• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI TOKSISITAS PARTISI BUAH PINANG MERAH (

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UJI TOKSISITAS PARTISI BUAH PINANG MERAH ("

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

UJI TOKSISITAS PARTISI BUAH PINANG MERAH (Cyrtostachys renda Blume.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

SKRIPSI

disusun oleh : EMI EFRINI F1F118041

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

2022

(2)

i

UJI TOKSISITAS PARTISI BUAH PINANG MERAH (Cyrtostachys renda Blume.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagai persyaratan Mencapai derajat Sarjana Farmasi Pada Jurusan Farmasi FKIK Universitas Jambi

disusun oleh : EMI EFRINI F1F118041

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

2022

(3)
(4)
(5)

iv

SURAT PERSYARATAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : EMI EFRINI

NIM : F1F118041

Jurusan : Jurusan Farmasi FKIK Unja

Judul Skripsi : Uji Toksisitas Partisi Buah Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir Skripsi yang saya tulis ini benar- benar hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila di kemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir Skripsi ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Jambi, 09 Agustus 2022 Yang Membuat Pernyataan,

EMI EFRINI F1F118041

(6)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi Rabbil’alamin, segala puji hanya bagi Allah yang Maha Kuasa. Sholawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW. Atas segala limpahan nikmat rahmat serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Uji Toksisitas Partisi Buah Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)”. Penulisan skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Jambi. Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :

1. Dr. dr. Hum aryanto, Sp. OT, M. Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Jambi.

2. dr. Nindya Aryanty, Sp. A., M. Med, Ed selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Kerjasama dan Sistem Informasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Jambi.

3. Prof. Dr. rer. Nat. Muhaimin, M. Si selaku Ketua Jurusan Farmasi serta ibu apt.

Elisma, S. Farm., M. Farm selaku Sekretaris Jurusan Farmasi.

4. Dr. Drs. Syamsurizal, M. Si. dan Diah Tri Utami, S. Si., M. Sc. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang senantiasa memberikan saran, arahan, serta masukan kepada penulis selama menyelesaikan tugas akhir.

5. Ibu apt. Elisma, S. Farm., M. Farm selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing saya dari awal perkuliahan sampai dengan penulisan tugas akhir ini.

6. Seluruh Dosen Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan.

7. Bapak A. Somad dan Ibu Kamariah selaku orang tua yang selalu mendoakan, memberikan semangat, dan mendukung penulis baik secara material maupun non material.

(7)

vi

8. Kakak Ema Malini dan adik Afdika Al-Azmi yang selalu memberi dukungan dan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir.

9. Manusia dengan NIT 1831-4770, Maulizarni Ruza, Nur Aliza, Cindy Zulfa Ulayya, Sellya Marinda, Anisya Persi, Elen Septina, Rahmawati dan Aditya Firza Ramadani yang selalu membantu dan memberikan dukungannya di saat suka maupun duka serta seluruh sahabat maupun semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

10. Last but not least, i wanna thank me. I wanna thank me for believing in me, i wanna thank me for doing all this hard work, i wanna thank me for having no days off, i wanna thank me for never quiting, i wanna thank me for trying to do more right than wrong, i wanna thank me for just being me at all times.

Demikian skripsi ini disusun, semoga dapat memberi manfaat bagi rekan-rekan sejawat khususnya dan untuk pembaca pada umumnya. Penulis sangat mengharapkan masukan dari semua pihak.

Jambi, 09 Agustus 2022

EMI EFRINI F1F118041

(8)

vii DAFTAR ISI

PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

SURAT PERSYARATAN KEASLIAN TULISAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

RIWAYAT HIDUP PENULIS ... xiii

ABSTACT ... xiv

ABSTRAK ... xv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Hipotesis ... 4

1.4 Tujuan penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II ... 5

TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 5

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 5

2.1.2 Morfologi Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 5

2.1.3 Penyebaran Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 6

2.1.4 Manfaat Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 6

2.1.5 Kandungan Kimia Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 7

2.2 Kanker ... 7

(9)

viii

2.2.1 Definisi ... 7

2.2.2 Etiologi Kanker ... 7

2.2.3 Karsinogenesis ... 10

2.2.4 Jenis-Jenis Kanker ... 12

2.2.5 Gejala Klinis ... 13

2.2.6 Penatalaksanaan atau Modalitas Terapi Kanker ... 14

2.3 Kemoterapi ... 16

2.3.1 Obat Kemoterapi Kanker ... 16

2.3.2 Respon Kemoterapi ... 16

2.4 Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ... 17

2.5 Artemia salina Leach. ... 18

2.6 Ekstraksi ... 18

2.6.1 Cara Dingin ... 19

2.6.2 Cara Panas ... 19

2.6.3 Ekstraksi Cair-Cair (Partisi) ... 20

2.7 Fraksinasi ... 20

2.7.1 Fraksinasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ... 20

2.7.2 Fraksinasi dengan Kromatografi Kolom Cair Vakum (KCV) ... 22

BAB III ... 23

METODE PENELITIAN ... 23

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian ... 23

3.2.1 Bahan Penelitian ... 23

3.2.2 Alat Penelitian ... 23

3.3 Metode Penelitian ... 23

3.3.1 Determinasi Tanaman ... 24

3.3.2 Pengambilan dan Preparasi Bahan Penelitian ... 24

(10)

ix

3.3.3 Penyiapan dan Pembuatan Simplisia Buah pinang merah (Cyrtostachys

renda Blume.) ... 24

3.3.4 Pembuatan Ekstrak Buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) ... 24

3.3.5 Karakteristik Ekstrak ... 25

3.3.6 Uji Skrining Fitokimia Ekstrak ... 26

3.3.7 Ekstraksi Cair-Cair (Partisi) ... 27

3.3.8 Fraksinasi menggunakan Kromatografi Vakum Cair ... 28

3.3.9 Uji Toksisitas dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ... 28

3.4 Rancangan Percobaan ... 29

3.5 Analisis Data Uji BSLT ... 30

BAB IV ... 31

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

4.1 Determinasi Tanaman ... 31

4.2 Preparasi Sampel ... 31

4.3 Ekstraksi Buah Pinang Merah Tua ... 32

4.4 Karakterisasi Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 34

4.5 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 36

4.6 Ekstraksi Cair-Cair (Partisi) Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 39

4.7 Uji Toksisitas dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ... 41

4.8 Fraksinasi Hasil Partisi Buah Pinang Merah Tua ... 45

BAB V ... 50

KESIMPULAN ... 50

5.1 Kesimpulan ... 50

5.2 Saran ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

LAMPIRAN ... 57

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2. 1 Tanaman Buah Pinang Merah (Dokumentasi Pribadi) ... 5

Gambar 2. 2 Ciri-ciri kanker (Hallmarks of cancer). ... 11

Gambar 2. 3 Obat Kemoterapi Kombinasi Umum ... 16

Gambar 2.4 Morfologi larva Artemia salina (usia 48 jam). ... 18

Gambar 2. 5 Cara Pengukuran Nilai Rf ... 22

Gambar 4. 1 Proses ekstraksi cair-cair (Partisi) ... 39

Gambar 4. 2 Grafik Regresi Linear ... 44

Gambar 4. 7 Fraksinasi dengan Kromatografi Kolom Vakum (KKV) ... 46

Gambar 4. 8 Hasil Elusi KLT dengan Eluen n-Heksan : Etil Asetat (5:1) ... 47

Gambar 4. 9 Hasil elusi KLT Penggabungan Fraksi 1 – Fraksi 5 ... 48

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 2. 1 Tingkat Toksik Berdasarkan Nilai LC50. ... 17

Tabel 3. 1 Variasi konsentrasi Ekstrak dalam uji BSLT ... 30

Tabel 4. 1 Identifikasi dan Preparasi Sampel ... 32

Tabel 4. 2 Uji Organoleptis Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 35

Tabel 4. 3 Parameter Non Spesifik Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 35

Tabel 4. 4 Skirining Fitokimia Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 36

Tabel 4. 5 Data Hasil Partisi ... 40

Tabel 4. 6 Hasil Nilai LC50 Pada Uji BSLT ... 43

Tabel 4. 7 Hasil KLT Partisi Etil Asetat Buah Pinang Merah Tua ... 48

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran 1. Bagan Alur Penelitian ... 57

Lampiran 2. Pembuatan Simplisia dan Pembuatan Ekstrak ... 58

Lampiran 3. Uji Sitotoksik dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ... 59

Lampiran 4. Fraksinasi Partisi Buah Pinang Merah ... 61

Lampiran 5. Perhitungan ... 62

Lampiran 6. Perhitungan Nilai Rf ... 63

Lampiran 7. Surat determinasi buah pinang merah tua ... 64

Lampiran 8. Pembuatan Simplisia Buah Pinang Merah Tua ... 65

Lampiran 9. Pembuatan Ekstrak Buah Pinang Merah Tua ... 66

Lampiran 10. Karakteristik ekstrak buah pinang merah tua ... 67

Lampiran 11. Uji Skrining Fitokimia Buah Pinang Merah Tua ... 69

Lampiran 12. Ekstraksi cair-cair (Partisi) buah pinang merah tua ... 72

Lampiran 13. Pengamatan uji sitotoksisitas dengan metode BSLT ... 74

Lampiran 14. Fraksinasi hasil partisi buah pinang merah tua ... 75

(14)

xiii

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Emi Efrini dilahirkan di Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo pada tanggal 17 Januari 2000, yang merupakan putri kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak A. Somad dan Ibu Kamariah.

Penulis mengawali pendidikan dari SD 01/VIII Sungai Pandan pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 26 Tebo dan lulus pada tahun 2015. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 9 Tebo dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Universitas Jambi untuk melanjutkan jenjang pendidikan Strata-1 pada jurusan Farmasi yang bernaung dibawah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Jambi melalui Jalur Seleksi Mandiri Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMMPTN). Selama perkuliahan, penulis aktif mengikuti kegiatan Akademik maupun Non Akademik kampus. Untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1 (S1), penulis harus menyelesaikan seluruh mata kuliah di jurusan Farmasi, melakukan praktik Magang, melakukan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul “UJI TOKSISITAS PARTISI BUAH PINANG MERAH (Cyrtostachys renda Blume.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)”

(15)

xiv ABSTACT

Background : Cancer is a disease or disorder caused by abnormal cell division.

Therapy using herbal plants is one of the solutions used to overcome the occurrence of Multi Drug Resistenace (MDR). This study aims to analyze secondary metabolite compounds and examine the toxicity of dark red betel nut extract and partitions to Artemia salina Leach shrimp larvae using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method.

Method : This study was conducted using a Complete Randomized Design with 7 treatment groups, namely crude extract, n-hexane partition, ethyl acetate, dichloromethane, water, positive control (potassium dichromate), and nrgative control with 5 concentrations each (80,40,20,10,5 ppm) with five repeats so that the total test consisted of 155 experimental group units. Each experimental unit requires 10 heads of Artemia salina.

Result : The results of the probit analysis show that the Ethyl Acetate partition has the lowest LC50 value of 76,253 ppm, so that the Ethyl Acetate partition has a higher toxicity compared to Crude Extract and other partitions.

Conclusion : The results of crude extract and dark red betel nut partitions have secondary metabolites that have the potential to be anticancer and have the potential to be developed as anticancer agents because they have an LC50 value of > 1000 ppm.

Keywords : Cyrtostachys renda Blume., Toxicity, Artemia salina Leach., Brine Shrimp Lethality Test.

(16)

xv ABSTRAK

Latar Belakang : Kanker merupakan suatu penyakit atau gangguan yang disebabkan oleh pembelahan sel yang abnormal. Terapi menggunakan tanaman herbal merupakan salah satu solusi yang digunakan untuk mengatasi terjadinya Multi Drug Resistenace (MDR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis senyawa metabolit sekunder dan mengkaji toksisitas ekstrak dan partisi buah pinang merah tua terhadap larva udang Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

Metode : Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 7 kelompok perlakuan yaitu crude extract, partisi n-heksan, etil asetat, diklorometana, air, kontrol positif (kalium dikromat), dan kontrol nrgatif dengan masing-masing 5 konsentrasi (80,40,20,10,5 ppm) dengan lima kali ulangan sehingga total pengujian terdiri dari 155 unit kelompok percobaan. Masing-masing unit percobaan membutuhkan 10 ekor Artemia salina.

Hasil : Hasil analisis probit menunjukkan partisi Etil Asetat memiliki nilai LC50 yang terendah yaitu 76,253 ppm, sehingga partisi Etil Asetat memiliki toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Crude Extract dan partisi lainnya.

Kesimpulan : Hasil crude extract dan partisi buah pinang merah tua memiliki metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antikanker dan berpotensi dikembangkan sebagai agen antikanker karena memiliki nilai LC50 > 1000 ppm.

Kata Kunci : Buah Pinang Merah, Toksisitas, Artemia salina Leach., Brine Shrimp Lethality Test.

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kanker merupakan suatu penyakit yang melanda penduduk modern secara global dan merupakan penyakit utama pada saat ini serta di masa yang akan mendatang.

Berdasarkan data yang tercatat di Cancer Country Profile 2020, dari 270.625.567 jumlah penduduk indonesia pada tahun 2019, total kasus kanker baru pada tahun 2018 sebanyak 348.809 jiwa, sedangkan total kematian akibat kanker terhitung 207.210 jiwa1. Berikut merupakan data kejadian kanker yang paling umum terjadi di Indonesia pada tahun 2018 menurut Cancer Country Profile 2020.

Gambar 1. 1 Kasus Kanker Paling Umum di Indonesia pada Tahun 2018 Kanker merupakan suatu penyakit atau gangguan yang disebabkan oleh pembelahan sel yang abnormal dimana sel kanker akan terus menerus mengalami pertumbuhan yang tidak terkendali. Kemudian kanker akan menyebar dan dapat bermetastasis ke jaringan di sekitarnya2.

Pada saat ini, usaha pengobatan kanker telah banyak dilakukan secara intensif, mulai dari menggunakan metode radioterapi, kemoterapi sampai dengan melakukan tindakan pembedahan, namun beberapa metode pengobatan ini ditinjau dari tingkat kesembuhannya belum menunjukkan efektivitas yang baik untuk menangani kanker.

Kemoterapi menjadi metode dengan tingkat kegagalan yang sering terjadi, hal ini

(18)

2

disebabkan oleh rendahnya selektifitas obat-obatan antikanker terhadap sel normal serta dalam beberapa kasus sering menimbulkan fenomena resisitensi (Multi Drug Resistenace) terhadap agen-agen kemoterapi. Hal ini jika terjadi dalam jangka waktu yang lama maka akan berdampak kepada semakin meningkatnya penggunaan dosis dalam terapi yang akan mengakibatkan meningkatnya tingkat toksisitas obat yang digunakan dalam terapi, hal inilah yang akan mengakibatkan penyembuhan kanker menjadi kurang tuntas sehingga masih tersisanya sel kanker yang dapat menyebabkan kanker dapat tumbuh kembali3.

Berdasarkan fakta tersebut, maka pengembangan agen kemopreventif dari bahan alam yang dapat memperlambat atau mencegah perkembangan sel kanker merupakan salah satu strategi alternatif pengobatan kanker yang sangat diharapkan. Sebagian besar bahan alam khususnya tanaman mengandung zat aktif alamiah dengan berbagai aktivitas biologis antara lain sebagai antikanker. Banyak spesies tanaman telah digunakan untuk mengobati atau mencegah perkembangan kanker4.

Beberapa peneliti telah mengidentifikasi spesies tanaman yang terbukti menunjukkan potensi sebagai antikanker dengan banyak fokus pada tanaman yang telah digunakan dalam pengobatan herbal di negara berkembang. Penggunaan tanaman dianggap sangat menjanjikan karena tanaman merupakan sumber bahan penting untuk berbagai aplikasi terapeutik. Di era modern saat ini, sebagian besar obat antikanker banyak yang berasal dari tumbuhan yang potensial sebagai antikanker. Selain potensinya yang digunakan sebagai antikanker, terapi menggunakan tanaman herbal merupakan salah satu solusi yang digunakan untuk mengatasi terjadinya Multi Drug Resistenace (MDR) karena penggunaan dari tanaman herbal memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan obat kimia5.

Flavonoid merupakan salah satu dari kelompok senyawa fenolik alam yang mempunyai bioaktifitas sebagai obat. Keberadaan flavonoid terdapat hampir di seluruh tumbuhan hijau serta merupakan metabolit sekunder yang menunjukkan berbagai khasiat farmakologi. Senyawa flavonoid lain dalam golongan flavanolol berkhasiat sebagai antioksidan, dan juga sebagai antikanker6.

(19)

3

Penelusuran tanaman yang berpotensi sebagai anti kanker juga dapat dilakukan pada tanaman yang banyak ditemukan diperkebunan masyarakat di Provinsi Jambi.

Berdasarkan data penelitian terdahulu, belum ada penelitian yang menemukan potensi anti kanker dari tanaman buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) dengan nama lokal “Palem Merah”. Tanaman pinang merah ini merupakan maskot Provinsi Jambi. Oleh karena itu, penelitian terkait tanaman ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana potensi anti kanker dan tingkat toksisitas dari kandungan metabolit sekundernya. Tanaman pinang merah ini bukan hanya menjadi icon jambi yang banyak digunakan masyarakat sebagai tanaman hias, namun menurut Silalahi et al (2015), tanaman ini juga digunakan sebagai tumbuhan herbal untuk mengobati beberapa penyakit, masyarakat Suku Batak Simalungun Sumatera Utara memanfaatkan akar dari pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) sebagai tumbuhan Obat tradisional7.

Pemilihan buah pinang merah tua dalam penelitian ini karena ketika buah telah matang, maka buah akan berubah warna menjadi merah kehitaman, buah dengan warna yang mencolok memiliki kandungan antioksidan yang tinggi karena memiliki antosianin yang tinggi. Antosianin merupakan pigmen biru, merah, atau ungu yang ditemukan pada tumbuhan, terutama buah-buahan. Dalam kondisi asam, antosianin muncul sebagai pigmen merah sedangkan antosianin pigmen biru ada dalam kondisi basa. Antosianin dianggap sebagai salah satu flavonoid meskipun memiliki muatan positif pada atom oksigen cincin-C struktur dasar flavonoid atau disebut ion flavylium (2-phenylchromenylium). Pigmen warna antosianin dari buah beri, blackcurrant, dan jenis buah lain yang berwarna merah hingga biru merupakan antioksidan kuat8.

Berdasarkan permasalah di atas, maka perlu untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) yang dapat digunakan sebagai antikanker. Oleh karena itu, pada proposal ini peneliti akan melakukan skrining fitokimia untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak dan partisi buah pinang merah, serta aktivitas toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach yang berusia 48 jam sehingga

(20)

4

dapat dilihat potensinya sebagai antikanker dengan melihat nilai Lethal Concentration 50 (LC50) setelah pemaparan larutan ekstrak dan hasil partisi dengan berbagai konsentrasi selama 24 jam.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah partisi buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.) memiliki senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antikanker ?

2. Apakah partisi buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.) memiliki aktivitas toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach ?

1.3 Hipotesis

Buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai antikanker sehingga memiliki nilai LC50 yang rendah yang dapat berpotensi untuk dikembangkan sebagai antikanker.

1.4 Tujuan penelitian

1. Menganalisis senyawa metabolit sekunder yang paling dominan yang terkandung dalam ekstrak buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.).

2. Mengkaji toksisitas ekstrak dan partisi buah pinang merah tua terhadap larva udang Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

1.5 Manfaat Penelitian

1. Hasil dari skrining fitokimia ini diharapkan dapat dijadikan sebagai panduan dalam penelitian selanjutnya untuk mengisolasi senyawa berkhasiat lain yang terkandung dalam buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.).

2. Hasil dari uji Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ini diharapkan dapat menginterpretasikan potensi buah pinang merah tua sebagai antikanker.

(21)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Tanaman pinang merah merupakan tanaman yang banyak diigunakan oleh masyarakat untuk tanaman hias yang berdasarkan sistematika (Taksonomi) dapat diklasifikasikan sebagai berikut9 :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Family : Arecaceae (Palmaceae) Genus : Cyrtostachys

Spesies : C. renda

Nama Binomial : Cyrtostachys renda Blume.

Gambar 2. 1 Tanaman Buah Pinang Merah (Dokumentasi Pribadi) 2.1.2 Morfologi Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Tanaman pinang merah atau sering disebut dengan palem merah tumbuh berumpun dan beberapa batang yang tumbuh secara bersamaan. Batangnya dapat tumbuh dengan ketinggian sekitar 15 meter namun jarang yang mencapai 20 meter.

(22)

6

Batang pinang merah ini ramping berbentuk silindris berdiameter berkisar antara 6 sampai 10 cm. Pinang merah memiliki daun yang tersusun pada roset batang, tersusun antara 7 hingga 10 pada tiap tanaman dengan tipe helaian majemuk menyirip tunggal.

Tanaman ini memiliki upih berbentuk seperti tabung dengan warna merah hingga merah cerah yang umumnya dengan sisik gelap tersebar. Pinang ini berbunga dari bawah daun, bercabang sampai tingkat satu. Bunga pada cabang sumbu perbungaan terbenam sebagian dan perhiasan bunga biasanya tidak gugur ketika telah selesai mekar penuh. Buah pinang merah ini berbentuk seperti batu dengan bentuk jorong hingga bulat telur, panjangnya biasanya 7-10 mm. Saat muda buah akan berwarna hijau dan saat masak akan berubah menjadi merah tua hingga kehitaman10.

Daun pinang merah ini berwarna hijau cemerlang, bersirip, agak melengkung, dan anak daunnya agak kaku. Tanaman ini memiliki keistimewaan yaitu terletak pada pelepah dan tulang daunnya yang berwarna merah menyala. Untuk mempertahankan warna merahnya, tanaman ini sebaiknya di tanam di tempat yang terik. Dalam perkembangbiakan tanaman ini dapat dilakukan dengan menggunakan biji maupun setek. Tanaman ini merupakan salah satu dari 14 jenis palem yang dilindungi di indonesia karena keberadaan pinang merah di habitat aslinya terancam akibat eksploitasi besar-besaran untuk diperdagangkan sebagai tanaman hias11.

2.1.3 Penyebaran Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Tanaman pinang merah ini tumbuh secara alami di habitat aslinya yaitu di hutan rawa dataran rendah yang tersebar di Sumatera (Jambi, Sumatera Barat dan Riau) serta Kalimantan Barat12. Pinang merah ini banyak tumbuh di daerah tropis dan tersebar di indonesia salah satunya di provinsi Sumatra dan Kalimantan. Tanaman ini juga tumbuh di beberapa negara diantaranya yaitu Malaysia dan Thailand. Pinang merah atau palem merah ini telah ditetapkan menjadi flora maskot asli dari provinsi Jambi11.

2.1.4 Manfaat Tanaman Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Pemanfaatan dari tanaman pinang merah yang paling potensial dari jenis ini yaitu digunakan untuk komoditas tanaman hias. Selain digunakan sebagai tanaman hias, batang dari tanaman pinang merah ini diketahui berfungsi untuk lantai dan digunakan

(23)

7

untuk membuat thatch. Pemanfaatan untuk kesehatan, diketahui bahwa akar dari pinang merah ini dapat menyembuhkan demam, sakit asma bahkan sakit ginjal10.

Selain digunakan sebagai tanaman hias, sebagian masyarakat Jambi meyakini bahwa tanaman pinang merah ini dipercaya memiliki khasiat gaib, dimana tanaman ini dipercaya dapat menolak segala bala dan guna-guna apalagi jika tanaman ini di tanam di depan rumah11.

2.1.5 Kandungan Kimia Pinang Merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Metabolit sekunder maupun bioaktivitas dari tanaman pinang merah ini belum banyak diketahui dan belum ada riset yang membuktikan kandungan kimia apa yang terkandung dalam tanaman pinang merah secara ilmiah10.

2.2 Kanker 2.2.1 Definisi

Kanker merupakan suatu penyakit heterogen yang disebabkan oleh gangguan homeostasis dan fungsi seluler yang bersifat irreversible, hal ini terjadi akibat sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga sel akan mengalami pertumbuhan yang tidak normal dimana sel akan tumbuh secara cepat dan tidak terkendali. Progresi kanker terjadi akibat dari hilangnya fungsi apoptosis, seiring dengan pertumbuhan dan diferensiasi sel yang tidak terkendali, hal ini dapat mengakibatkan peningkatan populasi sel neoplastik yang sangat besar. Kanker dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu penyebab internal dimana penyebab yang sering dikaitkan dengan (kurangnya fungsi apoptosis, mutasi genetik, stres oksidatif, dan hipoksia), sedangkan penyebab eksternal disebabkan oleh (paparan sinar UV berlebihan, stres, merokok, radiasi serta polusi)13.

2.2.2 Etiologi Kanker

Penyebab utama terjadinya kanker karena adanya kerusakan struktur genetik pada sel normal. Kerusakan ini akan mengakibatkan pertumbuhan sel menjadi tidak terkontrol, secara umum, penyebab kerusakan struktur genetik ini bisa dibedakan menjadi 9 golongan utama2, yaitu :

(24)

8

a. Kelainan Genetik / Bawaan

Kondisi ini merupakan suatu kondisi ketika seorang anak dilahirkan membawa sifat tidak normal yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Kelainan ini merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker karena anak yang lahir akan memiliki gen kanker, secara tidak langsung gen kanker orangtua akan diturunkan kepada anaknya.

Jenis kanker yang cenderung diturunkan dalam keluarga diantaranya yaitu kanker kulit, kanker payudara, kanker indung telur, dan kanker usus besar.

Selain turunan dari orang tua (keluarga), kanker juga dapat disebabkan oleh terjadinya mutasi ketika dalam kandungan ibunya. Mutasi yang terjadi dapat diakibatkan oleh faktor alami, faktor kimia (obat-obatan atau minuman keras yang dikonsumsi sang ibu ketika hamil), maupun disebabkan oleh faktor fisika (radiasi sinar kosmis, sinar ultraviolet, unsur radioaktif, sinar-X, sinar alfa, sinar beta, dan sinar gamma)

b. Faktor Lingkungan

Faktor ini disebabkan oleh berbagai macam hal dari luar tubu (non-genetis) yang dapat mengakibatkan terjadinya mutasi atau pembentukan sel-sel kanker dari sel-se yang normal. Mekanisme pembentukan sel kankernya dimulai dengan perubahan pada tahap kromosom, seperti adanya delesi (pengurangan jumlah kromosom), adisi (penambahan jumlah kromosom), inverse (perubahan urutan kromosom), translokasi (pertukaran kromosom), dan lainnya. Contoh nyata faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap pembentukan kanker yaitu dari asap rokok dan nikotin, radiasi sinar ultraviolet dari matahari, serta radiasi ionisasi

c. Makanan yang Mengandung Bahan Kimia Berbahaya

Faktor makanan merupakan penyumbang terbesar bagi kasus penyakit kanker, terutama pada pengakit kanker saluran pencernaan, berikut merupakan contoh makanan yang dapat menyebabkan kanker :

- Makanan yang mengandung zat pewarna berbahaya seperti pewarna tekstil, pewarna cat, rhodamin B, dan lainnya.

- Makanan yang mengandung zat pemutih berbahaya.

(25)

9

- Makanan yang banyak mengandung logam berat seperti merkuri, makanan yang biasanya tercemar merkuri yaitu ikan, kerang, kepiting, udang dan lainnya.

- Minuman yang mengandung alkohol.

- Berbagai makanan kaya karbohidrat yang di proses secara berlebihan.

- Makanan yang diasap dan diasamkan (dalam bentuk acar). Makanan ini meningkatkan terjadinya resiko kanker lambung.

d. Infeksi Virus

Selain dapat menimbulkan penyakit, masuknya virus kedalam tubuh juga dapat mengakibatkan terjadinya kanker. Hal ini dikarenakan virus bersifat mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan sel. Virus yang dapat dicurigai sebagai penyebab kanker yaitu virus Papilloma (Human Papilloma Virus), virus Sitomegalo (Cito Megallo Virus), virus Hepatitis B, virus Epstein-Bar (di Afrika), dan virus Reteo (Retriovirus).

e. Infeksi Mikroorganisme Lain

Selain virus, masuknya kuman atau mikroba atau parasit juga dapat menyebabkan terjadinya kanker. Hal ini karena sel yang terinfeksi tidak dapat dikendalikan dalam hal pertumbuhsn dan perkembangannya. Contoh mikroba selain virus yang dapat menyebabkan terjadinya kanker yaitu parasit Schistosoma (bilharzia), mikroba Clonorchis, dan Helicobacter pylori.

f. Faktor Perilaku dan Gaya Hidup

Perilaku yang menjauhkan dari peningkatan kualitas hidup seperi merokok, mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak, daging yang diawetkan, minuman beralkohil, hingga seks bebas. Perilaku tersebut sangat rentan dalam terjangkitnya penyakit kanker.

g. Gangguan Keseimbangan Hormonal

Tubuh manusia dirangsang oleh hormon estrogen yang secara alami akan melakukan pembelahan, pertumbuhan, dan perkembangan sel secara teratur. Namun, jika hormon ini melakukan tugasnya secara berlebihan akan mengakibatkan terjadinya pembentukan sel kanker. Pada saat tubuh kelebihan hormon estrogen dan kekurangan

(26)

10

hormon progesteron (hormon yang melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan) dapat dipastikan bahwa resiko terbentuknya kanker (kanker payudara, kanker leher rahim, kanker rahim, dan kanker prostat serya kanker buah zakar pada pria) akan semakin tinggi.

h. Faktor Emosional

Stress atau tekanan emosi yang berat dapat menjadi pemicu gangguan keseimbangan sel-sel dalam tubuh. Keadaan yang tegang jika terjadi secara terus menerus dapat mempengaruhi kinerja sel, seperti lebih menjadi hiperaktif dan sifatnya berubah menjadi tidak terkontrol. Jika dalam kondisi seperti ini, sel-sel kanker dapat terbentuk kapan pun juga.

i. Radikal Bebas

Radikal bebas merupakan suatu atom, gugus atom, atau molekul yang mempunyai elektron bebas yang tidak berpasangan di lingkaran luarnya. Radikal bebas akan mengoksidasi bagian dari tubuh manusia agar tetap stabil, hal ini akan mengakibatkan teroksidasi fungsinya akan terganggu dan dapat menjadi pemicu terjadinya kanker.

Sumber dari radikal bebas yang dapat mengoksidasi bagian dari tubuh manusia yaitu radikal bebas yang terbentuk sebagai produk sampingan dari proses metabolisme, radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh dalam bentuk racun kimiaei dari makanan, minuman, udara terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari, serta radikal bebas yang diproduksi secara berlebihan pada saat makan dalam keadaan berlebihan hal ini akan berdampak pada proses metabolisme atau saat tubuh dalam keadaan stress berlebihan baik secara fisik, psikologis, maupun biologis.

2.2.3 Karsinogenesis

Karsinogenesis merupakan suatu proses terjadinya kanker melalui serangkaian tahapan mekanisme yang menunjukkan adanya perubahan genetik dan menyebabkan transformasi progresif sel normal menjadi sel malignan atau ganas, rangkaian proses ini terjadi beberapa perubahan yang menyebabkan sel menjadi abnormal dan melalui fase dimana pertumbuhan menjadi tidak terkendali dan menyebabkan sel-sel terus mengalami pertumbuhan dan menyebar. Umumnya, karsinogenesis dalam progresnya

(27)

11

diawali dengan adanya kerusakan DNA atau mutasi pada gen p-53 dan ras, yaitu kerusakan DNA pada gen-gen pengatur pertumbuhan14.

Karsinogenesis umumnya merupakan suatu proses yang terjadi secara bertahap, dimana setiap tahapannya disertai dengan perubahan genetik yang spesifik yang menyebabkan terjadinya trasnformasi progresif dari sel sehat menjadi sel kanker.

Hanahan dan Weinberg (2022), mengusulkan The Hallmarks of Cancer untuk menggambarkan suatu proses atau perubahan yang menunjukkan kemampuan fungsional dari sel normal manusia hingga akhirnya menunjukkan suatu keadaan pertumbuhan neoplastik, khususnya kemampuan suatu sel untuk membentuk suatu tumor ganas. Perubahan yang terjadi merupakan suatu fenotif yang prosesnya dapat diamati dan masing-masing memiliki mekanisme genetik yang berbeda. Fenomena ini dapat dijumpai pada hampir seluruh kanker namun dengan mekanisme yang berbeda15.

Untuk menjadi kanker, sel harus memperoleh komplementer perubahan dalam 6 mekanisme dasar, yaitu akan terjadinya16 :

a. Self-Sufficiency in growth signals (sinyal pertumbuhan swatantra)

b. Insensitivity to anti-growth signals (ketidakpekaan terhadap sinyal penghambat pertumbuhan)

c. Evanding apoptosis (penghindaran apoptosis)

d. Limitless replicative potential (potensi replikasi yang tak terbatas) e. Sustained angiogenesis (angiogenesis yang terus menerus)

f. Tissue invasion & metastasis (kemampuan invasi dan metastasis)

Gambar 2. 2 Ciri-ciri kanker (Hallmarks of cancer)16.

(28)

12

2.2.4 Jenis-Jenis Kanker

Klasifikasi pada kanker berdasarkan macam dan jenis kanker yang telah dikenal sampai saat ini17, yaitu :

a. Karsinoma

Karsinoma merupakan jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, seperti pada jaringan epitel yaitu pada sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mukus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rektum, lambung, pankreas, serta pada esofagus

b. Adenokarsinoma

Adenokarsinoma merupakan kanker yang tumbuh dari jaringan epitelial (jaringan bersel yang menutupi permukaan), seperti kulit dan lapisan rongga dan oran tubuh, dan jaringan kelenjar, seperti jaringan payudara dan prostat. Karsinoma dengan struktur berlapis-lapis yang menyerupai kulit disebut dengan karsinoma sel skuamosa (sel tanduk)

c. Limfoma

Limfoma merupakan kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk cairan dan darah, misalnya pada jaringan limfa, lakteal, limfa, berbagai kelenjar limfa, timus, dan sumsum tulang. Limfoma secara spesifik yaitu suatu penyakit yang disebut dengan Hodgkin (kanker kelenjar limfa).

d. Leukimia

Leukimia merupakan kanker yang terjadi pada sel-sel darah, kanker ini tidak membentuk massa tumor, namun mampu memenuhi pembuluh darah dan dapat mengganggu fungsi sel darah normal.

e. Sarkoma

Sarkoma merupakan kanker yang terjadi pada jaringan penunjang tubuh yang berada di bawah permukaan tubuh seperti pada jaringan ikat termasuk pada sel-sel yang ditemukan di otot dan tulang.

(29)

13

f. Glioma

Glioma merupakan kanker yang terjadi pada susunan saraf, misalnya pada sel-sel glia (jaringan penunjang) disusunan saraf pusat.

g. Karsinoma In Situ

Kanker pada jenis ini merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terlokalisir di suatu tempat di permukaan yang sering disebut dengan lesi prainvasif.

2.2.5 Gejala Klinis

Biasanya, pada saat stadium awal atau dini, kanker belum menimbulkan keluhan rasa sakit pada penderita. Penderita akan menyadari bahwa tubuhnya telah terserang kanker ketika sudah timbul rasa nyeri atau sakit, padahal saat ada keluhan tersebut kanker telah memasuki stadium lebih lanjut. Pengenalan gejala kanker perlu dilakukan sedini mungkin meskipum tidak ada rasa gangguan atau rasa sakit. Gejala akan terlihat seiring bertambahnya stadium hingga mencapai stadium lanjut yang disertai dengan beberapa gejala18, yaitu :

a. Kondisi depresi umum (malaise umum, anoreksia/kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan)

b. Terdapat perubahan kebiasaan atau gangguan pada waktu buang air besar atau kecil

c. Mual atau muntah karena alasan yang tidak jelas d. Rabas yang berdarah, gagal menghentikan perdarahan e. Terganggunya pada alat pencernaan dan susah menelan f. Suara serak dan batuk yang tidak kunjung sembuh

g. Terdapat benjolan yang tidak biasa pada payudara maupun di tempat lain

h. Terjadi perubahan sifat pada andeng-andeng atau tahi lalat seperti semakin besar dan gatal

i. Keluarnya darah atau lendir dari lubang-lubang tubuh yang terjadi secara tidak normal

j. Terdapat luka atau borok yang tidak bisa sembuh

(30)

14

2.2.6 Penatalaksanaan atau Modalitas Terapi Kanker

Menurut Nair dan Peate (2014), karena terdapat perbedaan terapi untuk berbagai kanker, maka terdapat prinsip dan jenis terapi tertentu yang umumnya ditetapkan sebagai standar. Biasanya terdapat enam jenis terapi yang umum digunakan dalam penatalaksanaan penyakit kanker (tergantung pada kanker yang diderita dan kondisi pasien itu sendiri).

Hal utama yang penting diperhatikan yaitu semakin dini kanker didiagnosis dan terapi dimulai, maka semakin baik prognosisnya. Jika kanker dalam keadaan terlokalisasi (kanker tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya) pada saat diagnosis, rencanakan pengangkatan kanker premier dengan pembedahan, yang disertai dengan terapi obat atau menggunakan terapi radiasi. Enam jenis terapi tersebut19, yaitu : - Terapi Obat / Kemoterapi

Pada terapi ini, terdapat dua jenis kemoterapi berbeda yang digunakan dalam terapi kanker, yaitu kemoterapi sitotoksik dan kemoterapi sitostatik. Dua jenis kemoterapi ini memiliki perbedaan yaitu kemoterapi sitotoksik memiliki kemungkinan untuk penyembuhan pasien, sedangkan kemoterapi sitostatik tidak mampu menghilangkan kanker namun dapat mencegahnya agar tidak tumbuh membesar.

- Terapi Radiasi

Terapi megngunakan radiasi terionisasi biasanya dapat merusak DNA dari sel.

Terapi menggunakan radiasi ini berusaha membunuh sel kanker, namun pada kemoterapi, sel normal juga dapat terbunuh akibat radiasi ini. Ketika DNA sel rusak, maka salah satu dari tiga akibat berikut ini dapat terjadi pada pasien yaitu Kematian sel kanker, Sel dapat rusak berat akibat perubahan lingkungannya sehingga dapat menyebabkan kematian pada sel dan Sel dapat rusak, namun akhirnya dapat memperbaiki dirinya sendiri

- Imunoterapi

Sistem imun diyakini dapat mengalahkan tumor yang ada dengan surveilans imun sehingga modifikasi sel sistem imun yang dimungkinkan sebagai suatu cara untuk mengobati kanker.

(31)

15

- Pengangkatan Melalui Pembedahan

Terapi ini digunakan ketika kanker belum menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Jika terdapat nodus limfe lokal yang terlibat, namun tidak ada bukti yang menyatakan bahawa penyakit telah menyebar, maka nodus limfe juga harus dilakukan pengangkatan. Terapi menggunakan metode pembedahan ini dibedakan menjadi dua jenis pembedahan yaitu pembedahan yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan pembedahan paliatif (meredakan gejala tanpa menyembuhkan kankernya), hal ini memiliki dua tujuan yaitu untuk mencegah gejala yang akan terjadi jika tidak dilakukan pembedahan serta dapat mengurangi gejala yang sudah ada

- Terapi Hormon

Terapi ini bekerja dengan cara menghambat reseptor pada sel kanker, dan mencegah sel menerima sinyal stimulus perumbuhan yang normal. Contoh hormon yang digunakan dalam terapi ini yaitu :

1. Kortikosteroid, yang digunakan pada leukimia, limfoma maligna, penyakit Hodgkin, dan kanker payudara

2. Androgen, yang digunakan pada kanker payudara

3. Estrogen, yang digunakan pada kanker payudara dan kanker prostat.

- Terapi Fotodinamik

Terapi yang digunakan dalam pengobatan ini yaitu menggunakan cahaya.

Cahaya yang digunakan pada terapi ini tidak merusak sel, baik sel maligna maupun sel normal. Akan tetapi, ketika cahaya dikombinasikan dengan oksigen, maka dapat menimbulkan efek yang serius pada zat kimia fotosensitif, seperti porfirin (hemoglobin yang menibgkat dan memindahkan oksigen di dalam tubuh). Obat ini telah dimodifikasi dan diberikan secara sistemis.

Kemudian, target kanker dapat dikurangi dengan menggunakan cahaya khusus yang berfokus pada sel kanker, bukan pada jaringan sekitar. Obat ini dapat menyebabkan kematian sel maligna dari kanker. Terapi ini digunakan untuk mengobati kanker kandung kemih, kanker kepala dan leher, kanker esofaagus, kanker kulit, dan kanker paru bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer/NSCLC).

(32)

16

2.3 Kemoterapi

Kemoterapi umumnya dilakukan untuk mengobati kanker dengan menggunakan zat maupun obat yang tujuannya untuk membunuh sel kanker. Obat yang diberikan pada penderita kanker ini umumnya bersifat sitostatika yang artinya dapat menghambat terjadinya proliferasi sel serta dapat menghancurkan sel kanker melalui berbagai macam mekanisme aksi. Kemoterapi dapat diberikan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan beberapa obat lain, yang dapat diberikan secara per oral ataupun intravena20.

2.3.1 Obat Kemoterapi Kanker

Menurut Alam et al (2018), regimen kemoterapi kombinasi yang paling umum digunakan dalam kemoterapi kanker21, yaitu :

Gambar 2. 3 Obat Kemoterapi Kombinasi Umum 2.3.2 Respon Kemoterapi

Umumnya, respons kemoterapi pasien yang menjalani pengobatan kemoterapi terbagi menjadi dua, yaitu fisiologis dan psikologis. Respon kemoterapi ini diakibatkan timbulnya efek samping, yang disebabkan oleh obat-obat yang digunakan dalam kemoterapi sangat kuat dan tidak hanya membunuh sel pada kanker saja, namun obat yang digunakan dalam kemoterapi juga dapat menyerang sel-sel yang sehat terutama pada sel yang membelah dengan cepat (sel rambut, sumsum tulang belakang, kulit, mulut dan tenggorokan serta saluran pencernaan)22.

(33)

17

Hal ini mengakibatkan penderita kanker yang menjalani kemoterapi mengalami Alopecia (kerontokan pada rambut), (hemoglobin, trombosit, dan sel darah putih) berkurang, tubuh lemah, sering merasa lelah, sesak nafas, mudah mengalami perdarahan, mudah terinfeksi, kulit (membiru, kering serta gatal), sulit menelan, sariawan, mual, muntah, nyeri pada perut, menurunkan nafsu seks dan kesuburan karena perubahan hormon22.

2.4 Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

Uji Toksisitas dilakukan untuk mengetahui adanya efek toksik dan menilai batas keamanan dalam penggunaan suatu senyawa dan untuk mengetahui kemampuan racun yang dapat menimbulkan kerusakan ketika masuk kedalam tubuh dan organ yang rentan terhadapnya. Uji toksisitas yang dilakukan dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) ditujukan untuk menentukan potensi suatu senyawa bersifat racun dengan mengetahui tingkat toksisitasnya23.

Brine Shrimp Lethality Test digunakan pertama kali pada tahun 1982 sebagai panduan bioassay untuk agen sitotoksik dan antitumor aktif. Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan suatu metode yang digunakan untuk uji pendahuluan/praskrining aktivitas biologis yang sederhana dalam menentukan toksisitas suatu senyawa atau ekstrak secara akut menggunakan hewan uji bioindikator yaitu larva Artemia salina Leach yang berusia 48 jam dengan melihat nilai Lethal Concentration 50 (LC50) yaitu suatu kadar atau konsentrasi suatu zat dinyatakan dalam ppm yang dapat menyebabkan 50% kematian pada hewan uji setelah pemaparan larutan ekstrak dengan berbagai konsentrasi selama 24 jam24. Penentuan kategori toksik digunakan penggolongan klasifikasi seperti pada tabel 2.1

Tabel 2. 1 Tingkat Toksik Berdasarkan Nilai LC5025 .

Konsentrasi Keterangan

LC50 ≤ 30 ppm Sangat Toksik

LC50 ≤ 31 ppm - ≤ 1000 ppm Toksik

LC50 > 1000 ppm Tidak Toksik

(34)

18

Uji ini merupakan pengujian yang cepat dan komprehensif untuk suatu senyawa bioaktif yang berasal dari alam maupun sintetik. Metode ini merupakan metode uji sederhana yang paling banyak digunakan karena metode ini tidak diperlukan teknik khusus, relatif murah, efektif, dan mudah karena menggunakan sebagian besar organisme untuk validasi statistik serta jumlah sampel yang diperlukan yang relatif kecil (± 2-20 mg)26.

2.5 Artemia salina Leach.

Dalam melakukan uji toksisitas, dalam banyak riset peneliti menggunakan larva udang Artemia salina, hal ini dikarenakan larva Artemia salina memiliki sifat yang peka terhadap bahan uji yang disebabkan oleh membran kulitnya yang sangat tipis sehingga memungkinan terjadinya difusi zat dan lingkungan yang mempengaruhi metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu, larva Artemia salina mudah di biakkan, serta waktu siklus hidup yang cepat27.

Selain sifatnya yang peka terhadap bahan uji, larva Artemia salina juga memilki kesamaan respon stress (respons perilaku dan fisiologis terhadap stressor lingkungan) yang sama dengan manusia. Maka, dengan alasan inilah larva Artemia salina digunakan dalam skrining toksisitas awal dari ekstrak tumbuhan sebelum melakukan uji sitotoksik S28.

Gambar 2.4 Morfologi larva Artemia salina (usia 48 jam)28. 2.6 Ekstraksi

Untuk mengambil serta memisahkan senyawa metabolit sekunder diperlukan suatu metode yaitu menggunakan proses ekstraksi dan isolasi sehingga senyawa yang bermanfaat dapat diperoleh. Ekstraksi merupakan suatu metode yang melibatkan

(35)

19

pemisahan bagian tumbuhan maupun hewan yang aktif dari komponen tidak aktif dengan menggunakan pelarut yang selektif29. Beberapa metode ekstraksi yang sering digunakan dalam penelitian yaitu :

2.6.1 Cara Dingin a. Maserasi

Maserasi merupakan suatu metode ekstraksi dingin dan paling sederhana. Metode maserasi ini bekerja dengan pelarut akan menembus dinding sel tanaman dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga zat aktif yang merupakan larutan pekat akan terdorong keluar sel karena perbedaan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel30. Proses ini dilakukan dengan merendam sampel pada suhu kamar menggunakan pelarut yang sesuai sehingga dapat melarutkan analit dalam sampel. Metode maserasi memiliki kelebihan pada alat dan cara yang digunakan dalam proses ekstraksi yang sangat sederhana, dapat digunakan pada analit yang tahan terhadap pemanasan maupun tidak tahan terhadap pemanasan31.

b. Perlokasi

Metode yang dilakukan dengan mengalirkan pelarut secara perlahan pada sampel dalam suatu perlokator. Metode ini bekerja dengan menambahkan pelarut secara terus menerus sehingga proses ekstraksi ini selalu dilakukan dengan pelarut yang baru, seluruh proses ini dilakukan sampai analit yang berada dalam sampel dapat terekstraksi dengan sempurna31.

2.6.2 Cara Panas a. Digesti

Metode ekstraksi dengan cara maserasi yang dikombinasikan dengan pemanasan, namun cara ini tidak cocok untuk bagan aktif yang tidak tahan panas. Metode ini memiliki kelebihan yaitu hasil sampel memiliki kekentalan yang besar artinya zat aktif yang dihasilkan lebih banyak kaerna proses ekstraksi dari simplisia lebih optimal 32.

b. Sokletasi

Ekstraksi menggunakan metode sokletasi merupakan suatu proses ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru. Prinsip kerja dari proses ekstraksi dengan

(36)

20

menggunakan metode ini yaitu cairan pengekstrak yang berada dalam labu yang dipanaskan akan menguap, setelah melewati sistem pendingin/kondensor, pelarut akan mengembun dan akan merendam sampel sehingga terjadi proses ekstraksi. Setelah sejumlah pelarut pengekstrak yang merendam sampel, maka pelarut akan mengalir menuju labu kembali, proses ini akan berlangsung secara berulang sehingga proses ekstraksi berlangsung secara terus menerus dengan pelarut yang selalu baru33.

2.6.3 Ekstraksi Cair-Cair (Partisi)

Ekstraksi cair-cair (ekstraksi pelarut) merupakan metode pemisahan berdasarkan pada fenomena distribusi atau partisi suatu analit diantara dua pelarut lain yang tidak saling bercampur. Metode ini dilakukan untuk mendaparkan senyawa dari campuran berfasa cair dengan pelarut lain yang juga berfasa cair. Prinsip dasarnya yaitu menggunakan perbedaan kelarutan senyawa dalam dua pelarut yang berbeda.

Metode ini juga digunakan untuk keperluan pemisahan analitik yaitu menghilangkan komponen pengganggi dalam analisis kimia, memekatkan analit (pra- konsentrasi) sebelum analisis, dan menghasilkan spesi terukur dalam suatu analisis31. 2.7 Fraksinasi

Fraksinasi merupakan suatu proses penarikan senyawa yang terdapat pada suatu ekstrak dengan menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur. Umumnya, pelarut yang digunakan untuk fraksinasi yaitu n-heksan, etil asetat, serta metanol.

Pelarut n-heksan digunakan untuk menyari lemak dan senyawa yang bersifat non-polar, pelarut etil asetat digunakan untuk menyari senyawa yang bersifat semi polar, serta metanol digunakan untuk menyari senyawa yang bersifat polar.

Dari proses fraksinasi, senyawa akan dipisahkan berdasarkan tingkat kepolarannya. Senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non-polar sedangkan senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut yang bersifat polar34. Terdapat beberapa metode fraksinasi yang sering digunakan, yaitu :

2.7.1 Fraksinasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi lapis tipis merupakan suatu metode kromatografi yang bekerja berdasarkan pada prinsip adsorbansi, berbeda dengan kromatografi kolom,

(37)

21

kromatografi lapis tipis ini menggunakan konfigurasi yang berbentuk seperti planar (plate). Kromatografi ini memiliki dua fasa dalam kerjanya, fasa diam berupa padatan yang diaplikasikan berbentuk dataran yang berfungsi sebagai penyangga pada permukaan yang sesuai seperti pada permukaan aluminium maupun kaca sedangkan fasa gerak yaitu eluen yang merupakan zat cair yang berupa kombinasi dari beberapa pelarut35.

Prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis ini dengan menotolkan sampel pada fasa diam, setelah itu senyawa yang berada dalam sampel akan terelusi dengan kecepatan yang sangat tergantung sifat dari senyawa yang digunakan. Secara umum, senyawa yang memiliki tingkat kepolaran rendah akan terelusi lebih cepat daripada senyawa dengan tingkat kepolarannya tinggi, hal ini disebabkan karena senyawa polar terikat lebih kuat pada bahan silika yang mengandung silanol (SiOH2) karena memiliki afinitas yang kuat terhadap senyawa polar36.

Metode KLT ini banyak digunakan karena prosesnya yang sangat mudah dan cepat. Metode ini banyak digunakan untuk melihat kemurnian dari suatu senyawa organik. Senyawa dikatakan murni jika sautu sampel yang ditotolkan kemudian di analisis yang dilakukan dengan mengubah pelarut beberapa kali (minimum sebanyak 3 macam) dan hasil dari elusi tetap menampakkan satu noda.

Selain itu, KLT juga dapat menunjukkan jumlah senyawa dalam campuran sampel (menurut noda yang muncul) maka metode ini dapat digunakan untuk mengontrol dari jalannya reaksi organik maupun pada proses pemisahan campuran yang dilakukan menggunakan kromatografi kolom. Selain digunakan untuk menentukan kemurnian senyawa, metode kromatografi lapis tipis ini juga digunakan untuk mencari serta menetapkan pelarut yang sesuai sebelum dilakukannya pemisahan menggunakan kromatografi kolom. Metode KLT ini juga berguna untuk menganalisis fraksi-fraksi yang diperoleh dari pemisahan menggunakan kromatografi kolom36.

Metode kromatografi lapis tipis juga digunakan untuk menggabungkan hasil fraksi yang didapatkan dari proses pemisahan menggunakan metode kromatografi cair vakum, penggabungan fraksi berdasarkan pembentukan noda yang sama. Kemudian,

(38)

22

identifikasi dari senyawa-senyawa hasil pemisahan kromatografi lapis tipis dapat menggunakan harga Rf berdasarkan noda yang terbentuk dari proses pemisahan. Harga Rf dihitung menggunakan persamaan berikut37 :

Gambar 2. 5 Cara Pengukuran Nilai Rf37 Nilai Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑧𝑎𝑡

𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

2.7.2 Fraksinasi dengan Kromatografi Kolom Cair Vakum (KCV)

Kromatografi kolom cair vakum merupakan suatu metode yang didasarkan pada absorbansi senyawa dalam silika gel berdasarkan pada kepolaran senyawa, dimana senyawa yang lebih non polar akan turun terlebih dahulu dibandingkan dengan senyawa yang lebih polar. Metode ini memiliki prinsip yang sama dengan kromatografi kolom, perbedaannya hanya pada pergerakan sampel dan eluen yang berdasarkan pada pompa vakum serta ukuran silika gel yaitu menggunakan ukuran partikel yang lebih kecil (silika gel 50 F254)38.

Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan kertas saring diatas silika gel yang telah di vakum kan kemudian sampel diletakkan di atasnya dan kertas saring juga diletakkan di atas sampel yang telah dipadatkan dan diratakan. Sampel disiapkan dalam keadaan kering yaitu dengan mencampurkan sampel dengan silika gel yang memiliki ukuran partikel sedikit lebih kasar. Sampel akan dielusi dengan menggunakan pelarut non polar sampai seluruh senyawa non polar terelusi dan ditampung. Kemudian, didikuti dengan pelarut semipolar dan terakhir dengan pelarut polar. Setelah didapatkan fraksionat, kemudian dilakukan KLT kembali dan fraksi yang memiliki pola noda yang sama akan digabungkan. Jika fraksi yang belum murni akan dilakukan re-kromatografi dan sampel murni akan dielusidasi struktur38.

(39)

23 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi, serta Laboratorium Instrumentasi dan Tugas Akhir Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi pada bulan April hingga Agustus 2022.

3.2 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.2.1 Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.), DMSO absolut, kalium dikromat, telur Artemia Salina, garam mineral, aquadest, metanol, n-heksan, etil asetat, diclorometana, etanol 96%, kloroform asetat, kloroform amoniak, FeCl3, H2SO4 pekat, H2SO4 2 N, HCl pekat, HCl 2 N, asam asetat, asam sulfat, serbuk Mg, pereaksi mayer, pereaksi wagner, pereaksi dragendorff, pereaksi Liebermann Burchard, silika gel.

3.2.2 Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, grinder, timbangan analitik, botol maserasi, corong kaca (50 mm dan 100 mm), erlenmeyer (150 mL, 250 mL, 500 mL, 1000 mL dan 2000 mL), botol gelap 100 mL, kertas saring, rotary evaporator, batang pengaduk, penjepit krus, krus porselen, tanur, desikator, pipet tetes, rak tabung, tabung reaksi, penangas air, beaker glass, gelas ukur (5 mL, 10 mL, 25 mL dan 50 mL), plat tetes, statif, corong pisah, vial 10 mL, efendof, vortex mixer, mikropipet, lampu TL 50 watt, plastik hitam, tangki penetasan Artemia Salina, serokan Artemia Salina, lumpang, alu, TLC chamber, plat KLT, penggaris, pensil, cutter, aluminium foil, detektor Uv.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

(40)

24

3.3.1 Determinasi Tanaman

Determinasi dan identifikasi sampel buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) dilakukan di Laboratorium Taksonomi Tumbuhan, Departemen Biologi FMIPA, Universitas Padjajaran.

3.3.2 Pengambilan dan Preparasi Bahan Penelitian

Sampel buah pinang merah tua (Cyrtostachys renda Blume.) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu didapatkan di perkarangan rumah warga yang berada di Jalan Tapak Dara, RT 25, RW 10, Desa Sido Rukun, Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi sebanyak 5 kg.

3.3.3 Penyiapan dan Pembuatan Simplisia Buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.)

Pembuatan simplisia dilakukan melalui beberapa tahap yaitu dimulai dari pengambilan sampel dari pohon. Kemudian dilakukan pemisahan buah dari tandan, di lakukan sortasi basah yang bertujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau benda asing yang tercampur dalam buah pinang merah. Kemudian buah pinang merah tua dicuci dan dikering anginkan dalam ruangan yang terhindar dari sinar matahari langsung yang bertujuan untuk mengurangi dan mencegah oksidasi. Selanjutnya sampel buah pinang merah yang sudah agak mengering dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50oC sampai benar-benar kering, bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30ºC sampai 90°C, tetapi suhu yang terbaik yaitu tidak melebihi 60°C39, pengeringan ini dilakukan hingga bobot sampel konstan dan dilakukan sortasi kering untuk memisahkan kotoran yang masih menempel. Selanjutnya simplisia yang sudah benar-benar kering digiling dengan menggunakan grinder untuk mendapatkan serbuk.

Bobot simplisia dihitung hasil rendemennya dengan menggunakan rumus : Rendemen simplisia (%) = Berat simplisia yang diperoleh (gram)

Berat sampel awal (gram) x 100%

3.3.4 Pembuatan Ekstrak Buah pinang merah (Cyrtostachys renda Blume.) Pembuatan ekstrak buah pinang merah menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut metanol. Sebanyak 500 gram buah pinang merah muda dan tua

(41)

25

yang telah dikeringkan menggunakan oven dan dihaluskan menggunakan grinder dimasukkan ke dalam bejana kemudian tambahkan 10 bagian pelarut, rendam serbuk simplisia selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, dan diamkan sebuk simplisia selama 18 jam. Setelah itu, maserat dipisahkan dengan cara filtrasi. Maserat yang didapatkan kemudian dikentalkan dengan cara diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental yang diperoleh kemudian di tentukan rendemennya dengan rumus40 :

Rendemen ekstrak = Berat ekstrak yang diperoleh

Berat sampel awal x 100 % 3.3.5 Karakteristik Ekstrak

3.3.5.1 Uji Karakteristik Spesifik Ekstrak a. Identitas

Uji identifikasi identitas ekstrak berisi mengenai pendeskripsian dari tata nama dari ekstrak mulai dari nama latin tumbuhan, bagian tumbuhan yang digunakan serta nama indonesia tumbuhan41.

b. Organoleptik

Uji penetapan organoleptik ekstrak yaitu dengan pengenalan secara fisik menggunakan pancaindera dalam mendiskripsikan ekstrak dilakukan dengan cara mencium bau ekstrak, mengetahui rasa ekstrak, melihat warna ekstrak serta melihat bentuk ekstrak dari buah pinang merah42.

3.3.5.2 Uji Karakteristik Non-Spesifik Ekstrak a. Kadar Air

Uji penetapan kadar air ekstrak dilakukan dengan cara memasukkan ekstrak ke dalam cawan porselin yang telah ditara. Penaraan cawan porselin ini dilakukan dengan cara mengeringkan cawan tersebut ke dalam oven dengan suhu 105ºC selama 1 jam dan didinginkan di dalam desikator selama 30 menit. Kemudian cawan porselin ditimbang dalam keadaan kosong. Kemudian sebanyak 1 gram ekstrak dimasukkan ke dalam cawan porselin yang dikeringkan di dalam oven pada suhu 105º selama 2 jam, kemudian ekstrak yang berada dalam cawan porselin didinginkan di dalam desikator

(42)

26

selama 30 menit dan timbang cawan beserta isinya. Pengeringan dilanjutkan serta ditimbang kembali sampai mencapai bobot yang konstan43. Penentuan kadar air ditentukan dengan rumus :

Kadar air = Berat awal ekstrak−Rerata penimbangan

Berat ekstrak x 100%

b. Kadar Abu

Sebanyak 2 gram ekstrak ditimbang dan digerus kemudian dimasukkan kedalam krus silikay yang telah ditara dan dipijar rata. Perlahan lahan ekstrak dipijar hingga arang habis, di dinginkan dan ditimbang. Ditambahkan air panas jika dengan cara tersebut arang tidak dapat dihilangkan, aduk, kemudian saring dengan menggunakan kertas saring bebas abu. Kertas saring beserta sisa penyaringan ke dalam krus yang sama. Filtrat yang diperoleh dimasukkam ke dalam krus, uapkan dan dipijarkan hingga bobot tetap pada suhu 800 ± 25º. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah diuji di udara40. Kadar abu dapat dihitung dengan rumus :

% Kadar Abu = (Berat Cawan+Abu)−(Berat Cawan Kosong)

(Berat Cawan+Ekstrak)−(Berat Cawan Kosong) x 100%

3.3.6 Uji Skrining Fitokimia Ekstrak

Uji skrining fitokimia dilakukan dengan membuat larutan induk menggunakan kloroform asetat dan air. Sebanyak 0,25 mg sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 5 mL kloroform asetat dan 5 mL aquadest, kemudian campuran dikocok sampai homogen. Setelah homogen, campuran dibiarkan memisah sampai membentuk 2 lapisan yaitu lapisan air dan lapisan kloroform. Lapisan kloroform asetat digunakan untuk uji skrining alkaloid, terpenoid/steroid sedangkan lapisan air digunakan untuk uji skrining flavonoid dan saponin.

a. Uji Alkaloid

Lapisan kloroform asetat di ambil secukupnya, dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau plat tetes, kemudian tambahkan kloroform amoniak 0,05 N, aduk perlahan dan tambahkan 2-3 tetes H2SO4 2 N kocok perlahan. Kemudian tambahkan pereaksi uji alkaloid seperti dragendroff, wagner dan mayer. Reaksi positif alkaloid ditandai dengan adanya kabut putih hingga gumpalan putih44.

(43)

27

b. Uji Flavonoid

Sebanyak 1 gram ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dilarutkan dengan secukupnya etanol 96%. Kemudian dikocok dan dipanaskan dalam penangas air hingga mendidih. Setelah mendidih, ditambahkan secukupnya serbuk Mg dan beberapa tetes HCl pekat45.

c. Uji Saponin

Sebanyak 2 mL ekstrak buah pinang merah dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi 2 mL aquadest yang panas yang didinginkan. Tabung reaksi kemudian di kocok kuat-kuat selama ± 15 detik dan diidiamkan selama 15 menit. Hasil positif adanya saponin ditandai dengan terbentuknya busa setinggi 1-10 cm yang stabil dan persisten46.

d. Uji Tanin

Sebanyak 2 mL ekstrak buah pinang merah ditambahkan dengan 2 mL aquadest dan FeCl3 10%. Hasil positif tanin ditandai dengan terbentuknya larutan yang berwarna abu-abu kehijauan atau biru tua kehitaman47.

e. Uji Steroid/Terpenoid

Lapisan kloroform asetat di ambil secukupnya, dimasukkan ke dalam tabung reaksi atau plat tetes, kemudian tambahkan H2SO4 pekat. Hasil positif terpenoid ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna jingga kemerahan, sedangkan hasil positif steroid ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah pada pertama kali setelah itu menjadi biru hijau jika ditambahkan dengan 2 tetas asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat48.

3.3.7 Ekstraksi Cair-Cair (Partisi)

Metode partisi atau ekstraksi cair-cair dilakukan dengan meggunakan corong pisah. Ekstrak metanol buah pinang merah yang didapatkan di larutkan dalam campuran n-Heksan dan Aquadest dengan perbandingan 1:1. Pemisahan dilakukan dengan cara pengocokan selama ± 5 menit, sesekali kran di buka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses pengocokan. Kemudian didiamkan corong pisah yang dipasangkan pada statif selama ± 15 menit hingga terjadi pemisahan antara

Referensi

Dokumen terkait

Tekanan darah biasanya dikaji pada lengan klien dengan menggunkana arteri brakialis dan stetoskop standar atau melakukan pengkajian tekanan darah pada paha dengan menggunakan arteri

Dalam membentangkan kertas penyelidikan ini, bagi memenuhi sebahagian syarat untuk ijazah sarjana Pengurusan Sumber Manusia Universiti Utara Malaysia (UUM), saya bersetuju

Temuan kedua yaitu Problematika manajemen SDM pada proses perekrutan belum berjalan secara optimal karena dari hasil seleksi banyak pengajar yang belum memenuhi kualifikasi, namun

Tujuan dari mereduksi data adalah untuk mendapatkan sebuah data set seminimal mungkin namun tetap informatif. Dari data yang telah diintegrasikan dan ditransformasikan

Sedangkan pengguna dapat secara langsung melihat 5 objek wisata terdekat dengan lokasi pengguna saat itu atau langsung merujuk ke salah satu objek wisata yang ingin dituju

Kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan pengamat melalui lembar kegiatan siswa terdiri dari 10 aspek yang terdiri atas: Kemampuan

Penelitian ini menggunakan metode survey explanatory, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan instrumen penelitian (angket)

Disini kita akan membuat sebuah profile baru, jadi kita pilih new VPN connection, lalu kita pilih New profile misalkan kita tulis VolBase, Jika kita ingin merubah kembali