• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang Lingkup Ginekologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ruang Lingkup Ginekologi"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

Ruang Lingkup Ginekologi

PENGERTIAN GINEKOLOGI

Ginekologi berasal dari kata Gynaecology yang secara harfiah berarti "ilmu mengenai wanita" atau science of woman yaitu cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari dan menangani penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium).

(sumber : http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/07/ginekologi.html)

Kata ginekologi sendiri berasal dari gyno/gynaikos = perempuan dan logos = ilmu, ilmu tentang perempuan. Perdefenisi berarti ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang organ (reproduksi) wanita diluar kehamilan. Bidang ginekologi termasuk didalamnya: kelainan bawaan, infeksi, tumor, kelainan haid, infertilitas dan lain-lain sebagainya.

(sumber : http://www.drdidispog.com/2008/07/istilah-obstetri-dan-ginelogi.html)

Ginekologi adalah ilmu penyakit kandungan, ilmu kelamin wanita. (sumber : Achmad, Maulana, dkk. 2003. Kamus Ilmiah Populer. Cetakan Pertama. Jakarta: Absolut.)

Ginekologi adalah dokumen bagian dari ilmu kedokteran yang berkenaan dengn fungsi-fungsi dan penyakit yang khas pada wanita. (sumber : Poerwadarminta, W.J.S. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.)

Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mengobati penyakit saluran kelamin pada wanita. (sumber: Tim Penrjemah EGC. 1994. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 26. Jakarta: EGC )

BATASAN GINEKOLOGI

Ginekologi mempelajari mengenai gangguan haid, perdarahan uterus

abnormal,keputihan, endometriosis, penyakit radang panggul, bartolinitis, mioma uteri, tumor ovarium neoplastik jinak, infertilitas, dan menopause. (sumber : http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/11/ilmu-kandungan-ginekologi/)

(2)

Gangguan Haid

v Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid : Hipermenorea atau menoragia yaitu perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari).

Hipomenorea yaitu perdarahan haid yang jumlahnya sedikit, ganti pembalut 1-2 kali per hari, dan lamanya 1-2 hari. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen &

progesteron, stenosis himen, stenosis serviks uteri, sinekia uteri (sindrom Asherman). Sinekia uteri didiagnosis dengan histerogram atau histeroskopi. v Kelainan Siklus :

Polimenorea yaitu siklus haid lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari). Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi, atau menjadi pendek masa lutea. Sebab lain ialah kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya.

Oligomenorea yaitu siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehtan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. v Amenorea yaitu bila tidak haid lebih dari 3 bulan baru dikatakan amenore, diluar amenore fisiologik. Penyebabnya dapat berupa gangguan di hipotalamus, hipofisis, ovarium (folikel), uterus (endometrium) dan vagina. Kasus-kasus yang harus dikirim ke dokter ahli adalah adanya tanda-tanda kelaki-lakian (maskulinisasi), adanya galaktorea, cacat bawaan, uji estrogen dan progesteron yang negatif, adanya penyakit lain (tuberkulosis, penyakit hati, diabetes melitus, kanker), infertilitas atau stress berat.

v Perdarahan diluar haid :

Metroragia yaitu perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan estrogen eksogen.

· Gangguan lain yang berhubungan dengan haid : Premenstrual tension (ketegangan prahaid)

Mastodinia

Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) Dismennorea

(3)

2. Perdarahan Uterus Abnormal

Secara umum, penyebab perdarahan uterus abnormal adalah kelainan organik (tumor, infeksi), sistemik (kelainan faktor pembekuan), dan fungsional alat reproduksi.

3. Keputihan

Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil. (http://id.wikipedia.org/wiki/Keputihan) 4. Endometriosis

Endometriosis adalah pertumbuhan abnormal dari kelenjar dan stroma

endometrium di luar uterus. Atau terdapatnya kelenjar atau stroma endometrium di tempat / organ lain selain dinding kavum uteri.

5. Penyakit Radang Panggul

Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur, miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS). Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang merupakan infeksi serius pada wanita berusia antara 16-25 tahun. Lebih buruk lagi, dari 4 wanita yang menderita penyakit ini, 1 wanita akan mengalami komplikasi seperti nyeri perut kronik, infertilitas (gangguan kesuburan), atau kehamilan abnormal. 6. Bartolinitis

Penyakit ini terjadi akibat radang pada glandula bartholini, sering kali timbul pada gonorea, akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya streptokokus atau basil koli.

7. Mioma uteri

Mioma uteri dapat mempengaruhi kehamilan, misalnya menyebabkan infertilitas. Risiko terjadinya abortus bertambah karena distorsi rongga uterus, khusunya pada mioma submukosum, menghalangi kemajuan persalinan karena letaknya pada serviks uteri, menyebabkn atonia ataupun inersia uteri sehingga menyebabkan perdarahan pasca persalinan karena adanya gangguan mekanik dlm fungsi miometrium, menyebabkan plasenta sukar lepas dari dasarnya, dan menggangu proses involusi dalam nifas.

(4)

8. Tumor Ovarium Neoplastik

· Tumor kista : Kista ovarium simplek, kistadenoma ovarii serosum, kistadenoma ovarii musinosum, kista dermoid.

Tumor solid : Fibroma leiomioma, fibroadenoma, papiloma, limfangioma, tumor brener, tumor sisa adrenal. (sumber: Wiknjosastro, Hanifa, dkk. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo).

DAFTAR PUSTAKA

http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/07/ginekologi.html

http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/11/ilmu-kandungan-ginekologi/ http://id.wikipedia.org/wiki/Keputihan

http://www.drdidispog.com/2008/07/istilah-obstetri-dan-ginelogi.html

Achmad, Maulana, dkk. 2003. Kamus Ilmiah Populer. Cetakan Pertama. Jakarta: Absolut.

Poerwadarminta, W.J.S. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Tim Penrjemah EGC. 1994. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 26. Jakarta: EGC

Wiknjosastro, Hanifa, dkk. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

(5)

Kelainan pada Sistem Reproduksi dan Penanggulangannya

1.2 Kelainan Pada system Reproduksi Vulva

• Hymen Infervorata: Himen yang tidak berlubang Diketahui setelah menarche Darah dapat menumpuk di vagina, uterus dan tuba Dapat teraba sebagai tumor kistik di abdomen bawah dan dirasakan nyeri. Dari vagina terlihat tidak tampak lobang menonjol dan kebiruan. Pengobatan:Himenektomi Bila diketahui sebelum menarce maka dilakukan observasi saja sampai anatomi semakin jelas.

• Atresia labia minora: Atresia kedua labium minus Akibat membrana urogenitalis yang tidak menghilang.terdapat lubang untuk pengeluaran darah haid dan kencing di belakang klitoris. Masih mungkin bisa hamil. Hipertrofi labium minus Labium minus tumbuh berlebih.tidak ada terapi khusus dan tidak mengganggu reproduksi Duplikasi vulva Jarang ditemukan.Kalau ada biasanya terdapat kelainan berat lainnya sehingga bayi tidak bisa hidup.

• Hipoplasia vulva:Hipoplasia vulva Ditemukan bersamaan dengan genitalia interna yang kurang berkembang.Terjadi pada keadaan hipoestrogenisme, infatilisme. Ciri sex sekunder juga tidak berkembang. “Vulva mencerminkan keadaan ovarium” Kelainan Perineum Bayi tidak beranus, anus bermuara ke saluran genitalia, dan saluran air kencing dan feses pada satu lubang .

Pengobatan kelainan pada vulva

Pembedahan pada kasus kelainan vagina harus selalu berpegang pada tujuan pembedahan secara umum, yaitu menghilangkan keluhan penderita,

menghilangkan keadaan patologi, mengembalikan fungsi organ tersebut, dan memperhatikan estetik.

Sebagai contoh, pada kelainan vagina berupa himen imperforata atau septum vagina transversal yang menghalangi keluarnya darah haid perlu segera dilakukan eksisi. Akan tetapi, bila kelainan berupa agenesis vagina maka perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan seperti faktor emosi penderita dan keluarganya, waktu melakukan tindakan, serta jenis pembedahan yang dipilih. Adapun jenis pembedahan pada kelainan pada vagina :

1. Labia, bila terlalu lebar dilakukan labiaplasti, bila sobek dilakukan reparasi, dan kalau adhesi dilakukan insisi.

(6)

2. Vagina :

- Himen imperforata dilakukan eksisi

- Septum vagina dilakukan insisi dengan pemasangan mold untuk 4-5 hari untuk septum longitudinal dilakukan eksisi saja kalau diperlukan.

- Agenesis vagina dilakukan vaginoplasti dengan graf selaput amnion.

- Adhesi dinding vagina karena didapat dilakukan vaginoplasti dengan mold. - Penonjolan dinding belakang vagina (rektokel) dilakukan kolporafi posterior. - Pelebaran mulut vagina dilakukan kolpoperineografiplasti.

- Fistula dilakukan reparasi atau fistuloplasti. Vagina

• Septum Vagina: Septum vagina Akibat gangguan fusi atau kanalisasi kedua duktus muleri Pada persalinan dapat robek atau perlu diguntung dan diikat bila berdarah @plasia dan atresia vagina Duktus muler berfusi tapi tidak membentuk kanal.teraba sebagai jaringan yang tebal saja.tidak ada vagina, pada lubang masuk seperti cekungan saja.

• Aplasia dan Atresia Vagina:Kegagalan perkemabangan duktus Muller, Vagina tak terbentuk dan lobang vagina hanya lekukan kloaka.

• Kista Vagina:Kista Vagina Sisa duktus muler Sisa duktus garner di anterolateral vagina Pengobatan dengan pengangkatan UTERUS dan Tuba fallopii Uterus: Uterus septus dan subseptus Dua uterus: Bikornis bikoli Bikornis uni kollis Uterus arcuatus Uterus terdiri 2 bagian yang tidak simetris Ovarium: Tidak ada ovarium Ovarium tambahan Sistim Genitalia dan sistim Tr.Urogenitalis: Karena hubungan

pertumbuhan dekat maka kelainan dapat mengenai keduanya.Termasuk kloaka persisten, ekstrofi kandung kencing, klitoris terbagi dua

Uterus dan Tuba Valopii: • Tuba

Dapat terjadi atresia parsiil tapi lebih sering tuba panjang dan

sempit(hypoplasia).Keadaan yang terakhir mangurangi fertilitas atau dapat menimbulkan kehamilan ektopik.

• Uterus

Kelainan pada uterus biasanya disebabkan karena saluran Muller tidak tumbuh atau karena persatuan saluran Muller tidak terjadi.

(7)

o Uterus duplex(uterus didelphys):saluran Muller tidak bersatu sehingga terjadi dua uterus dan dua vagina

o Uterus(duplex)bikornis:uterus ada 2 tetapi dinding cervix yang medial

bersatu.Dapat menimbulkan kelainan letak seperti letak sungsang yang tidak dapat diversi

o Uterus bicornis unicollis:Corpus uteri 2 tapi cervik hanya satu

Uterus septus dan subseptus:terdapat septum pada uterus yang lengkap§ atau sebagian.Dapat menimbulkan abortus,kelainan letak atau retention placenta. Uterus arcuatus:persatuan terjadi tetapi fundus tetap lebar,dapat menyebabkan letak lintang.§

Pertumbuhan kembar yang asimetris:dapat terjadi cornu yang rudimenter§ yang dad hubungannya dengan kavum uteri atau sama sekali tidak ada hubungan dengan cavum uteri.Dapat menimbulkan haematomtre atau kehamilan ektopik PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

Secara umum, penyebab perdarahan uterus abnormal adalah kelainan organik (tumor, infeksi), sistemik (kelainan faktor pembekuan), dan fungsional alat reproduksi.

o Hipermenore

Hipermenore adalah perdarahan haid yang jumlahnya banyak, ganti pembalut 5-6 kali per hari, dan lamanya 6-7 hari. Penyebabnya adalah kelainan pada uterus (mioma, uterus hipoplasia atau infeksi genitalia interna), kelainan darah, dan

gangguan fungsional. Keluhan pasien berupa haid yang banyak. Pada setiap wanita berusia 35 tahun harus dilakukan kuretase diagnostik untuk menyingkirkan

keganasan. o Hipomenore

Hipomenore adalah perdarahan haid yang jumlahnya sedikit, ganti pembalut 1-2 kali per hari, dan lamanya 1-2 hari. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen & progesteron, stenosis himen, stenosis serviks uteri, sinekia uteri (sindrom

Asherman). Sinekia uteri didiagnosis dengan histerogram atau histeroskopi. o Metroragia

Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan fungsional dan penggunaan estrogen eksogen.

(8)

o Menoragia

Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan

hipermenorea. o Amenore

Bila tidak haid lebih dari 3 bulan baru dikatakan amenore, diluar amenore fisiologik. Penyebabnya dapat berupa gangguan di hipotalamus, hipofisis, ovarium (folikel), uterus (endometrium) dan vagina. Kasus-kasus yang harus dikirim ke dokter ahli adalah adanya tanda-tanda kelaki-lakian (maskulinisasi), adanya galaktorea, cacat bawaan, uji estrogen & progesteron yang negatif, adanya penyakit lain

(tuberkulosis, penyakit hati, diabetes melitus, kanker), infertilitas atau stress berat. Anamnesis yang perlu dicari adalah usia menars, pertumbuhan badan, adanya stress berat, penyakit berat, penggunaan obat penenang, peningkatan atau penurunan berat badan yang mencolok. Pemeriksaan ginekologik yang dilakukan adalah pemeriksaan genitalia interna / eksterna. Pemeriksaan penunjang berupa uji kehamilan dan uji progesteron.

ENDOMETRIOSIS Endometrium :

- Lapisan dalam dinding kavum uteri, norrmal tidak terdapat di tempat lain. - Endometrium terdiri atas jaringan ikatt / stroma dan sel-sel selapis kubis yang berproliferasi dan menebal setelah haid lalu runtuh pada saat haid.

- Siklus endometrium juga dipengaruhi olleh poros hipotalamus-hipofisis-ovarium. - Puncak LH hipofisis terjadi 24-36 jam sebelum ovulasi.

- Estradiol dihasilkan sel teka interna folikel dan pasca ovulasi sel teka tersebut berubah menjadi sel lutein yang menghasilkan progesteron.

Endometriosis adalah pertumbuhan abnormal dari kelenjar dan stroma

endometrium di luar uterus. Atau terdapatnya kelenjar atau stroma endometrium di tempat / organ lain selain dinding kavum uteri.

Patogenesis endometrium diterangkan oleh beberapa teori diantaranya teori histogenesis, teori metaplasia coelomik dan teori induksi.

Teori histogenesis menerangkan bahwa endometriosis terjadi akibat adanya

regurgitasi tuba epitel menstruasi – implantasi jaringan endometrium pada tempat abnormal tersebut. Faktor determinasi yang diperkirakan abnormal adalah

(9)

regurgitasi darah haid / menstruasi retrograd (darah haid yang tidak keluar melalui serviks mengalir ke tuba – ovarium dan keluar ke rongga peritoneum) kemudian tumbuh berkembang karena organ yang ditempati tidak mengadakan reaksi penolakan (karena bukan benda asing / antigen).

Teori histogenesis : transplantasi, metastasis limfatik / vaskuler. Faktor determinasi adalah respon imunologik yang rendah, faktor genetik, status hormon steroid dan hormon pertumbuhan.

Teori metaplasia coelomik : menerangkan pertumbuhan endometrium di vagina padah`l tidak ada hubungan vaskularisasi antara keduanya. Diperkirakan primer berasal dari sisa jaringan yang terdapat sejak perkembangan embrionik (saluran Muller). Demikian juga pada organ-organ yang berasal dari saluran Muller lainnya. Teori induksi : lanjutan dari teori metaplasia, diperkirakan faktor biokimia endogen menginduksi perkembangan sel peritoneal yang tidak berdiferensiasi menjadi jaringan endometrium.

Pasca Operasi Uterus

(Misalnya miomektomi atau seksio sesar) dapat terjadi lapisan endometrium melekat atau terjahit dengan miometrium kemudian tumbuh menjadi

endometriosis.

Teori yang diterima akhirnya adalah patogenesis multifaktorial : genetik, imunologi, endokrin dan mekanik.

(Endometriosis : “the disease of many theoris in gynecology” seperti halnya dengan pre eklampsia pada obstetri)

Kemungkinan lokasi endometriosis :

- Endometriosis interna : dibagian lain uterus misalnya serviks dan isthmus. - Endometriosis eksterna : di luar uteruus.

- Adenomiosis : endometrium di dalam lappisan miometrium. - Endometrioma : endometrium dalam ovariium – kista coklat.

- Pada organ / tempat lain misalnya di ppermukaan / dinding usus, cavum Douglasi,ligamen-ligamen, dan sebagainya. Jaringan endometrium ektopik ini berproliferasi, infiltrasi dan menyebar ke organ-organ tubuh. Ditemukan 20-25 % pada laparatomi pelvis.Terbanyak ditemukan pada usia 30-40 tahun.

Pertumbuhan endometrium di tempat lain dapat menimbulkan reaksi inflamasi. Pada haid dapat menimbulkan sakit hebat karena :

(10)

- Perdarahan intraperitoneal.

- Perlengketan (tertahan pada pergerakann). - Akut abdomen.

Endometriosis peritoneum :

- Warna merah (aktif/baru) atau coklat hhitam (sudah lisis) atau putih (fibrosis). - Dapat hipervaskuler (lesi aktif) atau avaskuler (lesi baru atau fibrosis).

- Permukaan rata atau menonjol atau iregguler.

- Letak superfisial (di permukaan organ / peritoneum) atau profunda (invasif ke organ).

Lokalisasi sering :

- Ovarium, biasanya bilateral (65%).

- Lapisan serosa uterus, peritoneum pelvvis.

- Kolon sigmoid / kavum Douglasi, ligameentum sakrouterinoma / latum, tuba Fallopii.

- Vagina, serviks, dan usus.

- Paru, mukosa vesika uterina / saluran kemih, umbilikus, ginjal dan kaki (jarang). Gejala dan tanda klinik :

- Nyeri pelvis / abdomen difus pada lokaasi tertentu.

- Teraba nodul atau nyeri pada ligamentuum sakrouterina, dinding belakang uterus dan cavum Douglasi.

- Gerakan terbatas & nyeri pada genitaliia interna. - Uterus retroversi dan terfiksasi.

- Teraba massa tumor dan nyeri tekan di adneksa. - Dinding forniks posterior vagina memenndek. Pemeriksaan penunjang diagnostik :

- Ultrasonografi : gambaran bintik-bintiik salju - Laparatomi / laparaskopik.

(11)

- Assay Ca 125.

Penampilan endometriosis : - Infertilitas primer (26-39 %) - Infertilitas sekunder (12-25 %) - Nyeri panggul kronik (4-65 %) - Dismenorhea (7-32 %)

- Massa / kista ovarium (10-35 %)

- Bercak / spotting pre menstruasi (35 %%)

- Nyeri akut abdomen, ileus obstruktif, kolik ureter (jarang).

Selain itu sering terdapat keluhan dispareunia, tumor pelvik, gangguan haid, nyeri perut saat defdkasi (diskezia) dan nyeri pinggang.

Diagnosa banding : tumor ovarium, mioma multipel, karsinoma rektum, penyakit radang panggul dan metastasis tumor di cavum Douglasi.

Klasifikasi Endometriosis Acosta 1973 1. Ringan :

- Endometriosis menyebar tanpa perlekatan pada anterior atau posterior cavum Douglasi / permukaan ovarium / peritoneum pelvis.

2. Sedang :

- Endometriosis pada 1 atau kedua ovarium disertai parut dan retraksi atau endometrioma kecil.

- Perlekatan minimal juga di sekitar ovarium yang mengalami endometriosis. - Endometriosis pada anterior atau posterior cavum Douglasi dengan parut dan retraksi atau perlekatan tanpa implantasi di kolon sigmoid.

3. Berat :

- Endometriosis pada 1 atau 2 ovarium ukuran lebih dari 2 x 2 cm2. - Perlekatan 1 atau 2 ovarium / tuba fallopii / cavum Douglasi karena endometriosis.

(12)

- Implantasi / perlekatan usus dan / atau traktus urinarius yang nyata. Penatalaksanaan Endometriosis

Prinsip :

- Terapi medikamentosa untuk supresi horrmon.

- Intervensi surgikal untuk membuang impplant endometriosis. Objektif :

- Kontrol nyeri pelvik kronik (terapi obbat saja).

- Penatalaksanaan infertilitas (terapi oobat dan pembedahan). - Penataksanaan endometrioma (terapi pemmbedahan).

- Tumor ekstragenital / ekstrapelvik (teerapi obat dan pembedahan). - Pencegahan kekambuhan (terapi optimaliisasi pra bedah).

- Penatalaksanaan asimptomatik (obat horrmonal / non hormonal), bedah. Pengobatan hormonal :

- Progesteron : MDPA

- Danazol (17-alfa-etinil-testosteron)

- Kombinasi estrogen-progesteron : pil kkontrasepsi. - Anti progestasional : etilnorgestrienoon / gestrinon.

- Agonis GnRH : leuprolid asetat, gosereelin, buserelin asetat, nafarelin, histrelin, lutrelin.

Efek yang diharapkan :

- Progesteron (medroxyprogesteron) : dessidualisasi dan atrofi endometrium serta inhibitor gonadotrofik yang kuat.

- Kombinasi estrogen / progesteron (pil kontrasepsi) : “pseudo pregnancy”, desidualisasi dan pertumbuhan endometrium diikuti atrofi endometrium.

- Antiprogestasional : anti progestogeniik dan estrogenik melalui aktivasi degradasi enzim lisosomal sel.

(13)

- GnRH agonist : menyebabkan kadar estroogen menurun seperti pada saat menopause.

- Testosteron : mensupresi LH & FSH, mennghambat pertumbuhan endometriosis. - Untuk terapi nyeri dapat digunakan inhhibitor prostaglandin-sintetase.

Obat yang sekarang banyak dipakai dan dikembangkan : agonis GnRH.

Mekanismenya : suplai hormon – internalisasi – dikenali oleh mRNA – sintesis protein.

GnRH : hormon untuk menghasilkan gonadotropin.

Agonis GnRH : regulasi luluh reseptor GnRH pada sel gonadotropin hipofisis. - Penekanan sekresi dan sintesis FSH dann LH hipofisis.

- Supresi ovarium : hambatan pematangan folikel dan hambatan produksi estradiol. Diharapkan hipoestrogenisme akan menghambat pertumbuhan berlebihan jaringan endometriosis.

Selama sekitar 24 minggi, GnRH agonis akan memberikan efek : 1. Amenorhea

2. Gangguan reseptor estrogen (misalnya payudara mengecil). 3. Gangguan psikis atau neurologis.

4. Gangguan dalam hubungan seksual.

Pengobatan surgikal : untuk membersihkan fokus / implant endometriosis. Permasalahan seputar endometriosis :

- Prevalensi – faktor predisposisi.

- Mekanik (peningkatan tekanan intraabdoominal / intrauterin, pencetus regurgitasi. - Implantasi pasca retrograd menstruasi..

- Imunitas.

- Perlindungan terhadap kesehatan kerja : efisiensi, kenyamanan kerja.

- Peningkatan biaya pengobatan / perawattan kesehatan (health-cost maintenance). - Masalah kesehatan reproduksi di masa ddepan.

(14)

Pencegahan :

- Tidak menunda kehamilan.

- Tidak melakukan kerokan / kuret pada wwaktu haid. - Pemeriksaan ginekologi teratur.

. Diagnostik untuk Menegakkan Diagnosis

1. Anamnesis : tanyakan keluhan-keluhan yang berhubungan dengan fungsi utama vagina di samping keluhan-keluhan lainnya.

2. Pemeriksaan fisik

3. Pemeriksaan ginekologi dengan teliti dan cermat serta sistematik dari luar sampai kedalam vagina

4. Pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui sfingter ani, tonusnya, serta jarak anus dengan vagina dan tonus fasia rekto vagina.

5. Pemeriksaan khusus : pemeriksaan genetik (kromosom dan seks kromatik), pemeriksaan USG, dan pemeriksaan IVP.

Ovarium

Dysgenesi ovarium:Walaupun susunan kromosom normal kadang-kadang terjadi gambaran seperti pada dysgenesi XO.Apakah ovarium prier tidak terbentuk ataukah kemudian mengalami degenerasi tidak diketahui.Dengan sendirinya hormone ovarium sangat kurang dan hal ini mengakibatkan alat genital yang infantile. Gejala :

o Biasanya penderita pendek jalannya o Pterygium colli

o Genetalia infantile

o Rambut sekunder dan pertumbuhan mamae tidak ada o Amenorrhoe primer

Terapi : pemberian esterogen

(15)

Kelainan pada system reproduksi dan penanggulangannya Cacat anatomi saluran reproduksi

Abnormalitas yang berupa cacat anatomi saluran reproduksi ini dibedakan menjadi dua yaitu cacat congenital (bawaan) dan cacat perolehan.

Cacat Kongenital

Gangguan karena cacat kongenital atau bawaan lahir dapat terjadi pada : Ovarium (indung telur) dan pada saluran reproduksinya.

Gangguan pada ovarium meliputi:

Hipoplasia ovaria (indung telur mengecil) dan Agenesis ovaria (indung telur tidak terbentuk).

Hipoplasia ovaria, merupakan suatu keadaan indung telur tidak berkembang karena keturunan. Hal ini dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral. Apabila terjadi pada salah satu indung telur maka sapi akan menunjukan gejala anestrus (tidak pernah birahi) dan apabila terjadi pada kedua indung telur maka sapi akan steril (majir). Secara perrektal indung telur akan teraba kecil, pipih dengan permukaan berkerut. Agenesis ovaria merupakan suatu keadaan sapi tidak mempunyai indung telur karena keturunan. Dapat terjadi secara unilateral (salah satu indung telur) ataupun bilateral (kedua indung telur).

(16)

Freemartin (abnormalitas kembar jantan dan betina) dan atresia vulva (pengecilan vulva). Kelahiran kembar pedet jantan dan betina pada umumnya (lebih dari 92%) mengalami abnormalitas yang disebut dengan freemartin

Abnormalitas ini terjadi pada fase organogenesis (pembentukan organ dari embrio di dalam kandungan), kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya migrasi hormon jantan melalui anastomosis vascular (hubungan pembuluh darah) ke pedet betina dan karena adanya intersexuality (kelainan kromosom). Organ betina sapi

freemartin tidak berkembang (ovaria hipoplastik) dan ditemukan juga organ jantan (glandula vesikularis). Sapi betina nampak kejantanan seperti tumbuh rambut kasar di sekitar vulva, pinggul ramping dengan hymen persisten. Sedangkan Atresia Vulva merupakan suatu kondisi pada sapi induk dengan vulva kecil dan ini membawa resiko pada kelahiran sehingga sangat memungkinkan terjadi distokia (kesulitan melahirkan). Penanganannya dengan pemilihan sapi induk dengan skor kondisi tubuh (SKT) yang baik (tidak terlalu kurus atau gemuk serta manajemen pakan yang baik

Cacat perolehan

Cacat perolehan dapat terjadi pada indung telur maupun pada alat reproduksinya. Cacat perolehan yang terjadi pada indung telur, diantaranya:

Ovarian Hemorrhagie (perdarahan pada indung telur) dan Oophoritis (radang pada indung telur). Perdarahan indung telur biasanya terjadi karena efek sekunder dari manipulasi traumatik pada indung telur. Bekuan darah yang terjadi dapat

menimbulkan adhesi (perlekatan) antara indung telut dan bursa ovaria (Ovaro Bursal Adhesions/OBA). OBA dapat terjadi secara unilateral dan bilateral. Gejalanya sapi mengalami kawin berulang. Sedangkan Oophoritis merupakan keradangan pada indung telur yang disebabkan oleh manipulasi yang traumatik/ pengaruh infeksi dari tempat yang lain misalnya infeksi pada oviduk (saluran telur) atau infeksi uterus (rahim). Gejala yang terjadi adalah sapi anestrus

Cacat perolehan pada saluran reproduksi, diantaranya:

Salphingitis , trauma akibat kelahiran dan tumor. Salphingitis merupakan radang pada oviduk. Peradangan ini biasanya merupakan proses ikutan dari peradangan pada uterus dan indung telur. Cacat perolehan ini dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral. Sedangkan trauma akibat kelahiran dapat terjadi pada kejadian distokia dengan penanganan yang tidak benar (ditarik paksa), menimbulkan

trauma/ kerusakan pada saluran kelahiran dan dapat berakibat sapi menjadi steril/ majir. Tumor ovarium yang umum terjadi adalah tumor sel granulosa. Pada tahap

(17)

awal sel- sel tumor mensekresikan estrogen sehingga timbul birahi terus menerus (nympomania) namun akhirnya menjadi anestrus. Penanganan cacat perolehan disesuaikan dengan penyebab primernya. Jika penyebab primernya adalah infeksi maka ditangani dengan pemberian antibiotika. Perlu hindari trauma fisik

penanganan reproduksi yang tidak tepat.

Gangguan fungsional

Salah satu penyebab gangguan reproduksi adalah adanya gangguan fungsional (organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik). Infertilitas bentuk fungsional ini disebabkan oleh adanya abnormalitas hormonal. Berikut adalah contoh kasus gangguan fungsional, diantaranya : Sista ovarium, Subestrus dan birahi tenang, Anestrus serta Ovulasi tertunda

Sista ovarium (ovaria, folikuler dan luteal)

Status ovarium dikatakan sistik apabila mengandung satu atau lebih struktur berisi cairan dan lebih besar dibanding dengan folikel masak. Penyebab terjadinya sista ovarium adalah gangguan ovulasi dan endokrin (rendahnya hormon LH). Sedangkan faktor predisposisinya adalah herediter, problem sosial dan diet protein. Adanya sista tersebut menjadikan folikel de graf (folikel masak) tidak berovulasi (anovulasi) tetapi mengalami regresi (melebur) atau mengalami luteinisasi sehingga ukuran folikel meningkat, adanya degenerasi lapisan sel granulosa dan menetap paling sedikit 10 hari. Akibatnya sapi-sapi menjadi anestrus atau malah menjadi

nymphomania (kawin terus). Penanganan yang dilakukan yaitu dengan:

Sista ovaria : prostaglandin (jika hewan tidak bunting)

Sista folikel : Suntik HCG/LH (Preynye, Nymfalon) secara intramuskuler sebanyak 200 IU.

Sista luteal : PGH 7,5 mg secara intra uterina atau 2,5 ml secara intramuskuler. Selain itu juga dapat diterapi dengan PRID/CIDR intra uterina (12 hari). Dua sampai lima hari setelah pengobatan sapi akan birahi.

Subestrus dan birahi tenang

Subestrus merupakan suatu keadaan dimana gejala birahi yang berlangsung singkat/ pendek (hanya 3- 4 jam) dan disertai ovulasi (pelepasan telur). Birahi tenang merupakan suatu keadaan sapi dengan aktifitas ovarium dan adanya

(18)

ovulasi namun tidak disertai dengan gejala estrus yang jelas. Penyebab kejadian ini diantaranya: rendahnya estrogen (karena defisiensi β karotin, P, Co, Kobalt dan berat badan yang rendah). Apabila terdapat corpus luteum maka dapat diterapi dengan PGF2α (prostaglandin) dan diikuti dengan pemberian GnRH (Gonadotropin Releasing Hormon).

Anestrus

Anestrus merupakan suatu keadaan pada hewan betina yang tidak menunjukkan gejala estrus dalam jangka waktu yang lama. Tidak adanya gejala estrus tersebut dapat disebabkan oleh tidak adanya aktivitas ovaria atau akibat aktifitas ovaria yang tidak teramati.

Keadaan anestrus dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya yaitu : a. True anestrus (anestrus normal)

Abnormalitas ini ditandai dengan tidak adanya aktivitas siklik dari ovaria, penyebabnya karena tidak cukupnya produksi gonadotropin atau karena ovaria tidak respon terhadap hormon gonadotropin. Secara perrektal pada sapi dara akan teraba kecil, rata dan halus, sedangkan kalau pada sapi tua ovaria akan teraba irreguler (tidak teratur) karena adanya korpus luteum yang regresi (melebur). b. Anestrus karena gangguan hormon

Biasanya terjadi karena tingginya kadar progesteron (hormon kebuntingan) dalam darah atau akibat kekurangan hormon gonadotropin.

c. Anestrus karena kekurangan nutrisi

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan gagalnya produksi dan pelepasan hormon gonadotropin, terutama FSH dan LH, akibatnya ovarium tidak aktif.

d. Anestrus karena genetik

Anestrus karena faktor genetik yang sering terjadi adalah hipoplasia ovarium dan agenesis ovaria.

Penanganan dengan perbaikan pakan sehingga skor kondisi tubuh (SKT) meningkat, merangsang aktivitas ovaria dengan cara pemberian (eCG 3000-4500 IU; GnRH 0,5 mg; PRID/ CIDR dan estrogen).

Ovulasi yang tertunda Ovulasi tertunda (delayed ovulation) merupakan suatu kondisi ovulasi yang tertunda/ tidak tepat waktu. Hal ini dapat menyebabkan

(19)

akhirnya gagal untuk bunting. Penyebab utama ovulasi tertunda adalah rendahnya kadar LH dalam darah. Gejala yang nampak pada kasus ini adalah adanya kawin berulang (repeat breeding). Terapi yang dapat dilakukan diantaranya dengan injeksi GnRH (100-250 µg gonadorelin) saat IB

http://vegakurniawati.blogspot.com/2011/11/kelainan-pada-system-reproduksi-dan.html

KELAINAN KONGENITAL BERUPA GANGGUAN DALAM ORGANOGENESIS DARI SISTEM REPRODUKSI PADA JANIN YANG GENETIK NORMAL

VULVA

Himen imperfotarus

Himen imperfotarus ialah selaput dara yang tidak menunjukan lubang (hiatus

himenalis) sama sekali, suatu kelainan yang ringan dan yang cukup sering dijumpai. Kemungkinan besar kelainan ini tidak dikenal sebelum menarche. Sesudah itu molimina menstrualia dialami tiap bulan, tetapi darah haid tidak keluar. Darah itu terkumpul di dalam vagina dan menyebabkan hymen tampak kebiru-biruan dan menonjol keluar. Bila keadaan ini yang dinamakan hematokolpos dibiarkan, maka uterus akan terisi juga dengan darah haid dan akan membesar (hematometra); selanjutnya akan timbul pula pengisian tuba kiri dan kanan (hematosalpinks) yang dapat diraba dari luar sebagai tumor kistik di kanan dan kiri atas simfisis.

Diagnosis tidak sukar, dan pengobatannya ialah mengadakan himenektomi, dengan perlindungan antibioktika; darah tua kental kehitam-kehitaman keluar. Sebaiknya sesudah tindakan penderita dibaringkan dalam letak fowler. Selama 2 – 3 hari darah tua kental tetap akan mengalir disertai dengan pengecilan tumor-tumor tadi.

Sekali-kali pada atresia himenalis ditemukan pada neonatus atau gadis kecil vagina terisi oleh suatu cairan lender (hidrokolpos). Apabila timbul tekanan-tekanan dan disertai dengan radang sekunder, hendaknya himen dibuka dan dipasang drain. Selayaknya diberi pula antibiotika.

Bila atresia himenalis ditemukan pada gadis kecil tanpa menimbulkan gejala-gejala, maka keadaan diawasi saja sampai anak lebih besar dan situasi anatomi menjadi lebih jelas. Dengan demikian dapat diketahui apakah benar ada atresia himenalis atau apakah vagina sama sekali tidak terbentuk (aplasia vaginae).

(20)

Kelainan Kongenital ini disebabkan oleh membrana urogenitalis yang tidak menghilang. Di bagian depan vulva di belakang klitoris ada lubang untuk pengeluaran air kencing dan darah haid. Koitus walaupun sukar masih dapat dilaksanakan, malahan dapat terjadi kehamilan. Pada partus hanya diperlukan sayatan di garis tengah yang cukup panjang untuk melahirkan janin.

Kelainan tersebut (atresia labia minora) dapat terjadi pula sesudah partus. Dalam hal itu radang menyebabkan kedua labium minus melekat, dengan masih ada kemungkinan penderita dapat berkencing. Pengobatan terdiri atas melepaskan perlekatan dan menjahit luka-luka yang timbul.

Hipertrofi labium minus kanan/kiri

Ini dapat terjadi pada satu atau kedua labium minus. Pemberian pengertian bahwa keadaan tersebut bukan suatu hal yang mengkhawatirkan biasanya cukup. Bila penderita tetap merasa terganggu karenanya, maka pengangkatan jaringan yang berlebihan dapat dikerjakan.

Duplikasi vulva

Ini jarang sekali ditemukan. Bila ada, biasanya ditemukan pula kelainan-kelainan lain yang lebih berat, sehingga bayi itu tidak dapat hidup.

Hipoplasi vulva

Ditemukan bersamaan dengan genitalia interna yang juga kurang berkembang pada ke adaan hipoestrogenisme, infatilisme, dan lain-lain. Biasanya ciri-ciri seks

sekunder juga tidak berkembang. Pepatah perancis mengatakan la vulve est le mirroir de l’ovair (vulva mencerminkan keadaan ovarium).

Kelainan perineum

Pada kloaka persistens karena septum urogenital tidak tumbuh, bayi tidak mempunyai lubang anus, atau anus bermuara dalam sinus urogenitalis, dan terdapat satu lubang dari mana keluar kencing dan feses.

http://haflatun.blogspot.com/p/kelainan-congenital-berupa-gangguan.html

Kelainan Kongenital alat-alat genital dapatdisebabkan oleh :1.Faktor Lingkungan : keadaan endometriumyg mempengaruhi nutrisi mudigah, penyakitmetabolik, penyakit virus, obat-obatteratogenik.2.Kelainan kromosom (khususnya

kromosomsex) dan gangguan hormonal : kelainan inimenimbulkan masalah interseks (jenisgonad tidak sesuai dengan kromosomseksnya, atau dengan morfologi genitaliainterna dan morfologi genitaliaeksternanya).

(21)

Kelainan kongenital dapat berupa :

A.Kelainan kongenital berupa gangguanorganogenesis sistem reproduksi pada janin yang genetik normal.B.Kelainan kongenital pada sistem reproduksikarena keadaan kromosom yang tidaknormal atau karena pengaruh hormonal.

A. Kelainan kongenital : gangguan organogenesis VULVA :

1. Himen Imperforata : –

Adalah selaput dara yg tidak menunjukkan lubang(hiatus himenalis) sama sekali. –

Suatu kelainan yg ringan dan cukup sering terjadi –

Menstruasi : darah terkumpul di vagina disebuthematokolpos. Bila berlanjut terus maka uterus terisidarah haid dan membesar, disebut hematometra.Selanjutnya terjadi : hematosalpinks.

Diagnosa : tidak sukar –

Terapi : himenektomi

2. Atresia kedua labium minus : •

Disebabkan membrana urogenitalis yg tidakmenghilang •

Di bagian depan vulva, di belakang klitoris adalubang untuk pengeluaran air kencing dan darahhaid

(22)

Koitus walaupun sukar masih dapat dilaksanakan •

Kelainan ini dapat juga terjadi sesudah partuskarena radang sehingga menyebabkan kedualabium minus melekat

Terapi : melepaskan perlekatan dan menjahitlukanya.

3. Hipertrophi labium minus •

Beri pengertian : bahwa kelainan tersebut bukansuatu hal yg mengkhawatirkan •

Bila penderita tetap merasa terganggu :dilakukan pengangkatan jaringan yg berlebihantersebut.

4. Duplikasi vulva : •

Jarang ditemukan •

Bila ditemukan, biasanya ditemukan jugakelainan lain yg lebih berat sehingga bayi itutidak dapat hidup

. Hipoplasi Vulva : •

Ditemukan bersamaan dengan genitalia internayg juga kurang berkembang •

Terjadi pada ke

adaan hipo-estrogenisme,infantilisme, dll •

(23)

Biasanya ciri seks sekunder juga takberkembang 6. Kelainan Perineum :

Karena septum urogenital tak tumbuh, bayi tidakmempunyai lubang anus atau anus bermuaradalam sinus urogenital, dan terdapat satu lubangdari mana keluar air kencing dan faeces.

http://www.scribd.com/doc/89663905/Kelainan-Kongenital-Sistem-Reproduksi#scribd

enanganan dari masing-masing masalah dan gangguan system reproduksi I.Hypermenorrhoe (menoragia)

Defenisi:Perdarahan haid lebih banyak dari normal atau lebih lama dari normail,kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi.

Penyebab:

Hipoplasia uteri (penebalan dinding rahim),terapi: Uterotonika 

Astenia (tidak ada kekuatan),terapi: Uterotonika,roborntia 

Myoma Uteri,terapi: tergantung dari penanganannya. 

Hypertensi, Terapi: Pemberian SM.Regim 

Infeksi,misal: Endometritis. Terapi: hormonal,pembedahan,radiasi 

Penyakit darah,mis: Hemofili 

Gangguan pelepasan endometriu,terapi: kerokan. 

Tindakan bidan:memberikan anti perdarahan seperti Ergometrin tablet/injeksi atau merujuk kefaslitas yang lebih tinggi dan lengkap.

(24)

Defenisi: perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa.

Penyebab: hypomenorhoe disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang,akibat dari kurang gizi,penyakit menahun maupun gangguan hormonal.

Tindakan bidan: Merujuk kefasilitas yang lebih tinggi dan lebih lengkap.

III.Polymenorrhoe atau Epimenoragia

Defenisi: Sikus haid yang lebih memendek dari biasa yaitu kurang dari 21 hari sedangkan jumlah perdarahan relative sama atau lebih banyak dari biasa.

Penyebab: adanya gangguan hormonal dengan umur korpus luteum memendek sehingga siklus menstruasi juga lebih pendek atau bisa disebabkan akibat stadium proliferasi pendek atu stadium sekresi pendek atau karena keduanya.

Terapi:Stadium profilasi dapat diperpanjang dengan hormone estrogen dan stadium sekresi menggunakan hormon kombinasi estrogen dan pregesteron.

IV.Oligomennorhoe

Defenisi: siklus menstruasi memanjang lebih dari 35 hari,sedangkan jumlah perdarahan tetap sama.

Penyebab: ganggun hormonal,pengaruh psikis dan sebagainya.

Terapi: pemberian obat yang mengandung hormon-hormon yang dapat merangsang ovulasi.

(25)

V.Amenorea

Defenisi: Keadaan tidak datang haid selama 3 bulan berturut-turut.

Klasifikasi:

1.Amenorea Primer: Apabila belum pernah datang haid sampai umur 18 tahun

2.Amenorea Skunder: Apabila berhenti haid setelah menarche atau pernah mengalami haid,tetapi berhenti berturut-turut selama 3 bulan.

Penyebab: kelainan kongenital gangguan system hormona,gangguan gizi,ketidak stabilan emosi.

Terapi: Terapi ini tergantung dengan etiologinya.Secara umum dapat diberikan hormone-hormon yang merangsang ovulasi,pengembalian keadaan

umum,menyeimbangkan antara kerja-rekreasi dan istirahat.

VI.Perdarahan diluar haid (Metroragia)

Defenisi: perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid.

Penyebab: perdarahan ini dapat disebabkan oleh keadaan yang bersifat hormonal dan kelainan anatomis.Pada kelainan hormonal terjadi rangsangan estrogen dan progesteron dengan bentuk perdarahan seperti terjadi diluar menstrusi,bersifat bercak dan terus menerus,dan perdarahan menstruasi berkepanjangan.

Pengobatan:

Pada remaja dengan pengaturan secara hormonal 

(26)

Pada wanita menikah atau mempunyai anak dengan memeriksa alat kelamin,bila 

perlu lakukan kuretase dan pemeriksaan patologi.

Pada kelainan anatomis terjadi perdarahan karena adanya gangguan pada alat-alat kelamin diantaranya pada mulut rahim (keganasan,perlukaan),keguguran atau penyakit trofoblas.Pada saluran telur berupa kehamilan tuba,tumor tuba dan sebagainya.

Dapat disampaikan bahwa setiap perdarahan abnormal terjadi bersamaan atau diluar menstruasi sebaiknya melakukan konsultasi kedokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

sumber http://jusova.blogspot.com/2010/07/pemeriksaan-dan-penanganan-dari.html

Kelainan congenital berupa gangguan dalam organogenesis dan system reproduksi pada janin yang genetic normal.

Kelainan-kelainan congenital alat-alat genital dapat disebabkan oleh kelainan kromosom ataupun faktor lingkungan

• Kelainan kromosom khususnya kromoson seks dan gangguan hormonal sering menimbulkan masalah interseks.

• Faktor lingkungan :

– Keadaan endometrium yang mempengaruhi nutrisi mudigah

– Penyakit metabolic – Penyakit virus

(27)

http://vegakurniawati.blogspot.com/p/kelainan-congenital-berupa-gangguan.html

2.1 Defenisi

Kelainan kongenital merupakan kelainan dlm pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dpt merupakan sebab terjadinya aborus, lahir mati atauematian segera lahir.

Beberapa faktor etiologi yang diduga dapat mempengaruhi terjaadinya kelainan kongenital, antara lain:

1. kelainan genetik dan kromosom 2. faktor mekanik

3. faktor infeksi 4. faktor obat 5. faktor umur ibu 6. faktor hormonal 7. faktor radiasi 8. faktor gizi

9. faktor-faktor lain

2.2 Kelainan-kelainan kongenital berupa gangguan dalam organogenesis sistem reproduksi pada janin yang genetik normal antara lain :

1. Vulva

a. Hymen inferforata

Himen imperforatus ialah selaput darah yang tidak menunjukkan lubang ( hiatus himenalis ) sama sekali, suatu kelainan yang ringan dan yang cukup sering

dijumpai. Kemungkinan besar kelainan ini tidak dikenal sebelum menarshe. Sesudah itu molimina menstruasi dialami setiap bulan, tetapi darah haid tidak keluar. Darah haid terkumpul dalam vagina dan menyebabkan hymen tampak kebiru-biruan dan menonjol keluar. Bila keadaan ini yang dinamakan hematokolpos dibiarkan, maka uterus akan terisi juga dengan darah haid dan akan membesar (hematometra) , selanjutnya akan timbul pula pengisian tuba kiri dan kanan (hematosalpink) yang dapat dirabah dari luar sebagai tumor kistik dikanan dan kiri atas smpisis.

(28)

2

Sekali-kali pada atresia himenalis ditemukan pada neonates atau pada gadis kecil vagina terisi oleh suatu airan lendir (hidokolpos). Apabila timbul tekanan–tekanan dan disertai dengan radang sekunder, hendaknya hymen dibuka dan dipasang drain. Selayaknya diberi pula antibiotika.

Bila atresia himenalis ditemukan pada gadis kecil tanpa menimbulkan gejala-gejala, maka keadaan diawasi saja sampai anak lebih besar dan situasi anatomi menjadi lebih jelas. Dengan demikian dapat diketahui apakah benar ada atresia himenalis atau apakah vagina sama sekali tidak terbentuk (aplasia vaginae).

1) Etiologi

Kelainan kongenital himen imperforata secara pasti belum jelas, akan tetapi beberapa peneliti ada yang menganggap karena adanya gangguan pada gen

autosomal resesif (Jones, 1972), gangguan pada transmitted sex-linked autosommal dominant (Shohiv, 1978), adanya hormon antimullerian. Selain itu diduga akibat produksi faktor regresi Mulleri yang tidak sesuai pada gonad embrio wanita, tidak adanya atau kurangnya reseptor estrogen yang terbatas pada saluran Muller bawah, terhentinya perkembangan saluran Muller oleh bahan teratogenik. 2) Pemeriksaan

Untuk menegakkan diagnosis himen imperforata dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Penelitian di Hong Kong dari periode 1999 sampai 2007 dilakukan

review 23 kasus selaput dara imperforata, untuk menekankan kemudahan membuat diagnosis selaput dara imperforata dengan pemeriksaan alat kelamin rutin di masa kanak-kanak(Jason Yen,2008). Pemeriksaaan dilakukan dengan :

a) Anamnesa yang menyeluruh

Tanyakan secara menyeluruh riwakyat kesehatan keluarga. Keluhan yang paling sering ditemukan adalah amenorhoe primer dan nyeri abdomen. Pasien mengalami masa pubertas dengan masa telarche yang normal. Karena ovarium berfungsi secara normal, penderita mengalami perubahan-perubahan pada tubuhnya sesuai dengan siklus menstruasi.

3

(29)

a. Pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder normal dan timbulnya setelah masa pubertas, sama seperti wanita normal lainnya. Tinggi badan normal

b. Pemeriksaan dengan spekulum

c. Pada pemeriksaan colok dubur dapat ditentukan besar dan luas gumpalan darah di alat kelamin dalam.

d. Menempatkan pasien dalam posisi lutut-dada bantu pemeriksaan fisik pada kelompok usia anak. Memiliki berlutut pasien di meja pemeriksaan dengan sikunya di meja dan wajahnya beristirahat di tangannya. Perlahan menyebar pantat dan labia dan memiliki napas pasien atau pukulan. Jika pemeriksaan masih sulit, obat penenang atau anestesi mungkin diperlukan.

c) Pemeriksaan Penunjang a. USG

Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis himen imperforata dapat dilakukan pemeriksaan USG untuk menentukan ada dan luasnya perdarahan di uterus, tuba, dan rongga perut.

b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI dapat memberikan pencitraan yang terbaik dari jaringan seperfisial dan jaringan yang lebih dalam. MRI dapat mengklarifikasi hasil pemeriksaan USG mengenai cavum uterus, dan dapat memeriksa struktur subperitoneal serta dapat mendeteksi adanya serviks uteri.

Chin Med Assoc Journal: Tahun: 2007/volume70/edisi(12)/ halaman559–561 Hong Kong . Emerg. Med Journal. Tahun 2009 / Vol. 17/edisi 5/hal 371 – 373

4

3) Diagnosis tidak sukar, dan pengobatannya ialah mengadakan himenektomi, dengan perlindungan antibiotika, darah tua kental kehitam hitaman keluar.

Sebaiknya sesudah tindakan penderita dibaringkan dalam letak fowler. Selama 2-3 hari darah tua kental tetap akan mengalir disertai dengan pengwilan tumor- tumor tadi.

b. Atresia labia minora

Atresia kedua labium minus kelainan ini disebabkan membrane urogenatalis yang tidak menghilang dibagian vulva dibelakang klitorisada lubang untuk pengeluaran

(30)

air kencing dan darah haid. Koitus walaupun sukar masih dapat dilaksanakan. Malahan dapat terjadi kehamilan. Pada partus hanya diperlukan sayatan digaris tengah cukup panjang untuk melahirkan janin.

Kelainan tersebut (atresia lobio minora) dapat terjadi pula sesudah partus. Dalam hal ini radang menyebabkan kedua labium minus melekat, dengan masih ada kemungkinan penderita dapat berkeing.

Pengobatan Terdiri atas melepaskan perlekatan dan menjait luka-luka yang timbul

c. Hypertropi labia minora

Ini dapat terjadi pada satu atau kedua labium minus. Pemberian pengertian bahwa keadaan tersebut bukan suatu hal yang mengkhawatirkan biasanya cukup. Bila penderita tetap merasa terganggu karenanya, maka pengangkatan jaringan yang berlebihan dapat dikerjakan.

d. Duplikasi vulva

Sangat jarang ditemukan, bila terjadi biasanya diikuti dengan kelainan congenital yang lain dan seringkali bersifat lethal.

1) Etiologi

Kelainan-kelainan kongenital alat-alat genital dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti keadaan endometrium yang mempengaruhi nutrisi mudigah, penyakit metabolisme, penyakit virus, akibat obat-obatan teratogenik, dan lain-lain yang terdapat dalam masa kehamilan. Sebagian besar dari kelainan ini tidak

mengikutsertakan ovarium atau genetalia eksterna, sehingga banyak diantaranya tidak menampakkan diri sebelum menarche atau sebelum perkawinan.

5

Disamping itu, terdapat kelainan-kelainan yang berasal dari kelainan kromosom khususnya kromosom seks dan gangguan hormonal. Kelainan ini sering kali

menimbulkan masalah interseks. Pada seorang interseks bisa terdapat bahwa jenis gonadnya tidak sesuai dengan kromosom seksnya atau dengan morfologi genetalia interna, dan morfologi genetalia eksterna, khususnya bentuk genetalia eksterna sedemikian rupa, sehingga jenis kelainan bayi dari yang bersangkutan tidak dapat ditentukan dengan segera.

(31)

e. Hipoplasi vulva

Hipoplasia vulva ditemukan bersamaan dengan genitalia interna yang kurang berkembang.Terjadi pada keadaan hipoestrogenisme, infatilisme. Ciri sex sekunder juga tidak berkembang. “Vulva mencerminkan keadaan ovarium” Kelainan Perineum Bayi tidak beranus, anus bermuara ke saluran genitalia, dan saluran air kencing dan feses pada satu lubang .

1) etiologi

Beberapa faktor etiologi yang diduga dapat mempengaruhi terjadinya kelainan ini antara lain :

a) Kelainan genetik dan kromosom

Kelainan genetik pada ayah ibu memungkinkan besar akan berpengaruh atas kejadian kelainan ini pada anaknya. Tetapi dapat pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagai unsur dominan atau kadang sebagai unsur resesif.

Dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi kedokteran, maka telah dapat diperiksa kemungkinan adanya kelainan kromosom selama kehidupan fetal serta telah dapat dipertimbangkan tindakan-tindakan selanjutnya.

b) Faktor Mekanik

Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intrauterin dapat menyebabkan kelainan bentuk organ tersebut. Faktor predisposisi dalam pertumbuhan organ itu sendiri akan mempermudah terjadinya deformitas suatu organ.

6

c) Faktor Obat

Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester pertama kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital pada bayinya. Salah satu jenis obat yang dapat mengakibatkan terjadinya fokomelia atau mikromelia. Beberapa jenis jamu-jamuan yang diminum wanita hamil muda dengan tujuan yang kurang baik diduga erat pula hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital. Walaupun hal ini secara laboratorik belum banyak diketahui secara pasti.

d) Faktor Hormonal

(32)

e) Faktor Radiasi

Radiasi pada permulaan kehamilan memungkinkan akan dapat menimbulkan kelainan pada janin. Adanya riwayat radiasi yang cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi pada gen yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainan pada bayi yang dilahirkan.

f) Faktor Gizi

Pada penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa frekuensi kelainan, pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan makanan lebih tinggi bila

dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang baik gizinya. 2) Pengobatan kelainan pada vulva

Pembedahan pada kasus kelainan vagina harus selalu berpegang pada tujuan pembedahan secara umum, yaitu menghilangkan keluhan penderita,

menghilangkan keadaan patologi, mengembalikan fungsi organ tersebut, dan memperhatikan estetik.

f. Kelainan perineum

Pada kloaka persisten karena septum urogenital tidak tumbuh, bayi tidak mempunyai lubang anus, atau anus bermuara dalam sinus urogenitalis., dan terdapat satu lubang dari mana keluar air kencing dan feses.

7

2. Vagina

a. Septum vagina

Sekat sagital di vagina dapat ditemukan dibagian atas vagina. Tidak jarang hal ini ditemukan dengan kelainan pada uterus, oleh karena ada gangguan dalam fusi atau kanalisasi kedua duktus muleri.

Pada umum kelainan ini tidak menimbulkan keluhan pada yang bersangkutan, dan baru ditemukan pada pemeriksaan ginekologik. Darah haid juga keluar secara normal. Disperuani dapat timbul, meskipun biasanya septum itu tidak dapat mengganggu koitus.

Pada persalinan septum tersebut dapat robek spontan atau perlu disayat dan diikat. Tindakan tersebut dilakukan pula bila ada dispareuni.

(33)

b. Aplasia dan atresia vagina

Pada alpasia vagina kedua duktus mulleri mengadakan fusi, akan tetapi tidak berkembang dan tidak mengadakan kanalisasi, sehingga bila ditemukan jaringan yang tebal saja. Pada umumnya bila dijumpai alpasia vagina maka sering pula ditemukan uterus yang rudimeter(mengecil).

Pada alpasia vagina tidak ada vagina. Dan tempatnya introitus vagina hanya terdapat cekungan yang dangkal atau yang agak dalam.

Disini terapi terdiri atas pembutan vagina baru. Beberapa metode telah dikembangkan untuk keperluan itu. Ini sebabnya pada saat wanita yang

bersangkutan akan menikah. Dengan demikian vagina baru dapat digunakan dan dapat dicegah bahwa vagina buatan akan meyempit.

Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi, sehingga terbentuk suatu septum yang horisontal, septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagan bawah, diatas hymen (atresia retrohinalis).

Bila penutupan vagina itu menyeluruh, menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar. Terjadilah hematokolpos yang dapat mengakibatkan hematometra dan hematosalpink. Penanganan hemotokolpos sudah bibahas dalam pembiaraan tentang atresia himenalis.

Bila penutupan vagina tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan, kecuali mungkin pada partus kala dua.

8

c. Kista vagina 1) Pengertian

Kista vagina adalah suatu kantong tertutup pada dinding atau bagian bawah dinding vagina yang berisi cairan atau bahan semi padat. Kista terjadi akibat tersumbatnya kelenjar atau salurannya sehingga cairan terkumpul di dalamnya. Kista di vagina biasanya tidak nyeri. Ukurannya bervariasi mulai dari seukuran kacang sampai seukuran buah plum. Sedangkan Kista inklusi terjadi akibat trauma seperti akibat tindakan operasi. Kista Gartner merupakan salah satu kista di vagina. Kista ini berasal dari sisa saluran saat janin dalam perkembangan yang awalnya membesar kemudian menghilang. Tetapi kadang-kadang kista ini lumayan

membesar sehingga terlihat dari luar vagina. Kista vagina biasanya tidak bergejala. Jika bergejala, maka gejalanya hanya berupa pembengkakan kecil di dinding vagina, massa tumor keluar dari liang vagina atau nyeri saat melakukan hubungan seksual.

(34)

Kista vagina kadang hilang dengan sendirinya. Jika tidak hilang, maka perlu dilakukan tindakan operasi untuk membuangnya. Setelah operasi maka kista biasanya tidak akan kambuh. Kista ini sering ditemukan secara tidak sengaja saat dilakukan pemeriksaan panggul, dimana terlihat atau teraba adanya tumor di dinding vagina. Biasanya dilakukan biopsi untuk menentukan apakah tumor jinak atau ganas. Justru jika lokasi kista dekat dengan kandung kemih atau salurannya, maka dilakukan pemeriksaan rontgen untuk memastikan kedua organ tersebut tidak terkena.

2) klasifikasi Kista Vagina a) Kista Inklusi

Ditemukan di vulva, vagina atau perineum I. Definisi

Suatu kantong tertutup pada dinding atau bagian bawah dinding vagina yang berisi cairan atau bahan semi padat. Kista terjadi akibat tersumbatnya kelenjar atau salurannya sehingga cairan terkumpul didalamnya.

9

II. Etiologi

Merupakan salah satu jenis kista yang biasanya terjadi di bagian vagina dan biasanya terjadi akibat trauma seperti akibat tindakan operasi.

III. Gejala

Gejalanya hanya berupa pembengkakan kecil di dinding vagina, massa tumor keluar dari liang vagina atau nyeri pada saat melakukan hubungan seksual.

IV. Pemeriksaan

a. Jika gejala-gejala yang timbul tidak hilang maka lakukan operasi. b. Setelah operasi simak kista biasanya tidak akan kambuh.

c. Dilakukan pemeriksaan panggul. d. Raba adanya tumor di dinding vagina.

(35)

c. Jika lokasi kista dekat dengan kandung kemih atau salurannya maka dilakukan pemeriksaan rontgen untuk memestikan ke dua organ tidak terkena.

b) Kista Duktus Gardner I. Definisi

Kista yang terletak di dinding vagina (duktus gartner) yang berisi cairan atau bahan semi solid.

II. Etiologi

Kista gartner berkembang di daerah duktus gartner, biasanya di dinding vagina. Duktus ini aktif saat perkembangan janin namun biasanya menghilang setelah lahir. Pada beberapa kasus, sebagian duktus ini terisi cairan yang berkembang menjadi kista.

III. Gejala

Ganjalan di dinding vagina dan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual. IV. Pemeriksaan

a. Pada saat pemeriksaan pelvis dapat dirasakan adanya tonjolan atau masa di dinding vagina.

10

b. Biopsy kadang dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker vagina, terutama jika teraba keras.

c. Jika kista berlokasi dibawah uretra atau vesika urinaria, pemeriksaan radiologi mungkin dilakukan untuk memastikan dan menyakinkan bahwa kista tidak melibatkan struktur-struktur ini.

3) Penyebab Kista Vagina

1. Riwayat kista vagina terdahulu 2. Siklus haid tidak teratur

3. Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)

4. Kista vagina terjadi akibat tersumbatnya kelenjar atau salurannya sehingga cairan terkumpul di dalamnya.

(36)

4) Patofisiologi Kista Vagina

Tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium invaginasi yang sederhana dari epitel germinal sampai ke invaginasi disertai permukaan ruangan kista yang luas terjadi pembentukan papil-papil kearah dalam tumor kistik.

5) Etiologi Kista Vagina

Faktor yang menyebabkan gajala kista meliputi; 1. Gaya hidup tidak sehat.

2. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat 3. Zat tambahan pada makanan

4. Kurang olah raga

5. Merokok dan konsumsi alcohol

6. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius 7. Sering stress

8. Faktor Genetik 6) Penanganan

Yaitu pengangkatan kista dengan pengupasan kulitnya

11

3. Uterus dan tuba fallopi

Kelainan yang timbul pada uterus dan tuba adalah kelainan yang timbul pada pertumbuhan duktus Mulleri berupa tidak terbentuknya satu atau kedua duktus, gangguan dalam kedua duktus, dan ganggun dalam kanalisasi setelah fusi. Sering disertai kelainan traktus urinarius, tapi ovum normal.

a) Gagal dalam pembentukan ;

Apabila satu duktus Mulleri tdk terbentuk → uterus unikornis ( vagina dan serviks normal tapi uterus hanya mempunyai 1 tanduk serta 1 tuba. Biasanya hanya

(37)

terdapat 1ovarium dan 1 ginjal). Jika kedua duktus Mulleri tidak terbentuk → uterus dan vagina tidak ada (kecuali 1/3 bgn bawah), tuba tidak terbentuk atau

rudimenter.

b) Gangguan dalam mengadakan fusi ;

kegagalan untuk bersatu seluruhnya atau sebagian dari kedua duktus Mulleri. Dapat dijumpai kelainan sbb :

i. Uterus t.a 2 bgn yg simetris : 1. Uterus septus

2. Uterus subseptus

3. Uterus bikornis unikollis

4. Uterus bikornis bikollis (uterus didelphys) 5. Uterus arkuatus

ii. Uterus t.a 2 bgn yg tdk simetris :

Disini 1 duktus Mulleri berkembang normal, akan tetapi yang lain mengalami keterlambatan dalam pertumbuhannya.

a. Ovarium

Tidak adanya kedua atau satu ovarium merupakan Hal yang jarang terjadi. Biasanya tuba tidak ada juga dan kadang-kadang didapatkn ovarium tambahan namun

ovarium ini kecil dan terletak jauh dari ovarium yang normal. b. Sistem genitalia dan sistem traktus urinarium

Dua sistem ini dalam pertumbuhannya mempunyai hubungan yang dekat, sehingga dapat terjadi kelainan dalam pertumbuhan yang mengenai kedua sistem

tersebut.termasuk dalam hal ini kloaka persistens apabila tidak terbentuk septum urorektale; ekstrofi kandung kencing dengan vagina terdorong kedepan didaerah suprapublik, dan klitoris terbagi 2 karena dinding perut bagian bawah tidak terbentuk.

12

Kelainan pada sistem reproduksi karena keadaan tidak normal atau karena pengaruh hormonal

(38)

1. Kelainan karena kromosom yang abnormal

a. Sindrom Turner (Disgenesis Gonad) dimana tidak ditemukan sel-sel kelamin primordial, dan tdk ada pertumbuhan korteks atau medulla pada gonad.

b. Ciri-cirinya pendek (< 150 cm), amenorea primer dan nevus di kulit cukup banyak. Kelamin sekunder tidak tumbuh, genitalia eksterna kurang tumbuh tapi kecerdasan normal. Susunan kromosom : 44 otosom dan I kromosom X (seks) → 45-XO

c. Superfemale ; terjadi 1 diantara 1000 kelahiran bayi wanita dan disebabkan karena non-dysjunction. Ciri-cirinya perwakan seperti wanita biasa, perkembangan seks normal, tidak infertil, hanya kecerdasannya seringkali rendah. Kariotipenya 47-XXX

d. Sindroma Kleinefelter ; sindrom ini ditemukan pada penderita dengan fenotipe pria. Pada masa pubertas tumbuh ginekomasti. Genitalia eksterna tumbuh dengan baik, ereksi dan koitus umumnya dapat berjalan dengan baik. Testis dalam keadaan atrofi, terdapat azoospermi. Keluhn ginekomasti dapat diterapi dengan tindakan operasi.

e. Hermafrodistismus ; jarang dijumpai. Terdapat jaringan testis pada sisi yang satu dan jaringan ovarium pada sisi yg lain. Sebagian besar dari penderita menunjukkan kromatin seks dan gambaran kariotipe wanita. Kariotipe antara lain XX atau 46-XY

f. Sindroma Down (Trisomi 21) ; ditemukan 1 per 670 janin lahir hidup akibat kromosom otosom yg abnormal. Kejadian makin meningkat dengan makin tuanya ibu. Disebabkan karena adanya translokasi pada kromosom 21. Ciri-cirinya

menunjukkan kecerdasan yang rendah, seringkali mulut terbuka dengan lidah yang menonjol, oksiput dan muka gepeng.

g. Sindrom Edwards (Trisomi 18) : ciri-cirinya pertumbahan anak lambat, kepalanya memanjangdgn kelainan pada kepala, sering ada kelainan jantung dan dada dgn sternum pendek.

13

h. Sindrom Patau (Trisomi 13) : Ciri-cirinya BBLR, pertumbuhannya lambat, palatoskisis dan labioskisis, mikrosefali dan polidaktili. Sering pula ditemukan kelainan jantung.

(39)

2. Kelainan karena pengaruh hormonal

a. Maskulinisasi pada wanita dgn kromosom dan gonad wanita

Sering disebut sebagai sindrom adrogenital kongenital (congenital adrenal hiperplasia). Disebabkan pengaruh virilisasi oleh androgen yang dibuat sebagai hasil gangguan dari metabolisme pada glandula adrenal. Karena gangguan itu androgen dibuat berlebihan pada janin.

Ciri-cirinya : pada bayi ditemukan lipatan labium mayus kanan dan kiri menjadi satu dan klitoris membesar. Di dalam lipatan yg menyerupai skrotum tidak ditemukan kelenjar kelamin. Uterus, tuba dan ovarium tampak normal. Androgen tdk

mempengaruhi tumbuhnya alat genitalia janin wanita b. Sindrom feminisasi Testikuler

Suatu kelainan pada seseorang dgn genotipe pria dan fenotipe wanita, dan dengan genitalia eksterna seperti pada wanita.

Penyebabnya → gangguan metabolisme endokrin pada janin, dimana tidak ada kepekaan jaringan alat-alat genital terhadap androgen yg dihasilkan secara normal oleh testis janin.

Ciri-cirinya : mempunyai ciri-ciri khas wanita tetapi tidak mempunyai genitalia interna wanita, dan terdapat testis yang tidak berkembang ditemukan di rongga abdomen, kanalis inguinalis atau di labium mayus. Testis tidak menunjukkan spermatogenesis. Sebagian besar berwajah wanita, tinggi , pertumbuhan pannukulus adiposus normal dan pertumbuhan mammae baik. Rambut pubis kurang atau tidak ada demikian pula rambut ketiak, vagina pendek dan menutup. Kelenjar kelamin hanya mengandung jaringan testis yang rudimenter dan

kemungkinan akan menimbulkan neoplasma oleh sebab itu harus diangkat jika sudah dewasa.

14

2.3 Penatalaksanaan kelainan sistem reproduksi Penatalaksanaan meliputi :

1. Anamnese dan pemeriksaan a. Anamnesa

(40)

a) Anamnese : Secara rutin ditanyakan : umur penderita, sudah menikah atau belum, paritas, siklus haid, penyakit yang pernah diderita, terutama kelainan ginekologik serta pengobatannya, dan operasi yang pernah dialami.

b) Gejala-gejala penyakit ginekologi yang paling sering adalah : 1. Perdarahan

2. Rasa nyeri 3. Pembengkakan

c) Dalam anamnese yang perlu ditanyakan : 1. Riyawat penyakit umum

2. Riwayat obstetrik 3. Riwayat ginekologik 4. Riwayat haid

5. Keluhan sekarang

6. Perdarahan yaitu Lamanya, banyaknya, hubungan dengan haid ?

Menoragia, hipermenore, hipomenore oligomenore, polimenore, metroragia d) Perdarahan setelah haid terlambat :

1. Abortus

2. Mola hidatidosa 3. Kehamilan ektopik

e) Perdarahan setelah koitus : 1. Karsinoma serviks

2. Polip serviks 3. Erosi porsio

4. Perlukaan himen, forniks posterior

(41)

f) perdarahan pada masa menopause 1. Karsinoma endometrium

2. Karunkula uretralis

3. Vaginitis / endometritis senilis 4. Pemakaian pessarium yang lama 5. Polip serviks

6. Erosi porsio

7. Pengobatan hormonal 8. Fluor albus (leukorea)

i. Lama, terus menerus/waktu tertentu, banyaknya, baunya, disertai gatal atau nyeri ?

ii. Normal : kehamilan, menjelang / setelah haid, waktu ovulasi, rangsangan seksual iii. Patologik : mengganggu, ganti celana berkali kali disertai gatal atau nyeri, berbau.

iv. Dismenore, nyeri diperut bagian bawah / pinggang, mules, ngilu, ditusuk tusuk v. Mengganggu pekerjaan sehari hari, hilang dgn obat ? Menjelang, sewaktu atau setelah haid ?

g) Rasa nyeri ; dismenorea, dispareunia, nyeri perut, nyeri pinggang

i. Dispareunia kel.organik atau psikologik ? Organik : vagina sempit, peradangan/ luka, adneksitis, parametritis, endometriosis

ii. Nyeri perut : kel.Letak uterus, neoplasma, peradangan akut / kronik, ruptur tuba, abortus tuba torsi kista ovarium, putaran tangkai mioma subserosum, KET.

iii. Nyeri pinggang : parametritis fibrosis ligamentum Kardinale dan ligamentum Sakrouterinum, kel.ortopedik, persalinan lama dan keletihan otot – otot panggul h) Miksi (keluhan BAK)

i. Apakah disertai nyeri, sering kencing, retensi urin, kencing tidak lancar, kencing tidak tertahan

(42)

16

iii. Retensi urin : retrofleksio, uteri gravid, mioma uteri, kista ovarium, sistokel, post partum, post op daerah vagina / perineum / rektal.

iv. Inkontinensia urin / stress incontinence :

v. Penderita dapat menahan air kencing => jika tekanan Intrabdominal meningkat (batuk, bersin, tertawa keras, mengangkat barang berat) maka urin menetes yang tak dapat ditahan => sistokel, ofisium urethrae internum yang lebar.

i) Defekasi (keluhan BAB) i. Apakah ada nyeri defekasi

ii. Feses encer + lendir, nanah, darah

iii. Fistula rektovaginalis , feses dari kemaluan

iv. Ruptur perineum tk.III , tidak dapat menahan keluarnya feses è M. Sfingter ani eks.putus

2. Pemeriksaan :

a. Pemeriksaan umum ; tanda vital, bentuk tubuh (gemuk atau kurus), keadaan jiwa penderita, mata (anemis), kelenjar gondok (struma), jantung, paru dll

b. Pemeriksaan payudara ; kelainan endokrin, gravid dan karsinoma mammae c. Pemeriksaan perut ; Inspeksi, palpasi, Perkusi dan Auskultasi

d. Pemeriksan abdominal i. Pasien posisi supinasi ii. Relaks, bantal kepala iii. Abdomen tidak tegang

iv. Inspeksi abdomen : massa, pembesaran organ, asites, v. Palpasi : 4 kuadran => menurut arah jarum jam

vi. Massa : ukuran/besarnya, batas, permukaan, konsistensi vii. Ukuran dan bentuk hepar, limpa, “omental cake”

(43)

ix. Pasien : inspirasi/ekspirasi pada pem. Hepar x. Auskultasi : bising usus

17

e. Pemeriksaan Ginekologik :

Hasil dari pemeriksaan yang dilakukan dibuat dalam catatan-catatan khusus yg disebut status ginekologis

Ginecologycal investigations Noninvasive

i. Cytology

ii. Biochemistry (e.g. tumor markers) iii. Microbiology iv. Colposcopy v. Hormonal assay vi. Ultrasound vii. Radiology Invasive

i. Dilatation and curretage

ii. Biposy (punch, cone, endometrial) iii. Hysterosalpingography

iv. Laparoscopy v. Hysteroscopy vi. Laparotomy

(44)

i. Jari telunjuk dan jari tengah dimasukkan ke dalam vagina di daerah forniks posterior, tangan lain di luar, di bawah umbilikus

ii. Vagina, forniks dan serviks dipalpasi

iii. Pemeriksaan bimanual nilai uterus : besar, ukuran, bentuk, posisi, konsistensi iv. Adneksa kiri, kanan : pembesaran besar, ukuran, bentuk, konsistensi, mobilitas, sensitivitas

v. Pemeriksaan rektal rutin pada wanita menopause vi. Nilai : sfingter ani, mukosa usus, massa hemoroid

18

g. Pemeriksaan penunjang/pre-op Pemeriksaan laboratorium ;

a. Hemoglobin (Hb) (Mioma uteri, karsinoma serviks, KET, Anemia) b. Jumlah lekosit/led : peradangan atau neoplasma

c. Plano tes

d. Gula darah, fungsi ginjal, fungsi hati e. Pap’s Smear

f. Foto thoraks g. USG

Persiapan pre operatif

a. Pemeriksaan Lab. dan pemeriksaan tambahan b. Kesiapan mental/Berdoa

c. Persiapan Keuangan d. Puasa

(45)

f. Obat (obgin dan Anestesi) dan benang g. Informed consent

h. Persetujuan tindakan (Suami, ORTU dan penderita)

Pemantauan post operatif a. Pengawasan tanda vital

b. Pengawasan keseimbangan cairan c. Pemberian terapi parenteral

d. Pemberian nutrisi enteral/oral e. Penyembuhan luka operasi f. Mobilisasi penderita

19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil kosepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera lahir.

Beberapa faktor etiologi yang diduga dapat mempengaruhi terjadinya kelainan kongenital, antara lain:

a.kelainan genetik dan kromosom b.faktor mekanik

c.faktor infeksi d.faktor obat

(46)

e.faktor umur ibu f.faktor hormonal g.faktor radiasi

h.faktor gizi dan lain – lain.

Kelainan Kongenital Organ Reproduksi dapat terjadi pada vulva, vagina, perineum, uterus dan ovarium.

3.2 Saran

Berdasarkan simpulan dari isi makalah ini jika terdapat kekurangan dalam hal penyajian makalah ini dan dalam hal penyusunan kata-kata yang kurang efektif penulis mohon kritik dan saran yang berguna bagi penulisan makalah selanjutnya.

20

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. Dkk., 2008. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua Cetakan. Keenam. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Manuaba,Ida Bagus Gde.1999.Memahami Kesehatan Reproduksi wanita.Jakarta: Arcan

Dinopawe's Ambon

Jojaro Deng Mongare Pung Catatan

Article Cerpen Health Materi Kuliah Puisi Friday, August 5, 2011

(47)

Kelainan kongenital merupakan kelainan dlm pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dpt merupakan sebab terjadinya aborus, lahir mati atauematian segera lahir.

Beberapa faktor etiologi yang diduga dapat mempengaruhi terjaadinya kelainan kongenital, antara lain:

kelainan genetik dan kromosom faktor mekanik

faktor infeksi faktor obat faktor umur ibu faktor hormonal faktor radiasi faktor gizi

faktor-faktor lain

I. Kelainan-kelainan kongenital berupa gangguan dalam organogenesis sistem reproduksi pada janin yang genetik normal

VULVA

a. himen imperforta

Adalah selaput dara yang tidak menunjukkan lubang (hiatus himenalis) sama sekali, suatu kelainan yang ringan dan yang cukup sering dijumpai. Kemungkinan besar kelainan ini tidak dikenal sebelum menarche. Sesudah itu molimina menstrualia dialami tiap bulan, tetapi darah haid tidak keluar. Darah itu terkumpul di dalm vagina dan menyebabkan himen tampak kebiru-biruan dan menonjol ke luar. - hematokolpos

Referensi

Dokumen terkait