• Tidak ada hasil yang ditemukan

pemeliharaan rel.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "pemeliharaan rel.pdf"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

JEMBATAN DAN LINTASAN REL KERETA API

(STUDI KASUS : LINTAS AMBARAWA-BEDONO)

Adhi Wirawan

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/I

Bendan Duwur-Semarang Telp. (024) 8441555 – 8316142 Faks. (024) 8415429

Brastian

Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/I

Bendan Duwur-Semarang Telp. (024) 8441555 – 8316142 Faks. (024) 8415429

Ir. Drs. Djoko Setijowarno, MT

Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/I

Bendan Duwur-Semarang Telp. (024) 8441555 – 8316142 Faks. (024) 8415429

E-mail : [email protected]

Hermawan, ST, MT

Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/I

Bendan Duwur-Semarang Telp. (024) 8441555 – 8316142 Faks. (024) 8415429

ABSTRAK

Pemeliharaan suatu prasarana sangat penting untuk menjaga usia layanan dari prasarana tersebut dan menjaga kelancaran operasional sarana yang menggunakannya, oleh karena itu sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono perlu dikaji untuk mempertahankan agar dapat digunakan dengan baik.

Tujuan penelitian ini untuk mencari korelasi antara variabel bebas lintasan rel dan jembatan bagian atas dengan variabel terikat sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono dan mencari faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada lintas Ambarawa-Bedono.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Statistical Product Service and Solution (SPSS) 9 for windows

untuk memperhitungkan besar validitas data, reliabilitas data, koefisien korelasi (r), uji t dan uji F. Besar koefisien korelasi (r) yang diperoleh adalah 0.913, menunjukkan bahwa korelasi sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono dengan pemeliharaan lintasan rel dan jembatan bagian atas adalah tinggi dan memiliki nilai korelasi positip. Hasil t hitung variabel lintasan rel –1.144, menunjukkan kerusakan pada lintasan rel disebabkan karena pemeliharaan tidak dilakukan secara baik dan dilakukan setelah terjadinya kerusakan pada salah satu komponen, sedangkan hasil t hitung variabel jembatan bagian atas +5.804, menunjukkan kegiatan pemeliharaan jembatan telah dilakukan secara baik. Hasil F hitung sebesar 67.0907, menunjukkan pemeliharaan pada lintasan rel dan jembatan bagian atas mempengaruhi sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono.

Kata kunci : pemeliharaan lintasan rel, jembatan.

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

Keadaan lintas Ambarawa-Bedono yang sudah lama penggunaannya akan menjadikan pemeliharaan lintasan kereta api menjadi salah satu permasalahan utama yang ada saat ini. Pemeliharaan perlu dilakukan untuk mengetahui secara dini kerusakan yang ada agar tidak bertambah parah dikemudian harinya.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan hasil survei dijumpai kerusakan seperti adanya bantalan yang rusak, baut penambat yang hilang, rel yang bergelombang. Permasalahan tersebut juga ditambah dengan adanya sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono yang tidak dilakukan secara baik.

(2)

1.3. Manfaat penelitian

Manfaat studi pemeliharaan lintasan rel dan jembatan yang dilakukan pada lintas Ambarawa-Bedono untuk mengetahui apakah sistem pemeliharaan yang telah ada masih efektif dilakukan ataukah perlu ditingkatkan lagi.

1.4. Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari korelasi antara variabel bebas rel dan jembatan dengan variabel terikat sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono dan mencari faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada lintas Ambarawa-Bedono.

1.5. Batasan penelitian

Studi ini dilakukan pada lintasan rel dan jembatan di lintas Ambarawa-Bedono Propinsi Jawa Tengah. Studi ini lebih memfokuskan pada pemeliharaan bantalan, rel, penambat, dan jembatan bagian atas kereta api lintas Ambarawa-Bedono.

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tipe rel

Rel yang digunakan yang digunakan oleh PT. Kereta Api (Persero) pada lintas Ambarawa-Bedono menggunakan tipe rel R25 dan R33.

2.2. Penambat rel

Penambat rel adalah suatu komponen yang berfungsi menambatkan rel pada bantalan sedemikian rupa sehingga kedudukan rel tetap, kokoh dan tidak bergeser. Jenis penambat yang digunakan adalah penambat kaku dan penambat elastik.

2.3. Jembatan pada lintas Ambarawa-Bedono

Jembatan bagian atas adalah gelagar baja termasuk rasuk-rasuk yang menumpu di atas gelagar dan rangka jembatan yang membantu menopang gelagar (Rochpradejono, 2000). Tipe jembatan yang digunakan pada lintas Ambarawa-Bedono adalah jembatan rasuk pelat dengan bentang 15 meter.

2.4. Bantalan rel

Tipe bantalan yang digunakan pada lintasan rel dan jembatan pada lintas Ambarawa-Bedono adalah bantalan kayu dan besi. Bantalan sebagai tempat dudukan rel pada lintas Ambarawa-Bedono harus memiliki persyaratan sesuai dengan Peraturan Dinas No.10 PJKA.

2.5. Sambungan rel

Sambungan rel yang dimaksud adalah sambungan yang menggunakan pelat penyambung dan baut-mur. Pelat penyambung harus berfungsi sebagai pasak pada bagian miring dari kepala dan kaki (Teknik Dasar Perawatan PJKA,1984).

2.6. Teknik pengukuran data

Skala Likert digunakan untuk mengukur jawaban yang diberikan oleh responden dengan cara memberikan nilai berupa angka kepada jawaban tersebut agar diperoleh data kuantitatif yang diperlukan dalam pengujian hipotesis.

(3)

2.7. Landasan teori

2.7.1. Sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono

Pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono dilakukan oleh Distrik 42 D Ambarawa dibawah pengawasan Resort 42 Semarang untuk pemeliharaan lintasan rel dan Resort 41 Semarang untuk pemeliharaan jembatan. Setiap satu bulan sekali Kepala Distrik memberikan laporan kegiatan dan hasil pemeliharaan kepada Resort 42 dan Resort 41 Semarang.

2.7.2. Pemeliharaan pada lintasan rel

Pengukuran lebar sepur dilakukan dengan mistar pengukur yang disebut matisa. Lebar sepur yang diukur oleh juru rawat jalan dibandingkan dengan lebar sepur toleransi sebesar 1067 mm. Hasil pengukuran kemudian ditulis dengan kapur kuning pada sisi dalam badan rel apabila rel masih dalam batas toleransi dan warna merah menunjukkan rel mengalami penyimpangan diluar batas toleransi lebar sepur.

Kerusakan bantalan dikategorikan menjadi tiga yaitu : kerusakan ringan, sedang dan berat. Tahapan penggantian bantalan dilakukan dengan melepaskan semua tirepon, baut atau alat penambat pada bantalan yang rusak, kemudian mengeluarkan pelat landas dan bantalan yang rusak dengan cara mendorong bantalan ke arah balas yang telah digorek. Kegiatan selanjutnya adalah memasukkan bantalan baru dari bawah rel ke tempat bantalan lama kemudian memasang pelat landas, setelah itu penambat dipasang dengan sebelumnya dilakukan pengukuran lebar sepur agar sesuai ketentuan toleransi lebar sepur sebesar -2 mm / +5 mm dari lebar acuan 1.067 mm.

Kerusakan penambat pada lintas Ambarawa-Bedono antara lain : keausan pada penambat, ulir baut penambat yang rusak dan penambat yang mengalami keretakan. Penggantian baut penambat dilakukan dengan menggunakan alat kunci penambat, dimana hal pertama yang dilakukan adalah melepaskan baut yang rusak dengan kunci baut kemudian memasang baut yang baru dengan alat pengunci. Baut/tirepon juga perlu dikencangkan oleh juru rawat jalan untuk menjaga kondisi jalan rel tetap pada posisinya. Hasil penghitungan jumlah tirepon/baut yang kendor jika lebih dari 1/3 jumlah total tirepon/baut pada daerah tersebut maka juru rawat jalan harus melakukan pengencangan pada seluruh baut/tirepon pada daerah jalan rel tersebut.

2.7.3. Pemeliharaan pada bagian atas jembatan

Petugas juru rawat jalan harus segera melaporkan kerusakan yang terjadi pada komponen baja apabila mengalami karat yang menyebabkan luas penampang bersih telah berkurang sebesar 25%, baja sampai berlubang karena dimakan karat dan juga baja yang bengkok karena peristiwa luar biasa (misal : gempa bumi). Tindakan pemeliharaan yang dilakukan pada kerusakan tersebut antara lain melakukan penggantian komponen jembatan yang rusak atau ditambal dengan pelat baja baru (dikeling atau dilas listrik). Kerusakan baja yang telah mencapai 25% dari berat jembatan keseluruhannya maka jembatan tersebut harus diganti dengan jembatan baru.

Pemeliharaan paku sumbat pada jembatan bagian atas harus memperhatikan kerusakan pada kepala paku sumbat yang telah dimakan karat kurang lebih 50% atau paku sumbat dalam keadaan kendor.

Pengecatan pada komponen baja bertujuan untuk menghindari terjadinya karat/korosi. Pemeriksaan cat pada komponen jembatan biasanya dilakukan tiap tiga bulan sekali. Kriteria kerusakan pada cat antara lain : timbulnya bintik-bintik karat berwarna coklat pada cat, cat retak atau melepuh dan cat mengelupas.

(4)

2.8. Hipotesa

Hipotesa pada penelitian sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono adalah :

1. pemeliharaan lintasan rel dan jembatan bagian atas pada lintas Ambarawa-Bedono tidak dilakukan secara baik,

2. kerusakan salah satu elemen akan mempengaruhi kerusakan pada elemen yang lain, 3. pemeliharaan hanya dilakukan setelah terjadinya kerusakan,

4. jangka waktu dalam kegiatan pemeliharaan akan berpengaruh pada hasil pemeliharaan.

3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Variabel penelitian

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi obyek pengamatan pada lintas

Ambarawa-Bedono terdiri dari lintasan rel dan jembatan bagian atas. Variabel terikat adalah

variabel yang menjadi obyek pengamatan dan dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel terikat tersebut adalah sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono.

3.2. Alur penelitian

Proses analisa data yang digunakan pada penelitian sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono sebagai berikut :

3.2.1. Survei pendahuluan

Survei pendahuluan dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi lintas Ambarawa-Bedono baik itu lintasan rel maupun jembatan bagian atas. Kegiatan survei pendahuluan menghasilkan gambaran tentang kondisi lapangan dan data-data visual mengenai permasalahan yang akan ditinjau.

3.3.2. Kajian pustaka

Kajian pustaka adalah kegiatan mendalami, mencermati, menelaah dan mengidentifikasi pengetahuan (Suharsimi Arikunto, 2000). Kegiatan tersebut sangat berguna untuk melengkapi dan mendukung data yang dibutuhkan, baik itu berupa referensi ataupun literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.3.3. Identifikasi masalah

Masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah kondisi lintasan yang kurang terawat dan terjadinya kerusakan pada beberapa komponen akibat pemeliharaan yang kurang dilakukan secara baik.

3.3.4. Pengumpulan data

Kegiatan pengumpulan data dilakukan untuk mencari informasi dan melengkapi penulisan laporan penelitian. Data yang diperoleh dari kegiatan pengumpulan data terbagi dalam dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Data yang mendukung penelitian ini diperoleh dari resort 41 Jembatan Semarang, resort 42 Jalan dan Bangunan Semarang, Distrik 42 D Ambarawa, stasiun Ambarawa dan diktat ataupun literatur.

3.3.5. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian atau instansi yang berhubungan secara langsung dengan obyek penelitian.

3.3.6. Kuisioner

Pengumpulan data kuisioner pada penelitian lintas Ambawa-Bedono dilakukan dengan cara membagikan kuisioner kepada pihak yang menangani langsung pemeliharaan lintas

(5)

Ambarawa-Bedono. Kuisioner yang dibagikan menggunakan jenis pertanyaan berstruktur. Pertanyaan berstruktur adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberikan jawaban kepada beberapa alternatif saja ataupun kepada satu jawaban saja (M. Nazir, 1988).

3.3.7. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain yang mendukung terhadap penelitian lintas Ambarawa-Bedono baik itu berupa studi kampus, diktat, literatur, tabel, grafik, gambar, dan foto yang ada hubungannya dengan penelitian ini.

3.3.8. Pengolahan data

Data yang diperoleh perlu diolah terlebih dahulu agar mempermudah dalam proses analisa data. Pengolahan data melalui tahap :

1. Editing : proses dimana semua data yang terkumpul diperiksa apakah terdapat

pernyataan yang tidak terisi oleh responden,

2. Koding : proses mengklarifikasikan jawaban responden menurut macamnya untuk

dikelompokkan dalam kategori yang sama,

3. Skoring : kegiatan yang berupa angka pada jawaban untuk mendapatkan data kualitatif untuk pengujian hipotesa.

3.3.9. Analisa data

Analisa data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah, karena dengan analisalah, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang dapat berguna dalam memecahkan masalahan penelitian (M. Nazir, 1988). Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah korelasi partial, analisa regresi berganda dengan uji t dan uji F.

3.3.10. Kesimpulan dan saran

Kesimpulan dapat diperoleh setelah menganalisa permasalahan yang ada pada lintas Ambarawa-Bedono sehingga penulis dapat memberikan saran kepada pihak yang bersangkutan terhadap permasalahan yang ada.

4. PENGUMPULAN DATA 4.1. Umum

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan (M. Nazir, 1988). Kegiatan pengumpulan data bertujuan untuk mempermudah dalam penganalisaan permasalahan pada sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono.

4.2. Populasi dan sampel

Populasi merupakan sejumlah individu yang setidaknya mempunyai satu cirri atau sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 1995). Populasi dari penelitian ini adalah pegawai PT. Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang dalam hal ini pegawai resort 41 Jembatan Semarang, resort 42 Jalan dan Bangunan Semarang, distrik 42 D Ambarawa, dan stasiun Ambarawa.

Sampel adalah sebagian dari populasi (Sutrisno Hadi, 1995). Teknik pengambilan sampel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah Incidental Sampling. Artinya anggota sampel

dengan cara ini ditentukan dengan cara sederhana yaitu dengan memilih responden terdekat yang dijumpai pertama kali pada saat itu juga.

(6)

5. ANALISA DATA 5.1. Validitas

Validitas adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu

mengukur apa yang akan diukur. Pendekatan ini menggunakan rumus korelasi Product

Moment sebagai berikut (Suharsimi Arikunto, 2000) :

(

)(

)

(

)

{

}

{

(

)

}

= 2 2 2 2 xy Y -Y N X X N Y X -XY N r ...5.1 Keterangan :

rxy = koefisien korelasi antar butir, N = jumlah responden,

ΣX = jumlah nilai masing-masing butir,

ΣY = jumlah nilai total variabel Y (variabel terikat).

Berdasarkan besar sampel yang diperoleh (30) dengan taraf signifikasi 5% diperoleh nilai r tabel sebesar 0.361. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pernyataan pada kuisioner yang disebar adalah vaild. Hal ini karena nilai r hitung > r tabel.

5.2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah salah satu pengujian yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan. Persamaan yang digunakan pada pengujian reliabilitas

adalah rumus Koefisien Alpha Cronbach (S. Azwar, 1992) :

( )

r 1 -k 1 r k + ⋅ = α ...5.2 Keterangan :

α = koefisien reliabilitas Alpha, r = rata-rata korelasi antar variabel, k = jumlah responden,

1 = bilangan konstan.

Data dikatakan reliabel bila besar koefisien reliabilitas > 0.5. Reliabilitas data pada variabel bebas rel sebesar 0.8437, jembatan bagian atas 0.8422 dan variabel terikat sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono sebesar 0.8793 yang berarti nilai tersebut lebih besar dari 0.5 maka data tersebut dikatakan reliabel.

5.3. Korelasi

Korelasi berarti hubungan timbal balik. Besar kecilnya korelasi selalu dinyatakan dalam bentuk angka yang kemudian disebut koefisien korelasi. Persamaan koefisien korelasi (r) yang digunakan adalah (Suharsimi Arikunto, 2000) :

+

= 1 2 2 Y(1,2) y y x 2 y x 1 r β β ...5.3 Keterangan :

ry(1,2) = koefisien korelasi,

β1 = koefisien regresi pemeliharaan lintasan rel,

(7)

Σx1y = jumlah hasil kali antara X1 dengan Y, Σx2y = jumlah hasil kali antara X2 dengan Y. Σy² = jumlah kuadrat variabel Y,

Koefisien korelasi yang diperoleh dari perhitungan sebesar +0.913. Angka koefisien tersebut menunjukkan bahwa keeratan hubungan variabel terikat dan variabel bebas adalah tinggi. Angka positif menunjukkan hubungan searah, artinya sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono akan makin baik jika kegiatan pemeliharaan lintasan rel dan jembatan bagian atas semakin baik.

5.4. Uji Hipotesis

a. Uji t

Uji t dilakukan untuk menguji secara parsial masing-masing variabel lintasan rel dan jembatan bagian atas terhadap variabel sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono. Taraf

signifikansi yang digunakan (α) = 0.05 maka t tabel dapat diperoleh sebesar 1.699. Ho ditolak

dan Ha diterima apabila t hitung > t tabel dan t hitung < t tabel sedangkan Ho diterima da Ha ditolak apabila t hitung < t tabel dan t hitung > t tabel.

Statistik hitung : 2 1 2 1 SX SX X X hitung t − − = ... 5.4 Keterangan : 1 X = rata – rata X1, 2 X = rata- rata X2,

SX1 – SX2 = beda standard error.

Hasil perhitungan diperoleh besar nilai t hitung dari variabel lintasan rel sebesar –1.681, menunjukkan besar t hitung (-1.681) > t tabel (-1.699) yang berarti Ho diterima, sedangkan perhitungan pada variabel jembatan bagian atas sebesar +5.804 menunjukkan t hitung (+5.804) > t tabel (1.699) yang berarti Ho ditolak.

b. Uji F

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh terhadap variabel terikat (Algifari, 1997).

Statistik hitung ((Suharsimi Arikunto, 2000) :

(

)

(

2

)

2 R -1 k 1 -k -N R F= ... 5.5 Keterangan :

k = jumlah variabel bebas (independent), N = jumlah responden,

R = koefisien korelasi berganda,

F = F hasil perhitungan SPSS 9 for windows.

Berdasarkan D.F1 = 2 dan D.F2 = 30-2-1=27 diperoleh besar F tabel sebesar 3.35. Hasil perhitungan F hitung adalah 67.907. Hasil tersebut menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.

(8)

1.00 .75 .50 .25 0.00 1.00 .75 .50 .25 0.00 Sistem Pem elih araan lin tas Am barawa-B edono

Variabel rel dan jembatan

Gambar 5. Diagram Normal P-P

Sumber : Hasil Perhitungan (2001)

6. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan dengan menggunakan SPSS 9 for windows

maka dapat disimpulakan sebagai berikut :

1. Besar nilai korelasi 0.913 menunjukkan korelasi (hubungan) antara sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono dengan pemeliharaan lintasan rel dan jembatan bagian atas adalah tinggi dan memiliki nilai korelasi positip.

2. Hasil t hitung pada variabel lintasan rel (X1) sebesar –1.144, menunjukkan adanya

hubungan antara pemeliharaan lintasan rel dengan sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono. Kerusakan pada lintasan rel disebabkan oleh pemeliharaan tidak dilakukan secara rutin sehingga terjadi kerusakan pada rel, bantalan dan penambat pada lintasan tersebut.

3. Hasil t hitung pada variabel jembatan bagian atas (X2) sebesar + 5.804, menunukkan

bahwa pemeliharaan pada jembatan bagian atas telah dilakukan dengan baik. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain : mencatat hasil pemeliharaan struktur bagian atas secara teliti, pemeliharaan dan pengecekan andas baja dilakukan setiap tiga bulan sekali dan pemeriksaan cat dilakukan secara rutin pada komponen struktur bagian atas.

4. Hasil F hitung sebesar 67.907 menunjukkan pemeliharaan pada lintasan rel dan jembatan bagian atas akan mempengaruhi hasil sistem pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono.

6.2. Saran

1. Pemerikasaan lintasan rel dilakukan dengan berkala dan lebih rutin sehingga pemeliharaan lintasan rel oleh pihak Resort 42 Jalan dan Bangunan Semarang dan Distrik 42 D Ambarawa dapat lebih baik.

2. Koordinasi antara pihak Resort 42 Jalan dan Bangunan Semarang dengan Distrik 42 D Ambarawa perlu ditingkatkan agar pemeliharaan lintasan rel dapat ditingkatkan.

3. Pemeliharaan jembatan oleh pihak Resort 41 Jembatan Semarang sebaiknya ditingkatkan lagi dengan menambah frekuensi kegiatan pemerikasaan.

4. Perlunya peningkatan kulaitas dari masing-masing personel yang bertugas pada pemeliharaan lintas Ambarawa-Bedono.

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan pada :

1. Kepala DAOP IV Semarang PT. Kereta Api (Persero)

2. Kepala Resort 42 Jalan dan Bangunan Semarang DAOP IV Semarang PT. Kereta Api (Persero) 3. Kepala Resort 41 Jembatan Semarang DAOP IV Semarang PT. Kereta Api (Persero)

4. Kepala Distrik 42 D Ambarawa DAOP IV Semarang PT. Kereta Api (Persero) DAFTAR PUSTAKA

Algifari. 1997, Analisa Regresi, Teori, Kasus dan Solusi. BPFE : Yogyakarta.

Arikunto, S. 2000, Manajemen Penelitian. PT. Rineka Cipta : Jakarta.

Azwar, S. 1992, Reliabilitas & Validitas : Interpretasi dan Komputasi. Liberty : Yogyakarta.

Hadi, S. 1995, Metodologi Research, Jilid 3. Andi Offset : Yogyakarta.

Nazir, M. 1988, Metode Penelitian. Ghalia Indonesia : Jakarta Timur.

PJKA. 1984, Teknik Dasar Perawatan, Bagian 1-3. Bandung.

PJKA. 1986, Peraturan Dinas No.10, Perencanaan Konstruksi Jalan Rel. Bandung.

Rochpradejono. 2000, Perawatan Bangunan Atas Jembatan Baja. Diklat Manajemen

Gambar

Gambar 5. Diagram Normal P-P

Referensi

Dokumen terkait

variabel terikat dan bebas, serta dengan metode korelasi untuk melihat hubungan.. keeratan antar variabel

Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, digunakan analisis korelasi sederhana dengan rumus korelasi product moment, sedangkan untuk

Perhitungan korelasi digunakan untuk mengetahui berapa jumlah koefisien korelasi dari variabel terikat dapat diterangkan oleh variasi variabel bebas, serta untuk

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) studi pustaka berkaitan dengan pemeliharaan jalan rel, (2) pengumpulan data dari PT KAI Daerah operasi 2 Bandung, dan (3)

a) Walaupun signifikan, nilai korelasi berganda antara variabel bebas dengan variabel terikat masih relatif kecil. Hal ini berarti kebervariasian data variabel terikat lebih

Uji korelasi digunakan untuk mengetahui tentang ada tidaknya hubungan antar variabel satu dengan yang lain. Variabel terikat, variabel bebas dan variabel bebas

Penelitian yang menghasilkan kekuatan korelasi sangat lemah menunjukkan bahwa variabel terikat tidak hanya dipengaruhi oleh variabel bebas saja.(10) Korelasi antara

Koefisien korelasi (R) sebesar 0,967 yang menunjukkan bahwa derajat hubungan (korelasi) antara variabel bebas dengan variabel terikat sebesar 96,7%, artinya variabel