• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOLUSI PENGENDALIAN GULMA TANAMAN KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOLUSI PENGENDALIAN GULMA TANAMAN KELAPA SAWIT"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 1 dari 18

SOLUSI PENGENDALIAN GULMA TANAMAN KELAPA SAWIT

PENDAHULUAN

a. Pengendalian gulma adalah mengendalikan pertumbuhan gulma yang tumbuh di areal tanaman yang diusahakan agar persaingan dengan tanaman utama dapat ditekan b. Pengendalian/pemberantasan gulma di perkebunan kelapa sawit dilakukan pada 2

(dua) tempat, yaitu di piringan dan di gawangan (interrow). c. Ada 3 jenis gulma yang perlu dikendalikan, yaitu :

Alang-alang

Gulma umum atau General Weed (GW)

Tumbuhan pengganggu lainnya: anak kayu, pakis, dll.

d. Tujuan pemberantasan alang-alang adalah untuk menghentikan perkembang-biakannya, karena :

perkembangan populasinya sangat cepat (dengan bunga dan rhizome)

ditinjau dari segi penyediaan bahan organik, lalang tidak memberikan kontribusi pada kondisi populasi yang tinggi, sangat berperanan penyulut kebakaran menyerap unsur hara dan air yang disimpan di rhizome

e. Tujuan pemberantasan gulma umum di piringan :

mengurangi kompetisi unsur hara dan air, karena akar halus tanaman masih berada di sekitar piringan/pokok.

untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.

untuk mempermudah kontrol pelaksanaan panen dan aplikasi pemupukan. memudahkan pengutipan brondolan (menekan loses brondolan).

f. Tujuan pengendalian gulma di gawangan :

mengurangi kompetisi hara, air dan sinar matahari

mempermudah kontrol pekerjaan dari satu gawangan ke gawangan lain menekan populasi hama (terutama pada TBM)

PERHATIAN :Tidak semua gulma di gawangan harus diberantas, misalnya pakis Nephrolepis

bisserata, Cassia cobanensis, Euphorbia sp., Turnera subulata yang dapat

berfungsi sebagai inang musuh alami hama-hama kelapa sawit (beneficial

plant). Selain itu tanah yang gundul (bebas dari vegetasi) dapat mendorong

terjadinya kelembaban tanah yang rendah dan erosi tanah yang amat sangat merugikan pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

(2)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 2 dari 18 2. PENGENDALIAN ALANG-ALANG (Imperata cylindrica)

2.1. Pengendalian lalang sheet

a) Pada pertumbuhan lalang yang meluas (sheet), metode pengendalian yang efektif adalah dengan cara kimia (penyemprotan herbisida).

b) Kunci sukses pengendalian lalang : Rotasi yang konsisten.

Segmentasi areal (prioritas pengendalian dimulai dari kondisi lalang paling ringan menunju ke kondisi berat).

Ketepatan jenis herbisida dan dosis/konsentrasi.

Penyemprotan dilakukan pada masa pertumbuhan vegetatif aktif. Monitoring dan evaluasi secara ketat untuk langkah selanjutnya.

c) Aplikasi herbisida tersebut lebih ditekankan pada penggunaan Low Volume (LV = 100 – 250 liter/Ha). Sedangan aplikasi dengan Medium Volume (MV = 450-600 liter/Ha) didasarkan atas kondisi ketebalan pertumbuhan lalang dan kecepatan angin di kawasan yang akan disemprot.

d) Penggunaan herbisida berbahan aktif Imazapir lebih tepat bila digunakan pada areal gambut yang kondisinya lembab dan sedikit berair, dimana pada kondisi ini penggu-naan herbisida berbahan aktif Glyphosate IPA atau Glyphosate Kalium kurang efektif. Namun jenis bahan aktif ini mempunyai residu di tanah cukup lama dan dapat meracuni tanaman kelapa sawit.

2.2. Pengendalian lalang sporadis dan lalang kontrol

a) Pertumbuhan lalang yang sporadis (terpencar-pencar) akan lebih efektif jika diberantas dengan metode spot-spraying.

b) Sedangkan pada kebun yang sudah normal kondisi lalangnya (lalang kontrol) diberantas dengan cara buru lalang yang dilakukan :

wiping (diusap dengan kain yang dibalutkan di jari tangan). Hand spraying

c) Teknik wiping lalang dilakukan dengan menggunakan kain katun yang berukuran 3x12 cm dibalutkan pada tiga jari tangan (tidak dibenarkan menggunakan kaos kaki atau sarung tangan).

d) Teknik hand spraying dilakukan dengan menyemprotkan herbisida dengan hand sprayer (volume larutan 1 – 2 liter). Penggunaan hand sprayer harus memperhatikan pengaturan nozel sesuai kondisi lalang.

e) Herbisida yang dipakai adalah berbahan aktif Glyphosate IPA dengan konsentrasi

(3)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 3 dari 18 Cara Wiping lalang

Sebelum di "wiping" rumpun lalang dibersihkan dari sampah- sampah disekitar pangkalnya dengan menggunakan arit kecil (guris). Kemudian celupkan kain ke dalam larutan herbisida dan peras sedikit agar tidak menetes.

Penyapuan (wiping) dimulai dari batang bawah sampai ke ujung daun secara merata dan basah, dan dilakukan per helai daun lalang. Hindarkan batang/ daun lalang pecah, putus atau tercabut sewaktu wiping atau pembersihan sampah. Untuk menghindari terjadinya lalang yang ketinggalan tidak di wiping atau terjadi

pengulangan wiping, maka sebaiknya ujung lalang yang telah di wiping dapat diputuskan sedikit + 5 cm.

Cara Hand Spraying

Rumpun lalang disemprot merata dengan jarak 20 cm dari nozel alat semprot dengan pengaturan nozel yang disesuaikan.

3. PEMELIHARAAN PIRINGAN, JALAN RINTIS, DAN TPH

3.1. Piringan, jalan rintis (jalan panen), dan TPH merupakan beberapa sarana yang terpenting dari produksi dan perawatan. Supaya berfungsi sebagaimana mestinya, maka sarana tersebut mutlak memerlukan pemeliharaan yang berkesinambungan. 3.2. Fungsi

Piringan, yakni sebagai tempat menyebarkan pupuk (selain juga di gawangan) dan daerah jatuhnya tandan buah dan berondolan.

Jalan rintis, yakni sebagai jalan mengangkut buah ke TPH dan menjalankan aktifitas operasional lainnya.

(4)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 4 dari 18 Tabel 1.1. Metode pemeliharaan piringan, jalan rintis (panen) dan TPH

UMUR TANAMAN

JENIS HERBISIDA

ROTASI APLIKASI Bahan aktif DOSIS

( Liter / Ha ) Blanket

Grasses Broad leaf

TBM (umur < 6 Bulan) - - 6 x

TBM (> 6 bulan) Amonium glufosinat 150 g/l 2,0 - 3,0 6 x

TM (umur 4 – 6 tahun) - Glyphosate IPA 480 g/l + Floroksipir 200 g/l 1,2 + 0,25 4 x Metil-metsulfuron 200 g/l 1,2 + 0,05 4 x - Glyphosate Kalium 620 g/l + Floroksipir 200 g/l 0,75 + 0,25 4 x Metil-metsulfuron 200 g/l 0,75 + 0,05 4 x TM (umur > 6 tahun) - Glyphosate IPA 480 g/l + Floroksipir 200 g/l 1,0 + 0,25 4 x Metil-metsulfuron 200 g/l 1,0 + 0,05 4 x Triklopir 480 g/l 1,0 + 0,25 4 x - Glyphosate Kalium 620 g/l + Floroksipir 200 g/l 0,6 + 0,25 3 x Metil-metsulfuron 200 g/l 0,6 + 0,05 3 x Triklopir 480 g/l 0,6 + 0,25 3 x

Metode aplikasi alternate : Kombinasi 3 x

2 kali aplikasi Glyphosate IPA 480 g/l 1,5 - 2,0

atau atau 2 x

2 kali aplikasi Glyphosate Kalium 620 g/l 0,75 - 1,0

1 kali aplikasi Parakuat + Metil-metsulfuron 1,5 + 0,05 1 x

CATATAN.:

Tabel diatas biasanya Untuk Lahan Mineral, sedangkan di Lahan Gambut yang identik dengan Pakis dan Gulma berkayu, menggunakan Herbisida berbahan Aktif parakuat diklorida.

(5)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 5 dari 18 4. PENGENDALIAN TUMBUHAN PENGGANGGU LAINNYA

4.1. Gulma berkayu (Anak kayu)

4.1.1. Jenis-jenis gulma berkayu, antara lain :

Chromolaena odorata (Eupatorium odoratum): nama daerah Melastoma malabathricum, nama daerah : senduduk

Lantana camara, nama daerah : Clidemia hirta, nama daerah : • dan lain-lain

4.1.2. Teknik pengendalian manual dilakukan dengan menggunakan alat cados (cangkul kecil dengan lebar + 14 cm) dengan cara membongkar gulma sampai perakarannya. Tidak dibenarkan menggunakan parang babat (slashing).

4.1.3. Metode pengendalian gulma berkayu tertera dalam Tabel 1.2 dibawah ini.

Tabel 1.2. Metode pengendalian gulma berkayu

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS

( Liter / Ha ) Blanket Cara Aplikasi Bahan aktif

Gulma Berkayu (anak kayu) TBM umur < 3 tahun MANUAL M - - 4 x MANUAL + KIMIA M - - 2 x K Triklopir 480 g/l 2 x Metil-metsulfuron 200 g/l 0,75 + 0,05 2 x TM umur 4 - 6 tahun MANUAL + KIMIA M - - 1 x K Triklopir 480 g/l 1,0 + 0,05 2 x Metil-metsulfuron 200 g/l 1,0 + 0,25 2 x TM umur > 6 tahun MANUAL + KIMIA M - - 1 x K Triklopir 480 g/l 0,6 + 0,05 1 x Metil-metsulfuron 200 g/l 0,6 + 0,25 1 x

(6)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 6 dari 18 4.2. Pakis (paku-pakuan)

4.2.1. Jenis-jenis pakis yang merugikan, antara lain : • Dicrapnoteris linearis Stenochlaena palustris Pteridium osculentum Adiantum tetraphillum Lygodium flexuosum • dan lain-lain

4.2.2. Metode pengendalian gulma pakis (paku-pakuan tertera dalam Tabel 1.3. dibawah ini.

Tabel 1.3. Metode pengendalian gulma pakis (paku-pakuan)

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS

(Liter / Ha) Blanket Cara

Aplikasi Bahan aktif

Gulma Pakis TBM umur < 3 tahun MANUAL + KIMIA M - - 1 x K Parakuat 200 g/l + Metil- 1,5 + 0,075 2 x metsulfuron 200 g/l TM umur > 3 tahun KIMIA K Parakuat 200 g/l + Metil- 1,5 + 0,075 2 x metsulfuron 200 g/l

4.3. Keladi liar (Colocasia spp dan Caladium spp)

4.3.1. Keladi liar yang sering tumbuh di rendahan umumnya sulit dimusnahkan. Hal ini karena disamping daunnya berlilin juga berumbi.

4.3.2. Metode yang efektif untuk mengendalikan keladi liar adalah dengan penyemprotan herbisida dengan alat CP-15 atau Solo, nozel cone seperti yang tercantum pada Tabel 8.5. dibawah ini.

(7)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 7 dari 18 Tabel 8.5. Metode pengendalian gulma Keladi liar

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS

( Liter / Ha ) Blanket Cara

Aplikasi Bahan aktif Keladi Liar (Colocasia sp. & Caladium sp.) Semua umur - KIMIA K Metil-metsulfuron 200 g/l 0,075 + Kons. 0,2% 2 x + Surfaktan

4.4. Pisang liar (Musa spp.)

4.4.1. Pisang liar banyak terdapat di kawasan land clearing, dimana benih yang dorman akan tumbuh setelah pembakaran. Umumnya pengendalian secara manual belum menuntaskan permasalahan.

4.4.2. Metode yang efektif adalah dengan cara menebang batang pisang (± 10 cm dari tanah) dan langsung diolesi bagian atasnya dengan larutan herbisida atau ditusuk dengan pasak yang terbuat dari bahan cukup keras yang “porouse” seperti tulang atap nipah sepanjang + 15 cm yang telah dicelup/direndam dengan herbisida.

4.4.3. Jenis herbisida dan cara aplikasinya tercantum pada Tabel 1.4. dibawah ini.

Tabel 1.4 Metode pengendalian gulma Pisang liar

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS ( Liter / Ha ) Blanket

Cara Aplikasi Bahan aktif

Pisang Liar (Musa

spp.) Semua

umur KIMIA (Oles) K

Metil-metsulfuron 200 g/l 0,075 + Kons. 0,2%

dalam 1 liter air 2 x + Surfaktan

2,4 D dimetil amine 823 g/l + Air

0,50 – 1,00 l/ha dalam 10 lier air

(8)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 8 dari 18 4.5. Bambu liar (Musa spp.)

4.5.1. Bambu liar banyak terdapat di kawasan land clearing, dimana benih yang dorman akan tumbuh setelah pembakaran. Umumnya pengendalian secara manual belum menuntaskan permasalahan.

4.5.2. Metode yang efektif adalah dengan cara kimia yakni penyemprotan larutan herbisida sebagai berikut :

Tabel 1.5. Metode pengendalian gulma Bambu liar

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS

( Liter / Ha ) Blanket

Cara

Aplikasi Bahan aktif

Bambu Liar Semua

umur - KIMIA K

- Triklopir 480 g/l + Kons. 0,5% +

0,2% 2 x

Minyak tanah / solar

4.6. Anak Sawit (Kentosan)

4.6.1. Anak sawit (kentosan) banyak terdapat di piringan dan di gawangan maupun di TPH, dimana brondolan sawit akan menghasilkan biji sawit dan selanjutnya akan tumbuh setelah beberapa waktu kemudian.

4.6.2. Keberadaannya dipiringan, gawangan atau di TPH dapat mengganggu kegiatan agromis lainnya.

4.6.3. Umumnya pengendalian secara manual belum menuntaskan permasalahan. Metode yang efektif saat ini adalah dengan cara kimia yakni penyemprotan larutan herbisida tabel 1.6. sebagai berikut :

(9)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 9 dari 18 Tabel 1.6 Metode pengendalian gulma anak sawit / kentosan

GULMA SASARAN UMUR TANAMAN METODE PENGENDALIAN ROTASI APLIKASI (kali / tahun) Jenis Herbisida DOSIS

(Liter / Ha) Blanket Cara

Aplikasi Bahan aktif

Anak Sawit Liar Semua umur KIMIA K Triklopir 480 g/l + 0,5 + 1,5 2 x Glyphosate IPA/Kalium - Paraquat 200 g/l 2,0 + 3,0 2 x 5. DOSIS HERBISIDA

5.1. Dosis herbisida/ha yang digunakan untuk pengendalian gulma sangat tergantung dari jenis gulma sasaran. Untuk praktisnya di lapangan, dosis tersebut harus di konversi menjadi konsentrasi dan volume larutan semprot.

5.2. Untuk menentukan kosentrasi larutan semprot, terlebih dahulu harus dilakukan kaliberasi alat semprot, nozel, kecepatan jalan untuk mengetahui kebutuhan volume semprot per ha. Selanjutnya konsentrasi larutan semprot dapat dihitung dengan memakai data dosis per ha dan kebutuhan volume larutan semprot per ha.

5.3. Secara umum semakin bertambah umur tanaman, pertumbuhan gulma semakin tertekan karena ternaung. Oleh karena itu untuk efisiensi pengendalian biaya, maka rotasi semprot dan dosis per hektar semprot bukan merupakan harga mati namun rotasi dan dosis semprot dapat dikurangi sesuai dengan kondisi gulma di lapangan.

6. ROTASI (PUSINGAN) DAN OUTPUT SEMPROT

6.1. Jumlah rotasi (pusingan semprot) di suatu kebun tergantung pada : umur tanaman

jenis gulma yang dominan

jenis dan dosis herbisida yang digunakan jenis tanah dan kerapatan gulma

keadaan iklim

6.2. Output (prestasi) semprot pada TBM sampai TM berkisar antara 2 - 5.5 ha/Hk dan dipengaruhi oleh :

a) jenis alat semprot yang digunakan b) umur tanaman

c) topografi

d) prasarana yang ada dalam blok (pasar rintis, titi pasar rintis dan lain-lain) e) kondisi kerapatan gulma

(10)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 10 dari 18 output semprot (pada tanaman muda) lebih tinggi pada blok yang sudah ditunas. output semprot akan lebih tinggi apabila sebelum semprot sudah dilakukan

pekerjaan tarik goloran.

g) pengorganisasian dan disiplin kerja

7. TEKNIK PENYEMPROTAN

7.1 Pemilihan Jenis Nozel

7.1.1. Pemilihan jenis nozel yang sesuai adalah sangat penting untuk mendapatkan efektifitas penggunaan pestisida.

7.1.2. Jenis nozel yang umum digunakan adalah sebagai berikut : Hallow cone

Deflector

Standard Flat Fan Nozzle Atomizer (ULV)

7.1.3. Dibawah ini dijelaskan beberapa contoh nozel yang umum digunakan berdasarkan spesifikasi dan kegunaannya :

A. Hallow Cone Nozzle (nozel berbentuk kerucut) Contoh :

Low Volume Cone Nozzle Spesifikasi :

a) Yellow Cone Nozzle

1.5 bar = volume semprot 105 liter/ha 2.0 bar = volume semprot 130 liter/ha

b) Black Cone Nozzle

1.5 bar = volume semprot 32 liter/ha 2.0 bar = volume semprot 38 liter/ha

Kegunaan dan keuntungan :

Nozel kerucut lebih tepat digunakan untuk penyemprotan secara sporadis (spot spray), misalnya untuk pengendalian anak kayu, gulma di rendahan, alang-alang yang tumbuhnya sporadis, dan lain-lain.

Low volume

(11)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 11 dari 18 Gambar 7.1. Contoh Cone Nozzle volume rendah

B. Deflector Nozzle Contoh :

Low Volume Deflector Nozzle Spesifikasi :

a) Brown Deflector Nozzle

1.5 bar = volume semprot 155 liter/ha 2.0 bar = volume semprot 195 liter/ha

b). Non-Drift Deflector Nozzle

1.5 bar = volume semprot 120 liter/ha 2.0 bar = volume semprot 150 liter/ha

Gambar 7.2a. Low Volume Brown Deflector Nozzle

Gambar 7.2b. Low Volume Non-Drift Deflector Nozzle

(12)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Kegunaan dan keuntungan :

Untuk penyemprotan strip (strip spraying) Low volume

Bila menggunakan CFValve dapat mengurangi terjadinya d Khusus untuk jenis Non

Cara pemasangan nozel VLV pada beberapa alat semprot adalah seperti tertera pada Gambar 7.3. di bawah ini :

Gambar 7.3. Cara pemasangan C. Nozel atomizer (ULV)

Adalah nozel yang hanya digunakan untuk alat semprot Mikron Herbi, Birky, serta untuk penyemprotan melalui pesawat udara.

Cara penyemprotan 8.1.1 Kecepatan jalan

Dalam pelaksanaan di lapangan kecepatan jalan sangat dipengaruhi o

areal, penghalang seperti parit dan batang melintang, kerapatan gulma, dan volume semprot yang dibutuhkan. Umumnya seorang penyemprot dapat menempuh jarak antara 0,5 meter/detik, untuk itu operator harus dilatih berjalan dengan ke

diperoleh hasil pengendalian yang baik. 8.2.1 Posisi ketinggian nozel

Untuk mendapatkan ketinggian nozel yang konstan (± 45 cm) dari permukaan

(agar didapatkan lebar semprotan yang optimal), maka dapat dilakukan dengan menggantungkan seutas tali (panjang ± 45 cm) pada ujung tangkai nozel seperti pada Gambar 8.1. di bawah ini :

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Riau, Indonesia

007 5565

Untuk penyemprotan strip (strip spraying)

Bila menggunakan CFValve dapat mengurangi terjadinya drift

Non-Drift sesuai digunakan di pembibitan atau pada TBM

Cara pemasangan nozel VLV pada beberapa alat semprot adalah seperti tertera pada Gambar

Cara pemasangan nozel VLV pada beberapa sprayer

Adalah nozel yang hanya digunakan untuk alat semprot Mikron Herbi, Birky, serta untuk penyemprotan melalui pesawat udara.

Dalam pelaksanaan di lapangan kecepatan jalan sangat dipengaruhi o

areal, penghalang seperti parit dan batang melintang, kerapatan gulma, dan volume semprot yang dibutuhkan. Umumnya seorang penyemprot dapat menempuh jarak antara 0,5 meter/detik, untuk itu operator harus dilatih berjalan dengan kecepatan yang sesuai agar diperoleh hasil pengendalian yang baik.

Posisi ketinggian nozel

Untuk mendapatkan ketinggian nozel yang konstan (± 45 cm) dari permukaan

semprotan yang optimal), maka dapat dilakukan dengan menggantungkan seutas tali (panjang ± 45 cm) pada ujung tangkai nozel seperti pada Gambar

Hal 12 dari 18 sesuai digunakan di pembibitan atau pada TBM

Cara pemasangan nozel VLV pada beberapa alat semprot adalah seperti tertera pada Gambar

nozel VLV pada beberapa sprayer

Adalah nozel yang hanya digunakan untuk alat semprot Mikron Herbi, Birky, serta untuk

Dalam pelaksanaan di lapangan kecepatan jalan sangat dipengaruhi oleh bentuk topografi areal, penghalang seperti parit dan batang melintang, kerapatan gulma, dan volume semprot yang dibutuhkan. Umumnya seorang penyemprot dapat menempuh jarak antara 0,5-0,8 cepatan yang sesuai agar

Untuk mendapatkan ketinggian nozel yang konstan (± 45 cm) dari permukaan gulma sasaran semprotan yang optimal), maka dapat dilakukan dengan cara menggantungkan seutas tali (panjang ± 45 cm) pada ujung tangkai nozel seperti pada Gambar

(13)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Gambar 8.1 Cara menyemprot dengan ketinggian konstan dari permukaan gulma sasaran

8.3.1 Tekanan pompa semprot

Tekanan pompa semprot "knapsack sprayer" (Solo atau CP 15) yang umum digunakan untuk penyemprotan herbisida adalah 1 kg/cm². Jika tekanan pompa kurang atau berlebih, maka akan dihasilkan pancaran semprot yang kurang sempurna seperti terlihat pada Gambar 8. bawah ini :

Gambar 8.2. Bentuk pancaran semprot pada tiga tingkatan tekanan semprot

Pressure Regulator / Constant Flow Valve (CFV)

Keuntungan penggunaan Pressure Regulator / CFV :

Tekanan yang keluar dari dalam tangki semprot konstan/tetap sesuai spesifikasi Pressure Regulator / CFV yang digunakan.

Jumlah larutan semprot yang keluar dari nozzle (kaliberasi) konstan/tetap Jumlah butiran dan ukuran butiran konstan/tetap

Mengurangi terjadinya drift Meningkatkan efisiensi

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Riau, Indonesia

007 5565

Cara menyemprot dengan ketinggian konstan dari permukaan gulma sasaran

Tekanan pompa semprot

knapsack sprayer" (Solo atau CP 15) yang umum digunakan untuk penyemprotan herbisida adalah 1 kg/cm². Jika tekanan pompa kurang atau berlebih, maka akan dihasilkan pancaran semprot yang kurang sempurna seperti terlihat pada Gambar 8.

Bentuk pancaran semprot pada tiga tingkatan tekanan semprot

Pressure Regulator / Constant Flow Valve (CFV)

Keuntungan penggunaan Pressure Regulator / CFV :

Tekanan yang keluar dari dalam tangki semprot konstan/tetap sesuai spesifikasi Pressure Regulator / CFV yang digunakan.

Jumlah larutan semprot yang keluar dari nozzle (kaliberasi) konstan/tetap Jumlah butiran dan ukuran butiran konstan/tetap

Mengurangi terjadinya drift Meningkatkan efisiensi

Hal 13 dari 18 Cara menyemprot dengan ketinggian konstan dari permukaan gulma sasaran

knapsack sprayer" (Solo atau CP 15) yang umum digunakan untuk penyemprotan herbisida adalah 1 kg/cm². Jika tekanan pompa kurang atau berlebih, maka akan dihasilkan pancaran semprot yang kurang sempurna seperti terlihat pada Gambar 8.2. di

Bentuk pancaran semprot pada tiga tingkatan tekanan semprot

Tekanan yang keluar dari dalam tangki semprot konstan/tetap sesuai spesifikasi Jumlah larutan semprot yang keluar dari nozzle (kaliberasi) konstan/tetap

(14)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 14 dari 18 Gambar 8.3a. Blue CFValve ukuran 2.0 bar Gambar 8.3b. Red CFValve ukuran 1.5 bar

Gambar 8.4 Stick alat semprot tanpa pressure regulator / CFValve.

Gambar 8.5 Penempatan pressure regulator (Red CFValve ukuran 1.5 bar) pada stick alat semprot.

(15)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 15 dari 18 8.4.1 Pelaksanaan penyemprotan

Pada piringan pada strip/jalan panen

Keterangan :

Gambar a. Posisi penyemprot dengan tangan kanan terhadap pohon Gambar b. Posisi penyemprot dengan tangan kidal terhadap pohon Gambar c. Posisi penyemprot dengan tangan kanan terhadap pohon Gambar d. Posisi penyemprot dengan tangan kidal terhadap pohon

(16)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 16 dari 18

PENGENDALIAN GULMA SEPAKET

.

Pengendalian Gulma sepaket dimaksud adalah dengan cara Pengendalian Gulma SEKALIGUS.

Yakni Pemeliharaan Piringan, Pasar Pikul, TPH dan Gawangan dalam Pelaksanaan Sekaligus (bersamaan) dalam periode atau Bulan yang sama.

Konsep ini kami berikan sejalan yaitu dengan Konsep “Penempatan Gulma pada Tempatnya dengan terkontrol” Dengan Pilosofi :

- Memberantas Gulma Berbahaya - Menekan Pertumbuhan Gulma Lunak

- Menempatkan Gulma yang tidak diharapkan pada tempatnya,, dan - Memelihara Gulma yang diharapkan dengan terkontrol.

Konsep Pengendalian Gulma Sepaket (Sekaligus) dinilai Jauh Lebih Efisien dan Efektif dibanding dengan Pengendalian Gulma tidak sekaligus.

PERBANDINGAN PENGENDALIAN GULMA TIDAK SEKALIGUS DAN SEKALIGUS. Contoh : 1

Schedule Pengendalian Gulma sekaligus. Januari 2015 Blok A.1 - Gawangan Manual

Februari (Blok yg sama) – Pemeliharaan Piringan dan Pasar Pikul Apa yang terjadi.?

- Kondisi Gawangan yang sudah bertumbuh, mengganggu Pelaksanaan Perawatan Piringan dan Pasar Pikul.

- Pengawasan di lapangan yang harus menyediakan Mandor hingga 3 Orang. (yakni.: Mandor Gawangan, Mandor Pemeliharaan Piringan, bahkan Mandor Semprot).

Contoh : 2

Schedule Pengendalian Gulma Sepaket

Januari 2015, Blok A,1 – Pengendalian Gulma sepaket. Apa Keuntungannya.?

- Laporan di Pembukuan sangat Singkat,

- Dapat meminimalisasi Manipulasi HK atau Data di Lapangan, - Berfokus dalam Pemeriksaan Kondisi Gulma secara keseluruhan. - Pengawasan (Mandor) dapat diawasi 1 Orang Mandor saja. - Kondisi Gulma di Piringan, Gawangan dan Pasar Pikul sejalan. - Apalagi jika Pelaksanaan di Lapangan dilakukan dengan Sistem PLOT. - Pemilik / Management dapat dengan Mudah Menghitung Anggaran Biaya. Metode Pelaksanaan dengan Sistem PLOT seperti diatas, maksudnya adalah Melaksanakan Pekerjaan pada Hamparan yang bersebelahan tanpa terpencar pencar, sehingga mudah dapat di awasi dan do Periksa karena dilakukan dengan Lokasi yang se Hamparan.

(17)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 17 dari 18 Contoh.:

Kebun MAHKOTA IMPIAN berluas 1200 Ha.

Masing masing Plot dibagi 400 Ha, dan menjadi 3 Bagian. Plot A = 400

Plot B = 400 Plot C = 400.

Plot A yakni Blok A1 sampai A 12 Plot B yakni Blok B1 sampai B 12 Plot C yakni Blok C1 sampai C 12.

Sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak berpindah pindah, pengawasan pemilik perusahaan tersentralisasi, dan rotasi pekerjaan berkesinambungan.

A1 B1 C1 2 2 2 3 3 3 4 4 4 5 5 5 6 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 9 10 10 10 11 11 11 12 12 12

Plot A dikerjakan Bulan Januari, Plot B dikerjakan Bulan Pebruari, dan Plot C dikerjakan di bulan Maret. Sehingga pemeriksaan dan pelaksanaan dilapangan dapat dengan mudah di laksanakan, dibanding jika di Kerjakan dengan sistem Berpindah pindah tanpa di Plotting.

Untuk mengatasi masalah diatas, kami CV. BISYON PERKASA TRADE – Pekanbaru, memberikan Penawaran menarik untuk Pengendalian Gulma sepaket ke perkebunan sawit anda, dengan tenaga pelaksana di lapangan yang telah berpengalaman.

Kami menyediakan Tenaga Kerja, Menanggung Bahan (Herbisida yang dipakai) dan Peralatan yang Dipergunakan untuk pelaksanaan di Lapangan dengan Kontrak Jangka Pendek atau Jangka Panjang.

(18)

Kompleks Griya Nusantara

Jl. Merak VII No 22 Marpoyan Damai Pekanbaru 28125 – Riau, Indonesia +62 812 7629 8618, +62 851 0007 5565

Hal 18 dari 18 Kontrak Jangka Pendek yang kami layani minimal untuk waktu 2 tahun, dan Jangka Panjang Hingga 6 tahun. Dengan harga include (Tenaga, Alat dan Bahan) adalah menjadi tanggung Jawab kami.

Disamping itu, Pajak, Asuransi (BPJS pekerja), THR dan kecelakaan kerja menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya.

Surat perjanjian kontrak jangka panjang atau jangka pendek dengan kami, biasanya dilakukan dihadapan NOTARIS dan disaksikan oleh saksi dari kedua belah Pihak.

Hingga saat ini, kami masih berjalan sebagai kontraktor di Perkebunan Kelapa sawit, baik Perusahaan Perkebunan maupun perorangan.

Untuk Informasi Lebih Lanjut, dapat menghubungi kami..

Drs Syahrial (Direktur) BISYON PERKASA TRADE

Lihardo M Purba (General Manager)

Marketing Koordinator

1. Pirmansyah (Pekanbaru,Kandis, Duri) 2. Rully Pridatama (Kampar)

3. Ruslan (Pelalawan) 4. Dodi Pernandez (Rokan Hulu) 5. M. Nasir (Rokan Hulu)

Catatan.:

Gambar

Tabel diatas biasanya Untuk Lahan Mineral, sedangkan di Lahan Gambut yang identik dengan Pakis dan  Gulma berkayu, menggunakan Herbisida berbahan Aktif parakuat diklorida
Tabel 1.2. Metode pengendalian gulma berkayu
Tabel 1.3.  Metode pengendalian gulma pakis (paku-pakuan)
Tabel 1.4  Metode pengendalian gulma Pisang liar
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) herbisida ammonium glufosinat dosis 225 — 450 g/ha menekan bobot kering gulma total pada 4 dan 12 MSA, gulma daun lebar pada 4 dan 8

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jarak tanam 75 x 20 cm maupun 75 x 30 cm dan metode pengendalian gulma antara tanpa pengendalian gulma, bebas gulma,

Ekstrak Gulma Kirinyuh ( Chromolaena odorata ) sebagai Bioherbisida Pra Tumbuh untuk Pengendalian Gulma di Perkebunan Kelapa

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jarak tanam 75 x 20 cm maupun 75 x 30 cm dan metode pengendalian gulma antara tanpa pengendalian gulma, bebas gulma,

Berdasarkan Tabel 1 hasil pengamatan pada hari ke-21 gulma beringin yang telah diberi perlakuan daun sudah kering semua dan di angap sudah mati karena batangnya juga sudah

Pemberian ekstrak bioherbisida saliara berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh gulma 4 Minggu Setelah Aplikasi (MSA), daya tumbuh gulma terendah terdapat pada

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jarak tanam 75 x 20 cm maupun 75 x 30 cm dan metode pengendalian gulma antara tanpa pengendalian gulma, bebas gulma,

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengendalian gulma perkebunan kelapa sawit menggunakan herbisida isopropilamina glifosat dengan dosis 2,25-5,25