• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI."

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN JASMANI

TESIS

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan Program Studi Pendidikan Olahraga

oleh

MUHAMMAD ZULFIKAR NIM 1303130

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN JASMANI

Oleh

Muhammad Zulfikar

1303130

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Magister Pendidikan (M.Pd) pada program studi Pendidikan Olahraga SPs UPI

Bandung

© Muhammad Zulfikar 2015 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2015

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang,

(3)

MUHAMMAD ZULFIKAR

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN JASMANI

Disetujui dan disahkan oleh:

Pembimbing

Dr. Mulyana, M. Pd. NIP. 197108041998021001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga

(4)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRAK

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN JASMANI.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pengaruh model pembelajaran

inquiry dan pemodelan terhadap self-efficacy siswa. Pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemodelan single-mastery dan pemodelan multiple-coping. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain nonequivalent pretest and posttest control group. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini ada dua. Kelompok pertama diberi perlakuan model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery dan kelompok kedua menerima perlakuan model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping. Sedangkan kelompok kontrol menerima model pembelajaran tradisional yaitu model pembelajaran direct. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, yang berjumlah 537 siswa yang terbagi dalam 18 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII B, VIII A1, dan VIII E yang diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Penelitian berlangsung selama tujuh kali pertemuan dalam tujuh minggu. Perlakuan berlangsung selama lima pertemuan dan sebelum diberikan perlakuan kedua kelompok diberikan pretest dan setelah perlakuan diberikan posttest berupa skala self-efficacy. Skala self-efficacy yang digunakan adalah instrumen yang dikembangkan oleh penulis dari teori self-efficacy Bandura. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji-t paired sample

dan Analysis of Covariance (ANCOVA) dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran

inquiry pemodelan single-mastery. (2) Terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan

multiple-coping. (3) Model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping

lebih efektif terhadap peningkatan self-efficacy siswa daripada model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery dan model pembelajaran direct. Penelitian ini merekomendasikan pembelajaran dalam pendidikan jasmani sebaiknya menggunakan model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping

agar self-efficacy siswa bisa ditingkatkan.

(5)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ABSTRACT

THE EFFECT OF INQUIRY LEARNING MODEL AND MODELING ON STUDENTS’ SELF-EFFICACY IN PHYSICAL EDUCATION.

The purpose of this study was to reveal the influence of inquiry learning model and modeling on the self-efficacy of students. Modeling that used in this research were single-mastery modeling and multiple-coping modeling. The method that used in this study is the experimental method with nonequivalent pretest and posttest control group design. The experimental group in this study was twofold. The first group was treated inquiry learning model with single-mastery modeling and the second group received treatment with the inquiry learning model with multiple-coping modeling. While the control group received the traditional teaching model that is direct instructional. The population in this study were all eighth grade students of MTsN Watampone, Bone Regency, South Sulawesi Province, totaling 537 students divided into 18 classes. The sample in this research was class VIII B, VIII A1, and VIII E. They were taken using cluster random sampling technique. The research lasted for seven meetings in seven weeks. The treatment lasted for five meetings before being given treatment and both groups were given a pretest and posttest after the treatment was given in the form of self-efficacy scale. Self-efficacy scale that used is an instrument developed by the author from the theory of Bandura’s self-efficacy. Data analysis technique used was paired sample t-test and Analysis of Covariance (ANCOVA) using the software SPSS 18. The results showed that: (1) There is a significant increase in self-efficacy scores of students who followed the inquiry learning model with single-mastery modeling. (2) There is a significant increase in self-efficacy scores of students who followed the inquiry learning model with multiple-coping modeling. (3) inquiry learning model with multiple-coping modeling more effectively to increase students' self-efficacy than inquiry learning model with a single-mastery modeling and direct instruction. The study recommends that learning in physical education should use inquiry learning model with multiple-coping modeling so that the student’s self-efficacy could be improved.

(6)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN PENGESAHAN ...

PERNYATAAN ... ABSTRAK ... KATA PENGANTAR ... UCAPAN TERIMA KASIH ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... BAB I PENDAHULUAN ...

A. Latar Belakang Penelitian...

B. Identifikasi Masalah Penelitian ...

C. Rumusan Masalah Penelitian ...

D. Tujuan Penelitian ...

E. Manfaat Penelitian ...

F. Struktur Organisasi Tesis ...

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...

A. Self-efficacy ...

B. Pemodelan ...

C. Model Pembelajaran Inquiry ...

D. Model Pembelajaran Direct ...

E. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Direct ...

F. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Pemodelan ...

G. Penelitian-penelitian yang Relevan ...

H. Kerangka Berpikir ...

I. Hipotesis ...

BAB III METODE PENELITIAN ...

A. Metode dan Desain Penelitian ...

(7)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

B. Populasi dan Sampel...

C. Instrumen Penelitian ...

D. Prosedur Penelitian ...

E. Analisis Data ...

F. Limitasi Penelitian ...

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ...

A. Temuan Penelitian ...

B. Pembahasan Temuan Penelitian ...

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI ...

A. Kesimpulan ...

B. Implikasi ...

C. Rekomendasi ...

DAFTAR PUSTAKA ...

54

56

57

61

61

71

79

79

79

79

(8)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Tingkatan dan Contoh Pertanyaan dalam Pembelajaran Inquiry ....

Tabel 2.2. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dan Direct ...

Tabel 2.3. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dengan Multiple-Coping

Model ...

Tabel 2.4. Skenario Model Pembelajaran Inquiry dengan Single Mastery

Model ...

Tabel 3.1. Kisi-kisiInstrumen Self-Efficacy ...

Tabel 3.2. Data Hasil Ujicoba Instrumen Skala Self-Efficacy ...

Tabel 3.3. Kisi-kisi Skala Self-Efficacy Setelah Uji Validitas ...

Tabel 3.4. Data Hasil Uji Reliabilitas ...

Tabel 3.5. Rangkaian Pelaksanaan Penelitian ...

Tabel 3.6 Ancaman Terhadap Desain Penelitian ...

Tabel 4.1. Data Skor Self-efficacy Siswa ...

Tabel 4.2. Data Uji Normalitas Self-efficacy Siswa ...

Tabel 4.3. Data Uji Homogenitas Self-efficacy Siswa ...

Tabel 4.4. Data Uji Homogenous Regression Slopes ...

Tabel 4.5. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok

Inquiry dengan Pemodelan Single-Mastery ...

Tabel 4.6. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok

Inquiry dengan Pemodelan Multiple-Coping ...

Tabel 4.6. Data Hasil Uji-t Paired Sample Self-efficacy Siswa Kelompok

Direct ...

Tabel 4.7. Data Hasil Uji ANCOVA ... 27

32

33

35

48

50

52

53

55

57

61

62

63

64

65

66

67

(9)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Relationships between the three major classes of determinants in

triadic reciprocal causation ...

Gambar 2.2. Four subprocesses governing observational learning ...

Gambar 3.1. Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design ...

Gambar 4.1. Grafik Skor Self-efficacy Siswa...

9

18

46

(10)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Skala Self-efficacy Teknik Dasar Keterampilan Permainan

Bola Besar ...

Lampiran 2. Hasil Uji Validitas Instrumen ...

Lampiran 3. Program Pembelajaran InquirySingle-MasteryModel ...

Lampiran 4. Program Pembelajaran InquiryMultiple-CopingModel ...

Lampiran 5. Program Pembelajaran Direct Instruction ...

Lampiran 6. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry

dengan Pemodelan Single-Mastery Kelas VIII B ...

Lampiran 7. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry

dengan Pemodelan Multiple-Coping Kelas VIII A1 ...

Lampiran 8. Data Pre-test Kelompok Model Pembelajaran Tradisional

Kelas VIII E ...

Lampiran 9. Data Post-tes Kelompok Model Pembelajaran Inquiry

dengan Pemodelan Single-Mastery Kelas VIII B ...

Lampiran 10. Data Post-test Kelompok Model Pembelajaran Inquiry

dengan Pemodelan Multiple-Coping Kelas VIII A1 ...

Lampiran 11. Data Post-test Kelompok Model Pembelajaran Tradisional

Kelas VIII E ...

Lampiran 12. Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas ...

Lampiran 13. Hasil Uji-t Paired Sample ...

Lampiran 14. Hasil Uji Persyaratan ANCOVA ...

Lampiran 15. Hasil Uji ANCOVA ...

Lampiran 16. Surat Permohonan Izin Melakukan Penelitian ...

Lampiran 17. Surat Keterangan Penelitian ...

Lampiran 18. Surat Keputusan Pengangkatan Pembimbing Tesis ...

Lampiran 19. Dokumentasi Penelitian ...

84

87

88

108

128

138

140

142

144

146

148

150

151

153

154

156

157

158

(11)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

(12)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Dalam perspektif teori kognitif sosial, individu dipandang berkemampuan

proaktif dan mengatur diri daripada sebatas mampu berperilaku reaktif dan

dikontrol oleh kekuatan biologis atau lingkungan (Mukhid, 2009, hlm. 107).

Begitupun dalam proses pembelajaran, siswa dipandang sebagai individu yang

mampu mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakannya sendiri serta mengatur

dirinya sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan. Teori kognitif sosial

memandang bahwa faktor sosial, kognitif, dan perilaku memainkan peranan

penting dalam pembelajaran (Santrock, 2011, hlm. 285). Ketiganya saling

mempengaruhi satu sama lain. Faktor kognitif berupa ekspektasi murid untuk

meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan murid

terhadap perilaku orang-orang di lingkungannya (Santrock, 2011, hlm. 285).

Dalam teori kognitif sosial, salah satu faktor kognitif yang ditekankan

adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan

menghasilkan sesuatu yang positif (Santrock, 2011, hlm. 286). Secara lebih

spesifik, Bandura (1997, hlm. 3) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan

keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang untuk mengorganisasikan dan

melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil. Dengan kata lain self-efficacy

merupakan keyakinan seseorang atas kesuksesannya dalam melaksanakan suatu

tugas. Self-efficacy berkaitan dengan pemilihan aktivitas yang individu akan kejar.

Misalnya, ketika seseorang memiliki self-efficacy pada aktivitas tertentu, maka dia

akan cenderung memilih aktivitas tersebut. Jika orang-orang percaya mereka tidak

mempunyai kekuatan untuk memproduksi hasil, mereka tidak akan mencoba

untuk membuatnya terjadi (Bandura, 1997, hlm. 3). Keyakinan efficacy juga

membantu menentukan sejauh mana usaha yang akan dikerahkan orang dalam

(13)

2

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dan seberapa ulet mereka akan menghadapi situasi yang tidak cocok (Schunk

dalam Mukhid, 2009, hlm. 109).

Dalam perkembangannya self-efficacy terbagi ke dalam beberapa domain

spesifik. Domain spesifik yang menonjol terhadap efficacy seseorang sesuai

dengan tingkatan kehidupan (Berry & West dalam Suldo & Shaffer, 2007, hlm.

341). Selanjutnya Suldo dan Shaffer (2007, hlm. 342) mengatakan bahwa

academic, social, dan emotionalself-efficacy merupakan domain kompetensi yang

paling menonjol pada anak muda. Keyakinan akademik didefinisikan sebagai

penilaian pribadi seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisir dan

melaksanakan tugas untuk mencapai performa akademik (Zimmerman, 1995, hlm.

203). Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya keyakinan akademik

berhubungan dengan phobia sekolah, depresi, dan perilaku menyimpang

(Bandura, Caprara, Barbaranelli, Gerbino, & Pastorelli, 2003). Oleh karena itu

keyakinan akademik merupakan salah satu aspek penting bagi siswa untuk sukses

dalam pembelajaran.

Selain menyangkut akademik secara umum, academic self-efficacy juga

menyangkut tugas-tugas akademik secara spesifik, seperti self-efficacy pada mata

pelajaran tertentu dan juga keterampilan-keterampilan tertentu dalam

pembelajaran (Garlin, 2014 hlm. 8). Keyakinan akademik secara spesifik juga

penting bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah, termasuk dalam

pembelajaran penjas. Menurut Schunk (dalam Santrock, 2011, hlm. 523), konsep

self-efficacy mempengaruhi pilihan aktivitas oleh murid. Murid dengan

self-efficacy rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya yang

menantang dan sulit, sedangkan murid dengan level self-efficacy tinggi mau

mengerjakan tugas-tugas seperti itu. Murid dengan level self-efficacy tinggi lebih

mungkin untuk tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid

yang berlevel rendah. Oleh karena itu keyakinan akademik yang tinggi juga akan

menggiring siswa lebih yakin akan kemampuannya untuk sukses dalam

pembelajaran penjas. Sedangkan keyakinan akademik yang rendah akan

(14)

3

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dimiliki siswa untuk bisa sukses dalam pembelajaran. Akhirnya siswa mengikuti

pembelajaran penjas hanya karena tuntutan kewajiban bukan karena keinginan

dalam diri siswa sendiri. Yang kemungkinan juga akan berdampak pada

ketidaksenangan siswa melakukan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-harinya.

Oleh karena itu, self-efficacy dalam pembelajaran penjas di sekolah merupakan

salah satu aspek penting yang harus mendapatkan perhatian sehingga diharapkan

seluruh siswa memiliki self-efficacy yang tinggi.

Namun kenyataannya, kondisi siswa di sekolah beragam dan berbeda satu

sama lain termasuk dari segi psikomotorik (keterampilan). Pembelajaran penjas

yang menggunakan media aktivitas fisik dan keterampilan gerak seringkali

membuat siswa yang memiliki keterampilan gerak yang rendah merasa minder

dibanding dengan siswa yang memiliki keterampilan gerak yang tinggi. Hal ini

bisa jadi akan menyebabkan siswa yang berketerampilan rendah tidak memiliki

keyakinan untuk sukses dalam pembelajaran penjas. Dengan kata lain siswa yang

memiliki self-efficacy yang rendah akan berdampak pada keterlibatannya dalam

pembelajaran penjas dan menjadi tidak optimal. Siswa mengikuti pembelajaran

bukan karena perasaan yang baik terhadap kesuksesannya dalam pembelajaran

melainkan hanya karena tuntutan akademik. Hal ini juga terjadi pada siswa-siswi

kelas VIII MTsN Watampone. Dari pengamatan penulis dan juga wawancara

dengan guru penjas di sekolah tersebut, terlihat bahwa secara umum siswa-siswi

kelas VIII masih memiliki keterampilan yang rendah dalam pembelajaran penjas

yang mungkin disebabkan karena self-efficacy siswa yang rendah. Hal ini juga

terlihat dari sebagian besar siswa yang cenderung kurang percaya diri dalam

mempraktikkan teknik dasar yang diajarkan oleh gurunya.

Penggunaan model pembelajaran direct yang telah diterapkan oleh guru

penjas sejak lama juga dimungkinkan belum efektif dalam meningkatkan

self-efficacy yang dimiliki siswa. Model pembelajaran direct cenderung berorientasi

hasil dan kurang menekankan proses-proses pembelajaran yang bermakna.

Sehingga siswa cenderung bergantung pada drill-drill yang diinstruksikan dan

(15)

4

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

keterampilan yang dilakukan siswa tidak bermakna bagi siswa itu sendiri sehingga

siswa tidak mandiri dalam pembelajaran. Meskipun keberhasilan didapatkan,

kemungkinan siswa tetap akan memiliki keyakinan yang rendah untuk sukses

pada tugas-tugas yang lainnya karena keberhasilan yang diperoleh bukan berasal

dari usahanya sendiri.

Perubahan kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 yang berbasis scientific

method menuntut penggunaan model pembelajaran yang mengarah pada

scientific, salah satunya adalah model pembelajaran inquiry, tak terkecuali dalam

pembelajaran penjas. Model pembelajaran inquiry merupakan model

pembelajaran yang menggunakan proses pemecahan masalah sebagai pendekatan

pembelajaran. Metzler (2000, hlm. 313) menjelaskan bahwa di dalam model

pembelajaran inquiry “guru membingkai masalah dengan menggunakan

pertanyaan, memberikan siswa beberapa waktu untuk membuat dan menyelidiki

satu atau lebih solusi atau jawaban yang masuk akal.” Model pembelajaran

inquiry selain mampu mengembangkan kognitif dan psikomotor siswa juga

mampu mengembangkan afektif siswa (Metzler, 2000, hlm.314). Model

pembelajaran inquiry juga terbukti mampu meningkatkan self-efficacy siswa

dalam pembelajaran sains (Tuan, Chin, Tsai, & Cheng, 2005). Oleh karena itu

diharapkan model pembelajaran inquiry juga mampu meningkatkan self-efficacy

siswa dalam pembelajaran penjas.

Selain model pembelajaran inquiry, pemodelan juga dianggap bisa

meningkatkan self-efficacy siswa. Pemodelan atau pinpointing seringkali

digunakan guru penjas untuk menyajikan informasi tentang keterampilan yang

akan diajarkan kepada siswa. Pemodelan dapat dilakukan oleh guru sendiri. Selain

itu pemodelan juga seringkali dilakukan guru penjas dengan cara memilih salah

satu atau beberapa siswa yang mampu mendemonstrasikan aspek keterampilan

yang diajarkan dan menyuruh memperagakannya kepada siswa lainnya

(Suherman, 2009, hlm. 117). Menurut teori sosial kognitif Bandura tentang

modeling, observer mencoba untuk mencocokkan respon mereka terhadap apa

(16)

5

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

demonstrasi verbal atau visual. Informasi ini kemudian tersimpan dalam memori

lalu diterjemahkan dalam gerakan ketika ada kesempatan mempresentasikannya

(Weiss dkk, 1998, hlm. 380). Dengan kata lain dalam pemodelan dan kaitannya

dengan self-efficacy, siswa mengobservasi model yang ditemuinya kemudian

secara kognitif membandingkannya dengan dirinya. Hal ini akan berdampak pada

self-efficacynya. Dalam kondisi pembelajaran, siswa-siswa yang diperlihatkan

demonstrasi performa oleh model akan membandingkan dirinya dengan model.

Ketika model mampu melakukan performa dengan baik, maka kemungkinan

siswa-siswa observer akan merasakan keyakinan untuk mampu melakukan

performa tersebut dengan baik pula. Namun keyakinan tersebut juga bergantung

pada kesamaannya dengan model (Bandura, 1997, hlm. 96). Kesamaan

pengamat-model dalam kompetensi juga bisa meningkatkan pembelajaran (Braaksma, dkk.

dalam Schunk, 2012, hlm. 510).

Pemodelan juga terdapat dalam pelaksanaan model pembelajaran inquiry.

Dalam model pembelajaran inquiry, guru meminta siswa yang mampu melakukan

teknik gerakan dengan benar untuk mempraktekkannya lagi di depan kelas

(Metzler, 2000, hlm. 336). Namun teori-teori dan hasil penelitian menunjukkan

bahwa pemodelan sebaya yang dilakukan oleh lebih dari satu orang (multiple

model) lebih baik dalam meningkatkan self-efficacy siswa dibandingkan dengan

pemodelan yang hanya dilakukan oleh satu orang (single model). Misalnya Perry

dan Bussey (dalam Bandura, 1997, hlm. 99) mengatakan bahwa pemodelan yang

dilakukan oleh lebih dari satu orang (multiple modeling) akan memperkuat

vicarious experience atau pengalaman yang seperti dirasakan sendiri. Hal ini akan

meningkatkan self-efficacy. Di sisi lain, self-efficacy juga dipengaruhi oleh coping

model, yaitu pemodelan yang dilakukan dengan mendemonsrasikan dan

menyatakan pembelajaran dan performa tugas secara bertahap dari tidak mampu

menjadi mampu (Weiss, dkk., 1998, hlm. 381). Hasil penelitian Schunk, Hanson,

dan Cox (1987) juga menemukan bahwa multiple model dan coping model lebih

baik dalam mempromosikan self-efficacy, keterampilan, dan performa latihan

(17)

6

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Teori dan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemodelan berperan

dalam peningkatan self-efficacy siswa. Namun sejauh ini penggunaan dan

pemanfaatan pemodelan dalam pembelajaran pendidikan jasmani belum

maksimal. Dari pengamatan penulis, guru-guru penjas masih cenderung

menerapkan pemodelan dengan mengandalkan mastery model dalam hal ini guru

itu sendiri ataupun siswa yang memiliki keterampilan yang tinggi. Oleh karena itu

penggunaan pemodelan multiple dan coping juga sebaiknya digunakan dalam

pembelajaran penjas agar self-efficacy siswa bisa ditingkatkan, khususnya juga

pada pelaksanaan model pembelajaran inquiry. Akan tetapi belum ada bukti

empiris yang menunjukkan pengaruh pemodelan apabila diterapkan di dalam

model pembelajaran inquiry terhadap self-efficacy siswa. Sehingga belum

diketahui apakah ada perbedaan pengaruh antara model pembelajaran inquiry

yang menggunakan pemodelan multiple-coping dengan model pembelajaran

inquiry yang umumnya menggunakan pemodelan single-mastery. Oleh karena itu

penelitian ini akan mengungkap pengaruh model pembelajaran inquiry dan

pemodelan terhadap self-efficacy siswa.

B. Identifikasi Masalah Penulisan

Dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka penulis

mengidentifikasi beberapa masalah yang melatarbelakangi penelitian ini:

1. Banyak siswa di dalam kelas penjas yang berketerampilan rendah sehingga

memiliki self-efficacy yang rendah pula, khususnya pada siswa kelas VIII

MTsN Watampone.

2. Model pembelajaran direct cenderung berorientasi hasil dan mengabaikan

proses-proses belajar sehingga membuat siswa kurang mandiri dalam

menyelesaikan masalahnya yang bisa jadi akan berdampak pada rendahnya

self-efficacynya.

3. Penggunaan pemodelan oleh guru-guru penjas yang cenderung masih

(18)

7

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Belum ada bukti empirik yang menunjukkan pengaruh model pembelajaran

dan pemodelan terhadap peningkatan self-efficacy siswa dalam pembelajaran

penjas.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, penelitian ini

diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Oleh karena

itu berikut rumusan masalah penelitian ini:

1. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa

yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery?

2. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa

yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping?

3. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa

yang mengikuti model pembelajaran direct?

4. Manakah model pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan

self-efficacy siswa?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang

telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu penelitian ini memiliki beberapa

tujuan, yaitu:

1. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang

mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery.

2. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang

mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping.

3. Mengungkap peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang

mengikuti model pembelajaran direct.

4. Mengungkap model pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan

self-efficacy siswa.

(19)

8

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Penelitian yang dilakukan ini diharapkan memberikan manfaat secara

teoritis dan praktis.

1. Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan akan menambah literatur tentang pengaruh model

pembelajaran inquiry terhadap afektif siswa.

b. Diharapkan mampu memperkuat teori-teori model pembelajaran inquiry yang

bisa meningkatkan aspek afektif siswa.

2. Praktis

a. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi rujukan dalam pelaksanaan

pembelajaran penjas di sekolah-sekolah khususnya di Kabupaten Bone,

Sulawesi Selatan.

b. Penelitian ini juga diharapkan mendukung kurikulum 2013 yang berbasis

scientific sekaligus menjadi bahan promosi kepada masyarakat bahwa penjas

tidak hanya sekedar bermain.

F. Struktur Organisasi Tesis

Tesis ini terdiri dari lima bab yaitu, bab pendahuluan, bab kajian pustaka,

bab metode penelitian, bab temuan dan pembahasan, dan bab simpulan, implikasi,

dan rekomendasi. Setiap bab memuat pembahasan yang berbeda-beda.

Bab pertama yaitu bab pendahuluan memuat latar belakang masalah yang

berisi teori-teori, hasil-hasil penelitian, dan gambaran kondisi lapangan yang

menggambarkan masalah yang mendasari pemilihan judul penelitian, identifikasi

masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

struktur organisasi tesis.

Bab kedua yaitu bab kajian teori memuat pemaparan teori-teori yang

berkaitan dengan variabel penelitian, hasil-hasil penelitian terdahulu yang

berkaitan dengan variabel penelitian, kerangka berpikir yang membahas

sinkronisasi teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang akan mendukung hipotesis

(20)

9

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Bab ketiga yaitu bab metode penelitian memuat metode dan desain

penelitian yang digunakan, populasi dan sampel, instrument yang digunakan

dalam penelitian, prosedur penelitian, dan analisi data.

Bab keempat yaitu bab temuan dan pembahasan memuat temuan penelitian

yang berisi pemaparan data hasil penelitian secara rinci dan juga pengujian

hipotesis penelitian, serta pembahasan yang berisi penjelasan dan diskusi hasil

penelitian.

Bab kelima yaitu bab kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi memuat

kesimpulan jawaban dari hasil penelitian. Kesimpulan ini juga merupakan

jawaban dari pertanyaan penelitian. Bab ini juga memuat implikasi yaitu

pemaparan tentang implikasi penelitian dimasa mendatang dan rekomendasi yang

berisi rekomendasi penulis kepada penelitian-penelitian yang akan dilakukan

(21)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

45

BAB III

METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

quasi-eksperiment dengan desain nonequivalent pretest and posttest control group

(Creswell, 2010, hlm. 242). Lebih lanjut Creswell (2010, hlm. 238) menjelaskan

bahwa dalam quasi-eksperiment, penulis menggunakan kelompok kontrol dan

kelompok eksperimen, namun tidak secara acak memasukkan (nonrandom

assignment) para partisipan ke dalam dua kelompok tersebut (misalnya, mereka

bisa saja berada dalam satu kelompok utuh yang tidak dapat dibagi-bagi lagi).

Fraenkel, dkk. (2012, hlm. 267) mengemukakan bahwa random assignment

berarti bahwa setiap individu yang berpartisipasi dalam sebuah eksperimen

memiliki kesempatan yang sama untuk ditempatkan ke dalam kelompok

eksperimen ataupun kelompok kontrol. Alasan memilih metode dan desain

penelitian ini adalah karena tidak memungkinkan untuk membentuk kelas baru

(memecah kelas yang sudah ada) di sekolah yang dijadikan tempat penelitian

karena terbentur dengan sistem sekolah dan keberlangsungan mata pelajaran lain.

Kondisi siswa juga tidak memungkinkan menciptakan kelas baru di luar jam

pelajaran sekolah karena terbentur izin orang tua siswa sehingga tidak

memungkinkan untuk melakukan random assignment dan memilih metode

true-eksperiment.

Dalam penelitian ini, variabel bebas (independent variable) atau variabel

yang menjadi penyebab atau mempengaruhi adalah model pembelajaran inquiry

pemodelan single-mastery, model pembelajaran inquiry pemodelan

multiple-coping, dan model pembelajaran direct. Sedangkan variabel terikat (dependent

variable) atau variabel yang dipengaruhi atau yang mendapat akibat dari

perlakuan variabel penyebab yaitu self-efficacy siswa. Kelompok eksperimen

dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu model pembelajaran inquiry

pemodelan single-mastery dan model pembelajaran inquiry pemodelan

(22)

46

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

gambaran, penulis sajikan gambaran desain penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini yang dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Treatment group O1 X1 O2

Treatment group O1 X2 O2

Control group O1 C O2

Gambar 3.1.

Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design

Keterangan:

O1: Pre-test self-efficacy sebelum perlakuan

O2: Post-test self-efficacy setelah perlakuan

X1 : Eksperimen (model pembelajaran inquiry pemodelan single-mastery)

X2 : Eksperimen (model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping)

C : Kontrol (model pembelajaran direct)

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN

Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, yang berjumlah 537

siswa yang terbagi dalam 18 kelas. Alasan memilih VIII MTsN Watampone

sebagai lokasi penelitian adalah karena belum pernah ada penelitian yang

berkaitan dengan model pembelajaran inquiry dalam pendidikan jasmani yang

dilakukan di sekolah ini. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah

percontohan di Kabupaten Bone. Sekolah ini juga menerapkan kurikulum 2013

yang sesuai dengan model pembelajaran inquiry. Selain itu dari pengamatan

penulis, guru pendidikan jasmani masih menggunakan model pembelajaran

tradisional dalam pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan penelitian yang

dilakukan ini memberikan pemahaman sekaligus terobosan model pembelajaran

dalam pendidikan jasmani terhadap guru di sekolah ini khususnya dan

(23)

47

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Sampel

Penentuan jumlah sampel sesuai dengan usulan Fraenkel (2012, hlm. 103) bahwa “For experimental and causal comparative studies, we recommend a minimum of 30 individuals per group, although sometimes experimental studies

with only 15 individuals in each group can be defended if they are very tightly

controlled.” Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 30 orang, oleh karena itu

jumlah siswa tersebut sudah memenuhi ukuran jumlah sampel yang disarankan

dalam penelitian eksperimen.

Untuk teknik pengambilan sampelnya, pengambilan sampel dalam

penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling (sampel daerah). “Dalam cluster sampling, yang dipilih bukan individu melainkan kelompok atau area yang kemudian disebut cluster” (Maksum, 2012, hlm.57). Alasan memilih

teknik sampling ini adalah karena tidak memungkinkan untuk membentuk kelas

baru dalam sekolah yang dijadikan tempat penelitian (memecah kelas yang sudah

ada) seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu tidak

memungkinkan juga melakukan teknik simplerandom sampling.

Sampel diambil dengan mengacak populasi yakni kelas VIII yang berjumlah

18 kelas. Kemudian diambil tiga kelas yang akan diberikan perlakuan sesuai

dengan desain penelitian yang digunakan. Ketiga kelas yang terpilih yaitu kelas

VIII B, kelas VIII E, dan kelas VIII A1. Selanjutnya ketiga kelas yang terpilih

diacak lagi untuk ditempatkan sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Kelas

VIII B dan kelas VIII A1 terpilih sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII E

terpilih sebagai kelompok kontrol. Kelas VIII B akan menerima perlakuan model

pembelajaran inquiry dengan pemodelan single-mastery sedangkan kelas VIII A1

akan menerima perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan

multiple-coping.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala self-efficacy.

Instrumen ini dibuat sendiri oleh penulis yang dikembangkan dari toeri

(24)

48

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola

besar dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Skala penilaian pada skala ini

menggunakan skala Likert yang terdiri dari lima pilihan respon yaitu sangat tidak

setuju (STS), tidak setuju (TS), ragu-ragu (R), setuju (S), dan sangat setuju (SS).

Item-item dalam skala dikembangkan dalam dua tipe yaitu item favorable dan

item yang tidak favorable. Penskoran item yang favorable dimulai dari skor 1

pada respon STS sampai pada skor 5 pada respon SS. Sebaliknya untuk

penskoran item yang favorable dimulai dari skor 5 pada respon STS sampai pada

skor 1 pada respon STS.

1. Definisi Konseptual

Berikut definisi konseptual self-efficacy yang dikemukakan oleh beberapa

ahli. Menurut Ormrod (2008, hlm. 20) secara umum, self-efficacy adalah penilaian

seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu

untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Bandura (1997, hlm. 3)

self-efficacy mengacu pada keyakinan (beliefs) tentang kemampuan seseorang untuk

mengorganisasikan dan melaksanakan tindakan untuk pencapaian hasil.

Berdasarkan teori-teori self-efficacy yang dikemukakan oleh para ahli, maka

self-efficacy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang atas kesuksesannya dalam

melaksanakan suatu tugas.

2. Definisi Operasional

Berdasarkan definisi konseptual yang telah dikemukakan oleh para ahli

maka self-efficacy dalam penelitian ini didefinisikan sebagai keyakinan siswa

terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola

besar dengan baik dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

3. Kisi-kisi Instrumen Self-efficacy

Berikut penjabaran kisi-kisi skala self-efficacy dari variabel self-efficacy

pada (Bandura, 1997, hlm. 42-43):

Tabel 3.1.

(25)

49

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Variabel Sub Variabel Indikator Item

+ - Self-efficacy Definisi Operasional: Keyakinan siswa terhadap 1.Level Keyakinan siswa terhadap kemampuannya untuk Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang sulit

19, 35, 1, 29, 44, 11 10, 18, 30, 20, 38

Variabel Sub Variabel Indikator Item

(26)

50

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

aktivitas.

3.Strength

Keyakinan yang kuat siswa terhadap

kemampuannya untuk

mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar

Yakin

mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar lebih baik dibandingkan orang lain

27, 37, 9, 25

8, 40, 26, 42

4. Uji Validitas Skala

Sebelum digunakan sebagai alat pengumpul data, skala ini terlebih dahulu

diuji oleh pakar psikologi. Setelah uji pakar, skala kemudian diujicobakan ke

siswa SMP lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan sampel penelitian

yaitu SMP Labschool UPI. Setelah itu uji validitas instrumen dilakukan dengan

menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak

SPSS 18 di komputer agar bisa digunakan sebagai alat pengumpul data yang

akurat. Untuk menentukan kriteria item dianggap valid maka digunakan batasan koefisien korelasi item-total (riX) ≥ 0,30 (Azwar, 2014, hlm. 86). Item yang tidak valid akan dibuang dan hanya item yang valid yang akan digunakan sebagai skala

self-efficacy dalam penelitian ini. Berikut tabel hasil uji validitas instrumen skala

self-efficacy siswa.

Tabel 3.2.

Data Hasil Ujicoba Instrumen Skala Self-Efficacy

Item Skala riX Kesimpulan

Item 1 0.446 valid

Item 2 0.738 valid

Item 3 0.241 tidak valid

Item 4 0.183 tidak valid

Item 5 0.614 valid

(27)

51

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Item Skala riX Kesimpulan

Item 7 0.433 valid

Item 8 0.724 valid

Item 9 -0.159 tidak valid

Item 10 0.389 valid

Item 11 0.503 valid

Item 12 0.344 valid

Item 13 0.329 valid

Item 14 0.461 valid

Item 15 0.577 valid

Item 16 0.215 tidak valid

Item 17 0.171 tidak valid

Item 18 0.095 tidak valid

Item 19 0.363 valid

Item 20 0.298 tidak valid

Item 21 0.306 valid

Item 22 0.000 tidak valid

Item 23 0.503 valid

Item 24 0.505 valid

Item 25 0.520 valid

Item 26 0.345 valid

Item 27 0.593 valid

Item 28 0.190 tidak valid

Item 29 0.355 valid

Item 30 0.302 valid

Item 31 0.562 valid

Item 32 0.393 valid

Item 33 -0.105 tidak valid

Item 34 0.677 valid

(28)

52

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Item Skala riX Kesimpulan

Item 36 0.509 valid

Item 37 0.371 valid

Item 38 0.384 valid

Item 39 0.282 tidak valid

Item 40 0.181 tidak valid

Item 41 0.618 valid

Item 42 0.640 valid

Item 43 0.632 valid

Item 44 0.575 valid

Item 45 0.491 valid

Item 46 0.144 tidak valid

Setelah pengujian validitas dilakukan, diperolehlah beberapa item

pernyataan yang valid dan tidak valid dari skala self-efficacy yang diujicobakan.

Item yang tidak valid dibuang sehingga hanya item yang valid saja yang

digunakan sebagai instrumen skala self-eficacy. Selanjutnya item-item yang valid

tersebut diberi penomoran kembali dan diacak untuk disusun sebagai instrument

yang akan digunakan. Berikut kisi-kisi dan item-item self-efficacy yang valid dan

yang akan digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini pada Tabel

3.3.

Tabel 3.3.

Kisi-kisi Skala Self-Efficacy Setelah Uji Validitas

Variabel Sub Variabel Indikator Item

+ -

Self-efficacy

Definisi Operasional:

Keyakinan siswa terhadap

1. Level

Keyakinan siswa terhadap

kemampuannya untuk

Yakin

mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam

tingkatan tantangan

13, 1, 20, 31, 8

(29)

53

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dengan baik dalam pembelajaran pendidikan jasmani. mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan tugas

gerakan yang sulit

Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang sedang 10, 22, 14

2, 9, 24

Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam tingkatan tantangan gerakan yang mudah

3, 30 11

Variabel Sub Variabel Indikator Item

+ - 2.Generality Keyakinan siswa terhadap kemampuannya untuk mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam perluasan bidang aktivitas. Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar dalam permainan yang sebenarnya 32, 12, 15, 28, 5 4, 23, 16, 25 3.Strength Keyakinan yang kuat siswa terhadap kemampuannya untuk Yakin mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar lebih baik dibandingkan

19, 26, 17

(30)

54

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

mempraktikkan teknik dasar permainan bola besar

orang lain

5. Uji Reliabilitas Skala

Setelah uji validitas instrumen, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas

instrumen. Uji reliabilitas dilakukan untuk menguji kecermatan instrumen yang

berimplikasi pada konsistensi instrumen (Azwar, 2014, hlm. 112). Uji reliabilitas

instrumen dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 18 pada komputer.

[image:30.595.101.509.84.160.2]

Berikut tabel hasil uji reliabilitas instrument.

Tabel 3.4.

Data Hasil Uji Reliabilitas

Cronbach's Alpha N of Items

.910 32

Kriteria reliabilitas instrumen menggunakan batasan koefisien reliabilitas

(rxx’) ≥ 0,90. Dari hasil uji reliabilitas, diperoleh skor koefisien reliabilitas sebesar

0,910. Karena skor yang diperoleh melebihi batasan yang telah ditetapkan, maka

instrumen dianggap reliabel dan siap untuk digunakan dalam penelitian.

D. Prosedur Penelitian

Perlakuan berlangsung selama lima pertemuan. Dalam satu minggu hanya

ada satu kali pertemuan. Namun sebelum perlakuan, terlebih dahulu diadakan satu

pertemuan untuk pre-test (sebelum perlakuan) dan juga satu pertemuan untuk

post-test (setelah perlakuan).

1. Pre-test

Pre-test dilaksanakan sebelum pemberian perlakuan. Pre-test bertujuan

mengetahui sejauh mana self-efficacy yang dimiliki siswa. Untuk mengetahui skor

(31)

55

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kelompok kontrol. Pre-test ini berlangsung satu pertemuan yaitu pada pertemuan

pertama.

2. Perlakuan

Dalam penelitian ini, kelompok eksperimen ada dua kelompok. Kelompok

pertama diberikan perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan

single-mastery. Kelompok kedua diberikan perlakuan model pembelajaran inquiry

dengan pemodelan multiple-coping. Sedangkan untuk kelompok kontrol tidak

diberikan perlakuan. Kelompok kontrol hanya menerima model pembelajaran

direct yang telah diterapkan oleh guru penjas di sekolah tersebut secara rutin.

Sebelum perlakuan diberikan, terlebih dahulu ditetapkan siswa yang akan

menjadi model dalam pemberian perlakuan di kelompok eksperimen sehingga

data self-efficacy siswa yang akan diambil berasal dari siswa yang murni sebagai

observer selama penelitian berlangsung. Sehingga siswa yang menjadi model,

tidak termasuk ke dalam sampel penelitian. Model diambil dengan cara

melakukan seleksi pada saat hari pertama penelitian setelah pemberian pre-test.

Seleksi dilakukan dengan cara menginstruksikan kepada seluruh siswa dalam satu

kelas untuk mempraktekkan teknik-teknik dasar permainan bola besar. Kemudian

dari hasil pengamatan, diambillah siswa yang akan menjadi model yang sesuai

dengan desain penelitian. Kelas VIII B merupakan kelompok eksperimen dengan

perlakuan model pembelajaran inquiry dengan pemodelan single-mastery. Oleh

karena itu pada kelas VIII B diambil satu orang siswa yang memiliki keterampilan

tinggi dan dianggap mampu (mastery) mempraktekkan teknik-teknik dasar

permainan bola besar di depan kelas selama perlakuan diberikan. Sedangkan

Kelas VIII A1 merupakan kelompok eksperimen dengan perlakuan model

pembelajaran inquiry dengan pemodelan multiple-coping. Oleh karena itu pada

kelas VIII A1 diambil tiga orang siswa yang memiliki keterampilan sedang dan

dianggap mampu mempraktekkan teknik-teknik dasar permainan bola besar

secara gradual dari ragu-ragu hingga mampu (coping) di depan kelas selama

perlakuan diberikan. Kegiatan dan hasil seleksi ini tidak diumumkan kepada

(32)

56

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Seleksi juga dilakukan semirip mungkin dengan proses pembelajaran penjas

sehari-hari sehingga kegiatan ini tidak disadari oleh siswa sebagai proses seleksi.

Perlakuan diberikan kepada sampel penelitian selama lima pertemuan.

Alasan memberikan perlakuan lima pertemuan merujuk pada hasil penelitian yang

dilakukan oleh Chung dan Ro (2004) yang menemukan peningkatan self-efficacy

siswa setelah perlakuan pembelajaran problem solving selama lima pertemuan.

Tema atau materi pembelajaran yang diajarkan pada kedua kelompok sesuai

dengan kurikulum yang berlaku. Berikut rangkaian pelaksanaan penelitian yang

[image:32.595.110.521.320.712.2]

akan dilakukan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5.

Rangkaian Pelaksanaan Penelitian

Perte-muan Kegiatan Konten Jadwal

1

Pre-test Pemberian skala self-efficacy kepada

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

17 & 18

April 2015 Pemilihan

model

Seleksi siswa terhadap kemampuannya

mempraktekkan teknik dasar permainan bola

besar

2

Penerapan

Model

Pembelajaran

Bola Basket (dribbling) 24 & 25 April 2015

3 Bola Basket (chest pass) 1 & 2 Mei

2015

4 Sepakbola (dribbling) 8 & 9

Mei 2015

5 Sepakbola (passing kaki dalam) 15 & 16 Mei 2015

6 Bola Voli (passing bawah) 22 & 23

(33)

57

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Perte-muan Kegiatan Konten Jadwal

7 Post-test Pemberian skala self-efficacy kepada

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

27 & 28

Mei 2015

3. Post-test

Post-test dilaksanakan setelah pemberian perlakuan. Post-test bertujuan

mengetahui sejauh mana perubahan self-efficacy yang dimiliki siswa setelah

perlakuan. Untuk mengetahui skor post-test tersebut, skala self-efficacy diberikan

pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sama dengan pre-test,

post-test ini berlangsung satu pertemuan namun berlangsung pada pertemuan terakhir

pada penelitian ini setelah pemberian perlakuan model pembelajaran.

E. Analisis Data

Sebelum menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji

persyaratan data dengan uji normalitas, uji homogenitas, dan homogenous

regression slopes. sebagai uji persyaratan sebelum melakukan uji ANCOVA

dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18. Uji normalitas dilakukan untuk

mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji

Normalitas yang digunakan adalah Kolmogorov-Smirnov pada SPSS 18. Uji

homogenitas data dilakukan setelah uji normalitas. Uji homogenitas dilakukan

untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari sampel atau populasi

yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji

Levene pada SPSS 18. Setelah itu uji homogenous regression slopes dilakukan

sebagai uji persyaratan sebelum melakukan uji ANCOVA.

Setelah uji normalitas dan uji homogenitas, dilakukan uji hipotesis. Uji

hipotesis dilakukan untuk memperoleh kesimpulan dari data yang diperoleh.

Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari

model pembelajaran inquiry terhadap self-efficacy siswa. Teknik statistik yang

(34)

58

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

uji Analysis of Covariance (ANCOVA) dengan menggunakan perangkat lunak

SPSS 18 pada komputer.

Uji-t paired sample digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan

skor self-efficacy siswa pada kelompok eksperimen. Sedangkan uji Analysis of

Covariance (ANCOVA) digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh

model pembelajaran terhadap self-efficacy siswa. ANCOVA digunakan dalam

desain penelitian ini karena ANCOVA dianggap lebih baik dalam menganalisis

hasil penelitian yang menggunakan pre-test dan post-test dibandingkan dengan

menggunakan skor gain (Gall, Gall, & Borg, 2010, hlm. 202). Selanjutnya Gall

dkk. (2010, hlm 202-203) mengatakan bahwa “ANCOVA adjusts each research

participant’s posttest score, either up or down, to take into account his pretest

score

F. Limitasi Penelitian

Penelitian ini tidak terlepas dari keterbatasan terhadap berbagai faktor yang

bisa mempengaruhi hasil penelitian. Berikut ini adalah upaya yang dilakukan guna

meminimalisir ancaman tersebut:

1. Metode Penelitian

Menurut McMillan dan Schumacher (2001, hlm. 347), ada beberapa

[image:34.595.160.469.528.717.2]

ancaman terhadap nonequivalent pretest and posttest control group design.

Tabel 3.6.

Ancaman Terhadap Nonequivalent Pretest and Posttest Control Group Design

No. Threat Keefektifan

1 History ?

2 Selection -

3 Statisical Regression ?

4 Pretesting +

5 Instrumentation ?

6 Subject Attrition ?

7 Maturation -

8 Diffusion of Treatment ?

(35)

59

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

No. Threat Keefektifan

10 Treatment Replication ?

11 Subject Effects ?

12 Statistical Conclusion ?

Keterangan: (+) = dapat dikontrol; (?) = berpeluang memberikan ancaman

Pada Tabel 3.6. terlihat bahwa ancaman pada validitas internal pada desain

ini yang dapat dikontrol yaitu pretesting. Validitas internal yang berpeluang

memberikan ancaman adalah history, statistical regression, instrumentation,

subject attrition, diffusion of treatment, experimenter effects, treatment

replication, subject effects, dan statistical conclusion. Sedangkan ancaman yang

dikontrol lemah dalam penelitian ini adalah selection dan maturation. Oleh karena

itu ada beberapa langkah-langkah yang diambil untuk meminimalisir

ancaman-ancaman tersebut yaitu:

a. History

Penelitian ini melibatkan tiga kelompok sampel. Namun sampel dalam

penelitian ini berasal di satu sekolah yakni MTsN Watampone. Oleh karena itu,

ancaman pengaruh history pada sampel penelitian bisa diminimalisir.

b. Statistical Regression

Pemilihan sampel pada sekolah yang dijadikan tempat penelitian juga

didasarkan pada observasi awal yang mengasumsikan bahwa secara umum skor

self-efficacy siswa di sekolah tersebut rendah. Sehingga kecendrungan siswa

untuk memiliki skor self-efficacy yang tinggi tidak terjadi.

c. Instrumentation

Sebelum pengisian skala, siswa terlebih dahulu diberi penjelasan mengenai

tata cara pengisian skala yang jelas serta penjelasan tentang dampak pengisian

skala yang tidak akan mempengaruhi nilai pelajaran pendidikan jasmani sehingga

siswa akan mengisi skala sesuai dengan apa yang dirasakannya secara jujur. Skala

yang digunakan pada saat pretest juga sama dengan yang digunakan pada saat

posttest.

(36)

60

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sampel dalam penelitian ini berjumlah yang sama dari awal penelitian

hingga akhir penelitian. Tidak ada siswa yang mengundurkan diri pada saat

penelitian berlangsung.

e. Diffusion of Treatment

Perlakuan kepada ketiga kelompok penelitian diberikan pada waktu yang

berbeda-beda sesuai dengan jadwal jam pelajaran pada sekolah tempat penelitian

berlangsung sehingga kemungkinan biasnya hasil penelitian yang disebabkan oleh

pengamatan siswa pada satu kelompok pada kelompok yang lain bisa

diminimalisir.

f. Experimenter Effects

Perlakuan model pembelajaran pada ketiga kelompok penelitian dilakukan

oleh penulis yang bertindak sebagai guru sehingga perbedaan respon ketiga

kelompok penelitian bisa diminimalisir.

g. Treatment Replication

Pemberian perlakuan dilakukan dalam satu kelas dan satu waktu dengan

kata lain kelas tidak dipecah ke dalam beberapa kelompok sehingga penulis tidak

memberikan treatment model pembelajaran dalam beberapa sesi. Hal ini untuk

menghindari ancaman treatment replication yang bisa berdampak pada hasil

penelitian.

h. Subject Effect

Untuk mengurangi dampak subjektifitas subjek penelitian pada proses dan

hasil penelitian, penulis tidak menyampaikan informasi tentang penelitian kepada

siswa sehingga hal ini bisa menghindari biasnya hasil penelitian yang disebabkan

oleh perbedaan perilaku siswa pada ketiga kelompok penelitian.

i. Statistical Conclusion

Teknik analisis data yang digunakan dalam menguji hipotesis dalam

penelitian ini sesuai prosedur statistik yang dilandasi beberapa literatur. Selain itu

masukan-masukan tentang analisis data juga diperolah dari konsultasi dosen

pembimbing.

(37)

61

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Pemilihan sampel penelitian yang merupakan kelas utuh dan tidak memecah

kelas atau membagi ke dalam kelompok kecil memungkinkan penelitian berjalan

secara natural sesuai dengan kondisi siswa pada saat sebelum adanya penelitian

sehingga siswa tidak perlu lagi melakukan adaptasi dengan kelas atau kelompok

penelitian.

k. Maturation

Sampel yang dipilih memiliki umur yang relatif sama dan pelaksanaan

penelitian tidak memakan waktu yang lama sehingga perubahan kedewasaan

sampel diasumsikan tidak akan mempengaruhi hasil penelitian.

2. Faktor-faktor lainnnya

Banyak faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi self-efficacy karena

self-efficacy meruapakan aspek psikologi. Oleh karena itu peneliti akan mengontrol

faktor yang memungkinkan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah agar

perubahan self-efficacy siswa dalam peneltian ini sebisa mungkin hanya berasal

dari perlakuan yang diberikan yakni model pembelajaran dan pemodelan. Faktor

yang bisa dikontrol dalam penelitian ini adalah pemberian feedback. Setiap

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan feedback yang sama yaitu

feedback positif pada setiap pembelajarannya sehingga perbedaan pengaruh

feedback terhadap self-efficacy siswa pada ketiga kelompok bisa diminimalisir.

Namun karena keterbatasan penulis, maka ada beberapa faktor yang tidak dapat

dikontrol pada penelitian ini yaitu: kondisi fisiologis dan emosiona siswa. Kondisi

fisiologis dan emosional dapat juga mempengaruhi self-efficacy. Penulis

menyadari bahwa banyak faktor yang tidak dapat dikontrol dalam penelitian ini,

sehingga memberikan ancaman terhadap hasil penelitian ini. Sehingga untuk

menghindari biasnya hasil penelitian, diharapkan penelitian selanjutnya dapat

(38)

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

79

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut:

1. Terdapat peningkatan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test

self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan

single-mastery.

2. Terdapat peningkatan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test

self-efficacy siswa yang mengikuti model pembelajaran inquiry pemodelan

multiple-coping.

3. Tidak terdapat peningkatan yang signifikan dari skor self-efficacy siswa yang

mengikuti model pembelajaran direct.

4. Model pembelajaran inquiry pemodelan multiple-coping lebih efektif dalam

meningkatkan self-efficacy siswa dibandingkan dengan model pembelajaran

inquiry pemodelan single-mastery dan model pembelajaran direct.

B. Implikasi

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV, implikasi

peneltitan ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Penelitian ini menemukan peningkatan self-efficacy melalui model

pembelajaran inquiry. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan menambah

khasanah penelitian tentang model pembelajaran inquiry dan juga mendukung

teori-teori model pembelajaran inquiry yang dapat mempromosikan asfektif

siswa.

2. Penelitian ini juga menemukan peningkatan self-efficacy yang lebih besar

siswa melalui pemodelan multiple-coping dibandingkan dengan pemodelan

single-mastery. Penelitian ini diharapkan akan menambah khasanah

penelitian tentang pemodelan dalam pendidikan jasmani.

(39)

80

Muhammad Zulfikar 2015

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DAN PEMODELAN

TERHADAP SELF-EFFICACY SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI.

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan di

atas, ada beberapa hal yang direkomendasikan oleh penulis agar penelitian ini

bermanfaat dan pen

Gambar

Tabel 3.2.
Tabel 3.3.
Tabel 3.4.
Tabel 3.5.
+2

Referensi

Dokumen terkait

dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan penguasaan konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry dengan siswa

Hasil pengujian menunjukkan bahwa computer self efficacy berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap adopsi teknologi ( TAM ) melalui variabel

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan skor pada skala pain self efficacy questionnaire (PSEQ) dan Elkins Distress Inventory (EDI). Terjadi peningkatan

Self-efficacy dengan hasil belajar IPA menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara self efficacy dengan hasil belajar siswa kelas VII SMP

Dukungan rekan kerja berpengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap penerapan etika melalui self-efficacy , yang artinya rekan kerja yang semakin sering

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Self-Efficacy terhadap kemandirian belajar siswa pada mata pelajaran produktif

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan test of between-subjects effects, yang dilanjutkan dengan analisis signifikansi perbedaan skor rata-rata self efficacy antar

dan Hacket pada tahun 1983 [7] yang menyatakan bahwa dengan self efficacy yang tinggi seorang siswa akan lebih mudah dan berhasil melampaui latihan-latihan matematika yang diberikan