viii
ABSTRAK
Perkembangan Agama Islam Pada Masa Kerajaan Majapahit 1376 – 1478 Heri Andri
Universitas Sanata Dharma 2013
Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu : 1). Proses masuknya agama Islam di Kerajaan Majapahit. 2). Perkembangan agama Islam di Majapahit tahun 1376 – 1478. 3). Dampak perkembangan agama Islam bagi kerajaan Majapahit.
Penulisan ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah memiliki lima tahap, yaitu : (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verivikasi, (4) intepretasi, (5) penulisan. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multidimensional, serta ditulis secara deskriptif analitis.
ix ABSTRACT
The Development of Islam in the Era of Majapahit Kingdom in 1376-1478 Heri Andri
UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2013
The objectives of this study are to describe and to analyze 3 basic problems. They are: 1) The process of Islam arrival into the Majapahit kingdom, 2) The development of Islam in Majapahit in the period of 1376-1478, and 3) The impact of Islam development towards the Majapahit kingdom.
This writing uses historical method. Historical method has five stages, namely: (1) the selection of the topic, (2) the collection sources, (3) verification, (4) interpretation, (5) writing. Meanwhile, the approach used in this writing is multidimensional approach. This study is written by using analytical description.
i
PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM PADA MASA KERAJAAN MAJAPAHIT 1376 - 1478
MAKALAH
Diajukan Untuk Mempenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh :
Heri Andri
NIM : 081314047
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Makalah ini saya persembahkan kepada:
1. Allah SWT, yang telah banyak memberikan limpahan rakhmat serta
hidayahnya kepada saya,
2. Kedua orangtua Kukuh Suyono dan Ibu Khomariyah, S.Pd., yang telah
membesarkan dan mendidik saya dengan penuh cinta dan kasih sayang,
3. Adik-adikku Fajar, Nova, dan Rahmad yang telah mendukung saya dalam
mengerjakan makalah ini.
4. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Sejarah angakatan 2008 terima
kasih atas bantuan dan kerjasama kalian selama ini,
v
MOTTO
Jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Jas Merah).
(Soekarno)
Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang.
(William J. Siegel)
Kehidupan merupakan sebab akibat, kehidupan kita sekarang adalah akibat dari
kehidupan kita sebelumnya, jadi jalanilah kehidupan kita sekarang sebaik
mungkin untuk menentukan kehidupan kita dimasa yang akan datang.
viii
ABSTRAK
Perkembangan Agama Islam Pada Masa Kerajaan Majapahit 1376 – 1478 Heri Andri
Universitas Sanata Dharma 2013
Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu : 1). Proses masuknya agama Islam di Kerajaan
Majapahit. 2). Perkembangan agama Islam di Majapahit tahun 1376 – 1478. 3).
Dampak perkembangan agama Islam bagi kerajaan Majapahit.
Penulisan ini menggunakan metode sejarah. Metode sejarah memiliki lima tahap, yaitu : (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verivikasi, (4) intepretasi, (5) penulisan. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multidimensional, serta ditulis secara deskriptif analitis.
ix ABSTRACT
The Development of Islam in the Era of Majapahit Kingdom in 1376-1478 Heri Andri
UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2013
The objectives of this study are to describe and to analyze 3 basic problems. They are: 1) The process of Islam arrival into the Majapahit kingdom, 2) The development of Islam in Majapahit in the period of 1376-1478, and 3) The impact of Islam development towards the Majapahit kingdom.
This writing uses historical method. Historical method has five stages,
namely: (1) the selection of the topic, (2) the collection sources, (3) verification, (4) interpretation, (5) writing. Meanwhile, the approach used in this writing is multidimensional approach. This study is written by using analytical description.
x
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “Perkembangan Agama Islam Pada Masa Kerajaan
Majapahit Tahun 1367 –1478”.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak mungkin selesai
tanpa bantuan berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta.
2. Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah yang telah memberikan saran
dan dorongan untuk menyelesaikan makalah ini.
3. Drs. A.K. Wiharyanto, M.M., selaku dosen pembimbing yang telah sabar
membimbing dan memberikan banyak arahan serta masukkan selama
penyususnan makalah ini.
4. Seluruh dosen dan pihak sekretariat Program Studi Pendidikan Sejarah
yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulis
menyelesaikan studi di Universitas Sanata Dharma.
5. Keluargaku, Bapak Kukuh Suyono, Ibu Khomariyah, adik-adikku Fajar
Septiyoko, Nova Rio, dan Rahmad Pamungkas, terimakasih atas doa,
xi
6. Seluruh teman-teman terutama teman dari Pendidikan Sejarah 2008,
terima kasih atas doa dan dukungannya.
7. Seluruh karyawan Perpustakaan USD yang telah menyediakan buku-buku
yang diperlukan untuk penulisan makalah ini.
8. Semua pihak yang telah membantu dan tidak bisa disebutkan secara
satu-persatu oleh penulis dalam makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis dengan tangan terbuka akan menerima segala tanggapan, saran,
kritik dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini. Akhir kata, penulis
berharap semoga makalah ini dapat menjadi salah satu sumbangan yang
bermanfaat.
Yogyakarta, 30 Oktober 2013
Penulis
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penulisan... 10
D. Manfaat Penulisan ... 11
E. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II: PROSES MASUKNYA AGAMA ISLAM KE MAJAPAHIT A. Melalui Perdagangan... 13
B. Melalui Hubungan Diplomatik ... 17
C. Melalui Perkawinan ... 20
xiii
BAB III: PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI MAJAPAHIT TAHUN
1376-1478
A. Munculnya Syaikh Jumadil Kubro Sebagai Pencetus
Pendidikan Pesantren ... 31
B. Munculnya Walisongo ... 36
BAB IV: PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM BAGI KERAJAAN MAJAPAHIT A. Munculnya Kadipaten Islam Demak ... 42
B. Munculnya Demak Sebagai Kerajaan Islam dan Runtuhnya Majapahit ... 51
BAB V: KESIMPULAN ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 63
LAMPIRAN ... 65
A. Silabus ... 65
B. RPP... 68
C. Penilaian Kognitif ... 72
D. Penilaian Afektif ... 75
E. Penilaian Psikomotorik ... 76
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara di
zamannya. Majapahit mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Raja
Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Sebagai salah satu kerajaan besar di
Indonesia, wilayah kekuasannya meliputi Pulau Jawa, Sumatra (Jambi,
Palembang, Dharmasyara, Kandis, Kahwas, Siak, Mandialing, Panai, Kampe
Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuiri Barus, Batan, Lampung), Kalimantan
(Kapuas, Katingan, Sampit, Kotas lingga, kota Waringin, Sambas, Lawai,
Kandangan Singkawang, Tirem Landa, Sedu, Barune, Sukada, Seludung, Solot,
Pasir, Barito, Sawaku, Tanjung Kutei, Malano), Semenanjung Tanah Malayu
(Pahang, Langkasuka, Kelantan, Siawang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik,
Kelang, Kedah, Jerai), sebelah timur Jawa ( Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun,
Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kandali, Sasak,
Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Balian, Wandan, Ambon,
Wanin, Seran, Timor1. Dengan wilayah yang begitu luas membuat Majapahit
menjadi kerajaan yang unik dan menarik untuk dipelajari. Keunikan Majapahit itu
sendiri karena masyarakat yang plural dengan berbagai wilayah di nusantara.
Masa Majapahit adalah masa Hindu Buddha, dimana saat itu kedua agama
tersebut adalah agama mayoritas penduduk Jawa dan sekitarnya. Hindu-Buddha
1
sebagai agama mayoritas masyarakat telah membentuk Majapahit menjadi
kerajaan yang plural. Toleransi antar umat beragama telah terjadi pada zaman
Majapahit, masyarakat Hindu dan Buddha hidup secara berdampingan.
Agama Hindu dan Buddha sebenarnya telah menjadi bagian dari Jawa dan
sekitarnya jauh sebelum berdirinya Majapahit. Sampai dengan masa keemasannya
Majapahit, agama Hindu dan Buddha telah berakar di Pulau Jawa kira-kira selama
empat ratus tahun. Sebelum Majapahit muncul, Hindu Buddha telah menjadi
agama masyarakat Jawa yang tidak dapat terpisahkan. Sebagai agama mayoritas
disatu wilayah, konsekuensi yang timbul adalah masyarakat dalam satu wilayah
itu akan menjadi masyarakat yang heterogen khususnya dalam bidang keagamaan.
Kehidupan masyarakat yang heterogen membuat masyarakat tersebut kaya akan
kebudayaan, dan menjadi masyarakat yang plural. Dengan demikian pluralisme
agama dalam masyarakat ataupun kerajaan di Jawa telah ada sebelum Majapahit
muncul. Toleransi agama dalam masyarakat Majapahit sebenarnya hanya
meneruskan apa yang sudah ada dalam masyarakat Jawa itu sendiri. Hal yang
menjadi menarik dalam pluralisme di Majapahit adalah bagaimana kerajaan
mengatur perbedaan agama yang ada dalam tatanegaranya.
Tercatat dalam Negarakretagama pupuh LXXIII-LXXVI, candi dan makam
keluarga raja yang berjumlah 27, dan berpuluh-puluh biara, dan desa perdikan
milik empat aliran agama Siwa, Brahma, Wisnu ,dan Buddha di Jawa Timur dan
Bali2. Dari data ini dapat diketahui, pengaruh Hindu Budha di Majapahit telah
sampai masuk dalam desa-desa kecil. Dengan demikian di masa Majapahit kedua
2
agama ini telah menjadi panutan untuk hidup semua masyarakat. Dari data di atas
juga dapat diketahui pula bahwa raja Majapahit tidak semua memeluk agama
Hindu tetapi beberapa raja juga memeluk agama Buddha. Suksesi pergantian raja
dalam kerajaan Majapahit, sebenarnya telah diatur dalam tatanegara atau konsep
kekuasaan Majapahit itu sendiri. Dalam konsep kekuasaannya, Majapahit tidak
mempersoalkan agama calon raja. Raja dipilih berdasarkan faktor keturunan dan
kesepakatan penasehat kerajaan. Berikut ini merupakan gambaran konsep
kekuasaan kerajaan Majapahit secara sederhana :
Gambar 1. Menjelaskan konsep kekuasaan Majapahit.
Sumber : Slamet Mulyana, 1979 : 463
Berdasarkan konsep kekuasaan tersebut, setiap jabatan memiliki tugas dan
tanggung jawabnya sendiri-sendiri. Setiap jabatan masih memiliki cabangnya
sendiri-sendiri guna mempermudah menjalankan kehidupan kerajaan, baik secara
sosial maupun politik.
Battara Sapta Prabu merupakan dewan penasehat raja, yang anggotanya
merupakan keluarga raja sendiri. Tugas dari Battara Sapta Prabu adalah
3
Slamet Mulyana, Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (Jakarta: Bhatara Karya Aksara, 1979), hlm : 46.
Raja
Battara Sapta PrabuDewan Mentri Rakyan
Mahamantri Katrini Dharmadhya
mengurusi masalah pergantian, keuangan raja, dan kebijaksanaan kerajaan.
Rakyan Mahamantri Katrini terdiri dari tiga orang yakni, Rakyan Mahamantri
Hino, Rakyan Mahamantri I Halu, dan Rakyan Mahamantri Katrini Sirikan.
Dewan Mantri terdiri dari lima orang yang bertugas mengurus tatanegara,
angkatan perang, dan kejaksaan. Dharmadhyaksa adalah pejabat tinggi kerajaan
yang bertugas menjalankan fungsi yuridikasi keagamaan (hukum agama)4. Dalam
menjalankan tugasnya dharmadhyaksa dibagi menjadi beberapa bagian, secara
rinci pembagian dan tugasnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dalam perihal pengadilan raja dibantu oleh dua orang
dharmadhyaksa. Seorang dharmadhyaksa kasaiwan, seorang
dharmadhyaksa kasogatan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Budha, dengan sebutan dang acarya, karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam kerajaan Majapahit dan segala perundang-undangan didasarkan pada agama. Kedudukan dharmadhyaksa boleh disamakan dengan kedudukan hakim tinggi. Mereka dibantu oleh lima upapatti artinya: pembantu dalam pengadilan adalah pembantu dharmadhyaksa. Mereka itu dalam piagam biasa disebut pemegat atau sang pemegat (disingkat samgat) artinya : sang pemutus alias hakim. Baik
dharmadhyaksa maupun upapatti bergelar dang arca5.
Sistem pengadilan tersebut dibuat untuk memberikan keadilan bagi
masyarakat Majapahit yang memang bersifat heterogen. Fungsi lain sistem
tersebut untuk memberikan keadilan pada masyarakatnya, sistem tersebut juga
digunakan untuk menjaga eksistensi Majapahit dimata rakyatnya sendiri.
Bagaimana jika raja Majapahit tidak bersikap adil kepada rakyatnya mungkin
Majapahit tidak akan menjadi kerajaan yang besar pada masa kejayaannya.
Dengan adanya konsep kekuasaan maka kehidupan sosial, maupun politik di
kerajaan Majapahit sudah sangat teratur. Pandangan raja yang semula absolut
4
Esa Damar Pinuluh, Pesona Majapahit (Yogyakarta: Bukubiru, 2010), hlm.46
5Slamet Mulyana
tidak akan terbukti lagi jika Majapahit telah memiliki konsep kekuasaan yang
sangat rinci.
Konsep kekuasaan atau disebut juga dengan tatanegara Majapahit, tidak
hanya mematahkan pandangan raja yang absolut melainkan memiliki konsekuensi
sendiri bagi kehidupan sosialnya. Konsep kekuasaan yang sedemikian rupa,
merupakan bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan yang majemuk. Adanya
jabatan Dharmadhyaksa membuktikan Majapahit merupakan kerajaan yang sangat
terbuka bagi masyarakat yang masuk di dalamnya. Keterbukaan ini kemudian
membawa perubahan yang sangat berarti dalam kehidupan kerajaan. Masyarakat
Majapahit kemudian menjadi sebuah masyarakat yang dinamis yang rentan akan
perubahan, baik perubahan sosial maupun perubahan budaya, meskipun
perubahan yang terjadi tidak terjadi begitu saja dan membutuhkan waktu yang
cukup lama.
Pada masa kejayaannya untuk memperoleh daerah kekuasaan yang begitu
luas dilakukan dengan cara penaklukan suatu daerah kedaerah yang lain
Majapahit tetap berusaha untuk memperlakukan daerah taklukannya dengan adil.
Setiap daerah taklukan Majapahit diberi keleluasaan untuk mengembangkan
struktur pemerintahan sesuai budaya setempat. Kebijakan ini semacam
memberikan otonomi daerah kepada daerah taklukan6. Struktur pemerintahan di
Jawa dengan daerah taklukan Majapahit diluar Jawa dibedakan. Daerah diluar
Jawa diberi kebebasan dalam mengembangkan daerahnya sendiri. Raja menyadari
tidak bisa memaksakan struktur pemerintahan yang ada di Jawa untuk daerah luar
6
Jawa karena memang memiliki adat sendiri-sendiri. Selain itu daerah di luar Jawa
hanya merupakan daerah atau kerajaan fasal, mereka hanya berkewajiban untuk
menyerahkan pajak kepada pemerintah pusat sebagai tanda mereka tunduk kepada
Majapahit. Untuk mengontrol daerah taklukan Majapahit hanya menempatkan
orang Majapahit pada jabatan tertentu di daerah taklukan tersebut. Wilayah di luar
pulau Jawa hanya berkewajiban menyerahkan upeti kepada Majapahit setiap
tahunnya, serta kunjungan penguasa kedaerah ke istana Majapahit pada waktu
tertentu7.
Kebijaksanaan yang ada dalam Kerajaan Majapahit mengenai konsep
kekuasaannya tidak terlepas dari tradisi masyarakat Jawa kuno. Penguasa harus
mengumpulkan disekelilingnya benda atau orang apapun yang dianggap
mempunyai atau mengundang kekuasaan8. Kebijakan yang ada dalam Majapahit
tidak terlepas dari nuansa politik tentang bagaimanacara mempertahankan atau
memperoleh kekuasaan. Cara yang digunakan mengumpulkan benda atau orang
yang berpotensi menimbulkan kekuasaan adalah dengan cara mengakui pluralitas
yang ada dalam Kerajaan Majapahit itu sendiri. Sebagai contohnya adalah raja
dibantu sang pemegat (hakim) dalam menjalankan proses pengadilan, sang
pemegat terdiri dari dua orang yaitu satu beragama Hindu satunya lagi beragama
Buddha. Raja Majapahit memiliki dua penasehat kerajaan dalam menjalankan
pemerintahannya, satu dari agama Hindu dan satu dari agama Buddha. Dengan
demikian raja telah mengumpulkan orang – orang yang berpotensi memiliki
7
OMiriam Budiardjo, Aneka Pemikiran Tentang Kuasa dan wibawa, (Jakarta : Sinar Harapan, 1984), hlm. 57
8
pengaruh yang kuat bagi rakyat. Selain tradisi Jawa kuno konsep kekuasaan
Majapahit dipengaruhi oleh sistem kepercayaan mensejajarkan makrokosmos dan
mikrokosmos9. Menurut kepercayaan ini manusia di bawah pengaruh tenaga yang
bersumber pada bintang, dan planet-planet. Makrokosmos dan mikrokosmos jika
dapat disejahterakan akan dapat membawa kesejahteraan, dan sebaliknya jika
tidak akan membawa kehancuran dan kesengsaraan. Berdasarkan konsep inilah
maka setiap kerajaan Hindu maupun Buddha berusaha untuk mensejajarkan
makrokosmos dan mikrokosmos untuk mendapatkan kesejahteraan dan kejayaan.
Bukti sebuah kerajaan berusaha mensejajarkan makrokosmos dan mikrokosmos
dapat dilihat dari, banyak bagian dalam kesusasteraan dan prasasti dalam gelar
raja, permaisuri, dan pejabat dalam sebuah “kosmis” menteri-menteri,
pendeta-pendeta istana propinsi-propinsi dan sebagainya, dalam upacara-upacara dan
kebiasaan-kebiasaan , dalam karya seni dalam bagian susunan ibukota
istana-istana dan candi-candi10.
Dalam kehidupan yang dinamis, Majapahit terus berkembang seiring
dengan masa kejayaannya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit
mencapai puncak kejayaannya dan wilayahnya menjadi sangat luas. Majapahit
semakin aktif dalam dunia internasional sehingga banyak melakukan hubungan
dengan kerajaan- kerajaan di luar wilayah nusantara. Keaktifan Majapahit dalam
dunia internasional membuat kerajaan ini menjadi semakin dikenal oleh dunia
luar. Berita – berita Cina dari Dinasti Yuan dan Ming menyebutkan beberapa kota
9
Geldern Robert Heine, Konsepsi Tatanegara & Kedudukan Raja di Asia Tenggara, (Jakarta : C.V. Rajawali, 1982) hlm. 2
10
pelabuhan antara lain Tuban, Sidhayu, Gresik dan Kali Mas telah di singgahi
pedagang asing yang datang ke Majapahit11. Hal ini menunjukkan jika di kota –
kota pelabuhan ini telah terdapat perkampungan orang-orang asing.
Pedagang-pedagang yang singgah sementara di kota pelabuhan membawa pengaruh besar
bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam berita Cina disebutkan pedagang-pedagang asing yang datang ke
Majapahit adalah pedagang dari Campa, Khmer, Thailand, Burma, Srilanka dan
India. Penemuan makam Islam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat 7
rajab 475 hijriah (Desember 1082) di Gresik telah menandakan bahwa Islam telah
masuk ke Jawa jauh sebelum Majapahit muncul. Penemuan makam Islam
membuktikan bahwa daerah pesisir Jawa telah dikunjungi oleh
pedagang-pedagang muslim, meskipun tidak disertai proses Islamisasi. Ketika Majapahit
berkuasa pada tahun 1293 – 1527 berbarengan dengan kekuasaan
kerajaan-kerajaan Islam di belahan bumi lainnya misalnya Andalusia (711 – 1493) di
Mamalik di Mesir (1250 – 1517) Safawi di Iran (1252 1736) Moghul di India
(1482 – 1858), dan Usmani Turki (1290 – 1924) di Nusantara sendiri Samudra
Pasai (1207 – 1524) dan Aceh Darusalam (1465 – 1699)12.
Ketika Majapahit berkuasa pada 1293 – 1527 tentunya interaksi dengan
Islam bukan sesuatu yang baru. Penemuan makam Islam di Troloyo telah
menandakan bahwa Islam telah berkembang di pusat kota Majapahit. Makam
tertua di Troloyo bertuliskan 1376 M, pada masa ini adalah masa pemerintahan
Raja Hayam Wuruk. Jika dilihat dari ritual pemakaman Islam yang cukup panjang
11
Esa Damar Pinuluh, op. cit, hlm. 87
12
maka di Troloyo sendiri tentunya sudah hidup komunitas muslim. Penemuan
makam Islam di Troloyo, merupakan sebuah fenomena tersendiri karena Troloyo
termasuk dalam Ibu Kota Majapahit. Batu nisan yang terdapat di Troloyo, di dekat
situs istana Majapahit yang Hindu-Buddha. Batu-batu itu menunjukkan makam
orang-orang muslim, tapi dengan pengecualian semua tarikhnya menggunakan
tahun Saka India bukannya tahun Hijriah dan menggunakan angka-angka Jawa
Kuno bukannya angka-angka Arab13. Penulisan tahun pada batu nisan yang
menggunakan tarikh Jawa dapat dipastikan makam itu adalah makam muslim
Jawa. Letak pemakaman Troloyo yang tidak jauh dari Ibu Kota Majapahit, serta
bentuk makam yang memanjang dapat disimpulkan bahwa makam tersebut adalah
makam bangsawan Jawa atau anggota keluarga raja.
Makam Troloyo memberi kesan bahwa sebagian bangsawan Majapahit telah
memeluk agama Islam, meskipun Majapahit sendiri beragama Hindu-Buddha.
Makam Islam di Troloyo meragukan pendapat para ilmuan yang mengatakan
agama Islam berkembang mulai daerah pesisir Jawa, yang mulanya merupakan
kekuatan agama dan politik yang menentang Majapahit sebagai kerajaan
Hindu-Buddha. Situs makam di Troloyo adalah bukti bahwa Majapahit mengijinkan
Islam berkembang di dalam Ibu Kotanya. Sehubungan dengan hal ini maka
Majapahit telah mengenal toleransi beragama dalam pemerintahannya.
Pernikahan antara raja Majaphait Prabu Brawijaya V, (1447 – 1451) dengan
seorang muslimah putri dari kerajaan Campa telah membuktikan jika Islam telah
berkembang dilingkungan keluarga bangsawan Majapahit. Jika dilihat dari
13
ideologi Islam yang tidak membolehkan perkawinan antar agama maka akan
memunculkan pandangan bahwa putri Campa mengikuti agama suaminya atau
bahkan sebaliknya. Terlepas dari latar belakang agama pernikahan ini, Raden
Rahmat mengkukuhkan diri sebagai Sunan Ampel di tanah pardikan di Ampel
Denta yang berada di wilayah Surabaya. Pernikahan raja Brawijaya V dengan
seorang putri Campa tentunya akan membawa dampak bagi perkembangan Islam
di lingkungan kerajaan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan maka
dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah
ini yang berjudul “Perkembangan Agama Islam Pada Masa Kerajaan
Majapahit 1376 – 1478” sebagai berikut;
1. Bagaimana proses masuknya Islam di Kerajaan Majapahit?
2. Bagaimana perkembangan agama Islam di Majapahit tahun 1376 - 1478?
3. Bagaimana dampak perkembangan agama Islam bagi kerajaan Majapahit?
C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini
ini adalah :
a. Mendeskripsikan dan menganalisis proses masuknya agama Islam ke
b. Mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan agama Islam di
Majapahit pada tahun 1376 – 1478
c. Mendeskripsikan dampak perkembangan agama Islam di Majapahit.
2. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah :
a. Bagi Universitas Sanata Dharma
Makalah ini diharapkan dapat memberikan kekayaan khasanah yang
berguna bagi pembaca dan pemerhati sejarah di lingkungan Universitas
Sanata Dharma secara umum dan secara khusus untuk Program Studi
Pendidikan Sejarah.
b. Bagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Penulisan makalah ini diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai perkembangan masyarakat Islam di Majapahit pada tahun 1376
– 1478 beserta dampaknya bagi kehidupan sosial budaya maupun politik
di Majapahit. Penulisan makalah ini juga diharapkan dapat dijadikan
sebagai bahan pelengkap dalam pembelajaran sejarah Indonesia Madya.
c. Bagi Pembaca
Makalah ini diharapkan mampu menarik minat pembaca untuk
mempelajari secara lebih lanjut Sejarah Indonesia masa peralihan Hindu –
Buddha menuju ke masyarakat Islam khususnya mengenai perkembangan
D. Sistematika Penulisan
Guna mempermudah melihat tentang bagaimana Sejarah Perkembangan
agama Islam di Majapahit Tahun 1376 – 1478, maka penulisan makalah ini dibagi
menjadi lima bab yang dijabarkan sebagai berikut :
1. BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah,
Tujuan dan Manfaat Penulisan, serta Sistematika Penulisan.
2. BAB II : Proses masuknya agama Islam ke Majapahit.
3. BAB III : Perkembangan masyarakat Islam di Majapahit tahun 1376 – 1478.
4. BAB IV : Dampak perkembangan masyarakat Islam di Majapahit bagi
Majapahit.
13 BAB II
PROSES MASUKNYA AGAMA ISLAM KE MAJAPAHIT
A.Melalui Perdagangan
Penemuan makam Islam di Leran yang pada nisan makam tersebut
bertuliskan seperti huruf kufi dengan nama Fatimah binti Maimun yang bertarikh
7 Rajab 475 Hijriah atau 1082 telah membuktikan agama Islam pernah sampai ke
Jawa jauh sebelum Majapahit muncul. Penemuan makam tersebut telah
menjelaskan bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara telah bersinggungan dengan
bangsa asing. Kedatangan bangsa asing ke wilayah Nusantara tentunya memiliki
kepentingan tertentu. Mengingat wilayah Nusantara adalah penghasil
rempah-rempah maka kepentingan tersebut tentunya adalah perdagangan. Salah satu
contoh kerajaan di Nusantara yang telah melakukan hubungan internasional
adalah kerajaan Sriwijaya. Seperti yang disebutkan dalam berita Cina bahwa
kerajaan Sriwijaya sering mengirimkan utusannya ke negeri Cina. Bukti lain yang
mengatakan bahwa kerajaan di Nusantara telah aktif dalam dunia internasional
adalah adanya teori timbal balik yang mengatakan bahwa orang-orang di
Nusantara telah berpartisipasi aktif dalam belajar agama Hindu Buddha. Adanya
koloni kecil orang Indonesia di Kurumandala, Asrama Nalanda di India khusus
untuk orang Indonesia yang menimba ilmu di India1. Makam Islam yang bertarikh
7 Rajab 475 H atau 1082 bertepatan dengan tahun kejayaan Islam di Timur
Tengah. Dengan demikian bukan tidak mungkin orang-orang dari Arab telah
1Hery Santosa,
sampai ke wilayah Nusantara untuk berdagang, walaupun belum diikuti oleh
proses Islamisasi.
Wilayah Majapahit yang sangat luas terdiri dari laut dan daratan menjadikan
Majapahit sebagai kerajaan yang kaya dan subur. Meskipun wilayah laut
Majapahit sangatlah luas namun Majapahit bukan kerajaan Maritim. Kemajuan
ekonomi Majapahit didukung oleh sektor pertanian dan perdagangan, wilayah laut
dalam hal ini hanya digunakan sebagai jalan untuk berdagang dengan para
pedagang dari bangsa lain. Berdasarkan berita Cina dari Dinasti Ming, Jawa
memiliki tiga buah pelabuhan Tuban, Gresik, dan Surabaya. Pelabuhan-pelabuhan
tersebut disinggahi pedagang-pedagang dari Campa, Khmer, Thailand, Burma,
Srilangka, dan India. Pedagang-pedagang dari bangsa asing tersebut membawa
barang dagang khas dari daerah mereka masing-masing2. Barang yang mereka
bawa kemudian mereka tukarkan dengan barang dagang dari kerajaan Majapahit
itu sendiri seperti rempah-rempah. Kondisi wilayah Majapahit terutama Jawa
yang sangat ramai dengan jalur perdagangan membuat masyarakat Majapahit
semakin maju dan mulai mengenal bangsa serta kebudayaan asing. Perdagangan
di Majapahit tidak hanya terjadi di daerah pesisir saja, melainkan sampai
menyentuh pedalaman Majapahit. Kemajuan perdagangan Majapahit juga
didukung oleh dua sungai besar yaitu sungai Brantas, dan Bengawan Solo3. Kedua
sungai itu merupakan jalur transportasi yang cukup penting bagi Majapahit karena
membuat perdagangan semakin meluas dan menguntungkan para pedagang untuk
melebarkan bisnisnya. Pelabuhan sungai Bubat, Pelabuhan sungai Trung, dan
2Esa Damar Pinuluh,
Pesona Majapahit (Yogyakarta: Bukubiru, 2010), hlm. 86
3
pelabuhan sungai Canggu. Perdagangan yang meluas dan tidak hanya terjadi di
wilayah pesisir saja, semakin membuat masyarakat Majapahit semakin maju.
Penemuan makam Islam di Troloyo sendiri telah menjelaskan bahwa Islam waktu
itu telah menyebar masuk dalam lingkungan Ibukota Majapahit. Dengan adanya
jalur transportasi sungai memudahkan para pedagang termasuk pedagang asing
untuk masuk ke dalam wilayah Majapahit.
Makin ramainya perdagangan dan pelayaran di Asia Tenggara sangat
mempengaruhi pelabuhan-pelabuhan di pesisir Jawa. Beberapa diantaranya
tumbuh menjadi kota-kota pelabuhan besar dan ramai yang sering dikunjungi oleh
pedagang-pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, Benggala, dan Malaka4. Ketika
para pedagang-pedagang asing tersebut tiba di Majapahit, dan memulai
perdagangan, mereka tidak hanya berdagang lalu pulang ke negara asal mereka,
faktor alam membuat mereka ingin tinggal sementara waktu di kota-kota
pelabuhan yang mereka singgahi. Kedatangan para pedagang asing pada waktu itu
menggunakan alat transportasi kapal layar yang masih menggunakan angin
sebagai tenaga penggeraknya. Oleh karena itu para pedagang asing tidak bisa
pulang pergi setiap saat, mereka menunggu arah angin yang tepat untuk kembali
lagi ke daerah asal mereka. Jeda waktu menunggu angin musim tentunya
sangatlah lama bisa berbulan-bulan lamanya. Alasan inilah yang membuat para
pedagang asing tersebut tinggal sementara waktu di kota-kota pelabuhan. Para
pedagang asing tersebut rata-rata merupakan orang Arab, dan Gujarat yang telah
memeluk agama Islam. Tinggalnya mereka di kota-kota pelabuhan Majapahit
4
membuat mereka bersinggungan dengan penduduk pribumi. Kondisi sosial
masyarakat Jawa yang sangat rentan akan perubahan telah mengenalkan mereka
pada agama baru yang dipeluk oleh para pedagang asing tersebut yaitu Islam.
Waktu yang cukup lama bagi para pedagang asing untuk tinggal di kota-kota
pelabuhan menyebabkan mereka berinteraksi dengan masyarakat pribumi.
Interaksi yang dilakukan para pedagang asing tersebut ada yang melalui
perkawinan dengan penduduk pribumi.
Perkawinan dalam hukum Islam tidak mengenal kawin campur antar umat
beragama, oleh karena itu dimungkinkan bahwa salah satu dari mereka yang
melakukan perkawinan akan pindah agama. Islam yang tidak mengenal kasta,
tentunya memiliki daya tarik tersendiri bagi para penduduk pribumi yang pada
waktu itu mayoritas memeluk agama Hindu-Buddha. Jadi secara logis tentunya
masyarakat pribumi yang beragama Hindu-Buddha akan tertarik dengan Islam
dan beralih memeluk Islam melalui proses perkawinan. Dengan demikian,
perdagangan dipesisir menimbulkan perubahan struktur sosial kelompok
masyarakat5. Semakin ramainya perdagangan dikota-kota pelabuhan telah
melahirkan golongan baru yang ekonominya lebih kuat, dan mereka tertarik pada
agama Islam. Penganut Islam di daerah pesisir mengalami peningkatan yang
sangat pesat pada masa itu. Dalam perkembangannya mereka yang telah beragama
Islam terutama di daerah pesisir, merasa tidak lagi terikat dengan dasar
keagamaan pemerintah pusat Majapahit yang beragama Hindu-Buddha. Penguasa
kota-kota pelabuhan disepanjang jalur perdagangan pada akhirnya telah memeluk
5
Islam6. Mereka tampil sebagai penguasa-penguasa baru dengan sistem ekonomi
yang sangat kuat. Perkembangan yang sangat pesat ini membuat pemerintahan
Majapahit mulai kehilangan kendali terhadap wilayah dipesisir.
B. Melalui Hubungan Diplomatik
Hubungan diplomatik antar kerajaan di Nusantara, bahkan antar kerajaan
asing dari luar negri sebenarnya telah berlangsung lama. Sejak Kutai muncul
sebagai kerajaan Hindu pertama di Indonesia tentunya hubungan diplomatik
dengan kerajaan asing sudah terjadi. Hindu merupakan agama asli orang India
bukan agama asli Indonesia, kemunculannya di Indonesia sendiri telah
membuktikan bahwa pengaruh India waktu itu sudah sampai ke Indonesia.
Majapahit mulai eksis tampil sebagai kerajaan mulai tahun 1293, tentunya
hubungan diplomatik dengan kerajaan di Nusantara maupun kerajaan asing bukan
merupakan suatu hal yang baru. Perluasan wilayah Majapahit dimulai sejak
Gadjah Mada diangkat menjadi patih Amangkubumi pada tahun 1258 saka dan
langsung memproklamirkan program pemerintahaannya yang disebut dengan
Sumpah Nusantara7. Pernyataan sumpah ini mendapat pro dan kontra antara
pejabat internal kerajaan, oleh karena itu pejabat kerajaan yang tidak setuju
dengan program politik Gadjah Mada kemudian disingkirkan. Program politik
tersebut mulai efektif dilaksanakan dengan menundukkan Bali pulau yang paling
dekat dengan pulau Jawa8. Takluknya Bali dalam kekuasaan Majapahit membuat
daerah-daerah bawahannya (kerajaan vasal) ikut jatuh dalam kekuasaan
Majapahit.
6
Ibid,hlm 79
7
Ibidem.
8Esa Damar Pinuluh,
Perlu diketahui konsep penaklukan wilayah yang dilakukan oleh Majapahit
sangat berbeda dengan konsep kolonialisasi seperti yang dilakukan bangsa Barat.
Daerah taklukan Majapahit hanya berkewajiban menyerahkan upeti tahunan dan
menghadap raja Majapahit dalam waktu-waktu tertentu sebagai bukti dan tanda
kesetiaan dan pengakuan kedaulatan Majapahit. Konsep penaklukan kekuasaan
Majapahit terhadap daerah taklukan adalah sebagi berikut :
Baik negara bawahan maupun daerah Amancanagara (provinsi), mengambil pola pemerintahan pusat yakni Majapahit. Raja dan juru pengalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab atas daerahnya sendiri, namun pemerintahannya dikuasakan kepada patih, sama dengan pemerintahan pusat, dimana raja Majapahit adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kerajaan, tetapi kebikjaksanaan pemerintahan ada di tangan patih Amangkubumi atau patih seluruh negara.
Dengan demikian kerajaan-kerajaan taklukan Majapahit tetap eksis dan
dapat mengembangkan kebudayaan mereka, tanpa campur tangan dari kerajaan
pusat yaitu Majapahit. Salah satu kerajaan taklukan Majapahit adalah kerajaan
Samudra Pasai dan kerajaan Melayu. Dua kerajaan ini merupakan kerajaan Islam
walaupun dalam taklukan Majapahit masyarakat ataupun kerajaan ini tidak
dihindukan ataupun Buddha. Dalam kepercayaan masyarakatnya kedua kerajaan
ini tetap kerajaan Islam dan mengembangkan ke Islamannya. Pada
perkembangannya Islam mengambil peran yang sangat signifikan dalam
melangsungkan kemaharajaan di pulau Jawa pada beberapa abad kemudian9.
Selain memberi kebebasan kepada kerajaan taklukan dalam mengembangkan
pemerintahannya, Majapahit juga memberikan kebebasan kepada para tawanan
perang yang dibawa ke Jawa. Tawanan perang tersebut diberi kebebasan untuk
9
tetap menjalankan kepercayaannya masing-masing sehingga membuat Majapahit
mendapatkan pengaruh Islam secara nyata. Selain memiliki kerajaan taklukan
Majapahit juga menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan asing di luar
wilayah Nusantara seperti Syangka, Ayudhapura, Dharmaaganar, Marutama,
Rajapura, Campa,Kamboja, dan Yawana. Salah satu kerajaan asing yang sangat
berpengaruh terhadap Majapahit adalah Campa. Kerajaan Campa sudah menjalin
hubungan dengan Jawa sejak pemerintahan Kertanegara yang menjadi raja
Singasari.
Menurut Negarakretagama pada tahun 1365 kerajaan Campa mempunyai
hubungan persahabatan dengan Majapahit10. Menurut Serat Kanda dan Babad
Tanah Jawi memberitahukan bahwa pada permulaan abad lima belas Raja
Brawijaya dari Majapahit Kawin dengan putri Campa, seorang Muslim yang juga
bergelar putri dwarawati11. Selain itu dalam Babad Tanah Jawi maupun Serat
Kanda menyebutkan bahwa putri Campa merupakan ibu dari Raden Patah yang
nantinya menjadi raja di kerajaan Demak. Kebenaran dari putri Campa itu sendiri
masih dipertanyakan, apakah ia memang putri raja dari kerajaan Campa atau
hanya putri pembesar dari kerajaan Campa. Kemunculan putri Campa dalam
sejarah Majapahit ada hubungannya dengan kedatangan pembesar dari Yunan ke
Majapahit bernama Ma Hong Fu. Istri Ma Hong Fu itu sendiri memang berasal
dari kerajaan Campa. Ketika kedatangan Ma Hong Fu ke Majapahit raja yang
memerintah adalah Wikramawardhana. Sebagai istri seorang duta besar dari
Yunan, ia sering menampakkan diri di depan rakyat Majapahit terutama saat-saat
10Slamet Mulyana,
Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (Jakarta : Bhatara Karya Aksara, 1979), hlm. 152
11
hari raya12. Sebagai seorang istri pembesar ia mendapatkan tempat terhormat di
panggung para pembesar, berkumpul dengan istri-istri pembesar dari Majapahit
diantara selir-selir prabu. Oleh karena itu rakyat menduga kalau putri dari Campa
itu merupakan salah satu selir atau istri sang prabu Wikramawardhana.
Istri duta besar Ma Hong Fu wafat dan dimakamkan di Majapahit secara
Islam. Dengan demikian hubungan diplomatik antar kerajaan asing telah
mempengaruhi kondisi kebudayaan Majapahit terutama dalam bidang agama.
Telah dijelaskan bahwa istri dari duta besar Ma Hong Fu meninggal dan
dimakamkan di Majapahit secara Islam, hal itu berarti secara tidak langsung telah
mengenalkan Majapahit pada suatu agama baru yaitu Islam. Tidak menutup
kemungkinan dalam ibukota Majapahit telah terdapat komunitas Islam dan mulai
berkembang di dalamnya. Situs makam Islam di Troloyo telah menjadi bukti
yang nyata jika telah terdapat masyarakat Islam di Majapahit.
C. Melalui Perkawinan
Selain melalui perdagangan dan hubungan diplomatik, masuknya Islam ke
Majapahit juga melalui proses perkawinan. Pernikahan yang terjadi dalam hal ini
bukan hanya wujud dari rasa cinta seseorang terhadap lawan jenis tetapi lebih
dari pada itu. Pernikahan yang dilakukan merupakan strategi politik atau bisa
dikatakan sebagai perkawinan politik. Biasanya seorang raja meminang putri dari
kerajaan lain untuk mempertahankan wilayah suatu kerajaan, membina hubungan
baik antar kerajaan, menggabungkan kedua wilayah kerajaan, atau bahkan
pengakuan kedaulatan.
12
Pernikahan semacam ini pernah terjadi di dalam kerajaan Majapahit. Usaha
pernikahan politik yang sangat terkenal adalah pernikahan raja Hayam Wuruk
dengan Dyah Pitaloka Citraresmi. Namun usaha Raja Hayam Wuruk memperistri
Dyah Pitaloka Citraresmi gagal yang berujung perang yang kemudian dinamakan
dengan perang Bubat. Perang Bubat terjadi karena kesalahpahaman antar dua
kerajaan Majapahit dan Sunda. Patih Madu diutus untuk mengundang orang
Sunda, maksudnya untuk menikahkan putri kerajaan Sunda dengan raja Hayam
Wuruk, lalu orang Sunda datang ke Majapahit, namun Maharaja tidak bersedia
mempersembahkan putrinya13.
Hal yang perlu mendapat perhatian sehubungan Majapahit dengan Islam
adalah, ketika rombongan kerajaan Sunda tiba di Majapahit. Rombongan tersebut
tiba untuk pertama kali di Masigit Agung, lalu mereka terus berjalan kearah
kepatihan. Dalam hal ini kata Masigit Agung sangat mirip dengan kata masjid
Agung. Mengingat telah ditemukannya inskripsi Islam di Leran serta situs
makam Tralaya yang berada di pusat kekuasaan Majapahit bukan tidak mungkin
di pusat Majapahit telah dibangun Masjid.
Pada awal pembahasan sub bab ini telah dijelaskan bahwa Majapahit tidak
hanya sekali melakukan perkawinan politik. Telah tercatat dalam hikayat
raja-raja Pasai bahwa telah terjadi usaha pernikahan politik antara putri dari Majapahit
Gemerenceng dengan putra mahkota Abdul Jalil dari Pasai. Pernikahan ini
13
kembali gagal karena terbunuhnya putra mahkota Abdul Jalil oleh ayahnya14.
Kegagalan pernikahan yang akhirnya memicu peperangan antara Majapahit
dengan kerajaan Samudrai Pasai yang pada akhirnya dimenangkan oleh
Majapahit. Peperangan ataupun usaha pernikahan yang gagal merupakan bukti
bahwa Majapahit pada waktu itu telah berinteraksi dengan Islam. Mengingat
pernikahan yang akan dilakukkan, kemungkinan di dalam wilayah pusat
Majapahit Islam sudah mulai tumbuh dan berkembang meskipun masih
minoritas.
Hikayat Melayu juga memiliki catatan pernikahan antara Raja Mansyur
Syah dengan Candra Kirana dari Majapahit. Setelah perkawinan itu dilakukan
kemudian Raja Mansyur Syah meminta kepada raja Majapahit untuk memerintah
di Indragiri15. Permintaan itu kemudian dikabulkan bahkan jika ia menginginkan
Palembang maka akan diberikannya pula. Sikap raja Majapahit tersebut tentunya
akan mempermudah perkembangan agama Islam, meskipun perkembangan
tersebut jauh berada di luar pusat pemerintahan Majapahit. Sikap toleran tersebut
sesuai dengan konsep politik Majapahit terhadap daerah taklukan dimana daerah
taklukan dibebaskan untuk mengembangkan daerahnya sendiri. Sebagai wujud
kesetian dengan Majapahit maka kerajaan vasal hanya berkewajiban
mengirimkan upeti dan utusan pada waktu-waktu tertentu.
Perkawinan politik didalam kerajaan Majapahit terus berlangsung. Raja
Wikramawardhana alias Hyang Wisesa kawin dengan putri Cina. Dari
14
Yaitu raja Ahmad perahu yang ditumpanginya ditenggelamkan kelaut. Karena marahnya raja Majapahit mengirimkan armada ke Pasai untuk menghukum atau menuntut balas atas kejadian tersebut.
15
perkawinan itu melahirkan Arya Dhamar, yang kemudian dipindahkan ke
Palembang. Perkawinan politik ini menyebabkan Majapahit semakin
berhubungan erat dengan Cina. Pengaruh perkawinan ini semakin terasa ketika
banyaknya golongan muslim Cina yang datang untuk berdagang di Majapahit.
Semakin banyaknya orang Islam Cina yang datang maka akan semakin banyak
pula pengaruhnya bagi masyarakat Jawa yang pada waktu itu masih beragama
Hindu-Buddha.
Perkawinan dengan putri Cina ternyata juga tidak dilakukan oleh Raja
Wikramawardhana saja, tetapi raja Majapahit yang lainnya. Raja Kertabhumi
juga kawin dengan putri Cina, dari perkawinan tersebut melahirkan Jin Bun alias
Raden Patah16. Dari perkawinan inilah kemudian Islam berkembang sangat pesat
di Majapahit karena putri Cina yang dinikahi raja Kertabhumi merupakan
seorang muslim. Dalam Babad Tanah Jawi, dan Serat Kanda dijelaskan bahwa
Prabu Brawijaya V, Dyah Kertawijaya (1447 – 1451) menikah dengan Muslimah
dari kerajaan Campa Anarawati, yang kemudian bergelar Putri Dwarawati.
Interaksi Majapahit dengan Islam melalui perkawinan tidak dilakukan oleh
elit kerajaan, akan tetapi oleh para penguasa di bawahnya demikian juga dengan
masyarakat umum. Pada awal pembahasan makalah ini telah dijelaskan bahwa
pedagang yang kewilayah Nusantara terutama pulau Jawa berasal dari berbagi
negeri asing misalnya Arab, Persia, Gujarat, Sri Langka, dan Benggala. Karena
faktor musim yang menjadi waktu penentu pelayaran maka mereka terpaksa
16Slamet Mulyana,
tinggal di bandar-bandar yang mereka datangi17. Tinggalnya mereka di kota-kota
pelabuhan disambut baik oleh para penguasa setempat. Para pedagang asing
tersebut diberi tempat khusus yang sering disebut dengan Pakojan18. Pakojan itu
sendiri merupakan perkampungan khusus untuk para pedang-pedagang muslim
yang tinggal di kota-kota pelabuhan menunggu angin musim.
Menetapnya kaum pedagang muslim di Pakojan, lambat laun telah merubah
pola kehidupan masyarakat pribumi. Para pedagang muslim tidak hanya
melakukan kegiatan perdagangan saja, mereka juga mulai mengajarkan agama
Islam kepada penduduk setempat, terutama bagi mereka yang telah melakukan
pernikahan dengan para pedagang muslim. Penyebaran agama Islam kemudian
semakin meluas hal ini karena masyarakat pribumi yang beragama Hindu
kemudian tertarik dengan agama Islam. Ada beberapa faktor yang menyebabkan
perkawinan antara penduduk pribumi dengan pedagang muslim yang kemudian
ikut berpindah agama menjadi Islam. Salah faktor yang menarik penduduk
pribumi adalah Islam tidak mengenal dan membedakan status sosial seseorang.
Sedangkan agama Hindu membedakan status sosial seseorang yang disebut
dengan kasta. Dengan demikian masyarakat pribumi tertarik dengan agama Islam
dan mulai menganut agama Islam.
Faktor lain yang menyebabkan banyaknya penduduk pribumi menikah
dengan pedagang muslim ataupun berpindah agama adalah faktor ekonomi.
Menurut Van Luer bahwa motif ekonomi dan politik sangatlah penting bagi
17
Ibid,hlm. 129
18
dalam masuknya Islam di Nusantara19. Menurutnya para penguasa pribumi ingin
meningkatkan perdagangan mereka menerima Islam sebagai konsekuensinya.
Dengan menjadi muslim mereka tentunya akan mendapatkan dukungan dari
pedagang Muslim sebagai penguasa ekonomi waktu itu.
D. Dakwah Kaum Sufi
Kedatangan dan perkembangan Islam di Jawa melalui proses yang cukup
panjang. Islam pertama kali datang di wilayah Nusantara terutama Jawa, ketika
itu masih dalam pengaruh kerajaan Hindu-Buddha yang masih sangat kuat dan
mendominasi wilayah Jawa. Kemunculan Islam di Jawa yang pada akhirnya
mendominasi wilayah Jawa bahkan Nusantara, telah memunculkan beberapa teori
mengenai penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Pada pembahasan sebelumnya
telah dijelaskan bahwa Islam disebarkan melalui, perdagangan, hubungan
diplomatik, dan pernikahan. Masing-masing teori tersebut memang memiliki nilai
kebenaran tersendiri. Jika dilihat tujuan dari beberapa teori yang dibahas
sebelumnya tentunya akan diketahui beberapa kelemahan dan keunggulan, yang
memaksa kita untuk berpikir lebih analisis lagi untuk menyatakan teori tentang
masuknya Islam ke wilayah Nusantara. Teori perdagangan memang kuat sebagai
salah satu teori mengenai masuknya Islam di Jawa, terutama Majapahit. Kuatnya
teori perdagangan terbukti dengan adanya perdagangan dengan bangsa asing
sejak munculnya kerajaan-kerajaan Hindu Buddha di Nusantara.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada teori perdagangan tentang
masuknya Islam di Nusantara adalah siapa sebenarnya kaum pedagang tersebut.
19
Ada teori yang menyatakan jika Islam Indonesia berasal dari sumber aslinya yaitu
Arab20. Teori ini beranggapan bahwa untuk melihat Islam di Asia Tenggara
datang dari mana, maka yang perlu diperhatikan adalah kajian terhadap teks-teks
maupun literatur Islam Melayu Indonesia dan sejarah pandang Melayu terhadap
berbagai istilah atau konsep kunci yang digunakan oleh para penulis Islam di
Asia Tenggara. Oleh karena itu siapa sebenarnya kaum pedagang yang bermukim
di Nusantara adalah kaum pedagang sekaligus pendakwah21.
Kedatangan Islam di Jawa sejak Jawa masih dalam pengaruh
kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Keberadaan Islam di Jawa dapat ditentukan dari
peninggalan makam di Leran Gresik yaitu, makam Fatimah binti Maimun wafat
tahun 1087 M. Situs makam Islam ini telah membuktikan bahwa Islam di Jawa
khususnya Jawa Timur, ada sejak masa pemerintahan Hindu tepatnya raja
Airlangga. Makam Islam tersebut telah membuktikan bahwa jaringan
perdagangan internasional antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa
dengan India Selatan dan Timur Tengah sudah terjalin sedemikian kuat.
Perdagangan internasional terbentuk bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia yang tidak bisa dipenuhi sendiri. Salah satu perdagangan yang dilakukan
adalah pedagang dari Timur Tengah membawa kain sutra dan permadani
sedangkan dari Nusantara dibawa produk pertanian dan perkebunan seperti
rempah-rempah yang tidak bisa diproduksi di Timur Tengah. Akibat dai
perdagangan internasional daerah-daerah pesisir Jawa menjadi daerah yang
disinggahi oleh para imigran, terutama kaum pedagang. Itulah sebabnya daerah
20Nur Syam,
Islam Pesisir, (Yogyakarta: LkiS, 2005), hlm. 61
21
pesisir menjadi daerah ajang pertemuan berbagai tradisi yang datang dari
berbagai wilayah22.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam di Jawa memang mulai berkembang
melalui daerah pesisir, yang pada waktu itu sebagai tempat bertemunya budaya
asing. Nama-nama pelabuhan penting seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya sudah
tidak asing lagi bagi. Pelabuhan-pelabuhan ini menjadi transit para pedagang
asing, yang akan berdagang ke pusat Majapahit. Para pedagang masuk ke pusat
Majapahit memalui sungai Brantas, perlu diketahui bahwa pada waktu itu di
sungai-sungai tertentu telah dibangun juga beberapa pelabuhan kecil untuk
mempermudah perdagangan menuju ke pusat Majapahit ataupun menuju ke
pesisir. Pedagang yang masuk kewilayah Majapahit lambat laun menetap dan
menyebarkan keyakinan-keyekinannya.
Bukti-bukti bahwa orang asing maupun bangsa Arab atau bangsa Persia
telah datang sampai ke Majapahit adalah temuan arkeologis yang ditemukan di
Trowulan. Beberapa temuan yang ditemukan di Trowulan, terdapat bentuk arca
yang ditampilkan dalam beragam ekspresi.
Artefak yang bergambar seperti orang asing yang terdapat di museum Majapahit mempunyai ciri dan bentuk sebagai berikut :
1. Orang China. Penggambarannya ditandai dengan beberapa ciri
antara lain: bermata sipit dan rambutnya lurus disisir kebelakang. Penggambaran anak-anak dilakukan melalui rambut ekor kuda atau dikuncir...
2. Orang Gujarat atau Persia. Gambaran orang Gujarat atau Persia dari
beberapa kepala artefak yang pada bagian bandannya telah hilang. Ciri utamanya tampak dibagian mata, hidung, mulut dan ekspresinya. Matanya besar dan agak lebar, hidung mancung dan besar dengan cuping agak bulat, bibir agak tebal, dan memakai tutup kepala berbentuk kopiah atau surban.
22
3. Orang Eropa. Secara kuantitas figuran yang menggambarkan orang Eropa tidak banyak. Figur orang Eropa dapat diasumsikan sebagai orang Portugis yag dapat diketahui berdasarkan bentuk pakaian yang
dikenakan23.
Munculnya orang-orang Gujarat dan Persia di dalam wilayah atau pusat
Majapahit berdampak pada benturan kebudayaan yang mereka bawa dalam hal ini
adalah agama. Pedagang dari Gujarat maupun Persia bukan pedagang biasa,
mereka juga seorang pendakwah Islam sufi.24 Hal ini terbukti dengan corak Islam
yang bersifat mistik yang bersesuaian dengan sikap mistik masyarakat di kawasan
ini sebelumnya25. Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa Islam di Jawa
terutama Majapahit disebarkan oleh kaum sufi, sebab sangat tidak mungkin jika
Islam disiarkan oleh kaum pedagang secara besar-besaran jika motif mereka
adalah mencari keuntungan secara material.
Pengaruh Islam sufi begitu terlihat sangat jelas ketika berdirinya kerajaan
Demak. Penyebaran agama Islam di Jawa memang tidak hanya dilakukan oleh
kalangan sufi saja melainkan kalangan Islam syiah juga ikut menyebarkan
pengaruhnya. Namun Islam syiah di Jawa tidak mendapatkan tempat, hal ini
dibuktikan dengan dilarangnya Islam syiah yang dianggap sesat. Salah satu
penyebar Islam Syiah adalah Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang. Ajaran
dari Syaikh Siti Jenar dianggap sesat, kemudian Syaikh Siti Jenar dijatuhi
Menurut beberapa penulis, dan mereka dalam jumlah yang besar, Sufi dapat dilacak pada kata Arab, dilafalkan shuuf, yang secara harfiah berarti wool, menunjuk pada bahan yang digunakan untuk jubah sederhana para mistikus Muslim awal. Idris Shah, Jalan Sufi, (Surabaya : Risalah Gusti, 1999). Hlm. 6
25Esa Damar Pinuluh
Konsep Islam Sufi di dalam masyarakat Jawa sangat jelas terlihat dari
tatacara ritual keagamaannya. Islam Sufi lebih diterima masyarakat Jawa terutama
Majapahit karena mampu menyesuaikan diri dan berintegrasi dengan kepercayaan
lokal setempat yaitu Hindu-Buddha. Bentuk integrasi antara Islam Sufi dan
kepercayaan lokal dapat terlihat dari budaya masyarakat setempat, bahkan sampai
sekarang kebudayaan tersebut masih tetap hidup dan menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari masyarakat Jawa. Salah satu contoh budaya masyarakat lokal
yang terintegrasi dengan Islam Sufi adalah upacara pemujaan arwah leluhur. Perlu
diketahui bahwa inti kehidupan keagamaan di Indonesia sejak dahulu kala adalah
pemujaan arwah para leluhur26. Agama apapun yang masuk ke Indonesia, akan
diisi dengan ritual kuno pemujaan arwah para leluhur.Dalam agama Islam aliran
Sufi pemujaan arwah leluhur tetap ada bahkan menjadi salah satu upacara wajib
bagi orang yang menganutnya27.
Pada masyarakat Majapahit upacara pemujaan arwah para leluhur disebut
dengan upacara Srada. Upacara Srada pada masa Majapahit dilakukan untuk
menghormati wafatnya Rajapatni yang diselenggarakan oleh Raja Hayam Wuruk
secara besar-besaran. Upacara Srada sangat berhubungan erat dengan konsep
pemujaan arwah para leluhur, meskipun pada upacara Srada yang dihormati
adalah Rajapatni namun esensi dari upacara ini adalah pemujaan arwah orang
yang telah meninggal.
26Slamet Mulyana,
Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di nusantara (Yogyakarta : LkiS Yogyakarta, 2007) hlm. 249
27
Pemujaan arwah leluhur itu sendiri tidak merupakan agama bagi rakyat, tetapi merupakan bagian unsur penting dalam ibadahnya. Pemujaan arwar para leluhur adalah sisa dari kehidupan
Setelah agama Islam masuk kewilayah Majapahit pesta Srada sebagai
upacara pengormatan arwah leluhur tetap diadakan. Upacara Srada merupakan
salah satu bentuk integrasi budaya yang masih ada sampai sekarang. Upacara ini
digunakan kaum pendakwah Sufi sebagai salah satu sarana integrasi agar Islam
dapat diterima oleh masyarakat Majapahit. Setelah agama Islam masuk di wilayah
Majapahit, pesta Srada tetap dirayakan28. Pesta Srada dalam bahasa Jawa disebut
dengan “Nyadran”. Upacara ini diadakan di kuburan para leluhur dalam bulan
arwah atau Ruwah, yakni bulan Sya’ban, menghadapi bulan Ramadhan. Dalam
upacara ini orang-orang membawa makanan ke kuburan dan berpesta disana demi
peringatan atau penghormatan terhadap arwah leluhur. Disamping itu orang-orang
juga membawa bunga dan membakar kemenyan serta disertai doa pada setiap
makam terutama makam anggota keluarga. Berdasarkan tatacara dan tujuan dari
upacara ini sangatlah jelas jika upacara “Nyadran” sama dengan upacara Srada
pada masa Majapahit dan sama dengan konsep pemujaan arwah para leluhur pada
jaman prasejarah.
28
31 BAB III
PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DI MAJAPAHIT
TAHUN 1376 – 1478
A. Munculnya Syaikh Jumadil Kubro Sebagai Pencetus Pendidikan
Pesantren.
Islam memang telah berkembang di Majapahit sejak masa kejayaan
Majapahit itu sendiri. Bukti mengenai keberadaan orang-orang Islam di Majapahit
adalah adanya situs makam Islam Troloyo. Makam Islam di Troloyo terletak di
Trowulan tak jauh dari Ibu kota Majapahit, bahkan tiga makam Islam tersebut
berasal dari zaman raja Hayam Wuruk, masing-masing bertarikh Saka 1290,
1298, dan 1302 (1368, 1376, dan 1380 Masehi)1. Makam Islam di Troloyo
sangatlah berbeda dengan makam Islam yang di temukan di Gresik. Jika makam
Islam di Gresik merupakan makam orang asli Arab hal ini dapat dilihat dari
tatacara penulisan di batu nisan makam tersebut. Makam Fatimah Binti Maimun
yang wafat di gresik berinskripsi Arab tahun 475 H atau 1082 M. Sedangkan
makam Islam di Troloyo bertuliskan tahun Saka, serta pahatan nisan dengan huruf
Arab berbentuk tebal dan kasar serta kesalahan tulis. Dengan demikian tampaknya
memang nisan-nisan tersebut dibuat oleh pengrajin lokal yang terdapat di
Troloyo2.
Perbedaan penulisan pada antara batu nisan di Leran dan makam di Troloyo
memunculkan pendapat bahwa makam Islam di Troloyo merupakan makam
orang-orang di Majapahit yang pada waktu itu telah memeluk agama Islam. Bukti
1Esa Damar Pinuluh,
Pesona Majapahit (Yogyakarta: Bukubiru, 2010), hlm. 140
2
keberadaan Islam di Ibu Kota Majapahit juga dituliskan dalam kidung Sundayana
ketika terjadi perang Bubat, rombongan raja kerajaan Sunda beristirahat di
Masigit Agung. Berikut ini merupakan petikan dari Kidung Sunda :
...Tan palarapan tẽkamarẽk eng harsa, prakaça wẽtu neng ling esang natheng Sunda, kamu kinen marẽka, de bhaţţareng Majapahit, sira wus prāpta mangke aneng Masigit.
Terjemahan : dicegah tanpa memberitahunya kepada mereka dengan penekanan : hai raja sunda, kami mendapat langsung perintah yang dibuat oleh penguasa tertinggi Majapahit yang telah berkunjung kesini agar anda
pergi saat ini juga dari kawasan sekitar masjid.3
Kata Masigit agung sangatlah mirip dengan Masjid Agung, jika dilihat dari
keberadaan makam di Troloyo bukan tidak mungkin jika masyarakat Islam
Majapahit telah membangun masjid untuk keperluan ibadahnya. Keberadaan
makam Islam di Troloyo, yang merupakam kawasan Ibu Kota Majapahit
merupakan bukti bahwa sebagian masyarakat dan bahkan pejabat atau keluarga
telah memeluk Islam. Jika diperhatikan peta sebaran bangunan suci yang tentunya
juga berfungsi sebagai pusat pendidikan peninggalan Kerajaan Majapahit, akan
terlihat bahwa bangunan Hindu, pendeta (Karsyan) maupun Buddha terletak
berdekatan dengan blok terpisah, maka jika Troloyo adalah Blok Muslim, ia akan
terletak terletak disebelah selatan bangunan Hindu-Buddha yang dipisahkan oleh
komplek keraton4. Artiya istana raja dinaungi disebelah timur oleh bangunan suci
candi Hindu, sebelah barat oleh bangunan suci Buddha dan pendeta (Karsyan),
dan sebelah selatannya oleh bangunan suci (Masigit Agung) Islam.
Konsep penataan kota yang seperti ini merupakan konsep tata kota bagi
kerajaan Hindu-Buddha. Menurut kepercayaan Budhisme, gunung Meru menjadi
3
Adrian Perkasa. Orang-orang Tionghoa dan Islam di Majapahit. (Yogyakarta : Ombak, 2012). Hlm. 63
4
pusat dari jagad raya5. Oleh karena itu sistem tata kota Majapahit sama halnya
dengan konsep kosmologi tersebut. Tata kota yang demikian telah membuka pintu
perubahan bagi Majapahit untuk meneria setiap kebudayaan yang baru muncul,
termasuk agama di dalamnya. Islam yang telah datang ke Majapahit telah
memberikan perubahan terhadap masyarakat dan budayanya. Perubahan yang
terjadi di dalam Majapahit tidak terlepas dari pengaruh agama Islam yang mulai
disebarkan kepada masyarakat, dan bahkan kepada pejabat kerajaan.
Masuknya Islam kewilayah Majapahit tidak terlepas dari peranan Syekh
Jumadil Kubro. Syehk Jumadil Kubro adalah salah seorang ulama besar yang
merupakan bibit atau cikal bakal dalam penyebar agama Islam di pulau
Jawa6.Syekh Jumadil Qubro yang berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia
Tengah ini, diyakini sebagai keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu dari Nabi
Muhammad SAW7.Syekh Jumadil Kubro diperkirakan hidup dan mulai
menyebarkan agama Islam di Majapait ketika Majapahit dalam pemerintahaan
Raja Tribuwana Tunggadewi, dan Raja Hayam Wuruk. Beliau wafat pada tahun
1376 M, 15 Muharram 797 H. Syek Jumadi Kubro di makamkan di komplek
pemakaman Troloyo bersama pejabat kerajaan Majapahit lainnya. Ketika Syekh
Jumadil Kubro hidup, ia sangat dekat dengan beberapa pejabat kerajaan, dan
bahkan di antara pejabat telah memeluk agama Islam.
5Geldren Heine Robert,
Konsepsi Tentang Negara & Kedudukan Raja Di Asia Tenggara (Jakarta: CV. Rajawali,1972), hlm. 5
6
http://jawatimuran.wordpress.com/2012/06/16/syeh-jumadil-kubro-trowulan-mojokerto/
7Pada awalnya, Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Keberhasilan Syekh Jumadil Kubro dalam menyebarkan agama Islam di
Majapahit tentunya tidak terlepas dari usaha yang ia lakukan. Salah satu usaha
yang dilakukan oleh Syekh Jumadil Kubro adalah menyebarkan agama Islam
dengan cara berdakwah. Namun berdakwah saja tidak cukup untuk mengajarkan
agama Islam kepada masyarakat Majapahit terutama kepada mereka yang telah
memeluk Islam. Dalam kidung Sundaya telah dijelaskan adanya Masigit Agung
(Masjid Agung) di lingkungan Ibukota kerajaan. Dalam masyarakat Islam, masjid
selain menjadi tempat ibadah yang paling suci, juga berfungsi sebagai tempat
pendidikan, sebelum tempat-tempat lain seperti madrasah atau pesantren berdiri8.
Pendidikan Islam lewat sarana masjid rupanya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat yang telah memeluk Islam. Pada pembahasan bab pertama
makalah ini telah dijelaskan, bahwa banyaknya penduduk asing yang tinggal di
Majapahit dan melakukan kawin campur dengan masyarakat setempat. Maka
untuk mengajarkan agama Islam bagi anak-anak mereka agar lebih mengenal
islam, mereka mendatangkan koloni-koloni Muslim untuk mengajarkan ilmunya
kepada anak-anak mereka9.
Pada waktu itu pelaksanaan pendidikan formal memang belum ada, yang
ada hanyalah sistem pendidikan Hindu-Buddha yaitu Mandala. Oleh karena itu
Syekh Jumadil Kubro dan para pengajar agama Islam mencoba mengadopsi pola
pendidikan Mandala kedalam bentuk pendidikan Islam. Dalam pelaksanaan
pengajaran agama Islam, yang telah diadopsi dari pendidikan Mandala, maka
pengajaran dilakukan didalam rumah. Untuk beberapa kalangan tertentu, seperti
8Esa Dhamar Pinuluh,
op. cit., hlm. 153
9
pengajaran terhadap pejabat kerajaan, pengajaran dapat dilakukan di sekitar istana
atau paviliun kerajaan. Jika dilihat secara umum unsur dari pesantren adalah
adanya kyai, santri, asrama, masjid, dan sistem pendidikan dijadikan sebagai
acuan keberadaan pesantren, maka situs makam Troloyo yang berangka tahun
1368 sampai 1611 dengan makam homogen bertahun 1300-an sampai 1400-an
dimana terdapat makam Syekh Jumadi Kubro, dan beberapa makam yang disebut
sebagai para santrinya yang terdapat pada kubur telu dan makam belakang10.
Keberadaan makam tersebut telah membuktikan mengenai keberadaan pesantren
di kerajaan Majapahit.
Selain makam-makam di kubur telu masih banyak makam lain di area
pemakan Troloyo yang mampu menunjukkan angka tahun lebih tua. Situs masjid
pesucian bertahun 1389, nisan makam Malik Ibrahim bertahun 1419, masjid
Ampel bertahun 1440 ditambah dengan keberadaan Masigit Agung. Petilasan
Walisongo sebagai “tempat ha;aqah atau Round Stone Discussion” serta sisa
pemukiman Sentonorejo, lebih dimungkinkan disebut sebagai model pendidikan
pesantren yang lebih awal dibandingkan Sunan Malik Ibrahim ataupun Sunan
Ampel11. Berdasarkan makam-makam Islam yang telah ditemukan diduga
pesantren yang berkembang pada massa itu masih sangat sederhana, dan hanya
memiliki beberapa orang santri saja. Sama seperti pesantren yang dimiliki oleh
sunan Ampel, ketika masih di Kembang Kuning dia hanya memiliki tiga orang
santri yaitu, Wiryo Suroyo, Abu Hurairah, dan Kyai Bangkuning.
10
Ibid, hlm. 156
11