• Sering dikombinasi dengan kesulitan dalam proses pengaturan psikologikal, sensori, perhatian, motorik, kognitif,
somatik, dan afeksi.
• Sejarahnya anak-anak dengan
kesulitan Relasi dan komunikasi yang berat ternyata Autistic disorder
• Pada DSM IV PDD meluas termasuk gangguan autistik, gangguan disintegratif, syndrom asperger, syndrom rett dan PDD NOS.
• PDD NOS tidak didefinisikan secara baik dalam DSM III R atau DSM IV.
• Definisinya hanya menggambarkan secara umum kondisi hendaya pervasif dan berat dalam relasi, berkomunikasi, dan kualitas keminatan.
• Banyak anak dengan kesulitan dalam
berbahasa dan hubungan interpersonal didiagnosa PDD NOS
• Prognosis gangguan autistik pesimistik
• Klinisi & orangtua lebih memilih diagnosa PDD NOS .
• Sangat direkomendasi untuk memperoleh pengertian lebih jauh tentang anak dengan rentang kesulitan berrelasi & berkomunikasi. • Klinisi perlu mempertimbangkan dua pilihan : 1.Menggunakan konsep DSM IV PDD atau 2.Menggunakan MSDD ( multisystem
Developmental Disorder) suatu konsep yang tidak mempertimbangkan batasan kesulitan dalam Relasi dan berkomunikasi yang dipantau pd klinis sebagian populasi yang seperti anak dengan gangguan autistik.
• Pada MSDD kesulitan dalam Relasi tidak dilihat sebagai defisit permanen yang tidak dapat diubah tetapi sebagai pembuka
untuk berubah dan bertumbuh.
• Sebelum membuat diagnosis PDD atau MSDD klinisi harus mengobservasi anak dari substansial periode waktu,
bersama dengan caregiver, interaksi yang spontan dan bermain.
• Klinisi yang terlatih memulai dengan periode warm-up , juga berinteraksi
dengan anak , menggunakan ketrampilan klinisnya untuk menfasilitasi relasi dan
• Karakteristiknya :
1.Hendaya yang bermakna, tetapi tidak
menyeluruh di dalam kemampuan untuk mengikut sertakan emosi dan hubungan sosial dengan caregiver yang utama.
2.Hendaya yang bermakna dalam
pembentukan, mempertahankan, dan atau mengembangkan komunikasi. Termasuk komunikasi gerakan preverbal, seperti halnya komunikasi simbolik verbal & nonverbal
1. Disfungsi yang bermakna dalam proses pendengaran.( misal persepsi,
komprehensif)
2. Disfungsi yang bemakna dalam proses sensasi yang lain termasuk hiper dan hiporeaktivitas ( contoh visual-spasial,
tactile, proprioceptive & vestibular input )
dan perencanaan motor ( contoh
gerakan sequencing /mengurut-ngurut)
• Terbagi menjadi tiga pola : Pola A, Pola B, Pola C
• Anak-anak ini tidak memiliki tujuan dan
tidak berhubungan dengan waktu, dengan kesulitan yang berat dalam perencanaan motorik bahkan gerakan yang sederhana juga sulit.
• Mereka biasanya menunjukkan afek yang datar dan tidak sesuai atau afek yang tumpul, tetapi dengan bermain sensori yang secara langsung dapat
menunjukkan kesenangannya atau jika terlalu diberikan stimulasi maka akan menunjukkan tantrum.
• Anak-anak ini self stimulation, perilaku ritmis dibanding yang sudah diatur,
perilaku yang tekun/ gigih dengan sebuah objek.
• Beberapa memiliki tonus otot yang tidak baik under reaktiv kepada sensasi
• Ada juga mempunyai pola khusus
dalam rekasi berlebihan terhadap sensasi, seperti sentuhan dan suara-suara
• Anak-anak ini secara berulang-ulang melakukan gerakan-gerakan yang sederhana.
• Pada kelompok ini afek sepintas lalu
menunjukkan kepuasan atau kesenangan tetapi tidak menetap keriangannya atau
kehangatannya terhadap hubungan dengan orang lain.
• Anak-anak ini menikmati kegiatan yang berulang-ulang dan gigih pada sebuah
objek tetapi sangat kaku pada perubahan dalam hidupnya.
• Anak-anak ini menunjukkan pola
campuran antara reaktivitas sensori dan tonus otot dan masih lebih teratur
dibanding anak di pola A didalam mencari sensari atau menghindari sensasi.
• Pada anak-anak ini lebih konsisten dalam Relasi dan dapat reaksi dengan orang lain bahkan ketika mereka
menghindari.
• Dapat menggunakan gerakan yang sederhana ( seperti meraih, melihat, menukar objek) dan dapat secara
berulang-ulang melakukan interaksi perilaku dan gerakan yang kompleks ( mengajak orang tuanya menuju pintu untuk pergi)
• Anak-anak ini mempunyai pola campuran reaktivitas sensori dan kesulitan dalam merencanakan otot dengan
kecenderungan reaksi berlebihan terhadap sensasi.
• Anak-anak ini dapat menggunakan beberapa kata atau frase ( misalnya mengikuti kata-kata dalam lagu)
• Gangguan hubungan antara orangtua dan anak dicirikan dengan persepsi,
perilaku dan afeksi antara orangtua & anak.
• Orangtua berhubungan dengan anaknya, berkaitan dengan psikodinamaik dirinya sendiri, termasuk dalam proyeksi &
defensifnya.
• Diagnosis tidak saja berdasarkan
observasi, pengalaman subjektif orangtua yang terucapkan selama wawancara.
• Kesulitan dalam berhubungan dilihat dari intensitas, frekuensinya, dan durasi
menjadi faktor untuk mengklasifikasi masalah hubungan kebingungan, gangguan atau sebuah kekacauan. • PIR-GAS The Parent Infant
Relationship Global Assesment Scale
untuk mendiskripsikan kekuatan dari suatu hubungan antara orangtua & anak.
• Range :
• well-adapted (90)- grossly impaired(10) • 70-40 = mempunyai kecenderungan
• Tiga aspek yang dilihat didalam suatu hubungan :
1.Kualitas interaksi perilaku 2.Pola afektif
• 901. Overinvolved • 902. Underinvolved • 903. Anxious/ Tense • 904. Angry/ Hostile
• 905. Mixed Relationship Disorder • 906. Abusive
• Hubungan ini dapat dicirikan dengan
keterlibatan yang berlebihan dalam fisik dan psikologis :
A.Kualitas interaksi perilaku
1.Orangtua sering mencampuri tujuan dan hasrat anaknya
2.Orangtua mendominasi anak melalui kontrol yang berlebihan
1. Orangtua yang membuat perkembangan keinginan yang tidak sesuai
2. Anak akan muncul kebingungan, tidak fokus dan tidak berdiferensiasi
3. Anak akan tampil submissive, perilaku
yang selalu mengalah, atau perilaku yang menentang.
4. Anak menunjukkan keterbatasan dalam ketrampilan motorik dan ekspresi dalam berbahasa.
A. Pola Afektif
1. Orangtua mempunyai kecemasan,
depresi dan kemarahan sebagai hasil dari keterbatasan konsistensi dalam interaksi hubungan orangtua dan anak
2. Anak secara pasif atau aktif menunjukkan kemarahan dan rengekan.
A. Keterlibatan psikologis
1. Orangtua bisa saja menerima anaknya sebgai pasangannya atau
memperlakukan romantisme kepada anak tersebut.
2. Orangtua tidak melihat anak sebagai individu yang terpisah.
• Dicirikan dengan :
A. Kualitas interaksi perilaku
1.Orangtua tidak sensintif pada anaknya 2.Dalam observasi terdapat keterbatasan
konsistensi dalam hubungan interaksinya 3.Orangtua tidak peduli, menolak, gagal
1. Orangtua tidak secara adekuat
memberikan cerminan pada perilaku anaknya
2. Orangtua tidak secara adekuat
melindungi anaknya dari sumber emosi yang melukai atau menganiaya anak itu. 3. Interaksi orangtua dan anak salah
interpretasi oleh orangtua
4. Orangtua dan anak sering tidak Relasi, hanya sekali-kali hubungannya.
1. Anak akan tampak tidak terawat secara fisik dan psikilogis
2. Anak akan tampak terlambat dalam ketrampilan motorik dan berbahasa. A. Pola Afektif
1. Afeksi anatara orangtua dan anak
biasanya terbatas, withdrawn, sedih dan flat.
2. Jika diobservasi, interaksinya, seperti tidak ada kehidupan dan sedikit
C. Keterlibatan psikologis
1.Orangtua tidaka menunjukkan awareness akan kebutuhan anak didalam interaksi
dengan orang lain atau dalam interaksi dengan anak.
2.Riwayat orangtuanya kemungkinan
• Dicirikan sedikit untuk menikmati kesenangan bersama.
A.Kualitas interaksi perilaku
1.Sensitivitas orangtua untuk meneladani terlalu berlebihan
2.Orangtua menunjukkan kepedulian terhadap kondisi anak, perilaku dan
perkembangannya dan mungkin terlalu protektif
1. Menangani fisik anak secara aneh 2. Hubungan melibatkan interaksi
emosional yang negatif
3. Terdapat kesamaan tempramen antara anak dan orangtua
4. Anak bisa saja menunjukkan
B. Pola Afektif
1.Orangtua atau anak menunjukkan mood yang cemas seperti yang tampak dalam ketegangan otot, agitasi, ekspresi wajah dan kualitas suara,
2.Orangtua & anak bertingkahlaku berlebihan.
C. Keterlibatan psikologis
Orangtua sering salah mengartikan perilaku anaknya dan sering memberi
A. Kualitas interaksi perilaku
1. Orangtua tidak peka pada anaknya
2. Cara menangani anaknya secara kasar 3. Orangtua mengejek anaknya
4. Anak akan tampak ketakutan dengan
orangtuanya, cemas, impulsiv dan agresif 5. Anak akan menunjukkan perilaku
menentang atau resisten terhadap orangtua.
1. Anak akan menunukkan perilaku yang menuntut dan agresif terhadap orangtua 2. Anak akan menunjukkan ketakutan,
vigilant dan perilaku menghindar
3. Anak menunjukkan kecenderungan perilaku yang konkret dibandingkan perilaku fantasi atau imajinasi
B. Pola Afektif
1.Interaksi antara orangtua dan anak lebih banyk hostile dan kemarahan
2.Ketegangan antara orangtua dan anak, dan keterbatasan dalam menikmati
kesenangan
3.Afek anak terbatas
A.Keterlibatan psikologis
Orangtua mungkin melihat ketergantungan anak sebagai tuntutan.
kemungkinan orangtua mempunyai riwayat pernah diperlakukan hal yang
905. Mixed Relationship disorder 906. Abusive
• 906a. Verbally abusive • 906b. Physically abusive • 906c. Sexually abusive
A. Kualitas interaksi perilaku
1. Isi dari kekerasan verbal yang dilakukan orangtua ditujukan untuk menghina,
menyalahkan, overcontrol dan menolak anak.
2. Reaksi anak bisa saja sangat bervariasi dari perilaku yang terbatas hingga acting
A. Pola Afektif
negatif, interaksi orangtua dan anak yang
abusive , dapat mempengaruhi afek anak
yang depresi.
C. Keterlibatan psikologis
1. Orangtua dapat salah mengerti tangisan anak, dan sering dengan sengaja
menunjukkan perilaku yang negatif kepada dirinya sendiri.
1. Apa yang dilakukan anak dapat
mengingatkan pengalamnnya dimasa lalu dan membuat suatu perasaan yang
menyakitkan buat orangtuanya. Dan
biasanya hubungan seperti ini suatu yang tidak disadari.
A. Kualitas interaksi perilaku
1. Orangtua melukai anaknya . Misalnya memukul, menendang , mengisolasi, menggigit dll.
2. Orangtua biasanya menyangkal
kebutuhan anak untuk bertahan hidup, misalnya kebutuhan untuk makan,
kesehatan.
3. Diagnosa juga bisa termasuk dalam verbal dan atau sexual abuse.
A. Pola Afektif
1. Kemarahan, hostilitas, dan iritabel didalam emosinya.
2. Terdapat ketegangan dan kecemasan antara orangtua dan anaknya dan sulit menikmati kesenangan.
A. Keterlibatan psikologis
1. Orangtua menunjukkan kemarahan terhadap anaknya .
1. Anak lebih banyak melakukan tindakan yang konkret dibandingkan berfantasi dan imajinasi
2. Interaksi terlihat sangat tertutup dan sangat renggang.
3. Pengalaman masa lalu atau representasi internal dlam hubungan orangtuanya di masa lalu di proyeksi ke anaknya.
A. Kualitas interaksi perilaku
1. Orangtua terlibat menggoda secara seksual atau perilaku stimulasi yang berlebihan kepada anaknya.
2. Anak mempunyai perilaku dorongan seksual seperti menunjukkan dirinya sendiri atau disentuh oleh orang lain.
3. Diagnosa ini bisa termasuk dalam verbal dan atau physical abuse
A. Pola Afektif
1. Keterbatasan dalam ikatan dan interaksi orangtua dan anak dapat berdampak
pada afek orangtua, yaitu bisa menjadi labil.
2. Anak dapat tampak cemas
3. Anak juga dapat tampak ketakutan, cemas dan agresi terselubung
A. Keterlibatan psikologis
1. Karakteristik orangtua tidak menunujukan respon yang empati kepada kebutuhan
anak, dan terpreokupasi terhadap narcissistic self gratification
2. Orangtua dapat saja mengalami
pemikiran yang terpecah akan pemilihan objek sex.