Abstrak— Keterlambatan dan rendahnya penyerapan
belanja modal (APBN dan APBD) oleh pemerintah serta keterbatasan dana dan banyak prioritas lain yang harus dipenuhi, merupakan beberapa kendala pemerintah dalam pengadaan proyek publik. Terutama dalam hal keterbatasan anggaran, pemerintah perlu mencari terobosan dalam hal kewajiban penyediaan sarana dan infrastruktur publik. Skema kerja sama pemerintah dan swasta (KPS) adalah alternatif solusinya. Penyediaan sarana dan infrastruktur publik dengan melibatkan partisipasi swasta tidak boleh dilakukan secara serampangan. Salah satu evaluasi yang harus dilakukan adalah Value for Money (VfM) dengan metode uji Perbandingan Public Sector Comparator dan KPS. Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah mengembangkan alat evaluasi VfM dengan mempertimbangkan aspek manfaat non finansial dan resiko menyeluruh. Tujuan lainnya adalah melakukan uji coba numerik formulasi tersebut, pada suatu proyek publik.
Evaluasi faktor perhitungan VfM dilakukan dengan melengkapi variabel perhitungan resiko dan menghitung manfaat non finansial (Non Financial Benefits) yang dihasilkan dari pengadaan proyek publik. Data dari pembangunan infastruktur proyek publik di Surabaya, digunakan sebagai sarana pengujian dari model yang dikembangkan, yaitu pembangunan Kawasan Terpadu Stadion Bung Tomo.
Hasil dari penelitian ini adalah alat evaluasi VfM berupa formulasi matematis dari hasil pengembangan, yang memperhitungkan manfaat non finansial dan resiko menyeluruh pengadaan proyek publik, serta uji coba rumusan hasil evaluasi faktor perhitungan VfM pada proyek publik di Surabaya.
Kata Kunci: Kerjasama Pemerintah Swasta, Value for Money, Public Sector Comparator, Non Financial Benefits (NFBs)
I. PENDAHULUAN
eppres No. 80 tahun 2003, yang kemudian mengalami perubahan menjadi Perpres No. 54 tahun 2010, dan diikuti dengan perubahan kedua menjadi Perpres Nomor 35 tahun 2011 dan perubahan ketiga menjadi Perpres No. 70 tahun 2012 mengenai pengadaan barang atau jasa pemerintah, merupakan dasar dan landasan proses pengadaan
(procurement) pemerintah, termasuk di dalamnya penyediaan
sarana dan infrastruktur publik, yang menggunakan sumber pembiayaan dari anggaran pemerintah (APBN atau APBD). Dalam regulasi tersebut, dinyatakan bahwa percepatan pelaksanaan pembangunan yang menjadi tanggung jawab pemerintah perlu didukung oleh percepatan pelaksanaan belanja negara, yang dilaksanakan melalui pengadaan barang atau jasa pemerintah. Namun, dalam implementasinya terdapat
keterbatasan sumber daya serta banyak prioritas lain yang
harus dipenuhi. Hal tersebut diakibatkan pendanaan yang kurang atau tidak ada.
Salah satu terobosan yang dijalankan oleh pemerintah sebagai alternatif pengadaan proyek publik adalah upaya Kerjasama atau Kemitraan Pemerintah Swasta yang biasa disingkat menjadi KPS, atau dalam bahasa Inggris disebut
Public Private Partnership (PPP). KPS menggabungkan
keahlian dari pihak swasta dan aset dari pihak pemerintah untuk menyediakan pelayanan kepada masyarakat. Regulasi dasar pelaksanaan proyek KPS di Indonesia mengacu pada Perpres No. 67 tahun 2005 yang kemudian disempurnakan pada Pepres No. 13 tahun 2010 dan Pepres No. 56 tahun 2011, lalu disempurnakan kembali dengan Pepres No. 66 tahun 2013 tentang kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur.
Sebelum suatu proyek publik, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari inisiatif pihak swasta, diputuskan untuk dilakukan dengan skema KPS, pada dasarnya terlebih dahulu perlu dilakukan sebuah evaluasi, yaitu Value for
Money (VfM). Evaluasi VfM dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui, apakah sebaiknya sebuah proyek publik dikerjasamakan dengan pihak swasta ataukah lebih baik diadakan oleh pemerintah sendiri. Hui, dkk (2010) menyatakan suatu proyek publik dapat dilakukan dengan skema KPS jika, menunjukkan Value for Money (VfM) lebih besar dibandingkan dengan pengadaan proyek secara tradisional atau tanpa kerjasama dengan pihak swasta.
Namun disayangkan, Indonesia masih menggunakan metode konvensional atau rumusan evaluasi dasar dalam pengujiannya, yaitu tidak memperhitungan resiko proyek, dan hanya memperhatikan dari sisi finansial saja (Pangeran, dkk, 2010). Pengujian dengan metode konvensional tersebut, dapat berdampak fatal bagi pemerintah, yaitu kesalahan dalam pengambilan keputusan pengadaan proyek publik dikarenakan tidak memperhitungkan aspek lainnya
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dalam penelitian ini akan dilakukan pengembangan alat atau rumusan evaluasi VfM dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang sudah ada sebelumnya serta faktor tambahan lainnya yaitu unsur resiko yang menyeluruh, serta aspek non financial benefit (manfaat non finansial) sehingga terbentuk suatu rumusan matematis untuk mengevaluasi.
Evaluasi
Value for Money
(VfM)
pada Proyek Publik
di Surabaya
Hana dan Negoro, N. P.
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
: [email protected]
II. URAIANPENELITIAN
A. Tahap Identifikasi Awal
Pada tahap ini peneliti akan merumuskan permasalah yang dijadikan topik penelitian, serta penentuan tujuan dan ruang lingkup. Tahapan ini dibagi lagi menjadi beberapa aktivitas, berikut adalah penjabarannya: Perumusan masalah, penentuan tujuan dan ruang lingkup penelitian, studi literatur, studi lapangan.
B. Tahap Pengembangan Rumusan Evaluasi VfM
Pada tahap ini dilakukan pengembangan alat atau rumusan evaluasi dari metode uji terpilih yaitu metode Perbandingan PSC & KPS. Pengembangan rumusan evaluasi dilakukan dengan menyatukan beberapa faktor uji dari tiap metode yang digunakan di beberapa negara. Seperti menyatukan perhitungan faktor finansial dan Non Financial
Benefits, serta perhitungan biaya resiko yang didapatkan dari
turunan kriteria VfM pada proyek
.
C. Tahap Uji Coba Numerik
Pada tahap ini peneliti melakukan uji coba numerik kepada formulasi matematis hasil pengembangan rumusan evaluasi VfM yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Uji coba numerik diawali terlebih dahulu dengan melakukan pengumpulan data yang diperlukan dalam praktiknya. Data yang diperlukan antara lain adalah kriteria VfM dari proyek yang akan diamati, biaya resiko dari proyek, biaya langsung, biaya tidak langsung, pendapatan proyek, serta inflasi dan tingkat diskon dari proyek amatan. Kemudian dilakukan beberapa skenario dengan mnegubah 3 nilai variabel perhitungan satu persatu dengan asumsi nilai lainnya adalah konstan. Pada tahap ini peneliti bertujuan untuk membuktikan formula matematis dari faktor hasil evaluasi secara riil di lapangan.
D. Tahap Analisa Hasil
Pada bab ini akan dilakukan analisa dari hasil perhitungan yang dilakukan pada bab sebelumnya. Analisa yang dilakukan adalah mencari korelasi atau hubungan antara beberapa variabel yang diubah dalam skenario terhadap pengaruhnya kepada Nilai VfM yang dijadikan parameter
E. Tahap Kesimpulan dan Saran
Tahap terakhir dari penelitian adalah kesimpulan dan saran, pada tahap ini peneliti akan menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang merupakan jawaban dari tujuan awal yang telah dijabarkan sebelumnya. Selain itu juga akan diberikan saran untuk penelitian selanjutnya atau kepada para peneliti lainnya yang akan melakukan penelitian serupa.
III. HASIL DAN DISKUSI
A. Konsep Pengembangan Rumusan Evaluasi
Pada sub bab ini akan menjelaskan secara konseptual framework dari model pengembangan kedua dari
metode evaluasi Perbandingan KPS dan PSC. Sebagaimana dijelaskan berikut ini:
A.1 Integrasi Kriteria VfM Proyek dengan Metode Evaluasi VfM
Dalam melakukan evaluasi proyek publik, terdapat beberapa kriteria VfM yang krusial atau penting untuk dipenuhi bagi masing-masing proyek. Kriteria krusial VfM tiap proyek adalah identik, sesuai dengan objek proyek dan hal-hal yang terlibat di dalamnya. Pada penelitian yang telah banyak dilakukan sebelumnya, penentuan kriteria VfM yang krusial pada proyek publik dan evaluasi proyek publik dengan metode VfM tidaklah berjalan beriringan. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya integrasi dari masing-masing
output-nya dan juga tidak ada manfaat tambahan yang
diperoleh.
Pada pengembangan rumusan evaluasi kali ini akan melakukan integrasi antara output dari identifikasi kriteria krusial VfM yang dijadikan input untuk melakukan perhitungan metode evaluasi. Hal tersebut dilakukan dengan cara output kriteria krusial dari VfM proyek dijadikan acuan untuk menurunkan resiko yang terkait di dalamnya. Sehingga
output tersebut digunakan sebagai input identifikasi resiko
dalam melakukan metode evaluasi VfM.
A.2 Perhitungan Elemen Resiko
Model evaluasi dasar dari Perbandingan PSC dan KPS yang awal diterapkan tidak memperhitungakan sama sekali mengenai resiko dari pengadaan proyek. Metode dasar tersebutlah yang diterapkan di Indonesia sampai saat ini.
Aspek dari resiko pengadaan proyek pada
retained risk tidak hanya terbatas pada probabilitas terjadinya
namun terdapat juga mean impact atau dampak rata-rata jika jika resiko yang diperhitungkan terjadi. Aspek tersebutlah yang masih terlupakan atau terabaikan dalam perhitungan resiko dari pengadaan proyek. Menurut Hui (2010) untuk
retained risk PSC disarankan untuk memperhitungkan full risk
adjustment untuk membantu memberikan gambaran yang
lebih akurat terhadap biaya proyek. Dilanjutkan lagi oleh Hui, dkk (2010) setelah melakukan identifikasi dan alokasi resiko maka resiko dapat diestimasi probabilitas terjadinya dan cakupan dampak (Impact Range). Nilai mean impact dari resiko dapat diestimasi dan diidentifikasi menggunakan metode simulasi, seperti Monte Carlo (Hui, dkk, 2010).
Seperti yang telah disebutkan diatas, maka diperlukan perhitungan mengenai nilai dari resiko secara lebih terperinci agar hasil yang didapatkan dari evaluasi menjadi lebih valid, hal tersebut lah yang akan dilakukan pada pengembangan rumusan evaluasi VfM kali ini. Peneliti akan memasukkan elemen resiko mean impact dalam formulasi matematisnya.
A. 3 Perhitungan Aspek Manfaat Non Finansial (NFBs)
Metode evaluasi Perbandingan PSC dan KPS yang biasa diterapkan di banyak negara juga kebanyakan, belum memperhitungkan manfaat non finansial dari proyek. Contohnya adalah penerapan VfM di Indonesia, pemerintah hanya memperhitungkan sisi finansial dari proyek untuk perbandingannya, dan mengesampingkan manfaat non finansial yang timbul dari pengadaan proyek. Manfaat non finansial ini, sebenarnya merupakan manfaat yang juga
penting dalam menentukan hasil rumusan evaluasi VfM. Hal tersebut dikarenakan bisa saja perhitungan total NPV menjadi berubah setelah dijumlahkan dengan nilai NPV dari manfaat non finansial. Oleh karena itu, pada pengembangan rumusan evaluasi kali ini peneliti akan berusaha mengembangkan rumusan atau alat evaluasi VfM yang juga memperhitungkan aspek non finansial juga. Manfaat dari aspek non finansial dapat dapat dihitung secara kuantitatif dan disamakan indeks satuannya dengan aspek non finansial dengan melakukan pendekatan. Pada aplikasinya, pendekatan akan dilakukan dengan menyamakan indeks perhitungan yaitu rupiah, sedangkan manfaat yang tidak dapat dilakukan pendekatan cukup didefinisikan saja.
B. KONSEP DASAR RUMUSAN NPV UNTUK
PENGEMBANGAN EVALUASI VFM
Konsep dasar pada perhitungan VfM pada rumusan evaluasi kali ini adalah dengan menggunakan pendekatan rumus NPV, namun dilihat dari segi biaya, bukan pendapatan pada umumnya. Hal tersebut dilatar belakangi oleh sudut pandang pada perumusan evaluasi ini adalah pemerintah, yang tidak diperbolehkan memperhitungkan profit, yang mana terdapat pada pendapatan. Oleh karena itu, pemerintah mencari penghematan dari segi biaya, yaitu dengan NPV seminim mungkin, bukan mecari profit sebanyak mungkin dengan NPV maksimal.
Sehingga didapatkan hasil perumusan dasar perhitungan adalah sebagai berikut:
Sehingga pada rumusan evaluasi VfM kali ini yang dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan dilhat dari NPV yang paling rendah karena mengacu pada biaya, bukan nilai NPV paling tinggi yang seperti umumnya dilakukan. Oleh karena mengacu kepada biaya, maka pendapatan atau manfaat dijadikan faktor pengurang dari biaya pengadaan proyek.
Biaya yang diperhitungkan hanyalah biaya secara finansial, tidak ada biaya non finansial, karena biaya untuk mengadakan proyek lah yang mendatangkan manfaat non finansial bagi masyarakat.
C. FORMULASI MATEMATIS
Untuk mendapatkan nilai VfM yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan apakah proyek akan dikerjasamakan atau tidak dengan pihak swasta, maka formulasi yang didapatkan adalah sebagai berikut: VfM = Total NPV PSC – Total NPV KPS
= NPV [(Total Risk Adjusted PSC + Total NFBsPSC]– NPV (Total Risk Adjusted KPS + Total NFBsKPS)]
= NPV [(Raw PSC + Competitive Neutrality + Retained Risk PSC + Transferred Risk) + Total NFBsPSC] – NPV [(Service Payment + Retained Risk KPS) + ∑ (NFBsKPS)] VfM = NPV [( R + CN + TR + RR1)+ ∑ (NFBs1n)] – NPV [(S + RR2) + ∑ (NFBs2n)] = NPV [((R1 – R2)+ R3) + (CN1 + CN2 + CN3) + TR + (BC1 x P x M) + ∑(NFBs11 + NFBs12 + .... NFBs1n)] – NPV [((S1 – S2) + S3) + RR2 + ( BC2x P x M) + + ∑(NFBs21 + NFBs22 + .... NFBs2n)] Jika nilai VfM adalah positif, hal tersebut menggambarkan bahwa NPV penyesuaian resiko PSC lebih besar dibandingkan dengan NPV penyesuaian resiko dari KPS. Hal tersebut mengindikasikan proyek publik lebih baik dijalankan dengan skema KPS atau diperlukan keterlibatan pihak swasta dalam pengadaannya. Begitu pula jika yang terjadi hal sebaliknya.
D. UJI COBA NUMERIK
Pada bab uji coba numerik, maka akan dilakukan uji coba perhitungan dari hasil formulasi matematis yang telah dikembangkan. Uji coba dilakukan pada data riil yaitu dari analisa studi kelayakan pembangunan Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya Barat.
Gambar 2. Rancangan Pembangunan Gelora Bung Tomo Surabaya (Bappeko, 2006)
D.1 Perhitungan Nilai VfM Data Aktual
Berikut adalah nilai VfM dari data aktual tanpa perubahan skenario selama perhitungan:
Tabel 1. Perhitungan Aktual Nilai VfM (Dalam satuan juta Rupiah)
PSC KPS R 611.210 S 347.818 CN 17.150 RR2 6.377 RR1 6.377 NFBs 1.516.777 TR 265.280 NFBs 1.259.613 Total (359.595) Total (1.162.581) NPV (315.434) NPV (1.019.808) VfM 704.374
Berdasarkan hasil perhitungan dapat dilihat selisih NPV dari PSC dan KPS bernilai positif. Hal tersebut menggambarkan bahwa adanya penghematann bagi pemerintah jika proyek publik diadakan dengan skema KPS. Nilai VfM yang didapatkan adalah Rp 704.374.000.000,- merupakan besaran dana yang dapat dihemat pemerintah. Sehingga proyek ini sebaiknya diadakan dengan skema KPS.
D.2 Perubahan Skenario: Periode Konsesi
Nilai VfM sebagai parameter dengan data aktual akan dibandingkan dengan nilai VfM jika variabel periode konsesi diubah yaitu 10 tahun dan masa konsesi 20 tahun. Pada perubahan skenario kali ini diasumsikan variabel lainnya bernilai tetap.
Tabel 2. Nilai VfM dengan Perubahan Periode Konsesi
Berdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan dengan mengubah masa konsesi atau perjanjian alih kelola antara pemerintah dan pihak swasta maka akan berpengaruh pada besaran variabel service payment dari KPS, sedangkan perubahan masa konsesi tidak berpengaruh pada nilai variabel lainnya. Perhitungan diatas juga menggambarkan semakin lama waktu konsesi, maka semakin menurun nilai VfM atau penghematan dari pihak pemerintah. Dapat dilihat pada tabel, dengan mengurangi waktu konsesi selama 5 tahun maka VfM naik sebesar 6%, sedangkan dengan memperpanjang periode konsesi selama 5 tahun, menyebabkan penurunan VfM sebesar 7%.
D.3 Perubahan Skenario: Proporsi Investasi
Proporsi modal investasi antara pemerintah dan pihak swasta umumnya berbeda ditiap proyeknya, bergantung kemampuan dari tiap pihaknya. Terkadang proyek dibiayai murni dari penganggaran pemerintah, namun ada pula yang menggunakan dana investasi dari pihak swasta. Berikut hasil skenario perubahannya, Pemerintah : Swasta
Tabel 3. Nilai VfM dengan Perubahan Proporsi Investasi
D.4 Perubahan Skenario: Discount Rate
Perubahan nilai i bertujuan kepada upaya peneiti untuk menangkap resiko atau ketidakpastian di masa depan dalam pengadaan proyek publik. Pada kenyataannya semakin tinggi resiko yang mungkin terjadi maka semakin tinggi pula pengembalian yang diinginkan (Infrastructure Ontario, 2010). Pemilihan perubahan i untuk menangkap resiko pada proyek dikarenakan, nilai resiko pada data objek amatan yang ada sudahlah deterministik, sehingga upaya untuk menangkap resiko atau nilai probabilistik dari proyek akan dilakukan pada perhitungan perubahan nilai i.. Nilai aktual i adalah sebesar 14%, kemudian diturunkan menjadi 4% dan dinaikan menjadi 114%. Pada perubahan skenario kali ini diasumsikan variabel lainnya bernilai tetap, hanya variabel nilai i yang berubah. Tabel. 4 Nilai VfM dengan Perubahan Discont Rate
Semakin kecil nilai i, maka semakin besar nilai NPV karena yang dijadikan acuan adalah biaya, maka nilai NPV yang besar adalah NPV dengan nilai paling negatif yang mengartikan penghematan atau nilai VfM yang didapatkan pemerintah akan semakin tinggi. Perhitungan diatas menggambarkan hubungan NPV dengan i adalah berbanding terbalik, yaitu pada hasil perhitungan jika nilai i sebesar 4% maka nilai VfM naik sebesar 10%, sedangkan jika nilai i
sebesar 114% maka nilai VfM turun sebanyak 51% IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
Pada bab ini akan dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian, yang akan menjawab tujuan awal dari dilakukannya penelitian. Selain itu juga terdapat saran dengan harapan penelitian selanjutnya akan menjadi lebih baik.
100 %
pemerintah 100% Swasta 50/50 30/70 70/30
KPS KPS KPS KPS KPS
Raw PSC 611.210 PaymentService 347.818 753.847 (190.768) 269.150 92.616 470.463 Competitive
Neutrality 17.150Retained Risk 6.891 6.377 6.377 6.377 6.377 6.377 Retained Risk 6.891 NFBs 1.516.777 1.516.777 1.516.777 1.516.777 1.516.777 1.516.777 Transferred Risk 265.280 NFBs 1.259.613 Total (359.081) Total (1.162.067) (756.552) (1.701.168) (1.241.250) (1.417.783) (1.039.937) NPV (314.983) NPV (1.019.357) (663.642) (1.492.253) (1.088.816) (1.243.669) (912.225) 348.208 1.176.818 773.381 928.235 596.791 -51% 67% 10% 32% -15% Presentase Perbandingan VfMVfM 704.374 PSC Aktual 42,98%: 57,02% KPS Raw PSC 611.210 Service Payment 347.818 Raw PSC 611.210 Service Payment 347.818 Raw PSC 611.210 Service Payment 347.818 Competitive
Neutrality 17.150 Retained Risk 6.891 Competitive
Neutrality 17.150 Retained Risk 6.377 Competitive
Neutrality 17.150 Retained Risk 6.377 Retained Risk 6.891 NFBs 1.516.777 Retained Risk 6.377 NFBs 1.516.777 Retained Risk 6.377 NFBs 1.516.777
Transferred Risk 265.280 Transferred Risk 265.280 Transferred Risk 265.280 NFBs 1.259.613 NFBs 1.259.613 NFBs 1.259.613
Total (359.081) Total (1.162.067) Total (359.595) Total (1.162.581) Total (359.595) Total (1.162.581) NPV (314.983) NPV (1.019.357) NPV (345.765) NPV (1.117.866) NPV (168.035) NPV (543.262) 10% -51% Presentase Perbandingan VfM Aktual (14%) Aktual (4%) PSC KPS VfM 772.102 PSC KPS VfM 704.374 Aktual (114%) PSC KPS VfM 375.227 10 Tahun 20 Tahun KPS KPS Raw PSC 611.210 297.251 401.705 Competitive Neutrality 17.150 6.891 6.891 Retained Risk 6.891 1.516.777 1.516.777 Transferred Risk 265.280 NFBs 1.259.613 Total (359.081) (1.212.635) (1.108.180) NPV (314.983) (1.063.715) (972.088) 748.731 657.104 6% -7% VfM PSC Presentase Perbandingan VfM
A. Kesimpulan
Berikut adalah beberapa kesimpulan dari penelitian kali ini, yang menjawab dari tujuan awal penelitian:
1. Berdasarkan hasil pengembangan alat evaluasi VfM dengan mentode Perbandingan PSC dan KPS, maka didapatkan pengembangan rumusan matematisuntuk menghitungan nilai VfM proyek publik. Berikut adala rumusannya VfM = NPV [( R + CN + TR + RR1)+ ∑ (NFBs1n)] – NPV [(S + RR2) + ∑ (NFBs2n)] = NPV [((R1 – R2)+ R3) + (CN1 + CN2 + CN3) + TR + (BC1 x P x M) + ∑(NFBs11 + NFBs12 + .... NFBs1n)] – NPV [((S1 – S2) + S3) + RR2 + ( BC2x P x M) + ∑(NFBs21 + NFBs22 + .... NFBs2n)] 2. Berdasarkan uji numerik yang telah dilakukan pada data pembangunan infrastruktur Kawasan Terpadu Stadion Bung Tomo di Surabaya Barat, nilai VfM dari data aktual adalah sebesar 704.374. Penambahan periode konsesi dari proyek publik selama 5 tahun akan menurukan nilai VfM sebesar 7%, sedangkan investasi modal dari swasta 100% maka akan meningkatkan nilai VfM sebesar 67%. Sedangkan peningkatan DF menjadi 114% akan menurunkan nilai VfM sebesar 51%. Dari semua perubahan variabel, tidak terdapat nilai VfM yang minus, menandakan bahwa proyek publik dalam keadaan lebih baik diadakan dengan skema KPS.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian adalah: 1. Sedapat mungkin menimalisir data menggunakan pendekatan, sehingga hasil yang didapatkan akan lebih valid dan riil
2. Adanya pengembangan rumusan evaluasi VfM lebih lanjut untuk melakukan pembobotan aspek finansial dan non finansial
3. Sebagai kajian untuk riset mendatang dalam perhitungan periode (n) atau jumlah masa konstruksi, masa operasi pemerintah, dan masa operasional swasta.
DAFTARPUSTAKA
[1] Bappenas, (2013), Dokumen Perencanaan KPS Dalam
Ketetapan Infrastruktur. [Online] Available at:
http://pkps.bappenas.go.id/index.php/en/proyek-infrastuktur/planning-document-of-KPS. [Akses: 13 November 2013]
[2] Bappenas, (2012). Buku Panduan Skema KPS di
Indonesia. [Online] Available at:
http://pkps.bappenas.go.id/index.php/en/publikasi/majala h-kps-terbaru. [Akses: 13 November 2013]
[3] Pemerintah Kota Surabaya Badan Perencanaan dan Pembangunan (2006), Studi Kelayakan Investasi Infrastruktur Pebangunan Stadion Kota Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya, Surabaya.
[4] Burger, P. dan Hawkesworth, I, (2011), “ How To Attain Value for Money: Comparing PPP and Traditional Infrastructure Public Procurement”, OECD
Journal on Budgeting, Vol. 2011, No. 1, hal 1-56.
[5] Cheung, E., Chan, P., Kajewski, S. L. (2009), “Enhancing Value for Money in Public Private Partnership Projects: Findings From a Survey Conducted in Hong Kong and Australia Compared to Findings From Previous Research in the UK”, Journal of Financial Management of Property and
Construction, Vol. 14, No. 1, hal. 7-20.
[6] Comer, B. (1996), Project Finance, Lecture Handouts: Project Finance Teaching Note, Princeton Pacific Group, New Jersey.
[7] Demirag, I., Dubnick, M., Khadaroo, M. I. (2004), “A Framework for Examining Accountability and Value for Money in the UK’s Private Finance”, The Journal
of Corporate Citizenship, Vol. 2004, No. 15, hal.
63-76.
[8] European KPS Expertise Centre (2011), The Non
Financial Benefits of KPSs: The Review of Concepts
and Methodology, EPEC, Luxemburg.
[9] Goldbach, C., Goldman, V., Phillips, R., Seymour, A.(2011), Public Cost Comparator for Public-Private
Partnership, American University Masters of Public
Policy on Behalf of the National Council for Private-Public Partnership, Florida.
[10] Government of Western Australia, Department of Treasury (2011), Public Sector Comparator Policy,
Government of Western Australia, Australia.
[11] Government of Saudi Arabia, Feasibility Assessment
Template, Government of Saudi Arabia, Saudi Arabia.
[12] Grimsey, G., Lewis, M. K. (2005), “Are Public Private Partnerships Value for Money? Evaluating Alternative Approaches and Comparing Academic and Practitioner Views”, Accounting Forum, Vol. 29, No. 4, hal. 345– 378.
[13] Grout, P. A. (2005),” Value-For-Money Measurements In Public Private Partnerships”, EIB Papers, Vol. 10, No. 2, hal. 33-56.
[14] Hui, S., Ying, Z., Zhi-Qing, F. (2010), “Value for Money Test in Infrastructure Procurement”, Vol. 1, hal. 549-553
[15] IIGF, (2013), Definisi proyek KPS, http://www.iigf.co.id/Website/Faq.aspx
[16] Infrastructure Ontario (2007), Assessing Value for Money: A Guide to Infrastructure Ontario’s
Methodology, Infrastructrure Ontario, Ontario.
[17] Ismail, K., Takim, R., Nawawi, A. H. (2011), “The Evaluation Criteria of Value for Money (VFM) of Public Private Partnership (KPS) bids”, International
Conference on Intelligent Building and Management,
Vol. 5, hal. 349-355.
[18] Ismail, K., Takim, R., Nawawi, A. H. (2011), “A value for money assessment method for Public Private Partnership: A lesson from Malaysian approach”, International Conference on Economics
and Finance Research, Vol. 4, hal. 509-514.
[19] Ismail, K., Takim, R., Nawawi, A. H., Jaapar, A. (2011), “The Malaysian Private Finance Initiative and
Value for Money”, Asian Social Science, Vol. 5, No. 3,
hal. 55-64.
[20] Kurniawan, E. S., Pudjianto, B., Wicaksono, Y. I. (2009), “Analisis Potensi Penerapan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Dalam Pengembangan Infrastruktur Transportasi di Perkotaan (Studi Kasus Kota Semarang)”, Jurnal TEKNIK Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Vol. 30, No. 3, Hal 147-155 [21] Lubis, H. A. R. dan Majid, N. (2012), “Standarised
Assessment Method of PPP Infrastructure Projects: A Recommended Assessment Method During The Preparatory Stage”, Journal of Economic Literature. [22] Morallos. D., Amekudzi. A., Ross. C., Meyer, M.
(2009), “Value for Money Analysis in U.S. Transportation Public-Private Partner-ships.”
Transportation Research Record. Vol.215, No.1, hal.
27-36.
[23] Morallos. D., dan Amekudzi. A. (2008), Public Private
Partnership of Infrastructure, Lecture Handout: A
Review of Value for Money (VfM) Analysis for Comparing Public Private Partnerships to Traditional Procurements, University of Southern California, Los Angeles.
[24] Pangeran, M. H., Pribadi, Hai, K. S., Susilawati. C. (2010), “A Comparative review of Quantitative VfM Methodology for PPP Infrastructure Project in Indonesia and Australia”, International Conference on
Construction & Real Estate Management.
[25] Peraturan Menteri Negara PPN (2012), Permen No. 3 Tahun 2012 Tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam
Penyediaan Inrastruktur, Kementerian Negara PPN,
Jakarta.
[26] Smith, David. (2011). Investment in Water Service
Assets - Value for Money? Sheffield, UK.
[27] S ustaining Partnership. (2011). Edisi Khusus Tahapan KPS. Bappenas. Indonesia.