• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

• Sering dikombinasi dengan kesulitan dalam proses pengaturan psikologikal, sensori, perhatian, motorik, kognitif,

somatik, dan afeksi.

• Sejarahnya  anak-anak dengan

kesulitan Relasi dan komunikasi yang berat  ternyata Autistic disorder

(3)

• Pada DSM IV  PDD meluas termasuk gangguan autistik, gangguan disintegratif, syndrom asperger, syndrom rett dan PDD NOS.

• PDD NOS  tidak didefinisikan secara baik dalam DSM III R atau DSM IV.

• Definisinya hanya menggambarkan secara umum kondisi hendaya pervasif dan berat dalam relasi, berkomunikasi, dan kualitas keminatan.

• Banyak anak dengan kesulitan dalam

berbahasa dan hubungan interpersonal  didiagnosa PDD NOS

(4)

• Prognosis gangguan autistik  pesimistik

• Klinisi & orangtua  lebih memilih diagnosa PDD NOS .

• Sangat direkomendasi untuk memperoleh pengertian lebih jauh tentang anak dengan rentang kesulitan berrelasi & berkomunikasi. • Klinisi perlu mempertimbangkan dua pilihan : 1.Menggunakan konsep DSM IV PDD atau 2.Menggunakan MSDD ( multisystem

Developmental Disorder)  suatu konsep yang tidak mempertimbangkan batasan kesulitan dalam Relasi dan berkomunikasi yang dipantau pd klinis sebagian populasi yang seperti anak dengan gangguan autistik.

(5)

• Pada MSDD kesulitan dalam Relasi tidak dilihat sebagai defisit permanen yang tidak dapat diubah tetapi sebagai pembuka

untuk berubah dan bertumbuh.

• Sebelum membuat diagnosis PDD atau MSDD  klinisi harus mengobservasi anak dari substansial periode waktu,

bersama dengan caregiver,  interaksi yang spontan dan bermain.

(6)

• Klinisi yang terlatih  memulai dengan periode warm-up , juga berinteraksi

dengan anak , menggunakan ketrampilan klinisnya untuk menfasilitasi relasi dan

(7)

• Karakteristiknya :

1.Hendaya yang bermakna, tetapi tidak

menyeluruh di dalam kemampuan untuk mengikut sertakan emosi dan hubungan sosial dengan caregiver yang utama.

2.Hendaya yang bermakna dalam

pembentukan, mempertahankan, dan atau mengembangkan komunikasi. Termasuk komunikasi gerakan preverbal, seperti halnya komunikasi simbolik verbal & nonverbal

(8)

1. Disfungsi yang bermakna dalam proses pendengaran.( misal persepsi,

komprehensif)

2. Disfungsi yang bemakna dalam proses sensasi yang lain termasuk hiper dan hiporeaktivitas ( contoh visual-spasial,

tactile, proprioceptive & vestibular input )

dan perencanaan motor ( contoh

gerakan sequencing /mengurut-ngurut)

• Terbagi menjadi tiga pola : Pola A, Pola B, Pola C

(9)

• Anak-anak ini tidak memiliki tujuan dan

tidak berhubungan dengan waktu, dengan kesulitan yang berat dalam perencanaan motorik bahkan gerakan yang sederhana juga sulit.

• Mereka  biasanya menunjukkan afek yang datar dan tidak sesuai atau afek yang tumpul, tetapi dengan bermain sensori yang secara langsung dapat

menunjukkan kesenangannya atau jika terlalu diberikan stimulasi maka akan menunjukkan tantrum.

(10)

• Anak-anak ini  self stimulation, perilaku ritmis dibanding yang sudah diatur,

perilaku yang tekun/ gigih dengan sebuah objek.

• Beberapa memiliki tonus otot yang tidak baik  under reaktiv kepada sensasi

• Ada juga  mempunyai pola khusus

dalam rekasi berlebihan terhadap sensasi, seperti sentuhan dan suara-suara

(11)

• Anak-anak ini secara berulang-ulang melakukan gerakan-gerakan yang sederhana.

• Pada kelompok ini  afek sepintas lalu

menunjukkan kepuasan atau kesenangan tetapi tidak menetap keriangannya atau

kehangatannya terhadap hubungan dengan orang lain.

(12)

• Anak-anak ini menikmati kegiatan yang berulang-ulang dan gigih pada sebuah

objek tetapi sangat kaku pada perubahan dalam hidupnya.

• Anak-anak ini menunjukkan  pola

campuran antara reaktivitas sensori dan tonus otot dan masih lebih teratur

dibanding anak di pola A didalam mencari sensari atau menghindari sensasi.

(13)

• Pada anak-anak ini  lebih konsisten dalam Relasi dan dapat reaksi dengan orang lain bahkan ketika mereka

menghindari.

• Dapat menggunakan gerakan yang sederhana ( seperti meraih, melihat, menukar objek) dan dapat secara

berulang-ulang melakukan interaksi perilaku dan gerakan yang kompleks ( mengajak orang tuanya menuju pintu untuk pergi)

(14)

• Anak-anak ini mempunyai pola campuran reaktivitas sensori dan kesulitan dalam merencanakan otot dengan

kecenderungan reaksi berlebihan terhadap sensasi.

• Anak-anak ini dapat menggunakan beberapa kata atau frase ( misalnya mengikuti kata-kata dalam lagu)

(15)

• Gangguan hubungan antara orangtua dan anak dicirikan dengan  persepsi,

perilaku dan afeksi antara orangtua & anak.

• Orangtua berhubungan dengan anaknya, berkaitan dengan psikodinamaik dirinya sendiri, termasuk dalam proyeksi &

defensifnya.

• Diagnosis  tidak saja berdasarkan

observasi, pengalaman subjektif orangtua yang terucapkan selama wawancara.

(16)

• Kesulitan dalam berhubungan dilihat dari intensitas, frekuensinya, dan durasi 

menjadi faktor untuk mengklasifikasi masalah hubungan  kebingungan, gangguan atau sebuah kekacauan. • PIR-GAS  The Parent Infant

Relationship Global Assesment Scale

untuk mendiskripsikan kekuatan dari suatu hubungan antara orangtua & anak.

• Range :

• well-adapted (90)- grossly impaired(10) • 70-40 = mempunyai kecenderungan

(17)

• Tiga aspek yang dilihat didalam suatu hubungan :

1.Kualitas interaksi perilaku 2.Pola afektif

(18)

• 901. Overinvolved • 902. Underinvolved • 903. Anxious/ Tense • 904. Angry/ Hostile

• 905. Mixed Relationship Disorder • 906. Abusive

(19)

• Hubungan ini dapat dicirikan dengan

keterlibatan yang berlebihan dalam fisik dan psikologis :

A.Kualitas interaksi perilaku

1.Orangtua sering mencampuri tujuan dan hasrat anaknya

2.Orangtua mendominasi anak melalui kontrol yang berlebihan

(20)

1. Orangtua yang membuat perkembangan keinginan yang tidak sesuai

2. Anak akan muncul kebingungan, tidak fokus dan tidak berdiferensiasi

3. Anak akan tampil submissive, perilaku

yang selalu mengalah, atau perilaku yang menentang.

4. Anak menunjukkan keterbatasan dalam ketrampilan motorik dan ekspresi dalam berbahasa.

(21)

A. Pola Afektif

1. Orangtua mempunyai kecemasan,

depresi dan kemarahan sebagai hasil dari keterbatasan konsistensi dalam interaksi hubungan orangtua dan anak

2. Anak secara pasif atau aktif menunjukkan kemarahan dan rengekan.

(22)

A. Keterlibatan psikologis

1. Orangtua bisa saja menerima anaknya sebgai pasangannya atau

memperlakukan romantisme kepada anak tersebut.

2. Orangtua tidak melihat anak sebagai individu yang terpisah.

(23)

• Dicirikan dengan :

A. Kualitas interaksi perilaku

1.Orangtua tidak sensintif pada anaknya 2.Dalam observasi terdapat keterbatasan

konsistensi dalam hubungan interaksinya 3.Orangtua tidak peduli, menolak, gagal

(24)

1. Orangtua tidak secara adekuat

memberikan cerminan pada perilaku anaknya

2. Orangtua tidak secara adekuat

melindungi anaknya dari sumber emosi yang melukai atau menganiaya anak itu. 3. Interaksi orangtua dan anak  salah

interpretasi oleh orangtua

4. Orangtua dan anak sering tidak Relasi, hanya sekali-kali hubungannya.

(25)

1. Anak akan tampak tidak terawat secara fisik dan psikilogis

2. Anak akan tampak terlambat dalam ketrampilan motorik dan berbahasa. A. Pola Afektif

1. Afeksi anatara orangtua dan anak

biasanya terbatas, withdrawn, sedih dan flat.

2. Jika diobservasi, interaksinya, seperti tidak ada kehidupan dan sedikit

(26)

C. Keterlibatan psikologis

1.Orangtua tidaka menunjukkan awareness akan kebutuhan anak didalam interaksi

dengan orang lain atau dalam interaksi dengan anak.

2.Riwayat orangtuanya kemungkinan

(27)

• Dicirikan  sedikit untuk menikmati kesenangan bersama.

A.Kualitas interaksi perilaku

1.Sensitivitas orangtua untuk meneladani terlalu berlebihan

2.Orangtua menunjukkan kepedulian terhadap kondisi anak, perilaku dan

perkembangannya dan mungkin terlalu protektif

(28)

1. Menangani fisik anak secara aneh 2. Hubungan melibatkan interaksi

emosional yang negatif

3. Terdapat kesamaan tempramen antara anak dan orangtua

4. Anak bisa saja menunjukkan

(29)

B. Pola Afektif

1.Orangtua atau anak menunjukkan mood yang cemas seperti yang tampak dalam ketegangan otot, agitasi, ekspresi wajah dan kualitas suara,

2.Orangtua & anak bertingkahlaku berlebihan.

C. Keterlibatan psikologis

Orangtua sering salah mengartikan perilaku anaknya dan sering memberi

(30)

A. Kualitas interaksi perilaku

1. Orangtua tidak peka pada anaknya

2. Cara menangani anaknya secara kasar 3. Orangtua mengejek anaknya

4. Anak akan tampak ketakutan dengan

orangtuanya, cemas, impulsiv dan agresif 5. Anak akan menunjukkan perilaku

menentang atau resisten terhadap orangtua.

(31)

1. Anak akan menunukkan perilaku yang menuntut dan agresif terhadap orangtua 2. Anak akan menunjukkan ketakutan,

vigilant dan perilaku menghindar

3. Anak menunjukkan kecenderungan perilaku yang konkret dibandingkan perilaku fantasi atau imajinasi

(32)

B. Pola Afektif

1.Interaksi antara orangtua dan anak lebih banyk hostile dan kemarahan

2.Ketegangan antara orangtua dan anak, dan keterbatasan dalam menikmati

kesenangan

3.Afek anak terbatas

A.Keterlibatan psikologis

Orangtua mungkin melihat ketergantungan anak sebagai tuntutan.

kemungkinan orangtua mempunyai riwayat pernah diperlakukan hal yang

(33)

905. Mixed Relationship disorder 906. Abusive

• 906a. Verbally abusive • 906b. Physically abusive • 906c. Sexually abusive

(34)

A. Kualitas interaksi perilaku

1. Isi dari kekerasan verbal yang dilakukan orangtua ditujukan untuk menghina,

menyalahkan, overcontrol dan menolak anak.

2. Reaksi anak bisa saja sangat bervariasi dari perilaku yang terbatas hingga acting

(35)

A. Pola Afektif

negatif, interaksi orangtua dan anak yang

abusive , dapat mempengaruhi afek anak

yang depresi.

C. Keterlibatan psikologis

1. Orangtua dapat salah mengerti tangisan anak, dan sering dengan sengaja

menunjukkan perilaku yang negatif kepada dirinya sendiri.

(36)

1. Apa yang dilakukan anak dapat

mengingatkan pengalamnnya dimasa lalu dan membuat suatu perasaan yang

menyakitkan buat orangtuanya. Dan

biasanya hubungan seperti ini suatu yang tidak disadari.

(37)

A. Kualitas interaksi perilaku

1. Orangtua melukai anaknya . Misalnya memukul, menendang , mengisolasi, menggigit dll.

2. Orangtua biasanya menyangkal

kebutuhan anak untuk bertahan hidup, misalnya kebutuhan untuk makan,

kesehatan.

3. Diagnosa juga bisa termasuk dalam verbal dan atau sexual abuse.

(38)

A. Pola Afektif

1. Kemarahan, hostilitas, dan iritabel didalam emosinya.

2. Terdapat ketegangan dan kecemasan antara orangtua dan anaknya dan sulit menikmati kesenangan.

A. Keterlibatan psikologis

1. Orangtua menunjukkan kemarahan terhadap anaknya .

(39)

1. Anak lebih banyak melakukan tindakan yang konkret dibandingkan berfantasi dan imajinasi

2. Interaksi terlihat sangat tertutup dan sangat renggang.

3. Pengalaman masa lalu atau representasi internal dlam hubungan orangtuanya di masa lalu di proyeksi ke anaknya.

(40)

A. Kualitas interaksi perilaku

1. Orangtua terlibat menggoda secara seksual atau perilaku stimulasi yang berlebihan kepada anaknya.

2. Anak mempunyai perilaku dorongan seksual seperti menunjukkan dirinya sendiri atau disentuh oleh orang lain.

3. Diagnosa ini bisa termasuk dalam verbal dan atau physical abuse

(41)

A. Pola Afektif

1. Keterbatasan dalam ikatan dan interaksi orangtua dan anak dapat berdampak

pada afek orangtua, yaitu bisa menjadi labil.

2. Anak dapat tampak cemas

3. Anak juga dapat tampak ketakutan, cemas dan agresi terselubung

(42)

A. Keterlibatan psikologis

1. Karakteristik orangtua tidak menunujukan respon yang empati kepada kebutuhan

anak, dan terpreokupasi terhadap narcissistic self gratification

2. Orangtua dapat saja mengalami

pemikiran yang terpecah akan pemilihan objek sex.

(43)

Referensi

Dokumen terkait

Bale Seni Barli Kota Baru Parahyangan sebagai destinasi wisata seni yang. bermuatan edukasi dan menyenangkan dengan mengembangkan

dalam konteks pemikiran bahwa, Muhammad adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa

bukti yang menunjukkan tanaman ini telah ditanam oleh masyarakat dalam ditanam oleh masyarakat dalam kerajaan ini adalah berdasarkan jumpaan sekam dan bijian padi di beberapa

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten merupakan salah satu instansi pemerintahan yang setiap saat mengadakan suatu kegiatan

This tutorial explains how to design a nice liquid expandable section with rounded corners (top-left, top-right, bottom-left, bottom-right) using some lines of

Pada saat tombol berfungsi sebagai New Art Maintains Appearance, jika objek yang Anda pilih memiliki style atau efek khusus, maka setelah Anda melepaskan objek yang terpilih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikatur yang terdapat dalam wacana rubrik Banyumasan di majalah Panjebar Semangat wujud implikatur konvensional yang meliputi

mekanisme corporate governance dan kualitas audit tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap integritas laporan