SKRIPSI
Oleh:
M. CHAIRUDIN
0312015069/FE/EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
PEMBELIAN KONSUMEN MULTIVITAMIN/
SUPLEMEN FATIGON DI SURABAYA
Yang diajukan
M. CHAIRUDIN
0312015069/FE/EMTelah disetujui untuk ujian skripsi oleh:
Pembimbing Utama
Dra. Ec. Hj. Malicha Tanggal : ...
Pembimbing Pendamping
Dra. Ec. Nuruni Ika K. MM Tanggal : ...
Mengetahui
Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran”
Jawa Timur
melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Pembelian
Konsumen Multivitamin Suplemen Fatigon Di Surabaya.”
Menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini tidak akan terselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP., Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin N, MM., Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Drs. Ec. Gendut Sukarno, MS., Ketua Program Studi Manajemen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Ibu Dra. Ec. Hj, Malicha, Sebagai Dosen Pembimbing Utama yang telah mengarahkan dan meluangkan waktu guna membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
5. Ibu Dra. Ec. Nuruni Ika K. MM, Sebagai Dosen Pembimbing Pembantu yang telah mengarahkan dan meluangkan waktu guna membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
8. Semua pihak yang telah membantu dan tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terimakasih.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang menbangun akan penulis terima dengan senang hati demi sempurnanya skripsi ini.
Surabaya, Pebruari 2010
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRAKSI ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Peneltian Terdahulu ... 7
2.2. Landasan Teori ... 8
2.2.1.Pemasaran ... 8
2.2.1.1.Manajemen Pemasaran ... 8
2.2.1.2.Evolusi Konsep Pemasaran ... 10
2.2.2.Merek ... 12
2.2.2.1.Pengertian Merek ... 12
2.2.2.2.Tujuan Pemberian Merek ... 13
2.2.2.6.Syarat Memilih Merek ... 24
2.2.3.Minat Pembelian ... 25
2.2.3.1.Pengertian Minat Pembelian ... 25
2.2.3.2.Faktor-Faktor yang Menentukan Tingkat Keterlibatan Konsumen ... 27
2.2.4.Pengruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Pembelian .... 28
2.3. Kerangka Konseptual ... 31
2.4. Hipotesis ... 32
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel ... 33
3.1.1.Definisi Operasional Variabel ... 33
3.1.2.Pengukuran Variabel ... 36
3.2. Teknik Penentuan Sampel ... 36
3.2.1.Populasi ... 36
3.2.2.Sampel ... 36
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 38
3.3.1.Jenis Data ... 38
3.3.2.Sumber Data... 38
3.3.3.Pengumpulan Data ... 38
3.4. Teknik Analisis Dan Uji Hipotesis ... 39
3.4.4.Pengujian model dengan One-Step Approach ... 44
3.4.5.Pengujian model dengan Two-Step Approach ... 45
3.4.6.Evaluasi Model ... 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 50
4.1.1.Sejarah Perusahaan ... 50
4.2. Gambaran Umum Keadaan Responden ... 53
4.3. Deskripsi Hasil Penelitian ... 54
4.3.1.Deskripsi Variabel Ekuitas Merek (X) ... 54
4.3.1.1.Deskripsi Variabel Percived Brand Quality (X1) 54 4.3.1.2.Deskripsi Variabel Percived Brand Value for The Cost (X2) ... 56
4.3.1.3.Deskripsi Variabel Uniqueness (X3) ... 58
4.3.1.4.Deskripsi Variabel Minat Pembelian (Y) ... 59
4.4. Deskripsi Hasil Analisis dan Uji Hipotesis... 61
4.4.1.Asumsi Model ... 61
4.4.1.1.Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas... 61
4.4.1.2.Evaluasi atas Outlier ... 62
4.5. Pembahasan ... 71
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 74
5.1. Kesimpulan ... 74
5.2. Saran... 74
Tabel 3.1. Goodness of Fit Indices ... 46
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 53
Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 54
Tabel 4.3. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Perceived Brand Quality (X1) ... 54
Tabel 4.4. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Perceived Brand Value for The Cost (X2) ... 56
Tabel 4.5. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Brand Uniqueness (X3) ... 58
Tabel 4.6. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel Minat Pembelian (Y) ... 60
Tabel 4.7. Hasil Pengujian Normalitas ... 62
Tabel 4.8. Hasil Pengujian Outlier Multivariate ... 63
Tabel 4.9. Faktor Loading dan Konstruk dengan Confirmatory Factor Analysis ... 65
Tabel 4.10. Pengujian Reliability Consistency Internal ... 66
Tabel 4.11. Construct Reliability & Variance Extrated ... 67
Tabel 4.12. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices ... 69
Tabel 4.13. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices ... 70
Lampiran 2. Rekapitulasi Jawaban Responden Variabel Perceived Brand Quality (X1), Perceived Brand Value for The Cost (X2),
Brand Uniqueness (X3) dan Minat Pembelian (Y)
Lampiran 3. Hasil Pengujian Normalitas Lampiran 4. Hasil Pengujian Outlier
Lampiran 5. Hasil Pengujian Validitas Standardize Faktor Loading dan Construct dengan Confirmatory Factor Analysis
Lampiran 6. Hasil Pengujian Reliabillitas Consistency Internal
M. Chairudin
ABSTRAKSI
Beberapa perusahaan yang peka terhadap nilai suatu merek, akan sepenuhnya menyadari bahwa merek menjadi identitas diri dari perusahaan dan menjadi added value dalam menjual poduknya. Merek memang bukan sekedar nama, istilah, tanda, ataupun simbol saja, lebih dari itu, merek merupakan sebuah ‘janji’ perusahaan untuk secara konsisten memberikan gambaran, semangat, dan pelayanan pada konsumen. Disinilah dibutuhkan pengelolaan merek yang bukan pekerjaan sederhana, tantangan besar yang menghadang adalah banyak dan cepatnya perubahan yang terjadi dalam lingkungan pemasaran. Semisal perubahan dari perilaku konsumen, strategi-strategi kompetitif, aturan-aturan pemerintah dan aspek lain dari lingkungan pemasaran yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu merek. Disamping kekuatan-kekuatan eksternal, pengaruh internal juga tak bisa diabaikan, beragamnya aktivitas dan perubahan dalam fokus strategik terhadap merek yang dipasarkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengaruh ekuitas merek terhadap minat pembelian multivitamin/suplemen Fatigon di Surabaya.
Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). Variabel penelitian adalah Perceived Brand Quality (X1), Percived Brand Value for The Cost (X2), Brand Uniqueness (X3), dan Minat Pembelian (Y). Populasi penelitian adalah masyarakat di Surabaya yang mengkonsumsi multivitamin Fatigon, dengan jumlah sampel yang sudah ditentukan dengan menggunakan teknik accidental sampling sebanyak 100 responden.
Berdasarkan hasil pengujian dapat ditarik kesimpulan bahwa ekuitas merek terhadap Minat Pembelian multivitamin/suplemen Fatigon di Surabaya secara signifikan dan positif, karena merek merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, manfaat, dan jasa tertentu memberikan jaminan mutu terbukti dan dapat diterima kebenarannya.
1.1. Latar Belakang Masalah
Memasuki milenium baru di era globalisasi ini, produsen dihadapkan pada persaingan untuk meraih dominasi merek. Merek mejadi faktor penting dalam persaingan dan menjadi aset perusahaan yang bernilai. Produk menjelaskan atribut inti sebagai suatu menjadi suatu komoditi yang diperlukan. Sedangkan merek menjelaskan spesifikasi pelanggannya.
diabaikan, beragamnya aktivitas dan perubahan dalam fokus strategik terhadap merek yang dipasarkan.
Merek berfungsi mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penyaji dan membedakannya dari produk sejenis dari penyaji lain. Lebih dari itu, merek adalah sesuatu yang dibentuk dalam pikiran pelanggan dan memiliki kekuatan membentuk kepercayaan pelanggan. Jika perusahaan mampu membangun merek yang kuat di pikiran pelanggan melalui strategi pemasaran yang tepat, perusahaan akan mampu membangun mereknya. Dengan demikian merek dapat memberi nilai yang ditawarkan oleh produk kepada pelanggannya yang dinyatakan sebagai merek yang memiliki ekuitas produk kepada pelanggannya yang dinyatakan sebagai merek yang memiliki ekuitas merek.
Menurut Astuti dan Cahyadi (2007), Ekuitas merek adalah seperangkat asosiasi dan perilaku yang dimiliki oleh pelangga merek, anggota saluran distribusi, dan perusahaan yang memungkinkan suatu merek mendapatkan kekuatan, daya tahan dan keunggulan yang dapat membedakannya dengan merek pesaing. Seperangkat aset yang dmiliki oleh merek tersebut terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek.
nama, simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai sebuah produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek, beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek akan berubah pula (Mahrinasari, 2006:33-34).
Merek dari multivitamin yang ada saat ini bermacam-macam, dimana semua jenis vitamin ini diperlukan mutlak oleh tubuh dan dapat diperoleh dari makanan dan suplementasi.. Penyerapan jenis vitamin ini oleh tubuh tidak akan berlebihan karena adanya proses interaksi antara beberapa macam bahan makanan. Sedangkan bila multivitamin dosis tinggi dikonsumsi secara terus menerus, dampaknya tidak akan dirasakan segera, namun bila keadaan ini sudah tidak dapat ditolerir oleh tubuh maka timbul tanda-tanda keracunan seperti sakit kepala, perubahan emosi, pertumbuhan sel yang berlebihan dan lain-lain, Bila tubuh memang memerlukan multivitamin tambahan konsumsilah suplemen tambahan sesuai dengan jenis dan dosis yang tepat, Idealnya manusai memperoleh semua nutrisi
yang dibutuhkan tubuh melalui makanan,
Sekarang ini produk-produk multivitamin makin merebak di pasaran dan tidak sedikit dari kita yang tertarik untuk mengonsumsinya. Hal ini nampak pada posisi setiap multivitamin yang selalu berubah, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1.
Brand Value Produk Multivitamin
Merek 2006 2007 2008
1 Hemaviton 167,1 44,5 28,2
2 Fatigon 114,0 47,4 15,2
3 Redoxon 59,8 41,5 11,5
4 Enervon C 50,4 ** 7,9 5 Sangobion 40,1 42,4 3,7 Sumber : Majalah SWA 2008
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Brand Value Fatigon mengalami fluktuasi dimana pada tahun tahun 2006 menduduki peringkat kedua dengan nilai 114. Tetapi pada tahun 2007 Fatigon mengalami kenaikan Brand Value dengan nilai 47,4 atau berada pada peringkat pertama namun dengan ada berita bahwa fatigon ditarik karena mengandung zat berbahaya yaitu Sildenafil Sitrat dan Tadalafil membuat masyarakat memilih multivitamin yang aman sehingga Brand Value fatigon mengalami penurunan hanya sebesar 15,2 dibawah hemaviton.
setiap pembelian. Ketika konsumen menunjukkan minat yang tinggi dan konsisten terhadap sebuah produk dan seringkali menghabiskan waktunya untuk memikirkan tentang produk tersebut. (Istiyo, dkk, 2007:184)
Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil judul: Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Pembelian
Multivitamin/Suplemen Fatigon.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalahnya adalah : Apakah ekuitas merek berpengaruh terhadap minat pembelian multivitamin/suplemen Fatigon di Surabaya ?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ekuitas merek terhadap minat pembelian multivitamin/suplemen Fatigon di Surabaya.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
2. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk dapat melihat sejauhmana eskuitas merek dari produk yang dihasilkan dikenal oleh konsumen.
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dapat dipakai sebagai bahan kajian yaitu penelitian yang dipublikasikan mengenai variabel asosiasi merek, kepuasan konsumen dan pemilihan merek yang dilakukan oleh :
1. Eppy Ponco Istiyono (2007)
a. Judul : Pengaruh Ekuitas Merek Berbasis Pelanggan Telkomnet Instan Terhadap Minat Pembelian Telkomnet Speedy
b. Permasalahan : Apakah customer brand equity berpengaruh terhadap minat pembelian Telkom Speedy ?
c. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan secara menyeluruh dari hasil penelitian, bahwa ekuitas merek dari basis pelanggan Telkomnet Instan memiliki pengaruh positif kepada minat pembelian merek Telkomnet Speedy.
2. Fauzan dan Gunarsih (2004)
a. Judul : Pengaruh Atribut Produk dan Minat Konsumen Terhadap Loyalitas Konsumen
c. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa variabel manfaat inti, produk dasar, produk yang diharapkan, produk yang ditingkat, produk potensial, dan minat nasabah berpengaruh terhadap loyalitas nasabah.
3. Murwanto Sigit (2006)
a. Judul : pengaruh Sikap dan Norma Subyektif Terhadap Niat Beli Mahasiswa Sebagai Konsumen Potensial Produk Pasta Gigi Close Up
b. Pemasalahan : Apakah sikap konsumen dan norma subyekti berpengaruh terhadap niat beli konsumen pasta gigi Close Up?
c. Hasil : Dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap mdan norma subyektif secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap niat membeli pasta gigi Close Up.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pemasaran
2.2.1.1.Manajemen Pemasaran
memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar dengan menggunakan politik harga, cara-cara komunikasi dan cara distribusi, menyajikan informasi, memotivasi dan melayani pasar Kotler (1978) dalam Alma (2000:86).
Shultz (1961) dalam Alma (2000:86) memberikan definisi manajemen marketing ialah merencanakan, pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dari perusahaan.Kemudian menurut Ben M. Enis (1974) dalam Alma (2000:86) secara ringkas ia menyatakan bahwa: Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau oleh perusahaan. Logika dari definisi diatas, ialah apabila seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki pemasarannya, maka a harus melakukan kegiatan pemasaran itu sebaik mungkin.
pemasaran akan lebih meningkatkan efisiensi dan efektivitas. (Alma, 2000:87)
2.2.1.2.Evolusi Konsep Pemasaran
Ini dikatakan Evolusi Konsep sebab orientasi perusahaan terhadap pasar, atau kemampuan perusahaan menghadapi persaingan makin lama makin berkembang. Uraian berikut ini boleh juga disebut sebagai strategi yang dianut perusahaan dalam menguasai pasar dan mengatasi saingan.
Ada lima konsep yang berkembang, yaitu : 1. Konsep produksi
Konsep produksi bertitik tolak dari anggapan, bahwa konsumen ingin produk yang harga murah dan mudah didapatkan dimana-mana. Produsen yang menganut konsep ini, akan membuat produksi secara massal, menekan biaya dengan efisiensi tinggi, sehingga harga pokok pabrik bisa ditekan dan harga jual lebih rendah dari saingan.
2. Orientasi pada produk
Pada saat barang masih langka di pasar, maka produsen memusatkan perhatian pada teknis pembuatan produk saja. Produsen belum memperhatikan selera konsumen. Produsen hanya membuat barang dengan to please oneself, hanya menuruti bagaimana selera produsen sendiri.
3. Orientasi penjualan
kegiatan promosi secara maksimal. Paham dari konsep ini ialah konsumen pasti mau membeli barang, bila mereka dirangsang untuk membeli. Promosi besar-besaran merupakan ciri khas dari selling concept.
4. Orientasi pasar
Disini produsen tidak sekedar membuat barang, tidak pula asal melancarkan promosi. Produsen memusatkan perhatian pada selera konsumen, produsen memperhatikan needs dan wants dari konsumen. Jadi produsen tidak hanya memperhatikan kebutuhan konsumen saja, tetapi juga memperhatikan apa keinginan konsumen. Konsumen juga tidak hanya sekedar membeli fisik barang, tetapi mengharapkan sesuatu dari barang itu. Ini adalah hal yang disebut dengan wants, yaitu ada sesuatu yang lain yang diharapkan setelah memberi barang tersebut. Jika hal ini dapat terpuaskan maka kegiatan marketing perusahaan akan mencapai sukses.
5. Orientasi pada rasa tanggung jawab atau berwawasan sosial
2.2.2. Merek
2.2.2.1. Pengertian Merek
Merek adalah suatu tanda atau symbol yangmemberikan identitas suatu barang/jasa tertentu yang dapat berupa kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya.
Terdapat pula pengertian yang lain yaitu tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa (Alma, 2000:105).
Brand atau merek dapat kita sebut dengan pelabelan, brand
memiliki kekuatan untuk membantu penjualan. Demikian pula bahwa brand dihubungkan dengan sebuah kepercayaan konsumen terhadap suatu produk atau jasa yang dipercaya tidak saja untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dan jaminan. (Soemanagara, 2006:98)
Sudah menjadi kebiasaan pengusaha pabrik untuk menjual barang-barang yang dihasilkan oleh pabriknya dibubuhi tanda lukisan dan/atau perkataan untuk membedakannya dari barang-barang sejenis hasti pabrik lain. Tanda itu disebut “merek”.
hasil produksi ini harus disesuaikan dengan keadaan produk atau perusahaan yang bersangkutan. (Alma, 2002:106)
Berdasarkan definisi klasik dari Jacob & Kyner (1973) dalam Tjiptono (2000:109), merek memiliki karakteristik:
1. Bersifat bias (non-random)
2. Merupakan respon behavioral (berupa pembelian) 3. Diekspresikan sepanjang waktu
4. Diekspresikan oleh unit pengambilan keputusan
5. Unit pengambilan keputusan mengekspresikan loyalitas merek berkenaan dengan satu atau lebih alternatif merek dalam serangkaian merek
6. Merek merupakan fungsi dari proses-proses psikologis (pengambilan keputusan, evaluatif)
Merek, sangat penting dalam situasi persaingan yang tidak terkendali. Pelangan paling mudah untuk mengenali merek dibandingkan atribut-atribut lain yang melekat pada suatu produk. Merek yang sukses dipersepsi oleh pelanggan akan memberikan nilai superior. (Tandjung, 2004:57)
2.2.2.2. Tujuan Pemberian Merek
a. Jaminan bagi konsumen
Pengusaha menjamin bahwa barang yang dibeli sungguh berasal dari perusahaannya. Ini adalah untuk menyakinkan pihak konsumen membeli suatu dari merek dan pengusahaan yang dikehendaki, yang cocok denagn selerahnya, keinginannya dan juga kemampuannya b. Jaminan mutu barang
Dengan adanya merek ini perusahaan menjamin bahwa mutu barang yang dikeluarkannya berkualitas baik sehingga dalam barang tersebut selain daripada merek juga disebutkan peringatan
c. Pengingat
Pengusaha memberikan nama pada merek barangnya supaya mudah diingat dan disebut sehingga konsumen dapat menyebutkan mereknya saja.
2.2.2.3. Manfaat Merek
Merek dapat memberikan nilai bagi perusahaan dengan lima cara (Tandjung, 2004:61):
1. Merek yang kuat biasanya memiliki harga yang lebih mahal. 2. Merek yang kuat mendapat sejumlah pangsa pasar yang lebih besar. 3. Merek yang sukses memiliki pelanggan lebih setia sehingga
penghasilan perusahaan lebih stabil dan mengurangi resiko penjual. 4. Merek yang sukses memiliki pertumbuhan jangjka panjang yang
5. Perusahaan dengan merek-merek sukses lebih mudah untuk melakukan rekuitmen karena calon karyawan lebih suka bergabung dengan perusahaan yang sukses.
2.2.2.4. Kebaikan dan Keburukan Merek
Penggunaan merek pada barnag dapat memberikan keuntungan atau manfaat bagi kedua belah pihak, baik pembeli maupun penjual. Berikut adalah Keuntungan penggunaan merek bagi pembeli dan penjual (Swastha, 2000:137):
1. Keuntungan penggunaan merek bagi pembeli
a. Mempermudah pembeli dalam mengenal barang yang diinginkan. b. Pembeli dapat mengandalkan keseragaman kualitas
barang-barang yang bermerek.
c. Melindungi konsumen, karena dari merek barang dapat diketahui perusahaan yabng membuatnya.
d. Barang-barang yang bermerk cenderung untuk ditingkatkan kualitasnya, karena perusahaan yang memiliki merek tersebut akan berusahya mempertahankan dan meningkatkan nama baik mereknya.
2. Keuntungan penggunaan merek bagi penjual
a. Membantu program periklanan dan peragaan perusahaan.
b. Membantu meningkatkan pengawasan terhadap barang yang dijual.
d. Membantu dalam stabulisasi harga. e. Mengurangi pembandingan harga. f. Mempermudah perluasan product mix. 3. Alasan-alasan untuk tidak menggunakan merek
Adapun alasan-alasan bagi penjual/produsen untuk tidak menggunakan merek pada barang-barang yang dijualnya antara lain: a. Pertimbangan perusahaan
Dapat terjadi bahwa konsumen tidak merasa puas terhadap barang yang telah dibelinya, baik mengenai mutu, harga, maupun servis penjual. Adanya ketidakpuasan konsumen tersebut akan berakibat tidak menguntungkan bagi perusahaan. Apabila pemiliknya produsen, maka konsumen akan mencari barang yang sama pada perantara. Di sini, konsumen menjadi ragu-ragu untuk membeli kembali tidak hanya barang yang sama tetapi juga barang lain yang mempunyai merek sama.
b. Sifat barang
ditanggung oleh perusahaan sangat besar karena kerusakan barang seiring merusak nama baik mereknya.
2.2.2.5. Ekuitas Merek
Ekuitas merek berhubungan dengan nama merek yang dikenal, kesan kualitas, aosisasi merek yang kuat dan aset-aset lainnya seperti paten, dan merek dagang. Jika pelanggan tertarik pada satu merek dan membeli karena karakteristik produk, harga kenyamanan, dan dengan sedikit memperdulikan mereka, kemungkinan ekuitas merek rendah. Sedangkan jika para pelanggan cenderung membeli suatu merek wakaupun dihadapkan pada para pesaing yang menawarkan produk yang lebih unggul, misalnya dalam hal harga dan kepraktisan, maka merek tersebut memiliki nilai ekuitas yang tinggi. (Astuti, 2007:146)
A. Brand Awareness (Kesadaran Merek)
Konsumen cenderung membeli merek yang sudah dikenal karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang dikenal. Dengan kata lain, sebuah merek yang dikenal mempunyai kemungkinan bisa diandalkan, kemantapan dalam bisnis, dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan.
Menurut Tandjung (2004:54), Brand Awareness adalah kemampuan pembeli potensial untuk mengenali atau mengingat sebuah merek untuk kategori produk tertentu.
Menurut Aaker (1996:10) dalam Astuti (2007:146) Brand awareness adalah kekuatan keberadaan sebuah merek dalam pikiran
pelanggan. Kekuatan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan konsumen dalam mengingat sebuah merek. Kesadaran merek dapat membantu mengkaitkan merek dengan asosiasi yang diharapkan oleh perusahaan, menciptakan familiarity konsumen terhadap merek, dan menunjukkan komitmen kepada pelanggannya. Tingkat kesadaran merek berkisar dari tingkat recogaize the brand yaitu konsumen dapat mengenal suatu merek, sampai pada tingkat di mana merek menjadi dominant brand recalled, merek sebagai satu-satunya yang diingat dan menjadi
indentitas kategori produk.
Saat pengambilan keputusan pembelian konsuemn dilakukan, kesadaran merek memgang peran penting. Merek menjadi bagian dari consideration set sehingga memungkinkan preferensi konsumen untuk
memilih merk tersebut. Pelanggan cenderung membeli merek yang sudah terkenal karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang dikenal kemungkinan bisa dihandalkan, dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan.
B. Brand Association
Menurut Tandjung (2004:59), Asosiasi merek adalah segala sesuatu yang “terjalin” di dalam ingatan sebuah merek.
pada pengalaman untuk mengkomunikasikannya. Juga akan lebih kuat apabila kaitan itu didukung dengan suatu jaringan dari kaitan-kaitan lain. Sebuah merek adalah seperangkat asosiasi, biasanya terangkai dalam berbagai bentuk yang bermakna.
Menurut Simamora (2000:3) asosiasi merek adalah persepsi dan citra yang dikaitkan oleh orang dengan merek tertentu. Patut dicatat bahwa asosiasi merek dapat pula negatif dan hal ini dapat mengurangi atau memotong ekuitas sebuah merek.
Asosiasi merek adalah hal yang berkaitan dengan ingatan pelanggan mengenai merek, yang dapat dirangkai sehingga membentuk citra merek di dalam pikiran pelanggan (Astuti, 2007:152).
Menurut Astuti (2007:14) asosiasi merek adalah apapun yang terkait dalam ingatan (memory) pelanggan pada suatu merek. Asosiasi spesifik suatu merek di pikiran pelanggan didasarkan pada beberapa tipe asosiasi, yaitu :
a. Atribut berwujud, merupakan karekteristik produk. b. Atribut-atribut tidak berwujud.
c. Manfaat bagi pelanggan, yaitu manfaat rasional dan manfaat psikologis.
d. Harga relatif.
e. Penggunaan atau aplikasi.
h. Gaya hidup atau kepribadian. i. Kelas produk.
j. Pesaing.
k. Negara atau wilayah geografis suatu produk
C. Brand Loyalty
Kesetiaan merek pada pelanggan adalah inti ekuitas merek. Jika seseorang pelanggan masih mempersoalkan harga, kenyamanan, dan lain-lain, maka sesungguhnya merek tersebut belum memiliki ekuitas yang cukup tinggi. Ada beberapa tingkatan kesetiaan terhadap merek: yang paling mendasar yaitu pembeli yang beranggapan bahwa semua merek sama. Jadi, merek hanyha memiliki pesan yang kecil dalam keputusan pembelian. Mereka itu sering disebut switchers / price buyer atau orang yang tidak setia terhadap merek (no brand loyalty).
yang membanggakan, pengalaman menggunakan merek tersebut atau persepsi yang cukup tinggi terhadap kualitas merek tersebut.
Oleh karena itu, mereka biasanya tidak dapat menjelaskan mengapa memilih merek tersebut. Ini disebabkan karena faktor emosional. Mereka sangat bangga menggunakan merek tersebut dan merekomendasikan kepada orang lain untuk menggunakan merek tersebut. (Tandjung, 2004:67)
Brand Loyalty menciptakan nilai terhadap produk/jasa dalam
empat cara sebagai berikut (Tandjung, 2004:68): 1. Mengurangi Biaya-Biaya Pemasaran
Kesetiaan pelanggan terhadap merek tertentu akan mengurangi biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan pelanggan baru. Di samping itu, akan merupakan kendala bagi pesaing untuk merebut pelanggan yang sudah ada.
2. Pengungkit Perdagangan / Trade Leverage
Kesetiaan terhadap merek akan mendorong pelanggan untuk membeli produk dengan ukuran yang baru, variasi baru atau produk-produk lain karena perluasan merek.
3. Menarik Pelanggan Baru
4. Waktu untuk Menanggapi Ancaman Persaingan
Bila pesaing mengeluarkan produk unggulan, maka pelanggan yang setia terhadap merek tertentu masih mau menunggu sampai perusahaan tersebut mengeluarkan produk yang sama.
D. Perceived Quality
Perceived Quality dapat didefinisikan sebagai persepsi
pelanggan terhadap kaulitas secara keseluruhan dari sebuah produk atau jasa. Tentunya, persepsi kualitas yang dinilai oleh pelanggan harus membandingkan dua atau lebih objek yang setara. (Tandjung, 2004:64)
Menurut Astuti (2007:151) perceived quality merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas suatu produk.
Kesan kualitas adalah : ”customer perception of overall quality or superiority of a product or service with respect to its intended
purpose, relative to alternatives” (Aaker, 1991:85) dalam Astuti
(2007:147).
Dimensi kualitas merek dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu kinerja merek, fitur, kesesuaian dengan spesifikasi, kehandalan, ketahanan, dan serviceability. Pada kelas produk tertentu, dimensi penting dapat dilihat langsung oleh pelanggan melalui penilaian kualitas secara keseluruhan misalnya banyaknya busa yang dihasilkan oleh detergen menandakan kemampuan membersihkan yang lebih efektif.
Perceived Quality menciptakan bilai terhadap produk atau jasa
dalam lima cara (Tandjung, 2004:64): 1. Alasan untuk membeli
Perceived Quality terjalin erat dengan keputusan untuk melakukan
pembelian. Ini dapat menyebabkan elemen program pemasaran lebih efektif. Jika Perceived Quality tinggi, tugas bagian promosi akan lebih efektif.
2. Posisi
Sebuah merek pasti memiliki posisi tertentu: apakah kelas ekonomi, lux atau super lux. Semua akan berpengaruh terhadap nilai yang diharapkan oleh konsumen.
3. Harga Mahal
Suatu merek yang dipersepsi memiliki kualitas yang tinggi akan dengan mudah menetapkan harga yang relatif tinggi pula. Dampak bagi perusahaan, keuntungan akan meningkat.
4. Minat para pengecer/distributor
Perceived Quality sangat berarti bagi pengecer dan distributor.
produk/jasa yang dipasarkan. Pengecer atau distributor yang menjual produk merek global tentu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pedagang perantara yang memasarkan produk/jasa bukan merek yang terkenal.
5. Perluasan merek
Produk atau jasa yang dipersepsi berkualitas akan lebih mudah untuk melakukan perluasan merek dengan menghadirkan kategori produk atau jasa baru.
Konsumen sering menghakimi suatu kualitas produk atau layanan berdasarkan beragam informasi isyarat yang diasosiasikan dengan produk. Beberapa isyarat bersifat intrinsic ke produk atau ke layanan. Salah satu isyarat adalah dasar persepsi dari suatu produk dan kualitas layanannya.
Menurut Wiliam, dkk (1994) dalam Istiyono, dkk (2007:185) Perceived product value digambarkan sebagai pengurangan antara
perceived benefit (atau kualitas) atas produk dengan perceived dari
pengorbanan, bak pengorbanan moneter maupun non-moneter, untuk mendapatkan produk atau jasa tersebut.
2.2.2.6. Syarat Memilih Merek
a. Mudah diingat
Memilih merek sebaiknya mudah diingat, baik kata-katanya maupun gambarnya atau kombinasinya sebab dengan demikian langganan atau calon langganan mudah mengingatnya.
b. Menimbulkan kesan positif
Dalam memberikan merek harus dapat diusahakan yang dapat menimbulkan kesan positif terhadap barang atau jasa yang dihasilkan bukan kesan yang negatif.
c. Tepat untuk promosi
Selain kedua syarat di atas, maka untuk merek tersebut sebaiknya dipilih yang bagaimana dipakai promosi sangat baik Merek yang mudah diingat dan dapat menimbulkan kesan yang positif sudah barang tentu akan baik bilamana dipakai untuk promosi.
2.2.3. Minat Pembelian
2.2.3.1.Pengertian Minat Pembelian
Minat beli menurut Assael (1998) merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
Pengertian minat beli menurut Howard (1994) adalah minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. Hal ini sangat diperlukan oleh para pemesar untuk mengetahui minat beli konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi menggunakan variabel minat untuk memprediksi perilaku konsumen di masa yang akan datang.
Bearman (2001) mengemukakan bahwa tumbuhnya minat beli seseorang diakibatkan oleh unsur-unsur yang terdiri dari 3 tahapan:
1.Rangsangan
Rangsangan merupakan suatu syarat untuk ditujukan untuk mendorong atau menyebabkan seseorang bertindak.
2.Kesadaran
Kesadaran merupakan sesuatu yang memasuki pemikiran seseorang. Kesadaran dipengaruhi oleh produk dan jasa itu sendiri.
3.Pencarian Informasi
Aspek pencarian informasi ini terbagi menjadi 6 bagian, yaitu : Informasi intern
Informasi ekstern
Informasi yang diperoleh dari luar konsumen itu, misalnya melalui iklan ataupun sumber sosial (teman, keluarga, dan kolega).
Memastikan sifat yang khas dari pemilihan yang ada.
Konsumen membandingkan beberapa produk yang sejenis kemudian memilih salah satu produk yang dianggap mampu memuaskannya. Pemilihan alternatif
Tahap ini dilakukan jika konsumen menghadapi pilihan yang sulit terhadap produk ataupun jasa yang telah ada.
Pembelian
Suatu tahap dimana konsumen benar-benar bertindak untuk melakukan pembelian atas barang atau jasa yang telah dipilihnya. Tempat dimana membeli
Tempat pembelian merupakan salah satu pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian. Perusahaan yang memiliki Corporate Image yang baik di mata konsumen akan merangsang konsumen
untuk melanjutkan pembeliannya.
2.2.3.2.Yang Menentukan Keterlibatan Konsumen
Tingkat keterlibatan didalam keputusan konsumen menurut Lamb, et,al (2001:197), tergantung pada lima faktor :
1. Pengalaman sebelumnya
2. Minat (interst)
Keterlibatan berhubungan langsung kepada minat para konsumen. 3. Risiko
Seperti risiko yang dirasakan dalam pembelian suatu produk atau jasa meningkat maka keterlibatan konsumen juga tinggi termasuk risiko keuangan, risiko psikologis.
4. Situasi
Keadaan pembelian akan mengubah keputusan atas keterlibatan yang rendah menjadi keterlibatan yang tinggi.
5. Pandangan sosial
Keterlibatan juga meningkatkan sebagai pandangan sosial dari meningkatnya produk atau jasa.
2.2.4. Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Minat Pembelian
Merek sangat penting dalam situasi persaingan yang tidak terkendali. Pelanggan paling mudah untuk mengenali merek dibandingkan atribut-atribut lain yang melekat pada suatu produk atau jasa. Merek yang sukses dipersepsikan oleh pelanggan akan memberikan nilai superior. (Tandjung, 2004:57)
melalui strategi pemasaran yang tepat, perusahaan akan mampu membangun mereknya. Dengan demikian merek dapat memberi nilai yang ditawarkan oleh produk kepada pelanggannya yang dinyatakan sebagai merek yang memiliki ekuitas produk kepada pelanggannya yang dinyatakan sebagai merek yang memiliki ekuitas merek.
Salah satu kunci sukses dari strategi pemasaran adalah pengembangan produk dan promosi yang sesuai dengan kebutuhan target pasar. Dengan demikian produk yang berhasil adalah produk yang dapat diterima konsumen dengan harga, atribut dan tampilan yang memenuhi kebutuhan konsumen. Untuk itu produsen perlu mengetahui bagaimana konsumen memandang produk-produk dan progam pemasarannya. Bagi perusahaan tanggapan konsumen terhadap produk yang dihasilkannya adalah sangat penting, termasuk penilaian konsumen terhadap atribut-atribut produk. Penilaian konsumen ini akan mempengaruhi niat konsumen. Niat merupakan satu faktor internal (individual) yang mempengaruhi perilaku konsumen, niat adalah suatu bentuk pikiran yang nyata dari refleksi rencana pembeli untuk membeli beberapa unit dalam jumlah tertentu dari beberapa merek yang tersedia dalam periode waktu tertentu (Schiffman dan Kanuk, 2000: 206). Dalam proses pembelian, niat beli konsumen ini berkaitan erat dengan motif yang dimilikinya untuk memakai ataupun membeli produk tertentu. Motif pembelian ini berbeda-beda untuk setiap konsumen. (Sigit, 2006:82)
tergantung pada pengetahuannya akan informasi tentang fungsi sebenarnya dari atribut produk tersebut, dengan demikian niat beli konsumen terhadap suatu produk secara tidak langsung dipengaruhi oleh pengetahuannya akan informasi atribut suatu produk.
Menurut Theory of Reasoned Action dari Fishbein dan Ajzen, tindakan seseorang adalah realisasi dari keinginan atau niat seseorang untuk bertindak. Faktor yang mempengaruhi niat adalah sikap pada tindakan, dan norma subyektif menyangkut persepsi seseorang, apakah orang lain yang dianggap penting akan mempengaruhi perilakunya (Dharmmesta, 1998 dalam Sigit, 2006:82).
Dengan ekuitas merek yang melekat pada suatu produk, dapat menjadi pelanggan tertarik dengan produk tersebut. Karena ekuitas merek berhubungan dengan nama merek yang dikenal, kesan kualitas, aosisasi merek yang kuat dan aset-aset lainnya. Jika pelanggan tertarik pada satu merek dan membeli karena karakteristik produk, harga kenyamanan, dan dengan sedikit memperdulikan mereka, kemungkinan ekuitas merek rendah. Sedangkan jika para pelanggan cenderung membeli suatu merek wakaupun dihadapkan pada para pesaing yang menawarkan produk yang lebih unggul, misalnya dalam hal harga dan kepraktisan, maka merek tersebut memiliki nilai ekuitas yang tinggi. (Astuti, 2007:146)
2.4. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah serta tujuan
3.1. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel
3.1.1.Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan
penelitian ini maka variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Variabel Ekuitas Merek (X)
Ekuitas merek adalah seperangkat asosiasi dan perilaku yang dimiliki
oleh pelanggan dimana dari seperangkat asosiasi tersebut dapat
memimbulakan minat untuk melakukan pembelian oleh konsumen.
Dengan dimensi sebagai berikut:
1. Perceived Brand Quality (X1)
Merupakan kesan atau persepsi konsumen atas kualitas pada suatu
produk merek tertentu. Indikator yang digunakan untuk mengukur
Perceived Brand Quality adalah (Istiyono, 2007:187):
a. Kualitas Merek(X1.1)
Merupakan tingkatan dimana sebuah merek produk sesuai
dengan harapan dan spesifikasi yang diinginkan oleh pelanggan
b. Merek Terbaik (X1.2)
Merupakan suatu tingkatan sebuah merek yang lebih unggul
dibandingkan dengan merek yang lainnya
c. Konsistensi Merek (X1.3)
Merupakan tingkat konsisten sebuah merek dengan kualitas
2. Perceived Brand Value for The Cost (X2)
Merupakan kesan atau persepsi konsumen dalam membayar lebih
untuk suatu produk dengan merek tertentu. Indikator yang
digunakan untuk mengukur Perceived Brand Value for The Cost
adalah (Istiyono, 2007:187):
a. Merek Sebanding Biaya (X2.1)
Merupakan tingkat biaya yang dikeluarkan oleh konsumen yang
sesuai dengan merek dari produk yang dibeli
b. Merek adalah pilihan terbaik (X2.2)
Merupakan tingkat keunggulan sebuah merek sehingga menjadi
pilihan yang terbaik untuk dikonsumsi
c. Good Value for The Money (X2.3)
Merupakan suatu nilai yang dikeluarkan oleh konsumen dalam
mendapatkan produk dengan merek yang dikehendaki
d. Biaya yang dikeluarkan adalah layak (X2.4)
Merupakan tingkat biaya yang harus dibayar oleh konsumen
sesuai dengan tingkat kualitas yang diterima
3. Brand Uniqueness (X3)
Merupakan asosiasi yang berhubungan dengan keunikan merek yang
tercipta pada suatu produk perusahaan. Indikator yang digunakan
untuk mengukur Brand Uniqueness adalah (Istiyono, 2007:187):
a. Merek berbeda dengan merek lain (X3.1)
Merupakan tingkat perbedaan merek suatu produk dengan merek
b. Merek benar-benar menonjol (X3.2)
Merupakan keunggulan yang dimiliki oleh merek dari suatu
produk yang tidak dimiliki oleh merek lainnya
c. Merek unik dibanding yang lain (X3.3)
Merupakan tingkat perbedaan yang melekat pada merek yang
mencerminkan kualitas merek tersebut
b. Variabel Minat Pembelian (Y)
Merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau
mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur
dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
Indikator yang digunakan untuk mengukur minat pembelian adalah
(Augusti Ferdinand, 2005:76-78):
Intensitas Promosi (Y1)
Merupakan frekuensi kegiatan promosi yang dilakukan oleh
penyedia merek produk untuk mengenalkan produknya.
Keinginan Membeli (Y2)
Merupakan keinginan dari konsumen untuk membeli merek tersebut
karena manfaat yang diperoleh.
Kecenderungan Memilih (Y3)
Merupakan tingkat kesukaan konsumen terhadap suatu merek
3.1.2.Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala
interval yang menggunakan semantic defferensial scale atau skala
perbedaaan semantik berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua
kutup). kala sematik dibentuk sepanjang garis kontinu secara verbal yang
menyatakan 2 kutub (bipolar) secara ekstrim. Selain itu pada skala
perbedaan simantik, responden diminta untuk menjawab atau memberikan
penilaian terhadap suatu konsep atau objek tertentu (Riduwan, 2003:18). S
Digunakan jenjang 7 dalam penelitian ini mengikuti pola sebagai
berikut, misalnya :
3.2. Teknik Penentuan Sampel
3.2.1.Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. (Sugiyono, 2003:55). Populasi dalam penelitian ini adalah
masyarakat di Surabaya.
3.2.2.Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2003:56). Teknik penarikan sampel
dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling yaitu teknik
Meleset Sesuai
pengambilan sampel secara kebetulan atau siapapun dan dimanapun ditemui
peneliti sebagai responden. (Sugiyono, 2008:82).
Pedoman pengukuran sample menurut Ferdinand (2002 : 48) :
1. 100-200 sampel untuk teknik maksimum likelihood estimation.
2. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi. Pedomannya adalah
5-10 kali jumlah parameter yang diestimasi.
3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh
variabel laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5-10. Bila
terdapat 20 parameter yang diestimasi maka besar sampel yang harus
diperoleh 100-200 responden.
Untuk menentukan jumlah sampel dengan tingkat kesalahan 5% dan
tingkat kepercayaan 95% maka digunakan rumus Solvin adalah sebagai
berikut : (Kriyantono, 2006:160)
2
Jadi sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah 100 orang
masyarakat Surabaya yang berminat untuk membeli dan mengkonsumsi
multivitamin Fatigon.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
3.3.1.Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang
diolah dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada
konsumen yang membeli produk multivitamin Fatigon.
3.3.2.Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil penyebaran kuesioer
serta data perusahaan yang dapat mendukung penelitian ini.
3.3.3.Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan
beberapa cara berikut :
a. Wawancara
Wawancara yang dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab
secara langsung kepada responden. Teknik ini dilakukan untuk
menanggapi responden yang kurang jelas dalam menjawab kuesioner
untuk mempermudah penulisan tentang masalah yang diselidiki dalam
penelitian.
b. Kuisioner
Merupakan daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban
3.4. Teknik Analisis Dan Uji Hipotesis
3.4.1.Teknik Analisis SEM
Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini
adalah Structural Equation Model (SEM). SEM adalah sekumpulan
teknik-teknik statistikal yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian
hubungan yang relatif "rumit" secara simultan. Hubungan yang rumit itu
dapat dibangun antara satu atau beberapa variabel dependen dengan satu
atau beberapa variabel independen. Masing-masing variabel dependen dan
independen dapat berbentuk faktor (konstruk) yang dibangun dari beberapa
variabel indikator. Tentu saja variabel-variabel itu dapat berbentuk variabel
tunggal yang diobservasi atau yang diukur langsung dalam sebuah proses
penelitian. Model pengukuran variable kepuasan konsumen dan loyalitas
pelanggan yang menggunakan Confirmatory Factor Analysis. Penaksiran
pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya
menggunakan koefisien jalur. Langkah-langkah dalam analisis SEM model
pengukuran dengan contoh faktor preferensi atribute dilakukan sebagai
berikut:
Persamaan Dimensi Faktor Kesan Kualitas
X1.1 = λ11 Faktor Kesan Kualitas + er_1
X1.2 = λ12 Faktor Kesan Kualitas + er_2
X1.3 = λ13 Faktor Kesan Kualitas + er_3
Bila persamaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran model
untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor analysis,
maka model pengukuran dengan contoh faktor preferensi akan nampak
Faktor Kesan Kualitas
Persamaan Dimensi Faktor kesadaran merek
X2.1 = λ21 Faktor Kesadaran Merek + er_4
X2.2 = λ22 Faktor Kesadaran Merek + er_5
X2.3 = λ23 Faktor Kesadaran Merek + er_6
X2.4 = λ24 Faktor Kesadaran Merek + er_7
Bila persamaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran model
untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor analysis,
maka model pengukuran dengan contoh faktor preferensi akan nampak
sebagai berikut :
Faktor Kesadaran Merek
Persamaan Dimensi Faktor Keunikan Merek
X3.1 = λ31 Faktor Keunikan Merek + er_8
X3.2 = λ32 Faktor Keunikan Merek + er_9
X3.3 = λ33 Faktor Keunikan Merek + er_10
Bila persamaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran model
untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor analysis,
maka model pengukuran dengan contoh faktor preferensi akan nampak
sebagai berikut :
Faktor Keunikan Merek
Persamaan Dimensi Faktor Minat Pembelian
Y1 = Y1 Faktor Minat Pembelian + er_11
Y1 = Y2 Faktor Minat Pembelian + er_12
Y1 = Y3 Faktor Minat Pembelian + er_13
Bila persamaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran model
untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor analysis,
maka model pengukuran dengan contoh faktor preferensi akan nampak
sebagai berikut :
Faktor Keunikan Merek
X31
er_12 Minat Pembelian
3.4.2.Asumsi Model (Structural Equation Model)
a. Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas
1. Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar histogram data atau
dapat diuji dengan metode-metode statistik.
2. Menggunakan Critical Ratio yang diperoleh denga membagi
koefisien sampel dengan standard errornya dan Skewness value yang
biasanya disajikan dalam statistik deskriptif dimana nilai statistik
untuk menguji normalitas itu disebut sebagai Z-value. Pada tingkat
signifikasi 1%, jika nilai Z lebih besar dari nilai kritis, maka dapat
diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal.
3. Normal Probability Plot (SPSS 10.1).
4. Linieritas dengan mengamati scatterplotsdari data yaitu dengan
memilih pasangandata dan dilihat pola penyebarannya untuk
menduga ada tidaknya linieritas.
b.Evaluasi atas Outlier
1. Mengamati nilai Z-score : ketentuannya diantara ± 3.0 non outlier.
2. Multivariate Outlier diuji dengan kriteria jarak Mahalonobis pada
tingkat p < 0.001. Jarak diuji dengan Chi-Square (χ) pada df sebesar
jumlah variabel bebasnya. Ketentuan : bila Mahalanobis > dari nilai χ
adalah multivariate outlier.
Outlier adalah obsevasi atau data yang memiliki karakteristik unik
yang terlihat sangat berbeda jauh dari obsevasi-observasi lainnya dan
muncul dalam bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal
c.Deteksi Multicollinierity dan Singularity
Deteksi dengan mengamati Determinant matriks covarians. Dengan
ketentuan apabila determinant sample matrix mendekati angka 0 (kecil),
maka terjadi multikolinieritas dari singularitas (Tabachnick dan Fidell,
1998)
d. Uji Validitas dan Reliabilitas
Dimensi yang diukur melalui indikator-indikator dalam daftar
pertanyaan perlu dilihat reliabilitasnya dan validitas, dalam hal ini
dijelaskan sebagi berikut:
a.Uji Validitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah
indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa
yang seharusnya diukur. Karena indikator multidimensi, maka uji
validitas dari setiap latent variabel/ construct akan diuji dengan
melihat loading faktor dari hubungan antara setiap observed variabel
dan latent variabel.
b.Uji Reliabilitas
Adalah ukuran mengenai konsistensi internal dari indikator-indikator
sebuah konstruk yang menunjukkan derajat sampai dimana
masing-masing indikator itu mengidikasikan sebuah konstruk yang umum.
Sedangkan reliabilitas diuji dengan construct reliability dan variance
extraced. Construct reliability dan Variance extraced dihitung
(Standardize Loading) secara umum, nilai construct reliability yang
dapat diterima adalah ≥ 0,7 dan variance extracted ≥ 0,5 (Hair et.al.,
1998). Standardize Loading dapat diperoleh dari out put AMOS 4.01,
dengan melihat nilai estimasi setiap construct standardize regression
weigths terhadap setiap butir sebagai indikatornya
3.4.3.Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal
Pengaruh langsung (koefisien lajur) diamati dari bobot regresi
terstandar, dengan pengujian signifikansi pembanding nilai CR (Critical
Ratio) atau p (probability) yang sama dengan nilai t hitung. Apabila t hitung
lebih besar dari pada t table berarti signifikan.
3.4.4.Pengujian model dengan One-Step Approach
Dalam model SEM, model pengukuran dan model structural
parameter-parameternya dieliminasi secara bersama-sama. Cara ini agak
mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan fit model. Kemungkinan
terbesar disebabkan oleh terjadinya interaksi antara measurementmodel dan
structural model yang diestimasi bersama (One Step Approach to SEM)
yang digunakan apabila model diyakini bahwa dilandasi teori yang kuat
3.4.5.Pengujian model dengan Two-Step Approach
Two-Step Approach digunakan untuk mengatasi masalah sampel
data yang relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah butir instrumentasi
yang digunakan (Hartline & Ferrel, 1996), dan keakuratan realibilitas
indikator-indikator terbaik dapat dicapai dalam two-step approach.
Two-Step Approach bertujuan untuk menghindari interaksi antara model
pengukuran dan model struktual pada One-Step Approach (Hair, et.al.,
1998).
Yang dilakukan dalan two-step approach to SEM adalah : estimasi
terhadap measurement model dan estimasi terhadap structural model
(Anderson dan Gerbing, 1988). Cara yang dilakukan dalam menganalisis
SEM dengan two-step approach adalah sebagai berikut :
a. Menjumlahkan skala butir-butir setiap konstruk menjadi sebuah
indikator summed-scale bagi setiap konstruk. Jika terdapat skala yang
berbeda setiap indikator tersebut distandarisasi (Z-scores) dengan mean
= 0, deviasi standar = 1, yang tujuannya adalah untuk mengeliminasi
pengaruh-pengaruh skala yang berbeda tersebut (Hair, et.al., 1998).
b. Menetapkan error (ε) dan lambda (λ) term, error term dapat dihitung
dengan rumus 0,1 kali σ2 dan lambda term dengan rumus 0,95 kali σ
(Anderson dan Gerbing, 1988).
Perhitungan construk reliability (α) telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya dan deviasi standar (σ) dapat dihitung dengan bantuan program
aplikasi statistik SPSS. Setelah error (ε) dan lambda (λ) terms diketahui,
skor-skor tersebut dimasukkan sebagai parameter fix pada analisis model
3.4.6.Evaluasi Model
Hair et.al., (1998) menjelaskan bahwa pola "confirmatory"
menunjukkan prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas
hipotesis-hipotesis dengan pengujian fit antara model teoritis dan data
empiris. Jika model teoritis menggambarkan "good fit" dengan data, maka
model dianggap sebagai yang diperkuat. Sebaliknya, suatu model teoritis
tidak diperkuat jika teori tersebut mempunyai suatu "poor fit" dengan data.
Amos dapat menguji apakah model "good fit"atau "poor fit". Jadi "good fit"
model yang diuji sangat penting dalam penggunaan structural equation
model.
Pengujian terhadap model yang dikembangkan dengan berbagai
kriteria Goodness of Fit, yakni Chi-square, Probabilty, RMSEA, GFI, TLI,
CFI, AGFI, CMIN/ DF. Apabila model awal tidak good fit dengan data
maka model dikembangkan dengan pendekatan two step approach to SEM.
Tabel 3.2. Goodness of Fit Indices GOODNESS
OF FIT INDEX KETERANGAN CUT-OF VALUE
X²- Chi square Menguji apakah covariance populasi yang
diestimasi sama dengan covariance sample [apkah model sesuai dengan data].
Diharapkan kecil, s.d 5 atau paling baik diantara 1dan 2 Probability Uji sigifikansi terhadap perbedaan matriks
covariance data dan matriks covariance yang diestimasi.
Minimum 0,1 atau 0,2 atau ≥ 0,05
RMSEA Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada
sample besar.
≤ 0,08
GFI
Menghitung proporsi tertimbang varians dalam matriks sample yang dijelaskan oleh matriks covariance populasi yang diestimasi [analog dengan R² dalam regresi berganda]
≥ 0,09
AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF ≥ 0,09
CMIND/DF Kesesuaian antara data dan model ≤ 2,00
TLI Pembandingan antara model yang diuji terhadap
baseline model. ≥ 0,95
CFI Uji kelayakkan model yang sensitive terhadap
besarnya sample dan kerumitan model. ≥ 0,94
1. X²- Chi Square Statistic
Alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah
Likelihood Ratio Chi-Square Statistic. Chi-Square ini bersifat sangat
sensitif terhadap besarnya sampel yang digunakan. Karenanya bila
jumlah sampel cukup besar (lebih dari 200), statistik Chi-Square ini
harus didampingi oleh alat uji lain. Model yang diuji akan dipandang
baik atau memuaskan bila nilai Chi-Square-nya rendah. Semakin kecil
nilai X² semakin baik model itu. Karena tujuan analisis adalah
mengembangkan dan menguji sebuah model yang sesuai dengan data
atau yang fit terhadap data, maka yang dibutuhkan justru sebuah nilai X²
yang kecil dan tidak signifikan.
X² bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yaitu terhadap
sampel yang telalu kecil maupun yang terlalu besar. Penggunaan
Chi-Square hanya sesuai bila ukuran sampel antara 100 dan 200. Bila
ukuran sampel ada diluar rentang itu, uji signifikan akan menjadi kurang
reliabel. Oleh karena itu pengujian ini perlu dilengkapi dengan alat uji
yang lain.
2. RMSEA- The Root Mean Square Erorr of Approximation
RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan mengkompensasi
Chi-Square Statistik dalam sampel yang besar. Nilai RMSEA
menunjukkan Goodness-Of -Fit yang dapat diharapkan bila model
diestimasi dalam populasi nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama
menujukkan sebuah close fit dari model itu berdasakan Degress Of
Freedom.
3. GFI- Goodness of Fit Index
GFI adalah analog dari R² dalam regresi berganda. Indeks kesesuaian ini
akan menghitung proporsi tertimabang dari varian dalam matriks
kovarians sampel yang dijelaskan oleh matriks kovarians populasi yang
terestimasi. GFI adalah sebuah ukuran non-statistikal yang mempunyai
rentan nilai antara 0 (Poor Fit) sampai dengan 1,0 ( Perfect Fit). Nilai
yang tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah "better fit".
4. AGFI-Adjusted Goodness of Fit Index
AGFI = GFI/ DF tingkat penerimaan yang rekomendasikan adalah bila
AGFI mempunyai nilai sama dengan atau lebih besar dari 0,90. GFI
maupun AGFI adalah kriteria yang memperhitungkan proporsi
tertimbang dari varian dalam sebuah matriks kovarians sampel. Nilai
sebesar 0,95 dapat diinterpretasikan sebagai tingkatan yang baik (Good
Overal Model Fit) sedangkan besaran nilai antara 0,90 sampai 0,95
menunjukkan tingkatan cukup (Adequate Fit).
5. TLI-Tucker Lewis Index
TLI adalah sebuah alternatif incremental fit indeks yang
membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline
model. Nilai yang direkomendasikan sebagi acuan untuk diterimanya
sebuah model adalah penerimaan ≥ 0,95 dan nilai yang sangat
6. CMIN/ Df sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya
sebuah model. Dalam hal ini CMIN/ DF tidak lain adalah statistik
Chi-Square, X² dibagi DF-nya sehingga disebut X² relatif. Nilai X² relatif
kurang dari 2,0 atau bahkan kadang kurang dari 3,0 adalah indikasi dari
acceptable fit antara model dan data. Nilai X² relatif yang tinggi
menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara matriks kovarians
yang diobservasi dan yang diestimasi.
7. CFI/ Comparative Fit Index
Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0,1 dan semakin
mendekati 1, mengindikasikan tingkat fit yang paling tinggi (A Very
Good Fit). Nilai yang direkomendasikan adalah CFI > 0,95.
Keunggulan dari indeks ini besarannya tidak dipengaruhi oleh ukuran
sampel karena itu sangat baik untuk mengkur tingkat penerimaan
sebuah model. Indeks CFI adalah identik dengan Relative Noncentrality
4.1.Gambaran Umum Obyek Penelitian
4.1.1. Sejarah Perusahaan
Nama besar Kalbe tak bisa dipisahkan dari nama besar lain
dibelakangnya yaitu Boenyamin Setiawan Ph.D kelahiran Tegal, 23
September 1933. Dokter lulusan FKUI tahun 1958 meraih gelar doktor
(S3) tiga tahun kemudian (1961) bidang farmasi dari California University,
Sanfaransisco, AS. Mimpinya untuk membuat produk farmasi sempat dua
kali gagal. Setelah bahu-membahu dengan kakak dan adiknya ia berhasil
menmbangun Kalbe. Dokter Boen-demikian panggilan akrabnya- kini
menjabat sebagai Presiden Komisaris, sementara Presiden Dokter dijabat
oleh Johannes Setijono.
Tahun 1960-an perusahaan farmasi di Indonesia masih sangat
sedikit. Yang tergolong besar mungkin baru 2 – 3 buah. Belum ada
perusahaan asing karena kebijakan pemerintahan Bung Karno yang
anti-asing ketika itu. Walau demikian, produk obat anti-asing sudah banyak beredar
namun harganya sangat mahal. Kalbe didirikan pada tahun 1966.
Sebagai dokter dan farmasis, beliau tahu betul obat-obat apa yang
dibutuhkan masyarakat Indonesia. Masalah perizinan tidak ada hambatan
karena pada waktu itu untuk mendirikan perusahaan farmasi
beliau dan saudara-saudaranya membuat sirup obat. Pabrik terletak di
Tanjong Priok, Jakarta utara di sebuah bangunan bekas bengkel.
Di Kalbe Farma, disadari SDM menduduki posis yang sangat penting.
Ini sesuai dengan misi Kalbe yaitu Meningkatkan kesehatan untuk
kehidupan yang lebih baik. Masyarakat bisa membeli obat-obat OTC
dengan mudah dengan harga yang terjangkau. Kalbe Farma memiliki 1
juta outlet untuk mendistribusikan produk Kalbe dan 115 produsen obat
lain ke seluruh Indonesia. Jumlah karyawan sebanyak 4000 orang yang
tersebar di 60 kantor cabang pemasaran dan 40 kantor cabang distribusi.
Tahun 2005, Kalbe meluncurkan beberapa produk baru OTC seperti
X-Cel, Cerebrofit Active, Star Muni, Kalysmon Prima, New Komix, New
Extra Joss, Cerebrofort dan Caxon Enace dan Mextril Syrup. Diperkenlkan
juga sari buah merah Wonder Red (PWR) dan Saka Herbamed 2 in 1
(PWR plus madu). Jmlah produk OTC Kalbe yang beredar saat ini sekitar
30 item.
Kalbe juga masuk ke pasar makanan kesehatan dengan Health
Food Division. Dipercaya nutrisi yang baik penting bagi pemeliharaan
kesehatan yang prima. Anak – anak adalah masa depan bangsa dan negara,
nutrisi yang baik perlu diberikan sejak dini agar anak-anak sehat dan
cerdas. Makanya, Kalbe membuat paket produk untuk bayi, ibu hamil, dan
ibu menyusui. Juga membuat produk nutrisi untuk penderita diabetes,
hepatitis dan pasien di RS. Kalbe telah melebarkan sayap ke pasar
Filipina, Kamboja, Srilanka, Afrika Selatan, Nigeria, dan Zimbabwe. Di
Nigeria ada oeraturan baru dari pemerintah setempat yang mengharuskan
obat-obatan di negara itu diproduksi oleh perusahaan dalam negeri. Oleh
karena itu, Kalbe telah menandatangani nota kesepahaman dengan
perusahaan Orange Drugs Co.Ltd untuk mendirikan perusahaan patungan.
Untuk melanjutkan upaya memperluas produksi obat-obatan, Kalbe
manandatangani lebih banyak perjanjian kerja sama strategis dengan
perusahaan farmasi dan makanan kesehatan multinasional. Terutama
perusahaan yang memegang paten atas suatu bahan aktif yang diperlukan
dalam memproduksi obat resep vital.
Fatigon merupakan multivitamin konsep baru dengan komposisi
yang unik berbentuk kaplet yang sangat praktis yang diproduksi oleh PT.
Kalbe, diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, aman dikonsumsi baik oleh
pria maupun wanita karena tidak menimbulkan ketergantungan fisik dan
nyeri lambung seperti yang biasa terjadi pada minuman energi karena
Fatigon Spirit tidak mengandung Na Bikarbonat dan Asam Sitrat.
Banyak jenis multivitamin dengan klaim terbaik dan berkualitas
tinggi namun percayakan kesehatan tubuh anda pada Fatigon Spirit karena
hanya Fatigon Spirit satu-satunya multivitamin yang direkomendasi oleh
Para Dokter, Ahli Gizi, dan Konsultan Produk terkemuka, diproduksi
dengan berpedoman pada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan
mendapat pengakuan internasional dengan sertifikat ISO 9001 sebagai
4.2.Gambaran Umum Keadaan Responden
Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengunakan
muktivitamin suplemen Fatigon di Surabaya yang setelah disebarkan
kuesioner maka jumlah responden dalam penelitian ini adalah 100 orang
1. Deskripsi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 100 orang
responden diperoleh gambaran responden berdasarkan usia adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.1.
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah Prosentase (%)
1 19 – 24 tahun 60 60
2 25 – 29 tahun 20 20
4 Diatas 29 tahun 20 20
Total 100 100
Sumber : Hasil penyebaran kuesioner
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar
responden dalam penelitian ini berusia antara 19-24 tahun sebanyak 60
orang atau 60 %, sedangkan yang berumur 25-19 tahun berjumlah 20
orang atau 20% dan yang berumur diatas 29 berjumlah 20 orang atau
20%.
2. Deskripsi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 100 orang
responden diperoleh gambaran responden berdasarkan usia adalah
Tabel 4.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Usia Jumlah Prosentase (%)
1 Laki-laki 80 80
2 Perempuan 20 20
Total 100 100
Sumber : Hasil penyebaran kuesioner
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar
responden dalam penelitian ini yang mengkonsumsi multivitamin
fatigon yaitu laki-laki berjumlah 80 orang atau sebesar 80 % dan
perempuan sebesar 20 orang atau 20%
4.3.Deskripsi Hasil Penelitian
4.3.1. Deskripsi Variabel Ekuitas Merek (X)
4.3.1.1.Deskripsi Variabel Perceived Brand Quality (X1)
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan kepada
para responden yang berjumlah 100 orang diperoleh jawaban sebagai
berikut :
Tabel 4.3. Hasil Jawaban Responden untuk Pertanyaan Variabel
Perceived Brand Quality (X1)
Skor Jawaban No Pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 Total 1 Multivitamin Fatigon
memiliki kualitas sangat bagus dibandingkan dengan produk multivitamin lainnya.
0 0 0 13 40 44 3 100
2 Multivitamin Fatigon merupakan merek multivitamin yang terbaik
yang banyak disukai oleh konsumen.
0 0 1 7 50 36 6 100
3 Dari awal hingga sekarang kualitas multivitamin merek Fatigon masih tetap sama.
0 0 0 6 48 43 3 100
Total 0 0 1 26 138 123 12
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa :
1. Pada indikator pertama mengenai pernyataan multivitamin Fatigon
memiliki kualitas sangat bagus dibandingkan dengan produk
multivitamin lainnya, jawaban responden kebanyakan berada pada
jawaban cukup bagus, hal ini dapat dilihat pada skor 6 dengan nilai 44,
hal ini menurut responden memang multivitamin Fatigon memiliki
komposisi yang dibutuhkan oleh konsumen.
2. Pada indikator kedua mengenai pernyataan multivitamin Fatigon
merupakan merek multivitamin yang terbaik yang banyak disukai oleh
konsumen, jawaban responden kebanyakan berada pada jawaban cukup
baik, hal ini dapat dilihat pada skor 5 dengan nilai 50, hal ini menurut
responden multivitamin Fatigon selalu diingat responden ketika mereka
membutuhkan Multivitamin.
3. Pada indikator ketiga mengenai pernyataan dari awal hingga sekarang
kualitas multivitamin merek Fatigon masih tetap sama, jawaban
responden kebanyakan berada pada jawaban sama, hal ini dapat dilihat
pada skor 5 dengan nilai 48, hal ini menurut responden kualitas yang
diberikan Fatigon tidak berubah karena memang Fatigon ini lebih