• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Orang Tua Tentang Modeling Permainan Anak di TK Ma’arif Sentul Istiada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Persepsi Orang Tua Tentang Modeling Permainan Anak di TK Ma’arif Sentul Istiada"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI ORANG TUA TENTANG MODELING

PERMAINAN ANAK DI TK MUSLIMAT

SENTUL

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Kesehatan Program Studi Magister Kedokteran Keluarga

Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan

OLEH:

ISTIADAH FATMAWATI

(S541202073)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini yang berjudul “Persepsi Pengetahuan Orang Tua Tentang Permainan Anak Dengan Perkembangan Anak di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.”

Penulis menyadari tersusunnya Tesis ini karena adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, Drs., M.S. selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program Magister Kesehatan di Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. Ahmad Yunus, Ir., M.S, selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian ini.

3. Dr. Hari Wujoso, dr., SpF, MM, selaku Ketua Program Studi Magister Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Dr. Nunuk Suryani, M. Pd, selaku Ketua Minat Pendidikan Profesi Kesehatan Program Studi Magister Kedokteran Keluarga, Program Pascasarjana

(4)

Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah bersedia memberikan sumbang saran demi terselesaikannya penyusunan tesis ini.

5. Prof. Dr. Dr. A. A. Subiyanto, dr.Ms selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan perhatian, semangat, bimbingan, arahan dan nasihat kepada penulis.

6. Prof. Dr. Hermanu J, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang telah memberikan perhatian, masukan, saran dan dukungannya kepada penulis.

7. Titik Utami, Spd selaku pemilik Klinik Fisioterapi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

8. Seluruh Dosen Pengajar Program Studi Pascasarjana yang senantiasa membimbing, mengarahkan, dan memberikan dorongan.

Penulis menyadari terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang ada sehingga dalam penyusunan Tesis ini jauh dari sempurna untuk itu penulis mengharapkan tanggapan yang positif guna perbaikan yang lebih baik.

Penulis berharap semoga Tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Sidoarjo, 2014

Penulis

(5)

ABSTRAK

Istiadah Fatmawati, S541202073. 2014. Persepsi Orang Tua Tentang Modeling Permainan Anak di TK Ma’arif Sentul. Komisi Pembimbing I: Prof. Dr. A. A. Subiyanto, dr. Ms. Pembimbing II: Prof. Dr. Hermanu J, M. Pd. Tesis: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Latar Belakang: . Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi anak, dengan bermain anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan anak dalam dimensi : motorik kognitif, kreativitas, bahasa emosi sosial nilai dan sikap hidup. Melalui bermain akan belajar mengendalikan diri sendiri, memahami kehidupan, memahami dunianya. Jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak. Stimulasi adalah suatu kegiatan merangsang kemampuan dasar anak yang dilakukan oleh lingkungan (ibu, bapak, pengasuh anak & anggota keluarga lain) untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

Metode Penelitian:yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Strategi yang digunakan adalah studi kasus terpancang tunggal. Study kasus tunggal artinya penelitian hanya dilakukan pada satu sasaran yaitu lokasi TK Ma’arif Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo dengan satu karakteristik yaitu tentang modeling permainan anak.

Hasil Penelitian: menunjukkan bahwa tujuan bermain anak usia prasekolah antara lain : Mendorong imajinasi/ kreativitas anak, Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh organ tubuh, Untuk bersosialisasi dengan orang lain, Mengembangkan kemampuan intelektual. Persiapan yang dilakukan guru sangat menunjang penting dalam pelakanaan tes perkembangan anak. Persiapan peralatan dan tempat yang akan digunakan dalam tes perkembangan harus disesuaikan dengan keadaan anak. Sehingga seorang guru harus mempunyai perencanaan yang matang dan jelas. Pelaksanaan tes perkembangan dilakukan sesuai patokan dalam proses pembelajaran pada anak usia dini. Dampak positif yang ditemui adalah anak bisa bermain sekaligus belajar dan mengasah otak karena pemilihan permainan yang benar dapat memberikan tantangan pada anak untuk memainkannya secara maksimal dengan mengasah otak mereka.

Kesimpulan: Pelaksanaan pelaksanaan tes perkembangan pada anak di TK Ma’arif Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo berlangsung dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Kata Kunci:persepsi, orang tua, modeling permainan

(6)

ABSTRACT

Istiadah Fatmawati, S541202073. , 2014. Perceptions of Parents About Child Modeling Games in kindergarten Maarif Sentul. Commission Supervisor I: Prof. Dr. A. A. Subiyanto, dr. Ms. Supervisor II: Prof. Dr. Hermanu J, M. Pd. Thesis: University Graduate Program March Surakarta.

Background:. Play is also the demands and needs of the child, the child's play to satisfy the demands and needs of the dimensions of child development: cognitive motor skills, creativity, language, social emotional values and attitudes. Through play will learn to control yourself, to understand life, understand his world. So the play is a child's development mirrors. Stimulation is a basic ability to stimulate activity of children by the environment (mother, father, child caregivers and other family members) to optimize growth.

Methods: used is descriptive qualitative research. The strategy used is a case study of single stuck. Means a single case study research conducted on only one target is the location of the TK Ma'Arif Tanggulangin Sentul District of Sidoarjo regency with the characteristics of the child that is about the modeling game.

Results: showed that preschoolers play goals include: Encouraging imagination / creativity of children, Optimizing the growth of all body organs, to socialize with others, develop intellectual abilities. Preparation of the teachers is very important to support the development of children pelakanaan test. Preparation of equipment and place to be used in the test development must be adapted to the situation of children. So that a teacher should have careful planning and clear. Implementation of appropriate benchmark tests conducted in the development of learning in early childhood. The positive impact is encountered children can play while learning and honing the brain due to the selection of the correct game can provide a challenge for children to play to its full potential by honing their brains.

Conclusion:The implementation of the test execution progress in children in kindergarten Ma'Arif Tanggulangin Sentul District of Sidoarjo regency is going well and smoothly according to the plan set.

Keywords: perception, the elderly, the modeling game

(7)

DAFTAR ISI

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN A. Kajian Teori ... 6

1. Persepsi ... 6

1. Pengertian Persepsi ... 6

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ... 9

3. Persepsi Memberikan Pengaruh ke Perilaku ... 10

2. Konsep Orang Tua ... 12

1. Pengertian Orang Tua ... 12

2. Peranan Orang Tua ... 13

3. Fungsi Pokok Orang Tua ... 13

4. Kewajiban Orang Tua Terhadap anak ... 14

3. Konsep Modeling Permainan Anak ... 15

1. Pengertian Bermain ... 15

2. Tujuan Bermain ... 16

3. Fungsi Bermain ... 16

4. Ciri-Ciri Bermain ... 17

5. Bentuk-Bentuk Bernain ... 18

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bermain Anak ... 19

7. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Aktivitas Bermain ... 21

(8)

8. Permainan dan Alat permainan sesuai perkembangan

anak menurut Depkes RI tahun 2006 ... 22

4. Konsep Perkembangan anak ... 25

1. Pengertian Perkembangan ... 25

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ... 26

3. Tahapan perkembangan Anak ... 27

4. Penilaian Perkembangan Anak dengan Formulir KPSP (Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan) ... 32

B. Penelitian Relevan ... 35

C. Kerangka Berfikir ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 38

A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 38

C. Sumber Data ... 39

D. Teknik Pengumpulan Data ... 40

E. Validitas Data ... 40

F. Tenik Sampling ... 43

G. Teknik Analisis Data ... 43

H. Prosedur Kegiatan ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 47

B. Sajian Data ... 49

C. Temuan Penelitian ... 60

1. Persepsi orang tua terhadap modeling permainan anak ... 60

2. Modeling permainan anak ... 61

3. Perkembangan anak di TK Muslimat Sentul ... 62

D. Pembahasan ... 62

1. Tujuan bermain pada anak ... 62

2. Perencanaan dan Pengorganisasian ... 63

3. Pelaksanaan dan Evaluasi ... 67

4. Dampak dari modeling permainan anak ... 70

(9)

5. Kendala – Kendala ... 74

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Implikasi ... 78

C. Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden Penelitian

Lampiran 2 Pernyataan Keaslian Tulisan

Lampiran 3 Panduan Wawancara Mendalam Pada Penelitian Persepsi Orang Tua Tentang Modeling Permainan Anak Di TK Muslimat Sentul Tahun 2014

Lampiran 4 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Ibu Nur Jannah, S. Pd

Lampiran 5 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Ibu Maslakha, S. Pdi

Lampiran 6 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Ibu Hj. Elis Faridah, S. Pd

Lampiran 7 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Moch. Reza Valen Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 8 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Achmad Zacky Safa Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 9 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak M. Azriel Afriyanto Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 10 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Maulidin Assani Subkhi Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 11 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Iffan Hermansyah Di TK Muslimat Sentul

(11)

Lampiran 12 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Affandi Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 13 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Fina Dwi Firanti Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 14 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Muhammad Arinil Haqi Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 15 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak Trisna Wati Di TK Muslimat Sentul

Lampiran 16 Panduan Wawancara Mendalam Dengan Orang Tua Anak M. Riyad Fadli Di TK Muslimat Sentul

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Persepsi pengetahuan orang tua tentang permainan anak dengan perkembangan anak.

Gambar 3.1 Komponen-komponen analisis data dengan model interaktif

Gambar 4.1 Gedung tempat proses belajar mengajar berlangsung di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo

Gambar 4.2 Masyarakat / orang tua ikut berperan serta dalam kegiatan pembelajaran

Gambar 4.3 Bermain peran

Gambar 4.4 Bermain balok

Gambar 4.5 Anak lebih banyak bermain daripada belajar

Gambar 4.6 Pembelajaran dilakukan dengan bermain

Gambar 4.7 Tes Perkembangan

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia anak adalah bermain, karena bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi anak, dengan bermain anak dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan anak dalam dimensi : motorik kognitif, kreativitas, bahasa emosi sosial nilai dan sikap hidup. Melalui bermain akan belajar mengendalikan diri sendiri, memahami kehidupan, memahami dunianya. Jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak. Stimulasi adalah suatu kegiatan merangsang kemampuan dasar anak yang dilakukan oleh lingkungan (ibu, bapak, pengasuh anak & anggota keluarga lain) untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya (Mulyani et al, 1999). Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anaknya untuk mencapai perkembangan pada tahap tertentu. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan atau kedewasaan (Hurlock, 2009).

Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu pada masa Infancy toddlerhood(usia 0-3 tahun), Early childhood

(14)

Masalah penyimpangan tumbuh kembang anak yang terjadi di masyarakat memang sangat bervariasi, lima kasus terbanyak ditemukan pada rawat jalan klinik tumbuh kembang RS Dr. Soetomo 2005 adalah

defelopmental delay 205 anak, speech delay 190 anak, motoric delay 133 anak, down syndrome 45 anak, dan cerebral palsy 33 anak. Sensus tahun 2000, jumlah anak usia dini (0-6 tahun) sebanyak 26,09 juta. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 13,5 juta berusia antara 0-3 tahun dan anak usia 4-6 tahun mencapai 12,6 juta anak. Dari jumlah anak usia 0-3 tahun itu, yang sudah memperoleh layanan pendidikan prasekolah melalui program pembinaan keluarga yang mempunyai anak Balita dan sejenisnya baru sekitar 18,74% atau 2,5 juta anak. Sementara dari jumlah 12,6 juta anak usia 4-6 tahun yang sudah memperoleh layanan pendidikan baru mencapai 4,6 juta anak atau sekitar 36,54%, dengan rincian; terlayani SD 2,6 juta anak, TK 1,6 juta, kelompok bermain 4.800 anak, dan penitipan anak 9.200 anak (Depkes RI, 2006). Berdasarkan studi pendahuluan pada 10 ibu dengan wawancara di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo, terdapat 7 ibu yang tidak mengetahui tentang permainan anak yang menunjang perkembangan anak sesuai dengan usianya, mereka membelikan alat permainan sesuai apa yang diinginkan anaknya.

(15)

kesadaran ibu untuk melakukan evaluasi. Pengetahuan ibu tentang perkembangan anak sangat diperlukan dalam rangka mendukung kelancaran perkembangan anak sesuai dengan usianya. Pengetahuan ini mendorong ibu melakukan stimulasi dini dengan menggunakan sarana permainan yang ada. Perkembangan Teknologi sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia tercermin dalam berbagai kegiatan manusia termasuk kegiatan bermain dan alat permainannya. Dampak permainan seperti nintendo, playstation, gameboy dan lain-lain. anak menjadi amat tertarik pada permainan tersebut dan cenderung mengabaikan kegiatan lainnya (Shinto, 2009).

(16)

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka fokus penelitian masalah dalam penelitian ini adalah ingin mengungkap atau mendiskripsikan Persepsi Orang Tua Tentang Modeling Permainan Anak di TK Muslimat Sentul.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana Persepsi orang tua terhadap modeling permainan anak di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo?

2. Bagaimana modeling permainan anak di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo?

3. Bagaimana perkembangan anak di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui bagaimana Persepsi pengetahuan orang tua tentang permainan anak dengan perkembangan anak.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui persepsi orang tua tentang modeling permainan anak. b. Mengetahui modeling permainan anak.

(17)

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya yang berminat dan tertarik dengan penelitian serupa. Serta dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi Instansi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan bagi yang membutuhkan referensi dalam bidang pengetahuan ibu tentang permainan anak dengan perkembangan anak usia 1 – 3 tahun.

b) Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat membantu para orang tua dan pengasuh untuk memberikan atau memilih permainan sesuai dengan manfaat permainan dalam rangka menstimulasi perkembangan anak. c) Bagi Peneliti

(18)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Kajian Teori

1. Persepsi

a. Pengertian Persepsi

Persepsi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasi dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka (Robbins, 2003).

Riswandi (2009) mengemukakan bahwa terdapat beberapa definisi tentang persepsi dari beberapa ahli, yaitu: cara organisme memberi makna, proses penafsiran informasi indrawi, interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif objek eksternal dan pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada di luar sana.

(19)

demikian, dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diinderanya sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu (Walgito, 2002).

Persepsi adalah suatu proses kognitif psikologis dalam diri orang yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai, dan pengharapan yang digunakan orang untuk memaknai objek persepsi. Dengan kata lain, persepsi bersifat pribadi dan subjektif. Persepsi pada dasarnya lebih mewakili keadaan fisik dan psikologis individu daripada merujuk pada karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi (Riswandi, 2009).

Syarat untuk mengadakan persepsi antara lain adanya objek yang dipersepsi, alat indera atau reseptor, perhatian

Untuk dapat memahami persepsi secara lebih jelas, perlu kita ketahui bagaiamana proses persepsi itu berlangsung dalam diri manusia, seperti diutarakan oleh Gibson (1993). Proses persepsi meliputi 3 tahapan, yaitu:

1) Kenyataan dalam kehidupan individu (sebagai stimulus)

(20)

2) Pengolahan persepsi

Stimulus tersebut diolah, diorganisasi dan ditafsirkan dengan perangkat-perangkat yang ada. Terdapat juga tiga bagian dalam pengelolaan ini, yaitu:

a) Pengamatan stimulus

Tahap ini disebut juga sensasi, yang melibatkan panca indera sebagai pintu-pintu masuk stimulus ke dalam psikis manusia. Jadi sensasi merupakan bagian dari persepsi. Faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap stimuli yang diterimanya.

b) Evaluasi dan penafsiran kenyataan

Dalam hal ini kenyataan-kenyataan (sebagai stimuli) tadi sudah diolah dalam suatu mekanisme psikis yang rumit dan tidak selalu bisa dijelaskan.

3) Hasil proses persepsi

(21)

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Berikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persepsi baik dari faktor internal maupun eksternal. Menurut Rachmat (2005), adalah sebagai berikut:

1) Faktor Internal a) Alat indera

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus, disamping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.

b) Perhatian

Untuk menyadari atau mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. c) Pengalaman

(22)

2) Faktor Eksternal

a) Objek yang dipersepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi dapat juga datang dari individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun sebagian besar stimulus dating dari luar individu.

b) Informasi

Era teknologi jaman sekarang ini lebih dari kata maju, banyak sekali cara untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber yang terpercaya. Baik dari media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan lain - lain. Serta dari media elektronik seperti TV, internet dengan acara yang kita bisa langsung ikut dalam interaktif didalamnya.

c) Budaya/ lingkungan

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat. c. Persepsi Memberikan Pengaruh ke Perilaku

(23)

dilakukan lewat inderanya, yaitu indera penglihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium (Slameto, 2003).

Unsur yang datang dari dirinya sendiri, berupa persepsi (perception), keahlian dan kemampuan (skill and abilities), kepribadian (personality), pengatributan diri (attribution), sikap (attitude), nilai (value), dan etika (ethics).

Pola perilaku manusia didasarkan pada persepsi mereka mengenai realitas sosial yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek, atau kejadian, atau reaksi mereka terhadap hal-hal tersebut didasarkan pada pengalaman masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek, atau kejadian serupa.

Oleh karena itu kita terbiasa merespon suatu objek dengan cara tertentu, kita sering gagal mempersepsi perbedaan yang samar dalam suatu objek lain yang mirip. Kita memperlakukan objek itu seperti sebelumnya, padahal terdapat perbedaan dengan objek sebelumnya, misalnya dimensi, nuansa, atau kualitasnya yang berbeda. Bila berdasarkan pengalaman kita sering melihat bahwa suatu objek diperlakukan dengan cara tertentu sebagaimana lazimnya, kita mungkin akan bereaksi lain terhadap cara baru memperlakukan objek tersebut, berdasarkan persepsi yang lama.

(24)

realitas itu sendiri. Mahmud (1990) memberikan pernyataan yang senada dengan Riswandi tersebut. Cara mempersepsi situasi sekarang tidak bias terlepas dari adanya pengalaman sensoris terdahulu. Kalau pengalaman terdahulu sering muncul, maka reaksinya menjadi salah satu kebiasaan.

2. Konsep Orang Tua

a. Pengertian Orang Tua

Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat (Utsaimin, 2009).

Pendapat yang dikemukakan oleh Thamrin Nasution, Orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu (Nasution:1986). Seorang bapak atau ayah dan ibu dari anak-anak mereka tentunya memiliki kewajiban yang penuh terhadap keberlangsungan hidup bagi anak-anaknya, karena anak memiliki hak untuk diurus danan dibina oleh orang tuanya hingga beranjak dewasa.

(25)

jawab dalam membentuk serta membina ank-anaknya baik dari segi psikologis maupun pisiologis. Kedua orang tua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mendidik anaknya agar dapat menjadi generasi-generasi yang sesuai dengan tujuan hidup manusia.

b. Peranan Orang Tua a) Peranan ayah

Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Ayah juga berperan sebagai pengambil keputusan dalam keluarga. b) Peranan ibu

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya (Effendy, 2004). c. Fungsi Pokok Orang Tua

Menurut Effendy (2004), fungsi pokok orang tua dibagi menjadi tiga bagian yaitu,

(26)

2) Asuh, adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara.

3) Asah, adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

Beberapa hal yang perlu di berikan oleh orang tua terhadap anaknya :

1) Respek dan kebebasan pribadi.

2) Jadikan rumah tangga nyaman dan menarik. 3) Hargai kemandiriannya.

4) Diskusikan tentang berbagai masalah.

5) Berikan rasa aman, kasih sayang, dan perhatian. 6) Anak-anak lain perlu di mengerti.

7) Beri contoh perkawinan yang bahagia. (Ahmadi Abu, 1991) d. Kewajiban Orang Tua Terhadap anak

Orang tua harus dapat meningkatkan kualitas anak dengan menanamkan nilai-nilai yang baik dan ahlak yang mulia disertai dengan ilmu pengetahuan agar dapat tumbuh manusia yang mengetahui kewajiban dan hak-haknya.

(27)

1) Pendidikan Keimanan, antara lain dapat dilakukan dengan menanamkan tauhid kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasul-Nya.

2) Pendidikan Akhlak, antara lain dapat dilakukan dengan menanamkan dan membiasakan kepada anak-anak sifat terpuji serta menghindarkannya dari sifat-sifat tercela. 3) Pendidikan Jasmaniah, dilakukan dengan memperhatikan

gizi anak dan mengajarkanya cara-cara hidup sehat.

4) Pendidikan Intelektual, dengan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak dan memberi kesempatan untuk menuntut mencapai tujuan pendidikan anak. (Aly, 1999).

3. Konsep Modeling Permainan Anak

a. Pengertian Bermain

Bermain adalah suatu aktifitas untuk menimbulkan perasaan senang dan gembira, bukan untuk sesuatu prestasi. Bermain dilakukan secara suka rela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban (Hurlock, 1999).

(28)

b. Tujuan Bermain

Tujuan bermain anak usia prasekolah antara lain (Soetjiningsih 2007): Mendorong imajinasi/ kreativitas anak, Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh organ tubuh, Untuk bersosialisasi dengan orang lain, Mengembangkan kemampuan intelektual.

c. Fungsi Bermain

Menurut fungsi bermain bagi anak terdiri dari : a) Perkembangan sensori motorik

Aktivitas sensori motorik merupakan komponen utama bermain pada semua tingkat usia anak. (Wong 2003)

b) Perkembangan kognitif/ intelektual

Anak dapat berpikir positif dalam keadaan kritis, pengetahuan lingkungan dan kebiasaan suatu tempat menjadi hal menarik bagi anak di samping merangsang keaktifan dan kreativitas siswa. Claparade (dalam Satya, 2006)

c) Perkembangan moral dan sosial

(29)

d) Perkembangan kreativitas

Bermain merupakan pemicu kreativitas. Anak yang banyak bermain akan meningkat kreativitasnya, kesimpulannya bermain merupakan sarana untuk mengubah potensi-potensi yang ada pada diri anak. Charlote Buhler (dalam Sugianto, 1995)

e) Perkembangan kesadaran diri

Dalam bermain anak mengekpresikan emosi. Dengan bermain anak dapat menemukan kekuatan serta kelemahan, minat dan cara menyelesaikan tugas dalam bermain (Soetjiningsih, 2007).

f) Perkembangan komunikasi

Bermain memfasilitasi komunikasi nonverbal akan kebutuhan, rasa takut, dan keinginan secara langsung. Bermain mendorong anak untuk berkomunikasi dengan teman temannya. Oleh karena anak dapt mengerti apa yang di komunikasikan oleh temannya. (Elzabeth 1997)

d. Ciri-ciri Bermain

(30)

Fleksibilitas yang ditandai dengan mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak-anak kecil. Mempunyai kualitas pura-pura. Ciri ini menjadi indikasi paling kuat bahwa seorang anak usia prasekolah sedang melakukan kegiatan bermain.

e. Bentuk-bentuk Bermain

a) Bermain aktif

Dalam bermain aktif, anak memperoleh kesenangan dari apa yang dilakukannya, misalnya :

1) Bermain mengamati/ menyelidiki (exploratory play)

Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut.

2) Bermain musik

Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya.

3) Bermain drama (dramatic play)

(31)

4) Mengumpulkan/ mengoleksi sesuatu

Mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama dan bersaing.

5) Permainan olah raga

Dalam permianan olah raga, anak banyak menggunakan energy fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. (Wong, 2004).

b) Bermain pasif

Kesenangan yang diperoleh anak dalam bermain egosentris. Sedikit demi sedikit anak akan dilatih untuk mempertimbangkan perasaan orang lain, bekerja sama, saling membagi dan menghargai. Melalui bermain anak dilatih bersabar, menunggu giliran dan terkadang bisa kecewa karena in pasif berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh orang lain. Misalnya menikmati temannya bermain, melihat hewan. Bermain jenis ini membutuhkan sedikit energi dibandingkan bermain aktif (Hurlock,1999)

f. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bermain Anak

a) Kesehatan

(32)

anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan membutuhkan banyak energi.

b) Perkembangan motorik

Permainan anak pada setiap usia melibatkan koordinasi motorik. Apa saja yang dilakukan dan waktu bermainnya bergantung pada perkembangan motorik anak.

c) Intelegensi

Pada setiap anak, anak yang cerdas lebih aktif dari pada anak yang kurang cerdas. Anak yang pandai menunjukan keseimbangan perhatian bermain yang besar, termasuk upaya menyeimbangkan faktor fisik dan intelektual yang nyata (Hurlock,1999).

d) Jenis kelamin

Pada awal kanak-kanak, anak laki-laki menunjukkan perhatian pada berbagai jenis permainan yang lebih banyak ketimbang perempuan. Perbedaan ini bukan berarti anak perempuan kurang sehat di banding laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak lembut dan bertingkah laku yang halus.

e) Status sosial ekonomi

(33)

dengan anak yang dibesarkan dikeluarga yang status ekonominya rendah.

f) Lingkungan

Anak yang berasal dari lingkungan desa kurang bermain ketimbang mereka yang berasal dari lingkungan kota. Hal ini karena kurangnya teman bermain serta kurangnya peralatan dan waktu bebas. Ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akan lebih cenderung memperhatikan kebutuhan bermain bagi anak. Dan akan memfasilitasi anak dalam bermain (Suherman, 2000). g) Peralatan bermain.

Peralatan bermain yang dimiliki anak mempengaruhi permainannnya. Misalnya, dominasi boneka dan binatang buatan yang mendukung permainan pura-pura.

h) Alat Permainan

Alat permainan adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat, seperti mengelompokkan, meragakan, membentuk, menyempurnakan suatu desain atau menyusun sesuai bentuk utuhnya (Soetjiningsih, 2007).

g. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Aktivitas Bermain

a) Ekstra energi

(34)

maupun bermain pasif, untuk menghindari rasa bosan atau jenih. (Nursalam, dkk, 2005).

b) Waktu

Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang diberikan dapat optimal..

c) Alat permainan

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa alat permainan tersebut harus aman dan mempunyai unsure edukatif bagi anak. (Nursalam, dkk, 2005).

d) Ruangan untuk bermain

Ruangan tidak usah terlalu lebar dan tidak perlu ruangan khusus untuk bermain.

e) Pengetahuan cara bermain

Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya atau diberitahu caranya oleh orang tuanya. f) teman bermain

(35)

h. Permainan dan Alat Permainan Sesuai Perkembangan Anak

Menurut Depkes RI tahun 2006.

a. Perkembangan gerak kasar

1) Bola tenis : latih anak untuk menangkap bola dan sarankan untuk melemparkan kearah yang berlawanan, menendang bola 2) Melompat : Tunjukkan pada anak cara melompat dengan dua

kaki. Bila diperlukan bantulah anak untuk melompat pertama kalinya.

3) Mainan : berikan mainan yang dapat ditarik ketika anak berjalan, berikan mainan yang berbunyi, karena lebih menarik. Ajari anak berjalan mundur. Ajak anak mendorong mainan dengan kakinya.

4) Ajak anak bermain diluar rumah, misalnya memanjat tangga, main ayunan, berlari dengan teman-temannya

5) Bermain air : berikan cangkir dan ajak anak menuangkan air pada sebuah cangkir kecil, dan ember untuk menampung air. 6) Ajak anak berdiri dengan satu kaki secara bergantian untuk

melatih keseimbangan tubuh, awalnya biarkan anak menggunakan pegangan, bila sudah terbiasa ia akan dapat berdiri dengan satu kaki tanpa bantuan.

b. Perkembangan gerak halus

(36)

2) Memasukkan benda satu kedalam benda yang lainnya

3) Menggambar dengan krayon, pensil atau dengan jarinya. Menggambar bentuk seperti garis, bola dll, mencocokkan gambar yang sama bentuknya. Membuat gambar tempel

4) Ajari anak meniup busa sabun dengan alat, ajari anak tentang bentuk dan rasa meraba busa.

5) Memilih dan mengelompokkan benda sesuai jenisnya.

6) Konsep jumlah : ajak anak menghitung jumlah mainan atau benda disekitasnya.

7) Bermain puzzle.

c. Kemampuan Berbicara dan bahasa 1) Melihat televisi

2) Mengerjakan perintah sederhana. 3) Bercerita tentang apa yang dilihatnya. 4) Menyebut nama lengkap anak. 5) Bercerita tentang dirinya

6) Menyebut nama dan keadaan suatu benda d. Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian

1) Memeluk dan mencium

2) Membereskan mainan atau membantu kegiatan rumah 3) Bermain dengan teman sebaya

(37)

4. Konsep Perkembangan anak

1) Pengertian Pekembangan

Perkembangan ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang faktor lingkungan dan proses belajar dalam pada waktu tertentu (Soetjiningsih, 2002).

Menurut Kartini Kartono (2007) perkembangan merupakan proses transmisi dari kontribusi psiko-fisik yang herediter, dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan, dalam perwujudan proses aktif menjadi secara kontinu.

Definisi lain menyebutkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu.

Perkembangan digunakan untuk menunjukkan bertambahnya keterampilan dan fungsi kompleks. Seseorang berkembang dalam pengaturan neuromoskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan terbentuk pula kepribadiannya (Suryadi, 2007).

(38)

tingkah lakunya, mendorong fase-fase perkembangan secara berturut-turut (Kartini Kartono, 2007).

2) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan

Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis otomatis, sebab perkembangan tersebut bergantung pada beberapa faktor secara simultan, yakni (Kartini Kartono, 2007).

a. Faktor herediter (warisan sejak lahir, bawaan).

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang (Soetjiningsih, 2003). Kualitas-kualitas bawaan akan tampak pada penampakan ciri-ciri fisik yang karakteristik. Misalnya penampakan tubuh, warna kulit, bentuk mata, hidung, bibir dan lain-lain.

(39)

c. Faktor kematangan fungsi organ dan fungsi psikis.

Dalam perkembangan anak terdapat impuls-impuls bawaan yang mendorong segenap mekanisme dari potensiallitasnya untuk berfungsi aktif, berkembang, dan terus maju. Mesin perkembangan pada pribadi anak berjalan secara alami sudah dilengkapi dengan

sel starter. Jika fungsi-fungsi psiko-fisik mengalami proses pematangan maka terjadi proses pemekaran dan pembukaan dari lipatan pada setiap organisme. Proses pematangan ini tidak hanya mendorong perubahan pada setiap bentuk organisme dan potensi psikisnya saja, tetapi juga mengakibatkan perubahan dalam fungsi dan kapasitasnya.

d. Aktivitas Anak

Anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri

3) Tahapan Perkembangan Anak

a. Perkembangan Motorik

(40)

b. Perkembangan Bahasa

Pada tahun pertama anak baru lahir tertutup sama sekali dengan dunia luar dan pada tahun akhir pertama sudah ada usaha mencari perangsang dari luar. Perkembangan bahasa pada anak usia 4-6 tahun sudah dapat menggunakan bahasa mencapai taraf yang sempurna dan dapat berkomunikasi dengan orang dewasa (Heru Purwanto, 2002).

Karakteristik kemampuan bahasa anak bisa dikelompokkan menjadi dua bagian (Suryadi, 2007), yakni;

1) Karakteristik kemampuan bahasa anak usia 3 tahun

a) Terjadinya perkembangan yang cepat dalam bahasa. Anak telah dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar b) Anak telah menguasai 90% dari fonem dan sintak bahasa

yang digunakan.

c) Anak dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan.

d) Anak sudah dapat mendengarkan orang lain dan menanggapi pembicaraan tersebut.

2) Karakteristik kemampuan bahasa anak usia 3 tahun

a) Anak sudah dapat mengucapkan lebih dari 2.500 kosa kata. b) Lingkup kosa kata yang dapat diucapkan anak menyangkut

(41)

c) Anak usia 3 tahun sudah dapat melakukan peran sebagai pendengar yang baik.

d) Anak dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain dan menanggapi pembicaraan tersebut.

e) Percakapan yang dilakukan anak usia 3 tahun menyangkut berbagai komentar yang dilakukan oleh dirinya sendiri maupun orang lain serta apa yang dilihatnya.

f) Anak usia 3 tahun dapat mengekspresikan diri, menulis, membaca dan bahkan berpuisi.

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan anak usia 1 - 3 tahun tampak pada terbentuknya perkembangan sosial yang merupakan perkembangan dari anak yang menghubungkan anak dengan dunia luar. Permainan anak usia 1-3 tahun dapat dibagi menjadi beberapa bentuk golongan yaitu permainan fungsi, membentuk, peranan dan menerima. Permainan ini akan menyiapkan anak untuk hidup kemudian hari dan membina kesehatan mental anak (Heru Purwanto, 2002).

(42)

terpisah secara total dari masyarakat serta pengaruh kultural orang dewasa, tidak mungkin dia menjadi anak normal. Tanpa bantuan orang dewasa anak akan mati, tanpa bantuan manusia lain dan lingkungan sosialnya anak tidak dapat mencapai taraf kemanusiaan normal (Kartini Kartono, 2007).

Perkembangan sosial dan kepribadian mulai dari usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Anak-anak melepaskan diri dari keluarga, ia makin mendekatkan diri pada orang lain disamping anggota keluarga. meluasnya lingkungan sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh dari luar pengawasan orang tua. Aspek perkembangan sosial (Haditono, 2004), dalam Taman Kanak-kanak anak mempunyai kontak yang intensif dengan teman-teman sebaya. Pada mulanya anak tidak mengerti tingkah laku apa yang dipuji dan yang tidak dipuji.

d. Perkembangan Kognitif

(43)

sendiri dan dengan demikian berpikir mengenai dunia luar berjalan sebagai berikut (Haditomo, 2004).

a) Bayangan (image)

Dijumpai pada anak umur 3 tahun, hal ini merupakan representasi pertama suatu kejadian tertentu dan tidak merupakan pencerminan fotografis yang eksak. Hanya merupakan kesan-kesan tertentu yang lepas yang kebetulan melekat dalam ingatan.

b) Simbol

Simbol tidak hanya berkisar pada bunyi yang khas atau bau yang khas dengan artinya yang khas. Misalnya seorang anak kecil bermain dengan dos korek api seakan itu sebuah mobil, kelak ia akan mengerti bahwa simbol seperti halnya lalu lintas, merupakan penunjuk bagi sesuatu hal sesuatu yang lain.

c) Konsep

(44)

Tabel 2.1 Kemampuan perkembangan anak balita usia 1 – 3 tahun

Motorik Kasar Motorik Halus Bahasa Sosial dan

Kemandirian

4) Penilaian Perkembangan Anak dengan Formulir KPSP

(Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan)

Formulir KPSP (Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan) adalah alat/instrumen yang digunakan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan (Depkes RI, 2006).

a. Aspek perkembangan yang dipantau adalah :

(45)

2) Gerak halus atau motorik halus, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerluka koordinasi yang cermat, misalnya menjepit, menulis, menjimpit, dan sebagainya.

3) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungandengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, bicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.

4) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, membereskan mainan, berpisah dengan ibu atau pengasuh dan berinteraksi dengan lingkungannya. b. Petunjuk penggunaan KPSP (Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan)

1) Bila anak berusia diantaranya maka KPSP yang digunakan adalah yang lebih kecil dari usia anak.

2) Tentukan umur anak dengan menjadikannya dalam bulan. Bila umur anak lebih dari 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan.

3) Setelah menentukan umur anak pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.

4) Baca dulu dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang ada. Bila tidak jelas atau ragu-ragu tanyakan lebih lanjut agar mengerti sebelum melaksanakan.

(46)

6) Setiap pertanyaan hanya mempunyai satu jawaban YA atau TIDAK.

7) Teliti kembali semua pertanyaan dan jawaban. 8) KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaitu :

a) Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak. Contoh : “dapatkah bayi makan kue sendiri?”

b) Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh : “pada posisi bayi anda terlentang, tariklah bayi pada pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi duduk”

c. Interpretasi Hasil KPSP

1) Hitung jawaban Ya (bila dijawab bisa atau sering atau kadang-kadang)

2) Hitung jawabab Tidak (bila jawaban belum pernah atau tidak pernah)

3) Bila jawaban YA= 9-10, perkembangan anak sesuai dengan tahapan perkembangan (S)

4) Bila jawaban YA = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M) 5) Bila jawaban YA = 6 atau kurang, kemungkinan ada

penyimpangan (P).

(47)

5) Pengaruh Bermain Bagi perkembangan anak

Bermain adalah sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan dan biasanya lebih sering dijumpai pada anak-anak. (Melinda, 2011).

6) Perkembangan Kepribadian

Kepribadian adalah suatu organisme yang dinamis dalam diri sendiri sistem psikofisiknya menentukan karakteristik, tingkah laku serta berpikir seseorang.

Ada 3 faktor yang menentukan dalam perkembangan kepribadian : a) Faktor bawaan

Unsur ini terdiri dari bawaan genetik yang menentukan diri fisik primer.

b) Faktor lingkungan

Faktor lingkungan seperti sekolah, atau lingkungan sosial/ budaya. c) Interaksi bawaan serta lingkungan

Interaksi yang terus menerus antara bawaan serta lingkungan. (Gordon W. Allport, 1937).

B. Penelitian Relevan

(48)

dan untuk mengetahui perkembangan yang ditunjukkan oleh anak mereka yang mengikuti pendidikan anak usia dini (TK dan Play Group). 2. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif.

2. Murni (2008). Model Permainan di Sekolah Dasar Berdasarkan Pendekatan DAP (Developmentally Appropriate Practice). 1) Tujuan penelitian menyusun model permainan di sekolah dasar kelas rendah (Kelas III) berdasarkan pendekatan pembelajaran yang sesuai atau DAP (Developmentally Appropriate Practice). Metode penelitian yang digunakan Penelitian ini adalah metode “Research Development”. 3) hasil penelitiannya adalah 1. Ada enam jenis permainan yang menurut kajian-kajian teori permainan sesuai untuk perkembangan anak sekolah dasar atau sesuai dengan Pendekatan DAP (Developmentally Appropriate Practice). Permainan itu adalah: permainan eksplorasi (exploratory play), permainan energik (energic play), permainan kemahiran (skillfull play), permainan sosial (social play), permainan imajinatif (imaginative play), dan permainan puzzle (puzzle it out play).

(49)

kebutuhan bermain anak usia prasekolah secara keseluruhan menunjukan bahwa 16 (53,3%) responden memiliki persepsi baik. Analisa per komponen dapat dilihat dari segi fungsi bermain termasuk kategori baik (70%), dari segi karakteristik bermain termasuk dalam kategori cukup (70%), dari segi bentuk-bentuk bermain termasuk dalam kategori cukup (66,7%), dari segi faktor-faktor yang memepengaruhi bermain termasuk kategori cukup (60%), dari segi alat bermain termasuk kategori cukup (56,7%), dari segi peran orang tua dalam bermain anak termasuk kategori cukup (53,3%)

C. Kerangka Berfikir

Pada kerangka konsep disajikan alur penelitian terutama yang akan digunakan dalam penelitian. Kerangka konseptual adalah konsep yang dipakai sebagai landasan berfikir dalam kegiatan ilmu (Nursalam, 2008).

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Pemilihan lokasi dan atau site location berkenaan dengan penentuan unit, bagian, kelompok, tempat dan terdapat orang-orang yang terlibat di dalam kegiatan atau peristiwa yang ingin diteliti. Satuan yang dipilih hendaknya yang secara nyata kegiatan-kegiatan tersebut efektif dilaksanakan.

Penelitian ini dilakukan di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo pada Tanggal Maret – April 2014.

B. Bentuk dan Strategi Penelitian

Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yang menekankan pada masalah pengetahuan orang tua tentang permainan anak dengan perkembangan anak. Maka jenis penelitian ini dengan strateginya yang terbaik adalah penelitian kualitatif deskriptif.

(51)

C. Sumber Data

Informasi dalam penelitian ini digali dalam berbagai sumber data, dan jenis sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi a. Informan atau nara sumber

Pengertian informan dalam penelitian kualitatif adalah seseorang yang dipandang mengetahui permasalahan yang sedang dikaji dalam penelitian dan bersedia memberikan informasi kepada peneliti yang berupa kata-kata. Informan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah informan yang benar-benar mengetahui permasalahan sehingga data yang diperoleh objektif. Informan dalam penelitian ini adalah :

a. Pengajar di TK Muslimat Sentul Kec. Tanggulangin Kab. Sidoarjo. b. Orang tua TK Muslimat Sentul Kec. Tanggulangin Kab. Sidoarjo. c. Siswa TK Muslimat Sentul Kec. Tanggulangin Kab. Sidoarjo. b. Arsip atau dokumen resmi mengenai deteksi tumbuh kembang anak

(52)

D. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan bentuk penelitian kualitiatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Wawancara mendalam (in-depth interviewing)

Tujuan dilakukannya wawancara mendalam adalah seperti ditegaskan Meleong (2006: 186) antara lain : mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dari informan, sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya. Data yang dikumpulkan dari wawancara merupakan data penguat bagi penemuan data yang dikumpulkan dengan pengamatan sekaligus. Data-data lain yang diperlukan untuk mendukung penjelasan tentang permasalahan penelitian. b. Mencatat dokumen (content analysis)

Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari data KPSP TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. c. Observasi

Observasi ini dilakukan di TK Muslimat Sentul, peneliti dapat melakukan observasi test perkembangan anak.

E. Validitas data

(53)

karena itu peneliti harus bisa memilih dan menentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Dalam penelitian ini validitas data diuji dengan cara :

1. Triangulasi, ada 4 macam triangulasi :

a. Triangulasi sumber / data (Data Triangulastion)

Triangulasi sumber dilakukan dengan mengumpulkan data tentang permasalahan dalam penelitian dari beberapa sumber data yang berbeda. Misal, mengumpulkan data dari beberapa informan kemudian dibandingkan hasil data dari berbagai informan tersebut. b. Triangulasi Teori (Theoretical Triangulastion)

Triangulasi teori dilakukan dengan menyesuaikan standar operasional prosedur.

c. Triangulasi Metode (Methodoligical Triangulastion)

Jenis triangulasi ini biasa dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda. Misal, data yang telah diperoleh dengan wawancara kemudian dicek kembali dengan observasi, dokumentasi ataupun kuesioner (Sugiyono, 2010).

d. Triangulasi Peneliti (investigator Triangulation)

(54)

e. Pada penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber dan Triangulasi metode. pada triangulasi sumber, peneliti akan mengumpulkan data dari mewawancarai informan dan membandingkan hasil wawancara tersebut dengan hasil wawancara informan lainnya. Sedangkan pada triangulasi metode, peneliti akan mengecek data dari beberapa orang sumber data yang sama dengan mewawancarainya kemudian peneliti akan mencocokkan data dengan hasil observasi dan dokumentasi. Jika hasil wawancara dari beberapa informan tersebut cocok dengan hasil observasi, dan memiliki persentase yang tinggi, maka disimpulkan bahwa data penelitian yang ada memiliki tingkat keabsahan yang tinggi.

2. Perpanjangan Pengamatan

Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data peeliti ini, sebaiknya difokuskan pada pengujian terhadap data yang diperoleh, apakah data yang diperoleh itu setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, berubah atau tidak. Bila setelah dicek kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri (Sugiyono, 2009 : 123).

3. Menggunakan member check

(55)

sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan pemberi data, dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang diberikan oleh pemberi data .

(Sugiyono, 2009 : 12) .

F. Teknik Sampling

Teknik sampling pada penelitian kualitatif menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan, keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empiris, dan lain sebagainya.

Cuplikan yang digunakan pada penelitian ini bersifat purposive sampling. Purposive sampling dengan kecenderungan peneliti untuk memperoleh informannya berdasarkan posisi dengan akses tertentu yang dianggap memiliki informasi yang berkaitan dengan permasalahan secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap, atau yang lebih cepat disebut criterion-based selection ( Goeetz dan Le Comte,1998 cit Sutopo, 2002).

G. Teknik Analisis Data

(56)

wawancara, pengamatan yang tertulis dalam catatan lapangan, dokumen resmi dan lain-lain. Setelah dipelajari dan ditelaah maka langkah selanjutnya mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman inti. Tahap terakhir dari analisis ini adalah penarikan kesimpulan dari penelitian.

Secara, umum proses analisis dengan metode interaktif digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Komponen-komponen analisis data dengan model interaktif Proses analisis penelitian kualitatif induktif, dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, seperti pengamatan, wawancara, dokumentasi, diskusi kelompok terfokus, dan melakukan beragam teknik refleksi bagi pendalaman dan pemantapan data. Semua data dan informasi yang diperoleh akan dikomparaikan, setiap unit atau kelompoknya untuk melihat keterkaitan sesuai tujuan penelitian. Pemantapan dan pendalaman data, proses yang dilakukan selalu dalam bentuk siklus, sebagai usaha

Pengumpulan Data

Penyajian Data Reduksi

Data

(57)

verifikasi. Teknik yang digunakan dalam proses analisis dengan menggunakan model analisis ini interaktif . model analisis ini, meliputi reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. (Sugiyono, 2009 : 88).

H. Prosedur Kegiatan

Kegiatan ini seluruhnya direncanakan sebagai berikut: 1. Persiapan

Tahap ini diawali dengan studi pendahuluan di TK Muslimat Sentul, untuk mendapatkan data awal sebagai masukan latar belakang penelitian dan penetapan sampel. Kemudian dilakukan penyusunan proposal penelitian dan panduan wawancara, selanjutnya dilakukan konsultasi dengan dosen pembimbing. Tahap berikutnya mengurus ijin penelitian dan meminta kesediaan para responden untuk ikut serta dalam penelitian yang akan dilaksanakan.

2. Tahap Pelaksanaan

(58)

hasil pemantauan kegiatan penelitian Dalam tahap pelaksanaan pengolahan data dilanjutkan dengan penyajian data dan analisis data.

3. Analisis Data

Analisis wawancara dilaksanakan dengan pemeriksaan terhadap transkrip wawancara, berupa catatan yang di cocokkan dengan hasil wawancara, kemudian dibaca setiap pertanyaan dan mencatat kemiripan dan ketidakmiripan yang ada. Dimulai dengan melihat jawaban sesuai urutan pertanyaan penelitian, sehingga diperoleh hasil tentang bentuk perencanaan, pengorganisasian, pelaksanan wawancara dan tes perkembangan. Data sekunder diperoleh dari analisis dokumen dan dengan mengisi checklist

observasi.

4. Tahap Penyelesaian

(59)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu instansi pendidikan anak usia dini yang dikembangkang untuk mencetak generasi bangsa yang baik. Selain itu TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo ini juga sebagai sarana dan prasarana bagi anak-anak untuk bisa mengembangkan bakat serta apa yang anak kehendaki.

TK Muslimat Sentul sendiri berlokasi di desa Sentul, RT. 08, RW. 03, Keca, RT. 08, RW. 03, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. TK Muslimat Sentul berdiri pada tanggal 1 Januari 1969 hingga sekarang. Awal berdirinya TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo karena di desa tersebut belum ada sekolah untuk anak-anak usia pra sekolah, maka masyarakat desa Sentul berinisiatif untuk mendirikan sekolah tersebut dengan adanya swadaya masyarakat Sentul, maka sekolah tersebut bisa berdiri dan sudah banyak yang sukses dari sekolah tersebut yang diberi nama TK Muslimat Sentul.

(60)

Guru-guru yang mengajar di TK Muslimat Sentul sangat kooperatif dalam memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Tidak hanya itu, guru dan orang tua juga sangat membantu dan kooperatif dalam membantu jalannya penelitian.

a) Kondisi Sekolah

Kondisi sekolah di TK Muslimat Sentul sangat memenuhi standart. Meskipun letak gedung bersebelahan dengan MI Ma’arif Sentul, TK Muslimat Sentul mempunyai dua lokal gedung. kondisi gedung masih layak dan nyaman untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Jumlah guru yang mengajar di TK Muslimat Sentul ada dua lulusan sarjana pendidikan dan satu guru berijazah sarjana ilmu pendidikan islam. Oleh karena itu dalam sistem pembelajaran guru-guru di TK Muslimat Sentul sangat baik dalam mendidik anak-anak di TK Ma’rif Sentul.

b) Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana di TK Muslimat Sentul memiliki dua ruang kelas, satu kamar mandi, taman bermain, kelengkapan alat marching band, gambar-gambar hewan, gambar-gambar berhitung 1-100, alat tulis, alat bermain kubus, gambar nama hari dalam bahasa inggris.

c) Peran Orang Tua

(61)

B. Sajian Data

Gambar 4.1 Gedung tempat proses belajar mengajar berlangsung di TK

Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo

Dan dari hasil wawancara dengan salah satu guru yang mengajar di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo, Ibu Titik Nur Jannah, S.Pd bahwa pengurus atau pengelola TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo terdiri dari ketua muslimat dan masyarakat Sentul sendiri pada umumnya. Seperti yang diungkapkan oleh Informan:

(62)

Gambar 4.2 Masyarakat / orang tua ikut berperan serta dalam kegiatan

pembelajaran

Bermula dari ketidaktersediaan sarana pendidikan khususnya untuk anak usia dini menjadi motivasi utama bagi masyarakat Sentul untuk mendirikan sebuah lembaga/institusi yang bisa menampung dan memberikan pembelajaran sejak dini kepada anak-anak khususnya anak-anak usia pra sekolah di desa Sentul dan sekitarnya. Lembaga yang kemudian diberi nama TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo ini berdiri hingga sekarang dan mampu menampung banyak siswa dan berhasil mencetak generasi bangsa yang kreatif sejak dini.

“ Kita para orang tua juga ikut berperan dalam permainan anak. selama permainan diberikan di sekolah baik, dan baik untuk perkembangan anak saya, kita sebagai orang tua mendukung penuh” (CL 6).

(63)

“ Ya, saya selalu mendampingi anak saya selama di sekolah, karena saya juga bis mengawasi anak saya. Terkadang saya juga ikut masuk ke kelas dan membantu anak saya dalam bermain di kelas ”(CL 5).

Dalam sistem pembelajaran di TK Muslimat Sentul Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo sangat menyenangkan. Anak-anak lebih banyak bermain dari pada belajar. Karena bermain dapat membangun kreatifitas pada anak, serta membangun relasi antar sesama teman. Hal ini dikarenakan anak pada usia tersebut tidak perlu diminta untuk belajar karena pembelajaran anak usia dini bisa dilakukan dengan jalan permainan.

Permainan yang diberikan pada TK Muslimat juga mengarah pada sistem pembelajaran, Guru juga ikut berperan dalam permainan anak. Guru menjadi pengarah dan peraga dalam permainan anak Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan:

(64)

Gambar 4.3 Bermain peran

Materi permainan yang digunakan mengarah pada pembelajaran anak tidak hanya diajak bermain tapi juga diajak belajar, mengenal nama-nama hewan sesuai dengan gambar hewan, materi melihat sisi-sisi kubus dan menata kubus. Berhitung juga diberikan kepada anak. Sehingga anak akan lebih senang dan lebih gampang menerima pembelajaran dengan cara bermain. Seperti yang di ungkapakan informan :

(65)

Gambar 4.4 Bermain balok

Metode pembelajaran yang digunakan lebih banyak dengan cara permainan, karena untuk mendorong antusiasme anak dalam pembelajaran. Dalam beberapa metode pembelajaran guru juga memakai alat bantu untuk mengajar, selaian itu dalam belajar berperan, metode yang digunakan adalah pergaan suatu model atau sandiwara dalam cerita. Guru tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga ikut dalam permainan yang dimainkan.

Fasilitas yang diberikan terhadap pembelajaran di TK Muslimat Sentul tidak hanya mengacu pada permainan, di dalam kelas tersedia alat-alat tulis untuk belajar menghitung, menulis dan menggambar serta belajar untuk mewarnai.seperti yang diungkapakan pada informan :

“ Salah satu metode pembelajaran yang diberikan melalui permaianan. guru juga menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran, tidak hanya alat-alat bermain alat-alat-alat-alat tulis dan menggambar juga kami fasilitasi ” (CL 3).

(66)

digunakan dalam proses pembelajaran, seperti yang diungkapkan pada informan berikut ini :

“ Kita guru TK Muslimat sentul tidak hanya menyediakan alat-alat tulis saja sebagai proses pembelajaran, tapi juga menggunakan alat-alat permainan misal nya bentuk- bentuk hewan, gambar nama-nama hari dalam bahasa inggris, ular tangga, kubus ” (CL 2).

Salah satu proses pembelajaran yang dilakukan guru adalah dengan cara bermain, karena permainan yang diberikan pada anak mengarah pada perkembangan anak. Salah satu bentuk permainan yang mengarah pada perkembangan anak adalah permainan peran yang bertujuan untuk membangun sosialisai dan kerja sama sehingga berfungsi untuk menjalin kerja sama antar teman. Di situ anak juga cara diajarkan bagaimana bermain peran dengan bagai sesama teman, dengan begitu anak akan lebih bisa bekerja sama dengan teman nya. Tidak hanya permainan menata kubus juga dapat mengatahui bagaimana perkembangan motorik kasar pada anak. Seperti yang diungkapkan pada informan berikut ini.

(67)

“ Anak-anak di TK Muslimat lebih banyak bermain dari pada belajar karena belajar anak bisa melalui dengan permainan. Dengan permainan anak akan lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran tidak hanya itu bu, dengan permainan kita dapat mengetahui perkembangan anak, selain itu, anak –anak lebih mudah menerima pengetahuan yang diberikan, karena dalam memperoleh pembelajaran anak dalam suasana yang senang dan guru juga lebih gampang dalam menyampaikan pembelajaran ” (CL 2).

Gambar 4.5 Anak lebih banyak bermain daripada belajar

(68)

Gambar 4.6 Pembelajaran dilakukan dengan bermain

Tes evaluasi penting dilakukan untuk mendeteksi perkembangan anak secara dini. Karena dengan mendeteksi secara dini kita dapat mengetahui penyimpangan perkembangan pada anak, sehingga kita bisa mengatasi masalah tersebut secara dini. Tes evaluasi yang dilakukan di TK Muslimat Sentul berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. guru dan orang tua ikut berperan dalam tes perkembangan anak. Anak yang di tes perkembangannya sangat antusias dalam menjalani tugas tes perkembangan.

“ Saya bersyukur dan mendukung adanya tes perkembangan yang dilakukan kepada anak saya. Dengan dilakukan tes perkembangan saya jadi tahu apakah perkembangan anak saya sesuai atau tidak dengan usianya ”(CL 5).

(69)

Gambar 4.7 Tes Perkembangan

Pada umumnya para orang tua tidak menegatahui bentuk-bentuk permainan yang baik untuk anak nya, bentuk permainan yang merangsang perkembangan anak, oleh karena itu ketika di luar jam sekolah, orang tua hanya memberikan permainan yang diminta oleh anaknya.berbeda denga permainan yang diberikan di sekolah.seperti ungkapan informan berikut ini

“ Iya bu, saya tdk tahu sebenarnya bentuk permainan yang bagaimana yang baik untuk anak saya, kalau di rumah saya hanya memberikan apa yang anak saya inginkan, dan saya tidak tahu apakah bentuk mainan itu baik untuk perkembangan atau tidak. Beda dengan di sekolah, pada saat saya menunggui di sekolah permainan yang di berikan terhadap bu guru lebih ke pengetahuan, misalnya: mengenal nama-nama hewan, alat transportasi ” (CL 7).

Hal ini juga diperkuat oleh informan lain.

(70)

Hal ini juga diperkuat oleh informan selanjutnya.

“ Saya tidak tahu bu, karena tidak ada yang memberi tahu. Saya sering memberikan mainan yang diinginkan oleh anak saya saja ” (CL 9).

“ Anak saya sering bermain sendiri, saya memberikan anak saya mainan lima kali selama satu minggu. Tapi saya tidak tahu apakah mainan itu baik untuk perklembangan anak saya atau tidak ” (CL 10).

Bentuk-bentuk mainan yang diberikan orang tua kepada anaknya umunya berbentuk mobil-mobilan, kemudian handphone, Playstasion, sesuai yang diinginkan oleh anaknya tanpa orang tua tahu apakah bentuk mainan tersebut baik atau tidak untuk perkembangan anaknya, selama ini anggapan orang tua bahwa bentuk mainan mahal dan modern baik untuk anaknya, selain itu bentuk mainan seperti Playstasion anak akan cenderung bermain sendirian di rumah dari pada bersosialisasi dengan temannya di luar rumah. Seperti yang diungkapkan oleh informan berikut ini.

“ Saya memberikan mainan anak saya laptop mainan dan semua mainan yang diinginkan oleh anak saya. Di sekolah anak saya juga banyak membeli mainan ” (CL 13).

Hal ini juga diperkuat oleh informan lainnya.

(71)

Hal ini juga diungkapkan oleh informan lainnya.

“ Hampir setiap hari saya memberikan mainan kepada anak saya. Saya memberikan jenis mainan seperti Ipad, kemudian mainan game Playstasion. Anak saya senang bermain di rumah sendiri ” (CL 4).

“ Saya memberikan mainan kepada anak saya berupa mobil-mobilan dan jenis mainan yang lain yang diinginkan anak saya. Anak saya senang bermian di rumah sendirian ” (CL 8).

Model – model permainan yang diberikan kepada anak pada TK Muslimat sentul lebih mengarah ke pengetahuan dan perkembangan anak, bentuk permainan yang diberikan tidak hanya berbentuk mainan tetapi juga diberikan bermain peran, bermain sensomotorik, bermain ide / gagasan. Seperti yang diungkapkan pada informan berikut ini.

“ Banyak model-model permainan yang kita gunakan, selaian bermain peran, kita juga memberikan bermain sonsomotorik Bermain peran, misalnya anak diberikan sebuah narasi/cerita dongeng dengan berbagai karakter sifat, setelah itu anak disuruh untuk menirukan karakter atau sifat tokoh dalam cerita tersebut, Bermain balok, anak bermain dengan menggunakan benda yang sudah ada untuk membantu, menghadirkan konsep yang sudah dimilikinya. Bermain sensorimotor, anak main dengan benda untuk membangun persepsi bermain jungkitan, telusuran, bola. Bermain pembangunan, anak bermain dengan benda untuk mewujudkan ide/gagasan yang dibangun dalam pikirannya menjadi sesuatu bentuk nyata seperti balok dan warna ” (CL 2).

Gambar

Gambar 4.1 Gedung tempat proses belajar mengajar berlangsung di TK Muslimat
gambar yang sama bentuknya. Membuat gambar tempel
Tabel 2.1 Kemampuan perkembangan anak balita usia 1 – 3 tahun
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Persepsi pengetahuan orang tua tentang permainan anak dengan perkembangan anak.commit to user
+7

Referensi

Dokumen terkait

BUKU PENGHUBUNG GURU TK / PAUD DENGAN ORANG TUA ANAK Jalan … Nomor … Kelurahan …………..Nama Anak:

memahami suatu aturan permainan bagi anak usia dini melalui bermain. peran mikro

Kemampuan sosial yang dimiliki oleh anak, anak dapat melakukan sesuatu dengan sangat mudah, sehingga dalam kegiatan permainan berhitung anak akan dapat bermain dengan berbagai

Dari cara orang tua mengasuh dan menuntut mereka masing-masing maka tidak mengherankan bahwa tingkah laku mereka dalam bermain akan sama atau berbeda.Tujuan yang ingin dicapai

Bermain akan menumbuhkan anak untuk mengeksplorasi, melatih pertumbuhan fisik serta imajinasi, serta memberikan peluang yang luas untuk Elis Reni Komariah, 2013 PERSEPSI ORANG

Hasil penelitian tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak di kelas B3 TK Nurul ‘Ain berimplikasikan pada perlunya penerapan bermain permainan

terdapat pengaruh yang signifikan dari permainan bakiak terhadap perkembangan sosial anak usia dini kelompok B di TK Nusa Indah Palembang. Perkembangan sosial

Walaupun ada HP saya lebih senang bermain game saja”.54 Dari hasil wawancara peneliti dengan orang tua tentang kendala selama anak melakukan kegiatan pembelajaran daring dari rumah di