PERISTIWA DI EROPA YANG BERPENGARUH TERHADAP
KEHIDUPAN UMAT MANUSIA
Dr. Bondan Kanumoyoso
I. PENDAHULUAN
Sejarah Eropa dimulai sejak jaman Yunani kuno (abad 20 SM). Peradaban Yunani yang tinggi memberi banyak pengaruh terhadap perkembangan Eropa dan dunia. Pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini (awal abad 21). Peradaban Eropa berikutnya yang juga banyak memberi pengaruh terhadap bangsa-bangsa di dunia adalah peradaban Romawi. Bangsa Romawi menempati wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Italia. Pada masa puncak kejayaannya pada abad ke-1 M, kekaisaran Romawi merupakan salah satu negara terbesar yang pernah ada di dunia. Kekuasaannya meliputi wilayah daratan seluas 3,5 juta mil persegi dengan populasi sebesar 5 juta orang. Wilayah seluas itu kurang lebih adalah ¾ dari keseluruhan luas wilayah benua Eropa sekarang. Karena begitu luas wilayahnya, ada dua bahasa yang digunakan sebagai bahasa resmi kekaisaran ini. Bahasa latin menjadi bahasa utama di Romawi Barat, sedangkan di Romawi Timur bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Yunani. Melalui perantara kedua bahasa ini, budaya Romawi yang mengutamakan rasionalitas menyebar keseluruh wilayah Eropa.
Setelah keruntuhan kekaisaran Romawi di abad ke-4 M, Eropa mengalami satu periode panjang, yang meliputi periode sekitar satu milenium atau 1000 tahun, yang dikenal sebagai abad pertengahan. Abad pertengahan di Eropa dicirikan dengan semakin kuatnya dominasi gereja. Institusi gereja memainkan peran yang tidak tergantikan dalam kehidupan masyarakat Eropa saat itu. Dedikasi para pendeta Kristen terhadap Tuhan menjadi contoh ideal dalam masyarakat. Para pendeta yang hidup di biara-biara adalah pekerja sosial bagi masyarakat, mereka membuka sekolah, menampung para pengembara, dan membuka rumah sakit. Mereka menulis ulang karya-karya dalam bahasa latin dan dengan itu meneruskan warisan pengetahuan dari masa lalu kepada peradaban Eropa. Biara-biara menjadi pusat pengetahuan karena para pendeta adalah orang-orang yang memiliki tradisi intelektual. Di Eropa abad pertengahan orang-orang-orang-orang yang tertarik pada ilmu pengetahuan akan pergi belajar ke biara.
Pada abad ke-10 M perubahan-perubahan besar mulai melanda Eropa. Perubahanperubahan tersebut diawali dari kota-kota pelabuhan dagang di Italia. Kota-kota dagang Italia seperti Venesia, Genoa, dan Napoli mulai menjadi pusat kegiatan perdagangan berbagai komoditi yang laku di pasaran dunia. Pada saat yang hampir bersamaan kota-kota di wilayah Flanders, terletak di bagian barat laut Eropa, juga mulai muncul sebagai kota perdagangan. Pada abad ke-12 M mulai terbentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan kota-kota dagang di Flanders dengan kota-kota dagang di Italia.
Kegiatan perdagangan yang berkembang membutuhkan emas dan perak dalam jumlah yang besar. Emas dan perak dibutuhkan sebagai alat penukar dan ini mendorong berkembangnya ekonomi uang. Dalam perkembangan selanjutnya berbagai perusahaan dan lembaga penyimpanan uang didirikan dengan tujuan agar kegiatan perdagangan dapat dikelola dengan baik. Maraknya kegiatan perdagangan mendorong munculnya orang-orang yang menguasai modal dalam jumlah yang besar.
Para penguasa modal menjadi embrio dari berkembangnya sistem kapitalisme. Sistem ini adalah suatu sistem ekonomi dimana orang berinvestasi dalam kegiatan perdagangan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Berkembangnya kegiatan perdagangan dan sistem kapitalisme bertepatan dengan mulai bangkitnya dunia ilmu pengetahuan di Eropa. Berbagai inovasi dalam dunia ilmu pengetahuan dapat diwujudkan karena didukung oleh kondisi ekonomi Eropa yang semakin mapan.
Pada abad ke-15 M bangsa Eropa mulai berekspansi ke benua-benua lainnya. Ekspansi Eropa menyebabkan peradaban Eropa mulai menyebar ke seluruh dunia. Melalui kegiatan perdagangan, penyebaran agama dan kolonialisme, peradaban Eropa sejak itu mulai dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Abad ke-15 M sampai abad ke-20 M adalah periode dimana bangsa-bangsa Eropa mendominasi kehidupan bangsa-bangsa di berbagai benua lainnya.
II. PENEMUAN MESIN CETAK
Perubahan secara besar-besaran di berbagai bidang menandai berakhirnya abad pertengahan. Dalam sejarah Eropa periode yang menggantikan abad pertengahan dikenal dengan sebutan periode modern awal (early modern period) yang mencakup abad 16 sampai ke abad 18.
Dalam periode modern awal banyak terjadi peristiwa yang berpengaruh secara fundamental terhadap perkembangan sejarah Eropa dan dunia. Dalam periode ini bangsa Eropa mulai melakukan penjelajahan samudra, mendirikan koloni di berbagai belahan dunia lain, dan mendorong berkembangnya perdagangan global. Bangsa Eropa menemukan jalan ke Asia dan berbagai benua-benua baru seperti Amerika serta Australia.
Selain untuk menyebarkan agama Kristen, tujuan lain dari penjelajahan Samudra yang dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol adalah untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah (cengkeh dan pala). Karena itu mereka terus mencari jalan sampai mereka menemukan bahwa ternyata daerah penghasil rempah-rempah terletak di Kepulauan Maluku yang ada di bagian timur kepulauan Nusantara.
Sebelum dimulainya jaman penjelajahan samudra, bangsa-bangsa Eropa mengalami berbagai peristiwa penting. Selain peperangan, kehancuran dan kemunculan negara-negara baru, pada masa modern awal di Eropa juga terjadi banyak penemuanpenemuan penting. Abad 15 menjadi saksi dari perkembangan penting di bidang teknologi, yaitu ditemukannya mesin cetak. Sebelum ada mesin cetak, orang menggunakan berbagai wahana untuk menyimpan tulisan seperti daun, tanah liat, kulit binatang, dan batu. Namun demikian teknik mencetak tulisan dengan
menggunakan balok kayu yang diukir telah dikenal di Eropa sejak abad ke-12 dan bahkan di Cina sebelum itu.
Apa yang baru dari perkembangan teknik mencetak pada abad ke-15 adalah penggunaan plat metal untuk mencetak huruf secara cepat. Perkembangan mesin cetak dengan menggunakan plat metal melalui proses yang bertahap. Dalam proses penyempurnaan mesin cetak dengan menggunakan huruf logam ((type metal) dan tinta berbahan minyak antara tahun 1445 sampai 1450 peran yang penting dilakukan oleh Johannes Guttenberg (1398/1400-1468). Kepeloporannya dalam penyempurnaan mesin cetak menggunakan plat metal menyebabkannya disebut sebagai penemu mesin cetak. Mesin cetak ciptaan Guttenberg disebut dengan Movable
Type merupakan perbaikan dari sistem blok yang telah digunakan di Eropa sebelumnya. Teknik
yang digunakan oleh mesin cetak Guttenberg memungkinkan terjadinya proses pencetakan bahan tertulis secara cepat.
Ide untuk membuat mesin cetak muncul ketika Guttenberg membuat surat pengampunan untuk gereja. Untuk bisa membuat surat pengampunan dalam jumlah besar Guttenberg membuat huruf dengan plat besi. Teknik membuat plat besi ini tidak langsung jadi, tetapi melalui proses bertahun-tahun.
Pada tahun 1450 mesin cetak Guttenberg akhirnya bisa diselesaikan. Dengan menggunkan mesin cetak buatannya, pada tahun 1456 untuk pertama kali mencetak Alkitab. Alkitab cetakan Gutennberg tersebut merupakan Alkitab pertama yang dicetak dengan mesin cetak Movable Type. Dua ratus Alkitab berikutnya segera dicetak setelah itu. Sebagian kecil diantaranya, sekitar 50 eksemplar, dicetak di atas kulit lembu muda. Diperkirakan hampir seperempat dari 200 Alkitab cetakan pertama mesin Guttenberg masih ada hingga saat ini.
Pada tahun 1500 diperkirakan ada lebih dari seribu mesin cetak, yang dibuat dengan mengikuti model Guttenberg, digunakan di seluruh Eropa. Mesin-mesin cetak tersebut secara bersama-sama telah menghasilkan 40.000 judul barang cetakan (berupa buku, brosur, naskah, dan sebagainya). Empat puluh ribu judul itu dicetak sebanyak kurang lebih delapan sampai sepuluh juta kopi. Diperkirakan hampir separuh dari barang cetakan tersebut adalah bahan-bahan yang berkaitan dengan kepentingan agama berupa Alkitab, komentar terhadap Alkitab, dan buku khotbah.
Penemuan mesin cetak mendorong tersebar luasnya ilmu pengetahuan dan semangat untuk meneliti. Dengan menggunakan mesin cetak, pemikiran dan karya kreatif seseorang dapat menjangkau orang dalam jumlah ribuan dan bahkan jutaan. Dengan demikian mesin cetak juga mendorong munculnya kelompok pembaca yang terus berkembang. Para pembaca barang cetakan ini menjadi kaum terdidik yang membawa dampak secara mendalam terhadap masyarakat Eropa. Tanpa adanya barang-barang cetakan bisa dibayangkan bahwa ide-ide yang dibawa oleh gerakan reformasi maupun renaissans tidak akan menyebar secepat seperti yang terjadi di abad ke-16. Lebih jauh lagi, mesin cetak telah menjadikan bangsa Eropa sebagai bangsa terdepan di dunia dalam hal reproduksi pengetahuan. Dampak dari mesin cetak segera terlihat, pada abad 16 kemampuan baca tulis bangsa Eropa mulai menigkat secara signifikan.
III. RENAISSANS
Jaman modern awal di Eropa ditandai dengan munculnya masa renaissans (abad 15-16). Kata renaisans berasal dari bahasa Perancis yang artinya adalah “kelahiran kembali”. Apa yang dimaksud dengan kelahiran kembali adalah kembalinya kebudayaan Yunani dan Romawi setelah Eropa selama kurang lebih seribu tahun mengalami abad pertengahan. Kebudayaan Yunani dan Romawi dicirikan oleh penghargaan terhatadap etika, estetika, dan rasionalitas. Penghargaan terhadap hal-hal tersebutlah yang muncul kembali di masa rennaisans. Kesadaran tentang renaissans muncul pertama kali di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa.
Masa renaissans dalam sejarah Eropa selain dianggap sebagai periode kelahiran kembali juga dianggap sebagai masa pemulihan atau recovery. Kehidupan di Eropa pada abad ke-14 ditandai dengan berbagai bencana seperti wabah penyakit (Black Death), kekacauan politik, dan krisis ekonomi. Dalam dunia pemikiran, manusia Eropa abad pertengahan adalah manusia yang kehidupannya didominasi oleh gereja. Banyak hal positif yang berkembang di periode tersebut, namun dampak-dampak negatif juga ada. Hidup manusia abad pertengahan selalu dikaitkan dengan tujuan akhir (eskatologi). Manusia hanya menjalani kehidupan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu tujuan utama hidup seorang manusia adalah mencari keselamatan. Keselamatan bisa didapat jika manusia patuh pada agama. Lembaga yang mengatur agama adalah gereja dan karena itu manusia harus patuh kepada ketetapan yang dikeluarkan oleh gereja.
Dunia pemikiran pada abad pertengahan banyak ditujukan untuk kegiatan teologi. Pemikiran filsafat yang berkembang melahirkan filsafat skolastik, yaitu suatu pemikiran filsafat yang berlandaskan pada agama dan digunakan sebagai alat pembenaran agama. Berbagai pemikiran yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan oleh gereja dilarang. Pemikiran yang dapat berkembang adalah pemikiran yang tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan dalam teologia. Akibatnya inovasi dalam dunia pemikiran menjadi sangat terbatas. Gereja dengan para pendetanya mendominasi kegiatan pengembangan dunia pemikiran. Berkembangnya dunia pemikiran yang seperti ini menyebabkan abad pertengahan disebut juga sebagai Abad Kegelapan atau Dark Ages.
Suatu perspektif baru tentang manusia muncul dalam masyarakat Italia di awal abad ke-15. Italia pada abad tersebut adalah masyarakat yang tumbuh dan berkembang sebagai masyarakat urban atau kota. Negara-negara kota bermunculan dan menjadi sentral dari kegiatan politik. Seiring dengan berkebangnya kegiatan perdagangan kehidupan masyarakat urban Italia menjadi semakin sejahtera. Kesejahteraan yang dinikmati masyrakat menyebabkan mereka mulai berpikir secara keduniawian dan mendorong munculnya pemikiran yang didasarkan pada rasionalitas. Dalam sitiuasi yang seperti itu iklim untuk kelahiran renaissans menjadi semakin matang. Penghargaan kepada manusia bukan lagi didasarkan hanya kepada pengabdiannya terhadap gereja tetapi juga kepada kemampuan dan pencapainnya secara pribadi.
Pada awal abad ke-15 Leon Batista Alberti, seorang arsitek dari kota Fiorentina, dengan tepat menggambarkan perkembangan dunia pemikiran yang baru tersebut ketika ia mengatakan “Orang dapat melakukan semua hal jika mereka menginginkannya”. Penghargaan yang tinggi pada nilai kemanusiaan dan potensi individu melahirkan gagasan baru tentang manusia
renaissans yang digambarkan sebagai “seorang individu universal” yang mampu mencapai segala hal dalam berbagai bidang kehidupan. Menjadi manusia seutuhnya tidak harus dengan menempuh jalan mematuhi secara penuh segala aturan yang ditetapkan oleh gereja. Menurut paham renaissans, manusia dapat hidup secara maksimal jika hak-hak individunya dihargai dan dengan demikian ia harus melepaskan diri dari dominasi agama dan gereja. Ia dapat melakukan kegiatan keagamaan sebagai seorang individu, tetapi kebebasannya sebagai seorang manusia sebaiknya didasarkan kepada kehidupannya sebagai manusia di dunia. Paham inilah yang disebut dengan sekularisme. Secara ringkas, sekularisme adalah paham yang memisahkan keyakinan berdasarkan kepercayaan atau keimanan dan kehidupan dunia yang didasarkan pada rasio.
Bangkit dan tumbuhnya gagasan tentang individualisme dan sekularisme di Italia pada masa renaissans sangat terlihat dalam dunia intelektual, seni, dan sastra. Gerakan sastra terpenting yang dihubungkan dengan renaissans adalah humanisme. Humanisme renaissans ialah gerakan intelektual yang didasarkan pada pengkajian karya-karya sastra klasik Yunani dan Romawi. Para humanis mempelajari liberal arts yang terdiri dari: tata bahasa, retorika, puisi, filsafat moral atau etika dan sejarah. Semua yang dipelajari itu didasarkan pada karya-karya tulis yang ditinggalkan oleh para ilmuwan dari masa Yunani dan Romawi kuno. Bidang kajian yang dikaji oleh para humanis di masa renaissans disebut dengan bidang ilmu humaniora. Istilah tersebut masih tetap digunakan hingga saat ini dan bahkan digunakan untuk menamai fakultas yang mempelajari manusia sebagai mahluk individu dan sosial. Sejak masak renaissans Fakultas Humaniora atau Faculty of Humanities dapat ditemukan di berbagai universitas diseluruh penjuru dunia.
Tokoh yang dianggap sebagai bapak humanisme renaissans Italia adalah Petrarch (1304-1374). Tokoh ini sangat menonjol dalam mendorong gagasan tentang humanisme ke dalam alam pemikiran renaissans. Petrarch mendorong kaum cendikiawan untuk mempelajari karya-karya dalam bahasa latin yang terlupakan. Ia menekankan arti penting dari karya-karya klasik dari masa Yunani dan Romawi kuno. Petrarch menganjurkan kaum humanis untuk menggunakan karya-karya Cicero untuk model penulisan prosa dan karyakarya Virgil untuk penulisan puisi. Petrarch mengatakan “Yesus adalah Tuhanku, Cicero adalah sang pangeran bahasa”.
Pada awal abad ke-15 kesadaran tentang renaissans di Fiorentina mengambil arah yang baru. Para humanis yang bekerja sebagai pegawai di dewan kota Fiorentina mulai memberi perhatian secara intelektual terhadap kehidupan masyarakat sipil. Mereka meyakini bahwa kaum cendikiawan mempunyai tugas untuk memberi dukungan kepada negara. Lebih jauh lagi, kaum humanis juga meyakini bahwa pengetahuan mereka tentang humaniora harus dibaktikan untuk negara. Humanisme Italia di awal abad ke-15 juga memberi perhatian yang besar kepada peradaban Yunani kuno. Peradaban yang terakhir ini sangat menghargai kemapuan individu, mencintai keindahan, dan mengutamakan rasio. Nilai-nilai seperti itu juga ingin dihidupkan lagi oleh para humanis di Italia pada masa renaissans.
Eropa yang dilanda renaissans memberi iklim yang ideal bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu astronomi. Para pemikir abad pertengahan menggunakan gagasan Aristoteles, Ptolomeus, dan ajaran gereja dalam menggambarkan bumi sebagai pusat alam semesta atau yang dikenal dengan teori geosentris. Dalam konsepsi ini alam semesta dilihat sebagai lingkaran konsentrik yang tidak bergerak dengan bumi sebagai pusatnya. Pandangan
geosentris mendapat kritikan tajam dari seorang astronom dan ahli matematika berkebangsaan Polandia, Nicholas Copernicus (1473-1543).
Menurut Copernicus teori geosentris tidak sesuai dengan pengamatannya tentang gerak tata surya. Dari pengamatannya selama bertahun-tahun terhadap pergerakan matahari, bulan, dan bintang-bintang, Copernicus sampai pada kesimpulan bahwa matahari adalah pusat tata surya atau dikenal dengan teori heliosentris. Teori yang diajukan oleh Copernicus didukung oleh seorang astronom Jerman, Johannes Kepler (1571-1630). Menurut Kepler, orbit dari planet-planet yang mengitari matahari tidak berbentuk lingkaran, namun elips. Teori heliosentris semakin kukuh dengan penemuan teleskop oleh ilmuwan Italia, Galileo Galilei (1564-1642). Dengan menggunakan teleskop Galileo dapat melihat gunung-gunung di bulan dan menemukan bahwa planet Yupiter memiliki empat satelit.
Sampai sekarang banyak sejarawan mempertanyakan mengapa revolusi ilmu pengetahuan terjadi di Eropa di masa renaissans dan bukan di Cina. Pada abad pertengahan Cina adalah bangsa yang secara peradaban dan teknologi adalah yang paling maju di dunia. Namun setelah abad ke-15, Eropa telah melampaui Cina sebagai pelopor kemajuan peradaban dan teknologi. Ada beberapa sejarawan yang berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena masyarakat Cina hidup dalam keteraturan, sedangkan masyarakat Eropa hidup dengan semangat kompetisi. Beberapa sejarawan lainnya berpendapat bahwa pandangan hidup orang Cina yang menekankan keharmonisan dengan alam dan bukan bagaimana cara menaklukkan alam telah menjadi penyebab ketertinggalan Cina dari Eropa. Bahkan ada sejarawan yang berpendapat bahwa sistem birokrasi Cina yang menyerap orang-orang terpandai menjadi penyebab tidak adanya ilmuwan yang melakukan penemuan-penemuan baru di negara tersebut.
Di bidang seni, para seniman renaissans mencoba untuk melakukan imitasi terhadap alam di dalam karya-karya mereka. Gerakan seni yang mereka usung disebut dengan naturalisme, yaitu gerakan seni yang mencoba untuk mencitrakan kembali apa yang ada di alam seperti aslinya. Semakin persis karya mereka dengan apa yang ada di alam maka mereka menganggap karya mereka semakin berhasil. Pada saat yang sama, suatu standar artistik yang baru mencerminkan suatu sikap pemikiran yang juga baru dimana manusia ditempatkan sebagai pusat perhatian atau “pusat dari segala hal dan ukuran”. Gaya renaissans di bidang seni rupa dikembangkan oleh para pelukis Fiorentina abad 15. Ada dua hal penting yang mereka kembangkan di bidang seni rupa. Yang pertama adalah teknik melukis yang didasarkan pada pemahaman terhadap perspektif, aspek geometris dari ruang, dan teknik pencahayaan. Yang kedua, perhatian tergadap gerak dan struktur anatomi. Lukisan realistis dari manusia yang tidak mengenakan pakaian menjadi ciri utama dari karya-karya seniman Italia pada masa renaissans.
Pada akhir abad ke-15, para seniman dan ilmuwan Italia telah menguasai teknik baru untuk melakukan penelitian keilmuan terhadap dunia yang ada di sekitar mereka dan telah siap untuk mencapai bentuk-bentuk baru dalam ekspresi kreatif. Kondisi ini menandai masa kejayaan renaissans yang ditandai oleh karya tiga seniman sekaligus ilmuwan terkemuka, yaitu leonardo da Vinci (1452-1519), Raphael (1483-1520), dan Michaelangelo (1475-1564). Leonardo da Vinci menjadi contoh ideal dari ilmuwan renaissans. Sebagai ilmuwan ia adalah seorang generalis yang mempelajari segala hal, termasuk juga tubuh manusia. Tujuannya dalam mempelajari segala hal adalah untuk mengetahui bagaimana cara alam bekerja. Raphael di usia
dua puluh lima tahun telah dikenal sebagai salah satu pelukis Italia yang terbaik. Kehebatannya sebagai seniman diakui melalui karya-karyanya tentang Madonna. Di dalam karya-karya itu ia berusaha melampaui standard manusia di jamannya tentang keindahan. Sedangkan Michaelangelo dikenal sebagai seorang pelukis, pematung, dan arsitek. Michaleangelo dipengaruhi oleh neoplatonisme, yang melihat keindahan tubuh manusia sebagai refleksi keindahan keilahian.
IV. REFORMASI GEREJA
Sepanjang paruh kedua abad ke-15 gagasan renaissans yang muncul di Italia menyebar ke negara-negara Eropa lainnya. Di Eropa utara gagasan renaissans mulai menyentuh agama Kristen dan disebut dengan Kristen humanisme. Tujuan utama dari Kristen humanisme ialah melakukan reformasi terhadap agama Kristen. Para humanis Kristen meyakini kemampuan manusia untuk berpikir secara rasional dan memperbaiki kehidupan mereka sendiri melalui pendidikan. Menurut mereka untuk mengubah masyarakat pertama-tama mereka harus mengubah manusia yang membentuk masyarakat tersebut.
Tokoh humanis Kristen yang paling terkemuka adalah seorang cendikiawan Belanda yang bernama Desiderius Erasmus (1466-1536). Tokoh ini ialah orang yang merumuskan dan mempopulerkan program reformasi kaum humanis Kristen. Erasmus menyebut konsepsinya tentang agama sebagai Filsafat Kristen. Dalam konsepsinya ia menyatakan bahwa kekristenan hendaknya menjadi panduan kehidupan sehari-hari dan bukannya sistem kepercayaan dan praktek keagamaan dogmatis yang diterapkan oleh gereja pada abad pertengahan. Dengan konsepsinya itu Erasmus dianggap oleh para sejarawan sebagai seorang yang menyiapkan jalan menuju ke arah reformasi gereja.
Masalah utama yang melanda gereja di akhir abad pertengahan dan berpuncak di abad ke-15 adalah korupsi. Antara tahun 1450 sampai 1520, beberapa orang paus yang menjadi pimpinan gereja gagal untuk memenuhi harapan umat Kristen yang telah menerima oleh gagasan-gagasan renaissans. Para paus seharusnya merupakan pemimpin spiritual gereja Katolik, tetapi sebagai pemimin tertinggi gereja mereka terlalu banyak terlibat dalam urusan-urusan duniawi. Para petinggi gereja terlalu banyak mengurusi masalah uang dan menggunakan kedudukan mereka di gereja untuk mencapai kedudukan yang mereka inginkan dan mengakumulasi kekayaan. Lebih jauh lagi, banyak diantara para pendeta yang mengabaikan urusan keagamaan.
Sementara para pemimpin gereja gagal untuk menjalankan kewajiban mereka, masyarakat mulai mempertanyakan peran dan makna gereja dalam kehidupan mereka. Gereja meminta bukan hanya kepatuhan spritual namun juga kepatuhan sosial, ekonomi, politik atau secara ringkas kepatuhan total. Pajak yang dipungut sendiri secara langsung dari masyarakat menyebabkan gereja menjadi semakin kaya. Salah satu sumber kekayaan gereja yang kemudian menyebabkan terjadinya sengketa besar dengan masyrakat adalah indulgensi. Apa yang dimaksud dengan indulgensi adalah peniadaan hukuman akibat dosa. Indulgensi dapat dilakukan oleh gereja dan sebagai imbalannya orang yang bertobat memberikan sumbangan uang tunai kepada gereja.
Dalam agama Kristen pengampunan Tuhan terhadap dosa tergantung pada pengakuan, penyesalan, dan denda dosa. Pada abad pertengahan bentuk dari denda dosa sangat berat. Bentuk-bentuk dari denda dosa itu antara lain seperti: berpuasa selama tujuh tahun dengan hanya makan roti dan minum air atau melakukan perjalanan ziarah yang jauh serta berat. Seiring dengan perjalanan waktu indulgensi telah berkembang menjadi alat pengganti, yaitu dengan menyerahkan sejumlah uang sebagai pengganti pelaksanaan perbuatan yang seharusnya menjadi denda dosa. Gagasan yang mendasari indulgensi berasal dari gagasan hukum masyarakat Jermania yang menyatakan bahwa hukumman badan bagi tindak kejahatan dapat diganti dengan bayaran uang. Namun karena uang dan indulgensi kemudian tercampur baur maka mulai terjadi penyelewengan. Masyarakat biasa beranggapan bahwa dosa-dosa mereka bisa diampuni dengan cara membayar dengan uang. Akibat dari penyelahgunaan indulgensi lembaga gereja menjadi semakin kaya. Para pimpinnan dan petinggi gereja terdorong untuk melakukan korupsi. Kekayan gereja dan para pengurusnya menyebabkan masyarakat beranggapan intitusi gereja sebagai lembaga yang membiarkan tindak korupsi.
Martin Luther adalah searang pendeta dan profesor di Universitas Wittenberg di Jerman. Sebagai profesor ia memberi kuliah tentang Alkitab. Kemungkinan suatu ketika diantara tahun 1513 dan 1516, melalui kajiannya terhadap Alkitab, ia sampai kepada jawaban terhadap permasalahan “jaminan keselamatan” yang telah menjadi bahan pemikirannya sejak ia memutuskan diri untuk mejadi pendeta. Ajaran agama Katolik menyatakan bahwa keimanan dan amal ibadah diperlukan oleh seorang kristiani untuk mendapat penyelamatan individu. Dalam pemikiran Martin Luther, manusia adalah mahluk yang lemah dan tidak memiliki kekuatan di hadapan Tuhan yang maha kuasa. Manusia tidak akan pernah dapat melakukan amal ibadah yang cukup untuk mendapat penyelamatan. Melalui kajiannya terhadap Alkitab, Luther sampai pada kesimpulan bahwa manusia tidak akan mendapat penyelamatan melalui amal ibadah tetapi penyelamatan akan diperoleh justru melalui keimanan terhadap janji Tuhan yang menjadi mungkin karena pengorbanan Yesus ketika ia disalib. Doktrin penyelamatan melalui keimanan menjadi doktrin utama dalam gerakan reformasi gereja. Karena Luther sampai kepada doktrin ini melalui kajiannya terhadap Alkitab, maka Alkitab bagi Luther, sebagaimana umat Protestan lainnya, menjadi panduan utama menuju kebenaran relijius.
Dalam pandangan Martin Luther, dirinya bukanlah seorang pemberontak gereja
Katolik. Namun ia sangat kecewa dengan meluasnya praktek jual beli indulgensi. Apa yang menyebabkannya menjadi sangat marah adalah tindakan Pendeta Johan Tetzel yang memaksakan indulgensi dengan slogan “Segera begitu koin yang dimasukkan ke kotak uang bergemerincing, maka jiwa akan bangkit dari neraka”. Kemarahan yang begitu besar menyebabkan Martin Luther pada tahun 1517 mengumumkan 95 tesis mengenai indulgensi. Tesis-tesis Luther ditulis pada selembar poster yang kemudian ditempelkan dengan paku ke pintu utara gereja istana Frederik di Wittenberg. Kejadian ini terjadi pada tanggal 31 Oktober 1517 dan menandai dimulainya gerakan reformasi gereja.
Beberapa bagian dari tesis tersebut berisikan pernyataan dan beberapa lainnya adalah pertanyaan. Menurut Luther dalam tesis-tesinya; orang yang bertobat tidak akan mengemis untuk meminta hukuman dosanya dihapus, tetapi akan menyambutnya dengan senang hati sperti yang dilakukan oleh Kristus dahulu. Masih menurut Luther, baik Paus ataupun siapapun tidaklah
berwenang untuk melakukan poenghapusan dosa. Karena itu menurutnya para penjaja indulgensi telah menipu banyak orang. Masyarakat umum yang tidak berminat kepada perdebatan teologi sangat tertarik kepada argumen-argumen Martin Luther yang membumi. Bagi mereka Luther telah menyentuh masalah yang peka dengan cara yang sangat telak dan tepat sasaran. Apa yang dikemukakan Luther di dalam tesistesisnya dengan tepat mewakili segala keluhan masyarakat yang selama ini terpendam terhadap gereja. Segera setelah pengumuman 95 tesis Luther, ribuan salinan dari tesis-tesis tersebut tersebar ke seluruh Eropa. Meskipun aslinya ditulis dalam bahasa latin, tetapi tesis-tesis Luther segera diterjemahkan ke bahasa Jerman.
Pendapat Luther melalui pamfletnya mendapat reaksi keras dari gereja. Pada bulan Januari 1521 gereja menghukum Luther dengan melakukan ekskomuni atau melakukan pengucilan terhadapnya. Dalam beberapa tahun kemudian gerakan keagamaan yang dicetuskan oleh Luther menjelma menjadi revolusi. Luther mendapatkan dukungan dari banyak pemimpin Jerman. Para pemimpin pendukung Luther ini segera mengambil alih kepemimpinan gereja yang ada di wilayah kekuasaan mereka. Gereja Lutheran di Jerman (dan kemudian juga di Skandinavia) kemudian menjadi gereja negara dimana negara menjalankan fungsi sebagai pengawas kegiatan gereja. Sebagai bagian dari perkembangan gereja yang diawasi oleh negara, Luther memperkenalkan pelayanan keagamaan untuk menggantikan pelayanan yang diberikan oleh gereja Katolik. Pelayanan keagamaan yang diperkenalkan oleh Luther terfokus pada pembacaan Alkitab, penyampaian firman-firman tuhan, dan lagu-lagu.
Gerakan keagamaan yang dipelopori oleh Luther dikenal dengan sebutan reformasi gereja. Gerakan ini memunculkan agama Kristen Protestan. Sejak awal regormasi gereja telah terkait dengan masalah-masalah politik. Pada tahun 1519 Charles I, raja Spanyol, terpilih menjadi kaisar kekaisaran Romawi Suci (The Holly Roman Empire) dengan gelar Charles V. Secara politik kaisar baru menginginkan seluruh wilayah kekaisarannya tetap berada di bawah kekuasaannya. Secara keagamaan ia berharap untuk dapat menjaga kesatuan di kekaisarannya dengan agama Katolik. Namun sayangnya situasi politik dan keagamaan di kekaisaran Romawi Suci tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Charles. Meskipun seluruh negara-negara di Jerman loyal kepada kaisar, namun sejak abad pertengahan negara-negara kecil ini secara relatif telah menikmati independensi dari kekuasaan kekaisaran.
Pada tahun 1546 Kaisar Charles V membawa pasukan memasuki Jerman untuk menertibkan kondisi di sana. Pada saat itu gerakan Martin Luther telah diterima luas di
Jerman dan para penguasa Jerman telah siap menghadapi pasukan kekaisaran Romawi Suci. Para penguasa Jerman pada akhirnya mampu mempertahankan independensinya dari kekaisaran. Perang keagamaan di Jerman berakhir pada tahun 1555 dengan ditandatanginya perjanjian Augsburg. Melalui perjanjian itu, pembagian agama Kristen secara formal diakui. Negara-negara penganut Lutheran memiliki hak-hak yang sama dengan negara-negara Katolik. Dengan adanya perjanjian Augsburg, apa yang pernah dikuatirkan oleh orang-orang Kristen Eropa sekarang benar-benar terjadi. Sejak itu kesatuan agama Kristen yang ideal telah hilang untuk selamanya. Perkembangan yang cepat dari agama Kristen Protestan membuat hal ini menjadi suatu kepastian.
V. PENJELAJAHAN SAMUDRA DAN MERKANTILISME
Bangsa Eropa mulai melakukan penjelajahan samudra di masa renaissans. Penjelajahan samudra yang dilakukan oleh bangsa Eropa merupakan peristiwa sejarah yang sangat penting bila dilihat dari dampaknya bagi dunia modern. Selama sekitar dua abad (14201620) dorongan untuk menemukan daerah baru di luar Eropa telah menyebabkan peningkatan yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan tentang bumi dan manusiamanusia yang mendiaminya. Penemuan-penemuan wilayah baru yang diikuti oleh kolonisasi, peperangan, perjanjian dagang, dan persaingan telah menyebabkan munculnya negara-negara Eropa yang menguasai wilayah yang lusa di seberang samudra. Penjelajahan samudra telah memunculkan kekayaan, kesempatan, dan cara berpikir baru. Salah satu hasil paling nyata dari jaman penjelajahan samudra adalag terciptanya negaranegara baru seperti: Amerika Serikat, Brazil, dan Australia. Negara-negara di eropa yang tadinya hanya negara biasa, sekarang mulai muncul sebagai negara-negara adidaya di dunia. Negara-negara Eropa yang menjadi besar pada era penjelajahan Samudra antara lain adalah; Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.
Sampai seribu tahun lebih sejak awal abad masehi, bangsa-bangsa Eropa tidak pernah meluaskan pengaruhnya ke luar dari benua mereka. Meski demikian, Eropa tidak pernah benar-benar terisolasi dari dunia luar. Berbagai komoditi dari Asia dan Afrika mencapai benua ini, dan karya-karya para ilmuwan Islam dipelajari oleh kaum cendikiawan di Eropa. Adanya berbagai kisah yang menarik tentang Asia telah menyebabkan orang-orang Eropa bahkan sejak jaman sebelum masehi telah tertarik kepada dunia timur. Selama abad pertengahan berbagai mitos dan legenda tentang dunia timur berkembang dengan luas di Eropa. Marco Polo dari venesia adalah pengelana terkemuka dari abad pertengahan yang melakukan perjalanan ke Asia dengan menempuh jalur sutra dan kemudian menuliskan pengalaman perjalannya.
Bangsa Portugis menjadi pelopor dari ekspansi Eropa ke Asia. Portugis mengawali ekspansinya dengan melakukan pelayaran menyusuri Pantai Afrika hingga mencapai ke Senegal. Pelayaran tersebut (1441) disponsori oleh Pangeran henry “Sang Navigator” dengan tujuan utama mencari sekutu untuk melawan kekuatan Islam dan peluang-peluang dagang yang bisa mendatangkan keuntungan. Pada tahun 1487, Bartolomeus Diaz memimpin armada Portugis hingga mencapai Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Sebelas tahun kemudian, armada Portugis lainnya di bawah pimpinan Vasco da Gama berlayar hingga ke Kalikut di sebelah barat pantai India. Kerajaan Portugis mensponsori pelayaran da Gama dengan tujuan menghancurkan monopoli Islam terhadap perdagangan rempahrempah. Kalikut adalah salah satu emporium dalam jalur perdagangan rempah-rempah di Samudra hindia, tetapi saat itu Portugis mengira Kalikut adalah daerah penghasil utama rempah-rempah. Meski kehilangan dua kapal, armada da Gama berhasil kembali ke Eropa dengan membawa keuntungan lebih dari seribu persen dari modal yang ditanam.
Tokoh penting yang menjadi pelopor ekspedisi laut Spanyol ke luar benua Eropa adalah seorang Itali yang berasal dari Genoa, yaitu Christopher Columbus (1451-1506). Setelah ditolak oleh raja Portugis, Columbus berhasil mendapat dukungan dari ratu Isabella dari Spanyol untuk membiayai pelayaran ekspedisinya. Pada tahun 1492 Columbus berhasil mencapai benua Amerika. Ia tidak menyadari bahwa dia mencapai benua baru dan mengira ia telah sampai ke Asia. Daratan Amerika Selatan ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1500 oleh armada
Portugis di bawah pimpinan Pedro Cabral. Namun demikian, nama benua Amerika berasal dari nama seorang pelaut dari kota Fiorentina yang bernama Amerigo Vespuci. Orang terakhir ini menerbitkan serangkaian karangan tentang kondisi geografis benua baru yang menyebabkan benua baru tersebut kemudian diberi nama Amerika.
Untuk menghindari terjadinya konflik terbuka antara dua negara Eropa yang mempelopori penjelajahan Samudra, yaitu Portugis dan Spanyol, maka pada tahun 1494 diadakan perjanjian Tordesillas. Perjanjian ini diadakan di kota Tordesillas yang terlatak di Spanyol. Perjanjian Tordesillas membagi dunia menjadi dua. Menurut perjanjian ini, wilayah dari Tanjung Harapan ke timur menjadi milik Portugis. Sedangkan wilayah Samudra Atlantik ke barat menjadi milik Spanyol. Perjanjian Tordesillas berlaku dengan pengesahan dari Paus di Roma. Setelah dimulainya reformasi gereja di dekade ke dua abad ke-16, negara-negara Eropa non-Katolik Roma seperti Belanda, Inggris, dan Swedia merasa tidak terikat dengan perjanjian Tordesilass. Menurut mereka dunia adalah wilayah yang terbuka yang boleh dijelajahi oleh siapa saja. Penaklukan Spanyol di benua Amerika dimulai pada tahun 1519. Pada tahun itu pasukan Spanyol di bawah pimpinan Hernando Cortez, setelah melakukan peperangan selama tiga tahun, berhasil mengalahkan kerajaan Aztec di Mexico. Antara tahun 15311536, ekspedisi militer di bawah pimpinan Fransisco Pizarro berhasil menundukkan Kerajaan Inka yang terletak di Peru. Setelah itu diperlukan waktu sekitar tiga puluh tahun sebelum bagian barat Amerika Selatan berhasil sepenuhnya dikuasai oleh Spanyol. Ada beberapa faktor yang menunjang dominasi Eropa di benua Amerika. Pertama, bangsa Eropa memiliki keunggulan di bidang teknologi persenjataan, yaitu dengan menggunakan senjata api dan meriam. Kedua, orang Eropa mempunyai perekonomian yang maju dibandingkan penduduk asli Amerika yang memungkinkan mereka untuk mengakumulasi modal untuk keperluan penaklukkan daerah baru. Ketiga, orang Eropa memiliki sistem administrasi yang modern sehingga memudahkan mereka dalam menciptakan pemerintahan yang terorganisir di daerah yang dikuasainya.
Bangsa Belanda memulai penjelajahan samudra dengan mencari daerah sumber penghasil rempah-rempah. Armada Belanda pertama yang mencapai kepulauan Indonensia adalah armada yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Armada de Houtman mencapai kota pelabuhan Banten di ujung barat Pulau Jawa pada tahun 1596. Mereka berhasil mencapai kepulauan Indonesia dengan memanfaatkan buku perjalanan laut yang ditulis oleh Jan Huygen van Linschoten yang berjudul Itinerario. Di Banten para pedagang Belanda membeli lada dan kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur untuk mencari kepulauan maluku untuk mendapatkan komoditi cengkeh dan pala. Pada tahun 1597 de Houtman berhasil kembali ke Belanda dengan membawa berita tentang kemungkinan untuk meraih keuntungan besar dari perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Dalam waktu kurang dari lima tahun terbentuk sepuluh perusahaan di Belanda yang mengirimkan 14 armada dagang dengan tujuan untuk membeli cengkeh, pala, dan lada dari Nusantara.
Banyaknya maskapai dagang Belanda yang beroperasi di Nusantara mendatangkan persaingan diantara mereka dan menyebabkan keuntungan yang didapat menjadi kecil. Karena itu, atas inisiatif pemerintah Belanda, pada tahun 1602 semua maskapai dagang Belanda tersebut dilebur menjadi satu maskapai dagang yang disebut dengan Verenigde oost-Indische Compagnie (VOC) atau Maskapai Dagang Hindia Timur. Untuk memperkuat VOC, pemerintah Belanda memberi
maskapai dagang ini hak oktroi yang berlaku selama 21 tahun dan dapat diperbaharui untuk 21 tahun berikutnya. Hak oktroi meliputi hak untuk melakukan perjanjian dengan negara lain, merekrut tentara, menyatakan perang, mendirikan koloni dan benteng, serta mengadakan kontrak dagang. Dengan hak oktroi dimilikinya keasaan VOC menyerupai negara. Begitu besarnya kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh VOC sehingga banyak sejarawan yang menganggap maskapai dagang ini memiliki kekuasaan bagaikan negara.
Meskipun VOC dianggap sebagai perusahaan dagang multinasional terbesar di abad ke-17, tetapi perusahaan dagang multinasional yang pertama sebenarnya didirikan oleh orang Inggris. Perusahaan dagang milik Inggris didirikan pada tahun 1602 dan diberi nama East India
Company (EIC) atau Perusahaan Hindia Timur. EIC didirikan tanpa dukungan dana sebesar
VOC dan karena itu perusahaan ini baru bisa benar-benar bersaing dengan VOC setelah beroperasi lebih dari seratus tahun atau pada abad ke-18. Berbeda dengan VOC yang memperdagangkan rempah-rampah, komoditi utama yang diperdagangkan oleh EIC adalah teh, kopi, dan kain tekstil India.
Dalam melakukan perdagangan luar negeri di abad 17 dan 18 Inggris menerapkan suatu sistem ekonomi yang dikenal dengan nama merkatilisme atau yang disebut juga dengan komersialisme. Merkantilisme adalah sistem ekonomi dimana suatu negara berusaha mengumpulkan kekayaan dengan cara melakukan perdagangan dengan negaranegara lain, mengekspor lebih banyak dari impor dengan tujuan untuk meningkatkan cadangan emas dan logam mulia lainnya. Kata merkatlisme berasal dari kata latin mercans yang artinya adalah “pembeli”. Sistem ini mendorong negara untuk meninggalkan kegiatan pertanian dan menggantikannya dengan kegiatan perdagangan dalam rangka mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Meskipun saat ini sistem merkatilisme tidak lagi populer, tetapi sistem ini merupakan salah satu sistem ekonomi utama ayng berlaku di abad 17 dan 18. Sistem merkantilisme adalah salah satu faktor pendorong bagi berbagai aktifitas eksplorasi dan kolonisasi yang dilakukan negara-negara Eropa pada periode modern awal.
Pada tahun 1650 pemerintah Inggris secara resmi menerapkan sistem merkantilisme dalam kegiatan perdagangan. Untuk mencapai tujuan dari sistem merkatilisme pemerintah Inggris serangkaian peraturan yang secara ekslusif menguntungkan kepentingan ekonomi Inggris. Peraturan-peraturan tersebut menciptakan suatu sistem perdagangan di mana koloni Inggris di Amerika memberi pasokan Inggris dengan bahan-bahan mentah dan Inggris menggunakan bahan-bahan mentah tersebut untuk menghasilkan barang-barang yang bisa dijual di pasaran Eropa dan di daerah koloni. Sebagai daerah penghasil barang mentah, daerah koloni tidak akan pernah bisa berkompetisi dengan Inggris sebagai negara yang mengolah dan memasarkan hasil olahan barang-barang mentah tersebut. Para pedagang dan kapal-kapal Inggris mendukung penuh sistem merkantilisme. Mereka selalu berusaha agar negara lain tidak dapat turut menikmati keuntungan dagang yang di dapat oleh Inggris. Sejak akhir abad ke-18 seiring dengan berakhirnya era perusahaan dagang multinasional seperti VOC dan EIC sistem merkantilisme mulai ditinggalkan.
Revolusi industri dimulai di Inggris pada tahun 1780-an. Perbaikan cara berproduksi dalam kegiatan pertanian di abad ke-18 telah menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam produksi makanan. Sejak itu hasil pertanian Inggris dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan tenaga kerja yang sedikit dan harga produk yang terjangkau. Dampak positifnya keluarga-keluarga biasa di Inggris tidak perlu lagi membelanjakan sebagian besar uangnya untuk membeli makanan dan karena itu mereka sekarang memiliki cukup uang untuk membeli barang-barang lainnya. Pada saat yang sama, pertumbuhan populasi penduduk yang cepat menyediakan surplus tenaga kerja yang diperlukan oleh pabrikpabrik baru yang akan menjadikan Inggris sebagai negara industri.
Faktor kunci yang menyebabkan terjadinya revolusi industri di Inggris adalah kemampuan negara ini untuk menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan oleh pasaran dengan harga yang murah. Metode tradisional memproduksi barang dengan industri rumahan tidak akan dapat memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat pesat. Kebutuhan itu terutama berupa pakaian berbahan katun yang permintaannya datang dari Inggris dan wilayah-wilayah koloninya di seluruh penjuru dunia. Menghadapi permintaan yang tinggi, pembuatan pakaian di Inggris mencari dan menerima metode-metode baru yang dihasilkan oleh penemuan-penemuan di bidang teknologi dan sistem produksi. Proses pembaharuan di dalam cara berproduksi inilah yang mendorong terjadinya revolusi industri.
Pada tahun 1782 seorang ilmuwan Skotlandia yang bernama James Watt (17361819) berhasil menyempurnakan mesin uap ciptaannya sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Dengan menggunakan tenaga uap dan batubara, mesin uap ciptaan James watt dapat menjadi sumber energi penggerak menggantikan tenaga air dan angin. Berbeda dengan kincir angin dan air, mesin uap ciptaan watt dapat ditempatkan dimana saja. Mesin uap dapat digunakan untuk memintal benang, menenun kain, menggerakkan lokomotif, kapal, dan sebagainya. Mesin uap menciptakan cara baru dalam berproduksi. Sejak itu pabrik-pabrik menggantikan industri rumahan dan bengkel kerja. Dengan menggunakan mesin uap, barang-barang dapat diproduksi secara massal dengan biaya produksi yang murah.
Penemuan mesin uap memberi dorongan besar bagi peningkatan industri kain katun di Inggris. Pada tahun 1760 Inggris mengimpor 2,5 juta pounds kapas yang semuanya digunakan untuk keperluan industri. Pada tahun 1787 jumlah impor kapas meningkat menjadi 22 juta pounds. Pada tahun 1840 impor kapas Inggris berjumlah 366 juta pounds. Pada saat itu kain katun buatan Inggris telah dipasarkan ke seluruh penjuru dunia. Selama masa revolusi industri, cara memproduksi besi di Inggris juga mengalami revolusi secara radikal. Besi berkualitas tinggi mulai dihasilkan industri besi Inggris pada tahun 1780-an. Pada tahun 1740 Inggris memproduksi 17.000 ton besi. Seratus tahun kemudian, tepatnya pada tahu 1840an produksi besi Inggris telah mencapai dua juta ton. Pada tahun 1852 Inggris menghasilkan tiga juta ton besi. Produksi sebanyak itu melebihi dari produksi besi seluruh dunia jika digabungkan.
Penemuan mesin uap memicu terjadinya industrialisasi. Keberadaan pabrik-pabrik menciptakan cara kerja yang baru. Para pemilik pabrik dapat mengoperasikan mesin-mesin mereka secara maksimal. Karenanya para buruh bekerja secara teratur dalam periode tertentu dengan sistem
shift, agar mesin dapat terus bekerja dengan konstan. Para buruh di Inggris banyak yang berasal
abad ke-19 Inggris telah menjadi negara industri paling maju dan termakmur di dunia. Pada masa ini Inggris menjadi penghasil paling utama, pusat perputaran uang, dan pusat kegiatan perdagangan. Inggris memproduksi separuh dari barang-barang industri dan batubara yang diperlukan oleh dunia. Pada tahun 1850, jumlah produksi kain katun Inggris sama besarnya dengan jumlah produksi kain katun seluruh negara Eropa digabungkan menjadi satu.
Dari inggris revolusi industri menyebar ke seluruh benua Eropa. Negara-negara pertama di daratan Eropa yang pertama melakukan revolusi industri adalah Belgia,
Perancis, dan Jerman. Pemerintahan di negara-negara tersebut aktif dalam mendorong industrialisasi dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk ahli teknik dan menyediakan dana untuk pembangunan jalan, jembatan, dan rel kereta api. Pada tahun 1850 suatu jaringan kereta rel kereta api telah menyebar dan menghubungkan seluruh Eropa daratan.
Sama seperti negara-negara Eropa, Amerika Serikat yang telah menjadi merdeka pada tahun 1776 juga turut mengalami revolusi industri. Di negara ini revolusi indutsri telah mentransformasikan cara berproduksi secara besar-besaran. Pada tahun 1800 enam dari tujuh buruh di AS berasal dari kalangan petani dan tidak ada kota di negara ini yang penduduknya lebih dari 100.000 orang. Pada tahu 1860 populasi penduduk AS telah menjadi 30 juta orang. Pada tahun itu sembilan kota di AS berpenduduk lebih dari 100.000 orang dan hanya 50% dari para buruh yang berasal dari kalangan petani. Di bidang infrastruktur, ribuan mil kanal dan jalan dibangun untuk menghubungkan AS bagian timur dan barat. Pada tahun 1830 panjang rel kereta api hanya 100 mil, tetapi tiga puluh tahun kemudian panjangnya sudah mencapai 27.000 mil. Revolusi transportasi mengubah AS menjadi satu pasar tunggal yang besar bagi barang-barang hasil industri yang diproduksi di wilayah bagian timur laut negara tersebut.
Sebelum tahun 1870, revolusi industri yang telah mengubah Eropa dan AS secara radikal, tidak menyebar secara berati ke belahan dunia lainnya. Bahkan di Eropa Timur proses industrialisasi jauh tertinggal dengan Eropa Barat. Sebagai contoh adalah Rusia yang masih tetap merupakan negara agraris yang diperintah oleh rezim aristokrasi berdasarkan pada sistem feodal. Di Asia, negara-negara industri berusaha menghambat terjadinya revolusi industri di koloninya melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial. Di India pasaran lokal dibanjiri oleh kain katun murah buatan Inggris sehingga banyak penenun yang kemudian kehialangan pekerjaan. Hindia Belanda juga mengalami situasi yang tidak berbeda, pasaran lokal dibanjiri oleh impor kain dari negara Belanda (kain produksi kota Twente).
Revolusi industri memicu terjadinya urbanisai. Pada tahun 1800 kota terpadat di Inggris adalah kota London yang berpenduduk satu juta orang. Selain itu ada 6 kota yang berpenduduk antara 50.000-100.000 orang. Lima belas tahun kemudian populasi London meningkat menjadi 2.636.000 orang dengan 9 kota lainnya berpenduduk lebih dari 100.000 orang. Lebih dari 50% populasi Inggris pada tahun 1850 hidup di kota-kota besar maupun kecil. Lebih jauh lagi, revolusi industri menghasilkan kemunculan kelas menengah baru. Kaum borjuis atau kelas menengah bukanlah kelompokm masyarakat baru. Mereka telah ada sejak munculnya kota-kota abad pertengahan. Kata borjuis berasal dari kata burgher yang artinya adalah warga kota yang terdiri dari kaum bangsawan, pedagang, pegawai pemerintah, ahli hukum, pedagang, dan kalangan profesional lainnya. Kelas menengah baru yang muncul pada masa revolusi industri
terdiri dari para pemilik pabrik, pemilik bank, dan keluarga mereka. Kelompok masyarakat baru ini berusaha menajdi bagian dari kaum elit kota dan bersamaan dengan itu berusaha membedakan diri mereka dengan kaum buruh yang bekerja di pabrik.
Meskipun membawa dampak-dampak positif, revolusi industri juga mengakibatkatkan berbagai dampak negatif. Dampak negatif itu antara lain adalah: peningkatan polusi (udara, air, dan suara), berkembangnya konsumerisme, kepadatan penduduk kota, dan kehidupan kaum buruh yang sulit. Pada masa revolusi indutri para buruh mengalami kondisi kerja yang sangat buruk. Mereka bekerja dalam shift selama 1216 jam sehari, enam hari seminggu, dengan istirahat setengah jam untuk makan. Tidak ada jaminan keselamatan kerja dan tidak ada upah minimum. Banyak perempuan dan anakanak yang dipekerjakan di pabrik-pabrik ataupun tambang-tambang. Anak-anak menjadi bagian penting dari ekonomi keluara pada masa pra-industri. Mereka bekerja membantu orang tua di ladang atau kebun atau membantu pekerjaan di rumah. Di masa revolusi industri tenaga kerja anak-anak dieksploitasi lebih daripada sebelumnya. Para pemilik pabrik katun menemukan bahwa anak-anak dapat sangat membantu dalam proses produksi. Ukuran badan mereka yang kecil menjadikan mereka tenaga kerja yang ideal untuk menjalankan mesin pembuat kain katun. Anak-anak juga lebih mudah dilatih untuk bekerja di pabrik dibandingkan orang yang sudah dewasa. Mereka penurut dan lebih dari itu tenaga kerja anak tidak perlu dibayar penuh seperti tenaga kerja orang dewasa.
Dalam dunia pemikiran, revolusi industri telah memicu munculnya dua idelogi penting di abad 19, yaitu liberalisme dan nasionalisme. Liberalisme berakar pada abad 18 (abad pencerahan), revolusi Amerika, dan revolusi Perancis. Paham liberalisme berlandaskan pada gagasan bahwa manusia sebagai individu harus diberi kebebasan sebesar munkin. Liberalisme berkembang menjadi keyakinan politik yang menekankan pada kesamaan di depan hukum, kebebasan pers, berkumpul, dan toleransi agama. Semua kebebasan ini harus dijamin dalam suatu dokumen tertulis atau konstitusi. Kaum Liberal meyakini bahwa kekuasaan negara harus dibatasi karena bisa mengganggu kebebasan individu. Sebagai ideologi, liberalisme banyak disukung oleh kelas menengah baru yang menginginkan peran politik yang lebih luas setelah terjadinya revolusi industri.
Ideologi lain yang muncul sebagai respon terhadap revolusi industri adalah nasionalisme. Kebangkitan nasionalisme dalam suatu komunitas ditandai dengan adanya kesadaran terhadap kesamaan nasib, budaya, bahasa, dan sejarah. Komunitas yang memiliki kesadaran semacam ini disebut dengan bangsa. Setiap individu dalam bangsa diharap untuk memberikan loyalitasnya yang tertinggi kepada bangsanya. Sejak pecahnya revolusi Perancis, setiap kaum nasionalis mempercayai bahwa setiap bangsa harus memiliki pemerintahnya sendiri. Sebagai contoh adalah bangsa jerman yang terpecahpecah, menginginkan untuk bersatu sebagai bangsa dan membentuk satu pemerintahan yang terpusat. Nasionalisme kemudian menjadi tantangan bagi tatanan politik di Eropa saat itu yang mayoritas berbentuk negara monarki seperti: Inggris, Prusia, dan Turki. Nasionalisme bukan hanya berkembang di Eropa dan AS, tetapi juga di Amerika Selatan dan Asia sebagai kekautan baru yang mampu melawan kolonialisme.
Revolusi industri terjadi bersamaan dengan munculnya berbagai penemuan baru. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, abad 19 disebut sebagai abad ilmu pengetahuan. Penamaan ini dikarenakan pada abad itu banyak terjadi penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan ayng
mempengaruhi kehidupan umat manusia. Dalam bidang biologi, ilmuwan Perancis louis Pasteur (1822-1895) menemukan cara baru untuk mengatasi bakteri. Pada tahun 1859, Charles Darwin (1809-1882) mempublikasikan On the Origin of Species yang berisikan teori evolusi. Pada tahun 1876 Alexander Graham Bell menemukan telepon yang berhasil merevolusi cara orang dalam berkomunikasi. Peningkatan taraf kehidupan manusia yang dicapai melalui ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan metode ilmu pengetahuan alam diterima secara luas sebagai metode ilmu pengetahuan uyang paling obyektif.
VII. PENUTUP
Secara geografis benua Eropa tidaklah sebesar benua Asia, Amerika dan Afrika. Jumlah penduduknya juga bukan yang terbesar jika dibandingkan dengan benua-benua lainnya. Tetapi ukuran geografis maupun jumlah penduduk bukan merupakan representasi dari pengaruh benua Eropa terhadap dunia. Sampai dengan akhir abad pertengahan Eropa relatif tidak banyak berinteraksi dengan benua-benua lain. Namun demikian, sejak dimulainya era penjelajahan samudra negara-negara yang berasal dari benua ini mulai muncul sebagai kekuatan politik, ekonomi, dan maritim dunia. Dimulai dari bangsa Portugis dan Spanyol dan diikuti oleh bangsa-bangsa lainnya, penjelajahan samudra yang dilakukan oleh orang-orang Eropa telah membuat dunia semakin terhubung antara satu dengan yang lain. Jika sebelum abad 16 dunia perdagangan Asia yang dikuasai oleh perdagangan Islam telah mampu menghubungkan Eropa dengan daerah penghasil komoditi di Asia, maka setelah orang-orang Eropa melakukan penjelajahan samudra jaringan perdagangan dunia telah meliputi kawasan Eropa, Asia, Amerika, Afrika, dan bahkan Asutralia.
Benua Eropa dapat dikatakan sebagai tempat dimana terjadi berbagai penemuan yang mengubah cara hidup manusia. Perkembangan sejarah Eropa telah menyebabkan ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik di benua ini. Berbagai pengetahuan yang sekarang menjadi cabang ilmu muncul dan berkembang di Eropa. Perkembangan dunia ilmu di Eropa telah dimulai sejak jaman Yunani dan Romawi kuno. Kedua peradaban ini menjadi landasan bagi perkembangan Eropa Modern. Kemampuan orang Eropa untuk berpikir rasional telah dimulai oleh dirintis oleh para filsuf yang hidup di masa Yunani kuno yang dilanjutkan pada masa Romawi dan dihidupkan kembali pada masa renaissans. Rasionalitas yang digunakan oleh orang Eropa dalam mengatasi berbagai masalah telah menyebabkan mereka dapat melakukan inovasi di berbagai bidang kehidupan.
Salah satu inovasi terpenting di bidang teknologi yang mempengaruhi cara penyebaran ilmu pengetahuan adalah penemuan mesin cetak. Sebelum adanya mesin cetak, karya-karya tulis yang dihasilkan oleh para ilmuwan dan kaum agamawan hanya dapat digandakan dengan cara ditulis ulang atau menggunakan balok kayu yang diukir. Cara seperti ini menyebabkan berbagai hasil pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan hanya dapat beredar di kalangan terbatas. Penemuan mesin cetak oleh Johan Guttenberg merupakan revolusi besar dalam sejarah umat manusia. Dengan menggunakan mesin cetak sebuah karya tulis dapat digandakan hingga ribuan dan bahkan jutaan eksemplar. Sejak itu sirkulasi karya tulis telah menjangkau semakin banyak orang. Apa yang dipikirkan oleh seorang penulis tidak lagi hanya berpengaruh terhadap sejumlah
kecil orang, tetapi dapat menimbulkan suatu perubahan besar karena dibaca oleh kalangan yang luas.
Pengaruh Eropa terhadap peradaban dunia juga terjadi di dunia keagamaan. Kehidupan abad pertengahan yang didominasi oleh gereja telah menyebabkan Eropa berada dalam kondisi yang cukup stabil untuk masa kurang lebih seribu tahun. Kondisi yang cenderung tidak membawa perubahan besar pada akhirnya harus berakhir ketika berbagai dampak negatif dari dominasi gereja mulai dilihat sebagai permasalahan di dalam masyarakat. Dalam melakukan reformasi gereja Martin Luther tidak dalam posisi untuk melakukan revolusi. Apa yang dilakukannya adalah upaya untuk memperbaiki praktekpraktek keagamaan dan mengembalikan agama kepada masyarakat agar dapat dipahami secara rasional. Karena itu nama yang digunakan dalam pembaharuan agama di awal abad ke-16 bukanlah revolusi, tetapi reformasi.
Perubahan-perubahan di dalam cara berproduksi di Eropa telah memicu terjadinya revolusi industri. Revolusi industri dimulai di Inggris dan hal ini dapat dimenegrti karena sejak abad 18 Inggris telah menjadi negara adidaya dunia dengan wilayah koloni yang terluas dibandingkan negara-negara kolonial lainnya. Sistem ekonomi merkantilisme yang diterapkan Inggris sejak abad ke-17 telah menyebabkan negara ini mampu mengakumulasi kapital dalam jumlah yang sangat besar. Keberadaan modal, inovasi, dan teknologi telah menyediakan kondisi yang sempurnya bagi terjadinya inovasi-inovasi yang mendorong terjadinya revolusi industri. Revolusi Industri terutama menyebar dari Inggris ke negaranegara Eropa lainnya dan Amerika Serikat dan sejak itu sampai sekarang negara-negara tersebut telah menjadi negara maju atau negara dunia pertama.
Berbagai peristiwa dan penemuan yang terjadi di Eropa mempengaruhi kehidupan manusia di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Pengaruh Eropa atau barat masuk ke Indonesia sejak masa penjelajahan samudra di abad ke 16. Inovasi-inovasi yang terjadi di Eropa menyebabkan bangsa-bangsa barat yang datang ke Indonesia mampu melakukan konisasi di berbagai wilayah di kepulauan Indonesia. Dengan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki bangsa barat menunjukkan superioritas mereka terhadap masyarakat yang hidup di Nusantara. Namun demikian, gagasan-gagasan yang muncul di Eropa juga yang pada kahirnya mengakhiri era kolonialisme. Gagasan nasionalisme yang berkembang sebagai respon revolusi industri masuk ke Indonesia di awal abad ke-20. Dalam tempo beberapa dekade nasionalisme Indonesia telah tumbuh menjadi kekuatan yang menentang dan pada akhirnya mengakhiri kolonialisme Belanda.
DAFTAR PUSTAKA
Bayly, C.A., The Birth of the Modern World (Oxford: Blackwell Publishing, 2004). Butel, Paul, The Atlantic (London, Routledge, 1999).
Cipolla, Carlo M., Before the Industrial Revolution. European Society and Economi 10001700 (London: Routledge, 1993).
Collins, James B., Karen L. Taylor (eds.), Early Modern Europe: Issues and Interpretations (Oxford, Blackwell Publishing, 2006).
Duiker, William J., Jackson J. Spielvogel, The Essential World History, 2 Jilid (Belmont: Thomson Wadsworth,2008).
Ferro, Marc, Colonization: A Global History (London: Routledge, 1997).
Greyerz, Kaspar von, Religion and Culture in Early Modern Europe, 1500-1800 (Oxford, Oxford University Press, 2008).
Housley, Norman, Religious Warfare in Europe, 1400-1536 (Oxford, Oxford University Press, 2002).
Kamen, Henry, Early Modern European Society (London: Routledge, 2000).
Manning, Patrick, Navigating World History (Hampshire: Palgrave Macmillan, 2003).
Prak, Marteen (ed.), Early Modern Capitalism. Economic and Social Change in Europe
1400-1800 (London: Routledge, 2001).
Scammel, G.V., The First Imperial Age. European Overseas Expansion c.1400-1715 (London, Routledge, 1991).
Souza, George Bryan, The Survival of Empire. Portuguese Trade and Society in China and the
South China Sea, 1630-1754 (Cambridge: Cambridge University Press, 1988).
Vovelle, Michel, Revolution Againts the Church (Ohio: Ohio State University Press, 1991). Whyte, Ian D., Landscape and History Since 1500 (London: Reaktion Books, 2002).