• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Corporate governance atau tata kelola perusahaan akan membantu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Corporate governance atau tata kelola perusahaan akan membantu"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Corporate Governance

2.1.1 Pengertian Corporate Governance

Corporate governance atau tata kelola perusahaan akan membantu terciptanya hubungan kondusif dan dapat dipertanggungjawabkan diantara elemen dalam perusahaan (dewan komisaris, dewan direksi, dan para pemegang saham) dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa corporate governance merupakan suatu tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan. Menurut Sutedi (2012: bahwa corporate governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan (pemegang saham/pemilik modal, komisaris/dewan pengawas dan direksi) untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.

Sedangkan menurut Mal An Abdullah (2010: 13) menyatakan bahwa GCG merujuk pada sistem dan metode dalam mengarahkan, menata dan mengendalikan perusahaan yang meliputi ketentuan-ketentuan hukum dan kelaziman-kelaziman yang memengaruhi inefisiensi akibat moral hazard dan adverse selection. Definisi

(2)

Indonesia (FGCI) dalam Mal An Abdullah (2010: 13) sebagai seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hakdan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Dikalangan pebisnis,secara umum GCG diartikan sebagai tata kelola perusahaan atau sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholders. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan dua hal yang ditetapkan,yaitu:

1. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya.

2. Kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan

(disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan dan stakeholder.

2.1.2 Kode Corporate Governance Indonesia

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa tujuan dari keseluruhan mekanisme corporate governance adalah untuk mengurangi agency cost yang muncul akibat pemisahan kepemilikan dan kontrol pada perusahaan publik yang besar. Untuk itu pemerintah Indonesia melalui Komite Nasional Corporate Governance telah mendesain sebuah instrumen yang disebut Kode Corporate Governance. Kode corporate governance versi terakhir yang dipublikasikan oleh Komite Nasional Corporate Governance, terdiri atas (dalam Kamal, 2011):

(3)

2.1.2.1 Penciptaan Situasi Kondusif untuk Melaksanakan Good Corporate Governance

Kode ini mewajibkan pemerintah, komunitas bisnis, dan masyarakat bekerja secara simultan sebagai governance tripod. Pemerintah sebagai regulator memiliki tanggung jawab melahirkan hukum dan aturan-aturan yang relevan yang mendorong terciptanya iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, di samping menegakkan hukum dan aturan yang dibuat. Komunitas bisnis harus mengimplementasikan prinsip-prinsip corporate governance sebagai dasar dalam aktivitas bisnisnya. Kode juga menyatakan bahwa masyarakat diminta menjalankan kontrol secara objektif dan bertanggung jawab dengan cara mengkomunikasikan pendapat atau keberatannya kepada komunitas bisnis dan pemerintah.

2.1.3 Asas Good Corporate Governance

Prinsip-prinsip umum Kode Corporate Governance Indonesia tidak berbeda dengan prinsip umum corporate governance OECD, kecuali prinsip kewajaran (Tjager, 2003: 52-53). Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

a. Transparansi

Transparansi berkaitan dengan keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai perusahaan.

b. Kemandirian

Kemandirian yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan tekanan dari pihak manapun.

(4)

c. Akuntabilitas

Akuntabilitas mencakup kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggung jawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

d. Pertanggungjawaban

Prinsip pertanggungjawaban merupakan kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap regulasi pemerintah dan prinsip-prinsip korporasi. e. Kewajaran

Prinsip kewajaran mencakup keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan yang muncul berdasarkan perjanjian dan peraturan yang berlaku.

Penerapan dari prinsip-prinsip tersebut tentu akan membawa dampak positif dari penerapan GCG sendiri. Widyaningrum (2014), menyatakan manfaat penerapan prinsip-prinsip dari corporategovernance adalah:

1. Meminimalkan agency cost dengan mengontrol konflik kepentingan yang mungkin terjadi antara principal dan agen.

2. Meminimalkan cost of capital dengan menciptakan sinyal positif kepada para penyedia modal.

3. Meningkatkan citra perusahaan.

Meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari cost of capital yang rendah.

4. Peningkatan kinerja keuangan dan persepsi stakeholder terhadap masa depan perusahaan yang lebih baik.

(5)

Sedangkan Effendi (2009: 2-3) menguraikan dalam bukunya mengenai prinsip-prinsip corporate governance yang dikembangkan oleh OECD yang mencangkup 5 hal yaitu:

1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (the rights of shareholders).

2. Perlakuan yang setara terhadap seluruh pemegang saham (the equitable treatment of shareholders).

3. Peranan pemangku kepentingan berkaitan dengan perusahaan (the role of stakeholders).

4. Pengungkapan dan transparani (disclosure and transparency).

5. Tanggung jawab dewan komisaris atau direksi (the responsibilities of the board).

2.1.4 Faktor-Faktor Pembentuk Corporate Governance

Steger dan Aman (2008: 17-18) mengemukakan bahwa selain model bisnis/industri dan perangkat hukum yang berlaku, terdapat dua faktor lain yang membentuk sistem corporate governance, yaitu personalities (karakteristik) dewan komisaris dan dewan direksi serta ownership (kepemilikan). Karakteristik dewan komisaris dan dewan direksi akan memengaruhi setiap pengambilan keputusan dalam perusahaan, termasuk keputusan pengelolaan intellectual capital. Karakteristik dewan yang diteliti dapat berupa gender, independensi, latar belakang pendidikan, dan kebangsaan (Williams dan O’Reilly, 1998).

(6)

2.1.4.1 Proporsi Komisaris Independen

Proporsi anggota independen dalam dewan komisaris dapat dikatakan sebagai indikator independensi dewan dari manajemen. Keputusan Direksi BEJ Nomor Kep-305/BEJ/07-2004 menyatakan bahwa dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang jumlahnya secara proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan Pemegang Saham Pengendali dengan ketentuan jumlah komisaris independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah seluruh anggota komisaris. Secara lebih rinci komisaris independen didefinisikan sebagai anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat memengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertidak semata-mata demi kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan

Corporate Governance, 2006).

Menurut Surya (2008: 135) komisaris independen adalah komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan Komisaris independen diharapkan dapat menciptakan keseimbangan atas berbagai kepentingan para pihak dalam hal pengambilan keputusan bisnis.

(7)

2.1.3.2 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan saham oleh manajemen dapat diartikan sebagai kepemilikan sejumlah saham suatu perusahaan oleh dewan direksi dan komisarisnya. Kepemilikan manajerial ini diasumsikan dapat menurunkan potensi agency problem. Kepemilikan saham manajerial juga dapat menyatukan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, diharapkan manajer akan berhati-hati dalam mengambil keputusan karena mereka ikut merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut pula menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah (Novitasari, 2009). Dewan direksi dan dewan komisaris yang memiliki saham di dalam perusahaan yang mereka pimpin akan memiliki rasa kepemilikan yang kuat sehingga akan menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kekayaan perusahaan (Makki, 2010: 22).

2.1.3.3 Kepemilikan Insitusional

Kepemilikan institusional mencerminkan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi maupun lembaga lain seperti perusahaan-perusahaan. Menurut Hanafi (2003) dalam Lorena (2014), kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh investor institusional yang dapat dilihat dari proporsi saham yang dimiliki institusi dalam perusahaan. Institusi merupakan lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan termasuk investasi saham.

(8)

2.1.5 Return on Asset (ROA)

ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan. Rasio ini merupakan suatu ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari asset yang dimiliki. Menurut Dendrawijaya (2003:146), semakin besar ROA suatu perusahaan maka semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan asset. Nilai ROA yang semakin mendekati 1, berarti semakin baik profitabilitas perusahaan karena setiap aktiva yang ada dapat menghasilkan laba. Dengan kata lain semakin tinggi nilai ROA maka semakin baik kinerja keuangan perusahaan tersebut (Munawir, 2002).

2.1.6 Leverage

Leverage merupakan aktivitas pembiayaan oleh utang. Leverage

diproksikan oleh rasio debt to assets ratio (DAR) yang dihitung dari besarnya total utang terhadap keseluruhan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan Perusahaan yang memiliki proporsi utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan menanggung biaya keagenan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang proporsi hutangnya kecil. Untuk mengurangi cost agency

tersebut manajemen perusahaan dapat mengungkapkan lebih banyak informasi yang diharapkan dapat semakin meningkatkan seiring dengan semakin tingginya tingkat leverage. Leverage menggambarkan sejauh mana modal pemilik dapat menutupi utang pada pihak di luar perusahaan. Leverage diperkirakan memiliki efek negatif terhadap kinerja modal intelektual. Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi akan lebih fokus pada memperbaiki citra perusahaan daripada menambah investasi jangka panjang perusahaan. Tingkat hutang perusahaan yang

(9)

tinggi akan mengurangi aktivitas perusahaan dalam investasi pada research and development (R & D) dan pengembangan IC (Williams, 2000 dalam Novitasari 2009).

2.2 Intellectual Capital

2.2.1 Pengertian Intellectual Capital

Intellectual Capital umumnya diidentifikasikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan dengan nilai buku dari aset perusahaan tersebut. Lebih lanjut intellectual capital juga diidentifikasikan sebagai nilai yang tersembunyi dari bisnis, karena aset intelektual atau aset pengetahuan tidak terlihat secara umum seperti layaknya aset tradisional dan aset semacam itu biasanya tidak terlihat pula pada laporan keuangan (Edvinsson & Malone, 1997, dalam Ulum, 2009:21)

Klein and Prusak (dalam Brooking, 1997) memberikan definisi awal atas

intellectual capital. Mereka menyatakan bahwa intellectual capital adalah “material yang telah disusun, ditangkap, dan digunakan untuk menghasilkan nilai assets yang lebih tinggi. “Stewart (1997), mendefinisikan intellectual capital

sebagai “packaget useful knowledge.” Brooking (1996) menawarkan definisi yang lebih komperhensif dengan menyatakan bahwa istilah intellectual capital

diberikan untuk kombinasi intangible assets yang dapat membuat perusahaan untuk berfungsi.”

Setelah satu definisi IC yang banyak digunakan adalah yang ditawarkan oleh Organitation for Economic Cooperation and Development (OECD, 1999) yang menjelaskan IC sebagai nilai ekonomi dari dua katagori asset tak berwujud:

(10)

(1) organizational (structural); dan (2) human capital. Lebih tepatnya

Organisational (structural) capital mengacu pada hal seperti sistem software, jaringan distribusi, dan rantai pasokan. Human capital meliputi sumber daya manusia didalam organisasi (yaitu sumber daya tenaga kerja/karyawan) dan sumber daya eksternal yang berkaitan dengan organisasi, seperti konsumen dan supplier.

Stewart (dalam Tarigan, 2015), pengarang Intellectual Capital, The New Wealth of Organization mendefinisikan Intellectual Capital sebagai bahan baku intelektual seperti pengetahuan, informasi, properti intelektual, dan pengalaman yang bersama-sama digunakan untuk menciptakan kesejahteraan dalam perusahaan. Menurut Edvinsson dan Malone (1997) mengidentifikasikan

Intellectual Capital sebagai nila tersembunyi (hidden value) dari bisnis. Terminologi “tersembunyi” disini digunakan untuk dua hal yang berhubungan. Pertama IC khususnya asset intelektual atau asset pengetahuan, adalah minat tidak terlihat secara umum seperti layaknya asset tradisional, dan kedua, asset itu biasanya tidak terlihat pula pada laporan keuangan.

2.2.2 Komponen Intellectual Capital

Banyak para praktisi yang menyatakan bahwa intellectual capital terdiri dari tiga elemen utama (Stewart 1998, Sveiby 1997, Saint-Onge 1996, Bontis 2000) dalam Sawarjuwono dan Agustine (2003), yaitu:

1. Human Capital (modal manusia).

Modal manusia juga merupakan tempat bersumbernya pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi dalam suatu perusahaan yang

(11)

mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut.

2. Structural Capital atau Organizational Capital (modal organisasi).

Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya: sistem operasional perusahaan, proses manufakturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan.

3. Relational Capital atau Costumer Capital (modal pelanggan)

Relational capital merupakan hubungan yang harmonis/ association network yang dimiliki oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para pemasok yang andal dan berkualitas, berasal dari pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan yang bersangkutan, berasal dari hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar. Relational capital dapat muncul dari berbagai bagian di luar lingkungan perusahaan yang dapat menambah nilai bagi perusahaan tersebut.

Dalam Skandia Visualizing Intellectual Capital in Skandia, Supplement to Skandia’s 1994 (Ahmad dan Mushraf, 2011) intellectual capital merupakan sekumpulan aset yang bersifat intangible yang terdiri atas:

(12)

1. Human capital (HC): kemampuan karyawan dalam pengetahuan dan kapabilitas

2. Structural capital (SC): segala sesuatu diluar karyawan, seperti databases,

piranti lunak, struktur organisasi, dll.

3. Customer capital (CC): hubungan yang dibangun dengan pelanggan dan merupakan bagian yang signifikan dari structural capital.

4. Relational capital (RC): menggambarkan reputasi organisasi dan sifat loyal konsumen.

2.2.3 Pengukuran Intellectual Capital

Roos et al. (1997) (dalam Sawarjuwono dan Kadir (2003) menyatakan “That what you can measure, you can manage, and what you want to manage, you have to measure. Measurement has always been important for companies”. Dengan demikian jika intellectual capital dapat diukur, maka akan dapat diatur dan hasil pengukurannya dapat dimanfaatkan oleh perusahaan. Metode pengukuran intellectual capital dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu

intellectual capital yang tidak menggunakan penilaian moneter dan intellectual capital yang menggunakan penilaian moneter (Silaban, 2010). Daftar ukuran non moneter dari intellectual capital antara lain:

a. The Balance Scorecard yang dikembangkan oleh Kaplan dan Norton (1992)

b. Brooking’s Technology Broker method (1996)

c. The Edvinssion and Malone Skandia Intellectual Capital Report method

(13)

d. The Intellectual Capital-Index yang dikembangkan oleh Ross, dkk (1997) e. Sveiby’s Intellectual Capital Monitor Approach (1997)

f. The Heuristic Frame yang dikembangkan oleh Joia (2000) g. Vanderkaay’s Vital Sign Scorecard (2000)

h. The Ernst and Young model (2000)

Sedangkan daftar ukuran moneter dari intellectual capital antara lain: a. Model EVA dan MVA (Bontis et al., 1999)

b. Market to Book Value model

c. Tobin’s q method (Luthi, 1998) d. Pulic VAICTM model (1998, 2000) e. Calculated intangible value (2000)

f. Knowledge Capital Earnings model (Lev and Feng, 2001)

Dari sekian banyaknya teknik pengukuran intellectual capital harus dipilih satu pengukuran. Sveiby (2001) melihat bahwa “No single method can fulfill all purposes; one must select method depending on purpose, situation and audience”.

Teknik pengukuran intellectual capital yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengukuran model Pulic. Menurut Saleh dan Rahman (2008)

“VAIC™ methodology to measure IC performance because it measures the efficiency of a company in the value creation activities”. Intellectual capital

dalam model Pulic ini diukur berdasarkan value added yang diciptakan oleh

physical capital/capital employed (VACA), human capital (VAHU), dan

(14)

disimbolkan dengan nama VAIC™ yang dikembangkan oleh Pulic (1998; 1999; 2000).

2.2.4 Value Added Intellectual Coeficient (VAIC™)

Pulic (1998; 1999; 2000, 2003) menciptakan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan (Value Added Intellectual Coefficient – VAIC™). VAIC ™ tidak ditujukan untuk mengukur nilai modal intelektual yang dimiliki oleh perusahaan, VAIC™ adalah alat akuntansi untuk mengukur dan memantau kinerja aktiva berwujud (physical capital) perusahaan dan kinerja aset intelektual (intellectual capital) perusahaan yang ditunjukkan oleh human capital dan efisiensi modal struktural (Pulic, 2000). VAIC™ menunjukkan bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital

dan intellectual potential) telah secara efisien dimanfaatkan oleh perusahaan. Pulic (1998) menganggap metodologi ini sebagai indikator universal yang menunjukkan kemampuan intelektual dari kemampuan penciptaan nilai unit bisnis dan merupakan ukuran efisiensi bisnis dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

Beberapa alasan yang mendukung digunakannya VAIC sebagai indikator dari intellectual capital ( Pulic dan Bornemann, 1999 dalam Firer dan William, 2003).

1. VAIC menyediakan dasar yang terstandarisasi dan konsisten dalam pengukuran sehingga angka VAIC dapat dibandingkan antar perusahaan karena menyediakan standar dan konsistensi berdasarkan ukuran kinerja

(15)

2. Data yang digunakan dalam pengukuran VAIC berdasarkan data yang dapat ditemukan dalam laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan bersifat obyektif serta dapat diandalkan.

3. Pelaksanaan metode ini sederhana dan hasilnya dapat dengan mudah ditafsirkan. Metode ini paling sesuai dengan pemahaman kognitif stakeholder internal maupun eksternal.

2.2.4.1 Value added of Capital Employed (VACA)

Pulic (2000) mengasumsikan bahwa jika 1 unit dari Capital Employed

(CE) menghasilkan return yang lebih besar daripada perusahaan yang lain, maka berarti perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CEnya. Value Added Capital Employed merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya berupa capital asset yang jika dikelola dengan baik dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan (Ulum, 2009: 87)

2.2.4.2 Value Added Human Capital (VAHU)

Value Added Human Capital (VAHU) menunjukkan berapa banyak nilai tambah dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Hubungan antara value added dan human capital mengindikasikan kemampuan dari human capital untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan (Tan, et al., 2007: 80). Stewart (dalam Ningrum, 2012) menjelaskan bahwa human capital adalah kemampuan karyawan untuk mengolah produk dengan baik sehingga dapat menjaring konsumen dan konsumen tidak akan beralih kepada pesaing. Berdasarkan konsep resource-based theory, supaya dapat bertahan dalam suatu persaingan, perusahaan

(16)

membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan pengelolaan yang baik atas sumber daya manusianya. Sumber daya manusia atau karyawan merupakan asset strategic perusahaan yang dapat meningkatkan kualitas perusahaan.

2.2.4.3 Structural Capital Value Added (STVA)

STVA mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. SC bukanlah ukuran yang independent sebagaimana HC, SC dependen terhadap value creation (Pulic 1999). Artinya semakin besar konstribusi HC dalam value creation, maka akan semakin kecil konstribusi SC dalam hal tersebut. Lebih lanjut Pulic menyatakan bahwa SC adalah VA dikurangi HC, yang hal ini telah diversifikasi melalui penelitian empiris pada sektor industri tradisional (Pulic, 2000).

2.3 Agency Theory

Teori keagenan mengemukakan hubungan kontrak kerja antara pemegang saham (principal) dengan pengelola perusahaan yang diwakili oleh direksi (agent) (Sutedi, 2012:13). Agent sendiri ditunjuk oleh pemegang saham untuk mengelola perusahaan demi kepentingan para pemegang saham.

Agency problem muncul akibat adanya asimetri informasi dan konflik kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen sebagai pengelola perusahaan (Sutedi, 2012: 14). Pemegang saham menginginkan pengelolaan yang menghasilkan pendapatan maksimal atas dana yang telah diinvestasikan, namun tidak memiliki informasi dan kekuasaan yang luas untuk memonitor dan mengontrol kegiatan manajemen. Di pihak lain, manajemen berkepentingan

(17)

terhadap insentif atas pengelolaan dana pemegang saham dan harus bertanggung jawab atas keputusan bisnis yang dilaksanakan yang disebabkan oleh wewenangnya atas pengelolaan perusahaan. Teori keagenan (agency theory) berusaha menjelaskan tentang penentuan kontrak yang paling efisien yang bisa membatasi konflik atau masalah keagenan (Jensen dan Meckling, 1976 dan Eisenhardt, 1989) dalam Ningrum (2012).

Konflik kepentingan tersebut secara alamiah akan terjadi dalam struktur kepemilikan perusahaan yang tersebar (dispersed ownership) dan struktur kepemilikan dengan pengendalian pada beberapa pemegang saham saja (concentrated ownership). Untuk menekan potensi konflik kepentingan, perusahaan perlu menerapkan praktik corporate governance (Surya, 2008:28).

Perusahaan dengan struktur kepemilikan yang tersebar kepada pemegang saham publik, perlu menerapkan corporate governance untuk meningkatkan kewenangan yang dimiliki para pemegang saham publik sebagai penyeimbang pihak manajemen. Sedangkan perusahaan yang memiliki beberapa pemegang saham pengendali, struktur kepemilikannya terkonsentrasi, perlu menerapkan

corporate governance untuk meminimalkan potensi konflik kepentingan yang timbul antara pengendali perusahaan dan pemegang saham publik (Surya, 2008:6).

(18)

2.4 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Peneliti Judul Penelitian Variabel

Penelitian Metode Analisis Hasil 1 Muhammad Abdul Majid Makki Dan Suleman Aziz Lodhi (2014) Impact of Corporate Governance on Intellectual Capital Efficiency and Financial Performance Variabel Dependen : Intellektual capital Variabel Independen : Corporate Governance 1. Proporsi dewan direksi 2. Proporsi dewan direksi eksekutif 3. Jumlah rapat komite audit 4. CEO duality 5. Managerial remuneratio n Kinerja Perusahaan 1. ROI 2. ROE 3. NPAT Partial Least Square (PLS) 1. Corporate governance tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja perusahaan 2. Corporate governance berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja intellectual capital 3. Kinerja intellectual capital berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perusahaan

(19)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Metode Analisis Hasil 2 Isfenti Sadalia dan Nisrul Irawati (2014) Intellectual Capital dan Pertumbuhan Laba Sektor Perbankan di Indonesia Variabel Dependen: 1. ROA 2. BOPO 3. ATO 4. GR(Growth) Variabel Independen: 1. VACA 2. VAHU 3. STVA Analisis regresi sederhan a VAHU,VACA dan STVA berpengaruh terhadap terhadap ROA, ATO, BOPO dan GR pada setiap sektor bank di Indonesia. Pengaruh berbeda untuk masing-masing struktur kepemilikan bank di Indonesia baik pada Bank Pemerintah,Bank Regional, Bank Asing maupun Bank Campuran. 3 Indrianita Anis, (2013) Corporate Governance-Driven to Intellectual Capital and Corporate Performance (Empirical Study in Indonesian Banking Industry) Variabel Dependen : Value Added Intellectual capital (VAIC) Variabel Independen : 1. proksi ukuran komisaris independen, 2. audit komite, 3. kepemilikan institusional, 4. audit eksternal Partial Least Square (PLS) Mekanisme corporate governance (Proporsi ukuran komisaris, komite audit, kepemilikan institusional dan audit eksternal)berpengar uh positif terhadap VAIC 4 Agus Purwanto (2011) Pengaruh Struktur Kepemilikan Perusahaan Terhadap Kinerja Intellectual Capital Variabel Dependen: Intellectual Capital Variabel Independen: 1.Kepemilikan keluarga 2.Kepemilikan insitusional 3.Kepemilikan manajerial Analisis regresi linier berganda 1. Kepemilikan keluarga dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja IC 2. Kepemilikan instituional berpengaruh positif dan signifikan terhadap

(20)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Metode Analisis Hasil 5 Zanjirdar dan Kabiribalaj adeh (2011) Examining Relationship Between Ownership Structure and Performance of Intellectual Capital in the Stock Market of Iran Variabel Dependen : Intellectual Capital Variabel Independen: 1. Kepemilikan institusional 2. Kepemilikan manajerial Analisis regresi linier berganda 1. Investor institusional dan investor manajerial menurunkan kinerja intellectual capital, 2. Investor korporat meningkatkan kinerja intellectual capital 6 Tera Novitasari dan Indira Januarti (2009) Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Intellectual Capital (Studi Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI Tahun 2005-2007) Variabel Dependen : Intellectual Capital Variabel Independen: 1. Kepemilikan manajerial 2. Kepemilikan institusional Variabel Kontrol: 1. Ukuran perusahaan 2. Leverage 3. ROA Analisis regresi linier berganda 1. Kepemilikan manajerial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja IC 2. Kepemilikan instituional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja IC 3. Ukuran, perusahaan dan leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja IC 4. ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja IC

(21)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Metode Analisis Hasil 7 Norman Mohd. Saleh, Mara Ridhuan Che Abdul Rahman, dan Mohamat Sabri Hasan (2008) Ownership Structure and Intellectual Capital Performance in Malaysia Companies Listed in MESDAQ Variabel Dependen : Value AddedIntellectual capital (VAICTM) Variabel Independen 1. Kepemilikan manajerial, 2. Kepemilikan keluarga, 3. Kepemilikan asing 4. Kepemilikan pemerintah. Analisis regresi linier berganda 1. Kepemilikan keluarga memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja intellectual capital, 2. kepemilikan asing dan kepemilikan manajerial memiliki dampak yang positif terhadap intellectual capital 2.5 Kerangka Konseptual

Efektivitas fungsi pengawasan dewan tercermin dari komposisinya. Semakin besar proporsi anggota dari luar perusahaan akan menjadikan peranan dewan komisaris semakin efektif dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap pengelolaan perusahaan karena dianggap semakin independen sehingga semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan, maka semakin tinggi kinerja intellectual capital-nya (Andari, 2015)

Kepemilikan manajerial mencerminkan proporsi kepemilikan saham yang dimilikin oleh manajer, dewan direksi dan dewan komisaris. Sesuai dengan teori ini, Demsetz dan Lehn; Abor dan Biekpe (dalam Saleh, et al., 2008) menemukan hubungan positif antara kinerja perusahaan dan tingkat kepemilikan manajemen di perusahaan. Dalam kepemilikan manajerial, manajer cenderung terlibat dalam

(22)

panjang bagi perusahaan (Saleh, et. al. 2008), salah satu diantaranya yaitu dengan meningkatkan investasi pada intellectual capital perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan manajerial maka semakin efisien pemanfaatan aset perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan adanya keterlibatan dan dukungan dari manajer maka IC yang dimiliki oleh perusahaan akan dikelola dan dimanfaatkan secara efisien sehingga kinerja IC perusahaan akan meningkat.

Kepemilikan institusional juga diindikasikan dapat meningkatkan kinerja

intellectual capital dalam suatu perusahaan. Adanya pengawasan terhadap manajerial perusahaan memungkinkan untuk mengurangi perilaku oportunistik para manajer pada perusahaan. Implikasi dari pengawasan ini ialah meningkatnya efisiensi atas pengelolahan intellectual capital. Investor institusional akan lebih memilih dan mendukung kebijakan yang dapat meningkatkan insentif jangka panjang bagi perusahaan, salah satu diantaranya adalah kebijakan pengelolaan IC.

Dengan adanya dukungan penuh dan pengawasan yang optimal dari pemegang saham institusional maka efisiensi pengelolaan dan pemanfaatan IC akan semakin meningkat .Dengan kata lain, kepemilikan institusional berhubungan positif terhadap kinerja intellectual capital (Novitasi, 2009).

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba dari aktivitas bisnisnya. Profitabilitas perusahaan dapat dilihat dari rasio Return On Asset yang menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan mungkin untuk memperoleh pendapatan dari investasi asetnya. Menurut Williams (2000), tingkat ROA memiliki hubunganpositif dengan keputusan manajemen tentangkinerja IC.

(23)

jangka pendek. Usaha manajemen akan ditujukan kepada penciptaan dan pemeliharaan IC (Williams, 2000 dalam Novitasari 2009) sehingga kinerja IC meningkat.

Kebijakan hutang atau leverage dari sebuah perusahaan akan mempengaruhi kinerja suatu perusahaan. Leverage dinyatakan dalam rasio total hutang terhadap total aset pada neraca akhir tahun. Pengukuran ini mengacu pada penelitian yang dilakukan Novitasari dan Januarti (2007). Leverage dapat meningkatkan nilai perusahaan bila leverage mengurangi arus kas bebas yang telah diinvestasikan. Akan tetapi, jumlah utang yang terlalu besar akan meningkatkan kemungkinan kebangkrutan dan besarnya risiko gagal bayar, sehingga investor kurang berminat untuk berinvestasi dan menurunkan nilai perusahaan.Tingkat hutang perusahaan yang tinggi akan mengurangi aktivitas perusahaan dalam investasi pada research and development (R & D) dan pengembangan IC (Williams, 2000).

(24)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Kinerja Intellectual Capital (VAIC) Variabel Independen Proporsi Komisaris Independen

Jumlah Rapat Komite Audit Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Variabel Kontrol Return on Assets (ROA) Leverage

(25)

2.6 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, kerangka konseptual, dan penelitian terdahulu yang telah diuraikan sebelumnya, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut : “proporsi dewan komisaris independen,kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, return on assets (roa) dan leverage berpengaruh signifikan terhadap kinerja intellectual capital pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia?

Referensi

Dokumen terkait

tentang prinsip Good Corporate Governance, Pasal 4 tentang tujuan penerapn prinsip Good Corporate Governance, BAB IV mengenai Dewan Komisaris atau Dewan Pengawas,

Berdasarkan penjelasan dan paparan tentang penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik ( Good Corporate Governance ) dan kebijakan Rightsizing Badan Usaha

Penelitian yang dilakukan oleh Purwantini mengambil judul Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan dan Kinerja Keuangan Perusahaan.

Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada badan Usaha Milik. Negara, yang dimaksud dengan Good Corporate Governance adalah

Pada penelitian ini kinerja keuangan akan diindikasikan dengan faktor good corporate governance yang diproksikan dengan jumlah anggota dewan komisaris, jumlah anggota dewan

Penelitian ini mengambil topik pengaruh Good Corporate Governance terhadap kierja keuangan pada perusahaan perbankan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh Good

Beberapa penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Arifani (2010), tentang good corporate governance terhadap kinerja keuangan menunjukkan hasil bahwa mekanisme good

Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan (The Influence of Good Corporate Governance on Company