• Tidak ada hasil yang ditemukan

CEMBURU, AGRESI DAN PENANGGULANGANNYA: Study Kasus Pada 3 Pasangan Suami lstri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CEMBURU, AGRESI DAN PENANGGULANGANNYA: Study Kasus Pada 3 Pasangan Suami lstri"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

O/eh:

HALIMATUSSADIYAH

NIM. 9919016112

FAKULTAS PSIKOLOG!

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SY ARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

Oiajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Pembimbing I

Ora. Afidah Mas'ud

Oleh : Halimatussadiyah NIM

:9919016112

Di Bawah Bimbingan: Pembimbing II

I

-~jiJ~

Ors. Asep Haerul G ni. Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 12 Februari 2004 Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.

Sidang Munaqasah Ketua merangkap anggota

Ora. Hj. Netty Hartati, M.Si. NIP. 150.021.5938

-=-~

Prof. Dr. AmirJtrddin Rasyad.

NIP.

150.011.333

Pembimbing I

Ora. Afidah Mas'ud. NIP.

150.288. 775

Sekretaris merangkap anggota

Ora. H". Zahr NIP. 150. 238.

penguji II

Dta. Afidah Mas'ud.

NIP.

150.228. 775

Pembimbing II

/

(4)

Cemburu lahir karena cinta. Saat seseorang merasakannya tentunya tiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan apa yang ia rasakan terutama antara laki-laki dan perempuan serta bagaimana mereka menanggulangi perasaan yang tidak mengenakkan tersebut. Selama ini kita ketahui bahwa laki-lai adalah makhluk yang kuat dan selalu menggunakan kekerasan untuk menunjukkan perasaanya terutama yang tidak

mengenakkan. Berlandaskan hal tersebut diatas maka peneliti ingin meneliti cemburu, agresi dan penanggulangan yang terjadi pada pasangan suami dan lstri. Untuk mencari jawabannya maka pertanyaaan penelitiannya berupa:

1. Apa saja proses cemburu yang dialami suami dan lstri?

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya cemburu pada mereka?

3. Apa saja pemicu kecemburuan yang mereka rasakan? 4. Adakah perilaku agresi yang mucul? Dalam bentuk apa?

5. Coping yang bagaimana yang dilakukan oleh suami dan istri tersebut? Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif yang digambarkan melalui penelitian deskriptif yang menekankan pentingnya konteks, pengalaman serta kerangka pemikiran subjek.metode yang digunakan adalah meiode kasus dengan kasus ganda dengan menggunakan instrumen wawancara sebagai alat pengumpul data, dan subjek yang diwawancarai sebanyak enam orang yang terdiri dari 3 laki-laki dan 3 perempuan yang merupakan pasangan suami istri. Dengan uji validitas dan reliabilitas penelitian dengan 2 subjek. Untuk menganalisis data yang diperoleh, peneliti menggunakan proporsi teoritis, jadi analisis terhadap data sesuai dengan teori yang telah ada.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa dalam mengalami cemburu antara laki-laki dan perempuan itu berbeda. Jika laki-laki lebih banyak mengalami kecemburuan pada saat berpacaran sedangkan perempuan lebih banyak mengalaminya setelah mereka menikah. Sedangkan pada saat lamaran sama-sama tidak mengalami cemburu kecuali subjek yang ke 5. dimana ia merasakan kecemburuan pada setiap masa dalam hubungan. Pada penilaian kedua, sebagian besar dari subjek menggunakan catastrophic thinking. Hanya satu subjek yang menggunakan rasional thinking.

(5)

merasakan kecemburuan terhadap mantan pacar pasangan yang ada atau hadirnya wanita atau pria lain yang berusaha menarik perhatian pasangan. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mengekspresikan

kecemburuannya dengan perilaku agresi hanya saja bentuk agresi dari perempuan lebih beragam yang ditujukan kepada diri sendiri ataupun pasangan . sedangkan agresi pria \ebih sedikit bentuknya dan ditujukan kepada ancaman atau orang ketiga.

Saat mengalami kecemburuan, mereka melakukan coping untuk meredakan perasaannya. Diantara coping yang dilakukannya adalah dengan

menggunakan strategi kepercayaan diri (self-reliance) dengan menganggap ini adalah cobaan dan pengabaian selective (selective ignoring).

(6)

Di setiap masa dalam kehidupan manusia selalu ada tugas yang harus dilaksanakan dan diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, dan tugas untuk masa ini Alhamdulilllah telah penulis selesaikan dengan baik.

Penulis juga menyadari bahwa tugas menyusun skripsi ini tidak dapat selesai tanpa bantuan orang lain yang men-support untuk tetap bertanggung jawab akan tugas ini. lni adalah kado terindah dalam kehidupan penu!is. Ucapan terima kasih yang tulus dari hati ini, Pertama, kepada dekan Fakultas

Psikologi, ibu Ora. Hj. Netty Hartati, M, Si beserta seluruh civitas akademika fakultas psikologi.Kedua, kepada pudek I Fakultas Psikologi !bu Ora. Hj. Zal1rotun Nihayah, M, Si. Ketiga, kepada pembimbing seminar dan skripsi, bapak Ors. Asep Haerul Gani, Psi. Atas bimbingan, waktu yang disediakan dan ilmunya hingga skripsi ini dapat terwujud. Keempat, kepada ibu Ora. Afidah Mas'ud yang telah memberikan bimbingan dan ilmu serta

kesempatannya untuk terwujudnya skripsi ini.

Kelima, kepada Ayahanda H. Hasbulloh dan lbunda Hj. Asmanih tercinta yang selalu mendorong dan memberiklan cinta dan perhatiannya kepada ananda. Serta kepada bang Zaki, kak ljah, kak Bedah, kak Zahra, Sahla, Robiah, Hamidah, Muhammad dan Fadhi!lah, terima kasih atas pengertian dan dukungannya hingga semangat juang penulis yang tak pernah padam. Dan keponakan-keponakan tersayang Nida , !fan, Haekal. Keenam, kepada teman-teman sejati; Anis, Eva, Ari, Ema, Nisa, Aidan Suryani, Terima kasih alas persahabatan yang indah ini serta perhatian, cinta dan semangat dari

(7)

Ramadani, Adrian, Rudi, dan Muhammad yang selalu memberikan dorongan bagi penulis.

Para responden yang bersedia menceritakan pengalaman serta perasaannya kepada penuiis. Seluruh komunitas Gang Bacang. Tetap semangat dan berusaha. Dan kepada semua pihak yang secara langsung atau tak langsung membantu selesainya skripsi inL Allah lah yang membalas kebaikan kalian semua. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. IV Jakarta, Februari 2004 M Dzulhijjah 1424 H Penulis Halimatussadiyah

(8)

Abstrak . . . I Kata Pengantar ... . . ... Ill

Daftar lsi ... v

Daftar Tabel ... vii

SABI PENDAHULUAN ... 1

A Latar 8elakang Masalah... .... .. . 1

8. ldentifikasi dan Perumusan Masalah ... 8

1. ldentifikasi Masalah .. .. .. . .. . . .. . .. ... 8 2. Perumusan Masai ah .. .... ... .. ... 9 C. Tujuan Penelitian ... 9 D. Manfaat Penelitian . . . .. .. .. .. .. . . ... 9 E. Kaidah Penulisan .. . .. .. .. .. .. .. .. .. . . . . . .. . . ... .. .. .. .. .. .. . . .. . . . .. .. .. 1 O F. Sistematika Penulisan .. ... . . . ... 1 O BAB II KAJIAN TEORI ... 12

A Cemburu . .. .. .. .. .. .. .. .. .. .. . . . .. .. . .. .. .. .. .. .. .. .. . .. . . .. .. .. .. .. .. .. . . . 12

1. Definisi Cemburu ... 12

2. Perbedaan Cemburu dengan lri ... 15

3. Jenis-jenis Cemburu ... 17

4. Proses Cemburu ... . ··· ... ··· 19

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Cemburu ... 22

6. Faktor-faktor yang Dapat Memicu Cemburu ... 27

7. Gender dan Cemburu ... 28

(9)

3. Faktor Penyebab Agresi ... 44

4. Cara Mengurangi Agresi ... 49

5. Gender dan Agresi.... .. .. . ... 50

D. Hubungan Cemburu dan .Agresi . ··· ··· 51

E. Perkawinan ... . . ... ··· 54

BAB Ill METODOLOGI PENELITIAN ... 57

A Desain Penelitian ... 57

B. Karakteristik Subjek ... 59

C. Subjek ... 59

D. Teknik dan lnstrumen Pengumpulan Data ... 60

E. Teknik Pengolahan Data ... 62

F. Prosedur Penelitian ... 63

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA ... 65

A Gamba ran Um um Subjek ... 65

B. Kasus Cemburu dan Analisis Data ... 66

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 132

A Kesimpulan ... 132

B. Diskusi . . . . . . . . ... 134

C. Saran . . . . . . . . . ... 136

DAFTAR PUSTAKA LAMPI RAN

(10)

2. Tabel variasi agresi pada manusia ... 42

3. Tabel gambaran umum subjek ... 66

4. Tabel cemburu Ira ... 76

5. Tabel cemburu Alex ... 84

6. Tabel cemburu pasangan 1 ... 87

7. Tabel cemburu Rosi ... ··· 97

8. Tabel cemburu Dani ... 103

9. Tabel cemburu pasangan 2 ... 105

10. Tabel cemburu Wita ··· ··· 117

11. Tabel cemburu Rian ··· 125

12. Tabel cemburu pasangan 3 ... . . ... 127

(11)
(12)

A.

Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan

perempuan, sangat dianjurkan untuk menikah dan menghasilkan keturunan serta membentuk keluarga yang sakinah. Salah satu landasan untuk

membina sebuah rumah tangga adalah cinta. Dalam menjalin hubungan percintaan tersebut manusia tidak hanya merasakan perasaan yang positif seperti bahagia dan senang, ia juga merasakan perasaan negatif seperti cemburu, kesepian depresi dan marah (Sternberg, 1988).

Penulis Prancis La Roschefoucauld mengatakan bahwa cemburu selalu lahir bersamaan dengan cinta (Deaux, Dane,& Wrightsman, 1993), sedangkan Buss (2000) mengatakan bahwa cemburu itu serupa dengan cinta, dengan kata lain jika tidak ada cemburu maka tidak ada cinta.

Perasaan cemburu yang ada dalam hubungan cinta dikenal sebagai bukti cinta seseorang kepada pasangannya, dapat menjadi bumbu penyedap dalam sebuah hubungan dan dapat menjadi perekat kembali hubungan yang

(13)

renggang, biasanya pasangan yang sebelumnya mengalami cemburu

hubungan antara keduanya semakin mesra, dengan kata lain cemburu dapat memelihara dan meningkatkan cinta, karena ini adalah teknik untuk

mendapatkan perhatian dari pasangan. Dan ada juga cemburu yang membuatnya menjadi hancur.

Ada dua pandangan besar yang berbeda dalam melihat cemburu, yaitu pandangan evolusioner dan pandangan cultural psikologis. Evolusioner (evolutionary}, disebut juga sebagai pandangan biologis. David M. Buss, salah seorang tokoh evolusioner melihat cemburu dari sisi evolusi. Menurutnya cemburu dihasilkan dari adaptasi, sehingga pada dasarnya setiap manusia sejak lahir (innate) telah memiliki sifat cemburu ( Buss,

2000).

Pandangan cultural psychologist, seperti Ralph Hupka melihat cemburu dari sisi yang berbeda. Menurut pandangan ini cemburu adalah sesuatu yang dipelajari dalam masyarakat bukan sesuatu yang sifatnya bawaan, cemburu merupakan sesuatu yang dipelajari maka budaya sangat berpengaruh bagi timbulnya rasa cemburu sehingga manusia yang memiliki budaya yang berbeda maka ia akan berbeda pula dalam cemburu. Contoh konkritnya adalah bila pacar memeluk orang lain yang berlawanan jenis, hal ini dapat menimbulkan kecemburuan yang lebih besar pada masyarakat di Hungaria

(14)

dari pada di Amerika (Buunk &Hupka, seperti yang dikutip oleh Baron & Bryne, 1994).

Walaupun berbeda dalam titik tolak pandangannya terhadap cemburu, keduanya setuju mengenai satu hal yaitu cemburu dalam batas- batas tertentu dapat bermanfaat bagi hubungan. Atau dengan kata lain, cemburu tidak selalu berakibat negatif. Hal ini terjadi pada tingkat cemburu yang rendah. Dalam bentuk ini cemburu dapat menimbulkan komunikasi yang konstruktif diantara pasangan sehingga meningkatkan komitmen keduanya (Knox, 1988). karena perkembangan lain yang dicapai sesuai dengan perkembangan komitmen adalah cemburu (Deaux, Dane & Wrightsman, 1993). Akan tetapi tidak menafikan pula bahwa cemburu dapat mengancam sebuah hubungan juga (Baron & Bryne, 1997).

Beberapa hal positif yang mungkin ditimbulkan oleh cemburu antara lain adalah: menjaga agar pasangan tetap bersama ( Buss,2000),

mempertahankan hubungan dekat (Sharpsteen & Kirk Patrick, 1997),

membuat individu merasakan cinta yang lebih besar terhadap pasangan yang memutuskan untuk tetap melanjutkan hubungan yang ada (Oktarina, 1994). Selain itu cemburu juga merasakan perasaan yang positif seperti gembira, cinta, dan merasa hidup ( Pines & Aronson, seperti yang dikutip oleh Brehm. 1992).

(15)

Selain hal positif, hal negatif juga dihasilkan dari cemburu seperti reaksi emosional yang berupa takut, kehilangan, cemas, sakit, kemarahan terhadap penghianatan. mudah terluka, kecurigaan dan putus asa {Brehm, 1992). Selain itu seseorang yang merasa cemburu pikirannya akan selalu dipenuhi rasa curiga tidak menutup kemungkinan pula ia menjadi paranoid terhadap setiap orang yang dekat dengan pasangannya, depresi dan sulit untuk mengontol kemarahannya sehingga ia menjadi tersiksa secara emosional dan bahkan mungkin juga ia akan mengajak ke dalam prilaku self-destructive atau merusak diri sendiri (Gregory,2003).

Perasaan cemburu dapat dimanifestasikan dalam bentuk tingkah laku. Dalam penelitian di Indonesia pada subjek yang telah menikah, ditemukan bahwa menelepon pasangan dengan tiba-tiba untuk mengetahui ia ada di tempat merupakan perilaku cemburu yang sering dilakukan (Oktarina, 1994). Perasaan ini adalah sebuah produk sosial yang datang bila seseorang merasa tidak aman dan takut statusnya dalam suatu hubungan percintaan atau terhadap pasangannya terancam pihak lain.

Jika menilik relitas yang terjadi, ada perilaku menyakiti bahkan membunuh pasangan yang dilakukan oleh seseorang karena cemburu, dan ini adalah ha! terekstrim yang diakibatkan oleh cemburu. Peristiwa Subandiro yang telah menganiaya istrinya dengan menyiramkan air keras ke tubuh dan muka

(16)

istrinya karena rasa cemburu, adalah contoh negatif dari cemburu (Pikiran Rakyat, 2002).

Peristiwa yang lebih kejam Jagi juga menimpa seorang istri yang dibunuh suami karena cemburu, melihat istrinya berhubungan dengan laki-lak1 lain. Sang istri meninggal setelah dipukul dengan penggilingan cabe, di dapur rumahnya (www.indosiar.com).

Dalam suatu Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (seperti dikutip Dr. Utsman Nadjati (2000)), Saad bin Ubadah berkata: "kalau aku melihat seorang laki-laki bersama istriku akan aku pukul ia dengan pedangku tanpa aku memaafkan". Selain hadis di atas Al-Qur'an juga pernah menyebutkan suatu peristiwa yang berkaitan dengan kecemburuan dalam meraih cinta yang diberikan oleh sang ayah. Dalam surah Yusuf diceritakan bahwa Yusuf As adalah anak yang paling disayang oleh ayahnya karena kepribadiannya yang baik, karena hal inilah maka saudara-saudara Yusuf yang lain merasa cemburu dan mereka bersatu untuk menentang Yusuf dan berencana untuk menyingkirkannya dengan melemparnya kedalam sumur (Nadjati, 2000)

Hasil penelitian di Amerika Serikat (Buss,2000), menemukan 31 % dari respondennya mengatakan bahwa cemburunya seringkali sulit untuk dikontrol. Di antara responden yang pernah mengalami cemburu, 38 %

(17)

mengatakan cemburu telah membuat mereka berkeinginan untuk melukai seseorang. la juga mengatakan bahwa cemburu merupakan motif bagi kekerasan dan penyebab distress perkawinan. (Brown & Moore, 2002). dan merupakan alasan dalam pembunuhan pasangan maupun pesaing, bahkan 1a juga menjadi alasan dari perilaku bunuh diri (Buss, 2000).

Dengan melihat penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya mengenai cemburu, penelitian mereka berkisar pada perbedaan situasi pemicu

cemburu laki-laki dan perempuan yang dilakukan oleh Harris (2000), atau mengenai emosi yang menyertai cemburu oleh Salovey & Rodin (1986), Parrot & Smith ( 1988) dan Zammuner & Fischer ( 1995), ada juga yang meneliti tentang cemburu dan self-esteem oleh Bringle (1991 ), cemburu dan gaya kasih sayang /attachment style (Radecki-Bush,et.al.1993). perbedaan jenis kelamin dalam cemburu (Aune & Comstock, 1991; Guerrero.et.al.1993) serta cemburu dengan kekerasan (Mullen, 1996).

Sedangkan penelitian yang ada di Indonesia sendiri adalah mengenai hubungan antara komitmen perkawinan dengan kecemburuan

(Oktarina, 1994), faktor-faktor yang menyebabkan cemburu (Nugraha, 1998) dan proses cemburu dan strategi coping pada individu dewasa muda yang berpacaran ( Yulianto,2002).

(18)

Dan kebanyakan pelaku dari kekerasan ini adalah laki-laki karena mereka merasa bahwa mereka adalah jenis kelamin yang berkuasa dan selalu berusaha untuk mengontrol pasangannya dengan perlakuan yang kejam sebagai bentuk dominasi atau kepuasan dalam hubungan jika mereka merasakan adanya ancaman, bahkan mereka mampu untuk melakukan pembunuhan terhadap pasangannya (Harris, 2003; Buss, 2000; Mo!m, 1997), sedangkan wanita akan lebih memilih reaksi untuk meninggalkan laki-laki

Selain itu mengenai perbedaan gender dan cemburu, tokoh evolusioner memiliki pandangan bahwa laki-laki cemburu pada ketidaksetiaan seksual (sexual infidelity) pasangan, dan perempuan cemburu terhadap ketidak setiaan emosional (emotional infidelity) pasangan, jadi laki-laki hanya akan cemburu bila ia melihat pasangannya tidur dengan laki-laki lain akan tetapi wanita akan cemburu hanya jika pasangannya memikirkan wanita lain (Harris, 2000; Buss,2000). Karena perbedaan pandangan dalam hal inilah maka Davies mengatakan bahwa laki-laki berasal dari Mars dan Perempuan berasal dari Venus.

Dengan fakta- fakta yang telah ada dan penelitian- penelitian sebelumnya maka jelas bahwa ada hubungan antara cemburu dengan kekerasan,serta adanya perbedaan gender dalam cemburu dan agresi, karena ini maka penulis tertarik sekali untuk meneliti hal ini.

(19)

Atas pertimbangan diataslah maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai "Cemburu, Agresi dan Penanggulangannya: Studi Kasus pada 3 Pasangan Suami lstrr.

B.

ldentifikasi dan Perumusan Masalah

1. ldentifikasi masalah

Dalam penulisan skripsi ini masalah yang diteliti adalah rasa cemburu yang merupakan emosi ganda yang dirasakan oleh seseorang karena adanya ancaman baik secara nyata maupun hanya khayalan dalam hubungan antara suami dan istri.

Sedangkan untuk prilaku agresi yaitu perilaku yang bertujuan untuk menyakiti pasangannya maupun orang lain ataupun dirinya sendiri baik secara fisik maupun mental, langsung atau tak langsung, aktif maupun pasif, secara verbal ataupun perilaku, yang diakibatkan oleh cemburu.

Berdasarkan uraian diatas maka masaklah yang diteliti adalah: 1. Apa saja proses cemburu yang dialami suami dan lstri?

(20)

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya cemburu pada mereka?

3. Apa saja pemicu kecemburuan yang mereka rasakan? 4. Adakah perilaku agresi yang mucul? Dalam bentuk apa?

5. Coping yang bagaimana yang dilakukan oleh suami dan istri tersebut?

2. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan maka, perumusan dari masalah yang dirumuskan sebagai berikut: " Cemburu, Agresi dan

Penanggulangannya: Studi Kasus pada 3 Pasangan Suami lstri"

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengungkapkan apakah ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam cemburu dengan perilaku agresi serta penaggulangannya

D.

Manfaat Penelitian

(21)

1. Memberikan kontribusi yang positif terhadap khazanah ke-Psikologi-an.

2. Untuk merangsang penelitian lain yang ada kaitannya dengan cemburu atau agresi.

3. Sebagai bahan pertimbangan bagi para pasangan agar lebih bijak dalam mengekspresikan kecemburuannya.

4. Memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai dampak negatif dari perasaan cemburu.

E.

Kaidah Penulisan

Pada penulisan skripsi ini, penulis menggunakan kaidah penulisan American Psychological Association (APA Style).

F.

Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari 5 bab

1. Bab pertama atau pendahu!uan akan dibahas mengenai latar belakang masalah, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kaidah penulisan serta sistematika penulisan.

(22)

2. Bab kedua berisi kajian teori dengan beberapa sub bab yang meliputi: definisi cemburu,perbedaan cemburu dengan iri, faktor-faktor penyebab cemburu, perbedaan jenis kelamin terhadap kecemburuan, proses kecemburuan, coping terhadap cemburu, kemudian definisi agresi, penyebab agresi, cara mengurangi agresi, hubungan cemburu dengan agresi, perkawinan dan hipotesis.

3. Bab ketiga adalah metode penelitian, yang berisi tentang: desain penelitian, karakteristik subjek, subjek, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik pengolahan data dan prosedur penelitian.

4. Bab keempat merupakanhasil penelitian dan pengolahan data serta analisis data.

5. Bab kelima berisi tentang kesimpulan, diskusi dan saran 6. Lampiran- lampiran yang berkaitan dengan penelitian.

(23)
(24)

A.

Cemburu

1. Definisi cemburu

Ketika individu melihat pasangannya tidak setia, maka reaksinya ada dua kemungkinan yaitu, (a) individu akan menyangkal hal tersebut dengan menganggap bahwa pasangannya bukan tidak setia terhadapnya melainkan hanya sekedar berteman dengan lawan jenisnya itu, atau (b) ia akan

menganggap bahwa pasangannya tidak setia dan akan bereaksi dengan cemburu (Buss, 2000)

Cemburu didefinisikan sebagai reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap suatu hubungan karena adanya orang ketiga yang terlihat sebagai penyeludup diantara mereka (Parker.et al., 1999)

"is an aversive emotional reaction to a partner's contact or relation ship with a third party, seen at interloper''.

(25)

Sedangkan Ellis dan Weinstein, 1986 mendefinisikan cemburu sebagai reaksi emosional seseorang yang timbul bila hubungan percintaannya ini mendapat ancaman dari pihak ketiga ( Brehm, 1992)

" ... emotion that people experience when control over valued resources that flow through an attachment to another person is perceived to be in jeopardy because this partner might want or might actually give and/ or receive third party"

Ketakutan atau kewaspadaan akan digantikan; ketakutan akan kehilangan posisi atau kasih sayang adalah definisi cemburu yang di kemukakan oleh Morris (\/Vilson& Daiy, 1995). Selain itu, cemburu merupakan karakteristik terbaik bagi sebuah daerah psikologis yang kompleks yang menjadi aktif karena adanya perasaan terancam dari pihak ketiga yang mungkin akan merebut tempatnya dalam sebuah hubungan, dan kemungkinan individu tersebut akan bereaksi dengan kewaspadaan bahkan sampai melakukan kekerasan untuk menghalangi sebuah ancaman (Wilson & Daly, 1992a)

Dalam Gale Encyclopedia Of Psychology, cemburu merupakan kombinasi dari reaksi emosional yang didalamnya terdapat rasa takut (fear), marah (anger), dan kecemasan (anxiety) (White, 1989).pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Nadjati (2000) dengan mengatakan bahwa ketika ia merasakan orang yang dicintainya mengarahkan cintanya kepada orang lain, maka ia akan merasakan emosi ganda yaitu marah, benci, sedih serta ada keinginan untuk menyakiti.

(26)

Apabila seseorang merasa takut kehilangan pasangannya, karena

pasangannya tertarik pada orang lain, maka ia akan cemburu, posesif, atau menjadi sangat tergantung (Davis &Todd, 1982). Kecemburuan itu bersumber dari rasa tidak aman (insecurity) pada individu, bila seseorang merasa

cemburu hal itu disebabkan karena ia memandang dirinya sebagai orang yang tidak pantas memiliki orang yang dicintainya, jadi self-esteem yang dimiliki individu tersebut sangat rendah (Matthesen, 1997).

Menurut Deaux, Dane & Wrightsman, kebanyakan definisi dari cemburu itu lebih kepada wilayah emosi hal ini dialami ketika pasangan merasa bahwa ada orang lain yang secara nyata atau khayalan, merupakan ancaman terhadap hubungan yang ada karena saat cemburu yang patologi dirasakan oleh seseorang maka ia akan terhantui oleh ketakutan mereka dan selalu melihat bahwa kecurigaan mereka itu benar. lntinya ketika ia merasa cemburu maka ia akan sulit berfungsi dengan normal ( Gregory,2003).

Cemburu lahir dari perasaan bahwa individu terlalu sedikit memberi

dibandingkan dengan orang lain, kita takut kehilangan orang yang istimewa bagi kita serta merupakan ancaman jika hal itu ingin diambil dari kita

(Rubin, 1998; Sarwono, 1999). Perasaan cemburu dapat terjadi ketika kita sudah mempersepsikan bahwa pasangan kita akan beralih pada pihak lain. Persepsi ini bisa nyata, dibayangkan ataupun potensial dan cemburu tidak

(27)

hanya dalam bentuk reaksi emosional saja tapi juga dalam bentuk kognisi, maupun prilaku seperti definisi yang dikemukakan oleh Hupka dkk (1985).

Jadi cemburu adalah reaksi emosional berupa perasaan takut, cemas, dan

marah karena adanya ancaman dari pihak ketiga yang mungkin akan

1.--merusak hubungannya dengan pasangannya (insecure), dan ancaman tersebut bisa bersifat nyata, potensial maupun hayalan. Hal ini juga terjadi karena ia merasa kurang yakin pada dirinya sendiri (self-esteem yang rendah)

2. Perbedaan Cemburu dengan lri

Jika kita melihat arti kata cemburu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disana akan kita temukan bahwa arti dari cemburu adalah merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung (sirik) serta kurang percaya; curiga (karena iri hati), jadi antara cemburu dengan iri itu memiliki definisi yang sama dengan kata lain tidak ada perbedaan.

Menurut Rubin (1998) cemburu dan iri itu sama-sama merupakan dari fungsi ketidakamanan (insecurity) dan rendahnya self-esteem. Bedanya, iri (envy) itu datang dari rasa kehilangan bahwa orang lain memiliki lebih dari yang ia punya dan ia ingin memilikinya, sedangkan cemburu Uealousy) dilahirkan dari

(28)

perasaan bahwa ia terlalu sedikit memberi dibandingkan dengan orang lain serta takut untuk di tinggal sendiri oleh orang yang dicintai.

Sedangkan Bryson berpendapat bahwa cemburu dan iri itu berbeda.

Menurutnya cemburu terjadi bi/a individu mempersepsikan bahwa ada pihak lain yang ingin membentuk hubungan dengan pasangannya, sedangkan iri terjadi bila individu berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang telah dimiliki oleh orang lain (Brehm, 1992).

Sa/ovey dan Rodin menambahkan bahwa perbedaan utama dalam kondisi psikologis antara cemburu dan iri adalah kemungkinan kehilangan dan

keinginan untuk memiliki. Jadi jika cemburu terjadi individu merasakan bahwa ia akan kehilangan pasangannya, dan jika iri maka ia akan merasa ingin untuk memiliki sesuatu yang merupakan milik orang lain. Walaupun mereka dalam wilayah emosi yang sama tapi intensitas cemburu lebih besar bila dibandingkan dengan iri. Dan iri disebut juga sebagai kasus spesial dari cemburu yaitu "social comparison jealousy", sedang istilah untuk cemburu adalah "social relation jealousy'' (Brehm, 1992).

(29)

3. Jenis-Jenis Cemburu

White (seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992) mengkategorikan cemburu kedalam dua jenis, yaitu chronic jealousy dan relationship jealousy. Chronic jealousy ditemukan pada seseorang yang yang mengidentifikasikan dirinya cemburu dalam hubungan tertentu yang sedang dilakukan, cemburu jenis ini berkaitan dengan karakteristik kepribadian sehingga pada beberapa orang cemburu jenis ini lebih kuat dibandingkan dengan orang lain.

Relationship jealousy lebih menggunakan pendekatan situasional dibandingkan dengan pendekatan kepribadian. Jenis cemburu ini menekankan faktor-faktor dalam hubungan yang meningkatkan atau

menghambat perasaan cemburu. Dari pendekatan ini cemburu dilihat sebagai reaksi individu terhadap kondisi hubungan.

Buunk membagi cemburu kepada actual jealousy dan anticipate jealousy. Actual jealousy adalah cemburu yang sedang dialami atau pernah dialami oleh seseorang, sedangkan anticipate jealousy merupakan cemburu yang diduga dapat dialami individu apabila kejadian yang dapat memicu

kecemburuan ada di dalam hubungan. Pada jenis ini individu hanya berfikir mengenai hal yang mungkin membuatnya cemburu, dan bila hal tersebut

(30)

tidak muncul maka ia tidak cemburu, sebaliknya jika ha! tersebut muncul maka individu akan mengalami cemburu (Brehm, 1992).

Brehm ( 1992) sendiri membagi cemburu menjadi naturally occurring jealousy dan induced jealousy. Naturally occurring jealousy merupakan cemburu yang terjadi begitu saja tanpa adanya niat maupun sengaja untuk melakukannya, sedangkan cemburu yang dibuat secara sengaja maka disebut dengan induced jealousy. Pada jenis ini individu tersebut melakukan sesuatu yang disengaja untuk membuat pasangannya cemburu. Hal ini mungkin saja dilakukan oleh seseorang untuk mengetahui sejauh mana dan sedalam apakah cinta pasangannya kepada dirinya atau untuk meningkatkan kemesraan dalam hubungan.

Harris berpendapat bahwa jenis sexual jealousy terjadi bila seseorang mempersepsikan adanya ketidaksetiaan seksual pada pasangannya seperti pasangan memeluk orang lain dan sebagainya. Seseorang dapat

mempersepsikan ketidaksetiaan emosional kepada pasangannya saat pasangannya memberi perhatian yang berlebihan terhadap orang lain, maka ia akan mengalami yang disebut dengan romantic jealousy atau emotional jealousy (Davies, 2003).

(31)

4. Proses Cemburu

Cemburu itu terjadi karena adanya sebab dan melibatkan proses-proses yang menjadikan suatu kecemburuan itu melekatkan suatu hubungan ataupun menghancurkannya. White dan Mullen mengemukakan 5 proses utama yang menyebabkan seseorang menjadi cemburu kepada pasangannya (Brehm,

1992).

Adapun proses yang diajukannya adalah sebagai berikut:

a. Primary appraisal (Penilaian awal) . Pada tahap ini individu

mempersepsikan adanya ancaman terhadap hubungan yang sedang ia jalani.proses ini merupakan permulaan dan ambang terjadinya kecemburuan individu. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

primary appraisal pada cemburu ada 2 yaitu: 1 ). faktor hubungan yang meliputi a) kualitas hubungan, b) tipe hubungan, 2). faktor karakteristik ancaman yang meliputi a) beratnya ancaman (Severity of the

threat),dan b) tipe ancaman, yang akan di jelaskan pada sub bab berikutnya.

b. Secondary appraisal (penilaian kedua). lndividu mencoba untuk

memahami dengan lebih baik situasi yang terjadi dan mulai

memikirkan cara untuk mengatasinya. lndividu mulai melihat bukti-bukti yang sudah ada bukan merupakan ancaman (misalnya ia mulai

(32)

pulang sering terlambat mungkin karena ia bekerja lembur di kantor), dan melihat kembali kedekatan pasangan dengan dirinya. Jika melihat penjelasan ini, sepertinya secondary appraisal merupakan proses yang rasional dan konstruktif. Tetapi sebenarnya proses ini juga melibatkan catastrophic thinking, yaitu apabila individu terburu-buru mengambil kesimpulan yang jauh dari bukti-bukti yang ada sehingga kesimpulan yang ia dapat akan menjadi tidak rasional, seperti individu berkata bahwa ia tidak akan pernah bahagia lagi karena kekasihnya meninggalkannya. Akan tetapi individu yang mengalami cemburu tidak menyadari bahwa pikirannya tidak rasional. Sehingga ia menganggap pikiran merupakan bagian dari realitas yang menyebabkan reaksi emosional yang ekstrim.

c. Emotional Reaction (Reaksi emosional). Keadaan emosional dan

intensitas respon emosional saat cemburu sangat beragam dan bermacam-macam. Sebagian besar orang menganggap cemburu hanya mengalami emosi yang negatif, seperti kemarahan pada pasangan atau pihak ketiga, kecemasan akan kehilangan hubungan dengan pasangan, distress emosional, distress fisik, depresi dan sedih. Namun perasaan yang positif akibat dari cemburu juga dapat muncul yaitu perasaan gembira, cinta dan lebih hidup (Pines & Aronson).

(33)

d. Coping (Penanggulangan).lndividu yang sedang cemburu akan

mengatasi perasaan tersebut dengan cara yang berbeda-beda,

adapun tujuan dari perilaku coping ini menurut Bryson ada 2 orientasi utama yaitu: 1) Usaha untuk mempertahankan hubungan yang akan menghasilkan perilaku yang konstruktif yaitu komunikasi dan solusi, maupun perilaku yang destruktif yaitu pura-pura tidak tahu dan

menghindari konflik. Dan 2) adalah usaha untuk mempertahankan

self-esteem

dengan cara memutuskan hubungan atau dengan menyerang

pasangan maupun orang ketiga secara verbal maupun fisik. Coping ini dipengaruhi oleh komponen-komponen sebelumnya, yang akan

diterangkan pada bagian berikutnya.

e. Coping Result (Hasil Penanggulangan). Komponen terakhir·

merupakan hasil dari respon coping yang dilakukan oleh individu. Hasil coping ini harus mempertimbangkan tiga tingkat yang berbeda.

Pertama, apa dampak coping terhadap ancaman yang dipersepsikan? Apakah ancaman dapat dikurangi atau dihilangkan? Kedua apa

dampak coping tersebut terhadap pihak-pihak yang terlibat, yaitu individu, pasangan dan pihak ketiga. Dan terakhir, apa dampak coping terhadap hubungan. Apakah hubungan tersebut akan bertahan,

(34)

Jika kita melihat proses yang telah dikemukakan diatas jelas sekali bahwa komponen-komponen cemburu serta reaksinya, melibatkan faktor-faktor kognitif yang terlihat pada proses pertama dan kedua, kemudian emosional yang ada pada proses ketiga dan perilaku yang terlihat pada proses keempat dan kelima.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cemburu

Cemburu dapat timbul karena individu mencintai pasangannya. Menurut James Park (2003) munculnya cemburu dalam hubungan cinta dikarenakan tiga hal, yaitu perbandingan, persaingan, dan ketakutan akan kehilangan karena ketergantungan seseorang terhadap pasangannya. Ketika ketiga faktor ini tidak signifikan dalam suatu hubungan maka kecemburuan individu terhadap pasangannya akan semakin berkurang. Dan para peneliti percaya bahwa ada 2 faktor yang biasa mendasari kebanyakan reaksi cemburu, yaitu keinginan akan hubungan yang eksklusif serta perasaan inadequacy

(White, 1981; White &Mullen, 1989, seperti yang dikutip oleh Deaux, Dane & Wrightsman, 1993).

Sedangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya cemburu yang jika kita lihat dalam prosesnya terjadi pada tahap primary appraisal, mengapa

(35)

individu dapat mempersepsikan adanya ancaman pada hubungan yang sedang ia jalin, adalah sebagai berikut:

a. Faktor Hubungan yang meliputi:

1. Kualitas hubungan.Kualitas hubungan tertentu dapat membuat

individu mempersepsikan adanya ancaman sehingga ia menjadi

cemburu terhadap pasangannya. Kualitas hubungan ini dipengaruhi o/eh perasaan tergantung (depedency) individu pada hubungannya karena ia menganggap hubungannya sangat berarti, dengan arti jika seseorang semakin tergantung pada hubungan untuk membuat bahagia, maka semakin mudah untuk mengalami cemburu (Berscheid, 1983), ketergantungan juga erat kaitannya dengan possessiveness (Pinto &Hollandsworth). lndividu yang tergantung cenderung menjadi posesif, begitu juga sebaliknya individu yang posesif dapat menjadi sangat tergantung (Brehm, 1992). Menurut Park (2003) jika individu

menemukan bahwa dirinya itu dapat digantikan serta dapat ditukar dengan orang yang lebih baik, maka ia akan mudah merasakan cemburu

Selain depedency, kualitas hubungan juga dipengaruhi oleh perasaan tidak aman (insecure) yang akan terjadi jika individu merasa

hubungannya terancam,mungkin sekali bagi seseorang yang memiliki perasaan tidak aman dapat mempersepsikan adanya ancaman terhadap

(36)

hubungannya, walaupun sebenarnya ancaman tersebut tidak ada. Selain itu Cemburu sering kali terjadi pada individu yang merasa ia lebih berusaha dibandingkan dengan pasangannya di dalam hubungan intim (White, seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992), karena individu akan menjadi ragu terhadap kesungguhan pasangannya sehingga

kecemburuan akan mudah menghinggapinya.

2. Tipe hubungan. Cemburu seringkali terjadi pada hubungan

percintaan dibandingkan dengan hubungan pertemanan. Karena dalam hubungan pertemanan kita lebih membebaskannya untuk berhubungan dengan orang lain dibandingkan dengan pasangan, sehingga kita lebih sensitif untuk mempersepsikan orang lain sebagai ancaman dalam hubungan percintaan dibandingkan dengan hubungan pertemanan (Brehm, 1992)

b. faktor ancaman yang meliputi:

1. Beratnya ancaman. Segala sesuatu mengenai orang lain yang lebih menarik dan melebihinya di segala bidang dan juga mantan pacar pasangan akan dianggap sebagai ancaman yang cukup berarti bagi hubungan yang sedang ia jalin. Jadi ketika pasangan dekat dengan mantan pacar atau orang lain yang lebih dari dirinya, individu akan

(37)

mudah mempersepsikan ancaman dalam hubungannya walaupun terkadang hal itu memang tidak ada.

2. Jenis ancaman. Ancaman yang dipersepsikan dapat berupa ancaman seksual yang terjadi ketika individu merasakan bahwa pasangannya berminat untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Jenis ancaman lain yaitu ancaman emosional yang terjadi ketika pasangan lebih perhatian atau lebih perduli terhadap orang lain dibandingkan dirinya, ada juga ancaman yang berupa ancaman non sosial yaitu kecemburuan karena aktivitas pasangan terlalu padat dan sibuk pada pekerjaannya atau hobinya sehingga ia tidak diperdulikan akan turut mempengaruhi reaksi individu terhadap cemburu.

Sedangkan Brehm ( 1992) mengatakan bahwa penyebab dari timbulnya perasaan cemburu itu sangat kompleks yang meliputi faktor personal, hubungan, dan budaya. Penyebab personal itu berhubungan dengan rendahnya self- esteem yang dimiliki oleh individu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makin rendah self-esteem seseorang, maka rasa cemburu yang akan timbul juga semakin besar (Bringle,Evenbeck, seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992; Salovey &Rodin, 1991, seperti yang dikutip oleh Baron &Bryne, 1993). Beberapa studi menemukan bahwa hubungan cemburu dengan self- esteem itu hanya berlaku untuk laki-laki (White, 1981) atau hanya untuk perempuan (Buunk, 1982, seperti yang dikutip oleh Brehm,

(38)

1992). lri dan cemburu merupakan fungsi dari ketidakamanan dan rendahnya harga diri seseorang, jadi cemburu itu lahir dari perasaan bahwa individu terlalu sedikit memberi dibandingkan dengan yang lainnya (Rubin, 1998), selain itu cemburu selalu timbul bersamaan dengan berkurangnya self-esteem (Mathes, Adams, & Davies, 1985, seperti yang dikutip oleh Baron &Bryne, 1993).

Dan faktor terakhir yang dapat membuat individu cemburu menurut Brehm adalah faktor keyakinan dan budaya. Diantaranya adalah bagaimana

keyakinan individu akan monogami, yaitu keyakinan untuk menjalin hubungan hanya dengan satu orang. lndividu yang memiliki keyakinan seperti ini maka ia akan mencari pasangan dengan keyakinan yang sama, oleh karena itu individu yang percaya pada monogami akan jarang mengalami kecemburuan (Pines &Aronson, seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992).

Selain itu budaya yang ia a nut juga mempengaruhi kecemburuan

individu,contohnya adalah orang Amerika dan Asia, laki-laki Amerika akan cenderung cemburu kepada pasangannya jika ia melakukan ketidaksetiaan seksual dari pada ketidaksetiaan emosional sedangkan laki-laki Asia hanya 25 % yang menganggap bahwa ketidaksetiaan seksual dapat menjadi distress sedangkan 75% selebihnya menganggap bahwa ketidaksetiaan emosional lah yang dapat menyebabkan mereka cemburu kepada

(39)

pasangannya (Harris, seperti yang dikutip oleh Davies,2003). Selain yang telah disebutkan menurut Buss (2000), pengalaman sebelumnya dapat membuat orang lebih mudah cemburu terhadap pasangannya, ia

mengatakan bahwa sebuah pengalaman kanak-kanak mengenai

ketidaksetiaan orang tua seperti memergoki ketidaksetiaan yang mereka lakukan akan dapat menandakan sebuah kepekaan yang sangat aktif terhadap pasangan mereka sendiri yang mungkin tidak setia.

6. Faktor yang Dapat Memicu Cemburu

Sebuah penelitian yang bertujuan untuk mencari faktor pemicu cemburu dilakukan oleh Fitness &Fletcher pada 100 mahasiswa (54 pria dan 46 wanita) Universitas Canterbury, Selandia Baru. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa faktor-faktoryang dapat menimbulkan cemburu adalah: (1) pasangan yang memberikan perhatian kepada lawan jenis lain, (2) pasangan tidak berbagi keuntungan yang didapat, (3) pasangan tidak setia, (4)

pasangan lebih peduli terhadap orang lain, dan (5) dibohongi oleh pasangan. Faktor-faktor ini disusun secara hierarki dari faktor yang paling menimbulkan kecemburuan hingga faktor yang kurang menimbulkan kecemburuan

(40)

Dan ditambahkan juga oleh Hensen bahwa bukan hanya lawan jenis saja yang menjadi pemicu kecemburuan, hobi dan keluarga pun dapat juga menjadi pemicu hal tersebut (Brehm, 1992).

Dan di Indonesia sendiri, Natasha Nugraha (1998) menemukan adanya 7 faktor yang menyebabkan kecemburuan mahasiswa terhadap pasangannya yaitu: (1) pacar berteman dekat dengan lawan jenis lain, (2) pacar akrab dengan lawan jenis lain, (3) pacar terlalu sibuk dengan kegiatan pribadinya, (4) pacar mengagumi lawan jenis lain, (5) pacar lebih mengutamakan lawan jenis lain, (6) pacar memberikan perhatian dengan lawan jenis lain, dan (7)

pacar mengalami kontak fisik dengan lawan jenis lain. Dan menurut

pengalaman, jika ancaman itu adalah mantan pacar atau orang yang pernah menyukai pasangan, maka ancaman itu akan dianggap lebih serius.

7. Gender dan Cemburu

Jika ada yang mengatakan bahwa laki-laki itu berasal dari Mars dan

perempuan berasal dari Venus hal ini boleh jadi benar karena laki-laki secara psikologis memiliki hubungan yang lama, yang membuatnya cemburu akan ketidaksetiaan seksual, sedangkan perempuan lebih bereaksi jika ada ketiadaksetiaan emosi. Pandangan ini didukung oleh pandangan psikologi

(41)

evolusioner yang mensifati perbedaan gender sebagai reaksi yang natural (Davies, 2003)

Hasil study juga menunjukkan bahwa antara laki-laki dan perempuan cenderung merasakan cemburu dengan alasan yang berbeda; sebagai

contoh ketertarikan fisik yang dimiliki oleh saingan akan lebih mudah memicu kecemburuan bagi wanita dibandingkan laki-laki. Dalam penelitian yang dilakukan di Indonesia sendiri oleh Natasha Nugraha (1998) menghasilkan adanya perbedaan gender dalam faktor- faktor penyebab cemburu, pada mahasiswi faktor 1, 2 dan 4 lebih menyebabkan kecemburuan terhadap pasangan dibandingkan dengan mahasiswa.

Laki-laki cenderung mengalami sexual jealousy, sedangkan wanita cenderung mengalami emosional jealousy (Buss, Larsen, Westen, &Semmelroth, seperti yang dikutip oleh Daly & Wilson 1995). Namun beberapa penelitian tidak mendukung hasil tersebut, Harris mengatakan bahwa dalam beberapa study terdapat perubahan yang besar dalam respon laki-laki terhadap kecemburuan, karena dalam beberapa kasus hanya sedikit yang mengatakan bahwa ketidaksetiaan seksual lebih buruk dari

ketidaksetiaan emosional. Sedangkan Christine Harris mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pemicu cemburu tersebut (Davies, 2003).

(42)

Buss (2002) menunjukkan mengapa laki-laki dapat menjadi cemburu karena ketidaksetiaan seksual sedangkan perempuan akan cemburu karena

ketidaksetiaaan emosional, hal ini disebabkan laki-laki peduli dan harus yakin bahwa anak yang dikandung oleh pasangannya adalah benar-benar anaknya dan bukan anak dari laki-laki lain, hal ini disebut juga dengan cuckoldry.

Cuckoldry adalah ketakutan reproduksi terbesar bagi seorang laki-laki karena ia tidak bisa yakin bahwa anak tersebut benar-benar keturunannya.

Sedangkan wanita ya kin 100% bahwa anak yang dikandungnya pastilah anaknya, tetapi dilema yang akan ia hadapi ialah jika pasangannya memberikan perhatian yang penuh kepada saingannya, dan perempuan cemburu karena adanya bahaya akan kehilangan pasangan yang akan menyediakan kebutuhan materi bagi dirinya dan anaknya.

Hasil yang bertolak belakang juga ditemukan bahwa kedua jenis kelamin cenderung mengalami sexual jealousy, dan untuk menjawab apakah cemburu lebih dipicu oleh ketidaksetiaan emosional atau seksual dan juga perbedaan jenis kelamin, sebenarnya lebih dipengaruhi pada bagaimana individu menilai hal yang paling penting bagi dirinya (Harris, 2000).

Sedangkan dalam kasus individu yang menyukai sesama jenis menunjukkan bahwa laki-laki akan lebih distress karena cemburu ketika pasangannya melakukan ketidaksetiaan emosional, sedangkan perempuan akan menjadi

(43)

lebih cemburu jika pasangan mereka melakukan ketidaksetiaan seksual (Buss,2002).

Menurut Buunk, laki-laki dan perempuan sama-sama cemburu apabila terlalu bergantung pada hubungan, walaupun hal ini adalah faktor utama dalam kecemburuan tetapi perhatian dari keduanya berbeda (Brehm, 1992). Penyebab wanita cemburu adalah adanya keyakinan bahwa ia akan sulit mendapatkan hubungan yang baru. Wanita menekankan perhatiannya terhadap sulitnya memiliki hubungan yang baru, sedangkan laki-laki lebih mementingkan harga dirinya (Brehm, 1992).

Observasi klinis yang dilakukan oleh para terapis di Amerika terhadap klien-klien yang mengalami kecemburuan, menemukan adanya perbedaan

kecemburuan antara pria dan wanita, hasil studi menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan merasakan cemburu dengan alasan yang berbeda; sebagai contoh ketertarikan fisik yang dimiliki saingan itu lebih mendorong

kecemburuan bagi perempuan dibanding laki-laki (Gregory, 2003). Selain itu laki-laki lebih menyukai untuk mengatakan bahwa ia marah dan berkelakuan dapat membahayakan hubungan mereka, sedangkan wanita lebih memilih untuk memendamnya sehingga ia dapat menjadi depresi dan melakukan sesuatu untuk mempertahankan hubungan mereka (Deaux, Dane

(44)

Claton dan Smith mengemukakan 5 area perbedaan pria dan wanita saat mengalami cemburu. Laki-laki cenderung untuk menyangkal, sedangkan perempuan cenderung mengakui apabila sedang mengalami cemburu. Laki-laki cenderung untuk marah dan menyakiti, sedangkan wanita cenderung untuk depresi misalnya dengan menangis. Laki-laki cemburu karena aktivitas seksual pasangannya dengan lawan jenis lain, perempuan cemburu karena keterlibatan emosional pasangannya dengan orang lain. Berbeda dengan laki-laki yang cenderung untuk menyalahkan pasangan atau saingan, perempuan akan cenderung menyalahkan diri sendiri (Brehm, 1992).

B.

Coping (Penanggulangan) Terhadap Cemburu

Cemburu diasosiasikan sebagai sebagai kesulitan untuk merasakan suatu hubungan dan selalu memandang negatif terhadap dirinya dan orang lain (Low, 1999; Warren, 1999, seperti yang dikutip oleh Walker& Parker,2001).

Konsep dari coping itu sendiri mewujudkan pengertian terbesar akan kemampuan proaktif seseorang dalam membuat keputusan secara sadar dalam situasi yang penuh tekanan berbeda dengan konsep pertahanan yang ebagian besar pendorongnya adalah ketidak sadaran. coping adalah proses aktif yang melibatkan pilihan yang sulit dalam waktu dan kesulitan

(45)

(Pargament, 1997). Singkatnya coping itu melibatkan kesadaran dan berhadapan dengan tekanan.

Setiap orang yang memiliki hubungan cinta pasti akan merasakan cemburu; ketika perhatian orang yang disayanginya memberikan perhatian kepada orang lain atau sesuatu, maka ia akan merasakan ketidaknyamanan dan cemas akan kemungkinan kehilangan orang yang disayangnya tersebut. Dan jika hal ini terjadi dalam derajat yang tidak sehat atau tidak wajar maka ia akan cenderung cemas, depresi dan sulit untuk mengontrol kemarahan, dan akibat dari cemburu yang paling ekstrim adalah ia akan termotivasi untuk membunuh pasangannya atau dirinya sendiri. Meskipun demikian, banyak dari individu yang walaupun mengalami cemburu yang sangat hebat, akan tetapi ia tidak sampai melakukan perbuatan yang ekstrim tersebut.

Untuk mengatasi kecemburuannya agar tidak sampai terjadi perbuatan yang akan disesali dikemudian hari, maka individu menggunakan coping dengan cara dan tujuan yang berbeda-beda, individu yang mengalami emosi yang negatif saat cemburu berusaha untuk mengontrol dirinya karena mereka percaya bahwa cemburu dapat menjadi destruktif (Salovey &Rodin, 1991, seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992)

(46)

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shettel-Neuber, Bryson, dan Young di Amerika, ditemukan perbedaan jenis kelamin dalam coping terhadap

perasaan cemburu. Responden pria mengatakan mereka akan lebih marah dengan diri sendiri, mabuk-mabukan, mengancam orang lain secara verbal, merasa tersanjung oleh ketertarikan orang lain kepada pasangannya, dan merasa dipalingkan oleh pasangannya. Sedangkan responden wanita pada saat cemburu mengatakan akan menangis sendirian, mencoba dirinya lebih menarik bagi pasangannya, dan mencoba membuat pasangannya merasa bahwa ia tidak peduli (Brehm, 1992).

Selain itu daya tarik lawan juga mempengaruhi reaksi cemburu seseorang. Apabila lawan atau ancaman dianggap menarik, pria cenderung akan pergi dengan wanita lain dan menjadi lebih agresif secara seksual dengan wanita tersebut. Adapun wanita cenderung tidak akan terlibat dengan pria lain. Apabila ancaman dianggap tidak menarik maka tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal bagaimana mereka bereaksi dan berfikir.

Secara umum, dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pria dan wanita berbeda dalam cara mengatasi cemburu. Pria lebih "property oriented'', yaitu menjadi marah karena seseorang merebut "miliknya" yang berharga, tapi juga merasa tersanjung karena orang lain tertarik dengan "miliknya". Ketika ancamannya besar ia akan berfikir untuk meninggalkan hubungan sebagai upaya untuk memperbaiki harga dirinya yang telah hancur

(47)

dengan membuat dirinya lebih menarik lagi bagi orang lain_ Sedangkan wanita lebih berfokus pada usaha untuk mempertahankan hubungan yang telah ada dan membuat mereka menarik diri dan menutup dirinya terhadap sebuah hubungan yang baru (Brehm, 1992). Bryson (seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992) mengemukakan adanya dua tujuan utama dari berbagai respon coping terhadap cemburu, yaitu: (1) untuk mempertahankan hubungan, dan (2) untuk mempertahankan harga diri. Seperti yang akan dijelaskan melalui tabel

Tabel Contoh jenis perilaku coping terhadap cemburu Mempertahankan Harga Diri Mempertahankan Hubungan

YA

TIDAK

YA

Menegosiasikan solusi yang secara

Dapat diterima kedua pihak Memegang teguh hubungan

Sumber: Brehm, 1992

TIDAK

Menyerang pasangan Verbal atau Fisik

Perilaku self-destruktive

Sedangkan menurut pendapat Buss (2000), cara atau strategi terhadap ketidaksetiaan atau cemburu adalah dengan penyangkalan, suppression ( memendam) dan menganggap bahwa kecemburuan merupakan teknik manipulasi dari pasangannya.

(48)

Salovey dan Rodin (seperti yang dikutip oleh Brehm, 1992) meneliti berbagai macam strategi coping yang digunakan pada saat mengalami cemburu. Penelitian dilakukan dengan menanyakan pada mahasiswa di Amerika mengenai tiga jenis strategi coping umum dengan menggunakan kuesioner. Ketiga strategi tersebut adalah:

1. Seff- refiance (kepercayaan diri). Pada strategi ini individu melakukan segala usaha serta menyangkal ketidak wajaran yang terjadi dengan mengatakan bahwa ha! ini sebagai bagian dari kehidupan yang harus ia jalani dan tidak seharusnya mengganggu rutinitasnya.

2. Sefective ignoring (pengabaian selektif). Pada strategi ini individu akan menganggap bahwa ha! ini bukanlah sesuatu yang penting dan patut untuk diabaikan.

3. Self- bolstering (dukungan diri). lndividu mengembangkan pemikiran yang positif mengenai dirinya sendiri dengan memikirkan kebaikan-kebaikannya serta kelebihan yang dimilikinya, dan melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk diri sendiri.

Dan jika coping yang dilakukan tidak berhasil atau efektif maka keadaan individu akan kembali kepada proses awal dari kecemburuan yaitu primary appraisaf (Yulianto,2002)

(49)

C.

Perilaku Agresi

1. Definisi agresi

Setiap hari kita melihat tindakan kekerasan baik melalui televisi, Koran maupun kejadian sehari-hari. Tindak kekerasan ini terjadi di seluruh belahan dunia, disetiap lapisan masyarakat dan terjadi setiap hari, kita melihat dari berita di televisi atau membaca di surat kabar bahwa ada seorang anak, orang tua atau orang dewasa, laki-laki maupun perempuan yang menjadi korban dari tindak kekerasan maupun pelaku dari tindak kekerasan itu sendiri.

Pendapat para ahli psikologi itu berbeda-beda mengenai pengertian agresi, jika dilihat dari teori psikoanalisa, perilaku agresi itu adalah dorongan

ketidaksadaran (unconscious urge). Energi yang dihasilkan oleh agresi secara konstan dibangkitkan oleh jasmani dan harus dilepaskan baik secara langsung atau tidak langsung, dan dorongan ini merupakan bagian dari insting mati atau thanatos yang dimiliki oleh semua manusia. Beberapa Freudian yang orthodox menganggap agresi sebagai permainan untuk meningkatkan ego seseorang, akan tetapi psikoanalisis yang lain

menganggap bahwa agresi hanyalah pengekspresian dari sebuah dorongan dasar. Selain itu agresi juga dapat mendatangkan masalah karena ia akan

(50)

menyebabkan kehancuran bagi individu itu sendiri maupun orang lain (Wrightsman).

Sedangkan agresi menurut teori sosial belajar serta psikologi sosial eksperimental, yang salah satu tokohnya adalah Berkowitz berpendapat bahwa agresi adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang atau objek yang lain baik secara fisik maupun mental (Berkowitz, 1995), dan agresi ini dapat ditunjukkan dengan perilaku yang overt (mengekspresikannya secara visik maupun verbal) atau dengan cara yang covert (tidak terlihat).

Sedangkan menurut pendapat Herbert (1978, seperti yang dikutip oleh

Berkowitz, 1995), agresi adalah tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial yang mungkin menyebabkan Iuka fisik maupun mental..

Adapun rumusan Dollard, Doob, Miller, Mowrer &Sears mengenai adalah agresi sebagai serangkaian tingkah laku yang secara langsung bertujuan untuk melukai orang lain (Bandura 1973). Dan definisi agresi yang

merupakan tingkah laku yang berusaha untuk menyakiti dan melukai orang lain yang akan berusaha untuk melarikan diri karena tidak menyukai atas apa yang dilakukan kepada dirinya, diungkapkan oleh Baron &Bryne (1994).

(51)

Dan kebanyakan orang awam begitu juga para psikolog mengatakan bahwa seseorang yang berprilaku agresi maka tindakannya akan berlawanan dengan aturan perilaku umum (Berkowitz, 1995). Berpegang pada hal ini maka Bandura yang merupakan psikolog sosial dan kepribadian menyatakan bahwa kebanyakan dari kita menganggap suatu perilaku sebagai "agresi" apabila tidak dilakukan sebagai bagian dari peran yang secara umum diterima. Seseorang yang memegang pistol untuk merampok bank jelas melanggap aturan sosial dan sebagai aggressor, sedangkan polisi yang menggunakannya untuk menangkap penjahat maka tidak dianggap

aggressor karena itu sudah merupakan pekerjaannya (Berkowitz, 1995). Jadi sebuah perilaku dikatakan agresi dengan melihat kepada tingkah laku

menyakiti dan social adjusment.

Berdasarkan dari definisi-definisi yang telah diungkapkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa agresi adalah:

a. Perilaku yang merusak

b. Bertujuan untuk menyakiti secara fisik maupun mental dan ada unsur kesengajaan

c. Sasarannya adalah makhluk hidup maupun benda mati dan objek lainnya

(52)

Agresi selalu memicu tindak kekerasan karena berakibat menyakiti orang lain maupun merusak barang milik orang tersebut, dan mengenai asal muasal agresi itu para ahli memiliki dua pendapat yang berbeda, ada yang

mengatakan bahwa agresi tersebut merupakan pembawaan individu seperti yang dikatakan Freud dengan teori instink-nya dan ada juga yang

mengatakan bahwa hal itu dipelajari dan berasal dari lingkungan, seperti yang dikemukakan oleh Bandura dengan teori social learning-nya. Seseorang akan mempunyai watak agresi karena produk dari kerasnya dan tidak

konsistennya pengalaman keluarga dan frekuensi pemberian hadiah setiap agresi tersebut dilakukan (Berkowitz, 1992)

2. Penggolongan Perilaku Agresi

Menurut Baron &Bryne (1994), perilaku agresi dapat dibagi menjadi dua yaitu perilaku agresi yang bersifat instrumental dan perilaku agresi yang bersifat hostil. Perilaku yang bersifat instrumental adalah perilaku agresi yang mempunyai tujuan lain selain menyakiti atau melukai orang lain, jadi walaupun perilaku itu menyakiti korban itu bukanlah tujuan yang utama (Berkowitz,1993; Baron &Bryne, 1994) seperti agresi yang dilakukan oleh seseorang karena status sosial, atau untuk mendominasi orang lain contohnya laki-laki yang melakukan agresi karena ingin mendominasi

(53)

Sedangkan perilaku agresi yang bersifat hostil merupakan agresi yang dilakukan untuk menyakiti atau melukai orang lain (Baron& Bryne, 1994) seperti yang dilakukan penjahat terhadap korbannya. Sedangkan untuk ha! ini Berkowitz (1995) memiliki istilah lain yaitu emotional aggression, ha! ini

menurut Feschbach adalah agresi jahat karena terjadinya hal ini ketika individu tersinggung dan berusaha untuk menyakiti korban. Akan tetapi keduanya merujuk pada satu ha! yaitu bertujuan untuk menyakiti sasarannya, yang bentuknya bisa fisik, verbal, langsung maupun tak langsung.

Sedangkan Buss (1961) mengklasifikasikan perilal}~~gresJ~~~rijai;H.~\

-~""'>- "'"' \

kelompok, yaitu: """""'""

1. Berdasarkan alat

a. Fisik, jadi individu melakukan perilaku tersebut dengan anggota tubuh tertentu atau menggunakan alat seperti tangan atau kayu untuk melukai korbannya secara fisik, dan sebagainya.

b. Verbal adalah respon suara yang memberikan suatu stimulus yang menyakitkan kepada orang lain sperti memaki atau mengancam. 2. Berdasarkan hubungan langsung tak langsung.

a. Langsung seperti menyerang atau mengancam.

b. Tak langsung seperti menyebar gosip, teror atau merusak barang orang lain

3. Berdasarkan aktifitas yang terlibat

(54)

b. Pasif, seperti menghalangi orang untuk dapat mencapai tujuannya.

Tabel Variasi Agresi pada Manusia

A kt if Pas if

Langsung Tak Langsung Tak

Langsung langsung

Memukul Tipu muslihat Menghalangi Menolak

Fisik korban jalan untuk me!akukan

mencapai tugas penting

tujuan

Menghina Menyebarkan Menolak Menolak

korban gossip untuk bicara persetujuan

Verbal secara lisan

maupun tulisan Sumber Buss (1961)

Dan ketiga kelompok diatas dapat dilakukan dengan mengkombinasikannya, sehingga klasifikasinya sebagai berikut (Buss, 1961; Baron, 1977;

Morgan, 1986): (1 )fisik-aktif-langsung,(2) fisik-aktif-tak langsung,(3) fisik-pasif-langsung, (4) fisik-pasif-tak fisik-pasif-langsung,(5) fisik-pasif-langsung,(6) verbal-aktif-tak langsung, (7) verbal-pasif-langsung, (8) verbal-pasif-verbal-aktif-tak langsung. dan individu biasanya melakukannya secara kombinasi.

Dari penyebab dan tujuannya Buss (1978) dan Myers (1988) membagi agresi menjadi dua yaitu agresi marah (angry aggression) dan agresi instrumental (instrumental aggression). Angry aggression biasanya dihasud oleh serangan

(55)

yang berupa penghinaan atau karena kejengkelan dan bermaksud untuk menyakiti objek. Emosi yang biasa terjadi adalah marah yang seringkali diikuti oleh agresi yang dapat menyebabkan korbannya menderita, dan hal ini disebut juga dengan agresi yang bersifat hostil seperti yang disebut

sebelumnya. Sedangkan instrumental aggression disebabkan oleh segala rangsangan yang biasa memotivasi tingkah laku seperti perasaan untuk menjadi dominan, makanan, dan sebagainya, mungkin ada juga reaksi emosional tapi tidak terlalu penting dalam rangkaian perilaku ini, dan menyakiti objek bukanlah tujuan utama.

Sedangkan Renfew (1997), mengklasifikasikan agresi juga berdasarkan penyebabnya, yaitu:

a. Predatory aggression, yaitu perilaku menyerang secara langsung untuk

melawan sasaran dan ia digolongkan sebagai predator. Rangsangan ini mendatangkan perilaku agresi terhadap objek sasaran

b. lntermale aggression, tipe ini terjadi karena adanya hirarki kekuasaan

diantara laki-laki dalam suatu kelompok yang telah memenuhi kebutuhan kelompok. Moyer mengindikasikan bahwa secara relatif jika ada sedikit perjuangan maka wanita juga mampu berbuat yang sama.

c. Fear-induced aggression. Agresi tipe ini kadang diberi label dengan

kemarahan atau agresi perasaan (affective aggression). Moyer

(56)

frustasi, kesakitan, lelah dan kurang tidur, dapat memudahkan terjadinya perilaku ini.

d. Maternal aggression yaitu perilaku agresi seorang ibu untuk melindungi anaknya.

e. Sex- related aggression, hal ini terjadi karena stimulus yang sama yang menyebabkan respon seksual, seperti dalam intermale aggression hal ini bisa juga terjadi pada wanita.

Jika kita melihat klasifikasi agresi menurut Baron& Bryne, Buss, Myers serta Berkowitz maka kemungkinan timbulnya agresi yang ada pada cemburu tidak bertujuan untuk menyakiti, jadi bersifat instrumental, dan dalam pengkspresian agresinya bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik pasif, aktif, verbal, fisik, langsung maupun tak langsung. Dan jika kita lihat

klasifikasi berdasarkan penyebab maka agresi yang ditimbulkan cemburu itu masuk pada klasifikasi sex-related aggression atau maternal aggression yaitu ketika seorang ibu berusaha melindungi anaknya dari hilangnya kasih sayang seorang ayah.

2. Faktor Penyebab Agresi

(57)

Menurut Frued, Mc Dougall, dan Lorenz berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan dari dalam dirinya atau instink untuk bertarung yang dikenal dengan thanatos.

b. Frustasi

Teori agresi yang paling popular dalam ilmu sosial menganggap bahwa orang terdorong untuk menyerang orang lain jika mereka mengalami frustasi, gaga! dan terhalang untuk mencapai suatu tujuan atau tidak memperoleh imbalan dari sesuatu. Menurut Dollard dkk (Berkowitz, 1995) mendefinisikan frustasi sebagai kondisi eksternal yang membuat seseorang tidak dapat memperoleh kesenangan yang diharapkannya, dan ia berkeyakinan bahwa setiap tindakan agresi bisa dilacak bahwa penyebabnya adalah frustasi, akan tetapi tidak semua kondisi frustasi dapat menyebabkan perilaku agresi karena ada

respon lain dari frustasi yaitu putus asa, depresi, menarik diri serta mengubah tujuan, seperti yang kondisi frustasi yang dihadapi oleh pemain Rugby yang nota benenya tidak memunculkan perilaku agresi (Berkowitz, 1995).

Kebanyakan kondisi frustasi yang dapat memicu terjadinya agresi adalah frustasi arbiter atau ilegal, yaitu terhalangnya seseorang dalam pencapaian tujuan yang bersifat tidak adil atau ilegal, seperti ketika seseorang yang

(58)

menanti bis di halte kemudian bis tersebut tidak berhenti padahal ia sudah lama menantinya.

c. Attack I serangan dan provokasi

Selain frustasi arbiter, serangan (attack) yang merupakan penghinaan atau agresi secara fisik adalah antecedent yang kuat bagi perilaku agresi

dibandingkan dengan frustasi (Buss, 1973; Berkowitz, 1967). Selain itu eksperimen yang dilakukan oleh Taylor, Dengerink, Ohbuci serta Toshihiro, menunjukkan bahwa serangan akan membuat individu membalas perbuatan tersebut khususnya ketika ia merasa bahwa perilaku tersebut disengaja. Dan hal-hal yang mampu menyebabkan individu berperilaku agresi adalah

provokasi yang merupakan perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; pancingan; tantangan, kemudian atribusi yang dianggap sebagai sumber rintangan tercapainya tujuan, serta persaingan.

d. Afek negatif

Afek negatif merupakan keadaan yang tidak meyenangkan dalam diri

seseorang yang cenderung untuk dihindari (Berkowitz, 1993). la menamakan hal ini sebagai aversively stimulated aggression yaitu agresi yang muncul karena keadaan yang tidak menyenangkan.

(59)

Hal- hal yang tidak menyenangkan ini timbul dan merupakan pencetus ekternal dari terjadinya cemburu, diantaranya adalah:

1 ). Pain, rasa sakit yang dialami oleh hewan ataupun manusia, baik rasa sakit fisik maupun psikis dapat membuat ia menjadi agresi (Myers, 1988). 2). Kondisi aversive seperti panas,polusi udara, dan kepadatan serta

keadaan yang sangat bising juga kemacetan. Griffit (1970) menemukan bahwa murid-murid Kansas university yang ditempatkan diruangan yang panas melaporkan bahwa mereka lebih lelah dan agresif serta lebih mengekspresikan permusuhan dengan orang lain dibandingkan dengan murid-murid yang ditempatkan diruangan yang cukup nyaman (seperti yang dikutip oleh Myers, 1988).

3). Stimulus yang diasosiasikan dengan peristiwa yang tidak menyenangkan. Peristiwa yang lampau yang tidak meyenangkan melalui asosiasi akan menjadikannya sebagai afek negatif yang dapat memicu agresi. Faktor ini menentukan siapa yang akan menjadi sasaran (Berkowitz, 1993)

Ketika sasaran itu tidak mampu untuk diserang karena status sosial yang tinggi atau lebih kuat secara fisik, maka individu akan cenderung untuk mengalihkan sasaran kepada orang lain atau objek lain yang biasa disebut dengan kambing hitam (scape goat). Fenomena ini timbul ketika sasaran tersebut hadir dan aman untuk diserang ketika dorongan agresi tersebut muncul dan menguat.

(60)

e. Efek senjata/ weapon effects

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa hadirnya senjata akan membuat individu lebih agresif. Menurut Berkowitz (1974)bahwa bukan handirnya senjata yang membuat seseorang berperilaku agresi, tapi lebih kepada bagaimana individu tersebut menginterpretasikan senjata tersebut, banyak kenyataan yang kita lihat sekarang ini bahwa orang akan lebih merasa gagah dan cenderung berperilaku agresi ketika ia membawa senjata.

f. Televisi

Tayangan-tayangan mengenai kekerasan yang ditampilkan di televisi dapat juga membuat individu berperilaku agresi, contohnya adalah eksperimen

yang dilakukan dengan boneka Bobo adalah hasil dari sebuah tayangan kekerasan.

g. Alkohol dan drugs

Banyak hasil eksperimen yang menunjukkan bahwa alkohol dan drugs juga dapat memicu terjadinya perilaku agresi.

(61)

h. Ancaman dan penghinaan pribadi.

Menurut Maslow (9141), Rosenw eigz (1944) dan yang terbaru Buss (1961 ), mengatakan bahwa penghinaan secara pribadi dan adanya ancaman akan lebih menimbulkan seseorang berperilaku agresi. Dari faktor ini maka jelas sekali bahwa timbulnya ancaman yang merupakan penyebab dari cemburu dapat menyebabkan agresi.

4. Cara Mengurangi Agresi

Cara yang digunakan untuk mengurangi perilaku agresi diantaranya adalah: a. Katarsis,dorongan untuk berperilaku agresi dapat dikurangi dengan

menyalurkan energi yang ada dengan cara yang dapat diterima seperti olah raga, atau menonton acara kekerasan ( Sarwono, Myers & Sears) b. Dengan pendekatan sosial belajar. Perilaku agresi dapat dilakukan

dengan hukuman (punishment) serta pengabaian terhadap tingkah laku tersebut.

c. Mengurangi sarana dan prasarana yang dapat memicu perilaku agresi seperti larangan untuk membawa senjata api ( Diener & Crandall, seperti yang dikutip oleh Sarwono, 1997) dan lain-lain.

Gambar

Tabel Contoh jenis perilaku coping terhadap cemburu  Mempertahankan  Harga Diri  Mempertahankan Hubungan  YA  TIDAK  YA
Tabel Variasi Agresi  pada Manusia
Tabel  Gambaran  Umum Subjek
TABEL 4.10 lPASANGAN 31

Referensi

Dokumen terkait

Siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran pada konsep sistem pernapasan, siswa juga memberikan repon positif terhadap penilaian keterampilan kolaborasi

Hasil penelitian menunjukkan tidak bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap fenomena kelenturan fenotipik dalam sifat-sifat reproduksi (umur dewasa kelamin,

Ako'y kaawaan, O mahal kong Diyos, sang-ayon sa ‘Yong kagandahang- loob; mga kasalanan ko'y iyong pawiin, ayon din sa ‘Yong pag-ibig sa akin.. Linisin mo sana ang aking karumhan,

Pada ternak ruminansia besar penggunaan sumberdaya genetik dilakukan bersamaan dengan program pemeliharaan ternak betina, yang perkawinannya diatur melalui sumberdaya genetik

agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya (Olweus, dalam Moutappa dkk, 2004). Korban bullying menunjukkan fungsi sosial

Menurut pemimpin pada PT Anugerah Agro Mandiri Ngajuk, hubungan dengan karyawan merupakan hal yang penting karena dengan menjalin hubungan yang erat, maka

Kepala Kantor Pertanahan Kota Batam memberikan kepada pemohon perpanjangan HGB yang dimohon- kan perpanjangannya dengan ketentuan dan persya- ratannya, yaitu segala akibat, biaya

Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Population by Age Group and Sex. 2009 Tabel/Table