• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

7

Penelitian tentang pembentukan brand image telah banyak dilakukan dalam 6 tahun kurun waktu terakhir. Adapun beberapa jurnal yang dipakai sebagai referensi untuk penelitian ini adalah sebagai berikut.

Penelitian yang dilakukan oleh Ranjbarian, Bahram, Sanayei, Ali, Kaboli, Majid Rashid, Hadadian, Alireza (2012) berjudul “An Analysis of Brand image, Perceived Quality, Customer Satisfaction and Re-purchase Intention in Iranian Department Stores.” Meneliti tentang brand image adalah sebuah modal yang sangat berharga, dan sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Menurut penelitian Huber dan Herman membuktikan adanya hubungan signifikan dan positif antara brand image dengan tingkat loyalitas pelanggan. Keterkaitan dengan penelitian yaitu jika mempunyai brand image yang bagus, maka tingkat loyalitas dari konsumen juga meningkat. Sebuah teori umum yang berkaitan dengan brand image adalah bahwa mentalitas yang baik tentang merek akan memiliki efek positif pada perilaku konsumen seperti pembeli lebih setia.

Penelitian kedua yang dilakukan oleh Evawati (2012) Yang berjudul “Kualitas Produk dan citra merek (Brand image) Mc Donals pengarunya terhadap kepuasan konsumen” Meneliti tentang kepuasan konsumen merupakan faktor penting dalam pemsaran barang maupun jasa. Image suatu brand dapat mempengaruhi pikiran pelanggan melalui kombinasi dari iklan, Public Relations, Citra fisik, Cerita dari mulut ke mulut, dan pengalam aktual terhadap produk dan jasa yang ditawarkan. Image sebuah perusahaan berpengaruh terhadap perilaku konsumen karna brand image memiliki pengaruh terhadap persepsi konsumen tentang pelayanan yang ditawarkan. Hasil penelitian So et al, (2010) menunjukkan kepuasan pelanggan juga memiliki hubungan yang kuat dan memberikan kontribusi bagi brand image. Keterkaitan dengan penelitian yaitu Image suatu brand dapat mempengaruhi pikiran pelanggan melalui kombinasi dari iklan, Public Relations, Citra fisik, Cerita dari mulut ke mulut, dan pengalam aktual terhadap produk dan jasa yang ditawarkan, sehingga dapat terbentuk persepsi konsumen terhadap PT Indonesia Media Televisi.

Kemudian pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Grace Kavengi Onyancha (2013) Yang berjudul“The Impact of Bank Brand image on Customer

(2)

kepuasan pelanggan, citra merek dan loyalitas pelanggan. Dengan kata lain, penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi pelanggan dari interaksi mereka dengan perusahaan jasa dipengaruhi oleh pengalaman layanan disampaikan. Penelitian ini juga beberapa implikasi manajerial. Pemasar dari penyedia layanan dapat menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan ekuitas merek mereka melalui pengiriman pengalaman pelanggan yang menarik dalam banyak aspek. Keterkaitan dengan penelitian yaitu dimana brand image merupakan aspek penting dari kegiatan pemasaran. Oleh karna itu dapat disimpulkan bahwa brand image merupakan sebuah persepsi dari pelanggan yang tercermin dari asosiasi merek yang berada diingatan konsumen. Asosiasi mereka ini berasal dari pengalaman pelanggan secara langsung atau melalui informasi-informasi yang diterima dari penawaran pasar.

Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sem Christina Hawila Sibagariang, dan Tinjung Desy Nursanti (2010) Yang berjudul “Pengaruh brand image dan brand trust terhadap brand loyalty pada PT Bank Sinarmas.” Menyatakan bahwa brand image merupakan sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image. Simamora (2002) berpendapat bahwa dalam konsep brand image terdapat 3 komponen penting, yaitu corporate image, user image, dan product image. Jadi dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa brand image adalah sejumlah keyakinan tentang merek, dimana konsumen yakin akan brand tersebut dan tidak ada keraguan untuk memakai brand Big TV sebagai pilihan konsumen.

Adapun penelitian terakhir yang dilakukan oleh Severi, Erfan, Ling, Kwek Choon (2013) Yang meneliti tentang brand image dapat didefinisikan sebagai merek yang dibawa dari asosiasi merek ke benak konsumen. Brand image sebagai citra brand yang berada di pikiran konsumen, dimana brand image juga dapat didefinisikan sebagai apa yang konsumen pikirkan dan rasakan. Berdasarkan Bearden dan Etzel brand image juga memiliki keterkaitan dengan kualitas produk tersebut.

Keterkaitan dengan penelitian ini yaitu apabila brand image nya baik, maka akan mempengaruhi kualitas dan nilai dari produk tersebut. Akibatnya, perilaku pelanggan akan terpengaruh dan ditentukan oleh brand image. Konsumen

(3)

oleh konsumen sebagai produk dengan kualitas yang unggul. Selain itu, Jacoby et al. melakukan penelitian dan menemukan bahwa persepsi konsumen terhadap kualitas dan nilai sangat dipengaruhi oleh brand image.

Tabel 2.1 State Of The Art

No. Nama

Peneliti Tahun

Judul Penelitian

Metode

Penelitian Hasil Penelitian 1. Ranjbarian, Bahram; Sanayei, Ali; Kaboli, Majid Rashid; Hadadian, Alireza. 2012 An Analysis of Brand image, Perceived Quality, Customer Satisfaction and Re-purchase Intention in Iranian Department Stores.

Kualitatif Dalam penelitian ini, hubungan antara brand image, persepsi kualitas, kepuasan pelanggan, dan pembelian kembali produk diselidiki di department store Iran. Model penelitian sangat dikonfirmasi oleh data yang dikumpulkan. Kualitas yang dirasakan sangat mempengaruhi pada brand image, kepuasan pelanggan, dan loyalitas pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan

(4)

meningkatkan kualitas layanan di Iran department store, brand image dan kepuasan pelanggan akan meningkat. Image mempengaruhi kepuasan pelanggan. Dengan kata lain, lebih tinggi brand image storenya dapat menyebabkan konsumen lebih puas dan tingkat loyalitasnya tinggi. 2. Evawati 2012 Kualitas Produk

dan citra merek (Brand image) Mc Donals. pengarunya terhadap kepuasan konsumen. Kuantitatif Penelitian menganalisis pengaruh kualitas produk dan citra merek (brand image) terhadap kepuasan konsumen pada McDonals Alfa Indah di Jakarta Barat. Responden penelitian sebanyak 40 orang yang diambil dengan

(5)

metode convenience sampling. Kepada responden diberikan kuisioner berupa pertanyaan tertutup dengan pengukuran variable menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari kualitas produk dan brand image terhadap kepuasan konsumen. 3. Grace Kavengi Onyancha 2013 The Impact of Bank Brand image on Customer Satisfaction and Loyalty: A Case of Kenya Commercial Bank

Kuantitatif Penelitian ini memperluas penelitian layanan saat ini dengan mengeksplorasi hubungan antara kepuasan pelanggan, citra merek dan loyalitas pelanggan. Dengan

(6)

kata lain, penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi pelanggan dari interaksi mereka dengan perusahaan jasa dipengaruhi oleh pengalaman layanan disampaikan. Penelitian ini juga beberapa implikasi manajerial. Pemasar dari penyedia layanan dapat menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan ekuitas merek mereka melalui pengiriman pengalaman pelanggan yang menarik dalam banyak aspek. Dengan berfokus pada kepuasan pelanggan, merek layanan memiliki pandangan holistik apa yang mereka

(7)

berikan kepada pelanggan. Memang layanan saat ini

didefinisikan oleh banyak ahli sebagai pengalaman (Lusch dan Varga, 2006; Schembri, 2006; Zomerdijk dan Voss, 2010) dan mengikuti logika ini, kami menyadari bahwa pengalaman pelanggan

sebenarnya perusahaan "produk". Oleh karena itu, semua fungsi manajerial dan departemen harus selaras untuk memberikan pengalaman pelanggan yang menarik secara keseluruhan melalui interaksi dengan pelanggan. Untuk masa depan, penelitian ini harus

(8)

mendorong peneliti untuk mengeksplorasi hubungan antara kepuasan pelanggan dan merek hubungan di sektor jasa yang berbeda seperti, industri rumah sakit, industri hotel, atau industri penerbangan. 4. Sem Christina Hawila Sibagariang , Tinjung Desy Nursanti 2010 Pengaruh brand image dan brand trust terhadap brand loyalty pada PT Bank Sinarmas.Bank

Kuantitatif Persaingan di sektor perbankan di Indonesia semakin ketat dewasa ini. PT Bank Sinarmas adalah bank yang berkembang pesat dan terus meningkat selama 3 tahun terakhir. PT Bank Sinarmas

berkomitmen untuk mempertahankan posisi ini. Oleh karena itu, mereka harus memberikan pelayanan yang terbaik dan

(9)

memberikan produk tabungan yang berkualitas untuk membangun loyalitas pelanggan. Tujuan dari

penelitian ini adalah untuk menentukan apakah citra merek dan kepercayaan merek secara parsial

mempengaruhi loyalitas merek, dan untuk menentukan apakah citra merek dan kepercayaan merek secara simultan mempengaruhi loyalitas merek. 5. Severi, Erfan; Ling, Kwek Choon 2013 The Mediating Effects of Brand Association, Brand Loyalty, Brand image and Perceived Quality on Brand Equity

Kuantitatif Penelitian ini dilakukan di Faculty of Business and Information Science, UCSI University, Kuala Lumpur, Malaysia.

Salah satu tujuan utama dari

(10)

penelitian ini adalah untuk menilai kekuatan merek dan efeknya terhadap brand image. Sangat penting untuk mengakui bahwa membangun asosiasi merek yang kuat akan berdampak pada proses pengambilan keputusan konsumen. Berdasarkan Bearden dan Etzel brand image juga memiliki keterkaitan dengan kualitas produk. Akibatnya, perilaku pelanggan akan terpengaruh dan ditentukan oleh citra merek. Konsumen menggunakan citra merek produk dalam menurunkan persepsi keseluruhan dari

(11)

produk tertentu, produk dengan brand image yang lebih tinggi dapat disimpulkan oleh konsumen sebagai produk dengan kualitas yang unggul. Selain itu, persepsi konsumen terhadap kualitas dan nilai suatu produk sangat dipengaruhi oleh citra merek.

2.2 Landasan Konseptual 2.2.1 Definisi Brand

Kotler dan Keller (2006) mengemukakan pengertian brand, Brand adalah nama, istilah, tanda, simbol atau kombinasi semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang /jasa seorang penjual atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari barang/jasa pesaing.

Adapun pengertian brand menurut Keller (2004) Brand itu adalah sebuah produk, akan tetapi dengan tambahan berbagai macam dimensi yang nantinya akan membedakan produk tersebut dengan produk lain dalam memenuhi kebutuhan yang sama. Perbedaan ini bisa rasional dan nyata (berhubungan dengan bentuk fisik produk atau simbol), emosional dan tidak nyata (berhubungan dengan apa yang akan ditunjukan oleh brand tersebut).

Kesimpulan yang didapat dari pengertian–pegertian diatas adalah, brand sebagai alat pembeda antara perusahaan televisi berbayar PT Indonesia Media Televisi dengan perusahaan televisi berbayar lainnya, sehingga

(12)

2.2.2 Fungsi Brand

Menurut Zulkarnain (2012) menjelaskan bahwa brand mempunyai beberapa fungsi yaitu:

1. Sebagai alat pembeda suatu produk dengan pesaingnya.

Suatu produk akan memiliki perbedaan dengan pesaingnya bila memiliki brand yang kuat. Sepatu Nike dengan brand berbrntuk centang akan dengan mudah dibedakan dari sepatu Adidas yang memiliki logo tiga garis sejajar.

2. Sebagai alat untuk promosi dan daya tarik produk.

Produk yang memiliki brand akan dengan mudah dipromosikan dan menjadi daya tariknya. Promosi sepatu Adidas akan dengan mudah mempromosikan produknya dengan menampilkan logonya di suatu acara. Pengunjung akan dengan mudah mengenali bahwa acara tersebut di sponsori oleh Adidas dengan melihat logo tersebut tanpa adanya penjelasan lebih lanjut mengenai brand tersebut.

3. Sebagai alat pembangun citra, pemberi

keyakinan, dan jaminan kualitas.

Suatu brand juga berfungsi membentuk image dengan memberi alat pengenalan pertama kepada masyarakat. Keyakinan, kualitas dan prestise sebuah produk akan melekat dalam sebuah brand dari pengalaman dan informasi dari produk tersebut.

4. Sebagai alat pengendali pasar.

Pasar akan mudah dikendalikan oleh brand yang kuat. Brand ini akan menjadi peringatan bagi para kompetitornya untuk mengambil setiap

(13)

memori ingatannya.

Fokus dari penelitian ini adalah brand sebagai alat pembeda antara Big TV dengan perusahaan televisi berbayar yang ada dan juga sebagai alat untuk membangun image positif.

2.2.3 Brand image

Pada buku yang ditulis oleh Johannes Supranto dan Nandan Limakrisna yang berjudul “Pemasaran Untuk Pimpinan Sektor Publik dan Organisasi Nirlaba yang Visioner” menjelaskan brand image adalah apa yang konsumen pikir dan rasakan ketika mendengar atau melihat suatu merek dan apa yang konsumen pelajari tentang merek (Supranto & Limakrisna, 2007).

“Brand image can be defined as a perception about brand as reflected by the brand association held ini consumer memory”. Hal ini berarti citra merek adalah persepsi tentang merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen. (Keller, 2013).

Ada 3 faktor yang dapat membentuk citra merek (Keller, 2013) yaitu: 1. Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association)

Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image

2. Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)

Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

3. Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)

Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek

(14)

Menurut Aaker dalam buku “Aura Merek: 7 Langkah Membangun Merek Kuat” Brand image adalah seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan atau dipelihara para pemasar. Asosiasi-asosiasi itu menyatakan apa sesungguhnya merek dan apa yang dijanjikannya kepada konsumen (Simamora, 2003).

Jadi, brand image adalah seperangkat asosiasi unik yang ingin diciptakan dan dipelihara oleh suatu perusahaan untuk dapat mempengaruhi apa yang konsumen atau publik inginkan ketika mendengar nama atau melihat suatu brand seperti Big TV.

2.2.4 Brand Awareness

Jurnal yang berjudul “The effect of advertising on brand awareness and percieved quality: an emperical investigation using panel data” mengatakan bahwa konsumen suka menyamakan antara brand awareness dengan preferences. Konsumen biasanya lebih memilih sesuatu yang dianggapnya paling familiar dan ketika konsumen merasa aware terhadap suatu brand belum tentu konsumen memiliki prefensi terhadap brand tersebut. (C.Robert Clark, Ulrich Doreazselki dan Michaela Draganska, 2009).

Menurut Aaker dalam buku “The Power of Brand” Brand Awareness adalah kesanggupan seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu (Freddy Rangkuti, 2008).

Kesimpulan dari definisi brand awareness adalah Jadi brand awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengingat suatu brand dan yang menjadikannya berbeda bila dibandingkan dengan brand lainnya. Jadi diharapkan masyarakat dapat mengingat dan membedakan Big TV dengan perusahaan televisi berbayar yang sejenis.

(15)

pencitraan dari suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga, pesaing, selebritis dan lain-lain. (Situmorang, 2011).

Menurut Kevin Lane Keller brand associations adalah kekuatan, keuntungan, dan keunikan dari attributes dan benefits untuk merek. Brand associations merupakan sumber utama dari nilai merek karena brand associations adalah sarana yang konsumen gunakan untuk merasakan merek tersebut dalam memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Keller, brand associations berhubungan dengan brand performance karena brand performance dapat membentuk brand associations. Brand attributes adalah deskripsi karakteristik barang dan jasa, sedangkan brand benefits adalah nilai dan makna personal yang pelanggan ambil dari atribut barang dan jasa. (Keller, 2013)

Kesimpulan dari definisi brand association adalah berkaitan dengan pengalaman dari suatu produk. Keterikatan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan dalam mengkomunikasikan Big TV sebagai pemain baru di industri televisi langganan berbayar.

2.2.6 Brand Performance

Brand performance mendeskripsikan seberapa baik produk/jasa bertemu dengan fungsi yang dibutuhkan pelanggan. Seberapa baik tingkat merek pada penilaian obyektif kualitas, sejauh mana merek memenuhi kebutuhan utilitarian, estetika, dan ekonomi dan keinginan pelanggan dalam produk / jasa. Lima atribut dan manfaat brand performance :

1. Primary ingredients and supplementary features

Pelanggan memiliki pertimbangan tentang kualitas bahan utama suatu produk (apakah rendah, sedang, tinggi atau sangat tinggi, sudah dipatenkan atau belum, dan bagaimana fitur tambahan yang melengkapi bahan-bahan utama. Beberapa atribut tambahan

(16)

2. Product reliability, durability, and serviceability

• Reliability mengukur konsistensi performance over time dan from purchase to purchase.

• Durability adalah kehidupan ekonomi yang diharapkan dari produk.

• Serviceability adalah kemudahan memperbaiki produk jika diperlukan.

3. Service effectiveness, efficiency, and emphaty

Asosasi merek di mata pelanggan sering kali dapat dilihat melalui pelayanan.

• Service effectiveness adalah seberapa baik merek tersebut memuaskan apa yang dibutuhkan pelanggan.

• Service efficiency menjelaskan kecepatan dan respon terhadap pelayanan tersebut.

• Service emphaty adalah sejauh mana penyedia layanan dilihat dapat dipercaya, peduli, dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.

4. Style and design

Desain adalah aspek fungsional dalam menggambarkan bagaimana produk bekerja dan mempengaruhi brand associations. Pelanggan dapat mempunyai asosiasi dengan produk melalui pertimbangan lebih estetis seperti ukuran, bentuk, bahan, dan warna yang terlibat. Kinerja merek juga tergantung pada aspek sensorik seperti bagaimana sebuah produk terlihat, terasa, terdengar atau tercium.

5. Price

Kebijakan harga untuk sebuah merek juga dapat membentuk asosiasi di dalam pikiran pelanggan tentang seberapa mahal/murah

(17)

merek karena pelanggan cenderung mengatur kategori produk di pikiran mereka melalui harga. (Keller, 2013)

2.2.7 Public Relations

Menurut Fraser P. Seitel dalam buku “Dasar-dasar Public Relations” Public Relations merupakan fungsi manajemen yang membantu menciptakan dan saling memelihara alur komunikasi, pengertian, dukungan, serta kerjasama suatu organisasi atau perusahaan dengan publiknya dan ikut terlibat dalam menangani masalah-masalah atau isu-isu manajemen. Public Relations membantu manajemen dalam penyampaian informasi dan tanggap terhadap opini publik. Public Relations secara efektif membantu manajemen memantau berbagai perubahan. (Soemirat & Ardianto, 2008)

Menurut Denny Griswold dalam buku Hand Book of PR Public Relations adalah Fungsi Manajemen yang mengevaluasi publik, memperkenalkan berbagai kebijakan dan prosedur dari suatu individu atau organisasi berdasarkan kepentingan publik, dan membuat perencanaan, serta melaksanakan suatu program kerja dalam upaya memperoleh pengertian dan pengakuan publik. (Ardianto, 2011)

Dari beberapa definisi yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa Public Relations adalah fungsi manajemen untuk membangun hubungan yang harmonis dan membangun citra perusahaan agar dipandang baik oleh masyarakat, serta membuat masyarakat senang dan yakin akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Seperti hal nya yang dilakukan oleh Public Relations PT Indonesia Media Televisi dalam kaitannya untuk membentuk image Big TV.

2.2.8 Peran Public Relations

Menurut Dozier dan Broom dalam “Manajemen Public Relations & Media Komunikasi : Konsep dan Aplikasi” peran Public Relations dalam suatu perusahaan atau organisasi dapat dibagi menjadi empat, yaitu :

(18)

menyelesaikan masalah dengan publik perusahaan atau organisasi.

2. Communications Facilitator : Public Relations berperan sebagai fasilitator antara perusahaan dengan publiknya. Dimana Public Relations membantu pihak manajemen sebagai pendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publik. Begitu juga sebaliknya, Public Relations diharapkan dapat memberikan penjelasan informasi, keinginan, dan harapan organisasi kepada publik. Tujuannya adalah agar tercipta saling mempercayai, menghargai, dan mendukung satu dengan yang lainnya.

3. Problem Solving Process Facilitator : Public Relations menjadi fasilitator dalam memecahkan permasalahan. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasihat hingga mengambil tindakan eksekusi dalam mengatasi persoalan atau krisis yang dengan dihadapi secara rasional dan profesional.

4. Communications Technician : Public Relations sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi. Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan, yaitu secara teknis komunikasi, baik arus maupun media komunikasi yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan keatasan. (Ruslan, 2006)

Dapat disimpulkan bahwa peranan Public Relations PT Indonesia Media Televisi berperan dalam menjalin komunikasi dengan pihak internal dan eksternal melalui empat peran, yaitu expert prescriber, communications facilitator, problem solving process facilitator, dan communications technician.

(19)

Masyarakat Suatu Komunikoliogis” mengemukakan bahwa ada empat fungsi dari Public Relations yaitu:

1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.

Public Relations bertanggung jawab dalam kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan/ organisasi.

2. Membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan publik baik publik eksternal maupun publik internal.

Public Relations menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan publik baik internal maupun ekternal.

3. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.

Public Relations berfungsi dalam mengkomunikasikan informasi organisasi kepada publik dan mengkomunikasikan opini publik kepada organisasi.

4. Melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.

Public Relations berfungsi memberi pelayanan yang baik terhadap publik dan memberi nasihat kepada pimpinan organisasi. (Rosady Ruslan, 2010).

Dalam penelitian ini, meneliti fungsi dan Public Relations PT Indonesia Media Televisi dalam membentuk brand image Big TV. Peneliti meneliti fungsi Public Relations dimana sebagai fungsi untuk menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antara organisasi dengan publiknya, internal maupun eksternal.

(20)

sebagai berikut:

1. Menumbuh kembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.

2. Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.

3. Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan Public Relations.

4. Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.

5. Mendukung bauran pemasaran.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan yang dilakukan Public Relations PT Indonesia Media Televisi adalah mengembangkan citra baik terhadap publik internal maupun eksternal perusahaan. Juga sebagai penengah antara publik dan perusahaan, mengembangkan fungsi pemasaran dengan Public Relations, membangun merek, dan mengembangkan bauran pemasaran.

2.2.11 Strategi Public Relations

Setelah membahas peran, fungsi dan tujuan public relation, adapun strategi atau kegiatan-kegiatan yang menjadi pekerjaan seorang Public Relations. Pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Public Relations dapat disingkat menjadi PENCILS atau bauran Public Relations. Menurut Ruslan dalam (Ardianto, 2009) Bauran Public Relations yang dimaksud adalah: 1. Publication and Publicity

Sesuai dengan tujuannya, seorang Public Relations harus menyebarluaskan informasi tentang kegiatan-kegiatan dan pencapaian perusahaan kepada publik. Atau singkatnya publikasi yaitu memperkenalkan perusahaan kepada publik.

(21)

seperti seminar, workshop, serta kegiatan lainnya dengan tujuan untuk membentuk image perusahaan.

3. News

Seorang Public Relations dituntut untuk menguasai teknik-teknik menulis sehingga dapat menyajikan informasi yang mudah dipahami dan dimengerti oleh publik. Informasi yang dimaksud yaitu untuk menciptakan berita melalui press release, news letter, bulletin dan lain-lain. Hal tersebut biasanya mengacu pada teknik penulisan 5W+1H dan sistematika penulisannya adalah piramida terbalik.

4. Community Involvement

Public Relations harus mengadakan kontak sosial dengan kelompok masyarakat tertentu untuk menjaga hubungan baik dengan pihak organisasi atau lembaga yang diwakilinya.

5. Inform or Image

Public Relations bertugas untuk memberikan sesuatu kepada publik atau menarik perhatian, sehingga diharapkan akan memperoleh tanggapan berupa image positif dari suatu proses yang bukan apa-apa menjadi seusatu, dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak suka menjadi suka. Dari hal tersebut diharapkan timbulnya sesuatu yaitu image.

6. Lobbying and Negotiating

Public Relations dituntut mempunyai keahlian persuasi dan negosiasi dengan berbagai pihak agar semua rencana, ide atau gagasan kegiatan suatu lembaga memperoleh dukungan dari pihak lain. Sehingga timbul situasi yang saling menguntungkan.

7. Social Responsibility

Tidak hanya memikirkan keuntungan materi bagi organisasi, seorang Public Relations juga harus peduli terhadap masyarakat disekitarnya. Hal ini sangat penting karena bertujuan untuk memperoleh simpati atau empati dari khalayak.

(22)

responsibility merupakan strategi yang harus dilakukan oleh Public Relations perusahaan dalam membentuk brand image perusahaannya, sehingga mendapatkan image yang baik dimata masyarakat.

Dalam penelitian ini, peniliti melakukan penilitian berdasarkan strategi Public Relations PENCILS yang dilakukan oleh PT Indonesia Media Televisi dalam membentuk brand image Big TV, untuk mencapai hasilnya dengan menggunakan 4 komponen strategi Public Relations PENCILS.

(23)

Public Relations PT Indonesia Media Televisi melakukan beberapa strategi yaitu publications, events, news, community involvement, inform or image, lobbying, dan social responsibility untuk membentuk brand associations dan brand awareness yang keduanya merupakan komponen yang terkait dalam pembentukan brand image Big TV.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Public Relations

PT Indonesia Media Televisi

Strategi Public Relations: 1. Publications 2. Events 3. News 4. Community Involvement 5. Inform or Image 6. Lobbying 7. Social Responsibility Brand Awareness Brand image Brand Association Big TV

Gambar

Tabel 2.1 State Of The Art
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Public Relations

Referensi

Dokumen terkait

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif biasa juga disebut sebagai penelitian perpustakaan dikarenakan penelitian ini sangat erat

Penggunaan model untuk menduga emisi/serapan dapat menghasilkan bias atau kesalahan karena (i) model merupakan penyederhanaan dari suatu sistem yang komplek

Gambar 4.4 Tampilan Antar Muka Menu Pengujian (Tab Input Citra) Sedangkan pada tab Pengujian terdapat tabel untuk menampilkan hasil klasifikasi dari citra yang sudah

Perlakuan (treatment) 1 dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 23 April 2014. Perlakuan yang diberikan berupa pembelajaran membaca pemahaman teks bahasa Inggris menggunakan metode

Studi lapangan dilakukan di PDAM Jombang dan instansi-instansi terkait dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan air bersih penduduk, fasilitas sosial dan ekonomi dan

Puji syukur kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta ‘Ala atas berkat rahmat dan karunia-Nya, Tugas Akhir Skripsi dalam rangka untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk

Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning Guna Pembentukan Kemampuan Berpikir Kritis dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa

Penurunan suhu percobaan pertama dengan perbandingan yang sama yaitu suhu 5° C dengan liquid cooling system lebih efektif dibandingkan dengan pendingin