• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN METODE ROUND ROBIN DALAM DISKUSI KELOMPOK PADA SISWA KELAS X SMK AL-WASHLIYAH 9 PERBAUNGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN METODE ROUND ROBIN DALAM DISKUSI KELOMPOK PADA SISWA KELAS X SMK AL-WASHLIYAH 9 PERBAUNGAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

164

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA

DENGAN METODE ROUND ROBIN DALAM DISKUSI KELOMPOK

PADA SISWA KELAS X SMK AL-WASHLIYAH 9 PERBAUNGAN

Rahmy Humaidah1, Sutikno2

1Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah

email: [email protected]

2Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah

email: [email protected]

Abstract

The problem raised in this study is "Is the application of the round robin method able to work on speaking skills in group X class discussions in Al-Washliyah 9 Perbaungan High School Year 2020-2021? Speaking ability is a basic competency as an ability or response, at a minimum that students must have. The object of this study were all students of class X Al-Washliyah 9 Perbaungan, amounting to 35 students, and the subject of this study was the ability to speak in group discussions. This study aims to improve students' speaking ability in learning Indonesian by using the round robin method in the Al-Washliyah 9 Perbaungan class with three cycles. To obtain the data treated in this study, an essay test is used which is a learning achievement test of 5 (five) questions.The research procedure consists of the planning stage, making a learning plan, observation sheets and designing evaluation tools. The action implementation stage, implementing the round robin learning plan. The observation stage uses the observation sheet to record findings. The observation and reflection phase is the analysis, synthesis, interpretation, and implementation obtained from the action implementation data. The results of this study conclude that the learning atmosphere in learning that applies the round robin method, in which student activities, student conditions in learning, responses and student learning outcomes while learning has increased from cycle I to cycle III. With an average first learning achievement test of 63, 21 from cycle I, average second learning achievement test 71, 69 in cycle II, average third learning outcome 73, 69 in cycle III, as well as completeness of student learning in cycle I amounted to 45, 65%, in cycle II amounted to 80, 65%, and in cycle III, amounted to 91, 65%. From these results it can be concluded that the application of the round robin method can improve speaking skills in group discussions of class X Al-Washliyah 9 Perbaungan 2020-2021 Academic Year.

Keywords: Kompetensi, speaking, and round robin techniques. Abstrak

Permasalahan yang diajukan dalam peneitian ini adalah “Apakah penerapan metode round robin dapat

mengupayakan kemampuan berbicara dalam diskusi kelompok siswa kelas X SMK Al-Washliyah 9

Perbaungan Tahun Pembelajaran 2020-2021? Kemampuan berbicara merupakan kompetensi dasar

sebagai kemampuan atau respon, minimal yang harus dimiliki siswa. Seluruh siswa kelas X

Al-Washliyah 9 Perbaungan yang berjumlah 35 siswa menjadi obyek penelitian ini, dan yang menjadi

subjek penelitian ini adalah kemampuan berbicara dalam diskusi kelompok. Dengan metode round robin

meningkatkan kemampuan berbicara/berkomunikasi siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas

Al-Washliyah 9 Perbaungan dengan tiga siklus menjadi tujuan penelitian ini. Untuk memperoleh data yang

diperlakukan pada penelitian ini, digunakan tes essay yaitu tes hasil belajar sebanyak 5 (lima) soal.

Prosedur penelitiannya terdiri dari tahap perencanaan, membuat rencana pembelajaran, lembar observasi

dan mendesain alat evaluasi. Tahap pelaksanaan tindakan, melaksanakan rencana pembelajaran metode

round robin. Tahap observasi menggunakan lembar observasi untuk mencatat temuan. Tahap observasi

dan refleksi merupakan analisis, sintesis, interpretasi, dan eksplementasi yang diperoleh dari data

pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian ini memberi simpulan yaitu suasana belajar dalam pembelajaran

(2)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

165

yang menerapkan metode round robin, yang mana aktivitas siswa, kondisi siswa dalam belajar, respon

dan sewaktu belajar siswa mengalami hasil pembelajaran meningkat dari siklus I sampai siklus III.

Dengan rata-rata tes hasil belajar pertama sebesar 63, 21 dari siklus I, rata-rata tes hasil belajar ke-dua

71, 69 pada siklus II, rata-rata hasil belajar ke-tiga 73, 69 pada siklus III, demikian juga dengan

ketuntasan belajar siswa di siklus I sebesar 45, 65%, di siklus II sebesar 80, 65%, dan di siklus III,

sebesar 91, 65%. Dari hasil ini dapat di simpulkan bahwa penerapan metode round robin dapat

meningkatkan kemampuan berbicara dalam diskusi kelompok siswa kelas X Al-Washliyah 9 Perbaungan

Tahun Pembelajaran 2020-2021.

Kata kunci: Kompetensi, berbicara, dan teknik round robin.

1. PENDAHULUAN

Pengembangan teknologi yang makin canggih yang dibuat oleh manusia yang ilmu pengetahuannya menuntut kemampuan yang kita miliki untuk mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan yang semakin canggih ini mau tidak mau juga menuntut manusia harus berpikir kritis dan inovatif. Dalam berpikir dan berinovasi manusia membutuhkan kemampuanyang diperlukan untuk mengikuti perkembangan yang ada. Salah

satu kemampuan yang dibutuhkan peserta didik yakni kemampuan berbicara. Kemampuan

berbicara/berkomunikasi penting untuk mempermudah berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan berbicara atau komuniasi yang terbatas (tidak terampil) akan terganggu proses berkomunikasi antara pemberi pesan dan penerima pesan.

Dengan komunikasi dengan baik dan benar sehingga maksud pesan yang ingin disampaikan pemberi pesan dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Pemberi pesan dan pendengar sama-sama dituntut memilik kemampuan komunikasi yang baik agar terjalin dengan baik. Kegiatan mendengar menjadi lebih mudah bila pendengar mengerti dengan pesan yang ingin disampaikan oleh pemberi pesan (pembicara). Pendengar diharapkan untuk memperhatikan agar dapat memahami pesan yang terkandung. Pendengar terlebih dahulu harus berkonsentrasi mendengar informasi yang disampaikan, kemudian dipahami apa maksud pesan yang diberikan pembicara. Kemampuan komunikasi tidak datang begitu saja, tetapi perlu dilatih secara berkala agar berkembang dengan maksimal

Kemampuan komunikasi umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Kompetensi ini juga mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Hasil belajar kompetensi ini merupakan tipe belajar yang lebih tinggi dibandingkan tipe belajar pengetahuan. Seseorang mampu melihat dibalik yang ditulis berarti memiliki kemampuan tingkat ekstrapolasi, dapat membuat estimasi, prediksi berdasarkan pada pengertian dan kondisi yang dijelaskan dalam ide-ide atau simbol, serta keahlian dalam membuat kesimpulan yang dihubungkan dengan implikasi dan konsekuensinya sehingga kemampuan dalam berbicara atau komunukasi tujuannya untuk mempermudah memahami maksud yang disampaikan oleh orang lain saat berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi tidak diperoleh dengan sendirinya. Melatih kemampuan berkomukasi dimulai sejak dini di lingkungan sekolah tempat dimana siswa belajar. Kemampuan ini dikembangkan lewat jalur sekolah, melalui program yang direncakan secara khusus dan latihan-latihan. Kemampuan komunikasi dikembangkan secara berkala makin lama semakin sempurna dalam arti strukturnya menjadi benar, pilihan katanya semakin tepat, kalimat-kalimatnya semakin bervariasai, dan sebagainya.

Apabila lawan bicara tidak mampu mengungkapkan makna pembicaraan yang ingin disampaikan maka komunikasi terputus dengan kata lain tujuan komunikasi tidak tercapai. Maka saat berkomunikasi perlu konsentrasi yang penuh memudahkan siswa menyerap informasi yang ditujukan padanya. Kesulitan dalam komunikasi seperti halnya kesulitan dalam menyimak, disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu faktor yang menimbulkan kesulitan dalam berbicara adalah yang datang dari teman berbicara. Berdasarkan pengamatan selama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang berlangsung di SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan dalam pelajaran Bahasa Indonesia kemampuan siswa dalam aspek komunikasi masih kurang. Kebanyakan siswa masih rendah nya dalam komunikasi. Selain itu kesulitan dalam merangkai kata dalam berbicara juga menjadi kendala

(3)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

166 siswa dalam berpendapat. Baik dalam kegiatan bersifat klasikal maaupun dalam kegiatan kelompok gurulah yang menjadi pusat atau yang mendominasi proses belajar. Ini disebabkan karena guru banyak menghabiskan waktunya untuk komunikasi saat proses pembelajaran dan kurang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengungkapkan pendapat dan perasaannya. Guru sebaiknya memberikan kesempatan pada setiap siswa yang ingin mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaan dalam setiap kegitan belajar mengajar berlangsung. Penyampaian gagasan dapat diterapkan dalam diskusi kelompok. Kesempatan yang diberikan harus merata dapat semua siswa dan tidak hanya terbatas.

Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas, salah satu cara untuk meningkatkan kemampuaan berbicara siswa dalam diskusi kelompok dapat dilakukan dengan metode putaran teratur (round robin). Metode ini dilakukan dengan memberi kesempatan kepada peserta untuk berbicara secara teratur sesuai dengan giliran. Dengan metode round robin ini siswa akan memiliki persiapan merangkai kata sebelum gilirannya dalam menyampaikan gagasan atau pun pendapat yang akan meningkatkan berbicaranya dalam diskusi kelompok. Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah tersebut, rumusan masalahnya diuraikan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah proses pelaksanaan peningkatan berbicara dengan metode round robin dalam diskusi kelompok pada siswa kelas X SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan tahun pembelajaran 2020-2021?

2. Bagaimanakah hasil proses pelaksanaan peningkatan berbicara dengan metode round robin dalam diskusi kelompok pada siswa kelas X SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan tahun pembelajaran 2020-2021?

2. KAJIAN LITERATUR Pengertian Berbicara

Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menurut Achmad dan Alek (2016:16) “Berbicara dalam kegiatan pendidikan atau ilmiah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta memerlukan persiapan dan keterampilan. Berbicara merupakan kemampuan yang kompleks yang melibatkan beberapa aspek”. Aspek-aspek tersebut beragam dan perkembangannya beriringan dengan perubahan dan pergantian masa sehingga mengakibatkan bentuk perkembangan yang berbeda dengan kecepatan perkembangan yang berbeda pula. Sebagai masyarakat, kita secara alamiah mampu berkomunikasi dengan sangat baik. Namun, dalam situasi formal dan dalam kegiatan ilmiah sering timbul rasa gugup sehingga gagasan yang kita kemukakan menjadi tidak teratur dan akhirnya bahasa pun menjadi tidak teratur. Bahkan ini sering terjadi diantara kita yang tidak berani berbicara di depan umum.

Menurut Henry Guntur Tarigan (2012: 3) “Berbicara juga didefinisikan sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang pendengar dan penyimak. Berdasarkan sejumlah pengertian di atas, disimpulkan berbicara adalah suatu kegiatan kemampuan berbahasa untuk menyampaikan sebuah ide, gagasan, penadapat, pikiran, dan isi hati kepada orang lain dalam menjalin berkomunikasi dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari”.

Faktor-faktor Penunjang Keefektifan Berbicara

Kegiatan berbicara dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menunjang keefktifan berbicara itu sendiri. Faktor-faktor ini terdiri dari dua macam, yaitu Faktor-faktor kebahasaan dan Faktor-faktor nonkebahasaan. Berikut merupakan perincian masing-masing aspek tersebut.

1. Faktor-Faktor Kebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara

Faktor-faktor kebahasaan sebagai penunjang keefektifan berbicara seperti berikut: 1) Ketepatan ucapan. 2) Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai. 3) Pilihan kata (diksi). 4) Ketepatan sasaran pembicaraan.

(4)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

167 Faktor-faktor nonkebahasaan sebagai penunjang keefektifan berbicara seperti berikut. 1) Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. 2) Pandangan harus tertuju kepada lawan berbicara. 3) Menghargai pendapat orang lain. 4) Gerak-gerik dan mimik yang tepat. 5) Kenyaringan suara juga sangat menentukan. 6) Kelancaran. 7) Relevansi atau penalaran. Faktor kebahasaan dalam berbicara meliputi ketepatan pengucapan, penempatan tekanan/nada/ intonasi, pilihan kata (diksi), dan ketepatan susunan penuturan. Sedangkan, faktor nonkebahasaan meliputi sikap berbicara, pandangan mata, kesediaan menghargai pendapat, gerak-gerik dan mimik, kenyaringan suara, kelancaran, dan penguasaan topik.

Proses Pembelajaran Berbicara

Dalam penelitian ini merujuk pendapat Henry Guntur Tarigan (2008: 21) yang didukung pendapat Kundharu Saddhono & Slamet, “konsep-konsep dasar pendidikan dalam berbicara mencakup tiga ketegori, yaitu hal-hal yang berkenaan dengan hakikat dan sifat-sifat dasar, hal-hal yang berhubungan dengan proses intelektual yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berbicara didepan umum, dan hal-hal yang memudahkan seseorang untuk mencapai keterampilan berbicara”. Sedangkan, cakupan materi pembelajaran berbicara dalam penelitian ini tentang bermain peran mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Metode Round Robin

Round robin adalah suatu tipe pembelajaran dimana para siswa secara bergiliran memberikan kontribusi

menjawab pertanyaan atau pun memberi tanggapan dalam sebuah kelompok diskusi. Joharis Lubis (2010:31) menyatakan, “metode putaran teratur memberi suatu kesempatan kepada peserta untuk berbicara sesuai gilirannya scera teratur. Untuk menghemat waktu peserta yang belum memiliki ide akan dilewati, dia bisa mengucapkan “terus” atau “lanjut” yang maksudnya memberi giliran pada peserta berikutnya.”

Tujuan Penggunaan Metode Round Robin

Metode round robin memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran tujuan metode round robin yaitu membantu siswa dalam mengemukakan gagasan dan pertanyaan. Dalam artian, siswa menjadi lebih siap menyampaikan buah pikirannya karena telah marancang ataupun merangkai kata dalam pikiran sebelum dapat gilirannya.

Langkah-Langkah Metode Round Robin

Metode roud robin memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

a. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok terdiri dari 4-5 orang. Guru membagi siswa diluar jam pelajaran, agar saat pelajaran dimulai siswa sudah duduk berdasarkan kelompoknya masing-masing.

b. Tiap anggota kelompok diberikan nomor. Ini bertujuan untuk memudahkan guru dalam mengontrol siswa dalam diskusi.

c. Guru memberikan tugas dan pertanyaan pada siswa.

d. Siswa juga memberikan lembar jawaban untuk menjawab tugas yang diberikan.

f. Siswa diberikan waktu berpikir dan bekerja dalam kelompok, sementara itu guru berkeliling membimbing siswa dari kelompok ke kelompok yang lain.

g. Setiap kelompok wajib memberikan jawaban dari masalah yang diberikan guru. Disini setiap siswa bertanggung jawab atas jawaban yang mereka berikan. Dimana setiap siswa aktif dalam berkelompok

h. Setelah siswa selesai memberikan jawabannya masing-masing, satu siswa mulai memperlihatkan jawaban pada anggota kelompoknya. Sedangkan teman-teman yang lain mendengar dan memperhatikan dengan serius. Begitu seterusnya sampai semua anggota kelompok saling mengetahui jawaban satu sama lain.

i. Kelompok memilih jawaban yang paling tepat dari hasil prolehan diskusi untuk dipresentasikan di depan kelas. j. Guru menunjuk kelompok-kelompok tertentu untuk memberikan jawaban, sedangkan kelompok yang lain

sebagai penanggap dan memberikan penilaian. Aturan Main dalam Metode Round Robin

Joharis Lubis (2010:32-33) memberikan beberapa aturan main dalam melakukan metode round robin dalam diskusi kelompok, yaitu sebagai berikut:

(5)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

168 b. Setiap peserta hanya boleh memberikan gagasan/ide untuk setiap putaran.

c. Tidak seorang pun diperkenankan memberikan ide/ide sebelum gilirannya.

d. Tidak diperkenankan untuk mengkritik atau mengeluarkan perkataan yang menyakitkan terhadap ide yang dikemukakan peserta lain dan harus menghargai ide peserta lain.

e. Tidak dibenarkan untuk mengevaluasi suatu ide yang dilontarkan.

f. Bagi peserta yang belum siap pada gilirannya mengatakan “terus” atau “lanjut”. g. Dilakukan beberapa kali putaran sampai tidak ada lagi ide yang akan disampaikan. 3. METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Action Research yaitu suatu action Research yang dilakukan di dalam kelas. Menurut P. Manurung (2012:151), tindakan tersebut dilakukan oleh guru, oleh guru bersamasama peserta didik atau peserta didik di bawah bimbingan dan arahan guru, dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tentu saja sebelum melakukan tindakan, guru telah berefleksi untuk menemukan dan memahami permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan tugasnya sebagai guru di dalam kelas. Senada dengan pendapat Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama (2012: 1) yang mengungkapkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Berdasarkan beberapa pendapat yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan sebuah penelitian yang berisi tindakan-tindakan yang dilakukan guru dalam rangka meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Dalam penelitian ini, peneliti menjalin kerja sama dengan guru kelas X SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan. Peneliti merencanakan tiga silkus.

Untuk memperjelas mekanisme pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini, sebagaimana diilustrasikan pada gambar 1. berikut ini:

Gambar 1. Alur pelaksanaan penelitian (Sumber: Arikunto, 2014:137)

(6)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

169 Teknik Pengumpulan Data

Lembar Observasi Aktivitas Guru

Data kemampuan Guru dalam mengelola pembelajaran kontekstual diperoleh dengan menggunakan lembar observasi selama kegiatan pembelajaran langsung pada kelompok eksperimen. Pengamatan dilakukan oleh 1 orang pengamat mulai dari saat Guru membuka pelajaran sampai dengan ditutupnya pembelajatan tersebut. Pengamat menuliskan kategori-kategori skor yang muncul dangan memberi tanda cek (V) pada baris dan kolom sesuai dengan setiap aspek yang dinilai.

Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Lembar observasi aktivitas meliputi, aktivitas dari awal hingga akhir pembelajaran, (biasanya Guru yang menutup). Data aktivitas siswa diperoleh melalui pengamatan terhadap siswa dengan mempehatikan akivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan aktisitas siswa dilakukan oleh satu orang pengamat dalam setiap kali pertemuan

Tes Uji Kompetensi Siswa

Menurut P. Manurung (2012:66) ”tes adalah prosedur sistematik yang dibuat dalam bentuk tugas-tugas yang distandarisasikan dan diberikan kepada individu atau kelompok untuk dikerjakan, dijawab, atau direspons baik dalam bentuk tertulis, lisan, maupun perbuatan”. Tes uji kompetensi siswa adalah berupa soal soal yang berkaiitan langsung dengan materi yang di ajarkan, berfingsi untuk mengungkap penguasaan dan siswa terhadap materi yang diajarkan Guru dalam bentuk hasil belajar siswa. Soal yang diujikan disesuaikan dengan materi pelajaran SMK Kelas X. Kurikulum 2013.

Kriteria hasil belajar siswa dapat dikatakan baik apabila 85% dari

jumlah siswa yang belajar telah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dalam hal ini,

KKM = 70

Rumus menghitung hasil tes belajar siswa :

X□ = ∑X⸑ Keterangan :

∑N X□ = Nilai rata-rata

∑X = Jumlah semua nilai siswa ∑N= Jumlah siswa yang mengikuti tes 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pembelajaran secara keseluruhan sampai berakhirnya tindakan siklus III, perilaku siswa yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini mengalami perubahan yang positif. Hasil penelitian pada siklus III diperoleh kesepakatan bahwa tindakan belajar yang dilaksanakan telah berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa indonesia pada materi Keterampilan berbicara dalam diskusi kelompok. Dari hasil yang diperoleh, menunjukkan dari kiklus I s/d siklus III mengalami peningkatan yang signifikan, baik dari segi peningkatan aktivitas siswa maupun hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar Siswa

Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III

Rata-rata 60,21 71,69 73,69

Ketuntasan 45,65% 80,65% 91,65%

Dari tabel diatas dapat dijelaskan perkembangan hasil belajar siswa dan ketuntasan belajar dari semua siklus melalui rata-rata tes hasil belajar siswa yaitu tes hasil belajar I, II, dan III. Dari siklus I ke siklus II hasil belajar siswa meningkat dari 60,21 menjadi 71 ,69 naik sebesar 11,48. Demikian juga dari siklus II ke siklus III meningkat dari 71, 69 menjadi 73,69, naik lagi sebesar 2,00. Secara logis dari siklus I ke siklus III naik sebesar

(7)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

170 13,4.

Begitu juga dengan ketuntasan belajar siswa pada siklus I yang tuntas belajar sebesar 45, 65% yang

dianggab masih kurang, naik menjadi 80,65% di siklus II. Pada siklus III ketuntasan belajar sudah

mencapai 91,65% yang sudah memenuhi kriteria “Baik”. Keadaan ini sudah menjadi target dalam

peneilitian ini. Dari tabel di atas, peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I sampai dengan siklus III

dapat di gambarkan dalam bentuk grafik berikut;

Gambar 2. Grafik hasil belajar dan ketuntasan siswa

Peningkatan aktivitas siswa dalam materi berbicara dalam diskusi kelompok dengan penerapan metode

round robin di kelas X SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan dilihat berdasarkan hasil observasi. Pada siklus I,

persentasi siswa yang melakukan aktivitas sebesar 38,40%, (sekitar 13 siswa), ini di anggab kriteria yang sangat kurang. Pada siklus II meningkat menjadi 72,10% (sekitar 25 siswa), ini termasuk kriteria cukup. Dan pada siklus III semakin meningkat menjadi 93,47% (sekitar 32 siswa), ini termasuk kriteria sangat baik.

Hasil observasi aktivitas siswa berdasarkan indikator aspek aktivitas siswa yang diamati dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Pengamatan Aktivitas Siswa

No Aspek Yang Diamati

Siklus I Siklus II Siklus III P.I P.I

I P.III P.I P.I

I P.I P.II 1 Siswa memperhatikan penjelasan

Guru 3 2 3 14 6 14 25

2 Siswa aktif bekerja kelompok 2 2 2 13 18 35 18

3 Siswa aktif menjawab pertanyaan 1 1 4 11 7 11 27

4 Siswa aktif menyampaikan pendapat 2 3 2 14 5 14 20

5 Siswa aktif mengerjakan LKS 10 9 10 28 13 28 13

6 Siswa aktif menyajikan temuannya 3 7 9 19 12 20 23

7 Siswa aktif menanggapi jawaban

kelompok/siswa lain 2 5 9 5 21 10 21

8 Siswa aktif mengerjakan tes tulis 2 5 9 5 20 18 20

Dari tabel di atas, dapat dilihat peningkatan aktivitas siswa setiap indikator. Pada setiap indikator, terjadi peningkatan si siklus berikutnya dari siklus sebelumnya meskipun di satu siklus, ada beberapa indikator yang

0 20 40 60 80 100

siklus I siklus II siklus III

Rata-tata % (ketuntasan)

(8)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

171 mengalami penurunan di pertemuan berikutnya dari pertemuan sebelumnya. Peningkatan aktivitas siswa pada setiap indikator aspek aktivitas siswa dapat dilihat pada grafik berikut:

Gambar 3. Grafik aktivitas belajar siswa

Gambar 4. Grafik Aktivitas Belajar Siswa

Gambar 5. grafik aktivitas siswa

Secara umumnya aktivitas siswa terus meningkat pada setiap akhir siklus dapat dilihat pada persentase aktivitas siswa tiap siklus pada tabel dan grafik di bawah ini:

0 10 20 30 40 1 2 3 4 5 6 7 8 J u m la h S is w a

Indikator Aktivitas Siswa

Aktivitas Siswa Pada Siklus I

pertemuan III pertemuanII pertemuan I 0 20 40 60 1 2 3 4 5 6 7 8 J u m la h s is w a

Indikator aktivitas siswa

Aktivitas siswa Pada Siklus II

pertemuan II pertemuan I 0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 J u m la h S is w a

Indikator Aktivitas Siswa

Aktivitas Siswa Pada Siklus III

Pertemuan II Pertemuan I

(9)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

172 Tabel 3. Observasi Aktivitas Siswa

Keterangan siklus I Siklus II Siklus III

Aktivitas siswa 106 199 262

Ideal 280 280 280

Persentase 38,40% 72,10% 93,47%

Gambar 6. Grafik Peningakatan Aktivitas Siswa dari Siklus I s/d Siklus III

Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan aktivitas siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi Keterampilan berbicara dalam diskusi kelompok. Kenaikan tertinggi yaitu 33.70% dari siklus I ke siklus II. Sedangkan kenaikan terendah ada pada siklus II ke siklus III sebesar 21,37%. Dengan rincian dari tabel ini, menggambarkan kesungguhan guru dalam mengelola pelajaran, dengan meningkatnya aktivitas guru dari siklus I sampai ke siklus III membuat kondisi aktivitas siswa yang terendah pada siklus I menjadi tinggi di siklus III. Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada peneliian ini sudah sesuai dengan yang diharapkan yaitu menciptakan suatu iklim pembelajaran yang menyenangkan serta tidak menjenuhkan. Aktivitas dan hasil belajar yang diperoleh siswa dalam setiap siklus mengalami peningkatan menuju ke arah yang lebih baik. Siswa lebih semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga mereka tidak merasa bosan.

Penerapan metode round robin mampu menarik perhatian siswa dan mampu membuat siswa aktif dan bersemangat dalam belajar, sehingga lebih berani dan termotivasi untuk memberi jawaban pada setiap pertanyaan yang diberikan guru pada mereka dan menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami. Hal ini menunjukkan keberhasilan peneliti yang mempengaruhi aktivitas siswa dalam menerapkan metode round robin.

5. KESIMPULAN

Dari penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab terdahulu, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil belajar siswa meningkat dari siklus I sampai pada siklus III, dengan Rata rata tes hasil belajar I sebesar 60,21 yang tergolong kriteria kurang, rata-rata tes hasil belajar II sebesar 71,69 yang tergolong kriteria cukup, dan rata-rata tes hasil belajar III yang tergolong baik. Demikian juga dengan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 45,65% yang tergolong belum tuntas, pada siklus II sebesar 80,65 yang tergolong cukup tuntas, dan pada siklus III sebesar 91,65 yang tergolong tuntas.

0 100 200 300 400

siklus I siklus II siklus III

Peningkatan Aktivitas Siswa

Dari Siklus I S/d Siklus II

aktivitas siswa % (ketuntasan

(10)

Jurnal Manajemen Bisnis (JMB), Volume 34 No 1, Juni 2021 http://ejournal.stieibbi.ac.id/index.php/jmb

173 2. Dengan penerapan metode round robin, aktivitas belajar siswa pada saat proses belajar berlangsung mengalami peningkatan dari siklus I sampasi dengan siklus III. Peningkatan tertinggi ada pada siklus I ke siklus II yaitu sebesar 33,70%.

3. Penerapan metode round robin sangat sektif digunakan di kelas X SMK Al-Washliyah 9 Perbaungan. Ini dapat dilihat dari kriteria ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal.

6. REFERENSI

Achmad dan Alek. 2016. Bahasa Indonesia unntuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga. Arikunto, S. 2014. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Lubis, J. 2010. Seminar. Bandung: Cita pustaka Media Perintis.

Manurung, P. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta: Halaman Moeka Publishing.

Tarigan, H.G. 2008. Menyimak Sebagai Suatau Keterampilan Berbahsa. Bandung: Angkasa. Tarigan, H.G. 2012. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tersedia: http://keterampilanberbicarakimia13.blogspot.com/2013/11/ketera pilan- berbicara-pengertian-html. (11 November 2019)

Tersedia: http://pustaka.pandani.web.id/2013/10/model-pembelajaran.round- robin.html. (12 November 2019) Tersedia: http://woocara.blogspot.com/2016/02/pengertian-diskusi-macam - macam-metode-diskusi.html. (12

November 2019)

Tersedia: http://www.trigonalmedia.com/2014/12/pengertian-berbicara-menurut-para-ahli.html. (12 November 2019)

Gambar

Gambar 1. Alur pelaksanaan penelitian  (Sumber: Arikunto, 2014:137)
Gambar 2. Grafik hasil belajar dan ketuntasan siswa
Gambar 3. Grafik aktivitas belajar siswa
Gambar 6. Grafik Peningakatan Aktivitas Siswa dari Siklus I s/d Siklus III

Referensi

Dokumen terkait

laksanakan dengan melakitkan pemeriksa- an kecacingan secara langsung sebelum dan sesudah pengobatan kecacingan dan indepth intervietv kepada petugas Puskes- mas

Mengembangkan fasilitas rekreasi di Wisata Pantai Teluk Penyu Cilacap yang dapat mewadahi berbagai jenis kegiatan bahari dalam satu kawasan tanpa harus mengurangi kenyamanan

Peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Peningkatan dan Percepatan Pembangunan Lampung Utara, antara lain dilaksanakan dengan Peran normatif, peran

Penelitian di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali tentang analisis faktor- faktor yang berpengaruh terhadap partisispasi pria dalam keluarga berencana menyatakan bahwa

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan self-efficacy mahasiswa pada mata kuliah program linier yang mendapat PBL

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga penuli s