BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Respon Masyarakat
Respon adalah suatu reaksi baik positif maupun negatif yang diberikan oleh masyarakat (Poewadarminta, 1987: 1012). Respon akan timbul setelah seorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek dan dilaksanakan, kemudian menginterpretasikan objek yang dirasakan tadi. Berarti dalam hal ini respon pada dasarnya adalah proses pemahaman terhadap apa yang terjadi dilingkungan dengan manusia dan tingkah lakunya, merupakan hubungan timbal balik, saling terkait dan saling mempengaruhi.
Terdapat dua jenis yang mempengaruhi respon yaitu :
a. Variabel struktural, yaitu faktor yang terkandung dalam ransangan fisik.
b. Variabel fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri si pengamat misalnya kebutuhan suasana hati ,pengalaman masa lalu (Wirawan, 1991: 47).
Secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi respon seseorang, yaitu :
1. Diri orang yang bersangkutan yang melihat dan dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh sikap,motif,kepentingan dan harapannya.
2. Sasaran respon tersebut, berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap respon orang yang melihatnya. Dengan kata lain gerakan, suara, ukuran, tindak lanjut dan ciri - ciri lain dari sasaran respon turut menentukan cara pandang orang.
3. Faktor situasi, respon dapat dilihat secara kontekstual yang berarti dalam situasi mana respon itu timbul pula mendapatkan perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam pembentukan atau tanggapan seseorang (Wirawan, 1991: 35). Respon seseorang terhadap suatu objek juga dipengaruhi oleh sejauh mana pemahaman terhadap objek respon tersebut. Suatu objek respon yang belum jelas atau belum nampak sama sekali tidak mungin akan memberikan makna.
Seseorang dilihat respon positifnya melalui tahap kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Sebaliknya, seseorang tersebut dapat dilihat respon negatifnya bila informasi yang didengar atau perubahan suatu objek tidak mempengaruhi tindakannya, atau malah menghindari atau membenci objek tersebut. Respon ditegaskan oleh Daryl Beum sebagai tingkah laku balas atau sikap yang menjadi tingkah laku terwujud. Lebih lanjut respon merupakan proses pengorganisasian ransang, dimana ransang-ransang proksimal (Wirawan, 1991: 93). Artinya sejumlah ransangan yang terbentuk dalam alam pikiran manusia, diorganisasikan dan kemudian ditimbulkan melalui interpretasi dari objek yang menerima ransang tersebut.
Dollard dan Miller mengemukakan bahwa bahasa memegang peranan penting dalam pembentukan respon masyarakat. Respon respon tertentu terikat dengan kata-kata. Dan oleh karna itu ucapan dapat berfungsi sebagai mediator atau menentukan hierarki mana yang bekerja. Artinya sosialisasi yang mempergunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan merupakan media strategis dalam pembentukan respon masyarakat. Apakah respon tersebut terbentuk respon positif mauapun negatif, sangat tergantung pada sosialisasi dari objek yng akan direspon. Respon dalam penelitian ini akan diukur dalam tiga aspek, yaitu persepsi, sikap, dan partisipasi.
Persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik lewat penglihatan, pendengaran, perasaan dan
penerimaan. Persepsi merupakan suatu penapsiran yang unik terhadap situasi dan bukan terhadap suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Analisa tersebut menunjukkkan bahwa persepsi merupakan pemahaman individu atau masyarakat pada suatu objek yang masih berada dalam pikirannya.
Persepsi individu akan mempengaruhi sikap individu terhadap suatu program pembangunan. Dalam suatu program pembagunan terkandung ide-ide baru atau cara-cara baru yang disosialisasikan kedalam suatu masyarakat, dengan harapan dapat mengubah pola berpikir dan cara bertindak masyarakat yang terkena program. Perubahan tersebut terproses dan terwujud dalam perubahan sikap.
Sikap merupakan kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkahlaku tertentu kalau ia menghadapi ransang tertentu (Wirawan, 199: 20). Ransangan yang dimaksud dapat berupa ransangan yang berbentu batiniah seperti aktualisasi diri, dan dapat pula berbentuk fisik seperti halnya hasil - hasil dan usaha-usaha pembangunan. Perubahan sikap dapat menggambarkan bagaimana respon seseorang terhadap objek-objek tertentu, seperti perubahan lingkungan atas situasi lain. Sikap yang muncul dapat positif, yakni cenderung menyenangi, mendekati mengharapkan objek, atau muncul sikap negatif yakni menghindari, membenci suatu objek.
Partisipasi dalam bahasa Inggris, yaitu participation, yang artinya mengambil bagian. Partisipasi adalah suatu proses sikap mental dimana orang orang atau anggota masyarakat aktif menyumbang kreaatifitas dan inisiatifnya dalam usaha meningkaatkan kualitas hidupnya.
(Koentjradiningrat, 1980: 23), dalam bukunya menyatakan partisipasi masyarakat menyangkut dua tipe yang pada prinsipnya berbeda yaitu :
2. Partisipasi sebagai individu diluar aktivitas aktivitas bersama dalam pembangunan. Bentuk partisipasi pertama, masyarakat diajak dipersuasi, diperintah atau dipaksadalam suatu proyek khusus. Sedangkan dalam bentuk partisipasi yang kedua, adalah kemauan sendiri berdasarkan kesadaran bahwa jika ia ikut akan mempunyai manfaat.
Bila dilihat dari jenis partisipasi, ( Sastroputro, 1988: 12 ) membaginya sebagai berikut :
a. Partisipasi dengan pikiran. b. Partisipasi dengan tenaga.
c. Partisipasi dengan pikiran dan tenaga / partisipasi aktif. d. Partisipasi dengan keahlian.
e. Partisipasi dengan uang. f. Partisipasi dengan jasa jasa.
Secara umum dapat dilihat rumusan faktor yang mempengaruhi partisipasi
masyarakat yaitu : keadaan masyarakat, kegiatan program pembangunan dan keadaan alam sekitar.
Ditinjau dari segi motivasinya, partisipasi masyarakat terjadi karena beberapa alasan : a. Takut terpaksa
Dari segi motivasi yang pertama, partisipasi dilakukan dengan terpaksa karena takut. Biasanya akibat adanya perintah dari atasan sehingga masyarakat seakan - akan terpaksa untuk melaksanakan rencana yang ditentukan.
b. Ikut - ikutan
Motivasi partisipasi ikut - ikutan hanya didorong oleh rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame masyarakat sebagai perwujudan kebersamaan.
c. Kesadaran
Hal ini timbul dari kehendak pribadi anggota masyarakat, dilandai oleh keinginan hati nurani. Partisipasi bentuk inilah yang diharapkan dapat dikembangkan dalam masyarakat. Dengan adanya partisipasi yang didasarkan atas kesadaran usaha, Masyarakat dapat diajak untuk memelihara dan merasa memiliki objek pembangunan. Banyak kegagalan dalam program-program pembangunan hanya karena tidak merasa memiliki dan kewajiban untuk bersama-sama membangun dan memeliharanya ( Hudiniah, 2003: 34). Terkait dengan partisipasi, hal yang banyak mempengaruhi adalah luasnya pengetahuan masyarakat tentang suatu hal. Tingkat pengetahuan seseorang yang dimilikinya tentang suatu hal dapat menentuka suatu niat untuk melakukan kegiatan. Pengetahuan ini kemudian mempengaruhi sikap, niat, dan perilaku. Adanya pengetahuan terhadap manfaat suatu hal akan menyebakan seseorang mempunyai sikap yang positif terhadap hal tersebut. Sikap positif akan mempengaruhi niat untuk ikut serta dalam suatu kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut. Niat untuk ikut serta dalam suatu kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut. Adanya niat untuk melakukan suatu kegiatan akhirnya sangat menentukan apakah kegiatan itu benar benar dilakukan. Kegiatan yang sudah dilakukan inilah yang disebut sikap dan perilaku.
2.2. Jaminan Sosial
Jaminan sosial (social security) adalah sistem atau skema pemberian tunjangan yang menyangkut pemeliharaan penghasilan. Memang tidak ada konsep yang yang baku tentang bagaimana sistem jaminan sosial di suatu negara. Tetapi, secara umum seperti yang diusulkan oleh Bank Duni dan ILO, sistem jaminan sosial haruslah meliputi 3 lapis (tier) jaminan sosial yaitu :
a. Bantuan sosial (social assistance) yang berfungsi sebagai jaringan pengaman (safety net) untuk semua warga negara. Bantuan sosial murni berasal dari pengelolaan pendapatan negara atau penerimaan pajak, diatur oleh negara utamanya berbentuk skema bantuan penghasilan terutama untuk lapis masyarakat yang paling membutuhkan.
b. Asuransi sosial (social assurance) yang berasal dari kontribusi dari warga, dan dapat dikelola oleh swasta.
c. Jaminan sosial sukarela (voluntary), biasanya dalam bentuk tunjangan pensiunan yang diadakan oleh warga dengan insentif dari pemerintah ( Suharto, 2007: 5).
2.3. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) 2.3.1. Pengertian Jamkesmas
Jamkesmas adalah jaminan kesehatan masyarakat dan merupakan program bantuan sosial kepada masyarakat miskin dan kurang mampu di bidang pelayanan kesehatan. Adapun tujuan dan sasaran dari Jamkesmas adalah sebagai berikut:
a. Tujuan umum
b. Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.
c. Tujuan khusus
1. Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di rumah sakit.
2. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, dan 3. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.
Sasaran program adalah masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa, tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2008: 3).
2.3.2. Landasan Hukum
Program Jamkesmas dilaksanakan sebagai amanat Pasal 28 H ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945, yang menyatakan bahwa ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Selain itu berdasarkan Pasal 34 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 dinyatakan bahwa “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.”
Dasar hukum penyelenggaraan program Jamkesmas adalah: 1. Undang–Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 2. Undang–Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang APBN Tahun 2008. 3. Undang–Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 4. Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(www.dinkesbanggai.wordpress.com).
2.3.3. Tata Laksana Kepesertaan
Dalam menetapkan keanggotaan peserta Jamkesmas, ada beberapa ketentuan umum bagi calon peserta, antara lain:
1. Peserta Program Jamkesmas adalah setiap orang miskin dan tidak mampu selanjutnya disebut peserta Jamkesmas, yang terdaftar dan memiliki kartu dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan.
2. Jumlah sasaran peserta Program Jamkesmas tahun 2008 sebesar 19,1 juta Rumah Tangga Miskin (RTM) atau sekitar 76,4 juta jiwa bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 yang dijadikan dasar penetapan jumlah sasaran peserta secara nasional oleh Menteri Kesehatan RI (Menkes). Berdasarkan jumlah sasaran nasional tersebut Menkes membagi alokasi sasaran kuota kabupaten/kota. Jumlah sasaran peserta (kuota) masing-masing kabupaten/kota sebagai mana terlampir.
3. Berdasarkan kuota kabupaten/kota sebagaimana butir 2 diatas, bupati/walikota menetapkan peserta Jamkesmas kabupaten/kota dalam satuan jiwa berisi nomor, nama dan alamat peserta dalam bentuk keputusan bupati/walikota. Apabila jumlah peserta Jamkesmas yang ditetapkan bupati/walikota melebihi dari jumlah kuota yang telah ditentukan, maka menjadi tanggung jawab pemda setempat.
4. Bagi kabupaten/kota yang telah menetapkan peserta Jamkesmas lengkap dengan nama dan alamat peserta serta jumlah peserta Jamkesmas yang sesuai dengan kuota, segera dikirim daftar tersebut dalam bentuk dokumen elektronik (soft copy) dan dokumen cetak (hard copy) kepada :
a. PT Askes (Persero) setempat untuk segera diterbitkan dan di distribusikan kartu ke peserta, sebagai bahan analisis dan pelaporan;
b. Rumah sakit setempat untuk digunakan sebagai data peserta Jamkesmas yang dapat dilayani di rumah sakit, bahan pembinaan, monitoring dan evaluasi, pelaporan dan sekaligus sebagai bahan analisis.
c. Dinas kesehatan kabupaten/kota atau tim pengelola Jamkesmas kabupaten/ kota setempat sebagai bahan pembinaan, monitoring dan evaluasi, pelaporan dan bahan analisis.
d. Dinas kesehatan propinsi atau tim pengelola Jamkesmas propinsi setempat sebagai bahan kompilasi kepesertaan, pembinaan, monitoring, evaluasi analisis, pelaporan serta pengawasan.
e. Departemen Kesehatan RI, sebagai database kepesertaan nasional, bahan dasar verifikasi tim pengelola pusat, pembayaran klaim rumah sakit, pembinaan, monitoring, evaluasi, analisis, pelaporan serta pengawasan.
5. Bagi pemerintah kabupaten/kota yang telah menetapkan jumlah dan nama masyarakat miskin (no, nama, dan alamat), selama proses penerbitan distribusi kartu belum selesai, kartu peserta lama atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) masih berlaku sepanjang yang bersangkutan ada dalam daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh bupati/walikota.
6. Bagi pemerintah kabupaten/kota yang belum menetapkan jumlah, nama dan alamat masyarakat miskin secara lengkap diberikan waktu sampai dengan akhir Juni 2008. Sementara menunggu surat keputusan tersebut sampai dengan penerbitan dan pendistribusian kartu peserta, maka kartu peserta lama atau SKTM masih diberlakukan. Apabila sampai batas waktu tersebut pemerintah Kabupaten/Kota belum dapat menetapkan sasaran masyarakat miskinnya, maka terhitung 1 Juli 2008 pembiayaan pelayanan
kesehatan masyarakat miskin di wilayah tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat.
7. Pada tahun 2008 dilakukan penerbitan kartu peserta jamkesmas baru yang pencetakan blanko, entry data, penerbitan dan distribusi kartu sampai ke peserta menjadi tanggungjawab PT Askes (Persero).
8. Setelah peserta menerima kartu baru maka kartu lama yang diterbitkan sebelum tahun 2008, dinyatakan tidak berlaku lagi meskipun tidak dilakukan penarikan kartu dari peserta. 9. Bagi masyarakat miskin yang tidak mempunyai kartu identitas seperti gelandangan,
pengemis, anak terlantar, yang karena sesuatu hal tidak terdaftar dalam surat keputusan bupati/walikota, akan dikoordinasikan oleh PT Askes (Persero) dengan dinas sosial setempat untuk diberikan kartunya.
10. Bagi bayi yang terlahir dari keluarga peserta jamkesmas langsung menjadi peserta baru sebaliknya bagi peserta yang meninggal dunia langsung hilang hak kepesertaannya ( www.depkes.go.id).
2.3.4. Administrasi Kepesertaan
Administrasi kepesertaan meliputi: registrasi, penerbitan dan pendistribusian Kartu sampai ke Peserta sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Askes (Persero) dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Data peserta yang telah ditetapkan pemda, kemudian dilakukan entry oleh PT Askes (Persero) untuk menjadi database kepesertaan di kabupaten/kota.
2. Entry data setiap peserta meliputi antara lain : a. Nomor Kartu.
b. Nama Peserta. c. Jenis Kelamin.
d. Tempat dan Tanggal lahir/umur. e. Alamat.
3. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan didistribusikan sampai ke peserta.
4. PT Askes (Persero) menyerahkan kartu peserta kepada yang berhak, mengacu kepada penetapan bupati/walikota dengan tanda terima yang ditanda tangani/cap jempol peserta atau anggota keluarga peserta.
5. PT Askes (Persero) melaporkan hasil pendistribusian kartu peserta kepada bupati/walikota, gubernur, Departemen Kesehatan R.I, dinas kesehatan propinsi dan kabupaten/kota serta rumah sakit setempat (www.depkes.go.id).
Bagan 2.1
Alur Registrasi dan Distribusi Kartu Peserta
2.4. Tatalaksana Pelayanan Kesehatan Jamkesmas 2.4.1. Ketentuan Umum
Adapun yang menjadi ketentuan umum dalam tata laksana pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Setiap peserta Jamkesmas mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan rawat jalan (RJ) dan rawat inap (RI), serta pelayanan kesehatan SASARAN NASIONAL 76,4 JUTA JIWA SASARAN KUOTA KABUPATEN / KOTA DISTRIBUSI WAKTU PENETAPAN SK BUPATI/WALIKOT A BERDASARKAN KUOTA ENTRY DATA BASE KEPESERTAAN PESERTA SINKRONASI DATA BBPS KAB/ KOTA TERBIT
rujukan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), rawat inap tingkat lanjutan (RITL) dan pelayanan gawat darurat.
2. Pelayanan kesehatan dalam program ini menerapkan pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan.
3. Pelayanan rawat jalan tingkat pertama diberikan di puskesmas dan jaringannya. Pelayanan rawat jalan lanjutan diberikan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan rumah sakit.
4. Pelayanan rawat inap diberikan di puskesmas perawatan dan ruang rawat inap kelas III (tiga) di rumah sakit pemerintah termasuk rumah sakit khusus, rumah sakit TNI/POLRI dan rumah sakit swasta yang bekerjasama dengan departemen kesehatan. Departemen kesehatan melalui dinas kesehatan kabupaten/kota atas nama Menteri Kesehatan membuat perjanjian kerjasama (PKS) dengan rumah sakit setempat yang diketahui kepala dinas kesehatan propinsi meliputi berbagai aspek pengaturan.
5. Pada keadaan gawat darurat (emergency ) seluruh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) wajib memberikan pelayanan kepada peserta walaupun tidak memiliki perjanjian kerjasama sebagaimana dimaksud butir 4. Penggantian biaya pelayanan kesehatan diklaimkan ke departemen kesehatan melalui tim pengelola kabupaten/kota setempat setelah diverifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada program ini.
6. RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM melaksanakan pelayanan rujukan lintas wilayah dan biayanya dapat diklaimkan oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) yang bersangkutan ke departemen kesehatan.
7. Pelayanan obat di puskesmas beserta jaringannya dan di rumah sakit dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk memenuhi kebutuhan obat generik di puskesmas dan jaringannya akan dikirim langsung melalui pihak ketiga franko kabupaten/kota.
b. Untuk memenuhi kebutuhan obat dan bahan habis pakai di rumah sakit, Instalasi farmasi/apotik rumah sakit bertanggungjawab menyediakan semua obat dan bahan habis pakai untuk pelayanan kesehatan masyarakat miskin yang diperlukan. Agar terjadi efisiensi pelayanan obat dilakukan dengan mengacu kepada formularium obat pelayanan kesehatan program ini. (Sebagaimana terlampir).
c. Apabila terjadi kekurangan atau ketiadaan obat sebagaimana butir b diatas maka rumah sakit berkewajiban memenuhi obat tersebut melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
d. Pemberian obat untuk pasien RJTP dan RJTL diberikan selama 3 (tiga) hari kecuali untuk penyakit-penyakit kronis tertentu dapat diberikan lebih dari 3 (tiga) hari sesuai dengan kebutuhan medis.
e. Apabila terjadi peresepan obat diluar ketentuan sebagaimana butir b diatas maka pihak rumah sakit bertanggung jawab menanggung selisih harga tersebut.
f. Pemberian obat di rumah sakit menerapkan prinsip one day dose dispensing.
g. Instalasi farmasi/apotik rumah sakit dapat mengganti obat sebagaimana butir b diatas dengan obat-obatan yang jenis dan harganya sepadan dengan sepengetahuan dokter penulis resep.
8. Pelayanan kesehatan RJTL di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan di rumah sakit, serta pelayanan RI di rumah sakit yang mencakup tindakan, pelayanan obat, penunjang diagnostik, pelayanan darah serta pelayanan lainnya (kecuali pelayanan haemodialisa) dilakukan secara terpadu sehingga biaya pelayanan kesehatan diklaimkan dan
diperhitungkan menjadi satu kesatuan menurut jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas Tahun 2008 (lampiran III), atau penggunaan INA-DRG (apabila sudah diberlakukan), sehingga dokter berkewajiban melakukan penegakan diagnosa sebagai dasar pengajuan klaim.
9. Apabila dalam proses pelayanan terdapat kondisi yang memerlukan pelayanan khusus dengan diagnosa penyakit/prosedur yang belum tercantum dalam tarif paket INA-DRG sebagaimana butir 8, maka kepala balai/direktur rumah sakit memberi keputusan tertulis untuk sahnya penggunaan pelayanan tersebut setelah mendengarkan pertimbangan dan saran dari Komite Medik rumah sakit yang tarifnya sesuai dengan jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan peserta Jamkesmas Tahun 2008.
10. Pada kasus-kasus dengan diagnosa sederhana, dokter yang memeriksa harus mencantumkan nama jelas.
11. Pada kasus-kasus dengan diagnosa yang kompleks harus dicantumkan nama dokter yang memeriksa dengan diketahui oleh komite medik rumah sakit.
12. Untuk pemeriksaan/pelayanan dengan menggunakan alat canggih (CT Scan, MRI, dan lain-lain), dokter yang menangani harus mencantumkan namanya dengan jelas dan menandatangani lembar pemeriksaan/pelayanan kemudian diketahui oleh komite medik. 13. Pembayaran pelayanan kesehatan dalam masa transisi sebelum pola tarif paket
Jamkesmas tahun 2008.
14. Verifikasi pelayanan di puskesmas (RJTP, RITP, persalinan, dan pengiriman spesimen, trasnportasi dan lainnya) di laksanakan oleh tim pengelola Jamkesmas kabupaten/kota. 15. Verifikasi pelayanan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan rumah sakit
16. Peserta tidak boleh dikenakan iur biaya dengan alasan apapun (www.ebooklibs.com).
2.4.2. Prosedur Pelayanan.
Prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut:
1. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya.
2. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh bupati/walikota setempat. Penggunaan SKTM hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya (ketentuan kesepertaan, lihat pada bab III ).
3. Apabila peserta Jamkesmas memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus emergency.
4. Pelayanan rujukan sebagaimana butir ke-3 (tiga) diatas meliputi :
a. Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di rumah sakit, BKMM/ BBKPM /BKPM/BP4/BKIM.
b. Pelayanan Rawat Inap kelas III di rumah sakit. c. Pelayanan obat-obatan.
d. Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostik.
5. Untuk memperoleh pelayanan rawat jalan di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM. Dan rumah sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari
puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan Surat Keabsahan Peserta (SKP), dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan kesehatan.
6. Untuk memperoleh pelayanan rawat inap di BKMM/BBKPM/BKPM/ BP4/BKIM dan rumah sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan SKP dan peserta selanjutnya memperoleh pelayanan rawat nginap.
7. Pada kasus-kasus tertentu yang dilayani di IGD termasuk kasus gawat darurat di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan rumah sakit peserta harus menunjukkan kartu peserta atau SKTM dan surat rujukan dari Puskesmas di loket Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit (PPATRS). Kelengkapan berkas peserta diverifikasi kebenarannya oleh petugas PT Askes (Persero). Bila berkas sudah lengkap, petugas PT Askes (Persero) mengeluarkan surat keabsahan peserta. Bagi pasien yang tidak dirawat prosesnya sama dengan proses rawat jalan, sebaliknya bagi yang dinyatakan rawat inap prosesnya sama dengan proses rawat inap sebagaimana item 5 dan 6 diatas.
8. Bila peserta tidak dapat menunjukkan kartu peserta atau SKTM sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, maka yang bersangkutan di beri waktu maksimal 2 x 24 jam hari kerja untuk menunjukkan kartu tersebut. Pada kondisi tertentu dimana yang bersangkutan belum mampu menunjukkan identitas sebagaimana dimaksud diatas maka
direktur rumah saakit dapat menetapkan status miskin atau tidak miskin yang bersangkutan (Departemen Kesehatan RI, 2008: 13).
2.5. Pelayanan Kesehatan
2.5.1. Pengertian Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memudahkan perseorangan, kelompok dan ataupun masyarakat (Azwar, 1995: 1 ).
2.5.2. Komponen Pelayanan Kesehatan Dasar
Konsep pelayanan kesehatan dasar mencakup nilai-nilai dasar tertentu yang berlaku umum terhadap proses pengembangan secara menyeluruh, tetapi dengan penekanan penerapan di bidang kesehatan seperti berikut (Tjitarsa, 199: 5).
1. Kesehatan secara mendasar berhubungan dengan tersedianya dan penyebaran sumber daya, bukan hanya sumber daya kesehatan seperti dokter, perawat, klinik, obat, melainkan juga sumber daya sosial-ekonomi yang lain seperti pendidikan, air dan persediaan makanan.
2. Pelayanan kesehatan dasar dengan demikian memusatkan perhatian kepada adanya kepastian bahwa sumber daya kesehatan dan sumber daya sosial yang ada telah tersebar merata dengan lebih memperhatikan mereka yang paling membutuhkannya.
3. Kesehatan adalah satu bagian penting dari pembangunan secara menyeluruh. Faktor yang mempengaruhi kesehatan adalah faktor sosial, budaya, dan ekonomi di samping biologi dan lingkungan. dan
4. Pencapaian tarif kesehatan yang lebih baik memerlukan keterlibatan yang lebih baik dari penduduk, seperti perorangan, keluarga, dan masyarakat dalam pengambilan tindakan demi kegiatan mereka sendiri dengan cara menerapkan perilaku sehat dan mewujudkan lingkungan sehat.
2.5.3. Karakteristik Pelayanan Kesehatan
Menurut Evan (www.astaqauliyah.com) dibandingkan dengan kebutuhan hidup manusia yang lain, kebutuhan pelayanan kesehatan mempunyai tiga ciri utama yang terjadi sekaligus dan unik yaitu : uncertainty, asymmetry of information dan externality. Ketiga ciri utama tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan sangat unik dibandingkan dengan produk atas jasa lainnya.
1. Uncertainty
Uncertainty atau ketidakpastian menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelayanan kesehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat maupun besarnya biaya yang dibutuhkan. Dengan ketidakpastian ini sulit bagi seseorang untuk menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatannya. Penduduk yang penghasilannya rendah tidak mampu menyisihkan sebagian penghasilannya rendah tidak mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak diketahui datangnya, bahkan penduduk yang relatip berpendapatan memadai sekalipun seringkali tidak sanggup memenuhi kecukupan biaya yang dibutuhkan untuk memnuhi kebutuhan medisnya. Maka dalam hal ini seseorang yang tidak miskin dapat menjadi miskin atau bangkrut mana kala ia menderita sakit.
Sifat kedua asymmetry if Information menunjukkan bahwa konsumen pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah sedangkan proveder (dokter dan petugas kesehatan lainnya) mengetahui jauh lebih banyak tentang manfaar dan kualitas pelayanan yang dijualnya. Ciri ini juga ditemukan oleh para ahli ekonomi kesehatan lain seperti Feldstein, Jacos, Rappaport, dan Phelps. Dalam pelayanan kesehatan, misalnya kasus ekstrim pembedahan, pasien hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui apakah ia membutuhkan pelayanan tersebut atau tidak. Kondisi ini sering dikenal dengan consumen ignorance atau konsumen yang bodoh, jangankan ia mengetahui berapa harga dan berapa banyak yang diperlukan, mengetahui apakah ia memerlukan tindakan bedah saja tidak sanggup dilakukan meskipun pasien mungkin seorang professor sekalipun. 3. Externality
Externality menunjukkan bahwa konsumsi pelayanan kesehatan tidak saja mempengaruhi pembeli tetapi juga bukan pembeli. Contohnya adalah konsumsi rokok yang mempunyai resiko besar pada bukan perokok, akibat dari ciri ini, pelayanan kesehatan membutuhkan subsidi dalam berbagai bentuk, oleh karena pembiayaan pelayanan kesehatan tidak saja menjadi tanggung jawab diri sendiri, akan tetapi perlunya digalang tanggung jawab bersama (publik). Ciri unik tersebut juga dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi kesehatan seperti Feldstein.
2.5.4. Syarat-syarat pelayanan kesehatan
Agar pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan yang diinginkan, banyak syarat yakni yang harus dipenuhi. Syarat yang dimaksud paling tidak mencakup delapan hal pokok tersedia, wajar, berkesinambungan, dapat diterima, dapat dicapai, dapat dijangkau, efisien, serta bermutu (Azwar, 1995: 33-36).
1. Ketersediaan Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut tersedia di masyarakat.
2. Kewajaran Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut bersifat wajar, dalam arti dapat mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.
3. Kesinambungan Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut bersifat berkesinambungan, dalam arti tersedia setiap saat, baik menurut waktu atau kebutuhan pelayanan kesehatan. 4. Penerimaan Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut dapat diterima oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
5. Ketercapaian Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat dicapai oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan tersebut.
6. Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat dijangkau oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
7. Efesiensi Pelayanan Kesehatan
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan tersebut dapat diselenggarakan secara efisien.
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat menyembuhkan pasien serta tindakan yang dilakukan aman.
Secara umum dimensi kepuasan pasien bervariasi sekali. Suatu pelayanan kesehatan disebut sebagai pelayanan kesehatan yang bermutu apabila penerapan standard dan kode etik profesi dapat memuaskan pasien. Ukuran-ukuran pelayanan kesehatan yang mengacu pada standard an kode etik profesi yang pada dasarnya mencakup penilaian terhadap kepuasan pasien (Azwar, 1995: 34-33).
a. Hubungan Dokter-Pasien
b. Terbinanya hubungan dokter-pasien yang baik, adalah satu dari kewajiban etik. Untuk dapat terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, hubungan dokter-pasien yang baik ini harus dapat dipertahankan. Sangat diharapkan setiap dokter dapat dan bersedia memberikan perhatian yang cukup, menampung dan mendengarkan semua keluhan, serta menjawab dan memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang segala hal yang ingin diketahui oleh pasien.
c. Kenyamanan Pelayanan
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu, suasana pelayananyang nyaman harus dapat dipertahankan. Kenyamanan yang dimaksud disini tidak hanya yang menyangkut fasilitas yang disediakan, tetapi yang terpenting lagi yang menyangkut sikap serta tindakan para pelaksana ketika menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Suatu pelayanan kesehatan disebut bermutu apabila kebebasan memilih ini dapat diberikan, dan karena itu harus dapat dilaksanakan oleh setiap penyelenggara pelayanan kesehatan.
e. Pengetahuan dan Kompetensi Teknis
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang didukung oleh pengetahuan dan kompetensi teknis bukan saja merupakan bagian dari kewajiban etik, tetapi juga merupakan prinsip pokok penerapan standar pelayanan profesi. Secara umum disebutkan memakai tinggi tingkat pengetahuan dan kompetensi teknis tersebut maka makin tinggi pula mutu pelayanan kesehatan.
f. Efektifitas Pelayanan
Semakin efektif pelayanan kesehatan tersebut, maka makin tinggi pula mutu pelayanan kesehatan.
g. Keamanan Tindakan
Untuk dapat terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, aspek keamanan tindakan ini haruslah diperhatikan. Pelayanan kesehatan yang membahayakan pasien, bukanlah pelayanan kesehatan yang baik, dan karena itu tidak boleh dilakukan.
Adapun kriteria pelayanan yang memuaskan menurut DR. Wowoeutu Noveniawanata (http://one.indoskripsi.com) adalah :
1. Kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi. 2. Mampu memberikan pelayanan yang baik. 3. Tidak berbelit-belit.
4. Menyingkat waktu tunggu masyarakat. 5. Dapat menguntungkan semua pihak.
Mutu pelayanan hanya dapat diketahui apabila sebelumnya telah dilakukan penilaian, baik terdapat tingkat kesempurnaan, sifat, totalitas dari wujud serta ciri atau pun terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam kenyataannya melakukan penilaian ini tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan mutu pelayanan tersebut bersifat multi-demensional yang artinya setiap orang dapat saja melakukan penilaian yang berbeda-beda tergantung dari latar belakang dan kepentingan masing-masing orang (Azwar, 1995: 30).
2.6. Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan Jamkesmas
Adapun jenis-jenis pelayanan kesehatan yang tersedia di puskesmas, yaitu: 1. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), yang meliputi :
a. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis atau umum.
b. Rehabilitasi medik.
c. Penunjang diagnostik: laboratorium klinik, rafiologi dan elektromedik. d. Tindakan medis kecil atau sedang.
e. Pemeriksaan pengobatan gigi tingkat lanjutan.
f. Pemberian obat yang mengacu pada formalium rumah sakit. g. Pelayanan darah.
h. Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan sulit. 2. Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), yang meliputi :
a. Akomodasi rawat inap (bagi puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap). b. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan.
d. Tindakan medis.
e. Pelayanan rehabilitasi medis.
f. Pelayanan darah (Departemen Kesehatan RI, 2008: 5).
2.7. Kerangka Pemikiran
Kesehatan, menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Masyarakat miskin biasanya rentan terhadap penyakit dan mudah terjadi penularan penyakit karena berbagai kondisi seperti kurangnya kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. Derajat kesehatan yang rendah berpengaruh terhadap rendahnya produktifitas kerja yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan pemerintah. Kebersihan lingkungan dan perumahan yang saling berhimpitan, perilaku hidup bersih masyarakat yang belum membudaya, pengetahuan terhadap kesehatan dan pendidikan yang umumnya masih rendah. Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan.
Oleh karena itu, pemerintah telah mengambil kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin sejak 1 Januari 2005 program ini menjadi Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) yang popular dengan nama Askeskin yang kemudian pada tahun 2008 diubah namanya menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas. Apabila masyarakat terdaftar sebagai peserta Jamkesmas maka mereka berhak mendapatkan pelayanan kesehatan.
RSUD Doloksanggul merupakan sebuah organisasi yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna Jamkesmas yang memerlukan pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan RSUD Doloksanggul, akan memberikan respon tersendiri kepada pengguna Jamkesmas di Desa siti II. Untuk itulah peneliti ingin mengetahui bagaimana respon masyarakat Desa Sitio II Kecamatan Lintong nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Terhadap Pogram Jaminan Kesehatan Masyarakat oleh Rumah Sakit Umum Doloksanggul.
Bagan 2..7 Kerangka Pemikiran
2.8. Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional 2.8.1. Defenisi Konsep
Konsep merupakan suatu istilah atau defenisi yang digunakan oleh peneliti untuk menggambarkan secara abstrak suatu kejadian, keadan kelompok atau individu yang menjadi
RSUD Doloksangggul
a. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis atau umum
b. Rehabilitasi medik
c. Penunjang diagnostik: laboratorium klinik.
d. Tindakan medis kecil atau sedang e. Pemeriksaan pengobatan gigi tingkat
lanjutan
f. Pemberian obat yang mengacu pada Formalium rumah sakit
g. Pelayanan darah
h. Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan sulit
Respon Masyarakat Desa Sitio II a. Persepsi b.Sikap c. partisipasi
respon masyarakat Desa Sitio II Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan Terhadap Program Jaminan Kesehatan Masyarakat oleh RSUD Doloksanggul, oleh karena itu untuk menghindari kesalahpahaman dan dalam penelitian ini maka dirumuskan dan didefenisikan istilah yang digunakan secara mendasar agar tercipta suatu persamaan persepsi dan menghindari salah pengertian yang dapat menggaburkan penelitian.
Konsep penelitian ini adalah :
1. Respon masyarakat adalah suatu tingkah laku balas atau tindakan masyarakat yang merupakan perwujudan dari persepsi,sikap dan partisipasi masyarakat terhadap suatu objek yang dapat dilihat melalui proses pemahaman, penilaian, suka tidak suka serta partisipasi terhadap objek permasalahan.
2. Jamkesmas merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat dan merupakan salah satu program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin atau kurang mampu dan tidak mampu. Dan program bantuan sosial ini diselenggarakan oleh pemerintah melalui Departemen Kesehatan untuk menjamin hak masyarakat atas pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat undang-undang dasar 1945 pasal 28H dan Undang-Undang No.40 tahun 2004 tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional yang diselenggarakan secara nasional. 3. Pengguna atau peserta Jamkesmas adalah orang yang tergolong miskin dan kurang mampu
serta memiliki Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat.
4. Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan secara sendiri maupun kelompok dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
2.8.2. Defenisi Operasional
Defenisi operasional merupakan seperangkat petunjuk atau kriteria atau operasi yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan bagaimana mengamatinya dengan memiliki rujukan-rujukan empiris. Bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian di lapangan. Maka perlu operasionalisasinya dari konsep-konsep yang menggambarkan tentang apa yang harus diamati.
Untuk memberikan kemudahan dalam memahami variabel dalam penelitian ini, maka dapat diukur melalui indikator-indikator atas dasar respon masyarakat pengguna Jamkesmas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh RSUD Doloksanggul dalam program Jamkesmas kepada pasien rawat jalan dan rawat inap, meliputi :
1. Persepsi penerima program terhadap program Jamkesmas meliputi pengetahuan tentang apa, bagaimana dan tujuan program.
2. Sikap penerima program terhadap program Jamkesmas meliputi penilaian, penolakan atau penerimaan serta suka atau tidak suka terhadap program.
3. Partisipasi penerima program mengenai keterlibatan dan keaktifan dalam pelaksanaan program.
Operasional mengenai Jamkesmas yang akan diukur berhubungan dengan pelayanan dokter atau petugas kesehatan, tingkat kepuasan terhadap pelayanan kesehatan, pengetahuan masyarakat mengenai Jamkesmas, prosedur administrasi dan intensitas pemakaian kartu Jamkesmas di RSUD Dolok Sanggul.