ANALISIS KONTRIBUSI USAHA AGRIBISNIS TERNAK KAMBING BERBASIS PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Teks penuh

(1)

ANALISIS KONTRIBUSI USAHA AGRIBISNIS TERNAK

KAMBING BERBASIS PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

(The Contribution of the Goat Agribusiness on the Integration of Livestock

to Oil Palm Production)

SETEL KAROKARO1,ATIEN PRIYANTI2danJUNJUNGAN SIANIPAR1 1Loka Penelitian Kambing Potong, PO Box 1, Galang Sei Putih, Deli Serdang 20585

2Puslitbang Peternakan, Jl. Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151

ABSTRACT

With the average of oil plantation is 0,87 ha and production is 1,86 t/month respectively, the aaverage monthly income gains approximately Rp. 11.1103.372. Meanwhile, the profit of goaat agribusiness strarting withh 20 females and 1 male (investment cost not counted as cost of production) is Rp. 902,430/month. Therefore, the contribution of goat agribusiness to oil palm production is 81,8%. The contribution of the goat agribusiness on the integration of livestock to oil palm production starting with 20 females and 1 male (however the investment cost not counted as a cost of production) is able to sell aproximately 2–4 goats per month. To achieve the optimal profit, the main concept of development of goat agribusiness on t5he integration of livestock to oil palm production requires some important points such as the frame work, term of agreement and joint venture between farmer, goverment and private sector as capital invenstment.

Key Words: Agribusiness, Invesment, Integration, Integration Oil Palm Production ABSTRAK

Dengan rata-rata luas pemilikan usaha tani kelapa sawit 0,87 ha dan rata-rata produksi 1,86 ton/bulan, maka rata-rata pendapatan bersih per bulan adalah Rp. 1.103.372. Sementara itu nilai keuntungan usaha agribisnis ternak kambing dalam usaha pertanian dengan skala 20 ekor induk dan 1 pejantan dimana nilai investasi tidak diperhitungkan dalam biaya produksi adalah Rp. 902.430 per bulan. Nilai kontribusi usaha ternak kambing skala agribisnis terhadap usaha tani kelapa sawit adalah 81,8%. Sistem pemeliharaan ternak Kambing skala agribisnis yaitu dengan 20 ekor induk dapat memenuhi pendapatan keluarga peternak dengan standar minimum, dengan catatan bahwa nilai investasi tidak diperhitungkan dalam biaya produksi.Dengan skala 20 ekor induk setelah dua tahun pemeliharaan maka peternak akan memperoleh pendapatan rata-rata 2-4 ekor per bulan yang siap untuk dipasarkan. Dengan konsepsi pengembangan agribisnis berbasis perkebunan sawit dan agroekosistem maka beberapa simpul penting dalam pengembangan peternakan perlu diperhatikan seperti peluang-peluang pemasaran produk baik pasar domestik maupun ekspor melalui sistem informasi pasar yang akurat, hubungan kelembagaan antara petani, pengusaha dan pemerintah, dan peraturan perjanjian penanaman modal pada sub sektor peternakan.

Kata Kunci: Agribisnis, Investasi, Berbasis Sawit

PENDAHULUAN

Sejalan dengan usaha pemerintah untuk terus mendorong pengembangan industri peternakan di Indonesia dengan menyediakan berbagai fasilitas dan dukungan serta menciptakan iklim yang mendorong berkembangnya industri, strategi dan kebijaksanaan pembangunan agribisnis terpadu yang berkelanjutan merupakan wujud utama

penelitian peternakan sebagai bagian integral dari pembangunan pertanian. Prospek usaha peternakan yang mengarah kepada komoditas unggulan dan spesifik lokasi akan berperan penting sebagai pasok pengetahuan dan teknologi peternakan serta memberikan umpan kedepan bagi pembangunan sector pertanian pada umumnya untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang dicirikan oleh kemampuan dalam peningkatan

(2)

kesejahteraan petani dan mampu mendorong pertumbuhan sector terkait dan ekonomi nasional secara keseluruhan (RANGKUTI et al., 1995).

BATUBARA et al. (1996) menyebutkan

bahwa agar mampu mencapai laju pertumbuhan produksi sesuai yang diharapkan, maka telah dilakukan identifikasi kendala produksi dan penyediaan paket teknologi. Namun demikian Kurang berkembangnya sistem agribisnis kambing potong di Indonesia pada skala ekonomi terutama disebabkan oleh beberapa kendala biologis, Beberapa permasalahan nyata dalam usaha peternakan kambing yang masih akan dihadapi pada masa mendatang (SASTRAPRADJA, 1995) antara lain: 1. masalah peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing. 2. Masalah suplai secara berkelanjutan, 3. masalah expor dan impor, dan 4. masalah penyakit. Jika perkiraan jumlah anak yang hidup dari sekelahiran (litter size) sebesar 1,2 ekor sebagaimana yang sering dilaporkan para pembiak tentunya sistem usaha ternak tradisionil yang relatip berskala rendah (dibawah 5 ekor induk) akan sulit untuk mentransformasi usaha dari tradisionil menjadi agribis yang mampu menopang ekonomi rumah tangga petani. Untuk dapat memperoleh nilai jual ternak yang layak sebagai sumber daging dan bernilai ekonomis (umur diatas 8 bulan) membutuhkan waktu pemeliharaan yang relatip lama, terlebih lebih sumber plasma nuftah yang umum digunakan petani berupa bibit lokal dengan tampilan tubuh relatif kecil, sehingga pola usaha tradisionil sering dikategorikan sebagai usaha ternak yang tidak efisien secara ekonomi.

Mengacu kepada kebijakan pemerintah, agar usaha ternak ruminansia mampu mencapai target swasembada daging di tahun 2005 menunjukkan peluang yang sulit dicapai jika tidak adanya intervensi pemerintah secara langsung terhadap pengusaha terutama pada petani peternak kambing tradisional atau memberi subsidi faktor produksi pada petani, sehingga pengembangan tenak kambing di Indonesia dapat mengalami transformasi usaha dari tradisionil menjadi agibisnis (JUNJUNGAN

et al., 2002).

Makalah ini bertujuan menganalisis kontribusi usaha peternakan kambing berbasis perkebunan kelapa sawit dalam prospektif

mendukung ketahanna pangan dan agribisnis peternakan kambing yang berkelanjutan.

MATERI DAN METODE

Untuk menggambarkan tingkat keuntungan agribisnis kambing berbasis perkebunan kelapa sawit maka metode analisis yang dipakai adalah Partial Budget Analisis dengan paket usaha awal 20 ekor induk (dara siap kawin) dan 1 (satu) pejantan, sela pemeliharaan 1,5 tahun tanpa ada penjualan ternak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis keuntungan usaha ternakan kambing

Untuk menggambarkan kontribusi usaha peternakan kambing dalam usaha pertanian maka beberapa komponen yang berkaitan dalam usaha skala komersil dan berwawasan agribisnis dianalisis, seperti dinamika populasi, komposisi umur anak keturuna, nilai produksi dan biaya produksi dan keturunan.

Dalam pengembangan usaha agribisnis ternak kambing, maka skala usaha diprogramkan dengan paket 20 ekor induk (dara siap kawin) dan 1 (satu) pejantan. Komposisi paket ini sejalan dengan pengembangan usaha agribisnis kambing yang dirancang oleh Departemen Transmigrasi pada tahun 1995 bekerjasama dengan Sub Balitnak Sei Putih, Sumatera Utara. Dengan pola paket 20 induk dan 1 pejantan dan dikembangkan dalam satu kawasan tertentu dengan minimum petani penerima paket dalam satu kawasan sebanyak 25 kepala keluarga maka diharapkan dalam kurun waktu 2 tahun proses agribisnis akan berjalan dengan sendirinya. Program transmigrasi dengan paket ternak kambing yang telah dilaksanakan di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, telah terbukti bahwa agribisnis usaha ternak Kambing telah berjalan dengan baik.

Untuk menganalisis kontribusi usaha agribisnis kambing dengan paket 20 induk dan 1 jantan maka dipergunakan data produktivitas ternak tertera pada Tabel 1 dangan asumsi lama pemeliharaan selama 2 tahun dan tidak ada penjualan, maka tingkat produksi anak

(3)

keturunan pertama (F1) dan 12 ekor anak keturunan kedua (F2).

Tabel 1. Data produktivitas ternak kambing

Item Nilai

Lama pemeliharaan 24 bulan

Lama bunting 5 bulan

Lama penyapihan dini 3 bulan Jarak antar kelahiran 8 bulan Umur bunting pertama 9 bulan Jumlah anak sekelahiran yang

hidup (liter size) 1,2

Untuk perhitungan nilai produksi maka jumlah pendapatan petani dihitung berdasarkan jumlah kambing yang dapat dijual oleh petani. Harga yang dipakai sesuai dengan rata-rata harga jual kambing potong di daerah Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara yang berlaku sampai sekarang (2004). Dengan model paket 20 ekor induk maka tingkat pendapatan atau nilai produksi yang diperoleh peternak agribisnis setelah 2 tahun pemeliharaan dapat dilihat pada Table 2.

Dinamika populasi

Untuk menggambarkan dinamika populasi dengan skala pemeliharaan dan komposisi umur tertentu, JUNJUNGAN (2002) melakukan analisa dengan menggunakan formula sebagai berikut.Hasil Analisis produksi paket usaha yang dimulai dari 20 ekor induk (dara siap kawin) dan 1 (satu) pejantan, sela pemeliharaan 1,5 tahun tanpa ada penjualan ternak maka akan diperoleh skala usaha sebesar 69 ekor, dengan produksi anak umur 11 bulan sebanyak 24 ekor, umur 6 bulan 24 ekor. Sementara jika pemeliharaan selama 2 tahun belum ada penjualan maka tingkat produksi anak yang diperoleh sebanyak 72 ekor F1 dan 12 ekor F2 untuk jelasnya dapat formula sebagai berikut:

Y = F1 + F2 … (a) atau P x Lz x LP+ Y= Ci F2… (b) atau LP +F2…(c) Y= P x Lz x LP LB + Ls 24 F2 (c Y= 20 x 1,2 5 + 33 Y = 72 ekor + F2 Y = Jumlah produksi anak

F1 = Generasi pertama F2 = Generasi kedua P = Tetua (induk)

Lz = Jumlah anak sekelahiran yang hidup LP = Lama pemeliharaan (bulan) LB = Lama bunting(bulan) Ls = Lama penyapihan dini (bulan) Ci = Jarak antar kelahiran

Produksi anak pada generasi Ke 2 (F2) dapat dihitung sebagai berikut:

LP – Ci 20 F2= BP + LB x Lzz x 2 ...(d)

BP = Umur bunting pertama (bulan) LB = Lama bunting (bulan)

24 - 8 20 F2= 9 + 5 x 1,2 x 2 (d)

LP = Lama pemeliharaan (bulan) Ci = Jarak antar kelahiran (bulan) Lz = Jumlah anak sekelahiran yang hidup

dari persamaan c dan d maka diperoleh jumlah produksi anak kambing (Y) sebagai berikut:

Y = 72 ekor + 12 ekor = 84 ekor

Komposisi umur produksi ternak

Komposisi umur produksi ternak dipengaruhi oleh jarak antar kelahiran (calving interval), dan komposisi umur ini sangat penting untuk mengetahui kapan dan berapa ekor target penjualan yang akan dilakkukan pertahun, atau perbulan. Dengan demikian penaksiran input output dapat diketahui oleh petani yang berperan sebagai manejer usaha.Untuk mengetahui komposisi umur produksi ternak dapat diprediksi sebagai berikut:

(4)

C1 = LP – MK –LB- ML C1 = 24 – 1 – 5 – 2

= 16 bulan

C1 = umur anak kelahiran pertama C2 = umur anak kelahiran kedua

C2 = C1 – LB – ML = 16 – 5 – 2 = 9 bulan

C3 = umur anak kelahiran ketiga MK = masa kering (bulan) LB = lama bunting (bulan) ML = masa laktasi

C3 = C2 – LB – ML = 9 –5 – 2 = 2 bulan

Umur produksi generasi kedua (F2) sebagai berikut:

F2 = LP – Ci –BP-LB BP = umur bunting pertama (bulan) LB = lama bunting (bln)

LP = Lama pemeliharaan (bulan) Ci = Jarak antar kelahiran (bulan)

F2 = 24 – 8 –9 – 5 = 2 bulan

Nilai produksi

Nilai produksi merupakan jumlah kambing yang dapat dijual oleh petani. Secara umum harga jual kambing berbeda antar daerah dan

antar musim atau hari biasa dengan hari besar agama dan pada upacara adat. Namun demikian untuk memprediksi tingkat pendapatan petani pola agibisnis pada tulisan ini mengambil contoh sebagai gambaran umum tentang rata-rata harga jual kambing di daerah Kabupaten Deli Serdang yang berlaku sampai sekarang (2004). Dengan model paket 20 ekor induk maka tingkat pendapatan atau nilai produksi yang diperoleh peternak agribisnis setelah 2 tahun pemeliharaan tertera pada Table 2 bahwa produksi anak pada kelahiran ketiga (C3) dan generasi kedua (F2) sebanyak 36 ekor masih berumur dua bulan yang sebenarnya belum layak dijual sebagai ternak potong atau sumber daging, namun sebagai sumber bibit sudah dapat dijual terutama dengan sistem sapih dini per dua bulan, dan pada analisis ekonomi produksi anak yang bumur dua bulan tersebut harus dihitung yang merupakan estimasi pendapatan diatas tingkat pendapatan aktual (frontier).

Biaya produksi

Pengertian biaya produksi disini adalah semua input yang digunakan dalam pemeliharaan populasi ternak termasuk biaya pemeliharaan induk, pejantan, anak yang masih belum layak dijual termasuk biaya variable dan biaya penyusutan kandang dan biaya tetap yang dibebankan menjadi biaya/unit produksi.

Pada Tabel 3, terlihat besarnya biaya pemeliharaan induk dan pejantan adalah sebesar 41% dari biaya total atau sebesar Rp. 38.705/ekor yang harus dibebankan kedalam biaya produksi anak. Selanjutnya sesuai

Tabel 2. Nilai produksi agribisnis kambing setelah dua tahun pemeliharaan

Jumlah induk Litter size Calving interval Jumlah anak Jenis produksi ---ekor--- Umur (bulan) Harga jual Rp/ekor Nilai produksi (Rp) Anak 20 1,2 C1 C2 C3 F2 24 24 24 12 16 9 2 2 450.000 250.000 100.000 100.000 10.800.000 6.000.000 2.400.000 2.400.000 Pupuk kandang - - - 1.000.000 Jumlah (Rp/2 tahun) - - - 84 - - 22.600.000 Profit/bulan - - - - 941.600

(5)

dengan umur produksi anak maka rataan biaya produksi (termasuk biaya induk) untuk anak umur 16 bulan adalah Rp. 143.335/ekor, umur 9 bulan biaya rataan sebesar Rp. 97.908/ ekor dan biaya umur 2 bulan sebesar Rp. 40.000/ekor. Besarnya biaya rata–rata dari berbagai kelompok umur anak yang diproduksi tersebut sekaligus merupakan harga dasar atau harga minimum yang tidak boleh dijual lebih rendah dari harga tersebut, jika peternak tidak ingin dirugikan. Secara umum tanpa melihat umur anak maka rata-rata biaya produksi adalah sebesar Rp. 95.172/ekor. Angka ini diperoleh dengan medapatkan nilai tengah biaya produksi anak secara keseluruhan.

Keuntungan usaha peternakan

Usaha ternak akan beruntung apabila harga penjualan produksi diatas biaya rata-rata (P>Rp. 95.172). Dengan mencari selisih antara tingkat penerimaan tertera pada Tabel 2 dengan biaya rata-rata produksi tertera pada Tabel 3, maka tingkat keuntungan usaha akan diperoleh Rp. 941.666 – Rp. 10.154.380/24 = Rp. 902.430/bulan. Angka keuntungan ini akan menjadi lebih tinggi jika analisis pendapatan dilakukan hanya sebatas biaya-biaya rill yang dikeluarkan oleh peternak.

Dari kajian ini, terlihat bahwa keuntungan usaha yang layak dan sesuai dengan tingkat pendapatan keluarga menurut standar nasional adalah jika perhitungan input-output hanya berupa biaya pakan tambahan dan obat-obatan

saja sedang biaya tenaga kerja yang dikeluarkan petani dan biaya penyusutan lainnya tidak diperhitungkan dalam analisis keuntungan.

Lebih lanjut dapat dinyatakan bahwa tingkat keuntungan peternak agribisnis dengan menggunakan alat analisis ekonomi secara sempurna, maka skala usaha 20 ekor induk masih relatip tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, namun demikian jika nilai opportunity tenaga kerja peternak dan anggota keluarga yang seharusnya bekerja diluar usaha ternak dinilai sebagai nilai tambah pendapatan (dalam hal ini masuk dalam fungsi keuntungan yaitu TC-x 2 atau TC-x 3 maka model skala agribisnis ini mampu mendukung pendapatan ekonomi keluarga secara sepenuhnya.

Kontribusi usaha ternak kambing

Terhadap perkebunan sawit

Untuk menggambarkan persentase kontribusi usaha ternak kambing berorientasi agribisnis terhadap usaha tani kelapa sawit maka rata-rata pendapatan perbulan petani sawit dihitung dengan pengambilan sampel dari PIR-Lokal Partimbalan, Simalungun, Sumatera Utara. Lokasi ini diambil berdasarkan pertimbangan merupakan kawasan yang didalamnya terdapat perkebunan kelapa sawit rakyat pola PIR yang telah menghasilkan dan telah konversi. Selain itu, daerah PIR ini terdapat petani ternak kambing yang

Tabel 3. Struktur biaya yang dikeluarkan pada usaha kambing selama dua tahun, dengan harga-harga faktor

produksi yang berlaku di daerah Sumatera Utara tahun 2004. Jenis biaya Induk+pejantan

(2 tahun) Anak (16 bulan) Anak (9 bulan) Anak (2 bulan) Jumlah biaya (Rp.) Penyusutan kandang

Listrik dan air Tenaga kerja Penggembala Penyedia rumput Petugas kandang Obat cacing Mineral/obat Lainnya Pakan penguat 342.720 10.500 756.000 756.000 756.000 378.000 252.000 1.250.000 261.120 52.000 576.000 576.000 576.000 288.000 192.000 835.000 146.880 44.000 324.000 324.000 324.000 162.000 96.000 450.000 48.960 9.000 72.000 72.000 72.000 25.200 12.000 125.000 799.680 68.700 1.908.000 1.908.000 1.908.000 853.200 552.000 2.660.000 Jumlah 4.501.220 3.346.120 1.870.880 436.160 10.154.380

(6)

digembalakan didaerah perkebunan sawit yang secara konsep merupakan usaha ternak kambing berbasis kebun kelapa sawit. Perkebunan besar yang menjadi perusahaan inti adalah PT Perkebunan Nusantara III.

Penggunaan input

WAHYONO (1999) melaporkan bahwa input variable yang secara rutin digunakan dalam kegiatan usahatani plasma PIR-Lokal Partimbalan adalah pupuk dan tenaga kerja. Pestisida (insektisida, fungisida dan herbisida) relatif jarang digunakan. Lebih lanjut dilaporkan bahwa penggunaan pupuk dilakukan setiap enam bulan sekali yaitu setiap akhir musim kemarau dan akhir musim hujan dengan cara ditabur disekeliling pohon. Pupuk yang digunakan meliputi empat jenis, masing-masing dengan dosis sebagaimana tertera pada Tabel 4.

Tabel 4. Penggunaan input variabel dalam usaha

tani plasma PIR di Sumatera Utara

Jenis Dosis (kg/pohon) Biaya pupuk (Rp/pohon) Urea (N) 1,75 1.951,25 KCL/MOP (K) 1,25 2.062,50 SP36/TSP (P) 1,50 2.400,00 Dolomit (Mg) 0,5 300,00 Jumlah 5 6.713,75 Sumber: WAHYONO1(999)

Dalam kondisi normal, jumlah pupuk majemuk yang diperlukan menurut standar kultur teknis untuk setiap aplikasi (per enam bulan) adalah 5 kg/pohon, dengan biaya Rp. 6.713,75/pohon, sehingga harga seluruh pupuk

(majemuk) Rp 1.342,75/kg. Pada kerapatan tanaman 132 pohon/ha, maka kebutuhan dana untuk pengadaan pupuk/ha adalah Rp. 1.772.439 untuk setiap semester atau Rp. 3.544.860/tahun atau Rp. 295.405/bulan.

Tenaga kerja

Hasil wawancara langsung dengan staf peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit Tanjung Merawa, Medan menunjukkan bahwa tenaga kerja yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan kebun meliputi: pembersihan piringan, jalan pikul, tempat pengumpulan hasil, perbaikan jalan produksi dan saluran drainase, pengangkutan TBS ke pabrik, honor pengurus poktan dan fee KUD, dengan rincian sebagaimana tertera pada Tabel 5.

Nilai kontribusi

Dipandang dari segi petani sampel dengan rata-rata luas pemilikan usahatani adalah 0,87 ha, dengan rata-rata produksi adalah 1,86 ton/bulan, maka rata-rata pendapatan kotor adalah Rp. 1.491.319/bulan. Rata-rata pendapatan bersih/bulan adalah Rp. 1.491.319– (Rp. 295.405 + Rp. 92.541,59) = Rp. 1.103.372,40. Analisis ekonomi usaha perkebunan kelapa sawit rakyat pola kredit koperasi primer yang dilakukan oleh DASWIR

et al. (1995) menunjukkan bahwa ratarata

pendapatan berkisar antara Rp. 1.215.000– 1.575.544. Dengan analisa tersebut diatas maka nilai kontribusi usaha ternak kambing skala agribisnis dengan penghasilan Rp. 902.430/bulan terhadap usaha tani kelapa sawit adalah 81,8%.

Tabel 5. Komponen biaya dalam pemeliharaan kebun

Jenis Uraian Biaya (Rp/bulan)

Pembersihan piringan, jalan pikul, tempat pengumpulan hasil, perbaikan jalan produksi dan saluran drainase

14,2 HK/bulan, dengan upah

Rp. 6500/HK 92.283,00

Pengangkutan TBS ke pabrik, honor pengurus poktan dan fee KUD

Rp. 25/kg; Rp 200/bulan dan Rp. 6,50/kg TBS

258,59

(7)

KESIMPULAN

Sistem pemeliharaan ternak Kambing skala agribisnis yaitu dengan 20 ekor induk dapat memenuhi pendapatan keluarga peternak dengan standar minimum, dengan catatan bahwa nilai investasi tidak diperhitungkan dalam biaya produksi.

Dengan skala 20 ekor induk setelah dua tahun pemeliharaan maka peternak akan memperoleh pendapatan rata-rata 2–4 ekor ekor per bulan yang siap untuk dipasarkan.

Model skala agribisnis Kambing ini cocok untuk diaplikasikan pada tingkat peternak yang memiliki modal investasi usaha dan modal hidup selama 2 tahun sebelum hasil produksi dapat dikomersialkan.

DAFTAR PUSTAKA

BATUBARA, L.P., S. KAROKARO and S.ELIESER. 1996. Integration of sheep in oil palm plantations in North Sumatra, Indonesia. Proceedings of the first international symposium on the integration of livestock to oil palm production. Malaysian society of animal production (MSAP), September 1996. DASWIR danUDLIN U.LUBIS. 1995. Analisis ekonomi

usaha perkebunan kelapa sawit rakyat pola kredit koperasi primer untuk anggota. J. Penelitian Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 3(2). Agustus 1995.

JUNJUNGAN. S., L.P. BATUBARA, S.P. GINTING, E.SIHITE,K.SIMANIHURUK,A.TARIGAN dan D. SIHOMBING. 2002. Analisis Potensi Ekonomi Limbah Dan Hasil Ikutan Perebunan Kelapa Sawit Sebagai Pakan Kambing Potong. Hasil Penelitian Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Galang, Sumatera Utara. (unpublish).

KAROKARO, S., H.W. SHWU-ENG and M. AGUS. 1995. The export potential for North Sumatera’s small ruminants. Pros. seminar sehari strategi dan komunikasi hasil penelitian peternakan. Sub Balitnak Sei Putih dan SR-CRSP, Medan 31 Januari 1995.

KARTAMULIA, I., S. KAROKARO and J.DE BOER. 1993. Economic analysis of sheep grazing in rubber plantations: a case study of OPMM. Proc. to small ruminant workshop, 7–9 September 1993, San Juan, Puerto Rico. LEVINE,J AND T.SOEDJANA. 1991. Methodology for

establishing selection criteria, marketing and production aspects for sheep and goats in Indonesia and the Asean region. Proc. of a workshop on research methodologies. Medan, North Sumatera, September 9-14.

RANGKUTI H.M. dan TJEPPY. S. 1995. Strategi penelitian dan pengembangan peternakan melalui pendekatan agribisnis. Pros. Seminar sehari strategi dan komunikasi hasil penelitian peternakan. Sub Balitnak Sei Putih dan SR-CRSP, Medan 31 Januari 1995.

SASTRAPRADJA S.D. 1995. Konvensi mengenai keanekaragaman hayati, plasma nuftah hewani dan pengembangan ternak Indonesia. Pros. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Pengolahan dan komunikasi hasil Penelitian. Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor.

WAHYONO T. 1999. Analisis permintaan input variable dalam usahatani kelapa sawit untuk mencapai efisiensi ekonomis di PIR-lokal Partimbalan Sumatera Utara. J. Penelitian Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 7(2). Agustus 1999.

(8)

DISKUSI Pertanyaan:

1. Apa yang dimaksud dengan investasi awal yang tidak diperhitungkan? 2. Apa kendala yang dihadapi selama kegiatan berlangsung?

Jawaban:

1. Yang dimaksud dengan investasi awal yang tidak diperhitungkan adalah: petani tidak membeli ternak awal (20 betina dan 1 jantan) tetapi merupakan paket kegiatan penelitian yang diberikan kepada petani dengan sistem revolving (satu induk kembali 1 induk setelah dua tahun).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :