• Tidak ada hasil yang ditemukan

BATUAN METAMORF (MONERALOGI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BATUAN METAMORF (MONERALOGI)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BATUAN METAMORF

(METHAMORPHIC ROCKS)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Mineralogi Yang dibina oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si.

Oleh: Kelompok III

Sahesti Andriani NIM: 106351400647 Wahyu Wardani NIM: 106351400649 Saiful Amin NIM: 106351400667 Kartika Fajar Lestari NIM: 106351400671

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI

(2)

BATUAN METAMORF (METHAMORPHIC ROCKS) A. Pengertian Batuan Metamorf

Metamorfis adalah hasil kecenderungan batuan untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Dalam melakukan penyesuaian ini diperlukan keseimbangan antar mineral yang merupakan penyusun batuan. Faktor yang mempengaruhi keseimbangan antar mineral dalam batuan ini, yaitu temperatur, tekanan, dan komposisi ketiga faktor ini lebih dikenal sebagai faktor fisika-kimia dalam metamorfosis.

Didalam ilmu geologi, ada beberapa versi pengertian tentang batuan metamorf, yaitu :

• Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami perubahan, asalnya dari batuan yang telah ada baik batuan beku maupun batuan sedimen.

• Batuan metamorf (batuan malihan) adalah jenis batuan yang sangat padat dan kedap air.

• Batuan metamorf ialah batuan yang sifatnya telah berubah sesudah pembentukan asalnya melalui proses yang terjadi di dalam bumi.

Perubahan yang dialami berupa perubahan fisik dan kimia. Batuan metamorf dapat terjadi juga karena adanya lokasi yang bersentuhan atau berdekatan dengan magma yang disebut kontak metamorf atau karena suhu tinggi (dynamo metamorf).

B. Faktor Penyebab Terjadinya Batuan Metamorf

Ada beberapa faktor yang menyebabkan menyebabkan terjadinya batuan metamorf, yaitu:

• Temperatur adalah salah satu faktor yang paling kuat , karena paling besar pengaruhnya dalam menyebabkan metamorf. Kebanyakan reaksi kimia akan dipercepat oleh kenaikan temperatur, bahkan ada beberapa reaksi yang hanya bisa berlangsung pada temperatur yang tinggi.

• Tekanan merupakan faktor penting lain dalam proses metamorfosis. Ada dua tipe tekanan, yaitu:

(3)

a. Tekanan statis, yaitu tekanan yang disebabkan oleh berat batuan yang ada diatasnya. Makin dalam letak batuan makin besar pula tekanan statisnya. b. Tekanan dinamis, tekanan yang dihasilkan oleh pergerakan kerak bumi

atau tektonisme.

C. Struktur, Tekstur dan Komposisi Batuan Metamorf

Tekstur batuan metamorf tidak didasarkan pada besarnya butir-butir batuan melainkan atas dasar orientasi atau kecenderungan berlapis. Tekstur batuan metamorf dibedakan atas Foliasi dan Non-Foliasi.

• Tekstur Foliasi, yaitu tekstur yang berlapis-lapis dimana butir-butir batuan penyusunnya pipih sehingga memperlihatkan lapisan atau belahan kearah mana batuan cenderung membelah, yang termasuk dalam tekstur foliasi adalah: Slaty, Phyllitic, Schistose, Gneissic

• Tekstur Non-Foliasi, yaitu tekstur yang tidak menunjukkan kecenderungan berlapis, yang termasuk dalam tekstur foliasi adalah: Marmer, Serpentinit, Antrasit.

D. Jenis Struktur dan Tekstur Pada Batuan

Sekistositas atau foliasi. Segala macam struktur sejajar yang terjadi oleh proses metamorfosa seperti pada sekis.

• Genes, struktur seperti pada batuan genes. Di sini terlihat foliasi yang tak nyata dan kurang teratur kaerna masih banyaknya mineral yang tak berlembar yang berukuran kasar.

• Batutanduk (hornfels), struktur seperti pada batu tanduk (hornfels) yakni batuan berbutir halus, rapat dan bila dibelah memberikan pecah konkoidal (betuk kulit terang).

• Kataklastik, struktur remukoleh gaya-gaya mekanik yang bekerja pada batuan dan disertai rekristalisasi,pembubukan batuan, atau berubahnya sifat fisik dan optik mineral.

• Kristaloblastik, struktur mikro atau tekstur yang terjadi oleh tumbuhnya mineral atau agregat dalam medium padat.

• Idioblastik, mineral metamorfosa yang idiomorf. • Xenoblastik, mineral metamorfosa yang xenomorf.

(4)

• Relik (relict), segala gejala (struktur) atau mineral dari batuan asal yang tetap cirinya walaupun asal batuan itu telah mengami proses metamorfosa. Misalnya pada tekstur portir batuan beku masih tersimpan dalam batuan metamorfosa, maka tekstur barunya disebut blastoportir.

• Lineasi, pengarahan mineral atau unsur lain (sumbu lipatan kecil) dalam baris yang terlihat pada batuan metamorfosa.

E. Klasifikasi Batuan Metamorf

Tekstur Nama Batuan Komposisi Batuan Induk Metamorfosis

Foliasi -Slate -Phyllit -Sciht (mika-scist, khlorit-scist, amphibole-scist) -Gneiss (garnet-gneiss, granit-gneist) kaya mineral silikat (mika, khlorit, talk, serpentin, hornblende, kuarsa). kaya feldspar, kuarsa, & silikat; yang berwarna gelap amphibol, pyroksen, mika, garnet

-

Shale, Tuff

-

Shale, Tuff

-

Shale, batuan beku intermediate sampai basa. -Batuan beku asam sampai sedang, arkose, greywacke, mika-schist Increase Regional Regional Metamorphism

(5)

Non- Foliasi -Metaquarts -Marbel (Marmer) -Hornfels -Antracite Coal -Dominan kuarsa -Kalsit & Dolomit, dengan atau tanpa silikat Ca & Mg -Mineral silikat yang gelap lebih dominan. -92-98 % Carbon

-Kuarsa & batu pasir kuarsa -Limestone atau Dolomit, tanpa atau dengan campuran -Shale, Slate, Batuan dari ekstrusi sedang sampai basa -Peat, Lignit, Coal

-

Regional/ Kontak -Sda -Kontak -Regional/ Kontak

F. Jenis Batuan Metamorf dan Pemeriannya

Jenis batuan metamorfosa beserta pemeriannya ialah sebagai berikut: • FILIT

Batuan berbutir halus yang mudah belah menjadi lembaran tipis dengan bidang sekistositas yang berkilap sutra yang disebabkan oleh kandungan butiran halus terdiri atas mineral mikaan (silikat filo) seperti serisit (muskovit), paragonit (mika-Na) atau pirofilit (silikat-Al), yang jumlahnya lebih dari 50 %.

Kwarsa kebanyakan terkumpul dalam lapisan atau lensa yang terpisah. Butirannya lebih kasar daripada batu sabak, tetapi lebih halus daripada sekis. Batuan ini kaya akan Al dan karena itu umumnya berasal daribatuan lempungan. Berwarna hitam keperakan karena adanya mineral clorit, muskovit dan serisit yang membentuk saling sejajar.

• SEKISMIKA

Batuan berbutir menengah sampai kasar, tercirikan oleh paralelisma dan urusan tekstur kelurusan. Tanpa mikroskop pun mineralnya dapat

dibedakan,kecualoi feldsparnya. Kwarsa terkonsentrasikan dalamlapisan ataupun lensa-lensa. Berwarna putih keperakan karena adanya mika.

(6)

• GENES

Batuan berbutir menengah sampai kasar, bila terbelah berupa lempeng atau bongkah menyudut yang beberapa cm sampai beberapa puluh cm tebalnya, tetapi dapat juga mirip batangan pensil bila dengan lineasinya. Pada bidang sekistositasnyaterlihat mika atau hornblende sebagai mineral utamanya, sedangkan pada arah tersebut tampak perselinga antara lapisan kaya kwarsa felspar dan lapisan kaya mika atau amfibol. Memiliki kesan berlapis karena adanya pemisahan antara mineral-mineral berwarna gelap dan mineral berwarna terang.

• AMFIBOLIT

Baatuan yang terutama terdiriatas hornblende dan plagioklas sedangkan kwarsa sedikit saja jumlahnya. Tidak selalu membelh secara sempurna seperti halnya sekis,walaupun sebagian besar daripadanya terletak dalam satu yang merupakan bidang sekistositas. Seringkali berlapis karena adanya perselingan antara lapisan kaya dan miskin hornblende.

• MARMER

Batuan yang berbutir halus terdiri atas kalsit dan atau dolomit yang terhablur ulang. Berwarna terang dan sangat keras, merupakan perubahan dari batu gamping.

• KWARSIT

Batuan yang berbutir halus sampai kasar lebih dari 80 % terdiri atas kwarsa yang saling bertautan dan berwarna putih terang.

• FELS

Istilah umum untuk batuan metamorfosa yang tidak bersekistositas,tidak memiliki pengarahan tertentu (masif) dan keras sifatnya.

• BATUTANDUK

Batuan berbutir halus dan bersekistositas. Bila dipukul pecahannya berserakan dengan mata pecah yang baur seperti tanduk.

• MIGMATIT

Batuan berbutir menengah sampai kasar serta keras sifatnya. Berlapis-lapis sederhana, mirip sedimen tetapi dapat pula rumit. Komponennya yang terang pada

(7)

umumnya tak terarah dan bertekstur mirip batuan beku, sedangkan komponennya yang gelap terarah pada bidang sekistositas.

• .GRANULIT

Batuan berbutir merata (even-grained),tak bersekistositas, terdiri atas kwarsa, felspar kalium, sejumklah piroksen orto dan garnet, serta miskin mika. Foliasi yang tampak terjadi oleh adanya perselingan antara lapisan gelap dan terang atau adanya oleh adanya lensa pipih kwarsa atau felspar yang saling sejajar. • EKLOGIT

Batuan berbutir menengah berwarna hijau terdiri atas omfasit (jadeit-diopsida) dan sejumlah garnet yang merah coklat.

• SKARN

Batuan metamorfosa kontak dan metasormatik terdiri atas silikat kalsium berwarna merah (garnet) dan hijau (epidot,diopsida).

• MILONIT

Batuan berbutir halus sampai kecaan, atau seperti rijang tampaknya, baik terlapis atau tergerus oleh proses permukaan, walaupun terkadang masih

menyimpan batuan asalnya yang berupa lensa-lensa. • KATAKLASIT

Batuan yang lebih kasar butirannya daripada milonit. • FILONIT

Batuan yang mirip filit, berkilap sutra,tetapi hasil permukaan batuan yang kasar.

G. Daftar Pustaka

Buranda, JP. TT. Geologi Umum. Malang : Lab. Geografi FMIPA UM. B.E., Masrubi, dkk. Praktek Ilmu Batuan. Jakarta : Depdikbud.

Berry, L.G., B. Maron.1959. Tabel Determinasi Mineral. London : W. H. Freeman co.

Chester R. Longweel, Adolph Knopf, and Richard F. Flint. 1960. Physical Geology. New York : John Wiley & Sons, INC. London.

Referensi

Dokumen terkait

Secara mikro- skopis, batuan sekis mika didominasi oleh sekis biotit (Barker, 1994), ter- susun atas dominasi mineral biotit dan klorit, sebagian hadir muskovit,

Penelitian ini menggunakan metode Multilevel Otsu’s Thresholding dalam melakukan segmentasi pada sayatan tipis batuan beku yang digunakan untuk menghitung kandungan mineral

Tekstur didefinisakan sebagai aspek geometri pada unsur partikel atau kristal. Dalam batuan sedimen, tekstur mengarah ke ukuran, bentuk, dan susunan komponen butiran

Pengamatan pada batuan beku diamati dengan menentukan jenis batuan, Berat Jenis Partikel (BJP), kandungan mineral utama, mengamati warna pada batuan, serta menentukan

Pada dasarnya tekstur pada batuan metamorf terbagi menjadi karena proses rekristalisasi yaitu perubahan butiran halus menjadi kasar dan proses reorientasi terbagi

Hubungan nilai gamma ray dengan batuan piroklastik dapat diketahui dari kandungan mineral feldspar yang terdapat dalam tuf kasar, tuf halus dan breksi monomik.. Semakin

Hanya pada batuan sedimen berbutir halus yang kaya material organik dan telah mengalami transformasi termal selama proses burial yang berpeluang menghasilkan

Hasil analisis petrografi batuan beku Gunung Singa, Nanggung, Bo- gor, Jawa Barat, secara umum mem- perlihatkan tekstur porfiritik berbutir halus sampai