PENGUKURAN DAN ANALISIS FLEKSIBILITAS PERFORMANCE SUPPLY CHAIN
DI UD. AMIN MOTOR SIDOARJ O
Oleh :
ROZAK AJ I PURNOMO NPM. 0832010054
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
J URUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ” VETERAN ”
J AWA TIMUR
SKRIPSI
PENGUKURAN DAN ANALISIS FLEKSIBILITAS PERFORMANCE SUPPLY CHAIN
(Fleksibilitas Performance)
(Studi Kasus di UD. Amin Motor , Sidoar jo) Disusun oleh :
ROZAK AJ I PURNOMO NPM : 0832010054
Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skr ipsi J ur usan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industr i
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada Tanggal 31 – J uli 2013
Tim Penguji : Pembimbing :
1. 1.
Dira Ernawati, ST. MT Ir. Sumiati, MT
NPT. 3 7806 04 0200 1 NIP. 19601213 199103 2 001
2. 2.
Ir. Iriani, MMT Ir. Iriani, MMT
NIP. 19621126 198803 2 001 NIP. 19621126 198803 2 001
Mengetahui
Dekan Fakultas Teknologi Industri
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Sur abaya
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi-Mu yang telah memberikan petunjuk dan hidayah serta kekuatan fisik dan mental, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir (skripsi) ini.
“PENGUKURAN DAN ANALISIS FLEKSIBILITAS PERFORMANCE
SUPPLY CHAIN DI UD. AMIN MOTOR SIDOARJO” penulis ajukan sebagai
salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik Manajemen Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Dengan menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan sangat sederhana, serta baru dapat terselesaikan berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka segala kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati.
Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas segala dukungan baik secara moril ataupun bimbingan kepada :
1. Bapak Ir. Sutiyono, MT, selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak .Ir.Minto Waluyo, MM, selaku Ketua Jurusan Teknik Manajemen industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
5. Bapak Ir. Handoyo, MT, selaku dosen penguji seminar I.
6. Bapak Ir. Tri Susilo, MM, selaku dosen penguji seminar I dan seminar II. 7. Bapak dan ibu dosen jurusan Teknik Industri.
8. Seluruh staf dan karyawan UD. AMIN MOTOR atas waktu dan kesempatan serta bimbingan dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini.
9. Ayah, Ibu, kakak dan adikku tercinta yang telah memberikan doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata, besar harapan penulis sehingga penyusunan laporan ini dapat memenuhi syarat dan bermanfaat baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Surabaya, juli 2013
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... iii
Daftar Gambar ... vii
Daftar Tabel... viii
Daftar Lampiran ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Batasan Penelitian ... 3
1.4. Tujuan Penelitian ... 3
1.5. Manfaat Penelitian ... 3
1.6. Sistematika Penulisan …………..………...…..… 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Fleksibilitas Manufaktur ... 6
2.2. Tipe Fleksibilitas Manufakturing……..…………...…….. 9
2.3. Fleksibilitas Supply Chain………...……… 12
2.4. Tingkat Kebutuhan Fleksibilitas Berdasarkan Demand..……. 20
2.5. Kuadran Pengukuran Fleksibilitas Supply Chain…...…... 21
2.6. Perhitungan Gap...………...…… 23
2.7. Uji Validitas...………...……… 25
2.9. Analytical Hierarchy Proses (AHP). ... 26
2.10. Program Expert Choice ... 32
2.11. Skala Servqual ... 33
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian………….…………...….…. 34
3.2. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel………... 34
3.2.1. Identifikasi Variabel ...…. 34
3.2.2. Definisi Operasional Variabel ... ... 35
3.3. Flowchart Langkah-langkah Pemecahan Masalah...….. 36
3.3.1. Penjelasan Flowchart Langkah-langkah Pemecahan Masalah ... 38
3.4. Metode Pengumpulan Data……… 42
3.4.1. Pengujian Kuisioner…...……….……. 42
3.4.1.1. Uji kecukupan Data ... 42
3.4.1.2. Uji Validitas ... 43
3.4.1.3. Uji Realibilitas ... 43
3.4.2. Pembobotan Ke-empat Dimensi Parameter – Parameter Supply Chain ... 44
3.4.3. Perhitungan Gap ... 44
3.5. Metode Analisa Data ... 45
3.6. Kesimpulan dan Saran ... 45
4.1.1. Penetapan parameter fleksibilitas Supply Chain……… 46
4.1.2. Pendefinisian Tiap- Tiap Parameter yang terpilih…... 53
4.1.2.1. Dimensi supplier system... 53
4.1.2.2. Dimensi product design... 55
4.1.2.3. Dimensi production system... 57
4.1.2.4. Dimensi delivery system... 58
4.1.3. Data kuesioner kebutuhan dan kemampuan fleksibilitas Supply Chain……….. 60
4.1.4. Data kuesioner pembobotan fleksibilitas Supply Chain 61
4.2. Pengolahan data……….. 61
4.2.1. Uji Validitas dan Reliabilitas………..……... 62
4.2.2. Analisa gap kemampuan dan kebutuhan fleksibilitas Supply Chain……… 68
4.2.3. Analisa bobot parameter fleksibilitas Supply Chain…… 69
4.2.4. Pembuatan garfik kebutuhan dan kemampuan parameter fleksibilitas Supply Chain……… 74
4.2.5. Analisa gap terbobot dan prioritas perbaikan………….. 77
4.2.6. Pembuatan grafik terbobot kemampuan dan kebutuhan parameter fleksibilitas Supply Chain... 78
4.2.7. Analisa nilai tingkat fleksibilitas supply chain……....…. 83
4.2.8. Pembuatan grafik nilai tingkat fleksibilitas supply chain 85
4.3. Pembahasan……….... ……. 88
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan………. 93 5.2. Saran………. … 94
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. 3 Level dari Fleksibilitas……… 10
Gambar 2.2. Kategori Fleksibilitas Sel dan Sistem………..…. 10
Gambar 2.3. Rangkaian Supply Chain………...…... 12
Gambar 2.4. Tingkat Fleksibilitas Supply Chain...………. 19
Gambar 2.5. Kuadran Fleksibilitas Supply Chain…………...……… 22
Gambar 3.1. Flowchart Pemecahan Masalah…... 36
Gambar 4.1. Bobot Dimensi………... 72
Gambar 4.2. Grafik kebutuhan dan kemampuan dimensi utama...…. 74
Gambar 4.3. Grafik kebutuhan dan kemampuan sub dimensi Supplier System (SS)……… 75
Gambar 4.4. Grafik kebutuhan dan kemampuan sub dimensi Product Design (PD)... 75
Gambar 4.5. Grafik kebutuhan dan kemampuan sub dimensi Production System (PS) ... 76
Gambar 4.6. Grafik kebutuhan dan kemampuan sub dimensi Delivery System(DS) ... 76
Gambar 4.7. Grafik terbobot kemampuan dan kebutuhan dimensi Utama ... 79
Product Design………. 81 Gambar 4.10. Grafik terbobot kemampuan dan kebutuhan sub dimensi
Production System ... 82 Gambar 4.11. Grafik terbobot kemampuan dan kebutuhan sub dimensi
Delivery system……….… 83 Gambar 4.12. Grafik tingkat fleksibilitas Supply Chain dimensi utama 86 Gambar 4.13. Grafik tingkat fleksibilitas Supply Chain sub dimensi
Supplier System ... 86 Gambar 4.14. Grafik tingkat fleksibilitas Supply Chain sub dimensi
Product Design ... 87 Gambar 4.15. Grafik tingklat fleksibilitas Supply Chain sub dimensi
Production System ... 87 Gambar 4.16. Grafik tingkat fleksibilitas Supply Chain sub dimensi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Tipe Fleksibilitas Manufakturing ... 9
Tabel 2.2. Parameter Fleksibilitas Supply Chain ... 18
Tabel 2.3. Skala Perbandingan Berskala... 27
Tabel 2.4. Nilai Random Indeks ... 32
Tabel 4.1. Parameter Fleksibilitas Supply Chain ... 48
Tabel 4.2. Parameter Fleksibilitas Supply Chain di UD. Amin Motor Sidoarjo ... 51
Tabel 4.3. Hasil uji validitas kuesioner penilaian karyawan ... 62
Tabel 4.4. Nilai gap kemampuan dan kebutuhan fleksibilitas supply chain ... 68
Tabel 4.5. Bobot dimensi utama dan sub dimensi ... 73
Tabel 4.6. Nilai gap terbobot dan prioritas perbaikan ... 77
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I. Gambaran Umum Perusahaan ... LAMPIRAN II. Kuisioner Kebutuhan dan Kemampuan Fleksibilitas
Supply Chain di UD. Amin Motor ... LAMPIRAN III. Data Hasil Rekapitulasi Kuisioner Kebutuhan dan
Kemampuan... LAMPIRAN IV. Output SPSS Tingkat Kebutuhan dan Kemampuan ... LAMPIRAN V. Kuisioner Pembobotan tingkat Fleksibilitas Supply
ABSTRAKSI
Semakin pesat perkembangan jaman saat ini merupakan tantangan perusahaan dalam menghadapi persaingan global yang tajam, untuk itu baik perusahaan manufaktur maupun jasa berlomba-lomba untuk bisa mencapai target perusahaan dengan cara mendapatkan keuntungan yang optimal dengan mengeluarkan biaya yang seminimal mungkin. Dengan adanya persaingan maka berpengaruh terhadap fleksibilitas perusahaan.
UD. Amin Motor Sidoarjo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif, dimana perusahaan belum melakukan pengukuran terhadap fleksibilitas Supply Chain, yang meliputi Supplier System, Product Design,
Production System dan Delivery System.
Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengukur serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap fleksibilitas Supply Chain di UD. Amin Motor Sidoarjo, sehingga bisa diketahui fleksibilitas sistem Supply Chain yang perlu mendapat perbaikan dan akan berdampak pada peningkatan fleksibilitas sistem Supply Chain di UD. Amin Motor Sidoarjo.
Dari penelitian didapatkan tingkat fleksibilitas Supply Chain di UD. Amin Motor adalah sebesar 87,91 % dan tingkat fleksibilitas Supply Chain dimensi utama secara berurutan adalah : Delivery System 92,41% ; Production System 89,67% ; Supplier System 87,89% ; Product Design 81,67% .
Serta untuk empat prioritas perbaikan yang harus dilakukan oleh UD. Amin Motor Sidoarjo secara berurutan adalah yaitu Production Design yaitu kemampuan mengkofirmasikan suplier untuk menyediakan bahan baku pendukung produk baru sebesar 77,75 %, Supplier System yaitu lead time supplier sebesar 76,89 %, Production System yaitu merubah jadwal produksi dengan cepat sebesar 78,03 % dan Delivery System yaitu pemenuhan permintaan yang mendesak sebesar 78,91 %.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Persaingan antar perusahaan saat ini sangat ketat, kemenangan persaingan membutuhkan suatu sistem manajemen yang baik. Manajemen suatu perusahaan harus diukur dan dimonitor secara terus-menerus agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan manajemen supply chain menjadi fokus perusahaan-perusahaan untuk dapat memenuhi kebutuhan customer. Pergeseran pandangan manajemen terhadap pentingnya integrasi atau kolaborasi antara komponen-komponen pada supply chain telah membawa perubahan sistem manajemen perusahaan yakni bukan hanya menekankan pada integrasi proses internal dan kualitas saja melainkan mulai ditekankan pada supply chain. Belakangan ini, kesadaran akan pentingnya peranan dan kekuatan supply chain management dalam mendukung perusahaan untuk mencapai tujuannya makin meningkat. Hal tersebut mendorong perusahaan agar harus dapat memperbaiki performansinya agar dapat terus bersaing dan mengalami kemajuan
Supply Chain adalah konsep yang merupakan integrasi dari keseluruhan
perusahaan yang mulai menggunakan konsep Supply Chain dalam mengatur proses bisnisnya karena Supply Chain merupakan faktor kunci dalam meningkatkan efektivitas organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu untuk meningkatkan
customer satisfaction, memenangkan persaingan dan akhirnya yang menjadi tujuan
perusahaan pada umumnya adalah meningkatkan keuntungan perusahaan.
UD. Amin motor merupakan salah satu perusahaan kecil yang bergerak di bidang produksi engsel pintu, bak truck, serta klem depan bumper mobil yang terletak di daerah Sidoarjo tepatnya Jl. Ambeng-ambeng no 10 ngingas, Waru. Tentunya perusahaan ini memikirkan agar fleksibilitas Performance pada perusahaan dapat terwujud.
UD.Amin motor sedang dihadapkan pada masalah dimana perusahaan sering terjadi keterlambatan pengiriman bahan baku utama dari supplier, sehingga menyebabkan keterlambatan produksi (Delay manufacturing). dikarenakan setiap variabel yang satu dengan yang lain dalam upstream supply chain saling terkait, dalam kaitannya dengan fleksibilitas perusahaan. Oleh sebab itu perusahaan ingin mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel upstream supply chain terhadap fleksibilitas perusahaan dimana variabel – variabel tersebut adalah
manufaktur, assembler, dan distributor. Yang nantinya setelah diketahui hasilnya
Rantai penyediaan (Supply Chain) terdiri dari berbagai aspek yang secara langsung maupun tak langsung dapat memenuhi permintaan dari pelanggan, Supply
Chain tidak hanya terdiri dari manufaktur dan supplier, tetapi juga termasuk
didalamnya transportasi, informasi, warehouse, retailer dan pelanggan itu sendiri.
Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekelompok tiga atau lebih organisasi yang
secara langsung berhubungan melalui satu atau lebih aliran upstream / downstream dari produk / jasa, keuangan dan informasi dari sumber ke pelanggan.
Sedangkan fleksibilitas itu sendiri dititik beratkan pada kemampuan mengalokasikan fluktuasi yang terjadi pada komponen-komponen dari Supply Chain yaitu : supplier, distributor dan konsumen.
Untuk menyikapi permasalahan yg ada di UD. Amin motor, salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan metode distribusi konfigurasi jaringan, yaitu adanya usaha pendekatan kepada supplier dengan tujuan perbaikan hubungan. Sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh upstream supply chain (pengadaan barang) terhadap fleksibilitas perusahaan dalam konteks supply chain
management.
1.2.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat disimpulkan suatu rumusan masalah, yaitu :
“Bagaimana penguk uran tingkat fleksibilitas Performance di UD. Amin motor
1.3. Batasan Penelitian
Batasan–batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian dilakukan pada Delivery System, Supplier System, serta komponen-komponen yang mempengaruhinya.
2. Penelitian dilakukan pada Intern perusahaan dan tidak melibatkan konsumen 3. Tidak dilakukan analisa biaya selama penelitian dan biaya dianggap tetap. 4. Data yang diambil mulai bulan januari 2012 sampai Desember 2012.
1.4. Tujua n Penelitia n
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu :
1. Mengukur tingkat fleksibilitas performance dengan konsep Supply Chain. Agar dapat mengatasi problem yg sedang dihadapi.
2. Memberikan usulan perbaikan untuk meningkatkan fleksibilitas performance di UD. Amin motor.
1.5. Manfaa t Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : Bagi Pihak Per usahaan :
1. Perusahaan dapat mengetahui apakah Supply Chain yang dimilikinya cukup fleksibel atau belum.
Bagi Univer sitas :
1. Dapat menambah perbendaharaan perpustakaan yang berguna dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan literature bagi mahasiswa di masa yang akan datang.
2. Memberikan informasi mengenai metode Supply Chain.
Bagi Penulis :
1. Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat dibangku kuliah dengan di lapangan khususnya Supply Chain.
2. Memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang proses produksi di UD. Amin motor.
1.7. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN
BAB II : TINJ AUAN PUSTAKA
Berisi teori-teori dan metode yang mendasari pengumpulan pengolahan data, teori pendukung yang digunakan dalam menganalisis data penelitian. Teori-teori yang dicantumkan pada bagian ini terutama menyangkut pada pengertian konsep tentang Supply Chain management. BAB III : METODE PENELITIAN
Berisi langkah-langkah yang digunakan selama melakukan penelitian. BAB IV : ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi uraian metode pengumpulan data dan pengolahan data dalam penelitian ini.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan saran serta rekomendasi berkenaan dengan hasil penelitian.
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Fleksibilitas Manufaktur
Pengertian Fleksibilitas pada Fleksibilitas manufaktur disini adalah kemampuan untuk memproses bermacam-macam benda dengan bentuk yamg berbeda-beda dan pada Sistem kerja yang berbeda-beda pula, Fleksibilitas juga berarti kemampuan untuk mengubah bentuk benda produksi sesuai dengan permintaan yang datang ( Pujawan 2005 ). menurut (Anantan dan Ellitan, 2006) Fleksibilitas manufaktur merupakan kemampuan perusahaan untuk merespon secara efektif perubahan yang terjadi, baik yang terjadi di internal perusahaan maupun di eksternal perusahaan. Sedangkan menurut Council ( 2008 ) Fleksibilitas didefinisikan sebagai kemampuan Organisasi untuk memenuhi setiap peningkatan Varietas dari ekspektasi yang dipunyai oleh konsumennya tanpa menimbulkan pengurangan pada cost, waktu, dan perubahan pada organisasi, sedangkan fleksibilitas manufaktur di definisikan sebagai kemampuan dari organisasi untuk memanage sumberdaya produksi dan ketidak pastian yang ada untuk menemukan berbagai permintaan dari konsumennya, fleksibilitas manufaktur sering kali diidentikkan dengan system fleksibel mesin ( Fleksible
Machine System ).
1. Mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasikan dan memisahkan proses produksi yang mempunyai ciri yang berbeda ataupun benda yang berbeda berdasarkan system.
2. Mampu dengan cepat mengubah instruksi operasi. 3. Mampu dengan cepat mengubah dari physical set up .
Sebenarnya Fleksibilitas dapat diterapkan baik itu pada sistem manual maupun pada sistem otomatis. Pada sistem manual, karena sebagian besar operasi dikerjakan oleh tenaga kerja manusia maka pekerjaannyalah yang memungkinkan untuk difleksibilitaskan.
Agar bisa dikualifikasikan sebagai fleksibel, sebuah sistem manufaktur harus memenuhi beberapa kriteria. Berikut ini akan disebutkan beberapa tes yang dapat digunakan untuk menguji suatu Fleksibilitas dari sebuah sistem manufaktur otomatis.
1. Part Variety Test
Pada tes ini akan dilakukan pengujian apakah sistem manufaktur dapat memproses part dengan style yang berbeda-beda yang tidak berada pada sekumpulan model.
Tipe fleksibilitas yang dihasilkan disini adalah : Machine Fleksibility,
Production Fleksibility.
2. Schedule Change Test
Tipe Fleksibilitas yang dihasilkan disini adalah : Mix Fleksibilitas, Volume
Fleksibilitas, Expansion.
3. Error Recovery Test.
Pada test ini akan dilakukan pengujian apakah sistem manufaktur mampu merecover peralatan-peralatan yang tidak berfungsi dengan baik dan membreak down nya, sehingga produksi secara umum tidak terganggu.
Tipe fleksibilitas yang dihasilkan disini adalah : Routing Fleksibilitas 4. New Part Test
Pada test ini akan dilakukan pengujian apakah sistem manufaktur dapat mengidentifikasikan produk yang mempunyai desain yang baru yang belum ada sebelumnya kedalam produk yang telah ada dilantai produksi dengan baik, tipe fleksibilitas yang telah ada di lantai dengan baik, Tipe fleksibilitas yang dihasilkan disini adalah : Product Fleksibility.
2.2. Tipe Fleksibilitas Manufakturing
Tabel 2.1 Tipe Fleksibilitas Manufakturing Tipe
Fleksibilitas Definisi
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Fleksibilitas Mesin
Kemampuan untuk menyesuaikan dengan mesin (Stasiun kerja)pada system dengan operasi produksi,dalam jumlah besar,semakin besar range operasi dan bentuk benda, maka semakin besar fleksibilitas mesin.
Waktu Set up atau waktu untuk change over kemampuan dalam banyak bidang yang dimiliki oleh para pekerja.
Fleksibilitas Produksi
Range / keseluruhan dari bentuk part yang bisa diproduksi pada system
Fleksibilitas mesin dari individual system kerja range dari fleksibilitas mesin dari keseluruhan system kerja yang ada pada system.
Fleksibilitas Campuran
Kemampuan untuk mengubah campuran produk dimana pada saat yang sama sehingga menangani kualitas produk secara keseluruhan, sehingga produk part yang sama hanya berbeda pada proporsinya saja.
Kesamaan bagi pada pencampuran Relative Work yang didalam nya mengandung waktu yang digunakan untuk memproduksi.
Fleksibilitas Volume
Kemampuan untuk mengakomodasikan produksi part yang tinggi dan merendahkan kuantitas total pada produksi, memberikan invers tatap pada system.
Peralatan yang umum, tingkat performasi produksi dari manual tenaga kerja, sejumlah investasi pada peralatan produksi.
Fleksibilitas Biaya
Kemampuan dari system yang bisa ekspansikan untuk menambah kuantitas total produksi.
Volume
1 2 or 3 4 or more Number of
Gambar 2.1. Tiga level dari Fleksibilitas
Gambar 2.2. Kategori fleksibilitas sel dan sistem
(Supply- Chain Council (2008), Automation, Production Systems, and Computer Integrated
Manufacturing, Prentice Hall International, Inc.)
Single
Machine
Cell
Fleksibilitas
Manufacturing
Cell
Fleksibilitas
Manufacturing
system
Fleksibilitas
Manufakturing
Machine Fleksibility Labor Fleksibility
Material Handling Fleksibility Routing Fleksibility
Fleksibilitas Manufakturing Capability
Volume Fleksibility Mix Fleksibility
Costumer satisfaction H1a
H1b
H2a
Gambar tersebut menggambarkan hubungan antara fleksibilitas manufaktur dangan customer satisfaction.
Keterangan :
H1a : Hipotesis Ia , Fleksibilitas manufacturing Competence mempunyai dampak positif secara signifikan terhadap volume fleksibility.
H1b : Hipotesis 1b fleksibilitas manufacturing Competence mempunyai dampak positif secara signifikan terhadap mix fleksibility.
H2a : Hipotesis 2a, Volume fleksibility mempunyai dampak positif terhadap
costumer satisfaction.
H2b : Hipotesis 2b mix fleksibility mempunyai dampak positif tehadap costumer
satisfaction.
Keuntungan dari fleksibilitas mesin : a. Menambah Utilisasi mesin
b. Berkurangnya mesin yang membutuhkan perbaikan. c. Mengurangi kebutuhan Factory floor space.
d. Lebih mudah untuk melakukan perubahan,
e. Mengurangi kebutuhan inventory f. Mengurangi lead time manufacturing.
g. Mengurangi kebutuhan tenaga kerja langsung dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
2.3. Fleksibilitas Supply Chain.
Supply Manufacturing Distribution Customer
Gambar 2.3. Rangkaian Supply Chain
(Sumber : Beamon, B. M. (1999) Measuring Supply Chain Performance,
International Journal Of Operation and Production Management).
Adapun definisi supply chain menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
1. Menurut Beamon (1999) Supply Chain adalah sebuah proses yang terintegrasi dimana didalamnya bahan baku dikenai proses manufaktur untuk dijadikan produk akhir, kemudian dikirimkan kepada konsumen (baik itu melalui distribusi, retail, ataupun keduanya).
tambah untuk customer dan stakeholder lainnya, bahkan peningkatan nilai untuk konsumen dan karyawan.
3. Menurut Vost (2006) Supply chain merupakan jejaring fisik dan aktivitas yang terkait dengan aliran bahan dan informasi didalam atau melintasi batas – batas perusahaan.
4. Menurut Suparno (2008) Supply chain adalah sekelompok pendekatan yang diterapakan untuk mengintregasikan para pemasok, pusat manufaktur, warehouse, pusat distribusi dan penjual secara efisien sedemikian sehingga barang dapat diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah yang tepat, ke lokasi yang benar dalam waktu yang tepat dan biaya keseluruhan yang minimum.
Dari pemahaman - pemahaman tersebut berkembang sebuah ide untuk menganalisa tentang Supply Chain lebih jauh termasuk dalam hal ini melakukan pengukuran terhadap Fleksibilitas Supply Chain tersebut.
fluktuatif yang bisa terjadi pada volume dan jadwal dari supplier, pabrik dan konsumen yang merupakan rangkaian dari pada Supply Chain itu sendiri.
Fleksibilitas Supply Chain sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan Supply Chain itu sendiri, terlebih lagi pada perusahaan yang mempunyai kondisi ketidak pastian yang sangat tinggi.
Fleksibilitas merupakan tanggung jawab setiap elemen yang berada dalam
Supply Chain, baik itu internal perusahaan, yakni departemen-departemen yang
ada dalam perusahaan maupun eksternal perusahaan mulai dari supplier,
distributor, retailer termasuk disini pihak yang membantu dalam penyediaan
informasi.
Komponen – komponen dari fleksibilitas yang mempengaruhi pada aktivitas dalam Supply Chain, termasuk di dalamnya fleksibilitas untuk memperoleh informasi mengenai permintaan dan selanjutnya digunakan sebagai pertukaran informasi antar organisasi yang ada dalam Supply Chain tersebut.
Menurut Garavelli (2003) fleksibilitas dalam suatu Supply Chain sangat kompleks dan terdiri dari multi dimensi konsep dan sangat sulit untuk diringkas. Namun satu hal yang perlu ditekankan pada fleksibilitas dalam suatu Supply
Chain haruslah mempunyai kemampuan untuk merespon perubahan yang terjadi
baik itu perubahan yang datang dari dalam perusahaan sebaik dengan perubahan yang datang dari luar perusahaan.
1. Production System Fleksibility
Yaitu : kemampuan untuk menyusun modal dan operasi-operasi untuk melakukan respon dari kecenderungan yang dimiliki oleh konsumen (perubahan produk, volume) pada setiap titik dalam Supply Chain.
2. Market Fleksibility
Yaitu : kemampuan untuk dapat melakukan produksi sesuai pesanan dan mampu membangun hubungan dekat dengan konsumen dan melibatkan mereka ( konsumen) dalam design dan melakukan modifikasi produksi baru maupun produksi yang telah ada.
3. Logistik Fleksibility
Yaitu : kemampuan melakukan perubahan dalam penerimaan dan delivery produksi baik dari pihak supplier maupun konsumen dengan pengeluaran biaya yang seefektif mungkin ( perubahan lokasi konsumen, globalisasi dan penundaan).
4. Supply Fleksibility
Yaitu : kemampuan untuk mengatasi perubahan permintaan supply, seiring dengan permintaan dari konsumen.
5. Organizazional fleksibility
6. Information Fleksibility.
Yaitu : kemampuan untuk menyusun struktur system informasi sesuai dengan dinamika perubahan informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam rangka untuk memenuhi permintaan dari konsumen. Market Fleksibility
Yaitu : kemampuan untuk dapat melakukan produksi sesuai pesanan dan mampu membangun hubungan dekat dengan konsumen dan melibatkan mereka ( konsumen) dalam design dan melakukan modifikasi produksi baru maupun produksi yang telah ada.
Penggambaran Fleksibilitas suatu Supply Chain pada dasarnya haruslah meliputi secara keseluruhan dari pada sistem yang ada dalam Supply Chain itu sendiri, yaitu dimulai dari Supplier sampai dengan konsumen, dimensi-dimensi fleksibilitas yang ada dalam suatu Supply Chain haruslah mampu mencerminkan seluruh elemen tersebut.
Kemudian model dan karakteristik tersebut dikembangkan oleh Swafort yang menyatakan bahwa dimensi-dimensi fleksibilitas yang lebih umum namun mencakup keseluruhan elemen dalam Supply Chain, dimensi-dimensi itu adalah:
Sourcing, Product, Development, Production, Delivery.
Sourcing adalah penilaian yang diberikan pada kemampuan yang di miliki
dalam hal pengadaan bahan baku dan berkaitan dengan supplier system. Product
development merupakan penilaian yang diberikan atas kemampuan yang dimiliki
bagian terdahulu lebih dikenal sebagai Fleksibilitas Manufakturing lebih tepatnya dikenal dengan production system. Delivery merupakan penilaian yang diberikan atas kemampuan untuk hal yang berhubungan langsung dengan konsumen untuk
delivery system.
Penjelasan yang lebih lanjut dan untuk memudahkan melakukan penilaian
(assessment) terhadap fleksibilitas yang telah disebutkan diatas diuraikan menjadi
Tabel 2.2 Parameter Fleksibilitas Supply Chain
SUPPLIER SYSTEM 1. Pengumpulan suplier-suplier
2. Pengiriman dengan jumlah beragam 3. Pengiriman permintaan mendesak 4. Penggunaan beragam alat transportasi 5. Kemudahan menjalankan sistem penjadualan 6. Lead time suplier
7. Kapasitas total suplier
PRODUCT DESIGN 1. Menghasilkan desain berkulitas dengan cepat 2. Menghasilkan beragam desain
3. Kewenangan untuk memutuskan pilihan desain 4. Uji coba bahan dengan cepat
5. Kemampuan menkonfirmasikan suplier untuk menyediakan bahan baku pendukung produk baru
6. Penyediaan perangkat lunak atau alat bantu lain untuk memudahkan dalam memodifikasi serta mengkreasikan desain
PRODUCTION SYSTEM 1. Menghasilkan beragam produk yang berbeda 2. Menggunakan beragam lintasan produksi 3. Merubah jadwal produksi dengan cepat 4. Perbaikan mesin yang rusak dengan cepat
5. Penggunaan tenaga sub kontrak dalam rangka pemenuhan kapasitas 6. Penggunaan bahan pengganti
7. Penggunaan komponen yang umum 8. Produksi dengan kuantitas yang fleksibel
DELIVERY SYSTEM 1. Pengiriman dengan kuantitas yang fleksibel 2. Pemenuhan permintaan yang mendesak
Tingkat fleksibilitas untuk tiap Supply Chain belum tentu sama hal ini disebabkan pengaruh oleh tingkat ketidak pastian demand yang dialami tiap
supply chain, semakin tinggi tingkat ketidakpastian, maka Supply Chain harus
semakin Fleksibel, seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.3. berikut :
Low demand Somewhat Somewhat high demand
Uncertainty demand demand uncertainty
certainty uncertainty
1 2 3 4
Semakin Fleksibel Gambar 2.3 Tingkat fleksibilitas Supply Chain.
(Pujawan, I Nyoman (2005), “ A Conceptual Framework For Assesing Supply Chain Fleksibility”
Proceeding 7th Asia Pacific Decissions Sciences Conference, Bangkok.)
Keterangan :
1. Low demand uncertainty
Level dimana suatu Supply Chain perusahaan mengalami permintaan yang rendah dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
2. Somewhat demand certainty
3. Somewhat demand certainty
Level dimana suatu Supply Chain perusahaan mengalami permintaan yang sedang dengan tingkat ketidakpastian tinggi.
4. High demand uncertainty
Level dimana suatu Supply Chain perusahaan mengalami permintaan yang tinggi dengan tingkat ketidak pastian yang tinggi pula.
2.4. Tingkat Kebutuhan Fleksibilitas Berdasarkan Demand
Perbedaan tingkat fleksibilitas pada Supply Chain berarti terjadi perbedaan pada parameter-parameter fleksibilitas yang dijadikan acuan, tidak semua parameter fleksibilitas yang disebutkan atas cocok untuk semua supply chain itu sendiri, pada suatu supply chain suatu parameter bisa jadi merupakan suatu faktor yang penting, namun pada model supply chain yang lain faktor tersebut, dianggap tidak terlalu penting.
Menurut Beamon (1999) keuntungan dari fleksibilitas Supply chain adalah :
• Mereduksi jumlah backorder yang ada.
• Mereduksi jumlah lost sales.
• Mereduksi jumlah order yang terlambat.
• Menambah kepuasan konsumen.
• Memudahkan untuk merespon dan mengakomodasi variasi
• Memudahkan untuk merespon dan mengakomodasi berkurangnya performasi mesin (machine breakdown).
• Memudahkan untuk merespon dan mengakomodasi berkurangnya performansi dari supplier.
• Memudahkan untuk merespon dan mengakomodasi berkurangnya performasi pengiriman.
• Memudahkan untuk merespondan mengakomodasi produk baru, pasar baru dan pesaing baru.
2.5. Kuadr an Pengukuran Fleksibilitas Supply Chain
Gambar 2.5. Kuadran fleksibilitas supply chain.
(Sumber : Pujawan (2005)) A Coceptual Frame work for Assessing supply chain.
Flexibility,' Proceeding 7 Asia Pacific Decissions Sciences Conference, Bangkok).
Kondisi I dan III adalah keadaan yang menjukkan keadaan seimbang, yakni antara kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki dan fleksibilitas sebanding, kebutuhan yang tinggi akan mampu memenuhi (I) dan walaupun fleksibilitasnya rendah, hal ini tidak menjadi masalah karena kebutuhan akan fleksibilitasnya juga rendah.
Kondisi II dan IV menggambarkan keadaan yang bermasalah dan memerlukan penanganan. Kondisi II dapat terjadi pada saat kebutuhan akan fleksibilitas rendah namun kemampuan akan fleksibilitasnya tinggi, hal inilah yang dinamakan Overdesign. Overdesign dapat mengakibatkan terjadinya ketidak
II
Unmatched condition Over design system
I
Matched condition
Requirement high
Unmatched condition Fleksibility is too low
IV
Low matched Condition
efisien dalam perusahaan dan akan memyebabkan pula banyaknya cost yang akan terbuang secara sia-sia.
Kondisi IV merupakan kebalikan daripada kondisi II, pada kondisi IV ini yang terjadi ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi tuntutan akan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Ketidakmampuan ini akan mengakibatkan terjadinya
Nervousness. Nervousness ini akan menyebabkan terjadinya Lost Oppurtunity
yaitu kondisi dimana terjadi ketidakmampuan memenuhi permintaan yang ada, dan lama kelamaan kondisi ini dapat mengakibatkan perusahaan tidak akan dapat bersaing dipasar.
2.6. Perhitungan Gap
Penilaian Fleksibilitas suatu Supply Chain berdasarkan perhitungan yang merupakan perbedaan antara penilaian terhadap pasangan pernyataan untuk
requirement (kebutuhan) dan kapasitas untuk tiap parameter Fleksibilitas untuk
Definisi dari setiap skala untuk Harapan adalah:
1. Elemen dan fleksibilitas tidak relevan untuk supply chain tersebut dan tidak perlu dipertimbangkan.
2. Elemen dan fleksibilitas memiliki tergantung kepentingan yang rendah. 3. Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat kepentingan yang sedang. 4. Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat kepentingan yang tinggi.
5. Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat kepentingan yang sangat tinggi. Definisi dari setiap skala untuk Kemampuan adalah :
1. Supply Chain tidak fleksibel untuk elemen fleksibilitas yang bersangkutan.
2. Supply Chain sangat memiliki fleksibel yang rendah untuk elemen fleksibilitas
yang bersangkutan.
3. Supply Chain memiliki fleksibilitas yang sedang untuk elemen fleksibilitas
yang bersangkutan.
4. Supply Chain memiliki Fleksibilitas yang tinggi untuk elemen fleksibilitas
yang bersangkutan.
5. Supply Chain memiliki Fleksibilitas yang sangat tinggi untuk elemen
fleksibilitas yang bersangkutan.
Perhitungan Gap atau skor fleksibilitas untuk setiap pasangan pertanyaan dihitung sebagai berikut :
Fleksibilitas = Nilai Harapan – Nilai Kemampuan
2.7. Uji Validitas
Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan kuesioner yang disebar, maka dilakukan uji validitas. Apabila data Valid, dilanjutkan dengan pengujian reliabilitas. Apabila data tidak valid maka perlu ditinjau ulang pada penyusunan kuesionernya. Validitas dihitung dengan menggunakan rumus korelasi produk momen :
r =
∑
∑
∑
∑
∑
∑ ∑
− − ] ) Y ( Y N ][ ) X ( X N [( ) Y )( X ( XY N 2 2 2 2 Dimana :r = koefisien korelasi yang di cari N = jumlah responden
X = skor tiap- tiap variabel Y = skor total tiap responden
2.8. Uji Reliabilitas
Untuk menguji ketepatan hasil pengukuran kuesioner dilakukan uji reliabilitas. Suatu tes dikatakan mempunyai taraf kepercayaan jika tes tersebut memberikan hasil yang tepat. Cara untuk menghitung reliabilitas adalah dengan rumus ‘ alpha’ :
− −
=
∑
21 2 11 1 ) 1 ( σ σ b k k
r
Dimana :r
11 = reliabilitas instrumentk
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal.
∑
2b
σ = jumlah varians butir
2 1
σ
= varians total
Besarnya reliabilitas yang paling baik adalah 1 dan yang paling jelek adalah 0. Semakin besar nilai yang diperoleh, maka semakin besar reliabel atribut tersebut, apabila perhitungan tidak relible, maka perlu ditinjau pada penyusunan kuesionernya.
2.9. Analytical Hierarchy Process ( AHP )
Model AHP menggunakan persepsi manusia yang dianggap sebagai input utamanya. AHP menggunakan model hierarkis yang terdiri dari satu tujuan (goal), kriteria (atau beberapa sub criteria) dan alternatif untuk setiap masalah keputusan dalam menentukan penelitian diantara alternatif digunakan skala tertentu agar dapat dihasilkan bobot dari masing-masing alternatif keputusan, skala yang dipakai dalam perbandingan berpasangan terdiri dari 9 angka yaitu:
Tabel 2.3 Skala Perbandingan Ber kala
Intensitas kepentingan Keterangan Penjelasan
1. Kedua elemen sama
pentingnya
Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan. 3. Elemen yang satu sedikit
lebih penting dari elemen yang lain
Pengalaman dan penilaian sedikit
menyokong suatu elemen dibandingkan elemen yang lain.
5. Elemen yang satu lebih penting dari elemen yang
lain
Pengalaman dan penilaian sangat
mendukung satu elemen dibandingkan dengan elemen yang lain. 7. Satu elemen jelas lebih
mutlak penting dari elemen yang lain.
Satu elemen yang kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek. 9. Satu elemen mutlak lebih
penting dari pada elemen yang lain.
Bukti yang mendukung elemen yang satu
terhadap elemen lain dan memiliki tingkat
penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. 2,4,6,8 Nilai-nilai antara 2 nilai
pertimbangan yang berdekatan.
Nilai diberikan bila ada 2 kompromi diantara 2 pilihan.
Kelebihan AHP :
AHP mempunyai banyak keunggulan jika dibandingkan dengan proses pengambilan keputusan yang lainnya antara lain adalah sebagai-berikut :
a. Konsistensi
AHP mempunyai kemampuan untuk melacak konsistensi langsung dari pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.
b. Sintesis
AHP mampu menuntun kepada suatu taksiran yang bersifat menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif.
c. Pengukuran
AHP mempunyai kemampuan untuk memberikan suatu skala yang digunakan untuk mengukur hal yang tidak berwujud dan suatu metode untuk menetapkan prioritas.
d. Kompleksitas
AHP mempunyai kemampuan untuk memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan system untuk memecahkan suatu permasalahan yang kompleks.
e. Kesatuan
AHP mampu memberikan suatu model tunggal yang mudah untuk dimengerti, luwes untuk digunakan pada aneka ragam persoalan yang tidak terstruktur. f. Saling ketergantungan
Salah satu keistimewaan dan keuntungan utama dari AHP yang berbeda dengan model pengambilan keputusan yang lainnya adalah tidak adanya syarat konsistensi mutlak, hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa keputusan yang dibuat oleh manusia sebagian didasari atas logika dan sebagian yang didasari atas unsur bukan logika seperti perasaan, pengalaman dan intuisi.
Langkah-langkah AHP :
Model AHP memiliki pendekatan yang hampir identik dengan model perilaku politis yaitu merupakan model keputusan (individual) dengan menggunakan pendekatan kolektif dari proses pengambilan keputusan, pada dasarnya langkah-langkah dalam melakukan metode AHP adalah sebagai berikut : 1. Mengidentifikasikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hierarchy yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan, criteria, dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan criteria yang paling bawah.
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau
criteria yang setingkat diatasnya, perbandingan dilakukan berdasarkan
“Judgement” dari pengambil keputusan dengan menilai target kepentingan suatu elemen dibandingkan dengan elemen yang lainnya.
5. Menghitung nilai Eigen (Eigen Value) dan menguji konsistensinya,jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulang langkah 3,4,5 untuk seluruh tingkat hierarki .
7. Menghitung Vektor Eigen dari setiap matrik perbandingan berpasangan, riil
vector eigen merupakan bobot setiap elemen, langkah ini dilakukan untuk
mensintesis judgement dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hierarki terendah seperti pencapaian tujuan.
8. Memeriksakan konsistensi hierarki jika nilainya lebih besar dari 10% maka penilaian data Judgement harus diperbaiki.
Untuk mengukur bobot prioritas setiap element dalam matrik perbandingan maka digunakan operasi matematis berdasarkan operasi matrik dan vector yang disebut eigenvektor. Eigenvektor adalah sebuah vector yang apabila dikalikan dengan sebuah bilangan scalar / parameter yang tidak lain adalah eigen
value, persamaannya adalah sebagai berikut :
A ×w=λ×w
Dimana : w = Eigenvektor λ = Eigenvalue
A = Matrik bujur sangkar
Pengukuran konsistensi dari suatu matrik itu sendiri didasarkan atas suatu
eigen value maksimum dengan eigen value maksimum, inkonsistensi yang biasa
dihasilkan matriks perbandingan dapat diminimumkan. Rumus dari hierarki konsistensi :
IK = ( maks – n ) / ( n – 1) Dimana : λ = Eigen Value
n = ukuran matrik IK = Indek konsistensi
Indek konsistensi tersebut dapat diubah kedalam bentuk rasio konsistensi dengan membaginya dengan suatu Indeks random, indeks random menyatakan rata-rata konsistensi dari matriks perbandingan berukuran 1-10. yang menunjukkan bahwa semakin besar ukuran matriksnya, makin tinggi tingkat konsistensi yang dihasilkan.
Tabel 2.4. Nilai Random Indeks 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56 1,57 1,59
Perbandingan indeks konsistensi dibandingkan dengan indeks random dapat dituliskan sebagai berikut :
RK = IK / IR
Dimana : RK = rasio konsistensi IK = indeks konsistensi IR = indeks random
Untuk model Analitycal Hierarchy Process, matrik dapat diterima jika rasio konsistensi ( consistency ratio ) ≤ 0,1.
Untuk memantau nilai pencapaian performansi terdapat indikator performansi seperti tabel berikut:
Tabel 2.5. Sistem Monitor ing Indikator Perfor mansi Sistem Monitoring Indikator Performansi
< 40 Poor
51 - 70 Average
71 - 90 Good
> 90 Excellent
Sumber : Trienekens dan Hvolby, 2000 Definisi skala yang digunakan untuk indikator performansi Pengukuran kinerja adalah:
1. 0,00% - 40,00% = Elemen dan fleksibilitas tidak relevan untuk supply chain tersebut dan tidak perlu dipertimbangkan karena Supply Chain tidak fleksibel untuk elemen fleksibilitas yang bersangkutan
2. 41,00% - 50,00 % = Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat
kepentingan yang rendah sehingga Supply Chain memiliki fleksibel yang rendah untuk elemen fleksibilitas yang bersangkutan.
3. 51,00% - 70,00% = Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat
kepentingan yang sedang sehingga Supply Chain memiliki fleksibilitas yang sedang untuk elemen fleksibilitas yang bersangkutan.
4. 71,00% - 90,00% = Elemen dan fleksibilitas memiliki tingkat
kepentingan yang tinggi sehingga Supply Chain memiliki Fleksibilitas yang tinggi untuk elemen fleksibilitas yang bersangkutan
2.10. Program Expert Choice
Untuk memudahkan pengolahan data pada proses Analytical Hierarchy
Process maka digunakan software expert choice. Expert Choice merupakan suatu
software yang dipakai untuk melakukan pembobotan berdasarkan metode
Analytical Hierarchy Process, dalam penelitian tugas akhir ini pembobotan dilakukan dengan menggunakan expert choice agar proses pembobotan yang dilakukan lebih cepat.
Keuntungan dengan menggunakan software ini adalah :
1. Proses pembobotan dapat dilakukan dengan cepat dari pada dengan proses manual.
2. Nilai dari responden yang tidak konsisten bisa dicari sehingga hanya perlu meminta pertimbangan lagi kepada responden untuk nilai-nilai yang tidak konsisten tadi.
2.11. Skala Servqual
Konsep Servqual disini digunakan untuk melakukan penelitian terhadap tingkat fleksibilitas Supply Chain dari perusahaan yang diteliti, kemampuan dari
Supply Chain perusahaan untuk fleksibilitas diidentikkan dengan persepsi,
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari perusahaan pada UD. Amin Motor , yang berlokasi di Jl. Ambeng-ambeng no. 10 ngingas, Waru Sidoarjo. Pengambilan data diadakan mulai bulan Januari 2012 sampai Desember 2012.
3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Var iabel 3.2.1 Identifikasi Variabel
Sebelum melakukan penelitian, harus diidentifikasi dulu apa yang akan diteliti sehingga dapat diketahui apa yang menjadi masalah pada perusahaan. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah fleksibilitas supply chain perusahaan pada UD. Amin Motor, ditinjau dari empat dimensi yaitu:
3.2.2 Definisi Operasional Variabel
Dengan mengetahui keempat dimensi tersebut diatas maka penelitian ini dapat dijalankan sesuai dengan definisi operasional yang digunakan. Adapun definisi operasional dari keempat dimensi tersebut diatas yaitu:
1. Delivery System adalah Berkaitan dengan sistem pengiriman barang yang
dilakukan oleh UD. Amin Motor, untuk memenuhi permintaan pesanan yang menjadi pertimbangan disini termasuk waktu pengiriman, alat transfortasi yang digunakan, waktu pemesanan hingga barang sampai kepelanggan, dan jangkauan pengiriman.
2. Production System adalah Sistem produksi yang dijalankan oleh UD. Amin
Motor, sistem produksi disini meliputi kuantitas pemesanan, bahan-bahan dasar pembuatan, serta kapasitas yang dibutuhkan.
3. Product Design yang dimaksud disini adalah desain produk yang akan
dihasilkan guna memenuhi pesanan yang datang, parameternya meliputi kecepatan kualitas mendisain produk, kecepatan test material yang diinginkan, dan kekuatan bahan
4. Supplier System adalah system analisis supplier baik itu bahan baku maupun
3.3 Flowchart Langkah-Langkah Pemecahan Masalah
Y
T
Y
Y
T
Study Literatur Survey Perusahaan
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Identifikasi Variabel
Penyusunan Kuisioner
Penyebaran&Pengumpulan Data Kuisioner
Uji Kecukupan Data
Cukup ?
Buang Data Yang Tidak Valid Uji Validitas
Valid ?
Y
T
T
Y Perhitungan Nilai
Kebutuhan
Perhitungan Nilai Kemampuan
Perhitungan Nilai Gap
Pembobotan AHP
Konsisten CR ≤ 0.1
?
Uji Konsistensi
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan & Saran Analisa Nilai Tingkat
Fleksibilitas Supply Chain : - Supplier System - Product Design - Production System - Delivery System
Reliabel?
3.3.1 Penjelasan Flowchart Langkah-langkah Pemecahan Masalah: 1. Survey Perusahaan
Survey perusahaan dilakukan pada awal penelitian untuk lebih memahami kondisi lapangan yang akan diteliti, sehingga akan memudahkan jalannya penelitian yang akan dilakukan dan sesuai dengan tujuan penelitian.
3. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yang dilakukan sebagai sarana pembantu pengumpulan informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Studi kepustakaan ini diperoleh dari literatur-literatur seperti text books, jurnal yang membahas tentang metode-metode yang digunakan dan dari penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya.
4. Perumusan Masalah
Menentukan permasalahan yang akan diteliti dengan menggunakan suatu pendekatan untuk memecahkan masalah.
5. Penetapan Tujuan Penelitian
Dengan rumusan masalah tersebut, kemudian ditentukan tujuan penelitian sebagai dasar dilakukannya penelitian ini.
6. Identifikasi Variabel
7. Penyusunan Kuisioner
Pada tahap ini dilakukan penyusunan pertanyaan kuisioner yang akan dibagikan kepada pihak-pihak tertentu yang mengetahui tentang objek penelitian ini, pertanyaan disusun sedemikian rupa agar mudah dipahami. 8. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari
a. Pengambilan data kuantitatif tentang supply chain langsung dari UD. Amin Motor ,Sidoarjo. Disini diambil data-data mengenai kemampuan yang dimiliki oleh UD. Amin Motor, Sidoarjo berdasarkan parameter-parameter fleksibilitas supply chain yang telah ditentukan terlebih dahulu, untuk beberapa parameter yang tidak bisa langsung diperoleh, maka dilakukan proses perhitungan dari data-data yang berhubungan untuk memperoleh nilai parameter yang dimaksud.
b. Penyebaran Kuisioner
Penyebaran kuisioner dilakukan secara tiga tahap, yaitu:
- Kuisioner untuk mendapatkan data kuantitatif (objektif) yang didapatkan dari proses wawancara dengan Pemilik UD yang bersangkutan dengan dimensi fleksibilitas supply chain.
- Kuisioner untuk mendapatkan data kualitatif (subjektif) dengan menggunakan skala 1-5 untuk kondisi kebutuhan dan kemampuan/kapabilitas untuk tiap fleksibilitas tiap parameter, yang nantinya akan dibandingkan antara keduanya.
Skala : 1. Sangat Tidak relevan 2. Tidak Relevan 3. Tidak Tahu 4. Relevan 5. Sangat Relevan
- Kuisioner yang ketiga adalah kuisioner pembobotan. Pada tahap ini juga terbagi menjadi:
c. Kuisioner yang digunakan untuk membandingkan tiap-tiap dimensi dalam fleksibilitas supply chain.
d. Kuisioner yang digunakan untuk membandingkan tiap-tiap parameter dalam satu dimensi di dalam fleksibilitas supply chain.
9. Uji Kecukupan Data
Untuk menentukan jumlah sampel penelitian, maka digunakan perhitungan Bernoulli. Artinya apabila data mencukupi, maka selanjutnya dilakukan uij validitas, sebaliknya bila tidak mencukupi, maka dilakukan penyebaran kuesioner ulang
10. Uji Validitas
Suatu kuisioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan dalam kuisioner tersebut telah tepat atau apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner tersebut. Uji validitas ini dilakukan setelah penyebaran kuisioner lalu dilanjutkan dengan uji reliabilitas.
Suatu kuisioner dikatakan reliabel jika jawaban dari seorang terhadap pertanyaan-pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu, maka dengan uji ini dapat diketahui apakah suatu alat ukur dalam hal ini kuisioner konsisten atau tidak. Jika tidak maka perlu kuisioner baru.
12. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data berdasarkan langkah-langkah dibawah ini:
a. Menghitung bobot parameter
b. Menentukan gap tingkat fleksibilitas antara kemampuan dan kebutuhan perusahaan
c. Pembuatan grafik gap kebutuhan dan kemampuan parameter d. Menghitung gap terbobot dan prioritas perbaikan
e. Pembuatan grafik gap terbobot kebutuhan dan kemampuan parameter
f. Pembuatan peta (mapping) kuadran fleksibilitas g. Menghitung nilai tingkat fleksibilitas supply chain h. Pembuatan grafik nilai tingkat fleksibilitas
13. Hasil dan Pembahasan
14. Kesimpulan dan Saran
Pada tahap ini akan ditarik suatu kesimpulan secara keseluruhan dari hasil penelitian yang dilakukan, selain itu juga diberikan beberapa saran atau masukan bagi perusahaan untuk kemajuan perusahaan maupun penelitian selanjutnya.
3.4. Metode Pengolahan Data
Data yang telah digunakan kemudian diolah sesuai dengan literatur yang digunakan yaitu dengan melakukan pengukuran fleksibilitas supply chain melalui empat dimensi yaitu delivery system, production system, product design, dan
supplier system. Hasil pengolahan data tersebut dianalisis untuk mengetahui
parameter-parameter mana yang memerlukan perbaikan dan parameter mana yang dipertahankan. Adapun langkah-langkah pengolahan data adalah :
3.4.1 Pengujian Kuisioner
Data yang masuk dari hasil kuisioner akan diuji dahulu kevalidan dan reliabilitasnya. Adapun pengujian kecukupan data, validitas dan reliabilitas diterangkan sebagai berikut :
3.4.1.1 Uji Kecukupan Data
Jumlah kuisioner disebarkan kepada responden diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan rumus Bernoulli, yaitu :
2 2 2
. .
b q p Z n≥ α
n = Jumlah sampel minimum
α = tingkat ketelitian yang diinginkan = 0,05 Z = Nilai distribusi normal
b = Tingkat kesalahan yang diijinkan
p = Proporsi jumlah kuisioner yang dianggap benar q = Proporsi jumlah kuisioner yang dianggap salah
3.4.1.2 Uji Validitas
Suatu kuisioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaandalam kuisioner tersebut telah tepat atau apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur dalam kuisioner tersebut. Uji validitas dilakukan setelah penyebaran kuisioner diuji dengan rumus korelasi produk momen :
r =
∑
∑
∑
∑
∑
∑ ∑
− − ] ) Y ( Y N ][ ) X ( X N [( ) Y )( X ( XY N 2 2 2 23.4.1.3 Uji Reabilitas
Suatu kuisioner dikatakan reliable jika jawaban dari seseorang responden terhadap pertanyaan-pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu, maka dengan uji ini diketahui apakah suatu alat ukur dalam hal ini kuisioner konsisten atau tidak. Jika tidak maka perlu membuat kuisioner baru.
3.4.2 Pembobotan Keempat Dimensi Parameter -par ameter Supply Chain Teknik pembobotan yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan peranan dari tiap dimensi dan tiap parameter-parameter fleksibilitas supply chain adalah Analytical Hierarchy Process (AHP).
Adapun urutan penyelesaian pembobotan dengan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut :
1. Menyusun matrik perbandingan berpasangan 2. Menyusun perbandingan hasil normalisasi 3. Uji konsistensi, dengan menghitung :
a. Prioritas
maks
λ =
∑
( )
n X Y
b. Consistency Index (CI)
CI =
(
(
)
)
1− −
n n
maks λ
c. Consistency Ratio (CR)
CR =
RI
CI , matrik konsisten jika CR < 0.10
3.4.3 Perhitungan Gap
Penilaian fleksibilitas suatu supply chain dilakukan berdasarkan :
2. Dilakukan perhitungan gap yang sudah mempunyai bobot dengan mengalikan gap yang diperoleh masing-masing dengan bobot dari tiap-tiap parameter tersebut.
3.5 Metode Analisa Data
Analisa pengukuran fleksibilitas supply chain untuk mengetahui parameter-parameter mana yang memerlukan perbaikan dan parameter mana yang dipertahankan dilakukan dari hasil pemetaan parameter-parameter fleksibilitas yang diperoleh kedalam empat kuadran model penilaian fleksibilitas supply chain.
3.6 Kesimpulan dan Sar an
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data
Pertama-tama untuk tahap pengumpulan data data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner dan wawancara kepada pihak-pihak yang mengetahui dan benar-benar mengerti tentang keadaan Supply Chain secara keseluruhan, serta dapat merepresentasikan keadaan yang sebenarnya. Pihak-pihak yang terlibat disini adalah bagian Design, bagian Produksi, bagian Finishing, dan bagian Quality Control. Untuk lebih lengkapnya, pengumpulan data-data secara lengkap dapat dilihat pada lembar lampiran.
Pada tahap pengumpulan data, dibagi dalam beberapa urutan adalah sebagai berikut :
4.1.1 Penetapan Parameter Fleksibilitas Supply Chain
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran terhadap fleksibilitas suatu Supply Chain adalah aspek-aspek dalam Supply Chain itu sendiri yang dimulai dari aspek supplier sampai dengan akhirnya aspek penerimaan produk atau jasa oleh konsumen. Aspek-aspek fleksibilitas Supply
Chain ini dapat diwakili oleh empat dimensi, yaitu :
1. Supplier System.
2. Product Design.
3. Production System.
Masing-masing dimensi ini kemudian dipecah lagi menjadi beberapa sub dimensi / parameter fleksibilitas Supply Chain yang lebih terfokus dalam menggambarkan kondisi fleksibilitas Supply Chain diperusahaan yang sedang diteliti keadaan fleksibilitas Supply Chain yang dimilikinya.
Satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua parameter-parameter fleksibilitas Supply Chain selalu sesuai untuk kondisi Supply Chain suatu perusahaan, karena pada dasarnya setiap Supply Chain mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan Supply Chain perusahaan lain sehingga apabila suatu parameter fleksibilitas Supply Chain sesuai untuk kondisi Supply Chain perusahaan belum tentu parameter-parameter tersebut sesuai untuk kondisi Supply
Chain perusahaan lain.
Tabel 4.1 Parameter Fleksibilitas Supply Chain
Tipe Fleksibelitas Parameter
Supplier System
Pengumpulan suplier -suplier
(Berkaitan dengan jumlah supplier-supplier yang dimiliki oleh UD. Amin Motor selain suplier utama)
Pengir iman dengan jumlah ber agam
(Berkaitan dengan jumlah produk otomotif yang dapat dikirim oleh pihak suplier dalam memenuhi permintaan yang datang dari perusahaan)
Pengir iman per mintaan mendesak
(Berkaitan dengan kemampuan suplier untuk memenuhi permintaan dari perusahaan di luar permintaan regular / biasa) Penggunaan ber agam alat tr anspor tasi
(Berkaitan dengan alat transportasi yang digunakan oleh pihak suplier untuk melakukan pengiriman pesanan yang datang dari perusahaan, dilihat dari segi jenis, dan juga dari segi sistem yakni sistem pengelolaan yang digunakan)
Kemudahan menjalankan sistem penjadwalan
(Berkaitan dengan hubungan kerjasama antara perusahaan dengan supliernya)
Lead time suplier
(Berkaitan dengan jangka waktu yang dijanjikan oleh pihak suplier antara permintaan yang diberikan sampai dengan barang diterima oleh pihak perusahaan)
Kapasitas Total Suplier
(Berkaitan dengan tingkat kemampuan pihak Suplier dalam memenuhi permintaan dari perusahaan)
Pr oduct Design
Menghasilkan desain ber kulitas dengan cepat
(Berkaiatan dengan pembuatan rancangan produk baru yang berkualitas dalam waktu relatif singkat)
Menghasilkan ber agam desain
(Berkaitan dengan kemampuan yang dipunyai untuk memproduksi jenis produk otomotif dalam jumlah banyak dalam sekali proyek perancangan produk baru)
Kewenangan untuk memutuskan pilihan desain
(Berkaitan dengan prosedur yang harus dilakukan untuk memutuskan desain produk otomotif baru yang akan diluncurkan) Uji coba bahan dengan cepat
(Berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki yang dapat mendukung perancangan desain produk baru terutama dalam hal bahan baku produk otomotif)
Kemampuan menkonfir masikan suplier untuk menyediakan bahan baku pendukung pr oduk bar u
(Berkaitan dengan kemampuan yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku yang dibutuhkan untuk desain produk baru yang dilakukan, apabila produk yang dibuat memerlukan bahan yang lain dibandingkan dengan proyek yang selama ini ditangani, baik itu melalui suplier yang sudah ada maupun melalui cara pencarian supplier baru)
Tipe Fleksibilitas Parameter
Pr oduction System
Menghasilkan ber agam pr oduk yang ber beda
(Berkaitan dengan kemampuan untuk memproduksi produk otomotif dalam banyak jenis)
Menggunakan ber agam ur utan pr oses
(Berkaitan dengan kemampuan memproduksi dengan urutan atau lintasan proses yang berbeda)
Mer ubah jadwal pr oduksi dengan cepat
(Berkaitan dengan perencanaan dan penjadwalan mengenai semua informasi permintaan pengiriman yang masuk dari konsumen) Per baikan mesin yang r usak dengan cepat
(Berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki untuk memperbaiki kerusakan mesin yang terjadi sehingga proses produksi tidak terganggu)
Penggunaan Tenaga sub kontr ak
(Berkaitan dengan tingkat penggunaan tenaga sub kontrak untuk memenuhi permintaan apabila kapasitas produksi sudah maksimum) Penggunaan bahan pengganti
(Berkaitan dengan pemakaian kapasitas produksi yang ada pada perusahaan untuk melakukan produksi pada saat ini)
Penggunaan komponen yang umum
(Berkaitan dengan penggunaan komponen atau bahan baku yang sama dalam jenis produk-produk otomotif yang dihasilkan)
Pr oduksi dengan kuantitas yang fleksibel
(Berkaitan dengan jumlah minimum dan maksimum produk otomotif yang dapat diproduksi tanpa menambah biaya mesin produksi yang ada)
Deliver y System
Pengir iman dengan kuantitas yang fleksibel
(Berkaitan dengan pemenuhan kabutuhan atau permintaan dalam hal jumlah produk otomotif yang mampu dikirim)
Pemenuhan per mintaan yang mendesak
(Berkaitan dengan pemenuhan permintaan dari konsumen akan poduk yang dihasilkan dalam hal keterbatasan waktu)
Pengir iman infor masi per mintaan dengan mudah dan cepat (Berkaitan dengan sistem yang ada di perusahaan delam hal penerimaan dan pengelolaan informasi mengenai permintaan pengiriman dari konsumen)
Penggunaan ber bagai alat untuk pengir iman per mintaan (Berkaitan dengan alat transportasi yang digunakan oleh pihak perusahaan untuk melakukan pengiriman pesanan yang datang dari customer, dilihat dari segi jenis, dan juga dari segi sistem yakni sistem pengelolaan yang digunakan)
Pengkombinasian pr oduk ber beda dalam satu macam alat angkut
(Berkaitan dengan jenis produk otomotif yang dikirim dalam satu jenis alat angkut)
Pemenuhan pemintaan ber asal dari lebih dar i satu distr ibutor (Berkaitan dengan pemenuhan permintaan yang datang lebih daripada satu customer)
Seperti yang telah disebutkan pada bagian atas bahwa tidak semua parameter penilaian Fleksibilitas Supply Chain ini digunakan untuk menilai. Penggunaannya disesuaikan dengan kondisi riil yang terjadi pada perusahaan yang menjadi objek penelitian.
Untuk dimensi Product Design, parameter yang tidak terpakai adalah Penyediaan perangkat lunak dan alat bantu lain untuk memudahkan memodifikasi serta mengkreasikan desain di UD. Amin Motor karena perusahaan tersebut masih menggunakan gambar manual atau foto gambar contoh desain produk otomotif yang akan dibuat.
Untuk dimensi Production System, parameter yang tidak terpakai adalah Perbaikan mesin yang rusak dengan cepat di UD. Amin Motor karena jika terjadi kerusakan mesin perusahaan tersebut harus memanggil tenaga/teknisi ahli untuk memperbaiki mesin tersebut.
Sedangkan untuk dimensi Delivery System, parameter yang tidak terpakai adalah Penggunaan berbagai alat untuk pengiriman permintaan, karena di UD. Amin motor masih menggunakan satu alat transportasi untuk pengiriman berupa satu unit mobil box
Tabel 4.2 Parameter Fleksibilitas Supply Chain UD. Amin Motor Sidoar jo
Tipe Fleksibilitas Parameter
Supplier System
Pengumpulan suplier -suplier
(Berkaitan dengan jumlah supplier-supplier yang dimiliki oleh UD. Amin Motor selain suplier utama)
Pengir iman dengan jumlah ber agam
(Berkaitan dengan jumlah produk otomotif yang dapat dikirim oleh pihak suplier dalam memenuhi permintaan yang datang dari perusahaan)
Pengir iman per mintaan mendesak
(Berkaitan dengan kemampuan suplier untuk memenuhi permintaan dari perusahaan di luar permintaan regular / biasa) Penggunaan ber agam alat tr anspor tasi
(Berkaitan dengan alat transportasi yang digunakan oleh pihak suplier untuk mel