ABSTRAK
KADAR SEROTONIN SERUM YANG RENDAH MERUPAKAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA PSORIASIS
Psoriasis merupakan penyakit kulit multifaktorial yang diduga dapat disebabkan oleh stres psikologis. Salah satu marker stres psikologis yaitu serotonin yang dapat mengganggu sitokin proinflamasi. Apabila terjadi stres psikologis, serotonin dapat mengalami penurunan. Serotonin juga berfungsi sebagai inhibisi TNF- , sehingga bila terjadi penurunan serotonin akan terjadi ekskresi secara terus menerus TNF- dan Il-6 yang berperan penting dalam proliferasi keratinosis pada pasien psoriasis.
Penelitian ini merupakan penelitian matched-pair case control analitik observasional yang bertujuan untuk mengetahui penurunan serotonin serum merupakan faktor risiko psoriasis. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling melibatkan 30 penderita psoriasis (kasus) dan 30 bukan psoriasis (kontrol) yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang kemudian di matching berdasarkan umur dan jenis kelamin. Kadar serotonin diambil dari serum darah vena penderita, kemudian diperiksa dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Hasil penelitian menunjukkan subjek usia rata-rata pada kasus adalah 45,5 tahun dan kontrol 46 tahun, dengan 24 orang laki-laki pada kasus dan kontrol dan perempuan 6 orang perempuan, derajat keparahan rendah yang paling banyak ditemukan sebanyak 12 orang dan tipe psoriasis yang paling banyak adalah vulgaris sebanyak 28 orang. Kadar serotonin yang rendah dengan cut off point <141 ng/mL memiliki faktor risiko sebanyak 7,7 kali menderita psoriasis (RO=7,7; IK 95%=2,4-24,2 dan P<0,001). Kadar serotonin serum dan derajat keparahan psoriasis yang diukur dengan psoriasis area and severity index (PASI) berkorelasi negatif lemah PASI (r = -0,06 ; p < 0,001),
Simpulan pada penelitian ini adalah penurunan kadar serotonin serum dapat meningkatkan risiko psoriasis sebesar 7,7 kali.
Kata kunci: Psoriasis, Serotonin Serum, Skor PASI.
ABSTRACT
LOW SEROTONIN SERUM LEVEL IS A RISK FACTOR THE OCCURANCE OF PSORIASIS
Psoriasis is a skin disease that is thought to be multifactorial caused by psychological stress. One marker of psychological stress that is serotonin that can interfere with proinflammatory cytokines. In the event of psychological stress, serotonin can be decreased. Serotonin also serves as the inhibition of TNF- , so if there is a decrease in serotonin will occur continuously excretion of TNF- and Il-6. plays an important role in the proliferation keratinosis in psoriasis patients.
This study is a matched-pair case control analytic observational which aims to find a decrease in serum serotonin is a risk factor for psoriasis. Sampling by way of consecutive sampling involved 30 patients with psoriasis (cases) and 30 instead of psoriasis (control) that have met the inclusion and exclusion criteria were then matched by age and gender. serotonin levels venous blood serum taken from the patient, then examined by Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).
The results showed subjects the average age was 45.5 years in the case and control 46 years, with 24 men on the case and control women and 6 women, a low degree of severity of the most widely found as many as 12 people and the type of psoriasis most is vulgaris as many as 28 people. Low serotonin levels with a cut off point <141 ng / ml was 7.7 times compared with control patients (RO = 7.7; 95% CI = 2.4 to 24.2 and P <0.001). Serum serotonin levels and the degree of severity of psoriasis is measured by the Psoriasis Area and Severity Index (PASI) PASI weak negative correlation (r = -0.06; p <0.001).
The conclusions in this study is a reduction in serum serotonin levels can increase the risk of a psoriasis was 7.7 times and negatively correlated to severity psoriasis.
Keywords: Psoriasis, Serotonin Serum, Pasi Scores.
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM... PERSYARATAN GELAR... LEMBAR PENGESAHAN... PENETAPAN PANITIA PENGUJI ………... SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... ABSTRACT... DAFTAR ISI... i ii iii iv v vi ix x xi DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... xv xvi
DAFTAR LAMPIRAN... xvii
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 4 1.3 Tujuan... 4 1.3.1 Tujuan Umum... 4 1.3.2 Tujuan Khusus... 4 1.4 Manfaat Penelitian... 4 1.4.1 Manfaat teorittis... 4 x
1.4.2 Manfaat klinis... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 6
2.1 Tinjauan Umum Psoriasis... 6
2.1.1 Definisi... 6 2.1.2 Epidemiologi... 6 2.1.3 Etiologi... 6 2.1.4 Patogenesis... 7 2.1.5 Manifestasi Klinis... 9 2.1.5.1 Psoriasis vulgaris... 10 2.1.5.2 Psoriasis gutata... 10
2.1.5.3 Psoriasis pustolosa generalisata (Von Zumbusch)... 11
2.1.5.4 Psoriasis pustulosa lokalisata... 11
2.1.6 Diagnosis... 11
2.1.7 Derajat Keparahan Psoriasis... 12
2.1.8 Penatalaksanaan... 13
2.2 Interaksi Neuroimun Psikoneuroimunologi... 15
2.3 Serotonin... 17
2.4 Peran Mekanisme Serotogenik pada Psoriasis... 19
BAB III KERANGKA BERPIKIR KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN... 24 3.1 Kerangka Berpikir... 24 3.2 Kerangka Konsep... 25 3.3 Hipotesis Penelitian... 26 xi
BAB IV METODE PENELITIAN... 25
4.1 Rancangan Penelitian... 25
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 26
4.3 Penentuan Sumber Data... 26
4.3.1 Populasi Target... 26 4.3.2 Populasi Terjangkau... 26 4.3.3 Sampel Penelitian ... 4.3.3.1 Kriteria inklusi ... 26 26 4.3.3.2 Kriteria inklusi untuk subyek bukan psoriasis... 27
4.3.3.3 Kriteria eksklusi... 27
4.3.4 Besar Sampel... 28
4.4 Variabel Penelitian... 28
4.4.1 Klasifikasi dan identifikasi variabel... 28
4.4.2 Definisi Operasional Variabel... 29
4.5 Izin/Persetujuan Subjek Penelitian ... 31
4.6 Bahan dan Instrumen Penelitian... 31
4.7 Prosedur Penelitian ... 32
4.7.1 Alur Penelitian... 33
4.7.2 Pengambilan Data... 34
4.7.2.1 Pengambilan spesimen... 35
4.7.2.2 Pemeriksaan kadar serotonin serum... 36
4.8 Analisis Data... 36
BAB V HASIL PENELITIAN………... 42
5.1 Karakteristik Sampel Penelitian Matched-Pair Case Control………….. 5.2 Perbedaan Kadar Serotonin Serum Berdasarkan Kelompok Kasus dan Kontrol ………... 5.3 Hubungan Antara Kadar Serotonin Serum dengan Derajat Keparahan Psoriasis……… 5.4 Hasil Analisis Bivariat Kadar Serotonin yang Rendah merupakan
Faktor Risiko Psoriasis………. BAB VI PEMBAHASAN……… 6.1 Karakteristik Sampel Penelitian Matched-Pair Case Control………….. 6.2 Perbedaan Kadar Serotonin Serum Berdasarkan Kelompok Kasus dan Kontrol ………... 6.3 Hubungan Antara Kadar Serotonin Serum dengan Derajat Keparahan Psoriasis……… 6.4 Kadar Serotonin yang Rendah merupakan Faktor Rsisiko Terjadinya
Psoriasis………... BAB VII SIMPULAN DAN SARAN……….
42 43 44 45 47 47 49 51 52 55 DAFTAR PUSTAKA ... 56 LAMPIRAN... 60 xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Patogenesis psoriasis... 11
Gambar 2.2 Gambaran histopatologi psoriasis... 13
Gambar 2.3 Algoritma Diagnosis dan Terapi Psoriasis... 17
Gambar 2.4 Jalur bidireksional otak-imun... 19
Gambar 2.5 Skematik peran neuromediator seperti noreephinephrin, serotonin dan dopamin dalam peningkatan sitokin pro inflamasi... 23 Gambar 4.1 Rancangan Penelitian Case Control ... 25 Gambar 4.2 Alur Penelitian... Gambar 5.1 Perbedaan Kadar Serotonin Serum antara Kelompok Kasus dan Kontrol... Gambar 5.2 Scatter plot korelasi kadar serotonin rendah terhadap PASI...
33
44 45
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Karakteristik Subjek Kasus dan Kontrol... 42 Tabel 5.2 Perbedaan Kadar Serotonin Serum antara Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol... Tabel 5.3 Hubungan Antara Kadar Serotonin Serum dengan Derajat Keparahan Psoriasis... Tabel 5.4 Hasil Analisis Kadar Serotonin Serum yang Rendah sebagai Faktor Risiko Psoriasis...
43
45
47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Keterangan Kelaikan Etik (Ethical Clearance)... Lampiran 2 Surat Ijin...
60 61 Lampiran 3 Penjelasan dan Formulir Persrtujuan Penelitian ... 62 Lampiran 4 Formulir Persetujuan Tertulis... 64 Lampiran 5 Formulir Penelitian... Lampiran 6 Lembar Psoriasis Area Severity Index (PASI)... Lampiran 7 Data Subjek Penelitian... Lampiran 8 Analisis Data...
65 68 69 71
DAFTAR SINGKATAN
APC : Antigen Precenting Cell TH1 : T Helper 1
IL-1 : Interleukin 1 IL-6 : Interleukin 6 IL-10 : Interleukin 10
EGF : Epidermal Growth Factor NGF : Nerve Growth Factor
EVGF : Endothelial Vascular Growth Factor HPA : Hipotalamus Pitutaryadrenal Axis TNF- : Tumor Necrosis Factor
5HT : Serotonin
HLA : Human Leucocyte Antigen PASI : Psoriasis Area and Severity Index UVB Ultraviolet B
CRH : Corticotophin Releasing Hormone ACTH : Adrenocorticotrophic Hormone CGRP : Calcitonin gene-related peptide TPH : Hidroksilase tryptophan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Psoriasis adalah suatu penyakit eritroskuamosa dengan lesi kulit yang khas berupa plak eritematosa, sirkumskripta dan ditutupi oleh skuama putih keperakan dengan lokasi yang khas. Perjalanan penyakit ini bersifat kronis dan residif. Pada kulit normal, sel basal di stratum basalis membelah diri, bergerak keatas secara teratur sampai menjadi stratum korneum sekitar 28 hari, kemudian lapisan keratin dipermukaan kulit dilepaskan serta digantikan yang baru. Namun pada psoriasis, proses tersebut hanya berlangsung beberapa hari sehingga terbentuk skuama tebal, berlapis-lapis serta berwarna keperakan.
Prevalensi psoriasis sangat bervariasi di beberapa negara, diperkirakan prevalensi di dunia antara 1% sampai 3% jumlah penduduk. Insiden di Amerika Serikat sebesar 2-2,6% di Eropa Tengah sekitar 1,5% (Gudjonsson dkk, 2012). Psoriasis tipe plak merupakan tipe yang paling sering dijumpai, meliputi 80% dari total kasus (Wiryadi, 2004). Penyakit ini biasanya dimulai pada usia 10-30 tahun dan risiko yang sama pada pria dan wanita. Jika muncul pada usia kurang dari 15 tahun, biasanya terdapat riwayat psoriasis dalam keluarga. Penyakit ini mengenai seluruh tubuh relatif berat, namun memberikan respon yang baik terhadap pengobatan (Wiryadi, 2004). Berdasarkan data kunjungan pasien di Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah Denpasar pada Januari 2015 hingga 31 Desember tercatat 72 kasus psoriasis dari total 302 kunjungan pasien di subdivisi imunologi.
Patogenesis psoriasis terjadi akibat diferensiasi dan proliferasi keratinosit yang disertai proses inflamasi pada epidermis maupun dermis. Peranan faktor imunologi dalam patogenesis psoriasis ditunjukkan dengan adanya peningkatan aktifitas sel presentasi antigen (Antigen Precenting Cell/APC), yang disertai peningkatan aktivitas sel Limfosit T Helper 1(Th1) dengan mensintesis sitokin pro inflamasi seperti; Interleukin 1 (IL-1), IL-6, IL-10, Interferon-gamma (INFγ) dan Tumor Necrosis Factor (TNF). Sitokin proinflamasi ini akan memediasi aktivitas faktor-faktor pertumbuhan seperti Epidermal Growth Factor (EGF), Nerve Growth Factor (NGF), Endhotelial Vascular Growth Factor (EVGF) yang akhirnya terjadi proliferasi keratinosit disertai proses peradangan (Joshi, 2004; Chan dkk., 2006; Ghoreschi dkk.,2007; Brezinski dkk.,2013).
Penyebab pasti psoriasis belum diketahui, namun banyak faktor yang diduga sebagai pemicu timbulnya psoriasis seperti faktor genetik, imunologi, gangguan metabolisme lemak dan stres psikologis. Stres psikologis dapat mengakibatkan menurunnya respons terapi dan menyebabkan bertambah beratnya keadaan pasien. Hormon stres, seperti kortisol, norepinefrin, serotonin dan dopamin dapat mengganggu keseimbangan sitokin proinflamasi, sebagai akibat dari stimuli stres terhadap sumbu Hipotalamus-pituitaryadrenal (HPA) (Crusher dkk., 2012).
Serotonin adalah suatu monoamin neurotransmiter yang berasal dari Tryptophan, dapat ditemukan pada gastrointestinal, platelet darah dan sistem saraf pusat pada manusia. Serotonin dipercaya sebagai hormon yang berperan sebagai pemberi rasa nyaman atau senang. (Moynihan dkk 2010). Keadaan gembira dapat
meningkatkan kadar serotonin, sedangkan pada keadaan stres psikologis dan depresi dapat menurunkan kadar serotonin. (Roman dkk, 2016).
Neuron serotogenik didistribusikan baik di raphe dorsalis dan raphe median, yang kemudian menanggapi berbagai jenis stres, sehingga terjadi peningkatan produksi kortisol. Selanjutya kortisol dirilis dari kelenjar adrenal melintasi pembuluh darah di otak dan bertindak sebagai reseptor kortisol yang terletak di dorsal raphe neuron serotogenik. Stres dan gangguan mood dipengaruhi oleh serotonin yang dimediasi melalui berbagai subtipe reseptor. Kortisol selanjutnya akan meningkatkan sitokin-sitokin pro inflamasi, seperti seperti IL-1, IL-6 dan TNF-α yang berperan pada patogenesis psoriasis (Thoursland dkk 2010). Sistem serotogenik yang terdiri dari sel molekul serotonin, reseptor serotonin dan transporter serotonin memainkan peran penting dalam psoriasis. Hipotesis ini ditunjang dengan penelitian sebelumnya yang membandingkan jumlah serotonin serum pada pasien psoriasis dan bukan psoriasis dengan metode pemeriksaan serotonin menggunakan teknik Imunohistokimia menunjukkan penurunan secara signifikan jumlah serotonin serum pada pasien psoriasis (Tencomnao dkk, 2007).
Berlandaskan pengetahuan akan hal-hal tersebut diatas maka penelitian ini dilakukan dengan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mencari dan membuktikan penurunan serotonin serum sebagai faktor risiko dengan menggunakan desain penelitian case control. Apabila hasil penelitian ini kemudian menunjukkan adanya hubungan kadar serotonin rendah menyebabkan
terjadinya psoriasis, maka selanjutnya berbagai upaya penatalaksanaan dapat dilakukan pada penderita psoriasis sehingga dapat mencegah kekambuhan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat perbedaan kadar serotonin serum pada subjek psoriasis dan subjek non psoriasis ?
2. Apakah kadar serotonin serum berhubungan dengan skor pasi pada pasien psoriasis ?
3. Apakah kadar serotonin serum yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya psoriasis ?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum:
Utuk mengetahui kadar serotonin serum yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya psoriasis.
1.3.2. Tujuan Khusus:
1. Untuk membuktikan perbedaan kadar serotonin serum pada subjek psoriasis dan non psoriasis.
2. Untuk membuktikan kadar serotonin serum berhubungan dengan skor pasi pada pasien psoriasis.
3. Untuk membuktikan kadar serotonin serum yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya psoriasis.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis:
Untuk dapat memberikan pengetahuan tentang kadar serotonin serum yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya psoriasis
1.4.2. Manfaat Klinis:
Terbuktinya kadar serotonin serum yang rendah sebagai faktor risiko pada psoriasis sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam penatalaksanaan psoriasis dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menilai derajat keparahan psoriasis.