BAB
III
FENOMENA
KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA
A.
Komunikasi: Basic Social Proc'essKomunikasi merupakan'basit' social process' dalam semua segi kehidupan manusia. Manusia bis;t'sunsioe' dalam kehidupannya apabila mereka melakukan interarksi dengan orang
lain
melaluitindak
komunikasiyang
mereka lakukan. Komunikasi menjadi saranayang paling
vital.
Deng:rnkata
lain,
manusia sebagai makhluk sosialtidak
dapathidup
tanpa berkomunikasi denganmakhluk hidup lainnya.
Watzlawick, Beavin dan Jackson dalam aksioma yang pertama
dari lima aksioma dasar tentang komunikasi, menyatakart, " orung tidak bisa tidak berkomunikasi" (Litlejohn 2001: 235) . Sebagai makhluk
sosial, sebagian besar waktunya digunakan untuk berkomunikasi. Dalam pandangan Tubbs dan Moss, 75% dan keseluruhan waktu
kita digunakan untuk berkomunikasi (Tubbs dan Moss, 1996 Z).
Rudolph Verderber (dalam Deddy Mulyana 2003: 4) menga-takan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh manusia mempunyai
dua fungsi,
yaitu
sebagaifungsi
sosial danfungsi
pengambilan keputusan. Sebagaifungsi
sosial, komunikasidiperlukan
untuk membangun konsepdiri,
aktual,rsasidiri,
kelangsungan hidup dan untuk kebahagiaan. DeVlto
(1997:31), memberikan deskripsi bahwa tujuan utama komunikasi adalah penemuandiri
(Personal discoaery). Melalui komunikasi dengan oranglain kita
akan tahu siapadiri
kita
dan tahu tentang orang lain. Selainitu, kita
akan memperolehumpan
balik
yang
berharga mengenai perasaan,pemikiran, dan perilaku kita.
Individu
akan
mengetahuisiapa
dirinya
karena
mereka melakukaninteraksi
denganindividu
lairurya. George HerbertMindful ness dalam Komu nikasi Anta rbudaya
Mead,
tokoh utama
di
kalangan penganutinteraksi
simbolik berpendapatbahwa
seorangindividu
bukanlah
budak
yangmelayani masyarakat, melainkan satu
pribadi
yang sensitif danaktif.
Kehadiran merekadi
tengah lingkungan sosialnya sangatmempengaruhi lingkungan tempat dia tinggal secara efektif (baik
itu
secaraindividu
maupun sosial) sebagaimana lingkunganitu
mempengaruhi
dirinya.
Dengan katalairy individu
mempunyaiperan
yang
sangat besar
dalam
membentuk
masyarakat sebagaimana masyarakat membentukindividu
tersebut (Zeitlin 1995 dalam Riyadi Soeprapto 2002:776).Menurut
Blumer, manusia sebagai seorangindividu
akan memilih, memeriksa,berpikir,
mengelompokkan, danmentrans-formasikan makna dalam kaitannya dengan situasi
di
mana danke
mana arah tindakannya. Secara sadar danreflektif,
manusia akan berusaha untuk menyatukan obyek-obyek yang diketahuinyamelalui
apa yang disebutBlumer
sebagai 'Self-lndiaation'.
Self-Indivation
adalah proses komunikasiyang
sedang berjalandi
mana
individu
mengetahui sesuatu, menilainya, memberi makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan maknaitu.
Proses Self-Indivationini
terjadi dalam konteks sosialdi
manaindividu
mencoba mengantisipasi tindakan-tindakan
orang
lain
danmenyesuaikan tindakannya sebagaimana dia menafsirkan tindakan
itu
(Soeprapto 2002: \22).Dalam
perkembangannya, komunikasiy*g
terjadi
antarasatu
individu
denganindividu
yang
lain
belum tentu
sama. Ketidaksamaanini
disebabkan karena latar belakang budaya yang berbeda. Budaya membawa dampakyang
sangat besar dalamproses komunikasi. Seperti yang dikatakan Edward T
Hall
(dalamDeddy Mulyana
2003:6) antara budayadan
komunikasi dapatdiibaratkan sebagai dua sisi dari satu keping mata uang yang tidak
dapat dipisahkan. Tidak akan ada budaya tanpa ada komunikasi,
begitu juga sebaliknya tidak akan ada komunikasi tanpa ada budaya. Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya.
Komunikasi itu lahir karena manusia berpikir dan menyatakan eksistensi dirinya. Sementara eksistensi
itu
ada karena pengakuanRini Dam;trastuti
dari manusia lainnya yang ada di sekitarnya. Pengakuan itu sendiri
muncul karena ada bahasa yang membuat manusia bertukar pikiran,
yang membawa dampak pada ha,lirnya komunikasi. Komunikasi
inilah
yang membuat manusia bir;a berinteraksi dengan manusia lainnya sehingga melahirkan suatu masyarakat. Interaksi antaraindividu
yang satu dengan indivi<lu lainnyadi
dalam masyarakat mengakibatkan lahirnya budaya(r\ndrik
Purwasito 2003: 105).Menurut
Andrik
Purwasito (2003: 95), budaya yang diambildari
kata buddhayah danberarti
,rkalbudi
ini
tidak
lain
adalahapa yang
dimaksud dengan i:rtelektual (kognitiS,
sekaligusdidalamnya terkandung unsur-unsur perasazrn (afektif). Pendapat
ini
senada dengan pendapat Kc'enUaraningratdalam
bukunya kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan (2002: 5), " Kebudayaan adalah keseluruhan sistetn gagasan, tindakan dan hasil karya manusia yang harus dibiasakannya dengan bel.ajar beserta keseluruhandai
hasil budi dankaryanyaitu".Dalam
pandangan
Koentjaraninsat, pertumbuhan
dan perkembangan kebudayaan didasarkanpada
penalaran, kesen-jangan dan pandangan hidup orangnya. Kebudayaan ini diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya baik secara formalmaupun informal. Akibatnya
kr:budayaansering
kali
disebutsebagai 'way of life'atau sikap hidup dengan segala aspeknya yang
terlihat dalam diri perorangan maupun dalam kelompokmasyarakat tertentu. Sebagai'way of life', kebu,layaan merupakan suatu sistem atau
nilai
masyarakat yang merrrbentuk sikap mentaldan
polaberpikir manusia dalam masyarakat sebagaimana terpantul dalam pola sikap dan tingkah laku sehari-hari dalam berbagai kehidupan
sosial (Suwaji Bastomi 1992:5).
Dalam semua unsur kebudayaan, tindakan memegang peran
yang sangat penting. Sebagai penvujudan pola
pikir
dipantulkandalam sikap dan tingkah laku, sedangkan
di
dalam unsurkognitif
sebagai
wujud dari
akalbudi
ada unsur-unsur perasaan (afektif)yang
ikut
berperan
dalam keseluruhan
gagasandan
karya manusia.I-Insur tindakan ada di dalamnya yang mereka wujudkan dalam proses interaksi. Proses interaksi yang terus terjadi di antaraMi ndful ness dalam Komunikasi Anta rbudaya
partisipan komunikasi
ini
merupakan proses pembudayaan yangtidak
pernah berhenti, proses kebudayaandinamik yang
terusmenerus
terjadi
untuk
memperbaharui simbol-simbol bahkanmenciptakan simbol-simbol baru (Andrik Purwasito 2003: 122).
Clifford
Geertz
(1992:63)
berpendapatbahwa
tindakan-tindakan yang dilakukan manusia dapat diibaratkan sebagai sistem sar# seperti yang dikatakan di bawah ini,Simbol atau
lambangini
ada
karena masyarakatlah yang menciptakannya. Dengan katalain,
lambangatau
simbol yangada dalam suatu masyarakat
itu
ada karena masyarakatlah yangmembentuk lambang dan simbol
itu.
Kesepakatan masyarakatlah yang membuat simbolini
ada di dalam masyarakat.Konsep kebudayaan yang tercipta memPunyai dampak pada
konsep manusia.
Apabila dilihat
sebagai seperangkat peralatansimbolis yang digunakan
untuk
mengatur tingkah laku manusia,kebudayaan merupakan
mata
rantai yang
menghubungkanpemikiran seperti apakah manusia
itu
dan pada realita yang adamenjadi apakah sebenamya mereka satu persatu. Menjadi manusia
yang
sebenarnya adalah menjadi seorangpribadi
sebagai satuindividu
yang berada di bawah pengarahan pola-pola kebudayaandan
sistem-sistemmakna
yang
tercipta
berdasarkan sejarah.Kemudian dari situ kita memberi bentuk, susunan, pokok dan arah dalam kehidupan kita. Pola-pola kebudayaan yang terbentuk
ini
bersifat khusus (Cliffort Geerts 1992:65).
Latar belakang kebudayaan
dari
suatu kelompok atau dari seorangindividu itu
akan mempengaruhi kelompok atauindividu
dalam
menyampaikansimbol atau
lambangyang berisi
pesanketika mereka melakukan interaksi sosial. Pengaruh
ini
teraplikasi dalam semua interaksi sosial baik dalamkelompok mauPun dengan masyarakat sekitarnya.Rini Damarastuti
B.
Permasalahan yang Muncul dalam Komunikasi Antarbudaya sebagai bagian dari suatu m,syarakat atau suatu komunitas,setiap individu akan berusaha hidtrp sesuai dengan budaya dan tata nilai yang ada dan berlaku dalam masyarakat atau komunitas itu. Hal
ini
terjadi seperti yang disampaikan olehCliffort
Geerts yangmengatakan bahwa setiap orang,lkan dianggap sebagai manusia
yang
sebenarnyaketika
seseorarrgitu
hidup
beradadi
bawahpengarahan pola-pola kebudayaan dan sistem-sistem makna yang
tercipta berdasarkan sejarah (Cliffort Geerts 1992 65).
Sejalan dengan pendapat
ini,
setiap orang yanghidup
dalamsuatu masyarakat berusaha
hidup
di
bawah
pengarahanpola-pola kebudayaan dan sistem-sistr:m makna yang tercipta dalam
masyarakat
itu
dengan
tujuan supaya interaksi yang
terjadidiantara mereka dapat berjalan dengan lancar. Tujuan lainnya yang lebih penting adalah supaya
individu
tersebut dapat diterima olehindividu
lainnya atau oleh lingkungannya dengan menggunakan pola-pola budaya dan sistem-sistem makna tersebut sebagai dasardalam kehidupan bersama.
Berdasarkan latar belakang inilah setiap
individu
akan hidup sesuai dengan pola-pola budaya serta sistem-sistem makna yangada didalam budaya
itu.
Setiapindividu
akan berusaha untukhidup
dalam budaya merekadan
menghidupinya.Disatu
sisi,kondisi
ini
membawa dampaky*g
positif, karena setiapindividu
ketika berinteraksi dengan indivictu lainnya tidak akan bertindakseenaknya sendiri. Meraka akan bertindak dengan mendasarkan
dirinya
pada afuran-afuran,nilai-nilai
serta norma-norma yang diajarkan oleh budaya mereka. Budaya yang merekamiliki
akan menjadi landasan hidup dalam berpikir dan bertindak.Tetapi
di
sisi yang lain, Iatar belakang budaya yang berbedayang
dimiliki
oleh
setiapindividu
tidak jarang
menimbulkan masalah. Perbedaan simbol-simb,tlyang
digunakanoleh
suatu budaya tidakjarang membawa darr pak pada perbedaanpemaknaan terhadap simbol-simbol tersebut sehingga membawa dampak padaperbedaan persepsi. Kalau terjadi 1>erbedaaan persepsi, maka akan membawa dampak pada perbedaan pemaknaan pada komunikasi,
Mindfulness dalam Komunikasi Antarbudaya
baik komunikasi verbal maupun non verbal. Pada tataran inilah permasalahan itu akan muncul dan tidak jarang akan menimbulkan konflik dalam kehidupan masyarakat.
Selain perbedaan Penggunaan simbol, perbedaan makna dan
perbedaan persepsi, sikap etnosentrisme seringkali juga menjadi
penyebab
munculnya
permasalahandalam
komunikasi
dan interaksi dalam masyarakat. Sikap dan perasaan yang mengganggapbahwa budaya mereka lebih bagus dan
lebih
oke dibandingkandengan budaya yang lain tidak jarang menjadi pemicu munculnya
permasalahan dalam komunikasi. Kondisi
ini
akan semakin parahketika partisipan komunikasi tersebut berasal dari latar belakang
budaya yang berbeda. Etnosentrisme yang sering
kali
dimaknaisebagai pemahaman yang terpusat pada budaya mereka sendiri,
tidak
jarang membawa dampak pada stereotipe yang diberikankepada budaya
lain
maupun pada
budaya-budaya tertentu'sementara stereotipe seringkali dipahami sebagai label diberikan
kepada
suatu
masyarakattertentu yang
berhubungan denganbudaya yang mereka
miliki.
Label yang diberikan kepada suatumasyarakat
ini
biasanya lebih mengarah pada label yang negatif yang biasanya melekat dalam jangkawaktu
yang Iama dan sulitsekali untuk dihilangkan.
Perbedaan
latar
belakangbudaya
inilah
yang
seringkalimenjadi
penyebabmunculnya
permasalahan mauPunkonflik-konflik
yang terjadidi
dalam kehidupan masyarakat kita. Sebutmisalnya kasus yang terjadi antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat
pribumi
yang terjadidi
Solo pada tanggal L3 dan 14Mei
1998. Kerusuhan rasial yangdiikuti
dengan penjarahan dan pembakaranbeberapa tempatbisnis yang ada di Solo dan sekitarnyaini merupakan satu contoh konflik akibat tidak adanya pemahaman
budaya dari keduabelah pihak. stereotipe yang dilekatkan dalam
kehidupan suatu masyarakat, membawa persepsi dan penilaian
yang kadang-kadang tidak selalu benar untuk masyarakat tersebut.
Akibatnya, kesalahpahaman seringkali terjadi. Di sinilah awal mula
munculnya konflik.
Rini Damarastuti
masyarakat Pribumi yang ada
di
Solo pada saatitu.
Persepsi danpenilaian yang tidak tepat antara kelompok dan masyarakat yang berbeda
latar
belakangbudaya
telah membawakonflik
yangdilatarbelakangi
karena
perbedaanbudaya. Hubungan
antarindividu
yang pada awalnya disebut dengan tetangga dan teman,akhirnya berubah menjadi' ancaman' yang harus dimusuhi.
Konflik
lain
yang
pernah
terjadi
adalah
konflik
antaraMasyarakat
Madura dan
masyarakatDayak
y*g
terjadi
padatanggal L8 Februari 2001. Kasus yang berawal dari pembunuhan
terhadap 4 anggota keluarga dari etnis Madura ini telah membawa
permasalahan
yang
sangat besar.Hal
ini
disebabkan karenapelaku pembunuhan tersebut adalirh orang Dayak. Karena kasus pembunuhan
ini,
kemudian
rafusanetnis Madura
menyerangsatu keluarga etnis Dayak. Etnis Dayak
pun tidak tinggal
diam dengan serangan yang dilakukan oleh etnis Madura dan merekaganti membalas. Ribuan warga etnis Dayak (bahkan yang berasal
dari
pedalaman) memasuki kota dan melakukan "pembersihan"terhadap etnis Madura (Kompas. 4 Nlaret 2001).
Mindfulness dalam Komunikasi Anta rbudaya
Dua
kasusdi
atas, hanyalah sebagiankecil
dari
konflik-konflik
yang pemah terjadi
di
dalam kehidupan
masyarakatkita.
Masih banyakkonflik-konflik
yang pernah terjadidi
dalamkehidupan masyarakat Indonesia yang sangat
plural ini.
Konflik-konflik
yang pemah terjadidi
dalam kehidupan masyarakat kitaini
diangkat dalam bukuini
bukan bermaksud untuk mengungkitkembali
permasalahanyang pernah terjadi, melainkan
untukmenunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentanS komunikasi
antarbudaya. Artinya, pemahaman terhadap budaya yang
dimiliki
oleh
masyarakatatau komunitas
lain,
menjadi
satu
urgensi dalam membangun komunikasiya
g
efektif. Pada tataran inilahkomunikasi
antarbudayamenjadi satu
hal
yang
sangat perlu.Pemahaman terhadap budaya lain, menjadi satu urgensi pada saat setiap orang berkomunikasi.
C.
Komunikasi Antarbudaya dalam Era GlobalisasiKonflik dan
permasalahanyang muncul
akibat perbedaan budayabukan
hanyaterjadi
dalam konteks perbedaan budaya dalam satu negara. Dalam era globalisasi pada saat ini, keteganganyang terjadi akibat perbedaan budaya bisa
jadi
akan berkembangmanakala interaksi dan komunikasi antar masyarakat
dunia ini
semakin terbuka.
Perkembanganteknologi komunikasi
y*g
sangat pesat telah membuka peluangbaru
dalam interaksi dan komunikasiyaog terjadi antara individu yang satu denganindividu
lainnya sekalipun berasal dari belahan dunia yang berbeda. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batas.
Rini Damar,lstuti
\
Gambar 3.2 Komunikasi antarbudaya dalam era globalisasi Dunia sudah berubah menjadi sebuah desa kecil yang dapat
dijangkau dalam hitungan detik.
Artinya,
masalahwaktu
bukanlagi
menjadi permasalahan yang dapat menjadi pemisah antaraorang-orang
yang
berada pada tempatyang
berbeda. Masalah waktu hanyalah masalah detik. Orang yang berasal dari belahan dunia yang satu, dapat berkomunikasi denganindividu
lainnya yang berasal dari belahan dunia yang lain, hanya dalam hitungandetik. )eda waktu telah berubah menjadi seketika. Perbedaan ruang bukan lagi menjadi permasalahan. Sekat antara daerah yang satu dengan daerah lainnya serasa hilang dan akhirnya dunia menjadi
sebuah desa kecil yang dapat terhubung antara satu dengan yang
lairurya dan dapat dijangkau dalam ke-seketikaan.
Paparan
ini
seperti yang dikat,rkan oleh John Naisbit dalambukunya
Megatrend 2000 (1990))'a.g
mengatakan masyarakat dunia akan menjadi masyarakat global yang terhubung satu dengan yang lain. Batas ruang dan waktu nrntuh seketika dengan adanyaMi ndful ness dalam Komunikasi Antarbudaya
Dalam era globalisasi seperti
ini,
masyarakatyang
berasaldari
bermacam-macam negaraakan tertemu,
terinteraksi danberkomunikasi.
setiap orang yang terlibat dalam interaksi ini
tentunya akan membawa budaya mereka sendiri-sendiri, sehinggaakan terjadi komunikasi diantara
orang-orangyang
memilikibudaya yang berbeda. Pada tataran
ini
terjadi pertemuan antarabudaya yang satu dengan budaya yang
lain
yangmemiliki
nilai, norrna, pola-pola kebudayaan serta sistem-sistem makna yang berbeda-beda.Menyikapi kondisi
ini,
Alvin
Toffler
(1989: 23) mengatakan bahwa dalam masa hidup kita batas ini telah runtuh'Dewasa
ini
jaringan ikatan sosial begitu eratjalin
menjalin,sehingga dampak sesuatu peristiwa masa
kini
dapat dengan segera menyebar ke seluruh dunia. Memang tidak hanya peristiwa masakini
saja yang menyebar luas-
sekarang dapat dikatakan bahwa kita merasakan dampak peristiwa yang lampau dengan cara yangbaru, karena masa lampau
itu
kembali berganda ke arah kita. Kita terperangkap ke dalam lompatan waktu.Era globalisasi
ini,
ternyata bukan hanya membawa dampakpositif,
tetapijuga
membawa dampak negatif. Perbedaan latarbelakang budaya yang
dimitiki
oleh setiap partisipan komunikasi,tidak
jarang menimbulkan
konflik
dan
permasalahan karenaperbedaan makna, perbedaan persepsi
atau
perbedaan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Selainitu,
pertemuan dari bermacam-macamindividu
yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yao.,rg berbeda telah menyebabkanmuncuhrya kejutan budaya. Kejutan budaya adalah efek yang ditimbulkan dari suatu kebudayaan yang
tidak
dikenal padadiri
seorang pendatang baru yang tak siap.
Alvin
Toffler memberikangambaran tentang kejutan budaya
ini
seperti yang terjadi dalamkehidupan
masyarakatAmerika.
Gejalakejutan budaya
telahmelatarbelakangi
sebagian besar kebingungary
frustasi
dandisorientasi
yang
menggangguorang Amerika dalam
urusan mereka dengan oranglain.
Hal
ini
menyebabkan kelumpuhan komunikasi, salah menafsirkan kenyataan dan ketidakmampuan untuk menghadapinya (Alvin Toffler, 1989: 18-19).Rini Damar,rstuti
Kondisi
ini
menjadi satu fakta bahwa
perbedaan budayatidak jarang menimbulkan permasiilahan dan menjadi penyebab
munculnya konflik. Oleh karena itu, rnemahami budaya masyarakat lainnya menjadi satu urgensi supaya komunikasi dapat berjaran
dengan efektif. Disinilah pembelajaran dan pemahaman tentang komunikasi antarbudaya menjadi satu hal yang sangat penting.
D.
Seiarah Komunikasi AntarbudayaKesadaran bahwa komunikasi antarbudaya merupakan safu
hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sebetuLrya sudah
dimulai
sejak jamandahultt.
Kesadaran masyarakat dankebutuhan
untuk
berinteraksi dengan
masyarakatlain
yangmemiliki latar
belakangbudaya '/ang
berbedamenjadi
dasarpijakan perlunya komunikasi antarbudaya.
Interaksi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang terus
berkembang
dan tidak
hanya dibatasi dalamlingkup
lokalitas, membuat setiapindividu
yang adatli
masyarakat semakin merasamembutuhkan komunikasi
antarbudaya.Mempelajari
budayamasyarakat
lairy
mempelajari buclaya masyarakatasing
serta belajar berinteraksi dengan masyarerkat yang berasal dari budayayang berbeda menjadi satu kebutuh:ur.
Sejarah perkembangan komunikasi antarbudaya dan
perkem-bangan
komunikasi
antarbudayaini
bisa diamati
dari
sikap beberapa negarayang memiliki
kesadaranyang
sangatti.ggi
dalam komunikasi antarbudaya.
Pada tahun 7946, Amerika Serikat mulai memikirkan tentang
kajian
komunikasi antarbudaya (intercultural
communication). Keseriusan negaraini
dalam memikirkan komunikasi antarbudayaditandai dengan pendirian Foreign Service
Institute
pada tahun 1946. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan sebuah badan Peace Corps, yang dibentuk oleh presiden Kennedy pada tahun 1960. Kehadiranbadan
ini
merupakansatu
wujud
kesadaran terhadapmultikultural yang
ada clalam kehidupan masyarakatkita.
Badan
ini
didirikan
dengan tujuan
untuk
mempelajariMindfulness dalam Komunikasi Antarbudaya
dapat berkomunikasi secara
optimal, lebih intensif dan
sukses tanpa adanya hambatan-hambatan yang seringkali muncul dalam berkomunikasi karena latar belakang buday a y ang berbeda. Badan ini memang didirikan untuk membantu keberhasilan dalamtugas-tugas para pejabat resmi yang bekerja dalam lingkungan asing. (Purwasito , 2003: 2).
Dalam kaitannya dengan Peace Corps,
Alvin
Toffler
dalam bukunya 'Future Shock'memberikan contoh tentang kejutan budayayang dialami oleh sukarelawan Peace Corps ketika mereka berada di Brazilia, Marcopolo dan Cathay. Kejutan budaya ini terjadi ketika mereka berada
di
suatu tempat dimana orang mengatakan'ya'jika
maksudnya'tidak'. Atau
ketika orang tertawa padahal yang dimaksudkan adalah kemarahan (Alvin Toffler,1989: 18).Kajian komunikasi antarbudaya kemudian berkembang ketika
Edward
T
Hall
menulisbuku
denganjudul
The Silent Languageyang terbit pada tahun
1959. Dalambukunya
ini, Hall
mulai memperkenalkan istilah interculture. Setalah Edward T Hall, DavidBerlo menuliskan
buku
The l)rocess of Communication pada tahun L960. Berlo secara tegas menitikberatkan kajian kebudayaan dalamkonteks komunikasi antarbudaya. Kajian komunikasi antarbudaya dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan.Tahunl9T(,
Badan Komunikasi Internasional
dan
Antarbudayadi
Amerikasecara berkala menerbitkan majalah tahunan
"Annual"
debfab Fred Casmir menjadi pelopomya. Annual yang diterbitkan berjudrilThe lnternational and lntercultural Communication Annual (IICA). Tahun1979, terblt sebuah
buku berjudul
The Handbook of lnterculturalCommunication. Perkembangan
kajian komunikasi
antarbudayaini
iuga
didukung
oleh
ahli-ahli
komunikasi
lainnya
yangsangat tertarik dengan kajian dan penelitian tentang komunikasi
antarbudaya. Sebut misaLrya
Kim
dan Gundykunst yang banyakmembahas tentang teori-teori komunikasi antarbudaya mauPun
tentang
penelitian-penelitiankomunikasi
antarbudaya. Begitujuga
denganMac Luhan yang
menyadari betapa pentingnya komunikasi antarbudaya dalam merumuskan tatanan komunikasi dan informasi dunia baru. Kemudian pada tahun 199L, Samovar menulisbuku
tentang lntercultural Communication. Dalam bukuRini Damar;rstuti
ini
Samovar menyatakan bahwa hu)rungan antar kebudayaan dankomunikasi bersifat resiprokal. (Purwasito, 2OO3: 24).
Kajian
komunikasi antarbuddJraterus
berkembang sampai sekaran& termasukdi
Indonesia.Ada
banyak penelitian yangdilakukan sehubungan dengan konteks komunikasi antarbudaya,
maupun berhubungan dengan teori-teori maupun konsep-konsep
komunikasi
antarbudaya.HaI
inj
terjadi
karena
komunikasiantarbudaya
menjadi satu urgensi bagi
masyarakat Indonesia dalam semua aspek dan bidang kehi,lupan. Sebut misalnya hampir dalam semua profesi dan bidang l:ehidupandi
masyarakat kita membutuhkankomunikasi
antarbudaya. Seorangdokter
akan dapat melakukan pengobatan dan terapi kepada pasiennya denganefektif apabila dokter tersebut bisa nrelakukan pendekatan kepada pasien secara
tepat.
Padatataran
ini
dibutuhkan
pendekatan dengan pemahaman pada komunikasi antarbudaya.Seorang guru
juga
dapat mengajar denganbaik
dan efektifapabila
guru
tersebutmemiliki
pemahamanyang
tepat tentangkomunikasi
antarbudaya.
Kom"rnikasi antarbudaya
jugadiperlukan bagi seorang Insinyur, t,aik
itu
seorang Insinyur Sipilmaupun arsitek. Ada satu cerita tentang seorang lnsinyur sipil yang hampir celaka ketika dia sedang mengerjakan satu proyek tertentu
di
suatu daerah. SangInsinyur hampir
disabet dengan parang oleh pekerja bangunan yang beras;rldari
daerah tersebut. Usut punyausut
ternyata sang lnsinyur yang berasal dari luar daerahtersebut
kurang
bisa menempatkandiri
secara tepat, termasukdalam berkomunikasi. Bahasa yang cligunakan tidak sesuai dengan
aturan dan nilai-nilai yang berlaku di daerah tersebut. Kejadian
ini
menjadi satu contoh betapa komunikasi antarbudaya menjadi satu
Mi ndful ness dalam Komu nikasi Anta rbudaya
Soal-soal Latihan Bab
III:
1.
Ceritakan satu contoh komunikasi antarbudayayang
terjadidalam kehidupan masyarakat kita!
2.
Menurut Anda, faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebabmunculnya permasalahan dalam komunikasi antarbudaya?
3.
Bagaimana cara mengatasi permasalahan dalam komunikasiantarbudaya tersebut?
4.
Dalam era globalisasi pada saat ini, dunia menjadi sebuah desakecil yang terhubung antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.
Dalamkondisi
sepertiini,
bagaimana komunikasiantarbudaya yang terbentuk? ]elaskan dan berikan satu contoh!