• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MENUJU SPIRITUALISASI PENDIDIKAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV MENUJU SPIRITUALISASI PENDIDIKAN ISLAM"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

MENUJU SPIRITUALISASI PENDIDIKAN ISLAM

Beberapa klasifikasi permasalahan atau problematika pendidikan Islam di Indonesia yang merupakan simplifikasi dari sekian banyak permasalahan yang ada dan dihadapi pendidikan Islam di Indonesia oleh peneliti, seperti dikemukakan pada bab III, akan dibahas dalam pembahasan yang interconnected di mana keseluruhan problematika tersebut diawali dari pembahasan tentang bagaimana konsep ilmu dan keilmuwan di dalam Islam berdasar perspektif sumber pokok Islam.

Kajian dalam ranah cabang filsafat yaitu epistemologi tidak akan lepas di dalam ikhtiar mengupayakan pembacaan ulang tentang formulasi pendidikan Islam yang sesuai dengan makna substantif sumber pokok Islam, yaitu al-Qur’an, sunnah dan karya-karya klasik dan kontemporer.

A. Epistemologi Pendidikan Islam: Telaah Solusi Dikotomi

Seperti diketahui bahwa dalam garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan (epistemologi), teori hakikat (ontologi) dan teori nilai (aksiologi). Ketiganya adalah interconnected dan saling mengisi.

Terhadap permasalahan dikotomi dalam pendidikan Islam kiranya perlu dikaji dari aspek epistemologi. Sebagaimana pernyataan Amrullah Ahmad bahwa terhadap persoalan dikotomi perlu diketengahkan kembali perkembangan epistemologi, yang pernah ada pada zaman klasik yang tidak dikotomik1

Di tengah-tengah terputusnya agama dengan ilmu-ilmu yang dikategorikan sekuler, dunia Islam umumnya justru tetap menghidupkan ilmu agama, yang alih-alih memperkokoh sistem pendidikan menjadi dualisme,

1 Amrullah Ahmad, “ Kerangka Dasar Masalah Paradigma Pendidikan Islam” dalam

Muslih Usa (ed.), Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1991), hlm. 82

(2)

yang tidak akan pernah bertemu secara epistemologi. Seperti di Indonesia, meskipun sudah terdapat kesadaran tentang dikotomi dalam pendidikan namun dalam memberikan alternatif pemecahan atau solusi, tidak pernah sampai pada titik temu dalam aspek epistemologinya. Kebanyakan justru sekedar melakukan revisi pada formulasi silabi kurikulumnya, yaitu penambahan mata pelajaran agama pada sekolah umum atau sebaliknya mata pelajaran umum pada sekolah agama.

Epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan dipergunakan oleh J.F. Ferrier pada tahun 1854. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.2 M. Amin Abdullah, Guru Besar dan Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengemukakan epistemologi adalah salah satu cabang pokok filsafat yang memperbincangkan seluk-beluk pengetahuan, yang karenanya epistemologi tidak bisa meninggalkan persoalan sumber ilmu pengetahuan dan beberapa teori tentang kebenaran.3

Sebelumnya perlu dibahas lebih dahulu penjelasan tentang ilmu pengetahuan. Manusia memiliki kemampuan kemanusiaannya seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi yang dengannya mampu menangkap dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk “ketahuan” atau knowledge dalam bahasa Inggris, semisal seni, kebiasaan dan lain-lain. “Ketahuan” adalah apa yang diperoleh dalam proses mengetahui tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunannya.4

2 Yang dimaksud pengetahuan, bisa dimisalkan saya berkata “saya mempunyai

pengetahuan Abdullah telah dibunuh”. Apakah yang saya maksudkan?, tepatnya yang saya maksudkan bahwa “saya tahu Abdullah telah dibunuh”. Di sini dapat dimengerti, bilamana kita mempunyai pengetahuan, maka pengetahuan itu merupakan pengetahuan mengenai sesuatu. Dan karenanya, di antara hal-hal yang di masa lampau kita percayai sebagai pengetahuan,bisa jadi dikemudian hari banyak yang sesat. Karena itu jelas bahwa mungkin kita tidak mempunyai pengetahuan yang sejati, dan kita patut mengajukan pertanyaan “Bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan?”. Lihat Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat., (Yogyakarta: Tiara Wacana: 1996), alih bahasa Soejono Soemargono, Cet. 7, hlm. 136

3 Abdul Munir Mulkhan, dkk., Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren

:Religiusitas Iptek, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Bekerjasama dengan

Pustaka Belajar, 1998), hlm. 49

4 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka

(3)

Ketahuan merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk seperti filsafat, ekonomi, seni dan sebagainya. Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok ketahuan terdapat beberapa kategori, yaitu:

a. Apakah obyek yang ditelaah yang membuahkan ketahuan. Kriteria ini disebut obyek ontologi. Secara ontologis obyek penelahan tiap-tiap dari seperti ekonomi, budaya dapat dibedakan daerah penjelajahan atau telaah ketahuannya.

b. Cara yang dipakai untuk mendapatkan ketahuan, disebut kriteria epistemologi yang berbeda untuk apa tiap bentuk apa yang diketahui manusia. Umpamanya landasan epistemologis matematika adalah logika deduktif dan epistemologis kebiasaan adalah pengalaman dan akal sehat. c. Untuk apa ketahuan itu dipergunakan atau nilai kegunaan yang dipunyai,

kriteria ini disebut landasan ontologis yang juga dapat dibedakan untuk tiap jenis ketahuan.5

Kesemuanya itu memberikan suatu karakteristik atau tanda dari tiap-tiap bentuk ketahuan. Artinya suatu ketahuan dapat dibedakan dengan melihat landasan ontologis, epistemologis dan aksiologisnya.

Istilah “ilmu pengetahuan” terdiri dari kata ilmu dan pengetahuan. Pengetahuan dalam pandangan K. Feiblenan adalah hubungan antara objek dan subjek. Dengan kata lain, pengetahuan adalah paham suatu subjek mengenai objek yang dihadapi. Subjek dimaksud adalah manusia dengan kesatuan potensi dan berbagai macam kesanggupan (akal, pancaindera, dan sebagainya), yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Sebaliknya objek adalah benda atau hal yang diselidiki, yang merupakan realitas bagi manusia yang menyelidiki.6

Menurut sebagian cendekiawan Muslim istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan, adalah ilmu, yang memiliki komponen, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau al-Qur’an -di

5 Ibid., hlm. 293

6 Endang Saefuddin Anshari, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987),

(4)

sinilah terletak kebenaran absolut. Dan bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –merupakan bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.7

Munawar Ahmad Anees, menggunakan istilah Ilm ketika berbicara tentang Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan, untuk menyebut kata ilmu. Ia menyatakan menerjemahkan “ilm” dengan “pengetahuan” berarti melakukan suatu kesalahan terhadap konsep yang agung dan multi dimensional ini. Ilm mengandung pengertian apa yang sekarang kita pahami sebagai pengetahuan. Supaya lebih tepat memahami konsep ilm, dapat dilakukan penelusuran konsep lain dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan seluk beluk ilm. Ilm juga mempunyai konotasi ibadah; yakni mencari ilm sebagai bentuk ibadah. Sama halnya, ilm berkaitan erat dengan konsep khilafa (perwalian) dalam al-Qur’an: agar laki-laki dan perempuan mencari ilm sebagai wakil Allah, dan jika ilm dipelajari di luar kerangka ini, berarti akan menyalahi konsep dasar Islam yaitu tauhid, karena satu konsep yang paling jelas, komprehensif dan mendalam yang ditemukan dalam al-Qur’an adalah konsep Ilm. Kedudukannya merupakan turunan dari tauhid (menegaskan) yang merupakan tema sentral dan konsep dasar al-Qur’an. Berarti dengan menguasai ilm yang manfaat akhirnya akan dirasakan oleh individu dan masyarakat, merupakan sebuah pertanggungjawaban. Dari sini, dapat dilihat banyak dimensi ilm yang menggambarkan betapa kompleks dan gamblangnya konsep ilm.8

Namun demikian, Al-Attas memberikan sebuah definisi-definisi kata kunci, di mana ia mengasumsikan permasalahan-permasalahan umat Islam berakar dari kesalahan dalam mendefinisikan istilah-istalah kunci.9 Al-Attas

7 Ziauddin Sardar (Ed), Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim, (Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, 2000), hlm. 25

8 Lihat Munawar Ahmad Anees dalam Ziauddin Sardar (Ed), Ibid., hlm. 3-4

9 Syed Naquib Al-Attas berpegangan bahwa akar-akar permasalahan-permasalahan

intelektual umat Islam adalah kekeliruan mereka memaknai sejumlah kata kunci menurut pandangan dunia dan sejarah Islam –seperti mengenai perkataan pandangan dunia, agama, Allah Swt., ilmu pengetahuan, pendidikan, kebahagiaan, keadilan, kebijaksanaan, perguruan tinggi,

(5)

menegaskan definisi itu bersifat Universal dan menghimpun esensi dari suatu objek ilmu pengetahuan. Al-Attas membagi dua definisi dalam dua kategori, yang disebut hadd, yaitu definisi yang menspesifikasikan ciri-ciri utama yang membedakan objek yang didefinisikan dari objek lainnya, seperti “manusia adalah hewan yang berpikir (hayawan nathiq)”. Dalam hal ini, kemampuan berbicara, yaitu manifestasi yang jelas dari daya berpikir, merupakan sesuatu yang membedakan manusia dari spesies-spesies lain yang terdapat dalam genus hewan. Kategori definisi kedua disebut dengan rasm, yang bersifat menerangkan ciri-ciri utama, bukan esensi, suatu objek, seperti “manusia adalah hewan yang tertawa”.10

Mendefinisikan ilmu secara hadd adalah mustahil, karena ilmu merupakan sesuatu yang tidak terbatas dan karenanya tidak memiliki ciri-ciri yang spesifik dan perbedaan khusus yang bisa didefinisikan dari bagian-bagian genus. Lagi pula pemahaman mengenai istilah ilm selalu diukur oleh pengetahuan seseorang mengenai ilmu dan oleh sesuatu yang sudah jelas baginya, sebab setiap orang dewasa yang berakal sehat mengetahui keberadaan dirinya.

Secara lingiustik, perkataan ilm, berasala dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alamah, yaitu “tanda, penunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”. Dengan demikian, ma’lam (jamak: ma’alim) berati rambu-rambu jalan” atau “sesuatu yang dengannya seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang membimbing seseorang”. Seiring dengan itu, ‘alam juga bisa diartikan sebagai “penunjuk jalan”. Maka bukan tanpa alasan jika penggunaan istilah ayah (jamak: ayat) dalam al-Qur’an yang secara literal berarti “tanda” merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an dan fenomena alam. Disebabkan hal seperti inilah, sejak dahulu umat Islam menganggap ilm (ilmu pengetahun) berarti al-Qur’an; syari’at; Sunnah; Islam; iman; ilmu spiritual, hikmah, dan ma’rifah, atau sering juga disebut dengan cahaya; pikiran, sains, pembangunan dan sebagianya. Lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan

islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), Penyunting Abd. Syakur Dj, hlm. 142

(6)

dan pendidikan, yang kesemuanya menghimpun semua hakikat ilmu. Dari sinilah umat Islam mendefinisikan ilmu secara rasm, deskriptif.11

Al-Attas mendefinisikan mengenai ilmu dengan premis bahwa ilmu itu datang dari Allah Swt., dan diperoleh oleh jiwa yang kreatif, dia membagi pencapaian dan pendefinisian ilmu secara dekskriptif ke dalam dua bagian. Pertama, sebagai sesuatu yang berasal dari Allah Swt., bisa dikatakan bahwa ilmu adalah datangnya makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu; kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa pada makna sesuatu atau objek ilmu.12

Dari definisi itu, diketahui konsep penting lainnya yang terdapat dalam definisi, epistemologi, dan filsafat pendidikan Al-Attas adalah kedatangan, yaitu proses yang disatu pihak memerlukan mental yang aktif dan persiapan spiritual di pihak pencari ilmu, dan di pihak lain keridlaan serta kasih sayang Allah Swt. sebagai Dzat yang memberi ilmu. Definisi ilmu yang ditawarkannya mengisyaratkan bahwa pencapaian ilmu dan pemikiran, yang juga disebut dengan proses perjalanan jiwa pada makna adalah proses spiritual. Al-Attas menerima deskripsi yang berlaku bahwasanya ilmu adalah kepercayaan yang benar. Meskipun demikian, dia juga mengatakan bahwa kepercayaan yang benar itu dalam perspektif Islam bukan hanya suatu proposisi, melainkan juga sesuatu yang bersifat intuitif, yaitu salah satu aspek dari kapasitas spiritual akal manusia.13

Ilmu mengenai Allah Swt. misalnya, tidak dapat dibatasi oleh proposisi-proposisi dan disimbolkan dalam bentuk-bentuk linguistik yang mendeskripsikan nama-nama dan sifat-sifatNya. Pada tingkat yang lebih tinggi, ilmu mengenai Allah Swt. adalah pengalaman ketika seseorang bersatu dengan Realitas dan inilah arti yang sebenarnya mengenai ilmu ini. Pengalaman seperti ini tidak akan bisa dikomunikasikan dengan bahasa.

11 Ibid., hlm. 144 12 Ibid., hlm. 147 13 Ibid., hlm. 148

(7)

Kepercayaan yang benar dalam Islam adalah iman, yang tidak hanya berupa pernyataan penerimaan suatu proposisi, tetapi juga melibatkan afirmasi spiritual atau internal dalam konfirmasi fisik. Di mana memungkinkan seseorang untuk memiliki ilmu mengenai sesuatu yang tampak dan yang abstrak.14 Yang berimplikasi ilmu, yang memerlukan serentetan usaha dari orang yang mengetahui untuk memilikinya, adalah pemberian Allah Swt. kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dengan demikian, seseorang yang berpotensi mengetahui sesuatu perlu membuat persiapan-persiapan intelektual dan spiritual agar layak menerima pemberian Allah Swt. ini.

Dalam mendefinisikan ilm ia juga menekankan makna di mana “makna” didefinisikan sebagai pengenalan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam sebuah sistem, yang berlangsung ketika hubungan sesuatu engan yang lainnya dalam sistem itu menjadi jelas dan bisa dipahami.15 Makna sesuatu adalah gambaran kejiwaan yang didenotasikan oleh perkataan atau ungkapan, yang ketika menjadi ide atau pandangan dalam akal disebut pemahaman. Ini berarti bahwa makna sesuatu yang dipahami bisa diletakkkan dalam satu ungkapan yang sesuai. Dalam konteks ini, akal bisa dikatakan telah menangkap makna sesuatu, benda atau objek ilmu dalam istilah yang sesuai dengannya sehingga, dengan demikian, makna itu tidak akan hilang. Penekanan terhadap aspek kedatangan dan makna, oleh Al-Attas menunjukkan bahwa pemikirannya tentang ilm adalah bersifat korespondensi yang sekaligus koherensi.

14 Tentang memperoleh ilmu pengetahuan yang tampak dan yang abstrak bisa dijelaskan,

bahwa semisal pada religiusitas atau keberagamaan manusia yang pada umumnya adalah bersifat universal, infinite (tidak terbatas, tidak tersekat-sekat), transhistoris (melewati batas-bataas pagar historisitas-kesejarahan manusia), namun religiusitas yang begitu mendalam-abstrak, pada hakikatnya tidak dapat dipahami dan tidak dapat dinikmati oleh manusia tanpa sepenuhnya terlibat dalam bentuk religiusitas yang konkret, terbatas, tersekat, histories, terkungkung oleh ruang dan waktu tertentu secara subjektif. Lihat Amin Abdullah, Studi Agama; Normativitas dan

Historisitas, dalam penjelasannya tentang “Tinjauan Antropologis-Fenomenologis: Agama

Sebagai Fenomena Manusiawi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), Cet. 2, hlm. 25

Karenanya untuk mengetahui yang abstrak butuh pula usaha manusia dalam batas tertentu, termasuk penyiapan diri secara intelektual dan spiritual seperti dikemukakan oleh Al-Attas.

(8)

Konsepsi ilmu pengetahuan yang dikemukakan Al-Attas itu, akan berimplikasi dalam pendidikan dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Di antara implikasi-implikasi ini yang terpenting menurut Al-Attas adalah efek-efek yang ditimbulkannya dalam pandangan manusia tentang realitas, kebenaran, dan metodologi penelitian, serta terhadap konsep dan praktik pembangunan16

Definisi yang dikemukakan Al-Attas yang deskritif di atas, sedikit banyak telah pula menyinggung tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat diperoleh serta dengan apakah kebenaran ilmu pengetahuan manusia itu dapat digambarkan. Yang menurut Al-Attas ilmu pengetahuan bisa didapat dengan melalui akal pikiran, pengamatan dan intuisi yang berkelindan, dan dapat digambarkan dengan pola korespondensi dan koherensi sekaligus.

Tentang sumber ilmu pengetahun doktrin Islam Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Mengetahui, yang ilmu-Nya tak terhingga banyaknya. Dari sekian ilmu itu, sebagian kecil diberikan kepada manusia melalui ayat-ayat qur’aniah dan kauniah. Oleh karena itu, sumber ilmu pengetahuan adalah Yang Maha Alim, Allah Swt.

Dengan potensi yang dipunyai, manusia berusaha untuk iqra (membaca, memahami, meneliti dan menghayati) fenomena-fenomena yang dapat menimbulkan ilmu pengetahuan, yang bisa berupa kauniah dan qur’aniah yaitu al-Qur’an.17 Menurut Ahmad Tafsir al-Qur’an bagi agama Islam, isinya ada yang dapat dipahami secara sains, dipahami secara filsafat, dan kebanyakan hanya dapat dipahami secara mistik. Dan al-Qur’an dimengerti sebagai kekuatan pengetahuan dari Allah.18 Bagi seorang sosial dan kultural saintifis, al-Qur’an adalah buku tentang manusia, bagi seorang teolog al-Qur’an adalah buku tentang Tuhan dan Ketuhanan. Sementara bagi seorang filosof, al-Qur’an adalah buku mengenai berbagai masalah asasi yang

16 ibid., hlm. 152

17 Al-Qur’an bagi umat Islam bukan sekedar buku atau dokumen sejarah, tapi lebih dari

itu, sebuah kenyataan hidup dan berlaku dalam kehidupan umat manusia. Karena itu al-Qur’an merupakan buku tentang alam.

18 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung, Rosda Karya,

(9)

menjadi bahan perbincangan filsafat dari masa ke masa yang memberi motif pengarahan dan tujuan kepada ilmu pengetahuan.

Sumber utama ilmu pengetahuan adalah Allah SWT, ilmu tersebut digelar dalam ayat-ayat-Nya baik yang bersifat kauniah maupun qur’aniyah. Ilmu pengetahuan yang berupa ayat-ayat itu dapat dicapai manusia manakala melakukan interpretasi. Dari hasil interpretasi manusia tersebut akan menghasilkan berbagai varian ilmu pengetahuan. Interpretasi terhadap ayat kauniah dapat menghasilkan seperti ilmu alam (fisika, kimia, biologi, astronomi, geografi dan lain-lain), ilmu sosial semisal ilmu sejarah, kebudayaan, linguistik, ekonomi, politik, sosiologi, hukum, komunikasi, perdagangan dan lain-lain. Serta ilmu tentang manusia sebagai atau dalam posisi individu, semisal ilmu kedokteran, antropolgi, psikologi dan lain-lain. Sedangkan dari hasil interpretasi terhadap ayat qur’aniyah akan dapat menghasilkan ilmu al-Qur’an, hadist, tafsir, fiqh, tauhid, ushul fiqh, metafisis alam, tasawuf, perbandingan agama dan lain-lain.

Kedua ilmu pengetahuan (dari ayat kauniah dan qur’aniyah) adalah saling menjelaskan, karenanya masing-masing memiliki keterbatasan. Adanya keterbatasan ini akan membawa kesadaran untuk tunduk pada Allah sebagai pemilik kedua ilmu pengetahuan itu. Dan ilmu-ilmu tersebut diorientasikan untuk ikhtiar memenuhi amanah Allah sebagai khalifah di bumi dan mencari keridlaanNya. Adanya relasi saling menjelaskan juga menunjukkan keduanya adalah terpadu (interconnected) sehingga tidak usah ada truth claim. Karena kebenaran sejati hanya ada pada pemilik ilmu itu sendiri, yakni Allah. Adanya kesadaran dan pengakuan bahwa kebenaran sejati hanya ada pada Allah, maka akan tumbuh pula kesadaran bahwa ilmu pengetahuan bukan satu-satunya sumber kebenaran dan solusi pemecahan problem kehidupan.

Model pemikiran dan pemahaman seperti tersebut, akan menghindarkan seorang Muslim dari berpikir dikotomik. Sebaliknya model berpikir tersebut dapat digunakan sebagai nilai-nilai yang dipahami dari wahyu untuk dijadikan dasar etis filosofis bagi interpretasi terhadap ayat kauniah. Sekaligus sebagi pendorong untuk mengimplementasikan ilmu dan

(10)

ajaran agama dalam bentuk operasional terpadu sesuai konteks permasalahan yang dihadapi.

Dalam rangka interpretasi pada ayat kauniah dan qur’aniyah, -untuk memperoleh ilmu pengetahuan-, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan. Pandangan Naquib Al-Attas apa yang disebut pengetahuan tidak hanya bisa –dan harus- digali dari wahyu, ia mengutip Sardar, epistemologi Islam menekankan totalitas pengalaman dan kenyataan, dan tidak menganjurkan satu melainkan banyak cara untuk memperoleh objek kajian. Konsep ilmu mencakup semua bentuk ilmu pengetahuan, yang diperoleh lewat observasi murni maupun metafisika yang paling tinggi. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui wahyu dan akal, dari observasi maupun intuisi, dari tradisi maupun spekulasi teoritis.19

Namun demikian, dalam epistemologi Islam, wahyu merupakan pendekatan yang paling istimewa. Muhammad Abduh dalam “Risalah Tauhid” mengartikan wahyu adalah pengetahuan yang di dapat oleh seseorang di dalam dirinya serta diyakini olehnya. Hal itu berasal dari jihah Allah , baik melalui perantara atau tidak.20 Karenanya berdasar pengertian dari Muhammad Abduh, wahyu dalam arti luasnya dapat diperoleh oleh setiap manusia. Etimologi wahyu sendiri berarti berita, baik tertulis atau lisan, pendeknya segala berita yang disampaikan kepada orang lain supaya orang itu mengetahui. Dan kemudian dibiasakan pemakaiannya kepada segala berita yang disampaikan dari Allah kepada Nabi. Sebab itu wahyu bisa diperoleh oleh setiap manusia. Sedangkan yang diperoleh oleh manusia atau umat Islam, sejenis wahyu adalah ilham. Ilham adalah perenungan suatu pengetahuan ke dalam jiwa yang diminta supaya dikerjakan oleh penerimanya tanpa ikhtiar melakukan ijtihad dan menyelidiki hujjah-hujjah agama.

Dalam pembahasan lebih rinci, pada kerangka pemikiran epistemologi spiritualnya Al-Ghazali terdapat pemikiran tentang ilmu laduni.

19 A. Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),

hlm. 265

20 Muhammad Abduh, alih bahasa K.H. Firdaus A.N., Risalah Tauhid, (Jakarta: Bulan

(11)

Ilmu laduni ini dibedakan dengan wahyu dan ilham. Ia menjelaskan ilmu datang dari Tuhan melalui ilham, tetapi ilham bukan merupakan wahyu. Wahyu diberikan hanya kepada Nabi atau rasul, sedangkan ilham diberikan kepada seiapa saja yang Allah kehendaki. Dan ilmu laduni sendiri diperoleh manusia melalui ungkapan langsung (mukasyafah). Untuk memperoleh mukasyafah ini, diperlukan proses panjang yang harus dijalani manusia. Hal ini karena Tuhan (sebagai pemeberi ilmu) adalah Dzat Yang Maha Suci, yang memberikan ilmu laduni hanya kepada orang-orang tertentubyang jiwanya telah tersucikan.21

Al-Ghazali memberikan ta’rif ilmu laduni dalam karyanya Ihya ‘Ulumudin sebagai ilmu yang datang dari Tuhan secara langsung ke lubuk hati manusia tanpa sebab, dan tanpa belajar karena ia didatangkan Tuhan melalui jalan kasyf dan ilham. Seperti ungkapannya sebagai berikut:

! " #$

% &' ( $ )*+$ , +-./

01 2 3 4 5

6 7 3

8 #3/9 : ;<'

= >?

3

'&3@9 : ;< #3AB2 B

3@

3 CD# '&3@9 < = >? *4 CD# $& $

E

Ketauhilah bahwasanya ilmu-ilmu yang bukan dharuri berbeda-beda keadaannya dalam memperolehnya. Ada yang masuk secara mendadak ke dalam hati, seolah-olah disusupkan ke dalam hati tanpa diketahui dari mana datangnya. Dan kadang-kadang diperoleh dengan menggunakan dalil-dalil dan belajar ilmu yang diperoleh tanpa melakukan usaha dan mengutak-atik dalil dinamakan ilham, sedangkan ilmu yang diperoleh dengan mengutak-atik dalil itu dinamakan i’tibar (pertimbangan) dan istibshar (melihat dengan teliti).22

21 M. Solihin, Epitemologi Ilmu dalam Sudut Pandang Al-Ghazali, (Bandung: CV.

Pustaka Setia, 2001), hlm. 16

22 Ghazali, Ihya “Ulum Ad-Din, Jilid III, (Indonesia: Dar Ihya Kutub

(12)

Al-Ghazali membedakan berdasarkan keterangan itu, antara ilmu laduni dengan yang bukan laduni. Ilmu laduni ditekankan pada proses penyampaian ilmu dari Tuhan dengan tanpa sebab dan seara spontan langsung masuk ke dalam hati manusia. Adapun ilmu yang bukan laduni diperoleh dengan adanya upaya (iktisab) dari manusia.

Meskipun antara wahyu, ilham dan ilmu laduni jelas perbedaannya, namun ada hubungannya. Yaitu berdasar ungkapan Al-Ghazali di atas, ilmu yang datang ke dalam hati tanpa mengutak-atik dalil, belajar, serta usaha yang sungguh-sungguh daro seseorang untuk memperolehnya terbagi atas dua bagian, pertama, ilmu yang tidak diketahui oleh seseorang bagaimana dan dari mana diperolehnya. Kedua, ilmu yang diketahui oleh seseorang melalui suatu sebab, yang dari sebab itulah ia memperoleh ilmu, yaitu menyaksikan malaikat menyusupkan ilmu ke dalam hatinya. Ilmu yang pertama dinamakan ilah dan ilmu yang kedua dinamakan wahyu. Dari sini diketahui perbedaan antara ilham dan wahyu meskipun sama-sama sebagai alat transmisi ilmu. Dari sini dapat dipahami bahwa kedudukan ilham sangat penting dalam menghasilkan ilmu laduni.

Al-Gazali merumuskan ilmu yang diperoleh lewat ilham sebagai ilmu laduni, yakni ilmu yang didapat tanpa mengkaji dan mencari dalilnya. Dan kedudukan wahyu berfungsi sebagai informasi dan konfirmasi dari Tuhan kepada manusia melalui malaikat Jibril yang diberikan kepada Nabi dan Rasul. Dalam pandnagan Al-Ghazali fungsi wahyu seperti ini sama dengan fungsi ilham yang diberikan kepada selain Nabi dan Rasul. Melalui ilham inilah ilmu laduni diberikan kepada manusia yang dikehendaki Allah.23

Manusia sadar wahyu merupakan pernyataan Tuhan yang membawa kebenaran, karena itu tugasnya dia dalam kaitan ilmu pengetahuan adalah berikhtiar menelaah dan memberi interpretasi atas wahyu Tuhan untuk lebih memahami kebenaran yang paling hakiki. Sebagai interpretasi, mungkin saja mengalami perbaikan dan perubahan, karena interpretasi atau penafsiran bukanlah firman Tuhan tapi hasil ikhtiar manusia. Pendekatan wahyu ini

(13)

sangat bersifat metafisik dan bercirikan transendental dan supra-inderawi. Mungkin hanya orang tertentu saja yang dapat menggunakannya.

Pendekatan lainnya adalah pendekatan intuisi, pendekatan ini dilakukan dengan observasi dan eksperimentasi oleh ilmu pengetahuan modern pada –yang disebut alam pertama atau alam yang ditangkap pancaindera. Dan melakukan pendekatan intuisi pada yang disebut alam intuisi, yaitu alam yang berkaitan dengan jiwa yang tidak mungkin ditundukkan dengan pengalaman atau analogi.

Yang hampir mirip dengan intuisi adalah pendekatan gabungan antara pendekatan empirisme dan rasionalisme. Pendekatan ini berkeyakinan bahwa cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu melalui pengertian penginderaan, tapi karena pengertian tidak dapat melihat dan indera tidak dapat berpikir, maka rasio dan indera harus dipadukan.

Empirisme menghendaki pencarian ilmu pengetahuan melalui pancaindera, karena indera tersebut yang menjadi isntrumen untuk menghubungan ke alam. Sedangkan rasionalisme menghendaki suatu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang beruk, yang benar dan yang tidak.

Semua pendekatan mempunyai kelebihan dan kekurangan bahkan mungkin ada keharmonisan di antaranya. Semuanya tergantung pada subjek yang menggunakannya, dalam arti kondisi tertentu pendekatan mana yang paling tepat dipilih. Namun yang peneliti hadirkan dalam tulisan ini, adalah yang menurut peneliti sesuai dengan konsep-konsep lainnya, dalam konsep manusia maupun ajaran al-Qur’an itu sendiri.

Secara ringkas dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT dan dapat diketahui dan

(14)

dipelajari melalui ayat-ayat kauniah dan ayat-ayat qur’aniah. Dan dapat dilihat dalam rumusan skema24 sebagai berikut:25

Saling Menjelaskan

Sedangkan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam sangatlah tinggi. Dalam historis Islam, diceritakan dalam al-Qur’an kehadiran Nabi Adam a.s. di atas bumi berbekal seperangkat ilmu pengetahuan, firman Allah Swt. surat Al-Baqarah: 31:

F'GHFI < J K*

AKL C

M! N M/FI' O

PQ&R 3S/

T

2

U

V

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. (Q.S Al-Baqarah: 31).26

Dalam ayat ini Allah Swt. menunjukkan suatu keistimewaan yang telah dikaruniakanNya kepada Adam as yang tidak pernah dikaruniakanNya

24 Bentuk skema ini telah peneliti kodifikasi dari bentuk skema aslinya dengan

menambahkan macam interpretasi yang menghasilkan ilmu pengetahuan, yaitu akal, wahyu, indera dan intusi.

25 Lihat dalam Muhaimin dan Mujib, Abdul, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian

Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: PT. Trigenda Karya, 1993), hlm. 84

26 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggra Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an,

Prof. R.H.A.Soemarjo S.H (Ketua), 1971, hlm. 14 Allah Dzat Yang

Allim Ayat-ayat kauniah Interpretasi Manusia Ayat-ayat qur’aniah Ilmu Pengetahuan

(15)

kepada makhluk-makhlukNya yang lain, yaitu ilmu pengetahuan dan kekuatan-kekuatan akal atau daya pikir yang memungkinkannya untuk mempelajari sesuatu dengan sedalam-dalamnya. Keistimewaan ini diturunkan pula kepada turunannya, yaitu umat manusia. Yang karenanya manusia lebih patut untuk dijadikan khalifah.27

Demikian ini mengandung pelajaran bahwa manusia yang telah dikaruniai ilmu pengetahuan yang lebih banyak dari yang diberikan kepada makhluk lain termasuk malaikat, hendaklah selalu mensyukuri nikmat tersebut, serta tidak menjadi sombong dan angkuh karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan kekuatan daya fikirnya. Karena fakta juga menunjukkan betapapun tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi pada era sekarang ini, namun masih banyak rahasia-rahasia alam ciptaan Tuhan yang belum dapat dijangkau olrh ilmu pengetahuan manusia, misalnya tentang hakikat roh yang ada pada diri manusia itu sendiri.

Dengan ilmu tersebut, Adam dan anak cucunya (umat manusia) terangkat derajatnya, fiman Allah Swt. surat Al-Mujadilah: 11:

A W X#Y 5# Z [

5#YB A $Q \ S* ) ? M

" ] O

B ) ?

AS* S* ) ? W ^ _`- _`- $Q\

a b

D B cW

T

O[

U

V

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah; niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yeng diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Al-Mujadilah: 11).28

27 Al-Qur’an dan Tafsirnya, Naskah Asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia,

Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 1991, Jilid 1, Juz 1, 2 dan 3, hlm. 88

(16)

Ayat di atas memberikan keterangan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berimn, yang taat dan patuh kepadaNya, melaksanakan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-larangaNya, berusaha menciptakan suasana damai, aman dan tentram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah. Bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya tersebut diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.29

Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat dibuat sebagai standar kualitas stratifikasi manusia. Karenanya, dengan demikian ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam memiliki kedudukan tinggi. Yaitu ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mencari kebenaran. Dengan menggunakan intelegensi dan dibimbing hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran sekalipun hasilnya relatif. Namun kebenaran relatif itu sebagai tonggak sejarah mencapai kebenaran mutlak (Allah SWT). Keyakinan akan kebenaran mutlak pada suatu saat akan tercapai ketika manusia memahami secara benar seluruh alam dan sejarahnya sendiri.

Kedudukan ilmu pengetahuan juga sebagai prasyarat amal shaleh. Bahwa hanya orang yang dibimbing dengan ilmu pengetahuan yang berjalan di atas kebenaran, yang mana dilandasi dengan iman akan mencapai puncak kemanusiaan yang tinggi. Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam. Merupakan instrumen untuk mencapai tujuan yang dikehendaki Allah SWT, yaitu menyejahterakan diri dan manusia lain. Yang berarti manusia harus mengetahui hukum-hukum dan aturan-aturan yang memungkinkan manusia mengelola alam. Abu Hasan menyatakan tujuan ilmu pengetahuan adalah menghilangkan hambatan-hambatan pada jalan perkembangan yang benar bagi pribadi Muslim dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam.

29 Al-Qur’an dan Tafsirnya, Naskah Asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia,

(17)

Selain itu kedudukan ilmu pengetahuan adalah sebagai alat pengembang daya kreatifitas pikiran, di samping ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai produk berpikir. Ilmu pengetahuanlah yang membiasakan manusia untuk memahami dan berpikir sesuatu secara keilmuan sehingga mempertajam daya pikir. Yang mengandung arti pula ilmu pengetahuan berkedudukan sebagai hasil pengembangan daya pikir. Di mana penggunaan daya pikir selalu dianjurkan dalam Islam untuk menghasilkan ilmu pengetahuan.30

Dengan demikian, antara ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam adalah satu kesatuan yang integral dan utuh tidak dapat dipisahkan. Proses pendidikan Islam tidak hanya menggali dan mengembangkan sains, tapi lebih penting lagi dapat menemukan konsep baru tentang sains yang utuh untuk membangun masyarakat Islam sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Yaitu sains yang berorientasi pada nilai-nilai Islam.

Pendidikan Islam tidak menghendaki dikotomi keilmuan, karena hanya akan menyebabkan sekuleristis, rasionalistis-empiris, intuitif dan materialistis. Tetapi konsepnya adalah, ilmu pengetahuan dikembangkan dalam rangka melaksanakan amanah Tuhan dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang, bertambah pulalah petunjuk Tuhan. Ilmu pengetahuan memberi nilai pragmatis jika ia dapat mempertebal iman dan ketakwaan seseorang dan menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas dalam kehidupannya sebagai hamba dan khalifah Allah.

Di sisi lain, kebenaran yang diperoleh ilmu pengetahuan bersifat nisbi, karenanya perolehan kebenaran terus menerus dilakukan menurut teori evolusi tanpa batas ruang dan waktu. Dan tugas pendidikan Islam mengarahkan anak didik untuk mampu mengikuti perubahan kondisi yang dihadapi dan memberikan sumbangsih pemikiran ilmiah dalam memecahkan problem pribadi dan sosial. Serta mengkondisikan anak didik mampu

30 Jujun S. Suriasumantri, dalam Saefudin AM, Desekulerisasi Pendidikan Landasan

(18)

mempergunakan daya ijtihadnya dengan berpijak dalam kerangka ilmiah dan kerangka perubahan yang terjadi. Sehingga terbebas dari pengaruh hawa nafsu, belenggu taqlid dan sebaliknya mampu berpikir objektif.

B. Tipologi Rekonstruksi Sosial

Di dalam bab II telah dikemukakan beberapa tipologi pemikiran filsafat pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Masing-masing memiliki ciri dan katakteristik sendiri-sendiri berkaitan dengan bagaimana format pendidikan yang ideal bagi konteks sosial di Indonesia. Sebagai sebuah pemikiran yang serius (ilmiah), maka tentunya keseluruhan tipologi tersebut meski memiliki ciri dan karakteristik berbeda baik dalam dasar yang digunakan sebagai sumber ilmu dalam pendidikan Islam, orientasi pendidikan Islam, sampai bagaimana seharusnya aktivitas pendidikan Islam itu berjalan. Namun demikian keseluruhan tipologi pemikiran itu akan memiliki relevansinya dalam suatu setting sosial yang berbeda pula. Bahkan mungkin keseluruhannnya merupakan satu kesatuan yang harus ada di dalam mega proses pendidikan. Karena dalam pemikiran seseorang mungkin juga keseluruhan tipologi itu ada meski dalam suatu bahasannya yang tertentu.

Seperti telah disinggung pula, bahwa beberapa tipologi pemikiran filosofis yang berkembang di Indonesia, diketahui lebih dilingkupi wawasan kependidikan Islam para pemikirnya yang terlalu berwawasan masa lalu dan sekarang. Sehingga wawasan terhadap masa akan datang atau masa depan tidak pula diikutsertakan. Padahal diketahui aktivitas pendidikan dalam Islam dipahami sebagai proses bukan hasil final, sudah seharusnya wawasan masa depan sebagai kajian integral dalam pemikiran filosofis pendidikan Islam di Indonesia. Dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat berkat majunya teknologi, rumusan pendidikan yang bersifat progresif dan dinamis serta memiliki wawasan kependidikan Islam yang proaktif dan antisipatif dalam menghadapi percepatan perkembangan iptek dan tuntuntan perubahan zaman sangat diperlukan.

(19)

Mengingat gambaran kualitas sumber daya manusia yang ingin diwujudkan pada milenium ketiga ini adalah masyarakat industri, di mana visi masyarakat Indonesia antara lain adalah; Pertama, manusia Indonesia yang telah berpendidikan tinggi, lebih sehat, pengetahuan umumnya lebih luas, makin cerdas manusia dan pekerjaannya makin terspesialisasi. Pengesuaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang main canggih, makin berdisiplin dan dengan interaksi yang makin intensif dengan dunia internasional. Kedua, kualitas demokrasi meningkat, kehidupan masyarakat yang transparan, berkembangnya sikap pembaruan dan kritis masyarakat, meningkatnya kualitas partisipasi masyarakat.31

Secara sederhana dapat dideskripsikan, tipologi perennial esensialis salafi dan perennial esensialis mazhabi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam pada masa lalu. Tipologi modernis lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam masa sekarang, yaitu bagaimana pendidikan Islam mampu menyiapkan peserta didik yang mampu melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, agar dapat berbuat sesuatu yang intelegen dan mampu mengadakan adaptasi-adaptasi sesuai dengan tuntutan lingkungan masa sekarang. Dan perennial esensialis kontesktual falsifikatif mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan melakukan kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan serta perubahan sosial yang terjadi.

Pada era yang disebut post modern32 ini dengan ciri percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi dan perubahan infra struktur sosial

31 Sufyarma M., Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, (Bandung: CV. Alvabeta, 2003),

hlm. 31

32 Post Moderisme juga merupakan istilag filsafat yang muncul pada dasawarsa 90-an.

Inti dari post modernisme adalah pemikiran untuk menganalisis secara kritis segala doktrin-doktrin yang ada pada paradigma modernisme, seperti pemikiran yang skematis dan absolutisme. Tiga ciri dasar pemikiran post modernisme ini; pertama dekontruksionisme, semisal mengkritisi konstruksi

grand theory dalam pendidikan yang dianggap sudah final dan mampu memecahkan segala

persoalan sosial masyarakat. Kedua, relativisme yaitu mengkritisi semisal pemikiran hukum-hukum alam dan sosial yang dibangun lewat rasio tapi mengesampingkan aspek historis dan pengaruh sosial budaya dalam aplikasi hukum-hukum alam dan sosial tersebut. Ketiga, pluralisme yaitu mengkritisi paradigma tunggal modernisme karena dalam kenyataannya segala sektor

(20)

serta perkembangan tuntutan dunia kerja, menjadi semakin penting bagi pendidikan memerlukan persiapan yang lebih intens. Dan yang lebih esensial lagi adalah bahwa semua percepatan, perkembangan dan tuntutan tersebut semakin banyak yang tak terduga. Karena itu, pendidikan Islam sudah saatnya bukan lagi sebatas membekali peserta didik menjadi kontruktifist sosial,33 (seperti hasil yang nantinya akan diperoleh oleh perennial esensialis salafi dan perennial esensialis mazhabi, tipologi modernis dan perennial esensialis kontesktual falsifikatif) tapi lebih dari itu adalah mampu menjadi seorang “rekonstruktor sosial”. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki sifat dan watak dinamis menginginkan perubahan ke arah yang mapan.

Rekonstruksi sosial adalah model pemikiran yang menganggap pendidikan sebagai interaksi antara potensi dan budaya dan fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi anak didik sehingga menjadi cakap dan kreatif sekaligus mampu bertanggungjawab dalam interaksi dengan, dan membangun serta mengembangkan masyarakatnya.34

Kompleksitas kehidupan pluralistik menuntut seseorang untuk tidak menampilkan konstruk tertentu yang closed ended, tetapi menampilkan konstruk yang terus dikembangkan bolak balik antara empiri dan konsep teori (logika reflektif). Yang berarti filsafat pendidikan seharusnya berangkat dari bottom up yang dibangun dari grass root dalam mengejar keunggulan. Karena percepatan perubahan sosial dan lain-lainnya tidak terduga, maka rekonstruksi sosial tersebut perlu dikembangkan postparadigmatik yakni paradigmanya terus diperkembangkan. Dalam operasional kurikulum misalnya perlu

kehidupan baik ras, agama, ekonomi dan lainnya menampakkan wajah pluralistik, karena itu dibutuhkan paradigma tidak hanya satu. Lihat Majalah Edukasi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, “Pendidikan Post Modernisme”, Edisi 26/TH.X/V/2002, hlm. 14

33 Konstruktifist sosial adalah di mana seseorang hanya bersifat dan bersikap lebih pasif

yaitu hanya menunggu perubahan sosial di mana diriya akan ikut serta didalamnya setelah terjadi perubahan itu. Tapi menjadi seorang rekonstruktor sosial adalah ia lebih dari sekedar bersifat dan bersikap pasif menunggu perubahan sosial di mana ia akan ikut serta tapi lebih dari itu ia adalah penggagas, perancang format dan pelopor perubahan sosial menuju keadaan sosial masyarakat yang lebih mapan.

(21)

dikembangkan utuk selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, agar silabi dapat diperbarui secara simultan.

Jika diperhatikan tipologi rekonstruksi sosial yang seperti tersebut, tampaklah bahwa pemikiran pendidikan lebih bersifat proaktif dan antisipatif. Dikatakan proaktif, karena ia berusaha mencari jawaban sekaligus memperkirakan perkembangan ke depan atas situasi dan kondisi serta permasalahan yang ada. Dikatakan antisipatif, karena ia berusaha untuk mengkondisikan sesuatu, kondisi dan faktor menjadi lebih ideal. Tugas pendidikan adalah membantu peserta didik agar menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan masyarakatnya. Untuk mewujudkan kedua sikap tersebut diperlukan aktivits pendidikan yang komitmen terhadap pengembangan kreativitas secara berkelanjutan, sehingga khazanah budaya bisa diperkaya, nilai-nilai insani dan Illahi tidak hanya dilestarikan begitu saja tetapi juga diperkaya isinya, serta produktif baik dari segi ekonomi, estetik, sosial, kultural dan sebagainya.

Dalam konteks pemikiran filsafat pendidikan Islam, al-Qur’an juga secara implisit memberikan semangat kepada manusia untuk menjadi dan melakukan rekonstruksi sosial. Fiman Allah Swt dalam QS. al-Hasyr: 18:

W

W B &d " *&Q* Z Y- eS3 W B S* ) ? M

D Bca b

T

`6

U

V

Wahai orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hasyr: 18)35 Ayat ini memerintahkan orang yang beriman untuk bertaqwa kepada Allah Swt. dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya. Agar seseorang bertaqwa kepada Allah ia harus selalu memperhatikan dan meneliti apa yang dikerjakannya, memperhitungkan manfaat untuk kepentingan dirinya di akhirat nanti. Di samping itu ia harus selalu memperhitungkan perbuatannya sendiri, yaitu sesuai atau tidak dengan ajaran agama. Hal ini

35 Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir

(22)

dilakukan karena sesungguhnya setiap pekerjaan manusia akan selalu diketahui oleh Allah Swt., baik yang tampak ataupun tidak tampak.36

Orang Muslim diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah Swt.. Selain pula setiap individu Muslim diwajibkan melakukan nazar terhadap segala sesuatu (ide, konsep dan rencana kerja dan lain-lain) yang telah diajukan atau ditawarkan untuk hari esok (masa depan). Yang demikian itu menunjukkan ketaqwaan seorang Muslim kepada Allah Yang Maha Pemberi khabar terhadap prestasi kerja setiap hambaNya.

Melakukan “nazar” dapat berarti selalu melakukan perubahan pandangan (cara pandang) dan cara penalaran (kerangka pikir) untuk menangkap dan melihat sesuatu; atau meneliti dan merenungkan serta menguji dan memeriksanya secara cermat. Termasuk di dalamnya adalah berpikir dan berpandangan alternatif serta mendekati sesuatu dari berbagai perspektif dalam mengantisipasi masa depan. Hanya saja sebelum dan sesudah melakukan nazar dituntut untuk tetap komitmen terhadap ajaran-ajaranNya (taqwa), walaupun tidak harus tampil secara hitam putih, dan lebih bersifat nuasif dan dalam interaksi pluralisme dimungkinkan adanya over lapping concensus (tumpang tindihnya kesepakatan tata nilai).

Sebagai sebuah pemikiran serius tipologi rekonstruksi sosial perlu dikemukakan landasan-landasannya. Secara epistemologik, historis kebudayaan manusia membuktikan bahwa kreatifitas akal manusia telah memperbesar jarak manusia dengan makhluk yang lain, yaitu derajatnya semakin jauh lebih tinggi dalam kualitasnya dibandingkan makhluk yang lain. Tuntutan kehidupan manusia berkembang eksponensial dan menjadi lebih global, sehingga rekonstruksi sosial secara berkelanjutan atau simultan (postparadigmatik) harus menjadi dasar pemikiran pula dalam pendidikan Islam. Juga dalam historis secara metafisik kebudayan bangsa Indonesia adalah pluralistik tetapi dalam satu tekad yang tertuang dalam semangat ber-bhineka tunggal ika. Di mana dalam kemajemukan budaya tersebut moral

36 Al-Qur’an dan Tafsirnya, Naskah Asli Milik Departemen Agama Republik Indonesia,

(23)

menjadi standar penilain bagi perilaku masyarakatnya. Secara aksiologik pula dalam historis diakui adanya keragaman tata nilai antar agama dan mungkin juga antar etnik. Di mana hal itu justru dijadikan medan saling menghormati, dengan satu keyakinan universal dan adil bahwa yang baik akan memperoleh pahala dan yang jahat akan memperoleh siksa Tuhan.

Kemudian dalam agenda reformasi pendidikan nasional, posisi pendidikan Islam sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjadi semakin mantap, yang secara implisit menunjukkan pengakuan bangsa terhadap sumbangan besar pendidikan Islam dalam upaya mendidik dan mencerdasakan bangsa. Pengakuan dan pemantapan ini menurut Ayumardi Azra merupakan tantangan yang memerlukan respon positif dari pemikir dan pengelola pendidikan Islam untuk lebih meningkatkan kualitasnya, baik dalam menghadapi semakin tingginya tuntutan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perlunya pemantapan penghayatan dan pengamalan ajaran-ajaran agama.37

Jika paradigma filsafatnya demikian, maka pendidikan Islam akan lebih bersifat proaktif dan antisipatif, karena ia berikhtiar mencari jawaban dan sekaligus memperkirakan perkembangan ke depan atas situasi dan kondisi serta permasalahan yang ada. Serta berikhtiar untuk mengkondisikan situasi, kondisi dan faktor menjadi lebih ideal, sehingga permasalahan yang ada akan dipecahkan ke perubahan yang lebih ideal. Yang berarti pula dapat dikatakan pula sekaligus dalam bahasa Mastuhu a-proaktif38 dan antisipatif, yaitu mendahului perkembangan masalah yang akan hadir di masa mendatang, juga

37 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Op.Cit., hlm. 57-58

38 A-Proaktif adalah sebuah istilah yang dikemukakan oleh Mastuhu untuk menyebut

gambaran seharusnya yang dilakukan dalam aktivtas pendidikan Islam. Untuk menghindari kerancuan, karena di situ Mastuhu menyandingkan term a-proaktif dengan antisipatif (menggunakan kata sambung “dan”) padahal keduanya memiliki konotasi yang bertolak belakang, maka perlu diberi penjelasan sesuai dengan pemahaman peneliti, adalah bahwa a-proaktf keharusan pendidikan Islam untuk memperhatikan pula khazanah-khazanah klasik, baik yang berwujud nilai-nilai, aturan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, di samping juga harus memperhatikan kepentingan masa depan yaitu melakukan langkah-langkah antisipasi dalam menghadapi perkembangan zaman dan masyarakat yang begitu cepat.

(24)

harus mempu mempertahankan nilai-nilai dasar yang benar dan diyakini untuk terus dipelihara dan dikembangkan.39

Dengan demikian tugas pendidikan akan lebih membantu peserta didik agar menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan masyarakatnya. Untuk mewujudkan kedua sikap tersebut diperlukan aktvitas pendidikan yang komitmen terhadap pengembangan kreativitas secara berkelanjutan, sehingga khazanah budaya bisa diperkaya, nilai-nilai insani dan Illahi tidak hanya dilestarikan begitu saja tetapi juga diperkaya isinya, serta produktif baik dari segi ekonomi, estetik, sosial dan kultural serta sebagainya.

Beberapa hal tersebut di atas, baik dilihat dari fakta historis budaya bangsa Indonesia maupun historis pendidikan nasional menggaris bawahi perlunya filsafat pendidikan Islam di Indonesia yang dibangun dari penggalian kembali ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar sumber pokok pendidikan Islam, untuk memberi landasan konseptual pendidikan Islam, serta perlunya respon positif dari para pemikir dan pengelola pendidikan Islam untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan.

Azyumardi Azra memberikan karakteristik bagaimana seharusnya membangun paradigma baru pengembangan pendidikan Islam, yaitu: pertama, penekanan pada pencarian ilmu pengetahuan, penguasaan dan pengembangan atas dasar ibadah kepada Allah; kedua, penekanan pada nilai-nilai akhlak; ketiga, pengakuan akan potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam suatu kerpibadian; dan keempat, pengenalan ilmu pengetahuan atas dasar tanggungjawab kepada Tuhan dan masyarakat manusia.40

Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa penggalian kembali ajaran-ajaran dan nilai-nilai sumber pokok pendidikan Islam dalam rangka pencarian, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan tidak harus ditampilkan dalam bentuk perennial esensialis mazhabi ataupun perennial esensialis salafi, tetapi dapat ditampilkan lebih kritis dan dinamis,

39 Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,

1999), hlm. 4

(25)

serta proaktif dan antisipatif terutama dalam merespon dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, percepatan perubahan-perubahan sosial dan perkembangan zaman, dengan tetap dilandasi oleh jiwa dan spirit Islam, yakni ibadah kepada Allah disertai iman dan taqwa yang kuat kepada Allah Swt.

Penekanan pada nilai-nilai akhlak seperti dikemukakan Azra itu, juga mau tidak mau harus di letakkan pada kenyataan bahwa sejak semula bangsa Indonesia mengenal dan hidup dalam pluralisme. Baik dalam agama, ras, etnis, budaya, tradisi dan sebagaiya, dan sesungguhnya semuanya rentan memunculkan konflik-konflik dalam kehidupan bersosial. Dengan demikian penekanan nilai-nilai akhlak mengandung arti bahwa eksistensi pendidikan Islam seharusnya tidak sampai menumbuhkan semangat fanatisme, menumbuhkan sikap intoleran, dan memperlemah kerukunan hidup beragama serta persatuan dan kesatuan nasional.41

Setiap manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk terbaik:

f B)# g #-' S b &

h

P @ Y@ +-OO N

T

P3

U

i

V

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS. At-Tiin: 4-5) 42

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menjadikan manusia makhluk ciptanNya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Manusia diberikan akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi dan sanggup menguasai alam dan binatang.43

Dan juga manusia adalah diciptakan dalam keadaan fitrah (suci) sehingga mempunyai potensi benar. Tetapi juga manusia diciptakan oleh

41 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Op.Cit., hlm. 140 42 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op.Cit., hlm. 1076

(26)

Allah sebagai makhluk dlaif, sehingga setiap manusia mempunyai potensi salah. Firman Allah Swt.:

Y$! #-' : b AS 7 Yj W &

T

F#S

U

V

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisaa’: 28) 44

Hamka memberikan penafsiran atas ayat tersebut sebagai berikut: Sesungguhnya dengan segala peraturan yang telah ditentukan oleh Tuhan itu, sejak dari beristri dengan batas empat asal sangguup berlaku adil, (dijelaskan dalam ayat sebelumnya) sampai kepada boleh berkawin saja dengan budak perempuan, karena memelihara diri daripada berzina, sebab berkawin dengan budak itu ringan belanjanya, semuanya itu adalah untuk meringankan kamu, sebab Tuhan sendiripun mengakui bahwasanya Tuhan telah menciptakan kamu dalam keadaan lemah. Seluruh manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Karena lemahmu itu, kamu tidak akan sanggup menahan syahwatmu terus menerus.45

Penjelasan Hamka tersebut memberikan keterangan bahwa manusia sangat bersifat lemah, tidak sanggup menahan hawa nafsunya. Padahal jika yang demikian ini terjadi, maka kerja manusia sebagaimana fungsinya menjadi khalifah dan Abdullah; termasuk membangun masyarakat, membangun negara, membentuk kepribadian yang baik dan lain-lainnya yang bersifat untuk kepentingan kebahagiaan hidup manusia itu sendiri di dunia dan akhirat tidak akan pernah tercapai. Dalam hal ini manusia sangat lemah dan butuh bimbingan dari Allah.

Pandangan Islam (al-Qur’an) tentang manusia yang demikian ini, akan berimplikasi pada sikap dan perilaku seorang Muslim yang banyak menyatakan pendapat, harus mau mendengarkan dan menghargai pendapat serta pandangan orang lain, tidak absolutisme, serta tidak mengembangkan sistem kultus individu, fanatisme buta terhadap kelompok, karena kultus hanya diarahkan pada Allah Swt. semata. Yang berarti pendidikan Islam diharapkan akan mampu menciptakan ukhuwah Islamiyah dalam arti luas,

44 Al-Qur’an dan Terjemahnya, Op.Cit., hlm 122

(27)

yaitu membentuk pribadi Muslim yang memiliki keshalehan pribadi dan keshalehan sosial.

Dengan keshalehan pribadi akan menjadikan seseorang memiliki komitmen memperbaiki, meningkatkan serta mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya sekaligus meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan secara istiqomah. Sekaligus dengan keshalehan sosialnya ia akan menjadi seorang yang mempunyai kepedulian untuk berhubungan secara harmonis dengan lingkungan sosialnya dan sekaligus mampu ikut bertanggungjawab terhadap pengembangan masyarakatnya atau memiliki keunggulan partisipatoris yang dilandasi oleh tingginya kualitas iman dan taqwa kepada Allah Swt. Hubungan dengan sesamanya satu sama lain dirasakan bukanlah sesuatu yang asing tapi sebaliknya terasa ada keakraban dan cinta kasih. Maulana Wahiududdin menjelaskan: “Ideally the relation between on man and another ought not to be one of strangeness but one of familiarity; not of distance but of nearness, not of hatred but of love”.46

H.A.R Tilaar memberikan analisis bahwa ada beberapa kekuatan global yang juga hendak membentuk dunia masa depan, yaitu: pertama, kemajuan iptek dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia; kedua, perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemampuan iptek; ketiga, kerjasama global dan internasional yeng telah menyatukan kehidupan berusaha dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas negara; dan keempat, meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia dalam kehidupan bersama, dan semakin meningkatkan kesadaran bersama dalam alam demokrasi.47

Analisis tersebut menggarisbawahi pula bahwa pendidikan Islam harus menyiapkan peserta didik yang unggul dalam iptek, informasi, produktif dan kompetitif, dengan tetap memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bersama dan kesadaran bersama dalam alam demokrasi.

46 Maulana Wahiduddin, Principles of Islam, (New Delhi: Good Word Books, 2000),

hlm. 61

47 H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, (Magelang: Tera

(28)

Dengan demikian tegas bahwa sudah seharusnya pendidikan Islam yang berorientasi pada pengarahan peserta didik yang memiliki mental rekonstruktor sosial tidak hanya konstruktifist sosial. Seseorang yang mampu merespon perubahan sosial yang terjadi dan tuntutan zaman sekaligus mampu melakukan pembacaan-pembacaan terhadap fenomena-fenomena sosial lain yang akan terjadi untuk dilakukan formulasi-formulasi yang bersifat antisipasi, yakni rumusan yang ada dalam tipologi rekonstruksi sosial.

Atas dasar bahwa tipologi rekonstruksi sosial lebih menekankan pada tugas pendidikan sebagai upaya pengembangan aspek individual dan sekaligus pengembangan aspek tanggungjawab kemasyarakatan, serta lebih bersikap proaktif dan antisipatif dalam menghadapi permasalahan bangsa Indonesia di masa depan, kiranya demikianlah filsafat pendidikan Islam yang perlu dikembangkan di Indonesia. Barangkali yang lebih harus ditekankan adalah agar tipologi ini lebih bersifat teosentris, di mana pernyataan Mastuhu, antroposentris adalah bagian integral dan teosentris.

Bangsa Indonesia mengakui Pancasila sebagai dasar negara, di mana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini menjadi acuan utama dalam menjalankan dan mengembangkan empat sila yang lain. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa juga mangandung pengertian akan keharusan bangsa Indonesia untuk bersikap teosentris. Dalam konteks ajaran Islam, sila Ketuhanan Yang Maha Esa atau sikap teosentris ini dimaknai dengan konsep tauhid.48 Dengan demikian, pengembangan filsafat pendidikan Islam di Indonesia bercorak tipologi rekontruksi sosial yang bersifat teosentris atau berlandaskan tauhid.

Dalam khazanah pemikiran Islam, setidak-tidaknya terdapat empat macam konsep tauhid, yaitu konsep tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah, tauhid mulkiyah dan konsep tauhid rahmaniyah. Untuk menghasilkan suatu pribadi

(29)

yang integral melalui proses pendidikan, maka keempat konsep tauhid tersebut perlu terintegrasikan menjadi suatu konsep tauhid yang holistik.49

Tauhid ulluhiyah bertolak dari pandangan dasar bahwa tiada sesuatu pun yang patut disembah kecuali hanya Allah semata, penyembahan kepada selain-Nya berarti syirik. Pandangan semacam ini berimplikasi pada proses pendidikan lebih banyak memberi kesempatan kepada peserta didik untuk: answering question (mencari jawaban terhadap pertanyaan atau permasalahan), questioning answer (mempertanyakan jawaban-jawaban), dan questioning questions (senantiasa mempertanyakan atau mencari permasalahan), tanpa dibebani oleh rasa takut dan minder serta tidak terbelenggu oleh produk-produk permikiran atau temuan manusia yang bersifat relatif. Dengan demikian, proses pendidikan akan menghasilkan nilai-nilai positif yang serupa sikap rasional-kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka.

Tauhid rububiyah bertolak dari pandangan dasar vahwa hanya Allah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam seisinya. Alam ini diserahkan oleh Allah kepada manusia sehingga manusia (sebagai khalifah) dituntut untuk menggali dan menemukan ayat-ayat-Nya (tanda-tanda keagungan dan kebesarannya yang serba teratur dan terpelihara di dalam semesta ini. Pandangan semacam ini akan berimplikasi pada proses pendidikan yang lebih banyak memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengadakan penelitian, eksperimen di laboratorium dan sebagainya. Dengan demikian proses pendidikan akan menghasilkan nilai-nilai positif yang berupa sikap rasional empirik, obyektif-empirik, obyek matematis, dan professional.

Tauhid mulkiyah bertolak dari pandangan dasar bahwa Allah-lah Pemilik segalanya dan Yang Menguasai segalanya, manusia, alam semesta, dan hari kemudian. Atas dasar pandangan yang demikian ini, berimplikasi pada proses pendidikan yang diarahkan untuk terwujudnya kesadaran akan penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai amanah dan tanggungjawab

49M. Dawan Raharjo, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa Risalah Cemdekiawan

(30)

individu dan sosial dalam segala aktivitasnya, dengan dilandasi oleh wawasan “Inna lillahi wa inna illaihi raaji’uun” (sesungguhnya kita adalah milik Allah, manusia hanyalah memiliki hak pakai, dan pemilik yang sesungguhnya hanyalah Allah, sehingga setiap manusia mesti akan kembali kepadaNya serta mempertanggungjawabkan segala aktivitasnya dihadapanNya). Dengan demikian proses pendidikan akan menghasilkan nilai-nilai amanah dan tanggungjawab individu dan sosial (kemasyarakatan) serta tanggungjawabnya terhadap segala amal perbuatannya di muka bumi.

Tauhid rahmaniyah bertolak dari pandangan bahwa Allah Maha Rahman (Pengasih) dan Rahim (Penyayang), Maha Pengampun, Pemaaf dan sebagainya. Pandangan semacam ini akan berimplikasi pada proses pendidikan yang menekankan pada sikap telaten dan sabar dalam usaha pendidikan, serta terwujudnya sikap kasih-sayang, toleran dan saling menghargai antara sesama manusia, sikap kasih sayang terhadap makhluk lainnya. Dengan demikian akan tumbuh dan berkembang sifat dan sikap solidaritas terhadap sesama serta solidaritas terhadap mahkluk lainnya, termasuk di dalamnya solidaritas terhadap alam sekitar.

Dari berbagai uraian tersebut di atas, dapat diformulasikan konstruksi filosofis dari tipologi rekonstruksi sosial yang teosentris dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam, yaitu:

1. Secara epsitemologik, akal-budi manusia perlu ditumbuhkembang secara berkelanjutan dalam proses pendidikan yang bertolak dari pengembangan konsep tauhid ulluhiyah, rububiyah, mulkiyah dan rahmaniyah, agar semakin bersikap rasional-kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka, bersikap rasional-empirik, obyektf-empirik, obyektif-matematis, dan professional, dengan tetap memiliki komitmen terhadap nilai-nilai amanah dan tanggungjawab individu dan sosial (kemasyarakatan), sifat dan sikap solidaritas terhadap sesama serta terhadap makhluknya lainnya, termasuk di dalamnya solidaritas terhadap alam sekitar, serta mampu mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Tuhannya.

(31)

2. Secara ontoligik, realitas bangsa Indonesia adalah pluralistik, baik dalam agama, ras, etnis, tradisi, budaya dan sebagainya, yang sangat rentan terhadap timbulnya perpecahan dan konflik-konflik sosial. Bahkan di dalam tubuh masyarakat Islam sendiri terdapat keragaman (internal (internal diversity). Namun demikian, bangsa Indonesia sejak semula sudah bertekad ber-Bhineka Tunggal Ika. Dalam keragaman tersebut moral hidup ditampilkan dalam bentuk sikap keterbukaan, toleransi dan demokratis, mampu membuat overlapping consensus antaretnik, ras dan antar agama, serta berusaha melakukan penggalian secara berkelanjutan terhadap nilai-nilai agama yang universal sebagai faktor integrative. Di sisi lain, realitas bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila berhadapan dengan kemajuan iptek, era globalisasi, serta percepatan arus perubahan sosial. Dalam suasana tersebut menuntut terwujudnya sumberdaya manusia yang unggul bak dalam aspek intelektual, profesionalitas, maupun moral dan spiritual.

3. Secara aksiologik perlu diakui adanya keragaman tata nilai antar agama dan mungkin juga antar etnik. Dalam konteks kehidupan nasional dan juga global, tumpang tindihnya kesepakatan tata nilai mesti terjadi, tetapi perlu dididikkan untuk mengaktualisasikan hak dan kewajiban asasi manusia, dengan bertolak dari satu keyakinan universal dan adil bahwa yang baik memperoleh pahala, dan yang jahat akan memperoleh siska Tuhan.

C. Reorientasi Tujuan Pendidikan Islam

Merupakan konsekuensi dari formulasi pemikiran yang diuraikan di atas, maka reoreintasi pendidikan Islam harus dilakukan dalam rangka memberikan alternatif tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan fitrah manusia dan perkembangan sosial masyarakat di era kontemporer. Yang dapat dijelaskan dengan terlebih dahulu membahas tentang kerangka dasar filosofis dan teori dalam pendidikan Islam.

Perumusan filosofis dan teori pendidikan diperlukan untuk menyeimbangkan antara pendidikan di satu sisi dan dinamika perubahan

(32)

masyarakat di sisi lainnya. Dan suatu proses pembaruan pendidikan hanya akan terarah dengan baik dan mantap apabila didasarkan pada kerangka dasar filsafat dan teori pendidikan yang mantap. Filsafat pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan atas dasar asumsi-asumsi dasar yang kokoh dan jelas tentang manusia, yaitu hakikat kejadiannya, potensi-potensi bawaannya, tujuan hidup dan misinya di dunia ini, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, hubungannya dengan lingkungan dan alam sekitarnya, dan akhirnya hubungannya dengan Tuhan yang menciptakannya. Teori pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan atas dasar pertemuan antara pendekatan filosofis dan pendekatan empiris. Dapat dikatakan bahwa, kerangka dasar pertama pembaruan pendidikan Islam adalah konsepsi filosofis dan teoritis pendidikan yang didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia dan hubungannya dengan masyarakat, lingkungannya menurut ajaran Islam.50

Berdasarkan pada keranga seperti di atas, perlu dicermati proses pendidikan Islam dan pandangan Islam terhadap manusia sebagai makhluk yang dididik dan mendidik. Yaitu sesuai dengan maksud pendidikan Islam, bahwa tugas dan fungsi pendidikan adalah mengarahkan dengan sengaja segala potensi yang ada pada manusia seoptimal mungkin, sehingga dapat berkembang menjadi manusia Muslim yang baik. Mengarahkan agar ia mampu memikul amanah dan tanggungjawabnya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat sesuai dan sejalan dengan profil manusia Muslim yang baik sebagai tujuan akhir pendidikan Islam.

Dengan demikian unsur esensial dalam ikhtiar pengembangan pendidikan Islam harus didasarkan pada asumsi-asumsi dasar yang kokoh tentang manusia.51

Achmadi merumuskan bahwa manusia adalah makhluk jasmani rokhani yang paling mulia, manusia adalah makhluk yang suci sejak lahir,

50 Achmadi, Islam Sebagai Pradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media,

1992), hlm. 27

51 Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Madani

Referensi

Dokumen terkait

Produktivitas dan kepuasan, seperti peningkatan mutu pendidikan /kelulusan, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/ nasional, tanggung jawab sosial. Dengan

terhadap kaum Ata (hamba) yang terjadi di desa Haikatapu menunjukkan bahwa kedua kaum dalam struktur sosial masyarakat Sumba ini adalah target dari perubahan yang. menjadi

Perubahan sosial dan kebudayaan juga dapat terjadi karena Perubahan sosial dan kebudayaan juga dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari luar

Dalam ayat tersebut jelaslah, bahwa Allah telah menyuruh orang-orang yang beriman termasuk didalamnya orang tua, untuk menjaga dan memelihara keluarga dari api neraka. Mendidik

Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat yang tergolong panatik terhadap kebudayaan yang lama tidaklah mudah dihilangkan.Tetapi dengan adanya kebudayaan yang baru maka

Oleh karena itu, usulan perubahan sebagai berikut : [a] pendidikan harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang

Perubahan yang terjadi secara drastis pada umumnya hanya mengenai bentuk luarnya saja, sedangkan unsur-unsur sosial budaya yang menjadi bangunan dasarnya tidak

Teori evolusi menjelaskan bahwa perubahan sosial terjadi secara lambat untuk waktu yang lama di dalam sistem masyarakat. Menurut teori ini, perubahan sosial terjadi