• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. data yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. data yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

27 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan prosedur untuk mendapatkan informasi atau data yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif dimana data yang sudah diperoleh dalam bentuk angka kemudian dijelaskan sehingga diperoleh hasil yang bermakna. Data kuantitatif penelitian ini terdiri dari data ekspor, produksi, harga ekspor, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

3.2 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini berupa data time series (deret waktu) selama 15 tahun yaitu tahun 2004 sampai 2018 yang meliputi data ekspor, produksi, harga ekspor, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

3.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Indonesia dengan mencari informasi dari berbagai sumber data melalui website resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Pusdatin, dan Bank Indonesia (BI). Lokasi tersebut dipilih karena dianggap mampu menyediakan data yang akurat untuk menunjang kepentingan penelitian.

(2)

3.4 Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini dari Badan Pusat Statistik (BPS), Pusdatin (Pusat Data dan Informasi Pertanian, Kementrian Pertanian) , dan Bank Indonesia (BI) yang meliputi data ekspor, produksi, harga ekspor, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi literature. Studi literature merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan

untuk mencari informasi dari buku, jurnal atau dokumen yang relevan mengenai permasalahan yang diteliti.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

3.6.1 Analisis Trend

Analisis trend merupakan metode analisis yang bertujuan untuk melihat perkembangan berdasarkan data yang ada dan melihat suatu perkiraan atau peramalan di masa yang akan datang (Marlina, 2015). Analisis trend dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan ekspor, produksi, dan harga ekspor anggrek Indonesia dengan menggunakan data time series selama kurun waktu 15 tahun dari tahun 2004-2018 dengan menggunakan persamaan trend metode least square. Metode least square (kuadrat kecil) diformulasikan sebagai berikut:

y = a + bX

(3)

Keterangan:

y = Volume ekspor anggrek Indonesia (Kg) a = Konstanta

b = Koefisien estimasi (kenaikan) X = Indeks waktu (tahun)

Kriteria Uji :

 Jika nilai koefisien regresi (b) nya positif, berarti trend jumlah atau volume ekspor anggrek Indonesia meningkat

 Jika nilai koefisien regresi (b) nya negatif, berarti trend jumlah atau volume ekspor anggrek Indonesia turun.

3.6.2 Analisis Regresi Linier Berganda

Model regresi linier berganda merupakan suatu persamaan yang menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel bebas (X1, X2,….Xn) dan satu variabel tak bebas (Y). Tujuan dari analisis regresi linier berganda adalah untuk memprediksi nilai variabel tak bebas (Y) jika nilai variabel-variabel bebas (X1, X2,….Xn) diketahui (Yuliara, 2016).

Bentuk model regresi dalam penelitian ini yaitu:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Keterangan:

Y = Volume ekspor anggrek Indonesia (Kg) a = Konstanta

b = Koefisien regresi

X1 = Produksi anggrek (tangkai)

(4)

X2 = Harga ekspor anggrek (US$/Kg)

X3 = Nilai tukar rupiah terhadap dollar (Rp/US$) e = Variabel penganggu

Menurut Gujarati, (2006) Syarat terpenuhinya analisis regresi linier berganda yang baik dilihat dari:

1. Nilai koefisien determinasi (R2) > 60% dari jumlah total variabel independen.

2. Nilai F hitungnya signifikan

3. Banyak variabel independen yang signifikan > 50% jumlah yang dianalisa.

3.6.3 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat gejala heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan autokorelasi. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu aplikasi SPSS dengan tujuan untuk mempermudah menganalisis penelitian. Uji asumsi klasik terdiri dari:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Salah satu uji normalitas dapat dilakukan dengan Uji Kolmogorov Smirnov (K-S) (Duli, 2019).

Dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas yaitu:

 Jika nilai signifikansi > 0,05 maka berdistribusi normal

 Jika nilai signifikansi < 0,05 maka tidak berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

(5)

Uji multikolinearitas bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda.

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi multikolinieritas (Duli, 2019).

Dasar pengambilan keputusan pada uji multikolinearitas dapat dilakukan dengan dua acara yaitu:

1. Melihat nilai tolerance

 Jika nilai tolerance > 0,10 maka tidak terjadi multikolinearitas.

 Jika nilai tolerance < 0,10 maka terjadi multikolinearitas 2. Melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor)

 Jika nilai VIF < 10,00 maka tidak terjadi multikolinearitas.

 Jika nilai VIF > 10,00 maka terjadi multikolinearitas.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas digunakan untuk melihat apakah terdapat adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.

Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda maka di sebut heteroskedastisitas. Metode yang digunakan dalam uji heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik scatterplot dengan memlotkan ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya) (Saragih & Sulistyiowati, 2020). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah Uji Glejser, Uji Park, dan Uji White. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas (Duli, 2019).

(6)

Dasar pengambilan keputusan pada uji heteroskedastisitas yaitu:

 Jika nilai signifikansi > α = 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas.

 Jika nilai signifikansi < α = 0,05 maka terjadi hetroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk data yang bersifat time series. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam penelitian terdapat korelasi antara periode t dengan periode t-1 atau periode sebelumnya (Ghozali, 2009).

Model regresi yang baik adalah ketika tidak ada autokorelasi antara observasi dengan data obesrvasi sebelumnya. Ada tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini dapat diketahui dengan menggunakan metode Durbin – Watson (DW) dengan tingkat signifikan 5% yang memiliki kriteria sebagai berikut :

a. d < dL : Terdapat autokorelasi positif b. dL < d < dU : Tanpa kesimpulan

c. dU < d < 4-dU : Tidak terdapat autokorelasi d. 4-dU < d < 4-dL : Tanpa kesimpulan

e. 4-dL < d : Terdapat autokorelasi negatif

Uji Autokorelasi dapat dilakukan dengan cara lain yaitu menggunakan uji Run Test. Uji Run Test digunakan untuk mengetahui residual yang memiliki korelasi

tertinggi dan dapat memberikan kesimpulan yang tepat apabila pada hasil uji Durbin Watson menunjukkan kriteria dL < d < dU dan 4-dU < d < 4-dL yang menyebabkan pengujian tidak terdapat kesimpulan (Ghozali, 2009). Pengambilan keputusan dengan menggunakan uji Run Test sebagai berikut:

 Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05, maka terjadi autokorelasi

(7)

 Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05, maka tidak terjadi autokorelasi 3.6.4 Uji F

Uji F dikenal dengan Uji Simultan atau Uji Anova yaitu uji yang dilakukan untuk melihat berapa besar variabel-variabel bebasnya (X) mempengaruhi variabel terikat (Y) secara bersamaan (Saragih & Sulistyiowati, 2020).

Hipotesis yang dapat diajukan dalam uji t yaitu:

 H0 = tidak terdapat pengaruh secara bersama-sama antara variabel bebas dengan variabel terikat

 H1 = terdapat pengaruh secara bersama-sama antara variabel bebas dengan variabel terikat

Kriteria pengambilan keputusan dalam uji F adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan nilai probabilitas

Jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Jika nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.

2. Berdasarkan nilai Fhitung dan Ftabel

Jika Fhit < Ftab maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Jika Fhit > Ftab maka H0 ditolak dan H1 diterima.

3.6.5 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui persentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Koefisien determinasi disimbolkan dengan R2 dihitung dengan rumus:

R2 = (𝑏1 ∑𝑥1𝑦)+(𝑏2 ∑𝑥2𝑦)

∑𝑦2

Keterangan :

(8)

1. Jika R2 = 0, maka variasi variabel bebas tidak sedikitpun dapat menjelaskan variasi variabel tak bebas Y dalam model persamaan regresi.

2. Jika R2 = 1, maka variasi variabel-variabel bebas dapat menjelaskan dengan sempurna variabel tak bebas Y dalam model persamaan regresi (Yuliara, 2016).

3.6.6 Uji t

Uji t dikenal dengan uji individual atau parsial yang digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya serta untuk mengetahui variabel bebas mana yang berpengaruh dominan terhadap variabel terikatnya (Saragih & Sulistyiowati, 2020).

Hipotesis yang dapat diajukan dalam uji t yaitu:

 H0 = tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat

 H1 = terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat

Kriteria pengambilan keputusan pada uji t adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan nilai probabilitas

Jika nilai signifikansi > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Jika nilai signifikansi < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.

2. Berdasarkan nilai thitung dan ttabel

Jika thit > ttab maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Jika ttab < ttab maka H0 diterima dan H1 ditolak.

3.7 Pengukuran Variabel

Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu:

(9)

1. Data ekspor anggrek dinyatakan dalam satuan Kg dalam kurun waktu 2004- 2018.

2. Data produksi anggrek dinyatakan dalam satuan tangkai dalam kurun waktu 2004-2018.

3. Data harga ekspor anggrek dinyatakan dalam satuan US$/Kg dalam kurun waktu 2004-2018.

4. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dinyatakan dalam satuan Rp/US$ dalam kurun waktu 2004-2018.

Referensi

Dokumen terkait

Saklarnya yang dihubungkan parallel dengan saklar (push button) klakson dalam keadaan OFF sehingga klakson tidak berbunyi.sebaliknya jika input dimasuki deretan

Hal ini terlihat hasil survey, dari 57 negara di dunia Indonesia hanya menduduki urutan ke-37 (The World Economic Forum Swedia Report, 2000). Predikat Indonesia pun hanya

membukukan dana MAP dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I pada Rekening KSP/USP Koperasi. menarik dan menerima angsuran jasa/bunga serta pembayaran angsuran

Risiko kesehatan merupakan faktor- faktor dalam lingkungan kerja yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik berupa kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman,

Wawancara dilakukan secara langsung kepada pengelola pantai Gemah terutama adalah kepada ketua Pokdarwis dan beberapa anggota lainnya pada sepanjang penelitian yang

Masukan sel rata kanan : Jika data lebih panjang dari panjang sel maka lebihnya akan mengisi sel disebelah kirinya yang kosong, jika sel sebelah kiri terisi maka data akan

Adapun judul tesis adalah “ Perbedaan Pengaruh Pemberian Infus HES dengan Berat Molekul 40 kD dan 200 kD Terhadap Plasma Prothrombin Time dan Partial Thromboplastin Time : Kajian

Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka tuntutan pengelolaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS)