6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Bank
2.1.1. Pengertian Bank
Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkannya. Di samping itu, bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukar uang, memindahkan uang atau menerima segala macam bentuk pembayaran dan setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah, dan pembayaran lainnya.
Menurut Kasmir (2013:24), “bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuanagan”. Sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuanagan.
Sedangkan Menurut Maryanto (2011: 1), “Bank adalah salah satu lembaga keuangan yang beroperasi tidak ubahnya sama seperti perusahaan lainnya, yaitu tujuan mencari keuntungan”.
2.1.2. Jenis Bank
Perbedaan jenis perbankan dapat dilihat dari segi fungsi bank, serta kepemilikan bank. Dari segi fungsi perbedaan yang terjadi terletak pada luasnya kegiatan atau jumlah produk yang dapat ditawarkan maupun jangkauan wilayah operasinya. Sedangkan kepemilikan perusahaan dilihat dari segi pemilikan saham yang ada serta akte pendiriannya.
Perbedaan lainnya adalah dilihat dari segi siapa nasabah yang mereka layani apakah masyarakat luas atau masyarakat dalam lokasi tertentu (kecamatan), Jenis perbankan juga dibagi ke dalam caranya menentukan harga jual dan harga beli.
Menurut Kasmir (2013:32-36) Adapun Jenis perbankan dewasa ini dapat ditinjau dari berbagai segi antara lain:
1. Dilihat dari Segi Fungsinya
Jenis perbankan menurut fungsinya terdiri dari: a. Bank Umum b. Bank Pembangunan c. Bank Tabungan d. Bank Pasar e. Bank Desa f. Lumbung Desa g. Bank Pegawai h. Dan bank lainnya
Namun setelah keluar UU Pokok Perbedaan Nomor 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 maka jenis perbankan terdiri dari :
a. Bank Umum
b. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 2. Dilihat dari Segi Kepemilikannya
Ditinjau dari segi kepemilikan maksudnya adalah siapa saja yang memiliki bank tersebut, Kepemilikan ini dapat dilihat dari akte pendirian dan penguasaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan.
Jenis bank dilihat dari segi kepemilikan tersebut adalah sebagai berikut: a. Bank milik pemerintah
Di mana baik akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah pula.
Contoh bank milik pemerintah antara lain: Bank Negara Indonesia (BNI) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Bank Tabungan Negara (BTN)
Sedangkan bank milik pemerintah daerah (pemda) terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Sebagai contoh:
BPD DKI Jakarta
BPD Jawa Tengah BPD Jawa Timur BPD Sumatera Utara BPD Sumatera Selatan BPD Sulawesi Selatan Dan BPD lainnya b. Bank milik swasta nasional
Bank jenis ini seluruh atau sebagian besarnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta pula.
Contoh bank milik swasta nasional antara lain: Bank Muamalat
Bank Central Asia Bank Bumi Putra Bank Danamon Bank Duta Bank Lippo
Bank Nusa Internasional Bank Niaga
Bank Universal
Bank Internasional Indonesia
c. Bank milik koperasi
Kepemilikan saham-saham bank ini dimiliki oleh perusahaan yang berbadan 5okum koperasi. Sebagai contoh adalah:
Bank Umum Koperasi Indonesia
d. Bank milik asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Jelas kepemilikannya pun dimiliki oleh pihak luar negeri.
Contoh bank asing antara lain: ABN AMRO bank Deutsche Bank
American Express Bank Bank of America
Bank of Tokyo Bankok Bank City Bank
European Asian Bank Hongkong Bank
Standard Chartered Bank Chase Manhattan Bank
e. Bank milik campuran
Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pehak asing dan pihak swasta nasional. Kepemlikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga negara Indonesia. Contoh bank Campuran antara lain:
Sumitomo Niaga Bank Bank Merincorp Bank Sakura Swadarma Bank Finconesia
Mitsubishi Buana Bank Inter Pasific Bank Paribas BBD Indonesia Ing Bank
Sanwa Indonesia Bank Bank PDFCI
3. Dilihat dari segi status
Pada jenis bank ini dilihat dari kemampuannya dalam melayani masyarakat. Status dan kedudukan bank di ukur dari kemampuannya melayani masyarakat yang terdiri dari jumlah produk yang ditawarkan, modal, serta kualitas pelayanannya. Dilihat statusnya terdiri dari:
a. Bank Devisa
Bank devisa merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing, misalnya
transfer keluar negeri, inkaso keluar negeri, travelers cheque, pembukaan dan pembayaran Letter of Credit dan transaksi lainnya. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Beberapa bank devisa antara lain : Bank Bali
Bank Central Asia Bank Danamon
Bank Internasional Indonesia Bank Lippo
b. Bank non Devisa
Bank non devisa merupakan bank yang belum memiliki izin untuk melaksanakan transaksi keluar negeri seperti yang telah dilakukan oleh bank devisa. Dengan demikian kegiatan yang dilakukan oleh bank ini meliputi transaksi dalam negeri.
Beberapa bank non devisa antara lain: Bank Niaga
Bank NISP
Bank Nusantara Parahayan 4. Dilihat dari segi cara menentukan harga
Jenis bank dilihat dari cara menetapkan harga baik harga beli maupun harga jual dapat dibagi dua, yaitu:
a. Bank Konvensional
Sebagian terbesar bank yang berkembang di Indonesia melaksanakan prinsip perbankan konvensional yang menggunakan dua metode, yaitu:
Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan, deposito berjangka, maupun produk pinjaman (kredit) yang diberikan berdasarkan tingkat harga tertentu.
Untuk jasa-jasa bank lainnya, pihak bank menggunakan atau menerapkan berbagai biaya dalam nominal atau prosentase tertentu. Sistem penetapan biaya ini disebut fee based.
b. Bank Syariah
Bank Syariah (bank bagi hasil) merupakan bank yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah islam. Dalam operasinya, baik dalam penghimpunan dana dari masyarakat maupun dalam penyaluran dana kepada masyarakat bank syariah menetapkan harga produk yang ditawarkan berdasarkan prinsip jual beli dan bagi hasil.
2.1.3. Fungsi Bank
Menurut Maryanto (2011: 3) “Salah satu fungsi bank adalah menyalurkan kredit baik kepada perorangan maupun badan usaha. Pemerintah sangat mendorong, mendukung, dan membantu kepada sektor UKM (Usaha Kecil Menengah atau istilah asing SME “Small Medium Enterprise”), agar UKM menjadi penopang tatanan perekonomian Indonesia”. Artinya pemerintah menginginkan agar perekonomian
Indonesia berkembang terutama melalui sektor UKM. Jangan sampai perusahaan korporat yang lebih diperhatikan.
2.1.4. Produk dan Jasa Bank
Menurut Imam (2010:88) “Produk adalah setiap apa saja yang dapat ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan manusia”. Contoh produk adalah: buku, tabungan, deposito, kredit, dan lain-lain.
Menurut Imam (2010:88) “Jasa adalah setiap kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lainnya, yang pada dasarnya tak berwujud dan tidak mengakibatkan seseorang memiliki sesuatu”. Produksinya dapat atau tidak dapat terkait pada produk fisik. Contoh jasa adalah: jasa jahit penjahit, jasa pangkas rambut tukang potong rambut, jasa transfer uang antar bank di bank, dan lain-lain.
Menurut Imam (2010:90) “Produk dan jasa bank dibedakan menjadi 2, yaitu produk dan jasa yang berhubungan dengan penyerapan dana masyarakat (funding) dan produk dan jasa yang bersifat penyaluran dana ke masyarakat yaitu kredit dan/atau pembiayaan”. Dengan semakin berkembang pula jenis dan ragam produk dan jasa perbankan. Hal ini dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang semakin bank minded.
2.1.4.1. Produk Bank
Menurut Imam (2010:90-94) Produk-produk simpanan perbankan (Bank Funding) yaitu:
1. Giro (Demand Deposito)
Rekening Giro atau lazim disebut rekening Koran adalah produk perbankan dengan kemanfaatan sebagai penampung dana dan sekaligus pencatatan aliran dana masuk dan keluar. Media untuk mentransaksikan rekening giro adalah bilyet giro dan cek. Perbedaan bilyet giro dengan cek adalah pada sifat pengambilan dananya. Bilyet giro tidak bisa diambil tunai, melainkan hanya bisa dipindah bukukan (overbooking). Sementara itu apabila nasabah ingin mengambil uang tunai dari rekening giro haruslah menggunakan cek. Baik bilyet giro maupun cek merupakan media pembayaran yang sah (uang giral) sehingga bisa menggantikan fungsi uang tunai (uang kartal).
2. Tabungan (Saving Deposit)
Tabungan adalah produk bank yang dimaksudkan sebagai rekening penampung kelebihan dana nasabah setelah digunakan untuk konsumsi atau untuk operasional usaha. Media pengambilan dana tabungan adalah slip pengambilan dengan bentuk seperti cek dengan ukuran yang lebih kecil. Redaksi tercetak dalam slip pengambilan tabungan hamper sama dengan redakasi cek, yang pada intinya adalah memerintahkan bank untuk membayar tunai sebesar tertulis dalam slip pengambilan kepada si pembawa slip. Saat ini rekening tabungan juga bisa diakses dengan mesin ATM sehingga tabungan juga menjadi agak likuid dan fleksibel karena rekening tabungan tersebut ibaratnya tak pernah tidur.
3. Deposito (Time Deposit)
Deposito adalah produk bank yang ditujukan untuk menampung kelebihan dana masyarakat untuk suatu jangka waktu tertentu. Sebelum jangka waktu yang disepakati itu (jatuh tempo) deposito tidak bisa dicairkan kecuali dengan suatu pinalti. Satuan jangka waktu terkecil dalam depositu adalah 1 bulan. Kemudian berturut- turut 3 bulan, 6, 12, dan 24 bulan. Dalam masa diamana perubahan sering terjadi dan dalam kecepatan yang tinggi, jangka waktu deposito yang terlalu lama tidak diminati. Tanda bukti bahwa nasabah mempunyai sejumlah uang dalam bank dalam bentuk deposito adalah sebuah warkat bank yang lazim disebut bilyet deposito.
Menurut Imam (2010:95-98) Produk-produk Pinjaman Perbankan (Bank Landing) yaitu :
1. Kredit Usaha
Kredit Usaha adalah kredit yang digunakan untuk membiayai perputaran usaha atau bisnis sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang produktif, seperti usaha perdagangan, usaha industri rumah tangga, usaha jasa konsultasi, dan lainlain. Bila Anda memiliki usaha yang prospeknya kelihatan cukup cerah, Anda bisa datang kepada bank dan mengajukan permohonan untuk bisa mendapatkan pinjaman dana untuk usaha Anda.
2. Kredit Konsumsi
Kredit Konsumsi adalah kredit yang digunakan untuk membeli sesuatu yang sifatnya konsumtif, seperti membeli rumah atau kendaraan pribadi. Dua kredit konsumsi yang biasanya cukup laris adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan. Tentunya, karena uang itu oleh nasabah akan digunakan untuk
tujuan konsumtif, maka risiko bagi bank bahwa nasabahnya tidak mampu membayar pinjamannya akan menjadi lebih besar sehingga pada umumnya suku bunga yang dibebankan kepada nasabah untuk Kredit Konsumsi akan lebih besar ketimbang bunga kredit untuk tujuan usaha.
3. Kredit Serba Guna
Kredit Serba Guna adalah kredit yang bisa digunakan untuk tujuan apa saja, bisa untuk konsumsi maupun untuk memulai usaha baru seperti percetakan, bisnis Penerjemah Tersumpah dan dagang. Nah, salah satu produk kredit serba guna yang sering dipasarkan adalah Kredit Tanpa Agunan.
2.1.4.2. Jasa Perbankan
Jasa bank adalah semua aktivitas bank, baik yang secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitam dengan tugas dan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi, yaitu lembaga yang memperlancar terjadinya transaksi perdagangan, sebagai lembaga yang memperlancar peredaran uang serta sebagai lembaga yang memberikan jaminan kepada nasabahnya. Yang termasuk jasa-jasa perbankan adalah :
1. L/C (Letter of Credit)
Surat kredit berdokumen adalah janji tertulis yang diterbitkan oleh issuing bank atas dasar permohonan tertulis applicant atau dirinya sendiri kepada beneficiary untuk membayar atau mengaksep draft, mengizinkan bank lain untuk membayar atau mengaksep atau mengambil alih draft, apabila dokumen yang diserahkan oleh
beneficiary sesuai dengan syarat dan kondisi janji tertulis yang diterbitkan oleh
issuing bank (letter of kredit). 2. Bank Garansi
Bank Garansi adalah jaminan dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank kepada nasabah, yang mengakibatkan bank akan membayar kepada pihak yang menerima jaminan apabila pihak yang dijamin (dalam hal ini adalah nasabah yang bersangkutan) cidera janji (wan prestasi).
3. Inkaso
Inkaso adalah pemberian kuasa pada bank oleh nasabah (baik perusahaan maupun perorangan) untuk melakukan penagihan terhadap surat-surat berharga (baik yang berdokumen maupun yang tidak berdokumen) yang harus dibayar setelah pihak yang bersangkutan (pembayar atau tertarik) berada ditempat lain (dalam atau luar negeri) menyetujui pembayarannya.
4. Kliring
Kliring adalah perhitungan utang piutang antara para peserta kliring secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-surat berharga dan suat-surat dagang yang telah ditetapkan untuk dapat diperhitungkan (clearing).
5. Transfer
Transfer adalah kiriman uang yang diterima bank termasuk hasil inkaso yang ditagih melalui bank tersebut yang akan diteruskan kepada bank lain untuk dibayarkan kepada nasabah (transfer).
6. Safe Deposit Box
Safe Deposit Box adalah fasilitas pengaman barang berharga dalam bentuk kotak yang disediakan oleh suatu bank untuk kepentingan nasabahnya; kotak tersebut hanya dapat dibuka oleh bank dan nasabah secara bersama-sama.
7. Rupiah Traveller’s Check
Traveller’s Check adalah kertas berharga dalam mata uang yang dikeluarkan oleh suatu bank, dimana bank tersebut akan membayarkan sejumlah uang yang tertera didalamnya kepada orang yang tanda tangannya tertera pada Traveller’s Check tersebut. Karena Traveller’s Check sangat mudah dibawa kemana-mana, pemilik uang tidak perlu membawa uang tunai dalam perjalanan. Untuk menguangkannya pemili Traveller’s Check harus dapat menunjukkan KTP; SIM, dan atau Paspornya. Dengan demikian keamanannyapun terjamin. Traveller’s Check ini biasanya dipergunakan oleh para pelancong.
2.2. Simpanan Giro
2.2.1. Pengertian Simpanan Giro
Menurut Ismail (2010:28) “Simpanan giro merupakan simpanan yang berasal dari masyarakat atau dana pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan sarana penarikan berupa cek dan bilyet giro atau sarana lainnya”.
Simpanan Giro lebih dikenal dengan nama giro dapat ditawarkan kepada seluruh masyarakat baik perorangan maupun badan usaha sesuai dengan persyaratan pembukaan rekening giro. Giro sangat bermanfaat bagi masyarakat yang melakukan
aktivitas usaha, karena pemegang rekening giro akan banyak mendapat kemudahan dalam melakukan transaksi usahanya. Memiliki rekening giro di bank pada dasarnya sama dengan memiliki uang tunai, karena fungsi rekening giro sama dengan memiliki uang tunai. Pemilik rekening giro dapat dengan mudah melakukan transaksi bisnisnya dengan melakukan pembayaran dengan cek atau bilyet giro.
2.2.2. Setoran Giro
Menurut Ismail (2010:31) “Setoran merupakan aktivitas yang dilakukan oleh pemegang rekening giro untuk mneyetorkan sejumlah uang tunai atau warkat tagihan dengan maksud untuk menambah jumlah saldo rekening gironya”. Setoran dapat dilakukan dengan setoran secara tunai dan setoran nontunai (kliring dan pemindahbukuan).
2.2.2.1. Setoran Tunai
Menurut Ismail (2010:31) “Setoran tunai, yaitu setoran yang dilakukan dengan menyerahkan sejumlah uang kepada bank dan/atau dengan menggunakan cek yang diterbitkan oleh bank itu sendiri”. Nasabah menyetorkan uang tunai sejumlah tertentu kepada bank untuk menambah saldo rekening gironya.
2.2.2.2. Setoran Non-Tunai
Menurut Ismail (2010:32) “Setoran nontunai merupakan setoran yang tidak dilakukan secara tunai kepada bank”. Setoran nontunai bisa berasal dari transaksi
a. Pemindahbukuan antarrekening dalam cabang bang yang sama.
Pemilik rekening giro menerima setoran dari pemindahan dana dari rekening lain pada cabang bank yang sama. Rekening lain tersebut bisa berasal dari rekening lain, maka setoran tersebut akan menambah jumlah saldo rekening giro nasabah. b. Pemindahbukuan dari bank yang sama tetapi berasal dari cabang lain.
Pemegang rekening giro mendapat kiriman dana dari cabang lain. Kiriman dana tersebut melibatkan dua cabang, maka pencatatan yang dilakukan adalah terkait dengan Akun Rekening Antar Kantor (RAK) masing-masing cabang. Akun Rekening Antar Kantor digunakan untuk mencatat transaksi antarbank yang sama tapi pada kantor cabang yang berbeda.
c. Penerimaan transfer/kiriman uang dari bank lain
Bank menerima kiriman uang dari bank lain yang masih dalam wilayah kliring yang sama. Kiriman uang (transfer-in) ini untuk keuntungan pemegang rekening giro. Dalam hal adanya transfer-in yang berasal dari bank lain, maka transaksi kiriman uang atau transfer-in ini dilakukan melalui mekanisme kliring, sehingga melibatkan rekening Giro pada Bank Indonesia. Setiap transaksi antarbank, maka transaksi tersebut (utang piutang warkat) dilakukan melalui Bank Indonesia, sehingga akan berpengaruh pada saldo giro bank yang terdapat di Bank Indonesia. Akun yang digunakan untuk transaksi antarbank adalah giro pada Bank Indonesia. d. Setoran kliring oleh pemegang rekening giro
Nasabah meneyetorkan cek atau bilyet giro yang diterbitkan oleh bank lain. Setiap transaksi yang melibatkan bank lain baik dalam wilayah kliring maupun diluar
wilayah kliring, maka pencatatan melalui Akun “Giro pada Bank Indonesia”. Hal ini karena setiap ada transaksi dengan bank lain, maka terdapat perubahan saldo rekening bank di Bnak Indonesia. Perubahan tersebut berpengaruh pada perubahan saldo pada akun Giro pada Bank lain. Tagihan warkat antar bank hanya dapat dilakukan melalui lembaga kliring/Bank Indonesia.
2.2.3. Penarikan
Menurut Ismail (2010:37) “Penarikan merupakan transaksi penarikan atau pengambilan atas beban rekening giro”. Dari transaksi penarikan, maka saldo rekening giro nasabah akan berkurang. Penarikan dibagi menjadi dua, yaitu penarikan tunai dan penarikan nontunai.
2.2.3.1. Penarikan Tunai
Penarikan tunai rekening giro dapat dilakukan dengan menggunakan cek. Penarikan rekening giro dengan menggunakan cek, artinya penarikan dana secara tunai, karena cek juga berfungsi sebagai alat pembayaran. Ismail (2010: 38), “Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan di dalamnya atau kepada pemegang cek tersebut”.
Dalam hal pemegang rekening giro ingin mencairkan dananya, maka dia dapat menggunakan cek dan meneyerahkan cek tersebut kepada bank penerbit, yaitu bank yang menerbitkan cek. Penarikan cek yang dilakukan di bank penerbit adalah
House Cheque. Dalam hal cek ditarik melalui bank yang menerbitkan cek, maka bank harus membayarnya selama dananya tersedia, dan bank dapat menolak pencairan cek tersebut dalam hal saldo dananya lebih rendah dibanding jumlah penarikan sesuai jumlah nominal yang tertera dalam cek.
.2.3.2. Penarikan Nontunai
Menurut Ismail (2010,39) “Penarikan nontunai merupakan penarikan yang dilakukan dengan menyerahkan bilyet giro, bukti transfer, dan penarikan kliring. Penarikan nontunai tidak berpengaruh pada pengurangan kas di bank, akan tetapi hanya akan mempengaruhi penurunan saldo pemilik rekening giro”.
a. Penarikan Kliring
Penarikan kliring terjadi dalam penarikan cek dan/atau bilyet giro dilakukan di bank lain, bukan bank penerbit cek atau bank tertarik. Pada nasabah menarik cek dan/ BG tidak kepada bank penerbit, tetapi malalui bank lain, maka penagihannya delakukan melalui lembaga kliring (Bank Indonesia).
Penarikan cek atau bilyet giro yang dilakukan melalui bank lain akan berpengaruh pada akun giro pada Bank Indonesia.
b. Pemindahbukuan
Penarikan nontunai dapat dilakukan dengan cara pemindahbukuan dan/transfer ke bank lain. Pemindahbukuan merupakan transaksi nontunai yang dilakukan oleh nasabah untuk keuntungan nasabah lain yang memounyai rekening di bank yang sama.
Pemindahbukuan dari Rek. Giro ke Rek. Tabungan pada bank yang sama. Pemindahan dana ini merupakan penarikan dana dari rekening giro dengan menggunakan cek atau bilyet giro,kemudian dipindahkan (dikreditkan) ke rekening tabungan. Atas transaksi ini maka Giro nasabah akan berkurang dan Tabungan akan bertambah.