• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Teoritis

I. Theory of Perceived Behavior (TPB)

Theory of Perceived Behavior (TPB) menyatakan bahwa selain sikap

terhadap tingkah laku dan norma-norma subjektif, individu juga mempertimbangkan kontrol tingkah laku yang dipersepsikannya yaitu kemampuan mereka untuk melakukan tindakan tersebut. Teori ini menyatakan bahwa keputusan untuk menampilkan tingkah laku tertentu dan mengikuti urut-urutan berpikir. Pilihan tingkah laku dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dari setiap tingkah laku dievaluasi dan dibuat sebuah keputusan apakah akan bertindak apa tidak. Kemudian keputusan ini direflesikan dalam tujuan tingkah laku. Dalam Theory of Perceived Behavior (TPB), perilaku yang ditampilkan oleh individu timbul karena adanya niat untuk berperilaku. Sedangkan munculnya niat berperilaku ditentukan oleh tiga faktor penentu yaitu :

a) Normatif Beliefs, yaitu keyakinan tentang harapan normatif orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (normative beliefs and

(2)

b) Behavioral Beliefs, yaitu keyakinan individu akan hasil dari suatu perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut (beliefs strenght and custome evaluation),

c) Control Beliefs, yaitu keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan (control

beliefs) dan persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung

dan menghambat perilakunya tersebut (perceived power).

Hambatan yang mungkin timbul pada saat perilaku ditampilkan dapat berasal dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungannya. “Secara

berurutan behavioral beliefs menghasilkan sikap terhadap perilaku positif atau negatif, normative beliefs menghasilkan tekanan sosial yang dipersepsikan (perceived social pressure) atau norma subjektif (subjective norms) dan control beliefs menimbulkan perceived behavioral control atau kontrol tingkah laku” (Ajzen, 1980 & Anangga, 2012)

Perceived behavioral control digunakan sebagai penilaian terhadap

kemampuan sikap untuk menampilkan tingkah laku. Theory of Planned

Behavior (TPB) menjelaskan bahwa apabila wajib pajak sudah sadar

membayar pajak selanjutnya wajib pajak memiliki kemauan untuk membayar pajak. Begitupun sebaliknya, apabila wajib pajak tidak sadar membayar pajak selanjutnya wajib pajak tidak memiliki kemauan untuk membayar pajak.

(3)

Gambar 2.1 Theory of Planned Behavior

Sumber : Ajzen (1980) dalam Anangga (2012)

II. Teori Literatur 1. Definisi Pajak

Para ahli memberikan batasan tentang pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Adriani :

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjukdan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan.

Dalam definisi diatas lebih memfokuskan pada fungsi budgeter dari pajak, sedangkan pajak masih mempunyai fungsi lainnya yaitu fungsi mengatur. Perceived Behavioral Control Attitude Subjective Norms Behavior Intention Actual Behavior

(4)

Pengertian pajak menurut Rochmat Soemitro dalam bukunya “Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan” (1990:5):

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Sedangkan pengertian pajak menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) :

Pajak adalah Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kata-kata “iuran” diganti dengan kata “kontribusi” yang nadanya bersifat positif karena mengandung makna partisipasi masyarakat. Kemudian ada tambahan “bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” yang membuat kata pajak lebih bernilai positif karena untuk tujuan kemakmuran rakyat melalui penyediaan barang dan jasa publik seperti pertahanan, keamanaan, pendidikan, kesehatan, jalan raya, dan fasilitas umum lainnya.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur yang melekat pada pengertian pajak, yaitu :

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

2. Sifatnya dapat dipaksakan. Hal ini berarti pelanggaran atas aturan perpajakan akan berakibat adanya sanksi.

(5)

3. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi secara langsung oleh pemerintah.

4. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemungutan pajak tidak boleh dilakukan pihak swasta yang orientasinya adalah keuntungan.

5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

Sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 yang merupakan perubahan keempat atas undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang “Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan”, wajib pajak adalah orang pribadi atau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Wajib pajak dibedakan menjadi 3 yaitu :

a) Wajib Pajak Orang Pribadi

Wajib Pajak Orang Pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan diatas pendapatan tidak kena pajak. Di Indonesia, setiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang.

(6)

b) Wajib Pajak Badan

Wajib Pajak Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Komanditer, Perseroan Lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial politik, atau kontrak kolektif dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).

c) Wajib Pajak Bendaharawan

Wajib Pajak Bendaharawan adalah bendaharawan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau Lembaga Pemerintah, Lembaga Negara Lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Luar Negeri yang membayar gaji, upah, tunjangan, honorium, dan pembayaran lainnya dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan.

Setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan

(7)

diharuskan mencantumkan NPWP pada saat penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT). Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang digunakan wajib pajak untuk melaporkan perhitungan atau pembayaran pajak, objek pajak, dan atau bukan objek pajak, atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Fungsi Pajak

Pajak memiliki dua macam fungsi, yaitu :

a) Fungsi Penerimaan (Budgetair)

Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran pemerintah baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan. Penerimaan sektor pajak makin meningkat dari tahun ke tahun. Sejak tahun anggaran 1992/1993, penerimaan dari sektor pajak telah mencapai di atas 50% dari volume penerimaan APBN, sedangkan pada tahun 2010 penerimaan dari sektor pajak telah mencapai 80%. Sebelumnya penerimaan lebih banyak bertumpu pada sektor migas. Persentase tersebut terus meningkat hingga saat ini.

b) Fungsi Mengatur (Reguleren)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh yaitu dikenakan pajak yang tinggi terhadap minuman keras, sehingga

(8)

konsumsi minuman keras dapat ditekan. Demikian pula terhadap barang mewah dan rokok.

Kedua fungsi tersebut merupakan peran utama pajak. Dalam perkembangannya, peran tersebut menjadi lebih luas dengan adanya fungsi redistribusi dan demokrasi. Fungsi redistribusi yaitu fungsi yang lebih menekankan unsur pemerataan dan keadilan dalam masyarakat. Fungsi ini terlihat dari adanya lapisan tarif dalam pengenaan pajak, yaitu tarif pajak yang lebih besar untuk tingkat atau lapisan penghasilan yang lebih tinggi.

Fungsi demokrasi merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong termasuk kegiatan pemerintah dan pembangunan. Fungsi ini pada saat sekarang sering dikaitkan dengan tingkat pelayanan pemerintah kepada masyarakat khususnya pembayar pajak. Apabila pajak telah dilaksanakan dengan baik, maka timbal baliknya pemerintah harus memberikan pelayanan terbaik

3. Tata Cara Pemungutan Pajak a. Stelsel Pajak

Cara pemungutan pajak dilakukan berdasarkan 3 stelsel :

a) Stelsel Nyata (riil stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan) yang nyata, sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya telah dapat diketahui.

(9)

Kelebihan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis. Sedangkan kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir (setelah penghasilan rill diketahui).

b) Stelsel Fiktif (fictive stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang, misalnya penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya sehingga pada awal tahun pajak telah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

c) Stelsel Campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Apabila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah kekurangannya. Demikian pula sebaliknya, apabila lebih kecil maka kelebihannya dapat diminta kembali.

(10)

b. Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

(1) Official Assessment System

adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang. Melalui sistem ini besarnya pajak ditentukan oleh fiskus dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP). Jadi dapat dikatakan bahwa pajak bersifat pasif. Karena pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang. Indonesia pernah menggunakan sistem ini pada kurun waktu awal kemerdekaan dengan mengadopsi atau tetap memberlakukan beberapa peraturan perpajakan buatan Belanda hingga tahun 1967, ketika diperkenalkan sistem Menghitung pajak Sendiri (MPS) yang oleh sebagian ahli disebut sebagai “semi Self Assessment System”

(2) Self Assessment System

Kebalikan dari Official Assessment System, sistem ini memberi kepercayaan, wewenang, tanggung jawab penuh kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. Sistem ini mulai diaplikasikan bersamaan dengan reformasi perpajakan pada tahun 1983 setelah terbitnya undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang

(11)

“Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang mulai sejak tanggal 1 Januari 1984”.

(3) Witholding System

Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak. Sistem ini tercermin pada pelaksanaan pengenaan Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai contohnya pemotongan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 23 oleh pihak lain.

4. Tarif Pajak

Pemungutan pajak tidak terlepas dari keadilan sebab keadilan dapat menciptakan keseimbangan sosial yang sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam penetapan tarif pun harus mendasarkan pada keadilan. Dalam perhitungan pajak yang terutang digunakan tarif pajak. Tarif pajak adalah tarif untuk menghitung besarnya pajak terutang (pajak yang harus dibayar). Besarnya tarif pajak dapat dinyatakan dalam persentase.

Dalam pajak penghasilan persentase tarifnya dibedakan dua macam yaitu sebagai berikut :

a) Tarif Marginal

Persentase tarif ini berlaku untuk suatu kenaikan dasar pengenaan pajak. Sebagai contoh, dalam perhitungan PPh Badan, tarif marginal untuk setiap

(12)

tambahan Penghasilan Kena Pajak yang melebihi 0 sampai dengan Rp 50.000.000,00 sebesar 10% yang diikuti pula untuk setiap tambahan Penghasilan Kena Pajak diatas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 100.000.000,00 dengan tarif marginal 15% dan seterusnya.

b) Tarif Efektif

Persentase tarif pajak yang efektif berlaku atau harus diterapkan atas dasar pengenaan pajak tertentu. Sebagai contoh apabila Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 80.000.000,00, PPh terutang dihitung :

10% x Rp 50.000.000,00 = Rp 5.000.000,00

15% x Rp 30.000.000,00 = Rp 4.500.000,00

Total = Rp 9.500.000,00

Tarif efektifnya = Rp 9.500.000,00 x 100% = 11,87%

Rp 80.000.000,00

Struktur tarif yang berhubungan dengan pola persentase tarif pajak dikenal 4 (empat) macam tarif, yaitu :

(1) Tarif Proporsional / sebanding

Tarif proporsional adalah tarif berupa persentase yang tetap terhadap berapa pun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak.

(13)

Contoh :

 Untuk penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%.

 Untuk PBB menggunakan tarif 0,5%.

 Untuk BPHTB menggunakan tarif 5%.

(2) Tarif Progresif

Tarif pajak progresif adalah tarif pajak yang persentasenya menjadi lebih besar apabila yang menjadi dasar pengenaannya semakin besar.

Contoh : Pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2009).

Tarif Pajak Penghasilan di Indonesia, yaitu :

Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi :

 0 sampai dengan Rp 50.000.000,00 tarifnya 5%

 Diatas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 250.000.000,00 tarifnya 15%

 Diatas Rp 250.000.000,00 sampai dengan Rp 500.000.000,00 tarifnya 25%

(14)

Untuk Wajib Pajak Badan dan BUT :

 0 sampai dengan Rp 50.000.000,00 tarifnya 10%

 Diatas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 100.000.000,00 tarifnya 15%

 Diatas Rp 100.000.000,00 tarifnya 30%

Untuk tahun pajak 2009 dikenakan tarif tunggal, yaitu : 28%. Sementara mulai tahun pajak 2010 turun kembali menjadi 25%.

Memperhatikan kenaikan persentase tarifnya, tarif progresif dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

 Tarif Progresif Proposional adalah tarif pajak yang persentasenya semakin besar jika dasar pengenaan pajaknya meningkat dan besarnya peningkatan tarifnya adalah sama besar.

 Tarif Progresif Degresif adalah tarif pajak yang persentasenya semakin besar jika dasar pengenaan pajaknya meningkat dan besarnya peningkatan tarifnya adalah semakin kecil.

 Tarif Progresif Progresif adalah tarif pajak yang persentasenya semakin besar jika dasar pengenaan pajaknya meningkat dan besarnya peningkatan tarifnya adalah semakin besar.

(15)

(3) Tarif Degresif / menurun

Tarif degresif adalah tarif pemungutan pajak yang menggunakan persentase yang semakin kecil dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak.

Contoh :

Dasar Pengenaan Pajak tarif pajak

 0 s/d Rp 10.000.000,00 tarifnya 30%

 Diatas Rp 10.000.000,00 s/d Rp 50.000.000,00 tarifnya 28%

 Diatas Rp 50.000.000,00 s/d Rp 100.000.000,00 tarifnya 26%

 Diatas Rp100.000.000,00 tarifnya 24%

(4) Tarif Tetap

Tarif tetap yaitu tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapa pun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

Contoh :

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai, besarnya tarif bea materai untuk cek dan bilyet giro dengan nilai nominal berapa pun adalah Rp 1.000, sedangkan Bea Materai menggunakan struktur tarif ini yakni Rp 3.000,- dan Rp 6.000,-

(16)

5. Pekerjaan Bebas

Pekerjaan bebas menjadi kata kunci pengenaan PPh Pasal 21 dengan perkiraan penghasilan neto dan penerapan norma perhitungan penghasilan neto. Pasal 2 Ayat (1) Kep-545/PJ./2000, salah satunya pasal yang tidak diubah oleh PER-15/PJ/2006, menyebutkan :

“...pemotong pajak adalah perusahaan yang membayar imbalan sehubungan dengan kegiatan jasa, termasuk jasa tenaga ahli dengan status Wajib Pajak dalam negeri yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya”.

Pasal ini menekankan dan mempertegas pengertian pekerjaan bebas yaitu bertindak untuk dirinya sendiri dan atas nama dirinya sendiri bukan bertindak untuk sebuah perusahaan dan jasa diberikan juga bukan atas nama perusahaan. Bila konsumen penerima jasa tidak mengenal atau tidak perlu tahu siapa individu tenaga ahli yang menyerahkan jasa, maka tenaga ahli tersebut dalam memberikan jasa bertindak untuk dan atas nama persekutuannya yang diketahui konsumen penerima jasa adalah perusahaan pemberi jasa dan nama perusahaan itulah sebagai brand atau yang menjadi perhatian konsumen. Disayangkan kata-kata : ‘bertindak untuk dan atas namanya sendiri bukan untuk dan atas nama persekutuannya’ tidak disertakan kembali untuk kembali mempertegas pengertian “pekerjaan bebas” dalam redaksional Pasal 9 ayat (7) Per-15/PJ./2006.

(17)

Definisi pekerjaan bebas secara khusus disebutkan dalam Pasal 1 UU Nomor 16 Tahun 2000, yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. Kata kunci yang dapat diambil dari definisi KUP adalah ‘tidak terikat oleh suatu hubungan kerja’. Hal ini berarti tidak ada hubungan : perusahaan-pegawai, atasan-bawahan, dan ikatan-ikatan sebagaimana lazimnya dalam hubungan kerja, seperti surat keputusan pengangkatan atau pemberhentian, status pegawai, jabatan, absensi, promosi dan mutasi.

Pekerjaan bebas yaitu pekerjaan yang dapat dilakukan orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja (UU KUP, 2011). Pekerjaan bebas dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu pekerjaan bebas dapat dilakukan oleh tenaga ahli dan pekerjaan bebas lainnya. Pekerjaan bebas dapat dilakukan oleh tenaga ahli yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh pengacara, akuntan, dokter, notaris, arsitek, dan konsultan. Sedangkan pekerjaan bebas yang dilakukan oleh diluar tenaga ahli misalnya artis, seniman, atlet, penulis, peneliti, penceramah dan profesional lainnya yang bekerja secara independen bukan sebagai karyawan.

(18)

III. Teori Aplikasi

1. Kemauan Membayar Pajak

Kemauan membayar adalah “suatu nilai dimana seseorang rela

untuk membayar, mengorbankan atau menukarkan sesuatu untuk memperoleh barang atau jasa” (Widaningrum, 2007)

Berdasarkan definisi tersebut, maka kemauan membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum negara dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) secara langsung. Kemauan membayar pajak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : “kondisi sistem administrasi perpajakan suatu negara, pelayanan

pada wajib pajak, pengegakan hukum perpajakan, dan tarif pajak” (Devano

& Siti Kurnia Rahayu, 2009)

Kemauan membayar pajak dipengaruhi oleh “pengetahuan tentang

pajak, persepsi terhadap sanksi pajak, kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, persepsi terhadap para petugas pajak, dan persepsi terhadap kemudahan dalam pelaksanaan sistem pajak” (Sanjaya, 2009).

Bentuk-bentuk persepsi dan alasan persepsi tersebut dapat mengindikasikan kemauan membayar pajak oleh wajib pajak, menurut Tatiana & Priyo, 2009 adalah sebagai berikut :

(19)

(1) wajib pajak merasa jumlah pajak yang harus dibayar tidak memberatkan atau paling tidak sesuai dengan penghasilan yang diperoleh wajib pajak mau membayar pajak apabila beban pajak yang dipikul tidak mempengaruhi kemampuan ekonomis secara signifikan; (2) wajib pajak menilai sanksi-sanksi perpajakan dilaksanakan dengan adil, dengan penilaian ini wajib pajak akan membayar pajak didasari pada kepercayaan bahwa wajib pajak yang tidak membayar akan dikenakan sanksi; (3) wajib pajak menilai pemanfaatan pajak sudah tepat, salah satu pemanfaatan pajak adalah pembangunan fasilitas umum; (4) wajib pajak menilai aparat pajak memberikan pelayanan dengan baik.

Persepsi wajib pajak atas ketersediaan barang dan jasa (fasilitas) untuk “kepentingan umum meningkatkan kepatuhan oleh wajib pajak dimana

kemauan membayar pajak termasuk didalamnya” (Cummings & Vasques,

2005). Kontrak psikologi yang dibangun oleh aparatur pajak dan wajib pajak akan berdampak pada terbentuknya moral pajak yang dapat mempengaruhi wajib pajak untuk mau membayar pajak. Berdasarkan penjelasan tersebut menjelaskan bahwa sikap moral dalam bentuk keinginan atau kemauan untuk membayar pajak sangat diperlukan dengan meningkat bahwa pajak merupakan suatu kewajiban yang mutlak kepada warga negara, maka hal tersebut perlu bagi pihak pemerintah untuk turut serta dalam dalam meningkatkan rasa kecintaan bernegara sejak dini. Kemauan membayar pajak dalam Theory of Planned Behavior (TPB) ini digunakan

(20)

untuk mengetahui pengaruh minat berperilaku (behavior intention) terhadap perilaku (behavior). Apabila wajib pajak sudah memiliki minat atau sadar membayar pajak tinggi maka wajib pajak mau membayar pajak tepat waktu.

2. Kesadaran Membayar Pajak

Kesadaran merupakan “unsur dalam manusia dalam memahami

realitas dan bagaimana cara untuk bertindak maupun menyikapi terhadap realitas” (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 2005). Kesadaran membayar

pajak memiliki arti keadaan dimana seseorang mengetahui, memahami, dan mengerti tentang cara membayar pajak. Dengan meningkatnya pengetahuan dan pemahaman tentang perpajakan dan pelayanan fiskus yang berkualitas akan berpengaruh terhadap kesadaran membayar pajak.

Karakteristik wajib pajak yang dicerminkan oleh kondisi budaya, sosial, dan ekonomi akan membentuk perilaku wajib pajak. Apabila kesadaran bernegara kurang maka masyarakat kurang dapat mengenal dan menikmati pentingnya berbangsa dan bertanah air, berbahasa nasional, menikmati keamanan dan ketertiban, memiliki dan menikmati kebudayaan nasional dan pada akhirnya apabila kesadaran bernegara kurang maka rasa memiliki dan menikmati manfaat pengeluaran pemerintah juga kurang sehingga kesadaran membayar pajak juga tidak tebal, (Marihot, 2010).

Pada sebagian besar masyarakat dalam hal ini masyarakat indonesia, tingkat kesadaran dalam membayar pajak sendiri di rasa sangat kurang.

(21)

satu sebab banyaknya potensi pajak yang tidak dapat dijaring” (Soemarso

& Agus, 2006). Terdapat empat indikator penting dalam meningkatkan kesadaran wajib pajak menurut Suryadi, 2006 adalah sebagai berikut :

1) menciptakan persepsi positif wajib pajak terhadap kewajiban perpajakannya, 2) mempelajari karakteristik wajib pajak, 3) meningkatkan pengetahuan wajib pajak, dan 4) penyuluhan perpajakan kepada wajib pajak.

Peran aktif pemerintah untuk menyadarkan masyarakat akan pajak sangat diperlukan baik berupa penyuluhan atau sosialisasi rutin ataupun berupa pelatihan secara intensif agar kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dapat meningkat atau dengan kebijakan perpajakan dapat dapat digunakan sebagai alat untuk menstimulus wajib pajak agar melaksanakan atau meningkatkan kesadaran dalam membayar pajak. Beberapa bentuk kesadaran dalam membayar pajak, terdapat tiga bentuk kesadaran utama terkait pembayaran pajak : a) kesadaran bahwa pajak merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara, dengan menyadari hal ini wajib pajak mau untuk membayar pajak karena merasa tidak dirugikan dari pemungutan pajak yang dilakukan; b) kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak sangat merugikan negara, wajib pajak mau membayar pajak karena memahami bahwa pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak berdampak pada berkurangnya sumber daya finansial yang dapat mengakibatkan terhambatnya pembangunan

(22)

negara; c) kesadaran bahwa pajak ditetapkan dengan undang-undang dan dapat dipaksakan, wajib pajak akan membayar pajak karena pembayaran pajak disadari memiliki landasan hukum yang kuat dan merupakan suatu kewajiban mutlak setiap warga negara.

Berdasarkan penjelasan diatas, kesadaran membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu bentuk sikap moral yang memberikan sebuah konstribusi kepada negara untuk menunjang pembangunan negara dan berusaha untuk mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh negara serta dapat dipaksakan kepada wajib pajak. Disamping itu, “kesadaran

dalam memenuhi kewajiban perpajakan bukan hanya terdapat hal-hal teknis saja seperti pemeriksaan pajak, tarif pajak, tetapi juga bergantung pada kemauan wajib pajak untuk mentaati ketentuan perundang-undangan perpajakan” (Sony Devano & Siti Kurnia Rahayu, 2006)

Kesadaran membayar pajak dalam Theory of Planned Behavior (TPB) pada penelitian ini sebagai minat berperilaku (behavior intention). Karena, minat berperilaku (behavior intention) ini dipengaruhi oleh kontrol perilaku (pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan yang diberikan oleh DJP kepada wajib pajak secara intensif), sikap (pelayanan yang diberikan oleh fiskus turut membentuk sikap wajib pajak dalam mengikuti proses perpajakan), norma subjektif (wajib pajak merasa bahwa sistem perpajakan yang ada adalah terpercaya, handal dan akurat, maka wajib pajak akan memiliki pandangan yang positif untuk membayar pajak).

(23)

3. Pengetahuan dan Pemahaman akan Peraturan Perpajakan

Pengetahuan adalah “apa yang diketahui oleh manusia atau hasil

pekerjaan manusia menjadi tahu” (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,

2005). Pengetahuan ini merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Pengetahuan akan peraturan perpajakan bisa diperoleh wajib pajak melalui seminar tentang perpajakan, penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan Ditjen Pajak. Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan perbuatan cara. Berdasarkan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan adalah proses dimana wajib pajak mengetahui tentang perpajakan dan mengaplikasikan pengetahuan itu untuk membayar pajak.

Pengertian pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan menurut Resmi, 2009 adalah sebagai berikut :

“mengerti dan paham tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang meliputi tentang bagaimana cara menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), pembayaran, tempat pembayaran, denda, dan batas waktu pembayaran dan pelaporan SPT”

Beberapa indikator wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan, yaitu : (1) kepemilikan NPWP, setiap wajib pajak yang memiliki penghasilan wajib untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP sebagai salah satu sarana untuk pengadministrasian pajak; (2)

(24)

pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai wajib pajak, apabila wajib pajak telah mengetahui kewajibannya sebagai wajib pajak maka mereka akan melakukannya salah satunya adalah membayar pajak; (3) pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan semakin tahu dan paham pula wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, maka semakin tahu dan paham pula wajib pajak terhadap sanksi yang akan diterima bila melalaikan perpajakan mereka, hal itu tentu akan mendorong setiap wajib pajak yang taat akan menjalankan kewajibannya dengan baik; (4) pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP, dan tarif pajak, dengan mengetahui dan memahami mengenai tarif pajak yang berlaku maka akan dapat mendorong wajib pajak untuk dapat menghitung kewajiban pajak sendiri secara benar; (5) wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh KPP; (6) wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training yang mereka ikuti.

Pengetahuan dan pemahaman wajib pajak mengenai peraturan perpajakan berkaitan dengan persepsi wajib pajak dalam menentukan perilakunya (Perceived control behavior) dalam kesadaran membayar pajak. Semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman wajib pajak, maka wajib pajak dapat menentukan perilakunya dengan lebih baik dan sesuai dengan ketentuan pajak. Namun, jika wajib pajak tidak memiliki pengetahuan mengenai peraturan dan proses perpajakan maka wajib pajak tidak menentukan perilakunya dengan tepat.

(25)

4. Persepsi yang Baik atas Efektivitas Sistem Perpajakan

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan membayar pajak, maka diperlukan perubahan atau penyempurnaan dan perbaikan dalam sistem administrasi modern yang berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.01/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktoral Jenderal Pajak mengenai peningkatan ketertiban administrasi, efektivitas, dan kinerja organisasi instansi vertikal di lingkungan Direktoral Jenderal Pajak yang mencakup semuka lini operasi organisasi secara nasional.

Berdasarkan hal tersebut diharapkan sistem perpajakan yang sekarang sudah ada seperti e-SPT, e-Filling, e-NPWP, e-registration, e-Banking, dan

drop box dan lain-lain dapat lebih sempurna serta memberikan kemudahan

kepada wajib pajak dalam membayar pajak atau melaporkan kewajiban perpajakan dan dapat memberikan pencitraan atau persepsi yang baik kepada hal yang terkait dengan pajak terutama pada sistem perpajakan. Hal-hal yang mengindikasikan efektivitas sistem perpajakan yang saat ini dapat dirasakan oleh wajib pajak antara lain : (a) adanya sistem pelaporan melalui

e-SPT dan e-filling, wajib pajak dapat melaporkan pajak secara lebih mudah

dan cepat; (b) pembayaran melalui e-banking yang memudahkan wajib pajak dapat melakukan pembayaran dimana saja dan kapan saja; (c) penyampaian SPT melalui drop box yang dapat dilakukan diberbagai tempat tidak harus di KPP tempat wajib pajak terdaftar; (d) peraturan perpajakan dapat diakses secara lebih cepat melalui internet tanpa harus menunggu

(26)

adanya pemberitahuan dari KPP tempat wajib terdaftar; (e) pendaftaran NPWP yang dapat dilakukan secara online melalui e-registration dan

website pajak, hal ini akan memudahkan wajib pajak untuk memperoleh

NPWP secara lebih cepat.

Persepsi wajib pajak terhadap sistem perpajakan di Indonesia berkaitan dengan media yang digunakan dalam membayar pajak. Jika wajib pajak merasa bahwa sistem perpajakan yang ada adalah terpercaya, handal, dan akurat, maka wajib akan memiliki pandangan positif untuk sadar membayar pajak. Namun jika sistem perpajakan yang ada tidak memuaskan bagi wajib pajak, maka hal itu dapat turut mempengaruhi kesadaran wajib pajak.

5. Pelayanan Fiskus yang Berkualitas

Pelayanan yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kepuasan kepada pelanggan. Suatu layanan dapat dikatakan baik apabila usaha yang dijalankan sesuai dengan apa yang diharapkan. Pelayanan yang berkualitas adalah “pelayanan yang dapat memberikan

kepuasan kepada pelanggan dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan serta harus dilakukan secara terus-menerus” (Ni Luh Supadmi, 2009)

Tuntutan pelayanan yang cepat, mudah, murah dan akurat merupakan

“harapan masyarakat untuk melaksanakan kewajiban perpajakan”

(27)

dijelaskan diatas bahwa pentingnya kualitas pelayanan pada wajib pajak merupakan suatu faktor penting bagi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk meningkatkan kemauan membayar pajak pada wajib pajak agar penerimaan negara melalui sektor pajak dapat lebih besar. Memberikan pelayanan yang baik kepada wajib pajak maka wajib pajak akan merasa senang dan merasa dimudahkan serta terbantu dalam penyelesaian kewajiban perpajakannya.

Hal tersebut tentunya tidak lepas dari peran vital yang diemban oleh setiap petugas pajak. Petugas pajak dituntut untuk mampu melayani setiap wajib pajak dengan baik, sopan santun memiliki keahlian dan pengetahuan dibidang pajak yang tentunya akan menunjang kualitas dari pelayanan petugas pajak kepada wajib pajak. Selain itu, peralatan yang dimiliki oleh kantor pajak tentunya juga diperlukan sebagai alat komunikasi, komputer, ruang tunggu yang bagus, nomor antrian, serta peralatan penunjang lainnya.

Pelayanan yang diberikan oleh fiskus selama proses perpajakan berkaitan dengan sikap wajib pajak. Proses perpajakan melibatkan fiskus dan wajib pajak membuat pelayanan yang diberikan oleh fiskus turut membentuk sikap wajib pajak dalam mengikuti proses perpajakan. Semakin baik pelayanan fiskus maka wajib pajak akan memiliki sikap yang positif terhadap proses perpajakan. Namun, jika pelayanan fiskus tidak baik hal itu akan membuat wajib pajak enggan untuk membayar pajak sesuai ketentun yang berlaku.

(28)

B. Review Penelitian Sebelumnya

Beberapa penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan kemauan membayar pajak diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Widayati dan Nurlis (2010). Variabel independen yang digunakan adalah kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem pemerintahan dan hukum. Variabel terikat yang digunakan adalah kemauan membayar pajak. Hasil penelitian adalah kesadaran membayar pajak, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, tingkat kepercayaan terhadap sistem pemerintahan dan hukum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemauan membayar pajak.

Penelitian Kiryanto, 2000 menyimpulkan bahwa semua variabel bebas yang digunakan yaitu lingkungan pengendalian, sistem akuntansi dan prosedur pengendalian baik secara parsial maupun bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan. Penelitian Chatarina, 2004 menyimpulkan bahwa sikap aparat pajak tidak mempengaruhi kesadaran membayar pajak, namun sikap aparat pajak bersama-sama dengan pembelajaan pajak dan sosialisasi perpajakan secara signifikan mempengaruhi kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak.

(29)

Tabel 2.1

Review Penelitian Sebelumnya

Peneliti Variabel Alat Analisis Hasil

Jatmiko, (2000)

Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah sikap wajib pajak terhadap pelaksanaan sanksi denda, sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus dan sikap wajib pajak terhadap kesadaran

perpajakan. Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepatuhan wajib pajak.

Analisis Regresi Berganda

Sikap wajib pajak terhadap sanksi denda. Sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus dan sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan

memiliki pengaruh yang positif yang signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Kiryanto, (2000)

Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah lingkungan pengendalian, sistem akuntansi dan prosedur pengendalian dan tingkat kepatuhan wajib pajak. Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Badan dalam Memenuhi Kewajiban Pajak Penghasilan (PPh) Analisis Regresi Berganda Semua variabel bebas yang digunakan yaitu lingkungan pengendalian, sistem akuntansi dan prosedur pengendalian baik secara parsial maupun bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak Chatarina, (2004)

Variabel bebas yang digunakan adalah sikap aparat pajak, pembelajaran pajak dan sosialisasi pajak sedangkan variabel terikat yang digunakan kesadaran wajib pajak dalam

membayar pajak.

Analisis Regresi Berganda

Sikap aparat pajak tidak

mempengaruhi kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak, namun sikap aparat pajak bersama-sama dengan pembelajaran pajak

(30)

dan sosialisasi perpajakan secara signifikan mempengaruhi kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak Widayati dan Nurlis, (2010)

Variabel bebas yang

digunakan adalah kesabaran membayar pajak,

pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan. variabel terikat yang digunakan adalah kemauan membayar pajak

Analisis Regresi Berganda

Kesadaran membayar pajak dan persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kemauan membayar pajak. Sementara pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemauan membayar pajak. Santi, Anisa Nurmala (2012)

Variabel bebas yang digunakan adalah kesadaran perpajakan, sikap rasional. Variabel terikat yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak. Analisis Regresi Linear Berganda Kesadaran perpajakan, sikap rasional, lingkungan, sanksi denda dan sikap fiskus berpengaruh positif, dan signifikan terhadap kepatuhan membayar pajak. Arum, Harjanti Puspa, (2012)

Variabel bebas yang digunakan adalah kesadaran wajib pajak, pelayanan fiskus dan sanksi pajak. Variabel terikat yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak.

Analisis Regresi Berganda

Kesadaran wajib pajak, pelayanan fiskus dan sanksi pajak memiliki pengaruh yang positif , dan signifikan terhadap

(31)

kepatuhan wajib pajak.

C. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini adalah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi wajib pajak orang pribadi dalam memenuhi kewajiban pajaknya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak lima variabel yaitu empat variabel independen dan satu variabel dependen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesadaran membayar pajak (X1), pengetahuan dan pemahaman akan peraturan

perpajakan (X2), persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan (X3),

dan pelayanan fiskus yang berkualitas (X4). Sedangkan variabel independen

pada penelitian ini adalah kemauan membayar pajak (Y). Untuk lebih jelasnya akan ditampilkan ringkasan gambar kerangka pemikiran yang akan ditunjukkan pada gambar 2.2

(32)

Gambar 2.2

Kerangka Pemikiran Teoritis

Variabel Independen Variabel Dependen

B Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan pajak (X2) Pelayanan fiskus yang berkualitas (X4)

Persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan (X3) Kemauan membayar pajak (Y) Kesadaran membayar pajak (X1)

Kesadaran membayar pajak, pemahaman dan pengetahuan akan peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan, pelayanan fiskus yang berkualitas (X1, X2, X3, X4)

Gambar

Gambar 2.1  Theory of Planned Behavior

Referensi

Dokumen terkait

Pasific Harvest, tiap langkah dari proses produksi akan dianalisa dengan menggunakan tabel, yang meliputi analisa bagian biologi, fisik, kimia dari tiap langkah pembuatan

Terlebih lagi, ditemukan pula pada penelitian Saraswati (2016) yang menyatakan terdapat perbedaan self- compassion antara remaja yang tinggal dengan orang tua

cikke, mely szerint az Egyezmény egyik rendelkezését sem lehet úgy értelmezni, hogy az bármely állam, csoport vagy személy számára jogot biztosítana az Egyezményben

Dengan melihat hasil estimasi ketidakpastian dan relatif deviasi hasil pengukuran tersebut, maka metoda teknik spektrometri gamma untuk

PWH (jalan sarad, jalan angkutan, Tpn) -emisi kayu yang menjadi produk hasil hutan. -peningkatan karbon

Tahap pekerjaan lapangan terdiri dari pekerjaan survey pendahuluan, survey inventarisasi kondisi dan geometrik jalan, survey inventarisasi.. kondisi jembatan, survey topografi,

Dampak kedepannya terhadap pengelolaan sampah yakni diharapkan terdapat penyempurnaan fungsi kelembagaan yang berperan untuk mengawasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat

Dengan petunjuk penggunaan indeks beranotasi ini dapat membantu pemustaka dalam menelusuri kudapan tradisional khas Riau berbahan pokok tepung sagu yang telah dibuat dalam