BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Environmental Health Risk Assessment Study atau Studi EHRA adalah
sebuah survey partisipatif di tingkat kabupaten/kota yang bertujuan untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat kabupaten/kota sampai ke desa/kelurahan. Kabupaten Rembang memandang perlu melakukan Studi EHRA karena: 1) Pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat; 2) Data terkait dengan sanitasi terbatas di mana data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat desa/kelurahan dan data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda; 3) EHRA adalah studi yang menghasilkan data yang representatif di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan dan dapat dijadikan panduan dasar di tingkat kelurahan; 4) EHRA menggabungkan informasi yang selama ini menjadi indikator sektor pemerintahan yang terpisah dari yang lain; 5) EHRA secara tidak langsung memberi ”amunisi” bagi stakeholders dan warga di tingkat kelurahan untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama warga atau stakeholders kelurahan dan 6) Isu-isu terkait dengan sanitasi pada tingkat desa/kelurahan masih dianggap kurang penting dan masyarakat belum memiliki fokus pada isu sanitasi.
Hal-hal yang menjadi fokus dalam studi EHRA antara lain: 1) Sumber air minum meliputi minum, cuci, mandi dan kelangakaan air; 2) Perilaku cuci tangan pakai sabun; 3) Pembuangan sampah meliputi cara utama, frekuensi pengangkutan dan pemilihan; 4) Jamban, Buang Air Besar (BAB) dan pembuangan kotoran anak; dan 5) Kondisi jalan dan drainase serta pengalaman banjir. Sedangkan Prinsip-prinsip dalam studi EHRA antara lain: 1) Pendekatan partisipatif tetapi tetap kredibel di mata pengambil keputusan yaitu melalui survey kuantitatif yang ketat; 2) Kerja kolaborasi antara
Kelompok Kerja (Pokja), Kader Komunitas, dan konsultan; 3) Studi EHRA memberikan ruang lebih banyak bagi perempuan dan 4) Studi EHRA memberikan ruang untuk advokasi.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari Environmental Health Risk Assessment
Study atau studi EHRA adalah:
1. Untuk mendapatkan gambaran kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku yang beresiko terhadap kesehatan lingkungan masyarakat Kabupaten Rembang. 2. Memberikan advokasi kepada masyarakat akan pentingnya layanan
sanitasi.
3. Memberikan pemahaman yang sama dalam menyiapkan anggota tim survey yang handal.
4. Menyediakan salah satu bahan utama penyusunan Buku Putih Sanitasi dan Strategi Sanitasi Kabupaten Rembang.
Pelaksanaan pengumpulan data lapangan dan umpan balik hasil studi EHRA dipimpin dan dikelola langsung oleh Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Rembang. Selanjutnya, data EHRA diharapkan menjadi bahan untuk mengembangkan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Rembang dan juga menjadi masukan untuk mengembangkan strategi sanitasi dan program-program sanitasi pada Kabupaten Rembang.
BAB II
METODOLOGI DAN LANGKAH STUDI EHRA
EHRA adalah studi yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan 2 (dua) teknik pengumpulan data, yakni 1) wawancara (interview) dan 2) pengamatan (observation). Pewawancara dan pelaku pengamatan dalam EHRA adalah Enumerator yang dipilih secara kolaboratif oleh Pokja AMPL dan Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Sementara Sanitarian bertugas menjadi Supervisor selama pelaksanaan survey. Sebelum turun ke lapangan, para sanitarian dan enumerator diwajibkan mengikuti pelatihan enumerator selama satu (1) hari penuh. Materi pelatihan mencakup dasar-dasar wawancara dan pengamatan; pemahaman tentang instrumen EHRA; latar belakang konseptual dan praktis tentang indikator-indikator; uji coba lapangan; dan diskusi perbaikan instrumen.
Unit sampling utama (Primary Sampling) adalah RT (Rukun Tetangga). Unit sampling ini dipilih secara proporsional dan random berdasarkan total RT di semua RW dalam setiap Desa/Kelurahan di Kabupaten Rembang yang telah ditentukan menjadi area survey. Jumlah sampel desa/kelurahan terdapat 8 RT dan jumlah sampel per RT sebanyak 5 kepala keluarga. Dengan demikian jumlah sampel per desa/kelurahan adalah 40 responden. Yang menjadi responden adalah Ibu atau anak perempuan yang sudah menikah, dan berumur antara 18 s/d 60 tahun.
Panduan wawancara dan pengamatan dibuat terstruktur dan dirancang untuk dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30-45 menit. Untuk mengikuti standar etika, informed consent wajib dibacakan oleh enumerator sehingga responden memahami betul hak-haknya dan memutuskan keikutsertaan dengan sukarela dan sadar.
Pekerjaan entri data dikoordinir oleh Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Sebelum melakukan entri data, tim data entri terlebih dahulu mengikuti pelatihan singkat data entry EHRA yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator yang telah terlatih dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa-Tengah. Selama
pelatihan itu, tim data entri dikenalkan pada struktur kuesioner dan perangkat lunak yang digunakan serta langkah-langkah untuk uji konsistensi yakni program EPI Info dan SPSS. Mengingat tingkat kesulitan entri data menggunakan program EPI Info yang nantinya harus di transfer ke SPSS, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa-Tengah sepakat langsung menggunakan program SPSS yang tetap berpedoman pada variabel-variabel yang ada pada kuisioner studi EHRA.
Untuk quality control, tim spot check mendatangi 5% rumah yang telah disurvei. Tim spot check secara individual melakukan wawancara singkat dengan kuesioner yang telah disediakan dan kemudian menyimpulkan apakah wawancara benar-benar terjadi dengan standar yang ditentukan. Quality control juga dilakukan di tahap data entri. Hasil entri di re-check kembali oleh tim Pokja AMPL. Sejumlah 5% entri kuesioner diperiksa kembali.
Kegiatan Studi EHRA memerlukan keterlibatan berbagai pihak dan tidak hanya bisa dilaksanakan oleh Pokja Kabupaten/Kota semata. Agar efektif, Pokja Sanitasi Kabupaten Rembang mengorganisir pelaksanaan secara menyeluruh. Adapun susunan Tim EHRA Kabupaten Rembang sebagai berikut:
1. Penanggungjawab : Dr. Ali Sofi’I (Kepala Dinas Kesehatan) 2. Ketua : Aris Suryono, S.KM (Kabid. P2PL) 3. Wakil Ketua : Alfurqon, S.Kom. S.KM (Kasi PL)
4. Koordinator Survey : Sarwono, S.KM (Sanitarian DKK Rembang) 5. Anggota : BAPPEDA, DPU, KBPM,
6. Koordinator wilayah : Kepala Puskesmas 7. Supervisor : Sanitarian Puskesmas 8. Tim Entry data : DKK Rembang
9. Tim Analisis data : Pokja Sanitasi Kabupaten Rembang
10. Enumerator : Bidan desa, Saka Bhakti Husada (SBH), Kader Kesehatan.
A. Penentuan Target Area Survey
Metoda penentuan target area survey dilakukan secara geografif dan demografis melalui proses yang dinamakan Klastering. Hasil klastering ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai indikasi awal lingkungan berisiko. Proses pengambilan sampel dilakukan secara random sehingga memenuhi kaidah ”Probability Sampling” dimana semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel. Sementara metoda sampling yang digunakan adalah “Proportionate Cluster Random Sampling”. Teknik ini sangat cocok digunakan di Kabupaten Rembang, mengingat adanya keterbatasan dana dan sumber daya manusia serta area sumber data yang akan diteliti sangat luas. Pengambilan sampel didasarkan pada daerah populasi yang telah ditetapkan.
Penetapan klaster dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program PPSP sebagai berikut:
1) Kepadatan penduduk yaitu jumlah penduduk per luas wilayah
2) Angka kemiskinan dengan indikator yang datanya mudah diperoleh tapi cukup representatif menunjukkan kondisi sosial ekonomi setiap kecamatan dan/atau kelurahan.
3) Desa/Kelurahan yang berada di sepanjang aliran sungai/laut
4) Daerah terkena banjir (desa/kelurahan yang memiliki genangan air). Berdasarkan kriteria di atas, klastering wilayah Kabupaten Rembang menghasilkan katagori klaster sebagaimana diperlihatkan pada Error!
Reference source not found.. Wilayah (desa/kelurahan) yang terdapat pada
klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama. Berdasarkan asumsi ini maka hasil studi EHRA bisa memberikan peta area berisiko Kabupaten Rembang.
Tabel 2.1
Kategori Klaster berdasarkan Kriteria Indikasi Lingkungan Beresiko
Katagori
Klaster Kriteria
Klaster 0 Wilayah desa/kelurahan yang tidak memenuhi sama sekali kriteria indikasi lingkungan berisiko.
Klaster 1 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 1 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Klaster 2 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 2 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Klaster 3 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 3 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Klaster 4 Wilayah desa/kelurahan yang memenuhi minimal 4 kriteria indikasi lingkungan berisiko
Klastering wilayah di Kabupaten Rembang menghasilkan katagori klaster sebagaimana dipelihatkan pada Tabel 2. 1. Wilayah (desa/kelurahan) yang terdapat pada klaster tertentu dianggap memiliki karakteristik yang identik/homogen dalam hal tingkat risiko kesehatannya. Dengan demikian, desa/kelurahan yang menjadi area survey pada suatu klaster akan mewakili desa/kelurahan lainnya yang bukan merupakan area survey pada klaster yang sama.
Tabel 2. 1.
Hasil Klastering Desa/Kelurahan di Kabupaten Rembang Tahun 2015
No
1Ketanggi Rem bang Gegunung Kulon Rembang Gedangan Rem bang Kabongan Kidul Rembang Bajingjowo Sarang
2Ngotet Rem bang Gegunung Wetan Rembang Kabongan Lor Rem bang Tireman Rembang Krikilan Sumber
3Sendangmulyo Kragan Kedungrejo Rembang Kasrem an Rem bang Tegaldowo Gunem Jatihadi Sumber
4Mojokerto Kragan Kutoharjo Rembang Kumendung Rem bang Suntri Gunem Grawan Sumber
5Sendang Kragan Leteh Rembang Magersari Rem bang Dowan Gunem Sukorejo Sumber
6 Mondoteko Rembang Ngadem Rem bang Sidomulyo Gunem Tlogotunggal Sumber
7 Pacar Rembang Padaran Rem bang Telgawah Gunem Megulung Sumber
8 Pandean Rembang Pasarbanggi Rem bang Sendangmulyo Gunem Kedungasem Sumber
9 Punjulharjo Rembang Pulo Rem bang Panohan Gunem Sekarsari Sumber
10 Sawahan Rembang Sridadi Rem bang Baturno Sarang Kemadu Sulang
11 Sidowayah Rembang Sumberjo Rem bang Gunungmulyo Sarang Sendangsari Lasem
12 Sukoharjo Rembang Tanjungsari Rem bang Gonggang Sarang Sudan Kragan
13 Tritunggal Rembang Tasikagung Rem bang Karangmangu Sarang Gegersimo Pamotan
14 Weton Rembang Tlogomojo Rem bang Bajingm eduro Sarang
15 Banyuurip Gunem Turusgede Rem bang Sarangmeduro Sarang
16 Sambaongpayak Gunem Waru Rem bang Kuangsan Kaliori
17 Lodan wetan Sarang Kajar Gunem Babadan Kaliori
18 Bonjor Sarang Pasucen Gunem Karangsekar Kaliori
19 Tawangrejo Sarang Timbrangan Gunem Pengkol Kaliori
20 Gilis Sarang Trem bes Gunem Ronggomulyo Sum ber
Hasil selengkapnya klastering wilayah desa/kelurahan terdapat pada lampiran.
Hasil klastering wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Rembang yang terdiri dari 294 desa/kelurahan menghasilkan distribusi sebegai berikut:
1) klaster 0 sebanyak 2 %. 2) klaster 1 sebanyak 27%, 3) klaster 2 sebanyak 38%, 4) klaster 3 sebanyak 29%, 5) klaster 4 sebanyak 4 %.
B. Penentuan Jumlah Responden
Jumlah sampel untuk tiap desa/kelurahan diambil sebesar 40 responden. Sementara itu jumlah sampel RT per desa/Kelurahan diambil 8 RT yang dipilih secara random dan mewakili semua RT yang ada dalam desa/kelurahan tersebut. Jumlah responden per desa/kelurahan sebanyak 40 rumah tangga yang harus tersebar secara proporsional di 8 RT terpilih dan pemilihan responden juga secara random, sehingga diperoleh 5 responden per RT.
Berdasarkan kaidah statistik, untuk menentukan jumlah sampel minimum dalam skala kabupaten digunakan “Rumus Slovin” sebagai berikut:
Keterangan:
n : adalah jumlah sampel N : adalah jumlah populasi
d : adalah toleransi ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan
sampel yang masih dapat ditolerir 5% (d = 0,05) Asumsi tingkat kepercayaan 95%, karena menggunakan α=0,05, sehingga diperoleh nilai Z=1,96 yang kemudian dibulatkan menjadi Z=2.
Jumlah populasi rumah tangga Kabupaten Rembang tahun 2014 sebanyak 166.001 rumah tangga, maka jumlah sampel minimum yang harus dipenuhi adalah sebanyak 400 sampel.
Pokja Sanitasi Kabupaten Rembang mempunyai kebijakan sampel berupa ketentuan desa/kelurahan yang akan dijadikan sampel sebanyak 70%. Hal tersebut jelas sudah melebihi perhitungan sampel minimum. Adapun perhitungannya sebagai berikut: 70% x 294 desa = 206 desa/kelurahan yang akan dijadikan target area survey, dan untuk masing-masing desa/kelurahan diambil 40 responden, sehingga jumlah sampel yang akan diambil sebanyak 206 X 40 = 8.240 responden.
C. Penentuan Desa/Kelurahan Area Survey
Setelah menghitung kebutuhan responden dengan menggunakan kebijakan sampel oleh Pokja Sanitasi, maka selanjutnya menentukan lokasi studi EHRA dengan cara Proportionate Cluster Random Sampling. Hasil pemilihan desa/kelurahan akan didistribusikan secara proporsional di masing-masing klaster. Hasil pemilihan 206 desa/kelurahan tersebut disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2. 2.
Desa/Kelurahan Terpilih Untuk Survei EHRA 2015 Kabupaten Rembang
DESA KEC DESA KEC DESA KEC DESA KEC DESA KEC
1 Ngotet Rembang Dresi wetan Kaliori Sampung Sarang Pomahan Sulang Bajingjowo Sarang 2 Ketanggi Rembang Tritunggal Rembang Seren Sulang Pranti Sulang Jatihadi Sumber 3 Sendangmulyo Kragan Sidowayah Pancur Magersari Rembang Tulung Pamotan Tlogotunggal Sumber 4 Sendang Kragan Sendangcoyo Lasem Kedungtulup Sumber Kumbo Sedan Sekarsari Sumber 5 Banyudono Kaliori Kerep Sulang Sriombo Lasem Megulung Sumber 6 Criwik Pancur Bancang Sale Tireman Rembang Sudan Kragan 7 Rendeng Sale Jurangjero Sluke Dowan Gunem Kedungasem Sumber 8 Pacar Rembang Wiroto Kaliori Kendalagung Kragan Krikilan Sumber 9 Gambiran Pamotan Samaran Pamotan Narukan Kragan Grawan Sumber 10 Ngulangan Pancur Menoro Sedan Sumurpule Kragan
11 Karangharjo Kragan Pulo Rembang Langgar Sluke 12 Karasgede Lasem Karangasem Bulu Karangharjo Sulang 13 Kadiwono Bulu Sidorejo Sedan Karangsekar Kaliori 14 Mondoteko Rembang Gunem Gunem Tempaling Pamotan 15 Tasikharjo Kaliori Pasarbanggi Rembang Telgawah Gunem
NO CLUSTER 0 CLUSTER 1 CLUSTER 2 CLUSTER 3 CLUSTER 4
Hasil selengkapnya desa/kelurahan terpilih terdapat pada lampiran.
Berdasarkan tabel 2.3 diketahui bahwa sebaran desa/kelurahan sebagai area study terdiri dari:
1) klaster 0 sebanyak 4 desa (0,3 %); 2) klaster 1 sebanyak 56 desa (19,8%);
3) klaster 2 sebanyak 78 desa (42,2%); 4) klaster 3 sebanyak 59 desa (24,4%) dan 5) klaster 4 sebanyak 9 desa (0.5%).
Proporsi desa/kelurahan yang terpilih sebagai area study EHRA Kabupaten Rembang Tahun 2015, lebih jelasnya seperti pada gambar 2.1.
Gambar 2.1. Persentase Desa/Kelurahan Terpilih Sebagai Area study Menurut Klaster.
D. Penentuan RW/RT dan Responden di Lokasi Survey
Unit sampling primer (PSU = Primary Sampling Unit) dalam EHRA adalah RT. Karena itu, data RT per RW per desa/kelurahan dikumpulkan sebelum memilih RT. Jumlah RT per kelurahan adalah 8 (delapan) RT. Berikut adalah langkah yang dilakukan dalam menentukan RT.
1) Mengurutkan RT per RW per desa/kelurahan.
2) Menentukan Angka Interval (AI). Untuk menentukan AI, perlu diketahui jumlah total RT total dan jumlah yang akan diambil.
a) Jumlah total RT kelurahan : X. b) Jumlah RT yang diambil : Y
c) Maka angka interval (AI) = jumlah total RT kelurahan / jumlah RT yang diambil. AI = X/Y (dibulatkan) misal pembulatan ke atas menghasilkan Z, maka AI = Z
3) Untuk menentukan RT pertama, mengambil secara acak angka antara 1 – Z (angka random). Sebagai contoh, angka random (R#1) yang diperoleh adalah 3.
4) Untuk memilih RT berikutnya adalah 3 + Z= ... dst.
Rumah tangga/responden dipilih dengan menggunakan cara acak (random sampling), hal ini bertujuan agar seluruh rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Artinya, penentuan rumah itu bukan bersumber dari preferensi enumerator/supervisor ataupun responden itu sendiri. Tahapannya adalah sbb.
1) Pergi ke RT terpilih dan meminta daftar rumah tangga atau bila tidak tersedia, membuat daftar rumah tangga berdasarkan pengamatan keliling dan wawancara dengan penduduk langsung.
2) Membagi jumlah rumah tangga (misal 25) dengan jumlah sampel minimal yang akan diambil, misal 5 (lima) diperoleh Angka Interval (AI) = 25/5 = 5
3) Mengmbil angka secara random antara 1 – AI untuk menentukan Angka Mulai (AM), contoh dibawah misal angka mulai 2
28.3 22.7 27.7 42.5 8.5 13.4 7.7 12.4 3.6
Banyak sampah berserakan /bertumpuk di… Banyak lalat di sekitar tumpukan sampah
Banyak tikus berkeliaran Banyak nyamuk Banyak kucing dan anjing mendatangi…
Bau busuk yang menggangu Menyumbat saluran drainase Ada anak-anak yang bermain di sekitarnya Lainnya
Kondisi Sampah di Lingkungan Rumah/RT/RW
BAB III
HASIL STUDI EHRA 2015 KABUPATEN REMBANG
A. Persampahan
1. Kondisi Sampah Lingkungan
Berdasarkan hasil pengukuran EHRA, permasalahan persampahan cukup banyak ditemui. Banyaknya nyamuk merupakan masalah yang paling banyak dikeluhkan oleh penduduk, yaitu sekitar 42,5 %. Selain banyaknya nyamuk, tumpukan sampah yang dapat menampung air menjadi sarang bagi nyamuk dan merupakan masalah persampahan berikutnya yang dianggap penting oleh penduduk sekitar 28 %. Banyaknya tikus berkeliaran disekitar tumpukan samapah juga banyak dikeluhkan oleh penduduk sekitar 27,7 %. Sementara itu hanya 7,7% penduduk yang menganggap sampah dapat menyumbat saluran drainase. Selengkapnya dapat diperhatikan dalam grafik kondisi sampah di lingkungan RT/RW r i k u t .
Gambar 3.1. Grafik Kondisi sampah di lingkungan RT/RW
2. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Rembang pada umumnya dilakukan dengan cara dibakar. Cara pengelolaan sampah tersebut
sebanyak 45,2% penduduk yang tinggal di wilayah sampel. Cara pengelolaan lainnya yang cukup banyak dilakukan penduduk yaitu dengan cara sampah dibuang kedalam lubang tetapi tidak ditutup sebanyak 22,2% dan pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah ke sungai/kali/laut sebesar 11,5%. Selain metode pengolahan dengan cara tersebut, terdapat sebagian kecil hanya sebanyak 0,2 % penduduk wilayah sampel yang melakukan pengelolaan sampah dengan cara mengumpulkan ke kolektor informal untuk didaur ulang. Kolektor informal tersebut umumnya adalah para pengepul sampah yang terdapat di Kabupaten Rembang. Lebih lengkapnya dapat diperhatikan dalam grafik metode pengolahan sampah rumah tangga sebagai berikut.
Gambar 3. 2. Grafik Metode pengelolaan sampah rumah tangga
3. Pemilahan & Daur Ulang Sampah
Berdasarkan hasil pengumpulan data di wilayah sample, jenis sampah yang paling banyak dilakukan pemilahan dan didaur ulang adalah sampah organik/basah sebanyak 71,8%. Banyaknya pemilahan sampah organik/basah ini dikarenakan terdapat beberapa penduduk yang sudah melaksanakan pembuatan kompos menggunakan sampah organik sisa sisa bahan dapur. Sampah organik tersebut dibuang ke lubang galian kemudian dibiarkan membusuk dan ditambah beberapa zat untuk mempercepat
proses kimiawi untuk menjadi kompos. Hasilnya sebagian besar dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman hias. Usaha pembuatan kompos sederhana di tingkat rumah tangga perlu lebih ditingkatkan pelaksanaannya. Selain dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, pupuk kompos cukukup baik bagi tanaman hias. Pemilahan sampah lainnya yang cukup banyak dilakukan untuk di daur ulang adalah kertas, yaitu sebanyak 56,1%. Kertas berupa koran bekas, kardus barang, ataupun bekas laporan kantor masih memiliki nilai jual yang cukup bagus, dan diterima oleh para pengepul. Selain sampah kertas, sampah lainnya yang di daur ulang adalah besi/logam sebanyak 32,5%, selanjutnya sampah plastik sebanyak 10,8% berupa sampah botol minuman, bekas alat alat rumah tangga juga memiliki nilai jual yang bagus. Berikut ini merupakan grafik presentase jenis sampah yang didaur ulang oleh penduduk:
Gambar 3. 3. Grafik Jenis Sampah yang Didaur Ulang
4. Pengangkutan Sampah Menuju TPS
Dalam pengangkutan sampah menuju TPS, sebagian besar penduduk sebanyak 99% menggunakan jasa petugas pengangkut sampah berbayar, hanya 1 % persen dari penduduk yang membuang sampah sendiri ke TPS. Petugas sampah yang berada di lingkungan RT/RW umumnya mengangkut sampah setiap hari dari rumah-rumah. Sampah
tersebut diletakkan di depan rumah menggunakan kantong plastik, ataupun dalam tong sampah yang berada di depan rumah. Frekuensi pengangkutan sampah dari rumah penduduk oleh petugas dapat berbeda antara setiap wilayah. Lebih lengkapnya dapat diperhatikan dalam grafik metode pengangkutan sampah menuju TPS berikut:
Gambar 3. 4. Grafik Metode pengangkutan sampah menuju TPS
Berdasarkan hasil studi EHRA sebanyak 94 % masyarakat menyatakan bahwa waktu pengangkutan sampah oleh petugas sudah tepat waktu. Presentase masyarakat yang menyatakan bahwa pengangkutan sampah oleh petugas sering terlambat cukup kecil yaitu 6%. Keterlambatan petugas dalam mengangkut sampah dapat disebabkan oleh berbagai hal. Keterbatasan tenaga dan armada pengangkut sampah merupakan salah satu penyebab keterlambatan pengangkutan sampah oleh petugas. Sampah yang belum terangkut akan menumpuk hingga mengotori lingkungan dan menimbulkan polusi serta penyakit.
Besaran biaya yang dibayarkan oleh warga untuk layanan sampah dapat bervariasi antar tempat. Besaran biaya tersebut yang terbanyak sebesar 43,7% penduduk membayar Rp. 7.000,-, kemudian 31,7% membayar layanan sampah sebesar Rp. 5.000,- dan yang paling sedikit hanya sebesar Rp. 3.000,- sebanyak 0,9%.
Gambar 3. 6. Grafik Biaya Layanan Pengangkutan Sampah
Biaya tersebut dapat ditarik oleh berbagai pihak yang menyediakan layanan sampah. Sebagian besar masyarakat (94,2%) membayarkan biaya layanan sampah kepada pihak RT. Besaran biaya yang dipungut oleh pihak RT tergantung hasil kesepakatan bersama antar warga dalam RT tersebut. Biaya sampah yang dikeluarkan tersebut digunakan untuk membayar tenaga pengangkut dan perawatan armada pengangkut. Selain itu biaya sampah yang dipungut oleh pihak RT juga digunakan sebagai penambah kas milik RT.
B. Limbah Domestik
1. Fasilitas Buang Air Besar
Sebagian besar rumah tangga penduduk yang tinggal di wilayah sampel yaitu sebanyak 83,9% memanfaatkan jamban pribadi yang terdapat dalam masing masing rumah untuk melakukan buang air besar. Lainnya sebesar 5,8% penduduk masih BAB di sungai/pantai/laut dan 4,2% penduduk masih BAB di kebun/pekarangan. Hanya 1,8% penduduk yang memanfaatkan MCK / WC umum untuk aktivitas BAB (Buang Air Besar). Sementara itu berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penduduk tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, hampir semua masyarakat sudah melakukan aktivitas BAB di jamban pribadi. Namun masih ditemukan kebiasaan buang air besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun. Hal tersebut menandakan masih adanya masyarakat yang kurang memiliki kesadaran yang baik untuk melakukan BAB pada tempat yang sesuai dengan sanitasi yang sehat.
Gambar 3. 8. Grafik Tempat Anggota Rumah Tangga Dewasa Melakukan Buang Air Besar.
Kloset yang umumnya terdapat di rumah penduduk yang tinggal di kawasan sampel adalah kloset jongkok leher angsa. Jenis kloset tersebut digunakan oleh 82,3 % penduduk, lebih besar dibanding jenis kloset duduk leher angsa yang hanya digunakan oleh 2,13 % penduduk. Terdapat beberapa jenis kloset lain yang digunakan, antara lain cemplung sebanyak 14,8% atau plengsengan sebanyak 0,38%. Sementara itu terdapat 0,42%
dari rumah penduduk yang belum memiliki kloset untuk BAB. Penduduk yang rumahnya belum dilengkapi dengan kloset tersebut umumnya memanfaatkan fasilitas BAB berupa MCK / kamar mandi umum yang berada di lingkungan sekitar tempat tingalnya. Lebih lengkapnya tentang jenis kloset yang terdapat di rumah penduduk dapat dilihat dalam grafik berikut.
Gambar 3. 9. Grafik Jenis Kloset yang Terdapat di Rumah Penduduk
2. Fasilitas Pengolahan Limbah Rumah Tangga
Penduduk yang rumahnya dilengkapi dengan jamban umumnya telah memiliki tangki septik sebagi tempat pembuangan akhir tinja. Jumlah penduduk yang memiliki tangki septik adalah 63 % dari sampel dan sisanya tidak membuang tinja yang dihasilkan ke septik tank. Sebanyak 20% penduduk membuang tinja ke lubang tanah/cubluk, 4% ke sungai/pantai. Kebiasaan ini sangat tidak sehat karena selain menyebabkan bau yang tidak sedap, tinja yang dibuang ke sungai/pantai tersebut dapat menjadi sumber utama penyakit di lingkungan tersebut. Penduduk yang tidak memiliki tanki septik umumnya merupakan golongan miskin tinggal di kawasan yang padat penduduk. Lebih lengkapnya dapat diamati dalam grafik berikut.
Gambar 3. 3 Grafik Saluran Pembuangan Akhir Tinja
Tanki septik yang dimiliki oleh penduduk sebagian besar (53%) sudah digunakan antara 5-10 tahun yang lalu. Sekitar 22 % tanki septik memiliki waktu penggunaan yang sangat lama yaitu lebih dari 10 tahun. Penggunaan tangki septik yang cukup lama yaitu antara 1-5 tahun sebesar 18%. Hanya sebesar 3 % tanki septik yang digunakan kurang dari 1 tahun yang lalu. Lebih lengkapnya dapat diperhatikan dalam grafik usia pemakaian septik tank berikut.
Gambar 3. 4. Grafik Usia Pemakaian Tanki Septik
Usia pemakaian tanki septik yang sudah cukup lama tersebut tentu saja memerlukan perawatan ekstra agar kemampuannya dalam mengolah tinja dapat berjalan secara optimal. Pengurasan tanki septik merupakan salah satu cara yang harus dilakukan dalam rangka perawatan tersebut.
Berdasarkan hasil studi EHRA yang dilakukan sekitar 54 % tanki septik terahir dikuras dalam periode 5-10 tahun yang lalu. Sekitar 21 % tanki septik terakhir dikuras dalam periode 1 – 5 tahun yang lalu, sedangkan 20% dikuras dalam periode lebih dari 10 tahun yang lalu. Hanya sebesar 3% saja tangki septik terahir dikuras dalam periode kurang dari 1 tahun. Hasil selengkapnya bisa dilihat pada grafik dibawah ini.
Gambar 3. 5. Grafik Pengurasan Tanki Septik
Pengurasan tangki septik umumnya membayar tukang untuk melakukan pengurasan tinja yaitu sebanyak 54,5%. Pengurasan tangki septik yang menggunakan jasa layanan sedot tinja yang dipanggil kerumah hanya sebesar 19,3%. Jasa layanan sedot tinja tersebut dapat disediakan oleh pihak pemerintah ataupun jasa sedot tinja yang disediakan oleh pihak swasta. Sedangkan sisaya 24% melakukan pengosongan sendiri.
Hampir 97% penduduk tidak mengetahui dengan jelas tempat pembuangan akhir lumpur tinja tersebut. Hanya sekitar 2% yang mengetahui bahwa lumpur tinja tersebut dibuang dikubur ditanah orang lain atau di buang ke Pembuangan Air Limbah (PAL) yang terletak di luar wilayah Kabupaten Rembang. Namun yang perlu mendapat perhatian adalah sekitar 1 % penduduk membuang lumpur tinja dengan cara menguburnya di halaman, dan 0,5% lainnya menjadikan sungai ataupun saluran di sekitar tempat tinggal sebagai tempat pembuangan lumpur tinja. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan sekitar.
Gambar 3. 7. Grafik Tempat Pembuangan Akhir Lumpur Tinja
C. Drainase Lingkungan/Selokan Rumah dan Banjir
1. Sarana Pembuangan Air Limbah Selain Tinja
Saluran drainase yang berada di sekitar rumah tangga menggunakan saluran terbuka dan tertutup baik yang dialirkan ke sungai maupun sumur resapan yang telah ada. Dalam lingkup rumah tangga/lingkungan, selain saluran pembuangan air hujan juga diperlukan sarana pembuangan air limbah yang memadai. Hal ini menjadi pertimbangan karena saluran pembuangan air limbah rumah tangga dapat menimbulkan pencemaran maupun permasalahan lingkungan yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu drainase/saluran yang diperlukan adalah saluran pembuangan air limbah rumah tangga.
Berdasarkan hasil survei EHRA yang dilaksanakan terhadap 8.240 responden di Kabupaten Rembang, jumlah rumah tangga yang memiliki sarana pembuangan air limbah sebanyak 75,8% (6.244 rumah tangga), sedangkan rumah tangga yang tidak memiliki sarana pembuangan air limbah sebanyak 1.996 rumah tangga (24,2 %). Hasil selengkapnya seperti yang terlihat pada tabel 3.1.
Tabel 3. 1.
Rumah Tangga yang Mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah Selain Tinja
n % n % n % n % n %
Ya, ada 138 86.3 1,737 77.5 2,252 74.1 1,850 74.6 267 83.4 6,244 75.8 Tidak ada 22 13.8 503 22.5 788 25.9 630 25.4 53 16.6 1,996 24.2
Total 160 2,240 3,040 2,480 320 8,240 100
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1 2 3 4
n %
Gambar 3. 8. Rumah Tangga yang Mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah Selain Tinja
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam pembuangan air limbah rumah tangga selain tinja sudah bagus, karena sebagian besar rumah tangga memliki sarana pembuangan air limbah. Meskipun demikian, sarana yang sudah dimiliki setiap rumah tangga perlu diperhatikan tujuan akhir saluran drainase lingkungan rumah tangga yang digunakan untuk sarana pembuangan air limbah rumah tangga.
2. Muara Pembuangan air bekas buangan/air limbah selain tinja
Muara atau aliran pembuangan air bekas atau air limbah selain tinja dari dapur, kamar mandi, tempat cuci pakain dan washtafel ke sungai, jalan, saluran terbuka, saluran tertutup, lubang galian, pipa saluran dan pipa IPAL SANIMAS pada survey EHRA 2015 Kabupaten Rembang disajikan pada tabel 3.2 dibawah ini.
Tabel 3. 2.
Tabulasi silang Asal Air limbah dan Muara Pembuangan
Air Limbah Dari: n % n % n % n % n % n % n % Dapur 1,451 29.0 732 33.3 1875 27.8 656 28.7 343 30.2 279 28.1 55 29.6
Kamar mandi 1,457 29.1 649 29.5 1920 28.5 666 29.1 316 27.8 282 28.4 65 34.9
Tempat cuci pakaian 1,446 28.9 703 32.0 2422 35.9 743 32.5 320 28.2 272 27.4 54 29.0
Washtafel 657 13.1 113 5.1 523 7.8 222 9.7 156 13.7 160 16.1 12 6.5 TOTAL 5011 2197 6740 2287 1135 993 186 P ip a IP A L SA N IM A S K e S u n ga i K e J al an K e S al u ra n T e rb u ka K e s al u ra n T e rt u tu p Lu b an g G al ia n P ip a Sa lu ra n
a. Ke Sungai, Kanal, Empang/Kolam, Selokan
Pada tabel 3.2 tersebut diatas dapat dilihat bahwa air bekas buangan/air limbah rumah tangga dibuang ke sungai, kanal, empang/kolam, dan selokan yang berasal dari air buangan cucian, dari kamar mandi dan dapur hampir sama yaitu masing-masing sekitar 29%. Jumlah air bekas buangan/air limbah rumah tangga terkecil yang dibuang ke sungai, kanal, empang/kolam, dan selokan adalah dari wastafel hanya sebesar 13,1%. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan sarana drainase rumah tangga masih didominasi oleh penggunaan pencucian pakaian, dapur, dan kamar mandi. Penggunaan wastafel di Kabupaten Rembang masih belum banyak, sehingga pemanfaatan saluran drainase untuk pembuangan air bekas/limbah non tinja masih sedikit. Hal ini juga dapat dikarenakan wastafel belum menjadi bagian bangunan dalam rumah, sehingga fungsi wastafel sendiri bisa
dilakukan di tempat mencuci pakaian atau di kamar mandi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.16 dibawah ini.
Grafik 3. 9. Persentase Air Bekas Buangan/Air Limbah Selain Tinja yang Dibuang ke Sungai, Kanal, Empang/Kolam, Selokan.
b. Ke Jalan, Halaman, Kebun
Berdasarkan hasil survey di lokasi penelitian, diperoleh hasil bahwa tujuan pembuangan air bekas/limbah selain tinja yang dibuang ke jalan/halaman/kebun sebagian besar berasal dari dapur sebesar 33%, air bekas cucian juga cukup banyak yang dibuang ke jalan/halaman/kebun sebanyak 32%, air bekas dari kamar mandi juga cukup banyak yaitu sebesar 30%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak rumah tangga yang belum mengoptimalkan saluran pembuangan air bekas/limbah selain tinja. Akan tetapi jika dilihat dari total responden, hanya 2.197 rumah tangga yang masih membuang air bekas/limbah selain tinja ke jalan/halaman/kebun dari total responden 8.240 rumah tangga. Dengan demikian hanya sekitar 1/4 rumah tangga di Kabupaten Rembang yang masih belum memanfaatkan saluran pembuangan untuk membuang air bekas/limbah selain tinja. Lebih jelasnya rumah tangga yang masih membuang air bekas/limbah selain tinja ke jalan/halaman/kebun dapat dilihat pada tabel dan grafik 3.17 berikut ini.
Gambar 3. 10. Persentase Air Bekas Buangan/Air Limbah Selain Tinja yang Dibuang ke Jalan, Halaman, Kebun.
c. Ke Saluran Terbuka
Hasil dari survey Studi EHRA Kabupaten Rembang pada tahun 2015, jumlah rumah tangga yang membuang air bekas/limbah selain tinja ke saluran tebuka paling banyak berasal dari tempat cuci pakain sebanyak 36%, dari kamar mandi dan dapur hampir sama masing-masing 29% dan 28%. Responden yang membuang air limbah selain tinja ke saluran terbuka sebanyak 6.740 rumah tangga. Apabila dilihat dari proporsi jumlah respondennya (8.240 rumah tangga) yaitu sekitar 82%, maka jumlah tersebut termasuk besar. Grafik 3.18 di bawah ini menyajikan jumlah rumah tangga yang membuang air bekas/limbah selain tinja ke saluran terbuka.
Gambar 3. 18. Presentase Jumlah Rumah Tangga yang Membuang Air Bekas/Limbah Selain Tinja Ke Saluran Terbuka
d. Ke Saluran Tertutup
Saluran drainase tertutup yang ada di Kabupaten Rembang masih sedikit dan kurang dioptimalkan oleh para penduduk sebagai saluran pembuangan air bekas/limbah selain tinja. Hal tersebut terbukti bahwa sebagian kecil responden menjawab bahwa air bekas buangan/limbah selain tinja yang berasal dari dapur, kamar mandi dan tempat cuci pakaian masih sedikit yang disalurkan ke saluran tertutup yang sudah ada. Hal ini dapat dilihat pada jumlah rumah tangga yang membuang air bekas/limbah ke saluran tertutup hanya sebanyak 2.287 rumah tangga dari total sampel sebanyak 8.240 rumah tangga (28%). Jumlah rumah tangga yang membuang air bekas/limbah selain tinja dari dapur, kamar mandi, tempat cuci pakaian, dan wastafel ke saluran tertutup dapat dilihat pada grafik 3.19.
Gambar 3. 19. Presentase Jumlah Rumah Tangga yang Membuang Air Bekas/Limbah Selain Tinja Ke Saluran Tertutup
e. Ke Lubang Galian
Hasil survey menunjukkan bahwa rumah tangga yang membuang air bekas/limbah selain tinja ke lubang galian relatif banyak. Jumlah rumah tangga yang membuang air bekas/limbah selain tinja berasal dari dapur, kamar mandi, tempat cuci pakaian dan wastafel masing-masing secara berurutan sebanyak 30%, 28%, 28% dan 14% rumah tangga. Apabila dilihat dari persentase asal air bekas buangan/limbah rumah tangga yang dibuang ke lubang galian hampir sama, hanya sebagian kecil berasal dari washtafel. Dilihat secara keseluruhan, jumlah rumah tangga yang membuang air bekas
buangan/limbah rumah tangga selain tinja ke lubang galian sekitar 14% dari jumlah sampel. Relatif sedikitnya rumah tangga yang membuang air limbah selain tinja di lubang galian, hal ini dikarenakan masyarakat di Kabupaten Rembang takut membuat lubang galian khusus untuk pembuangan air limbah di sekitar halaman rumah mencemari lubang galian untuk sumber air bersih baik sumur gali maupun sumur pompa tangan. Berikut disajikan rumah tangga yang membuang air bekas selain tinja ke lubang galian seperti yang tertera pada grafik 3.20 dibawah ini.
Grafik 3. 20. Persentase Jumlah Rumah Tangga yang Membuang Air Bekas/Limbah Selain Tinja ke Lubang Galian
f. Ke Pipa Saluran Pembuangan Kotoran
Berdasarkan hasil suvey pada 8.240 responden (rumah tangga), jumlah rumah tangga terbanyak yang membuang air bekas/limbah selain tinja ke saluran pembuangan kotoran hanya 993 rumah tangga. Hal tersebut artinya hanya sekitar 12% (atau hanya sebagian kecil)rumah tangga di Kabupaten Rembang yang membuang air bekas/limbah rumah tangga ke pipa saluran pembuangan kotoran. Dari 993 rumah tangga tersebut, air limbah dari kamar mandi dan dapur masing-masing sekitar 28%, dan air limbah dari tempat cuci pakaian sebesar 27% serta air limbah dari washtafel hanya sekitar 16% yang dibuang ke pipa saluran pembuangan kotoran. Hasil selengkapnya seperti yang terlihat pada grafik 3.21 dibawah ini.
Gambar 3. 11. Persentase Jumlah Rumah Tangga yang Membuang Air Bekas Buangan/Air Limbah Selain Tinja ke Pipa Saluran
Pembuangan Kotoran
g. Ke Pipa IPAL Sanimas
Distribusi pipa IPAL Sanimas di Kabupaten Rembang masih sangat kurang untuk melayani kebutuhan pembuangan air bekas/limbah rumah tangga selain tinja. Akan tetapi beberapa rumah sudah dapat mengakses saluran tersebut. Dari 8.240 responden (rumah tangga) yang dijadikan sampel penelitian, jumlah terbanyak rumah tangga yang membuang air bekas/limbah rumah tangga selain tinja ke pipa saluran IPAL sanimas hanya 186 rumah tangga atau sekitar 2 %. Jumlah rumah tangga yang membuang air bekas buangan/limbah rumah tangga selain tinja yang berasal dari dapur sebanyak 30%, dari kamar mandi 35%, dari tempat cuci pakaian 29% dan dari wastafel 6%. Keterangan mengenai jumlah rumah tangga dan asal air bekas/limbah rumah tangga selain tinja yang dibuang ke pipa saluran IPAL sanimas, dapat dilihat grafik 3.22 di bawah ini.
Gambar 3. 12. Presentase Jumlah Rumah Tangga yang Membuang Air Bekas Buangan/Air Limbah Selain Tinja ke Pipa IPAL Sanimas 3. Banjir di Lingkungan/Jalan di Sekitar Rumah
a. Rumah yang Ditempati Saat Ini Atau Lingkungan dan Jalan Di Sekitar Rumah Pernah Terkena Banjir
Kejadian banjir di Kabupaten Rembang tergolong sangat rendah atau hanya terjadi di beberapa lokasi yang berada di daerah sekitar sungai. Hal ini ditunjukkan oleh jawaban responden (rumah tangga) yang sebagian besar (89,8%) tidak pernah terjadi banjir, baik hingga ke rumah, lingkungan dan jalan sekitar rumah. Sebanyak 4,4% jawaban responden memberikan jawaban pernah terjadi banjir dengan intensitas sekali dala setahun, sedangkan 2,3% responden yang lain menjawab bahwa telah mengalami kejadian banjir beberapa kali. Jika dicermati dari hasil survey tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sistem drainase di Kabupaten Rembang sudah cukup baik dan memadai untuk menampung debit air. Presentase jumlah rumah tangga yang terkena dampak banjir dapat dilihat pada grafik 3.23 di bawah ini.
Gambar 3. 13. Intensitas Kejadian Banjir yang Terjadi di Rumah, Lingkungan dan Jalan di Sekitar Tempat Tinggal
b. Kejadian Banjir Terakhir Kali yang Masuk ke Rumah
Kejadian banjir yang airnya masuk ke rumah juga tergolong sedikit terjadi di Kabupaten Rembang. Berdasarka hasil survey yang telah dilakukan dalam Study EHRA, dapat diketahui jumlah kejadian banjir terakhir hanya menimpa 287 rumah tangga dari total 8.240 rumah tangga yang disurvey (3,5%).
Tabel 3. 3.
Kejadian Terakhir Kali Banjir, yang Memasuki Rumah
Jawaban N %
Ya 287 3.5
Tidak 7.953 96.5
8.240 100
Beberapa rumah tangga yang terkena banjir mengaku bahwa air yang memasuki rumah berkisar dari setumit orang dewasa hingga sepinggang orang dewasa. Kejadian terbanyak adalah ketinggian air setumit orang dewasa sebanyak 43%, setengah lutut orang dewasa sebanyak 34%, Selutut orang dewasa sebanyak 20% dan sepinggang orang dewasa sebanyak 3%. Lebih jelasnya dapat dilhat pada grafik 3.24 dibawah ini.
Gambar 3. 14. Persentase Ketinggian Air yang Masuk ke Rumah Akibat Banjir.
c. Lama Banjir Hingga Mengering
Rumah tangga yang terkena dampak dari bencana banjir tentunya mengetahui variasi ketinggian dan lama banjir terjadi hingga surut/mengering lagi. Kejadian banjir yang menimpa masyarakat di Kabupaten Rembang hanya sebentar dan sebagian kecil. Banjir yang terjadi juga tidak pernah lama menggenangi lokasi yang terkena banjir. Pada grafik dibawah ini dapat diketahui bahwa sebagian besar sebanyak 31,5% genangan yang terjadi saat banjir akan mengering lagi dalam waktu 1-3 jam. Untuk lebih jelasnya lagi, lama genangan air banjir hingga mengering dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 3. 15. Persentase Lama Air Banjir Menggenang hingga Mengering
D. Pengelolaan Air Bersih Rumah Tangga
1. Sumber air bersih dan Pengelolaannya
Pengelolaan air bersih rumah tangga meliputi akses terhadap sumber air bersih, pengolahan serta penyimpanan dan penanganan air yang baik dan aman. Sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Rembang beragam mulai dari air bersih yang bersumber dari air botol kemasan, air isi ulang, air ledeng, air PDAM, air sumur bor, air sumur gali terlindungi dan tidak terlindungi, air sungai dan sumber air lainnya. Dari berbagai sumber air bersih yang digunakan, masyarakat Kabupaten Rembang pada umumnya menggunakan air bersih yang berasal dari SPT, kemudian SGL terlindungi dan ledeng PDAM. Sumber air bersih dari SPT terbanyak digunakan untuk cuci piring dan gosok gigi. Sedangkan SGL terlindungi sebagian besar digunakan untuk cuci pakaian (96%) dan cuci piring (32%). Sumber air bersih yang berasl dari ledeng PDAM sebagian besar digunakan untuk gosok gigi (96%) dan 17% digunakan untuk cuci piring. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada grafik 3.26 pada gambar dibawah ini.
Kebutuhan minum dan memasak, masyarakat Kabupaten Rembang menggunakan air bersih yang berasal dari air isi ulang sebanyak 39% untuk kebutuhan minum dan sumur pompa tangan sebanyak 22% digunakan untuk memasak. Selain menggunakan sumber air tersebut masyarakat kabupaten Rembang untuk kebutuhan minum dan memasak juga menggunakan sumber air yang berasal dari air botol kemasan, HU maupun KU PDAM, dan SGL terlindungi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.27 dibawah ini.
Gambar 3. 17. Diagram Sumber Air Minum dan Kegunaannya.
Wadah penyimpanan air untuk keperluan minum dn masak, berdasarkan pengamatan dilapangan wadah penyimpanan air yang sudah diolah sebagian besar disimpan dalam panci/ember yang memiliki tutup sebanyak 56%. Hasil selengkapnya seperti yang tertera pada grafik 3.28.
Pengambilan air dari wadah penyimpanan air untuk minum juga mempengaruhi higienitas air minum. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, masyarakat Kabupaten Rembang sebagian besar ketika mengambil air tangan tidak menyentuh air / menggunakan gayung sebanyak 55%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah mengerti akan pentingnya menjaga higienitas air yang digunakan sebagai air minum. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.29. dibawah ini.
Grafik 3. 29. Cara Pengambilan Air dari Wadah
Terkait dengan kualitas sumber air yang digunakan, 92% masyarakat puas dengan kualitas sumber air yang digunakan dan hanya 8% masyarakat yang tidak puas.
Selama menggunakan air bersih, masyarakat Kabupaten Rembang sebagian besar tidak kesulitan untuk meperolehnya. Sebanyak 76% masyarakat tidak kesulitan memperoleh ar bersih. Hal ini berarti akses untuk memperoleh air bersih di Kabupaten Rembang cukup mudah diperoleh, meskipun ada juga sebagian kecil masyarakat yang kesulitan untuk memperoleh air bersih. Hasil selengkapnya seperti pada grafik 3.31.
Gambar 3. 19. Diagram Kesulitan Memperoleh Air Bersih.
E. Perilaku Higiene dan Sanitasi
Perilaku hygiene pada survey EHRA dilakukan diantarnya untuk mengetahui pemakaian sabun pada hari ini atau hari sebelumnya. Diketahui bahwa 99 % masyarakat Kabupaten Rembang menggunakan sabun pada hari disurvey dan hari sebelum survey. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menjaga kebersihan badannya dengan menggunakan sabun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.32..
Suatu rumah tangga penggunaan sabun beragam, demikian halnya dengan penggunaan sabun pada keluarga di Kabupaten Rembang. penggunaan sabun hampir merata untuk kebutuhan membersihkan badan mulai dari untuk kebutuhan mandi, memandikan anak, menceboki pantat anak, mencuci tangan sendiri, mencuci tangan anak, mencuci peralatan minum, makan dan masak, mencuci pakaian dan lainnya. Kebutuhan lain yang menggunakan sabun diantaranya cuci motor dan mobil dan membersihkan kamar mandi. Berikut hasil selengkapnya penggunaan sabun.
Gambar 3. 20. Persentase Penggunaan Sabun
Perilaku mencuci tangan dengan menggunakan sabun ini biasanya dilakukan di kamar mandi, di dekat kamar mandi, di jamban, di dekat jamban, di sumur, disekitar bak penampungan air hujan, di tempat cuci piring, di dapur dan lain sebagainya. Mayoritas masyarakat Kabupaten Rembang mencuci tangan di kamar mandi sebanyak 70%, kemudian di tempat cuci piring sebanyak 64% dan di dapur sebanyak 42%. Selain mencuci pada tempat-tempat yang sudah disebutkan, masyarakat Kabupaten Rembang juga mencuci tangan di kran air yang ada diluar rumah, kran air yang dekat dengan sumur dan di bak untuk tempat wudlu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.34 dibawah ini.
Gambar 3. 21. Persentase Tempat Mencuci Tangan.
Perilaku mencuci tangan ini biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Rembang mencuci tangan setelah buang air besar (BAB) sebanyak 86%. Kemudian setelah makan sebanyak 81% dan sebelum makan sebanyak 73%. Selain itu mereka mencuci tangan setelah menceboki anak, pada saat akan menyiapkan makanan, sebelum menyuapi anak, sebelum sholat dan sebelum ke toilet. Perilaku mencuci tangan juga dilakukan setelah selesai bermain, setelah selesai bepergian, setelah membersihkan rumah dan setelah pulang sekolah. Untuk persentase waktu mencuci tangan dapat dilihat pada grafik 3.35 sebagai berikut.
F. Kejadian Penyakit Diare
Kejadian penyakit diare juga merupakan salah satu kajian yang terdapat dalam studi EHRA. Penyakit diare menjadi salah satu indikator untuk melihat kesehatan lingkungan. Jika banyak masyarakat yang menderita penyakit diare kesehatan lingkungan dapat dikategorikan buruk, tetapi jika kejadian penyakit diare rendah maka kesehatan lingkungan termasuk kategori baik. Berdasarkan pada survey EHRA, diketahui bahwa 70% kejadian diare tidak pernah terjadi pada masyarakat Kabupaten Rembang dan hanya beberapa persen dapat ditemui kejadian penyakit diare. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Kabupaten Rembang untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sudah cukup baik yang ditunjukkan dengan rendahnya persentase kejadian penyakit diare. Hasil selengkapnya seperti pada grafik 3.36 dibawah ini.
Gambar 3. 23. Presentase Kejadian Diare
Pada lokasi yang mengalami kejadian diare, umumnya anggota keluarga yang sering mengalami kejadian diare adalah orang dewasa perempuan sebanyak 32%, kemudian anak-anak balita sebanyak 29% dan orang dewasa laki-laki sebanyak 20%. Anak-anak balita rentan terkena penyakit diare karena anak-anak terkadang bermain pada tempat-tempat kotor dan banyak terdapat banyak kuman. Berikut grafik persentase anggota keluarga yang sering terkena penyakit diare.
Gambar 3. 37. Presentase Keluarga yang Menderita Diare.
Kejadian diare ini juga terkait dengan perilaku melindungi/menutup makanan. Perilaku ini merupakan salah satu bentuk untuk melindungi makanan dari hinggapan hewan-hewan kecil seperti lalat, kecoa, cicak, semut dan serangga lainnya. Jika makanan terlindungi maka makanan tersebut aman untuk dikonsumsi dan dapat terhindar dari penyakit. Sebagian besar perilaku menutup/melindungi makanan untuk penduduk Kabupaten Rembang dengan cara menyimpan makanan diatas meja dan ditutup sebanyak 62%, kemudian menyimpan dalam lemari yang tertutup sebanyak 25% dan yang menyimpan dalam lemari makan sebesar 8%. Untuk lebi jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.38 dibawah ini.
G. Observasi/Pengamatan
1. Pengamatan air di dalam wc/jamban.
Berdasarkan observasi/pengamatan pada survey EHRA Kabupaten Rembang Tahun 2015 diperoleh hasil bahwa 79,6% teredia air didalam bak air/ember. Berikut disajikan grafik pengamatan air di WC seperti yang tertera pada grafik 3.39 dibawah ini.
Grafik 3. 39. Pengamatan Air di Dalam Wc/Jamban.
2. Ketersediaan sabun di dalam atau didekat jamban.
Terkait dengan menjaga kebersihan diri ketika berada di jamban atau didekat jamban, diketahui bahwa 74% di jamban atau didekatnya tersedia sabun. Hal ini menunjukkan bahwa ketika keluar dari jamban, masyarakat langsung membersihkan tangan mereka dengan sabun sehingga tangan tetap higienis. Berikut disajikan grafik ketersediaan sabun didalam wc/jamban.
3. Adanya jentik-jentik nyamuk di dalam bak air/ember
Adanya jetik-jentik nyamuk di dalam bak air/ember mengindikasikan bahwa daerah tersebut rawan terhadap penyakit demam berdarah, malaria atau penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk. Berdasarkan pada survey EHRA diketahui bahwa 79% bak air/ember penampungan yang dimiliki masyarakat Kabupaten Rembang bebas dari jentik-jentik nyamuk dan hanya 21% yang diketahui terdapat jentik-jentik nyamuk didalam bak air/ember penampungan air. Jika bak air/ember penampungan air bebas dari jentik-jentik nyamuk berarti masyarakat tertib menguras bak air/ember penampungan air. Hal ini merpakan salah satu bentuk masayrakat dalam menjaga kesehatan lingkungan mereka. Berikut disajikan grafik persentase adanya jentik-jentik nyamuk didalam bak air/ember penampungan.
Grafik 3. 2. Adanya Jentik-Jentik Nyamuk di Dalam Bak Air/Ember
4. Ketersediaan sabun cuci, sabun cuci tangan di dalam tempat cuci pakaian. Berdasarkan pada pengamatan dalam survey EHRA, diketahui bahwa 93% tampat cuci pakaian masyarakat Kabupaten Rembang terdapat sabun cuci dan sabun cuci tanga dan hanya 7% yang tidak terdapat sabun cuci dn sabun cuci tangan. Tingginya presentase ketersediaan sabun cuci tangan menunjukkan bahwa masyarakat sudah membiasakan perilaku hidup berih dan sehat dengan mencuci tangan dengan sabun setelah
mencuci pakaian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik3.42 berikut ini.
Grafik 3.42. Ketersediaan Sabun Cuci, Sabun Cuci Tangan di Dalam Tempat Cuci Pakaian
5. Penggunaan sumber air untuk mencuci pakaian
Berdasaran pada survey EHRA yang dilakukan diketahui bahwa sebagian besar sumber air yang digunakan untuk mencuci pakaian menggunakan sumur gali yang terlindungi sebanyak 30,5%. Kemudian menggunakan sumur bor / pompa tangan sebanyak 23,5% dan air ledeng sebesar 15%. Hasil selengkapnya disajikan pada 3.43 dibawah ini.
6. Pembuangan air limbah mencuci pakaian
Berdasarkan survey EHRA diketahui bahwa 49% masyarakat Kabupaten Rembang membuang air limbah hasil mencuci pakaian ke saluran tebuk, 21% ke sungai dan 14% ke halaman/kebun. Hasil selengkapnya disajikan pada grafik 3.44 dibawah ini.
Grafik 3. 25. Pembuangan Air Limbah Cuci Pakaian.
H. Area Beresiko 1. Sumber Air
Area beresiko berdasarkan sumber air pada studi EHRA Tahun 2015 terbagi menjadi 3 parameter yaitu: 1)Sumber air terlindungi, 2)Penggunaan sumber air tidak terlindungi dan 3)Kelangkaan air.
Penduduk Kabupaten Rembang terutama pada daerah yang dijadikan sampel penelitian, sebagian besar menggunakan sumber air terlindungi sebesar 5.425 responden dari 8.240 responden (65,8%), penggunaan sumber air tidak terlindungi sebanyak 4.097 responden dari 8.240 responden (49,7%) dan yang mengalami kelangkaan air sebanyak 1.498 responden dari 8.240 responden (18,2%). Hasil selengkapnya terdapat pada tabel 3.4.
Tabel 3.4. Area Beresiko Berdasarkan Sumber Air n % n % n % n % n % Tidak 2 1.3 734 32.8 1003 33.0 979 39.5 97 30.3 2815 34.2 Ya 158 98.8 1506 67.2 2037 67.0 1501 60.5 223 69.7 5425 65.8 Tidak 138 86.3 1510 67.4 1353 44.5 1099 44.3 43 13.4 4143 50.3 Ya 22 13.8 730 32.6 1687 55.5 1381 55.7 277 86.6 4097 49.7 ya 17 10.6 378 16.9 559 18.4 438 17.7 106 33.1 1498 18.2 Tidak 143 89.4 1862 83.1 2481 81.6 2042 82.3 214 66.9 6742 81.8 % 1. Sumber air terlindungi 2. Penggunaan sumber air tidak terlindungi.
3. Kelangkaan air
SUMBER AIR
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1 2 3 4
n
2. Air Limbah Domestik
Area beresiko berdasarkan air limbah domestik pada studi EHRA Tahun 2015 terbagi menjadi 3 parameter yaitu: 1)Tangki septik suspek aman, 2)Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik dan 3)Pencemaran karena SPAL.
Parameter tangki septik suspek aman, sebagian besar penduduk Kabupaten Rembang menjawab tangki septiknya mempunyai suspek tidak aman yaitu sebanyak 64,3%. Sedangkan hampir 81% penduduk Kabupaten Rembang mengatakan bahwa pembuangan isi tangki septik dapat menimbulkan pencemaran terutama pencemaran terhadap sumber air besih. Akan tetapi sebagian besar penduduk Kabupaten Rembang sebanyak 80,4% menunjukkan bahwa SPAL terutam SPAL rumah tangga tidak beresiko menimbulkan pencemaran dan hanya 19,6% yang menjawab dapat menimbulkan pencemaran. Hasil selengkapnya terdapat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5. Area Beresiko Berdasarkan Air Limbah Domestik n % n % n % n % n % Tidak 115 71.9 1443 64.4 1945 64.0 1559 62.9 239 74.7 5301 64.3 Ya 45 28.1 797 35.6 1095 36.0 921 37.1 81 25.3 2939 35.7 Tidak aman 108 67.5 1568 70.0 2508 82.5 2170 87.5 296 92.5 6650 80.7 Ya aman 52 32.5 672 30.0 532 17.5 310 12.5 24 7.5 1590 19.3 Tidak aman 20 12.5 336 15.0 532 17.5 620 25.0 104 32.5 1612 19.6 Ya, aman 140 87.5 1904 85.0 2508 82.5 1860 75.0 216 67.5 6628 80.4 2. Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik 3. Pencemaran karena SPAL 2 3 4 n % 1. Tangki septik suspek aman
2. AIR LIMBAH DOMESTIK.
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1
3. Persampahan
Area beresiko berdasarkan persampahan pada studi EHRA Tahun 2015 terbagi menjadi 4 parameter yaitu: 1)Pengelolaan sampah; 2)Frekuensi pengankutan sampah; 3)Ketepatan waktu pengangkutan sampah dan 4)Pengolahan sampah setempat.
Sebagian besar menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga tidak memadai sebanyak 91,9% dan hanya 8,1% pengelolaan sampahnya yang termasuk dalam kategori memadai. Rendahnya pengelolaan sampah yang memadai ini tidak sepenuhnya dikarenakan penduduk Kabupaten Rembang tidak mengadakan pengelolaan sampah di dalam rumah tangganya, akan tetapi kategori pengelolaan sampah yang memadai pada studi EHRA hanya didasarkan pada kriteria cara pembuangan sampah yang dikumpulkan oleh kolektor dan pemilahan sampah sebelum dibuang ke TPS. Frekuensi pengangkutan sampah rumah di Kabupaten Rembang sebagian besar sudah termasuk kategori memadai yaitu sebanyak 736 responden dari 774 responden (95,1%) dan pengangkutan sampah rumah tangga sebagian besar termasuk kategori tepat waktu sebanyak 85,6%. Sedangkan rumah tangga di Kabupaten Rembang yang mengolah sampah hanya sebanyak 1.753 responden dari 8.240 responden (21,3%). Hasil selengkapnya terdapat pada tabel 3.6.
Tabel 3.6. Area Beresiko Berdasarkan Persampahan n % n % n % n % n % Tidak memadai 120 75.0 1901 84.9 2961 97.4 2317 93.4 277 86.6 7576 91.9 Ya, memadai 40 25.0 339 15.1 79 2.6 163 6.6 43 13.4 664 8.1 Tidak memadai 0 .0 22 6.2 16 14.8 0 .0 0 .0 38 4.9 Ya, memadai 50 100.0 335 93.8 92 85.2 163 100.0 96 100.0 736 95.1 Tidak tepat waktu 9 18.0 32 9.0 18 16.1 0 .0 54 52.9 113 14.4 Ya, tepat waktu 41 82.0 325 91.0 94 83.9 163 100.0 48 47.1 671 85.6 Tidak diolah 112 70.0 1924 85.9 2211 72.7 1996 80.5 244 76.3 6487 78.7 Ya, diolah 48 30.0 316 14.1 829 27.3 484 19.5 76 23.8 1753 21.3 3.4 Pengolahan s ampah setempat 4 n % 3.1 Pengelolaan s ampah 3.2 Frekuensi pengangkutan s ampah 3.3 Ketepatan waktu pengangkutan s ampah 3. PERSAMPAHAN.
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1 2 3
4. Genangan Air
Area beresiko menurut genangan air pada studi EHRA Tahun 2015 hanya terdapat 1 parameter yaitu ada tidaknya genangan air pada rumah tangga dan sekelilingnya. Hasil studi EHRA menunjukkan bahwa sebagian besar sebanyak 6.728 responden dari 8.240 responden (81,7%) rumah dan sekelilingnya tidak ada genangan air. Sedangkan sisanya sebanyak 1.512 dari 8.240 responden (18,3%) ada genagan air atau pernah terjadi banjir. Hasil dari area beresiko menurut genangan air pada survey EHRA didasarkan pada jawaban responden tentang kondisi rumah atau lingkungan sekitar pernah terkena banjir dan pengamatan enumerator terhadap halaman/bagian depan rumah ada tidaknya genangan air pada saat melakukan survey.
Tabel 3.7. Area Beresiko Berdasarkan Genangan Air n % n % n % n % n % Ada genangan air (banjir) 35 21.9 416 18.6 581 19.1 419 16.9 61 19.1 1512 18.3 Tidak ada genangan air 125 78.1 1824 81.4 2459 80.9 2061 83.1 259 80.9 6728 81.7 n % 4.1 Adanya genangan air 4. GENANGAN AIR.
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1 2 3 4
5. Perilaku Higiene dan Sanitasi
Area beresiko berdasarkan perilaku hygiene dan sanitasi pada studi EHRA Tahun 2015 terbagi menjadi 7 parameter yaitu: 1)CTPS di lima waktu; 2)Lantai dan dinding jamban bebas dari tinja; 3)Jamban bebas dari kecoa dan lalat; 4)Keberfungsian penggelontor WC; 5)Ada sabun di dalam atau di dekat jamban; 6)Pencemaran wadah dan penanganan air masak; dan 7)Perilaku BABS.
Penduduk Kabupaten Rembang masih sebagian kecil yang melaksanakan kegiatan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di lima waktu penting yaitu hanya sebanyak 2.397 dari 8.240 responden (29,1%). Sedangkan untuk lantai atau dinding WC rumah tangga di Kabupaten Rembang sebagian besar sebanyak 69,9% sudah terbebas dari tinja, 73,4% terbebas dari kecoa dan lalat, 82,4% penggelontor WC masih berfungsi dan 74% di dalam atau di dekat jamban tersedia sabun. Untuk wadah penyimpanan dan penanganan air masak sebagian besar sebanyak 7.224 dari 8.240 responden (88,4%) tidak tercemar. Perilaku buang air besar sembarangan (BABS) pada survey EHRA menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Kabupaten Rembang sebanyak 85% tidak buang air besar sembarangan. Hasil selengkapnya terdapat pada tabel 3.8.
Tabel 3.8. Area Beresiko Berdasarkan Perilaku Higiene dan Sanitasi n % n % n % n % n % Tidak 93 58.1 1571 70.1 2181 71.7 1816 73.2 182 56.9 5843 70.9 Ya 67 41.9 669 29.9 859 28.3 664 26.8 138 43.1 2397 29.1 Tidak 39 24.4 859 38.3 912 30.0 620 25.0 78 24.4 2508 30.4 Ya 121 75.6 1381 61.7 2128 70.0 1860 75.0 242 75.6 5732 69.6 Tidak 29 18.1 578 25.8 778 25.6 756 30.5 48 15.0 2189 26.6 Ya 131 81.9 1662 74.2 2262 74.4 1724 69.5 272 85.0 6051 73.4 Tidak 4 2.5 221 9.9 618 20.3 556 22.4 55 17.2 1454 17.6 Ya, berfungsi 156 97.5 2019 90.1 2422 79.7 1924 77.6 265 82.8 6786 82.4 Tidak 13 8.1 611 27.3 845 27.8 629 25.4 45 14.1 2143 26.0 Ya 147 91.9 1629 72.7 2195 72.2 1851 74.6 275 85.9 6097 74.0 Ya, tercemar 6 3.8 458 20.6 258 8.5 177 7.2 47 15.0 946 11.6 Tidak tercemar 153 96.2 1764 79.4 2770 91.5 2270 92.8 267 85.0 7224 88.4 Ya, BABS 18 11.3 268 12.0 397 13.1 431 17.4 126 39.4 1240 15.0 Tidak 142 88.8 1972 88.0 2643 86.9 2049 82.6 194 60.6 7000 85.0 5.2.b. Apakah
jamban bebas dari kecoa dan lalat?
5.2.c. Keberfungsian penggelontor. 5.2.d. Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban? 5.3 Pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air 5.4 Perilaku BABS 3 4 n % 5.1 CTPS di lima waktu penting
5.2.a. Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja?
5. PERILAKU HIGIENE DAN SANITASI.
Strata Desa/Kelurahan Total
0 1 2
I. Indeks Resiko Sanitasi (IRS)
Indeks resiko sanitasi pada survey EHRA diperoleh dari hasil nilai persentase masing-masing variabel sanitasi yaitu sumber air, air limbah domestik, persampahan, genangan air dan perilaku hidup bersih sehat pada masing-masing klaster, selanjutnya masing-masing variabel sanitasi diberikan nilai pembobotan.
Nilai pembobotan variabel sumber air adalah 25% untuk sumber air tercemar, 25% penggunaan sumber air tidak terlindungi dan 50% untuk kelangkaan air. Kemudian variabel air limbah domestic diberikan bobot 33% tangki septik suspek aman, 33% pencemaran pembuangan isi tangki septik
dan 33% pencemaran karena SPAL. Untuk variabel persampahan diberikan bobot 25% pengelolaan sampah, 25% frekuensi pengangkutan sampah, 25% ketepatan waktu pengangkutan sampah dan 25% pengolahan sampah. Untuk variabel genangan air karena hanya terdapat 1 sub variabel maka diberikan bobot 100%. Kemudian varibel PHBS diberikan bobot sebagai berikut 25% untuk CTPS di lima waktu penting, lantai dinding jamban bebas tinja, jamban bebas kecoa lalat, keberfungsian penggelontor dan terlihat ada sabun di dekat jamban masing-masing diberikan bobot 6%, pencemaran wadah dan penanganan air masak diberikan bobot 25% dan perilaku BABS diberikan nilai 25%.
Langkah berikutnya adalah membuat perkalian antara nilai bobot dan nilai persentase dari masing-masing variabel sanitasi yang berada pada masing klaster, kemudian membuat nilai kumulatif dari masing-masing variabel sanitasi tersebut. Berikut disajikan grafik IRS seperti pada grafik 3.45.
Grafik 3.45. Indeks Resiko Sanitasi Kabupaten Rembang 2015.
Menurut hasil survey yang disajikan pada grafik 3.35 dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Desa/Kelurahan yang berada pada klater 0 mempunyai indeks resiko sanitasi paling besar adalah air limbah domestik dengan nilai IRS sebesar
51, kemudian persampahan = 41, genangan air = 22, PHBS = 22 dan indeks resiko sanitasi terkecil sumber air dengan nilai IRS = 9.
2. Desa/Kelurahan yang berada pada klater 1 mempunyai indeks resiko sanitasi paling besar adalah air limbah domestik dengan nilai IRS sebesar 50, kemudian persampahan = 47, PHBS = 32, Sumber air = 25 dan indeks resiko sanitasi terkecil genangan air dengan nilai IRS = 19.
3. Desa/Kelurahan yang berada pada klater 2 mempunyai indeks resiko sanitasi paling besar adalah air limbah domestik dengan nilai IRS sebesar 55, kemudian persampahan = 50, sumber air = 31, PHBS = 30 dan indeks resiko sanitasi terkcil genangan air dengan nilai IRS = 19.
4. Desa/Kelurahan yang berada pada klater 3 mempunyai indeks resiko sanitasi paling besar adalah persampahan dengan nilai IRS sebesar 68, kemudian air limbah domestik = 58, sumber air = 33, PHBS = 31 dan indeks resiko sanitasi terkecil genangan air dengan nilai IRS = 17.
5. Desa/Kelurahan yang berada pada klater 4 mempunyai indeks resiko sanitasi paling besar adalah persampahan dengan nilai IRS sebesar 79, kemudian air limbah domestik = 67, sumber air = 46, PHBS = 32 dan indeks resiko sanitasi terkecil genangan air dengan nilai IRS = 19.
Secara keseluruhan jika dilihat secara kumulatif variabel sanitasi berdasarkan klaster maka dapat diinterpretasikan bahwa desa/kelurahan yang berada pada klaster 0 mempunyai resiko sanitasi yang termasuk kategori kurang beresiko dengan nilai IRS = 144. Sedangkan desa/kelurahan yang berada pada klaster 1 dan 2 mempunyai resiko sanitasi yang termasuk kategori resiko sedang, masing-masing dengan nilai IRS = 172 dan 186. Desa/kelurahan yang berada pada klaster 3 mempunyai resiko sanitasi yang termasuk kategori resiko tinggi dengan nilai IRS = 207. Kategori resiko sangat tinggi berada pada desa/kelurahan yang termasuk pada klaster 4 dengan nilai IRS sebesar 243.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) di Kabupaten Rembang memiliki manfaat yang sangat banyak, terutama bagi perencanaan dan penentuan program pembangunan sanitasi yang akan dilaksanakan untuk mendukung dan memperkuat Visi dan Misi Kabupaten Rembang. Program-progam dan kegiatan yang akan dilaksanakan, diharapkan akan berpihak pada masyarakat ekonomi lemah yang kesehariannya hidup dengan kondisi sanitasi yang kurang memadai.
Pada tingkat kota/kabupaten, data primer yang dikumpulkan riset EHRA dimanfaatkan sebagai salah satu bahan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Rembang. Selain untuk merencanakan program pengembangan sanitasi di kota, data EHRA pun dimanfaatkan sebagai tolak ukur keberhasilan program sanitasi di tingkat kota. Di tingkat nasional, dengan mengumpulkan dan mengompilasi data EHRA dari berbagai kota, EHRA dapat menjadi salah satu bahan pengambilan keputusan. Bahkan di tingkat kecamatan atau kelurahan, data EHRA dimanfaatkan sebagai salah satu bahan urun rembug dan pengambilan keputusan yang dapat berimplikasi pada warga setempat.
Melalu studi EHRA di Kabupaten Rembang maka dapat diketahui kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku – perilaku yang memiliki risiko pada kesehatan warga. Peran studi EHRA dalam mendapatkan gambaran fasilitas sanitasi dan perilaku yang berisiko terhadap kesehatan tingkat kota berdasarkan data primer, memberikan advokasi terhadap masyarakat akan pentingnya layanan sanitasi, serta memberikan dasar informasi yang valid dalam penilaian resiko kesehatan lingkungan. Fasilitas sanitasi yang diteliti mencakup: Sumber air minum, Layanan pembuangan sampah, Jamban, Saluran pembuangan air limbah. Perilaku yang dipelajari adalah yang terkait dengan hygienitas dan sanitasi yang mengacu pada STBM: BAB,Cuci tangan