MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 14/PUU-X/2012
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2011
TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
[PASAL22 AYAT (3)]
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 14/PUU-X/2012
PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman [Pasal 22 ayat (3)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
Dewan Penggurus Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (DPP-APERSI
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Jumat, 10 Februari 2012, Pukul 14.20 –14.48 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Muhammad Alim (Ketua)
2) Anwar Usman (Anggota)
3) Hamdan Zoelva (Anggota)
Pihak yang Hadir: A. Pemohon:
1. Anton R. Santoso (Sekretaris Jenderal DPP-APERSI)
2. Rino (APERSI)
B. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Muhammad Joni
2. Ariffani Abdullah
3. Zulhaila
1
1. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Bismillahirrahmaanirrahim. Sidang Pemeriksaan Pendahuluan atas Permohonan Nomor 14/PUU-X/2012 kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Saudara Pemohon dan tim kuasanya ya. Kami persilakan siapa yang hadir pada kesempatan ini. Silakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb.
3. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Waalaikumsalam wr. wb.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Atas perkenan, Yang Mulia. Kami ingin melaporkan hari ini hadir saya sendiri Muhammad Joni, S.H., M.H., selaku Kuasa Hukum DPP-APERSI, di sebelah kiri saya kuasa hukum juga yaitu Saudara Ariffani dan di belakang ada Ibu Zulhaila dan Ibu Rosi. Di sebelah kanan saya hadir Pemohon Prinsipal, Yang Mulia, yaitu Bapak Ir. Anton R. Santoso, M.B.A., Beliau adalah Sekretaris Jenderal DPP-APERSI, sebelah kanan saya dan Pak Rino dari APERSI juga. Demikian, Yang Mulia, terima kasih. Assalamualaikum wr. wb.
5. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Waalaikumsalam wr. wb. Saudara Pemohon, Kuasa Pemohon, saya … inikan apa … sudah kami terima ini permohonannya. Nanti dicoba di … tolong dijelaskan pokok-pokoknya saja karena kalau … jangan dibaca seluruhnya karena kami kan sudah menerimanya. Nanti pokok-pokoknya saja termasuk nanti petitumnya. Saya persilakan.
6. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Terima kasih, Yang Mulia. Atas perkenan, Yang Mulia, kami sampaikan pokok-pokok permohonan yang diajukan oleh DPP-APERSI yaitu Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia.
Yang Mulia, yang menjadi pokok uji dalam permohonan ini yaitu ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011. Sebagaimana telah kami sampaikan yang berbunyi sebagai berikut, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 m².”
7. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Ya.
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.20 WIB
2
8. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Ini Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011.
9. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Betul.
10. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Sedangkan batu ujinya, Yang Mulia. Ada 3 yaitu pertama Pasal 28H ayat (1) yang di sana tercantum hak konstitusional untuk bertempat tinggal atau rumah. Yang kedua, Pasal 28H ayat (4) yaitu berkaitan dengan hak milik. Yang ketiga adalah Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Adapun pokok alasan yang diajukan oleh Pemohon adalah sebagai berikut.
Yang pertama bahwa secara konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak konstitusi seluruh rakyat untuk mendapatkan tempat tinggal, bertempat tinggal, atau mendapatkan hak atas rumah dan itu bersesuaian pula dengan ketentuan internasional yang diatur di dalam sejumlah instrumen HAM internasional termasuk pula di dalam Undang-Undang HAM Pasal 40 tentang Hak Asasi Manusia. Dengan adanya ketentuan … dengan dasar hak konstitusional itu sebagai batu ujinya, maka menurut pendapat kami ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2000 … Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 yang berbunyi, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 m².” Adalah merupakan norma yang melanggar hak konstitusional Pemohon dan seluruh rakyat karena adanya pembatasan terhadap hak konstitusional untuk memperoleh rumah. Dan pembatasan itu dituangkan ke dalam norma dan norma inilah yang menjadi alasan mengapa Pasal 22 ayat (3) ini merupakan pasal yang melanggar hak konstitusional Pemohon.
Selain dari pada itu pada faktanya ada orang miskin yang cukup banyak 57 juta penduduk miskin dan sebagian mereka adalah masyarakat berpenghasilan lemah yang belum mempunyai rumah. Masih banyaknya orang atau kelompok masyarakat yang tuna wisma tidak memiliki rumah sampai pa … dengan saat ini. Harga rumah yang semakin tinggi, eskalasi, backlog, dan inflasi rumah yang juga sangat tinggi pemilik tanah yang dalam ukuran kecil tidak dapat membangun rumah. Kemudian persyaratan luas lantai 36 ini mengakibatkan rakyat tidak memperoleh fasilitas untuk pembiayaan, sehingga dengan demikian harga rumah yang 36 ini … lantai 36 ini mengakibatkan daya beli semakin tidak terjangkau oleh masyarakat dan sejumlah alasan-alasan lain termasuk efek domino dari pada peraturan ini tidak diterbitkannya IMB, tidak lagi diperolehnya PPN, tidak lagi diperolehnya fasilitas LFPP, dan sejumlah alasan lain yang kami sampaikan.
Akibat dari pada ketentuan ini dengan fakta yang ada di atas … di muka, menimbulkan kerugian konstitusional yang dapat diperkirakan. Yang pertama, atau antara lain adalah harga rumah akan semakin tinggi dan mengakibatkan tidak terjangkau oleh kelompok MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Akumulasi dan eskalasi (backlock) atau defisit perumahan yang semakin tinggi. Kemudian, kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah atau MBR akan makin sulit mengakses rumah untuk memperoleh rumah karena harga yang semakin tinggi, sementara tingkat
3 eskalasi pendapatan tidak sebanding. Resistansi penanganan meluasnya permukiman kumuh dan munculnya berbagai masalah sosial akibat tersitanya waktu orang untuk berada di luar rumah karena tidak mempunyai rumah. Dan hilangnya potensi pendapatan akibat gagalnya mereka memiliki rumah sebagai instrumen investasi dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan pendapatan. Dan ini semua juga tentu kontraproduktif terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 itu sendiri, yang di dalamnya memberikan kewajiban kepada Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi MBR sebagaimana Pasal 54 ayat (1).
Itu adalah alasan-alasan yang kami sampaikan, Yang Mulia. Untuk batu uji Pasal 28H ayat (4), yaitu tentang setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lah, setiap orang berhak untuk mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil secara sewenang-wenang oleh siapapun. Dengan adanya ketentuan Pasal 22 ayat (3) ini, setiap orang yang hanya mempunyai luas lantai tertentu untuk membangun rumah di bawah luas lantai 36, akan gagal membangun rumahnya sebagai milik pribadi. Sehingga terjadilah apa yang disebut tidak termanfaatkan lahan kecil di bawah 36 untuk membangun rumah di bawah luas lantai 36 dan ini adalah melanggar hak konstitusional atas hak milik. Yaitu, berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil secara sewenang-wenang oleh siapapun. Dan kami juga menyampaikan alasan-alasan untuk Pasal 28H ayat (1) tadi secara mutatis mutandis, diambil alih untuk Pasal 28H ayat (4).
Yang ketiga adalah ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 ini menghambat keadilan dan perlakuan yang tidak adil karena mengakibatkan rakyat miskin atau kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh rumah. Istilah kata kalau mereka cuma mampu untuk membeli nasi itu di warung tegal, mengapa harus dipaksakan untuk membeli nasi kotak di warung rumah makan yang lebih mahal. Tentu ini adalah sebuah pilihan konstitusional untuk memilih rumah ukuran berapa yang harus mereka beli dan dibutuhkan.
Dengan alasan-alasan tersebut, Yang Mulia. Kami menyampaikan permohonan atau petitum yang akan kami bacakan sebagai berikut.
1. Menyatakan ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2011 yang berbunyi, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 meter persegi bertentangan dengan Pasal 28H ayat (1), Pasal 28H ayat (4), Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.”
2. Menyatakan ketentuan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2011 yang berbunyi, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 m².” Tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat atau inkonstitusional bersyarat sepanjang tidak diartikan dengan luas lantai paling sedikit 21 meter persegi.
3. Menyatakan ketentuan Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2011 yang berbunyi, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 m².” Hanya mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diartikan dengan luas lantai paling sedikit 21 m². Sehingga Norma Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 menjadi berbunyi, “Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 21 m².” Kami koreksi, Yang Mulia. Menjadi 21 m².
4
11. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Enggak! Nanti, nanti kan Anda perbaikan lagi. Terus?
12. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Keempat, memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Subsider, mohon keadilan seadil-adilnya.
Demikian, Yang Mulia. Terima kasih atas perkenan dan waktunya. Assalamualaikum wr.wb.
13. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Waalaikumsalam wr.wb. Baiklah, Saudara Pemohon. Kami diberi kewajiban untuk memberikan saran-saran, nasihat-nasihat, atau mungkin semacam petunjuk lah dalam permohonan Saudara. Itu adalah kewajiban kami dan itu hak Saudara, kalau Saudara mau terima ya silakan, ya kalau tidak terima … untuk itu saya persilakan kepada Yang Mulia Dr. Hamdan Zoelva untuk memberikan saran-saran kepada Pemohon. Saya persilakan Pak.
14. HAKIM: HAMDAN ZOELVA
Terima kasih, Saudara Pemohon. Secara umum, sistematika permohonan sudah sesuai dengan yang lazim, ya … yang lazim di Mahkamah Konstitusi. Hanya saja, mungkin Saudara sebaiknya fokus saja. Jadi ini panjang lebar, tebal sekali permohonannya. Padahal fokusnya, apakah Pasal 23 itu bertentangan dengan pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 yang Saudara jadikan batu uji sebenarnya fokusnya ke situ saja, ya. Walaupun ini tidak
salah, tapi menjadi sulit dipahami karena ke mana-mana gitu. (suara tidak
terdengar jelas) walaupun tidak salah sekali lagi, ya. Kalau bisa fokus saja ke … antara norma dalam Pasal 28 … apa … Pasal 22 ayat (3) ini dengan pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 yang dijadikan batu uji.
Kemudian yang kedua, di petitum, ya. Di petitum itu, petitum nomor 1, nomor 1 itu kalau Pasal 22 ayat (3) itu dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, selesai di situ. Maka tidak bisa dihidupkan kembali dengan petitum nomor 2, ya. Karena pada … kalau dia bertentangan implikasinya tidak memiliki kekuatan hukum mengikat karena dia bertentangan. Jadi kalau ada petitum nomor satu ini justru ini saling bertentangan. Yang di petitum nomor 2 dan 3 masih hidup, petitum nomor 1 bertentangan, ya.
Jadi Saudara perlu memperbaiki ini. Intinya yang dapat saya baca di petitum Saudara menghendaki conditionally unconstitutional, kondisional apa … konstitusional bersyarat. Kalau konstitusional bersyarat itu tidak dimatikan pasalnya, normanya tetap ada. Cuma minta ditafsirkan lain, ya, asal dia … agar dia bersesuai dengan konstitusi, ya. Ya, misalnya di petitum nomor 2 ini ya menyatakan, “Ketentuan Pasal 22 ayat (3) tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.” Harusnya diawali dengan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat secara bersyarat atau pada umumnya di MK ini dipisah ya. Bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 secara bersyarat, atau bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 jika tidak dimaknai begini, ya. Pasal 22 ayat (3)
5 yang bunyinya demikian bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 sepanjang tidak dimaknai, seperti Saudara usulkan itu, itu namanya konstitusional bersyarat ya.
Kemudian di bagian keduanya ya menyatakan ketentuan Pasal 22 ayat (3) yang bunyinya demikian ya, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai. Jadi tidak mati pasalnya, normanya tidak mati. Normanya sebenarnya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, ini … saya lihat. Maksud Saudara ini normanya sebenarnya tidak … tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 cuma dia bertentangan kalau (…)
15. KETUA: MUHAMMAD ALIM
36 meter.
16. HAKIM: HAMDAN ZOELVA
36 meter. Tapi kalau 21 meter tidak bertentangan kan begitu menurut Saudara, ya kan? Jadi petitumnya diperbaiki. Kemudian ini sebenarnya ada permohonan yang baru saja juga kami sidangkan. Sama persis, sama persis, yang tadi yang nomor 12 baru saja, pasalnya sama cuma batu ujinya juga ada yang sama tapi ada juga yang berbeda.
Cuma saya ingin … saya ingin apa … bisa Saudara renungkan beberapa pertanyaan saya secara … secara konsep ya, makna Undang-Undang Dasar 1945. Kalau apakah … ini Saudara mempergunakan Pasal 28H ayat (1), “Setiap orang berhak hidup sejahtera, lahir, batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh layanan kesehatan.” Pertanyaan saya apakah bertempat tinggal itu sama dengan memiliki rumah? Sepertinya Saudara memaknai sama. Bertempat tinggal dimaknai sama dengan memiliki rumah. Apakah itu substansi pasalnya? Ataukah … ini memang berbeda, ini … pasal ini harus dimaknai dalam apa … juga bagian frasa-frasa yang lain ya, bertempat tinggal di dalam lingkungan yang baik dan sehat, kan … dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Pertanyaannya Saudara meminta 21, ini coba Saudara pikirkan untuk didalami bisa menjadi memperkaya apa … asas-asas permohonan Saudara ini. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Apakah rumah ukuran 21 itu … itu sudah, sudah memenuhi? Atau yang lebih spesifik, apakah rumah ukuran 21 itu layak enggak? Ini kan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Apakah justru itu tidak sehat justru? Atau tidak baik 21? Apalagi kalau enam orang di dalam. Ini coba Saudara perlu pertimbangkan. Pertimbangkan itu dari sisi lain, pertimbangkan dari sisi lain di luar mindset yang Saudara bangun di sini, ya.
Apakah tidak hilang konstitusionalnya, kalau justru dim … apa … diberikan rumah yang apa … yang tidak sehat, secara lingkungan tidak baik? Ini perlu Saudara jawab itu, ya. Saudara jawab itu untuk apa … untuk memperdalam, apa … dalil-dalil permohonan Saudara.
Kemudian yang kedua, coba Saudara kaji di … apa ada enggak di satu standar internasional atau standar PBB, yang layak itu berapa sih? Secara internasional menurut ukuran-ukuran rasional ya. Ukur-ukuran sehat dan baik itu berapa sebenarnya. Saya kira PBB dia punya standar, berapa sebaiknya agar lingkungan hidup yang memenuhi layak dan baik ya. Sehingga
6 lingkungan juga baik. Juga perlu mungkin Saudara mencari sisi-sisi itu agar ini bisa lebih … lebih kuat. Saya kira demikian, terima kasih.
17. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Terima kasih, Pak Dr. Hamdan Zoelva. Saya persilakan kepada Yang Mulia Dr. Anwar Usman.
18. HAKIM ANGGOTA: ANWAR USMAN
Terima kasih, Pak Ketua. Para Pemohon, ya tadi sudah dijelaskan secara rinci dan jelas oleh Bapak Dr. Hamdan. Tadi memang ada satu perkara ya, persis tadi juga sudah disinggung, pasalnya sama, tetapi petitumnya ya berbeda. Tadi Perkara Nomor 12 meminta Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 ini menyatakan berdasarkan adanya Undang-Undang Dasar 1945. Persis dengan petitum pertama dari para Pemohon.
Nah, untuk itu izinkan saya ulas kembali apa yang disampaikan oleh Pak Dr. Hamdan tadi. Apa yang harus diperbaiki dalam petitum ini. Saudara menyatakan inkonstitusional bersyarat atau mungkin bisa juga Saudara menyatakan konstitusional bersyarat, sepanjang dimaknai sama. Tinggal Saudara bagaimana meramunya.
Hal lain mungkin di samping yang sudah dijelaskan lebih jelas tadi, rasionya apa ya harus 21 meter, apakah memang standar? Tadi juga sudah di … disinggung juga. Kenapa misalnya tidak … tidak 25 atau 30? Apa 21 itu juga menjadi standar paling minim dan apakah itu layak untuk dihuni, juga ya harus diuraikan secara tajam di dalam permohonan para Pemohon. Terima kasih, Pak Ketua.
19. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Terima kasih, Pak Dr. Anwar Usman. Saudara Pemohon sudah mendengarkan tadi, uraian-uraian apa … nasihat-nasihat dari kedua Bapak Hakim. Kemudian ada tadi ada perbaikan mengenai ini, itu nanti saat … saat perbaikan ya, itu.
Nah, yang perlu saya sampaikan di sini bahwa ini adalah saran atau nasihat, itu adalah kewajiban kami dan itu hak Saudara Pemohon. Karena hak boleh Saudara pakai … terima, boleh Saudara tolak, itu ya. Kalau kami tidak boleh me … me … tidak melakukan karena itu adalah kewajiban. Ini hak Saudara bisa me … kalau andai kata tidak ada perubahan ya umpamanya, itu dianggap ini sajalah yang dijadikan apa permohonannya.
Saya persilakan barangkali ada hal-hal yang Saudara mau kemukakan?
20. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD JONI
Terima kasih, Yang Mulia, atas saran dan masukannya. Kami akan
meng-accept hal-hal yang sudah disampaikan dan tentunya pada poin
petitum akan menjadi perhatian penting kami karena ini adalah sesuatu yang harus komplet dimunculkan di dalam sebuah permohonan. Terima kasih, untuk itu.
Yang kedua untuk Yang Mulia Hakim Hamdan Zoelva, kami ucapkan terima kasih atas masukannya. Dan memang dalam kaitan dengan ini hak konstitusional atas tempat tinggal yang kami maksudkan itu adalah hak untuk
7 memperoleh rumah. Rumah yang nanti akan kami uraikan, dan di dalam permohonan ini juga sudah diuraikan bagaimana instrumennya bisa lebih detail dan komplet di dalam permohonan ini.
Yang kedua bahwa ketentuan yang berkaitan dengan mengapa 21 meter, kami sudah sampaikan juga di dalam permohonan ini pada halaman 32 sampai 38. Mengapa luas lantai 21 meter itu menjadi pertimbangan, menjadi posita di dalam permohonan ini. Salah satu yang akan kami sampaikan adalah bahwa menurut ketentuan WHO dan telah disampaikan di DPR oleh teman-teman Prinsipal APERSI bahwa batasan layak adalah 7,2 m² perorang. Jadi kalau pasangan muda dengan empat orang, maka atau tiga orang, maka dia akan sekitar 21 m². Selain itu secara yuridis formal kita mempunyai Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 403/KPTS/M/2002 yang kami jadikan bukti di dalam permohonan ini bahwa kebutuhan luas lantai minimum pembangunan untuk rumah sederhana sehat itu adalah tiga jiwa, maka luas lantainya adalah 21 meter persegi. Ini juga akan kami jadikan bukti dalam permohonan ini. Serta sejumlah alasan lain misalnya adalah bahwa tipe rumah 21 secara de facto adalah merupakan kebutuhan keluarga atau pasangan baru dan ini sesuai pula dengan pedoman teknis yang dibuat oleh Pemerintah dan tipe rumah 21 ini masih dibutuhkan pasar atau pasarnya masih tersedia. Di Sulawesi selatan disebut sebagai rumah rakyat. Masyarakat Sumsel masih butuh rumah tipe 21 lebih membuka akses untuk memperoleh rumah dan menghambat meluasnya permukiman kumuh karena daya beli dan daya jangkau kelompok MBR memang hanya bisa menunjang tipe 21 dan ini juga, tipe 21 ini juga akan membantu
menurunkan eskalasi backlog. Backlog itu adalah upaya … adalah defisit
perumahan, rumah yang harus disiapkan ternyata tidak tersedia, itulah yang … jika rumah itu harus berlantai 36, maka semakin susah untuk memperoleh atau terserap ke dalam pasar umum dan ketentuan PPN kita juga mengatur bahwa rumah di bawah lantai 36 saja yang dikenakan bebas PPN dan sejumlah alasan-alasan lain yang secara lengkap kami sampaikan pada halaman 32 dan sampai dengan 38 dalam permohonan ini.
Selanjutnya apakah pasal … ketentuan luas lantai 21 ini akan berkaitan … berkait dengan prasa sejahtera lahir dan batin? Saya kira itu benar dan tentu kami kemukakan bahwa luas lantai 21 m² masih sesuai dengan standar untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin utamanya pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, masyarakat yang belum mempunyai rumah, warga masyarakat yang berpenghasilan miskin di bawah Rp350.000,00 per bulan dan kelompok masyarakat yang tinggal pada kawasan permukiman kumuh yang masih hidup dalam keadaan yang tidak manusiawi.
Alasan-alasan lain tentu akan kami sampaikan secara lebih detail dalam permohonan ini dan nanti juga akan kami perkuat dengan saksi dan bukti yang akan kami sampaikan pada sidang berikutnya. Tapi secara keseluruhan kami mengucapkan terima kasih karena hal ini menjadi perhatian bagi Majelis Hakim untuk memberi saran kepada kami.
Kepada Majelih Hakim Ketua dan Anggota kami ucapkan terima kasih atas saran dan masukan.
21. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Baiklah, Saudara Pemohon. Waktu yang tersedia menurut undang-undang buat Saudara adalah paling lama, saya ulangi paling lama 14 hari.
8 Sesudah Anda lakukan Anda langsung masukan di Kepaniteraan, tidak usah lagi … nanti, saya ulangi paling lama 14 hari. Jadi Saudara kalau bisa menyelesaikannya lebih awal segera dimasukkan di Kepaniteraan dan Kepaniteraan kemudian akan menjadwalkan sidang berikutnya ya.
Cuma saya ingatkan lagi Saudara sebagaimana dikemukakan oleh dua Hakim Yang Mulia tadi bahwa Perkara Nomor 12/PUU-X/2012 itu yang sama menguji pasal ini. Ini kan perkara Saudara Nomor 14, itu Nomor 12, baru saja selesai disidang waktu Saudara datang. Jadi sama, sama permohonannya, cuma pasal pengujiannya atau batu ujinya dia hanya 28H ayat (1) sedangkan Anda Pasal 28H ayat (1), 28H ayat (4) dan Pasal Pasal 28D ayat (1). Kemudian berbeda lagi, Anda menghendaki 21 … tipe 21 sudah cukup bolehlah itu yang terendah. Kalau dia … dia minta salakai sekaligus dihapuskan ini Pasal 22 ayat (3) ya.
Baiklah, dengan demikian Sidang … Sidang pendahluan ini dinyatakan selesai dan ditutup.
Jakarta, 10 Februari 2012
Kepala Sub Bagian Pelayanan Risalah, t.t.d.
Paiyo
NIP. 19601210 198502 1 001
KETUK PALU 3X
SIDANG DITUTUP PUKUL 14.48 WIB
Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.