1
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, bisnis kuliner merupakan salah satu bisnis yang di gemari para usahawan. Bisnis di bidang kuliner termasuk bisnis dengan profit yang besar di era globalisasi. Selain itu gaya hidup masyarakat yang meningkat dengan kebiasaan untuk membeli makanan dengan tujuan lebih efisien serta sebagai sarana refreshing, untuk pertemuan dengan rekan bisnis, mengadakan acara spesial dengan keluarga, kerabat, pacar, maupun teman dan lain - lain. Selain hal tersebut kuliner atau makanan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup.
Karena kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia mempunyai kekayaan jenis dan rasa dalam bidang kulinernya. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang kuliner, dan ditambah dengan kekayaan rempah – rempah yang dimiliki Indonesia yang terkenal di seluruh dunia. Kekayaan rempah – rempah di Indonesia sudah terkenal dari ratusan tahun yang lalu dan di akui dunia dari jaman penjajahan Belanda. Karena itu, Indonesia mempunyai berbagai macam tempat kuliner, mulai dari skala menengah maupun skala besar.
Perkembangan jumlah pebisnis kuliner di Indonesia didukung oleh kemudahan membuka bisnis kuliner. Bisnis kuliner menjadi pilihan banyak orang dengan alasan jenis bisnis yang lebih mudah dilakukan daripada bisnis lainnya (Setyanti, 2012). Selain itu, membuka usaha kuliner banyak diminati masyarakat karena modal usaha yang tidak terlalu besar dan tidak mengharuskan berpendidikan tinggi. Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GPMMI) dalam Jawapos (2014), pemain bisnis kuliner di Indonesia didominasi oleh usaha kecil dan menengah (UKM) dimana 70% pemain bisnis kuliner adalah pengusaha skala kecil dan menengah.
2
Tabel 1. 1
Persentase Perusahaan/Usaha Restoran/Rumah Makan Berskala Menengah dan Besar Menurut Provinsi dan Tahun Mulai Beroperasi, Tahun 2015
PROVINSI TAHUN MULAI BEROPERASI/ YEAR OF OPERATING
COMMERCIALLY JUMLAH SEBELUM SETELAH PROVINCE 1991 1981 - 1990 1991 - 1998 1999 – 2009 2009 TOTAL BEFORE 1981 AFTER 2009 (.1.) (.2.) (.3.) (.4.) (.5.) (.6.) (.7.) 11 ACEH - 8,33 8,33 41,7 41,67 100,00 12 SUMATRA UTARA 8,70 4,35 30,43 47,83 8,70 100,00 13 SUMATRA BARAT 5,26 15,79 15,79 47,37 15,79 100,00 14 R I A U 1,59 4,76 12,70 55,56 25,40 100,00 15 J A M B I - 27,27 - 18,18 54,55 100,00 16 SUMATERA SELATAN 5,88 5,88 5,88 52,94 29,41 100,00 17 BENGKULU 11,11 11,11 22,22 33,33 22,22 100,00 18 LAMPUNG - 17,65 5,88 29,41 47,06 100,00
19 KEP. BANGKA BELITUNG - - 10,00 70,00 20,00 100,00
21 KEPULAUAN RIAU - 2,13 4,26 38,30 55,32 100,00 31 DKI JAKARTA 0,59 2,07 7,40 35,50 54,44 100,00 32 JAWA BARAT 5,03 5,66 15,72 46,54 27,04 100,00 33 JAWA TENGAH 10,81 6,76 13,51 37,84 31,08 100,00 34 D.I. YOGJAKARTA 2,63 7,89 10,53 39,47 39,47 100,00 35 JAWA TIMUR 1,95 4,55 9,09 46,75 37,66 100,00 36 B A N T E N - - 25,53 47,06 29,41 100,00 51 B A L I 2,50 5,00 14,38 43,13 35,00 100,00
52 NUSA TENGGARA BARAT 8,33 - 16,67 50,00 25,00 100,00
53 NUSA TENGGARA TIMUR - - - 45,45 54,55 100,00
61 KALIMANTAN BARAT - 9,09 4,55 59,09 27,27 100,00 62 KALIMANTAN TENGAH - - - 20,00 80,00 100,00 63 KALIMANTAN SELATAN - - 12,50 56,25 31,25 100,00 64 KALIMANTAN TIMUR - 15,63 3,13 50,00 31,25 100,00 65 KALIMANTAN UTARA - 20,00 - 60,00 20,00 100,00 71 SULAWESI UTARA - 9,09 9,09 54,55 27,27 100,00 72 SULAWESI TENGAH - 20,00 40,00 20,00 20,00 100,00 73 SULAWESI SELATAN 19,44 5,56 2,78 47,22 25,00 100,00 74 SULAWESI TENGGARA - - 11,11 33,33 55,56 100,00 75 GORONTALO - - - 16,67 83,33 100,00 76 SULAWESI BARAT 20,00 - - 40,00 40,00 100,00 81 MALUKU - - - 50,00 50,00 100,00 82 MALUKU UTARA - - 25,00 50,00 25,00 100,00 91 PAPUA BARAT - - - 100,00 - 100,00 94 P A P U A - - - 75,00 25,00 100,00 INDONESIA 3,02 5,01 10,55 42,85 38,57 100,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bandung 2015
3
meningkat dari tahun ke tahun. Dari sebelum tahun 1981 sampai setelah tahun 2009 atau lebih tepatnya sampai tahun 2015, rata-rata persentase usaha restoran/rumah makan yang mulai beroperasi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan yang sangat signifikan bisa dilihat dari perbedaan persentase rumah makan yang beroperasi di Indonesia tahun 1981-1990 sampai 1999-2009, dengan perbedaan persentase pertumbuhan sebesar 32,5%, dan akan terus meningkat seiring waktu jika dilihat dari persentase pertumbuhan yang ada. Data dari Bekraf juga menunjukkan bahwa Bandung merupakan kota dengan pertumbuhan Jumlah Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif dengan tingkat tertinggi di Indonesia.
Tabel 1. 2
Jumlah Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif menurut Wilayah dan Subsektor Ekraf Bidang Kuliner
Sumber: Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (2016)
Kota Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang terkenal dalam bidang kuliner, dilihat dari persentase pertumbuhan restoran skala besar dan kecil di Bandung yang ditunjukkan pada Tabel 1.3.
4
Tabel 1. 3
Persentase Pertumbuhan Restoran Skala Besar dan Kecil di Bandung 2010 – 2014
Tahun Pertumbuhan (%) 2010 9,22 % 2011 11,40% 2012 14,93 % 2013 15,37 % 2014 17,09 %
Sumber : Statistik BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Bandung (2014) Pertumbuhan juga dapat dilihat dari perkembangan bisnis kuliner yang semakin banyak bermunculan. Tempat-tempat kuliner yang baru dapat menjadi trendsetter untuk masyarakat yang sangat tertarik dengan inovasi-inovasi dari tempat makan yang ada, khususnya untuk kaum muda yang lebih bersifat konsumtif. Perkembangan bisnis kuliner di Bandung yang tergolong sangat cepat peningkatannya, ini juga dikarenakan karena persentase permintaan masyarakat yang bisa di katakan tidak pernah puas untuk mengunjungi tempat-tempat makan yang baru, mulai dari tempat yang menyajikan makanan dengan harga murah, mempunyai view yang menarik, tempat yang eksklusif serta terbatas, dan sebagainya.
Tabel 1. 4
Jumlah Restoran/Rumah Makan di Kota Bandung, 2016
Katagori Jumlah
Restaurant 396
Rumah Makan 372
Café 14
Bar 13
5
Jumlah tempat kuliner di Bandung tergolong banyak, hal ini menuntut para pengusaha kuliner untuk mengikuti perkembangan jaman dalam meningkatkan strategi pemasaran. Serta menuntut para pengusaha kuliner untuk jeli dalam menentukan segmen pasar mana yang dituju dalam membangun bisnis kuliner yang ditekuni, dan menuntut untuk memasarkan produk makanan yang akan dijual sesuai dengan permintan pasar yang ada di lingkungannya.
Rumah Makan Hidangan Nusantara adalah rumah makan khas Sumatera Barat atau Minangkabau yang terletak di dalam Perumahan Permata Buah Batu Ruko 06, kota Bandung. Rumah makan ini berdiri sejak tahun 2015, dan dikelola sendiri oleh pemilik. Berikut adalah logo dari Rumah Makan Hidangan Nusantara:
Gambar 1. 1
Logo Rumah Makan Hidangan Nusantara
Berikut adalah pengeluaran pada tahun 2018 pada Rumah Makan Hidangan Nusantara: 0 5 10 15 20 25 30 35
Januari Februari Maret April Mei Januari Februari
Pengeluaran dan Pendapatan Rumah Makan Hidangan Nusantara
Pengeluaran per Bulan (Juta Rupiah) Pendapatan per Bulan (Juta Rupiah)
Gambar 1. 2
6
Gambar 1.2 menunjukkan adanya instabilitas dari biaya pengeluaran Rumah Makan Hidangan Nusantara dikarenakan pendapatan yang menurun, di mulai dari bulan Maret. Kondisi rumah makan saat ini mengalami penurunan penjualan di karenakan kondisi persaingan di wilayah kota bandung semakin ketat. Belum ada strategi pemasaran yang diterapkan dalam menjalankan dan mengelola usaha, hanya mengandalkan pemasangan stiker nama rumah makan. Hal ini dianggap kurang efektif dalam memperluas brand awareness dari Rumah Makan Hidangan Nusantara.
Dari latar belakang masalah yang didapatkan, dilakukan perbandingan minat masyarakat Dayeuhkolot terhadap rumah makan padang yang ada di Dayeuhkolot. Dilakukan sampling dari rumah makan padang yang ada di berbagai daerah di Dayeuhkolot diantaranya Rumah Makan Sabana, Rumah Makan Hidangan Nusantara, Rumah Makan Padang Bundaran Telkom University, Rumah Makan Siang Malam, dan Rumah Makan Padang Sukapura, dengan jumlah 25 responden yang diambil dari daerah Sukapura, Sukabirus, Telkom University, Permata Buah Batu, dan Cikoneng. Berikut data yang didapatkan dapat dilihat pada tabel 1.6, dan formulir survey minat masyarakat dapat dilihat pada halaman lampiran A.
Tabel 1. 5
Data Sampling Perbandingan Minat Masyarakat Dayeuhkolot Terhadap Rumah Makan Padang di Dayeuhkolot
Lokasi Sampling
Sukapura Sukabirus Telkom University Permata Buah Batu Cikoneng Total Minat
Rumah Makan Pelanggan
Rumah Makan Sabana 0 3 2 0 0 5
Rumah Makan Hidangan
0 0 0 3 0 3
Nusantara
Rumah Makan Padang
0 1 2 0 0 3
Bundaran Telkom University
Rumah Makan Siang
Malam 2 1 1 2 5 11
Rumah Makan Padang
3 0 0 0 0 3
Sukapura
7
padang yang paling diminati di Dayeuhkolot. Selanjutnya dilakukan benchmark dari minat masyarakat Rumah Makan Siang Malam terhadap Rumah Makan Hidangan Nusantara. Berdasarkan hasil pengamatan melalui data sampling pada Tabel 1.6, didapatkan informasi perbandingan seberapa banyak masyarakat yang tertarik pada Rumah Makan Hidangan Nusantara dan Rumah Makan Siang Malam. Hasil data perbandingan dapat dilihat pada tabel dibawah.
Tabel 1. 6
Data Sampling Perbandingan Minat Masyarakat
Rumah Makan
Rumah Makan Hidangan Nusantara
Rumah Makan Siang Malam Lokasi Sampling
Sukapura 0 2
Sukabirus 0 3
Telkom University 1 3
Permata Buah Batu 3 0
Cikoneng 0 5
Total 4 13
Persentase 16% 52%
Tabel 1.6 menunjukkan masyarakat Dayeuhkolot lebih banyak yang berminat dengan Rumah Makan Siang Malam daripada Rumah Makan Hidangan Nusantara. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa Rumah Makan Siang Malam mempunyai tingkat ketertarikan masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan Rumah makan Hidangan Nusantara.
Berdasarkan hasil pengamatan, ada beberapa masalah yang ditemukan pada rumah makan yang dapat menghambat perluasan pemasaran seperti :
1. Lokasi
a. Lokasi tidak terlalu mendukung untuk konsumen diluar perumahan.
b. Tempat bisnis yang kurang strategis sehingga sulit mendapatkan pelanggan baru.
2. Produk
8
b. Cita rasa yang kurang dibandingkan kompetitor benchmark.
Perkembangan strategi pemasaran di era modern imerupakan tuntutan bagi para pengusaha untuk dapat memasarkan brand yang mereka tawarkan dengan baik, agar cakupan brand awareness yang diperoleh lebih luas. Karena itu dibutuhkan strategi pemasaran bahkan sebelum usaha dijalankan. Strategi pemasaran adalah pendekatan pokok yang akan digunakan oleh unit bisnis dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan lebih dulu, didalamnya tercantum keputusan-keputusan pokok mengenai target pasar, penempatan produk di pasar, bauran pemasaran dan tingkat biaya pemasaran yang diperlukan (Sunyoto,2015).
Dari beberapa masalah, data dan teori yang telah dilihat, dapat disimpulkan bahwa bisnis yang dijalani membutuhkan suatu strategi pemasaran yang dapat membantu memperluas brand awareness dari rumah makan secara efektif dan efisien dalam menghadapi persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat. Strategi yang diperoleh, diharapkan dapat meminimalisir kekurangan yang ada pada saat rumah makan belum menerapkan strategi pemasaran apapun, dan dapat membantu Rumah Makan Hidangan Nusantara untuk memperkenalkan rumah makannya lebih luas lagi.
1.2 Perumusan Masalah
Penelitian yang dilakukan mengangkat rumusan masalah berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya untuk menjadi penelitian tugas akhir ini adalah:
1. Faktor-faktor apa saja yang menjadi treath/opportunity dan weakness/strength pada Rumah Makan Hidangan Nusantara?
2. Bagaimana penilaian dengan metode analisis kuantitatif dengan alat analisis EFAS IFAS – TOWS?
3. Bagaimana perumusan strategi pemasaran Rumah Makan Hidangan Nusantara melalui output EFAS IFAS – TOWS?
1.3 Tujuan Penelitian
9
weakness/strength pada Rumah Makan Hidangan Nusantara.
2. Melakukan penilaian dengan metode analisis kuantitatif dengan alat analisis EFAS IFAS – TOWS.
3. Merumuskan usulan strategi pemasaran Rumah Makan Hidangan Nusantara melalui output EFAS IFAS – TOWS.
1.4 Batasan Penelitian
Adapun batasan masalah yang digunakan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Objek pada penelitian ini hanya dikhususkan pada Rumah Makan Hidangan Nusantara.
2. Analisis perancangan strategi pemasaran tidak jarang menemukan kendala dalam hal penyampaian.
3. Penelitian dilakukan di Kota Bandung dan pada bulan September hingga Desember 2017.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memudahkan pengusaha kuliner untuk mengontrol setiap informasi.
2. Mengimplementaasikan wawasan dan ilmu pengetahuan yang didapatkan selama masa perkuliahan.
3. Penulis mendapatkan wawasan baru mengenai matriks EFAS-IFAS dan analisis TOWS.
4. Sebagai bahan referensi penelitian untuk pengembangan stategi pemasaran bagi perusahaan yang bergerak di bidang sejenis.
1.6 Sistematika Penelitian
10
BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang apa yang melatarbelakangi penulis melakukan penelitian, rumusan masalah, tujuan dalam penelitian, batasan yang digunakan dalam penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori
Bab ini berisi teori-teori yang digunakan dalam penyelesaian masalah pada tugas akhir ini. Teori yang berkaitan dengan analisis kelayakan bisnis untuk menentukan apakah ide bisnis layak atau tidak.
BAB III Metodologi Penelitian
Bab ini berisi penjelasan langkah-langkah penelitian yaitu terdiri dari tahap merumuskan masalah, merumuskan teori yang digunakan, serta merumuskan model koseptual dan sistematika penyelesaian masalahan.
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data
Bab ini membahas mengenai data yang dikumpulkan selama penelitian yang nantinya akan digunakan dan diolah untuk menyelesaikan masalah ini.
BAB V Analisis
Bab ini membahas analisis terhadap hasil dari pengolahan data serta penggunaan perhitungan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun dari analisis ini akan membahas mengenai jumlah hasil perhitungan yang sesuai dengan perumusan masalah.
BAB VI Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan berdasarkan tujuan dari penelitian yang sesuai dengan hasil yang didapatkan pada penggolahan dan analisis data. Serta pemberian saran untuk perusahaan maupun penelitian kedepannya.