DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL DALAM ... i
PERSYARATAN GELAR ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... v
UCAPAN TERIMAKASIH ... vi
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
RINGKASAN ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 13
1.3 Tujuan Penelitian... 13
1.4 Manfaat Penelitian... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Technology Acceptance Model (TAM) ... 15
2.1.2 Task Technology Fit (TTF) ... 16
2.1.3 E–Billing ... 17
2.1.4 Pengaruh Persepsi Kegunaan ... 20
2.1.5 Pengaruh Persepsi Kemudahan ... 21
2.1.6 Pengaruh Sikap terhadap Perilaku ... 21
2.2 Penelitian Terdahulu ... 22
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Berpikir ... 25
3.2 Konsep Penelitian ... 27
3.3 Hipotesis Penelitian ... 28
3.3.1 Persepsi Kegunaan ... 28
3.3.2 Persepsi Kemudahan ... 29
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian ... 31
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
4.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 31
4.4 Penentuan Sumber Data 4.4.1 Jenis Data ... 33
4.4.2 Sumber Data ... 33
4.5 Metode Penentuan Sampel ... 33
4.6 Variabel Penelitian ... 34
4.7 Intervalisasi Data ... 37
4.8 Instrumen Penelitian ... 37
4.9 Analisis Data ... 39
4.9.1 Uji Asumsi Klasik ... 39
4.9.2 Uji Analisis Regresi Linier Berganda ... 41
4.9.3 Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit) .... 42
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Gambara Umum Responden ... 44
5.2 Penilaian Responden ... 45
5.3 Intervalisasi Data ... 48
5.4 Hasil Uji Statistik Desktriptif ... 50
5.5 Pengujian Instrumen Penelitian ... 51
5.5.1 Hasil Uji Validitas ... 51
5.5.2 Hasil Uji Reliabilitas ... 52
5.6 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 53
5.6.1 Hasil Uji Normalitas ... 53
5.6.2 Hasil Uji Multikolinieritas ... 53
5.6.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 54
5.7 Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda ... 55
5.7.1 Hasil Uji Statistik F ... 55
5.7.2 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R²)... 56
5.7.3 Hasil Uji Statistik t ... 56
5.7.4 Pengujian Hipotesis ... 58
5.8 Pembahasan Hasil Penelitian ... 59
5.8.1 Pengaruh Persepsi Kegunaan ... 60
5.8.2 Pengaruh Persepsi Kemudahan ... 61
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan... 63
6.2 Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
PENGARUH PERILAKU WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PADA PENGUNAAN E-BILLING DI KPP PRATAMA DENPASAR BARAT
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh persepsi kegunaan pada perilaku dalam penggunaan e-billing, menguji secara empiris pengaruh persepsi kemudahan pada perilaku dalam penggunaan e-billing serta untuk menguji secara empiris pengaruh sikap terhadap perilaku dalam penggunaan e-billing. Penelitian ini dilakukan di KPP Pratama Denpasar Barat pada tahun 2017. Sampel penelitian adalah wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Denpasar Barat yang telah menggunakan e-billing system. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling sehingga diperoleh jumlah responden sebanyak 120 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui metode survey dengan teknik kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda.
Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi kegunaan berpengaruh positif pada penggunaan e-billing, persepsi kemudahan berpengaruh positif pada penggunaan e-billing serta sikap terhadap perilaku berpengaruh positif pada
penggunaan e-billing. Hal ini berarti penggunaan e-billing akan meningkat jika pengguna memiliki persepsi bahwa e-billing memiliki kegunaan. Penggunaan e-billing akan meningkat jika pengguna memiliki memiliki persepsi bahwa e-billing
mudah untuk digunakan. Penggunaan e-billing akan meningkat jika pengguna memiliki sikap positif seperti: merasa nyaman, senang dan menikmati menggunakan e-billing akan cenderung selalu menggunakan e-billing system dibandingkan dengan pengguna yang memiliki sikap negatif.
Kata Kunci: e-billing, TAM, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, sikap terhadap perilaku, wajib pajak orang pribadi.
THE INFLUENCE OF INDIVIDUAL TAXPAYER BEHAVIOR ON THE USE OF E-BILLING IN KPP PRATAMA DENPASAR BARAT
ABSTRACT
This study aims to empirically test the effect of perceived usefulness on behavior in the use of e-billing, empirically test the effect perceived ease of use on behavior in the use of e-billing and to test empirically influence attitude toward behavior in the use of e-billing. This research was conducted in KPP Pratama Denpasar Barat in 2017.
Sample research is all individual taxpayers registered in KPP Pratama Denpasar Barat who have been using e-billing system. Sampling technique using convenience sampling so that the number of respondents as much as 120 people. Data used in this research is primary data obtained through survey method with questionnaire technique. The analysis technique used is Multiple Linear Regression.
The result of the analysis shows that perceived usefulness have positive effect on the use of e-billing, the perceived ease of use has positive effect on the use of e-billing as well as the attitude toward the behavior has a positive effect on the use of e-billing. This means that the use of e-billing will increase if the user has the perception that e-billing has usability. The use of e-billing will increase if the user has a perception that e-billing is easy to use. The use of e-billing will increase if users have a positive attitude such as: feel comfortable, happy and enjoy using e-billing will tend to always use e-e-billing system compared with users who have negative attitude.
Keywords: e-billing, TAM, perceived usefulness, perceived ease of use, attitude toward behavior, individual taxpayers.
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bagian ini akan dipaparkan latar belakang dari e-billing sebagai obyek penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian yang ingin dicapai serta manfaat penelitian yang diharapkan.
1.1 Latar Belakang
Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Soemitro dalam Resmi, 2014:1). Pajak memiliki dua fungsi yaitu fungsi budgeter (sumber keuangan negara) dan fungsi regulator (pengatur). Pajak berperan sebagai fungsi budgeter artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin
maupun pembangunan, pada fungsi ini pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara
ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak. Pajak berperan sebagai fungsi pengatur artinya pajak sebagai alat mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan (Resmi, 2014:3).
Pajak sangat penting karena merupakan salah satu sumber penerimaan negara terbesar. Pajak berperan dalam upaya menyejahterakan masyarakat Indonesia melalui pembangunan fasilitas umum dan infrastruktur seperti jembatan, sekolah,
rumah sakit, puskesmas maupun pertahanan dan keamanan, subsidi atas pangan dan bahan bakar minyak, dana pemilu, kelestarian lingkungan hidup dan budaya serta pengembangan alat transportasi massa dan sebagainya. Begitu pentingnya peran pajak maka diharapkan kesadaran dari seluruh rakyat Indonesia terutama yang memiliki penghasilan minimal sesuai ketentuan aturan perpajakan untuk turut berperan dalam memenuhi kewajibannya kepada negara melalui pajak dengan mendaftarkan diri sebagai wajib pajak dengan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Menurut Gerger et al. (2014) keadilan dan kepercayaan terhadap pemerintahan memiliki dampak signifikan pada perspektif pembayar pajak. Saad (2014) wajib pajak memiliki pengetahuan teknis yang tidak memadai dan menganggap sistem pajak yang kompleks dimana pengetahuan pajak dan kompleksitas pajak dipandang sebagai faktor terhadap perilaku ketidakpatuhan wajib pajak.
Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi juga mengalami kemajuan yang cukup pesat terutama pada perkembangan teknologi internet salah satunya adalah kemajuan teknologi dalam bidang pengarsipan elektronik bersifat lebih praktis dan memiliki tingkat resiko yang lebih kecil dari pada arsip secara manual. Teknologi ini telah digunakan oleh berbagai instansi-instansi dan juga pelaku bisnis. Direktorat Jenderal Pajak juga telah menggunakan arsip elektronik yang digunakan untuk mendokumentasikan semua arsip dengan tujuan untuk memudahkan, meningkatkan serta mengoptimalisasikan pelayanan kepada Wajib Pajak (Lie dan Sadjiarto, 2013). Informasi yang berkualitas akan terbentuk dari adanya sistem informasi (SI) yang dirancang dengan baik (Handayani,
2007). Sejalan dengan perkembangan informasi dan teknologi, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berusaha untuk memenuhi aspirasi wajib pajak (WP) dengan mempermudah tata cara pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) baik itu SPT Masa maupun SPT Tahunan. Pembaharuan dalam sistem perpajakan yang dilakukan oleh DJP sebagai bagian dari reformasi perpajakan khususnya administrasi perpajakan. Modernisasi pajak ditandai dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan perpajakan. Peningkatan pelayanan perpajakan terlihat dengan dikembangkannya administrasi perpajakan modern dan teknologi informasi di berbagai aspek kegiatan. Asriningsih dan Noviari (2014), menyatakan penerapan e-SPT PPh Pasal 21 berpengaruh pada efisiensi pemrosesan data perpajakan bagi wajib pajak badan, peran teknologi informasi salah satunya mampu meningkatkan efisiensi dalam pemrosesan data.
Bird dan Zolt (2008), menyatakan kemajuan teknologi mengubah lingkungan pajak di negara-negara berkembang. Dillon (2001), menyatakan teknologi harus memenuhi persyaratan kegunaan dasar dan dianggap berguna oleh komunitas pengguna yang dimaksudkan dimana pengalaman pengguna dan pelatihan akan berdampak pada tingkat penerimaan seperti bagaimana cara teknologi tersebut diterapkan untuk berkontribusi pada tujuan organisasi dan praktek kerja. Radecki dan Wenninger (1999), menyatakan sistem pembayaran elektronik akan mengubah cara banyak rumah tangga membayar tagihan bulanan mereka. Sistem ini cenderung meningkatkan kenyamanan konsumen dan mengurangi biaya billers’. Beberapa faktor bisa memperlambat meluasnya penggunaan penagihan elektronik dan pembayaran termasuk resistensi pelanggan untuk mengubah, akses terhadap
teknologi dan masalah privasi konsumen. Menurut Al-Ani et al. (2012) konsep keamanan telah diterapkan dalam suatu sistem pembayaran berbasis internet untuk melindungi sistem dari akses yang tidak sah. Masalah keamanan telah diterapkan melalui password terenkripsi.
Berbagai kemudahan dalam mendaftarkan diri sebagai WP melalui e-registration, dalam menyampaikan SPT Tahunan baik bagi WP Orang Pribadi
maupun bagi WP Badan melalui e-filing dan membayar pajak melalui e-billing. Sosialisasi yang sangat gencar dilakukan oleh unit-unit KPP dan unit-unit Bidang Pelayanan, Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Kantor Wilayah (Kanwil-Kanwil) serta oleh Direktorat P2Humas Kantor Pusat DJP baik melalui sosialisasi tatap muka langsung melalui berbagai workshop, seminar, olahraga bersama, Car Free Day dan banyak kegiatan outdoor lainnya maupun sosialisasi tanpa tatap muka langsung melalui situs www.pajak.go.id, media elektronik televisi dan radio, media cetak koran, buku-buku pelajaran sekolah dan booklet-booklet, serta melalui media online dan media sosial (medsos) ternyata belum dapat menggugah kesadaran belasan juta WP dan lebih banyak puluhan juta lagi orang pribadi pekerja dan penerima penghasilan untuk mendaftarkan diri sebagai WP dan melaksanakan seluruh kewajiban perpajakannya dengan baik dan benar (Direktorat Jenderal Pajak, 2016)
Sejalan dengan tumbuhnya pengguna internet munculnya beberapa produk
elektronik yang populer dalam pajak antara lain e-SPT, e-Faktur, e-Filing dan e-Billing yang memudahkan wajib pajak untuk membayarkan pajaknya dengan
dalam pemenuhan kewajiban perpajakan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas elektronik yang telah disediakan Direktorat Jenderal Pajak. Salah satu fasilitas tersebut adalah sistem pembayaran elektronik (billing system). Sistem pembayaran pajak secara elektronik adalah bagian dari sistem penerimaan negara secara elektronik yang diadministrasikan oleh Biller Direktorat Jenderal Pajak dan menerapkan Billing System.
E-billing system adalah metode pembayaran elektronik dengan menggunakan kode billing. Transaksi pembayaran atau penyetoran pajak secara elektronik dilakukan melalui bank/pos persepsi dengan menggunakan kode billing. Kode billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan melalui sistem billing atas suatu jenis pembayaran atau setoran yang akan dilakukan Wajib Pajak (Direktorat Jenderal Pajak, 2017. http://www.pajak.go.id.e-biling). Adapun tahapan proses billing system ada 3 (tiga tahapan). Tahapan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1
1) Proses pendaftaran
a. Buka browser, browse ke http://sse.pajak.go.id pilih daftar baru
b. Input sesuai data wajib pajak (NPWP, email yang valid untuk konfirmasi, user ID) klik register
c. Anda akan menerima konfirmasi aktivasi melalui email yang telah
dimasukkan ke dalam tahap sebelumnya. Pada email tersebut akan tertera PIN dan User ID yang telah didaftarkan beserta link aktivasinya. Klik link aktivasi tersebut atau masukkan kode aktivasi secara manual. Registrasi menjadi peserta e- billing selesai.
2) Proses pembuatan kode billing
a. Buka browser, browse ke http://sse.pajak.go.id pilih login b. Masukkan NPWP dan PIN
c. Input data setoran pajak (jenis pajak, kode setoran, masa pajak, tahun pajak dan nilai nominal pajak yang akan dibayar)
3) Proses pembayaran
Catat / cetak kode e- billing tersebut untuk diinput guna pembayaran pajak melalui loket Bank atau Kantor Pos, internet banking dan Anjungan Tunai Mandiri (ATM).
Ketentuan Billing System yang perlu diperhatikan:
a. Kode Billing berlaku dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan dan setelah itu secara otomatis terhapus dari sistem dan tidak dapat dipergunakan lagi. Anda dapat membuatnya kembali apabila kode billing telah terhapus secara sistem.
b. Apabila terdapat perbedaan data antara data elektronik dengan hasil cetakan maka yang dijadikan pedoman adalah data yang terdapat pada data eletronik yang berada di Kementerian Keuangan. (Direktorat Jenderal Pajak, 2015).
Tabel 1.1
Daftar KPP dan KP2KP di Bali
No Kode KPP Nama Unit Wilayah Kerja
1 901 KPP Pratama Denpasar Barat
Kecamatan Denpasar Barat dan Kecamatan Denpasar Utara
2 902 KPP Pratama Singaraja Kabupaten Buleleng 3 903 KPP Pratama Denpasar
Timur
Kecamatan Denpasar Timur, dan Kec. Denpasar Selatan 4 904 KPP Madya Denpasar Seluruh Provinsi Bali
5 905 KPP Pratama Badung
Selatan
Kecamatan Kuta Selatan dan Kec. Kuta
6 906 KPP Pratama Badung Utara KP2KP Kerobokan
Kecamatan Kuta Utara, Kec. Mengwi, Kec. Petang, dan Kec. Abiansemal 7 907 KPP Pratama Gianyar KP2KP Ubud KP2KP Amlapura Kabupaten Gianyar, Kab. Bangli, Kab.Klungkung, dan Kab. Karangasem 8 908 KPP Pratama Tabanan
KP2KP Negara
Kabupaten Tabanan dan Kab. Jembrana
Berdasarkan data tersebut di Bali ada sebanyak 8 (delapan) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan 4 (empat) Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP). KPP mempunyai tugas melaksanakan
penyuluhan, pelayanan dan pengawasan kepada wajib pajak sedangkan untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh KPP maka pelaksanaan pelayanan, penyuluhan dan konsultasi
perpajakan dilaksanakan oleh unit KP2KP.
Tabel 1.2
Jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi di Bali
No Nama KPP Jumlah Wajib Pajak
Orang Pribadi
1 KPP Pratama Denpasar Barat 94.199
2 KPP Pratama Singaraja 70.592
3 KPP Pratama Denpasar Timur 91.084
4 KPP Madya Denpasar 0
5 KPP Pratama Badung Selatan 52.443
6 KPP Pratama Badung Utara 57.473
7 KPP Pratama Gianyar 137.649
8 KPP Pratama Tabanan 96.531
Total 599.971
Sumber : Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Bali (2017)
Berdasarkan data di atas jumlah wajib pajak orang pribadi sampai dengan akhir tahun 2016 sebanyak 599.971 WP dimana dari data tersebut dapat dilihat bahwa KPP Pratama Denpasar Barat memiliki jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) terbesar jika dibandingkan dengan KPP lainnya yang berada di Denpasar.
Tabel 1.3
Jumlah WP OP Pengguna E-Billing
No Nama KPP WP OP
Pengguna E-Billing 1 KPP Pratama Denpasar Barat 24.591 2 KPP Pratama Singaraja 16.012 3 KPP Pratama Denpasar Timur 22.605 4 KPP Madya Denpasar - 5 KPP Pratama Badung Selatan 11.187 6 KPP Pratama Badung Utara 10.014 7 KPP Pratama Gianyar 29.750 8 KPP Pratama Tabanan 27.120 Total 141.279 Sumber : Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Bali (2017)
Berdasarkan data tersebut jumlah WP OP pengguna e-billing di Bali sampai dengan akhir tahun 2016 sebanyak 141.279 WP dan dari data tersebut dapat dilihat bahwa KPP Pratama Denpasar Barat memiliki jumlah WP OP pengguna e-billing terbesar jika dibandingkan dengan KPP lainnya yang berada di Denpasar. WP OP pengguna e-billing di Bali baru mencapai 23,5% dari jumlah WP OP yang terdaftar di Bali. Demikian juga WP OP pengguna e-billing di KPP Pratama Denpasar Barat baru mencapai 26,1% dari jumlah WP OP yang terdaftar di KPP Pratama Denpasar
Barat. Sejak diberlakukan efektif per 1 Juli 2016 ternyata WP OP pengguna e-billing di Bali masih relatif rendah.
Penggunaan sistem e-billing pajak merupakan bagian dari sistem penerimaan negara secara elektronik yang telah diadministrasikan oleh Biller DJP dan secara resmi menggunakan Modul Penerimaan Negara Generasi 2 (MPN G2). MPN G2 digunakan guna mendukung pelaksanaan cash management yang baik dengan menyajikan informasi penerimaan negara secara real time yang didukung
keandalan teknologi informasi dalam penerapan Treasury Single Account. MPN G2 melayani seluruh transaksi penerimaan negara antara lain pajak, bea dan cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Pengguna e-billing adalah wajib pajak orang pribadi atau badan yang meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Aplikasi e-billing yang mulai efektif diberlakukan per 1 Juli 2016 ini menjamin keamanan transaksi elektronik antara WP dan DJP. Lebih lanjut aplikasi ini menawarkan kemudahan pembayaran pajak secara elektronik dengan segala kelebihan antara lain mudah, cepat dan akurat. Dikatakan mudah karena dalam proses pembayaran pajaknya penyetor tidak perlu lagi repot mengisi kertas Surat Setoran (Surat Setoran Pajak/SSP, Surat Setoran Bukan Pajak/SSBP, Surat Setoran Pengembalian Belanja/SSPB) manual. Penggunaan sistem e-billing ini menyimpan surat setoran pajak secara elektronik dan menghasilkan kode ID billing pajak 15 digit untuk proses pembayaran di Bank persepsi atau kantor pos. Bank penerima pembayaran telah menyediakan beberapa pilihan fitur pembayaran online yang fleksibel sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pembayar pajak antara lain ATM, Electronic Data Capture (EDC), teller bank atau bahkan internet banking. Pembayaran pajak melalui sistem kode e-billing ini, WP akan menerima BPN (Bukti Penerimaan Negara) yang status dan kedudukannya sama dengan SSP sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 242/ PMK.03/2014 dan diharapkan WP menyimpan bukti setoran setelah melakukan pembayaran.
Penggunaan sistem e-billing menyederhanakan proses pengisian data dalam rangka penyetoran pajak. Selanjutnya pengisian dalam sistem SSE (Surat Setoran Elektronik) yang sederhana akan meminimalisir kesalahan data entry dari sisi WP. Manfaat lainnya sistem ini juga meminimalisir potensi terjadinya human error dalam perekaman data pembayaran dan penyetoran oleh petugas Bank Persepsi atau Pos. Kelebihan lainnya e-billing memberikan akses kepada WP PNBP untuk memonitor status atau realisasi pembayaran dari penyetoran PNBP, memberikan keleluasaan kepada wajib pajak untuk merekam data setoran secara mandiri atau self assessment system (www.online-pajak.com, 2017)
Sistem e-billing sudah ditetapkan sejak tahun 2014 dan baru berlaku efektif bulan Juli 2016 tetapi belum semua WP menggunakan e-billing system. Masih adanya wajib pajak yang menganggap penggunaan sistem komputer dalam pembuatan ID billing masih menyulitkan jika dibandingkan secara manual yang
sebelumnya menggunakan SSP (Surat Setoran Pajak) maupun alternatif solusi dengan pembayaran via ATM tanpa perlu membuat ID billing pada sistem e-billing dirasakan lebih praktis selain masalah koneksi internet juga
menjadi salah satu kendala bagi beberapa WP. Bagi WP yang penghasilan sudah dipotong atau dipungut oleh pihak lain tentu menjadi alasan bagi WP untuk tidak menggunakan e-billing.
Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi, teori ini dikenalkan oleh Davis (1986).
TAM memprediksi penerimaan pengguna pada teknologi berdasarkan perceived usefulness (persepsi kemanfaatan atau kegunaan) dan perceived ease of use (persepsi kemudahan penggunaan) yang akan mempengaruhi sikap pada perilaku attitude toward behavior (sikap terhadap perilaku) individu dalam penggunaan teknologi informasi, yang selanjutnya akan menentukan perilaku dari individu tersebut apakah akan menggunakan teknologi informasi. Dalam penelitian ini yang dimaksudkan sistem teknologi informasi adalah e-billing system, dengan pengguna sistem adalah wajib pajak. Sehingga dengan demikian penerimaan pengguna teknologi informasi oleh WP adalah keinginan yang ditunjukkan oleh WP untuk menggunakan e-billing serta keluasan penggunaan e-billing yang diserap oleh WP untuk melakukan suatu proses penyetoran pajak.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Gardner dan Amoroso (2004) terhadap penerimaan teknologi internet dengan menggunakan teori TAM dengan menggunakan beberapa variabel-variabel untuk penerapan penggunaan teknologi e-billing di Indonesia khususnya wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Denpasar Barat. Obyek penelitian ini adalah penggunaan e-billing yang merupakan produk elektronik terbaru yang dikeluarkan oleh DJP dengan fokus penelitian adalah perilaku WP OP ditinjau dari persepsi kegunaan, persepsi kemudahan maupun sikap terhadap perilaku pada penggunaan e-billing sebagai suatu sistem teknologi informasi berbasis internet.
1.2 Rumusan Masalah
Penelitian ini dirancang untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian yang berkembang dari latar belakang sebagai berikut:
1) Apakah persepsi kegunaan berpengaruh pada penggunaan e-billing? 2) Apakah persepsi kemudahan berpengaruh pada penggunaan e-billing? 3) Apakah sikap terhadap perilaku berpengaruh pada penggunaan e-billing?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: 1) Untuk menguji secara empiris pengaruh persepsi kegunaan pada perilaku
dalam penggunaan e-billing.
2) Untuk menguji secara empiris pengaruh persepsi kemudahan pada perilaku dalam penggunaan e-billing.
3) Untuk menguji secara empiris pengaruh sikap terhadap perilaku dalam penggunaan e-billing.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1) Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam pengembangan ilmu akuntansi keperilakuan yang berkaitan dengan Sistem Informasi Akuntansi. Fokus utama mengenai perilaku wajib pajak pada penggunaan sistem informasi. Penelitian ini didasarkan pada teori TAM yang diimplementasikan ke dalam kasus penggunaan teknologi e-billing.
Diharapkan hasil penelitian ini mampu mempertegas fungsi praktis dari teori TAM.
2) Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada seluruh pihak yang berkepentingan dengan penelitian ini, diantaranya pemerintah dan pengguna sistem e-billing yaitu wajib pajak. Bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan umpan balik untuk meningkatkan pelayanan bagian sistem informasi dan pemeliharaan sistem informasi yang bersangkutan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis untuk mengembangkan aplikasi e-billing selanjutnya.