i
LKIP Kabupaten Bandung 2016
KATA
PENGANTAR
uji dan Syukur kami panjatkan ke-Khadirat Allah SWT, karena atas Ridho dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kabupaten Bandung Tahun 2016, sesuai waktu yang telah ditetapkan.Penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) ini dilakukan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban dan pertanggungjawaban Pemerintah Kabupaten Bandung atas pelaksanaan tugas, tanggungjawab, dan kewenangan yang dimiliki, khususnya kewenangan pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya dalam proses perwujudan Visi dan Misi organisasi selama kurun waktu satu tahun anggaran. Kewajiban penyusunan LKIP bagi setiap instansi pemerintah, ini didasarkan pada Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
LKIP ini menyajikan informasi tentang ukuran sejauh mana keberhasilan ataupun kekurangan dalam pencapaian target kinerja pemerintah yang telah dilaksanakan selama lima tahun dalam kerangka perwujudan tujuan RPJMD. LKIP merupakan potret nilai prestasi hasil kerja pemerintah, sehingga merupakan informasi penting yang wajib disampaikan kepada seluruh stakeholder dan masyarakat, serta khususnya bagi segenap aparatur penyelenggara Pemerintah Kabupaten Bandung, yang merupakan satu kesatuan penting dalam proses pelaksanaan pembangunan.
Kami sangat menyadari, bahwa dalam laporan ini masih terdapat berbagai hal yang masih memerlukan penyempurnaan baik menyangkut pada aspek penulisan,
ii
LKIP Kabupaten Bandung 2016
data dan materi laporan, yang disebabkan berbagai kendala-kendala baik internal maupun eksternal, sehingga kami membuka diri untuk menerima informasi-infomasi berupa saran dan masukan, koreksi bahkan kritik sebagai bahan evaluasi dan perbaikan terhadap kinerja penyelenggaraan pemerintahan secara menyeluruh.
Akhirul kata, semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-NYA, serta kekuatan kepada kita semua dalam mengemban amanah untuk meningkatkan kualitas pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan dalam mewujudkan Visi Kabupaten Bandung, yaitu memantapkan Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri, dan Berdaya Saing melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, dan Pemantapan Pembangunan Perdesaan, berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan. Amiin
Soreang, Maret 2017 BUPATI BANDUNG
H. DADANG M. NASER, SH.,S.IP. M.IP
Halaman | vi
LKIP Kabupaten Bandung 2016
IKHTISAR
EKSEKUTIF
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kabupaten Bandung Tahun 2016 merupakan laporan realisasi hasil penyelenggaraan pemerintahan tahun ke 1 (satu) dari 5 (lima) tahun perencanaan RPJMD Kabupaten Bandung. RPJMD merupakan landasan utama yang mengarahkan seluruh gerak penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Bandung, pada arah Visi dan Misi Kabupaten Bandung. Pada tahun 2016 RPJMD Kabupaten Bandung ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 dengan Visi “Memantapkan Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing, melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Sinergi Pembangunan Perdesaan, Berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan”. Dalam rangka pencapaian visi yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi dan permasalahan yang ada, tantangan ke depan, serta memperhitungkan peluang yang dimiliki, Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan 9 (sembilan) Misi Pembangunan sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas dan cakupan layanan pendidikan; 2. Mengoptimalkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan;l
3. Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang terpadu tata ruang wilayah; dengan memperhatikan aspek kebencanaan;
4. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat;
5. Menciptakan Pembangunan Ekonomi yang memiliki keunggulan kompetitif; 6. Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Hidup;
7. Meningkatkan Kemandirian Desa; 8. Meningkatkan reformasi birokrasi;
9. Meningkatkan Kemanan dan Ketertiban Wilayah.
Pemerintah Kabupaten Bandung menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2016, sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan
Halaman | vi
LKIP Kabupaten Bandung 2016
kebijakan yang dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. LKIP juga berperan sebagai alat kendali dan penilai kinerja untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan dengan konsep good governance, selain itu merupakan informasi penting untuk masyarakat tentang hasil-hasil kinerja pemerintahan pada tahun 2016.
Secara umum, penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bandung pada tahun 2016 dapat dikatakan Sangat Memuaskan. Hal ini, didasarkan pada hasil pengukuran kinerja pencapaian sasaran yang dapat dicapai melalui pelaksanaan berbagai kebijakan, program dan kegiatan sebagaimana tertuang dalam Penetapan Kinerja (PK) Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2016.
Hasil pengukuran kinerja menunjukkan bahwa dari 30 sasaran strategis dengan 34 indikator kinerja utama (IKU Revisi) menunjukkan bahwa :
Nilai rata-rata capaian kinerja sasaran strategis dari 30 sasaran strategis adalah 93,58%, berada pada kategori AA atau memuaskan
Capaian kinerja sasaran strategis dari 30 sasaran strategis adalah 23 sasaran dikategorikan AA atau Memuaskan, 1 sasaran dikategorikan A atau Memuaskan, memimpin perubahan berkinerja tinggi dan sangat akuntabel, 1 sasaran dikategorikan BB atau Sangat Baik, akuntabel, berkinerja baik, memiliki system manajemen kinerja yang andal, 1 sasaran dikategorikan CC atau Cukup (memadai), Akuntabilitas kinerjanya cukup baik, taat kebijakan, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu banyak perbaikan tidak mendasar, 1 sasaran dikategorikan C atau kurang Sistem dan tatanan kurang diandalkan, memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar, 1 sasaran dikategorikan D atau Sangat Kurang, Sistem dantatanan tidak dapat diandalkan untuk penerapan manajemen kinerja; Perlu banyak perbaikan, sebagian perubahan yang sangat mendasar, sedangkan 2 sasaran belum bisa diukur capaian kinerjanya terkait perhitungan yang masih dilakukan oleh instansi terkait, seperti BPK dan BPS
Beberapa kendala yang ditemukan dalam proses penyusunan LKIP Kabupaten Bandung yang menyebabkan belum tersusunnya dokumen LKIP secara
Halaman | vi
LKIP Kabupaten Bandung 2016
maksimal sesuai dengan tata cara dan mekanisme penyusunan LKIP antara lain adalah :
1. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas dalam pengerjaan beberapa jenis pelaporan penyelenggaraan pemerintahan yang wajib dipenuhi oleh pemerintah daerah yaitu antara lain Laporan Tahunan, LKIP, LKPJ, LPPD, IPPD dan laporan keuangan daerah, dengan mekanisme penyajian yang berbeda-beda, namun dengan tenggat waktu penyelesaian laporan yang bersamaan. Kondisi tersebut tentunya menyebabkan tidak terkonsentrasinya penyusunan laporan dengan baik dan terjadinya in-efisiensi pengalokasian sumber daya yang cukup besar hanya untuk sekedar memenuhi penyusunan laporan. Banyaknya jenis laporan yang harus tersusun dengan tengah waktu bersamaan menjadi beban kerja yang tidak efektif bagi seluruh unit pelaksana penyusun pelaporan.
2. RPJMD 2016-2021 baru saja ditetapkan pada pertengahan tahun 2016 sehingga penyesuaian indikator-indikator kinerja sasaran keseluruhan belum dapat dipahami dan terakselerasi dengan perencanaan OPD. Kondisi ini menyebabkan pada beberapa indikator kinerja sasaran yang dipaparkan belum memiliki data dan informasi pendukung yang mencukupi.
3. Perencanaan kinerja dalam dokumen RPJMD belum memuat indikator kinerja tujuan dan target reliasasi, yang tersaji saat ini hanya indikator kinerja outcome, sehingga belum optimal dalam penilaian atas kriteria indikator tujuan.
4. Masih ada beberapa indikator kinerja yang belum tepat, sesuai dan relevan dengan sasaran dan tujuan yang hendak diwujudkan, hal ini menyebabkan penjelasan atas analisis kinerja belum akurat dideskripsikan.
5. Belum adanya standar pengkategorian nilai capaian indikator, sehingga dalam penyusunan LKIP tahun 2016 pengkategorian berdasarkan Peraturan Menteri PAN dan RB No. 13 tahun 2010, yaitu menggunakan pengkategorian nilai hasil reviu LKIP.
Semoga, LKIP ini dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bandung. Prestasi kinerja yang berhasil diraih merupakan hasil kerja keras seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Bandung bersama dengan stakeholder yang dibingkai semangat kebersamaan dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Berbagai kekurangan yang ada, tentunya
Halaman | vi
LKIP Kabupaten Bandung 2016
menjadi pemacu untuk memotivasi agar lebih bersemangat dalam bekerja dan berusaha demi tujuan Memantapkan Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing, melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Sinergi Pembangunan Perdesaan, Berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan
vii
LKIP Kabupaten Bandung 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...
i IKHTISAR EKSEKUTIF ...
iii DAFTAR ISI ...
v BAB 1 PENDAHULUAN ...
I - 1
A. Latar Belakang ...
I - 1 B. Gambaran Umum Kabupaten Bandung ...
I - 3 1. Kondisi Geografis ...
I - 3 2. Gambaran Umum Demografis ...
I - 4 3. Kondisi Makro Kabupaten Bandung ...
I - 5 C. Aspek Strategis Kabupaten Bandung ...
I - 7 1. Aspek Pemerintahan ...
I - 7 2. Aspek Sosial Budaya ...
I - 7 3. Aspek Pembangunan Ekonomi Perdesaan ...
I - 7 4. Aspek Tata Ruang Dan Insfrastruktur Dasar ...
I - 7 5. Aspek Lingkungan Hidup ...
I - 8 D. Maksud dan Tujuan ...
I - 8 1. Aspek Akuntabilitas Kinerja ...
I - 8 2 Aspek Manajemen Kinerja ...
I - 8 E. Organisasi Pemerintah Kabupaten Bandung ...
I - 8 1. Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi ...
I - 8 2. Sumber Daya Aparatur ...
I - 12 F. Permasalahan Utama (strategic issued) ...
I - 14 G. Dasar Hukum ...
I - 19 H. Sistematika Penyajian ...
I - 21
BAB 2 PERENCANAAN KINERJA ...
II - 1 A. Rencana Strategis Kabupaten Bandung ...
II - 1
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 ... II - 1 2. Visi Dan Misi ... II - 2
viii
LKIP Kabupaten Bandung 2016
3. Tujuan Dan Sasaran ... II - 9 4. Strategi Dan Arah Kebijakan ... II - 16 B. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung ...
II - 34 1. Prioritas Pembangunan Daerah ...
II - 34 2. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 ...
II - 39
BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA ...
III - 1 A. CAPAIAN KINERJA ...
III - 3
1. Tujuan 1 : Meningkatkan ketersediaan layanan
pendidikan berkualitas dan partisipasi masyarakat dalam
bidang pendidikan ………...
III - 3 a) Sasaran 1 : Optimalnya Ketersediaan Fasilitas
Pendidikan Formal Baik Dari Segi
Kuantitas Maupun Dari Segi Kualitas ...
III - 4 b) Sasaran 2 : Meningkatnya jumlah penduduk yang
bersekolah ...
III - 6 c) Sasaran 3 : Meningkatnya Jumlah Guru
Profesional ...
III - 11 2. Tujuan 2 : Meningkatkan pelayanan kesehatan serta
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ...
III - 14 a) Sasaran 4 : Optimalnya layanan kesehatan oleh
pemerintah ...
III - 14 b) Sasaran 5 : Meningkatnya derajat kesehatan
penduduk sejalan dengan upaya membangun keluarga berencana dan
keluarga sejahtera ...
III - 17 c) Sasaran 6 : Meningkatnya Kesadaran Penduduk
Untuk Menerapkan Perilaku Hidup
Bersih ...
III - 20 3. Tujuan 3 : Meningkatkan ketersediaan dan kualitas
infrastruktur dasar yang tahan terhadap bencana serta mewujudkan keserasian
pembangunan dengan tata ruang wilayah ...
III - 23 a) Sasaran 7 : Meningkatnya aksesiblitas, kapasitas
dan keselamatan terhadap pelayanan
sarana dan prasarana transportasi ...
III - 24 b) Sasaran 8 : Meningkatnya aksesiblitas, kapasitas
ix
LKIP Kabupaten Bandung 2016
c) Sasaran 9 : Meningkatnya penataan kawasan ibu kota Kabupaten Bandung
III - 29 d) Sasaran 10 : Meningatnya kualitas kawasan
pemukiman
III - 31
e) Sasaran 11 : Optimalnya sistem telekomunikasi dan informatika yang terpadu melalui pemanfaatan teknologi dan komunikasi ………..
III - 33 f) Sasaran 12 : Meningkatnya efektifitas pemanfaatan
ruang wilayah ………..
III - 34 g) Sasaran 13 :
M
eningkatnya upaya pengelolaansarana dan Prasana sanitasi …………
III - 35 h) Sasaran 14 : Meningkatnya upaya penanganan
Masyarakat yang tergenang banjir
III - 38 4. Tujuan 4 : Mengentaskan permasalahan kesejahteraan
sosial di Kabupaten Bandung ...
III - 41 a) Sasaran 15 : Meningkatkan kualitas dan
produktivitas dalam sektor
ketenagakerjaan ...
III - 41 5. Tujuan 5 : Meningkatkan daya saing perekonomian
Kabupaten Bandung sebagai upaya optimalisasi kontribusi sektor ekonomi
terhadap pembangunan daerah ...
III - 43 a) Sasaran 16 : Tercapainya kondisi ketahanan
Pangan ... III - 43 b) Sasaran 17 : Meningkatnya daya saing komoditas
pertanian ... III - 46 c) Sasaran 18 : Meningkatnya Transaksi Pada Sektor
Perdagangan Dan Jasa Di Kabupaten
Bandung ...
III - 48 d) Sasaran 19 : Meningkatkan Kapasitas, Kapabilitas
Serta Produktivitas UMKM-IKM Dan
Kualitas Produk Unggulan ...
III - 50 e) Sasaran 20: Meningkatnya Kesejahteraan Petani … III - 52 f) Sasaran 21 : Meningkatnya Investasi ………. III - 54 6. Tujuan 6 : Menciptakan lingkungan yang serasi dan
seimbang dengan memperhatikan daya dukung lingkungan, daya tampung lingkungan serta perubahan iklim ...
III - 57 a) Sasaran 22 : Meningkatkan pengawasan dan
pengendalian terhadap pencemaran
dan kerusakan lingkungan ...
x
LKIP Kabupaten Bandung 2016
b) Sasaran 23 : Terselenggaranya konservasi Sumber
Daya Alam ... III - 62 7. Tujuan 7 : Meningkatnya Pemberdayaan Masyarakat
Desa ...
III - 64 a) Sasaran 24 : Meningkatnya pemberdayaan
masyarakat perdesaan ...
III - 64 b) Sasaran 25 : Meningkatnya partisipasi masyarakat
dalam pembangunan desa ...
III - 69 8 Tujuan 8 : Meningkatkan kinerja aparatur dan
kelembagaan penyelenggara pelayanan publik ………..
III - 70 a) Sasaran 26 : Meningkatnya kualitas kinerja aparatur
pemerintah ………..
III - 70 b) Sasaran 27 : Meningkatkan efisiensi pelayanan
administrasi publik ………..
III - 74 c) Sasaran 28 : Meningkatnya Kapasitas dan
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ……….
III - 76 d) Sasaran 29 : Meningkatnya kualitas perencanaan
pembangunan daerah ………
III - 79 9 Tujuan 9 : Meningkatkan stabilitas keamanan yang
kondusif bagi pembangunan wilayah
III - 81 a) Sasaran 30 : Meningkatkan Stabilitas Keamanan
Yang Kondusif Bagi Pembangunan Wilayah ………
III - 82 B. AKUNTABILITAS KEUANGAN ...
III - 85 C. DAFTAR PENGHARGAAN ... …………. III - 97
BAB 4 PENUTUP ...
IV - 1
I | 1
LKIP Kabupaten Bandung 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan Good Governance ( tata kelola pemerintahan yang baik, transparan dan akuntabel ) merupakan prasyarat dari setiap pemerintahan untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Untuk itu diperlukan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan terukur sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu bentuk pertanggungjawaban yang terukur dan terlegitimasi sesuai dengan Perpres Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, pada intinya mengamanatkan agar setiap instansi pemerintah dalam penyelenggaraan tugas, tanggung jawab, dan kewenangannya, wajib dilaksanakan secara akuntabel dan salah satu bentuknya adalah kewajiban penyusunan laporan kinerja penyelenggaraan pemerintahan.
Pelaporan dimaksud secara tidak langsung merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat tentang kualitas kinerja yang dihasilkan terkait pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki termasuk sumber daya keuangan. Pelaporan kinerja pemerintahan tersebut diantaranya adalah Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) yang disampaikan kepada Gubernur, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Menteri Dalam Negeri paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
I | 2
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Substansi pelaporan didasarkan pada realisasi capaian kinerja tahunan perencanaan strategis dan pengaruhnya terhadap proses perwujudan kondisi akhir rencana lima tahunan, yang ditetapkan dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang pada gilirannya pelaporan ini prinsipnya menggambarkan realisasi tahapan pencapaian proses perwujudan cita-cita Kepala Daerah yang dituangkan ke dalam visi, misi dan program strategis RPJMD.
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kabupaten Bandung Tahun 2016 merupakan laporan realisasi hasil penyelenggaraan pemerintahan tahun ke 1 (satu) dari 5 (lima) tahun perencanaan RPJMD Kabupaten Bandung. RPJMD merupakan landasan utama yang mengarahkan seluruh gerak penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Bandung, pada arah Visi dan Misi Kabupaten Bandung. Pada tahun 2016 RPJMD Kabupaten Bandung ditetapkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 dengan Visi “Memantapkan Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing, melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Sinergi Pembangunan Perdesaan, Berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan”. Dalam rangka pencapaian visi yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi dan permasalahan yang ada, tantangan ke depan, serta memperhitungkan peluang yang dimiliki, Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan 9 (sembilan) Misi Pembangunan sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas dan cakupan layanan pendidikan; 2. Mengoptimalkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan;l
3. Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang terpadu tata ruang wilayah; dengan memperhatikan aspek kebencanaan;
4. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat;
5. Menciptakan Pembangunan Ekonomi yang memiliki keunggulan kompetitif; 6. Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Hidup;
7. Meningkatkan Kemandirian Desa; 8. Meningkatkan reformasi birokrasi;
9. Meningkatkan Kemanan dan Ketertiban Wilayah.
RPJMD Kabupaten Bandung adalah dokumen perencanaan pembangunan selama 5 (lima) tahun dalam mewujudkan kinerja capaian visi dan misi Kabupaten Bandung. Penetapan indikator-indikator sebagai alat ukur keberhasilan proses
I | 3
LKIP Kabupaten Bandung 2016
perwujudan visi dan misi Kabupaten Bandung. Sehingga dengan disusunnya dokumen RPJMD, maka pengukuran akuntabilitas kinerja pelaksanaan program dan kegiatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung dapat digambarkan dan dipertanggungjawabkan secara lebih tepat.
Pemerintah Kabupaten Bandung menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2016, sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah (PD), berdasarkan suatu sistem akuntabilitas yang memadai. LKIP juga berperan sebagai alat kendali dan penilai kinerja untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan dengan konsep good governance, selain itu merupakan informasi penting untuk masyarakat tentang hasil-hasil kinerja pemerintahan pada tahun 2016.
B. Gambaran Umum Kabupaten Bandung
1. Kondisi Geografis
Wilayah Kabupaten Bandung secara geografis terletak pada koordinat 107o 22’ - 108o 50 Bujur Timur dan 60 41’ –
7o 19’ Lintang Selatan dengan ketinggian
500 meter sampai 1.800 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 176.238,67 Ha.
Batas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Bandung adalah : a. Sebelah Utara berbatasan dengan
Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Sumedang;
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut; c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur; d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung dan
Kota Cimahi.
Gambar 1.1 Peta Kabupaten Bandung
Sumber : Website resmi Pemerintah Kabupaten Bandung
(www.bandungkab.go.id/arsip/2345/ gambaran-umum-sumber-daya-alam)
I | 4
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Morfologi Kabupaten Bandung terdiri atas : wilayah datar/landai, perbukitan, dan pegunungan dengan kemiringan lereng beragam antara 0 – 8 %, 8 – 15 % hingga di atas 45 %. Kabupaten Bandung beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12oC sampai 24oC dengan kelembaban udara beragam
antara 78 % pada musim hujan dan 70 % pada musim kemarau. Kondisi alam tersebut membuat Kabupaten Bandung rentan dengan bencana alam, baik itu bencana banjir, bencana longsor, erosi dan sebagainya.
Secara proporsi, penggunaan lahan di Kabupaten Bandung didominasi oleh kawasan budidaya pertanian yaitu seluas 53,22% dari luas keseluruhan 176.238,67 Ha. Penggunaan lahan lainnya yaitu kawasan lindung sebesar 33,83%, kawasan budidaya non pertanian 12,44%, dan kawasan lainnya 0,51%. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung masih berupa kawasan ruang terbuka, dimana mampu menyerap air larian hujan yang mencapai 2.000-3.500mm per tahun. Berdasarkan luas lahan terbuka yang ada di Kabupaten Bandung baik yang berupa kawasan lindung maupun kawasan budidaya, tanah di Kabupaten Bandung memiliki kemampuan untuk menyerap air sebanyak 0,793-2,115 miliar meter kubik per tahun.
2. Gambaran Umum Demografis
Jumlah penduduk Kabupaten Bandung tahun 2016 sebesar 3.596.623 jiwa terdiri atas : Laki-laki 1.823.708 jiwa (50,71 %) dan perempuan 1.772.915 jiwa (49,29 %). Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Tahun 2016 sebesar 1,77%, menurun dibandingkan dengan LPP Tahun 2015 sebesar 1,84%.
Walaupun dari segi laju pertumbuhan penduduk menurun namun dari
jumlah penduduk masih meningkat dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah penduduk harus ditangani dengan baik dan komprehensif diiringi dengan upaya pengendalian jumlah penduduk secara terpadu dan berkesinambungan serta upaya
Diagram 1.1
Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kabupaten Bandung Tahun 2016
Sumber : BPS Kab. Bandung, 2016 (Angka Sementara) Laki-laki Perempuan
I | 5
LKIP Kabupaten Bandung 2016
peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Dengan pertambahan jumlah penduduk, akan menimbulkan permasalahan bagi pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung, Pemerintah harus menyediakan berbagai fasilitas yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan hidup penduduknya. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain : fasilitas perumahan, pendidikan, lapangan pekerjaan, sarana sosial, kesehatan dan sebagainya.
Secara lebih rinci komposisi penduduk Kabupaten Bandung berdasarkan kelompok umur, diuraikan dalam tabel berikut.
Tabel 1.1
Jumlah Penduduk Kabupaten Bandung Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2016 (Jiwa)
Kelompok Umur Jumlah (jiwa)
0-4 370.686 5-9 358.641 10-14 335.499 15-19 330.705 20-24 307.994 25-29 311.425 30-34 316.185 35-39 287.433 40-44 247.351 45-49 204.499 50-54 162.035 55-59 128.134 60-64 836.50 65+ 152.387 Jumlah Penduduk 3.596.623
Sumber : BPS Kab. Bandung, Tahun 2016 (Data Sementara)
3. Kondisi Makro Kabupaten Bandung
Gambaran kondisi Kabupaten Bandung secara umum dapat dilihat dari perubahan angka atau nilai-nilai indikator-indikator makro Kabupaten Bandung yang terdiri dari kondisi sosial, ekonomi, dan kualitas pembangunan manusia. Kondisi indikator makro Kabupaten Bandung tahun 2015-2016 dapat dilihat dari uraian dalam tabel berikut.
I | 6
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Tabel 1.2
Indikator Makro di Kabupaten Bandung 2015 – 2016
No Indikator 2015 2016***)
1. Jumlah Penduduk (jiwa) 3.534.114 3.596.623
2. Laju Pertumbuhan Penduduk 1,84% 1,77
3. Laju Pertumbuhan Ekonomi 5,89% 5,33
4. Inflasi PDRB 6,09 % 4,15
5. PDRB atas Dasar Harga Berlaku
(juta rupiah) 85.793.090,4 94.114.297,2
6. PDRB atas Dasar Harga Konstan
(juta rupiah) 64.696.966,1 68,144,362,0
7. Pendapatan per Kapita per Tahun 24.275.700 26.167.407
8. IPM 70,05 70,98
9. Indeks Pendidikan 61,73 63,21
10. Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 8,41 8,49
11. Harapan Lama Sekolah 12,13 12,56
12. Indeks Kesehatan 81,65 81,81
13. Angka Harapan Hidup (tahun) 73,07 73,18
14. Indeks Daya Beli 68,17 69,15
15. Daya Beli 9.375 9.882
Sumber : BPS Kabupaten Bandung, Tahun 2016, ***) angka sangat sementara
Dari tabel di atas, secara umum dapat dijelaskan bahwa Berdasarkan perhitungan, IPM Kabupaten Bandung pada Tahun 2016 mecapai 70,98*) point yaitu kontribusi dari Indeks Pendidikan 63,21; Indeks Kesehatan 81,81 dan Indeks Daya Beli 69,15,34. IPM Tahun 2016 ini meningkat 0,93 point dibandingkan IPM Tahun 2015 yang mecapai 70,05 point, Perhitungan IPM tahun 2016 sudah menggunakan metode perhitungan baru.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (value added) produksi barang dan jasa dari seluruh kegiatan perekonomian di suatu wilayah pada suatu periode waktu tertentu. PDRB dihitung atas dasar harga berlaku dan atas harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi dan gambaran perekonomian pada tahun berjalan, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah baik secara keseluruhan maupun sektoral.
I | 7
LKIP Kabupaten Bandung 2016
C. Aspek Strategis Kabupaten Bandung
1. Aspek Pemerintahan
Strategi pembangunan aspek pemerintahan mencakup peningkatan kualitas implementasi tata kelola pemerintahan yang baik, yang ditandai dengan: menguatnya kapasitas kelembagaan pemerintah, penguatan kelembagaan manajemen kinerja pembangunan; meningkatkan kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi; meningkatkan kapasitas, profesionalisme dan kinerja Pegawai; meningkatkan kualitas pelayanan publik; meningkatkan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan; meningkatkan efektivitas implementasi sistem manajemen kinerja pembangunan.
2. Aspek Sosial Budaya dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)
Strategi pembangunan aspek sosial budaya dan peningkatan SDM mencakup upaya meningkatkan derajat dan kondisi sosial masyarakat dengan cara peningkatan SDM Kabupaten bandung melalui peningkatan derajat kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, dan peningkatan daya beli masyarakat yang dibarengi pula dengan upaya-upaya untuk menjunjung tinggi budi pekerti, budaya sunda, dan berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Aspek Pembangunan Ekonomi Perdesaan
Strategi pembangunan aspek pembangunan ekonomi perdesaan mencakup upaya pemberdayaan dan pendayagunaan potensi ekonomi yang ada di kawasan perdesaan menghasilkan kekuatan ekonomi secara global. diharapkan juga pemanfaatan potensi ekonomi masyarakat desa secara optimal memberikan kontribusi terhadap indikator ekonomi makro yaitu PDRB, Inflasi, Laju Pertumbuhan Ekonomi, Laju Investasi, konsumsi pemerintah dan indikator sosial makro.
4. Aspek Tata Ruang dan Infrastruktur Dasar
Strategi pembangunan tata ruang dan infrastruktur Dasar merupakan upaya untuk mendukung keselarasan pemanfaaatan ruang yang mampu mengembangkan fungsi setiap kawasan. Menciptakan hubungan sinergis antara wilayah dengan wilayah/daerah sekitar. Mendukung Pembangunan agar dapat
I | 8
LKIP Kabupaten Bandung 2016
5. Aspek Lingkungan HidupStrategi pembangunan Lingkungan Hidup merupakan Landasan Pembangunan Kabupaten Bandung sesuai dengan Visi Bupati Bandung Tahun 2016 – 2021
D. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan penyusunan LKIP Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2016 mencakup hal-hal berikut ini :
1. Aspek Akuntabilitas Kinerja
Bagi keperluan eksternal organisasi, sebagai sarana pertanggung jawaban pemerintah Kabupaten Bandung atas capaian kinerja yang berhasil diperoleh selama tahun 2016. Esensi capaian kinerja yang dilaporkan merujuk pada sampai sejauh mana visi, misi, tujuan dan sasaran strategis yang telah dicapai selama tahun 2016.
2. Aspek Manajemen Kinerja
Bagi keperluan internal organisasi, sebagai sarana evaluasi pencapaian kinerja dalam upaya perbaikan kinerja di masa datang, terutama untuk melakukan perbaikan kekurangan yang ditemukan pada setiap celah kinerja. Selain itu dalam rangka mengelola penataan manajemen pemerintahan dapat merumuskan strategi pemecahan masalah sehingga capaian kinerja pemerintah Kabupaten Bandung dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
E. Organisasi Pemerintah Kabupaten Bandung
1. Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai wadah penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan ditetapkan mengacu pada Peraturan Pemerintah nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah yang merupakan pengganti dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Perangkat
I | 9
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Daerah yang ditindaklanjuti penerapannya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung dengan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah. Adapun perangkat daerah terdiri dari :
a. Sekretariat Daerah tipe A; b. Sekretariat DPRD tipe A; c. Inspektorat tipe A; d. Dinas tipe A, terdiri atas:
1. Dinas Pendidikan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pendidikan;
2. Dinas Kesehatan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang kesehatan;
3. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang;
4. Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang perumahan rakyat, kawasan permukiman dan Urusan Pemerintahan bidang pertanahan;
5. Satuan Polisi Pamong Praja, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat sub urusan ketenteraman dan ketertiban umum;
6. Dinas Sosial, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang sosial;
7. Dinas Tenaga Kerja, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang tenaga kerja dan Urusan Pemerintahan bidang transmigrasi;
8. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana dan Urusan Pemerintahan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
9. Dinas Lingkungan Hidup, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang lingkungan hidup;
10. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang administrasi kependudukan dan pencatatan sipil;
I | 10
LKIP Kabupaten Bandung 2016
11. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pemberdayaan masyarakat dan desa;
12. Dinas Perhubungan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang perhubungan;
13. Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang komunikasi dan informatika, Urusan Pemerintahan bidang statistik dan Urusan Pemerintahan bidang persandian;
14. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang penanaman modal;
15. Dinas Kepemudaan dan Olah Raga, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang kepemudaan dan olah raga;
16. Dinas Perdagangan dan Perindustrian, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang perdagangan, urusan pemerintahan bidang perindustrian dan Urusan Pemerintahan bidang energi dan sumber daya mineral;
17. Dinas Pertanian, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pertanian; dan
18. Dinas Pangan dan Perikanan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pangan dan Urusan Pemerintahan bidang kelautan dan perikanan. e. Dinas tipe B, terdiri atas:
1. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang pariwisata dan Urusan Pemerintahan bidang kebudayaan;
2. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang koperasi, usaha kecil dan menengah; dan
3. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang perpustakaan dan Urusan Pemerintahan bidang kearsipan.
f. Dinas tipe C,
1. Dinas Kebakaran, menyelenggarakan Urusan Pemerintahan bidang ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat sub urusan kebakaran.
I | 11
LKIP Kabupaten Bandung 2016
1. Badan Perencanaan, Penel itian dan Pengembangan Daerah, menyelenggarakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang perencanaan daerah dan Urusan Pemerintahan bidang penelitian dan pengembangan;
2. Badan Keuangan Daerah, menyelenggarakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang keuangan daerah; dan
3. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah, menyelenggarakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan bidang kepegawaian, pendidikan, dan pelatihan.
h. Kecamatan tipe A, terdiri atas: 1. Kecamatan Soreang; 2. Kecamatan Pasirjambu; 3. Kecamatan Ciwidey; 4. Kecamatan Rancabali; 5. Kecamatan Kutawaringin; 6. Kecamatan Katapang; 7. Kecamatan Margaasih; 8. Kecamatan Cangkuang; 9. Kecamatan Banjaran; 10. Kecamatan Cimaung; 11. Kecamatan Pangalengan; 12. Kecamatan Baleendah; 13. Kecamatan Margahayu; 14. Kecamatan Dayeuhkolot; 15. Kecamatan Bojongsoang; 16. Kecamatan Cimenyan; 17. Kecamatan Cilengkrang; 18. Kecamatan Ciparay; 19. Kecamatan Arjasari; 20. Kecamatan Kertasari; 21. Kecamatan Ibun;
I | 12
LKIP Kabupaten Bandung 2016
22. Kecamatan Paseh; 23. Kecamatan Pacet; 24. Kecamatan Majalaya; 25. Kecamatan Cicalengka; 26. Kecamatan Solokanjeruk; 27. Kecamatan Pameungpeuk; 28. Kecamatan Cileunyi; 29. Kecamatan Rancaekek; 30. Kecamatan Nagreg; dan 31. Kecamatan Cikancung.2. Sumber Daya Aparatur
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Pemerintah Kabupaten Bandung ditunjang oleh sumber daya aparatur sebanyak 19..744 orang yang tersebar di berbagai Organsasi Perangkat Daerah (OPD). Secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.3
Jumlah Sumber Daya Aparatur Di Kabupaten Bandung Tahun 2016
No SKPD Jumlah
1 Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan 194 2 Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah 64
3 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik 30
4 Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan 132 5 Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa 44
6 Badan Penanaman Modal dan Perijinan 52
7 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 29
8 Badan Pengendalian Lingkungan Hidup 66
9 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 50
10 Badan Perpustakaan, Arsip dan Pengembangan Sistem Informasi 49
11 Dinas Bina Marga 235
12 Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 51
13 Dinas Kesehatan 1270
14 Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan 354
15 Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata 52
16 Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan 201
I | 13
LKIP Kabupaten Bandung 2016
18 Dinas Perhubungan 225
19 Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan 73
20 Dinas Perumahan, Penataan Ruang dan Kebersihan 310
21 Dinas Peternakan dan Perikanan 86
22 Dinas Sosial 47
23 Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi 145
24 Dinas Tenaga Kerja 60
25 Inspektorat 68 26 Kecamatan Arjasari 18 27 Kecamatan Baleendah 24 28 Kecamatan Banjaran 22 29 Kecamatan Bojongsoang 23 30 Kecamatan Cangkuang 23 31 Kecamatan Cicalengka 26 32 Kecamatan Cikancung 21 33 Kecamatan Cilengkrang 20 34 Kecamatan Cileunyi 31 35 Kecamatan Cimaung 21 36 Kecamatan Cimenyan 15 37 Kecamatan Ciparay 31 38 Kecamatan Ciwidey 16 39 Kecamatan Dayeuhkolot 20 40 Kecamatan Ibun 27 41 Kecamatan Katapang 25 42 Kecamatan Kertasari 22 43 Kecamatan Kutawaringin 24 44 Kecamatan Majalaya 27 45 Kecamatan Margaasih 20 46 Kecamatan Margahayu 21 47 Kecamatan Nagreg 25 48 Kecamatan Pacet 20 49 Kecamatan Pameungpeuk 22 50 Kecamatan Pangalengan 32 51 Kecamatan Paseh 30 52 Kecamatan Pasirjambu 23 53 Kecamatan Rancabali 17 54 Kecamatan Rancaekek 33
55 Kecamatan Solokan Jeruk 24
56 Kecamatan Soreang 27
57 Kelurahan Andir 9
I | 14
LKIP Kabupaten Bandung 2016
59 Kelurahan Cibeunying 7
60 Kelurahan Jelekong 8
61 Kelurahan Manggahang 9
62 Kelurahan Padasuka 8
63 Kelurahan Pasawahan 8
64 Kelurahan Rancaekek Kencana 8
65 Kelurahan Sulaiman 9
66 Kelurahan Wargamekar 7
67 Rumah Sakit Daerah Kelas B Majalaya 264
68 Rumah Sakit Daerah Kelas C Cicalengka 102
69 Rumah Sakit Daerah Kelas C Soreang 324
70 Satuan Polisi Pamong Praja 72
71 Sekretariat Daerah 233
72 Sekretariat DPRD 54
73 Sekretariat KORPRI 4
74 Sekretariat KPUD 8
Total 19.744
Sumber : Bezzeting BKPP Kab. Bandung per 31 Desember 2016
F. Permasalahan Utama (strategic issued)
Kabupaten Bandung merupakan daerah dengan perubahan yang cepat dan dinamis, dengan tingkat keterpengaruhan perkembangan wilayah regional yang tinggi. Kabupaten Bandung dapat di klasifikasikan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, yaitu Kota Bandung. Pada sisi lain Kabupaten Bandung memiliki sumber-sumber potensial daerah yang dapat dikembangkan menjadi ikon pendorong peningkatan kualitas kemajuan pembangunan daerah. Dengan kecukupan kuantitas sumberdaya manusia, potensi sumber daya alam, merupakan modal dalam perencanaan pembangunan. Namun tentunya pengaturan, penataan, dan analisis terhadap seluruh potensi perlu di kaji secara lebih mendalam sehingga potensi positif dapat dikelola secara benar dengan kendali arah pencapaian tujuan yang tepat, yang pada gilirannya dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bandung.
Berdasarkan kondisi singkat diatas, maka isu strategis pembangunan daerah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021, yang menjadi prioritas penanganan:
I | 15
LKIP Kabupaten Bandung 2016
1. Jaminan Pendidikan dan Kesehatan bagi masyarakat;
2. Pelayanan publik yang aman dan nyaman bagi wanita, anak- anak, lansia, dan difabel;
3. infrastruktur dasar dan kurangnya sarana pelayanan publik yang aman dan nyaman bagi wanita, anak- anak, lansia, dan difabel
4. Penanganan banjir dan kekeringan 5. Penanggulangan kemiskinan;
6. Peningkatan daya saing perekonomian produk unggulan dan ketahanan dan kemandirian pangan;
7. Pengendalian pencemaran lingkungan dan masih terbatasnya luas Ruang Terbuka Hijau;
8. Pemberdayaan masyarakat desa;
9. Pengoptimalan kinerja pemerintahan dan kerjasama dalam penyelenggaraan ketertiban umum dan keamanan;
Penjabaran masing-masing isu strategis disajikan dalam uraian berikut :
1. Sektor pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menentukan tingkat kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang diharapkan yaitu yang mampu melakukan inovasi, kreasi serta memiliki karakter dan budi pekerti. Beberapa peningkatan dan akselerasi program diperlukan dalam mengatasi belum optimalnya partisipasi masyarakat yang mampu secara ekonomi untuk mengakses layanan pendidikan, belum memadainya kualitas dan kuantitas sarana prasarana pendidikan, belum memadainya jumlah guru tetap dan jumlah guru yang berpendidikan keguruan, masih kurang baiknya distribusi tenaga pengajar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga berbicara mengenai kesehatan yang secara kontinyu diintervensi melalui program/kegiatan yang bersifat kuratif, preventif maupun promotif. Akselerasi dan perbaikan perlu dilakukan dalam mengantisipasi sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang masih belum memadai serta kurang dan belum meratanya jumlah dan persebaran tenaga medis.
2. Dalam arti luas pelayanan publik adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan masyarakat umum yang sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Penyelenggara pelayanan publik dilakukan oleh institusi pemerintahan (birokrasi) yang meliputi pelayanan dasar (substantif) dan pelayanan administrasi.
I | 16
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Belum meratanya kualitas sumber daya manusia pada Pemerintahan, terutama pada unit kerja yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat menyebabkan perbaikan dan peningkatan kapasitas aparatur dan lembaga publik perlu terus diperbaiki dalam rangka mewujudkan Good Govermance.
3. Infrastruktur merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam mendukung sektor prioritas bidang pendidikan, kesehatan dan daya beli.Sektor infrastruktur terdiri atas : prasarana transportasi, sumber daya air, dan prasarana permukiman, yang berperan sebagai pembentuk struktur ruang, pemenuhan kebutuhan wilayah, pemacu pertumbuhan wilayah, serta pengikat antar-wilayah. Peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur harus terus dilakukan dalam mendukung perekonomian. Keterpaduan pembangunan dan saling keterkaitan antar wilayah yang terangkum dalam dokumen ketataruangan masih perlu ditingkatkan efektivitas dan pelaksanaannya, begitu pun dengan pengendaliannya. Beberapa masalah yang masih perlu langkah penangangan lanjutan, di antaranya ialah perlu adanya perda tentang RDTR sebagai tindak lanjut penyusunan dokumen RDTR Baleendah-Dayeuhkolt, Soreang, Kutawaringin dan Tegalluar. Hal ini menyebabkan terhambatnya rencana dan pelaksanaan pembangunan baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat umum, karena beberapa dokumen harus mengacu terhadap RDTR dan Peraturan Zonasinya.
4. Berkaitan dengan lingkungan hidup dan bencana, dalam penanganan banjir dan genangan masih diperlukan peningkatan efektivitas program dan partisipasi masyarakat dalam mematuhi peraturan perundangan yang ada. Masih tingginya degradasi dan longsoran-longsoran tebing yang diakibatkan oleh arus sungai yang cukup deras dan daerah konservasi yang mulai mengalami penurunan fungsi, sedangkan daerah hilir sungai sudah menunjukkan adanya abrasi yang cenderung membentuk badan sungai menjadi lebar dan dangkal.
5. Kemiskinan merupakan permasalahan krusial yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat dalam mengakses pelayanan standar terkait dengan pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan kemampuan daya beli. Berbagai program dari beberapa sektor yang telah dilaksanakan belum mampu/tidak signifikan dalam mengurangi jumlah keluarga miskin di Kabupaten Bandung. Hal tersebut, terutama karena belum terpadunya berbagai program penanggulangan kemiskinan (ego sektor) serta belum terukur secara jelas mengenai upaya pengurangan kemiskinan
I | 17
LKIP Kabupaten Bandung 2016
pada setiap program, hal ini dikarenakan belum adanya keseragaman data jumlah keluarga miskin sehingga target yang ingin dicapai setiap sektor belum jelas. 6. Untuk membangun perekonomian Kabupaten Bandung yang berdaya saing,
beberapa sektor yang menjadi prioritas pengembangan antar lain meliputi sektor perdagangan dan jasa, sektor industri, sektor agrobisnis, sektor pariwisata, sektor koperasi dan UMKM serta sektor investasi,
7. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Permasalahan lingkungan hidup di Kabupaten Bandung sudah perlu mendapatkan perhatian khusus karena jika tidak ditangani secepatnya dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang. Pembuangan limbah padat yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah baru bagi lingkungan, pembuangan limbah cair yang tidak melalui proses pengolahan terlebih dahulu juga akan mencemari sungai yang pada akhirnya akan merusak biota di dalam ekosistem sungai, sementara polusi udara yang ditimbulkan dari proses pembuangan residu ke udara tanpa disaring terlebih dahulu akan menimbulkan polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.
8. Pembangunan pedesaan di Kabupaten Bandung merupakan strategi yang mutlak harus dilakukan oleh pemerintah, mengingat lebih dari 96 % dari total wilayah merupakan wilayah pedesaan. Kesenjangan dalam segi ekonomi antara wilayah pedesaan dan perkotaan menjadi perhatian utama. Hali ini di sebabkan pertumbuhan ekonomi pedesaan merupakan aspek penting dari pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bandung. Maka dari itu pemerintah Kabupaten Bandung perlu menetapkan core businessnya “Sektor Pertanian”, karena potensi yang dimiliki Kabupaten Bandung dalam memenuhi surplus pangan terutama padi, tetapi Pemerintah Kabupaten Bandung perlu melakukan langkah-langkah yang terstruktur dalam mempertahankan dan meningkatkan iklim usaha yang kondusif dalam meningkatkan nilai investasi serta memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan peran UKM yang menunjang usaha pertanian dan peternakan. Selain itu, perkembangan ekonomi pedesaan yang didominasi oleh aktivitas ekonomi
I | 18
LKIP Kabupaten Bandung 2016
pertanian, sangat berhubungan dengan sektor pariwisata, produksi kewaspadaan serta keamanan pangan dan bahan baku sektor lainya.
9. Keamanan dan ketertiban masyarakat diharapkan tetap terjaga dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif serta mendukung kinerja pembangunan secara umum. Prioritas ini selaras dengan prioritas dalam RPJPD Kabupaten Bandung Tahun 2005-2025 Tahap II yaitu peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam keamanan dan ketertiban umum, juga selaras dengan RPJMN yaitu bidang polhukam.
Analisis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan, dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan.
Tabel 1.4
ISU STRATEGIS DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN KABUPATEN BANDUNG
ISU STRATEGIS PRIORITAS PEMBANGUNAN
Masih terbatasnya jaminan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat
Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas pendidikan
Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas kesehatan
Masih perlunya penanggulangan kemiskinan
Penanggulangan kemiskinan dan PMKS
Kurangnya sarana pelayanan publik yang aman dan nyaman bagi wanita, anak-anak, lansia, dan difabel
Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana dasar wilayah
Masih terbatasnya infrastruktur dasar Belum efektifnya pengendalian pencemaran lingkungan dan masih terbatasnya luas ruang terbuka hijau
I | 19
LKIP Kabupaten Bandung 2016
ISU STRATEGIS PRIORITAS PEMBANGUNAN
Belum optimalnya penanganan banjir dan kekeringan
Penanggulangan bencana banjir dan kekeringan
Belum mantapnya ketahanan dan kemandirian pangan
Pemantapan ketahanan dan kemandirian pangan
Belum optimalnya kinerja pemerintahan dan kerjasama dalam penyelenggaraan ketertiban umum dan keamanan
Reformasi birokrasi
Pemantapan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat
Masih perlu ditingkatkannya daya saing perekonomian produk unggulan
Peningkatan daya saing perekonomian produk unggulan
Masih perlunya pemberdayaan masyarakat desa
Pemantapan pembangunan wilayah perdesaan
Sumber : RKPD Kab. Bandung Tahun 2016
G. Dasar Hukum
Peraturan perundang-undangan yang melatarbelakangi penyusunan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Kabupaten Bandung Tahun 2016 adalah:
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat;
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara;
6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
I | 20
LKIP Kabupaten Bandung 2016
7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Penimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian/Lembaga;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara, Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
15. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009;
16. Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2008 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2009;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007;
18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
I | 21
LKIP Kabupaten Bandung 2016
19. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;
20. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 6 Tahun 2004 tentang Transparansi dan Partisipasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Bandung;
21. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah;
22. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 17 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Bandung;
23. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021.
H. Sistematika Penyajian
Pada dasarnya Laporan Kinerja ini mengkomunikasikan pencapaian kinerja Pemerintah Kabupaten Bandung selama tahun 2016. Capaian kinerja (Performance Results) 2015 tersebut diperoleh dari perbandingan atas hasil capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan setiap tahun terhadap rencana kinerja (Performance Plan) 2016 sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini menguraikan keberhasilan, hambatan, dan permasalahan sehingga memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (Performance Gap) bagi perbaikan kinerja dimasa datang.
Berdasarkan pola pikir tersebut, sistematika penyajian Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Bandung tahun 2016, adalah sebagai berikut :
Bab I
Pendahuluan
Bab II
Rencana StrategisBab III
Akuntabilitas Kinerja
Bab IV
Penutup
I | 22
LKIP Kabupaten Bandung 2016
Bab I - Pendahuluan
Menjelaskan latar belakang, gambaran umum Kabupaten Bandung, aspek strategis Kabupaten Bandung, maksud dan tujuan penyusunan LKIP, organisasi Pemerintah Kabupaten Bandung, sumber daya aparatur, dasar hukum penyusunan LKIP dan sistematika penyajian LKIP.
Bab II – Perencanaan Kinerja
Menjelaskan muatan RPJMD untuk periode Tahun 2016-2021, visi dan misi, tujuan dan sasaran, strategi dan arah kebijakan, prioritas pembangunan daerah dan perjanjian kinerja tahun 2016.
Bab III - Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Organisasi
Pada Sub bab ini akan disajikan mengenai hasil pengukuran kinerja untuk masing-masing pernyataan sasaran kinerja pada tujuan yang ada di RPJMD yang memuat :
a. Deskripsi Sasaran dan Capaian Kinerja
Menjelakan tentang capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi.
b. Analisis Capaian Kinerja
Untuk setiap capaian kinerja sasaran strategis dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut : Perbandingan antara target dan realisasi kinerja tahun 2016; Perbandingan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun 2016 dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir; Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun 2016 dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi; Penyebab keberhasilan/kegagalan peningkatan / penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan, Efisiensi penggunaan
I | 23
LKIP Kabupaten Bandung 2016
sumber daya; Program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja.
B. Realisasi Anggaran
Pada Sub bab ini diuraikan realisasi anggaran yang digunakan dan yang telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.
Bab IV - Penutup
Menjelaskan kesimpulan dari Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2016, permasalahan dan kendala secara umum yang dihadapi, upaya-upaya penyelesaiannya dan langkah serta solusi dalam perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang.
II | 1
LKIP KABUPATEN BANDUNG 2016
A. RENCANA STRATEGIS KABUPATEN BANDUNG
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat.
Sebagai kerangka perencanaan jangka panjang dijabarkan dengan perencanaan jangka menengah melalui penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021. Penjabaran lebih lanjut dalam perencanaan tahunan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Bandung Tahun 2016 dan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Kabupaten Bandung Tahun 2016.
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021
Pemerintah daerah diwajibkan menyusun dan menetapkan perencanaan jangka menengah daerah merupakan amanat pelaksanaan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021. .
RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 merupakan dokumen perencanaan strategis yang menetapkan arah kebijakan dan strategi pembangunan pada tahun 2016-2021, sebagai tolok ukur pelaksanaan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Bandung dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dokumen ini
BAB II
II | 2
LKIP KABUPATEN BANDUNG 2016
berfungsi sebagai penuntun segenap penyelenggara Perangkat Daerah (PD) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung dalam melaksanakan program/kegiatan pembangunan sesuai tugas dan fungsi yang diemban, dalam arah perwujudan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi yang akan dicapai dalam lima tahun periode kepemimpinan Kepala Daerah.
Tahun 2016 merupakan tahun pertama dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021.
2. Visi dan Misi
Berbagai isu global dan nasional turut dipertimbangkan dalam upaya penyelesaian isu lokal yang berimplikasi pada kesejahteraan masyarakat. Isu yang dihadapi Kabupaten Bandung antara lain : Pelayanan publik, Kualitas Sumber Daya Manusia (Pendidikan, Kesehatan, dan Kesalehan Sosial), Pembangunan Perdesaan dan Ketahanan Pangan, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, Infrastruktur Wilayah dan Tata Ruang, Kemiskinan serta Lingkungan Hidup. Dalam menangani isu tersebut diperlukan penguatan kepemimpinan yang didukung oleh segenap komponen masyarakat dan penyelenggara pemerintahan.
a. Visi
Dengan mempertimbangkan isu yang ada, maka visi Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, yang dituangkan dalam RPJMD tahun 2016-2021, adalah :
Melalui visi tersebut, diharapkan Kabupaten Bandung melanjutkan membangun dan memiliki kemampuan menghadapi paradigma dan kondisi dimasa yang akan datang, lebih dari itu Kabupaten Bandung dapat berperan dalam perubahan yang terjadi di lingkup regional, nasional maupun global.
”Memantapkan Kabupaten Bandung yang Maju, Mandiri dan Berdaya Saing, melalui Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Pemantapan Pembangunan
Perdesaan, Berlandaskan Religius, Kultural dan Berwawasan Lingkungan”
II | 3
LKIP KABUPATEN BANDUNG 2016
b.
MisiDari pernyataan Visi Kabupaten Bandung tersebut, dirumuskan 9 (sembilan) Misi Kabupaten Bandung yang menggambarkan hal yang seharusnya terlaksana, sehingga hal yang masih terlihat abstrak pada visi akan lebih nyata pada misi tersebut. Lebih jauh, pernyataan misi Kabupaten Bandung memperlihatkan kebutuhan apa yang hendak dipenuhi oleh organisasi, siapa yang memiliki kebutuhan tersebut, dan bagaimana organisasi memenuhi kebutuhan tersebut.
Adapun 9 (sembilan) misi Kabupaten Bandung yang telah ditetapkan adalah :
1. Misi Pertama: “Meningkatkan kualitas dan cakupan layanan pendidikan” Misi peningkatan kualitas dan cakupan layan pendidikan sejalan dengan visi Kabupaten Bandung, khususnya dalam upaya membangun “Sumber Daya Manusia yang Berkualitas”. Perbaikan dalam sektor pendidikan menjadi misi pertama yang diusung dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021. Penetapan sektor pendidikan sebagai prioritas pertama didasari oleh pentingnya aspek ini dalam pembangunan Kabupaten Bandung, masyarakat Kabupaten Bandung sebagai aktor utama dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Bandung perlu memiliki kapasitas dan daya saing dalam mendukung keberhasilan pembangunan Kabupaten Bandung.
Dalam rangka membangun sumber daya manusia Kabupaten Bandung yang berkualitas maka diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dan cakupan layanan pendidikan, yang mana antara lain dengan meningkatkan jumlah fasilitas pendidikan, terutama fasilitas sekolah menengah atas yang tersebar secara merata dan mencakup seluruh wilayah, meningkatkan kualitas pada fasilitas- fasilitas pendidikan melalui peningkatan efisiensi sekolah, meningkatkan kualitas tenaga pengajar, serta meningkatkan kompetensi siswa melalui penguasaan budaya lokal, olah raga dan keterampilan lain.
II | 4
LKIP KABUPATEN BANDUNG 2016
2. Misi Kedua: “Mengoptimalkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan”
Seperti halnya misi pengembangan sektor pendidikan, misi mengoptimalkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan juga sejalan dengan upaya menciptakan “Sumber Daya Manusia yang Berkualitas”. Dalam hal ini derajat kesehatan penduduk menjadi fokus yang ingin dicapai melalui misi ini. Derajat kesehatan masyarakat menjadi satu tolak ukur bagi kualitas SDM yang secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas penduduk. SDM yang kreatif, inovatif dan kontributif terhadap pembangunan Kabupaten Bandung tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pembangunan Kabupaten Bandung tanpa didukung oleh drajat kesehatan penduduk yang tinggi.
Untuk mendukung misi ini, beberapa upaya peningkatan kuantitas fasilitas kesehatan serta upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan. Dijabarkan lebih rinci beberapa upaya untuk mendukung pencapaian misi ini antara lain meningkatkan kuantitas dan kualitas puskesmasdan rumah sakit, menurunkan angka kesakitan penduduk melalui berbagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih serta meningkatkan jumlah tenaga medis secara optimal yang melayani seluruh wilayah Kabupaten Bandung.
3. Misi Ketiga: “Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang terpadu tata ruang wilayah dengan memperhatikan aspek kebencanaan”
Penyediaan infrastruktur dasar memiliki pengaruh luas terhadap pembangunan di berbagai sektor. Infrastruktur dasar dalam hal ini meliputi infrastruktur transportasi, infrastruktur air bersih, infrastruktur air limbah, infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktur energi. Dalam implementasinya, pembangunan infrastruktur terkait erat dengan tata ruang. Pengembangan infrastruktur dapat menstimulus perkembangan guna lahan suatu wilayah, sehingga perencanaan infrastruktur dan perencanaan tata ruang perlu dilakukan secara seiring untuk menciptakan adanya keterpaduan. Upaya-
II | 5
LKIP KABUPATEN BANDUNG 2016
upaya yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur dan keterpaduan tata ruang wilayah antara lain melalui mengoptimalkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur dasar serta mewujudkan perencanaan tata ruang secara simultan, mulai dari perencanaan tata ruang, hingga ke pemanfaatan ruang dan pengendalian permanfaatan ruang.
Aspek kebencanaan merupakan salah satu komponen yang perlu diakomodir dalam perencanaan pembangunan. Hal tersbut didasari oleh kondisi Kabupaten Bandung yang memiliki beberapa potensi bencan. Meninjau historis kebelakang, beberapa bencana cenderung tidak dapat dihindarkan dan menggangu stabilitas pembangunan. Mitigasi berupa pencegahan terjadinya bencana tidak akan menghilangkan seluruh resiko bencana. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya terkait penanganan aspek kebencanaan selain mengakomodir upaya mitigasi pelu pula untuk diarahkan pada upaya adaptasi berupa rekayasa infrastruktur dan fasilitas publik agar memiliki kelentingan terhadap bencana.
4. Misi Keempat: : “Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat”
Penetapan misi meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat sejalan dengan upaya membangun sumber daya manusia Kabupaten Bandung yang berkualitas. Dengan meningkatnya kesejahteraan sosial masyarakat, diharapkan secara tidak langsung menciptakan stabilitas kemanan wilayah. Beberapa upaya yang akan diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat antara lain dengan peningkatan upaya pemenuhan layanan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), serta peningkatan partisipasi masayrakat dalam upaya pengentasan masalah kesejahteraan sosial.
5. Misi Kelima: “Menciptakan Pembangunan Ekonomi yang memiliki keunggulan kompetitif”