PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN JASMANI
TESIS
diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Olahraga
oleh
MUHAMMAD ZULFIKAR NIM 1303130
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA SEKOLAH PASCASARJANA
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN JASMANI
Oleh
Muhammad Zulfikar
1303130
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Magister Pendidikan (M.Pd) pada program studi Pendidikan Olahraga SPs UPI
Bandung
© Muhammad Zulfikar 2015 Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2015
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang,
MUHAMMAD ZULFIKAR
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN JASMANI
Disetujui dan disahkan oleh:
Pembimbing
Dr. Mulyana, M. Pd. NIP. 197108041998021001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN JASMANI.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pengaruh model pembelajaran
inquiry dan pemodelan terhadap self-efficacy siswa. Pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemodelan single-mastery dan pemodelan multiple-coping. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain nonequivalent pretest and posttest control group. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini ada dua. Kelompok pertama diberi perlakuan model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery dan kelompok kedua menerima perlakuan model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping. Sedangkan kelompok kontrol menerima model pembelajaran tradisional yaitu model pembelajaran direct. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, yang berjumlah 537 siswa yang terbagi dalam 18 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII B, VIII A1, dan VIII E yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Penelitian berlangsung selama tujuh kali pertemuan dalam tujuh minggu. Perlakuan berlangsung selama lima pertemuan dan sebelum diberikan perlakuan kedua kelompok diberikan pretest dan setelah perlakuan diberikan posttest berupa skala self-efficacy. Skala self-efficacy yang digunakan adalah instrumen yang dikembangkan oleh penulis dari teori self-efficacy Bandura. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji-t paired sample
dan Analysis of Covariance (ANCOVA) dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran
inquiry pemodelan single-mastery. (2) Terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan
multiple-coping. (3) Model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping
lebih efektif terhadap peningkatan self-efficacy siswa daripada model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery dan model pembelajaran direct. Penelitian ini merekomendasikan pembelajaran dalam pendidikan jasmani sebaiknya menggunakan model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping
agar self-efficacy siswa bisa ditingkatkan.
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRACT
THE EFFECT OF INQUIRY LEARNING MODEL AND MODELING ON STUDENTS’ SELF-EFFICACY IN PHYSICAL EDUCATION.
The purpose of this study was to reveal the influence of inquiry learning model and modeling on the self-efficacy of students. Modeling that used in this research were single-mastery modeling and multiple-coping modeling. The method that used in this study is the experimental method with nonequivalent pretest and posttest control group design. The experimental group in this study was twofold. The first group was treated inquiry learning model with single-mastery modeling and the second group received treatment with the inquiry learning model with multiple-coping modeling. While the control group received the traditional teaching model that is direct instructional. The population in this study were all eighth grade students of MTsN Watampone, Bone Regency, South Sulawesi Province, totaling 537 students divided into 18 classes. The sample in this research was class VIII B, VIII A1, and VIII E. They were taken using cluster random sampling technique. The research lasted for seven meetings in seven weeks. The treatment lasted for five meetings before being given treatment and both groups were given a pretest and posttest after the treatment was given in the form of self-efficacy scale. Self-efficacy scale that used is an instrument developed by the author from the theory of Bandura’s self-efficacy. Data analysis technique used was paired sample t-test and Analysis of Covariance (ANCOVA) using the software SPSS 18. The results showed that: (1) There is a significant increase in self-efficacy scores of students who followed the inquiry learning model with single-mastery modeling. (2) There is a significant increase in self-efficacy scores of students who followed the inquiry learning model with multiple-coping modeling. (3) inquiry learning model with multiple-coping modeling more effectively to increase students' self-efficacy than inquiry learning model with a single-mastery modeling and direct instruction. The study recommends that learning in physical education should use inquiry learning model with multiple-coping modeling so that the student’s self-efficacy could be improved.
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN PENGESAHAN ...
PERNYATAAN ... ABSTRAK ... KATA PENGANTAR ... UCAPAN TERIMA KASIH ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN ...
A. Latar Belakang Penelitian...
B. Identifikasi Masalah Penelitian ...
C. Rumusan Masalah Penelitian ...
D. Tujuan Penelitian ...
E. Manfaat Penelitian ...
F. Struktur Organisasi Tesis ...
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...
A. Self-efficacy ...
B. Pemodelan ...
C. Model Pembelajaran Inquiry ...
D. Model Pembelajaran Direct ...
E. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Direct ...
F. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Pemodelan ...
G. Penelitian-penelitian yang Relevan ...
H. Kerangka Berpikir ...
I. Hipotesis ...
BAB III METODE PENELITIAN ...
A. Metode dan Desain Penelitian ...
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
B. Populasi dan Sampel...
C. Instrumen Penelitian ...
D. Prosedur Penelitian ...
E. Analisis Data ...
F. Limitasi Penelitian ...
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ...
A. Temuan Penelitian ...
B. Pembahasan Temuan Penelitian ...
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI ...
A. Kesimpulan ...
B. Implikasi ...
C. Rekomendasi ...
DAFTAR PUSTAKA ...
54
56
57
61
61
71
79
79
79
79
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Tingkatan dan Contoh Pertanyaan dalam Pembelajaran Inquiry ....
Tabel 2.2. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Direct ...
Tabel 2.3. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dengan Multiple-Coping
Model ...
Tabel 2.4. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dengan Single Mastery
Model ...
Tabel 3.1. Kisi-kisiInstrumen Self-Efficacy ...
Tabel 3.2. Data Hasil Ujicoba Instrumen Skala Self-Efficacy ...
Tabel 3.3. Kisi-kisi Skala Self-Efficacy Setelah Uji Validitas ...
Tabel 3.4. Data Hasil Uji Reliabilitas ...
Tabel 3.5. Rangkaian Pelaksanaan Penelitian ...
Tabel 3.6 Ancaman Terhadap Desain Penelitian ...
Tabel 4.1. Data Skor Self-efficacy Siswa ...
Tabel 4.2. Data Uji Normalitas Self-efficacy Siswa ...
Tabel 4.3. Data Uji Homogenitas Self-efficacy Siswa ...
Tabel 4.4. Data Uji Homogenous Regression Slopes ...
Tabel 4.5. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok
Inquiry dengan Pemodelan Single-Mastery ...
Tabel 4.6. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok
Inquiry dengan Pemodelan Multiple-Coping ...
Tabel 4.6. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok
Direct ...
Tabel 4.7. Data Hasil Uji ANCOVA ... 27
32
33
35
48
50
52
53
55
57
61
62
63
64
65
66
67
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Relationships between the three major classes of determinants in
triadic reciprocal causation ...
Gambar 2.2. Four subprocesses governing observational learning ...
Gambar 3.1. Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design ...
Gambar 4.1. Grafik Skor Self-efficacy Siswa...
9
18
46
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Skala Self-efficacy Teknik Dasar Keterampilan Permainan
Bola Besar ...
Lampiran 2. Hasil Uji Validitas Instrumen ...
Lampiran 3. Program Pembelajaran InquirySingle-MasteryModel ...
Lampiran 4. Program Pembelajaran InquiryMultiple-CopingModel ...
Lampiran 5. Program Pembelajaran Direct Instruction ...
Lampiran 6. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry
dengan Pemodelan Single-Mastery Kelas VIII B ...
Lampiran 7. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry
dengan Pemodelan Multiple-Coping Kelas VIII A1 ...
Lampiran 8. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Tradisional
Kelas VIII E ...
Lampiran 9. Data Post-tes Kelompok Model Pembelajaran Inquiry
dengan Pemodelan Single-Mastery Kelas VIII B ...
Lampiran 10. Data Post-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry
dengan Pemodelan Multiple-Coping Kelas VIII A1 ...
Lampiran 11. Data Post-test Kelompok Model Pembelajaran Tradisional
Kelas VIII E ...
Lampiran 12. Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas ...
Lampiran 13. Hasil Uji-t Paired Sample ...
Lampiran 14. Hasil Uji Persyaratan ANCOVA ...
Lampiran 15. Hasil Uji ANCOVA ...
Lampiran 16. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian ...
Lampiran 17. Surat Keterangan Penelitian ...
Lampiran 18. Surat Keputusan Pengangkatan Pembimbing Tesis ...
Lampiran 19. Dokumentasi Penelitian ...
84
87
88
108
128
138
140
142
144
146
148
150
151
153
154
156
157
158
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
Dalam perspektif teori kognitif sosial, individu dipandang berkemampuan
proaktif dan mengatur diri daripada sebatas mampu berperilaku reaktif dan
dikontrol oleh kekuatan biologis atau lingkungan (Mukhid, 2009, hlm. 107).
Begitupun dalam proses pembelajaran, siswa dipandang sebagai individu yang
mampu mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakannya sendiri serta mengatur
dirinya sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan. Teori kognitif sosial
memandang bahwa faktor sosial, kognitif, dan perilaku memainkan peranan
penting dalam pembelajaran (Santrock, 2011, hlm. 285). Ketiganya saling
mempengaruhi satu sama lain. Faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk
meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid
terhadap perilaku orang-orang di lingkungannya (Santrock, 2011, hlm. 285).
Dalam teori kognitif sosial, salah satu faktor kognitif yang ditekankan
adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan
menghasilkan sesuatu yang positif (Santrock, 2011, hlm. 286). Secara lebih
spesifik, Bandura (1997, hlm. 3) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan
keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang untuk mengorganisasikan dan
melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil. Dengan kata lain self-efficacy
merupakan keyakinan seseorang atas kesuksesannya dalam melaksanakan suatu
tugas. Self-efficacy berkaitan dengan pemilihan aktivitas yang individu akan kejar.
Misalnya, ketika seseorang memiliki self-efficacy pada aktivitas tertentu, maka dia
akan cenderung memilih aktivitas tersebut. Jika orang-orang percaya mereka tidak
mempunyai kekuatan untuk memproduksi hasil, mereka tidak akan mencoba
untuk membuatnya terjadi (Bandura, 1997, hlm. 3). Keyakinan efficacy juga
membantu menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan orang dalam
2
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dan seberapa ulet mereka akan menghadapi situasi yang tidak cocok (Schunk
dalam Mukhid, 2009, hlm. 109).
Dalam perkembangannya self-efficacy terbagi ke dalam beberapa domain
spesifik. Domain spesifik yang menonjol terhadap efficacy seseorang sesuai
dengan tingkatan kehidupan (Berry & West dalam Suldo & Shaffer, 2007, hlm.
341). Selanjutnya Suldo dan Shaffer (2007, hlm. 342) mengatakan bahwa
academic, social, dan emotionalself-efficacy merupakan domain kompetensi yang
paling menonjol pada anak muda. Keyakinan akademik didefinisikan sebagai
penilaian pribadi seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisir dan
melaksanakan tugas untuk mencapai performa akademik (Zimmerman, 1995, hlm.
203). Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya keyakinan akademik
berhubungan dengan phobia sekolah, depresi, dan perilaku menyimpang
(Bandura, Caprara, Barbaranelli, Gerbino, & Pastorelli, 2003). Oleh karena itu
keyakinan akademik merupakan salah satu aspek penting bagi siswa untuk sukses
dalam pembelajaran.
Selain menyangkut akademik secara umum, academic self-efficacy juga
menyangkut tugas-tugas akademik secara spesifik, seperti self-efficacy pada mata
pelajaran tertentu dan juga keterampilan-keterampilan tertentu dalam
pembelajaran (Garlin, 2014 hlm. 8). Keyakinan akademik secara spesifik juga
penting bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah, termasuk dalam
pembelajaran penjas. Menurut Schunk (dalam Santrock, 2011, hlm. 523), konsep
self-efficacy mempengaruhi pilihan aktivitas oleh murid. Murid dengan
self-efficacy rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya yang
menantang dan sulit, sedangkan murid dengan level self-efficacy tinggi mau
mengerjakan tugas-tugas seperti itu. Murid dengan level self-efficacy tinggi lebih
mungkin untuk tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid
yang berlevel rendah. Oleh karena itu keyakinan akademik yang tinggi juga akan
menggiring siswa lebih yakin akan kemampuannya untuk sukses dalam
pembelajaran penjas. Sedangkan keyakinan akademik yang rendah akan
3
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dimiliki siswa untuk bisa sukses dalam pembelajaran. Akhirnya siswa mengikuti
pembelajaran penjas hanya karena tuntutan kewajiban bukan karena keinginan
dalam diri siswa sendiri. Yang kemungkinan juga akan berdampak pada
ketidaksenangan siswa melakukan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-harinya.
Oleh karena itu, self-efficacy dalam pembelajaran penjas di sekolah merupakan
salah satu aspek penting yang harus mendapatkan perhatian sehingga diharapkan
seluruh siswa memiliki self-efficacy yang tinggi.
Namun kenyataannya, kondisi siswa di sekolah beragam dan berbeda satu
sama lain termasuk dari segi psikomotorik (keterampilan). Pembelajaran penjas
yang menggunakan media aktivitas fisik dan keterampilan gerak seringkali
membuat siswa yang memiliki keterampilan gerak yang rendah merasa minder
dibanding dengan siswa yang memiliki keterampilan gerak yang tinggi. Hal ini
bisa jadi akan menyebabkan siswa yang berketerampilan rendah tidak memiliki
keyakinan untuk sukses dalam pembelajaran penjas. Dengan kata lain siswa yang
memiliki self-efficacy yang rendah akan berdampak pada keterlibatannya dalam
pembelajaran penjas dan menjadi tidak optimal. Siswa mengikuti pembelajaran
bukan karena perasaan yang baik terhadap kesuksesannya dalam pembelajaran
melainkan hanya karena tuntutan akademik. Hal ini juga terjadi pada siswa-siswi
kelas VIII MTsN Watampone. Dari pengamatan penulis dan juga wawancara
dengan guru penjas di sekolah tersebut, terlihat bahwa secara umum siswa-siswi
kelas VIII masih memiliki keterampilan yang rendah dalam pembelajaran penjas
yang mungkin disebabkan karena self-efficacy siswa yang rendah. Hal ini juga
terlihat dari sebagian besar siswa yang cenderung kurang percaya diri dalam
mempraktikkan teknik dasar yang diajarkan oleh gurunya.
Penggunaan model pembelajaran direct yang telah diterapkan oleh guru
penjas sejak lama juga dimungkinkan belum efektif dalam meningkatkan
self-efficacy yang dimiliki siswa. Model pembelajaran direct cenderung berorientasi
hasil dan kurang menekankan proses-proses pembelajaran yang bermakna.
Sehingga siswa cenderung bergantung pada drill-drill yang diinstruksikan dan
4
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
keterampilan yang dilakukan siswa tidak bermakna bagi siswa itu sendiri sehingga
siswa tidak mandiri dalam pembelajaran. Meskipun keberhasilan didapatkan,
kemungkinan siswa tetap akan memiliki keyakinan yang rendah untuk sukses
pada tugas-tugas yang lainnya karena keberhasilan yang diperoleh bukan berasal
dari usahanya sendiri.
Perubahan kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 yang berbasis scientific
method menuntut penggunaan model pembelajaran yang mengarah pada
scientific, salah satunya adalah model pembelajaran inquiry, tak terkecuali dalam
pembelajaran penjas. Model pembelajaran inquiry merupakan model
pembelajaran yang menggunakan proses pemecahan masalah sebagai pendekatan
pembelajaran. Metzler (2000, hlm. 313) menjelaskan bahwa di dalam model
pembelajaran inquiry “guru membingkai masalah dengan menggunakan
pertanyaan, memberikan siswa beberapa waktu untuk membuat dan menyelidiki
satu atau lebih solusi atau jawaban yang masuk akal.” Model pembelajaran
inquiry selain mampu mengembangkan kognitif dan psikomotor siswa juga
mampu mengembangkan afektif siswa (Metzler, 2000, hlm.314). Model
pembelajaran inquiry juga terbukti mampu meningkatkan self-efficacy siswa
dalam pembelajaran sains (Tuan, Chin, Tsai, & Cheng, 2005). Oleh karena itu
diharapkan model pembelajaran inquiry juga mampu meningkatkan self-efficacy
siswa dalam pembelajaran penjas.
Selain model pembelajaran inquiry, pemodelan juga dianggap bisa
meningkatkan self-efficacy siswa. Pemodelan atau pinpointing seringkali
digunakan guru penjas untuk menyajikan informasi tentang keterampilan yang
akan diajarkan kepada siswa. Pemodelan dapat dilakukan oleh guru sendiri. Selain
itu pemodelan juga seringkali dilakukan guru penjas dengan cara memilih salah
satu atau beberapa siswa yang mampu mendemonstrasikan aspek keterampilan
yang diajarkan dan menyuruh memperagakannya kepada siswa lainnya
(Suherman, 2009, hlm. 117). Menurut teori sosial kognitif Bandura tentang
modeling, observer mencoba untuk mencocokkan respon mereka terhadap apa
5
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
demonstrasi verbal atau visual. Informasi ini kemudian tersimpan dalam memori
lalu diterjemahkan dalam gerakan ketika ada kesempatan mempresentasikannya
(Weiss dkk, 1998, hlm. 380). Dengan kata lain dalam pemodelan dan kaitannya
dengan self-efficacy, siswa mengobservasi model yang ditemuinya kemudian
secara kognitif membandingkannya dengan dirinya. Hal ini akan berdampak pada
self-efficacynya. Dalam kondisi pembelajaran, siswa-siswa yang diperlihatkan
demonstrasi performa oleh model akan membandingkan dirinya dengan model.
Ketika model mampu melakukan performa dengan baik, maka kemungkinan
siswa-siswa observer akan merasakan keyakinan untuk mampu melakukan
performa tersebut dengan baik pula. Namun keyakinan tersebut juga bergantung
pada kesamaannya dengan model (Bandura, 1997, hlm. 96). Kesamaan
pengamat-model dalam kompetensi juga bisa meningkatkan pembelajaran (Braaksma, dkk.
dalam Schunk, 2012, hlm. 510).
Pemodelan juga terdapat dalam pelaksanaan model pembelajaran inquiry.
Dalam model pembelajaran inquiry, guru meminta siswa yang mampu melakukan
teknik gerakan dengan benar untuk mempraktekkannya lagi di depan kelas
(Metzler, 2000, hlm. 336). Namun teori-teori dan hasil penelitian menunjukkan
bahwa pemodelan sebaya yang dilakukan oleh lebih dari satu orang (multiple
model) lebih baik dalam meningkatkan self-efficacy siswa dibandingkan dengan
pemodelan yang hanya dilakukan oleh satu orang (single model). Misalnya Perry
dan Bussey (dalam Bandura, 1997, hlm. 99) mengatakan bahwa pemodelan yang
dilakukan oleh lebih dari satu orang (multiple modeling) akan memperkuat
vicarious experience atau pengalaman yang seperti dirasakan sendiri. Hal ini akan
meningkatkan self-efficacy. Di sisi lain, self-efficacy juga dipengaruhi oleh coping
model, yaitu pemodelan yang dilakukan dengan mendemonsrasikan dan
menyatakan pembelajaran dan performa tugas secara bertahap dari tidak mampu
menjadi mampu (Weiss, dkk., 1998, hlm. 381). Hasil penelitian Schunk, Hanson,
dan Cox (1987) juga menemukan bahwa multiple model dan coping model lebih
baik dalam mempromosikan self-efficacy, keterampilan, dan performa latihan
6
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Teori dan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemodelan berperan
dalam peningkatan self-efficacy siswa. Namun sejauh ini penggunaan dan
pemanfaatan pemodelan dalam pembelajaran pendidikan jasmani belum
maksimal. Dari pengamatan penulis, guru-guru penjas masih cenderung
menerapkan pemodelan dengan mengandalkan mastery model dalam hal ini guru
itu sendiri ataupun siswa yang memiliki keterampilan yang tinggi. Oleh karena itu
penggunaan pemodelan multiple dan coping juga sebaiknya digunakan dalam
pembelajaran penjas agar self-efficacy siswa bisa ditingkatkan, khususnya juga
pada pelaksanaan model pembelajaran inquiry. Akan tetapi belum ada bukti
empiris yang menunjukkan pengaruh pemodelan apabila diterapkan di dalam
model pembelajaran inquiry terhadap self-efficacy siswa. Sehingga belum
diketahui apakah ada perbedaan pengaruh antara model pembelajaran inquiry
yang menggunakan pemodelan multiple-coping dengan model pembelajaran
inquiry yang umumnya menggunakan pemodelan single-mastery. Oleh karena itu
penelitian ini akan mengungkap pengaruh model pembelajaran inquiry dan
pemodelan terhadap self-efficacy siswa.
B. Identifikasi Masalah Penulisan
Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis
mengidentifikasi beberapa masalah yang melatarbelakangi penelitian ini:
1. Banyak siswa di dalam kelas penjas yang berketerampilan rendah sehingga
memiliki self-efficacy yang rendah pula, khususnya pada siswa kelas VIII
MTsN Watampone.
2. Model pembelajaran direct cenderung berorientasi hasil dan mengabaikan
proses-proses belajar sehingga membuat siswa kurang mandiri dalam
menyelesaikan masalahnya yang bisa jadi akan berdampak pada rendahnya
self-efficacynya.
3. Penggunaan pemodelan oleh guru-guru penjas yang cenderung masih
7
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4. Belum ada bukti empirik yang menunjukkan pengaruh model pembelajaran
dan pemodelan terhadap peningkatan self-efficacy siswa dalam pembelajaran
penjas.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, penelitian ini
diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Oleh karena
itu berikut rumusan masalah penelitian ini:
1. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa
yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery?
2. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa
yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping?
3. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa
yang mengikuti model pembelajaran direct?
4. Manakah model pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan
self-efficacy siswa?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang
telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu penelitian ini memiliki beberapa
tujuan, yaitu:
1. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang
mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery.
2. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang
mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping.
3. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang
mengikuti model pembelajaran direct.
4. Mengungkap model pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan
self-efficacy siswa.
8
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan memberikan manfaat secara
teoritis dan praktis.
1. Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan akan menambah literatur tentang pengaruh model
pembelajaran inquiry terhadap afektif siswa.
b. Diharapkan mampu memperkuat teori-teori model pembelajaran inquiry yang
bisa meningkatkan aspek afektif siswa.
2. Praktis
a. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi rujukan dalam pelaksanaan
pembelajaran penjas di sekolah-sekolah khususnya di Kabupaten Bone,
Sulawesi Selatan.
b. Penelitian ini juga diharapkan mendukung kurikulum 2013 yang berbasis
scientific sekaligus menjadi bahan promosi kepada masyarakat bahwa penjas
tidak hanya sekedar bermain.
F. Struktur Organisasi Tesis
Tesis ini terdiri dari lima bab yaitu, bab pendahuluan, bab kajian pustaka,
bab metode penelitian, bab temuan dan pembahasan, dan bab simpulan, implikasi,
dan rekomendasi. Setiap bab memuat pembahasan yang berbeda-beda.
Bab pertama yaitu bab pendahuluan memuat latar belakang masalah yang
berisi teori-teori, hasil-hasil penelitian, dan gambaran kondisi lapangan yang
menggambarkan masalah yang mendasari pemilihan judul penelitian, identifikasi
masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
struktur organisasi tesis.
Bab kedua yaitu bab kajian teori memuat pemaparan teori-teori yang
berkaitan dengan variabel penelitian, hasil-hasil penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan variabel penelitian, kerangka berpikir yang membahas
sinkronisasi teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang akan mendukung hipotesis
9
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bab ketiga yaitu bab metode penelitian memuat metode dan desain
penelitian yang digunakan, populasi dan sampel, instrument yang digunakan
dalam penelitian, prosedur penelitian, dan analisi data.
Bab keempat yaitu bab temuan dan pembahasan memuat temuan penelitian
yang berisi pemaparan data hasil penelitian secara rinci dan juga pengujian
hipotesis penelitian, serta pembahasan yang berisi penjelasan dan diskusi hasil
penelitian.
Bab kelima yaitu bab kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi memuat
kesimpulan jawaban dari hasil penelitian. Kesimpulan ini juga merupakan
jawaban dari pertanyaan penelitian. Bab ini juga memuat implikasi yaitu
pemaparan tentang implikasi penelitian dimasa mendatang dan rekomendasi yang
berisi rekomendasi penulis kepada penelitian-penelitian yang akan dilakukan
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
45
BAB III
METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
quasi-eksperiment dengan desain nonequivalent pretest and posttest control group
(Creswell, 2010, hlm. 242). Lebih lanjut Creswell (2010, hlm. 238) menjelaskan
bahwa dalam quasi-eksperiment, penulis menggunakan kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen, namun tidak secara acak memasukkan (nonrandom
assignment) para partisipan ke dalam dua kelompok tersebut (misalnya, mereka
bisa saja berada dalam satu kelompok utuh yang tidak dapat dibagi-bagi lagi).
Fraenkel, dkk. (2012, hlm. 267) mengemukakan bahwa random assignment
berarti bahwa setiap individu yang berpartisipasi dalam sebuah eksperimen
memiliki kesempatan yang sama untuk ditempatkan ke dalam kelompok
eksperimen ataupun kelompok kontrol. Alasan memilih metode dan desain
penelitian ini adalah karena tidak memungkinkan untuk membentuk kelas baru
(memecah kelas yang sudah ada) di sekolah yang dijadikan tempat penelitian
karena terbentur dengan sistem sekolah dan keberlangsungan mata pelajaran lain.
Kondisi siswa juga tidak memungkinkan menciptakan kelas baru di luar jam
pelajaran sekolah karena terbentur izin orang tua siswa sehingga tidak
memungkinkan untuk melakukan random assignment dan memilih metode
true-eksperiment.
Dalam penelitian ini, variabel bebas (independent variable) atau variabel
yang menjadi penyebab atau mempengaruhi adalah model pembelajaran inquiry
pemodelan single-mastery, model pembelajaran inquiry pemodelan
multiple-coping, dan model pembelajaran direct. Sedangkan variabel terikat (dependent
variable) atau variabel yang dipengaruhi atau yang mendapat akibat dari
perlakuan variabel penyebab yaitu self-efficacy siswa. Kelompok eksperimen
dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu model pembelajaran inquiry
pemodelan single-mastery dan model pembelajaran inquiry pemodelan
46
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
gambaran, penulis sajikan gambaran desain penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Treatment group O1 X1 O2
Treatment group O1 X2 O2
Control group O1 C O2
Gambar 3.1.
Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design
Keterangan:
O1: Pre-test self-efficacy sebelum perlakuan
O2: Post-test self-efficacy setelah perlakuan
X1 : Eksperimen (model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery)
X2 : Eksperimen (model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping)
C : Kontrol (model pembelajaran direct)
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN
Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, yang berjumlah 537
siswa yang terbagi dalam 18 kelas. Alasan memilih VIII MTsN Watampone
sebagai lokasi penelitian adalah karena belum pernah ada penelitian yang
berkaitan dengan model pembelajaran inquiry dalam pendidikan jasmani yang
dilakukan di sekolah ini. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah
percontohan di Kabupaten Bone. Sekolah ini juga menerapkan kurikulum 2013
yang sesuai dengan model pembelajaran inquiry. Selain itu dari pengamatan
penulis, guru pendidikan jasmani masih menggunakan model pembelajaran
tradisional dalam pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan penelitian yang
dilakukan ini memberikan pemahaman sekaligus terobosan model pembelajaran
dalam pendidikan jasmani terhadap guru di sekolah ini khususnya dan
47
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Sampel
Penentuan jumlah sampel sesuai dengan usulan Fraenkel (2012, hlm. 103) bahwa “For experimental and causal comparative studies, we recommend a minimum of 30 individuals per group, although sometimes experimental studies
with only 15 individuals in each group can be defended if they are very tightly
controlled.” Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 30 orang, oleh karena itu
jumlah siswa tersebut sudah memenuhi ukuran jumlah sampel yang disarankan
dalam penelitian eksperimen.
Untuk teknik pengambilan sampelnya, pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling (sampel daerah). “Dalam cluster sampling, yang dipilih bukan individu melainkan kelompok atau area yang kemudian disebut cluster” (Maksum, 2012, hlm.57). Alasan memilih
teknik sampling ini adalah karena tidak memungkinkan untuk membentuk kelas
baru dalam sekolah yang dijadikan tempat penelitian (memecah kelas yang sudah
ada) seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu tidak
memungkinkan juga melakukan teknik simplerandom sampling.
Sampel diambil dengan mengacak populasi yakni kelas VIII yang berjumlah
18 kelas. Kemudian diambil tiga kelas yang akan diberikan perlakuan sesuai
dengan desain penelitian yang digunakan. Ketiga kelas yang terpilih yaitu kelas
VIII B, kelas VIII E, dan kelas VIII A1. Selanjutnya ketiga kelas yang terpilih
diacak lagi untuk ditempatkan sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Kelas
VIII B dan kelas VIII A1 terpilih sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII E
terpilih sebagai kelompok kontrol. Kelas VIII B akan menerima perlakuan model
pembelajaran inquiry dengan pemodelan single-mastery sedangkan kelas VIII A1
akan menerima perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan
multiple-coping.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala self-efficacy.
Instrumen ini dibuat sendiri oleh penulis yang dikembangkan dari toeri
48
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola
besar dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Skala penilaian pada skala ini
menggunakan skala Likert yang terdiri dari lima pilihan respon yaitu sangat tidak
setuju (STS), tidak setuju (TS), ragu-ragu (R), setuju (S), dan sangat setuju (SS).
Item-item dalam skala dikembangkan dalam dua tipe yaitu item favorable dan
item yang tidak favorable. Penskoran item yang favorable dimulai dari skor 1
pada respon STS sampai pada skor 5 pada respon SS. Sebaliknya untuk
penskoran item yang favorable dimulai dari skor 5 pada respon STS sampai pada
skor 1 pada respon STS.
1. Definisi Konseptual
Berikut definisi konseptual self-efficacy yang dikemukakan oleh beberapa
ahli. Menurut Ormrod (2008, hlm. 20) secara umum, self-efficacy adalah penilaian
seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu
untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Bandura (1997, hlm. 3)
self-efficacy mengacu pada keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang untuk
mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil.
Berdasarkan teori-teori self-efficacy yang dikemukakan oleh para ahli, maka
self-efficacy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang atas kesuksesannya dalam
melaksanakan suatu tugas.
2. Definisi Operasional
Berdasarkan definisi konseptual yang telah dikemukakan oleh para ahli
maka self-efficacy dalam penelitian ini didefinisikan sebagai keyakinan siswa
terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola
besar dengan baik dalam pembelajaran pendidikan jasmani.
3. Kisi-kisi Instrumen Self-efficacy
Berikut penjabaran kisi-kisi skala self-efficacy dari variabel self-efficacy
pada (Bandura, 1997, hlm. 42-43):
Tabel 3.1.
49
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Variabel Sub Variabel Indikator Item
+ - Self-efficacy Definisi Operasional: Keyakinan siswa terhadap 1.Level Keyakinan siswa terhadap kemampuannya untuk Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang sulit
19, 35, 1, 29, 44, 11 10, 18, 30, 20, 38
Variabel Sub Variabel Indikator Item
50
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
aktivitas.
3.Strength
Keyakinan yang kuat siswa terhadap
kemampuannya untuk
mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar
Yakin
mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar lebih baik dibandingkan orang lain
27, 37, 9, 25
8, 40, 26, 42
4. Uji Validitas Skala
Sebelum digunakan sebagai alat pengumpul data, skala ini terlebih dahulu
diuji oleh pakar psikologi. Setelah uji pakar, skala kemudian diujicobakan ke
siswa SMP lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan sampel penelitian
yaitu SMP Labschool UPI. Setelah itu uji validitas instrumen dilakukan dengan
menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak
SPSS 18 di komputer agar bisa digunakan sebagai alat pengumpul data yang
akurat. Untuk menentukan kriteria item dianggap valid maka digunakan batasan koefisien korelasi item-total (riX) ≥ 0,30 (Azwar, 2014, hlm. 86). Item yang tidak valid akan dibuang dan hanya item yang valid yang akan digunakan sebagai skala
self-efficacy dalam penelitian ini. Berikut tabel hasil uji validitas instrumen skala
self-efficacy siswa.
Tabel 3.2.
Data Hasil Ujicoba Instrumen Skala Self-Efficacy
Item Skala riX Kesimpulan
Item 1 0.446 valid
Item 2 0.738 valid
Item 3 0.241 tidak valid
Item 4 0.183 tidak valid
Item 5 0.614 valid
51
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Item Skala riX Kesimpulan
Item 7 0.433 valid
Item 8 0.724 valid
Item 9 -0.159 tidak valid
Item 10 0.389 valid
Item 11 0.503 valid
Item 12 0.344 valid
Item 13 0.329 valid
Item 14 0.461 valid
Item 15 0.577 valid
Item 16 0.215 tidak valid
Item 17 0.171 tidak valid
Item 18 0.095 tidak valid
Item 19 0.363 valid
Item 20 0.298 tidak valid
Item 21 0.306 valid
Item 22 0.000 tidak valid
Item 23 0.503 valid
Item 24 0.505 valid
Item 25 0.520 valid
Item 26 0.345 valid
Item 27 0.593 valid
Item 28 0.190 tidak valid
Item 29 0.355 valid
Item 30 0.302 valid
Item 31 0.562 valid
Item 32 0.393 valid
Item 33 -0.105 tidak valid
Item 34 0.677 valid
52
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Item Skala riX Kesimpulan
Item 36 0.509 valid
Item 37 0.371 valid
Item 38 0.384 valid
Item 39 0.282 tidak valid
Item 40 0.181 tidak valid
Item 41 0.618 valid
Item 42 0.640 valid
Item 43 0.632 valid
Item 44 0.575 valid
Item 45 0.491 valid
Item 46 0.144 tidak valid
Setelah pengujian validitas dilakukan, diperolehlah beberapa item
pernyataan yang valid dan tidak valid dari skala self-efficacy yang diujicobakan.
Item yang tidak valid dibuang sehingga hanya item yang valid saja yang
digunakan sebagai instrumen skala self-eficacy. Selanjutnya item-item yang valid
tersebut diberi penomoran kembali dan diacak untuk disusun sebagai instrument
yang akan digunakan. Berikut kisi-kisi dan item-item self-efficacy yang valid dan
yang akan digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini pada Tabel
3.3.
Tabel 3.3.
Kisi-kisi Skala Self-Efficacy Setelah Uji Validitas
Variabel Sub Variabel Indikator Item
+ -
Self-efficacy
Definisi Operasional:
Keyakinan siswa terhadap
1. Level
Keyakinan siswa terhadap
kemampuannya untuk
Yakin
mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam
tingkatan tantangan
13, 1, 20, 31, 8
53
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dengan baik dalam pembelajaran pendidikan jasmani. mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan tugas
gerakan yang sulit
Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang sedang 10, 22, 14
2, 9, 24
Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang mudah
3, 30 11
Variabel Sub Variabel Indikator Item
+ - 2.Generality Keyakinan siswa terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam perluasan bidang aktivitas. Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam permainan yang sebenarnya 32, 12, 15, 28, 5 4, 23, 16, 25 3.Strength Keyakinan yang kuat siswa terhadap kemampuannya untuk Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar lebih baik dibandingkan
19, 26, 17
54
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar
orang lain
5. Uji Reliabilitas Skala
Setelah uji validitas instrumen, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas
instrumen. Uji reliabilitas dilakukan untuk menguji kecermatan instrumen yang
berimplikasi pada konsistensi instrumen (Azwar, 2014, hlm. 112). Uji reliabilitas
instrumen dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 18 pada komputer.
[image:30.595.101.509.84.160.2]Berikut tabel hasil uji reliabilitas instrument.
Tabel 3.4.
Data Hasil Uji Reliabilitas
Cronbach's Alpha N of Items
.910 32
Kriteria reliabilitas instrumen menggunakan batasan koefisien reliabilitas
(rxx’) ≥ 0,90. Dari hasil uji reliabilitas, diperoleh skor koefisien reliabilitas sebesar
0,910. Karena skor yang diperoleh melebihi batasan yang telah ditetapkan, maka
instrumen dianggap reliabel dan siap untuk digunakan dalam penelitian.
D. Prosedur Penelitian
Perlakuan berlangsung selama lima pertemuan. Dalam satu minggu hanya
ada satu kali pertemuan. Namun sebelum perlakuan, terlebih dahulu diadakan satu
pertemuan untuk pre-test (sebelum perlakuan) dan juga satu pertemuan untuk
post-test (setelah perlakuan).
1. Pre-test
Pre-test dilaksanakan sebelum pemberian perlakuan. Pre-test bertujuan
mengetahui sejauh mana self-efficacy yang dimiliki siswa. Untuk mengetahui skor
55
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kelompok kontrol. Pre-test ini berlangsung satu pertemuan yaitu pada pertemuan
pertama.
2. Perlakuan
Dalam penelitian ini, kelompok eksperimen ada dua kelompok. Kelompok
pertama diberikan perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan
single-mastery. Kelompok kedua diberikan perlakuan model pembelajaran inquiry
dengan pemodelan multiple-coping. Sedangkan untuk kelompok kontrol tidak
diberikan perlakuan. Kelompok kontrol hanya menerima model pembelajaran
direct yang telah diterapkan oleh guru penjas di sekolah tersebut secara rutin.
Sebelum perlakuan diberikan, terlebih dahulu ditetapkan siswa yang akan
menjadi model dalam pemberian perlakuan di kelompok eksperimen sehingga
data self-efficacy siswa yang akan diambil berasal dari siswa yang murni sebagai
observer selama penelitian berlangsung. Sehingga siswa yang menjadi model,
tidak termasuk ke dalam sampel penelitian. Model diambil dengan cara
melakukan seleksi pada saat hari pertama penelitian setelah pemberian pre-test.
Seleksi dilakukan dengan cara menginstruksikan kepada seluruh siswa dalam satu
kelas untuk mempraktekkan teknik-teknik dasar permainan bola besar. Kemudian
dari hasil pengamatan, diambillah siswa yang akan menjadi model yang sesuai
dengan desain penelitian. Kelas VIII B merupakan kelompok eksperimen dengan
perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan single-mastery. Oleh
karena itu pada kelas VIII B diambil satu orang siswa yang memiliki keterampilan
tinggi dan dianggap mampu (mastery) mempraktekkan teknik-teknik dasar
permainan bola besar di depan kelas selama perlakuan diberikan. Sedangkan
Kelas VIII A1 merupakan kelompok eksperimen dengan perlakuan model
pembelajaran inquiry dengan pemodelan multiple-coping. Oleh karena itu pada
kelas VIII A1 diambil tiga orang siswa yang memiliki keterampilan sedang dan
dianggap mampu mempraktekkan teknik-teknik dasar permainan bola besar
secara gradual dari ragu-ragu hingga mampu (coping) di depan kelas selama
perlakuan diberikan. Kegiatan dan hasil seleksi ini tidak diumumkan kepada
56
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Seleksi juga dilakukan semirip mungkin dengan proses pembelajaran penjas
sehari-hari sehingga kegiatan ini tidak disadari oleh siswa sebagai proses seleksi.
Perlakuan diberikan kepada sampel penelitian selama lima pertemuan.
Alasan memberikan perlakuan lima pertemuan merujuk pada hasil penelitian yang
dilakukan oleh Chung dan Ro (2004) yang menemukan peningkatan self-efficacy
siswa setelah perlakuan pembelajaran problem solving selama lima pertemuan.
Tema atau materi pembelajaran yang diajarkan pada kedua kelompok sesuai
dengan kurikulum yang berlaku. Berikut rangkaian pelaksanaan penelitian yang
[image:32.595.110.521.320.712.2]akan dilakukan pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5.
Rangkaian Pelaksanaan Penelitian
Perte-muan Kegiatan Konten Jadwal
1
Pre-test Pemberian skala self-efficacy kepada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
17 & 18
April 2015 Pemilihan
model
Seleksi siswa terhadap kemampuannya
mempraktekkan teknik dasar permainan bola
besar
2
Penerapan
Model
Pembelajaran
Bola Basket (dribbling) 24 & 25 April 2015
3 Bola Basket (chest pass) 1 & 2 Mei
2015
4 Sepakbola (dribbling) 8 & 9
Mei 2015
5 Sepakbola (passing kaki dalam) 15 & 16 Mei 2015
6 Bola Voli (passing bawah) 22 & 23
57
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Perte-muan Kegiatan Konten Jadwal
7 Post-test Pemberian skala self-efficacy kepada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
27 & 28
Mei 2015
3. Post-test
Post-test dilaksanakan setelah pemberian perlakuan. Post-test bertujuan
mengetahui sejauh mana perubahan self-efficacy yang dimiliki siswa setelah
perlakuan. Untuk mengetahui skor post-test tersebut, skala self-efficacy diberikan
pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sama dengan pre-test,
post-test ini berlangsung satu pertemuan namun berlangsung pada pertemuan terakhir
pada penelitian ini setelah pemberian perlakuan model pembelajaran.
E. Analisis Data
Sebelum menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji
persyaratan data dengan uji normalitas, uji homogenitas, dan homogenous
regression slopes. sebagai uji persyaratan sebelum melakukan uji ANCOVA
dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18. Uji normalitas dilakukan untuk
mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji
Normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov-Smirnov pada SPSS 18. Uji
homogenitas data dilakukan setelah uji normalitas. Uji homogenitas dilakukan
untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari sampel atau populasi
yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji
Levene pada SPSS 18. Setelah itu uji homogenous regression slopes dilakukan
sebagai uji persyaratan sebelum melakukan uji ANCOVA.
Setelah uji normalitas dan uji homogenitas, dilakukan uji hipotesis. Uji
hipotesis dilakukan untuk memperoleh kesimpulan dari data yang diperoleh.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari
model pembelajaran inquiry terhadap self-efficacy siswa. Teknik statistik yang
58
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
uji Analysis of Covariance (ANCOVA) dengan menggunakan perangkat lunak
SPSS 18 pada komputer.
Uji-t paired sample digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan
skor self-efficacy siswa pada kelompok eksperimen. Sedangkan uji Analysis of
Covariance (ANCOVA) digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
model pembelajaran terhadap self-efficacy siswa. ANCOVA digunakan dalam
desain penelitian ini karena ANCOVA dianggap lebih baik dalam menganalisis
hasil penelitian yang menggunakan pre-test dan post-test dibandingkan dengan
menggunakan skor gain (Gall, Gall, & Borg, 2010, hlm. 202). Selanjutnya Gall
dkk. (2010, hlm 202-203) mengatakan bahwa “ANCOVA adjusts each research
participant’s posttest score, either up or down, to take into account his pretest
score”
F. Limitasi Penelitian
Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan terhadap berbagai faktor yang
bisa mempengaruhi hasil penelitian. Berikut ini adalah upaya yang dilakukan guna
meminimalisir ancaman tersebut:
1. Metode Penelitian
Menurut McMillan dan Schumacher (2001, hlm. 347), ada beberapa
[image:34.595.160.469.528.717.2]ancaman terhadap nonequivalent pretest and posttest control group design.
Tabel 3.6.
Ancaman Terhadap Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design
No. Threat Keefektifan
1 History ?
2 Selection -
3 Statisical Regression ?
4 Pretesting +
5 Instrumentation ?
6 Subject Attrition ?
7 Maturation -
8 Diffusion of Treatment ?
59
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
No. Threat Keefektifan
10 Treatment Replication ?
11 Subject Effects ?
12 Statistical Conclusion ?
Keterangan: (+) = dapat dikontrol; (?) = berpeluang memberikan ancaman
Pada Tabel 3.6. terlihat bahwa ancaman pada validitas internal pada desain
ini yang dapat dikontrol yaitu pretesting. Validitas internal yang berpeluang
memberikan ancaman adalah history, statistical regression, instrumentation,
subject attrition, diffusion of treatment, experimenter effects, treatment
replication, subject effects, dan statistical conclusion. Sedangkan ancaman yang
dikontrol lemah dalam penelitian ini adalah selection dan maturation. Oleh karena
itu ada beberapa langkah-langkah yang diambil untuk meminimalisir
ancaman-ancaman tersebut yaitu:
a. History
Penelitian ini melibatkan tiga kelompok sampel. Namun sampel dalam
penelitian ini berasal di satu sekolah yakni MTsN Watampone. Oleh karena itu,
ancaman pengaruh history pada sampel penelitian bisa diminimalisir.
b. Statistical Regression
Pemilihan sampel pada sekolah yang dijadikan tempat penelitian juga
didasarkan pada observasi awal yang mengasumsikan bahwa secara umum skor
self-efficacy siswa di sekolah tersebut rendah. Sehingga kecendrungan siswa
untuk memiliki skor self-efficacy yang tinggi tidak terjadi.
c. Instrumentation
Sebelum pengisian skala, siswa terlebih dahulu diberi penjelasan mengenai
tata cara pengisian skala yang jelas serta penjelasan tentang dampak pengisian
skala yang tidak akan mempengaruhi nilai pelajaran pendidikan jasmani sehingga
siswa akan mengisi skala sesuai dengan apa yang dirasakannya secara jujur. Skala
yang digunakan pada saat pretest juga sama dengan yang digunakan pada saat
posttest.
60
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Sampel dalam penelitian ini berjumlah yang sama dari awal penelitian
hingga akhir penelitian. Tidak ada siswa yang mengundurkan diri pada saat
penelitian berlangsung.
e. Diffusion of Treatment
Perlakuan kepada ketiga kelompok penelitian diberikan pada waktu yang
berbeda-beda sesuai dengan jadwal jam pelajaran pada sekolah tempat penelitian
berlangsung sehingga kemungkinan biasnya hasil penelitian yang disebabkan oleh
pengamatan siswa pada satu kelompok pada kelompok yang lain bisa
diminimalisir.
f. Experimenter Effects
Perlakuan model pembelajaran pada ketiga kelompok penelitian dilakukan
oleh penulis yang bertindak sebagai guru sehingga perbedaan respon ketiga
kelompok penelitian bisa diminimalisir.
g. Treatment Replication
Pemberian perlakuan dilakukan dalam satu kelas dan satu waktu dengan
kata lain kelas tidak dipecah ke dalam beberapa kelompok sehingga penulis tidak
memberikan treatment model pembelajaran dalam beberapa sesi. Hal ini untuk
menghindari ancaman treatment replication yang bisa berdampak pada hasil
penelitian.
h. Subject Effect
Untuk mengurangi dampak subjektifitas subjek penelitian pada proses dan
hasil penelitian, penulis tidak menyampaikan informasi tentang penelitian kepada
siswa sehingga hal ini bisa menghindari biasnya hasil penelitian yang disebabkan
oleh perbedaan perilaku siswa pada ketiga kelompok penelitian.
i. Statistical Conclusion
Teknik analisis data yang digunakan dalam menguji hipotesis dalam
penelitian ini sesuai prosedur statistik yang dilandasi beberapa literatur. Selain itu
masukan-masukan tentang analisis data juga diperolah dari konsultasi dosen
pembimbing.
61
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pemilihan sampel penelitian yang merupakan kelas utuh dan tidak memecah
kelas atau membagi ke dalam kelompok kecil memungkinkan penelitian berjalan
secara natural sesuai dengan kondisi siswa pada saat sebelum adanya penelitian
sehingga siswa tidak perlu lagi melakukan adaptasi dengan kelas atau kelompok
penelitian.
k. Maturation
Sampel yang dipilih memiliki umur yang relatif sama dan pelaksanaan
penelitian tidak memakan waktu yang lama sehingga perubahan kedewasaan
sampel diasumsikan tidak akan mempengaruhi hasil penelitian.
2. Faktor-faktor lainnnya
Banyak faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi self-efficacy karena
self-efficacy meruapakan aspek psikologi. Oleh karena itu peneliti akan mengontrol
faktor yang memungkinkan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah agar
perubahan self-efficacy siswa dalam peneltian ini sebisa mungkin hanya berasal
dari perlakuan yang diberikan yakni model pembelajaran dan pemodelan. Faktor
yang bisa dikontrol dalam penelitian ini adalah pemberian feedback. Setiap
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan feedback yang sama yaitu
feedback positif pada setiap pembelajarannya sehingga perbedaan pengaruh
feedback terhadap self-efficacy siswa pada ketiga kelompok bisa diminimalisir.
Namun karena keterbatasan penulis, maka ada beberapa faktor yang tidak dapat
dikontrol pada penelitian ini yaitu: kondisi fisiologis dan emosiona siswa. Kondisi
fisiologis dan emosional dapat juga mempengaruhi self-efficacy. Penulis
menyadari bahwa banyak faktor yang tidak dapat dikontrol dalam penelitian ini,
sehingga memberikan ancaman terhadap hasil penelitian ini. Sehingga untuk
menghindari biasnya hasil penelitian, diharapkan penelitian selanjutnya dapat
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
79
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat peningkatan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test
self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan
single-mastery.
2. Terdapat peningkatan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test
self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan
multiple-coping.
3. Tidak terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang
mengikuti model pembelajaran direct.
4. Model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping lebih efektif dalam
meningkatkan self-efficacy siswa dibandingkan dengan model pembelajaran
inquiry pemodelan single-mastery dan model pembelajaran direct.
B. Implikasi
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, implikasi
peneltitan ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Penelitian ini menemukan peningkatan self-efficacy melalui model
pembelajaran inquiry. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan menambah
khasanah penelitian tentang model pembelajaran inquiry dan juga mendukung
teori-teori model pembelajaran inquiry yang dapat mempromosikan asfektif
siswa.
2. Penelitian ini juga menemukan peningkatan self-efficacy yang lebih besar
siswa melalui pemodelan multiple-coping dibandingkan dengan pemodelan
single-mastery. Penelitian ini diharapkan akan menambah khasanah
penelitian tentang pemodelan dalam pendidikan jasmani.
80
Muhammad Zulfikar 2015
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN
TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan di
atas, ada beberapa hal yang direkomendasikan oleh penulis agar penelitian ini
bermanfaat dan pen