• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori tentang Motivasi Belajar a

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Teori tentang Motivasi Belajar a"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Teori tentang Motivasi Belajar a. Pengertian Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2011: 73) ‘motif’ diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.

Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.

Menurut Santrock (2008: 510) motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Motivasi siswa di sekolah dipengaruhi oleh perspektif kognitif. Strategi kognitif efektif untuk meningkatkan motivasi siswa untuk meraih prestasi belajar.

Menurutnya motivasi ada dua yaitu:

1) Motivasi intrinsik yaitu motivasi yang timbul dari diri sendiri tanpa dorongan dan paksaan dari orang lain.

2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul akibat pengaruh dari luar individu, biasanya dikarenakan adanya ajakan, suruhan, atau

(2)

paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mampu melakukan sesuatu atau belajar.

Menurut Pupuh (2010: 19) motivasi berasal dari kata ‘motif’ yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.

Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Mc Donald dalam Pupuh (2010: 19) memberi definisi motivasi sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memengaruhi.

Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan yang dilandasi motivasi untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Hamzah Uno (2007: 23) motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Sehingga hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukungnya.

Menurut penulis motivasi belajar dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang akan menimbulkan

(3)

kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan mempunyai banyak energy untuk melakukan kegiatan belajar. Makin tinggi motivasi siswa akan makin kuat usahanya untuk mencapai tujuan. Sebaliknya motivasi yang rendah akan mempunyai sedikit energy untuk melakukan kegiatan. Makin rendah motivasi akan makin lemah dalam melakukan kegiatan belajar.

b. Jenis Motivasi Belajar

Jenis motivasi menurut Sardiman (2011: 86) dapat dilihat dari berbagai sudut pandang karena motivasi sangat bervariasi, antar lain:

1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya.

a) Motif-motif bawaan yaitu motif yang dibawa sejak lahir, jadi tanpa dipelajari.

b) Motif-motif yang dipelajari yaitu timbul karena dipelajari.

Di samping itu Fradsen dalam Sardiman (2011: 87) masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut:

a) Cognitive motives, yaitu motif yang menunjuk pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan individual. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.

b) Self-expression, yaitu penampilan diri, dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.

c) Self-enhancement, melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang.

(4)

2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis dalam Sardiman (2011: 88):

a) motif atau kebutuhan organis, b) motif-motif darurat,

c) motif-motif obyaktif.

3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah

Yang termasuk motivasi jasmani misalnya: reflex, insting otomatis, dan nafsu. Sedangkan motivasi rohaniah adalah kemauan. Adapun kemauan pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen, yaitu:

a) momen timbul alasan, b) momen pilih,

c) momen putusan,

d) momen terbentuknya kemauan 4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik

Motif intrinsik timbul dari dalam diri individu karena sudah ada dorongan, sedangkan motif ekstrinsik berasal dari luar karena adanya perangsang dari luar.

c. Fungsi Motivasi Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya motivasi belajar. Sardiman (2012: 84) menjelaskan bahwa motivation is essential condition of learning. Hasil belajar akan lebih maksimal jika terdapat motivasi. Jadi motivasi akan sangat menentukan keberhasilan bagi siswa.

Menurut Sardiman (2012: 85) fungsi motivasi antara lain:

(5)

1. Mendorong manusia untuk berbuat, oleh karena itu motivasi sebagai penggerak dari setiap kegiatan yang akan dilakukan.

2. Menentukan arah arah perbuatan, yaitu kearah tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan sesuai dengan tujuan.

3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan, dan menyisihkan perbuatan- perbuatan yang tidak bermanfaat.

Di samping itu Sardiman (2012: 85) juga menjelaskan fungsi motivasi lain yaitu dapat berfungsi sebagai pendorong usaha untuk mencapai prestasi. Adanya motivasi dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi seorang siswa akan menentukan pencapaian prestasi belajarnya.

Menurut Hamzah (2011: 27) motivasi memiliki peranan penting dalam belajar antara lain: 1) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, 2) memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, 3) menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, 4) menentukan ketekunan belajar.

d. Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah

Menurut Sardiman (2012: 91) peranan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar baik intrinsic dan ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam kegiatan belajar. Ada

(6)

beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah antara lain:

1) memberi angka, 2) hadiah,

3) saingan/kompetisi,

4) ego-involvement (menumbuhkan kesadaran), 5) memberi ulangan,

6) mengetahui hasil, 7) pujian,

8) hukuman.

9) hasrat untuk belajar, 10) minat,

11) tujuan yang diakui.

e. Motivasi dan Minat

Motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu, sedangkan minat adalah ketertarikan terhadap sesuatu. Minat merupakan “sumber motif yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih”. Ketika seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi berminat, kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun. Sehingga minat tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat berubah-ubah.

(7)

Crow & Crow (dalam Wawan, 2010) menjabarkan bahwa minat dapat menunjukkan kemampuan untuk memperhatikan seseorang, suatu barang atau kegiatan atau sesuatu yang dapat memberi pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu sendiri. Minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan hasil dari turut sertanya dalam kegiatan tersebut. Minat mempunyai hubungan yang erat dengan dorongan-dorongan, motif-motif dan respon-respon emosional.

Minat seseorang terhadap suatu objek akan lebih kelihatan apabila objek tersebut sesuai sasaran dan berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan seseorang yang bersangkutan (Sardiman, 1990: 76). Menurut Tampubolon (1991: 41) mengatakan bahwa minat adalah suatu perpaduan keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi.

Sedangkan menurut Djali (2008: 121) minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Minat sangat besar pangaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan, jabatan, atau karir. Tidak akan mungkin orang yang tidak berminat terhadap suatu pekerjaan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik. Minat dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek (Mohamad Surya, 2003: 100). Minat berkaitan dengan perasaan suka atau senang dari seseorang terhadap sesuatu objek. Hal ini seperti dikemukakan oleh Slameto (2003: 180) yang menyatakan bahwa minat sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat

(8)

pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Menurut Kartini Kartono (1996: 12) minat merupakan moment dan kecenderungan yang searah secara intensif kepada suatu obyek yang dianggap penting. Menurut Ana Laila Soufia dan Zuchdi (2004: 116) menjelaskan bahwa minat merupakan kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian pada orang lain, pada aktivitas atau objek lain. Sedangkan Slameto (2003: 57) menjelaskan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Lebih lanjut Slameto mengemukakan bahwa suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasiakan melalui partisipasi dalam satu aktivitas.

Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut. Menurut Sudirman (2003: 76) minat seseorang terhadap suatu objek akan lebih kelihatan apabila objek tersebut sesuai sasaran dan berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan seseorang yang bersangkutan.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan kecenderungan pada seseorang yang ditandai dengan rasa senang atau ketertarikan pada objek tertentu disertai dengan adanya pemusatan perhatian kepada objek tersebut dan keinginan untuk terlibat dalam aktivitas objek tertentu, sehingga mengakibatkan seseorang

(9)

memiliki keinginan untuk terlibat secara langsung dalam suatu objek atau aktivitas tertentu, karena dirasakan bermakana bagi dirinya dan ada harapan yang dituju.

2. Teori tentang Menulis a. Keterampilan Menulis

Menulis bukan sekedar teori melainkan melatih ketrampilan. Siswa tidak akan terampil menulis jika tidak dilibatkan dalam kegiatan dan latihan menulis.

Siswa harus mencoba dan berlatih berulang kali untuk memilih topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari informasi pendukung, menyusun kerangka karangan serta menata dan menuangkan ide-idenya secara runtut.

Menurut Puji Santoso (Materi Pembelajaran Bahasa SD : 6.15), menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menulis membutuhkan latihan. Apabila dilihat prosesnya menulis mulai dari suatu yang tidak tampak, sebab apa yang hendak kita tulis masih berbentuk pikiran, bersifat sangat pribadi. Guru hendaknya merasakan kesulitan siswa yang sering dihadapi ketika menulis.

Menurut Barrs (1983 : 829 – 831), menulis merupakan suatu proses

kemampuan pelaksanaan dan hasilnya diperoleh secara bertahap. Artinya untuk menghasilkan tulisan yang baik umumnya orang melakukannya berkali-kali.

Tarigan (1987 : 21) menyatakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseoranmg sehingga orang lain dapat membaca lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut .

Fungsi utama menulis adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung sehingga hasil menulis yang utama dapat menyampaikan pesan penulis kepada pembaca sehingga pembaca memahami maksud penulis yang dituangkan dalam tulisannya.

Mengingat pesan menulis itu dilakukan secara tidak langsung maka isi tulisan serta lambang grafik yang digunakan penulis harus benar-benar dipahami oleh penulis atau pembaca, sehingga berfungsi sebagai alat komunikasi.

Sebagai proses menulis merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase yaitu fase pra penulisan atau persiapan (memilih topik, menetapkan tujuan, mengumpulkan bahan, mengorganisasikan ide dalam

(10)

bentuk kerangka karangan), fase penulisan atau pengembangan isi karangan, fase paska penulisan atau penyempurnaan tulisan.

b. Keterampilan Bahasa

Pembelajaran menulis pengalaman pribadi merupakan salah satu bagian dari program pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V Sekolah Dasar. Hal ini tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V Sekolah Dasar.

Pembelajaran menulis pengalaman pribadi di Sekolah Dasar selain pembelajaran menulis, juga menyangkut aspek pembelajaran apresiasi sastra. Oleh karena itu dalam pembelajaran menulis di Sekolah Dasar, siswa selain dibina dalam pembelajaran menulis juga dibina dalam mengapresiasikan karya sastra.

Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dibagi menjadi empat segi, yaitu :

1) Keterampilan menyimak (listening skills) 2) Keterampilan berbicara (speaking skills) 3) Keterampilan membaca (reading skills) 4) Keterampilan menulis (writing skills)

Tarigan (1987) menyatakan bahwa dalam keterampilan berbahasa, pada dasarnya kita mengamati prosesnya melalui suatu hubungan, mula- mula pada masa kecil kita belajar:

- menyimak bahasa, - berbicara,

(11)

- membaca, lalu - menulis.

Dari keempat keterampilan tersebut di atas pada dasarnya merupakan satu kesatuan (whole language).

3. Teori Tentang Karangan Narasi a. Pengertian dan Jenis Narasi

Istilah narasi atau sering juga disebut naratif berasal dari kata bahasaInggris narration (cerita) dan narrative (yang menceritakan). Karangan yang disebut narasi menyajikan serangkaian peristiwa. Karangan ini berusaha menyam-paikan serangkaian kejadian menurut urutan terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah atau serentetan kejadian, sehingga pembaca dapat memetik hikmah dari cerita itu (Suparno dan Yunus, 2009:4.31). Keraf (2010:136) membatasi pengertian narasi sebagai suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin serta dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu.

Struktur narasi dapat dilihat dari komponen-komponen yang membentuknya:

perbuatan, penokohan, latar, dan sudut pandang. Tetapi dapat juga dianalisa berdasarkan alur (plot) narasi (Keraf, 2010:145).

Umumnya, orang mengakui bahwa tujuan menulis narasi secara fundamental ada dua, yaitu (1) hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca, dan (2) hendak memberikan pengalaman estetis kepada pembaca. Tujuan pertama menghasilkan jenis narasi yang lazim disebut narasi informasional atau narasi ekspositoris, sedangkan

(12)

tujuan hendak memberikan pengalaman estetis menghasilkan jenis narasi yang lazim disebut narasi artistik atau narasi sugestif.

Perbedaan pokok antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif menurut Keraf (2010:138), tergambar pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Perbedaan Narasi Eksporistoris dan Sugestif

Narasi ekspositoris Narasi sugestif

Memperluas pengetahuan Menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat

Menyampaikan informasi faktual mengenai sesuatu kejadian

Menimbulkan daya khayal

Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional

Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar

Bahasanya lebih condong ke bahasa informatif dengan titik berat pada pemakaian kata-kata denotatif

Bahasanya lebih condong ke bahasa Figuratif dengan menitikberatkan penggunaan kata-kata konotatif

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa narasi adalah karangan yang mengisahkan suatu peristiwa dan disusun menurut urutan waktu kejadiannya. Karangan narasi lebih menitikberatkan pada unsur waktu, dibanding-kan dengan bentuk karangan yang lain. Sehingga karangan narasi dapat menggambarkan perubahan objek-objek di dalamnya secara dinamis.

(13)

Jenis karangan narasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah narasi ekspositoris.

Keraf (2010:136) mengemukakan bahwa narasi ekspositoris pertama- tama bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengeta-huan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Sebagai sebuah bentuk narasi, narasi ekspositoris mempersoalkan tahap-tahap kejadian, rangkaian-rang-kaian perbuatan kepada para pembaca. Runtutan kejadian atau peristiwa yang disajikan itu dimaksudkan untuk menyampaikan informasi untuk memperluas pengetahuan pembaca, baik disampaikan secara tertulis atau secara lisan.

Narasi ekspositoris dapat bersifat khas atau khusus dan dapat pula bersifat generalisasi. Narasi ekspositoris yang bersifat generalisasi adalah narasi yang menyampaikan suatu proses yang umum, yang dapat dilakukan siapa saja, dan dapat pula dilakukan secara berulang-ulang. Sedangkan narasi yang bersifat khusus adalah narasi yang berusaha menceritakan suatu peristiwa yang khas, yang hanya terjadi satu kali. Peristiwa yang khas adalah peristiwa yang tidak dapat diulang kembali, karena merupakan pengalaman atau kejadian pada suatu waktu tertentu saja. Narasi mengenai pengalaman seseorang yang pertama kali masuk sebuah perguruan tinggi, pengalaman seorang yang pertama kali mengarungi samudra luas merupakan contoh peristiwa khas yang dikisahkan dalam sebuah narasi yang khusus.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa narasi eksporitoris adalah suatu jenis narasi yang bertujuan untuk menyampaikan informasi untuk

(14)

memperluas pengetahuan pembaca. Jenis narasi ekspositoris yang digunakan da-lam penelitian ini termasuk dalam narasi ekspositoris yang bersifat generalisasi, karena dapat dilakukan oleh siapa saja.

b. Kriteria Menulis Karangan Narasi

Pada kegiatan menulis karangan narasi siswa dituntut untuk dapat menentukan tema dan kerangka karangan narasi yang berhubungan dengan cerita yang akan disusunya. Karangan tersebut harus memperhatikan penggunaan ejaan dan koherensi atau keterpaduan antar kalimat. Koherensi ialah kepaduan atau kekompakan hubungan antar kaliamat yang satu dengan yang lain dalam sebuah paragraf. Paragraf yang koheren menunjukan bahwa kalimat-kalimat pembentuknya berkaitan secara padu.

Berikut ini merupakan aspek yang akan dinilai dalam keterampilan menulis narasi:

1) Tema; tema adalah suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tersebut.

2) Judul; judul merupakan daya tarik pertama. Karena itu,judul harus dibuat semaksimal mungkin, ringkas, jelas, padat, serta mendeskripsikan isi cerita.

3) Kerangka Karangan; kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis garis besar dari suatukarangan yang akan digarap.12)

(15)

Dengan membuat kerangka karangan penulis akan terhindar dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan.

4) Ejaan; ejaan merupakan kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kalimat-kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Keterampilan menulis narasi pada aspek ejaan ini yang akan dinilai yaitu mengenai pemakaian huruf kapital atau huruf besar, penulisan kata dan pemakaian tanda baca.

5) Penggunaan Struktur Kalimat; struktur kalimat efektif haruslah benar.

Kalimat harus memiliki kesatuan bentuk karena kesatuan bentuklah yang mewujudkan kesatuan arti.

6) Koherensi; koherensi atau keterpaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat itu. Kesalahan yang sering kali merusak koherensi adalah penepatan kata depan, kata penghubung yang tidak sesuai pada tempatnya.

4. Teori tentang Media a. Pengertian Media

Media adalah bentuk jamak dari medium yang berasal dari bahasa latin medius yang berarti tengah. Dalam bahasa Indonesia kata medium diartikan sebagai “antara’ atau “sedang” (Latuheru, 1988: 14). Pengertian media pembelajaran menurut Latuheru (1988: 14) media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, dengan maksud menyampaikan pesan (informasi)

(16)

pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik atau warga belajar). Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran alat bantu untuk menyampaikan pesan dari sumber kepada penerima.

Sardiman (2008: 7) menjelaskan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dalam hal ini adalah proses merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjalin. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan oleh guru sebagai alat bantu mengajar. Dalam interaksi pembelajaran, guru menyampaikan pesan ajaran berupa materi pembelajaran kepada siswa.

Selanjutnya Schramm (dalam Putri, 2011: 20) media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media pembelajaran adalah alat bantu yang dapat digunakan untuk pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan pengertian media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar untuk menyampaikan materi agar pesan lebih mudah diterima dan menjadikan siswa lebih termotivasi dan aktif.

b. Fungsi Media

Sudrajat (dalam Putri, 2011: 20) mengemukakan fungsi media diantaranya yaitu:

(17)

1) media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para siswa

2) media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas

3) media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan

4) media menghasilkan keseragaman pengamatan

5) media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, kongkrit , dan realistis

6) media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar 7) media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang

kongkrit sampai dengan abstrak.

Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berfungsi untuk membantu mengatasi hambatan yang terjadi saat pembelajaran di dalam kelas.

Hamalik (2009: 15) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembalajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa menigkatkan pemahaman, menyajikan data dengan

(18)

menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi. Paparan fungsi media pengajaran Hamalik di atas menekankan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan motivasi dan keinginan belajar siswa serta siswa dapat tertarik dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

Derek Rowntree (dalam Rohani, 1997: 7) memaparkan bahwa media pembelajaran berfungsi membangkitkan motivasi belajar, mengulang apa yang telah dipelajari, menyediakan stimulus belajar, mengaktifkan respon peserta didik, memberikan balikan dengan segera dan menggalakkan latihan yang serasi. Dari pendapat Derek Rowntree di atas dapat diketahui bahwa media pembelajaran memiliki fungsi untuk meningkatkan keinginan dan memberikan rangsangan kepada siswa untuk belajar.

Menurut Kemp dan Dayton (dalam Arsyad, 2002: 20) media dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu:

1) memotivasi minat dan tindakan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa atau pendengar untuk bertindak.

2) menyajikan informasi berfungsi sebagai pengantar ringkasan laporan, atau pengetahuan latar belakang.

3) memberi instruksi dimana informasi yang terdapat dalam bentuk atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi.

(19)

Pendapat Kemp dan Dayton (dalam Arsyad, 2002: 20-21) tentang fungsi media pengajaran menekankan bahwa media pengajaran dapat memberikan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan informasi, memberikan instruksi untuk menarik siswa agar bertindak dalam suatu aktivitas.

Berdasarkan beberapa paparan fungsi media di atas, dapat disimpulkan bahwa media dapat meningkatkan motivasi, rangsangan dan mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan.

c. Manfaat Media

Brown (1983:17) menyatakan bahwa “educational media of all types incresaingly important roles in enabling students to reap benefits from individualized learning”, semua jenis media pembelajaran akan terus meningkatkan peran untuk memungkinkan siswa memperoleh manfaat dari pembelajaran yang berbeda. Menggunakan media pembelajarn secara efektif, akan menciptakan suatu proses belajar mengajar yang optimal.

Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan salah satu bagian penting dari proses pembelajaran. Media pembelajaran memberikan manfaat bagi pendidik maupun peserta didik.

Arsyad (2002 : 26) mengemukakan manfaat media media pengajaran dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.

1) Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

(20)

2) Media pengajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya, dan memungkinkan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

3) Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

4) Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinyya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungan.

Pendapat Arsyad tentang manfaat media pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran dapat membantu proses belajar mengajar. Penyampaian pesan dan isi pelajaran dapat diterima baik oleh siswa.

Menurut Latuheru (1988: 23) manfaat media pembelajaran yaitu:

1) media pembelajaran menarik dan memperbesar perhatian anak-anak didik terhadap materi pengajaran yang disajikan.

2) media pembelajaran mengurangi, bahkan dapat menghilangkan adanya verbalisme.

3) media pembelajaran mengatasi perbedaan pengalaman belajar berdasarkan latar belakang sosial ekonomi dari anak didik.

(21)

4) media pembelajaran membantu memberikan pengalaman belajar yang sulit diperoleh dengan cara yang lain.

5) media pembelajaran dapat mengatasi masalah batas-batas ruang dan waktu.

6) media pembelajaran dapat membantu perkembangan pikiran anak didik secara teratur tentang hal yang mereka alami.

7) media pembelajaran dapat membantu anak didik dalam mengatasi hal yang sulit nampak dengan mata.

8) media pembelajaran dapat menumbuhkan kemampuan berusaha sendiri berdasarkan pengalaman dan kenyataan.

9) media pembelajaran dapat mengatasi hal/peristiwa/kejadian yang sulit diikuti oleh indera mata.

10) media pembelajaran memungkinkan terjadinya kontak langsung antara anak didik, guru, dengan masyarakat, maupun dengan lingkungan alam di sekitar mereka. Paparan tentang manfaat media oleh Latuheru dapat disimpulkan bahwa media bermanfaat untuk mengatasi permasalan yang dialami guru dan siswa dalam pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa memanfaatkan media pembelajaran adalah membantu dalam penyampaian bahan pengajaran kepada siswa untuk meningkatkan kualitas siswa yang aktif dan interaktif sehingga dapat mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran disekolah.

d. Jens-jenis Media

(22)

Media Pembelajaran menurut taksonomi Leshin, dkk (dalam Arsyad, 2002: 79-101) adalah sebagai berikut.

1) Media berbasis manusia

Media berbasis manusia merupakan media yang digunakan untuk mengirim dan mengkomunikasikan peran atau informasi

2) Media berbasis cetakan

Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, buku kerja atau latihan, jurnal, majalah, dan lembar lepas.

3) Media berbasis visual

Media berbasis visual (image) dalam hal ini memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata.

4) Media berbasis audiovisual

Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboadr yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan dan penelitian.

(23)

5) Media berbasis komputer

Komputer memilih fungsi yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan latihan komputer berperan sebagai manajer dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Computer Managed Instruction (CMI). Modus ini dikenal sebagai Computer Assisted Instruction (CAI). CAI mendukung pembelajaran dan pelatihan, akan tetapi ia bukanlah penyampai utama materi pelajaran.

Jenis-jenis media menurut Bretz (dalam Widyastuti dan Nurhidayati, 2010: 17-18) media diklasifikasikan ke dalam tujuh kelompok yaitu :

1) Media audio, seperti: siaran berita bahasa Jawa dalam radio, sandiwara bahasa Jawa dalam radio, tape recorder beserta pita audio berbahasa Jawa.

2) Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar mandiri 3) Media visual diam, seperti: foto, slide, gambar

4) Media visual gerak, seperti: film bisu, movie maker tanpa suara, video tanpa suara

5) Media audio semi gerak, seperti: tulisan jauh bersuara

6) Media audio visual diam, seperti: film rangkai suara, slide rangkai suara

7) Media audio visual gerak, seperti: film dokumenter tentang kesenian Jawa atau seni pertunjukan tradisional, video kethoprak, video wayang, video campursari.

(24)

Henich (dalam Widyastuti dan Nurhidayati, 2010 : 19) mengklasifikasikan media secara lebih sederhana, yaitu:

1) media yang tidak diproyeksikan 2) media yang diproyeksikan 3) media audio

4) media video

5) media berbasis komputer 6) multimedia kit.

Berdasarkan beberapa pandangan di atas mengenai jenis-jenis media pengajaran maka dapat disimpulkan bahwa media dapat dikategorikan menjadi 4 jenis media yaitu media audio, media visual, media audio visual dan multimedia.

e. Prinsip Pemilihan Media

Untuk menghasilkan suatu produk media pembelajaran yang baik diperlukan prinsip dalam pemilihan media. Setyosari (2008: 22) mengidentifikasi prinsip-prinsip media sebagai berikut.

1) identifikasi ciri-ciri media yang diperhatikan sesuai dengan kondisi, unjuk kerja (performance) atau tingkat setiap tujuan pembelajaran, 2) identifikasi kerakteristik siswa (pembelajar) yang memerlukan media

pembelajaran khusus,

3) identifikasi karakteristik lingkungan belajar berkenaan dengan media pembelajar yang akan digunakan,

(25)

4) identifikasi pertimbangan praktis yang memungkinkan media mana yang mudah dilaksanakan,

5) identifikasi faktor ekonomi dan organisasi yang menentukan kemudahan penggunaan media pembelajaran. Menggunakan media harus memperhatikan prinsip pemilihan media terlebih dahulu.

Prinsip-prinsip dalam pemilihan media pembelajaran menurut Saud (2009: 97) adalah sebagai berikut :

1) tepat guna, artinya media pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kompetensi dasar,

2) berdaya guna, artinya media pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan motivasi siswa,

3) bervariasi, artinya media pembelajaran yang digunakan mampu mendorong sikap aktif siswa dalam belajar.

Prinsip-prinsip media yang dipaparkan oleh Saud tersebut mengidentifikasikan bahwa media yang tepat guna, berdaya guna, dan bervariasi dapat menjadi suatu media pembelajaran yang baik. Isi media yang dirancang sesuai dengan desain pembelajaran dapat menjadikan media berkualitas. Media yang berkualitas akan menumbuhkan ketertarikan bagi peserta didik untuk belajar menggunakan media.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media harus diperhatikan dengan baik, sehingga dapat menghasilkan suatu media pembelajaran yang menarik dengan materi yang tepat. Media pembelajaran yang baik adalah media

(26)

pembelajaran yang mampu membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Prinsip-prinsip pembuatan media harus memperhatikan beberap faktor. Faktor yang diperhatikan antara lain (1) perangkat pembelajaran, (2) lingkungan belajar, (3) tempat belajar, (4) ekonomi sosial budaya.

5. Teori tentang Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar

Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie” atau dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, seperti yang dikemukakan oleh Abdullah bahwa dalam setiap proses akanselalu terdapat hasil nayta yang dpat diukur dan dinyatakan sebagai hail belajar (achievement) seseorang , sedangkan menurut Suryabrata bahwa hasil belajar termasuk dalam kelompok atribut kognitif, yang respons hasil pengukurannya tergolong pendapat (judgement), yaitu respon yang dapat dinyatakan benar atau salah.

Hasil belajar mengacu pada perolehan hasil secara kuantitatif dan kualitatif secara keterlibatan mental, emosi dan social dari siswa dalam proses pembelajaran aktif. Hasil belajar teraktualisasi pada perubahan sikap dan kepribadian siswa untuk lebih berprestasi dalam berbagai aktifitas belajar di sekolah. Hasil belajar siswa merupakan suatu indikasi

(27)

pencapaian tujuan pendidikan yang sudah menjadi komitmen nasional antara lain terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan,pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga Nampak pada diri individu penggunaan terhadap sikap, pengetahuandan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga mampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif .

Dimyati dan Mudjiono (2006) mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran.

Menurut Djamarah dan Zain (2006), hasil belajar adalah apa yang diperoleh siswa setelah dilakukan aktifitas belajar.

Menurut Hamalik (2008) hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat di amati dan di ukur bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat di artikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik sebelumnya yang tidak tahu menjadi tahu.

Mulyasa (2008) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa secara keseluruhan yang menjadi indikator

(28)

kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman langsung.

Sedangkan Winkel (dalam Purwanto, 2010) berpendapat bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya.

Sudjana (2010) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Menurut Suprijono (2009) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.

Bloom membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik . Ranah kognitif berkenaan dngan hasil belajar intelektual, yang terdiri dari enam aspek seperti pengetahuan atau ingatan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek seperti penerimaan, jawaban aau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.ranah psikomortor berkenaan dengan hasil belaar keterampilan dan kemampuan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan dan ketapatan, geraka keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Senada dengan Bloom, Sudrajat mengemukakan bahwa hasil belajar dapat diklasifikasikan dalam tiga ranah yaitu; (1) Ranah kognitif

(29)

(pengetahuan yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika), (2) Rana afektif (sikap dan nilai atau mencakup becerdasan emosional), dan (3) Ranah psikomotor (keterampilan atau mencakup kecerdasan kinetis, kecerdasan visual-spasial, dan keserdasan musikal) . Sedangkan Sudjana mengemukakan bahwa peristiwa belajar sebagai alat ukur mencapai tujuan pembelajaran yang dibagi dalam tiga sudut pandang; (1) melihat belajar sebagai proses, (2) melihat belajar sebagai hasil, dan (3) melihat belajar sebagai tugas .

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan kemampuan yang terjadi dalam diri siswa yang ditandai dengan perubahan tingkah laku secara kuantitatif dalam bentuk seperti penguasaan, pengetahuan atau pemahaman, keterampilan, analisis, sistesis, evaluasi, serta nilai dan hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi bentuk ikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjdi bekal bagi siswa sebagai individu dan masyarakat.

Hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menimbulkan prakarsa dan kreatifitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi membentuk sikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal

(30)

dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjadi bekal bagi siswa sebagai individu dan masyarakat.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, dkk. (2007: 76 -77), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut:

1). Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.

2). Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di atas, peneliti menggunakan faktor eksternal berupa penggunaan media benda konkrit berupa buah-buahan.

6. Teori tentang Buku catatan harian atau Buku Catatan Harian a. Pengertian Buku catatan harian

Buku Harian atau Diary adalah catatan kejadian yang kita alami sehari-hari. Kita menulis kejadian yang mengesankan pada hari ini pada

(31)

buku catatan harian. Fungsi diary adalah sebagai kenangan masa-masa yang pernah kita alami. Bisa juga sebagai momento/sejarah kehidupan kita.

Seiring dengan perubahan zaman yang terlalu cepat sehingga perubahan tersebut membuat individu semakin stress entah dengan kariernya atau keluarganya, Diary atau buku harian pun berubah fungsi dari sekedar menyimpan kenangan menjadi sebuah media untuk mencurahkan perasaan seseorang atas masalah yang dihadapinya.

Menurut Alice D. Domar, menulis buku harian adalah sebuah langkah untuk mengungkapkan emosi dan perasaan kita dan membantu kita untuk merawat pikiran kita. Juga dengan berkembangnya teknologi, buku harian sekarang tidak hanya ditulis pada secarik kertas namun juga bisa berupa data di komputer atau notebook bahkan ada yang berupa fasilitas daring untuk menulis buku harian di Internet (wikipedia.org).

Kebanyakan orang terlalu malas untuk menulis buku harian. Itu terjadi karena kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa buku harian itu tidak sekedar buku harian.

b. Beberapa Tokoh Penulis Buku catatan harian

Penulis diary Nin telah menulis buku harian sejak umur 11 tahun. Ia telah mengembangkan teori yang menyatu-padukan unsur-unsur psikologi

(32)

dengan kesusasteraan dalam penulisan buku harian. Konsep yang dikemukakannya ialah tanggung jawab pribadi dan kedewasaan setiap orang memerlukan pulau batin dalam dirinya sendiri. Ini merupakan suatu kehidupan batin yang dibina, dipelihara, merupakan suatu sumber kekuatan, struktur batin yang kita perlukan untuk melawan bencana- bencana dan kesalahan serta ketidakadilan dari luar.

Ahli psikologi Progroff menggunakan diary sebagai suatu sarana untuk menyoroti kehidupan dirinya dari banyak pandangan yang berlainan.

Ia melukiskan buku catatan harian sebagai konfrontasi yang terus menerus dengan diri sendiri di tengah-tengah kehidupan dan sebagai s uatu laboratorium psikologis yang dengannya pertumbuhan pribadi dicatat dan ditelaah untuk mengusahakan bagian-bagian luar dan dalam dari pengalaman seseorang menjadi keselarasan.

c. Sejarah Buku Harian

Pada zaman Alkitab, pemerintah sering mencatat peristiwa-peristiwa penting. Alkitab sendiri merujuk kepada sejumlah catatan resmi seperti itu.

Orang Yunani mengembangkan sejenis almanak yang disebut ephemerides, yang berisi catatan pergerakan harian bintang dan planet.

Orang Romawi, yang menaklukkan Yunani, turut menggunakan jurnal seperti itu tetapi, dengan berciri kepraktisan, menambah nilainya dengan mencatat juga peristiwa sehari-hari yang perlu diketahui masyarakat.

(33)

Mereka menyebutnya diarium, yang berasal dari bahasa Latin dies, yang artinya ”hari”.

Namun, baru pada abad ke-17, ketika seorang Inggris bernama Samuel Pepys menulis jurnalnya, buku harian menjadi populer di negeri- negeri Barat sebagai catatan peristiwa pribadi setiap hari. Buku harian Pepys, yang berisi paduan tak lazim antara kesalehan dan keduniawian, menjadi salah satu sumber informasi terlengkap bagi para sejarawan tentang kehidupan di bawah pemerintahan raja Inggris, Charles II.

Semenjak itu, menulis jurnal menjadi semakin populer. Bahkan, banyak buku harian menjadi dokumen sejarah yang berharga. Salah satu yang terkenal adalah jurnal seorang gadis kecil Yahudi yang menyembunyikan diri dari Nazi. Diary of a Young Girl (Buku Harian Seorang Gadis Kecil) yang ditulis Anne Frank menjadi bukti yang menyedihkan dari kebiadaban manusia terhadap sesamanya.

d. Manfaat Buku Harian

Tidak semua jiwa bisa terbuka kepada sesama yang bernyawa. Banyak pribadi yang terkunci di lorong tabir kesunyian dan hanya ingin menikmati sendiri. Untuk meredakan sepi, semua yang dialami tercurah dalam buku harian. Sebuah buku harian dapat menjadi tempat curahan hati. Selain untuk tempat mencurahkan isi hati, buku harian juga memiliki manfaat yang lainnya antara lain:

1) Bahan Menulis Biografi

(34)

Kalau kita mau menelaah sejarah, banyak peristiwa sejarah yang terungkap lewat catatan-catatan pribadi para pelaku sejarah.

Contohnya, Tulisan R. A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Tulisan ini, pada awalnya adalah sebuah catatan dan surat pribadi yang berisi curahan perasaanya tentang penindasan dan pengekangan hak-hak kaum perempuan saat itu, serta keinginannya untuk mengubah nasib kaum perempuan agar memperoleh hak yang sama dengan laki-laki, terutama masalah pendidikan. Di kemudian hari, tulisan ini justru menginspirasi banyak hati dan mampu mengubah cara pandang sebuah bangsa terhadap sosok kaum Hawa.

2) Mencatat hal-hal penting dalam hidup

Otak manusia itu terbatas dalam mengingat, jadi ada baiknya kita mulai menulis hal-hal penting yang terjadi dalam hidup kita pada sebuah buku harian. Misalnya, kapan pertama kali pacaran, teman pertama saat SMA, pertama kali datang terlambat ke sekolah atau hal- hal lain yang penting bagi kita.

3) Buku Harian merupakan ajang berekspresi sekaligus kebebasan berkarya

Tak perlu khawatir dinilai salah atau takut dicela karena semua yang tertuang adalah gambaran jiwa. Orang akan lebih jujur bercerita pada buku harian daripada sahabat atau keluarganya. Sebuah cerita hati tentang kesedihan, kebahagiaan, keinginan terpendam bahkan kemarahan tertuang tanpa batasan. Ketika menulis penuh kejujuran,

(35)

tulisan itu bisa menjadi kekuatan untuk melepas beban yang menekan.

Tulisan yang dihasilkan pun biasanya akan membuat penasaran.

Mungkin sudah banyak yang pernah membaca buku-buku yang berasal dari catatan harian seseorang. Misalnya, Catatan Harian Lelaki Malam karangan Moammar Emka. Sebuah catatan pribadi kehidupan penulisnya yang dipublikasikan. Alur ceritanya terasa sangat real, natural dan menarik karena memang isi cerita yang disuguhkan adalah perjalanan nyata hidupnya. Tidak salah jika kemudian para ahli psikologi menyatakan bahwa menulis Buku harian bisa menjadi terapi emosi, alternatif penyembuhan trauma dan bisa menjadikan seseorang sukses karena seseorang bisa me-review, mengevaluasi dan memperbaiki kesalahanserta kekurangan dirinya melalui serangkaian catatan perjalanan hidup dalam buku harian.

4) Buku harian juga ternyata merupakan kumpulan diksi

Gaya bahasa dan bentuk karya sastra. Gaya bahasa hiperbola misalnya, bisa dituliskan tanpa rekayasa ketika si penulis merasakan kesedihan atau kebahagiaan yang mendalam. Demikian pula dengan pilihan kata-kata yang digunakan penulisnya. Kadang-kadang, kita tertegun takjub ketika membaca buku harian kita sendiri. Ternyata kita bisa menulis, mengolah kata dan memainkan gaya bahasa sesuai dengan apa yang hati kita rasakan tanpa ditutup-tutupi. Jika kita menyadari itu, maka buku harian pun bisa menjadi ajang berlatih menulis, berbahasa atau bahkan membuat karya sastra.

(36)

5) Ajang pengenalan diri pada diri sendiri

Yang paling penting dari sebuah Buku harian ialah bahwa kita sebagai penulisnya memiliki arti dan bisa mengenal lebih dekat diri kita sendiri. Kita tahu apa yang kita inginkan, kita mengerti apa yang membuat kita nyaman atau bete, kita paham seberapa besar upaya kita untuk membuat diri kita bahagia bahkan bisa menggambarkan pribadi orang lain sesuai pemahaman kita, dengan me-review diary kita. Jadi, Buku Harian itu punya makna yang dalam sebagai buku kehidupan.

(Nia Hidayati).

e. Manfaat Buku Harian di Dunia Pendidikan

Di dunia pendidikan buku harian sangatlah bermanfaat. Seacara tidak sadar, menulis buku harian meningkatkan dan mengasah kemampuan menulis. Mengapa orang-orang Jepang pandai sekali menulis Manga (komik Jepang)? Itu karena di Jepang anak-anak SD kelas rendah yaitu kelas 1-3 sudah diajarkan untuk menulis buku harian. Mereka bukan hanya menulis saja namun juga disertakan dengan gambar. Buku harian bergambar atau yang biasa disebut Enikki diterapkan untuk merekam kegiatan sehari-hari dan dibuat dalam satu halaman yang memuat gambar dan narasi. Enikki dapat meningkatkan kompetensi anak dalam menulis secara reflektif-edukatif. Dan juga melatih anak-anak berpikir logis- imajinatif. Enikki juga berguna untuk melatih kemampuan menulis anak secara psikomotorik. Mereka sangat kreatif karena sejak kecil orang orang Jepang sudah diajarkan untuk menulis. Dengan mengajarkan sejak dini

(37)

untuk menulis buku harian diharapkan suatu hari nanti generasi-generasi muda khususnya di Indonesia menjadi generasi-generasi yang kreatif dan imajinatif serta mampu menghasilkan suatu karya yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia. Walaupun meniru cara orang Jepang tetapi jangan salah, ini bukan sekedar meniru karena ini sangat bermanfaat untuk generasi-generasi muda.

B. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian tentang Buku catatan harian sudah pernah dilakukan oleh para peneliti, di antaranya dilakukan oleh:

1. Yuda Yusthiana tahun 2012, sebuah tesis yang meneliti tentang keefektifan media buku harian dalam pembelajaran keterampilan bercerita siswa SMP Negeri 3 Tepus. Hasilnya adalah sebagai berikut :

a. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan bercerita pengalaman mengesankan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Tepus yang dilaksanakan menggunakan media buku harian dibandingkan dengan siswa yang dilaksanakan tanpa menggunakan media buku harian.

Hasil perhitungan uji-t menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (8,759 > 1,380) dan p kurang dari 0,05 (0,00 < 0,05).

b. Pembelajaran bercerita pengalaman mengesankan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Tepus lebih efektif menggunakan media buku harian dibandingkan dengan pembelajaran bercerita pengalaman mengesankan tanpa menggunakan media buku harian. Perhitungan

(38)

uji-t hitung lebih besar dari t tabel (8,721 > 1,380) dan p kurang dari 0,05 (0,00 < 0,05).

2. Septiana Rinawati tahun 2014, meneliti tentang Pengaruh Kebiasaan Menulis Buku Harian Terhadap Kecerdasan Linguistik pada Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah 3 Surakarta. Data hasil dari analisa data diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,008 yang menunjukkan bahwa kebiasaan menulis buku harian berpengaruh positif terhadap kecerdasan linguistik sebesar 0,8 %, sedangkan 99,2 % sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.

3. Fitriya Dwi Hadiyani, Dede Tatang Sunarya dan Nurdinah Hanifah, dalam Jurnal Pena Ilmiah Vol 1 No.1 tahun 2016, meneliti tentang Penggunaan Media GAMBHI ( Gambar dan Buku Harian Investigasi ) untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis dalam Materi Mendeskripsikan Binatang. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa : Hasil belajar siswa siklus I sebesar 41.17% mencapai KKM, siklus II sebesar 76.47%, dan siklus III sebesar 94.11% mencapai KKM dan melebihi target penelitian. Maka dapat disimpulkan penggunaan media GAMBHI dapat meningkatkan keterampilan menulis anak pada materi mendeskripsikan binatang.

4. Sukardi Moh. Adnan Latief dan Emalia Iragiliati, tahun 2013, sebuah tesis yang meneliti tentang Penggunaan Buku Harian Pribadi untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Siswa Kelas Delapan SMP Negeri 1 Binangun, Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : pada minggu terakhir pengimplentasian strategi, nilai pesrta didik telah mencapai

(39)

criteria keberhasilan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil bahwa 5 siswa (13,88%) mencapai nilai 83,33 dan 5 siswa lagi (13,88%) memperoleh nilai 75,00. Sementara itu, 17 siswa (47,22%) mendapatkan nilai 66.67 dan 9 siswa (25,00%) mencapai nilai 58.33. Nilai rata-rata yang dicapai oleh 36 siswa sebagai subyek peneliatian adalah 68,05. Hal ini berarti rata-rata nilai yang diperoleh melebihi 65,00 sebagai criteria keberhasilan. Hasil penelitian pada minngu terakhir juga menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai dibawa nilai terendah kriteria keberhasilan yaitu 55,00.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan hasil kajian teori maka dapat dikemukakan bahwa:

1. Nilai yang dicapai siswa menggambarkan kemampuan siswa dalam menulis narasi.

2. Dorongan yang muncul dalam diri seseorang untuk mengikuti kegiatan menulis disebut motivasi.

3. Agar siswa memiliki hasil belajar menulis pengalaman pribadi yang baik dan minat yang tinggi maka guru harus menggunakan media yang tepat.

4. Jenis media banyak macamnya. Salah satu media yang dapat digunakan dalam mengajarkan menulis adalah Buku catatan harian atau Catatan Harian.

5. Media Buku catatan harian atau Catatan Harian memiliki keunggulan- keunggulan:

a) Bahan Menulis Biografi

(40)

b) Mencatat hal-hal penting dalam hidup

c) Buku Harian merupakan ajang berekspresi sekaligus kebebasan berkarya

d) Buku harian juga ternyata merupakan kumpulan diksi e) Ajang pengenalan diri pada diri sendiri

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pikir dapat dikemukakan hipotesis:

1. Penggunaan media buku catatan harian/buku catatan harian berpengaruh positif terhadap motivasi siswa dalam belajar menulis karangan narasi.

2. Penggunaan media buku catatan harian/buku catatan harian berpengaruh positif terhadap kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi.

Referensi

Dokumen terkait

Karena pembangunan menghendaki udara baru, bagi kelantjaran

Untuk memperoleh Visa tinggal terbatas saat kedatangan bagi Orang Asing yang akan bergabung untuk bekerja di atas kapal, alat apung, atau instalasi yang beroperasi di wilayah

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menghasilkan aplikasi pemesanan bus pariwisata yang dapat diakses oleh perangkat android yang terdapat pembayaran online

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka secara operasional yang dimaksudkan dalam judul tersebut adalah suatu penelitian dalam rangka pengkajian secara

PROFIL REPRESENTASI MENTAL SISWA KETIKA MEMBACA GAMBAR REPRESENTASI KONVENSI DAN ISOMORFISME SPASIAL PADA MATERI SISTEM EKSKRESI MANUSIA.. Universitas Pendidikan

“ANALISIS PELAKSANAAN RETRIBUSI SALAR PASAR PENGARUHNYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN ANGGARAN 2006- 2010”. 1.2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Motivasi dan partisipasi siswa meningkat dengan penggunaan jurnal belajar dalam pembelajaran biologi model rancangan alat

media/buku gambar untuk dikreasi sedemikian rupa. Penyelenggarakan bimbingan belajar Biologi bagi anak-anak SD dan SMP di Dusun Keruk IV dengan materi sebagai berikut..