• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI. 3.2 Metode Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI. 3.2 Metode Penelitian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III METODOLOGI 3.1 Tipe Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dirancang sebagai analisis isi tayangan televisi, dengan tujuan deskriptif analisis, yaitu melihat gambaran kecenderungan berita gosip yang ditayangkan. Tayangan GO SPOT di RCTI periode 1 Maret – 31 Mei 2010. Tipe penelitian ini bersifat deskriptif karena berusaha melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik berita gosip pada acara GO SPOT secara faktual dan cermat.30

Metode penelitian deskriptif memiliki beberapa ciri umum31, antara lain : 1. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi

2. Metode deskriptif mencari teori, bukan menguji teori

3. Metode deskriptif bertitik berat pada observasi dan suasana alamiah (naturalisasi setting). Penelitian bertindak sebagai pengamat, ia hanya membuat kategori prilaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasinya.

Jadi Penelitian deskriptif hanya melaporkan situasi atau perisiwa dan tidak menjelaskan hubungan tidak menguji hipotesis ataupun membuat prediksi.32

Dalam penelitian ini digunakan juga metode kuantitatif, pendekatan kuantitatif yang dimaksud pada hakikatnya hanyalah penambahan analisis yang lebih cermat dan sistematis. Kuantitatif berarti hasil analisis isi diperlihatkan dalam bentuk table, distribusi frekuensi, prosentase atau dalam bentuk lain.33

3.2 Metode Penelitian

30 Jalaludin Rakhmat. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosdakarya. 2004:22 31 Ibid. 25-26

32 Ibid. 24

(2)

Penelitian ini menggunakan metode analisis isi (content analysis) yaitu suatu teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistemik dan kuantitatif isi komunikasi yang tampak (manifest).34 Metode analisis isi digunakan untuk mengetahui karakteristik isi tayangan mengenai objektivitas berita.

Analisis isi ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menanalisisi isi manifes dari siaran media.35 Kerliner dalam (Winner dan domrick 2000) merumuskan analisis isi sebagai suatu metode untuk mengkaji dan menganalisis komunikasi dengan cara sistematis, obyekif dan kuantitatif untuk variable.

Krippendorf (1993) mengungkapkan analisis isi adalah suatu model penelitian dalam ilmu komunikasi massa untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (reliable) dan sahih data yang memperhatikan konteksnya. Bungin (2001) mendefinisikan sebagai teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (reliable) dan sahih data dengan memperlihatkan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.

Analisis isi juga digunakan untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Analisis isi dapat juga digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi.36

Metode penelitian analisis isi adalah metode yang mengamati dan mengukur isi komunikasi. “Tidak seperti mengamati secara langsung perilaku orang atau meminta orang untuk menjawab skal-skala atau mewawancarai orang, seorang peneliti hanya mengambil komunikasi-komunikasi yang telah ada dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang komunikasi-komunikasi itu”.37

Pada analisis isi unit analisisnya adalah isi media yaitu berita, kolom, artikel dan sebagainya pada surat kabar. Sedangkan pada televisi yang menjadi unit analisanya adalah program hiburan, pendidikan, berita dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan objek analisa isinya adalah isi pesan media massa baik radio, surat kabar, majalah, televisi dan sebagainya.

34 K. Krippendor F. Analisi isi : Pengantar Teori dan metodologinya. Rajawali Pers. 1993:8 35 Jalaludin Rakhmat op.cit 24-25

36 Ibid.89

37 Ferd and Kerlinger. Foundation of Behavioral Research. Holt. Rinehard and Winston. Inc.

(3)

Sebuah penelitian analisis isi memenuhi persyaratan apabila syarat-syarat nya terpenuhi yakni obyektif, sistematik, serta kuantitatif. Obyektif mempunyai pengertian apabila kategori-kategori yang dianalisa didefinisikan secara tepat, sehingga orang lain dapat menganalisa isi yang sama dengan mempergunakan definisi tadi dan memperoleh hasil yang sama pula.

Sistematis maksudnya pilihan pesan yang dianalisa harus berdasarkan perencanaan dan tidak mengandung bisa, prosedur yang dipakai dalam analisa isi ditetapkan pada isi yang dianalisa. Analisa dirancang untuk memperoleh data yang relevan dengan masalah penelitian.

Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui kecenderungan tayangan infotainment pada tayangan infotainment GO SPOT di RCTI, maka ada beberapa tahap yang akan dilalui penulis dalam menjabarkan analisis isi ini, yaitu :38 (1) perumusan masalah,(2) perumusan hipotesis, (3) penarikan sample, (4) pembuatan alat ukur (koding), (5) pengumpulan data, (6) analisis data.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis dalam penelitian. Atau dengan kata lain populasi adalah kumpulan objek penelitian.39

Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah seluruh berita dalam tayangan infotainment GO SPOT sebanyak Sembilan puluh dua (92) episode terhitung pertanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2010.

3.3.2 Sampel

Sample adalah bagian terkecil dari populasi atau bagian dari populasi yang ingin diteliti (sebagian objek), contoh ukuran sample yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan pendapat Gay, yakni ukuran

38 Jalaludin Rakhmat op.cit : 89 39 Ibid. 78

(4)

minimum sample yang dapat diterima berdasarkan metode penelitian deskriptif minimal 10% dari populasi dapat digunakan.40

Pada penelitian ini, ukuran sample yang diambil adalah ukuran minimal pengambilan sample menurut Gay yaitu 10% dari jumlah populasi. Teknik sampling dibedakan menjadi dua (2) yaitu sampling probabilitas dan non probabilitas. Ada empat (4) macam rancangan sampling dalam kategori sampel probabilitas yaitu : sampling random sederhana, sampling sistematis, sampling berstrata dan sampling klaster. 41

Pada penelitian ini sample yang akan diambil adalah sebanyak 10% dari jumlah penayangan berita seputar artis yang ditayangkan Go Spot di RCTI terhitung tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2010. Sample yang akan diambil adalah 10% dari jumlah populasi. Populasi dalam penelitian disini adalah tayangan gossip Go Spot sebanyak sembilan puluh dua (92) episode. Maka sample yang akan diambil adalah 10% X 92 = 9.2, yang jika dibulatkan menjadi 10, maka sample dalam penelitian ini sebanyak sepuluh (10) episode.

3.4 Unit Analisis

Unit Analisis dalam penelitian ini meliputi :

a. Teks merupakan naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarangnya. Dalam hal ini yang dimaksud teks adalah naskah yang dibacakan presenter dalam membawakan tayangan gossip Go Spot di RCTI.42 b. Visual berkaitan dengan penglihatan, dapat dilihat, terlihat. Visual

disini adalah gambar video yang selama ini ditonton oleh para penonton televisi. 43

c. Audio berkaitan dengan pendengaran, dapat kita dengar statement para artis saat diinterogasi oleh para jurnalis infotainment dan pembacaan naskah yang dibacakan presenter.44

40 M. Iqbal Hasan. Pokok - pokok Materi metodologi Penelitian Aplikasinya. Ghalia Indonesia.

2002

41 Jalaludin Rakhmat. Metode Penelitian Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. 2000:79 42 Drs. Ahmad A.K. Muda. Kamus Saku Bahasa Indonesia. Gita Media Press. 2008:406 43 Pius Abdillah P. Kamus Ilmiah. Arkola. Hlm 614

(5)

3.5 Definisi dan Operasional Kategori 3.5.1 Definisi Konsep

Dalam penelitian ini, kategori tersebut terdiri dari :

Infotainment adalah sebuah program acara yang menyajikan informasi dan hiburan. Tetapi tayangan infotainment lebih mengutamakan hiburannya dari pada unsur mendidiknya. Seperti kita ketahui bahwa salah satu fungsi televisi adalah dapat membawa penonton kearah lebih baik, dengan adanya televisi bangsa ini bisa maju dan dengan televisi juga bangsa ini bisa hancur. Tayangan infotainment saat ini sudah sangat “fulgar” pemberitaanya. Semakin “fulgarnya” berita semakin banyak pula penontonnya. Media di Indonesia sudah “kebablasan” dalam menyikapi kebebasan pers. Namun Infotainment termasuk produk jurnalistik karena intinya adalah informasi atau berita seputar dunia hiburan, yakni informasi tentang artis, aktor dan subjek dunia hiburan lainnya termasuk tempat-tempat hiburan. Daya tarik infotainment adalah berisi berita atau informasi seputar publik figure. Diantara sekian banyak program tayangan di televisi, infotainment memang berkembang dengan cepat.

3.5.2 Operasional Kategorisasi 3.5.2.1 Objektivitas Berita

Sebagai salah satu prinsip penilaian, objektifitas memang hanya mempunyai cakupan yang lebih kecil dibanding dengan prinsip lain yang telah disinggung, tetapi prinsip objektifitas memiliki fungsi yang tidak boleh dianggap remeh, terutama dalam kaitannya dengan kualitas berita/informasi. Objektivitas pada umumnya berkaitan dengan berita dan informasi, sedang keanekaragaman berkaitan dengan segenap bentuk keluaran (output) media. Objektivitas adalah prinsip yang acapkali hanya dihubungkan dengan isi. Prinsip tersebut tidak dapat diteliti secara isi dan secara langsung pada tingkat masyarakat maupun pada tingkat organisasi media, meskipun pandangan para komunikator media tentang prinsip itu tetap ada kaitannya dengan pengujian.

(6)

Makna prinsip objektivitas berasal dari berbagai sumber. Oleh karena itu, prinsip tersebut mengandung sekian banyak pengertian, antara lain : Objektivitas merupakan nilai sentral yang mendasari disiplin profesi yang dituntut oleh para wartawan sendiri ; prinsip itu sangat dihargai dalam kebudayaan modern, termasuk berbagai bidang diluar bidang media massa, terutama kaitannya dengan rasionalitas ilmu pengetahuan dan birokrasi ; objektivitas mempunyai korelasi dengan independensi ; prinsip tersebut sangat dihargai bilamana kondisi keanekaragaman mengalami kemunduran, yaitu kondisi yang diwarnai oleh semakin menurunnya jumlah sumber dan semakin meningkatnya uniformitas (dengan kata lain, monopolitas semakin tampak).

Adapun komponen–komponen objektivitas yang dimaksud oleh Westerhal, 1983 sebagai berikut :

Objektivitas memiliki dua komponen utama yaitu : kefaktualan dan impartialitas. Kefaktualan itu sendiri dibagi menjadi, kebenaran dan relevansi.

Indikator yang menunjukkan bahwa berita itu memiliki kebenaran yaitu jika berita itu mengandung unsur 5W+1H, yaitu :

a. What, berita atau peristiwa apa yang sedang terjadi. b. Who, siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu.

Dimensi Komponen Variabel Indikator

Objektivitas I. Kefaktualan II. Impartialitas 1. Kebenaran 2. Relevansi 1. Keseimbangan 2. Netral a. Mengandung unsur 5W+1H Kepentingan Publik a. Cover Both Side

b. Jumlah Narasumber yang Seimbang

(7)

c. When, kapan waktu (tanggal, bulan dan tahun) peristiwa itu terjadi. d. Where, dimana kejadian atau peristiwa itu terjadi.

e. Why, mengapa bisa terjadi peristiwa itu. Why lebih mengacu kepada sebab dan akibat atas peristiwa yang sedang terjadi.

f. How, bagaimana peritiwa itu terjadi. Asal muasal sampai akhir peritiwa itu terjadi diuraikan pada bagian ini.

Selain 5W+1H, berita itu dikatakan memiliki kebenaran jika si reporter melakukan cover both side. Cover both side merupakan langkah dimana mencari kebenaran dari masing-masing pihak. Sebagai contoh, peristiwa yang tempo hari marak diberitakan yaitu masalah mengenai nenek mina yang mencuri coklat di kebun cocoa sang majikan. Sebagai jurnalis yang adil, ada baiknya narasumber diambil dari kedua belah pihak baik pihak si pemilik kebun cocoa maupun pihak si pencuri cocoa. Sesuai dengan namanya, cover both side. Mencakup dua sisi, diambil dari contoh diatas. Baik sisi yang merasa dirugikan dan pihak yang membuat kerugian diambil keterangannya masing-masing.

Selain kebenaran, kefaktualan juga memiliki relevansi. Relevansi lebih sulit ditentukan dan dicapai secara objektif. Berita yang ditayangkan ada relevansinya tidak dengan khalayak. Ada kepentingan publik atau tidak disini. Kalau hanya seputar masalah privacy seseorang yang di eksplore, itu tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik.

Komponen kedua dari objektivitas berita yaitu, impartialitas. Impartialitas dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu, keseimbangan dan netralitas.

Keseimbangan yang dimaksud adalah dimana jumlah narasumber yang dimintai keterangan seimbang, semua sisi diwawancarai agar mendapatkan informasi yang sejelas mungkin.

Impartialitas dihubungkan dengan sikap netral wartawan (reporter), suatu sikap yang menjauhkan setiap penilaian pribadi (personal) dan subjektif demi pencapaian sasaran yang diinginkan. Apakah berita yang diberitakan tendensius atau tidak.

Tayangan infotainment saat ini sudah asik denga kedudukannya. Belakangan informasi tentang artis semakin marak dan menjamur. Terlebih unutk

(8)

kasus-kasus artis yang tenar, semakin banyak pula penonton yang menyukai. Contohnya saja berita tentang kisah asmara Krisdyanti yang belakangan sering disorot media. Mereka bercumbu didepan media, sempat beberapa hari media intotainment menayangkan berita tersebut sehingga membuat geram MUI untuk mencekali media mana saja yang masih menayangkan pemberitaan tentang kemesraan Diva Pop Krisdayanti akan dicekal. Saking “fulgar” nya media dalam mengekspos berita miring artis, sampai – sampai MUI pun ikut bicara.

3.6 Teknik Pengumpulan Data 3.6.1 Data Primer

Data Primer digunakan sebagai acuan utama untuk pembahasan penelitian ini. Data primer diperoleh dari berita-berita persegment dari tayangan infotainment pada setiap tayangannya periode 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2010

3.6.2 Data Sekunder

Data Sekunder penulis peroleh dari berbagai referensi yang ada baik buku-buku maupun dari internet yang berkaitan dengan penulisan ini.

3.7 Uji Realibilitas

Realibilitas menurut Budd, Thorp dan Donohew adalah suatu hasil perhitungan yang dilakukan berulang kali oleh para peneliti, dimana dicari suatu hasil dengan tingkatan konsistensi tinggi. Realibilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur (kategorisasi) dapat dipercaya atau diandalkan bila dipakai lebih dari satu kali untuk mengukur gejala yang sama.45

Realibilitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur. Dalam realibilitas kategori ditujukan kepada derajat kemampuan pengulangan penempatan dan dalam berbagai kategori yang secara integral berhubungan dengan pemberi kode (koder). Menurut Kripendorf tujuan pengujian kehandalan (realibilitas) adalah memantapkan apakah data yang diperoleh dalam penelitian dapat memberikan

(9)

suatu dasar yang dapat dipercaya untuk menarik inteferensi, membuat rekomendasi, mendukung keputusan atau menerima suatu fakta.

Berdasarkan uraian diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa uji realibilitas sangat dibutuhkan dalam melakukan suatu penelitian sebagai pembuktian bahwa penelitian yang dilakukan seorang peneliti dapat dipercaya kebenarannya.

Untuk menguji reliabilitas, memakai rumus koefisien kehandalan, dengan cara mengkode item-item yang kemudian dikumpulkan dan selanjutnya diberikan kepada tiga orang koder yaitu Bpk. Diki Andika (Dosen Komunikasi), Ibu Feni Fasta, M. Si (Dosen Komunikasi), dan Helga Sinambela (Penonton).

Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut :

1. Ketiga koder diminta untuk menilai setiap butir berita berdasarkan pemahamannya terhadap kategori yang ada.

2. Hasil penelitian koder dihitung dengan menggunakan rumus Ole R. Holsty, untuk menemukan koefisien kehandalan antar koder, maka perumusan yang diambil adalah :

CR =

Keterangan :

CR = Coeficient Reliability 3 = Jumlah koder

M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh pengkoding dan periset N1, N2, N2 = Jumlah pernyataan yang diberikan kode oleh peneliti (periset)

Penulis akan menghitung kesepakatan dari ketiga koder dengan menggunakan rumus diatas. Bila hasil penelitian para koder menunjukkan kesepakatan mengenai hal yang sama dalam mengukur unit analisis pada kategori yang telah ditetapkan, maka kategori tersebut dikatakan reliable.

Ambang penerimaan yang sering digunakan untuk uji reliabilitas kategorisasi adalah 0.75. Jika persetujuan antara pengkoding (periset dan hakim) tidak mencapai 0.75, maka kategorisasi operasional mungkin perlu dirumuskan

3M N1 + N2+N3

(10)

secara spesifik lagi. Artinya kategorisasi yang dibuat belum mencapai tingkat keterandalan atau keterpercayaan.46

Uji kategori yang dilakukan oleh ketiga koder dipadukan dan dibandingkan terhadap isi tayangan infotainment GO SPOT. Hasil perhitungannya sebagai berikut :

a. Hasil dari berita yang mengandung Kebenaran

CR = = =

= 1

Berdasarkan rumus Holsty, maka dapat dikatakan bahwa berita yang mengandung Kebenaran adalah reliable karena menunjukkan angka 1, yang sama dengan 100% pengamatan cocok antar ketiga koder.

b. Hasil dari berita yang mengandung Relevansi

CR = = =

= 0.944

Berdasarkan rumus Holsty, maka dapat dikatakan bahwa berita yang mengandung Kebenaran adalah reliable karena menunjukkan angka 0,94 yang sama dengan 94% pengamatan cocok antar ketiga koder.

c. Hasil dari berita yang mengandung Keseimbangan

46 Krisyantoro, Rahmat. Teknik Praktisi Riset Komunikasi. 2008:237

3M N1 + N2+N3 3 (53) 53 + 53+53 159 159 3M N1 + N2+N3 3 (40) 42 + 40+45 120 127

(11)

CR = = = = 1.01127 Berdasarkan

rumus Holsty, maka dapat dikatakan bahwa berita yang mengandung Kebenaran adalah reliable karena menunjukkan angka 1,01127 yang bila dibulatkan menjadi 1, itu berarti sama dengan 100% pengamatan cocok antar ketiga koder.

d. Hasil dari berita yang mengandung Netralitas

CR = = = = 0.896 Berdasarkan

rumus Holsty, maka dapat dikatakan bahwa berita yang mengandung Kebenaran adalah reliable karena menunjukkan angka 0.89, itu berarti sama dengan 89% pengamatan cocok antar ketiga koder.

CRtotal = 1 + 0.944 + 1.01 + 0.89 4

= 0.961

Berdasarkan rumus Holsty, penjumlahan dari semua variable maka di dapatlah angka diatas, yaitu 0.961 yang sama dengan 0.96 ini berarti 96% pengamatan antar ketiga koder, cocok.

3M N1 + N2+N3 3 (53) 52 + 52+53 159 157 3M N1 + N2+N3 3 (46) 50 + 51+53 138 154

(12)

3.8 TEKNIK ANALISA DATA

Teknik analisis data dilakukan melalui tahap-tahap analisis. Tahap-tahap analisa data tersebut adalah sebagai berikut :

1. Membuat kategori dan definisi kategori untuk “Kecenderungan isi pesan Tayangan GO SPOT di RCTI dilihat dari sisi objektivitas berita periode 2. 1 Maret – 31 Mei 2010”

2. Mengumpulkan bahan, seperti sampel yang dijadikan obyek penelitian 3. Menetukan koder yang akan menganalisa data tayangan infotainment GO

SPOT

4. Menganalisa hasil data yang telah dilakukan koder. 5. Menarik kesimpulan dari hasil penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang digunakan dalam pengujian logit regression analysis untuk melihat perbedaan karakteristik antara perusahaan RT dengan perusahaan IPO selama menjalani proses go

Tes awal (pretest) yang diambil adalah untuk mengetahui kemampuan dasar mahasiswa dalam pembelajaran sakubun tidak menggunakan metode Paired Story Telling, nilai

Cropping citra dilakukan sesuai dengan bentuk daerah yang diinginkan, seperti pada penelitian ini Citra Spot 7 tahun 2016 dan 2020 dipotong sesuai dengan batas

38 Dalam penelitian ini, penulis menghitung efektivitas hedging dengan mengambil data sampel harga indeks spot dan futures pada komoditi emas dari periode 1

“ANALISIS PERUBAHAN TRADING VOLUME ACTIVITY DAN ABNORMAL RETURN PADA PERISTIWA STOCK SPLIT DI PERUSAHAAN GO PUBLIC YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2014-2016”..

Analisis kuantitatif, yaitu penghitungan dengan menggunakan analisis rasio keuangan PT Wijaya Karya Tbk sebelum dan sesudah go public, yang diperbandingkan baik dalam

Dengan menggunakan metode ini, sample yang diambil oleh penulis dianggap mampu memberikan data yang representative (mewakili) mengenai pengaruh brand image

Dalam penelitian ini metode kualititatif yang digunakan sehingga diambil dengan melakukan kuesioner metode EHRA Lampiran, data yang diambil adalah data warga di wilayah Kecamatan Bulak