PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN WONOGIRI
TAHUN 2014
DINAS KESEHATAN KABUPATEN WONOGIRI
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji Syukur kita Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmatnya Buku Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 telah dapat diterbitkan. Profil kesehatan Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu sarana untuk menyajikan, memantau dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Wonogiri dan hasil kinerja penyelenggaraan standar pelayanan minimal kabupaten.
Profil Kesehatan tahun 2014 ini disusun dengan format baru berdasarkan Pedoman Penyusunan Profil Kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2008. Indikator dan data yang tercantum dalam Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 merupakan indikator yang dimuat dalam dokumen Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Indikator Indonesia Sehat 2010 dapat digolongkan ke dalam (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas, morbiditas, dan status gizi. (2) Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait. Sedangkan Indikator Kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan terdiri atas 47 indikator kinerja dari 26 pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota se Propinsi Jawa Tengah.
Data yang digunakan dalam proses penyusunan buku profil kesehatan ini bersumber dari Laporan Data SIK Puskesmas maupun data dari Bidang-bidang di tingkatan Dinas. Namun karena data yang dibutuhkan sebagian belum ada dalam sistem pencatatan dan pelaporan yang telah berjalan selama ini, maka hasil kompilasi tabel Profil Kabupaten Wonogiri sebagaimana terlampir, beberapa tabel tidak lengkap karena tidak tersedia datanya sehingga diambilah data dari para pemegang program serta melibatkan pula
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
lintas sektor, diantaranya Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri, Dinas Pendidikan, BKKBN, dan sektor-sektor terkait lainnya.
Selanjutnya diharapkan saran dan kritik yang membangun, serta partisipasi dari semua pihak khususnya dalam upaya mendapatkan data/informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan.
Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri, kami sampaikan terima kasih.
Wonogiri, 2015 An. KEPALA DINAS KESEHATAN
KABUPATEN WONOGIRI Sekretaris
Dra. M.M ANTIN ENDAH SP., M.M Pembina Tk. I
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 D A F T A R I S I Halaman Judul ... i i Kata Pengantar ... ii ii Daftar Isi ... iv iv Daftar Singkatan ... v xi BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1 1.2. Tujuan ... 4 4 1.3. Sistematika Penyajian ... 5 5
BAB II. GAMBARAN UMUM
2.1. Keadaan Geografi ... 7 7 2.2. Keadaan Penduduk ... 10 10 2.3. Keadaan Sosial Ekonomi ... 14 14 BAB III. SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1. Visi dan Misi ... 17 15 3.2. Derajat Kesehatan ... 18 16 3.3. Indikator Derajat Kesehatan ... 19 17 3.4. Perilaku Masyarakat ... 46 40 BAB IV. SITUASI UPAYA KESEHATAN
4.1. Pemanfaatan Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar ... 50 44 4.2. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak ... 50 44 4.3. Upaya Kesehatan Rujukan dan Kesehatan Khusus ... 58 51 4.4. Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan ... 59 52
BAB V. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
5.1. Sarana Kesehatan ... 60 53 5.2. Tenaga Kesehatan ... 63 55 5.3. Pembiayaan Kesehatan ... 65 57 BAB VI. PENUTUP
6.1. Kesimpulan ... 68 59 6.2. Saran ... 69 60
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
DAFTAR SINGKATAN
3M : Menutup, Menguras, dan Mengubur
ABJ : Angka Bebas Jentik
AIDS : Acquired Immuno Deficiency Syndrome
AKABA : Angka Kematian Balita
AKB : Angka Kematian Bayi
AKI : Angka Kematian Ibu
ANC : Antenatal Care (Pemeriksaan Ibu Hamil)
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
ASI : Air Susu Ibu
Askes : Asuransi Kesehatan
Bapel : Badan Pelaksana
Bapim : Badan Pembina
BB/TB : Berat Badan per Tinggi Badan
BB/U : Berat Badan per Umur
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BCG : Bacilli Calmette- Guerin
BGM : Bawah Garis Merah
Bidang PKPK : Bidang Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
BPS : Badan Pusat Statistik
BTA : Basil Tahan Asam
CBR : Crude Birth Rate (Angka Kelahiran Kasar)
CDR : Case Detection Rate
DAK : Dana Alokasi Khusus
DBD : Demam Berdarah Dengue
DKK : Dinas Kesehatan Kabupaten
DO : Drop Out
DPT : Dipteri Pertusis dan Tetanus
GFK : Gudang Farmasi Kabupaten
Ha : Hektar
HB : Hepatitis B
HIV : Human Immunodeficiency Virus
IMR : Infant Mortality Rate (Angka Kematian Bayi)
IS : Indonesia Sehat
IUD : Intra Uterin Device
IUGR : Intra Uterine Growth Retardation
Jamsostek : Jaminan Sosial Tenaga Kerja
JPKM : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Kal. : Kalurahan
KB : Keluarga Berencana
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KK : Kepala Keluarga
KLB : Kejadian Luar Biasa
KLH : Kelahiran Hidup
Km2 : Kilometer persegi
KN : Kunjungan Neonatal
MA : Madrasah Aliyah
MB : Multi Basiler
MMR : Maternal Mortality Rate (Angka Kematian Ibu)
MOP/MOW : Metode Operasi Pria/Metode Operasi Wanita
MP-ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu
MTs : Madrasah Tsanawiyah
Nakes : Tenaga Kesehatan
No. : Nomor
P2 : Pemberantasan Penyakit
P2PL : Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
PB : Pausi Basiler
PD3I : Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
Permenkes : Peraturan Menteri Kesehatan
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PHLN : Pinjaman/Hibah Luar Negeri
PKD : Poliklinik Kesehatan Desa
PKG : Pemantauan Konsumsi Gizi
PLP : Penyehatan Lingkungan Pemukiman
PMS : Penyakit Menular Seksual
PMT-ASI : Pemberian Makanan Tambahan Air Susu Ibu
Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional
Polindes : Pondok Bersalin Desa
Poned : Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergency Dasar
Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu
PPK : Pemberi Pelayanan Kesehatan
PSG : Pemantauan Status Gizi
PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk
PTT : Pegawai Tidak Tetap
PUS : Pasangan Usia Subur
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Pusling : Puskesmas Keliling
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
PWS-KIA : Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
RFT : Release From Threatment
RI : Republik Indonesia
RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah
SD : Sekolah Dasar
SDM : Sumber Daya Manusia
Sie : Seksi
SIK : Sistem Informasi Kesehatan
SIM : Sistem Informasi Manajemen
SKN : Sistem Kesehatan Nasional
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SPAL : Saluran Pembuangan Air Limbah
SPM : Standar Pelayanan Minimal
TBC : Tuberculosis
TTU : Tempat-tempat Umum
UCI : Universal Child Immunization
UHH : Umur Harapan Hidup
UU : Undang-undang
WHO : World Health Organization (Organisasi Kesehatan Dunia)
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan nasional secara menyeluruh. Menurut HL. Blum, derajat kesehatn masyarakat dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor utama, yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan genetika/keturunan. Oleh karena itu, pembangunan di bidang kesehatan sangat terkait dan dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti pendidikan, sosial budaya, demografi dan geografis, perkembangan lingkungan fisik dan biologik, maupun aspek-aspek yang lain.
Dari aspek global, dengan adanya Millenium Development Goals (MDG’s) mensyaratkan pencapaian-pencapaian tertentu pada tahun 2015, maka hal ini menjadi target sekaligus tantangan hal yang harus dicapai negara pada tahun 2015. Target-target ini kemudian diturunkan ke tingkat provinsi, yang selanjutnya diteruskan ke tingkat kabupaten maupun kota. Pentingnya pencapaian MDG’s ini diindikasikan dengan keluarnya Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan, yang didalamnya menyebutkan bahwa pengambil kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan yang berkeadilan, yang salah satunya adalah program-program Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium. Dalam MDG’s, terdapat 8 (delapan) tujuan utama, yang 5 (lima) diantaranya berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan bidang kesehatan.
Sejalan dengan MDG’s dan Instruksi Presiden No. 3 tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Wonogiri mengeluarkan Peraturan Bupati No. 9 tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Kabupaten Wonogiri, mengamanatkan pencapaian SPM tahun 2015 ditetapkan minimal berdasarkan target yang termuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
Dalam rangka mendukung program MDG’s di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), yang pelaksanaannya diutamakan untuk kegiatan promotif dan preventif. Program BOK yang telah digulirkan Kementerian Kesehatan mulai 2010 diharapkan membawa peningkatan capaian kinerja daerah, terutama dukungan terhadap capaian MDG’s di Kabupaten Wonogiri.
Desentralisasi bidang kesehatan yang telah disusun pada bulan Januari 2001 dikembangkan menjadi langkah strategis untuk menyelesaikan berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi pusat dan daerah. Oleh karena itu perlu adanya peraturan untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi dan berbagai pedoman teknis.
Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah mengandung konsekuensi bahwa masing-masing daerah harus memiliki sistem kesehatan tersendiri, termasuk dukungan dalam menyusun sistem informasinya. Kualitas Sistem Informasi Kesehatan Nasional sangat ditentukan oleh kualitas dari sistem-sistem informasi kesehatan (SIK) provinsi. Dan untuk memperoleh sistem kesehatan provinsi yang akurat, maka diperlukan pemantapan sistem informasi kabupaten/kota. Begitu pula dengan UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dimana pada pasal 2 ayat (1) menyebutkan bahwa Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. Hal ini menyiratkan bahwa instansi yang berwenang wajib menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Demikian pula pada ayat (3), disebutkan bahwa setiap informasi publik harus dapat diperoleh setiap pemohon informasi publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana. Sehingga dalam penyediaan ini dibutuhkan suatu sistem yang mendukung penyediaan informasi, terutama di bidang kesehatan. Menjembatani apa yang menjadi amanat dalam peraturan regulasi tersebut, maka dibentuklah suatu sistem informasi kesehatan (SIK) di tingkat kabupaten.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
SIK kabupaten/kota diharapkan dapat menyediakan data dan informasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah tersebut serta sebagai landasan pengembangan sumber daya kesehatan secara benar, akurat, dan lengkap. Dari data dan informasi ini pula terlihat pencapaian indikator-indikator keberhasilan pembangunan kesehatan, maupun untuk keperluan perencanaan, evaluasi, dan pelaporan.
Adanya surat Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Nomor IR.01.01/VI/062/2011 tanggal 18 Januari 2011 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota (yang Responsif Gender), semakin menekankan pentingnya SIK di tingkat kabupaten/kota. Dalam surat ini, disertakan Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kab/Kota, edisi terpilah menurut jenis kelamin.
Kebutuhan akan informasi di masyarakat, dari hari ke hari menunjukkan peningkatan yang cukup jelas. Ditambah dengan dukungan teknologi yang memungkinkan informasi dapat diakses dalam waktu yang sangat singkat. Masyarakat semakin kritis terhadap masalah-masalah kesehatan, apalagi bila hal ini merupakan kebutuhan dan masalah mereka, maka kebutuhan mereka akan informasi akan semakin terasa. Kepedulian masyarakat ini memberikan nilai positif bagi perkembangan pembangunan kesehatan, sehingga tuntutan data dan informasi yang dikemas secara baik, sederhana, informatif, dan tepat waktu dapat tersedia. Dan salah satu produk yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah “Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014”.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri bermaksud memberikan gambaran situasi kesehatan di Kabupaten Wonogiri yang diterbitkan setahun sekali. Dalam setiap terbitannya Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program-program kesehatan, dan keluarga berencana. Data di analisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Dalam memberikan ulasan secara sederhana, disertakan pula data tahun-tahun sebelumnya, sehingga dapat diketahui perkembangan suatu program.
Dengan demikian jelas bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 ini adalah dalam rangka menyediakan sarana
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
untuk perencanaan, pemantauan, dan mengevaluasi pencapaian pembangunan kesehatan di Kabupaten Wonogiri tahun 2014 yang mengacu kepada Visi Bupati Wonogiri, yaitu “Terwujudnya Pemerintahan Wonogiri Yang Kredibel dan Efektif Demi Terciptanya Kehidupan Masyarakat Yang Berkualitas Dan Berakhlak Mulia, Bebas Dari Kemiskinan”, serta pembinaan dan pengawasan terhadap puskesmas-puskesmas binaan dalam pencapaian Visi Kabupaten.
1.2. TUJUAN
1.2.1. Tujuan Umum
Tersedianya data dan informasi di bidang kesehatan, secara baik, sederhana, informatif, benar, akurat, lengkap, dan tepat waktu, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam berbagai kebutuhan dan kewenangan.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1. Dapat disajikannya data dan informasi tentang indikator pencapaian tahun 2014, yang meliputi derajat kesehatan masyarakat, perilaku sehat, lingkungan sehat, dan pelayanan kesehatan;
1.2.2.2. Data/informasi yang disajikan dapat digunakan untuk mendukung sistem manajemen kesehatan pada setiap tingkat administrasi kesehatan (perencanaan, pemantauan, pengerakan pelaksanaan, dan evaluasi tahunan program-program kesehatan).
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
1.3. SISTEMATIKA PENYAJIAN
1.3.1. Bab 1. Pendahuluan
Berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan profil kesehatan dan sistematika dari penyajian.
1.3.2. Bab 2. Gambaran Umum
Menyajikan gambaran umum Kabupaten Wonogiri. Selain uraian tentang letak geografis, administratif, dan informasi umum lainnya, juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan lingkungan. Data ini didapatkan dari lintas sektoral terkait.
1.3.3. Bab 3. Situasi Derajat Kesehatan
Berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian kesakitan dan angka status gizi masyarakat.
1.3.4. Bab 4. Situasi Upaya Kesehatan
Menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan serta upaya pelayanan keehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten Wonogiri.
1.3.5. Bab 5. Situasi Sumber Daya Kesehatan
Menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan, dan sumber daya kesehatan lainnya.
1.3.6. Bab 6. Kesimpulan
Diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri di Tahun 2014. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
1.3.7. Lampiran
Berisi resume/angka pencapaian Kabupaten Wonogiri dan 83 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten Sehat dan indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
BAB II GAMBARAN UMUM
2.1. KEADAAN GEOGRAFI
Letak Kabupaten Wonogiri secara geografis terletak pada garis lintang 7O32’ - 8O15’ lintang selatan dan garis bujur 110O41’ - 111O18’ bujur timur. Keadaan alamnya sebagian besar terdiri dari pegunungan yang berbatu gamping, terutama di bagian selatan, termasuk jajaran pegunungan seribu, yang merupakan mata air dari Bengawan Solo, walaupun ada juga daerah dataran maupun daerah pantai.
Kabupaten Wonogiri berbatasan dengan :
- Sebelah Timur : Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur
- Sebelah Utara : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karangayar
- Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ponorogo
- Sebelah Barat : Daerah Istimewa Yogyakarta.
Gambar 01. Peta Kabupaten Wonogiri, tahun 2014
Sumber : http://www.wonogiri.go.id/download/kab.jpg
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Berdasarkan Kantor Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2014, menunjukan bahwa Kabupaten Wonogiri memiliki luas wilayah sebesar 182.236,0236 ha (1.822,36 km2). Kabupaten Wonogiri memiliki 25 Kecamatan dan 294 desa/kelurahan. Kecamatan terjauh dari pusat kota adalah Kecamatan Paranggupito, sejauh 68 km, sedangkan kecamatan terdekat adalah Kecamatan Selogiri. Kecamatan Puhpelem yang memiliki luas wilayah 3.162 ha yang sekaligus merupakan kecamatan tersempit wilayahnya, sedangkan kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Pracimantoro. Sementara Kecamatan Karangtengah adalah kecamatan yang paling tinggi lokasinya yang berada pada ketinggian 600 meter diatas permukaan air laut dan yang paling rendah adalah Kecamatan Selogiri.
Sedangkan jarak ke kabupaten/kota terdekat dan ibukota provinsi adalah :
- Kota Surakarta : 32 km - Kabupaten Sukoharjo : 17 km - Kabupaten Klaten : 67 km - Kabupaten Boyolali : 55 km - Kabupaten Sragen : 49 km - Kabupaten Karanganyar : 49 km - Kota Semarang : 133 km
Berdasarkan ketinggiannya dari permukaan laut Kabupaten Wonogiri daerahnya berada di ketinggian: - 101-200 meter di kecamatan : 1. Selogiri , 2. Wonogiri, 3. Nguntoronadi, 4. Baturetno, 5. Wuryantoro, 6. Eromoko, 7. Giriwoyo, 8. Tirtomoyo,
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 9. Giritontro, 10. Paranggupito. - 201-300 meter di kecamatan 1. Bulukerto 2. Manyaran 3. Ngadirojo 4. Jatipurno 5. Pracimantoro 6. Batuwarno 7. Purwantoro - 301-400 meter di kecamatan 1. Sidoharjo 2. Kismantoro - 401-500 meter di kecamatan 1. Jatisrono 2. Slogohimo 3. Girimarto
- 501-600 meter di kecamatan Jatiroto
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
2.2. KEADAAN PENDUDUK
2.3.1. Kepadatan Penduduk
Tabel 1. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
NO KECAMATAN LUAS WILAYAH (km2) JUMLAH JUMLAH PEN-DUDUK JUMLAH RUMAH TANGGA RATA-RATA JIWA/ RUMAH TANGGA KEPADATAN PENDUDUK per km2 DESA KELUR-AHAN DESA + KELU-RAHAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 PRACIMANTORO 142,1 17 1 18 65.423 21.567 3,03 460,27 2 GIRITONTRO 61,6 5 2 7 21.247 7.066 3,01 344,75 3 GIRIWOYO 100,6 14 2 16 40.831 13.316 3,07 405,87 4 BATUWARNO 51,7 7 1 8 18.663 6.003 3,11 361,34 5 TIRTOMOYO 93,0 12 2 14 54.017 17.005 3,18 580,77 6 NGUNTORONADI 80,4 9 2 11 25.420 8.155 3,12 316,13 7 BATURETNO 89,1 13 0 13 48.235 15.130 3,19 541,36 8 EROMOKO 120,4 13 2 15 44.641 14.490 3,08 370,90 9 WURYANTORO 72,6 6 2 8 27.309 9.136 2,99 376,11 10 MANYARAN 81,6 5 2 7 36.617 11.571 3,16 448,52 11 SELOGIRI 50,2 10 1 11 45.809 13.513 3,39 912,89 12 WONOGIRI 82,9 9 6 15 82.665 25.116 3,29 996,92 13 NGADIROJO 93,3 9 2 11 59.508 18.721 3,18 638,09 14 SIDOHARJO 57,2 10 2 12 43.476 13.164 3,30 760,07 15 JATIROTO 62,8 13 2 15 41.271 12.597 3,28 657,50 16 KISMANTORO 69,9 8 2 10 39.353 11.864 3,32 563,31 17 PURWANTORO 59,5 13 2 15 55.158 16.769 3,29 926,56 18 BULUKERTO 40,5 9 1 10 34.337 10.429 3,29 847,41 19 SLOGOHIMO 64,2 15 2 17 52.711 15.792 3,34 821,68 20 JATISRONO 50,0 15 2 17 63.552 19.079 3,33 1270,28 21 JATIPURNO 55,5 9 2 11 38.643 11.510 3,36 696,77 22 GIRIMARTO 62,4 12 2 14 48.594 15.295 3,18 779,12 23 KARANGTENGAH 84,6 5 0 5 23.678 7.974 2,97 279,91 24 PARANGGUPITO 64,8 8 0 8 18.504 6.309 2,93 285,78 25 PUHPELEM 31,6 5 1 6 20.813 6.766 3,08 658,22 JUMLAH (KAB/KOTA) 1.822,4 251 43 294 1.050.475 328.337 3,20 576,44
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Th. 2014
Penduduk kabupaten berdasarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 memiliki jumlah penduduk sebesar
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
1.050.475 jiwa yang tersebar di 25 kecamatan dengan luas wilayah 182.236,02 Ha dan kepadatan penduduk sebesar 576,44 jiwa per km2.
Dari tabel di atas nampak bahwa :
- Jumlah penduduk terbesar : Kecamatan Wonogiri
- Jumlah penduduk terkecil : Kecamatan Paranggupito
- Kepadatan tertinggi : Kecamatan Jatisrono
- Kepadatan terendah : Kecamatan Karangtengah
- Wilayah terluas : Kecamatan Pracimantoro
- Wilayah tersempit : Kecamatan Puhpelem
Grafik 1.
TREND PERKEMBANGAN PENDUDUK TAHUN 2008 s/d 2014
Sumber : Profil Kesehatan 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, dan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Th. 2014
Dari grafik di atas, tampak bahwa pertumbuhan penduduk di Kabupaten Wonogiri dalam empat tahun terakhir mengalami penurunan pada tahun 2013, dan sedikit peningkatan pada tahun 2014. Hal ini kemungkinan
disebabkan adanya perubahan sistem administrasi pencatatan
kependudukan, dimana pada saat-saat tersebut bersamaan dengan diberlakukannya KTP Nasional. Selain itu juga bisa disebabkan ada penduduk yang secara administrasi sudah meninggal atau pindah tempat tinggal.
1.212.667 1.234.880 1.245.923 1.252.930 1.252.506 1.013.194 1.050.475 900.000 950.000 1.000.000 1.050.000 1.100.000 1.150.000 1.200.000 1.250.000 1.300.000 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
2.3.2. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk Menurut Golongan Umur Tabel 2. Sex Ratio Penduduk dan Struktur Penduduk
Menurut Golongan Umur Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
NO KELOMPOK UMUR (TAHUN) JUMLAH PENDUDUK LAKI-LAKI PEREMPUA N LAKI-LAKI +PEREMP UAN RASIO SEX 1 2 3 4 5 1 0 - 4 4.259 32.507 66.766 105,39 2 5 - 9 38.248 36.204 74.452 105,65 3 10 - 14 43.096 40.603 83.699 106,14 4 15 - 19 41.493 38.844 80.337 106,82 5 20 - 24 37.935 36.018 73.953 105,32 6 25 - 29 33.917 32.672 66.589 103,81 7 30 - 34 37.589 36.916 74.505 101,82 8 35 - 39 35.834 35.302 71.136 101,51 9 40 - 44 36.985 38.659 75.644 95,67 10 45 - 49 39.009 41.947 80.956 93,00 11 50 - 54 35.751 39.217 74.968 91,16 12 55 - 59 31.980 33.785 65.765 94,66 13 60 - 64 27.876 25.965 53.841 107,36 14 65 - 69 18.255 19.980 38.235 91,37 15 70 - 74 15.652 16.725 32.377 93,58 16 75+ 17.593 19.659 37.252 89,49 JUMLAH 525.472 525.003 1.050.475 100,09
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Wonogiri Tahun 2014 Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Berdasarkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2014, rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Wonogiri tahun 2014 sebesar 100,09. Terlihat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan jumlah penduduk perempuan dan jumlah antara penduduk laki-laki dan perempuan hampir seimbang di tiap kecamatan.
Struktur penduduk Kabupaten Wonogiri menurut jenis kelamin dan golongan umur dapat dilihat pada piramida berikut :
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Grafik 2. Piramida Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Dari piramida tersebut terlihat bahwa ciri penduduk Kabupaten Wonogiri bersifat ekspansive karena sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Piramida ini dicirikan sebagian besar penduduk masuk dalam kelompok umur muda. Hal ini juga secara tidak langsung menunjukkan Kab. Wonogiri memiliki angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang rendah sehingga daerah ini mengalami pertumbuhan penduduk yang cepat. Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di tiap golongan umur hampir sama. Penduduk laki-laki Kabupaten Wonogiri paling banyak berada di kelompok umur 10-14 tahun. Sedangkan untuk penduduk perempuan, tertinggi pada kisaran umur 45-49 tahun. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada pada golongan umur 70-74 tahun baik penduduk laki-laki maupun perempuan.
2.3.3. Angka Kelahiran Kasar / Crude Birht Rate (CBR)
Angka Kelahiran Kasar / Crude Birht Rate (CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.
-60000 -40000 -20000 0 20000 40000 60000 0 - 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 - 69 70 - 74 75+ PEREMPUAN LAKI-LAKI
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Hingga saat ini masih belum didapat angka resmi mengenai tingkat kelahiran kasar per tahun di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan perkiraan/estimasi Angka Kelahiran Kasar (CBR = Jumlah Kelahiran Hidup / Jumlah Penduduk x 1000) Kabupaten Wonogiri pada tahun 2014 adalah :
CBR = 12.159 x 1.000
1.050.475
= 11,57
Angka Kelahiran Kasar (CBR) mempunyai kecenderungan naik dari tahun sebelumnya, dikarenakan adanya penurunan jumlah penduduk.
2.3. KEADAAN SOSIAL EKONOMI
2.3.1. Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)
Angka beban tanggungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan usia produktif (antara 15 sampai 64 tahun) dikalikan 100 (www.bps.go.id). Angka beban tanggungan dapat digunakan sebagai indikator ekonomi dari suatu negara, apakah tergolong negara maju atau bukan. Semakin rendah angka beban tanggungan, maka semakin maju negara tersebut.
Berdasarkan data penduduk tahun 2014, didapatkan data :
Umur tidak produktif (umur 0 s/d 15 tahun dan di atas 70 tahun) sebanyak 294.546 jiwa, sedangkan umur produktif (umur 16 s/d 70 tahun) 755.929 jiwa.
Sehingga didapatkan angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Kabupaten Wonogiri tahun 2014 sebesar 38,96. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 39 orang penduduk usia non produktif.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
2.4. TINGKAT PENDIDIKAN
Tabel 3. Persentase Tingkat Pendidikan
Penduduk Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
No. Tingkat Pendidikan Jumlah
(2014) Persentase 2009 2010 2011 2012 1 2 3 4 5 6 7 1. Tidak/blm pernah sekolah 190.485 7,17% 7,83% 15,99% 15,2 % 2. Tidak/blm tamat SD 174.893 16,46% 15,44% 14,36% 14,0 % 3. SD/MI 457.324 42,40% 41,75% 36,71% 36,5 % 4. SLTP/MTs 215.689 17,22% 17,57% 16,51% 17,2 % 5. SLTA/MA 178.581 13,87% 14,43% 13,68% 14,3 % 6. Akademi/Diploma 15.781 1,44% 1,42% 1,26% 1,3 % 7. Universitas 19.753 1,45% 1,56% 1,49% 1,6 % Jumlah 1.252.506 100,00% 100,00% 100,00% 100 %
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2009, 2010, 2011 dan Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri Tahun 2012
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penduduk Kabupaten Wonogiri pada tahun 2012 paling banyak dalam katagori “SD/MI” yakni sebesar 36,5%. Dibandingkan pada tahun 2011 yang hampir seluruh kategori mengalami penurunan, pada tahun 2012 justru sebaliknya, ada 4 kategori yang mengalami kenaikan yaitu kategori SLTP/MTs naik dari 16,51% menjadi 17,2%, SLTA/MA naik dari 13,68% menjadi 14,3%, Akademi/Diploma naik dari 1,26% menjadi 1,3% dan universitas mengalami kenaikan dari 1,49 menjadi 1,6 %. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan yang relatif lebih tinggi.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2011 dalam bentuk grafik, maka akan tampak grafik sebagai berikut :
Grafik 3. Persentase Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Wonogiri Tahun 2011 dan 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Sumber : Profil Kesehatan 2011 dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2012
Dari grafik tersebut, terdapat penurunan persentase penduduk dengan tingkat pendidikan SD, dan terjadi peningkatan persentase di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA. Begitu pula untuk tingkat pendidikan universitas, juga terjadi peningkatan persentase. Namun begitu, masih relatif tingginya persentase yang tidak/belum pernah sekolah, memerlukan perhatian tersendiri.
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 2011 2012
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Tabel 4. Jumlah Penduduk Usia Sekolah, Berdasarkan Tingkat Pendidikan Menurut Umur di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010, 2011, dan 2012
No.
Tingkat Pendidikan
Menurut Umur
Jumlah (2010) Jumlah (2011) Jumlah (2012)
Laki-Laki Perem
puan Jumlah Laki-Laki
Peremp
uan Jumlah Laki-Laki
Peremp uan Jumlah 1. SD (7-12 tahun) 227.254 231.659 458.913 226.644 233.319 459.963 224.383 232.941 457.324 2. SLTP (13-15 tahun) 104.542 88.554 193.096 111.470 95.344 206.814 115.863 99.826 215.689 3. SLTA (16-18 tahun) 91.852 66.753 158.605 98.733 72.723 171.456 102.550 76.031 178.581 Jumlah 423.648 386.966 810.614 436.847 401.386 838.233 442.796 408.798 851.594
Sumber : Profil Kesehatan 2010, 2011, dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2012
Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk usia sekolah pada tahun 2012 paling banyak berada di tingkat pendidikan Sekolah Dasar dan yang paling sedikit berada di tingkat pendidikan SLTA. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak mengikuti pendidikan bila dibandingkan dengan penduduk perempuan. Apabila dibandingkan dengan tahun 2011, maka terdapat peningkatan penduduk yang mengikuti pendidikan, baik di jenjang SLTP maupun SLTA, namun untuk jenjang pendidikan SD, terjadi penurunan. Data selengkapnya dapat dilihat di lampiran 4.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1. VISI DAN MISI
3.1.1. Visi
Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri yang ingin dicapai adalah : “Terwujudnya Masyarakat Wonogiri Sehat Dan Mandiri.“
Sesuai dengan visi, tugas pokok, fungsi, dan kewenangan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri berfungsi sebagai motor penggerak dalam pembangunan di bidang kesehatan. Dalam usaha pencapaian visi tersebut, maka dirumuskan langkah-langkah utama dalam bentuk misi.
3.1.2. Misi
Dalam usaha mewujudkan visi yang telah ditentukan, maka dirumuskan misi yang diemban, yaitu :
1. Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Dalam setiap sektor pembangunan, maka kesehatan harus mendapatkan perhatian.Sehingga setiap kebijakan publik, harus memperhitungkan dampaknya terhadap kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat dengan bertumpu pada potensi daerah
Peningkatan kemauan, kemampuan, dan peran serta individu maupun keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan pribadi dan lingkungannya.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Kabupaten Wonogiri Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu, merata di setiap daerah, dan masyarakat mampu untuk menjangkaunya, baik dari segi waktu, biaya, maupun tenaga.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
4. Mendorong pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya
3.2. DERAJAT KESEHATAN
Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah: (1) Indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas (kematian), morbiditas (kesakitan), dan status gizi. (2) Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta (3) Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor-sektor terkait.
Pengertian tentang keadaan sehat dan sakit sangat penting mengingat kita harus dapat menentukan ada tidaknya permasalahan kesehatan, terutama penyakit diantara masyarakat dan seberapa banyaknya. Secara sederhana keadaan sakit itu dinyatakan sebagai :
- Penyimpangan dari keadaan normal, baik struktur maupun fungsinya, atau - Keadaan dimana tubuh atau organisme atau bagian dari organisme/populasi
yang diteliti tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dilihat dari keadaan patologisnya.
Menurut UU RI No. 36 tahun 2009, yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental,spritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap oranguntuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.Beberapa aspek yang dapat dihubungkan dengan derajat kesehatan adalah :perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan.
Program pembangunan kesehatan yang selama ini dilaksanakan dapat dikatakan cukup berhasil sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai bebarapa masalah dan hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan. Derajat kesehatan yang
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
optimal dapat dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur mortalitas dan yang mempengaruhinya yaitu morbiditas dan status gizi masyarakat.
Di Indonesia, indikator derajat kesehatan dapat dilihat dari ; Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan, dan angka kesakitan / kematian karena penyakit tertentu serta status gizi masyarakat.
Adapun indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator-indikator untuk keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator-indikator untuk pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan, dan kontribusi sektor terkait.
3.3. INDIKATOR DERAJAT KESEHATAN
Beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah adalah Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 (empat) faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan, dan Faktor Genetika.
Keempat faktor utama ini diintervensi melalui beberapa kegiatan pokok yang mempunyai dampak ungkit besar terhadap upaya-upaya percepatan penurunan AKI, AKB, AKABA, dan Peningkatan Status Gizi Masyarakat serta status Angka Kesakitan dan Kondisi Penyakit Menular.
Keberhasilan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan dapat dinilai sebagai indikator output yang cukup signifikan mempengaruhi indikator outcome sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
3.3.1. Umur Harapan Hidup (UHH)
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka Harapan Hidup pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya.
Angka Harapan Hidup Saat Lahir adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Idealnya Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat Tabel Kematian. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan baik, maka untuk menghitung Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak langsung dengan program Mortpak Lite.
Menurut Peraturan Presiden (Perpres) No. 29 tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, dalam Buku III Bab III disebutkan bahwa Umur Harapan Hidup periode tahun 2010 – 2015 untuk Provinsi Jawa Tengah adalah 72,60.
Sedangkan untuk estimasi angka harapan hidup 2000 - 2025di Indonesia menurut www.statistik-indonesia.com seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Tabel 5. Estimasi Angka Harapan Hidup di Indonesia
No. Provinsi 2000-2005 (2002) 2005-2010 (2007) 2010-2015 (2012) 2015-2020 (2017) 2020-2025 (2022) 1 2 3 4 5 6 7 1. Jawa Tengah 68.9 71 72.6 73.6 74.2 Sumber : http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/922/938/ Dalam RPJM 2006-2012, upaya untuk meningkatkan UHH menjadi 70 tahun merupakan hal penting yang perlu dicermati melalui upaya-upaya peningkatan kegiatan program yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat seperti penurunan resiko kesakitan, pada keluarga rentan, trend penyakit degeneratif dan tidak menular, serta peningkatan kesehatan pra usila yang dapat hidup produktif dan mandiri.
Umur Harapan Hidup (UHH) dipengaruhi oleh masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) serta Angka Kematian Bayi (AKB). Semakin tinggi jumlah kematian bayi maka makin rendah Umur Harapan Hidup. Untuk Kabupaten Wonogiri dikarenakan data real belum ada maka digunakan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri tahun 2013, yaitu sebesar 72,82.
3.3.2. Angka Kematian (Mortalitas)
3.3.2.1. Angka Kematian Bayi (AKB) / Infant Mortality Rate (IMR)
Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
AKB =
Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu X Konstanta
Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu
Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator yang paling sensitif untuk menentukan derajat kesehatan suatu daerah. Dari laporan jumlah kematian bayi yang disampaikan dari masing-masing Puskesmas, dapat
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
diperkirakan bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan (facility based) dan dari laporan masyarakat atau kader (community based).
Pada tahun 2014, AKB Kabupaten Wonogiri berdasarkan laporan dari Bidang Upaya Kesehatan, didapatkan angka sebesar 2,23 per 1.000 kelahiran hidup, atau 27 kematian dari 12.095 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan tahun 2013, angka kematian 8,56, dimana pada tahun 2010 mencapai angka 12,25 per 1.000 kelahiran hidup, dan tahun 2011 mencapai angka 10,08. Jadi dalam tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami kenaikan dikarenakan jumlah kematian bayi penyebabnya yang variatif dan karena kinerja yang meningkat sehingga kasus kematian dapat dilaporkan.
Sedangkan pada tahun 2014, terjadi penurunan yang tajam pada angka kematian bayi (AKB). Beberapa hal yang dapat mempengaruhi turunnya angka kematian ini kemungkinan adalah kenaikan derajat kesehatan, perubahan definisi operasional, maupun sebab-sebab lainnya.
AKB Kabupaten Wonogiri tahun 2013 yaitu mencapai 8.56 per 1.000 kelahiran penduduk sudah melampaui target apabila dibandingkan dengan target nasional tahun 2010 (40/1.000), dan target di tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 sebesar 8,5/1.000. (Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2008 – 2013).
Grafik 3. Trend Angka Kematian Bayi (AKB)
di Kabupaten Wonogiri Tahun 2007 – 2014
Sumber :Data Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang Upaya Kesehatan Dinas Kesehatan Kab. Wonogiri Tahun 2014.
12,25 7,30 6,56 8,56 2,23 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Jumlah kematian bayi terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas selogiri (4 kematian) dan UPT Puskesmas Slogohimo (3 kematian), adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 5.
3.3.2.2. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-5 tahun selama satu tahun tertentu per 1.000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi).
AKABA =
Banyaknya kematian anak berusia 0-5 th pada
satu tahun tertentu di daerah tertentu X Konstanta Jumlah Kelahiran Hidup
AKABA merupakan salah satu indikator kesehatan yang ikut mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. AKABA di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2014 sebesar 8,93 per 1.000 KLH (108 kematian). Apabila dibandingkan dengan tahun 2013, dimana AKABA sebesar 8,81, angka ini mengalami kenaikan. Walaupun secara kuantitatif mengalami penurunan, tetapi apabila dibandingkan dengan jumlah kelahiran hidup, dimana pada tahun 2014 sebesar 12.095 KLH, maka akan didapatkan AKABA yang meningkat.
AKABA di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2013 sebesar 8,81per 1.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kasus sebanyak 109 kematian, termasuk kematian bayi, dibandingkan dengan 12.376 KLH. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 7,26 per 1.000 kelahiran hidup, dengan jumlah kasus sebanyak 56 kematian, termasuk kematian bayi, dibandingkan dengan 12.814 KLH. Adanya perbedaan yang mencolok ini disebabkan oleh karena adanya peningkatan kinerja dan berfariasinya kematian balita sehingga untuk pelaporannya menjadi valit dibandingkan tahun 2013.
Kematian balita tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Selogiri (9 kematian) dan Nguntoronadi II (7 kematian).Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 5.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
3.3.2.3. Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate (MMR)
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
AKI =
Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari
setelah melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
X Konstanta (100.000 bayi
lahir hidup) Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi
yang lahir hidup pada tahun tertentu, di daerah tertentu
Angka Kematian Ibu atau AKI mencerminkan resiko yang dihadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh keadaan, sosial ekonomi, keadaan kesehatan kurang baik menjelang kehamilan.Kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran.Serta tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi, dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.
Untuk mengetahui besaran masalah kesehatan ibu, indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Ibu (AKI).Perhitungan AKI disetiap puskesmas sulit dilakukan karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran hidup.
Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan oleh WHO dalam 100.000 kelahiran hidup, maka digunakan Rasio Kematian Ibu. Untuk menghitung rasio kematian ibu di Kabupaten Wonogiri tidak dapat dilakukan karena angka kelahiran di Kabupaten Wonogiri kurang dari 100.000 kelahiran hidup.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Namun demikian, bila diasumsikan, maka AKI Kabupaten Wonogiri Tahun 2014 adalah 83 per 100.000 KLH, atau 10 kematian dari 12.095 KLH. Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 105 per 100.000 kelahiran hidup, atau 13 kematian dari 12.376 KLH. Dan apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tahun 2012 sebesar 101,5 per 100.000 AKH, tahun 2011 sebesar 75,25 per 100.000 KLH, tahun 2010 sebesar 86,9 per 100.000 KLH dan tahun 2009 sebesar 98,88 per 100.000 KLH. Apabila dibandingkan dengan target nasional tahun 2010 (150 per 100.000 kelahiran hidup), maka angka ini sudah mencapai target, namun apabila dibandingkan target daerah untuk tahun 2012 yaitu 90 per 100.000 KLH maka capaian tersebut belum mencapai target. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan kinerja bidang kesehatan sudah mengalami kenaikan derajat kesehatan.
Kematian ibu terbesar berada di wilayah kerja UPT Puskesmas Girimarto (2 kematian). Sedangkan puskesmas dengan kasus 1 kematian terjadi di beberapa UPT Puskesmas. Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 6.
Grafik 4. Trend Angka Kematian Ibu (AKI)
Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010 s/d 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang Upaya Kesehatan Tahun 2014
86,97 75,25 101,45 105,04 82,68 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Kasus kematian ibu di Kabupaten Wonogiri antara lain disebabkan oleh karena kasus yang ada disertai penyakit kronis atau komplikasi berat, misalnya :suspect ruptura uteri, perdarahan, partu lama, risiko tinggi akibat umur, eklamasi, serta post sectio. Hal ini dipengaruhi oleh masih kurangnya kuantitas maupun kualitas tenaga bidan terutama di wilayah terpencil serta kelengkapan sarana dan pra sarana dalam pelayanan obstetrik dan neonatal baik itu di Pondok Bersalin Desa (Polindes) maupun di puskemas, kondisi sosial ekonomi masih rendah yang juga mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat, sehingga menyebabkan pertolongan persalinan oleh dukun masih tinggi, kunjungan rumah (sweeping) post persalinan belum optimal, serta letak geografis yang masih sulit dijangkau.
Untuk mengantisipasi masalah ini maka diperlukan langkah yang segera dilakukan, misalnya meningkatkan keterpaduan pelayanan dalam deteksi resiko tinggi pada kehamilan / ANC, mulai dari tingkat pelayanan dasar sampai tingkat pelayanan rujukan. Selain itu juga perlu terobosan dengan mengurangi peran dukun dan meningkatkan peran bidan, dengan disertai peningkatan kompetensi tenaga bidan melaui pelatihan-pelatihan. Harapan kita agar bidan di desa benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI (MMR).Selain itu melalui pengembangan Desa Siaga dengan pembangunan poskesdes yang merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menurunkan AKI.
3.3.3. Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka kesakitan penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
3.3.3.1. Penyakit Bersumber Binatang
A. Pemberantasan Penyakit Malaria (P2 Malaria)
Malaria adalah salah satu penyakit menular yang banyak terjadi di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit ini semula sering muncul dan ditemukan di daerah rawa-rawa dan diperkirakan disebabkan oleh udara yang buruk, sehingga dikenal sebagai malaria (mal = jelek, aria = udara). Seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, pendapat ini dimentahkan oleh berbagai data mutakhir.
Malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia. Bibit penyakit tersebut binatang bersel satu
Malaria merupakan salah satu penyakit yang dapat muncul kembali setelah dilakukan upaya eradikasi maupun eliminasi (re-emerging
desease) dan masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat
Asia Tenggara, begitu juga di Indonesia penyakit ini menjadi ancaman dan mempengaruhi tingginya angka kesakitan dan kematian.
Penyakit Malaria menyebar cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program diperkirakan sebesar 35% penduduk Indonesia tinggal di daerah endemis Malaria.
Penderita malaria di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2014, berdasarkan pemeriksaan sediaan darah terdapat 3 penderita, yaitu di wilayah UPT Puskesmas Slogohimo, Baturetno I, dan Manyaran. Apabila dibandingkan dengan tahun 2013, didapatkan jumlah penderita sebanyak 5 penderita. Pada tahun 2012, terdapat 3 penderita malaria. Apabila dibandingkan dengan tahun tahun 2010 dan 2011, angka ini menunjukkan kenaikan, dimana pada tahun 2010 tidak ditemukan penderita malaria dan di tahun 2011 ditemukan 2 penderita. Kasus yang ada adalah kasus dari luar daerah (import).
Hal ini perlu terus didukung dengan peran serta masyarakat dalam penanggulangan malaria antara lain melalui : (1) kepatuhan minum obat anti malaria agar setiap penderita dapat minum obat secara tuntas, (2)
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
pencegahan gigitan nyamuk melalui pemakaian kelambu, pemasangan kasat kasa di rumah, pemakaian obat gosok penolak nyamuk (repellent), pemakaian baju tebal dan (3) pencegahan terjadinya sarang nyamuk malaria melalui pembersihan lumut di tempat-tempat/bagian rumah yang lembab, pencegahan terbentuknya genangan air, memelihara ikan pemakan jentik di genangan air, serta pencegahan terbentuknya sarang nyamuk.
B. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (P2 DBD)
Tingginya mobilitas penduduk, belum memasyarakatnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta masih rendahnya angka bebas jentik (ABJ), merupakan kondisi yang menyebabkan DBD masih merupakan masalah di Kabupaten Wonogiri. Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial). Pada tahun 2014, angka kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) mencapai 4,1 per 100.000 penduduk. Angka angka didapatkan dari perbandingan 43 penderita dengan jumlah penduduk. Adapun dari 43 penderita, tidak terdapat kematian.
Dibandingkan dengan tahun 2013, dengan angka kesakitan sebesar 5,13, maka pada tahun 2014 sudah menunjukkan penurunan. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012, sebesar 1,04, maka tahun 2014 masih jauh diatasnya.
Grafik 4. Trend Angka Kesakitan DBD
Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010 s/d 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014
28,41
0,88 1,04
5,13 4,1
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
UPT Puskesmas dengan jumlah penderita DBD tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri I sebanyak 6 penderita, dan dibawahnya UPT Puskesmas Manyaran, Wonogiri II, dan Ngadirojo I masing-masing sebanyak 2 penderita.
Bila dilihat dari banyaknya penderita yang berasal dari wilayah kerja Puskesmas yang berpenduduk relatif padat, dan berada dalam jalur mobilitas yang tinggi, maka hal ini kemungkinan disebabkan oleh lingkungan pemukiman yang padat, banyaknya sampah, genangan air bersih, semak belukar pada lahan kosong, dan kebersihan lingkungan. Kemungkinan juga adanya baju-baju yang digantung di dalam rumah, kondisi rumah yang gelap dan lembab, menambah risiko untuk perkembangbiakan nyamuk jenis Aedes aegypti. Kemungkinan lain yaitu adanya mobilitas penduduk yang tinggi, yang dapat terinfeksi pada saat di lain daerah.
Beberapa sumber mengemukakan, bahwa jentik yang dihasilkan dari induk nyamuk yang sudah terinfeksi virus dengue, apabila sudah menjadi nyamuk, sudah akan mampu menularkan penyakit demam berdarah, karena sudah terinfeksi dari induknya. Sumber yang lain mengemukakan, nyamuk yang terinfeksi oleh virus dengue, akan mengalami kemunduran kemampuan menghisap darah. Sehingga nyamuk akan berulang-ulang mencoba dari satu orang ke orang yang lain, sekaligus menularkan virus dengue ke tubuh korban.
3.3.3.2. Penyakit Menular Langsung
A. Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2 TB Paru)
Berdasarkan Global Report TB tahun 2013, Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 6.900 kasus TB MDR per tahun dan berada pada peringkat ketujuh dari 27 negara yang memiliki beban TB MDR tinggi, setelah India, China, dan Afrika Selatan.
Angka tersebut diyakini sangat memungkinkan, apalagi bila dikaitkan dengan kondisi lingkungan perumahan, sosial ekonomi masyarakat,
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
serta kecenderungan peningkatan penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini.
Di wilayah Kabupaten Wonogiri, diperkirakan pada tahun 2014 terdapat 1.015 penderita BTA (+). Dari angka perkiraan tersebut, didapatkan penderita baru BTA (+) sebesar 375 penderita, atau Case Detection Rate (CDR) sebesar 35,70%. Jumlah penemuan tertinggi berada di wilayah UPT Puskesmas Wonogiri II (54 penderita), Slogohimo (36 penderita), dan Kismantoro (28 penderita). Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 7.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2013, perkiraan 1.084 penderita BTA (+) sebesar 431 penderita, atau CDR sebesar 39,76. Apabila dibandingkan baik dari jumlah penderita maupun CDR nya, maka didapatkan penurunan. Angka ini
Menurut Prof. Bhisma Murti, dkk, dalam makalahnya yang berjudul ”Evaluasi Program Pengendalian Tuberkulosis Dengan Strategi Dots Di Eks Karesidenan Surakarta”, beberapa faktor penyebab rendahnya CDR: (1) Kesulitan suspek kasus mengeluarkan dahak, meskipun telah diberikan mukolitik-ekspektoran (terutama pasien suspek TB yang telah diobati sebelumnya dengan obat anti-tuberkulosis/ OAT yang tidak standar); (2) Program TB hanya mengandalkan Passive Case Finding (PCF) untuk menjaring kasus TB; (3) Penerapan estimasi prevalensi kasus BTA positif TB yang seragam di seluruh Indonesia, yaitu 107 kasus/100,000 penduduk, untuk semua kota, kabupaten dan kecamatan; (4) Penyebab lain, seperti penjaringan terlalu longgar (terlalu sensitif), banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek terjaring, dan kualitas dahak yang diperiksa kurang baik.
Pada tahun 2012 dari 446 penderita yang diobati, didapatkan angka kesembuhan sebesar 91,03% (406 penderita). Sedangkan untuk tahun-tahun sebelumnya yaitu tahun-tahun 2011 dari 446 penderita yang diobati, didapatkan angka kesembuhan sebesar 90,77% (423 penderita). Sedangkan pada tahun 2010, dari 391 penderita didapatkan data kesembuhan penderita TB sebesar 341 penderita, atau sebesar 87,21%.
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Apabila dibandingkan dengan tahun 2009, dimana angka kesembuhan TB mencapai 96,79%, maka pada tahun 2012 persentase kesembuhan TB mengalami penurunan. Sedangkan bila dibandingkan dengan target Indonesia Sehat 2010 (85%), maka persentase kesembuhan di Kab. Wonogiri sudah diatas target. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 12.
Grafik 5. Trend Persentase Kesembuhan TB Paru Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2009 s/d 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2009,2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014
B. Pemberantasan Penyakit Kusta (P2 Kusta)
Penyakit kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata dua hingga lima tahun. Setelah lima tahun, tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta mulai muncul antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas,
96,79 87,21 90,77 91,03 93,39 87,82 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta. Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
- Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
- Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. Jika ditinjau dari situasi global, Indonesia merupakan negara penyumbang jumlah penderita kusta ketiga terbanyak setelah India dan Brazil. Masalah ini diperberat dengan masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini, sebagian besar penderita dan mantan penderita kusta dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan, yang berakibat pada menurunnya produktivitas dan lebih lanjut akan meningkatkan angka kemiskinan.
Untuk kepentingan pengobatan, WHO membagi penyakit kusta menjdi dua tipe, yaitu tipe Pausibasiler (PB)/kusta kering, dan tipe Multibasiler (MB)/kusta basah. Pada kusta tipe PB terdapat 1 – 5buah bercak pada kulit dengan distribusi yang tidak simetris, hilangnya sensasi rasa yang jelas dan hanya mengenai satu cabang saraf, namun memberi hasil pemeriksaan bakterioskopik yang negatif. Pengobatan Penyakit kusta tipe PB ini cenderung lebih sebentar daripada tipe basah. Sedangkan pada kusta tipe MB ditandai dengan adanya bercak atau kelainan pada kulit lebih dari lima buah, dengan distribusi yang lebih simetris, hilangnya sensasi rasa kurang jelas namun mengenai banyak cabang saraf, serta ditemukan hasil yang positif pada pemeriksaan
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
bakterioskopik. Penularan terjadi apabila seseorang kontak dengan pasien sangat dekat dan dalam jangka panjang.
Di Kab. Wonogiri pada tahun 2014, tercatat sebanyak 0 penderita PB dan 20 penderita MB. Sehingga total penderita penyakit kusta ada 20 penderita. Dari 20 penderita kusta dnegan tipe MB, terbanyak berada di wilayah UPT PuskesmasManyaran (6 penderita), Purwantoro I (5 penderita), dan Slogohimo (3 penderita) dengan persentase selesai berobat atau Release From Threatment Pausi Basiler (RFT PB) sebesar 0% dan Release From Threatment Multi Basiler (RFT MB) sebesar 95%. Dibandingkan dengan tahun 2013, tercatat penderita kusta dengan tipe PB sebanyak 2 orang, tipe MB sebanyak 21 orang, dengan RFT 100%. Tahun 2012, tercatat 34 orang (4 penderita PB, 30 penderita MB), dengan RFT sebesar 100%.
Grafik 6. Trend Jumlah Penderita Kusta MB
Di Kabupaten Wonogiri Tahun 2010 s/d 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014
Apabila dibandingkan dengan tiga tahun terakhir yaitu tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun 2014 ini cenderung terus mengalami penurunan. 42 39 30 23 20 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
C. Pemberantasan Penyakit Diare (P2 Diare)
Penyakit diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, maupun kotoran yang disertai darah dan lendir.
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, diare disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus, parasit), alergi (terhadap makanan maupun obat-obatan), infeksi oleh virus maupun bakteri lain yang menyertai penyakit lain, maupun oleh karena pemanis buatan.
Berdasarkan laporan Bidang P2PL tahun 2014, terdapat 9.716 penderita, dengan angka kesakitan sebesar 9,25 per 1.000 penduduk. Dari seluruh penderita tersebut tidak terdapat kematian akibat diare.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2013, terjadi penurunan dimana pada tahun 2013 terdapat 42.858 penderita, dengan angka kesakitan sebesar 22,7 per 1.000 penduduk. Dan pada tahun 2012 terdapat 12.684 penderita dan angka kesakitan akibat diare sebesar 10,13 per 1.000 penduduk, maka kejadian diare pada tahun 2014 adalah menurun. Adapun trend penyakit diare pada tahun 2010 s/d 2014 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik7. Trend Jumlah Penderita Diare
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014.
Berdasarkan grafik, terlihat bahwa perkembangan penderita penyakit Diare di Kabupaten Wonogiri mengalami siklus naik dan turun dari tahun 2010 s/d tahun 2014.
3.3.3.3. Kejadian Luar Biasa
Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Wonogiri selama tahun 2014 tercatat 2 KLB, dan keseluruhannya ditangani < 24 jam (100%). Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 27. KLB yang terjadi berupa keracunan makanan.
3.3.3.4. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)
Difteri, Pertusis, Tetanus, campak, polio dan hepatitis B merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit-panyakit ini timbul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi.
Di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2014 data yang diterima dari laporan SIK puskesmas tentang penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) hanya data penyakit campak yang rata-rata terisi. Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB).
12.150 17.911 12.684 9.649 9.716 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Pada tahun 2014 tidak terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Kabupaten Wonogiri. Adapun untuk data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 20.
Grafik 8. Trend Jumlah Penderita Campak
Di Kabupaten Wonogiri, tahun 2010 s/d 2014
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014.
Data selengkapnya dapat dilihat di lampiran, tabel 20. 3.3.4. Status Gizi
Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena disamping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individual. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.
Berikut ini akan disajikan gambaran mengenai indikator-indikator status gizi masyarakat antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), status gizi balita, ASI Ekslusif, Kecamatan Bebas Rawan Gizi dan Garam Beryodium. 3.3.4.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
47 30 45 51 0 2010 2011 2012 2013 2014
Profil Kesehatan Kabupaten Wonogiri Tahun 2014
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth
Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya
kurang. Di negara berkembang, banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.
Di Kabupaten Wonogiri, pada tahun 2014 tercatat 562 KLH dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram, atau 4,65% dari bayi lahir ditimbang. Dari data tersebut, jumlah BBLR terbanyak berada di wilayah UPT Puskesmas Purwantoro I (36 bayi), kemudian UPT Puskesmas Baturetno I (30 bayi), dan UPT Puskesmas Ngadirojo (27 bayi). Adapun data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, tabel 37. Dibandingkan tahun 2013, dimana terdapat 592 BBLR, atau 4,79% dari bayi lahir ditimbang. Terdapat penurunan baik dari segi jumlah maupun persentase. Sedang pada tahun 2012, terdapat 626 kejadian BBLR, atau 4,89% dari bayi lahir ditimbang. Grafik 9. Trend Jumlah Bayi BBLR
Di Kabupaten Wonogiri, tahun 2010 s/d 2014
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2010, 2011, 2012, 2013, dan Laporan Bidang P2PL DKK Wonogiri Tahun 2014.
449 608 626 592 562 400 450 500 550 600 650 2010 2011 2012 2013 2014