KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rachmat dan karunia-Nya Laporan Akhir Konsultan: Pelaksanaan Program dan Rencana Aksi Gender sebagai Strategi dalam Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (CCDP-IFAD) ini dapat terselesaikan. Laporan ini memuat capaian Program Gender sebagai bagian dari Komponen 1 Proyek yaitu Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya sampai akhir tahun 2014, serta Rencana Aksi Program Gender ke depan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan dan informasi yang sangat berharga selama kami menjalankan tugas.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan dokumen ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan masukan dan saran yang membangun agar dokumen ini dapat bermanfaat, terutama dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang kelautan dan perikanan khususnya bagi pembangunan masyarakat pesisir di Indonesia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Jakarta, Desember 2014 Novenny Wahyudi
RINGKASAN EKSEKUTIF
Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau Coastal Community Development Project (CCDP-IFAD) adalah kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan International Fund for Agriculture Developmant (IFAD) sebuah badan FAO-PBB. Pendanaannya menggabungkan pinjaman IFAD dengan persyaratan tertentu yang bersumber dari dana bantuan Pemerintah Spanyol yang dikelola oleh IFAD, pinjaman dan juga hibah dari IFAD, APBN, APBD, serta kontribusi inkind masyarakat pesisir terkait, yang kesemuanya berjumlah total US$ 43,219 juta.
Proyek ini bertujuan untuk pengurangan kemiskinan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat miskin aktif daerah pesisir dan pulau kecil. Komponen proyek terdiri dari : 1. Komponen Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya, 2. Komponen Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelautan dan Perikanan dan 3. Komponen Pengelolaan Program
Proyek dilaksanakan di 12 kabupaten/kota di 10 propinsi kawasan Indonesia timur yaitu : Kab. Merauke dan Yapen di Prov. Papua, Kab. Maluku Tenggara dan Kota Ambon di Prov. Maluku, Kota Ternate di Prov. Maluku Utara, Kota Bitung di Prov. Sulawesi Utara, Kab. Gorontalo Utara di Prov. Gorontalo, Kota Pare-Pare dan Makassar di Prov. Sul-Sel, Kab. Lombok Barat di Prov. NTB, Kota Kupang di Prov. NTT, Kab. Kubu Raya di Prov. Kal-Bar dan sebagai learning center Kab. Badung di Prov. Bali. Pada tahun pertama (2013) dibina 3 desa yang bertambah menjadi 9 desa per kab./kota pada tahun 2014. Bila di ke-9 desa di kab./kota tertentu program berjalan baik, pada tahun 2015 akan diperluas dengan tambahan 6 desa lagi.
Untuk pelaksanaannya, dibentuk lembaga di pusat yaitu : Tim Pengarah Nasional, PMO/Project Management Office dibantu Konsultan PMO, sedangkan di Kab./Kota yatu : DOB/District Oversight Board/Komite Pemberdayaan Masyarakat, PIU/Project Implementing Unit dibantu Konsultan Pemberdayaan Daerah dan Konsultan Pemasaran Daerah serta TPD/Tim Pendamping Daerah atau Fasilitator.
Lembaga yang dibentuk di masyarakat yaitu : kelompok-kelompok non-usaha (VWG/Village Working Group/Kelompok Kerja Desa, Kelompok Pembangunan Infrastruktur, Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Alam, dan Kelompok Tabungan) serta kelompok-kelompok usaha (Kelompok Perikanan Tangkap, Kelompok Perikanan Budidaya, Kelompok Pengolahan dan Kelompok Pemasaran). Pada setiap desa terdapat 14-15 kelompok dengan paling sedikit 10 kelompok usaha dengan paling sedikit 2 kelompok yang beranggotakan perempuan.
Program gender merupakan bagian dari Komponen Proyek 1 yaitu Komponen Pemberdayaan. Dalam Logical Framework dan Appendix E. Project Design Report (2012) terkait dengan gender, partisipasi perempuan dan pengentasan kemiskinan, direncanakan indikator output berikut :
- 9.900 tambahan rumah tangga dengan peningkatan indeks kepemilikan aset rumah tangga.
- Penurunan 40% malnutrisi pada anak-anak.
- 13.200 rumah tangga tambahan dengan perbaikan ketahanan pangan.
- 70% rumah tangga perikanan/kelautan menyatakan Rencana Desa mewakili prioritasnya.
- 50% perempuan desa menyatakan Rencana Desa mewakili prioritasnya.
- 60% Kelompok Usaha yang telah didukung dan terlatih dalam 3 tahun pertama menguntungkan.
Instruksi Presiden RI No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) Dalam Pembangunan menginstruksikan kepada jajaran eksekutif, Gubernur, Bupati dan Walikota untuk melaksanakan strategi PUG sebagai bagian dari pembangunan nasional. PUG harus dilaksanakan di setiap tahap penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan. Rencana implementasi PUG sudah tertera dalam Dokumen Project Design Report CCDP-IFAD dan sesuai dengan pembangunan responsif gender pada Renstra Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014.
Tujuan program gender CCDP-IFAD adalah memberi kesempatan pada masyarakat perempuan dan laki-laki. secara proposional sesuai tugas dan tanggung jawabnya berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, khususnya memperbaiki ketertinggalan perempuan.
Melalui pemberdayaan perempuan pada aspek kelembagaan/politik, ekonomi dan sosial, upaya implementasi PUG pada CCDP-IFAD tercermin dari berbagai target yang diharapkan antara lain : paling sedikit 20% dari kelompok usaha ekonomi masyarakat yang dibentuk adalah kelompok perempuan; paling sedkit 30% perempuan sebagai anggota lembaga/kelompok, dan paling sedikit 30% perempuan menghadiri pertemuan/sosialisasi pemberdayaan dan pelatihan/bimtek bidang ekonomi.
Sampai dengan Oktober 2014 yaitu tahun ke-2 berjalannya proyek, di ke-12 kabupaten/kota binaan atau 108 desa telah terbentuk 1.006 kelompok, dimana dari 667 kelompok usaha terbentuk 143 Kelompok Pengolahan yang anggotanya hampir semuanya perempuan atau 22% dari total kelompok usaha yang melebihi target 20% sesuai Petujuk Teknis Proyek.
Dalam berbagai lembaga, target partisipasi perempuan (30%) rata-rata tercapai pada tingkat Kabupaten yaitu 29% di Komite Pengarah Daerah (DOB), 33% di Unit Pelaksana Proyek(PIU) Dinas Kelautan dan Perikanan dan 35% di lembaga tingkat desa yaitu Kelompok Kerja Desa. Dalam berbagai kelompok, secara keseluruhan rata-rata partisipasi perempuan sebesar 28%, yang hampir mendekati target 30%, namun sebarannya tidak merata. Rata-rata partisipasi perempuan di lembaga dan kelompok non usaha adalah 20%, sedangkan di Kelompok Usaha adalah 32%. Di antara ke12 kab./kota binaan CCD-IFAD, partisipasi perempuan di berbagai lembaga dan kelompok tertinggi adalah Kota Ambon (45%), sedangkan yang terendah adalah di Kab. Kubu Raya (16%).
Dibandingkan dengan target minimal peserta perempuan dalam berbagai pertemuan dan pelatihan sebesar 30%, yang masih kurang adalah di 3 daerah yaitu Kab. Kubu Raya, Kab. Lombok Barat dan Pare-Pare yang berkisar antara 16-25%, sedangkan di 9 daerah lainnya cukup baik antara 32% di Ternate dan 54% di Kupang. Demikian juga pada akhir tahun 2014, telah tercatat 24 buah MoU dengan pihak swasta, assosiasi, koperasi, toko, swalayan dan universitas, yang memuat kerjasama tentang pemasaran hasil tangkapan atau produksi olahan kelompok, serta pembinaan dan monitoring usaha kelompok.
Untuk mencapai tujuan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam PUG digunakan suatu strategi bercabang tiga menyangkut aspek kelembagaan/politik, ekonomi dan social yang bertujuan untuk :
- Memperkuat peran pengambilan keputusan perempuan dalam isu pembangunan masyarakat dan meningkatkan keterwakilannya di lembaga lokal; dan
- Mengembangkan pemberdayaan perempuan untuk mampu berperan aktif di bidang ekonomi melalui akses dan kontrol terhadap aset-aset dasar
- Meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan perempuan serta mengurangi beban hidupnya melalui akses terhadap pelayanan masyarakat dan infrastruktur dasar.
Upaya menyusun strategi gender sederhana sebagai acuan penerapan PUG ini lebih lanjut di daerah, dilakukan dengan menggunakan analisa Gender Analysis Pathway (GAP) dengan sasaran utama PIU sebagai para penentu kebijakan dan pelaksana program di daerah. Oleh karena belum tersedianya data terpilah yang diperlukan untuk analisa gender tersbut, maka berbagai isu gender diperoleh dari berbagai hasil kegiatan Result and Impact Monitoring System (RIMS), Annual Outcome Survey (AOS), publikasi, laporan serta informasi langsung dari daerah. Sebagai hasilnya yaitu strategi gender yang dijabarkan dalam suatu Rencana Aksi Gender yang sederhana, mudah dilaksanakan dan fleksibel yang dapat merespond peluang lokal, yang menyangkut aspek kebijakan/kelembagaan, ekonomi dan sosial meliputi :
Sosialisasi dan advokasi PUG bagi pengambil kebijakan dan pelaksana di daerah. Penguatan pemahaman gender bagi TPD/Fasiitator dan Penyuluh untuk melakukan
pendekatan pendampingan lebih gender sensiitf.
Penyusunan data terpilah responsif gender dan Panduan Gender
Pelatihan dan pembinaan teknik pengelolaan dan produksi, manajemen usaha dan keuangan bagi kelompok.
Fasilitasi pengadaan modal dari Bank/lembaga keuangan mikro formal yang tidak memberatkan.
Studi banding kelompok ke masyarakat /swasta maju.
Kemitraan yang erat dengan P3MP, Pengusaha, Swasta, Asosiasi, Koperasi, dll. Kerjasama dengan Dinas terkait untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
nelayan terutama perbaikan gizi bagi anak-anak balita.
Ditujukan khususnya bagi para penentu kebijakan dan perencana daerah kabupaten/kota binaan CCDP-IFAD, dalam pelaksanaannya kemudian, Rencana Aksi ini diharapkan akan memperoleh dukungan penganggarannya yang responsif gender dan diimplementasikan secara optimal disesuaikan dengan prioritas kebutuhannya masing-masing.
Rencana Aksi Gender ini akan merupakan upaya implementasi PUG dalam kegiatan proyek, yang menggambarkan bagaimana proyek memperlakukan dimensi gender, khususnya menyangkut partisipasi perempuan di dalam kegiatan penggalangan dan pemberdayaan lembaga dan masyarakat, peningkatan kemampuan, implementasi, koordinasi serta monitoring dan evaluasinya, menuju keberhasilan proyek dan keberlanjutan program saat proyek berakhir tahun 2017.
D
D
A
A
F
F
T
T
A
A
R
R
I
I
S
S
I
I
K KAATTAAPPEENNGGAANNTTAARR ... ii R RIINNGGKKAASSAANNEEKKSSEEKKUUTTIIFF........ iiii D DAAFFTTAARRIISSII... iivv D DAAFFTTAARRGGAAMMBBAARR... vv D DAAFFTTAARRTTAABBEELL... vvii D DAAFFTTAARRLLAAMMPPIIRRAANN... vviiii BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 CCD-IFAD ……….. 11.2 Tujuan dan Indikator Keberhasilan ……… 1
1.3 Strategi Dasar ... 1
1.4 Lokasi Proyek... 2
1.5 Komponen proyek ………. 2
1.6 Kelembagaan ……….. 3
BAB 2. PENGARUSUTAMAAN GENDER DAN PEMBANGUNAN BERBASIS GENDER ………. 5
2.1. Pengertian Istilah ... .. 5
2.2. Perbedaan Gender dan Perbedaan Jenis Kelamin ... 6
2.3. Perbedaan Gender Menjadi Diskriminasi Gender ... 7
2.4. Pembangunan Yang Berorientasi Gender ... 8
2.5. Pembangunan Manusia Berbasis Gender ... 9
2.6. Pengarusutamaan Gender ... 10
2.7. Landasan Hukum ... 12
BAB 3. PELAKSANAAN PENGARUSUTAMAAN GENDER PADA CCDP-IFAD … 13 3.1. Landasan ……….. 13
3.2. Tujuan CCDP yang Berorientasi Gender ………. 13
3.3. Target Program Gender ……….. 13
3.4. Capaian CCDP-IFADTerkait Gender ………14
3.4.1. RIMS ………... 15
3.4.2. AOS ……….. 16
3.5. Partisipasi Perempuan ……… 17
3.5.1. Partisipasi Perempuan pada Lembaga dan Kelompok ……….. 16
3.5.2. Partisipasi Perempuan pada Pertemuan ……….. 18
3.5.3. Partisipasi Perempuan Dan Anak-Anak pada berbagai Mata Pencaharian ……… 19
BAB 4. STRATEGI GENDER DAN RENCANA AKSI ... ... 21
4.1. Kebijakan Gender ... 21
4.2. Analisa Gender ... 21
4.3. Isu Gender ... 22
4.4. Gender Analysis Parhway ... 24
4.5. Rencana Aksi ... 27
4.6. Rencana Implementasi PUG di Daerah ... 30
BAB 5. PROYEKSI, MONITORING DAN EVALUASI ... 31
5.1. Proyeksi Partisipasi Perempuan... 31
5.2. Target Partisipasi Gender ... 33
5.3. Monitoring dan Evaluasi ... 33
5.3.1. Integrasi Gender dalam M&E ... 34
5.3.2. Pelaksanaan Gender dan M&E ... 35
BAB 6. PENUTUP ... 36 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
1. Kesenjangan gender (perbandingan IPM dan IPG) di 12 kab./kota binaan
CCDP-IFAD tahun 2012 ... 10 2. Persentase partisipasi perempuan pada lembaga dan kelompok
di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD Oktober 2014 ... 17 3. Persentase partisipasi perempuan pada pertemuan/pelatihan di
12 kab./kota binaan CCDP-IFAD Oktober 2014 ... 18
DAFTAR TABEL
1. Perbedaan pendekatan WID (Women in Development ) dan
GAD (Gender and Development ) ……….. ... … 9
2. Gender Analysis Pathway ... 25 3. Pelaksanaan Rencana Aksi ... .... 29 4. Proyeksi Kenaikan Partisipasi Perempuan dan Jumlah Kelompok
Di Daerah Binaan CCDP-IFAD ... 32
DAFTAR LAMPIRAN
1. Jumlah kelompok di 108 desa di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014 2. Jumlah kelompok di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014
3. Capaian pembangunan manusia berbasis gender di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2012
4. Persentase partisipasi perempuan pada lembaga dan kelompok di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014
5. Persentase partisipasi perempuan pada berbagai pertemuan/pelatihan di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014
6. Pemetaan peran gender pada berbagai mata pencaharian di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014
7. Daftar Kemitraan di kabupaten/kota CCDPIFAD sd November 2014 8. Berbagai isu gender pada12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2014 9. Profil Daerah Binaan CCDP-IFAD
B
B
A
A
B
B
I
I
.
.
P
P
E
E
N
N
D
D
A
A
H
H
U
U
L
L
U
U
A
A
N
N
1.1. COASTAL COMMUNITY DEVELOPMENT PROJECT (CCDP-IFAD)
Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau Coastal Community Development Project (CCDP-IFAD) merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan International Fund for Agriculture Developmant ( IFAD,) sebuah badan PBB, yang merespon langsung terhadap kebijakan dan prakarsa Pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job, pro-growth and pro-sustainability) yang sejalan dengan kebijakan dan program IFAD (CCDP-IFAD, 2012).
Pendanaannya menggabungkan pinjaman IFAD dengan persyaratan tertentu yang bersumber dari dana bantuan Pemerintah Spanyol yang dikelola oleh IFAD, pinjaman dan juga hibah dari IFAD, APBN, APBD, serta kontribusi inkind masyarakat pesisir terkait, yang kesemuanya berjumlah total US$ 43,219 juta.
1.2. Tujuan dan Indikator Keberhasilan
Target umum proyek ini adalah pengurangan kemiskinan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat miskin aktif daerah pesisir dan pulau kecil. Target proyek ini dapat dicapai melalui peningkatan pendapatan rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan perikanan dan bahari di masyarakat miskin pesisir dan pulau kecil, yang menjadi sasaran.
Sejumlah total 180 desa akan terlibat. Diperkirakan dari sekitar 660 rumah tangga dalam sebuah desa rata-rata proyek ini, sekitar 60% akan terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam proyek penangkapan dan pembudidayaan ikan dan kegiatan berbasis bahari lainnya. Ini berarti bahwa total sekitar 70.000 rumah tangga, atau 320.000 orang sebagai populasi target langsung dari proyek ini.
Indikator keberhasilan yang terkait dengan tujuan Proyek PMP yaitu :
1. Tingkat pendapatan masyarakat pesisir sasaran proyek meningkat 10% net; 2. Nilai produk kelautan dan perikanan yang dijual oleh rumah tangga yang
berpartisipasi meningkat rata-rata 30% dibandingkan dengan tingkat penjualan sebelum ada intervensi Proyek;
3. Sebanyak 13.200 rumah tangga tambahan dengan tingkat jaminan hidup lebih baik; dan
4. Indikator Results and Impacts Management System (RIMS) yang terkait sasaran Proyek – adalah 9.900 rumah tangga tambahan dengan perbaikan pada indeks kepemilikan aset rumah tangga dan penurunan sebesar 40% dari kasus malnutrisi pada anak-anak.
1.3. Strategi Dasar
Berdasarkan Design Completion/Project Design Report – Main Report (CCDP-IFAD, 2012), proyek berprinsip pada empat unsur-unsur utama yaitu :
- Pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat dan rumah tangga berpartisipasi dan memutuskan sendiri prioritas mereka dalam perencanaan, pelaksanaan proyek dan investasinya.
- Strategi berpusat pada pasar dan intervensi yang terkait dengannya yang akan menghantarkan manfaat, menaikkan pendapatan dengan meningkatkan hasil bersih produk perikanan dan kelautan yang berkesinambungan.
- Fokus pada kemiskinan dan penargetan pada kaum miskin, berfokus pada yang miskin aktif, yang dapat menggunakan secara efektif investasi proyek dengan pendekatan berbasis pasar.
- Replikasi dan bahkan membuat kegiatan proyek dan prosesnya yang lebih baik lagi di daerah dan kabupaten lain di Indonesia.
1.4. Lokasi Proyek
Ke-12 lokasi proyek dan 1 learning center di 10 provinsi terletak di kawasan timur Indonesia yaitu :
1. Kabupaten Merauke Provinsi Papua
2. Kabupaten Yapen Provinsi Papua
3. Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku
4. Kota Ambon Provinsi Maluku
5. Kota Ternate Provinsi Maluku Utara
6. Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara
7. Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo
8. Kota Pare-Pare Provinsi Sulawesi Selatan
9. Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan
10. Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat
11. Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur
12. Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat
13. Kabupaten Badung Provinsi Bali
Lokasi dipilih berdasarkan keberhasilan daerah dalam berpartisipasi melakukan kegiatan-kegiatan kelautan dan perikanan sebelumnya dan memiliki sekurang-kurangnya 20% keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dari setiap kabupaten/kota, akan dikembangkan 15 desa/kelurahan pesisir.
1.5. Komponen Peoyek
Terdapat 3 komponen utama yang dijalankan secara bertahap, yaitu : 1. Komponen Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan dan Pengelolaan
Sumberdaya,
- Komponen ini merupakan inti dari proyek, dimana lebih dari 2/3 investasi dana proyek dipusatkan pada masyarakat pesisir sasaran, melalui proses partisipatif, yang melibatkan Fasilitator Masyarakat, Penyuluh dan ditunjang oleh PIU dan Konsultan PIU di daerah.
- Setidaknya 15 kelompok masyarakat dibentuk dan difasilitasi di setiap desa target, yang terdiri atas 10-12 kelompok usaha, kelompok pengelola sumberdaya, kelompok infrastruktur, dan kelompok kerja desa.
- Proyek mendorong keterlibatan dan kesetaraan peran perempuan dalam berbagai aktifitas yang dilakukan.
2. Komponen Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelautan dan Perikanan,
- Komponen ini menekankan pada membangun kapasitas kota/kabupaten untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat target kelompok sasaran melalui:
a. dukungan di bidang prasarana utama, inovasi, keterampilan dan kepemimpinan, dan
b. dukungan untuk pemasaran tata niaga dan rantai pasok (supply chain) berdasarkan kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan.
3. Komponen Pengelolaan Program
- Komponen ini mengkoordinasikan implementasi berbagai pihak di tingkat pusat melalui kantor PMO dan menjamin mekanisme dan proses dapat dilakukan dengan baik di daerah. Berbagai proses dilakukan mengikuti mekanisme dan kesepakatan administrasi antara pemerintah RI dengan IFAD, dengan mengikuti mekanisme yang berlaku di Indonesia.
1.6. Kelembagaan
Berdasarkan Dit. PMP-PU (2013), berbagai kelembagaan program CCDP adalah: a. Tim Pengarah Nasional, bertanggung jawab menyetujui perencanaan,
penganggaran dan prosedur program, terdiri atas lintas Ditjen di lingkup KKP, Bappenas, dan KemenKeu.
b. Kantor Pengelola Program (PMO) – bertanggung jawab terhadap operasionalisasi program dan administrasi keuangan, mengkoordinasi perencanaan, impelemntasi program, rekrutmen personil, pelatihan, pemantauan dan evaluasi program.
c. Unit pelaksana proyek Kabupaten/Kota (PIU), dengan Bupati / Walikota bertanggung jawab atas keseluruhan implementasi program di daerahnya. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan selaku Ketua PIU bertanggung jawab untuk implementasi teknis berbagai program, dibantu oleh 2 orang konsultan yaitu : Konsultan Pemberdayaan dan Pengelola Sumberdaya serta Konsultan Pemasaran, Lembaga dan Prasarana .
d. Komite Pemberdayaan Masyarakat (District Oversight Board/DOB), dibentuk di setiap kabupaten/kota terdiri atas unsur Bappeda, Dinas KP, LSM, PT, Dinas Pemberdayaan, UPT Ditjen KKP, kelompok wanita dan dunia usaha yang jumlahnya antara 9-11 orang. Selain bertujuan memberikan saran, dukungan dan rekomendasi untuk mengimplementasikan program secara efektif, DOB ini juga berfungsi mengkaji dan menyeleksi berbagai proposal yang masuk dari kelompok masyarakat, untuk mendapatkan pendanaan. Tim Pengarah Nasional dan PMO ditetapkan melalui keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan, sedangkan DOB dan PIU ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat.
Kelembagaan di masyarakat yang ditetapkan oleh PIU di daerah adalah :
a. Kelompok Kerja Desa (VWG/Village Working Group) dibentuk melalui pemilihan dari masing-masing kelompok sasaran dalam pertemuan desa, terdiri dari 5 orang anggota dan 2 diantaranya perempuan.
b. Tenaga Pendamping Desa (TPD)/Fasilitator adalah orang yang mempunyai latar belakang pendidikan atau berpengalaman di bidang kelautan dan perikanan, tinggal di tengah masyarakat sasaran, dan mendampingi kelompok masyarakat terus-menerus selama berlangsungnya Proyek PMP. c. Kelompok Masyarakat (Pokmas) adalah kumpulan masyarakat terorganisir di wilayah pesisir dan melakukan kegiatan usaha penunjang kelautan dan perikanan atau usaha lainnya serta terkait peningkatan pendapatan dan penumbuhan wirausaha kelautan dan perikanan. Kelompok ini terdiri dari : - Kelompok Pembangunan Infrastruktur,
- Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Alam (PSDA) - Kelompok Tabungan
- Kelompok Usaha (P. Tangkap, P. Budidaya, Pengolahan, Pemasaran). Berdasarkan Pednis PMP (2013), keterlibatan wanita dalam kegiatan usaha yang berorientasi pada produksi akan menjadi tantangan bagi beberapa kelompok usaha terutama yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan. Namun, wanita sangat didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha budidaya perikanan, pengolahan, pemasaran, pembangunan prasarana masyarakat dan penggalangan tabungan.
Sebagai pedoman, dalam satu kelompok usaha, satu datu tiga anggota kelompok harus atau minimal 30% harus wanita. Jika tidak dapat dipenuhi, maka pertimbangan Pengarusutamaan Gender tidak berhasil dilaksanakan dan konsekuensinya alokasi dana untuk desa tersebut dapat dikurangi. Kelompok Usaha dibentuk maksimum 10 buah pada tahun pertama dengan 20% atau 2 Kelompok Usaha beranggotakan perempuan
Pada tahun 2013 di 36 Desa di 12 kabupaten/kota (atau 3 desa per kab./kota) telah terbentuk 331 kelompok di luar lembaga DOPB, PIU dan TPD. Sampai dengan akhir Oktober 2014, di 108 desa (atau bertambah menjadi 9 desa per kab./kota) telah terbentuk seluruhnya 1.006 kelompok dengan rincian sebagai berikut :
108 VWG / Kelompok Kerja Desa
108 Kelompok Pembangunan Infrastruktur 102 Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Alam 21 Kelompok Tabungan
667 Kelompok Usaha yang terdiri dari : - 350 Kelompok Perikanan Tangkap - 94 Kelompok Perikanan Budidaya - 143 Kelompok Pengolahan
- 80 Kelompok Pemasaran
Berdasarkan ketentuan Pednis PMP di atas, sampai dengan 2014, jumlah Kelompok Pengolahan yang sebagian besar beranggotakan perempuan mencapai 22% dari total jumlah kelompok usaha, yang memenuhi target minimal 20%.
Rincian data kelompok per desa tertera pada Lampiran 1., sedangkan rincian data per Kabupaten/Kota tertera padaLampiran 2.
B
B
A
A
B
B
.
.
2
2
P
P
E
E
N
N
G
G
A
A
R
R
U
U
S
S
U
U
T
T
A
A
M
M
A
A
A
A
N
N
G
G
E
E
N
N
D
D
E
E
R
R
D
D
A
A
N
N
P
P
E
E
M
M
B
B
A
A
N
N
G
G
U
U
N
N
A
A
N
N
B
B
E
E
R
R
B
B
A
A
S
S
I
I
S
S
G
G
E
E
N
N
D
D
E
E
R
R
2.1. Pengertian Istilah
a. Gender adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki dalam peran, tanggung jawab, fungsi, hak dan perilaku yang telah dikonstruksikan oleh sosial dan budaya yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kemajuan zaman. Perbedaan tersebut tidak jarang memunculkan permasalahan atau isu gender.
b.
Kesenjangan Gender adalah ketidak seimbangan atau perbedaan kesempatan, akses, partisipasi dan manfaat antara perempuan dan laki-laki yang dapat terjadi dalam proses pembangunan.c. Isu Gender adalah permasalahan yang diakibatkan kesenjangan gender yang berimpilkasi adanya diskriminasi terhadap salah satu pihak (perempuan atau lali-laki) sehiingga terjadi kondisi yang tidak adil gender.
d. Keadilan Gender adalah perlakuan adil bagi perempuan dan laki-laki. dalam seluruh proses pembangunan, untuk mendapat akses dan manfaat, partisipasi dalam mengambil keputusan dan penguasaan atas sumberdaya sesuai dengan kebutuhannya.
e. Kesetaraan Gender adalah hasil dari perlakuan adil gender, yaitu adanya kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki dalam memperoleh kesempatan dan haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi di berbagai kegiatan serta kesamaan menikmati hasil yang dampaknya seimbang.
f. Responsif Gender
adalah p
erhatian yang konsisten dan sistimatis terhadap perbedaanperempuan
danlaki-laki
dalam masyarakat disertai upaya menghapus hambatan struktural dan kultural dalam mencapai kesetaraan gender dan upaya mengangkat isu ketertinggalan dari salah satu jenis kelamin.g. Pengarusutamaan Gender (PUG)
adalah s
trategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. dimana aspek gender terintegrasi dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan nasional (INPRES No.9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender).h. Data Terpilah merupakan data menurut jenis kelamin, status dan kondisi perempuan dan laki-laki di seluruh bidang pembangunan yang meliputi a.l. kesehatan, pendidikan, ekonomi dan ketenagakerjaan, bidang ekonomi dan pengambilan keputusan, bidang hukum dan sosial budaya.
i. Gender Analysis Pathway (GAP) adalah suatu metoda analisis untuk mengetahui kesenjangan gender secara lengkap, mulai dari melakukan analisis dan mengintegrasikan hasil analisis isu gender kedalam kebijakan / program / kegiatan hingga dalam proses meyususn Rencana Aksi.
j. Analisis gender adalah proses untuk mengidentifikasi isu-isu gender yang disebabkan oleh adanya pembedaan peran dan hubungan sosial antara perempuan dan laki-laki yang dapat menyebabkan pembedaan dalam pengalaman, kebutuhan, pengetahuan dan perhatian, tapi juga berimplikasi pada pembedaan antara keduanya dalam hal memperoleh akses dan manfaat dari hasil pembangunan. Analisa gender memerlukan data gender yang sudah terpilah secara kualitatif dan kuantitatif. Analisi ini merupakan langkah awal dari penyusunan program dan kegiatan yang responsif gender.
k. Responsif Gender adalah perhatian yang konsisten dan sistimatis terhadap perbedaan-perbedaan perempuan adan laiki-laki di dalam masyarakat yang disertai upaya menghapus hambatan-hambatan struktural dan kultural dalam mencapai kesetaraan gender.
l. Pemberdayaan perempuan adalah suatau proses dari bawah (bottom-up) untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan kelompok perempuan dalam mengidentifikasi masalah, menyampaikan kebutuhan dan merumuskan pemecahan masalah. Pemberdayaan tersebut perlu dilakukan terhadap kelompok perempuan baik sebagai individu maupun kelompok dalam kegiatan pembangunan.
2.2. Perbedaan Gender dan Perbedaan Jenis Kelamin
Perbedaan gender sering dipahami sebagai perbedaan jenis kelamin dan isu-isu gender cenderung dianggap sebagai masalah kelompok perempuan. Padahal perbedaan gender mengacu pada peran, hak maupun kewajiban perempuan dan laki-laki yang umumnya dibentuk oleh faktor-faktor sosial, seperti budaya dan kebiasaan setempat.
Perbedaan gender adalah perbedaan peran dan pembagian tugas seperti: perempuan merawat keluarga dan laki-laki mencari nafkah utama. Perbedaan ini sangat dipengaruhi oleh budaya setempat dan bersifat tidak tetap, karena perempuan juga bisa bertugas sebagai pencari nafkah utama, sedangkan laki-laki bisa melakukan tugas merawat keluarga.
Perbedaan gender membuat perempuan dan laki-laki melakukan kegiatan-kegiatan yang berbeda, akibatnya mereka juga memiliki pengalaman, kebutuhan, prioritas dan pandangan yang berbeda dalam kehidupan sehari-harinya. Kegiatan pembangunan perlu tanggap terhadap perbedaan-perbedaan ini supaya bisa memberi manfaat pada kelompok perempuan dan laki-laki sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Perbedaan jenis kelamin mengacu pada fungsi-fungsi jasmaniah perempuan dan laki-laki yang ditentukan oleh faktor biologis. Perbedaan fungsi jasmaniah seperti mengandung, melahirkan dan menyusui adalah perbedaan yang terkait dengan jenis kelamin dan bersifat tetap. Fungsi-fungsi reproduksi tersebut hanya bisa dilakukan oleh perempuan.
Jadi, perbedaan gender bisa berubah dan diubah sesuai dengan kondisi dan tuntutan masyarakat. Sedangkan perbedaan fungsi jasmaniah yang terkait dengan perbedaan jenis kelamin tidak bisa diubah (kalaupun diubah hanya bersifat kosmetik seperti yang terjadi pada operasi perubahan jenis kelamin).
2.3. Perubahan Perbedaan Gender Menjadi Diskriminasi Gender
Perbedaan gender menjadi diskriminasi gender pada saat perbedaan peran, hak dan kewajiban/tugas membuat kelompok tertentu dirugikan/dilemahkan dan kelompok yang lain diuntungkan/dikuatkan. Menurut KPNPP (2000), gender jadi masalah antara lain apabila :
- Perempuan tidak dapat berkembang karena hanya diberi peran dalam urusan rumah tangga dan tidak diberi kesempatan serta peluang untuk peran-peran yang produktif.
- Laki-laki dibebani pekerjaan, tugas dan tanggung jawab yang terlalu berat dan dituntut untuk lebih mampu dan lebih kuat dalam banyak hal.
- Anak perempuan tidak mendapat pendidikan formal yang sama tingginya seperti yang diterima oeh anak laki-laki dengan berbagai alasan.
- Perempuan menjadi tergantung kepada nafkah suami sehingga tidak memiliki keterampilan dan pengalaman yang sebanding dengan laki-laki.
- Dalam keluarga yang kurang mampu, perempuan melaKukan pekerjaan ganda baik mengurusi rumah tangga maupun mencari nafkah dengan keterampilan dan pengetahuannya yang terbatas.
- Potensi dan bakat yang dimiliki perempuan kurang mendapat wadah.
- Belum memasyarakatnya konsep/pemilikan tentang perlunya kesetaraan dan keadilan gender.
- Masih terdapat kebijakan perangkat hukun dan perundang-undangan yang bias gender.
Kondisi sebagaimana di atas telah menimbulkan diskriminasi baik terhadap perempuan maupun laki-laki, sehingga mengakibatkan terjadinya pembakuan gender dalam masayarakat dan terjadinya ketidak-adilan, yang berbentuk marginalisasi, subordinasi, stereotype, kekerasan dan beban kerja yang dialami kedua jenis kelamin itu. Terjadinya diskriminasi gender tidak selalu bersifat ekstrim dan tidak selalu disadari. Sekalipun demikian jika dibiarkan akan merugikan kelompok yang berada dalam posisi lebih lemah.
Bentuk-bentuk ketidak-adilan akibat diskriminsi gender itu adalah ; - Marginalisai (pemiskinan ekonomi)
Pemiskinan atas perempuan maupun laki-laki disebabkan karena jenis kelaminnya. Sebagai contoh a.l. penerimaan upah/gaji lebih rendah, pembatasan kesempatan pekerjaan terhadap perempuan dan kemajuan teknologi industri meminggirkan peran serta perempuan. Sebaliknya banyak pula lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi laki-laki karena anggapan mereka kurang teliti dalam melakukan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran.
- Subordinasi (penomor-duaan)
Pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari pada laki-laki misalnya dalam tradisi, tafsiran keagamaan dan aturan birokrasi. Sebagai contoh a.l. perempuan dianggap “orang belakang” dan perempuan dinomor-duakan di bidang politik, hukum, jabatan, karir dan pendidikan.
- Pandangan stereotype (pelabelan negatif)
Penandaan yang sering kali negatif selalu menimbukan ketidak adilan. Sebagai contoh a.l. : label perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat merugikan mereka jika ingin aktif dalam ‘kegiatan laki-laki’ seperti kegiatan politik, bisnis maupun birokrasi. Sementara label laki-laki sebagai “pencari nafkah” mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai ‘sambilan’ atau ‘tambahan’ sehingga kurang dihargai.
- Kekerasan
Akibat perbedaan peran, muncul kekerasan terhadap perempuan secara individu maupun di tempat umum, tempat pekerjaan ataupun masyarakat, baik serangan fisik seperti perkosaan, pemukulan dan penyiksaan, maupun kekerasan terhadap mental psikologis seperti pelecehan seksual, ancaman dan paksaan sehingga yang mengalami terusik secara emosional.
- Beban kerja
Diskriminasi beban kerja ganda atau jenis-jenis kegiatan yang harus dialami jenis kelamin tertentu. Sebagai contoh : perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan runah tangga, dan bagi yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik, mereka juga masih harus mengerjakan domestik. Seorang istri, walau bekerja mencari nafkah keluarga, ia tetap menjalankan tugas pelayanan rumah tangga yang dianggap sebagai kewajibannya.
2.4. Pembangunan yang Berorientasi Gender
Pada tahun 1985, pembangunan yang berorientasi gender menggunakan pendekatan Wanita dalam Pembangunan atau Women In Development (WID). Semua kegiatan ditujukan untuk kepentingan langsung bagi perempuan, seperti peningkatan pendapatan untuk perempuan, kesempatan kerja untuk perempuan, peningkatan kesadaran tentang WID, dan penyusunan data dasar WID untuk sosial ekonomi.
Pendekatan WID sebenarnya kurang menguntungkan untuk pembangunan karena pembangunan adalah untuk keduanya, masyarakat laki-laki dan perempuan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa memasukkan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam pembangunan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi dalam penggunaan sumberdaya pembangunan. Untuk mendapatkan pembangunan yang responsif terhadap pengalaman, aspirasi dan permasalahan perempuan dan laki-laki, pendekatan yang digunakan adalah Wanita dan Pembangunan atau Gender And Development (GAD).
GAD tidak membuat perempuan sebagai subyek utama. Pendekatan GAD memperbaiki peranan perempuan dan memerlukan analisis tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Sedangkan WID berfokus pada perbaikan peran perempuan karena posisinya yang tidak setara dengan laki-laki. Pendekatan GAD memperhatikan essence yang berkaitan proses sosial ekonomi dan politik. Perbedaan antara kedua pendekatan ini tertera padaTabel 1.
Tabel 1. Perbedaan pendekatan WID (Women in Development ) dan GAD (Gender and Development ).
WID (Woman in Development)
GAD
(Gender and Development)• Program hanya terfokus pada perempuan
• Mengubah kondisi perempuan hanya menyentuh kebutuhan gender praktis • Tidak menggugat peran tradisional
perempuan
• Jangka waktu pendek dan hasil sudah kelihatan
• Program dirancang khusus untuk perempuan
• Program meningkatkan partisipasi perempuan, tapi tidak mengubah relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan
• Program terfokus pada relasi laki-laki dan perempuan namun bertujuan memperbaiki keadaan perempuan • Mengubah posisi perempuan dalam
relasinya dengan lingkungan / mengubah gender strategis • Menggugat relasi gender yang
timpang
• Jangka waktu panjang dan hasilnya tidak terlihat langsung seketika • Program dirancang bagi laki-laki dan
perempuan
• Program bertujuan untuk membongkar relasi timpang laki-laki dan
perempuan
2.5. Pembangunan Manusia Berbasis Gender
Untuk memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada, maka pembangunan nasional diarahkan untuk mengedepankan pembangunan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas dan tanpa membedakan jenis kelamin, agar laki-laki dan perempaun mendapatkan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan yang setara (KPP-PA dan BPS, 2013).
Tujuan utama dari pembangunan ini adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupann yang produktif serta terwujudnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang. Pencapaiannya melalui tiga indikator yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang dirinci sampai tingkat kabupaten/kota, sebagai berikut : .
• Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menggambarkan pembangunan kapasitas dasar manusia di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
• Indeks Pembangunan Gender (IPG), mengukur kapabilitas dasar manusia pada ketiga bidang tersebut, tetapi berfokus pada faktor ketidak-setaraan antara laki-laki dan perempuan.
• Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) adalah indikator untuk melihat peran perempuan dalam politik (keterlibatan di parlemen), ekonomi (sumbangan dalam pendapatan kerja) dan pengambilan keputusan (sebagai manager, profesional, administrasi, teknisi)
Secara umum, capaian pembangunan manusia di Indonesia menunjukan peningkatan dari tahun 2004-2012, dan lebih dari 90% kab./kota telah masuk dalam kategori capaian menengah ke atas pada tahun 2012.
Gambaran capaian pembangunan manusia di ke-12 daerah binaan CCDP-IFAD tertera pada Lampiran 3., sedangkan gambaran kesenjangan gender (perbandingan IPM dan IPG) masing-masing tertera padaGambar 1. berikut.
Gambar 1. Kesenjangan gender (perbandingan IPM dan IPG) di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD tahun 2013
Dengan membandingkan IPM dan IPG, dapat diketahui ada tidaknya kesenjangan SDM antara laki-laki dan perempuan. Kesenjangaan gender yang terbaik atau relatif paling kecil adalah angka yang hampir mendekati 1. Angka ini dicapai Kota Ambon dan Merauke yang masing-masing sama yaitu 96,81%, sedangkan kesenjangan yang paling besar ter4jadi di Kabupaten Gorontalo Utara yaitu 83,50%.
Pada Lampiran 3, ditinjau dari indikator Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) tentang peran perempuan dalam politik, ekonomi dan pengambilan keputusan, Kota Bitung mencapai IDG sebesar 70.62 yang melebihi IDG secara nasional pada tahun 2012 sebesar 70.00, sedangkan di Kabupaten Lombok Barat IDGnya paling rendah yitu 50.50. Walaupun kesenjangan gender (perbandingan IPM dan IPG) Kota Bitung realtif rendah sebagaimana pada Gambar 1., tetapi peran perempuan dalam berbagai aspek pembangunan sudah relatif tinggi.
2.6. Pengarusutamaan Gender (Gender Mainstreaming)
Dituangkan dalam Instruksi Presiden No. 9 tahun 2000, Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam seluruh aspek pembangunan, dimana aspek gender terintegrasi dalam perumusan kebijakan program/kegiatan melalui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Strategi ini meliputi : 1) formulasi kebijakan dan program yang responsif gender, 2) kelembagaan yang mendukung PUG, 3) Sumber daya : personil, dana dan alat, 4) data terpilah dan sistim informasi serta 5) dukungan masyarakat madani.
PUG menjadi prinsip pembangunan yang menjadi landasan operasional bagi seluruh pelaksana pembangunan yaitu yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-20125
Kegiatan PUG terutama berfokus pada perbedaan gender (yaitu perbedaan peran, hak, kewajiban/tugas yang dijalankan oleh kelompok perempuan dan laki-laki) dan bertujuan untuk :
• Memperbaiki akses dan peluang kelompok perempuan dan laki-laki dalam berpartisipasi dan menerima manfaat dari berbagai kegiatan baik di rumah tangga maupun di masyarakat agar menjadi lebih setara dan adil.
• Mencegah agar perbedaan gender tidak menjadi diskriminasi gender.
Strategi pemberdayaan ini dirancang sebagai strategi alternatif untuk melengkapi dua strategi terdahulu yaitu Women in Development (WID) dan Gender and Development (GAD), dan dideklarasikan semenjak tahun 1995 pada 4th World
Conference on Women di Beijing. Sejak saat itu, hampir semua pemerintahan dunia ketiga mulai mengembangkan Kementerian Peranan Wanita, dengan fokus utama meningkatkan peran wanita dalam pembangunan.
Strategi peningkatan peran wanita dalam pembangunan ini didasarkan pada suatu analisis yang lebih memfokuskan pada kaum perempuannya. Strategi ini dibangun di atas asumsi bahwa permasalahan kaum perempuan berakar pada rendahnya kualitas sumber daya perempuan itu sendiri yang menyebabkan mereka tidak mampu bersaing dengan kaum laki-laki dalam masyarakat termasuk dalam pembangunan. Analisis ini mengharuskan adanya usaha untuk menghilangkan diskriminasi yang menghalangi usaha mendidik kaum perempuan
Keuntungan menyelenggarakan PUG ini adalah dapat diidentifikasinya apakah laki-laki dan perempuan :
• Memperoleh akses yang sama kepada sumberdaya pembangunan
• Berpartisipasi yang sama dalam proses pembangunan, termasuk proses pengambilan keputusan
• Memiliki kontrol yang sama atas sumberdaya pembangunan • Memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan Alasan diperlukannya PUG antara lain adalah ;
• Pemerintah dapat bekerja lebih efisien dan efektif dalam memproduksi kebijakan-kebijakan publik yang adil dan responsif gender kepada rakyatnya, perempuan dan laki-laki.
• Kebijakan dan pelayanan publik serta program dan perundangundangan yang adil dan responsif gender akan membuahkan manfaat yang adil bagi semua rakyat perempuan dan laki-laki.
• PUG merupakan upaya untuk menegakkan hak-hak perempuan dan laki-laki atas kesempatan yang sama, pengakuan yang sama dan pengahargaan yang sama dimasyarakat
• PUG mengantar kepada pencapaian kesetaraan gender dan karenanya PUG meningkatkan akuntabilitas pemerintah terhadap rakyatnya.
• Keberhasilan pelaksanaan PUG memperkuat kehidupan sosial politik dan ekonomi suatu bangsa.
Hambatan yang dihadapi penyelenggaraan PUG umumya adalah ; budaya, lemahnya sosialisasi, perbedaan paradigma dan kebijakan anggaran yang masih netral dan buta gender. Pengarusutamaan Gender akan berhasil, jika sudah dilaksanakan oleh seluruh kalangan masyarakat baik yang bergabung dalam lembaga pemerintah (Departemen dan non-Departemen), organisasi profesi, organisasi swasta, organisasi keagamaan maupun pada masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga.
Lembaga pemerintah merupakan sasaran utama dari Pengarusutamaan Gender seperti yang tertuang dalam INPRES No. 9 Tahun 2000. Dengan kewenangan yang dimiliki, maka SDM yang tersedia dari tingkat pusat sampai lini lapangan, yang berperan membuat kebijakan, program dan kegiatan (policy maker), dan perencanaan program (technical planning) mutlak harus mengutamakan gender dalam setiap langkahnya. Begitu pula organisasi swasta, organisasi profesi, organisasi keagamaan dan lain sebagainya, adalah organisasi-organisasi yang sangat menguasai keadaan di lapangan dan dekat dengan masyarakat.
2.7. Landasan Hukum
Landasan hukun dari Pengarusutamaan gender ini adalah :
Instruksi Presiden RI No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) Dalam Pembangunan, yang menginstruksikan kepada jajaran eksekutif, Gubernur, Bupati dan Walikota untuk melaksanakan strategi PUG sebagai bagian dari pembangunan nasional. PUG harus dilaksanakan di setiap tahap penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan. Permendagri No 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan PUG
di Daerah, yang telah diperbaharui dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomot 67 Tahun 2011, menginstruksikan pada semua unit pemerintah di bawah koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), untuk mengintegrasikan PUG ke dalam perencanaan dan penganggaran yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD, Rencana Strategis SKPD, dan Rencana Kerja SKPD.
Kesepakatan Bersama antara KKP dan KPP-PA No. 06 MEN-KP/KB/III/2011 dan No. 12 Tahun 2011 tentang Peningkatan Efektivitas PUG serta Adanya Kebijakan Khusus untuk Mempromosikan dan Menangani Hak-Hak Perempuan di Bidang Kelautan dan Perikanan
Surat Edaran KaBappenas, MenKeu, Mendagri dan MenNegPP-PA No : 270/M.PPN/11?2012, No : SE-33/MK.02?2012, No: 050/4379A/SJ, No: SE 46/MPP-PA/11/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan PUG melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 4/PERMEN-KP/2014 Tentang Pedoman Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender Kementrerian Kelautan dan Perikanan.
B
B
A
A
B
B
3
3
P
P
E
E
L
L
A
A
K
K
S
S
A
A
N
N
A
A
A
A
N
N
P
P
E
E
N
N
G
G
A
A
R
R
U
U
S
S
U
U
T
T
A
A
M
M
A
A
A
A
N
N
G
G
E
E
N
N
D
D
E
E
R
R
P
P
A
A
D
D
A
A
C
C
C
C
D
D
P
P
-
-
I
I
F
F
A
A
D
D
3
3
.
.
1
1
. Landasan
.
Rencana Pengarusutamaan Gender (PUG) telah tertera dalam Dokumen Project Design Report CCDP-IFAD (2012) khususnya Annex XII Poverty, Targeting And Gender, Bag. E. Gender Strategy para 29 - 33 dan sesuai dengan pembangunan yang responsif gender yang tertera pada Renstra Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014. Dalam Buku I. terkait dengan prioritas bidang kesejahteraan masyarakat dan dalam Buku II. terkait dengan kebijakan pengarus utamaan dan lintas bidang (Pokja KKP, 2013).
Kegiatan Pengarusutamaan Gender terutama berfokus pada perbedaan gender (yaitu perbedaan peran, hak, kewajiban/tugas yang dijalankan oleh kelompok perempuan dan laki-laki) dan bertujuan untuk :
• Memperbaiki akses dan peluang kelompok perempuan dan laki-laki dalam berpartisipasi, memiliki kontrol dan menerima manfaat dari berbagai kegiatan baik di rumah tangga maupun di masyarakat agar menjadi lebih setara dan adil.
• Mencegah agar perbedaan gender tidak menjadi diskriminasi gender.
3.2. Tujuan CCDP Yang Berorientasi Gender
Tujuan CCDP yng berorientasi gender adalah memberi kesempatan pada masyarakat perempuan dan laki-laki. secara proposional sesuai tugas dan tanggung jawabnya berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan, khususnya memperbaiki ketertinggalan perempuan. Fokus strategi yang akan djalankan adalah :
Mengembangkan pemberdayaan perempuan untuk mampu berperan aktif di bidang ekonomi
Memperkuat peran pengambilan keputusan perempuan dalam isu pembangunan masyarakat dan meningkatkan keterwakilannya di lembaga lokal
Meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan perempuan serta mengurangi beban hidupnya melalui akses pelayanan masyarakat dan infrastruktur dasar
3.3. Target Program Gender
Program gender yang merupakan bagian dari Komponen Proyek 1 yaitu Pemberdayaan, berdasarkan Logical Framework CCDP, juga tertera pada Appendix E. Environmental and Social Review dari Project Design Report (2012) pada aspek monitoring yang terkait dengan gender, partisipasi perempuan dan pengentasan kemiskinan, merencanakanindikator output berikut : ;
• 9.900 tambahan rumah tangga dengan peningkatan indeks kepemilikan aset rumah tangga.
• Penurunan 40% malnutrisi pada anak-anak.
• 13.200 rumah tangga tambahan dengan perbaikan ketahanan pangan. • 70% rumah tangga perikanan/kelautan menyatakan Rencana Desa
mewakili prioritasnya.
• 50% perempuan desa menyatakan Rencana Desa mewakili prioritasnya. • 60% Kelompok Usaha yang telah didukung dan terlatih dalam 3 tahun
pertama, menguntungkan.
Berdasarkan Appendix II : Poverty and Targetting dari dari CCDP-IFAD Project Design Report Para 6 (IFAD, 2012), persyaratan dilaksanakannya PUG adalah partisipasi perempuan, ditargetkan sebagai berikut :
• Keseimbangan jumlah laki-laki dan perempuan dari TPD yang direkrut, atau minimal 40 % nya adalah perempuan.
• Pelatihan awal sebelum penugasan TPD termasuk modul khusus tentang pengarus utamaan gender.
• Partisipasi perempuan yang hadir pada pertemuan-pertemuan masyarakat sebesar 30%.
• Minimal 2 orang perempuan atau 40% dari 5 anggota Kelompok Kerja Desa (VWG).
• Miinimal 30 % perempuan pada anggota pada Kelompok Infrastruktur dan Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam, dan
• Minimal dibentuk satu Kelompok Tabungan di setiap desa yang anggotanya didominasi perempuan.
Berdasarkan tujuan, target dan indikator output di atas sebagaimana juga tertera dalam Gender Focus : Aide Memoire dari Review Mission tgl 9-19 September 2013 (IFAD, 2013) , direncanakan penyusunan strategi gender yang bersifat :
• Orientasi lebih terhadap peran wanita pada proses perencanaan /pengambilan keputusan pembangunan desa dan pembentukan Kelompok Masyarakat tahap-tahap selanjutnya.
• Mencakup dukungan terhadap pengembangan kapasitas analisa mata pencaharian dimana gender merupakan bagian integral.
• Berfokus pada hambatan dan peluang yang dihadapi kelompok. • Bersifat fleksibel yang bisa merespond peluang lokal.
• Mudah dilaksanakan dan relevan terhadap hambatan spesifik di daerah binaan masing-masing di berbagai daerah Kabupaten/Kota.
• Harus merencanakan keterlibatan maksimum perempuan dalam sub-komponen 2.2. yaitu Dukungan Pasar dan Rantai Pasok.
3.4. Capaian CCDP- IFAD Terkait Gender
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh PMO di daerah diantaranya Result and Impact Monitoring System (RIMS) dan
Annual Outcome Survey (AOS),
menghasilkan data dan informasi terkait gender yang digunakan sebagai bahan analisa gender mengingat terbatasnya data terpilah yang telah tersedia.
3.4.1. Result and Impact Monitoring System (RIMS)
Terhadap terhadap 900 rumah tangga dari 30 cluster di 12 kab./kota binaan, dengan 30 rumah tangga per cluster, pada bulan November 2013 dilaksanakan monitoring terhadap tingkat kemiskinan, ketahanan pangan, aspek sosial ekonomi seperti : umur, tingkat literasi, sumber air bersih dan sanitasi, serta kondisi kesehatan anak balita. Ringkasan hasil monitoring adalah sebagai berikut :
• Dari 4.121 orang anggota RT (2019 laki-laki dan 1.974 perempuan), didominasi 0eh kelompok umur 10-14 tahun. Usia produktif (15-59 tahun) yang lebih banyak diisi perempuan memperlihatkan perempuan lebih mampu beradaptasi untuk bertahan hidup di masyarakat pesisir.
Disamping itu, perempuan juga banyak bergerak di penjualan sayur mayur dan pengolahan produk perikanan. Kelompok umur non-produktif di bawah 15 tahun yang mendominasi anggota rumah tangga, ternyata didominasi oleh laki, yang bila dioptimasikan kemampuannya, akan menjadi laki-laki usia produktif yang tangguh. Dengan demikian regenerasi nelayan untuk menjalankan perikanan yang kuat dan produktif dapat dicapai. • Pengukuran kemiskinan menggunakan kriteria Biro Pusat Statistik. Dari
13% rumah tangga yang dikepalai perempuan, maka 6% yang berstatus kemiskinannya cenderung paling rendah ternyata menjalankan usaha pengolahan.
• Tingkat kemampuanliterasi yang dicapai perempuan dan laki-laki dewasa sangat tinggi, masing-masing adalah 93% dan 94%. Pada usia produktif (15-24 tahun) tingkat literasi ini lebih tinggi lagi yaitu masing-masing 97% dan 95%. Tingginya tingkat literasi dipacu oleh kebijakan pemerintah yang mengalokasikan dana pendidikan yang cukup besar.
• Ditinjau dari aspek sumber air minum, 78% rumah tangga memiliki sumber air yang aman terutama yang berasal dari sumur.
• Dari aspek sanitasi, 69% rumah tangga telah memiliki sanitasi (flush toilet) yang cukup terjaga.
• Dari aspek ketahanan pangan, dari total 900 rumah tangga, sebanyak 46% atau 418 rumah tangga mengalami masa kelaparan/paceklik pada setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35% atau 318 rumah tangga terkena 1 kali musim kelaparan selama 3,5 bulan, sedangkan sisanya sebesar 11% atau 100 rumah tangga mengalami 2 kali musim kelaparan yaitu 3,5 bulan perumah tanggaama ditambah 2,5 bulan di musim kedua.
• Monitoring aspek kesehatan terhadap anak-anak dilakukan dengan menggunakan cara anthropometry yang mengikuti standard WHO terhadap 3 indikator malnutrisi dengan mengukur tinggi badan (TB), berat badan (BB) dan umur (U) sebagai : TB/U untuk malnutrisi kronis (pendek/stunting/); BB/TB untuk malnutrisi akut (wasting) dan BB/U untuk kurang gizi (thin nutrition condition). Dari sejumlah 432 orang anak dibawah usia 5 tahun, didapat kondisi kesehatan :
- 54% anak malnutrisi kronis (59% anak perempuan, 51% anak laki) - 17 % anak malnutrisi akut (17% anak perempuan, 16% anak laki) - 28% anak kurang gizi (34% anak perempuan, 22% anak laki)
Perbandingan data dengan standard Riser Dasar Kesehatan (RISKEDAS) 2010 yang dikeluarkan Asosiasi Nutriisi Indonesia adalah :
Kondsi kesehatan RISKEDAS 2010 RIMS
Malnutrisi kronis 36% 54% (2,8 kali lebih tinggi)
Malnutrisi akut 6% 17% (1,5 kali lebi tinggi)
Kurang berat 18% 28% (1,5 kali lebih tinggi)
Data perolehan RIMS yang 1,5 - 2,8 kali lebih besar standard RISKESDAS 2010 ini memperlihatkan kondisi anak-anak pesisir di daerah binaan CCDP sangat parah terutama di tingkat malnutrisi kronis. Anak perempuan ternyata terlihat lebih rentan terhadap kekurangan gizi tersebut. Kondisi malnutrisi anak ini sering ditemukan di Kabupaten Yapen dan Merauke.
3.4.2. Annual Outcome Survey (AOS)
Survei Tahunan ini dilaksanakan di ke 12 kab.//kota pada akhir tahun 2013. Survei dilakukan terhadap aspek-aspek : profil penerimaan manfaat (18 orang per desa binaan proyek dan 18 orang per desa luar), ketahanan pangan, produksi kelautan dan perikanan, akses terhadap pasar, akses terhadap keuangan desa, pembangunan usaha dan ketenaga-kerjaan, akses terhadap sumberdaya alam dan pemberdayaan untuk perempuan.
Ditinjau dari Aspek Pemberdayaan Perempuan, secara umum ringkasan hasil survei terhadap responden di ke-12 daerah binaan secara umum antara lain sebagai berikut:
• 83-100% perempuan membuat keputusan bersama suami untuk pembelian barang rumah tangga dan pendidikan anak, dan 61-100% mebuat keputusan bersama suami untuk pengeluaran perbaikan rumah.
• 50-100% perempuan mempunyai tabungan tunai di rumah. Hanya sedikit yaitu 0-39% yang mempunyai tabungan di bank dan hanya 0-22% memiliki tabungan bersama orang lain
• 55-83% perempuan mempunyai pinjaman, umumnya bersumber dari keluarga, tauke, teman, perantara atau makelar, walaupun ada sedikit (0-6%) yang meminjam ke bank, institusi formal atau lembaga keuangan lain. • 11-28% perempuan menggunakan pinjaman untuk konsumsi, 28-72%
menggunakan untuk usaha, namun sedikit sekali perempuan (0-11%) menggunakannya untuk keperluan kesehatan dan hanya 0-6% meggunakannya untuk pendidikan anak. Tidak ada perempuan (0%) yang menggunakan pinjaman untuk menabung.
• Hanya 11-39% perempuan yang mempunya asset sendiri, sebanyak 56-78% memilikinya bersama suami.
• Hanya 11-39% perempuan yang mengetahui tentang hak waris secara legal.
Hasil Annual Outcome Survey dapat dijadikan salah satu informasi dalam proses evaluasi program dan perbaikan program yang terkait di masa mendatang.
3.5. Partisipasi Perempuan
3.5.1. Partisipasi Perempuan pada Lembaga dan Kelompok
Partisipasi anggota perempuan dalam lembaga/kelompok ditargetkan sebesar 30%, sedangkan target jumlah kelompok usaha perempuan dari keseluruhan kelompok yang dibentuk adalah 20%. Dengan demikian di setiap desa ditargetkan dibentuk masing-masing 1 buah Kelompok Kerja Desa atau Village Working Group (VWG), Kelompok Infrastruktur, Kelompok Pengelolaan Sumberdaya, Kelompok Tabungan, 4 buah kelompok usaha laki-laki dan 2 buah kelompok usaha perempuan. Demikian juga diharapkan peserta perempuan hadir minimal 30% pada setiap sosialisasi, pertemuan pemberdayaan, pelatihan dan sebagainya yang dilaksanakan daerah.
Rata-rata persentase partisipasi perempuan dalam lembaga baik di pusat (PMO dan Konsultan PMO), di Kabupaten/Kota (DOB, PIU, Konsultan daerah dan TPD) dan di Desa (VWG dan Kelompok) di ke-12 kabupaten/kota tertera pada Lampiran 4., sedangkan gambaran persentese partisipasi perempuan secara umum di daerah tertera padaGambar 2. :
• Di Kab/Kota, DOB : 29%, PIU : 33%, Konsultan Daerah : 13%, TPD : 21%. • Di desa pada kelompok-kelompok non-usaha yaitu pada VWG : 35%,
Kelompok Infrastrutur : 5%, Kelompok Pengelolaan Sumber Daya Alam : 14%, Kelompok Tabungan : 85%,. Sedangkan pada kelompok-kelompok usaha yaitu Kelompok Usaha Perikanan Tangkap : 7%, Kelompok Usaha Budidaya Ikan : 21%, Kelompok Usaha Pengolahan : 85% dan Kelompok Pemasaran: 53%.
• Di pusat : PMO : 31%, Konsultan PMO : 8%.
Secara keseluruhan rata-rata partisipasi perempuan adalah sebesar : 28%, yang hampir mendekati target, namun sebarannya tidak merata. Rata-rata partisipasi di lembaga dan kelompok non usaha adalah 20%, sedangkan di Kelompok Usaha adalah 32%.
Gambar 2. Persentase partisipasi perempuan dalam lembaga dan kelompok di 12 kab./kota binaan CCDP-IFAD (Oktober 2014).
Pada lembaga dan kelompok non usaha seperti Kelompok Infrastruktur dan Pengelolaan Sumberdaya Alam yang sifat usahanya dominan laki-laki, sulit dipenuhi target 30% perempuan. Sedikitnya anggota perempuan (5 - 9%) umumnya berperan sebagai Bendahara dan Pencatat kegiatan atau barang yang dibeli. Masalah keamanan karena jauhnya lokasi desa binaan juga membatasi keterlibatan TPD perempuan yang umumnya hanya 1 orang perempuan dari 6 TPD yang bertugas. Dari 12 kabupaten/kota binaan, hanya Kota Kupang memiliki 3 TPD perempuan (50%) dari 6 orang yang bertugas, sedangkan Kota Bitung, Pare-Pare dan Kabupaten Lombok Barat memiliki 2 TPD perempuan atau sesuai 30% dari target.
Pada kelompok-kelompok usaha rata-rata partisipasi yang dicapai adalah 32%. Di hampir semua daerah, penyumbang terbesar adalah Kelompok Pengolahan dimana anggota perempuannya mencapai rata-ratai 89%, Demikian juga dii Kelompok Pemasaran khususnya di Ambon dan Lombok Barat anggotanya dikuasai kaum perempuan (100%). Pada Kelompok Perikanan Tangkap dan Budidaya, partisipasi perempuan masing-masing 7% dan 21%. Di Kelompok Perikanan Budidaya lebih tinggi karena perempuan juga ikut aktif terlibat dalam kegiatan teknis kelompoknya.
3.5.2. Partisipasi Perempuan pada Pertemuan
Berdasarkan informasi Konsultan Pemberdayaan Daerah (2014), diperoleh persentase partisipasi perempuan pada berbagai pertemuan daerah diantaranya sosialisasi, fasilitasi, penyadaran masyarakat, pembentukan lembaga, rapat desa, workshop, training dan bimtek(Lampiran 5.)
Dibandingkan dengan target minimal sebesar 30% sebagaimana yang dipersayaratkan, maka partisipasi kehadiran perempuan yang masih kurang adalah di 3 daerah yaitu rata-rata 16% di Kab. Kubu Raya serta 24% di Kab. Lombok Barat dan 25% di Pare-Pare ; sedangkan di 9 daerah lainnya cukup baik, yaitu berkisar antara 32% di Ternate dan 54% di Kupang.
Walaupun demikian, pemantauan lebih mendalam secara terus menerus secara kualitatif perlu dilaksanakan khususnya bagi para perempuan pelaku ekonomi terhadap manfaat training, bimtek dan pemberdayaan terhadap perkembangan atau kemajuan usaha ekonominya.
3.5.3. Partisipasi Perempuan dan Anak-anak pada Mata Pencaharian
Informasi Konsultan Pemberdayaan (2004) tentang pemetaan peran gender yaitu laki-laki, perempuan dan anak-anak dalam mata pencaharian tertera padaLampiran 6. Khususnya pada mata pencaharian yang didominasi laki-laki seperti perikanan tangkap, tambahan beban ganda perempuan (isteri nelayan) terlihat dari peran sangat nyata dalam membantu kegiatan perikanan tangkap suaminya.
Dari 11 tahapan kerja usaha penangkapan, perempuan nyata terlibat dalam 9 tahap di Kab. Merauke dan Yapen serta dalam 6 tahap di Lombok Barat dan Makasar termasuk pekerjaan penyiapan jaring, penangkapan, pengambilan ikan dari jaring dan pembersihan jaring yang umumnya dilakukan laki-laki. Sedangkan di kab./kota lainnya beban perempuan lebih ringan dengan hanya terlibat dalam 2-5 tahapan kerja termasuk perawatan jaring, penjahitan jaring yang robek, penanganan pasca panen sampai ke penjualan hasil tangkapan dan pengurusan keuangan hasil penjualan.
Di usaha perikanan budidaya, perempuan lebih banyak lagi ikut terlibat dalam keseluruhan tahapan kerja. Dari 11 tahap, perempuan ikut bekerja di seluruh tahap di Kupang, 9 tahap di Ambon dan Merauke, 7 tahap di Makassar, 6 tahap di Bitung dan 5 tahap di Kubu Raya. Pada budidaya rumput laut, di Maluku Tenggara perempuan terlibat pada setengah dari seluruh 17 tahapan kerja termasuk pengikatan bibit, pemasangan pelampung, pemeliharaanm panen dan kegiatan pasca panennya kemudian.
Anak-anak (kebanyakan laki-laki) banyak terlibat pada hampir seluruh tahap usaha penangkapan dan budidaya ikan di Kab. Kubu Raya serta pada usaha budidaya ikan dan budidaya rumput laut di Makassar.
Peran atau kontribusi perempuan dan anak-anak inilah yang umumnya tidak dikenali dan diakui ini dapat dianggap sebagai salah satu isu gender yaitu “statistik tersembunyi” atau hidden statistic.
3.6. Kemitraan
Dalam Gender Focus : Aide Memoire pada Review Mission (2014) dinyatakan bahwa strategi gender harus merencanakan keterlibatan maksimum perempuan dalam Sub-Komponen Proyek No. 2.2. yaitu Dukungan Pasar dan Rantai Pasok. Berdasarkan PDR CCDP-IFAD (2012), tujuan sub-komponen ini adalah untuk menciptakan peluang bagi kelompok-kelompok usaha dan rumah tangga individu dalam desa sasaran untuk berinvestasi secara menguntungkan dalam produksi mereka, dan melakukan pemasaran tahap pertama dari produk bahari berkelanjutan yang berpotensi tinggi yang terkait dengan permintaan pasar.
Pengembangan aspek pemasaran menjadi keharusan terutama dengan berkembangnya usaha kelompok masyarakat, dimana besarnya produk hasil usahanya mungkin tidak mampu seluruhnya diserap pasar lokal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membangun kemitraan, suatu bentuk kerjasama atau sinergitas program/kegiatan antara kelompok usaha/lembaga yang satu dengan lembaga/perusahaan atau mitra lainnya dengan memperhatikan prinsip kesetaraan, saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan (PEMP, 2013). Melaui kemitraan pemasaran ini, strategi promosi juga sekaligus dilakukan oleh mitra (Zawawi, 2014).
Berdasarkan Weekly Dashboard 24-28 November 2014 (Pusat Data dan Monitoring CCDP-IFAD), melaui PIU Kab//Kota dan Konsultan Pemasaran Daerah, kegiatan Komponen 2 Proyek telah menghasilkan 54 buah kesepakatan kerjasama dengan mitra pihak ke-tiga di 12 kab//kota. Sampai dengan November 2014, sebanyak 14 kesepakatan kerjasama tersebut sudah dalam bentuk MoU (Lampiran 7.)
Sebagaimana telah disebut dalam para 3.5.1., partisipasi perempuan terbesar adalah pada Kelompok Usaha Pengolahan (85%), yang menghasilkan berbagai produk olahan antara lain kerupuk dan abon ikan sebagai oleh-oleh, serta yang sudah mejadi komoditi unggulan diantaranya adalah olahan kepiting rajungan di Kab. Kubu Raya, ikan tuna asap cair di Ambon dan terasi panggang udang rebon di Kab. Lombok Barat. Selain membeli dan memasarkan hasil produk kelompok masyarakat, beberapa kesepakatan kemitraan ini juga mencakup pelatihan, monitoring berkala dan bantuan peralatan produksi.