• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN TEORI DEMOKRASI ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEMBANGUN TEORI DEMOKRASI ISLAM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

MEMBANGUN TEORI

DEMOKRASI ISLAM

(2)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m Alexis de Tocqueville, pemikir Perancis

abad ke-19, pernah menyatakan bahwa hubungan antara agama dan demokrasi di Barat adalah “satu masalah besar pada masa ini.” Meskipun mungkin hubungan keduanya kini bukan lagi masalah besar di Barat, situasinya benar-benar berbeda di dunia Islam. Di sini, hubungan keduanya masih dicirikan oleh ketegangan yang akut, dan banyak kalangan terus bergelut mengatasinya. Buku ini sumbangan ke arah itu. Sambil berkaca pada hubungan agama dan demokrasi dalam sejarah dan pemikiran Barat, Nader Hashemi mencoba menawarkan sejumlah kemungkinan teoretis dan empiris bagi tumbuhnya dukungan

kaum Muslim terhadap demokrasi, berdasarkan konsep “toleransi kembar” antara lembaga-lembaga agama dan negara. ABSTRAK

Toward a Democratic Theory for Muslim

Societies

(Oxford: Oxford University Press,

(3)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

S

eraya mengutip pernyataan de

Tocqueville di atas, buku ini ditulis dengan maksud mengurai ketegangan Islam dan demokrasi. Bagi penulisnya, ini bukan hanya soal kesarjanaan, tapi juga moral dan personal. Nader Hashemi adalah seorang sarjana berkebangsaan Kanada, dan kini bekerja sebagai gurubesar ilmu politik pada Josef Korbel School of International Studies, University of Denver, Amerika Serikat. Dia belakangan sering tampil di media-media massa populer, termasuk diwawancarai berbagai stasiun televisi mengenai demokratisasi yang kini berlangsung di banyak negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan baru-baru ini menerbitkan The People Reloaded: The Green Movement and the Struggle for Iran’s Future (2011). Sebagai seorang Muslim dan pecinta demokrasi, dia kecewa pada narasi yang umum beredar mengenai Islam dan demokrasi. Dalam buku ini, yang berasal dari disertasinya di Universitas Toronto, Kanada, dia

(4)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m menawarkan gagasan-gagasan baru

mengenai bagaimana meredakan ketegangan di atas, dengan belajar dari hubungan agama dan demokrasi dalam sejarah dan pemikiran Barat. Hashemi pertama-tama mengeritik pandangan yang luas beredar

mengenai inkompatibilitas agama dan demokrasi liberal. Dia memulainya dengan menelusuri sejarah peran-peran yang dimainkan agama dalam demokratisasi Barat, langsung atau tidak. Dengan mendasarkan diri pada wawasan historis berjangka-panjang (longue durée) yang dikembangkan Fernand Braudel, seorang sejarawan Perancis, dan karya Michael Walzer tentang pengaruh kaum Puritan terhadap modernisasi, Hashemi menarik

sejumlah pelajaran yang bisa diambil untuk lebih memahami evolusi

politik yang berlangsung di dunia Islam sekarang dan memecahkan masalahnya. Dari penelusuran

historis ini, dia mengajukan argumen, yang bertentangan dengan pandangan

(5)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

umum, bahwa banyak dari apa yang kita dambakan sekarang, yang sama-sama kita cita-citakan, termasuk hubungan antara agama, sekularisme, dan demokrasi liberal, muncul dari benturan dan aksi-aksi bargaining. Karenanya, kita juga tak bisa

berharap yang lain dari itu di dunia Islam.

Banyak pemikir dan pemimpin politik Muslim, seperti pemikir liberal Abdul Karim Soroush (Iran) atau pemimpin Islamis Rachid al-Ghanoushi

(Tunisia), sudah mengajukan argumen seperti di atas. Yang baru dan

segar pada Hashemi adalah bahwa argumen-argumennya ditopang oleh contoh-contoh konkret dari sejarah Barat dan dari para pemikir Barat yang menonjol. Dia menawarkan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa tampilnya para “wali”, “orang suci” dan kaum “fanatik agama” di tengah pergolakan sosial adalah fakta-fakta historis dan sosiologis yang tak bisa dibantah. Pendudukan kaum Anabaptis atas kota Muster di Jerman pada 1534, peristiwa yang begitu

(6)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m berdarah-darah dalam perkataan dan

perbuatan mereka, kata Hashemi, tak jauh beda dari apa yang dilakukan Taliban dan kalangan ekstremis lainnya di dunia Islam hari-hari ini. Jika kesamaan-kesamaan bisa ditarik antara apa yang dulu terjadi di

Barat dan apa yang kini berlangsung di dunia Islam, kita juga dapat

melihat sejumlah kemungkinan

bagaimana kalangan agama, termasuk kelompok ekstremnya, bisa memberi sumbangan kepada demokratisasi, baik langsung atau tidak. Salah satu pelajaran itu adalah bahwa kaum ekstremis agama bisa berlaku sebagai semacam bidan bagi berlangsungnya proses demokratisasi. Itu antara lain terjadi ketika perilaku fanatik atau ekstremis menjadi semacam katalisator yang memberi petunjuk bahwa perubahan harus terjadi, jika kita tak mau mati. Dengan kata lain, bahkan ekstremisme dan fanatisme pun pada akhirnya adalah sebuah pelajaran buruk yang harus dihindari. Hashemi percaya pada siklus regressi, perbaikan, dan pembaharuan.

(7)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

Pada Bab II, Hashemi beralih

kepada kemungkinan agama sebagai sumber positif bagi demokrasi. Dia memokuskan perhatian pada pandangan Locke tentang agama, dengan mengutip pernyataannya ini: “For obedience is due in the first place to God, and afterwards to the Laws.” Parhatikan bahwa, kata Hashemi, pandangan itu, yang menomorsatukan titah Tuhan daripada hukum sekular, tidak datang dari seorang Ayatullah Khomeini, tetapi seorang John Locke, salah satu pemikir terpenting, jika bukan bapak, liberalisme modern. Ini mengisyaratkan bahwa menjadi

religius dan demokrat pada saat yang bersamaan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Sekarang, kata Hashemi, baik

kalangan sekularis maupun kalangan Islamis yang pro- dan

anti-demokrasi di dunia Islam sama-sama mendasarkan diri pada penafsiran tertentu terhadap sumber-sumber keagamaan. Dia menyabut fenomena ini sebagai “duel ayat.” Soalnya

(8)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m adalah sejauhmana kalangan

pro-demokrasi berhasil memenangkan duel ini, dan membuka ruang bagi demokratisasi lebih jauh.

Sesudah melihat kemungkinan

sumbangan agama di atas, pada bab ketiga Hashemi beralih kepada soal sekularisme. Dia mendiskusikan pandangan umum bahwa sekularisme adalah sesuatu yang wajib ada (sine qua non) bagi demokrasi liberal. Bagi Hashemi, dan dia jelas benar, di sinilah terletak ketegangan paling akut antara agama dan demokrasi. Dia tak langsung menentang hal ini, tapi mencatat satu fakta penting: sementara di Barat sekularisme dikaitkan dengan perkembangan-perkembangan positif, di dunia Islam hal itu diasosiasikan dengan agenda-agenda kolonial/imperialis, rezim-rezim opresif, dan sikap bermusuhan terhadap agama seperti dicontohkan oleh versinya yang lebih kaku di Perancis (laïcité).

Dari latar belakang ini, yang diperlukan sekarang, menurut

(9)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

Hashemi, adalah hubungan yang memadai antara sekularisme dan demokrasi liberal. Ini

mengantarkannya pada pembahasan mengenai beragam bentuk

sekularisme. Pada titik ini, dia menemukan bahwa konsep ilmuwan politik Alfred Stepan tentang “toleransi kembar” sangat menjanjikan. Jantung konsep

Stepan, yang menyatakan bahwa baik lembaga-lembaga agama maupun negara harus saling mengakui dan menghargai kebebasan dan batasnya masing-masing (dengan kata lain: toleransi kembar), membuka kemungkinan paling besar bagi kedua belah pihak untuk saling mengakomodasi.

Pada bagian akhir bukunya, yang dapat disebut sumbangan khususnya, Hashemi menawarkan dibangunnya sekularisme “asli” versi Islam, berdasarkan “toleransi kembar” model Stepan dan reformasi

menyeluruh atas pemikiran Islam. Studi-studi kasusnya dari Iran, Turki dan Indonesia menunjukkan

(10)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m bahwa ada perdebatan serius di sana

menyangkut perlunya perumusan-ulang pemikiran sosial dan politik dari dalam, dalam cara-cara yang sejalan dengan warisan ajaran Islam. Ini semua bukan modal yang sedikit. Buku ini menawarkan cara pandang baru terhadap masalah kompatibilitas Islam dan demokrasi. Argumen

Hashemi secara langsung dan meyakinkan menentang argumen yang esensialis dan ahistoris, tapi populer, mengenai “Islam sebagai pengecualian” (Islamis exceptionalism) seperti yang dikembangkan sejarawan Bernard Lewis. Hashemi juga menolak tegas konsepsi ilmuwan politik Samuel Huntington yang juga populer mengenai “benturan peradaban” (clash of civilizations) yang secara langsung menghadap-hadapkan Islam dan Barat. Dengan melihat kesejajaran antara sejarah Barat dan Islam, Hashemi justru ingin mengajak para pembacanya untuk memandang masalah ini sebagai

(11)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m

masalah manusia bersama dan harus dipecahkan bersama.

Argumen Hashemi akan memperoleh tantangan baik dari kubu liberal maupun Islamis. Bagi sebagian kalangan liberal, dia akan dipandang sebagai terlalu banyak meletakkan dasar demokrasi liberal pada agama. Sebaliknya, kalangan Islamis akan mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari mengapa demokrasi liberal dianggap sebagai model tatakelola sosial-politik yang paling baik. Tapi karya ini jelas akan disambut gembira oleh kalangan Muslim demokrat yang sudah gerah baik terhadap konservatisme Islam, yang di banyak negara seperti Mesir dan Yaman mendukung otoritarianisme, maupun Islamisme, yang di negara-negara seperti Iran dan Sudan menjadi alasan bagi pembangunan teokrasi. Selanjutnya, mereka

menunggu dari Hashemi dan sarjana-sarjana Muslim lain yang bekerja dalam arah yang serupa, misalnya

(12)

D

ivis

i Muslim D

em

ok

ra

ti

s

P

e

rp

u

st

a k

a a n D i g

ita

l

w w w. m u s l i m de m o k ra ti s . c o m © 2011

Review Buku ini diterbitkan oleh Divisi Muslim Demokratis.

Jika Anda berminat mendapatkan buku (ebook) yang direview, silakan isi

form permintaan. Kode buku: NHI001

Abdullahi Ahmed An-Na`im, elaborasi lebih jauh dari prinsip-prinsip dasar tentang Islam dan demokrasi yang sudah mereka susun.

Referensi

Dokumen terkait

lain pada bauran promosi yang mempengaruhi keputusan pembelian selain periklanan, promosi penjualan dan hubungan masyarakat dalam menggunakan Traveloka. 2)

JIMKI menerima artikel penelitian asli (original article) yang berhubungan dengan dunia kedokteran, kesehatan masyarakat, ilmu dasar kedokteran, baik penelitian

Pada Tabel 2 dapat dilihat kitosan yang telah termodifikasi lebih larut air seperti hasil penelitian ini yang menunjukkan kitosan termodifikasi autoklaf meningkat

Jika sekiranya kemudian dapat dibuktikan bahwa tuduhan suaminya tidak benar, dalam artian anak yang lahir dari isteri yang di li’an tersebut terbukti mempunyai hubungan darah

1) Menentukan materi lagu ansambel (musik nusantara) yang akan digunakan dalam proses pembelajaran yaitu lagu pop dengan judul ”Betapa” karya Eross Chandra ”Sheila On 7”...

Sel mukus terdiri atas dua macam sel yaitu sel mukus permukaan dan sel leher mukus. Sel mukus permukaan memiliki bentuk kubus sampai silindris dengan inti bulat sampai oval

Tanah vertisol dan mineral zeolit yang memiliki kelengasan sesuai dengan ekologi nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae sehingga dapat hidup pada jangka

Untuk kelancaran penyelenggaraan, calon peserta diwajibkan mendaftar secara online di website bhpkciloto.or.id (agenda pelatihan - pelatihan enurnerator Riskesdas