THE RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE AND ATTITUDES ABOUT BLOOD DONORS AGAINST ACTION FOR BLOOD DONORS ON STUDENTS OF FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH MAKASSAR
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG DONOR DARAH DENGAN TINDAKAN BERDONOR DARAH PADA MAHASISWA FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
DESTI MONASARI ASSHAGAB 10542025110
Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
PEMBIMBING dr. Suryani Tawali, MPH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Peneliti panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berkat rahmat dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Donor Darah Dengan Tindakan Berdonor Darah Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar” sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi serta memperoleh gelar Sarjana Strata Pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
Keberhasilan penyusunan skripsi ini adalah berkat bimbingan, kerja sama serta bantuan moril maupun materil dari berbagai pihak sehingga segala rintangan yang dihadapi selama penelitian dan penyusunan ini dapat terselesaikan dengan baik. Untuk itu pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu saya tercinta ‘Marlina’ dan Ayah saya tersayang ‘La Maronta Galib’ juga kepada seluruh keluarga besar Asshagab yang telah banyak memberikan dorongan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.
2. Kakak-kakak kebanggaan saya : Muhtar Asshagab, St. Mutiara Ningsih Asshagab, dan Sri Milawati Asshagab yang tiada henti-hentinya memberikan contoh dan nasehat terbaik kepada saya.
3. Adik-adik kesayangan saya : Tipe Sultan Ahmad Asshagab, Murah Riski Novi Asshagab, Madania Asshagab, Mazratul Ramadhani Asshagab, M. Aljabar Mutokhir Asshagab, dan Mentari Bintang Asshagab yang selalu menyemangati dan membantu
4. Ayahanda Dekan Fakultas Kedokteran (dr. H. Mahmud Gaznawi) beserta staf pegawai yang telah memberikan bantuan kepada peneliti selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Ayahanda dr. H. Budu Phd, SpM-KVR yang telah memberikan banyak motivasi dan semangat dalam kehidupan akademik.
6. Dosen Pembimbing, dr. Suryani Tawali MPH, yang telah meluangkan waktu selama proses pengajuan judul, proposal, hingga selesainya skripsi ini atas bimbingannya yang dengan penuh perhatian, kesabaran dalam memberikan pengarahan, koreksi dan dukungan moril.
7. Segenap dokter-dokter / dosen dari Fakultas Kedokteran yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu pengetahuan kepada peneliti.
8. Saudara seangkatan di Hipothalamus ‘010 yang selalu menghibur dan menyemangati satu sama lain. Terkhusus kepada sahabat terbaik saya Muthiah Muchlis dan Indra Wiratama, serta teman-teman kelompok belajar (Arhami Awal, Iin Alfriani Amran, Andi Asmita Abrar, Jihan Hariyati Ismail, dan Andi Dedi Pradana Putra), hal membahagiakan berjuang dan berusaha bersama-sama.
9. Teman-teman satu bimbingan skripsi saya (Aris Eko Suprapto, Elisa Vina Jayanti, Satriani, dan Azhar Fauzan) yang senantiasa dalam susah, senang, panas maupun hujan saling memberi dukungan selama penyusunan skripsi ini.
10. Kakak panutan saya, Noory Okthariza, atas dukungan, bantuan, dan semangatnya dalam penyusunan skripsi ini.
11. Semua responden dalam penelitian ini atas kesediaan dan kerjasamanya hingga skripsi ini dapat dirampungkan.
12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga segala bantuan yang tidak ternilai harganya ini mendapat imbalan di sisi Allah SWT sebagai amal ibadah, Amin.
Akhirnya, penulis menyadari terdapat banyak kekurangan yang ada dalam penyusunan skripsi ini, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Billahifisabililhaq Fastabiqulkhaerat
Wassalamualaikum Wr,Wb
Makassar, Februari 2014 Peneliti
DESTI MONASARI ASSHAGAB
SKRIPSI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FEBRUARI, 2014 DESTI MONASARI ASSHAGAB 10542025110
SURYANI TAWALI
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG DONOR DARAH DENGAN TINDAKAN BERDONOR DARAH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
RANGKUMAN
LATAR BELAKANG : Darah merupakan materi biologis dalam jumlah terbatas dan belum dapat disintesis di luar tubuh. Ketersedian darah dan komponen darah penting untuk keperluan transfusi darah sehingga dapat mengatasi berbagai kondisi gawat darurat yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang bermakna. Untuk memenuhi kebutuhan darah di Indonesia, diperlukan usaha yang berkesinambungan untuk merekrut donor baru dan mempertahankan donor yang telah ada.
TUJUAN : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap, serta karakteristik sosiodemografi responden terhadap tindakan berdonor darah di kalangan mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
METODE : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dengan teknik pengambilan sampel Stratified Proportional Random Sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 165 orang. Data diperoleh dengan membagikan kuesioner.
HASIL : Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pengetahuan responden dikategorikan cukup (57,0%), sikap responden dikategorikan positif (72,1%), dan tindakan berdonor darah masih kurang (20,6%). Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (75,2%) dengan rata-rata usia antara 18-23 tahun, dan suku mayoritas Bugis (52,1%)
KESIMPULAN : Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan, karakteristik sosiodemografi (umur dan suku) terhadap tindakan donor darah (p >0,05, namun terdapat signifikansi antara sikap dan karakteristik sosiodemografi jenis kelamin responden terhadap tindakan donor darah (p <0,05).
SARAN : Peneliti berharap promosi dan pendidikan kesehatan mengenai donor darah kepada masyarakat terutama mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar lebih ditingkatkan sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan tindakan berdonor darah.
KATA KUNCI : Tindakan donor darah, pengetahuan dan sikap tentang donor darah, karakteristik responden, mahasiswa berdonor darah
THESIS FACULTY OF MEDICINE MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF MAKASSAR FEBRUARY, 2012 DESTI MONASARI ASSHAGAB 10542025110
SURYANI TAWALI
THE RELATIONSHIP OF KNOWLEDGE AND ATTITUDES ABOUT BLOOD DONORS AGAINST ACTION FOR BLOOD DONORS ON STUDENTS OF FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITY OF MUHAMMADIYAH MAKASSAR
SUMMARY
BACKGROUND : Blood is a limited amount of biological material and can not be synthesized outside of the body. The availability of blood and blood components are important for blood transfusion purposes so that it can cope with various emergency conditions that can lead to meaningful morbidity and mortality. To meet the needs of blood in Indonesia, it is required continuous efforts to recruit new donors and maintain existing donors.
Objective : This study aims to determine the relationship of knowledge and attitudes, as well as the characteristics of the respondents’ sociodemoghrapic against action for blood donors on students of Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Makassar.
Methods : This study used a cross-sectional study design with Stratified Proportional Random Sampling as a sampling technique. The number of respondents in this study is 165 people. The Data is obtained by distributing the questionnaire.
Results : This research found that knowledge of respondents could be categorized as
“quite” (57,0%), the attitudes of respondents could be categorized as “positive” (72.1%), and the action for blood donors was still “less” (20.6%). Most of the respondents were women (75,2%) with an average age between 18-23 years old and the majority is Bugis (52,1%).
CONCLUSION : No significant relationship was found between the level of knowledge and sociodemoghrapic characteristics (age and ethnicity) against action for blood donors (p>0,05, but there was significant relationship between the attitudes and sociodemoghrapic characteristics (sex) against action for blood donors (p<0,05).
SUGGESTION : Researcher hoped that the promotion and health education regarding to blood donors for public, specifically for students of Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Makassar, can be improved so that it can maintain and enhance the actions for blood donors.
KEYWORDS : Action for blood donors, knowloedge and attitudes about blood donors, respondents’ characteristics, the student for blood donors
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
RANGKUMAN... iv
SUMMARY... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
1. Tujuan Umum ... 4
2. Tujuan Khusus... 4
D. Manfaat Penelitian... 5
1. Manfaat Teoritis ... 5
2. Manfaat Teknis... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan ... 7
1. Pengertian ... 7
2. Tingkat Pengetahuan ... 7
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 9
4. Pengukuran Pengetahuan ... 11
B. Sikap ... ... 12
1. Pengertian ... 12
2. Komponen Pokok Sikap ... 12
3. Tingkatan Sikap ... 13
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pembentukan Sikap ... 14
5. Pengukuran Sikap ... 17
C. Transfusi Darah .... ... 17
1. Pendahuluan ... ... 17
2. Pengertian ... 18
3. Pengelolaan Darah ... 18
4. Syarat-Syarat Teknik Menjadi Donor Darah ... 19
5. Pengambilan Donor Darah ... 20
6. Skrining dan Pemeriksaan Uji Saring ... ... 21
7. Indikasi Pemberian Darah dan Komponen Darah... 22
8. Pemeriksaan Golongan Darah Donor ... 24
9. Resiko Penularan Infeksi ... 26
10. Kontaminasu Darah Donor ... 28
D. Kerangka Teori ... 30
BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 31
B. Hipotesis ... .. 31
1. Hipotesis Nol ... 31
2. Hipotesis Alternatif ... 32
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Obyek Penelitian ... 33
1. Lokasi Penelitian ... ... 33
2. Waktu Penelitian ... 33
B. Metode Penelitian ... 33
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 34
1. Variabel Penelitian ... ... 34
2. Definisi Operasional ... 34
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
1. Data Primer ... ... 38
2. Data Sekunder ... 38
3. Instrument Penelitian ... 38
4. Prosedur Pengumpulan Data ... 39
E. Populasi dan Sampel Penelitian ... .. 39
1. Populasi ... ... 39
2. Perhitungan dan Besar Sampel ... 40
3. Kriteria Sampel ... ... 41
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data .... ... 41
1. Teknik Pengolahan Data ... ... 41
2. Teknik Analisis Data ... 42
G. Etika Penelitian ... 43
H. Alur Penelitian ... 43
BAB V HASIL A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 44
B. Hasil Penelitian... 44
1. Analisis Univariat ... 45
2. Analisis Bivariat ... 51
BAB VI PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden ... 56
B. Hubungan Jenis Kelamin dengan Tindakan Berdonor Darah ... 56
C. Hubungan Umur dengan Tindakan Berdonor Darah ... 57
D. Hubungan Suku dengan Tindakan Berdonor Darah ... 57
E. Hubungan Tingkat Penetahuan dengan Tindakan Berdonor Darah ... 58
F. Hubungan Sikap dengan Tindakan Berdonor Darah ... 59
G. Tindakan Berdonor Darah ... 61
BAB VII KAJIAN ISLAM A. Transfusi Darah Menurut Islam... 65
B. Hukum Transfusi Darah ... 66
C. Hukum Menjual Darah untuk Kepentingan Transfusi ... 69
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... ... 72
B. Saran ... ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 74 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN Kuesioner Hasil Uji SPSS
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Bentuk Darah, Indikasi Pemberian dan Masa Simpan Darah ... .. 23
Tabel 2.2 Pembagian Golongan Darah Sistem ABO ... .. 25
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Angkatan ... .. 45
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... .. 45
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur ... .. 46
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Berat Badan ... .. 47
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Suku ... .. 47
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahun .. .. 48
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap ... .. 48
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Donor ... .. 49
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Motivasi Responden Berdonor Darah ... .. 50
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Alasan Responden Menolak Berdonor Darah .. .. 50
Tabel 5.11 Hubungan Jenis Kelamin Dengan Tindakan Berdonor Darah ... .. 51
Tabel 5.12 Hubungan Umur Dengan Tindakan Berdonor Darah ... .. 52
Tabel 5.13 Hubungan Suku Dengan Tindakan Berdonor Darah ... .. 53
Tabel 5.14 Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Tindakan Berdonor Darah .. 53
Tabel 5.15 Hubungan Sikap Dengan Tindakan Berdonor Darah ... .. 54
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Donor Darah Dengan Tindakan Berdonor Darah Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar
Lampiran 2 Hasil Uji SPSS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan darah bagi kelangsungan hidup manusia penting adanya. Darah merupakan materi biologis dalam jumlah yang terbatas dan belum dapat disintesis di luar tubuh. Sehingga ketersediaan darah di sarana kesehatan sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mendonorkan darahnya untuk keperluan transfusi darah.1,2
Transfusi darah adalah salah satu bagian penting dalam pelayanan kesehatan modern. Bila digunakan dengan benar, transfusi dapat menyelamatkan jiwa seseorang dan meningkatkan derajat kesehatan. Indikasi tepat transfusi darah dan komponen darah adalah untuk mengatasi kondisi yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna yang tidak dapat diatasi dengan cara lain. Secara universal, diketahui bahwa transfusi darah dibutuhkan untuk menangani pasien anemia berat, pasien dengan kelainan darah bawaan, pasien yang mengalami kecederaan parah, pasien yang hendak menjalankan tindakan bedah operatif dan pasien yang mengalami penyakit liver ataupun penyakit lainnya yang mengakibatkan tubuh pasien tidak dapat memproduksi darah atau komponen darah sebagaimana mestinya.2,3,4
Pada negara berkembang, transfusi darah juga sangat diperlukan untuk menangani kegawatdaruratan melahirkan sehingga tidak berujung pada anemia berat.
Tanpa darah yang cukup, seorang ibu dapat mengalami gangguan kesehatan bahkan kematian. Terkait hal tersebut, diketahui bahwa MMR (Maternal Mortality Rate)
mencapai 307, artinya terjadi 307 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan, pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama kematian ibu melahirkan adalah perdarahan (8%, SKRT 2001), artinya dapat disimpulkan bahwa tingginya angka kematian ibu di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan, pengelolaan dan pelaksanaan usaha transfusi darah.3,5
Angka kematian akibat dari tidak tersedianya cadangan tranfusi darah pada negara berkembang relatif tinggi. Ketidakseimbangan perbandingan ketersediaan darah dengan kebutuhan rasional merupakan penyebab utama masalah ini. Jika mengkaji lebih dalam, di negara berkembang seperti Indonesia, persentase donasi darah lebih minim dibandingkan dengan negara maju, padahal tingkat kebutuhan darah setiap negara secara relatif adalah sama, dan semakin majunya suatu negara, maka kebutuhan akan darah pun semakin banyak. Indonesia memiliki tingkat penyumbang enam hingga sepuluh orang per 1.000 penduduk. Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah negara maju di Asia, misalnya di Singapura tercatat sebanyak 24 orang yang melakukan donor darah per 1.000 penduduk, berikut juga di Jepang tercatat sebanyak 68 orang yang melakukan donor darah per 1.000 penduduk.6,7
Indonesia membutuhkan sedikitnya satu juta pendonor darah guna memenuhi kebutuhan 4,8 juta kantong darah per tahunnya. Menurut Ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla8, jumlah kebutuhan darah ideal suatu negara adalah sebanyak dua persen dari jumlah penduduk. Jika di Indonesia jumlah penduduknya 240 juta jiwa, maka jumlah kebutuhan darah mencapai 4,8 juta kantong darah per tahun. Namun, sejauh ini PMI baru bisa mengumpulkan 1,9 juta kantong darah. Jadi masih kurang sekitar 3 juta kantong. Hal tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan akan darah di Indonesia yang tinggi tetapi darah yang terkumpul dari donor darah
masih rendah dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjadi pendonor darah sukarela masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa kendala misalnya karena masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang masalah transfusi darah, persepsi akan bahaya bila seseorang memberikan darah secara rutin.
Selain itu, kegiatan donor darah juga terhambat oleh keterbatasan jumlah UTD PMI di berbagai daerah, PMI hanya mempunyai 188 unit tranfusi darah (UTD). Mengingat jumlah kota/kabupaten di Indonesia mencapai sekitar 440.8,9
Di beberapa kota, termasuk kota Makassar, rata-rata kebutuhan darah di rumah sakit setiap harinya mencapai 80 sampai 100 kantong darah dengan ukuran setiap kantongnya sekitar 250 cc. golongan darah yang dibutuhkan bervariasi baik golongan darah O, A, B, maupun AB. Namun pasokan darah yang mampu disediakan PMI cabang Makassar masih antara 30 hingga 50 pendonor. Hal ini membuktikan bahwa partisipasi donor darah di kota Makassar masih kurang. Bahkan dari 40 ribu pendonor yang tercatat pada PMI di sulawesi selatan, yang aktif mendonorkan darahnya secara berkala hanya sekitar 3.000 orang. Terbatasnya jumlah pendonor darah terutama donor darah sukarela dan frekuensi donor menyebabkan PMI belum mampu memenuhi kebutuhan darah. Keterbatasan jumlah pendonor darah sukarela ini dapat disebabkan oleh pengetahuan tentang donor darah yang kurang, anggapan dan persepsi yang salah mengenai donor darah, atau ketakutan akan prosedur teknis donor darah.10,11
Donor darah sebagian besar dilakukan oleh orang yang bekerja di bidang swasta yaitu 57,60% dari keseluruhan pendonor, sedangkan mahasiswa/pelajar hanya mencapai 14,90%12. Donor darah ini dilakukan oleh mahasiswa berasal dari berbagai universitas dan beberapa fakultas yang terdata aktif pada donor darah diantaranya Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Fakultas MIPA. Namun, Fakultas Kedokteran tercatat hanya 21 pendonor darah pada
tahun 2009.12 Hal ini menunjukkan masih kurangnya peran mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk donor darah, sedangkan mahasiswa yang bergerak di bidang kesehatan ini dinilai sesuai untuk berperan dalam membantu masalah kesehatan yang terjadi seperti masalah tidak seimbangnya kebutuhan dan ketersediaan darah.
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan pengetahuan tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa?
2. Bagaimana hubungan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa?
3. Apakah karakteristik sosiodemografi seperti jenis kelamin, usia, maupun suku/asal daerah berhubungan dengan tindakan berdonor darah mahasiswa?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum :
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa FK UNISMUH.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa FK UNISMUH.
b. Untuk mengetahui hubungan tingkatan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa FK UNISMUH.
c. Untuk mengetahui hubungan karakteristik sosiodemografi seperti jenis kelamin, usia, maupun suku/asal dengan tindakan berdonor darah mahasiswa FK Unismuh
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a) Bagi Peneliti Sendiri
Penelitian ini menjadi pengalaman berharga serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan yang telah diterima selama kuliah.
b) Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada Mahasiswa FK UNISMUH dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut yang berhubungan tentang donor darah.
2. Manfaat Teknis
a) Bagi Mahasiswa di FK UNISMUH
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi FK UNISMUH untuk lebih termotivasi dan ikut serta dalam pelaksanaan Donor Darah Sukarela, perencanaan upaya peningkatan promosi donor darah, dan juga memperbanyak kegiatan donor darah di lingkungan kampus.
b) Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat digunakan peneliti selanjutnya sebagai referensi meneliti lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan 1. Pengertian
Menurut Notoatmojo13(2003) pengetahuan adalah proses yang didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersikap langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Pengetahuan juga merupakan hasil tahu dan hasil tahu ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dan pada bukunya yang lain Notoatmodjo14 (2007) mengartikan pengetahuan sebagai hasil dari tahu, dimana
‘tahu’ ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut teori Bloom 1908 (dalam Notoatmodjo13, 2003 : 121) tingkat pengetahuan ada enam tingkat yaitu :
a. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajarinya antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan.
b. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dapat menginterpretasi benar tentang objek yanga diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan menyebutkan cotoh menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari, misalnya dapat menjelaskan mengapa harus datang ke Posyandu.
c. Aplikasi (Application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
Apliksi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan prinsip.
d. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan
e. Sintesis (synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya : dapat
menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada
f. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian- penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria yang ada
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo13 (2003) adalah :
a. Umur
Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian- penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain.
b. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang atau lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi. Pendidikan meliputi peranan penting dalam
menentukan kualitas manusia. Dengan pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas karena pendidikan yang tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang berkualitas.
c. Paparan media massa
Melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik maka berbagai ini berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa akan memperoleh informasi yang lebih banyak dan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki.
d. Sosial ekonomi (pendapatan)
Dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun skunder keluarga, status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang semakin mudah dalam mendapatkan pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas
e. Hubungan sosial
Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. Apabila hubungan sosial seseorang dengan individu baik maka pengetahuan yang dimiliki juga akan bertambah.
f. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal biasanya diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses pengembangan misalnya sering mengikuti organisasi
4. Pengukuran Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo14 (2007), Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.
Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dilakukan 100% dan hasilnyaberupa persentasi dengan rumus yang digunakan sebagai berikut :
P = 100 %
Keterangan :
a. P = persentasi
b. f = frekuensi dari seluruh alternatif jawaban yang menjadi pilihan yang telah dipilih responden atas pernyataan yang diajukan
c. n = jumlah frekuensi seluruh alternatif jawaban yang menjadi pilihan responden selaku peneliti
d. 100% = bilangan genap
Selanjutnya pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diiterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
a) Baik : hasil presentasi76%-100%
b) Cukup : hasil presentasi 56%-75%
B. Sikap
1. Pengertian Sikap
Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.15
Menurut Newcomb salah satu ahli psikologi sosial yang dikutip oleh Notoadmodjo15 (2003) menyatakan bahwa . sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap bukanlah perilaku, tetapi lebih merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap, sehingga sikap dan perilaku dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu tindakan.
2. Komponen Pokok Sikap
Komponene sikap terdiri dari 3 bagian yaitu:
a. Komponen kogntif, disebut juga komponen perseptual, yang berisi kepercayaan yang berhubungan dengan persepsi individu terhadap objek sikap dengan apa yang dilihat dan diketahui, pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi, kebutuhan emosinal, dan informasi dari orang lain.
Misalnya sikap seseorang terhadap tindakan untuk melakukan transfusi darah.16
b. Komponen afektif , komponen ini menunjukkan dimensi emosional subjektif
individu terhadap objek sikap, baik bersifat positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang). Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai suatu yang benar terhadap objek sikap tersebut.
Misalnya bagaimana orang menilai tindakan transfusi darah, apakah orang tersebut setuju atau tidak untuk melakukn transfusi darah.16
c. Komponen konatif (komponen prilaku), komponen ini merupakan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya. Misalnya sikap terhadap tindakan untuk melakukan transfusi darah, apa mereka termasuk orang yang rutin atau minimal pernah melakukan transfusi darah.16
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.14
3. Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari empat tingkatan yaitu :17 a. Menerima ( receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Oleh karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah, berarti orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat ketiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Sikap mempunyai arah artinya sikap terpilih pada dua arah kesetujuan yaitu setuju dan tidak setuju. Orang yang setuju terhadap suatu objek maka arahnya positif dan sebaliknya orang yang tidak setuju maka arahnya negatif. Sikap memiliki intensitas artinya kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pembentukan Sikap
Sikap manusia dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :17 a. Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Apakah penghayatan tersebut akan membentuk sikap positif atau sikap negatif, akan tergantung pada berbagai faktor lain.17
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi,
penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.17
b. Pengaruh orang lain
Orang lain disekitar merupakan salah satu diantara komponen sosial yang mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, yang diharapkan, yang tidak ingin dikecewakan atau orang yang berarti khususnya akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami dan lain-lain.17
c. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana individu hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap. Apabila hidup dalam masyarakat yang mempunyai norma sangat mungkin individu tersebut akan mempunyai sikap yang mendukung. Apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kelompok, maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang mengutamakan kepentingan perorangan.17
d. Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam menyampaikan informasi sebagai tugas pokoknya media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuai hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.17
e. Lembaga pendidikan dan agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Dikarenakan konsep moral dan ajaran agama menentukan sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.17
f. Faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai macam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. Suatu contoh bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka (prejudice). Prasangka seringkali merupakan bentuk sikap negatif yang didasari oleh kelainan kepribadian pada orang-orang yang sangat frustasi.17
Salah satu strategi untuk memperoleh perubahan sikap menurut
WHO yang dikutip oleh Notoatmodjo, pemberian informasi untuk meningkatkan pengetahuan yaitu dengan pemberian informasi sehingga menimbulkan kesadaran dan dapat melalui penyuluhan.18
5. Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat reponden.14
C. Transfusi Darah 1. Pendahuluan
Kemajuan dalam ilmu bedah dan pengobatan mengakibatkan bertambah seringnya dilakukan transfusi darah. Pemberian darah ataupun komponennya dimaksudkan antara lain untuk menjamin kemampuan penyediaan oksigen dalam batas curah jantung yang dapat dihasilkan oleh tubuh, menjamin cukup tersedia trombosit dan faktor-faktor pembekuan, dan untuk mencukupi isi ruang intravaskular.19
Transfusi darah sering merupakan penyelamat jiwa, akan tetapi morbiditas dan motalitas setelah transfusi darah juga cukup tinggi. Karena itu transfusi darah seyogiyanya hanya diberikan apabila ada indikasi yang jelas. Biasanya seorang dewasa normal masih dapat dengan baik mengatasi gangguan fungsional yang ditimbulkan oleh kehilangan 10% isi darah, 20% kemampuan membawa oksigen atau kehilangan 40% faktor pembekuan. Kehilangan sebanyak dua kali jumlah
tersebut di atas masih belum mengakibatkan kematian walaupun menimbulkan gejala yang cukup berat.20
2. Pengertian
Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1980, definisi transfusi darah adalah tindakan medis memberikan darah kepada seorang penderita yang darahnya telah tersedia dalam botol kantong plastik.
Usaha transfusi darah adalah segala tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memungkinkan penggunaan darah bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan yang mencakup masalah-masalah pengadaan, pengolahan, dan penyampaian darah kepada orang sakit. Darah yang digunakan adalah darah manusia atau bagian-bagiannya yang diambil dan diolah secara khusus untuk tujuan pengobatan dan pemulihan kesehatan.
Penyumbang darah adalah semua orang yang memberikan darah untuk maksud dan tujuan transfusi darah.21
3. Pengelolaan Darah
Yang dimaksud dengan pengelolaan darah adalah tahapan kegiatan untuk mendapatkan darah sampai dengan kondisi siap pakai, yang mencakup antara lain21:
a. Rekruitmen donor.
b. Pemeriksaan golongan darah.
c. Pemeriksaan uji saring.
d. Pengambilan darah donor.
e. Pemisahan darah menjadi komponen darah.
g. Penyimpanan darah di suhu tertentu.
h. Dan lain-lain.
4. Syarat-syarat Teknis Menjadi Donor Darah
Untuk menjadi donor darah, seorang calon donor harus berusia antara 17 - 60 tahun. Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orangtua ; berat badan minimum 50 kg; temperatur tubuh secara oral antara 36,6 - 37,5°C ; tekanan darah baik, yaitu sistole 110 - 160 mm Hg dan diastole 70 - 100 mm Hg; denyut nadi teratur 50 - 100 kali/ menit ; kadar hemoglobin untuk wanita minimal 12 gr % dan pria minimal 12,5 gr %. Jumlah penyumbangan pertahun sebanyak 3-4 kali, dengan jarak penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum kesehatan donor.
Seseorang tidak dibolehkan menjadi donor darah pada keadaan pernah menderita hepatitis B atau hepatitis C dan berhubungan kontrak erat dengan penderita hepatitis dalam enam bulan terakhir, menindik atau menato badan dalam kurun waktu enam bulan terakhir, pasca operasi gigi dalam kurun waktu 72 jam terakhir, pasca operasi kecil dalam enam bulan terakhir, pasca operasi besar dalam 12 bulan terakhir, menerima vaksinasi polio, influenza kolera, tetanus dipteria atau profilaksis dalam 24 jam terakhir, menerima vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles dan tetanus toxin dalam dua minggu terakhir, menerima injeksi imunisasi rabies terapetik dalam satu tahun terakhir, memiliki reaksi alergi dalam satu minggu terakhir, melakukan transplantasi kulit dalam satu tahun terakhir, sedang hamil dan sesudah persalinan dalam enam bulan terakhir, sedang menyusui, ketergantungan obat, ketergantungan alkohol akut dan kronik, menderita sifilis, menderita tuberkolosa, menderita epilepsi dan sering kejang,
menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk, mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya, defisiensi G6PD, thalasemia, polisitemiavera, termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak steril) dan yang terakhir adalah pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.21 5. Pengambilan Darah Donor
Seorang calon donor yang datang ke UTD akan diminta untuk menbaca dan menjawab sendiri persyaratan-persyaratan menjadi donor, mengisi formulir pendaftaran donor dan diperbolehkan untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti kepada petugas. Riwayat medis calon donor akan ditanyakan.
Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan hemoglobin dengan mengambil darah dari ujung jari anda untuk diperiksa. Dokter akan melalukan pemeriksaan fisik sederhana dan tekanan darah dan akan memberikan pertanyaan sehubungan dengan isian formulir pendaftaran. Pengambilan darah akan mengambil waktu kurang lebih 15 menit.21
Seorang asisten atau laboran akan bersama calon pendonor dan calon pendonor diminta untuk beristirahat selama 5-10 menit dalam posisi berbaring.
Lama penyumbangan bervariasi terbantung dari banyak tidaknya penyumbang darah. Pengambilan donor darah dilakukan secara bergantian. Darah yang diambil sekitar 250cc atau 350 cc, kira-kira 7-9% dari volume rata-rata orang dewasa.
Darah dikumpulkan ke dalam kantung plastik 250 ml yang mengandung 65 – 75 mL CPC (Citrate Phosphate Dextrose) atau ACD (Acid Citrate Dextrose).
Volume tersebut akan digantikan oleh tubuh dalam waktu 24-48 jam dengan
Setelah menyumbangkan darah, pendonor dipersilahkan menuju ruang istirahat sambil duduk untuk memberikan kesempatan tubuh menyesuaikan diri sambil menikmati hidangan. Kartu donor akan diberikan sebelum meninggalkan ruangan.21
6. Skrining atau Pemeriksaan Uji Saring
Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab infeksi tertentu dari donor kepada resipien. Untuk mengurangi potensi transmisi penyakit melalui transfusi darah, diperlukan serangkaian skrining terhadap faktor-faktor risiko yang dimulai dari riwayat medis sampai beberapa tes spesifik. Tujuan utama skrining adalah untuk memastikan agar persediaan darah yang ada sedapat mungkin bebas dari penyebab infeksi dengan cara melacaknya sebelum darah tersebut ditransfusikan. Untuk skrining donor darah yang aman maka pemeriksaan harus dilakukan secara individual (tiap individual bag atau satu unit darah). Jenis pemeriksaan yang digunakan sesuai dengan standard WHO, dalam hal ini meliputi pemeriksaan atas sifilis, hepatitis B, hepatitis C dan HIV. Metode tes dapat menggunakan uji cepat khUnismuhs (rapid test), automated test maupun ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay). Laboratorium yang menguji 1- 35 donasi per minggu sebaiknya menggunakan rapid test. Laboratorium yang menguji 35-60 donasi per minggu sebaiknya menggunakan metoda uji aglutinasi partikel dan yang menguji lebih dari 60 donasi per minggu sebaiknya menggunakan EIA. Metode yang umum digunakan di UTD cabang adalah rapid test.22
Dalam mempertimbangkan berbagai pengujian, perlu disadari data yang berkaitan dengan sensitivitas dan spesifitas masing-masing pengujian. Sensitivitas adalah suatu kemungkinan adanya hasil tes yang akan menjadi reaktif pada seorang individu yang terinfeksi, oleh karena itu sensitivitas pada suatu pengujian adalah kemampuannya untuk melacak sampel positif yang selemah mungkin.
Spesifisitas adalah suatu kemungkinan adanya suatu hasil tes yang akan menjadi non-reaktif pada seorang individu yang tidak terinfeksi, oleh karena itu spesifitas suatu pengujian adalah kemampuannya untuk melacak hasil positif non-spesifik atau palsu.22
Dalam mempertimbangkan masalah penularan penyakit melalui transfusi darah, perlu diingat bahwa seorang donor yang sehat akan memberikan darah yang aman. Donor yang paling aman adalah donor yang teratur, sukarela, dan tidak dibayar. Jelasnya bahwa para donor yang berisiko terhadap penyakit infeksi harus didorong agar tidak menyumbangkan darahnya.22
7. Indikasi Pemberian Darah dan Komponen Darah
Faktor keamanan dan keefektifan transfusi darah bergantung pada indikasi transfusi darah dan pemberian komponen darah yang tepat. Transfusi darah atas indikasi yang tidak tepat tidak akan memberi keuntungan bagi pasien, bahkan malah menambah resiko yang tidak perlu. Keputusan untuk melakukan transfusi darah harus selalu berdasarkan penilaian yang tepat dari segi klinis penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium. Pada tabel 2.1 tersedia macam-macam daftar bentuk darah yang dipisahkan, indikasi pemberian komponen darah dan masa simpannya. merah sedangkan pada serum tidak ditemukan.5
Tabel 2.1. Bentuk Darah, Indikasi Pemberian dan Masa Simpan Darah
No. Bentuk Darah Indikasi Masa
Simpan Keterangan
1. Darah lengkap
1. Pendarahan 2. Anemia
3. Renjetan Oligonemik 4. Kelainan darah seperti anemia aplastik
21 hari
2. Eritrosit terkonsentrasi
Anemia kronis dimana volume sirkulasi tidak bertambah
21 hari
Khususnya untuk pasien jantung,
anemia berat, sepsis, pasien sangat muda ataupun sangat tua 3. Darah lengkap
segar
Pendarahan dengan trombositopenia
(trombosit <40.000/mL)
12 jam
4. Darah baru Transfusi tukar pada
neonatus 2 hari
Bila kadar kalim pasien masih
rendah
5. Eritrosit cucian
1. Hemoglobinuria noktrunal paroksimal 2. Resipien yang emiliki antibody terhadap leukosit/
trombosit
3. Reaksi transfusi terhadap antigen plasma 4. Pasca transplantasi organ
5. Pasien dengan defisiensi imunitas
6 jam
Leuko sit belum dapat hilang
seluruhnya
6. Eritrosit beku Sama seperti indikasi untuk eritrosit cucian
6 jam setelah
dicairkan Pembuatan mahal 7. Plasma kering
1. Untuk meningkatkan volume sirkulasi
2. Luka bakar
8 tahun Umur 3 jam setelah dicairkan
8. Plasma beku Segar
Defisiensi faktor pembekuan seperti
hemofilia, pasca transfuse masif, kelebihan dosis coumarin dan ntikoagulan
Harus segera dipakai setelah
dicairkan
No. Bentuk Darah Indikasi Masa
Simpan Keterangan
9.
Konsentrasi Fraksi Protein plasma
Sama dengan indikasi
plasma kering 2 tahun Tidak mengandung
fibrinogen
10. Albumin Hipoalbuminemia 3 jam setelah
preparasi 11. Fibrinogen Afibrinogenemia 3 jam setelah
preparasi 12. Kripresipitat Defisiensi faktor VII
13. Faktor VIII
kering Hemofilia 3 jam setelah
preparasi 14. Konsentrat
Trombosit
Trombositopenia karena
berbagai macam sebab 2-3 hari
Sumber: James, D.C., 1981. Blood Transfusion and Notes on Realted Aspects of Blood Clotting and Heamoglobinopathies. In: James, D.C., Scientific Foundation of Anesthesia. London :WB Saunders, 375-91.23
8. Pemeriksaan Golongan Darah Donor
Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem AB0 pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan golongan darah 0). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan 0.
Kemudian Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih
Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibodi.21 sedangkan menurut sistem AB0, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan seperti yang tertera pada Tabel 2.2.
Untuk menentukan golongan darah seseorang tidak diperlukan biaya yang besar dan relatif mudah karena hanya memerlukan beberapa tetes dari sampel darah. Sebuah serum anti-A dicampur de darah. Serum lainnya dengan anti-B dicampurkan pada sisa sampel. Penilaian dilakukan dengan memperhatikan apakan ada penggumpalan pada salah satu sampel darah tersebut. Sebagai contoh, apabila sampel darah yang dicampur serum anti-A tersebut menggumpal namun tidak menggumpal pada sampel darah yang dicampur serum ant i-B maka antigen A ada pada sampel darah tersebut. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sampel darah tersebut diambil dari orang dengan golongan darah A (Palomar College Behavioral Sciences Department, 2009).
Tabel 2.2. Pembagian Golongan Darah Sistem ABO
Golongan
Darah Antigen A Antigen B Antibodi Anti-A
Antibodi Anti-B
A + - - +
B - + + -
0 - - + +
AB + + - -
Berdasarkan ada tidaknya antigen-Rh, maka golongan darah manusia dibedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang dengan
Rh-positif (Rh+), berarti darahnya memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan dengan reaksi positif atau terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh). Kelompok satunya lagi adalah kelompok orang dengan Rh negatif (Rh-), berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan saat dilakukan tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).
Menurut Landsteiner24 golongan darah Rh ini termasuk keturunan (herediter) yang diatur oleh satu gen yang terdiri dari 2 alel, yaitu R dan r. R dominan terhadap r sehingga terbentuknya antigen-Rh ditentukan oleh gen dominan R. Orang Rh+ mempunyai genotip RR atau Rr, sedangkan orang Rh- mempunyai genotip rr.
9. Resiko Penularan Infeksi a. Pendahuluan
Resiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah bergantung pada berbagai hal, antara lain prevalensi penyakit di masyarakat, keefektifan skrining yang digunakan, status imun resipien dan jumlah donor tiap unit darah. Penularan penyakit terutama timbul pada saat window period yaitu periode segera setelah infeksi dimana darah donor sudah infeksius tetapi hasil skrining masih negatif.25,26
b. Transmisi HIV
Penularan HIV melalui transfusi darah pertama kali diketahui pada akhir tahun 1982 dan awal 1983. Pada tahun 1983 Public Health Service (Amerika Serikat) merekomendasikan orang yang berisiko tinggi terinfeksi HIV untuk tidak menyumbangkan darah. Bank darah juga mulai menanyakan
kepada donor mengenai berbagai perilaku berisiko tinggi, bahkan sebelum skrining antibodi HIV dilaksanakan, hal tersebut ternyata telah mampu mengurangi jumlah infeksi HIV yang ditularkan melalui transfusi.
Berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) selama 5 tahun pengamatan, hanya mendapatkan 5 kasus HIV/tahun yang menular melalui transfusi setelah dilakukannya skrining antibodi HIV pada pertengahan maret 1985 dibandingkan dengan 714 kasus pada 1984.
Untuk mengurangi risiko penularan HIV melalui transfusi, bank darah mulai menggunakan tes antigen p24 pada tahun 1995. Setelah kurang lebih 1 tahun skrining, dari 6 juta donor hanya 2 yang positif.26
c. Penularan Hepatitis B dan C
Penggunaan skrining antigen permukaan hepatitis B pada tahun 1975 menyebabkan penurunan infeksi hepatitis B yang ditularkan melalui transfusi, sehingga saat ini hanya terdapat 10% yang menderita hepatitis pasca transfusi. Makin meluasnya vaksinasi hepatitis B diharapkan mampu lebih menurunkan angka penularan virus hepatitis B.
Meskipun penyakit akut timbul pada 35% orang yang terinfeksi, tetapi hanya 1-10% yang menjadi kronis26
Transmisi infeksi virus hepatitis non-A non-B sangat berkurang setelah penemuan virus hepatitis C dan dilakukannya skrining anti-HCV.
Risiko penularan hepatitis C melalui transfusi darah adalah 1:103.000 transfusi. Infeksi virus hepatitis C penting karena adanya fakta bahwa 85% yang terinfeksi akan menjadi kronik, 20% menjadi sirosis dan 1-5%
menjadi karsinoma hepatoselular. Mortalitas akibat sirosis dan karsinoma
hepatitis B di Indonesia adalah 3-17% dan hepatitis C 3,4% sehingga perlu dilakukan skrining hepatitis B dan C yang cukup adekuat.27,28 d. Penularan Syphilis
Syphilis dapat menular kepada orang lain selain melalui hubungan seks yaitu melalui transfusi darah. Penularan sifilis di Kanada telah berhasil dihilangkan dengan penyeleksian donor yang cukup hati-hati dan penggunaan tes serologis terhadap penanda sifilis. Indonesia syphilis dikenal dengan nama penyakit raja singa.29
10 Kontaminasi Darah Donor a. Kontaminasi Bakteri
Kontaminasi bakteri mempengaruhi 0,4% konsentrat sel darah merah dan 1-2% konsentrat trombosit. Kontaminasi bakteri pada darah donor dapat timbul sebagai hasil paparan terhadap bakteri kulit pada saat pengambilan darah, kontaminasi alat dan manipulasi darah oleh staf bank darah atau staf rumah sakit pada saat pelaksanaan transfusi atau bakteremia pada donor saat pengambilan darah yang tidak diketahui.5, 29
Jumlah kontaminasi bakteri meningkat seiring dengan lamanya penyimpanan sel darah merah atau plasma sebelum transfusi. Penyimpanan pada suhu kamar meningkatkan pertumbuhan hampir semua bakteri.
Beberapa organisme, seperti Pseudomonas tumbuh pada suhu 2-6°C dan dapat bertahan hidup atau berproliferasi dalam sel darah merah yang disimpan, sedangkan Yersinia dapat berproliferasi bila disimpan pada suhu 4°C. Stafilokokus tumbuh dalam kondisi yang lebih hangat dan berproliferasi dalam konsentrat trombosit pada suhu 20-40°C. Oleh karena itu, risiko meningkat sesuai dengan lamanya penyimpanan. Gejala klinis akibat
kontaminasi bakteri pada sel darah merah timbul pada 1 : 1 juta unit transfusi. Risiko kematian akibat sepsis bakteri timbul pada 1 : 9 juta unit transfusi sel darah merah. Di Amerika Serikat selama tahun 1986-1991, kontaminasi bakteri pada komponen darah sebanyak 16%; 28% di antaranya berhubungan dengan transfusi sel darah merah. Risiko kontaminasi bakteri tidak berkurang dengan penggunaan transfusi darah autolog.28
b. Kontaminasi parasit
kontaminasi parasit dapat timbul hanya jika donor menderita parasitemia pada saat pengumpulan darah. Kriteria seleksi donor berdasarkan riwayat bepergian terakhir, tempat tinggal terdahulu, dan daerah endemik, sangat mengurangi kemungkinan pengumpulan darah dari orang yang mungkin menularkan malaria, penyakit Chagas atau Leismaniasis. Di Kanada dan Amerika Serikat penularan penyakit Chagas melalui transfusi sangat jarang. Sedangkan resiko penularan malaria di Kanada diperkirakan 1 : 400.000 unit konsentrat sel darah merah, di Amerika Serikat 1 : 4 juta unit darah, sedangkan di Irlandia saat ini tidak ada laporan mengenai penularan malaria melalui transfusi darah.28,25
D. Kerangka Teori
Keterangan :
Variabel Independen
Donor Darah
Pengetahuan
Pengambilan darah donor
Pemeriksaan golongan darah
Pengelolaan darah
Skrining atau pemeriksaan uji saring
Syarat-syarat teknis menjadi donor darah
Resiko Penularan Infeksi
Syarat-syarat Teknis Menjadi Donor Darah
Indikasi Pemberian Darah dan Komponen Darah
Kontaminasi Darah Donor
Sikap Karakteristik Sosiodemografi
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Pendidikan
Suku
Keterlibatan organisasi, dll
TRANSFUSI DARAH
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Pada penelitian ini, kerangka konsep mengenai hubungan pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan riwayat mendonor darah akan diuraikan, dimana variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan karakteristik sosiodemografi mahasiswa FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012 dan variabel dependen pada penelitian ini adalah pernah atau tidak pernah mendonorkan darah.
B. Hipotesis
1. Hipotesis Nol (H0)
Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa FK Unismuh. Serta tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik sosisodemografi
responden dengan tindakan responden tersebut untuk melakukan suatu transfusi darah.
2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap tentang donor darah dengan tindakan berdonor darah pada mahasiswa yang pernah mendonorkan darah ataupun tidak pernah mendonorkan darahya. Serta hal ini juga memiliki hubungan yang signifikan dengan karakteristik responden baik itu dari jenis kelamin, usia, maupun suku/asal daerah dengan tindakan berdonor darah
BAB 4
METODE PENELITIAN
A. Obyek Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, penentuan lokasi akan dilakukan dalam wilayah Kotamadya Makassar, di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar dengan penentuan responden terhadap beberapa karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, maupun suku/asal daerah yang berbeda sehingga diperoleh persepsi yang beragam antar sampel bergantung dari kategori yang telah ditentukan.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai dengan mengusulkan judul penelitian, penelusuran daftar pustaka, persiapan proposal penelitian, konsultasi dengan pembimbing, merancang kuesoner, pelaksanaan penelitian sampai dengan penyusunan laporan akhir yang dimulai dari pertengahan bulan September tahun 2013 dan diharapkan selesai awal bulan Januari tahun 2014.
B. Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah “Cross sectional study” yaitu dilakukan dengan cara pengumpulan data sekaligus dalam satu waktu, untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap tentang donor darah antara mahasiswa yang pernah mendonorkan darah dan tidak pernah mendonorkan darah yang juga dihubungankan dengan karakteristik responden seperti jenis kelamin, usia, maupun suku/asal daerah dengan riwayat mendonorkan darah.
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian
Variabel bebas pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan karakteristik sosiodemografi mahasiswa FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012 sedangkan variabel tergantungnya adalah pernah atau tidak pernah mendonorkan darah.
2. Definisi Operasional
a. Mahasiswa FK Unismuh angkatan 2012, 2011, dan 2010
Definisi : Mahasiswa FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012 adalah seluruh mahasiswa yang aktif mengikuti kegiatan perkuliahan pada tahun 2013 di Fakultas Kedokteran Unismuh.
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Ordinal Hasil ukur :
a. 2010 b. 2011 c. 2012 b. Jenis kelamin
Definisi : Jenis kelamin adalah jenis kelamin yang diakui oleh responden yaitu Mahasiswa aktif FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Nominal Hasil ukur :
a. Laki-laki b. Perempuan c. Usia
Definisi : Usia adalah usia yang diakui oleh responden yaitu Mahasiswa aktif FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti.
Alat ukur : Kuesoner Skala pengukuran : Rasio Hasil ukur :
a. < 20 b. 20 c. > 20 d. Suku
Definisi : Suku adalah suku bangsa responden yaitu Mahasiswa aktif FK Unismuh angkatan 2012, 2011, dan 2010.
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Nominal Hasil ukur :
a. Bugis
b. Makassar c. Dll
e. Tindakan Berdonor Darah
Definisi : Tindakan mendonorkan darah adalah status aksi donor darah responden yaitu Mahasiswa aktif FK Unismuh angkatan 2010, 2011, dan 2012
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Nominal Hasil ukur :
a. Pernah yaitu responden pernah mendonorkan darahnya
b. Tidak pernah yaitu responden yang tidak pernah mendonorkan darahnya
f. Pengetahuan tentang Donor Darah
Definisi : Apa yang diketahui oleh Mahasiswa FK Unismuh tentang gambaran ketersediaan darah di UTD PMI Cabang Makassar, golongan darah mayoritas penduduk Indonesia, pengertian donor darah, pengertian donor pengganti, volume darah yang diambil sekali donor darah, frekuensi donor darah, skrining darah donor, pemberian terapi transfusi darah, kegunaan berdonor darah, serta beberapa mitos-mitos tentang donor darah.
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti. kuesoner yang diberikan berisi 12, terdiri dari 2 jenis, yaitu delapan nomor pertanyaan tertutup dengan 3 alternatif jawaban dan empat nomor penyataan dengan alterntif jawaban
setuju atau tidak setuju. Tiga alternatif jawaban tersebut terdiri dari dua jawaban yang salah dan satu jawaban benar. Apabila jawaban responden benar, akan diberi nilai 1, bila jawaban responden salah diberi nilai 0. Dengan demikian, skor tertinggi adalah 12.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Ordinal Hasil ukur :
a. Tingkat pengetahuan baik, apabila jawaban responden benar >
75% dari nilai tertinggi, yaitu skor > 9
b. Tingkat pengetahuan cukup, apabila jawaban responden benar antara 56-75% dari nilai tertinggi, yaitu skor antara 7-9
c. Tingkat pengetahuan kurang, apabila jawaban responden benar antara <56% dari nilai tertinggi, yaitu skor <7
g. Sikap tentang Donor Darah
Definisi : Tanggapan ataupun respon Mahasiswa FK Unismuh terhadap pernyataan hipotesis yang berhubungan dengan donor darah.
Cara ukur : Dengan cara mengisi kuesoner berdasarkan jawaban yang diberikan responden kepada peneliti. Kuesioner yang diberikan terdiri dari 14 pernyataan hipotesis, 7 pernyataan hipotesis untuk mahasiswa yang pernah mendonorkan darah dan 7 pernyataan hipotesis untuk mahasiswa yang tidak pernah mendonorkan darah. Tidak dilakukan skoring pada pernyataan 1 dan 2. Untuk pernyataan 3-7, diberikan 5 alternatif jawaban yaitu : Sangat Setuju (SS) diberi nilai 4, Setuju (S) diberi nilai 3, Ragu-Ragu (RR) diberi nilai 2, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 1, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 0.
Dengan demikian, jumlah skor tertinggi adalah 20.
Alat ukur : Kuesoner
Skala pengukuran : Ordinal Hasil ukur :
a. Sikap Positif, bila jawaban responden benar ≥ 80% dari nilai tertinggi, yaitu skor ≥ 16
b. Sikap Negatif, bila jawaban responden benar antara < 80% dari nilai tertinggi, yaitu skor < 16
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari responden penelitian.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesoner. Kuesoner ini disusun secara terstruktur dimana responden diminta untuk memilih jawaban yang paling benar dan sesuai menurut responden.
Kuesoner pada penelitian ini merupakan modifikasi dari kuesoner penelitian sebelumnya, dan juga disusun sendiri oleh peneliti dimana kuesoner itu juga dihubungankan dengan karakteristik sosiodemografi reponden, dan bebeapa pertanyaan untuk menilai pengetahuan dan sikap responden.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung atau penunjang dari data primer, khususnya yang memiliki relevansi dengan topik penelitian yang dibahas.
Data sekunder diperoleh dari data berupa jumlah mahasiswa dan absensi kehadiran mahasiswa di FK Unismuh Makassar.
3. Instrument Penelitian
Instrument yang digunakan adalah kuesoner, berupa data diri responden