Analisis Sikap “Rasa Ingin Tahu”...(Kristina Margaretha Sijabat) 8 Analysis of Curiosity Attitudes of Class VIII-A and Class VIII-B Students
in SMP Negeri 9 Kota Jambi
Kristina Margaretha Sijabat 1,a, O. Gultom 2,b 1 Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univeritas Jambi Jl Raya Jambi-Ma. Bulian, KM. 15, Mendalo Indah, Jambi 36361, Indonesia 2 SMP Negeri 3 Pematang Siantar, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indoensia e-mail:1 [email protected] Abstract
This research is based on the character of the students. The character to be studied is the curiosity of students. The purpose of this study is to know the character of students in curiosity in the learning process. The method used when collecting descriptive data through student character questionnaires about wanting know students. The results of the research of Class VIII-A and Class VIII-B students found that these students had sufficient curiosity in the learning process. The increasing curiosity of students in learning will affect both the character of students and student achievement. The student's curiosity will spur a better character. Keywords: Descriptions, Questionnaires, Curiosity. Analisis Sikap “Rasa Ingin Tahu” Siswa Kelas VIII-A dan Kelas VIII-B di SMP Negeri 9 Kota Jambi Abstrak Penelitian ini didasarkan pada karakter siswa .Karakter yang ingin diteliti adalah rasa ingin tahu siswa.Tujuan dari penelitian ini untuk mengtahui karakter siswa dalam rasa ingin tahu dalam proses pembelajaran. Metode yang dipakai pada saat pengumupulan data metode deskriptif melalui penyebaran angket karakter siswa tentang rasa ingin tahu siswa. Hasil dari penelitian siswa Kelas VIII-A dan Kelas VIII-B didapatkan bahwa siswa tersebut memiliki rasa ingin tahu yang cukupp baik pada proses pembelajaran. Semakin meningkatnya rasa ingin tahu siswa dalam belajar maka akan mempengaruhi baik dari karakter siswa dan prestasi siswa.Rasa ingin tahu siswa tersebut akan memacu karakter yang lebih baik lagi. Kata Kunci: Deskripsi, Angket, Rasa Ingin Tahu.
I.
PENDAHULUAN
Dalam dunia sekarang ini ,setiap anak membutuhkan pendidikan. Pendidikan adalah kegiatan yang biasa dilakukan di dalam kelas secara formal antara guru dengan murid dalam dua arah [1]. Ketika proses pembelajaran terjadi didalam kelas ,maka guru tidak hanya mengajarkantentang materi pelajaran saja tetapi juga memberi pelajaran tentang pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu sendiri dulunya hanya dibebankan pada dua mata pelajaran yaitu agama dan pkn, khususnya terkait akhlak dan budi pekerti peserta didik [2]. Pada saat ini pendidikan tidak hanya dipandang
Volume 6, Nomor 1 Juni 2019 9 dari mata pelajaran yang diajarkan
saja, tetapi juga dari hasil pembelajaran sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan. Tujuan suatu pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila dalam pelaksaan pembelajaran itu bersifat student centered, yakni pembelajaran terpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator saja [3].
Pada saat pembelajaran yang dilakukan di sekolah, contohnya pada smp.pada sekolah menengah pertama (SMP) terdapat mata pelajaran IPA terpadu. Melalui pembelajaran ipa terpadu,peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah dipelajarinya [4]. Pada pembelajaran ipa terpadu tidak hanya terdapat satu macam mata pelajaran saja. Pada kurikulum 2013, kd mata pelajaran ipa sudah memadukan konsep dari aspek Fisika, biologi, kimia serta bumi dan antariksa, tetapi tidak semua aspek tersebut dapat dipadukan karena pada suatu topik ipa tidak semua aspek dapat dipadukan satu sama lain [5]. Salah satu pembelajaran ipa terpadu adalah Fisika. Fisika adalah suatu ilmu yang lebih banyak memerlukan pemahaman daripada penghafalan, maka kunci kesuksesan dalam belajar Fisika adalah kemampuan memakai tiga hal pokok Fisika yaitu konsep, hukum-hukum atau asas-asas, dan teori-teori [6].
Pelajaran Fisika tidak hanya dipelajari pada jenjang SMP tetapi berlanjut pada jenjang SMA (Sekolah Mengengah Atas). Pembelajaran Fisika memiliki tujuan diantaranya mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis siswa terhadap lingkungan dan
sekitarnya [7]. Mata pelajaran Fisika adalah mata pelajaran yang cukup sulit dalam proses pembelajaran di kelas. Masalah-masalah autentik yang ada di sekitar kehidupan siswa, miskonsepsi, konsep dan prinsip esensial dan strategis, contoh-contoh konseptual dan kontekstual, dan pertanyaan konseptual dan kontekstual yang memandu pemerolehan pemahaman konsep dan hasil belajar [8]. Oleh karena itu, dibutuhkan tindak lanjut dalam pemecahan setiap kesulitan yang dialami siswa.salah satu cara yang dapat ditempuh dalam pembelajaran Fisika agar mutu pembelajaran dapat ditingkatkan adalah dengan mengintensifkan pengembangan
kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah Fisika sebagai pemeriksaan hasil belajar melalui proses-proses sains dengan menggunakan metode ilmiah [9].
Pada proses pengamatan peserta didik kita juga bisa menyertakan angket dalam pembelajaran. Angket adalah sebuah cara atau teknik yang digunakan seorang peniliti untuk mengumpulkan data dengan menyebarkan sejumlah lembar kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Angket yang diberikan kepada siswa pada umunya adalah angket karakter. Di indonesia, pendidikan karakter dirasa sangat penting karena banyak fenomena-fenomena yang kurang pantas terjadi pada para peserta didik [10]. Dengan adanya pemberian angket kepada peserta didik, maka kita juga mampu memperhatikan peningkatan pembelajaran peserta didik melalui karakter . Keberhasilan pendidikan karakter yang diterapkan oleh guru terhadap siswa di ukur dari
10 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON perubahan sikap siswa dari yang tidak
baik menuju perilaku yang baik, yaitu perilaku yang disiplin, percaya diri dan mandiri [11]. Salah satu contoh angket dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah angket rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu adalah keinginan untuk belajar, menyelidiki, mendapatkan informasi atau pengetahuan yang baru, dan untuk memecahkan masalah [12]. Dengan angket ini ,seorang guru dapat melihat sejauh mana rasa ingin tahu siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam belajar.dalam sistem penilian memiliki,misalnya dalam kolom-kolom yang ada didalam rapor siswa,terdapat bagian khusus berupa penilaian perilaku [13]. Semakin tinggi nilai angket yang dimiliki peserta didik akan menunjukkan bahwa tingkat rasa ingin tahu siswa juga semakin besar. Sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, jujur, terbuka terhadap pikiran, tekun dan teliti dalam penelitian berhubungan dengan cara mereka bertindak dan menyelesaikan masalah. Dengan dipergunakannya sikap ilmiah dalam menyelesaikan masalah, maka hasil belajar yang diperoleh menjadi maksimal [14].
II. METODE PENELITIAN
Penelitian yang digunakan ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP N 9 Kota Jambi.dilakukan penelitian dengan mengunakan angket karakter yaitu angket rasa ingin tahu siswa dalam proses pembeajaran.
Penelitian yang dilakukan pada SMP N 9 Kota Jambi ,dengan sampel pada kelas VIII-A dan kelas VIII-B. Pada penelitian yang mengambil sampel pada SMP N 9 Kota JAMBI , dilakukan pengambilan sampel dengan memberikan angket karkater pada setiap siswa. Angket karakter yang digunakan adalah angket rasa ingin tahu. Dalam hal ini untuk melihat seberapa jauh rasa ingin tahu setiap siswa dalam mempelajari IPA Terpadu khususnya Fisika SMP.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 9 Kota Jambi bertujuan untuk mengetahui karakter siswa mengenai seberapa besar “Rasa Ingin Tahu”.Penelitin ini dilakukan dengan cara menggunakan angket .Angket disebarkan pada setiap siswa didalam kelas .Angket yang digunakan adalah angket karakter yaitu “Rasa Ingin Tahu”. Angket yang digunakan diambil dari skripsi (Putri,2013),yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya .
Pada Skripsi tersebut terdapat 29 angket karakter “Rasa Ingin Tahu” dan semuanya telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Dari skripsi tersebut hanya diambil 25 pernyataan untuk dipakai dalam proses penelitian .Pada penelitian ini dipakai sebagai sampel yaitu siswa kelas VIII-A dan siswa kelas VIII-B di Negeri 9 Kota Jambi. Jumlah siswa dalam kelas VIII-A sebanyak 32 siswa sedangkan pada kelas VIII-B terdapat 34 siswa.Maka banyaknya siswa yang dipakai adalah 66 siswa.
Volume 6, Nomor 1 Juni 2019 11 Tabel 1.Hasil Analisis Statistik Deskriptif Untuk Angket Kelas VIII-A
Kategori Rentang Mean Modus Median Standar Deviasi Max Min Jumlah % Tidak Pernah 25-43,75 78,40 76,00 78,50 6,08333 92,00 67,00 0 0 Jarang 43,76-62,50 0 0 Kadang- Kadang 62,51-81,25 22 73,33% Sering 81,26-100 8 26,66% Jumlah 30 100% Tabel 2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Untuk Angket Kelas VIII-B Kategori Rentang Mean Modus Median Standar Deviasi Max Min Jumlah %
Tidak Pernah 25-43,75 74,10 70,00 73,50 6,70229 91,00 63,00 0 0% Jarang 43,76-62,50 0 0% Kadang-Kadang 62,51-81,25 26 86,66% Sering 81,26-100 4 13,33% Jumlah 30 100% Penelitian adalah suatu kegiatan yang dilakuakan untuk mengambil sampel atau data untuk menguji suatu kebenaran terkait topik yang ingin diselesaikan .Pada penelitian banyak teknik pengumpulan data yang dilakukan.Pengumpulan data yang dilakuakan pada penelitian di SMP Negeri 9 Kota Jambi adalah Penelitian secara kuantitatif.
Pada saat pengambilan data dengan menggunakan angket .Angket yang dipakai dengan menggunakan 4 indikator utama yaitu: Sering(SR), Kadang-Kadang(KD), Jarang(JR), Tidak Pernah(TP).
Kegunaan penelitian adalah untuk menyelidiki keadaan dari ,alas an,untuk dan konsekuensi terhadap satu set khusus keadaan khusus. Keadaan tersebut dikontrol melalui percobaan atau berdasarkan observasi tanpa kontrol [15].
Pada penelitian yang dilakukan dikelas VIII-A di SMP Negeri 9 Kota Jambi didapatkan data seperti tabel
diatas.Berdasarkan data hasil sikap ataupun karakter siswa terhadap “Rasa Ingin Tahu” didapatkan data dengan cara mengolah menggunakan program SPSS Versi 21.0 For Windows, maka didapatkan gambaran sikap Rasa Ingin Tahu siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 9 Kota Jambi.
Pada penelitian di SMP Negeri 9 Kota Jambi pada kelas VIII-A didapatkan nilai tertinggi 92,00 dan nilai terendah 67,00. Selanjutnya dari hasil perhitungan statistic deskriptif didapatkan rata-rata kelas adalah 78,40, Nilai Modus kelas adalah 76,00, Nilai Median kelas adalah 78,50, Nilai Standar Deviasi adalah 6,08333, Nilai Maximum adalah 92,00, Nilai Minimum adalah 67,00 serta persentase dari setiap kategori angket. Persentase untuk kategori angket Tidak pernah adalah 0%, untuk kategori angket Jarang adalah 0%, untuk kategori angket Kadang-kadang adalah 73,33% , untuk kategori angket Sering adalah 26,66% .
12 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON
Pada penelitian untuk kelas VIII-B di SMP Negeri 9 Kota Jambi didapatkan data sesuai dengan tabel 2.Dari tabel kita ketahui bahwa nilai tertinggi pada kelas tersebut adalah 91,00 dan nilai terendah adalah 63,00.Kemudian untuk perhitungan statistic deskriptif didapatkan rata-rata kelas tersebut adalah 74,10, Nilai Modus adalah 70,00, Nilai Median adalah 73,50, Nilai Standar Deviasi adalah 6,70229, serta persentase dari setiap kategori angket. Persentase untuk kategori tidak pernah adalah 0%, untuk kategori jarang adalah 0%, untuk kategori kadang-kadang adalah 86,66% dan untuk kategori sering adalah 13,33%.
Pada saat pengambilan data dengan menggunakan angket karakter rasa ingin tahu, siswa mengisi setiap pernyataan dengan sangat tenang. Dapat juga dilihat bahwa keaktifan siswa dalam bertanya tentang cara pengisian angket menunjukkan bahwa siswa di SMP Negeri 9 Kota Jambi adalah baik. Pada sekolah tersebut siswa diajarkan untuk mencari pengetahuan dengan lebih banyak membaca juga. Maka dalam sekolah tersebut siswa tidak diperbolehkan membawa handphone karean dianggap mampu mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Sehingga siswa dipacu untuk menggali rasa ingin tahu dengan cara bersosialisasi dengan siswa disekitarnya. Karena dengan bersosialisasi dengan baik mampu meningkatkan rasa ingin tahu siswa dalam belajar, contoh seperti kerja kelompok, diskusi bersama.
Ketika karakter rasa ingin tahu telah terlaksana dengan baik, maka dapat dipastika siswa yang ada di SMP Negeri 9 Kota Jambi mampu meningkatkan kualitas dari hasil
belajarnya baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan luar sekolah. Semakin besar rasa ingin tahu siswa ,maka akan memacu pola pikir siswa yang lebih baik pula.
IV. KESIMPULAN
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakter siswa mampu mempengaruhi setiap pembelajaran siswa dalam kelas. Melalui pengisian angket rasa ingin tahu didapatkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu yang baik dalam hal pembelajaran dan dalam hal mengembangkan kemampuan yang dimilikinya dalam belajar melaui rasa ingin tahu yang tinggi. Maka rasa ingin tau merupakan salah satu karakter yang sangat penting untuk dimiliki masing-masing siswa dalam proses pembelajaran .
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulisan sampaikan ucapan terimakasih kepada orangtua, keluarga, Dosen pembimbing, kepada kepala sekolah SMP Negeri 9 Kota Jambi,kepada guru pamong untuk kelas VIII-A dan Kelas VIII-B di SMP Negeri 9 Kota Jambi, serta teman-teman yang telah memberikan dukungan moral dan senantiasa memotivasi untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini
sehingga penulis dapat
mengembangkan kompetensi
professional sebagai mahasiswa untuk saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
A. Suharyanto, “Pendidikan dan Proses Pembudayaan dalam Keluarga,” J. Pendidik. Ilmu-Ilmu Sos., vol. 7, no. 2, pp. 162–165, 2015.Volume 6, Nomor 1 Juni 2019 13 [2] M. Khusniati, “PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN IPA,” J. Pendidik. IPA Indones., vol. 1, no. 2, pp. 204–210, 2012. [3] A. N. Aulia, S. Saputro, and N. Cs, “UPAYA MENINGKATKAN
AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR KIMIA PADA MATERI POKOK LAJU REAKSI MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS XI
IPA 5 SMA NEGERI
KEBAKKRAMAT TAHUN PELAJARAN 2016 / 2017,” vol. 7, no. 2, pp. 177–182, 2018. [4] M. Listyawati, “PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA TERPADU DI SMP,” J. Innov. Sci. Educ., vol. 1, no. 1, pp. 61–69, 2012.
[5] W. E. Rahayu and Sudarmin, “Unnes Science Education Journal,” Unnes Sci. Educ. J., vol. 4, no. 2, pp. 919–926, 2015. [6] C. A. Hapsoro and H. Susanto,
“PENERAPAN PEMBELAJARAN
PROBLEM BASED
INSTRUCTION BERBANTUAN ALAT PERAGA PADA MATERI CAHAYA DI SMP,” J. Pendidik. Fis. Indones., vol. 7, no. 1, pp. 28– 32, 2011.
[7] R. Azizah, L. Yuliati, and E.
Latifah, “Kemampuan
Pemecahan Masalah Melalui Pembelajaran Interactive Demonstration Siswa Kelas X SMA pada Materi Kalor,” J. Pendidik. Fis. dan Teknol., vol. II, no. 2, pp. 55–60, 2016.
[8] R. Sujanem, “PENGEMBANGAN MODUL FISIKA KONTEKSTUAL INTERAKTIF BERBASIS WEB
UNTUK MENINGKATKAN
PEMAHAMAN KONSEP DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA DI SINGARAJA,” J. Nas. Pendidik. Tek. Inform., vol. 1, no. 2, pp. 103–117, 2012. [9] D. Sambada, “PERANAN KREATIVITAS SISWA TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH FISIKA DALAM PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL,” J. Penelit. Fis. dan Apl., vol. 2, no. 2, pp. 37–47, 2012.
[10] I. P. Sari and K. Syamsi,
“PENGEMBANGAN BUKU
PELAJARAN
TEMATIK-INTEGRATIF BERBASIS NILAI KARAKTER DISIPLIN DAN
TANGGUNG JAWAB DI
SEKOLAH DASAR,” J. Prima Edukasia, vol. 3, no. 1, pp. 73– 83, 2015.
[11] A. Najib, “Pengaruh Pendidikan Karakter Terhadap Prestasi Belajar Siswa,” J. Ekon. Pendidik., vol. 9, no. 20, pp. 102– 109, 2012.
[12] U. H. Latifah and D. B. Widjajanti, “Pengembangan Bahan Ajar Statistika dan Peluang Berbasis Multiple Intelligences Berorientasi pada Prestasi , Pemecahan Masalah , dan Rasa Ingin Tahu Developing Statistics and Probability Teaching Material Based on Multiple Intelligences and Oriented to the,” J. Ris. Pendidik. Mat., vol. 4, no. 2, pp. 176–185, 2017.
[13] A. D. Koesoema, Pendidikan Karakter: Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo, 2007.
[14] E. Maretasari and B. Subali,
14 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika-COMPTON
PEMBELAJARAN INKUIRI
TERBIMBING BERBASIS
LABORATORIUM UNTUK
MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR DAN SIKAP ILMIAH SISWA,” Unnes Phys. Educ. J., vol. 1, no. 2, pp. 27–31, 2012.
[15] A. Hamdi, Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi Dalam Pendidikan. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2014.