UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY
INTELECTUALLY REPETITION (AIR) TERHADAP
SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 GALANG
Oleh :
Hotma Tua Sihaloho NIM. 071244110037
Program Studi Pendidikan Matematika
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala rahmat dan berkatNya yang memberikan kesehatan dan hikmat kepada
penulis sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan
waktu yang direncanakan.
Skripsi ini berjudul ” Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
siswa melalui model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) terhadap siswa kelas X SMA Negeri 1 Galang.” disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Ibnu Hajar,M.Si selaku Rektor Universitas Negeri Medan. Ucapan
terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof. Drs. Motlan,M.Sc,Ph.D selaku
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri
Medan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof. Dr.
Mukhtar,M.Pd sebagai Ketua Jurusan Matematika Universitas Negeri Medan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Drs. M. Panjaitan,M.Pd
selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan
saran-saran kepada penulis sejak awal penelitian sampai dengan selesainya
penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof.
Dr. Mukhtar,M.Pd, Bapak Drs. Syafari,M.Pd, dan Bapak Drs. H. Yasifati
Hia,M.Si selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dan saran-saran
dalam penyusunan skripsi ini. Kepada Bapak Drs. Yasifati Hia,M.Pd selaku
Dosen Pembimbing Akademik dan kepada Bapak dan Ibu Dosen beserta Staf
Pegawai Jurusan Matematika FMIPA UNIMED yang telah membantu penulis
juga disampaikan terima kasih.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Pomer Simbolon
selaku Kepala SMA Negeri 1 Galang dan Ibu Berniwanta Girsang selaku guru
kelas X SMA Negeri 1 Galang dan seluruh bapak/ibu guru serta staf pegawai yang
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada ayahanda Edi
Sihaloho, Ibunda Pesta Sitanggang, kakak Lina P. Sihaloho, AMd adik Parsaoran
Sihaloho,AMd Parlindungan Sihaloho, Mariana F Sihaloho, Mariani C Sihaloho
beserta seluruh keluargaku yang selalu memberikan limpahan kasih sayang, doa,
dorongan, semangat dan pengorbanan yang tak ternilai selama pendidikan sampai
selesainya skripsi ini. Begitu juga penulis ucapkan terima kasih teristimewa
kepada abang Paian Siahaan, SE yang telah memberikan masukan dan semangat
serta doa yang tulus kepada penulis, serta para sahabat Rya, S.Pd, Dina, S.Pd, Aai
S.Pd, Indah, S.Pd Lenni, S.Pd, Ester, S.Pd dan semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu, yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian
penelitian ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan. Untuk itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca
demi kesempurnaan penelitian ini. Kiranya penelitian ini bermanfaat dalam
memperkaya khasanah ilmu pendidikan.
Medan, September 2012
Penulis,
Hotma Tua Sihaloho
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY
INTELECTUALLY REPETITION (AIR) TERHADAP SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 GALANG
T.A. 2011/2012
Hotma Tua Sihaloho (NIM. 071244110037) ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan apakah dapat digunakan sebagai upaya untuk mengatasi kesulitan belajar siswa pada materi pertidaksamaan di kelas X SMA Negeri 1 Galang Ajaran 2011/2012.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Galang yang berjumlah 37 orang siswa, yang terdiri dari 15 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan sedangkan objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) pada materi pertidaksamaan
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah tes dan lembar observasi dan wawancara. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), lembar observasi digunakan untuk melihat proses pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), dan keaktifan siswa selama proses penerapan model pembelajaran dan wawancara digunakan untuk mengetahui apa saja kesulitan belajar siswa.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada tes hasil belajar I yaitu dari 37 siswa terdapat 26 siswa (70,27%) yang mencapai skor ≥65 dan 11 siswa (29,72%) yang mencapai skor <65 serta terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas pada tes hasil belajar II dengan 37 siswa terdapat 32 siswa (86,49%) yang mencapai skor 65 dan 5 orang siswa (13,51%) yang mencapai skor < 65. Dan dari hasil tes belajar I dan II diperoleh peningkatan nilai rata-rata siswa yaitu dari 66,2162 menjadi 73,1081. Hasil observasi proses pembelajaran berjalan dengan baik yaitu dari hasil observasi di siklus I mencapai 2,87 dengan kategori baik dan mengalami peningkatan di siklus II menjadi 3,12 dengan kategori baik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dengan pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR), yaitu dengan memperkecil jumlah siswa di tiap kelompok yang sebelumnya berjumlah 6 orang di siklus I menjadi 5 orang di siklus II. Peneliti juga lebih menyederhanakan bahasa yang digunakan dalam penjelasan dan instruksi pada LAS serta memberikan arahan kepada siswa sehubungan dengan kondisi dalam kelompok. Dari hasil wawancara dan tes hasil belajar siswa bahwa upaya tersebut dinilai baik.
i
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI ... i-ii
DAFTAR TABEL ... iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Pembatasan Masalah ... 5
1.4 Rumusan Masalah ... 5
1.5 Tujuan Penelitian ... 5
1.6 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 7
2.1 Kerangka Teori ... 7
2.1.1 Model Pembelajaran Learning Starts With A Question ... 7
2.1.2 Metode Pembelajaran Konvensional... 13
2.1.3 Perbedaan Model Pembelajaran Learning Starts With A Question dan Metode Pembelajaran Konvensional ... 16
2.1.4 Hasil Belajar Akuntansi ... 19
2.2 Penelitian yang Relevan ... 23
2.3 Kerangka Berpikir ... 26
2.4 Hipotesis ... 28
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 29
3.1 Lokasi Penelitian ... 29
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 29
ii
3.2.2 Sampel ... 29
3.3 Variable Penelitian dan Defenisi Operasional ... 30
3.3.1 Variable Penelitian ... 30
3.3.2 Defenisi Operasional ... 30
3.4 Rancangan Penelitian ... 31
3.5 Prosedur Penelitian... 32
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 33
3.7 Teknik Analisis Data ... 33
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu negara tidak terlepas dari sistem pendidikan di negara itu,
sebab pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas setiap
individu. Setiap individu secara langsung ataupun tidak langsung dipersiapkan
untuk mampu mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
mampu sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menangani pembangunan
yang senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman.
Untuk mensukseskan pembangunan bangsa dan negara dibutuhkan SDM yang
menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan. Untuk itu peranan
lembaga pendidikan sangat besar untuk menghasilkan SDM yang potensial guna
menyokong pelaksanaan pembangunan bangsa dan negara. Dengan kata lain
pendidikan merupakan suatu titik sentral dalam pembangunan.
Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang memiliki peran
sangat penting dalam usaha membina dan membentuk manusia yang berkualitas.
Pada dasarnya peserta didik telah memiliki potensi yang baik. Untuk itu guru
seharusnya berupaya untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi–potensi
itu kearah yang diharapkan melalui pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dan
masyarakat yang berada dalam pendayagunaan sumber daya pendidikan juga tidak
henti–hentinya mengadakan pembenahan terhadap lembaga penentu kemajuan
pendidikan.
Hasil belajar siswa melalui kegiatan pembelajaran, tidak dapat dicapai
seluruhnya secara langsung dan tidak dapat diukur dengan mudah seperti yang
dikemukakan oleh Suryabrata (2005:26) bahwa
tinggi dan dipadukan dengan strategi pembelajaran yang dapat membuat siswa tersebut aktif maka hasil belajar yang akan dicapainya akan juga baik.”
Suatu permasalahan dalam proses belajar mengajar yang sering ditemui
dalam kehidupan sehari-hari adalah rendahnya motivasi belajar peserta didik
yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa, kejenuhan siswa dalam
belajar, suasana belajar yang pasif dan situasi belajar yang berpusat pada guru.
Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat
Ekspositori dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu
bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih
substansial, proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi
guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara
mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya.
Selain faktor strategi dalam proses pembelajaran di sekolah, juga perlu
diperhatikan faktor dari dalam diri siswa yang turut mempengaruhi hasil belajar
siswa tersebut. Salah satunya adalah motivasi belajar siswa, seperti yang
dikemukakan oleh Uno (2008 : 23) bahwa:
“ motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu sedangkan motivasi diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.”
Motivasi belajar adalah dorongan internal pada siswa-siswa yang sedang
belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang pada umumnya dengan
beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Motivasi belajar dapat timbul
karena faktor intrinsik berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan
kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Adapun faktor ekstrinsiknya adalah
adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif dan kegiatan belajar yang
menarik. Akan tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut disebabkan oleh
rangsangan tertentu sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas
belajar yang lebih giat dan semangat.
Pada pembelajaran tradisional, suasana kelas cenderung berpusat pada
lebih suka menerapkan model tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan
praktek, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi
lain. Masalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di
kelas, oleh karena itu, perlu menerapkan suatu strategi belajar yang dapat
membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari sehingga siswa dapat lebih termotivasi.
Satu inovasi yang dapat mengubah paradigma pembelajaran yang semula
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada
murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori
berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat
tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan
untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun pendidikan.
Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah penting bagi para pendidik
khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi
pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap
strategi-strategi pembelajaran. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih
variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan
implementasinya sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Dari beberapa hal yang dipaparkan di atas, salah satu hal penting yang
dihadapi pendidik adalah minimnya keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran siswa kurang didorong untuk
mengembangkan kemampuan berpikir seperti yang dijelaskan oleh John W.
Santrock bahwa untuk menjadi guru yang mampu mengajar secara efektifitas
dibutuhkan dua hal yaitu (1) pengetahuan dan keahlian profesional, dan (2)
komitmen dan motivasi.
Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat juga merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa. Untuk
mencapai prestasi belajar yang lebih baik, sebenarnya telah banyak hal yang
disarankan dan diusahakan tetapi pembelajaran cenderung kembali secara
konvensional, sehingga siswa cenderung kembali pasif. Seperti yang
dikemukakan Nurhayati (http://www.depdiknas.go.id/jurnal
“banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika peserta didik salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Kenyataannya menunjukkan selama ini kebanyakan guru menggunakan model pembelajaran yang
bersifat konvensional dan banyak didominasi oleh guru.”
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika
adalah sebagaimana yang diungkapkan Abdurrahman (1999:252) bahwa : “Dari
berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah matematika merupakan bidang
studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa.” SMA Negeri 1 Galang merupakan salah satu sekolah yang juga harus memperhatikan kualitas siswanya
untuk dapat bersaing dengan sekolah lainnya di dunia pada umumnya dan di
Indonesia khususnya. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tersebut
adalah Matematika. Mata pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran wajib
yang diujiannasionalkan dan merupakan salah satu syarat utama kelulusan. Oleh
sebab itu perlu diterapkan strategi belajar yang efektif dan efisien agar diperoleh
motivasi belajar siswa yang baik.
E.T. Ruseffendi (1993:37) menyatakan bahwa:
”Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk atau struktur yang abstrak untuk dapat memenuhi struktur-struktur, hubungan-hubungan diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat di dalam matematika itu. Hal ini berarti belajar matematika adalah belajar tentang konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasa yang dipelajari serta mencari hubungan antara
konsep dan struktur tersebut.”
Oleh karena itu dalam mendesain kegiatan belajar yang optimal diperlukan
kecermatan guru dalam memilih strategi yang akan diterapkan. Begitu juga dalam
pembelajaran Matematika yang diajarkan kepada peserta didik hendaknya selalu
langsung dihadapkan dengan situasi nyata dalam kehidupan. Keberhasilan belajar
Matematika dapat dipengaruhi berbagai faktor agar dapat mencapai hasil belajar
yang maksimal yaitu dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar. Hal tersebut dapat dilihat dari faktor pelaksana pembelajaran
yaitu guru dan peserta didik.
Hasil observasi peneliti diperoleh bahwa kesalahan yang sering dilakukan
dalam proses belajar mengajar Matematika ini adalah siswa yang tidak
kepada siswa dan kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran Matematika
tersebut. Matematika bagi sebagian peserta didik dianggap sebagai salah satu mata
pelajaran yang sangat rumit dan menjenuhkan. Selain itu kegiatan belajar
mengajar yang kurang variatif misalnya hanya menggunakan metode ceramah saja
dalam kegiatan pembelajaran, yang menyebabkan kurangnya efektifitas belajar.
Faktor lain yang menyebabkan peserta didik tidak suka belajar Matematika
adalah kurangnya pengetahuan peserta didik akan manfaat Matematika dalam
kehidupan sehari-hari(dunia nyata), sikap yang kurang baik terhadap Matematika
dapat tumbuh akibat strategi pembelajaran yang tidak relevan dengan tahap
berpikir peserta didik dan tidak dikaitkan dengan kehidupan peserta didik. Kondisi
yang demikian menyebabkan merosotnya motivasi belajar Matematika peserta
didik.
Pelajaran matematika lebih banyak jam pelajarannya jika dibandingkan
dengan pelajaran lain. Walaupun demikian, hasil belajar matematika siswa di
Indonesia masih rendah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Trends in
International Mathematics and Science Study (TIMMS) yang mengatakan bahwa
hasil belajar matematika siswa di Indonesia masih rendah dibanding Malaysia dan
Singapura, yang jumlah jam pelajaran matematikanya setiap tahun lebih sedikit
dibanding
Indonesia(http://zainure.wordpress.com/2007/05/14/pakar-matematika-pendidikan). Artinya, waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak
sebanding dengan hasil belajar yang diraih. Hal ini sesuai dengan data UNESCO
(http://zainurie.wordpress.com): “Data UNESCO menunjukkan bahwa peringkat
matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara. Sejarah ini, Indonesia
masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.” Hasil nilai
matematika pada ujian nasional, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu
terpaku pada angka yang rendah. Menurut Zaki (http://zaki.web.ugm.ac.id)
menyatakan bahwa:
“Keadaan ini sangat ironis dengan kedudukan dan peran matematika untuk
pengembangan ilmu pengetahuan, mengingat matematika merupakan
induk ilmu pengetahuan dan ternyata matematika hingga saat ini belum
Guru merupakan tokoh sentral dalam menentukan keberhasilan siswa
dalam menerima pelajaran yang disampaikan. Selama ini kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan hanya terfokus pada guru. Ketika guru mengajar hanya
menggunakan metode ceramah dan memberikan contoh tanpa melibatkan siswa
dalam kegiatan belajar, maka siswa cenderung pasif, kemudian siswa lebih
banyak menunggu sajian yang diberikan guru.
Kondisi ini terkadang menjadikan siswa enggan untuk belajar, kemudian
merasakan kejenuhan dan keinginan agar proses belajar mengajar cepat selesai.
Bahkan terkadang sebelum proses belajar selesai siswa cenderung mencari-cari
alasan agar bisa keluar dari kelas untuk menghilangkan kejenuhan misalnya
permisi ke toilet, yang akhirnya berdampak pada rendahnya motivasi belajar
siswa.
Oleh karena keadaan seperti inilah timbul kemalasan dan kejenuhan dalam
diri siswa, sehingga tidak ada keinginan dalam diri mereka untuk belajar selama
kegiatan belajar masih seperti itu, akhirnya berdampak pada rendahnya hasil
belajar mereka yang bisa dilihat dari data ulangan siswa pada mata pelajaran
Matematika di kelas X SMA Negeri 1 Galang pada saat penulis melakukan
observasi di sekolah tersebut. Dari 42 siswa di kelas X hanya 16 orang (sekitar
38,09%) yang nilainya diatas 70. Dan hasil observasi awal yang dilakukan oleh
peneliti di kelas X-2 SMA Negeri 1 Galang dengan memberikan tes kepada siswa
mengenai pertidaksamaan kuadrat. Berikut tes yang diberikan oleh peneliti kepada
siswa pada pokok bahasan pertidaksamaan kuadrat.
1. Carilah himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan berikut:
2y ≥ 8
Disamping itu, Ibu Berniwanta Girsang juga mengatakan bahwa bukan
hanya dari faktor siswanya saja, tetapi dari faktor gurunya juga terlibat dalam
perkembangan hasil belajar matematika siswa khususnya pada materi
pertidaksamaan yaitu sebagian dari guru hanya menerangkan penjelasan materi
serta memberikan contoh – contoh sesuai yang ada dibuku (tidak berkembang).
Jadi, ketika siswa diberikan soal yang sedikit saja berbeda dari contoh yang
diberikan, siswa langsung mengalami kesulitan. Selama ini metode yang
digunakan oleh kebanyakan guru tidak mengalami perubahan selalu sama
sehingga kesulitan yang dihadapi siswa dalam mempelajari Pertidaksamaan tetap
ada, dengan kata lain kurang efektif.
Berdasarkan informasi diatas dapat dilihat bahwa proses pembelajaran
kurang berkualitas dan prestasi belajar yang dicapai siswa dalam pembelajaran
matematika masih memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran
matematika perlu diperbaiki guna meningkatkan motivasi, perhatian, pemahaman
dan prestasi belajar siswa.
Banyak model pembelajaran yang merangsang siswa untuk belajar
model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran matematika yang
memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan lebih aktif
adalah dengan model pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) dari
kata Auditory, Intellectualy dan Repetition. Auditory bermakna bahwa belajar
haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi,
argumentasi, mengemukakan pendapat dan menanggapi. Intellectualy bermakna
bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berfikir (mind-on), harus
dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar,
menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi,
memecahkan masalah dan menerapkan. Sedangkan Repetition adalah
pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara
siswa di latih melalui pemberian tugas atau kuis.
(http://pedidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif ).
Melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Auditory
Intellectualy Repetition (AIR), diharapkan siswa akan lebih baik dalam
memahami materi Pertidaksamaan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa pada pokok bahasan Pertidaksamaan, karena didalam model
pembelajaran Auditory Intellectualy Repetition (AIR) terdapat repetisi yaitu
pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara
siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis sehingga siswa diharapkan dapat
lebih mudah memahami materi pertidaksamaan.
Berdasarkan latar belakang itulah penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul: ” Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika siswa melalui model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR)
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ada
banyak masalah yang mempengaruhi motivasi belajar siswa pada materi pelajaran
Pertidaksamaan. Masalah – masalah yang teridentifikasi mencakup :
1. Prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah.
2. Siswa kurang tertarik dalam pembelajaran Matematika
3. Pemakaian metode guru masih menggunakan metode ceramah dalam
belajar Matematika
4. Pembelajaran matematika yang kurang bermakna dikarenakan
pembelajaran berpusat pada guru
5. Kurangnya ketidaktahuan peserta didik akan manfaat Matematika dalam
kehidupan sehari-hari(dunia nyata)
6. Rendahnya kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran
matematika tentang Pertidaksamaan.
1.3. Batasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan masalah dan keterbatasan peniliti, maka
masalah yang disebutkan dalam identifikasi masalah diatas dibatasi pada hasil
belajar siswa pokok bahasan pertidaksamaan serta upaya meningkatkan hasil
belajar siswa melalui model pembelajaran AIR (auditori intellectually repetition).
1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, dan batasan masalah di
atas maka rumusan masalah dalam hal ini yaitu :
1. Apakah dengan menerapkan model pembelajaran Auditory Intelectually
Repetition (AIR) dapat meningkatkan hasil belajar pada pokok bahasan sistem
pertidaksamaan dikelas X SMA Negeri 1 Galang Tahun Ajaran 2011/2012?
2. Upaya – upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa
pada pokok bahasan pertidaksamaan melalui model pembelajaran Auditory
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai
berikut, yaitu :
1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada pokok bahasan sistem
pertidaksamaan dikelas X SMA Negeri 1 Galang Tahun Ajaran 2011/2012 model
pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR).
2. Untuk mengetahui upaya – upaya apa yang dilakukan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan pertidaksamaan melalui
model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR)
1.6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok
bahasan pertidaksamaan.
2. Bagi guru, dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang suatu
alternatif pembelajaran matematika dalam pembelajaran yang berpusat
pada siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui
Auditory Intellectually Repetition. (AIR).
3. Bagi peneliti, untuk mengetahui gambaran kemampuan dan kesulitan
siswa yang diajarkan melalui Auditory Intellectually Repetition (AIR).
4. Bagi sekolah, sebagai salah satu alternatif pengajaran untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika melalui Auditory
Intellectually Repetition (AIR).
5. Bagi orang tua/ masyarakat, sebagai gambaran mengenai kesulitan –
52
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan terhadap hasil belajar
siswa dan pembahasan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1. Penerapan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR)
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari tes hasil
belajar II siswa, diperoleh hasil sebanyak 32 siswa (86,49%) mendapat nilai
tuntas dan 5 siswa (13,51%) tidak tuntas, dengan peningkatan sebasar
16,22% dari hasil tes hasil belajar siklus I .
2. Upaya peneliti untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan
menggunakan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR)
adalah :
a. Mengganti anggota kelompok diskusi siswa pada siklus II berdasarkan tes
hasil belajar I dimana kelompok pada siklus I berdasarkan nilai formatif dari
guru matematika dikarenakan anggota kelompok sebelumnya kurang aktif
dalam disikusi.
b. Pada siklus I pembelajaran menggunakan LKS yang digunakan siswa di
sekolah kemudian peneliti mengganti menggunakan LAS yang dibuat oleh
peneliti. Pada LAS peneliti membuat langkah – langkah untuk menyelesaikan
soal sehingga siswa lebih mudah untuk mengerti menyelesaikan soal.
c. Peneliti lebih mendekatkan diri kepada siswa pada saat pembelajaran
berlangsung dan membantu kelompok yang kurang mengerti serta memberikan
arahan kepada siswa sehubungan dengan kondisi dalam kelompok, kerja sama
kelompok dan keikutsertaan siswa dalam kelompok.
3. Karena kesalahan peneliti maka peneliti minta maaf kepada seluruh
saudara/saudari yang membaca skripsi ini agar tidak mengikuti kesalahan yang
telah dilakukan peneliti yaitu mengulang materi pada siklus II.
53
Adapun saran-saran yang diajukan berdasarkan pembahasan dan
kesimpulan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kepada guru matematika hendaknya selalu berupaya meningkatkan hasil
belajar siswa dan mempertimbangkan model pembelajaran Auditory
Intelectually Repetition (AIR).
2. Kepada guru matematika yang hendak akan menggunakan model
pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dalam pembelajaran
hendaknya melakukan tahap – tahap yang ada pada model pembelajaran
AIR agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Memperhatikan
keaktifan setiap anggota kelompok dan memotivasi siswa agar berani
mengemukakan pendapatnya dimuka umum, memberikan tugas akhir pada
setiap pembelajaran pada siswa secara individual.
3. Kepada peneliti yang berminat melakukan penelitian dengan objek yang
sama dengan penelitian ini disarankan sebagai berikut :
- Perhatikan lebih akurat peningkatan hasil belajar yang terjadi apakah
signifikan atau tidak.
- Dalam membagi kelompok, sebaiknya tidak hanya berdasarkan
kemampuan siswa yang dilihat dari tes namun juga dilihat dari jenis
kelamin dan kecocokan antar anggota kelompok
- Sebaiknya sebelum melakukan tindakan, pelajari terlebih dahulu
karakteristik tiap siswa dengan bertanya kepada guru atau
mengobservasi tingkah laku siswa pada saat belajar sebelum melakukan
penelitian. Hal ini bertujuan agar peneliti dapat mengantisipasi siswa
84
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M., (1999: 252), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar,
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Bloom,(1956:7), Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
Diana, A.S., (2011) Upaya meningkatkan hasil belajar Siswa pada pokok bahasan
persamaan linier satu variabel dengan model pembelajaran problem
solving menggunakaan media kartu soal di kelas vii SMP swasta Jambi
Medan, Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan.
Fakulatas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan,
(2009), Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Proposal Mahasiswa Program
Studi Pendidikan, FMIPA, Unimed, Medan
Gagne, R. (2003:2), Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hasil Peneltian TIMMS, (2007), Trends in Internasional Matematics and Sciens
Study, http://zainure.wordspress.com/2007/05/14
Herdian. 2008. Model Pembelajaran Auditory Intellectually repetition (AIR) .
(http://pedidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif ) Diakses 7
February 2011
Hemacki., (2008:6), Auditory (belajar membaca dan mendengar), Fauzan
http://pendidikan.infogue.com/modelpembelajaraninovatif
Horward, (2003:32), Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta
Kunandar,(2011), Langkah mudah penelitian tindakan kelas, Jakarta: Penerbit
86
Kurnianingsih Sri, Kuntarti, dan Sulistiyono, (2006), Matematika SMA untuk
kelas X, Penerbit Esis, Jakarta
Meier., (2003:95), Auditory (belajar membaca dan mendengar), Fauzan
http://pendidikan.infogue.com/modelpembelajaraninovatif
Moeliono (1988:543), Prestasi Belajar Siswa, Jakarta: Sukmadinata
Morisson (2003:33), Belajar dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta
Newman, dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun). (2003), Unsur – unsure
strategi usaha belajar, Jakarta
Nurhayati., (2004) Penerapan model pembelajaran
(http//www.depdiknas.go.id/jurnal)2004/04/15penerapan model
pembelajaran
Noormandiri, B.K., dan Sucipto, E. , (2004), Matematika SMA untuk kelas X,
Penerbit Erlangga, Jakarta
Purwanto, (2009): Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Porter De., (2008:6) (belajar membaca dan mendengar), Fauzan
http://pendidikan.infogue.com/modelpembelajaraninovatif
Rusefendi, E.T., (1993:37), Pemahaman konsep – konsep matematikaa, Jakarta:
Penerbit Bumi Aksara
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.kam
Slameto. (2003:2,30). Belajar Dan Faktor – Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta
Suherman, (1992:72), Langkah – langkah model pembelajaran AIR
86
Sukmadinata., 1983, Pengertian belajar sebagai perubahan perilaku yang
permanen karena pengalaman, Jakarta Hilgrad
Suryabrata, (2005): efektifitas belajar, Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Supriawan Dedi, dan Surasega Benyamin A. 1990, Kelompok model
pembelajaran, Jakarta (www.google.com)
Trianto, (2007), Model- model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Kontruktivisme. Penerbit Prestasi Pustaka, Jakarta
Uno, Hamzah B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Penerbit
Bumi Aksara
Wenger., (2003:143), (belajar membaca dan mendengar), Rose dan Nicholl,
http://pendidikan.infogue.com/modelpembelajaraninovatif
Zaki, (2007), http//zaki.web.ugm.ac.id kedudukan dan peran matematika, diakses
21 maret 2012
RIWAYAT HIDUP
Hotma Tua Sihaloho adalah anak kedua dari enam bersaudara. Lahir di Galang
tanggal 7 Februari 1988. Ayah bernama Edi Sihaloho dan Ibu bernama Pesta
Sitanggang. Jenjang pendidikan dimulai pada SD Negeri 101960 Galang pada
tahun 1994 dan lulus tahun 2000. Pada tahun 2000 melanjutkan pendidikan ke
SMP Negeri 1 Pagar Merbau dan lulus pada tahun 2003. Kemudian pada tahun
2003 melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Galang dan lulus pada tahun
2006, kemudian mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun
2007 dan diterima pada Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan
Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas