran berlangsung, dan masih ada siswa yang gaduh dengan menjahili teman sebangkunya. Selama berlangsungnya proses pembelajaran, keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran/tingkat partisipasi masih tergolong rendah. Hal itu terlihat, selama proses pembelajaran berlangsung tidak ada siswa yang mengemukakan pertanyaan untuk meminta klarifikasi atau penjelasan dari guru seputar materi yang dibahas. Penyataan tersebut merupakan bukti dalam proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas masih belum berjalan dengan efektif, kurangnya partisipasi siswa yang disebabkan rendahnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap guru kelas IV SD Negeri Klumpit tentang minat belajar siswa, peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut: minat belajar anak berbeda-beda, ada yang tinggi, baik, sedang dan rendah, namun rata-rata minat belajar anak masih tergolong rendah dapat dilihat saat pembelajaran terkadang siswa malas mencatat, tidak mendengarkan penjelasan guru dan saat jam masuk kelas masih terdapat beberapa siswa yang masih makan jajan di luar, dan saat guru memberikan tugas mandiri terkadang ada siswa yang malas-malasan dalam mengerjakan tugas tersebut.
Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Sulistyawati et al. (2020), berdasarkan hasil penelitiannya bahwa minat belajar pada masa pandemic adalah menurun, menjadi kurang baik bahkan terjadi penurunan nilai-nilai prestasi siswa dalam proses pembelajaran. Penyebab salah satunya penurunan minat belajar karena siswa yang masih belum bisa memfokuskan perhatian ke pembelajaan yang berlangsung. Pernyataan lain dari hasil penelitian oleh Asruh & Moh. Afil (2020), menegaskan bahwa dampak adanya pembelajaran online pada masa pandemic berpengaruh terhadap minat belajar siswa. Siswa menjadi mudah bosan ketika proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dalam meningkatkat kembali minat belajar siswa.
Minat, merupakan perwujudan dari sebuah rasa suka atau cenderung memiliki ketertarikan terhadap suatu hal bisa berupa aktivitas yang muncul dari keinginan diri sendiri tanpa diikuti adanya paksaan ataupun dorongan dari orang lain (Slameto 2016). Peran penting minat dalam kegiatan belajar sangatlah signifikan, seperti mendatangkan kegembiraan atau perasaan senang, mampu meningkatkan konsentrasi atau perhatian siswa, melahirkan sikap belajar siswa yang positif dan kontruktif, membantu siswa memperkuat kemampuan dalam mengingat, dan rendahnya kebosanaan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Faktor
3
pendukung keberhasilan suatu pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan belajar adalah salah satunya melalui peran minat siswa dalam kegiatan belajar (Sadirman 2015).
Minat siswa dalam belajar sangatlah penting untuk diperhatikan, maka perlunya tindakan lebih lanjut atau peran yang dilakukan guru dalam menyusun strategi belajar yang bertujuan menguatkan minat belajar siswa dalam Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas. Haidir
& Salim (2014), Strategi guru merupakan upaya yang dilakukan seorang guru dalam melakukan suatu hal pembelajaran agar dapat menimbulkan ketertarikan, minat dan perhatian siswa demi tercapainya tujuan. Sedangkan menurut Santinah (2016), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu langkah awal dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan memilih berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Maka, dengan menggunakan strategi guru lebih dapat merumuskan tujuan pembelajaran dengan baik, dengan cara mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan siswa, memilih pendekatan dalam proses pembelajaran, serta menentukan batasan-batasan standar keberhasilan.
Guru bukan sekedar berperan sebagai pengajar akan tetapi seorang guru juga memiliki peran dalam membimbing, memimpin dan menjadi fasilitator dalam belajar. Pemikiran kreatif dan inovatif mestinya dimiliki oleh seorang guru dimana hal ini sangatlah penting karena dengan begitu akan lebih mudah dalam menyusun strategi mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Adanya strategi mengajar yang dilakukan guru dengan begitu dapat meningkatkan semangat, aktif dalam belajar, antusiasme, serta memiliki rasa ketertarikan siswa untuk selalu belajar. Salah satu mata pelajara yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam belajar yakni pada mata pelajaran Ilmu Pengatahuan Alam. Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, maka oleh karena itu perlu ditingkatkan mutu pelajarannya (Sulastri, Devita Cahyani Nugraheny, and Ilmi Noor Rahmad 2020).
Mengingat pentingnya pembelajaran IPA di sekolah dasar maka dalam pelaksanaanya diperlukan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sehingga mampu menguatkan minat siswa dalam belajar pelajaran IPA. Guru dituntut untuk meningkatkan kemampuan dan keaktifan siswa melalui strategi pembelajaran yang menarik. IPA merupakan salah satu bidang study yang ada pada semua jenjang pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IPA memiliki peranan yang sangat penting, terutama pada jenjang sekolah dasar. Pelajaran IPA diberikan agar siswa memiliki kemapuan tertentu untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Situasi pembelarann IPA saat ini masih berpusat pada guru (teacher-centered). Dalam hal ini guru masih bersifat dominan atau
4
sebagai sumber utama pengetahuan, dan guru pengontrol atau pengatur proses kegiatan belajar.
Dalam hal ini siswa menjadi pasif dalam pembelajaran, lebih banyak diam, mendengarkan, menulis, menghafalkan dan bisa- bisa proses pembelajaran menjadi membosankan. Keadaan tersebut, membuat pembelajaran akan menjadi tidak bermakna, akibatnya siswa mengikuti pembelajaran bukan karena minat tetapi terpaksa. Pembelajaran yang masih berpusat kepada guru dalam proses pembejaran akan berlangsung kaku yang mengakibatkan sikap kemandirian siswa berkurang dan tidak berkembangnya pengetahuan dan penguasaan konsep, sikap, moral, dan pemberdayaan berpikir siswa. Oleh sebab itu, perlunya penggunaan strategi guru yang tepat, menarik, dan efisien yang mampu menguatkan minat belajar siswa terutama pada pelajaran IPA.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wibowo (2017), menyatakan bahwa melalui strategi yang digunakan oleh guru mampu menguatkan minat dan prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA. Melalui strategi yang tepat, membuat siswa belajar secara langsung, tanpa mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi belajar lebih penting dari pada hasil kegiatannya, karena dalam proses pembelajaran tugas guru yakni membantu siswa dalam membimbing, memimpin dan menjadi fasilitator dalam belajar. Kemudian penelitian lainnya dilakukan oleh Novalis, Sumarno, and Paruntung (2019) yang menghasilkan penerapan strategi yang digunakan oleh guru mampu menguatkan minat siswa dalam belajar yang dibuktikan dengan persentase minat belajar anak yang meningkat dari kondisi awal sebesar 0%
meningkat menjadi 63%.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai strategi apa saja yang dilakukan oleh guru untuk menguatkan minat belajar siswa terutama pada pelajaran IPA di SD Negeri Klumpit. Untuk itu dalam penelitian ini peneliti mengambil judul
“Strategi Guru dalam Menguatkan Minat Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri Klumpit Pada Pembelajaran IPA”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana strategi guru dalam menguatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit pada pembelajaran IPA?
2. Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung guru kelas dalam mengkuatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit?
5 1.3 Tujuan Penelitian
Merujuk dari perumusan masalah di atas dapat diketahui bahwa penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut.
1. Mengetahui strategi guru dalam menguatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit pada pembelajaran IPA.
2. Mengetahui faktor-faktor yang menghambat dan mendukung guru kelas dalam mengkuatkan minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit.
1.4 Manfaat Penelitian
Dalam setiap usaha tentu ada beberapa kegunaan yang diinginkan. Begitupun dalam sebuah penelitian diharapkan dapat memberikan kegunaan kepada berbagai pihak. Di antara kegunaan dari penelitian ini adalah:
1.1.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi referensi yang telah ada sehingga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan khususnya yang berkaitan dengan strategi guru dalam meningkatkan minat belajar siswa.
1.1.2 Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber dan bahan tentang pentingnya minat belajar siswa kelas IV SD Negeri Klumpit.
b. Bagi guru, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas IV di SD Negeri Klumpit sehingga tujuan pendidikan tercapai secara optimal.
c. Bagi peneliti, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan yang sangat besar dalam mengembangkan keilmuan yang didapat di bangku kuliah.
1.5 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran penelitian ini, maka diajukan definisi operasional sebagai berikut :
a. Strategi guru adalah suatu cara atau metode yang dimiliki oleh guru dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.
b. Minat adalah rasa ketertarikan, perhatian, keinginan lebih yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal tanpa ada dorongan dari siapapun itu.
c. Pembelajaran IPA melatih anak berfikir kritis dan objektif yang dilalui dengan cara mengaitkan minat dan pengalaman siswa
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian pustaka
Dalam kajian teori ini, peneliti menguraikan topik penelitian secara sistematis mengenai (1) strategi guru, (2) minat belajar, (3) Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
2.1.1 Strategi Guru 2.1.1.1 Pengertian Guru
Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 pasal 2, guru dikatakan sebagai tenaga profesional yang mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu (Suprihatiningrum 2017).
Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Guru merupakan sosok dibalik keberhasilan suatu pembelajaran. Komponen guru mampu memanipulasi atau merekayasa komponen lain menjadi bervariasi dan sebaliknya komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen yang lainnya (Ngalimun 2017).
Guru orang kedua yang memberikan pembelajaran terhadap siswa setelah keluarga, guru ialah orang yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai, budaya, dan agama terhadap anak didik, dalam proses pendidikan guru memegang peran penting setelah orangtua dan keluarga di rumah.
Dilembaga pendidikan guru menjadi orang terdepan dalam bertugas mengajar, membimbing, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Setelah proses pendidikan sekolah selesai, diharapkan para siswa bisa menjalani kehidupannya ditengah masyarakat karena sudah dibekali pengetahuan dan pengalaman.
Guru merupakan seorang pendidik professional, karena secara implisit ia telah mendedikasikan dirinya untuk menerima dan mengemban tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan
7
anaknya kesekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru.
Dengan demikian tuntutan untuk meningkatkan kinerja guru dalam belajar hendaknya selalu diperhitungkan dan diperhatikan. Guru sebagai personel yang menduduki posisi strategi dalam rangka perkembangannya konsep-konsep baru dalam dunia pengajaran tersebut. Guru adalah salah satu faktor yang menentukan berbagai keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran dikelas, untuk itu profesionalitas guru dalam suatu pembelajaran sangatlah perlu dan dirasakan penting.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa guru merupakan seseorang yang memberikan dorongan berupa motivasi dalam menggapai tujuan melalui proses pembelajaran yang didalamnya mengembangkan kepribadian berupa sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri. Proses pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan dan menumbuhkan seluruh aspek pribadi dalam mempersiapkan suatu kehidupan yang mulia dan berhasil dalam suatu masyarakat dengan sebentuk pemenuhan profesionalisme dari seorang guru.
2.1.1.2 Pengertian Strategi Guru
Bagi seorang guru memiliki strategi dalam meraih keberhasilan dalam proses belajar mengajar adalah suatu keharusan. Karena, dalam proses belajar mengajar seorang guru harus mimiliki ketrampilan yang mumpuni dalam memahami situasi dan mampu mengembangkan model pembelajaran berdasarkan situasi agar proses pembelajaran menjadi efektif, kreatif, dan menyenangkan.
Menurut Haidir & Salim (2014), dalam kajian teknologi pendidikan, strategi pembelejaran termasuk ke dalam ranah perancangan pembelajaran. Perkembangan strategi pembelajaran sebagai ilmu yang diawali dari dunia militer, dan selanjutnya dipergunakan dalam dunia pendidikan. Dalam suatu peperangan sangat diperlukan strategi untuk memperoleh kemenangan. Untuk itu perlunya persiapan dalam
8
menghadapi musuh dimulai dari mengidentifikasi siapa (musuh) yang akan dihadapi, kekuatan yang mereka miliki, senjata yang digunakan, dan lain-lain.
Tanpa adanya identifikasi, mustahil kemenangan akan dicapai, yang ada akan datangnya kekalahan karena kelalaian seorang panglima perang dalam mempersiapkan strateginya.
Sama halnya di dalam proses pembelajaran, seorang guru harus melakukan identifikasi terhadap semua komponen yang berhubungan dengan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru harus tahu siapa yang akan menjadi siswanya, bagamana variasi tingkat intelegensinya, latar belakang para siswa, bagaimana minat belajar siswanya, dan lain sebagainya. Tanpa melakukan proses identifikasi, niscaya seorang guru tidak akan memperoleh tujuan yang diharapkan dari proses pembelajaran yakni siswa mampu memahami seluruh materi yang telah disampaikan. Selain itu, proses pembelajaran akan mengalami banyak kendala, sehingga pembelajaran menjadi tidak kondusif, berjalan tanpa arah serta berlalu tanpa makna. Padahal pada dasarnya, keinginan seorang guru adalah agar semua siswa mampu memahami seluruh materi yang disampaikan dan memaknainya dengan baik. Oleh karena itu, perlunya seorang guru mempersiapkan dan berstrategi sebelum dan sesudah pembelajaran di mulai.
Sebagian orang masih menyamakan pemaknaan kata strategi dengan teknik, metode, dan cara. Kata strategi seringkali diartikan sebagai teknik dan metode.
Pemaknaan terhadap strategi itu dapat dilakukan secara sempit maupun luas.
Pengertian secara sempit, strategi identik dengan metode atau teknik, yaitu cara menyampaikan pesan (message) dalam hal ini materi pelajaran audience (siswa) yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan belajar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kata strategi adalah berkaitan dengan cara, teknik, atau metode untuk melakukan sesuatu.
Kemudian, dalam mencapai tujuan pendidikan yang dinginkan perlunya penyusunan strategi yang harus diperhatikan seorang guru. Pertama, rencana tindakan (serangkaian tindakan) baik pengguna metode maupun pemanfaatan sumber daya yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pengertian secara implisit bahwa perencanaan suatu strategi baru berada pada tingkat rencana kerja
9
belum sampai pada tindakan. Kedua, penyusunan strategi dilakukan pencapaian tujuan pendidikan pada tingkat tertentu. Dengan demikian, seluruh aktivitas yang dilakukan guru, misalnya penetapan metode, pemanfaatan sumber dan media belajar, mengorganisasi materi, dan sampai kepada penilaian (evaluasi) adalah untuk pencapaian tujuan.
Sedangkan apabila diartikan secara luas, strategi dapat mencakup antara lain: 1) Metode, 2) Pendekatan, 3) Pemilihan sumber-sumber, 4) Pengelompokan audience atau siswa, dan 5) Pengukuran keberhasilan. Secara umum strategi mengandung pengertian sebagai garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang ditentukan. Bila dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar, maka strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru- siswa dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran sehingga mencapa tujuan yang telah diharapkan sebelumnya.
Haidir & Salim (2014: 100), menegaskan bahwa ada empat strategi dasar yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi hal-hal berikut:
a. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian siswa sebagaimana yang diharapkan.
b. Memilih system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
d. Menetapkan norma-norma dan batasan minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar selanjutnya yang akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan pembelajaran.
Dengan demikian, sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas, alangkah baiknya untuk mengidentifikasi beberapa hal penting berdasarkan kepada kegiatan dan tujuan pembelajaran agar mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang ditetapkan. Pengidentifikasian hal tersebut, dapat memunculkan beberapa pertanyaan serta menempatkan startegi dasar dalam suatu kegiatan pembelajaran.
10
Setidaknya, seorang guru harus memiliki gambaran-gambaran masalah pokok yang sangat penting sehingga dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran agar berhasil sesuai yang diharapkan. Strategi guru yang disebutkan diatas, dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku bagaimana yang diinginkan sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku (changes of behavior) siswa setidaknya telah diketahui sasaran yang akan dicapai. Hal ini sangat penting dilakukan guru, karena dengan mengetahui hasil yang akan dicapai dapat membantu guru melakukan aktivitas pembelajarannya dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, sasaran yang dirumuskan harus jelas, terarah dan konkrit sehingga mudah dipahami oleh siswa. Bila tidak, maka kegiatan pembelajaran tidak memiliki arah serta tujuan yang pasti. Akibatnya adalah perubahan yang diharapkan terjadi pada siswapun sukar diketahui, karena penyimpangan-penyimpangan dari kegiatan pembelajaran. Biasanya rumusan tujuan pembelajaran dilakukan oleh guru sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
Kedua, memilih cara pendekatan proses pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran. Bagaimana cara guru memandang suatu persoalan, konsep, pengertian, dan teori apa yang akan digunakan dalam memecahkan suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya.
Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif. Metode pembelajaran yang disajikan bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, serta siswa terdorong dan mampu berpikir bebas untuk mengemukakan pendapatnya sendiri.
Perlu dipahami bahwa suatu metode mungkin hanya cocok dipakai untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi dengan sasaran yang berbeda, guru hendaknya jangan menggunakan metode atau teknik penyajian yang sama.
Keempat, menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru memiliki dasar-dasar yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya. Suatu proses pembelajaran
11
baru akan dapat diketahui keberhasilannya setelah dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam belajar mengajar merupakan salah satu strategi yang bisa dipisahkan dengan strategi dasar lainnya.
Jadi dapat disimpulkan, strategi guru adalah upaya yang dilakukan seorang guru dalam melakukan suatu hal pembelajaran agar dapat menimbulkan ketertarikan, minat dan perhatian siswa demi tercapainya tujuan. Seorang guru bertanggung jawab dalam membimbing, mendidik, mengarahkan, mengajar dan melatih siswanya agar menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
2.1.1.3 Prinsip Memilih Strategi Pembelajaran
Dalam memilih atau menentukan strategi pembelajaran terdapat prinsip yang patut diperhatikan seorang guru (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:45) diantaranya sebagai berikut:
a. Tujuan pembelajaran
Adalah kemampuan yang diharapkan dapat tercapai setelah siswa menyelesaikan suatu aktivitas pembelajaran. Guru dapat menentukan atau memilih suatu strategi yang bakal digunakannya melalui tujuan pembelajaran.
b. Aktivitas dan pengetahuan awal siswa.
Aktivitas siswa tidak hanya dalam hal fisik saja tetapi juga melibatkan aktivitas atau aksi yang bersifat psikis ataupun moral. Guru bisa memahami pengetahuan awal siswanya melalui pretest tertulis ataupun tanya jawab pada waktu awal suatu kegiatan pembelajaran. Kemudian guru bisa melakukan penyusunan strategi dengan memaksimalkan metode yang tepat untuk siswa.
c. Integritas bidang study/pokok bahasan
Mengajar dapat menumbuhkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik karena dalam membangkitkan dan mengembangkan aspek tersebut terdapat strategi yang dilakukan oleh pendidik.
Selanjutnya Santinah (2016), memberikan beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam pemilihan strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
a. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
12
b. Pilih tekhnik pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dan dimiliki saat bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja)
c. Gunakan media pembelajaran yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indra siswa.
Sedangkan Djamarah and Aswan Zain (2018) memberikan beberapa kriteria dalam pemilihan srategi pembelajaran, yaitu:
a. Kesesuaian strategi pembelajaran dengan tujuan diranah afektif, kognitif, maupun psikomotorik;
b. Kesesuaian strategi pembelajaran dengan jenis pengetahuan; misalnya verbal, visual, konsep, prinsip, procedural, dan sikap;
c. Kesesuaian strategi pembelajaran dengan sasaran (siswa). Karakteristik siswa yang perlu diperhatikan, yaitu : 1) Kemampuan awal anak seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, dan kemampuan gerak; 2) Perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, perhatian, minat, motivasi dan sebagainya;
3) Latar belakang dan status social kebudayaan
d. Kemampuan strategi pembelajaran untuk mengoptimalkan belajar siswa;
e. Karena strategi pembelajaran tertentu memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, oleh sebab itu dalam pemilihan dan penggunaannya harus menyesesuaikan dengan pokok bahasan dalam mata pelajaran tertentu;
f. Biaya. Penggunaan strategi pembelajaran harus memperhitungkan aspek pembiayaan. Sia-sia bila penggunaan strategi menimbulkan pemborosan;
g. Waktu. Lama waktu yang diperlukan untuk melaksanakan strategi pembelajaran yang dipilih dan berapa lama waktu yang tersedia untuk menyajikan bahan pelajaran, dan sebagainya.
Dari uraian diatas, dapat diatrik benang merah dalam menentukan strategi pembelajaran harus memperhatikan kondisi dan situasi, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, dan dilandasi prinsip efisiensi serta efektivitas dalam mencapai tujuan pembelajaran dan tingkat keterlibatan siswa
13 2.1.1.4 Pentingnya Strategi Guru
Djamarah and Aswan Zain (2018) mengemukakan pendapat bahwa apabila seorang guru mahir mengelola dengan bakat kreatif dan kemampuan mengajar murid-murid di semua jenjang, maka bisa jadi anda tidak mempunyai hambatan dalam melaksanakan seluruh kurikulum yang diisyaratkan bagi mata pelajaran atau kelas”. Ngalimun (2017) menyatakan bahwa efektifitas seorang pendidik (guru) dinilai dari sosok yang mampu menyelesaikan tugasnya dan kewajibannya secara profesional.
Guru bukan sekedar berperan sebagai pengajar akan tetapi seorang guru juga memiliki peran dalam membimbing, memimpin dan menjadi fasilitator dalam belajar. Pemikiran kreatif dan inovatif mestinya dimiliki oleh pendidik (guru) dimana hal ini sangatlah penting karena dengan begitu akan lebih mudah dalam menyusun strategi mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa, adanya strategi mengajar yang dilakukan pendidik dengan begitu dapat meningkatkan semangat, aktif dalam belajar, antusiasme, serta memiliki rasa ketertarikan siswa untuk selalu belajar.
2.1.2 Minat Belajar
2.1.2.1 Pengertian Minat belajar
Dalam lebih mendalami tentang arti kata minat belajar, terlebih dahulu akan kita bahas mengenai pengertian minat. Minat identik dengan dengan ketertarikan dan lebih suka terhadap suatu hal bisa kegiatan, yang dilakukan tanpa adanya paksaan. Minat merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu diluar diri. Yang memiliki perbandingan berdasarkan kuatnya hubungan yang dihasilkan maka akan semakin besar minat yang dihasilkan Slameto (2016). Minat memiliki pengaruh yang signifikan terhadak kegiatan belajar, yang disebabkan bila materi pembelajaran yang dipelajari bertolak belakang dengan minat siswa maka siswa akan merasa bosan menerima pembelajaran yang disebabkan tidak adanya daya tarik yang ditawarkan materi pelajaran. Bahan pelajaran yang menarik adalah bahan pelajaran mudah dipahami dan mudah diserap materinya oleh siswa.
14
Dalam..kehidupan..ini tentunya..akan..selalu berkomunikasi..atau berhubungan dengan..orang lain, benda, situasi dan aktivitas. Aktivitas yang terdapat disekitar kita, dalam berhubungan tersebut mereka mungkin bersikap menerima, membiarkan, atau..menolaknya. Apabila seseorang..menaruh..minat itu, berarti..kita menyambutnya..atau bersikap..positif dan berhubungan..dengan obyek..atau lingkungan..tersebut dengan..demikian maka akan..cenderung..untuk memberi..perhatian dan melakukan..tindakan lebih lanjut. Jadi secara..sederhana minat dapat..diartikan sebagai..suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang lain, aktivitas atau solusi yang..menjadi obyek..dari minat..tersebut..dengan..disertai perasaan..senang. Dalam..bahasan tersebut..suatu pengertian..di dalam minat..ada pemusatan..perhatian subjek, ada..usaha untuk mendekati,..mengetahui, memiliki, menguasai, berhubungan..dengan subjek yang dilakukan dengan perasaan senang, ada daya penarik atau obyek (Muhibin 2015)
Slameto (2016), minat..adalah..suatu rasa..lebih suka..dan..rasa ketertarikan pada..suatu..hal atau..aktivitas, tanpa..ada..yang menyuruh. Minat pada..dasarnya adalah penerimaan..akan suatu..hubungan..antara diri sendiri dengan..suatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minatnya.
Sedangkan pendapat lain menurut (Ricardo dan Meilani, 2017) mengatakan bahwa minat belajar adalah salah satu rasa untuk menyukai atau juga tertarik pada satu hal dan aktivitas belajar tanpa ada yang menyuruh untuk belajar
Sedangkan pengertian belajar adalah kegiatan yeng memberikan dampak perubahan perilaku individu yang baru secara keseluruhan, yang diperolah dari hasil pengalamannya melakukan interaksi antara lingkungannya (Anurrahman 2015) Dengan demikian dapat dipahami bahwa minat belajar adalah dorongan, rasa suka yang saling berkaitan yang dimiliki seseorang dalam melakukan kegiatan yang bertujuan memeperoleh perubahan yang baru didalam dirinya baik berupa perilaku atau pengetahuan yang dilakukan tanpa adanya dorongan atau paksaan dari siapapun.
Dari uraian para ahli tersebut dapat diambil benang merahnya bahwa minat beajar merupakan suatu ransangan yang muncul dalam diri siswa untuk melakukan kegiatan yang belum ia lakukan sebelumnya tanpa adanya pengaruh dari orang lain.
15
Dalam memberikan rangsangan tersebut dapat terbantukan dengan menguatkan minat belajar siswa dengan pengalamn pribadi siswa melalui strategi guru yang mengajak siswa belajar dari pengetahuan yang ia miliki sendiri dan mengajak siswa untu mencari mengingat seperangkat fakta dari hasil menemukan sendiri. Proses pembelajaran yang berasal dari pengetahuan tersendiri siswa, memberikan rangsangan tersendiri bagi siswa untuk menumbuhkan minat dalam jalannya kegiatan pembelajaran.
2.1.2.2 Indikator Minat Belajar
Minat belajar tidak tumbuh dengan sendirinya, apalagi ada sejak lahir. Siswa dapat memiliki minat belajar karena adanya pemberian kesadaran bahwa dengan belajar membawa kemajuan dalam dirinya. Dalam minat belajar, terdapat indicator- indikator yang dipakai untuk melihat tingkatann minat belajar siswa. Friantini dan Winata (2019), menyebutkan bahwa ada lima indicator minat belajar:
a. adanya perasaan senang terhadap pembelajaran,
b. adanya pemusatan perhatian dan pikiran terhadap pembelajaran, c. adanya kemauan untuk belajar,
d. adanya kemauan dari dalam diri untuk aktif dalam pembelajaran,
e. adanya upaya yang dilakukan untuk merealisasikan keinginan untuk belajar.
Kemudian, menurut Darmadi (2017: 317) menyebutkan bahwa minat belajar siswa dibagi menjadi beberapa indikatot yakni:
a. Pelajaran akan menarik siswa jika terlihat adanya hubungan antara pelajaran dan kehidupan nyata,
b. Bantuan yang diberikan guru terhadap anak didiknya dalam mencapai tujuan tertentu,
c. Adanya kesempatan yang diberikan guru terhadap siswa untuk berperan aktif dalam proses belajar mengajar,
d. Sikap yang diperlihatkan guru dalam usaha meningkatkan minat siswa, sikap seorang guru yang tidak disukai oleh anak didik tertentu kan mengurangi minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang bersangkutan.
16
Dengan demikian, berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan indikator-indikator minat belajar siswa dapat diketahui oleh guru, apakah siswa tersebut yang diajarinya itu memiliki minat untuk mempelajari suatu pelajaran dalam arti belajar atau tidak berminat untuk belajar. Hal tersebut terlihat dari keinginan, perasaa senang, perhatian, tertarik, giat belajar, mengerjakan tugas, dan menaati peraturan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Di dalam penelitian yang dilakukan peneliti, indicator minat siswa pada penelitian ini yang akan diambil berdasarkan gabungan kedua pernyataan tersebut yakni adanya perhatian siswa, ketertarikan siswa, keterlibatan siswa, dan perasaan senang.
2.1.2.3 Macam-macam Minat Belajar
Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, menurut Shaleh and Muhbib Abdul Wahab (2015) menyatakan minat sangat tergantung pada sudut pandang dengan cara pengolongan misalnya berdasarkan timbulnya minat, berdasarkan arahnya, dan berdasarkan cara mengungkapkan minat itu sendiri.
a. Berdasarkan timbulnya minat, minat dapat dibedakan menjadi minat primitive dan minat dan kultitural. Adapun minat primitive adalah minat yang timbul berdasarkan kebutuhan biologis atau jaringanjaringan tubuh, misalnya kebutuhan makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas dan lain lain.
b. Berdasarkan arahnya minat dapat dibedakan menjadi intrinsik dan ekstrinsik.
Minat instrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri. Misalnya seorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau karena memang senang membaca. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuan sudah tercapai ada kemungkinan tujuan itu hilang.
c. Bedasarkan cara mengungkapkan minat dapat dibedakan menjadi Exspressed Interest, Manifest Interest, Tested Interest, Inoventoried Interset. Exspressed Interest minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subjek untuk menyatakan atau menuliskan kegiatankegiatan baik berupa tugas maupun bukan tugas yang disenangi dan paling tidak disenangi, Manifest Interest adalah
17
minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subjek atau dengan mengatahui hobinya. Tested Interest adalah minat yang diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan, nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya menunjukan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut. Inoventoried Intersetmi adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat-alat yang sudah distandarsikan.
Berdasarkan uraian yang diapaparkan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa minat belajar memiliki penggolongan berdasarkan arah timbulnya, minat dapat dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Kemudian minat berdasarkan arahnya yakni minat isntrinsik dan ekstinsik dan, bedasarkan cara mengungkapkan minat dapat dibedakan menjadi exspressed interest, manifest interest, tested interest, inoventoried interset yang dilihat dari indicator minat yang diteliti dalam penelitian ini yakni adanya perhatian siswa, ketertarikan siswa, keterlibatan siswa, dan perasaan senang. Dengan begitu, peneliti dapat menilai bagaimana minat yang timbul dari penerepan strategi guru pada kegiatan pembelajaran.
2.1.2.4 Strategi Guru dalam Menguatkan Minat Belajar Siswa
Ada banyak upaya dalam menguatkan minat belajar pada siswa seperti yang dijelaskan oleh Slameto (2016) dengan cara menggunakan strategi guru, antara lain:
a. Menggunakan minat-minat yang ada, mengkaitkan pembelajaran dengan sesuatu yang diminati siswa.
b. Membentuk minat belajar yang baru yaitu dengan cara memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu,menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang.
c. Menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita yang sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
18
d. Memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran, maksudnya alat yang dipakai untuk membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mau melakukannya atau yang tidak dilakukannya dengan baik.
Sebagai pembanding dalam menguatkan minat belajar siswa di sekolah menurut Trismayanti (2019), melalui strategi guru yang tepat dalam menjaga suasana di dalam kelas agar tetap kondusif akan memberikan kebebasan mengekspresikan ide dan menguatkan minat belajar anak. Strategi guru yang dimaksud antara lain:
a. Kebebasan memilih design pembelajaran
Saat sebuah instruksi dari guru menjadi sesuatu yang penting dalam menjaga minat belajar siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih beberapa pilihan dan kontrol terhadap apa yang terjadi di kelas sebenarnya adalah salah satu cara terbaik yang bisa guru lakukan agar siswat erlibat dalam pembelajaran. Contohnya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih jenis tes apa yang diharapkan atau juga materi jenis apa yang ingin dipelajari saat pembelajaran. Hal ini setidaknya mampu memberikan motivasi belajar berlebih bagi siswa agar mampu menguatkan minat belajar siswa.
b. Menetapkan kesepakatan
Siswa akan teramat sangat frustasi jika diberikan sebuah tugas yang tidak ada kejelasan akan tugas yang diberikan tersebut. Mereka akan semakin surut motivasi dalam belajarnya yang dikarenakan ketidak fahaman terhadap tugas yang diberikan. Setiap awal tahun, sebisa mungkin guru untuk memberikan instruksi, kesepakatan dan harapan kepada siswa secara jelas agar kedepannya siswa faham dengan maksud dan tujuan gurunya.
c. Menciptakan kondisi kelas bebas ancaman
Terkadang ada guru yang sangat menekankan sebuah konsekuensi apabila ada siswa yang melanggar, guru tersebut terus saja mengingat dan mengulang-ngulang pembahasan ini setiap pertemuan. Tentu ini akan memberikan image negatif siswa terhadap gurunya. Mereka akan beranggapan bahwa gurunya tersebut sudah tidak pernah lagi percaya kepada
19
mereka. Padahal dari pada membahas hal ini secara terus-menerus, yang mana akan membuat diri siswa selalu dalam keadaan terancam, lebih baik memberikan motivasi dengan memberikan kepercayaan kepada siswa. Ketika guru membuat sebuah lingkungan yang aman dan lebih mementingkan keyakinannya terhadap apa yang dilakukan siswa dari pada meletakkan konsekuensi terhadap siswa yang melanggar, akan lebih memungkinkan siswa untuk tetap termotivasi untuk menguatkan minat belajar mereka.
Contoh perilaku guru menciptakan lingkungan aman dikelas seperti halnya dengan memberikan arahan dengan hormat dan penuh empati, memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki kesalahan sampai memberikan siswa kepercayaan. Dengan begitu siswa merasa aman belajar dikelas, sehingga membuat siswa makin menguatkan minat dalam belajar
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar kelompok
Banyak siswa akan merasa senang untuk mencoba memecahkan masalah, melakukan percobaan dan bekerja pada proyek-proyek tertentu dengan siswa lain secara berkelompok. Interaksi sosial dapat membuat mereka bersemangat tentang hal-hal di dalam kelas dan siswa bisa memotivasi satu sama lain untuk semakin menguatkan minat belajar mereka.
Guru perlu memastikan bahwa kelompoknya seimbang dan adil, sehingga beberapa siswa tidak melakukan lebih banyak pekerjaan daripada yang lain.
Dengan adanya belajar secara kelompok memberikan pengalaman bagi siswa untuk belajar cara berdiskusi, bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, hingga menenangkan ketegangan-ketegangan dalam belajar. Sehingga dengan adanya belajar berkelompok siswa lebih berantusias dalam belajar yang memungkinkan dapat menguatkan minat belajar siswa.
e. Menciptakan kompetisi yang positif
Persaingan di dalam kelas tidak selalu hal yang buruk, bahkan bisa menjadi sesuatu yang positif jika diterapkan untuk sesuatu yang positif. Lebih dari itu kompetisi di dalam kelas juga mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk bekerja lebih ekstra dan keras. Menciptakan suasana kelas agar bisa menumbuhkan persaingan positif, mungkin bisa melalui permainan
20
kelompok yang terkait dengan materi atau suatu kesempatan yang bisa memamerkan pengetahuan mereka. Dengan adanya kompetisi yang positif atau yang sehat bagi siswa, dapat memberikan pengalaman baru, ketrampilan baru serat mempunyai rasa ingin memperbaiki diri. Dengan begitu para siswa akan bersemangat dalam berpartisipasi mengikuti pembelajaran yang memungkinkan menguatkan minat belajar siswa.
f. Pemberian Apresiasi
Siapa pun juga pasti akan senang dengan yang namanya hadiah, begitupun para siswa. Menawarkan hadiah kepada siswa jika mereka berhasil melakukan sesuatu merupakan salah satu cara jitu untuk meningkatkan motivasi belajar. Hadiah seperti buku, tiket menonton, paket makanan dan lain sebagainya merupakan contoh yang mungkin sekiranya bisa guru berikan kepada anak didiknya yang berhasil melakukan hal yang positif. Tapi ingat, dalam memberikan rewards harus banyak yang dipertimbangkan. Guru setidaknya memikirkan kebutuhan dan personal si siswa yang diharapkan dengan hadiah tersebut siswa bisa semakin termotivasi dan semakin menguatkan minat belajar mereka.
g. Memberikan tanggung jawab ke siswa
Menugaskan siswa sebuah pekerjaan kelas adalah cara yang bagus untuk membangun komunitas dan untuk memberikan siswa rasa motivasi untuk semakin menguatkan minat belajar mereka. Kebanyakan siswa akan melihat pekerjaan kelas sebagai sesuatu yang istimewa dari pada beban dan akan bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka bisa. Seperti halnya memberikan arahan ke siswa untuk menjga kebersihan kelas, melakukan piket harian, hingga memberikan tanggung jawab saling menghormati antar satu dengan lainnya. Hal ini juga dapat berguna untuk memungkinkan siswa untuk memiliki rasa saling memahami antar sesama sehingga setiap siswa akan terasa penting dan dihargai. Salah satu penerapan model pembelajaran Jigsaw sangat cocok untuk poin yang satu ini, yang mana didalamnya sangat menekankan tanggung jawab dari setiap siswa.
h. Mendorong siswa untuk merefleksi pembelajaran
21
Kebanyakan anak-anak ingin sukses, mereka hanya perlu dibantu untuk mencari tahu apa yang harus mereka lakukan dalam rangka mencapai tujuan mereka. Salah satu cara untuk menguatkan minat belajar siswa adalah dengan mengarahkan dan membiarkan mereka bekerja keras untuk melihat potensi di dalam diri mereka sendiri dan menentukan kekuatan dan kelemahan yang mereka punya. Siswa akan lebih jauh lebih termotivasi dengan menciptakan jenis-jenis kritik yang muncul dari diri mereka sendiri ketimbang dari gurunya. Cara merefleksi yang paling umum dilakukan yaitu dengan mengulas kembali materi belajar sebelumnya dan mengaitkannya dengan pembelajaran yang sudah dipelajari atau bisa memberikan pertanyaan- pertanyaan seperti menanyakan materi yang dipelajari hari ini, manfaat yang didapat dari materi hari ini, sikap positif yang didapat, dingga menanyakan ke siswa apakah metode pembelajaran yang digunakan cocok, dan menyenangkan bagi siswa. Dengan begitu siswa akan lebih memahami materi yang dipelajari, seingga siswa belajar dengan efisien dan memiliki rasa senang yang memungkinkan menguatkan minat siswa dalam belajar.
Dengan demikian seorang guru kelas bisa dinilai berupaya meningkatkan minat belajar siswa apabila mereka mengembangkan minat belajar siswa. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga harus mampu mendorong dan membangkitkan kemauan siswa untuk belajar. Minat belajar siswa yang sudah ada, menciptakan minat baru dengan melakukan apersefsi ketika proses pembelajaran, menghubungan bahan ajar dengan fenomena yang sensasional, menggunakan alat atau bahan untuk menumbuhkan minat dari dalam diri siswa dalam hal ini bisa berupa media pembelajaran. Dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti akan mengambil tahapan dalam menerapkan strategi pembelajaran menurut Trismayati yang bertujuan untuk menguatkan minat belajar siswa terutama pada pelajaran IPA.
2.1.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Blajar
Muhibin (2015), menjelaskan bahwa dalam proses belajar mengajar siswa disekolah untuk memperoleh hasil beajar, 70% dipengaruhi kemampuan siswa dan
22
30% dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam proses belajar mengajar, perubahan tingkah laku sering terjadi sepenuhnya. Hal ini dimungkinkan adanya factor yang mempengaruhi minat belajar adalah internal dan eksternal yang terdapat dalam diri siswa tersebut. Faktor internal yang ada pada diri siswa sangat berpengaruh, dibandngkan yang dikemukakan Nana (2015), bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
Aapun fakto tersebut adalah:
A. Faktor Internal
Faktor internal, menyangkut seluruh aspek yang menyangkut fisik , jasmani maupun yang menyangkut mental fisiknya, meliputi:
1) Faktor kesehatan sangat berengaruh terhadap kondisi belajar. Siswa yang kurang sehat, keadaan fisiknya sangat lemah, pusing dan gangguan kesehatan lainnya, tidak dapat berokomunikasi dalam belajar.
2) Faktor cacat tubuh juga mempengaruhi minat belajar siswa seperti gangguan penglihatan, pendengaran dan sebagainya ((Ahmadi and Widodo Supriyono, 2013). Selain itu, factor cacat tubuh juga menyangkut aspek psikis seperti:
a. Intelegensi
Intelegensi beras pengruhnya terhadap pengajuan belajar. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan.
b. Perhatian
Perhatian merupakan factor yang berpengaruh terhadap minat belaar siswa. Apabila seseorang memiliki perhatian yang penuh terhadap apa yang dipelajai, maka hal tersebut dapat mendukung belajar yang dicapai.
c. Motivasi
Motivasi juga dapat mempengaruhi prestasi yang dicapai oleh siswa, baik motivasi intrinsic maupun ekstrinsik. Maksudnya motivasi pada diri siswa sangat penting untuk mengembangkan prestasi belajar siswa,
23
sehingga apa yang diharapkan oleh siswa dapat diperoleh hasil yang maksimal.
d. Bakat
Faktor bakat dapat juga mempengaruhi proses minat belajar yang dicapai oleh seorang siswa.
B. Faktor Eksternal
Faktor eksternal siswa terdiri atas 3 macam, yakni lingkungan social sekolah, lingkungan masyarakat, dan ingkungan keluarga (Usman 2014).
1) Lingkungan sosial sekolah
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staff administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjang sikap dan perilaku yang simpatik dan memperhatikan suri tauladannya yang baik dapat menjadi daya dorong positif bagi kegiatan lingkungan belajar siswa.
2) Lingkuangan masyarakat
Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam mansyarakat yang terdiri dari orang-orang mempunyai kebiasaan yang baik dan buruk terhadap belajar anak.
3) Lingkungan keluarga
Sifat-sifat orang tua, praktis pengelolaan keluarga, keterangan keluarga semuanya dapat memberikan dampak baik dan buruk terhadap minat belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa
Dari kedua factor tersebut yakni faktor internal dan eksternal yang terdapat dalam diri siswa, dapat mempengaruhi pembentukan atau pemberi rangasangan siswa terhadap minat belajar. Sehingga faktor internal dan eksternal dari dalam diri siswa memberikan dampak yang mampu mendukung maupun menghambat dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa pada kegiatan pembelajaran.
2.1.3 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar 2.1.3.1 Hakikat IPA
24
Menurut Samatowa (2016), secara singkat menjelaskan IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya.
Selain itu menurut pendapat lain, menyatakan bahwa IPA itu adalah suatu cara untuk mengamati alam. Nash juga menjelaskan bahwa cara IPA mengamati dunia ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubugkannya antara suatu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang diamati.
Samatowa (2016), menegaskan bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala alam dankebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil wawancara dan eksperimen/ sistematis (teratur) artinya pengetahuan itu tersusun dalam suatu system, tidak berdiri sendiri, satu dengan lainnya saling berkaitan, saling menjeaskan, sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh, sedangkan berlaku umuu artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau oleh seseorang atau beberapa orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.
Dari beberapa pernyataan tersebut dapat ditarik benang merah bahwa IPA adala ilmu pengetahuan yang membahas tentang peristiwa- peristiwa yang terjadi di alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia.
2.1.3.2 Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Menurut Suparti (2013: 3) bahwa untuk mengajar di jenjang pendidikan yang berbeda, perlu menggunakan metode yang berbeda pula. Mengajar IPA untuk siswa sekolah dasar memerlukan metode yang berbeda dengan mengajar IPA untuk siswa sekolah menengah. Pengajaran IPA di SD, berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan siswa b) Beragan dan terpadu
c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi d) Relevan dengan kebutuhan kehidupan
25 e) Menyeluruh dan berkesinambungan f) Belajar sepanjang hayat
g) Seimbang antara kepentingan nasional dan daerah
Pembelajaran IPA di SD mempunyai tujuan agar siswa dapat melestarikan, menjaga, dan memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya. Selain itu siswa dapat mengembangkan pengetahuannya dengan cara dan metode yang teratur. Metode pembelajaran di SD harus berpusat pada siswa, baik potensi, kebutuhan, perkembangan siswa serta menyeluruh dan berkesinambungan sehingga pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Setiap guru harus paham akan alasan mengapa IPA diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasukan ke dalam kurikulum suatu sekolah.
Samatowa (2016), menyatakan alasan tersebut digolongkan menjadi empat golongan yakni:
a) Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa, kiranya ridak perlu dipersoalkan panjang lebar. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi, sering disebut- sebut sebagai tulang punggung pembangunan.
Pengetahuan dasar untuk teknolofi adalah IPA. Orang tidak menjadi insinyur elektronik yang baik, atau dokter yang baik, tanp dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
b) Bila diajarkan IPA menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan yang berfikir kritis; misalnya IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan suatu masalah demikian. “Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?”. Anak diminta untuk mencari dan menylediki hal ini.
c) Bila IPA diajarkan melalui percobaan- percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hapalan belaka.
26
d) Mata pelajaran ini mempunyai nilai- nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.
Samatowa (2016), juga menegaskan bahwa IPA melatih anak berfikir kritis dan objektif. Pengetahuan yang benar artinya pengetahuan yang dibenarkan menurut tolak ukur kebenaran ilmu, yaitu rasional dan objektif. Rasional artinya masuk akal atau logis, diterima oleh akal sehat. Objektif artinya sesuai dengan objeknya, sesuai dengan kenyataan atau sesuai dengan pengalaman pengamatan melalui panca indera.
2.2 Kajian Penelitian yang Relevan
Berikut ini beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.
a. Hasil Penelitian Audria (2021), dengan judul “Strategi Guru dalam Membangkitkan Minat Belajar Siswa pada Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan Masa Pandemi COVID-19 di Sekolah Dasar”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian fenomenologi. Data penelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh guru dalam membangkitkan minat belajar siswa pada sistem pembelajaran dalam jaringan masa pandemi COVID-19 di sekolah dasar sebagai berikut: (1) menyajikan materi yang dirancang, (2) memberikan rangsangan, (3) mengembangkan kebiasaan teratur, (4) meningkatkan kondisi fisik siswa, (5) menyediakan fasilitas pendukung dalam pembelajaran. Hal- hal yang diperhatikan guru dalam menentukan suatu strategi pembelajaran yang akan digunakan berdasar pada pijakan (pedoman) yaitu tujuan pembelajaran, karakteristik siswa dan kendala media atau sumber belajar.
Dengan strategi-strategi yang telah digunakan oleh guru dapat membangkitkan minat siswa terlihat pada perasaan senang (suka) siswa, ketertarikan siswa, perhatian siswa dan keterlibatan siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam jaringan.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Novi Audria yaitu terletak pada model pembelajaran yang digunakan. Novi
27
Audria menggunakan sistem pembelajaran dalam jaringan, sedangkan penelitian ini menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning. Dimana persamaannya yaitu sama-sama meneliti tentang strategi guru dalam meningkatkan minat belajar siswa.
b. Penelitian relevan lainnya dilakukan oleh Amaliyah, Perawati Bte Abustang, and Felma Cahyani Sombou (2020), dengan judul “Meningkatkan Minat Belajar IPA dengan Penerapan Strategi Everyone is a Teacher Here di Sekolah Dasar”. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Tindakan Kelas dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui strategi pembelajaran yang tepat, dapat meningkatkan minat belajar IPA. Dalam proses pembelajaran materi IPA yang diajarkan kepada siswa adalah contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pada proses pembelajaran semua materi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan sering dialami siswa, dengan demikian penerapan Strategi Everyone Is A Teacher Here dapat meningkatkan minat belajar melalui hasil angket dan observasi Aktivitas siswa mata pelajaran IPA pada siswa kelas V SD Inpres Perumnas Antang II/I Kecamatan Manggala Kota Makassar
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Amaliah yaitu terletak pada jenis penelitiannya, jenis strategi pembelajaran yang digunakan. Sedangkan persamaannya yaitu sama-sama meneliti tentang strategi pembelajaran dalam meningkatkan minat belajar siswa dan tentang kajian pembelajara IPA di Sekolah Dasar.
c. Penelitian lainnya dilakukan oleh Sulastri, Devita Cahyani Nugraheny, and Ilmi Noor Rahmad (2020), yang berjudul “Upaya Meningkatkan Minat Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Daur Hidup Mahkluk Hidup Melalui Metode Inquiry”. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Tindakan Kelas dan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya pengaruh penerapan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis, akan berpengaruh terhadap minat belajar IPA siswa. Hal tersebut ditunjukan bahwa setelah diterapkan strategi pembelajaran, minat belajar siswa pada mata pelajaran
28
IPA menunjukan adanya perubahan yang positif. Penilaian keberhasilan penerapan metode inquiry terhadap minat belajar meliputi beberapa aspek penilaian yaitu praktik pembelajaran oleh guru, sikap belajar siswa dan hasil belajar siswa.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sulastri yaitu terletak pada jenis penelitiannya, jenis strategi pembelajaran yang digunakan. Sedangkan persamaannya yaitu sama-sama meneliti tentang strategi pembelajaran dalam meningkatkan minat belajar siswa dan tentang kajian pembelajara IPA di Sekolah Dasar.
29 2.3 Kerangka Teoritis
Kerangka teori merupakan keterkaitan antara teori yang digambarkan sebagai dasar penelitian yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut :
STRATEGI GURU DALAM MENGUATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA
Menurut Slameto (2016), rasa suka yang saling berkaitan yang dimiliki seseorang dalam melakukan kegiatan yang bertujuan memeperoleh perubahan yang baru didalam dirinya
baik berupa perilaku atau pengetahuan yang dilakukan tanpa adanya dorongan atau paksaan dari siapapun.
Samatowa (2016), menjelaskan bahwa pembelajaran IPA melatih anak berfikir kritis dan objektif yang dilalui dengan
cara mengaitkan minat dan pengalaman siswa.
Menurut Trismayanti (2019), melalui strategi guru yang tepat dalam menjaga suasana di dalam kelas agar tetap kondusif
akan memberikan kebebasan mengekspresikan ide dan menguatkan minat belajar anak
PENGUATAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SD N KLUMPIT
Gambar 2. 1 Kerangka Teoritis
30 2.4 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan konsep berpikir penelitian untuk mempermudah penelitian sehingga jelas arah yang diteliti kerangka berpikir dalam penelitian ini akan mengkaji terkait bagaimana strategi guru dalam menguatkan minat belajar siswa pada pembelajaran IPA. Adapun kerangka berpikir penelitian ini disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut :
Pembelajaran IPA
Strategi Pembelajaran
Mendorong siswa untuk merefleksi pembelajaran Menciptakan
kompetisi yang positif
Memberikan tanggung jawab
ke siswa Menciptakan
kondisi kelas bebas ancaman
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar kelompok Menetapkan
kesepakatan
Pemberian Apresiasi
Guru Siswa
Minat Belajar
Pendukung Penghambat
Kebebasan memilih design
pembelajaran
Gambar 2. 2 Kerangka Berpikir
31
Berdasarkan gambar 2.2, dapat diuraikan bahwa dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya dituntut untuk mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga harus mampu mendorong serta menguatkan kemauan siswa untuk belajar.
Minat belajar siswa yang sudah ada, menciptakan minat baru dengan melakukan apersefsi ketika proses pembelajaran, menghubungan bahan ajar dengan fenomena yang sensasional, menggunakan alat atau bahan untuk menumbuhkan minat dari dalam diri siswa dalam hal ini bisa berupa media pembelajaran.
Dalam upaya menguatkan minat belajar siswa, perlunya strategi yang digunakan guru agar siswa merasa termotivasi dan semakin menguatkan minat dalam belajar. Strategi yang digunakan antara lain dengan membebaskan siswa memilih design pembelajaran, menetapkan kesepakatan, menciptakan kelas bebas ancaman, memberikan kesempatan siswa untuk bekerja kelopok, menciptakan kompetisi yang positif, memberikan apresiasi kepada siswa, serta mendorong siswa agar nerefleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dalam penerapan strategi guru tersebut, tidak semerta-merta berjalan dengan lancar. Masih terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi dalam upaya menguatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPA.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakanan di SD Negeri Klumpit, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Dimana di dalam penelitian ini akan memperdalam analisis strategi guru dalam menguatkan minat belajar siswa pada pembelajaran IPA.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan, adapun waktu yang digunakan untuk merencanakan penelitian pada bulan Oktober dan November, kemudian pelaksanaan penelitian pada bulan Desember dan laporan penelitian di mungkinkan pada bulan Januari dan Februari 2022 yang bertepatan di SD Negeri Klumpit, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Penelitian ini diharapkan dapat selesai tepat waktu sehingga peneliti dalam memperoleh hasil penelitian sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
3.2 Rancangan Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penilitian in yakni menggunakan metode penilitian kualitatif deskripsi. Menurut Sukmadinata (2016: 116), mendiskripsikan bahwa penelitian kualitatif yakni penelitian yang bertujuan mendiskripsikan dan menganalisis aktifitas social, kejadian, fenomena, sikap, persepsi, kepercayaan, dan pemikiran seseorang secara individu atau kelompok. Sedangkan menurut Sugiyono (2017), penelitian kualitatif data yang paling utama adalah observasi dan wawancara.
Kemudian menurut Alfrizal (2016:7) menjelaskan bahwa metode penelitian didefinisikan sebagai metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan mmaupun tulisan) dan perbuatan- perbuatan manusia serta peneliti tidak berusaha menghitung atau mengkualifikasikan data kualitatif yang telah diperoleh. Tujuan utama penelitiian kualitatif adalah untuk memahami fenomena atau gejala sosial dengan cara