BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memperkenalkan beberapa informasi pokok berkenaan dengan
penelitian evaluatif yang dilaksanakan. Latar belakang penelitian yang
menggambarkan sejumlah fenomena penyebab penelitian ini perlu dilakukan
dipaparkan mulai hal-hal yang sifatnya ideal tentang pengembangan kurikulum
mata pelajaran Bahasa Inggris sampai pada realita implementasi saat ini. Agar
permasalahan dapat ditangani dan penelitian dapat dilaksanakan secara realistis,
pembatasan masalah penelitian dikemukakan. Selanjutnya perumusan masalah ke
dalam pertanyaan umum dan khusus dituliskan dan tujuan penelitian ditetapkan
yang menjadi acuan bagi penelitian dan pembahasan laporan penelitian pada
bab-bab selanjutnya. Pada bab-bab ini juga dijelaskan mengenai signifikansi dan manfaat
penelitian baik teoretis maupun praktis bagi sejumlah pihak. Sistematika
penulisan ditampilkan agar memudahkan pembaca untuk memahami disertasi ini.
A. Latar Belakang Penelitian
Pengembangan kurikulum adalah salah satu upaya untuk mencapai
keberhasilan pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Keberhasilan pendidikan
ditentukan oleh keberhasilan pengembangan kurikulum yang mencakup
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Demikian pula dengan keberhasilan
pendidikan bahasa Inggris di lembaga-lembaga pendidikan formal ditentukan oleh
keberhasilan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum bahasa
Inggris di lembaga-lembaga tersebut. Evaluasi kurikulum bahasa Inggris tersebut
memfokuskan pada aspek-aspek yang berbeda dari sebuah program bahasa
(Richards, 2001: 286).
Pengembangan kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah
kurikulum memiliki empat unsur kurikulum, yaitu: tujuan, materi, proses belajar
mengajar, dan penilaian/evaluasi (Nasution, 2003:18; Richards, 2001:39).
Efektivitas implementasi kurikulum ditentukan oleh konsistensi komponen
kurikulum tersebut. Jika keempat unsur tersebut konsisten dalam arti materi,
proses, dan penilaian merujuk pada tujuan, maka tujuan kurikulum tersebut sangat
dimungkinkan untuk tercapai. Sebuah kurikulum dinyatakan efektif jika tujuannya
dapat tercapai.
Keberhasilan pengembangan kurikulum bahasa Inggris di
lembaga-lembaga pendidikan formal dimulai dari keberhasilan analisis kebutuhan
pendidikan/pembelajaran. Analisis kebutuhan dapat memberikan gambaran yang
jelas mengenai kebutuhan pendidikan, sehingga analisis kebutuhan tersebut
memudahkan pengembang kurikulum, dalam hal ini salah satunya adalah guru
bahasa Inggris, untuk merencanakan tujuan pendidikan, mengembangkan bahan
ajar, memilih metode pengajaran, dan menentukan penilaian yang paling sesuai
(Richards, 2001:67). Analisis kebutuhan tersebut memberikan informasi yang
bermanfaat untuk membuat silabus dan perencanaan pembelajaran yang baik.
Pada langkah selanjutnya, pelaksanaan/implementasi, perencanaan pembelajaran
yang baik memudahkan guru untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif
dengan mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang maksimal. Sebagai langkah
terakhir, evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas pencapaian
pembelajaran. Perbaikan dapat dilakukan apabila hasil evaluasi mengindikasikan
adanya kekurangan baik dari segi perencanaan maupun implementasinya.
Jika pengembangan kurikulum dilakukan sebagaimana mestinya seperti
yang disebutkan di atas, maka pembelajaran bahasa Inggris dapat mencapai
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang tinggi, yakni, penguasaan kompetensi
komunikatif sesuai yang diharapkan yang terlihat dari keterampilan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian, pada kenyataannya
bahasa Inggris sesuai dengan yang diharapkan. Adanya perbedaan antara standar
yang diharapkan dicapai dengan realita pencapaian siswa SMP sesungguhnya
memperlihatkan adanya gap. Gap ini menunjukan adanya permasalahan dalam
pengembangan kurikulum di sekolah. Penyebab dari adanya gap dapat
disebabkan rendahnya kefektifan implementasi kurikulum. Rendahnya
keefektifan implementasi kurikulum tersebut dipengaruhi salah satunya oleh
perencanaan kurikulum yang tidak baik dan unsur-unsur pendukung kurikulum
yang tidak memadai.
Terdapat beberapa masalah dalam perencanaan kurikulum di sekolah.
Masalah yang dimaksud di antaranya adalah masalah antara tuntutan peningkatan
mutu dan tuntutan peningkatan akses. Pada satu sisi, pemerintah menghendaki
mutu sekolah termasuk pengembangan kurikulum meningkat dengan mendorong
sekolah untuk mencapai standar-standar pendidikan nasional yang telah
ditetapkan. Di sisi lain, akan sangat banyak anak usia sekolah yang kemungkinan
tidak bersekolah jika standar nasional pendidikan, khususnya standar proses yang
mengatur jumlah siswa tiap rombongan belajar, diterapkan secara ketat. Oleh
karena itu, pemerintah juga menuntut sekolah untuk mampu menampung
sebanyak-banyaknya anak usia sekolah, yakni dengan peningkatan akses
pendidikan.
Akses pendidikan yang dipermudah tersebut membuat rombongan belajar
di sekolah-sekolah termasuk sekolah yang berstandar nasional pun menjadi
gemuk (sekitar 40 orang), padahal standar proses pendidikan nasional
menghendaki maksimal 32 orang untuk tiap rombongan belajarnya
(Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007). Hal ini tentu saja memperberat tugas
pendidik dan pada gilirannya pencapaian tujuan-tujuan kurikulum yang
ditetapkan pun menjadi berat. Permasalahan lainnya adalah Ujian Nasional (UN)
yang menentukan kelulusan siswa SMP membuat konsentrasi guru dan juga
cepat. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar pada kelas sembilan menjadi tidak
berbeda dengan bimbingan belajar yang marak saat ini. Oleh karena itu,
perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan realita-realita tersebut agar
dapat menentukan tujuan-tujuan kurikulum yang lebih realistis sehingga dapat
diimplementasikan dengan maksimal.
Dalam implementasi kurikulum bahasa Inggris di Indonesia, kegiatan
diawali dengan mengkaji standar nasional yang berkaitan dengan pengembangan
kurikulum, yaitu: standar isi, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), standar proses,
dan standar penilaian (Sundayana, 2013). Standar nasional tersebut merupakan
acuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang selanjutnya menjadi rujukan
bagi pengembangan silabus dan pengembangan materi. Implementasi kurikulum
mata pelajaran Bahasa Inggris juga mencakup kegiatan pengembangan bahan
ajar dan pengajaran (Richards, 2001:42). Pengembangan bahan ajar idealnya
dilakukan oleh semua guru, namun demikian sebagian guru tidak melakukan
pengembangan bahan ajar dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Tujuan
pengembangan bahan ajar adalah menciptakan bahan-bahan yang dapat berfungsi
sebagai sumber-sumber untuk pembelajaran yang efektif (Richards, 2001:262).
Shulman dalam Richards (2001: 262) memandang pengembangan bahan ajar
sebagai sebuah proses transformasi yang terdiri dari: persiapan, representasi,
pemilihan, adaptasi dan menyesuaikannya dengan karakteristik siswa.
Semua guru bahasa Inggris dituntut melaksanakan pembelajaran bahasa
Inggris sesuai dengan standar proses (Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007)
yang secara umum meliputi tahapan pembuka, inti dan penutup. Pembelajaran
dengan tiga tahapan ini didasarkan pada rencana pembelajaran dan silabus yang
telah dirumuskan sebelumnya. Dalam menyelenggarakan pembelajaran tersebut,
sejumlah model pembelajaran dapat dipilih oleh para guru untuk dipergunakan
dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Model pembelajaran merupakan
karakteristik siswa. Richards (2001:215-216) mengemukakan bahwa model
pengajaran didasarkan pada pendekatan tertentu. Ia menyebutkan beberapa
pendekatan sebagai contoh, di antaranya adalah the communicative approach, the
cooperative learning model, the process approach, dan the whole-language
approach. Selain itu, Richards menyebutkan Text Based Approach yang di
Indonesia menurut Wahyuni (2014) dikenal juga dengan Genre Based Approach.
Pembelajaran berbasis teks yang merupakan inti kurikulum bahasa Inggris
memiliki berbagai kendala dalam penerapannya. Kendala tersebut bersifat
konseptual maupun praktis. Secara konseptual, paradigma yang melandasi
kurikulum bahasa Inggris masih asing di kalangan guru. Hal ini dapat dipahami
karena sebagian besar guru bahasa Inggris ketika mereka kuliah tidak mendapat
pengetahuan tentang linguistik sistemik fungsional yang memadai. Hal ini
terungkap dari jawaban para guru anggota MGMP bahasa Inggris Kabupaten
Subang tahun 2011 pada kuesioner Training Needs Analysis (TNA) yang Penulis
berikan yang salah satunya berkenaan dengan perlu atau tidaknya mereka
mempelajari Tatabahasa Sistemik Fungsional, 65,2% menyatakan sangat perlu
dan 34,8% menyatakan perlu, serta tidak ada satu pun guru yang menjawab
kurang perlu atau tidak perlu. Sementara itu, sosialisasi tentang kurikulum
bahasa Inggris dengan paradigma ini yang dimulai tahun 2005/2006 melalui
berbagai pelatihan guru, tampaknya belum memadai. Pada praktiknya, jarang
sekali guru melakukan analisis terhadap teks-teks yang akan mereka gunakan
dalam pembelajaran. Padahal, analisis teks merupakan hal yang sangat penting
karena dengan analisis tersebut guru-guru lebih memahami fungsi sosial, struktur
generik dan karakteristik leksiko-gramatikal teks untuk penentuan tujuan, materi,
metode, dan penilaian yang akan dilaksanakan. Berdasarkan hasil kajian
dokumen dan penerapan di lapangan yang terangkum dalam Naskah Akademik
Kajian Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa yang dikeluarkan oleh Pusat
Kurikulum tahun 2007 terdapat beberapa permasalahan. Masalah dalam
dan KD ke dalam empat keterampilan bahasa, yaitu: listening, speaking, reading
dan writing. Kedua, masalah terkait dengan penggunaan istilah-istilah kunci.
Permasalahan dalam penerapan kurikulum di lapangan ada dua. Pertama, guru
tidak membaca SK dan KD dengan benar. Kedua, permintaan adanya tema yang
dapat membatasi pembelajaran untuk setiap jenis teks.
Setelah implementasi kurikulum, tahapan berikutnya adalah evaluasi
kurikulum yang peranannya juga cukup penting. Evaluasi memiliki peran yang
sangat besar dalam pengembangan kurikulum karena evaluasi merupakan bagian
dari pengendalian kurikulum. Evaluasi sangat bermanfaat untuk dijadikan
pertimbangan bagi para pemegang kebijakan pendidikan dari tingkat nasional
sampai tingkat sekolah, dalam hal ini sekolah-sekolah yang standar nasional.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2004:172) yang
mencatat bahwa evaluasi kurikulum sangat penting dalam penentuan
kebijaksanaan pendidikan pada umumnya dan pengambilan keputusan kurikulum
pada khususnya.
Sekolah Standar Nasional (SSN) adalah sekolah yang telah memenuhi
delapan standar minimal yang diterapkan pemerintah dalam hal ini BSNP (PP no
19 Tahun 2005). Standar yang dimaksud adalah standar isi, standar kompetensi
lulus, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana
dan prasarana, standar proses, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Jika
sebuah sekolah telah dinyatakan berstandar nasional oleh pemerintah, maka
sekolah tersebut telah mampu memberikan layanan yang layak bagi para siswa
termasuk dalam pemberian layanan pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di sekolah standar nasional
(SSN) jika berjalan sesuai dengan standar, memungkinkan kemampuan berbahasa
Inggris siswanya dapat berkembang, baik dalam keterampilan listening, speaking,
Terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi sekolah SSN dan juga
sekolah-sekolah lainnya dalam pengembangan kurikulum. Pertama,
kebijakan-kebijakan berkenaan dengan standar nasional pendidikan yang menjadi dasar
pengembangan kurikulum di sekolah tidak dipahami sepenuhnya baik oleh
administrator/pimpinan sekolah maupun guru-guru dan tenaga kependidikannya
(Mulyasa, 2006:vi). Banyaknya kebijakan-kebijakan yang muncul dalam kurun
waktu yang singkat, sosialisasi yang lemah, dan budaya baca yang kurang
menyebabkan pemahaman warga sekolah menjadi kurang tentang kebijakan
tersebut. Kedua, pemahaman yang tidak penuh terhadap kebijakan-kebijakan
pendidikan tersebut membuat para warga sekolah mengandalkan model atau
contoh baik dari pemerintah maupun sekolah lain mengenai penyusunan dokumen
kurikulum sekolah. Padahal, model atau contoh tersebut belum tentu sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada di sekolahnya. Ketiga, banyaknya versi
silabus dan RPP yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga pendidikan yang
mensosialisasikan kurikulum dalam waktu yang berbeda menyebabkan guru-guru
kebingungan. Hal ini menyebabkan guru-guru mengambil begitu saja model atau
contoh silabus dan RPP yang muncul terakhir tanpa terlebih dahulu melakukan
perbaikan atau penyesuaian. Padahal, silabus dan RPP model tersebut belum tentu
sesuai dengan kondisi yang ada di sekolah mereka. Keempat, terkadang silabus
dan RPP tidak menjadi acuan utama para guru dalam pembelajaran. Mereka masih
menjadikan buku teks sebagai acuan utamanya. Akibatnya, di akhir semester tidak
jarang guru-guru merasa kekurangan waktu. Hal ini wajar karena buku teks yang
menjadi acuan utamanya disusun sedemikian rupa dengan materi yang lebih
banyak sebagai pengayaan (Mulyasa, 2006:5). Kelima, sekolah jarang melakukan
evaluasi kurikulum secara menyeluruh. Evaluasi yang dilaksanakan hanya sebatas
evaluasi hasil belajar saja. Hal ini tentu kurang dapat menjawab
permasalahan-permasalahan yang sesungguhnya dalam pengembangan kurikulum di sekolah
Sejak tahun 2006, pemerintah Republik Indonesia menetapkan bahwa semua
sekolah harus menyusun kurikulum operasional sendiri dengan merujuk pada
standar-standar yang ditetapkan pemerintah (Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006). Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) adalah model pengembangan dan model manajemen
kurikulum yang dimaksudkan pemerintah untuk diterapkan di sekolah-sekolah
(Sukmadinata, 2007, personal communication). Adapun model kurikulum yang
dipergunakan adalah kurikulum berbasis kompetensi (Kosasih, 2007).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang saat ini diberlakukan
di Indonesia lazimnya terdiri atas dua dokumen, yaitu, dokumen satu dan dua
(Auladi, 2011; Muslich, 2009). Dokumen satu memuat visi, misi, tujuan
pendidikan, prinsip pengembangan kurikulum, struktur, muatan, pengaturan
beban belajar, pedoman penilaian dan kalender pendidikan. Sementara dokumen
dua KTSP terdiri dari silabus dan RPP. Penyusunan dokumen satu dilakukan oleh
Tim Pengembang Kurikulum (TPK) yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah.
Adapun dokumen dua, semua guru termasuk guru bahasa Inggris berpartisipasi di
dalamnya secara aktif baik individual maupun kelompok terutama dalam
penyusunan silabus dan RPP. Guru-guru mata pelajaran diharuskan
mengumpulkan silabus dan RPP yang mereka kembangkan untuk dilampirkan
dalam dokumen dua tersebut.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, standar kompetensi (SK) dan
kompetensi dasar (KD) yang menjadi acuan untuk pengembangan silabus
memiliki kekhasan tersendiri, yaitu: pembelajaran bahasa Inggris di
sekolah-sekolah di Indonesia diarahkan untuk memahami dan mampu memproduksi
teks-teks lisan dan tulisan yang tertuang dalam SK dan KD bahasa Inggris. Adapun
pendekatan pembelajaran yang sangat dianjurkan dalam melaksanakan
pembelajaran untuk pencapaian SK dan KD yang dimaksud adalah pendekatan
pendekatan ini bersifat eksplisit termasuk dalam pembelajaran tatabahasanya.
Disamping itu, pembelajaran harus melalui siklus-siklus dan tahapan-tahapan
tertentu agar para siswa menguasai sebuah teks. Hal ini menjadi tantangan
tersendiri bagi guru-guru dalam membuat perencanaan pembelajaran (silabus dan
RPP) yang biasanya tidak melalui siklus dan tahapan yang panjang.
Sementara pada kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris sebelumnya
(1994), teks juga menjadi rujukan dalam pembelajaran namun teks yang dimaksud
untuk menstimulasi kegiatan komunikatif dalam pembelajaran. Perencanaan
pembelajaran pada kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris tahun 1994 lebih ke
silabus gabungan, yaitu: tema, fungsi, struktur dan keterampilan bahasa. Arahan
kurikulum ini adalah pencapaian kemampuan komunikasi para pembelajar dengan
pembelajaran yang sifatnya covert (implicit). Pendekatan yang dipergunakan
adalah communicative approach dan turunannya meaning based approach.
Pembelajaran eksplisit sebenarnya telah dilaksanakan ketika implementasi
kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris tahun 1984 dan sebelumnya 1975.
Namun demikian, pada kurikulum tersebut pembelajaran eksplisit terutama dalam
tata bahasa (grammar) hanya sampai pada tataran kalimat semata sementara
pada kurikulum saat ini dengan SK dan KD sekarang (Permen 22 Tahun 2006)
yang menjadi rujukan pembelajaran tidak hanya untuk pemerolehan struktur
kalimat semata melainkan sampai pada upaya pemerolehan wacana.
Pembelajaran eksplisit untuk leksiko-gramatikal yang dikehendaki dalam
kurikulum yang menggunakan rujukan Standar Kompetensi (SK), Kompetensi
Dasar (KD), dan Standar Kompetensi Lulus (SKL) dimaksudkan untuk
memberikan dasar yang kuat bagi para pembelajar sehingga mereka dapat
menggunakan kosakata dan struktur kalimat/wacana untuk menganalisis teks-teks
dan menciptakan makna dari teks tersebut.
Penekanan kurikulum bahasa Inggris di Indonesia dapat dikelompokkan
struktural (structural emphasis), penekanan pada komunikasi (communicative
emphasis), dan penekanan pada literasi (literacy emphasis). Penekanan
struktural itu sangat kentara pada kurikulum bahasa Inggris tahun 1963-1975.
Sementara itu, kurikulum tahun 1984 dan 1994 memberi penekanan pada aspek
komunikasi (Sundayana, 2012). Aspek literasi menjadi penekanan utama dalam
kurikulum tahun 2004 dan standar kompetensi/kompetensi dasar untuk
kurikulum tingkat satuan pendidikan tahun 2006 sampai sekarang. Hal ini
sejalan dengan yang dikatakan oleh Agustien dkk (2004:45):
Pendekatan yang mendasari kurikulum ini (kurikulum tahun 2004) adalah pendekatan literasi yang berbeda dengan pendekatan struktural yang mengutamakan bentuk, maupun pendekatan komunikatif yang mengutamakan kemampuan komunikasi lisan.
Pada intinya perkembangan kurikulum bahasa Inggris di Indonesia mengikuti
perkembangan pendekatan dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing
atau bahasa kedua (Sundayana, 2012, personal communication). Pendekatan yang
dimaksud adalah Audiolingual Approach (periode 60-an -70-an) untuk kurikulum
1963-1975; Communicative Approach (periode 80-an – 90-an) untuk kurikulum
1984 dan 1994, dan Genre Based Approach (2004 - sampai sekarang) untuk
kurikulum 2004 dan 2006.
Perubahan paradigma kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris ke arah
penekanan literasi merupakan fenomena global. Pada era tahun 1963-1975
paradigma linguistik struktural sangat kuat, sehingga memengaruhi segala aspek
dalam pendidikan bahasa termasuk kurikulum bahasa Inggris di Indonesia.
Dengan paradigma ini, bahasa Inggris dapat disederhanakan ke dalam
struktur-struktur bahasa yang formal. Dengan demikian, seseorang dikatakan mampu
berbahasa Inggris jika ia dapat menguasai struktur-struktur tersebut dengan baik.
Di samping itu, pandangan behaviorisme sedang dalam puncak-puncaknya
sehingga pembelajaran bahasa Inggris merupakan pembentukan kebiasaan
Pada periode 1984-1994, pandangan humanistik menguat yang
memengaruhi dunia pendidikan termasuk dalam pendidikan bahasa Inggris.
Dengan demikian, pembelajaran bahasa Inggris yang lebih humanis dengan
pendekatan komunikatif mengemuka. Para siswa diarahkan untuk berkomunikasi
sebanyak-banyaknya dan kekeliruan struktural/gramatikal mendapat toleransi
yang besar. Pada periode ini, sekalipun paradigma linguistik struktural masih
sangat kental memengaruhi penerapan kurikulum bahasa Inggris, namun,
paradigma linguistik fungsional yang arahannya pada pemerolehan kemampuan
berwacana (text) mulai mengemuka dan memengaruhi dasar teoretik kurikulum
tahun 1984 dan 1994.
Pada tahun 2000an, paradigma sistemik fungsional yang menjadi dasar
pendidikan literasi mengalami penguatan setelah sekitar tiga dekade mengalami
stagnasi. Dampaknya adalah terjadi perubahan-perubahan dalam paradigma
kurikulum di sejumlah Negara, diantaranya Australia, Selandia Baru, Singapura,
Filipina, dan Papua New Guinea (National Curriculum Board <2009>, Ministry
of Education of New Zealand <2007>, Singapore English Syllabus <2010>,
Department of Education of Republic of Philippines <2010>, dan Department of
Education of Papua New Guinea <2006>) . Paradigma ini mengungkapkan bahwa
belajar bahasa adalah belajar menciptakan makna dengan wacana/teks.
Implementasi pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia masih jauh dari
yang diharapkan karena pembelajaran di sekolah-sekolah formal masih belum
memberikan dampak yang signifikan bagi kemampuan berkomunikasi siswa
menggunakan bahasa Inggris. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap 344 orang
siswa SMP di lima kabupaten dan kota di Jawa Barat dalam hal kompetensi
komunikatif bahasa Inggris, diperoleh bukti bahwa sebanyak 48.5% memiliki
kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang rendah, 48.3% sedang, dan hanya
3.2% saja yang tinggi. Perubahan kurikulum masih belum memberikan dampak
sekalipun sosialisasi berkenaan dengan paradigma kurikulum systemic functional
grammar dan penerapan praktisnya telah banyak dilakukan.
Berkenaan dengan sosialisasi kurikulum, pemerintah melalui Departemen
Pendidikan Nasional mensosialisasikan pembelajaran bahasa Inggris dengan
paradigma baru ini sejak tahun 2005 sampai 2010 melalui sejumlah proyek
pelatihan guru di seluruh Indonesia, yang diantaranya adalah Pelatihan
Terintegrasi Berbasis Kompetensi (PTBK). Guru-guru yang berpartisipasi dalam
pelatihan ini memperoleh sejumlah materi yang mencakup landasan-landasan
pendidikan bahasa Inggris (terutama landasan filosofis dan pedagogis), materi
pembelajaran bahasa Inggris, metode pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan
penyusunan perencanaan pembelajaran (silabus dan RPP). Materi-materi yang
diberikan tersebut berlandaskan paradigma sistemik fungsional yang
menekankan pemerolehan teks-teks baik fungsional maupun
transaksional-interpersonal.
Kendatipun demikian sebagian guru masih belum dapat meninggalkan
paradigma lama dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pengajaran masih
terpisah-pisah antara struktur kalimat dengan wacana atau tidak ada
kesinambungan pembelajaran dari awal pertemuan sampai pertemuan
selanjutnya.
Sementara itu, sebagian besar siswa yang telah belajar bahasa Inggris 6
tahun di sekolah-sekolah formal (3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA/SMK),
ternyata belum memiliki kemahiran berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang
memadai. Para lulusan sekolah formal masih belum mampu
berbicara/bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam dunia kerja mereka jika kebetulan harus berhadapan dengan native
speaker. Demikian pula dalam hal baca dan tulis, kemampuan mereka masih
sangat terbatas untuk menangkap atau mengungkapkan pesan tertulis
menggunakan bahasa Inggris. Hal ini terbukti dengan hasil studi pendahuluan
di Jawa Barat dan sekitarnya yang mengungkapkan bahwa menurut penilaian
mereka (55.3%) sebagian besar siswa memiliki kemampuan komunikasi bahasa
Inggris yang rendah; 34.9% sedang; dan hanya 9.9% saja yang tinggi. Padahal
dalam Standar Kompetensi Lulus (SKL) SMP, para lulusan SMP harus mampu
memperlihatkan keterampilan-keterampilan berbahasa yang berterima walau
sederhana, baik dalam keterampilan menyimak (listening skills), berbicara
(speaking skills), membaca (reading skills), maupun menulis (writing skills).
Jika dilihat dari hasil rata-rata UN tahun 2012 secara nasional yang sebagian
besarnya menguji keterampilan membaca (reading skills) dalam SKL, mata
pelajaran Bahasa Inggris menempati urutan terakhir dari empat mata pelajaran
yang diujian-nasionalkan, yaitu: 6,80. Sementara mata pelajaran Bahasa
Indonesia, Matematik dan IPA rata-rata nilainya jauh berada di atas mata
pelajaran Bahasa Inggris, yang masing masing mencapai nilai 8,02; 7,53; dan
7,54 (Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemdikbud, 2012).
Ketidakmampuan para siswa di sekolah-sekolah formal termasuk sekolah
berstandar nasional untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi bahasa
Inggris secara memadai sesuai dengan Standar Kompetensi Lulus (SKL),
menandakan adanya masalah dalam hal efektivitas pembelajaran. Pembelajaran
yang tidak efektif atau tidak mencapai SKL menandakan kurang atau tidak
adanya efektivitas dalam pengembangan kurikulum. Keefektifan yang dimaksud
dapat dilihat dari implementasinya.
B. Identifikasi Masalah
Berkenaan dengan latar belakang di atas, penelitian ini difokuskan pada
lemahnya pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam mata pelajaran
Bahasa Inggris. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi lemahnya pencapaian
1. Kurikulum. Kurikulum merupakan hal yang paling pokok dari pelaksanaan
pendidikan formal karena kurikulum memberikan arah tentang tujuan yang
perlu dicapai, cara mencapai tujuan itu dapat tercapai, dan bagaimana
mencapai tujuan, serta cara menentukan ketercapaian tujuan tersebut. Dengan
kata lain, kurikulum menentukan tujuan, materi, metode, dan evaluasi
pendidikan.
2. Guru. Kualifikasi guru sebagai pelaksana kurikulum sangat berpengaruh
terhadap kualitas implementasi kurikulum di dalam kelas. Semakin qualified
guru, maka semakin tinggi pula kemungkinan guru melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan yang dimaksudkan oleh kurikulum, sehingga,
siswa dapat mencapai SKL yang maksimal. Hamied dalam Yani (2012)
mengungkapkan, hanya kurang dari 35% guru-guru bahasa Inggris yang
memenuhi kualifikasi pengajaran. Hal ini juga diperkuat oleh Jalal dkk
dalam Yani A (2012) yang menyebutkan, dari 2.783.325 guru di Indonesia,
sebanyak 62,4% dari mereka (1.739.484) tidak memenuhi kualifikasi
akademik yang telah ditetapkan pemerintah. Rendahnya kualifikasi
akademik guru-guru termasuk di dalamnya guru bahasa Inggris memengaruhi
kualitas pembelajaran yang terlaksana, yang pada gilirannya membuat
pencapaian SKL-nya pun rendah. Kualifikasi akademik guru harus sesuai
karena peran-peran yang perlu dimainkan guru juga banyak dan menantang
yang memerlukan penguasaan kompetensi yang mumpuni.
3. Pembelajaran. Pembelajaran yang berkualitas tinggi memungkinkan para
siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis kompetensi,
pembelajaran yang berkualitas (quality instruction) bergantung antara lain
pada kemampuan guru menerjemahkan SKL dan standar isi ke dalam
indikator pencapaian SK dan KD, pemilihan materi ajar yang sesuai dengan
indikator pencapaian tersebut, pemilihan kegiatan pembelajaran yang dapat
dapat memetakan siswa ke dalam kelompok yang dapat dan belum mencapai
KD dan perbaikan pembelajaran (remedial) berdasarkan informasi tersebut.
4. Penilaian/Evaluasi Pembelajaran. Penilaian pembelajaran yang bermutu tidak
hanya memberikan informasi yang bermanfaat bagi pendidik untuk
mengambil keputusan pembelajaran, melainkan juga memotivasi siswa untuk
belajar lebih baik lagi. Dengan penilaian pembelajaran yang bermutu
tersebut, baik pendidik maupun siswa tidak hanya dapat memperoleh bukti
(to prove) pencapaian SKL melainkan juga membantu meningkatkan (to
improve) pencapaian SKL. Sanjaya (2005:180) mencatat bahwa terdapat dua
hal penting yang harus dipahami tentang evaluasi pembelajaran dalam
kurikulum berbasis kompetensi. Pertama, evaluasi merupakan kegiatan
integral dalam suatu proses pembelajaran. Kegiatan evaluasi tidak dapat
dipisahkan dalam proses pembelajaran. Kedua, evaluasi bukan hanya
tanggung jawab guru, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab siswa. Siswa
harus memiliki kesadaran pentingnya evaluasi untuk memantau
keberhasilannya sendiri dalam proses pembelajaran.
5. Sumber belajar. Ketersediaan sumber-sumber belajar yang memadai dengan
kualitas tinggi dapat memfasilitasi para siswa untuk belajar lebih baik lagi.
Dengan demikian, para siswa dapat meningkatkan keterampilan-keterampilan
bahasanya (listening, speaking, reading, dan writing skills) sesuai dengan
yang ditetapkan SKL. Kusumah (2013:3-4) mengungkapkan 6 fungsi sumber
belajar, yaitu: 1) meningkatkan produktivitas pembelajaran; 2)
memungkinkan pembelajaran yang sifatnya lebih individual; 3) memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran; 4) lebih memantapkan
pembelajaran; 5) memungkinkan belajar seketika; 6) memungkinkan
penyajian pembelajaran yang lebih luas. Ketersediaan sumber belajar yang
memadai yang dapat diakses pembelajar memungkinkan interaksi pembelajar
dan sumber belajar yang tinggi dan produktif yang pada gilirannya membantu
C. Pembatasan Masalah
Sehubungan dengan luasnya cakupan kajian yang berkenaan dengan kurikulum,
maka masalah penelitian ini dibatasi pada evaluasi implementasi kurikulum mata
pelajaran Bahasa Inggris dalam upaya pencapaian Standar Kompetensi Lulusan
(SKL). Terdapat beberapa alasan membatasi evaluasi pada tahapan implementasi
saja. Pertama, tahapan implementasi merupakan tahapan yang sangat penting
karena tahapan ini merupakan upaya penerapan konsep-konsep pendidikan yang
tersusun dalam sebuah desain kurikulum. Kedua, tahapan implementasi
merupakan tahapan yang sangat kompleks mengingat konsep tidak selamanya
sesuai dengan realita lapangan. Ketiga, keberhasilan sebuah kurikulum tidak
semata-mata dinilai dari segi desain atau perencanaannya semata melainkan juga
penerapannya dalam bentuk nyata.
Kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris dipilih karena beberapa alasan.
Pertama, keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris yang tampak dari kemampuan
komunikasinya sangat rendah. Sekitar 55,3% guru bahasa Inggris dalam studi
pendahuluan menyebutkan bahwa kemampuan komunikasi bahasa Inggris
sebagian besar siswanya rendah. Keadaan ini tentu menjadi tantangan tersendiri
untuk mengungkap akar permasalahan rendahnya keberhasilan pembelajaran
bahasa Inggris. Kedua, Pelajaran Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran wajib
yang di-UN-kan. Oleh karena itu, mata pelajaran ini sangat menentukan kelulusan
siswa dari SMP dan juga SMA/SMK.
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menjadi acuan evaluasi implementasi
kurikulum ini karena beberapa hal. Pertama, SKL adalah acuan utama bagi satuan
pendidikan untuk merancang kegiatan pendidikan di dalamnya. Semua satuan
pendidikan harus merujuk pada SKL agar dapat menetapkan tujuan pembelajaran,
materi ajar, kegiatan belajar mengajar, dan penilaian yang tepat. Kedua, SKL
merupakan gambaran/profil lulusan yang perlu diwujudkan oleh satuan-satuan
Upaya mengevaluasi keefektifan implementasi kurikulum dalam pencapaian
SKL mencakup beberapa unsur, yaitu: kebijakan pengembangan kurikulum,
dokumen kurikulum, perencanaan pembelajaran yang disusun guru, proses
pembelajaran yang dilaksanakan, dan evaluasi kurikulum yang dilakukan.
Adapun dimensi-dimensi dalam evaluasi implementasi kurikulum tersebut
mencakup dimensi context, dimensi input, dimensi process, dan dimensi product.
Pemetaan unsur-unsur evaluasi keefektifan implementasi kurikulum dalam
pencapaian SKL berdasarkan dimensi-dimensinya adalah sebagai berikut: dimensi
konteks mencakup unsur penerapan 8 standar nasional pendidikan yang
merupakan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum; dimensi
input mencakup dokumen KTSP dan silabus serta RPP; dimensi proses dan
dimensi produk terkait dengan efektivitas proses pembelajaran, sementara
evaluasi kurikulum merupakan cakupan meta evaluasi.
D. Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, pertanyaan penelitian secara
umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Bagaimana efektivitas implementasi kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPN berstandar nasional dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL)?”
Beberapa pertanyaan dapat diturunkan dari rumusan masalah umum
tersebut, yakni sebagai berikut:
1. Bagaimana efektivitas penerapan kebijakan pengembangan kurikulum di
SMPN berstandar nasional dalam pencapaian SKL?
2. Bagaimana kualitas dokumen kurikulum di SMPN berstandar nasional dalam
pencapaian SKL?
3. Bagaimana kualitas penyusunan perencanaan pembelajaran di SMPN
4. Bagaimana efektivitas pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar di
SMPN berstandar nasional dalam pencapaian SKL?
5. Bagaimana kualitas evaluasi kurikulum di SMPN berstandar nasional dalam
pencapaian SKL?
E. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian bertujuan mengevaluasi efektivitas penerapan
kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris dalam pencapaian standar kompetensi
lulusan (SKL) di SMP berstandar nasional di Jawa Barat. Secara khusus tujuan
penelitian ini adalah mengevaluasi:
1. efektivitas kebijakan pengembangan kurikulum yang diterapkan di
sekolah-sekolah berstandar nasional dalam pencapaian SKL.
2. dokumen kurikulum yang disusun di sekolah-sekolah berstandar nasional
dalam pencapaian SKL.
3. penyusunan perencanaan pembelajaran di sekolah-sekolah berstandar
nasional dalam pencapaian SKL.
4. efektivitas proses belajar mengajar dilaksanakan di sekolah-sekolah
berstandar nasional dalam pencapaian SKL.
5. evaluasi kurikulum yang dilaksanakan di sekolah-sekolah berstandar nasional
dalam pencapaian SKL.
F. Signifikansi dan Manfaat Penelitian
Signifikansi penelitian ini dapat dilihat dari segi kepentingannya.
Penelitian evaluasi implementasi kurikulum bahasa Inggris masih sangat jarang
dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, melalui penelitian ini diharapkan
semua pihak yang berkepentingan dalam implementasi kurikulum bahasa Inggris
dapat mempertimbangkan langkah-langkah yang tepat untuk perbaikan kurikulum
mata pelajaran Bahasa Inggris di masa mendatang.
Secara teoretis, penelitian diharapkan dapat menemukan prinsip-prinsip
berkenaan dengan implementasi kurikulum yang efektif, khususnya dalam
pengembangan kurikulum mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan bagi: 1) pengambil kebijakan yang terkait dengan pengembangan
kurikulum bahasa Inggris di SMP; 2) para guru bahasa Inggris SMP untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya serta para siswanya; 3)
peneliti lain yang tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang implementasi
kurikulum bahasa Inggris di SMP.
G. Sistematika Penulisan Disertasi
Disertasi ini ditulis berdasarkan sistematika sebagai berikut:
1. Bab I berisi latar belakang penelitian, identifikasi masalah, pembatasan
masalah, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian,
signifikansi dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
2. Bab II merupakan landasan teoretik penelitian. Landasan teoretik yang
dituliskan di bab II ini adalah pengembangan kurikulum mata pelajaran
Bahasa Inggris, pembelajaran bahasa Inggris, hakekat bahasa Inggris,
kompetensi dalam pembelajaran bahasa Inggris, hasil penelitian terdahulu,
dan kerangka berpikir penelitian.
3. Bab III mengungkap metodologi penelitian yang terdiri dari pendekatan dan
metode penelitian, langkah penelitian evaluasi, definisi operasional,
pengembangan kriteria evaluasi, populasi dan sampel, teknik pengumpulan
data, pengembangan instrumen, jenis data, prosedur pengumpulan data, dan
teknik analisis data.
4. Bab IV memaparkan temuan penelitian dan pembahasan. Temuan penelitian
data kuantitatif, gambaran pemerolehan data kualitatif, dan pembahasan hasil
penelitian.
5. Bab V merupakan penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan
rekomendasi untuk berbagai pihak baik yang terkait langsung maupun tidak